• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Bimbingan Jamaah Haji Pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Metode Bimbingan Jamaah Haji Pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

METODE BIMBINGAN JAMAAH HAJI

PADA YAYASAN AR RISALAH CIRACAS JAKARTA TIMUR

Skripsi

Diajukankepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam

(S.Kom.I)

Oleh :

Aldi Cahya Ramadhan

NIM: 109053100002

KONSENTRASI MANAJEMEN HAJI DAN UMRAH

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 27 Februari 2014

(5)

i

Metode Bimbingan Jamaah Haji Pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur, Dibawah bimbingan Drs. Ade Marfuddin, MM

Metode bimbingan adalah suatu cara membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya. Metode bimbingan pada jamaah haji sangat di butuhkan karena perlu diadakannya bimbingan agar jamaah lebih mandiri, baik aspek fisik maupun mental, dan tatacara ibadah haji yang benar. Bimbingan haji ibarat sekolah bagi jamaah haji disitulah pelaksanaan ibadah haji bakal disampaikan secara lengkap, dan serta prakteknya.

Metode bimbingan yang di terapkan Yayasan Ar Risalah adalah metode bil hikmah, bil mujadalah, bil muadizah, dan Yayasan Ar Risalah mengelompokan metode individual dan metode kelompok.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif (kualitatif) dengan menganalisa dan menginterprestasikan data-data yang ada di Yayasan Ar Risalah tentang metode bimbingan jamaah haji. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana metode bimbingan jamaah haji langsung dan tidak langsung pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode bimbingan haji adalah salah satu cara atau sistem membimbing para calon jamaah haji. Metode bimbingan sangat bagi jamaah agar jamaah haji lebih mandiri dalam melakukan tatacara ibadah haji.

(6)

ii

Kata Pengantar

ﻤﯿِﺣَّراا

ﺎِﻨَﻤْﺣَّﺮﻠ

ِﷲِﻢــــــــــــــــــْﺴِﺑا

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi

rahmat, keberkahan, kesehatan jasmani dan rohani kepada penulis sehingga penulis

bias menyelesaikan tugas akhir ini (Skripsi)

Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi yang

membawa umatnya dari zaman jahilliyah ke zaman modern seperti ini ialah Nabi

Muhammad SAW, karena beliau lah suri tauladan bagi seluruh manusia dan alam

semesta.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini

(Skripsi) baik bantuk moril maupun material. Sulit rasanya buat penulis untuk

menyelesaikan tugas akhir ini (Skripsi) tanpa bantuan semua pihak yang terkait di

karenakan penulis hanyalah manusia biasa yang masih haus akan ilmu. Oleh karena itu

pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan tanda terima kasih kepada :

1.

Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi.

2.

Drs Cecep Castrawijaya, MA dan H. Mulkanasir, BA, Spd, MM selaku ketua

dan sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah yang telah membantu penulis

(7)

iii

di selesaikan dengan baik.

4.

Seluruh dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis semoga penulis bias

mengamalkan ilmu yang telah diberikan.

5.

Bapak Sunardi (Kepala Kantor Yayasan Ar Risalah) dan Bapak Abdul Rosyid,

Sos. I (Ketua KBIH Yayasan Ar Risalah) yang telah menerima penulis untuk

meneliti di Yayasan Ar Risalah dan selalu memberi masukan dan arahannya.

6.

Bapak (Alm) dan Ibu tercinta yang selalu sabar mendidik penulis dari kecil

sampai sekarang dan tidak bosan-bosan nya mengingatkan penulis untuk

menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih terima kasih terima kasih Bapak Ibu,

Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian dan semoga mendapatkan

tempat terbaik di sisi Allah SWT (Amin)

7.

Kakak dan Adik-adik serta keluarga besar Sukarna makasih support dan

doanya.

8.

Terima kasih buat neng Meilani yang selalu menemani penulis mondar mandir

ke Perpustakaan Utama untuk membuat skripsi ini dan tidak bosan bosan nya

untuk menegor penulis di saat penulis sedang malas. Semoga neng Meilani

selalu menjadi teman hidup yang special buat penulis.

9.

Sahabat seperjuangan Bos Lubby aka P2NK, Ba2nk, Kamsoy, Plunk iat,

(8)

iv

keluarga besar The Brengs Squad semoga persahabatan kita seperti angka 8

yang nyambung terus tidak bisa terputus sampai akhir hayat.

10.

Sahabat kantin Cifuy, Ilhamyudiansyah (Alm), Bebek, Degam, Bogel, Tapir,

Pamsky, Jafra, Tile, Bodong, Amir, Ucok, Kak Indra dan Kak Vija terima

kasih kopi hangat nya yang selalu menemani canda tawa kita selama 4 tahun

lebih dan keep woles.

11.

Sahabat MHU Ibnu, Ucup, Aulia, Ican, Tago, Fitri, Cinta, Vai, Daus, Ecet, dll

yang selalu memberi semangat ketika penulis sedang ngedown terhadap

skripsi. Semoga kita semua menjadi pengusaha Travel Haji dan Umroh. Amin

12.

Bang Erix Soekamti, Ari Soekamtis, Dori Soekamtis dan Kamtis Family

Indonesia yang selalu menjadi inspirasi buat penulis (We Are Kamtis Family).

Akhir kata penulis berharap semoga segala usaha, bantuan,

pengorbanan, doa, dan harapan kita semua mendapatkan balasan yang berlipat

ganda dari Allah SWT. Dan mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat

umumnya kepada semua pihak khususnya diri pribadi penulis.

Jakarta, 27 Februari 2014

(9)
(10)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK

... i

KATA PENGANTAR

... ii

DAFTAR ISI

... v

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah ... 1

B.

Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 3

C.

Tujuan dan Manfaat Penelitiah ... 3

D.

Metode Penelitian ... 4

E.

Tinjauan Pustaka ... 9

F.

Sistematika Penulisan ... 11

BAB II LANDASAN TEORI

A.

Metode Bimbingan

1.

Pengertian Metode Bimbingan ... 13

2.

Macam-Macam Metode Bimbingan ... 15

3.

Kelompok-Kelompok Metode Bimbingan ... 16

4.

Prinsip-Prinsip Metode Bimbingan ... 19

5.

Konsep Metode Bimbingan ... 20

6.

Tujuan Bimbingan ... 20

7.

Manfaat Bimbingan ... 21

B.

Jamaah Haji

1.

Pengertian Jamaah Haji ... 22

2.

Klasifikasi Jamaah Haji ... 23

BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG YAYASAN AR ARISALAH

A.

Profil ... 25

B.

Motto, Visi dan Misi ... 26

C.

Maksud dan Tujuan ... 26

D. Perkembang Jumlah Jamaah ... 27

E. Struktur Organisasi ... 28

F. Program Kerja Yayasan Ar Arisalah ... 29

G. Program Bimbingan Jamaah Yayasan Ar Risalaha ... 32

H. Target dan Strategi Mencapai Tujuan ... 33

I. Komitmen Yayasan Ar Risalah... 34

(11)

vi

B.

Metode Bimbingan Jamaah Haji Tidak Langsung Pada Yayasan Ar Risalah ... 43

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA

... 60

(12)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Metode merupakan suatu jalur atau jalan yang harus dilalui untuk

pencapaian suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta berarti

memalui dan hodos berarti jalan, bila di gabungkan metode bisa di artikan

jalan yang harus di lalui. Sedangkan bimbingan adalah suatu cara tertentu

yang digunakan dalam proses bimbingan. Secara umum ada dua metode

dalam pelayanan bimbingan, yaitu metode bimbingan individual, dan

metode bimbingan kelompok . Metode bimbingan kelompok di kenal juga

dengan bimbingan (group guidance) sedangkan metode bimbingan

individual dikenal dengan individual konseling.

Metode bimbingan pada jamaah haji sangat di perlukan agar jamaah haji

lebih siap dari segi fisik dan mental dan teratur dalam melaksanakan ibadah

haji. Jamaah haji Indonesia sangat beragam, kebanyakan mereka masih

berpendidikan rendah dan baru pertama kali menunaikan ibadah haji. Semua

itu bisa membuat bingung dan shock bagi jamaah haji.1

Metode bimbingan jamaah haji ibarat sekolah bagi jamaah haji disitulah

pelaksanaan ibadah haji bakal disampaikan secara lengkap, dan serta

prakteknya.

