• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Alat Pengepres Minyak (Oil Press) Pada Beberapa Komoditi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uji Alat Pengepres Minyak (Oil Press) Pada Beberapa Komoditi"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

41

Lampiran 1.Flowchart pelaksanaan penelitian

Mulai

Menimbang bahan

Mengepres bahan

Menampung hasil pengepresan

Pemurnian hasil pengepresan

Analisis data

Selesai

Pengujian parameter (kapasitas efektif alat, kadar

(2)

42

Lampiran 2. Perhitungan Kapasitas efektif alat

(3)

43

Kadar air pada biji kering = 0 l

0,539 jam = 0

Komoditi Kadar air (%)

Kacang tanah 11,84

Kedelai 7,64

Jagung 12,78

Kadar air pada minyak

Komoditi Kadar air pada minyak (%) Rataan

U1 U2 U3

Kacang tanah 0,166 0,179 0,170 0,171

Kedelai 0,542 0,561 0,535 0,546

Rendemen minyak sebelum sentrifuge

(4)

44

(5)

45

U2

U

= 0,007 l

0,8 kg = 0,009 l/kg

3

Rata-rata = U1+U2+U3

3 =

0,016+0,009+0,013

3 = 0,0126 l/kg

= 0,0085 l

(6)

46

Lampiran 3. Data pengamatan kapasitas efektif alat

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3

P1 1,667 1,682 1,26 4,609 1,536

P2 0,098 0,126 0,107 0,331 0,110

P3 0 0 0 0 0,000

Total 4,94

Rataan 0,549

Analisis Sidik Ragam

SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01

Perlakuan 2 4,406 2,203 114,877 ** 5,14 10,92

Galat 6 0,115 0,019

Total 8 4,521

Ket: tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata

KK (Koefisien Keragaman) = 0,25% Uji DMRT (Duncan Multiple Range Test)

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P1 1,536 a A

2 0,277 0,419 P2 0,110 b B

(7)

47

Lampiran 4. Data pengamatan kadar air pada minyak

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3

P1 0,166 0,178 0,170 0,514 0,171

P2 0,542 0,561 0,535 1,638 0,546

P3 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000

Total 2,152

Rataan 0,239

Analisis Sidik Ragam

SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01

Perlakuan 2 0,468 0,234 3214,211 ** 5,14 10,92

Galat 6 0,000 0,000

Total 8 0,468

Ket: tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata

KK (Koefisien Keragaman) = 0, 035 % Uji DMRT (Duncan Multiple Range Test)

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P2 0,546 a A

2 0,017 0,026 P1 0,171 b B

(8)

48

Lampiran 5. Data pengamatan rendemen minyak Rendemen minyak sebelum sentrifugasi

Perlakuan Ulangan Total Rataan

1 2 3 Uji DMRT (Duncan Multiple Range Test)

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(9)

49

Analisis Sidik Ragam

SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01

Perlakuan 2 0,063 0,031 34,678 ** 5,14 10,92

Galat 6 0,005 0,001

Total 8 0,068

Ket: tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata

KK (Koefisien Keragaman) = 0, 46 % Uji DMRT (Duncan Multiple Range Test)

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P1 0,183 a A

2 0,060 0,091 P2 0,013 b B

(10)

50

Lampiran 6. Dokumentasi

Kacang tanah, kedelai dan jagung yang akan dikempa

Minyak kotor kacang tanah Minyak kotor kedelai

(11)

51

Sentrifuge

Minyak hasil sentrifuge

(12)

52

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Aak, 1989. Kacang Tanah. Kanisius, Jakarta.

Aak, 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius, Jakarta.

Adisarwanto, T., 2000. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan Lahan Kering. Penebar Swadaya, Jakarta.

Adisarwanto, T., dan Y. E. Widyastuti. 2000. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah dan Pasang surut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Adisarwanto, T., 2005. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Adnan, M. 1991. Kimia dan Teknologi Pengolahan Air Susu. Andi Offset, Yogyakarta.

Amang, B., P. Simatupang, A. Rachman, 1996. Ekonomi Minyak Goreng di Indonesia. IPB Press, Bogor.

Arlene, A., 2013. Ekstraksi Kemiri dengan Metode Soxhlet dan Karakterisasi Minyak Kemiri. 15 Juni 2014]

Buckle, K. A., R. A. Edwards, G. H. Fleet, dan M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan Hari Purnomo dan Adiono. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Departemen Pertanian, 1986. Kacang Tanah dan Pengolahannya.

Fasina, O. O dan O. O Ajibola, 1989. Mechanical Expression of Oil from

Conopor Nut. Obafemi Awolowo University, Nigeria.

Guenther, E., 1990. Minyak Atsiri Jilid IIIA. UI Press, Jakarta. Guenther, E., 1990. Minyak Atsiri Jilid IV. UI Press, Jakarta.

Heid, J. L and M. A. Josylyn, 1963. Food Processing and Management,

Mechanism, Material and Method. The AVI Public Co. Inc., Westport.

Hui, Y. H., 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products Vol.4. Edible Oil and

Fat Products: Processing Technology. John Wiley & Sons, New York.

(14)

40

Koswara, S., 1992. Teknologi Pengolaahn Kedelai. Pstaka Sonar Harapan, Jakarta.

Hong, L. G., O. K. Nio, D. D. Prawiranegara, J. Herlinda, G. Sihombing, 1974. I

just a Nutritive Value of Various Legumes Used in The Indonesian Diet.

LP3-BPPP Deptan, Bogor.

Maesen, L. J. G. van der dan S. Somaatmadja, 1993. Prosea Sumber Daya Nabati Asia Tenggara I, Kacang Tanah. Penerjemah: S. Danimihardja. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Musanif, J., 2010. Biodiesel.

16 Mei 2013].

Priyono, 2009. Expeller Process. pada 21 Juni 2013].

Rukmana, R., dan Y. Yuniarsih, 1996. Kedelai. Kanisius, Jakarta. Rukmana, R., 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius, Jakarta.

Suprapto, 2001. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.

Swern, D., 1982. Edition: Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Vol 2. John Wiley & Sons, New York.

Tarigan, E. dan G. Prateepehaikul, 2006. Sorption Isothermal of Shell

andUnshelled Kernels of Candle Nuts, Journal of Food Engineering.

Vol.75: hlm.447–452.

(15)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2014 sampai Mei 2014 di

Laboratorium Keteknikan Pertanian serta analisis kadar air dan pemurnian minyak di Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji kedelai, kacang tanah dan jagung sebagai bahan yang akan dipres untuk diambil minyaknya.

