• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika penerimaan ibu terhadap anak tuna grahita

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dinamika penerimaan ibu terhadap anak tuna grahita"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHADAP ANAK

TUNA GRAHITA

Oleh:

Ajeng Nidar Ramanda

103070029077

Skripsi diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UIN

SYARIF HIDAYATULLAhl

(2)

DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHIADAP

ANAK TUNA GRAHITA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memperoleh syarat - syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Oleh:

AJENG NIDAR RAMANDA

103070029077

Di Bawah Bimbingan

/

e

bm .,gll

7

. .

-_,--- I

M.Si S. Evangeline l.S, M.si, Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

cripsi yang berjudul " DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHADAP ANAK TUNA セahitaB@ telah diujikan dalam Sidang Munaqasah Fakultas Psikologi Universitas am Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 6 Februari 2008. Skripsi ini ah diterima sebagai salah sat syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

d・セ。ョ@

)tua Mera gFap Anggota

lMMセ@

/

artati M.Si

\5 938

\

.J

Pembimbing I I

Jakarta, 6 Februari 2008

Sidang Munaqosah

Anggota,

Pembantu Dekan

Sekertaris Merangkap Anggota

CA'

Orn. Hj.

z。ィセᄋNB@

••

M.s;

NIP. 150 23E 773

M.Si

Penguji I

a Fadhilah Sural a M.Si.

NIP. 150 215 283

Penguji II

A1

Dra. H". Zahrotun ihayah, M.Si

(4)

Sef\sil'i saja f\simu 6efajaruntuli.,6erputus asa maf\si af\sin menjatfi. Rg6iasaan.

( 'f/ince Lom6an[)

J[Ufup 6isa demi/i.,ian 6afragia rfafam /igter6atasan jif\si cfimali.,nai dengan

/igifi.fifasan 6erfi..rr6an untuli.,sesama.

(5)

'l(pti/ig, al{,u d'ifafiirlig,n al{,u 6ertanya pada

'l'uhan

"'l'uhan .

..

mengapa al{,u difarirlig,n seperti

ini?"

'l'uhan merljawa6 pertanyaanl{,u

"'l(prena /ig,u adafali anaf.,istimewa, ma/ig, a/{,u align

ュ・ュVQセイゥ@

padamu orang tua

yang istimewa"

S/{,ripsi ini aipersem6ali/ig,n untul{,para orangtua istimewa, yang tefafi mencurafilig,n

(6)

ABSTRAK

( C ) Ajeng Nidar Ramanda 103070029077

(A ) Fakultas Psikologi ( B ) ,Januari 2008

( D ) Dinamika Penerimaan lbu terhadap Anak Tuna Grahita ( E ) i+ 85 halaman

( F ) Setiap pasangan suami isteri mendambakan kehadiran anak dalam keluarga. Orang tua terutama ibu mempunyai harapan tentang anak yang dikandungnya, ibu berharap agar anak dapat menjadi anak yang baik, cakap, pintar, membanggakan orang tua. Harapan yang ditunggu, rasa mendebarkan dan menyenangkan seketika hilang ketika

mengetahui anak mengalami kekhususan sehingga menjadi hal yang sensitif bagi orang tua. Keh2diran anak tidak selalu mudah jika anak tersebut memiliki kekhususan. Banyak reaksi yang timbul pada orang tua, didahului oleh shock, sedih, marah, terguncang, rnenolak kondisi anak, dan merasa bersalah, hi'1gga akhirnya mereka dapat

menyesuaikan diri dan menerima kondisi anak.

( G ) Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran tentang dinarnika penerimaan ibu terhadap anal< tuna grahita dengan proses -proses penerimaan yang dilalui ibu.

( H ) Sampel dalam penelitian ini adalah tiga orang ibu yang memiliki anak tuna grahita dengan rentang usia antara 30 - 45 tahun.

( I ) Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam peneliti dapat menggali lebih banyak ir,formasi dari responden.

( J ) Hasil penelitian ini adalah, tidal< mudah untuk mencapai tahap

penyesuaian dan penerimaan terhadap anak. Setiap ibu memiliki kekhasan masing - masing dalam penerimaan diri, pada tahap primary phase ditemukan bahwa dua subjek mengalami tahap shock, semua subjek mengalami denial ( menolak mengenali kecacatan anak ), satu subjel< mengalami grief ( sedih ). Pada tahap secondary phase satu subjek mengalami ambivalence ( antara menerima dan menolak kondisi anak), semua subjek mengalami tahap guilt ( perasaan bersalah orang tua terhadap anaknya ). dua subjek mengalami anger ( perasaan marah pada diri sendiri ). Pada tahap tertiary phase satu subjf'k mengalami bergaining ( mengadakan perundingan agar anak dapat kembali seperti semula ), dua subjek mengalami adaptation and reorganization (

(7)

mempengaruhi kurangnya penerimaan diri ibu, diantaranya adalah diagnosis dokter yang menyatakan anak tuna grahita yang dirasa kurang memberikan empati kepada pasiennya;selain itu faktor ekonomi dan reaksi negatif dari masyarakat ataskeberadaan anak - anak

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan kasih sayong dan kekuatanNya penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada tauladan umat

baginda Rasulullah Saw.

Penulis menyadari banyak sekali bantuan yang telah penulis terima datam penulisan skripsi

ini, maka penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada

1. Dra. Hj. Netty Hartati. M.SI, Dekan Fakultas Psikologi, beserta seluruh jajaran

dekanat lainnya yang telah membantu kelancaran skripsi ini.

2. Para Dasen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah

membimbing dan memberikan banyak ilmu bagi penulis.