1

(13)

Kegiatan operasional penyelenggaran bimbingan ibadah haji yang telah

berlangsung bertahun-tahun dilaksanakan seirama dengan situasi dan kondisi

kemasyarakatan karena perkembangan masyarakat yang semakin dinamis,

kritis, dan korektif, melahirkan tuntunan-tuntunan baru yang harus direspon

secara positif dengan memperhatikan teknologi informasi 2

Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah haji, bimbingan

terhadap jamaah haji mutlak dilakukan, yaitu untuk mewujudkan kemandirian

jamaah haji dalam melaksanaan ibadah haji mulai pendaftaran hingga

pelaksanaan ibadah haji.

Yayasan Ar Risalah menerapkan dan mengelompokan beberapa metode

dalam melakukan metode bimbingan jamaah, menggunakan metode individual

dan kelompok, dan menerapkan metode bil hikmah, bil mujadallah, dan metode bil muadizah . Bimbingan yang berkualitas menjadi salah satu sasaran yang diberikan oleh Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur kepada jamaah

haji agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai metode bimbingan jamaah haji di

Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur, maka penulis tertarik untuk

meneliti dan kemudian penulis akan menuangkan dalam karya tulis “skripsi”

dengan judul : “Metode Bimbingan Jamaah Haji Pada Kbih Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur”

2 Departemen Agama, Petunjuk Pelaksanaan Pelatihan Calon Jamaah Haji , (Jakarta :

(14)

3

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini hanya menganalis Metode

Bimbingan Jamaah Haji pada Yayasan Ar Risalah Jakarta Timur.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan masalah di atas, agar lebih terfokus maka peneliti

merumuskan masalah sebagai berikut :

a. Bagaimana Metode Bimbingan Jamaah Haji Langsung Pada Yayasan

Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur ?

b. Bagaimana Metode Bimbingan Jamaah Haji Tidak Langsung Pada

Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemikiran dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

a. Untuk Mengetahui Metode Bimbingan Jamaah Haji Langsung Pada

Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

b. Untuk Mengetahui Metode Bimbingan Jamaah Haji Tidak Langsung

Pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

c. Untuk Mengetahui Dan Menganalisis Kendala-Kendala Dalam

(15)

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis

Dalam segi akademis penelitian ini menggunakan penelitian

kualitatif guna memberikan kontribusi dalam perkembangan penelitian

melalui pendekatan ilmu pengetahuan tentang metode bimbingan

jamaah haji sebagai alat bantu utama pada Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi, sehingga hasil penelitian ini diharapkan memberi

wawasan dan bahan penelitian lebih lanjut.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadikan masukkan dalam

menambah wawasan bagi kalangan teoritis serta praktis pada umumnya,

dan terutama bagi para aktivis maupun mahasiswa guna menambah

pengetahuan dalam mempelajari mengenai Metode Bimbingan Jamaah

Haji pada Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

D. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini bersikap deskriptif yakni penelitian tentang hubungan

fenomena sosial tertentu dengan menganalisa dan menginterpretasikan data

yang ada dan penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan

sesuatu hal seperti apa adanya3.

3

(16)

5

Penelitian deskriptif ialah sebuah penelitian yang bertujuan untuk

mengambarkan gejala sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dalam

penelitian agama, penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu

gejala keagamaan.

Penelitian deskriptif berbeda dengan penelitian eksploratif. Penelitian

eksploratif belum memiliki variabel yang menjadi fokus pengamatan,

sedangkan penelitian deskriptif sudah memiliki variabel yang menjadi

fokus pengamatan. Dalam penelitian deskriptif, variabel yang menjadi

fokus pengamatan.4

Adapun desain penelitiannya mengunakan jenis penelitian desain

deskriptif yaitu metode yang bertujuan membuat gambaran, lukisan secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan

fenomena yang diteliti.5

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami

fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya

prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan

dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu

konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode

alamiah.6

4

M. Sayuti Ali, Metodologi Penelitian Agama (Pendekatan Teori & Praktek). (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 22.

5

Sandjaja dan Albertus Heriyanto, Panduan Penelitian, (Jakarta: Prestasi Pustakarya,2006), h. 110.

6

(17)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masalah dengan

memaparkan keadaan Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur dari segi

bimbingan jamaah haji berdasarkan fakta-fakta yang terjadi sekarang, dan

diakhir penelitian menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari informan dan perilaku yang diamati di Yayasan Ar

Risalah Ciracas Jakarta Timur.

2. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan teknik

pengumpulan data sebagai berikut :

a. Interview (Wawancara)

Wawancara adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan

informasi secara langsung dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan

kepada para responden, karena wawancara bermakna dengan

berhadapan langsung antara interview dengan responden, dan

kegiatannya dilakukan secara lisan. Peneliti mengajukan beberapa

pertanyaan yang telah peneliti siapkan kepada responden, lalu dijawab

oleh pemberi data dengan bebas terbuka7. Pada wawancara ini penulis

mengadakan komunikasi langsung dan mengajukan beberapa

pertanyaan ke beberapa pihak yang bersangkutan baik secara lisan dan

mendengarkan langsung keterangan-keterangan atau informasi dari

pengelola Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

b. Observasi

7

(18)

7

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan

sistematika fenomena yang diselidiki. Observasi dapat dilakukan sesaat

ataupun mungkin dapat diulang. 8 Dalam observasi ini penulis

melakukan pengamatan dan mencatat secara langsung terhadap objek

penelitian yaitu metode bimbingan jamaah haji langsung dang tidak

langsung yang diberikan di Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur.

c. Metode Dokumen

Metode dokumen adalah penelitian yang datanya diambil terutama atau

seluruhnya dari dokumen, artikel, laporan, koran dan lain-lain

sebagainya. Dengan demikian bahan ini dapat membantu penulis dalam

memecahkan masalah9. Dalam hal ini penulis mengumpulkan data-data

yang sudah tersimpan di Yayasan Ar Risalah Ciracas Jakarta Timur

dengan menambahkan data-data atau literatur-literatur yang terkait

dengan penelitian.

3. Teknik Pengolahan Data

Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif merupakan upaya yang

dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

memanifestasikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

8

Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian : Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2002),h.69.

9

(19)

penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat

diceritakan kepada orang lain10.

Miles dan Huberman menyebutkan beberapa langkah aktivitas yang

dilakukan dalam analisis data kualitatif ini antara lain 11:

a. Reduksi Data

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Dalam penelitian ini, reduksi data dilakukan dengan memilih hal-hal

penting dari data yang diperoleh.

b. Penyajian Data

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk naratif, sehingga

memerlukan penyederhanaan tanpa mengurangi isinya.

c. Kesimpulan

Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan. Kesimpulan dalam

penelitian kualitatif bersumber dari data-data yang terangkum dan

dijabarkan dalam bentuk naratif penulis. Kesimpulan digunakan untuk

menjawab rumusan masalah.

10

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),h.248.

11

(20)

9

E. Tinjauan Pustaka

Dalam beberapa skripsi yang penulis baca, banyak pendapat yang harus

diperhatikan dan menjadi petimbangan selanjutnya. Adapun setelah penulis

mengadakan suatu kajian kepustakaan, penulis akhirnya menemukan beberapa

skiripsi yang hampir sama dengan apa yang akan penulis teliti. Judul – Judul

tersebut antara lain :

1. ‘’Manajemen Pembinaan Calon Jamaah Haji pada KBIH AL

MUJAHIDIN Pamulang’’, disusun oleh Siti Nur Alfisyah (0053019945)

tahun 2008, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Inti Penelitian

Manajemen pembinaan jamaah merupakan proses mengkoordinasi,

mengarahkan, dengan mengembangkan kemampuan secara bersama-sama

dalam kegiatan ibadah haji demi terlaksananya cita-cita ibadah haji.

Manajemen pembinaan jamaah calon jamaah haji di KBIH Al-Mujahidin

dilakukan untuk membantu para jamaah calon haji melakukan ibadah

secara baik dan benar sesuai dengan syariat islam.

Manajemen pembinaan jamaah calon haji di KBIH Al-Mujahidin

berisi tentang latihan manasik haji, latihan ini dibagi dalam tujuh

pertemuan, pada pertemuan ketujuh dilakukan evaluasi presentasi simulasi

manasik haji.