Sedangkan alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin pengepres minyak, botol sebagai wadah minyak, gelas ukur untuk menampung dan menghitung banyaknya minyak yang tertampung, sentrifuge untuk memurnikan minyak, timbangan stopwatch, kamera, plastik, alat tulis dan komputer.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial, dengan 3 kali ulangan pada setiap perlakuan.

Perlakuan jenis komoditi (P) terdiri dari 3 taraf yaitu: P1 : Biji kacang tanah

(16)

24

Model rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan perlakuan jenis komoditi (P) dengan kode rancangan:

Yij = µ+αi+εij...(1)

Dimana:

Yij = hasil pengamatan dari faktor P pada taraf ke-i pada ulangan ke-j µ = nilai tengah sebenarnya

αi = efek faktor P pada taraf ke-i

εij = pengaruh galat (pengacakan)

Persiapan Penelitian

Sebelum penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan untuk penelitian yaitu memeriksa alat yang digunakan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan selama proses pengepresan minyak dan mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang digunakan dalam penelitian.

a. Persiapan alat

1. Dicek seluruh komponen alat

2. Dibersihkan alat dari kotoran yang ada b. Persiapan bahan

1. Menyiapkan bahan-bahan yaitu kacang tanah, kedelai dan jagung yang akan dipres

(17)

25

Prosedur Penelitian

1. Menimbang bahan yaitu kacang tanah, kedelai dan jagung masing-masing 1 kg

2. Mengatur suhu pada thermostat dengan suhu 60°C

3. Menghidupkan pemanas (heater) dan menunggu pemanas mencapai suhu 60°C dengan melihat lampu LED sampai menyala

4. Menghidupkan motor listrik apabila lampu LED telah menyala

5. Memasukkan bahan ke dalam silinder melalui corong pemasukan dan bersamaan dengan itu stopwatch dihidupkan

6. Menampung minyak dan ampas yang keluar

7. Menghitung minyak hasil pengepresan dan memasukkan ke dalam wadah 8. Melakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk setiap bahan

9. Melakukan pengamatan parameter Analisis Parameter

(18)

26

Parameter yang diamati

1. Kapasitas efektif alat (l/jam)

Kapasitas efektif alat menunjukkan kemampuan alat dalam menghasilkan minyak per satuan waktunya. Pengukuran kapasitas efektif alat dilakukan dengan membagi banyaknya hasil dari pengepresan dalam satuan liter dengan lamanya waktu yang dibutuhkan selama pengepresan berlangsung dalam satuan jam.

Kapasitas efektif alat = ���������������������� (�)

���������������� (���)

2. Kadar air pada minyak

Kadar air menunjukkan jumlah air yang terdapat pada minyak. Penentuan kadar air dilakukan dengan cara melakukan pemurnian minyak dengan menggunakan sentrifuge. Kadar air pada minyak dianalisis dengan cara ditimbang sebanyak ± 5 gram sampel minyak dalam cawan dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105 °C selama 30 menit. Setelah 30 menit, sampel dikeluarkan dari oven dan didinginkan menggunakan desikator selama 15 menit kemudian ditimbang lagi. Penentuan kadar air dapat dihitung dengan membandingkan selisih antara berat bahan sebelum diovenkan dengan yang sesudah diovenkan terhadap berat bahan sebelum diovenkan atau menggunakan rumus di bawah in:

KA =����������������−����������������

���������������� x 100 %

3. Rendemen (l/kg)

(19)

27

minyak yang tertampung terhadap berat bahan awalnya. Nilai rendemen minyak dapat dihitung menggunakan rumus:

Rendemen

=

������������ (�)

(20)

28

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, secara umum dapat diketahui bahwa perbedaan jenis komoditi memberikan pengaruh terhadap kapasitas efektif alat, kadar airt bahan dan rendemen minyak yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4. Pengaruh berbagai jenis komoditi terhadap parameter yang diamati Komoditi Kapasitas Efektif

Alat (l/jam)

Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa kapasitas efektif alat tertinggi diperoleh pada komoditi kacang tanah yaitu sebesar 1,536 l/jam dan yang terendah diperoleh pada komoditi jagung yaitu 0 l/jam. Kadar air pada minyak yang tertinggi diperoleh pada komoditi kedelai yaitu sebesar 0,546 % dan yang terendah diperoleh pada komoditi jagung yaitu 0 %. Rendemen sebelum sentrifugasi yang tertinggi diperoleh pada komoditi kacang tanah yaitu sebesar 0,367 l/kg dan yang terendah diperoleh pada komoditi yaitu sebesar 0 l/kg. Sedangkan rendemen setelah sentrifugasi yang tetringgi diperoleh pada komoditi kacang tanah yaitu sebesar 0,183 l/kg dan yang terendah diperoleh pada komoditi jagung yaitu 0 l/kg.

(21)

29

Kapasitas Efektif Alat

Kapasitas efektif alat didefenisikan sebagai kemampuan alat dan mesin dalam menghasilkan suatu produk per satuan waktu. Dalam hal ini kapasitas efektif alat dihitung dari perbandingan antara banyaknya hasil dari proses pengepresan dengan waktu yang dibutuhkan selama proses pengepresan.

Data hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa perlakuan komoditi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat. Hasil uji Duncan pengaruh beda komoditi terhadap kapasitas efektif alat untuk tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kapasitas efektif alat

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P1 1,536 a A

2 0,277 0,419 P2 0,110 b B

3 0,287 0,435 P3 0,000 b B

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.

(22)

30

Hubungan berbagai jenis komoditi terhadap kapasitas efektif alat dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan beberapa jenis komoditi terhadap kapasitas efektif alat Dari Gambar 5 diatas menunjukkan bahwa kapasitas efektif alat pada komoditi kacang tanah adalah sebesar 1,536 l/jam, kapasitas efektif alat pada komoditi kedelai adalah sebesar 0,110 l/jam dan kapasitas efektif alat pada komoditi jagung adalah 0. Untuk memperoleh nilai kapasitas efektif alat adalah dengan membandingkan hasil atau banyaknya minyak yang diperoleh dari hasil pengepresan terhadap lamanya waktu pengepresan. Namun pada penelitian yang dilakukan, untuk komoditi jagung hasil pengepresannya bukan berupa minyak melainkan berupa bubuk sehingga tidak dapat diperoleh nilai kapasitas efektif alatnya.

Kadar Air Bahan

Kadar air pada minyak merupakan salah satu tolak ukur mutu minyak. Semakin rendah kadar air dalam minyak maka mutunya akan semakin baik, hal ini dapat memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi hidrolisis yang dapat menyebabkan kerusakan pada minyak. Menurut Ketaren (1986) kadar air yang rendah akan memperkecil terjadinya proses hidrolisis sehingga mengurangi

(23)

31

terbentuknya asam lemak bebas dan gliserol yang menyebabkan ketengikan minyak. Tujuan penghitungan kadar air adalah untuk mengetahui kadar air dalam sampel minyak bijian karena kadar air dalam suatu bahan dapat mempengaruhi kualitas minyak.

Hasil pengujian kadar air pada biji dalam kondisi kering atau biji yang dibeli di pasar dan pada minyak biji dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 6. Kadar air biji kering dan kadar air pada minyak

Komoditi Kadar air biji kering (%) Kadar air pada minyak (%)

Kacang tanah 11,84 0,171

Kedelai 7,64 0,546

Jagung 12,78 0

Untuk komoditi kacang tanah, kadar air biji kering adalah 11,84 % sedangkan kadar air pada minyak kacang tanah adalah 0,171 %. Untuk komoditi kedelai, kadar air biji kering adalah 7,64 % sedangkan kadar air pada minyak kedelai adalah 0,546 %. Untuk komoditi jagung, kadar air biji kering adalah 12,78 % sedangkan kadar air pada minyak jagung adalah 0 %. Adanya perbedaan kadar air biji kering dengan kadar air pada minyak biji disebabkan oleh adanya perlakuan panas pada saat pengepresan sehingga air menguap sebagian dan terjadi penurunan kadar air.

(24)

32

Tabel 7. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kadar air

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P2 0,546 a A

2 0,017 0,026 P1 0,171 b B

3 0,018 0,027 P3 0,000 b B

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada taraf 5% dan taaf 1% perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2 namun berbeda tidak nyata terhadap perlakuan P3, sedangkan perlakuan P2 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P3.

Hubungan persentase kadar air terhadap biji kering dan minyak dari beberapa jenis komoditi dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Hubungan persentase kadar air dari beberapa jenis komoditi Dari Gambar 6 diatas menunjukkan bahwa kadar air pada biji kering kacang tanah adalah 11,84% dan kadar air minyak kacang tanah adalah 0,171%, kadar air pada biji kering kedelai adalah 7,64% dan kadar air minyak kedelai adalah 0,546%, sedangkan kadar air pada biji kering jagung adalah 12,78% dan kadar air minyak jagung adalah 0 karena minyak jagung tidak dihasilkan sehingga

(25)

33

penghitungan kadar air tidak dilakukan. Adanya penurunan kadar air pada biji kering terhadap kadar air pada minyak disebabkan karena perlakuan panas pada saat pengepresan sehingga air pada biji menguap sebagian.

Rendemen Minyak

Rendemen merupakan perbandingan antara minyak yang dihasilkan dengan banyaknya bahan baku yang digunakan sebelum dikempa. Dalam hal ini rendemen dihitung dengan membandingkan hasil atau minyak yang tertampung terhadap banyaknya bahan yang terkempa dan kemudian dihitung nilai rata-rata pada setiap perlakuan komoditi yang sama. Rendemen yang dihasilkan dari suatu ekstraksi dipengaruhi oleh kadar minyak yang terkandung pada bahan kering. Penghitungan rendemen dilakukan sebelum dan sesudah sentrifugasi, minyak sebelum sentrifugasi adalah minyak kasar atau minyak yang masih mengandung kotoran yang langsung dihasilkan dari proses pengepresan, sedangkan minyak setelah sentrifugasi adalah minyak yang sudah murni.

Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa dengan komoditi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata terhadap rendemen sebelum disentrifugasi. Hasil uji Duncan pengaruh beda komoditi terhadap rendemen sebelum sentrifugasi untuk tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Uji DMRT beda komoditi terhadap rendemen sebelum sentrifugasi

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P1 0,367 a A

2 0,052 0,079 P2 0,045 b B

3 0,054 0,082 P3 0,000 b B

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.

(26)

34

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada taraf 5% dan taraf 1%perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2 dan terhadap perlakuan P3 sedangkan perlakuan P2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan P3

Tabel 9. Uji DMRT beda komoditi terhadap rendemen setelah sentrifugasi .

Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa dengan komoditi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata terhadap rendemen setelah disentrifugasi. Hasil uji Duncan pengaruh beda komoditi terhadap rendemen setelah sentrifugasi untuk tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9.

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

- - - P1 0,183 a A

2 0,060 0,091 P2 0,013 b B

3 0,062 0,095 P3 0,000 b B

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%.

Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa pada taraf 5% dan taraf 1% perlakuan P1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan P2 danterhadap perlakuan P3, sedangkan perlakuan P2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan P3.

Hubungan rendemen minyak terhadap berbagai jenis komoditi sebelum dan setelah disentrifugasi dapat dilihat pada Gambar 7.

(27)

35

Dari Gambar 7 diatas menunjukkan rendemen minyak sebelum disentrifugasi pada kacang tanah adalah 0,367 l/kg dan setelah disentrifugasi adalah 0,183 l/kg, rendemen minyak sebelum disentrifugasi pada kedelai adalah 0,045 l/kg dan setelah sentrifugasi adalah 0,013 l/kg, sedangkan pada jagung adalah 0 karena minyak jagung tidak dihasilkan sehingga penghitungan rendemen tidak dilakukan. Perbedaan rendemen minyak karena adanya perlakuan sentrifugasi atau pemisahan antara minyak dengan kotoran dan sisa ampas bahan yang terkempa. Rendemen sebelum sentrifugasi adalah rendemen minyak dimana minyak adalah hasil pengepresan langsung, sedangkan rendemen setelah sentrifugasi adalah rendemen minyak dimana minyak telah murni setelah dilakukan proses sentrifugasi.

Hasil pengujian kadar minyak pada biji dalam kondisi kering atau biji yang dibeli di pasar dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 10. Kadar minyak biji kering

Komoditi Kadar minyak (%)

Kedelai 18,15

Kacang tanah 45,54

Jagung 4,69

(28)

36

Dalam hal ini terjadi perbedaan kadar minyak pada hasil pengepresan dengan hasil pengujian dari laboratorium (menggunakan metode ekstraksi dengan larutan). Perbedaan ini dipengaruhi oleh kapasitas alat yang tekanannya kurang besar untuk bahan kacang tanah, kedelai dan jagung sehingga minyak tidak maksimal keluar. Menurut Ketaren (1986) jumlah rendemen yang dihasilkan dari pengempaan secara mekanis dipengaruhi oleh waktu pengempaan, besarnya tekanan yang diberikan, ukuran bahan yang dikempa, dan cara pengempaan. Ada beberapa hal yang menyebabkan minyak tidak dapat dikeluarkan secara maksimal seperti kondisi alat yang tidak maksimal, suhu pemanasan yang rendah, bahan yang terlalu lama disimpan dan ukuran bahan yang dikempa.