Persama dari skripsi ini adalah sama-sama membahas tentang

(21)

Nur Alfisyah membahas tentang manajemennya dan skripsi yang saya tulis

mengenai metodenya.

2. ‘’Metode Pembinaan Agama Bagi Penyandang Masalah

Kesejahteraan Sosial (PMKS) Di Panti Sosial Bangun Daya I Kedoya

Jakarta Barat’’, disusun oleh Muhammad Syahid Fudholi Al-Hasyim tahun

2012, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Inti Penelitian

Metode yang dilakukan pembimbing agama dalam pembinaan agama

bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial meliputi metode komunikasi

secara langsung yang memiliki teknik individual atau face to face maupun

teknik komunikasi kelompok, dan metode tidak langsung yang dilakukan

dengan media media seperti media cetak dan media eloktronik serta

dilengkapi metode dawah Al-Hikmah dan Al-Mau’idzatil Hasanah.

Penerapan bimbingan dan pembinaan yang dilaksanakan serta respon

yang baik dari PMKS (warga binaan sosial) membuat bimbingan dan

pembinaan dilakukan oleh pembina serta petugas panti sangat mendukung

dalam proses pembinaan agama tersebut.

Bimbingan dan pembinaan yang dilakukan oleh Panti Sosial dan Bina

Insan Bangun Daya 1 Kedoya Jakarta Barat tentunya memilki

kendala-kendala seperti sakit strees, perlindungan khusus dari polisi, TNI,

komunitas, dan oraganisasi masyarakat, minimnya keamaan, sulitnya

mengidentifikasi, kurangnya sarana prasarana di Panti Sosial Bina Insan

(22)

11

Persamaan skripsi yang saya tulis dengan skripsi Muhammad Syahid

Fudholi Al Hasyim adalah sama-sama membahas tentang metode

bimbingan, sedangkan perbedaanya tentang jamaah haji dan penyandang

masalah kesejahteraan sosial.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penyusunan serta bahasan bab demi bab

terjalin secara sistematis, maka dengan ini penulis menggunakan sistematika

penulisan dan terbagi dari 5 bab diantaranya:

Bab I Pendahuluan

Pada bab ini penulis menguraikan latar belakang masalah, pembatasan dan

perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, tinjauan

pustaka, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Teori

Dalam bab ini membahas tentang mengenai metode bimbingan; pengertian

metode bimbingan, macam-maca metode bimbingan, kelompok metode

bimbingan, tujuan metode bimbingan, prinsip metode bimbingan, konsep

metode bimbingan, dan manfaat metode bimbingan. Sedangkan jamaah haji :

pengertian jamaah haji, klasifikasi jamaah haji.

Bab III Tinjauan Umum Tentang Yayasan Ar Risalah Ciracas, Jakarta Timur

Terdiri dari gambaran umum Yayasan Ar-Risalah yang meliputi profil, motto

visi dan misi, maksud dan tujuan, perkembangan jumlah jamaah, struktur

(23)

Yayasan Ar Risalah, Sarana dan Prasarana Yayasan Ar Arisalah Ciracas

Jakarta Timur.

Bab IV Penelitian dan Pembahasan

Bab ini merupakan hasil penelitian dan pembahasan yaitu mengenai metode

bimbingan jamaah haji langsung dan tidak langsung pada Yayasan Ar Risalah

Ciracas Jakarta Timur.

Bab V Penutup

Bab ini bab terakhir penulis mengemukakan suatu kesimpulan dari pembahasan

skripsi. Penulis mencoba memberikan saran-saran yang merupakan sumbangan

(24)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Metode Bimbingan

1. Pengertian Metode Bimbingan

Metode dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai metode (dengan ilmu

pengetahuan, dan sebagainya). 1Secara etimologi metode berasal dari

bahasa Yunani, yang terdiri dari penggalan kata ‘’meta’’ yang berarti ‘’melalui’’ dan ‘’hodos’’ berarti ‘’jalan’’. Bila digabungkan maka metode bisa diartikan ‘’jalan yang harus dilalui’’. Dalam pengertian yang

lebih luas, metode bisa diartikan sebagai ‘’segala sesuatu atau cara yang

digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang di inginkan.2

K. Prente, menerjemahkan methodus sebagai cara, mengajar. Metode adalah cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk

mencapai maksud. 3

Dari beberapa definisi tentang metode yang telah dipaparkan diatas,

penulis menyimpulkan bahwa metode adalah suatu cara yang telah diatur

melalui proses untuk mencapai tujuan.

1

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka 1994), h. 580

2 M.Lutfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Konseling) Islam, (Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayullah Jakarta, 2008), h.120

3

(25)

Sedangkan bimbingan memiliki pengertian menuntun, mambantu

seseorang yang mengalami masalah agar ia dapat mengembangkan

potensinya secara optimal. Bimbingan merupakan terjemahan dari

‘’guindance’’. Bentuk kata kerjanya yaitu ‘’to guide’’ yang menunjukan. Bimbingan berarti menunjukan kepada seseorang yang secara psikologis

membutuhkan bantuan, sehingga bimbingan adalah suatu pemberi

bantuan psikologis agar yang bersangkutan dapat menyelesaikan atau

mengurangi sendiri masalah yang sedang dihadapinya.4

Bimbingan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah petunjuk, penjelasan, atau tuntunan cara mengerjakan sesuatu.5

Secara terminologi, bimbingan menurut M. Luthfi adalah usaha membantu orang lain dengan mengungkapkan dan membangkitkan potensi yang dimilikinya. Sehingga dengan potensi itu, ia akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara wajar dan optimal, yakni dengan cara memahami dirinya, maupun mengambil keputusan untuk hidupnya, maka dengan itu ia akan dapat mewujudkan kehidupan yang baik, berguna dan bermanfaat untuk masa kini dan masa yang akan datang.6

Menurut Dr. Moh Surya definisi bimbingan adalah ‘’suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengerahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri.’’7

Dari definisi diatas dapat disimpulkan, bimbingan adalah memberi

bantuan kepada orang lain agar dapat mengatasi-mengatasi persoalan

yang ada didalam dirinya.

4

Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta : Golden Terayon Press, 1994), h.1

5

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka 1994), h.117

6

M.Lutfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Islam (Konseling) Islam, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayullah Jakarta, 2008), h.6

7

(26)

15

Sedangkan pengertian metode bimbingan adalah suatu cara

membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada pada

dirinya.

2. Macam - Macam Metode Bimbingan

Ada beberapa metode yang lazim dipakai dalam bimbingan di mana

sasarannya adalah mereka yang berada didalam kesulitan mental spiritual

disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dari dalam dirinya seperti,

tekanan batin (depresi mental), tidak mampu mengadakan konsentrasi pikiran, dan lain-lain gagguan batin yang memerlukan pertolongan.8

Metode bimbingan jamaah yang biasa digunakan adalah metode

‘’bilhikmah, bil mujadalah, bil mauidzah’’.

a. Metode Bil Hikmah, metode ini digunakan dalam menghadapi

orang-orang terpelajar, intelek, dan memiliki tingkat rasional yang

tinggi, yang kurang yakin akan kebenaran ajaran agama.

b. Metode Bil Mujadalah, perdebatan yang digunakan untuk menunjukan dan membuktikan kebenaran ajaran agama, dengan

menggunakan dalil-dalil Allah yang rasional.

c. Metode Bil Maudizah, dengan menunjukan contoh yang benar dan tepat, agar jamaah dapat mengikuti dan menangkap dari apa yang

diterimanya secara logika dan penjelasan teori.9

8

Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta : Golden Terayon Press, 1994), h.44

9

(27)

3. Kelompok-Kelompok Metode Bimbingan

Menurut Aunur Rahim Faqih di dalam bukunya ‘’Bimbingan dan

Konseling dalam Islam, metode bimbingan Islam dapat dikelompokan

menjadi dua, yakni :

a. Metode langsung (metode komunikasi langsung)

Yaitu metode dimana pembimbing melakukan komunikasi langsung

(bertatap muka) dengan orang yang dibimbingnya.

1) Metode individual

Dalam hal ini pembimbing melakukan komunikasi langsung

secara individual dengan yang dibimbing. Hal ini dapat dilakukan

pada saat, percakapan pribadi, kunjungan ke rumah (home visit)

dan observasi kerja.