(29)

37

lebih dari 20% dan menurut Rukmana (1997) minyak jagung sebagai minyak makanan adalah minyak yang diperoleh dari lembaga biji jagung. Jadi akan sulit memperoleh minyak jagung bila menggunakan metode pengepresan berulir.

(30)

38

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Berbagai jenis komoditi memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat, kadar air pada minyak dan rendemen.

2. Kapasitas efektif alat tertinggi terdapat pada pelakuan P1 yaitu pada komoditi kacang tanah sebesar 1,536 l/jam dan kapasitas efektif alat terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu pada komoditi jagung sebesar 0 l/jam.

3. Persentase kadar air pada minyak tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yaitu pada komoditi kedelai sebesar 0,546% dan persentase kadar air pada minyak terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu komoditi jagung sebesar 0%.

4. Rendemen minyak sebelum sentrifugasi tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu komoditi kacang tanah sebesar 0,367 l/kg dan yang terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu komoditi jagung sebesar 0 l/kg. Sedangkan rendemen minyak setelah sentrifugasi terdapat pada perlakuan P1 sebesar 0,183 l/kg dan yang terendah terdapat pada perlakuan P3 sebesar 0 l/kg.

5. Alat pengepres minyak (oil press) tipe ulir kurang efektif digunakan untuk komoditi kedelai dan jagung.

Saran

(31)

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Kedelai

Deskripsi Tanaman Kedelai

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan tanaman polong-polongan asli daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan semakin berkembangnya perdagangan antar negara yang terjadi pada awal abad ke-19 menyebabkan tanaman kedelai juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16 yang berawal di pulau Jawa kemudian berkembang di Bali, Nusa Tenggara dan pulau-pulau lainnya. Berdasarkan peninggalan arkeologi, kedelai putih diperkenalkan ke Indonesia oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama oleh penduduk setempat (Adisarwanto, 2005).

(32)

5

Botani dan Morfologi Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman yang tergolong dalam famili Leguminoceae. Berikut adalah klasifikasi tanaman kedelai menurut Suprapto (2001):

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Rosales

Famili : Leguminosae Genus : Glycine

Spesies : Glycine max (L.) Merril.

Kedelai dapat tumbuh baik pada ketinggian 1 – 100 meter di atas permuakaan laut dan dapat pula pada ketinggian 800 – 1200 meter di atas permukaan laut, suhu tanah 29 – 35°C dengan curah hujan 1000 – 1500 mm dengan tekstur tanah lempung berpasir maupun tekstur tanah liat berpasir. pH tanah yang baik untuk pertumbuhan kedelai adalah 5,0 – 5,8. Tanaman kedelai yang ditanam di daerah dataran tinggi akan berbunga pada umur 38 – 40 hari sedangkan tanaman kedelai yang ditanam di daerah dataran rendah akan berbunga pada umur 35 hari (Adisarwanto, 2005).

(33)

6

kecoklatan atau abu-abu. Biji kedelai berkeping dua yang terbungkus oleh kulit biji dan embrio terletak di antara keping biji (Suprapto, 2001).

Gambar 1. Biji Kedelai Tabel 1. Kandungan gizi per 100 gram kedelai

Komposisi Jumlah

Kalori 330

Protein (%) 35

Lemak (%) 18

CHO (%) 35

Air (%) 8

Sumber: Lembaga penelitian gizi (1967). Dalam Suprapto (1993) Potensi Kedelai

(34)

7

Biji kedelai mengandung lemak sekitar 18 – 20 %. Pengambilan minyak dari biji kedelai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan ekstraksi pelarut dan dengan pengepresan. Pengepresan yang dilakukan dengan screw pressing akan meninggalkan residu sebesar 4 – 8 %, sedangkan pengepresan yang dilakukan dengan hidroulic pressing akan meninggalkan residu 6 – 12 %. Pengepresan biasanya dilakukan untuk biji-bijian yang berkadar minyak 20 %, sedangkan kandungan minyak pada biji kedelai adalah 14 – 27 % (Koswara, 1992).

Kandungan minyak dan komposisi asam lemak dalam kedelai dipengaruhi oleh varietas dan keadaan iklim dimana kedelai tumbuh. Kadar minyak kedelai relatif lebih rendah dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan lainnya, tetapi lebih tinggi daripada kadar minyak serelia. Kadar protein kedelai yang tinggi menyebabkan kedelai lebih banyak digunakan sebagai sumber protein daripada sebagai sumber minyak. Asam lemak dalam minyak kedelai sebagian besar terdiri dari asam lemak esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh (Ketaren, 1986).

(35)

8

Tanaman Kacang Tanah

Deskripsi Tanaman Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan asli benua Amerika yang tepatnya di Brazilia. Tanaman ini diperkirakan masuk ke Indonesia antara tahun 1521 – 1529 karena dibawa oleh pedagang-pedagang Spanyol, Cina ataupun Portugis sewaktu melakukan pe;ayaran ke Maluku Selatan, namun penanaman kacang tanah di Indonesia baru diberitakan pada permulaan abad ke-18 dengan dua varietas yang berbeda. Setelah terjadi persilangan alami antara dua varietas itu maka dihasilkan varietas kacang tanah yang terkenal yaitu kacang brul dengan umur 3 – 4 bulan dan kacang cina dengan umur 6 – 8 bulan (Aak, 1989).

Biji kacang tanah berbentuk bulat lonjong yang berukuran besar, sedang dan kecil. Warna biji kacang tanah pun bermacam-macam yaitu putih, merah kesumba dan ungu. Biji kacang tanah terdapat dalam polong dan di setiap polong dapat berisi 1 – 3 butir tergantung varietasnya. Adapun jenis atau varietas kacang tanah terebut adalah varietas gajah, banteng, macan dan kijang (Departemen Pertanian, 1986).

Botani dan Morfologi Tanaman Kacang Tanah

Kacang tanah merupakan tanaman palawija yang tergolong dalam famili Leguminoceae. Berikut adalah klasifikasi tanaman kacang tanah menurut Departemen Pertanian (1986):

Kingdom : Plantae

(36)

9

Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Rosales

Famili : Leguminosae Genus : Arachis

Spesies : Arachis hypogaea L.

Suhu tanah yang optimum untuk pertumbuhan kacang tanah adalah 20 – 30 °C, sedangkan suhu udara yang optimum adalah 24 – 27 °C. Tanaman kacang tanah dapat tumbuh baik pada ketinggian 0 – 500 meter di atas permukaan laut, tanah yang gembur dengan keadaan pH 6 – 6,5.Tanaman kacang tanah menghendaki keadaan iklim yang panas tetapi sedikit lembab rata-rata 75% dan curah hujan sekitar 300 – 500 mm/tahun (Adisarwanto, 2000).