2) Metode kelompok

Pembimbing melakukan komunikasi langsung dengan klien dalam

kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan diskusi kelompok,

karyawisata, sosiodarama, psikodrama, group teching.

b. Metode tidak langsung (metode komunikasi tidak langsung)

Yaitu metode bimbingan yang dilakukan melalui media komunikasi

masa. Hal ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

Metode yang digunakan adalah :

1) Metode individual, dilakukan melalui surat menyurat,telepon, fax,

(28)

17

2) Metode kelompok, dapat dilakukan melalui papan

bimbingan, surat kabar, brosur, radio, televisi. 10

Mengingat jamaah calon haji yang kondisinya beraneka ragam baik

ditinjau dari segi umur, pendidikan, profesi, dan status sosial tersebut

kiranya perlu dicari metode yang paling tepat agar bimbingan itu

benar-benar mengena dan mampu menghantarkan jamaah haji mempersiapkan

dirinya secara matang untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Menghadapi jamaah calon haji yang sebagian besar orang dewasa

dan belum pernah melaksanakan ibadah haji kiranya penggunaan metode

andragogi merupakan suatu keharusan. Dengan metode ini pembimbing

lebih bersifat menuntun jamaah untuk menentukan sikap dan perilaku

yang terbaik dan paling tepat sesuai dengan ajaran agama selama

menunaikan ibadah haji. 11

Adapun metode bimbingan yang dapat digunakan adalah metode

langsung (metode komunikasi langsung), yang terdiri dari dua bimbingan

yaitu bimbingan individu dan bimbingan kelompok.

Bimbingan individu di antaranya :12

1. Home visit, yaitu pembimbing mendatangi setiap jamaah calon haji

atau kelompok kecil dari rumah ke rumah. Jamaah calon haji diajak

berdialog tentang haji atau diajak untuk mempelajari buku materi

pelatihan haji.

10

Faqih, Bimbingan dan Konseling, h. 54-55

11

Departemen Agama, Petunjuk Pelaksanaan Pelatihan Calon Jamaah Haji, (Jakarta :Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaran Haji, 2005) h. 11.

12

(29)

2. Konsultasi, yaitu jamaah calon haji aktif bertanya tentang

masalah-masalah haji kepada pembimbing haji. Pembimbing memberikan

penjelasan dan bimbingan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh

calon jamaah haji.

Sedangkan bimbingan kelompok adalah sebagai berikut :

1. Ceramah, yaitu jamaah calon haji berkumpul secara klasikal untuk

mendapatkan pelajaran atau penjelasan tentang masalah haji yang

disampaikan oleh pembimbing haji, sebaiknya ceramah tersebut

diikuti dengan memperbanyak tanya jawab tentang masalah haji.

2. Peragaan, yaitu visualisasi dari setiap bagian pelajaran yang

dicontohkan oleh pembimbing serta diperagakan oleh jamaah calon

haji.

3. Praktek lapangan, yaitu jamaah calon haji secara bersama-sama

mempraktekkan seluruh pelaksanaan manasik haji dari awal sampai

selesai bersama-sama dengan pembimbing jamaah haji.

4. Sarasehan, yaitu jamaah calon haji secara bersama-sama mempelajari

manasik haji dengan pembimbing haji yang bertindak sebagai

moderator dam fasilitator atau dapat juga sebagai narasumber yang

sekaligus memadu jalannya pertemuan.13

13 Departemen Agama, Petunjuk Pelaksanaan Pelatihan Calon Jamaah Haji,

(30)

19

4. Prinsip-Prinsip Metode Bimbingan

Prinsip bimbingan ialah individu-individu, baik secara perorangan

maupun kelompok. Individu-individu itu sangat bervariasi dalam hal

umurnya, jenis kelaminnya, status sosial ekonomi keluarga, kedudukan,

pangkat, dan jabatan.

Keunikan individu serta sikap dan tingkah laku dalam

perkembangan kehidupannya itu mendorong prinsip-prinsip metode

bimbingan :

a. Prinsip bimbingan melayani semua individu, tanpa memandang, umur,

jenis kelamin, dan status sosial ekonomi.

b. Prinsip bimbingan berurusan dengan sikap dan tingkah laku yang

terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik.

c. Untuk mengoptimalkan bimbingan sesuai dengan kebutuhan itu sendiri

perlu dikenali dan dipahami keunikan setiap individu dengan berbagai

kekuatan, kelemahan, dan permasalahannya.

d. Setiap aspek pola kepribadiannya yang kompleks seorang individu

mengandung faktor-faktor yang secara potensial mengarah kepada

sikap dan pola tingkah laku yang tidak seimbang.

e. Meskipun individu yang satu dan lainnya serupa dalam berbagai hal,

perbedaan individu harus dipahami dan dipertimbangkan dalam rangka

upaya memberikan bimbingan kepada individu tertentu, baik mereka

anak-anak, remaja ataupun dewasa.14

14

(31)

5. Konsep Metode Bimbingan

Konsep-konsep metode bimbingan yang perlu dipahami dan

didalami lebih lanjut sebagai berikut :

a. Perubahan dan perkembangan masyarakat.

b.Modernisasi.

c. Era globalisasi dan informasi.

d.Sumber permasalahan.

e. Keindividual.

f. Kesosialan.15

6. Tujuan Metode Bimbingan

Mengamati profil jamaah haji Indonesia dari tahun ke tahun

sebagian besar adalah rakyat biasa dari daerah terpencil, berpendidikan

rendah, belum berpengalaman berpergian jauh, hidup dalam kultur lokal,

tidak dapat membaca dan berbahasa asing. Kondisi pelaksanaan ibadah

haji memaksa mereka untuk berhadapan dengan suatu kenyataan yang

bahkan tidak pernah di bayangkan.

Melihat kondisi tersebut, maka bimbingan mengenai hal-hal yang

berkaitan dengan berbagai hal yang menimbulkan kekagetan budaya

tersebut sangat diperlukan sejak dini bahkan sebelum calon jamaah haji

mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji.16

Adapun tujuan bimbingan jamaah tersebut ialah :

15H.Prayito, Dasar-Dasar Bimbingan & Konseling, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2013) h.

39

(32)

21

a. Mewujudkan jamaah haji yg mandiri.

b. Membentuk mental para jamaah haji

c. Memberikan atau mengarahkan tatacara ibadah haji yang benar.

d. Membimbing jamaah baik di tanah air maupun di tanah suci.

e. Menyesuaikan diri dengan lingkungan Arab Saudi.

f. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam melakukan

ibadah haji.

7. Manfaat Metode Bimbingan

Adapun manfaat-manfaat metode bimbingan haji sebagai berikut :

a. Menambah pengetahuan calon haji tentang makna ibadah haji serta

rangkaian kegiatan selama beribadah haji

b. Memberikan gambaran kondisi yang akan dihadapi selama

melaksanaan ibadah haji. Hal ini karena kondisi dan medan yang akan

dihadapi selama menjalankan ibadah haji, tentu berbeda dengan yang

kita hadapi sehari-hari

c. Meningkatkan kepercayaan diri dan keyakian sebelum proses

pelaksanaan ibadah haji berlangsung17

17

(33)

B. Jamaah Haji

1. Pengertian Jamaah Haji

Jamaah adalah kata bahasa Arab yang artinya ‘’kompak’’ atau

‘’bersama-samaan’’, ungkapan shalat berjamaah berarti shalat yang di

kerjakan secara bersama-sama di bawah pimpinan seorang imam. Jamaah

juga berarti sekelompok manusia yang terikat oleh sikap, pendirian,

keyakinan, dan tugas serta tujuan yang sama. Islam mengganjurkan umat

islam untuk menggalang kekompakan dan kebersamaan, yaitu masyarakat

yang terdiri dari pribadi-pribadi muslim, yang berpegang pada

norma-norma islam, menengakkan prinsip ‘’ta’awun’’ tolong menolong dan

kerja sama untuk tegaknya kekuatan bersama demi tercapainya tujuan

yang sama. 18

Dalam buku fiqih empat mazhab bagian ibadat (puasa, zakat, haji,

qurban), Abdurrahaman Al-Zaziri menyatakan bahwa yang di maksud

dengan ‘’haji’’ secara bahasa menuju kemuliaan, sedangan pengertian

haji secara istilah adalah amalan-amalan tertentu dan cara tertentu pula.19

Sedangkan pengertian jamaah haji yaitu Warga Negara Indonesia

yang beragama islam yang telah mendaftarkan diri untuk menunaikan

ibadah haji sesuai dengsan persyaratan yang telah di tetapkan.20

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon haji secara individu

adalah :

18

Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, ( Jakarta: Djembatan, 1992), hal. 386-487. 19

Abdurrahaman Al-Zaziri, Fiqh 4 Mazhab Bagian Ibadat, (Puasa, Zakat, Haji, Kurban),

(Jakara: Darul Ulum Press, 1996), hal. 177.

20Pedoman Teknis Pemeriksaan Kesehatan Jamaah Haji, ( Pusat Kesehatan Haji

(34)

23

c. Pengetahuan tentang manasik haji.

d. Mempunyai biaya yang cukup untuk keperluan di dalam negeri, biaya

perjalanan pulang pergi, biaya hidup selama di Arab Saudi untuk

akomodasi, konsumsi, dan transportasi, serta keperluan lainnya.

e. Mempunyai kelengkapan dokumen perjalanan (paspor) dan izin masuk

ke Negara tujuan.21

2. Klasifikasi Jama’ah Haji

Adapun ruang lingkup jama’ah haji adalah sebagai berikut :

a. Jama’ah haji mandiri adalah jama’ah haji yang memiliki kemampuan

mengikuti perjalanan ibadah haji tanpa tergantung kepada bantuan

alat/obat dan orang lain.

b. Jama’ah haji observasi adalah jama’ah haji yang memiliki

kemampuan mengikuti perjalanan ibadah haji dengan bantuan alat

atau obat.

c. Jama’ah haji pengawasan adalah jama’ah haji yang memiliki

kemampuan mengikuti perjalanan ibadah haji dengan bantuan alat

atau obat dan orang lain.

d. Jama’ah haji tunda adalah jama’ah haji yang kondisi kesehatannya

tidak memenuhi syarat untuk mengikuti perjalanan haji.

e. Jama’ah haji resiko tinggi adalah jama’ah haji dengan kondisi

kesehatan yang secara epidemiologi beresiko sakit dan atau mati

selama perjalanan ibadah haji, meliputi :

21

(35)

a. Jama’ah haji lanjut usia.

b. Jama’ah haji penderita penyakit menular tertentu yang tidak boleh

terbawa keluar dari Indonesia berdasarkan peraturan kesehatan

yang berlaku.

c. Jama’ah haji wanita hamil.

d. Jama’ah haji dengan ketidakmampuan tertentu terkait penyakit

kronis dan atau penyakit tertentu lainnya.22

22

(36)
[image:36.612.103.509.202.573.2]

25 BAB III

GAMBARAN UMUM TETANG YAYASAN AR RISALAH

A. Profil

Yayasan Ar Risalah adalah sebuah yayasan yang bergerak pada bidang

jasa pelayanan, yayasan Ar-Risalah didirikan pada tanggal 23 September 2004

yang berketepatan pada tanggal 27 Rajab 1425 H.

Badan pendiri Yayasan Ar Risalah sebanyak 7 orang : 1. K.H. M.

Chozin Machmud. 2. H.A. Wasana. 3. H. Rahmat AS. 4. H. Fajrul Munir. 5. H.

Mahmudi. 6. H. Abdul Ghani Lamatokan. 7. H. Yaya Sutarya.

Ada dua alasan mengapa mendirikan yayasan Ar-Risalah :

1. Bahwa kualiatas umat islam masih sangat rendah, sehingga perlu ada

upaya-upaya strategis untuk meningkatkan kualitas umat.

2. Bahwa methodologi dawah perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan

dan perkembangan zaman.

Untuk mencapai harapan tersebut, Yayasan Ar Risalah akan berjuang

semaksimal kekuatan untuk menjawab persoalan tersebut diatas, sebagai

bentuk ibadah kepada Allah SWT. Insyaallah dengan modal ikhlas, istiqamah,

dan tawakal akan diberikan jalan kemudahan.

Yayasan Ar Risalah beralamat Jl. Raya Bogor Km. 26 No. 10 Ciracas

Jakarta Timur, dan memiliki badan hukum yayasan :

1. Akta Notaris : Notari Hj. Nuke Nurul Soraya, SH. No. 1 Tahun 2004,

tertanggal 23 September 2004.

(37)

3. Tanda Daftar Kementrian Hukum dan Ham : No. C-3069 HT. 01. 02. TH.

2007, tertanggal, 14 September 2007.

4. NPWP (Nomor Pendaftaran Wajib Pajak) : No. 020723.121.6-005.000,

tertanggal 13 Agustus 2007.

5. Tanda Daftar Yayasan : No. 011.31.75.05.1005.35, tertanggal 05 Mei 2011

6. Surat Izin Operasional : No. 011.13710.58, tertanggal 11 Mei 2011

Dari tahun ketahun Yayasan Ar Risalah selalu dipercaya dan mendapatkan

dukungan dari masyarakat, sehingga pada tahun 2011 telah memiliki 3000

jamaah yang mengikuti berbagai macam kegiatan yayasan Ar-Risalah.

B. Motto, Visi dan Misi 1. Motto :

‘’ Membina Umat Berkualitas’’

2. Visi :

‘’ Menjadikan Ar Risalah Sebagai Yayasan Islam Terbaik Di Indonesia

Dalam Membina Umat’’

3. Misi :

a. Membimbing Umat Untuk Memahami Syariat Islam.

b. Menegakkan Amar Makhruf Dan Nahi Munkar.

c. Mewujudkan Umat Yang Berakhlakul Karimah, Sejahtera Lahir Batin,

Dan Bahagia Dunia Akhirat.

C. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan didirikannya Yayasan Ar Risalah adalah :

1. Menyiarkan Ajaran dan nilai-nilai Syariat Islam Untuk diamalkan, Agar

(38)

27

2. Membina Kader Dawah, Untuk Menciptakan Da’i yang Profesional dan

Berkualitas.

3. Mengembangkan Potensi Umat Islam Untuk Mewujudkan Umat Warsatho

Agar Dapat Meningkatkan Martabat Umat Islam.

4. Mendirikan Pondok Pesantren Terpadu Untuk Mengkader Santri, Agar

Dapat Menciptakan Santri Yang Berkualitas.1

D. Perkembangan Jumlah Jamaah

Pada awal didirikannya Yayasan Ar Risalah pada tahun 2004, jumlah

jamaah yang diberangkatkan sebanyak 35 jamaah, kemudian pada tahun 2005

ada peningkatan jamaah, jamaah yang berangkat pada tahun 2005 sebanyak 46

jamaah dan di tambah 7 jamaah haji plus. Dan pada tahun 2006 jumlah jamaah

yang berangkat sebanyak 42 jamaah di tambah 8 haji plus, pada tahun 2007

dan 2008 ada peningkatan jamaah yang sangat pesat, 87 jamaah reguler dan 12

jamaah plus tahun 2007, dan 116 jamaah reguler, 13 jamaah plus pada tahun

2008. Pada tahun 2009 sebanyak 99 jamaah reguler dan 25 jamaah plus yang di

berangkatkan oleh yayasan Ar-Risallah, tahun 2010 Yayasan Ar Risalah

memberangkatkan 115 jamaah reguler. Tahun 2011 Yayasan Ar Risalah

memberangkatkan 121 jamaah haji reguler dan 25 jamaah haji plus, tahun 2012

sebanyak 104 jamaah reguler dan 15 jamaah plus yang diberangkatkan oleh

Yayasan Ar Risalah. Dan pada tahun ini 2013 jamaah haji reguler dan jamaah

1

(39)

haji plus yang diberangkatkan oleh Yayasan Ar Risallah sebanyak 135 jamaah

reguler dan 16 jamaah plus.2

E. Struktur Organisasi

Penasehat : KH. Zarkasyi Saiman

KH. Burhanuddin Latf

KH. Abdul Rosyid AS. S.Sos.I

Usth. Hj. Nurjanah, S.Pd.I

Ketua : Drs.KH. M. Chozin Machmud, MM

Wakil Ketua : H. A. Wasana, M.Mpd

Sekretaris : H. Rahmat Agung Sutomo, MM

Toni Fatoni, S.Kom

Bendahara : H. Fajrul Munir, M.Mpd

Hj. Umi Nur Zakiyah

Bidang Bimbingan Ibadah Haji : H. Mahmudi, S.Sos.I

Bidang Lembaga Dawah : Ust. Selamet Taufik, S.Sos.I

Bidang Lembaga Pendidikan : H. Agus Suyani, M.Mpd. I

Bidang Lembaga Sosial : Paridin Imran Rosyadi, MA

2

(40)

29

F. Program Kerja Yayasan Ar Risalah

Yayasan Ar Risalah mempunyai 10 program kerja utama antara lain :

1. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH)

a. Melayani para calon jamaah haji dengan prima, mulai dari pendaftaran

sampai dengan perjalanan ibadah haji di tanah suci agar tenang dalam

beribadah.

b. Melayani jamaah haji dengan tulus ikhlas dan penuh dengan tanggung

jawab baik di tanah air maupun di tanah suci, agar meraih haji mabrur.

c. Membina para jamaah pasca haji untuk menjalin persaudaraan dan

kekeluargaan serta memelihara kemabrurannya.