Kacang tanah memiliki sistem perakaran tunggang yang mempunyai akar-akar cabang dan akar-akar cabang ini bersifat sementara. Tanaman kacang mempunyai daun majemuk bersirip genap dan setiap helainya terdiri dari empat helai anak daun. Tanaman kacang tanah mulai berbunga kira-kira pada umur 4 – 6 minggu setelah tanam yang akan muncul dari ketiak daun dan bunga berwarna oranye. Buah kacang tanah berbentuk polong dan setiap polong berisi 1 – 5 biji (Aak, 1989).

(37)

10

Tabel 2. Kandungan gizi per 100 gram kacang tanah

Komposisi Jumlah (%)

Kadar air 4,6 – 6,0

Sumber: Bailey, A. E (1950). Dalam Ketaren (1986). Potensi Kacang Tanah

Hasil kacang tanah di Indonesia biasanya langsung menjadi bahan konsumsi atau diperdagangkan, salah satu contoh kacang tanah yang digunakan sebagai bahan konsumsi adalah minyak goreng. Dalam Aak (1989) dinyatakan bahwa biji kacang tanah dapat diolah dan diproses menjadi minyak goreng. Setiap 100 kg kacang tanah dapat menghasilkan minyak antara 40 – 60 liter. Pembuatan minyak goreng dari kacang tanah dapat dilakukan dengan cara yang sederhana maupun yang modern. Cara yang sederhana dilakukan dengan penepungan terlebih dahulu, sedangkan cara yang modern kacang tanah langsung bisa diolah menjadi minyak goreng dengan menggunakan alat pengepres.

(38)

11

Minyak kacang tanah mengandung 78 – 82 % asam lemak tidak jenuh yang terdiri dari 40 – 45 % asam oleat dan 30 – 35 % asam linoleat. Minyak kacang tanah seperti juga minyak nabati lainnya merupakan salah satu kebutuhan manusia yang dipergunakan baik sebagai bahan pangan yaitu sebagai minyak goreng, mentega putih dan margarin mayonaise maupun non pangan yaitu digunakan sebagai bahan pembuat sabun, face cream, shaving cream, pencuci rambut dan bahan kosmetik lainnya (Ketaren, 1986).

Tanaman Jagung

Deskripsi Tanaman Jagung

Tanaman jagung berasal dari benua Amerika. Pada abad ke-19, penanaman jagung meluas di negara-negara beriklim subtropis dan tropis di Dunia. Di Indonesia, tanaman jagung sudah dikenal sekitar 400 tahun yang lalu didatangkan oleh orang Portugis dan Spanyol. Daerah produksi jagung pada awalnya di Indonesia adalah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Dari hasil survei Biro Pusat Statistik tahun 1991, daerah produksi jagung paling luas di Indonesia adalah provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi selatan, Nusa Tenggara Timur, Lampung dan Jawa Barat (Adisarwanto, 2000).

(39)

12

adalah minyak yang diperoleh dari lembaga biji jagung dan telah mengalami proses pemurnian dengan atau tanpa penambahan bahan tambahan yang diizinkan (Rukmana, 1997).

Botani dan Morfologi Tanaman Jagung

Berikut adalah klasifikasi tanamn jagung menurut Rukmana (1997): Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Monocotylrdoneae Ordo : Poales

Famili : Poaceae Genus : Zea

Spesies : Zea mays L.

(40)

13

bunga betina yang letaknya terpisah. Biji jagung terletak pada tongkol yang tersusun memanjang (Aak, 1993).

Gambar 3. Biji jagung Tabel 3. Kandungan gizi per 100 gram jagung

Komposisi Jumlah (%)

Protein 9,29

Lemak (ekstrak dari ester) 3,97

Serat kasar 2,03

Ekstrak N bebas 68,35

Abu 1,37

Energi (kal/gr) 3,81

Sumber: Burch H. Schneider. Dalam Ketaren (1986). Potensi Jagung

Jagung berpotensi diolah srebagai bahan baku berbagai industri makanan, minuman, kimia, farmasi dan lain-lain.. Dalam Rukmana (1997) dinyatakan bahwa dari 100 kg jagung dapat diperoleh 3,4 – 4 kg minyak jagung, 27 – 30 kg bungkil dan 64 – 67 kg pati, sedangkan 15 – 25 kg sisanya hilang. Minyak jagung sebagai minyak makanan adalah minyak yang diperoleh dari lembaga biji jagung dan telah mengalami proses pemurnian dengan atau tanpa penambahan bahan tambahan yang diizinkan.

(41)

14

jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Minyak jagung berwarna merah gelap dan setelah dimurnikan akan berwarna kuning keemasan. Kekentalan minyak jagung hampir sama dengan minyak-minyak nabati lainnya yaitu 58 sentipois pada suhu 25 °C. Minyak jagung dapat diolah menjadi minyak salad dan sebagai hasil sampingnya adalah mentega putih (Ketaren, 1986).

Minyak Nabati dan Teknologi Pengolahannya

Minyak nabati merupakan minyak yang dihasilkan dari ekstrak kandungan asam lemak dari tumbuh-tumbuhan. Minyak nabati yang populer dikonsumsi manusia adalah hasil olahan dari ekstrak minyak yang berasal dari sawit, kelapa, kacang tanah, kedelai, jagung, bunga matahari dan lobak. Proses ekstraksi minyak nabati dari bahan bakunya dapat dilakukan dengan metode kering maupun metode basah. Dengan metode basah, setelah bahan baku dicacah selanjutnya dicampur dengan air, diaduk dan diperas sehingga dihasilkan cairan yang di dalamnya mengandung air, minyak dan zat-zat terlarut lainnya dan pemisahan minyak dari air dilakukan melalui pemanasan. Pada metode kering, bahan baku bisa langsung dihancurkan baik melalui cara digiling ataupun dicacah yang selanjutnya diperas tanpa dicampur dengan air (Amang, dkk., 1996).

(42)

15

untuk menentukan kualitas minyak adalah kadar air, kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida (Tarigan dan Prateepehaikul 2006).

Ekstraksi minyak merupakan suatu usaha untuk memisahkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak. Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara rendering, cara mekanis maupun dengan cara menggunakan pelarut (Hui, 1996).

Rendering dilakukan untuk jenis minyak atau lemak dari bahan apa yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Penggunaan padas pada rendering bertujuan untuk menggumpalkan protein pada dinding sel bahan dan untuk memecahkan dinding sel sehingga mudah ditembus oleh minyak yang terkandung dalam bahan tersebut (Ketaren, 1986).

Kelebihan dari metode rendering yaitu rendemen minyak yang dihasilkan tinggi didukung dengan cara pengoperasian yang mudah. Kelemahan dari metode ini yaitu minyak rawan akan kontaminasi oleh adanya kandungan air sehingga berpotensi terjadinya proses hodrolisa pada minyak (Hui, 1996).

Ekstraksi dengan pelarut prinsipnya adalah melarutkan minyak yang ada di dalam bahan yang mengandung minyak dengan pelarut yang mudah menguap. Campuran minyak dan bahan dapat dipisahkan dengan cara menguapkan bahan pelarut (Heid and Josylyn, 1963), pelarut minyak atau lemak yang biasa digunakan adalah petroleum eter, gasoline karbon dsulfide, karbon tetra klorida, benzene dan n-heksan (Ketaren, 1986).

(43)

16

dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan pelarut yang digunakan berulang kali. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan pelarut yang mahal serta bentuk pengoperasian yang rumit (Arlene, 1996).

Ekstraksi dengan cara mekanis biasanya digunakan untuk mengekstraksi minyak dari bahan yang diduga berkadar minyak tinggi (30% - 70%) seperti bahan yang berasal dari biji-bijian. Dua Cara ekstraksi secara mekanis yaitu pengempaan hidraulik (hydraulic pressing) dan pengempaan berulir (expeller

pressing) (Ketaren, 1986).

Pada tipe pengempaan hidraulik minyak dapat diperoleh dengan cara memberikan tekanan pada bahan yang mengandung minyak yang dibungkus dengan kain. Kelemahan cara ini adalah terbatas hanya pada bahan yang minyaknya dapat diekstrak dengan tekanan rendah. Sedangkan untuk ekstraksi minyak secara mekanis tipe ulir ini terdiri dari tahap perlakuan pendahuluan dan pengempaan. Perlakuan pendahuluan terdiri dari pembersihan bahan (cleaning), pemisahan kulit (dehulling), pengecilan ukuran (size reduction) dan pemasakan atau pemanasan (cooking) (Swern, 1982).

(44)

17

Proses pemanasan selama pengepressan antara lain bertujuan untuk mengkoagulasi protein di dalam biji sehingga memberi ruang bagi minyak untuk keluar dari biji dan mengurangi daya tarik menarik antara minyak dengan permukaan padat dari biji sehingga minyak keluar lebih banyak saat biji dipress. Jumlah rendemen yang dihasilkan dari pengepressan secara mekanis dipengaruhi oleh waktu pengepresan (pressing), besarnya tekanan yang diberikan, ukuran bahan yang akan dipress, viskositas bahan yang diekstrak, serta cara pengepressan (Ketaren, 1986).

Tujuan utama pemasakan adalah menggumpalkan protein dalam biji, sehingga butiran minyak mudah untuk keluar dari biji. Selain itu pemasakan menyebabkan penurunan afinitas minyak dengan permukaan bahan sehingga minyak diperoleh semaksimal mungkin pada waktu biji dikempa. Ekstraksi minyak secara mekanis tipe ulir terdiri dari tahap perlakuan pendahuluan dan pengempaan. Perlakuan pendahuluan terdiri dari pembersihan bahan (cleaning), pemisahan kulit (dehulling), pengecilan ukuran (size reduction) dan pemasakan atau pemanasan (cooking) (Swern, 1982).

Alat Pengepres Minyak

Expeller process adalah suatu metode ekstrasi minyak yang berasal dari biji-bijian tanaman pangan dengan menggunakan screw press atau alat pengepres.

Screw press adalah sebuah mesin pengepres dengan skrup berbentuk spiral untuk

mengepres bahan makanan. Istilah lain dari expeller process yaitu extracted

mechanical process yang artinya mengeluarkan minyak dari bahan-bahan dengan

(45)

18

pengepresan. Bahan baku yang umumnya digunakan dalam metode ekstraksi minyak antara lain kacang, kedelai, dan jagung yang kemudian hasil ikutannya disebut bungkil yang merupakan sumber protein tinggi (Priyono, 2009).

Mesin pres minyak tipe berulir cocok untuk mengekstraksi sari buah dari segala jenis buah, biji dan sebagainya. Dengan cara mengubah tekanan, mesin ini dapat juga digunakan untuk memisahkan minyak terlebih dahulu dari kulit misalnya dengan cara reaming. Satu unit dari ulir berbentuk horizontal dari jenis

expeller dipasang dengan tepat dan diputar oleh sumbu yang terbuat dari rangka

baja tahan karat atau monel. Alat ini dilengkapi dengan saringan pada bagian bawah dan celah untuk mengalirkan cairan hasil pengepresan, sementara ampas kulit didesak keluar dari lubang kecil pada bagian ujung sumbu ulir (Guenther, 1990).

(46)

19

Keunggulan dari mesin pres ulir ini adalah karena dapat mengolah berbagai tipe buah atau kulit dengan berbagai ukuran. Jika buah atau biji utuh langsung dipres dalam alat pres berulir ini maka cairan yang dihasilkan terdiri dari emulsi antara sari buah atau sari biji, minyak dan hancuran sel. Setelah partikel padat dipisahkan dengan cara menyaring maka emulsi encer yang terdiri dari sari buah atau sari biji dan minyak harus disentrifugasi sehingga sari dan minyak terpisah atau dilakukan penyulingan (Guenther, 1990).

Alat pengepres minyak (oil press) ini bekerja dengan prinsip mengempa atau mengepres bahan atau bijian yang dengan menggunakan pemanas elektrik (heater). Setelah alat dipastikan dalam keadaan siap pakai dan suhu didalam silinder mencapai suhu pemanasan yang diinginkan, bahan baku berupa kacang tanah, jagung dan kedelai dimasukkan ke dalam silinder melalui saluran masukan

(hooper). Silinder akan dipanasi dengan menggunakan pemanas elektrik (heater)

dan suhu diatur dengan menggunakan thermostat. Biji yang ada di dalam silinder akan dibawa oleh ulir ke ujung silinder yang kemudian akan dikempa hingga minyak keluar. Minyak hasil pengempaan akan keluar melalui saluran pengeluaran.

Gambar 4. Skema cara memperoleh minyak dengan pengepresan (Sumber: Wikipedia)

Bahan Perajangan Penggilingan

Pemasakan/ pemanasan Pengepresan

Minyak kasar

(47)

20

Bagian-bagian penting yang terdapat pada pengempa berulir adalah saluran pengumpan, ulir pemeras, saringan, saluran pengeluaran minyak dan saluran pengeluaran ampas. Saluran pengumpan berfungsi untuk memasukkan bahan baku. Ulir pemeras berfungsi untuk membawa bahan yang akan dikempa dan juga menekan daging buah sehingga ninyak keluar dari sel-sel buah. Ulir ini menyatui dengan poros yang bergerak memutar. Sedangkan saringan berada di sekitar ulir pemerasan. Saluran pengeluaran minyak berfungsi untuk menyalurkan minyak yang keluar dari saringan. Saluran pengeluaran ampas berfungsi untuk pengeluaran ampas yang telah dipres minyaknya.