2. Umrah dan Haji Khusus

a. Melayani dan membimbing jamaah umrah dengan maksimal agar

mencapai umrah maqbullah.

b. Melayani dan membimbing jamaah haji khusus (plus) dengan fasilitas

yang khusus, demi kenyamanan dalam perjalanan dan beribadah

3. Lembaga Dawah

a. Menyelenggarakan kegiatan kaderisasi dawah yang meliputi :

Pendidikan Dawah, Majlis Taklim, Pengajian Kitab Salaf, Penataran

Khatib dan mendirikan Korps Mubaligh.

b. Melayani dan mengembangkan kegiatan dawah melalui Masjid,

Mushallah Majlis Taklim baik di masyarakat maupun instansi,

penertiban buletin dawah, buku-buku dawah dan pembinaan

(41)

4. Lembaga Pendidikan

a. Menyelenggarakan pendidikan islam yang meliputi Pendidikan Guru

TK Islam (PGTKI), Tanam Kanak-Kanak Al-Quran (TKA), Tanam

Pendidikan Al-Quran (TPA), Madrasah Diniyah, Pendidikan Tingkat

SLTP, SLTA, dan Sekolah Tinggi Agama Islam.

b. Mengembangkan potensi dan kualitas tenaga didik melalui kegiatan :

Pelatihan, Workshop, Training, dan Outbond.

5. Panti Asuhan Anak Yatim

a. Menyantuni dan membina anak yatim yang berada di masyarakat secara

rutin sekaligus kegiatan istighosah ihsaniyah.

b. Mendirikan dan mengelola anak-anak yatim dan dhu’afa dalam panti,

mulai dari anak TK sampai SLTA.

6. Koperasi Sya’riah

a. Mengelola koperasi dengan sistem sya’riah yang meliputi simpan,

pembiayaan dan penjualan produk.

b. Melayani kebutuhan umat yang berupa jasa meliputi : Jasa pembayaran

telepon, listrik, PAM, Cargo, Expedisi Transprotasi dan Mobil

Ambulan.

7. Penerbitan Dawah

a. Menerbitkan bulletin dawah setiap hari Jumat yang di konribusikan

Ke masjid-masjid se-DKI Jakarta sebagai media dawah dan

silahturahmi.

b. Menerbitkan buku-buku dawah sebagai pedoman bagi para juru dawah,

(42)

31

c. Mendirikan media dawah sebagai sarana mensyiarkan agama islam,

seperti majalah dan radio.

8. Klinik Islami

a. Mendirikan klinik yang dikelola secara islami atau yang lebih dikenal

dengan nama ‘’THIBBUN NABAWI ‘’ (Pengobatan Methodology

Nabi).

b. Menyediakan obat-obat herbal untuk kesehatan umat.

c. Melayani pengobatan secara islami (Ruqyah).

9. Korps Mubaligh

a. Membina para mubaligh untuk menyatukan visi, misi dan

langkah-langkah dalam berdawah.

b. Menugaskan para mubaliqh untuk mengembangkan dawah di wilayah

yang masih sangat membutuhkan pembinaan.

c. Membimbing para mubaliqh untuk meningkatkan kualitas dalam

berdawah, sesuai tuntutan perkembangan zaman.

10. Pondok Pesantren

a. Membangun pondok pesantren di Cariu Bogor dengan tanah wakaf

luasnya 1 hektar, dan akan dikembangkan menjadi 10 hektar.

b. Mengelola pesantren terpadu antara sistem modern dan sistem salaf,

untuk menciptakan santri yang berkualitas imam dan taqwa dan

berkualitas ilmu pengetahuan (IPTEK).3

3

(43)

G. Program-program Bimbingan Jamaah Haji Pada Yayasan Ar Risalah Yayasan Ar Risalah mempunyai beberapa program-program kerja

khususnya didalam program KBIH Yayasan Ar Risalah diantaranya adalah

sebagai berikut :

1. Program Kerja KBIH Yayasan Ar Risalah bidang manasik haji :

a. Melaksanakan taaruf calon jamaah haji.

b. Menyiapkan materi manasik.

c. Menyusun jadwal manasik.

d. Menyusun jadwal pembimbing manasik.

e. Melaksanakan manasik haji.

f. Melaksanakan praktek manasik haji diasrama haji.

g. Membantu pelaksanaan walimaatus safar.

2. Program kerja KBIH Yayasan Ar Risalah bidang pembinaan jamaah :

a. Membuat program pembinaan jamaah.

b. Menyelenggarakan pengajian bagi calon jamaah haji dan pasca haji.

Tujuan dibentuknya pengajian bulanan khusus yaitu untuk menambah

ilmu-ilmu agama islam, mendapat siraman rohani, selain itu juga

mempererat tali silahturahmi.

c. Pengajian ini menggunakan kita ar’bain dan bertempat di masjid Nurul

Hidayah dari jam 09.00 WIB sampai jam 12.00 WIB, dan dipimpin

oleh ketua Yayasan Ar Risalah yaitu KH.Chozin membentuk forum

silahturahmi.

(44)

33

3. Program kerja KBIH Yayasan Ar Risalah bidang humas :

a. Melakukan sosialisasi dan promosi KBIH Yayasan Ar Risalah.

b. Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga atau komoitas dalam

program haji.

c. Menjalin silahturahmi dengan calon jamaah dan pasca haji, membentuk

mitra-mitra KBIH Yayasan Ar Risalah.

H. Target dan Strategi Mencapai Tujuan

Yayasan Ar Risalah mempunyai target dan strategi untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan, yaitu diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Target

Adapun target-target pada Yayasan Ar Risalah yaitu :

a. Mampu mendirikan cabang Yayasan Ar Risalah di seluruh Indonesia.

b. Mampu membina jamaah Yayasan Ar Risalah menjadi umat yang

islami.

c. Mampu mengkader para da’i yanng berkualitas.

d. Mampu meningkatkan kesejahteraan jamaah Yayasan Ar Risalah baik

lahir maupun batin.

2. Strategi

Adapun strategi-strategi pada Yayasan Ar Risalah yaitu :

a. Berjuang dengan sungguh-sungguh yang didasari ikhlas, istiqomah, dan

optimis.

b. Berkhidmat kepada umat dengan sistem pelayanan yang prima.

c. Menjalankan amanah yang didasari kejujuran, keterbukaan dan

(45)

d. Menggali potensi umat islam untuk bersinergi dengan Yayasan Ar

Risalah.

e. Bekerjasama dengan ulama, umaroh, dan aghniya baik di dalam

maupun di luar negeri.

f. Mengelola yayasan dengan manajemen yang profesional.

g. Menyayangi anak-anak yatim dan dhu’afa.

I. Komitmen Yayasan Ar Risalah

Yayasan Ar Risalah mempunyai empat komitmen

1. Azas Perjuangan

a. Istiqomah dalam berdakwah.

b. Amanah dalam membimbing jamaah.

c. Syukur dalam meraih anugerah.

d. Sabar dalam menghadapi ujjian.

e. Ridho Allah sebagai tujuan

2. Karakter Keluarga Yayasan Ar Risalah

a. Rajin beribadah, disiplin dan penuh tanggung jawab.

b. Aktif, Kreatif, Inovatif, dan Energik.

c. Jujur, Supel, dan Berakhlakul Karimah.

d. Ikhlas dan optimis dalam mencapai tujuan.

e. Prima dalam pelayanan.