Pemisahan Campuran Suspensi

(48)

21

selanjutnya filtrat di dekantasi (dituang atau dipipet secara hati-hati) (Wijaya, 2005).

Kadar Air pada Minyak

Kadar air erat kaitannya dengan sifat fisik dari bahan pangan. Meskipun sering diabaikan, air merupakan salah satu unsur penting dalam bahan makanan. Air sendiri bukan merupakan sumber nutrien seperti bahan makanan lain, hanya saja air berperan dalam membentuk teksturbahan. air dalam bahan makanan atau air terikat (bound water) dibagi menjadi dua yaitu air imbibisi dan air kristal. Air imbibisi merupakan air yang masuk ke dalam bahan pangan dan akan menyebabkan pengembangan volume. Air kristal adalah air terikat dalam semua bahan, baik bahan pangan maupun non pangan yang berbentuk kristal (Buckle, dkk., 1987).

Dalam analisis bahan pangan biasanya kadar air bahan dinyatakan dalam persen berat kering. Hal ini disebabkan perhitungan berdasarkan berat basah mempunyai kekurangan yaitu berat basah bahan selalu berubah-ubah setiap saat, sedangkan berat bahan kering selalu tetap. Metode pengukuran kadar air yang umum dilakukan adalah metode oven atau dengan cara destilasi. Perbedaan kadar air dipengaruhi oleh kadar air awal pada bahan dan kelembaban udara yang berpengaruh dalam pengeringan (Adnan, 1991).

(49)

22

(50)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mendorong manusia untuk berpikir menciptakan suatu peralatan yang lebih efisien dan praktis serta dapat membantu bahkan menggantikan tenaga manusia. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling penting dalam pembangunan ekonomi suatu daerah. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor pertanian maka produksi pertanian harus ditingkatkan.

Penggunaan alat dan mesin pertanian sudah sejak lama digunakan dan perkembangannya mengikuti dengan perkembangan kebudayaan manusia. Pada awalnya alat dan mesin pertanian masih sederhana dan terbuat dari kayu kemudian berkembang menjadi bahan logam. Susunan alat ini mula-mula sederhana, kemudian sampai ditemukannya alat mesin pertanian yang kompleks. Dengan dikembangkannya pemanfaatan sumberdaya alam dengan motor secara langsung mempengaruhi secara langsung perkembangan dari alat mesin pertanian.

(51)

2

penggorengan minyak berfungsi sebagai medium penghantar panas, menambah rasa gurih, menambah nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan. Terdapat beberapa tanaman yang berpotensi untuk menghasilkan lemak, misalnya kacang tanah, kedelai, jagung dan sebagainya (Ketaren, 1986).

Menurut Maesen dan Somaatmadja (1993) kandungan minyak yang terdapat pada biji kacang tanah adalah 44 – 56 %, menurut Adisarwanto (2005) kandungan minyak pada kedelai berkisar 20 % dan menurut Ketaren (1986) kandungan minyak pada jagung sekitar 30 %. Untuk menghasilkan minyak dari bahan-bahan tersebut perlu adanya perlakuan. Ada tiga metode perlakuan untuk memperoleh minyak dari suatu bahan, yaitu metode rendering, pengepresan mekanis dan metode ekstraksi. Pengepresan mekanis terbagi atas dua cara yaitu pengepresan hidraulik dan pengepresan berulir. Dalam penelitian ini digunakan metode pengepresan berulir yang menggunakan alat screw press yang telah ada.

Pengambilan minyak dengan metode pengepresan yang menggunakan

screw press ini tidak perlu dilakukan perlakuan sebelumnya, karena pada alat ini

sudah dilengkapi dengan alat pemanas dan tekanan mekanik sehingga alat ini dapat langsung memisahkan minyak dengan ampasnya. Hanya saja minyak masih mengandung kotoran atau sludge dan air sehingga perlu dilakukan penyaringan untuk menghilangkan kotoran menggunakan kertas saring atau disentrifugasi sekaligus untuk memisahkan minyak dengan air dan kadar kotorannya atau juga dapat juga dengan cara destilasi.

Screw press cocok digunakan pada biji-bijian yang berkadar minyak lebih

(52)

3

mengandung air sekitar 2,5 – 3,5 %. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kapasitas efektif alat pengepres yaitu dengan cara menghitung banyaknya bahan yang dapat dipres dalam setiap jam kerja alat dan menghitung kandungan minyak pada bungkil atau ampas hasil pengepresan dan pengujian kadar air yang masih terkandung dalam minyak dengan cara disentrifugasi atau didestilasi.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kapasitas efektif alat pengepres minyak dan menghitung kadar minyak per kilogram bahan baku.

Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

2. Hasil penelitian diharapkan dapat berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

(53)

ABSTRAK

IIN SAWITRI: Uji alat pengepres minyak (oil press) pada beberapa komoditi, dibimbing oleh AINUN ROHANAH dan SULASTRI PANGGABEAN.

Pada dasarnya, alat pengepres minyak ini dirancang untuk mengepres kemiri. Penelitian ini adalah pengujian berbagai komoditi pada alat pengepres minyak yang bertujuan menguji kapasitas alat ini dalam mengeluarkan minyak dari bijian selain kemiri. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Keteknikan Pertanian dan analisis parameter di Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian USU pada bulan Maret sampai Mei 2014 dengan menggunakan model rancangan acak lengkap non faktorial dengan taraf pengujian komoditi kacang tanah, kedelai dan jagung. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, kadar air pada minyak dan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komoditi memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat, kadar air bahan dan rendemen. Perlakuan terbaik dari penelitian ini adalah perlakuan P1 (komoditi kacang tanah) yang menghasilkan kapasitas efektif alat 1,536 l/jam, kadar air minyak 0,171 % dan rendemen 0,367 l/kg.

Kata kunci: Pengepresan, alat pengepres minyak, minyak dari biji-bijian

ABSTRACT

IIN SAWITRI: Test of oil press on some commodities, supervised by AINUN ROHANAH and SULASTRI PANGGABEAN.