3. Ukuran Keberhasilan Yayasan Ar Risalah

a. Meningkatnya jumlah jamaah yang mengikuti program kegiatan

Yayasan Ar Risalah.

(46)

35

c. Adanya perubahan sikap yang lebih baik dan islami.

d. Meningkatnya sumber daya dan sumber dana.

e. Bertambahnya fasilitas Yayasan Ar Risalah sebagai sarana dalam

berdakwah.

f. Meningkatnya dukungan ulama, umaroh, aghniya.

g. Adanya keberkahan dalam segala bidang kegiatan Yayasan Ar Risalah.

4. Kiat Sukses Pencapaian Program Yayasan Ar Risalah

a. Manajemen yang profesional, loyal dalam berorganisasi, pandai

berkordinasi dan aktif bersilaturahmi.

b. Sumber daya manusia yang berkualitas, potensial, dan memiliki ruh

perjuangan.

c. Menggali sumber dana yang halal, baik perorangan maupun organisasi.

d. Menjalin hubungan baik dengan para ulama, umaro, zu’ama.

e. Menjadi teladan atau contoh yang baik bagi masyarakat.

f. Mampu menjalin hubungan baik dengan para dermawan, baik dalam

maupun luar negeri.

g. Mulai dari diri sendiri, semangat tinggi dan penuh perhitungan.

h. Terbuka terhadap saran dan kritik yang membangun.

(47)

J. Sarana dan Prasarana

Berbagai sarana dan prasarana yang ada di Yayasan Ar Risalah di antaranya :

1. 1 Kantor pusat

2. 3 Kantor cabang pembantu

3. 2 Ruang kelas

4. Asrama yatim Piatu

5. Mushallah

6. Halaman Parkir

(48)

37 BAB IV

ANALISIS METODE BIMBINGAN JAMAAH HAJI PADA YAYASAN AR RISALAH CIRACAS JAKARTA TIMUR

A. Metode Bimbingan Jamaah Haji Langsung (Direct) Pada Yayasan Ar Risalah

Yayasan Ar Risalah akan selalu memberikan bimbingan yang baik dan

profesional agar para jamaah haji Ar Risalah dalam menjalankan perjalanan

ibadah hajinya merasakan kenyamanan.

Menurut pandangan peneliti Yayasan Ar Risalah mengelompokan

metode langsung menjadi dua kelompok, yaitu metode individual dan

metode kelompok:

1. Metode Indivual

Seiring dengan penelitian yang peneliti lakukan pada Yayasan Ar

Risalah, bahwa Yayasan Ar Risalah telah melakukan bimbingan secara

komunikasi langsung dengan menerapkan metode individual dengan jamaah.

Hal ini diperjelas melalui wawancara dengan KH. Abdul Rosyid, S.Sos.

I, menurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I, metode langsung individual yang di

lakukan Yayasan Ar Risalah adalah ‘’jamaah sering kali berinteraksi

dengan melakukan percakapan pribadi dengan pembimbing ,bahkan

menjelang hari keberangkatan, jamaah sering berkunjung ke rumah

(49)

hanya itu sebagian jamaah dipersilahkan langsung berkonsultasi kapanpun

di Kantor Yayasan Ar Risalah’’. 1

Dari pemaparan di atas hasil wawancara penulis dengan KH. Abdul

Rosyid, S.Sos. I, Menurut pandangan peneliti, Metode bimbingan secara

individual ini dimaksudkan agar para jamaah bisa memahami secara

terperinci, dan yang paling utama adalah para pembimbing harus

menyambutnya secara baik, agar pesan dan maksud yang disampaikan bisa

tepat sasaran.

Upaya yang dilakukan oleh para pembimbing Ar Risalah ini yang

bersedia berkomunikasi secara individu, dapat menunjang dan menjawab

rasa keingin tahuan para jamaah dan secara berkesinambungan

mempermudah proses pembimbingan melalui upaya individual.

2. Metode Kelompok

Metode kelompok langsung ini diharapkan adanya proses pembimbingan

yang berkesinambungan antara pihak Ar Risalah dengan para jamaah,

setelah peneliti melakukan wawancara dengan KH. Abdul Rosyid, S.Sos.

I,menurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I menyatakan ‘’Yayasan Ar risalah

pada setiap tahunya mengadakan ceramah atau presentasi dengan

mengunakan alat bantu berupa infocus dan lcd untuk di presentasikan di

hadapan calon jamaah haji. Ceramah atau presentasi tersebut berisikan

materi-materi manasik haji, dan yang memberikan ceramah ialah ketua

Yayasan dan ketua KBIH Ar Risalah. Para jamaah yang kurang paham akan

materi yang diberikan, maka para jamaah bisa bertanya ke narasumber.

1

(50)

39

Manasik dilaksanakan di Aula Iprija, sedangkan prakteknya diselenggarakan

di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Pembinaan manasik haji

diselenggarakan setiap hari minggu sebanyak 10 kali pertemuan, 10 kali

pertemuan itu dibagi menjadi 2 bagian yaitu, 5 kali pertemuan khusus materi

atau teori dan 5 kali pertemuannya lagi khusus praktek’’. 2

Menurut pandangan peneliti, interaksi terhadap kelompok yang

dilaksanakan Yayasan Ar Risalah sesuai penjabaran diatas telah sangat

memumpuni dari makna Metode pembimbingan langsung secara kelompok.

Faktor pengalaman yang dimiliki Yayasan Ar Risalah yang sudah terbiasa

melakukan interaksi ini merupakan titik ukur keberhasilan pembimbingan

secara kelompok yang dilakukan oleh Yayasan Ar Risalah.

Pada umunya Yayasan Ar Risalah menerapkan metode bimbingan

kepada jamaah dengan melakukan penerapan tiga metode berikut :

a. Metode Bil Hikmah

Metode ini digunakan dalam menghadapi orang-orang terpelajar, intelek,

dengan mengkedepan nalar rasional yang tinggi, dalam hal ini Yayasan Ar

Risalah menerapkan metode ini kepada jamaah yang mempunyai tingkat

pendidikan tinggi dan kalangan atas, sesuai dengan wawancara yang peneliti

lakukan dengan KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I, menurut KH. Abdul Rosyid,

S.Sos. I, metode bil hikmah yang di terapkan Yayasan Ar Risalah adalah ‘’pada kesempatan khusus para pembimbing menyentuh nalar rasional para

jamaah yang umumnya terpelajar dengan menghadirkan nilai-nilai rasional

2

(51)

yang tinggi agar para jamaah mengerti’’.3 Sebagai contoh didalam

pentingnya manasik haji, KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I selalu menghadirkan

pentingnya manasik yang mana kegiatan manasik adalah salah satu ajang

untuk berlatih guna menyempurnakan ibadah yang akan jamaah lakukan di

kemudian hari.

KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I juga berbicara nilai rasional bahwasanya

ketika kita ingin melakukan sesuatu, maka hendaklah berlatih terlebih

dahulu dan makna dari adanya manasik haji sama adanya dengan kita

melakukan latihan terlebih dahulu.

Dari penjelasan di atas penulis berkesimpulan bahwa penerapan Metode

Bil Hikmah yang dilakukan oleh Ar Risalah sudah memenuhi kaidah Metode

Bil Hikmah itu sendiri, yaitu dengan cara memaparkan nilai rasional atas mengapa pentingnya tindakan manasik ini dilakukan para jamaah ditinjau

dari segi rasionalitasnya.

b. Metode Bil Mujadalah

Adalah metode dengan menggunakan perdebatan yang ditujukan untuk

membuktikan kebenaran ajaran agama, dengan menggunakan dalil-dalil

Allah.

Pada Yayasan Ar Risalah KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I menjelaskan

dalam wawancara kepada penulis, munurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I,

metode bil mujadallah yang di terapkan Yayasan Ar Risalah bahwasanya adalah ‘’kegiatan manasik haji pihak Ar Risalah tidak cuma menjelaskan

tata cara kepada para jamaah saja, pada aplikasinya Yayasan Ar Risalah

3

(52)

41

mengadakan forum tanya jawab yang diadakan setelah melakukan manasik

haji tersebut’’.4 KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I menambahkan bahwa forum

tanya jawab ini diperuntukan agar para jamaah bisa mengetahui secara jelas

tentang apa saja yang janggal sehingga menjadi perdebatan dalam kegiatan

manasik, dalam forum ini ditujukan agar perdebatan itu bisa di selesaikan

dengan menggunakan kaidah-kaidah dan dalil-dalil Allah yang rasional.