Basicly, oil press is designed to press candlenut. This study was used in testing various commodity on oil press which was aimed to find the capacity of the oil press in removing oil from grains besides candlenut. This study was conducted at the Laboratory of Agricultural Engineering and parameters were analysed at Laboratory of Food Technology Faculty of Agricultural USU in March to May 2014 by using a non factorial completly randomized on peanut, soybean and corn. Parameters measured were effective capacity of oil press, water content of oil and yield. The results showed that the commodities had highly significant effect on effective capacity, water content and yield. The best treatment was the P1 (peanut) which produced 1,536 l/kg effective capacity, 0,171% water content of oil and 0,367 l/kg yield.

(54)

1

UJI ALAT PENGEPRES MINYAK (OIL PRESS) PADA

BEBERAPA KOMODITI

SKRIPSI

IIN

SAWITRI

090308062

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(55)

UJI ALAT PENGEPRES MINYAK (OIL PRESS) PADA

BEBERAPA KOMODITI

SKRIPSI

IIN SAWITRI 090308062

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(Ainun Rohanah, STP, M.Si ) Ketua

(56)

i

ABSTRAK

IIN SAWITRI: Uji alat pengepres minyak (oil press) pada beberapa komoditi, dibimbing oleh AINUN ROHANAH dan SULASTRI PANGGABEAN.

Pada dasarnya, alat pengepres minyak ini dirancang untuk mengepres kemiri. Penelitian ini adalah pengujian berbagai komoditi pada alat pengepres minyak yang bertujuan menguji kapasitas alat ini dalam mengeluarkan minyak dari bijian selain kemiri. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Keteknikan Pertanian dan analisis parameter di Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian USU pada bulan Maret sampai Mei 2014 dengan menggunakan model rancangan acak lengkap non faktorial dengan taraf pengujian komoditi kacang tanah, kedelai dan jagung. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, kadar air pada minyak dan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komoditi memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kapasitas efektif alat, kadar air bahan dan rendemen. Perlakuan terbaik dari penelitian ini adalah perlakuan P1 (komoditi kacang tanah) yang menghasilkan kapasitas efektif alat 1,536 l/jam, kadar air minyak 0,171 % dan rendemen 0,367 l/kg.

Kata kunci: Pengepresan, alat pengepres minyak, minyak dari biji-bijian

ABSTRACT

IIN SAWITRI: Test of oil press on some commodities, supervised by AINUN ROHANAH and SULASTRI PANGGABEAN.

Basicly, oil press is designed to press candlenut. This study was used in testing various commodity on oil press which was aimed to find the capacity of the oil press in removing oil from grains besides candlenut. This study was conducted at the Laboratory of Agricultural Engineering and parameters were analysed at Laboratory of Food Technology Faculty of Agricultural USU in March to May 2014 by using a non factorial completly randomized on peanut, soybean and corn. Parameters measured were effective capacity of oil press, water content of oil and yield. The results showed that the commodities had highly significant effect on effective capacity, water content and yield. The best treatment was the P1 (peanut) which produced 1,536 l/kg effective capacity, 0,171% water content of oil and 0,367 l/kg yield.

(57)

RIWAYAT HIDUP

Iin Sawitri, dilahirkan di Sei Rokan pada tanggal 5 Mei 1991 dari ayah Fauzan dan ibu Pujiarti. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bangkinang, Riau dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk ke Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis memilih Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian (BPH IMATETA) sebagai bendahara masa bakti 2012 – 2013 dan penulis juga pernah menjadi Asisten Laboratorium Mekanisasi Pertanian pada tahun 2012.

(58)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Uji Alat Pengepres Minyak (Oil Press) pada Beberapa Komoditi” yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ainun Rohanah, STP, M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan kepada Ibu Sulastri Panggabean, STP, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua, abang dan kakak yang telah mendukung penulis baik secara moril maupun materil.

Semoga skripsi dari penelitian ini memberi manfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Medan, Juli 2014

(59)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Kedelai ... 4

Tanaman Kacang Tanah ... 8

Tanaman Jagung ... 11

Minyak Nabati dan Teknologi Pengolahannya ... 14

Alat Pengepres Minyak ... 17

Pemisahan Campuran Suspensi ... 20

Kadar Air pada Minyak ... 21

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

Bahan dan Alat Penelitian ... 23

Metode Penelitian ... 23

Persiapan Penelitian ... 24

Prosedur Penelitian ... 25

Analisis Parameter ... 25

Parameter yang diamati ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN Kapasitas Efektif Alat ... 29

Kadar Air Bahan ... 30

Rendemen Minyak ... 33

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 38

Saran ... 38

(60)

v

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Kandungan gizi per 100 gram kedelai ... 6

2. Kandungan gizi per 100 gram kacang tanah ... 10

3. Kandungan gizi per 100 gram jagung ... 13

4. Pengaruh berbagai jenis komoditi terhadap parameter yang diamati ... 28

5. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kapasitas efektif alat ... 29

6. Kadar air biji kering dan kadar air pada minyak ... 31

7. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kadar air ... 32

8. Uji DMRT beda komoditi terhadap rendemen sebelum sentrifugasi ... 33

9. Uji DMRT beda komoditi terhadap rendemen setelah sentrifugasi ... 34

(61)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Biji Kedelai ... 6

2. Biji kacang tanah ... 9

3. Biji jagung ... 13

4. Skema cara memperoleh minyak dengan pengepresan... 19

5. Hubungan beberapa jenis komoditi terhadap kapasitas efektif alat ... 30

6. Hubungan persentase kadar air dari beberapa jenis komoditi ... 32

(62)

vii

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Flowchart pelaksanaan penelitian... 41

2. Perhitungan ... 42

3. Data pengamatan kapasitas efektif alat ... 46

4. Data pengamatan kadar air pada minyak ... 47

5. Data pengamatan rendemen minyak ... 48

Gambar

Tabel 4. Pengaruh berbagai jenis komoditi terhadap parameter yang diamati  Rendemen II (l/kg)
Tabel 5. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kapasitas efektif alatNotasi
Tabel 6. Kadar air biji kering dan kadar air pada minyak Kadar air biji kering (%) 11,84
Tabel 7. Uji DMRT pengaruh beda komoditi terhadap kadar air LSR
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Teknis Sistem Pengelolaan

[r]

1) Guru membuka kesempatan secara luas dan bervariasi kepada peserta didik untuk mencari dan membaca tentang produksi rekayasa elektronika kendali otomatis (lampu

[r]

Pada daftar tabel ” Peningkatan Kinerja Jalan Provinsi, Kabupaten / Kota ” klik tombol untuk melakukan penginputan data. Berikut adalah form untuk tabel

[r]

Kadar plastik yang optimum bagi suatu campuran aspal adalah sebesar 8% dari nilai total berat sample [6] sedangkan bagi hasil uji limbah beton, didapatkan kadar paling