Dalam pernyataan ini penulis menggaris bawahi bahwa Yayasan Ar

risalah telah melakukan upaya Metode Bil Mujadalah, sesuai dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I bahwa

Yayasan Ar Risalah berupaya menyelesaikan polemik yang berkembang

pada para jamaah dalam melakukan manasik haji, dengan mengadakan

forum tanya jawab dan menyelesaikan perdebatan yang ada dengan

mengacu kepada kaidah-kaidah dan dalil-dalil ketetapan Allah yang

rasional. Hal ini juga merupakan kandungan dan maksud dari Metode Bil Mujadalah.

c. Metode Bil Maudizah

Metode ini menunjukan contoh yang benar dan tepat, agar jamaah

menangkap dan mengerti dari penjelasan dari pembimbing Yayasan Ar

Risalah.

Dalam hal ini sesuai yang penulis dapatkan dari hasil wawancara

kepada KH. Abdul Rosyid, S.Sos, munurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I,

metode bil maudizah yang di terapkan Yayasan Ar Risalah adalah ‘’setiap gerakan yang dilakukan oleh para jamaah haji mendapat bimbingan

4

(53)

langsung dari pembimbing Yayasan Ar Risalah, jamaah haji tidak sekedar

mengikuti dan mengawasi jalannya kegiatan manasik ini, namun juga

mencontohkan secara langsung bagaimana gerakan gerakan tata cara thawaf,

sa’i, tahallul, melempar jumrah dan sebagainya, agar para jamaah tidak

hanya mengetahui secara teori, namun juga mendapatkan bimbingan

langsung dari prakteknya’’. 5

Menurut pandangan penulis Metode bimbingan Bil Maudizah ini pada hakikatnya adalah tata cara pengajaran secara langsung dari segala aspek

yang perlu diketahui agar mendapatkan gambaran yang jelas.

Dengan adanya pembimbing yang dimiliki oleh Yayasan Ar Risalah

ini adalah merupakan sebuah upaya dari penerapan Metode Bil Maudizah,

dimana pembimbing ini merupakan contoh langsung bagaimana gerakan

yang benar dalam rangkaian melakukan manasik haji ini.

Dan menurut pandangan peneliti dengan adanya pembimbing yang

mencontohkan tata cara yang baik dan benar kepada para jamaah adalah

sebagai penerapan implementasi Metode Bil Maudizah kepada para jamaah yang dilakukan oleh Yayasan Ar Risalah.

5

(54)

43

B. Metode Bimbingan Jamaah Haji Tidak Langsung (Inderect) Pada Yayasan Ar Risalah

Yayasan Ar Risalah mengelompokan metode tidak langsung menjadi

dua, yaitu sebagai :

1. Metode Individual

Metode individual secara tidak langsung ini diharapkan bisa membantu

para calon jamaah haji untuk mendapatkan bimbingan secara menyuluruh.

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan melalui hasil wawancara dengan

KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I, menurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I, metode

tidak langsung individual pada Yayasan Ar Risalah adalah ‘’para jamaah

sering melakukan konsultasi menggunakan berbagai macam media guna

menjawab polemik tentang tata cara adab-adab ibadah haji’’. 6

Menurut pandangan peneliti dari pemaparan diatas metode individual

secara tidak langsung yang dilakukan oleh Yayasan Ar Risalah merupakan

langkah-langkah untuk menjawab polemik yang berkembang diantara

jamaah serta mempermudah proses pembimbingan yang dilakukan oleh

Yayasan Ar Risalah.

2. Metode Kelompok

Metode kelompok dapat dilakukan dengan brosur, radio, dan televisi,

guna mendapatkan informasi secara objektif dari pembimbing dalam hal ini

Yayasan Ar Risalah.

6

(55)

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan mewawancarai KH.

Abdul Rosyid, S.Sos. I, menurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos. I, metode tidak

langsung kelompok pada Yayasan Ar Risalah adalah ‘’setiap tahunan kami

menerbitkan buku panduan untuk para calon jamaah haji agar jamaah haji

bisa belajar dari buku panduan tersebut’’. 7

Menurut pandangan peneliti metode dengan adanya upaya penerbitan

buku panduan haji adalah langkah dan upaya dalam melakukan metode

kelompok secara tidak langsung, hal ini merupakan sebuah langkah

pembimbingan yang dilakukan Yayasan Ar Risalah yang menurut peneliti

sangat efektif karena dengan adanya buku panduan tersebut para jamaah bisa

mendapatkan bimbingan secara tidak langsung dan dapat menjawab polemik

pertanyaan jamaah tidak terbatas dengan waktu.8

Yayasan Ar Risalah menerapkan metode bimbingan kepada jamaah

dengan melakukan penerapan tiga metode ditinjau dari metode bimbingan

jamaah haji secara tidak langsung sebagai berikut :

a. Metode Bil Hikmah

Sesuai pemaparan penulis sebelumnya bahwa metode Bil Hikmah ini adalah sebuah metode yang memaparkan rasionalitas yang tinggi dalam

menghadapi jamaah yang tingkat pendidikanya sangat terpelajar atau

intelek, namun kali ini dilihat dari sudut pandang metode tidak langsungnya.

Dalam wawancara yang penulis lakukan dengan KH. Abdul Rosyid,

S.Sos, menurut KH. Abdul Rosyid, S.Sos metode bil hikmah yang di

7

Wawancara pribadi dengan bapak KH. Abdul Rosyid AS, S.Sos.I pada tanggal 25 September 2013 di kantor yayasan Ar Risalah

8

(56)

45

terapkam Yayasan Ar Risalah adalah ‘’dari setiap tahun ke tahun pihak

Yayasan Ar Risalah dan alumni jamaah haji sering mengadakan

perkumpulam alumni di Kantor Yayasan Ar Risalah pada sebuah akun

media sosial yang menceritakan tentang pengalaman berhaji dengan

Yayasan Ar Risalah, merupakan sarana berbagi pengalaman yang cukup

efektif menggunakan media di zaman modern seperti sekarang ini,di mana

pengalaman tersebut dapat dibaca oleh calon jamaah haji yang akan

mengikuti program haji tersebut’’. 9

Menurut pandangan peneliti dari hasil wawancara dengan KH. Abdul

Rosyid, S.Sos. I, kaidah dari Metode Bil Hikmah ini adalah sebuah Rasionalitas yang tinggi agar dapat diserap oleh orang yang

berintelektualitas tinggi dan menjadikanya sebuah pembelajaran bagi calon

jamaah haji lainnya, ajang berbagi pengalaman yang diwadahi oleh Yayasan

Ar Risalah diperuntukan untuk berbagi pengalaman secara rasionalitas atau

yang sebenarnya.

Dan secara kaidah hal ini menjadi serapan dari kaidah Metode Bil Hikmah itu sendiri yang diterapkan oleh Yayasan Ar Risalah dalam rangka membimbing para calon jamaah haji.

b. Metode Bil Mujadalah

Metode Bil Mujadalah secara tidak langsung adalah penerapan metode yang dilakukan guna menyelesaikan perdebatan dan polemik yang beredar

disekitar calon jamaah haji mengenai tata cara berhaji dengan memaparkan

dalil-dalil Allah sebagai batasan atau arahan.

9

(57)

Sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan,baik di lapangan

maupun dengan cara wawancara kepada narasumber, peneliti tidak dapat

menemukan bahwa Yayasan Ar Risalah telah menerapkan kaidah-kaidah

metode Bil Mujadalah dalam metode tidak langsung yang dilakukan oleh Yayasan Ar Risalah, semisalkan Yayasan Ar Risalah membuat forum di

media atau metode dengan cara tidak langsung, yang menyerap dari

kaidah-kaidah Metode Bil Mujadalah. c. Metode Bil Maudizah

Dalam Metode Bil Maudizah seacara tidak langsung, dimana kaidah ini adalah memberika

Gambar

GAMBARAN UMUM TETANG YAYASAN AR RISALAH

Referensi

Dokumen terkait