3. Staf Tata Usaha Fakultas Psikologi ( !bu Syariah, Bu Uus, Bu Sri, Pak Miftah Dan

lain - lain ), yang telah banyak membantu penulis dan memberikan motivasi untuk

menyelesaikan skripsi ini, serta Stal Tata Usaha UIN Jakarta.

4. Pembantu Dekan II dan pembimbing I Dra. Zahrotun Nihayah "terima kasih Bu ... alas

saran dan masukannya"

5. S. Evangeline. l.S, M.SI, Psi, pembimbing II yang banyak meluangkan waktunya

untuk penulisan skripsi ini.

6. Untuk orang tua terhebat Bapak dan Mamah tercinta yang telah mencurahkan hidup

dengan peluhan keringat sehingga penulis bisa menyelasaikar skripsi ini, terima

kasih atas untaian doanya, karena doa Bapak dan Mamah merupakan suatu

kekuatan.

7. Kepada ketiga bintangku (Amar, Agin, Alika) yang selalu memberikan keceriaan

bagi penulis dan menjadi penyemangat bagi penulis untuk menjadi contoh yang baik.

Bual Agin terima kasih alas keistimewaannya, tan pa Agin judul ini belum tentu ada

(9)

8. Yudi Rosdiana dan keluarga yang banyak meluangkan waktu untuk membantu

penulis dan mendegarkan segala keluh kesah.

9. Teman - teman angkatan 2003 khususnya kelas C \ Andin, Ina, Fanny, Nia, Litha,

Zora, Wulan, Ira, lryn, lka, Ayu dil ) atas canda tawa, pengertiannya pada segala

kekurangan yang penulis miliki, semoga pertemanan ini tidak berhenti sampai disini.

10. Teman - teman KKL Ml MP 2007 ( Jernih, Resti, Wiwi, Ai, Ira, Mis, Ari), akhirnya

kita sudah sampai pada tahap ini, semoga keberhasilan aknn menghampiri kita.

11. Para Orang tua pilihan yang istirnewa yang telah bersedia menjadi subjek, terima

kasih atas waktu yang telah ibu luangkan untuk kelancaran skripsi ini.

12. Keluarga besar KMF Kalacitra ( lyos, Sinden, Ridho, Yuni, Irma, Erna, Dina, Suri,

Agus, Zaky, Rifl<i ), yang telah memberikan persahabatan yang begitu indah.

13. Keluarga besar lkatan Mahasiswa Muhamadiyah ( JMM ), yang telah banyak

memberikan pengalaman dan ilmu.

14. Teman-teman kos (Zee, Mba Dani, K. Diar, Aci, Dika, K.Uci, Mb. Andri) yang telah

bersedia menjadi tempat curhat dan mengingatkan penulis dalam banyak hal.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap akan ada

karya-karya lain yang dapat penulis hasilkan. Amin

Jakarta, Fet>ruari 2008

(10)

LEMBAR PENGESAHAN

MOTTO

DAFTAR ISi

ABSTRAK.... .. ... ... ... .. ... .... .. ... ... ... ... ... ii

KATA PENGANTAR... V DAFT AR ISi... .. .. . . .. . . .. Viii BAB1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang ... 1

1.2. Pembatasan Masalah ... 7

1.3. Perumusan Masalah ... 10

1.4. Tujuan Penelitian ... 10

1.5. Manfaat Penelitian ... 11

1.6. Sistematika Penulisan ... 12

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Penerimaan... 14

2.1.1 . Pengertian Penerimaan.... ... .. .. ... ... .. .... .. .. .. .. .. ... 14

2.1.2. Penerimaan Dalam Islam ... 17

2.2. Anak Tuna Grahita ... 20

2.2.1. Klasifikasi Tuna Grahita ... 23

2.2.2. Faktor Penyebab Tuna Grahita ... 24

(11)

2.3. Orang Tua Anak Luar Biasa ... 30

2.4. Kerangka Berpikir ... 31

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 32

3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 32

3.1.2. Metode Penelitian ... 33

3.2. Sampel Penelitian ... ... 34

3.2.1. Karakteristik Sampel ... 34

3.2.2. Jumlah Sampel ... 34

3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel ... 35

3.3. Pengumpulan Data ... 35

3.3.1. Teknik Pengumpulan Data ... 35

3.3.2. lnstrumen Penelitian ... ... 38

3.4. Teknik Analisa Data ... 38

BAB 4 ANALISA DATA 4.1. Analisis Subjek 1 ... ... 40

4.1.1. Biodata Subjek ... 40

4.1.2. Biodata Anak ... ... 41

4.1.3. Gambaran Umum ... 41

4.2. Analisis Kasus Subjek 2 ... 53

4.2.1. Biodata Subjek ... 53

(12)

4.2.3.

Gambaran Umum Subjek

2 ...

54

4.2.4.

Gambaran anak ... ...

56

4.3.

Subjek

3 ...

61

4.3.1.

Biodata Subjek ...

61

4.3.2.

Biodata Anak ...

62

4.3.3.

Gambaran umum subjek

3 ...

62

4.3.4.

Gambaran umum anak ...

64

4

.4.

Analisis Antar Kasus ... 68

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan ... 73

5.2.

Diskusi ... ... 78

5.3.

Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPI RAN

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap manusia ュ・ョセQゥョァゥョォ。ョ@ kelak akan dapat berumah tangga,

membangun keluargEI, hidup berdampingan bersama pasangannya, dan

memiliki anak. Setiap keluarga mendambakan kehadiran anak sebagai

pemersatu suami-isteri, sebagai penerus generasi. Selain itu juga anak

merupakan buah hati yang mendatangkan kelengkapan di dalam keluarga,

dan dapat mempererat tali cinta suami istri. Tingkah !aku anak yang dapat

menjadi kebanggaan orang tua menjadikan kelahiran seorang anak menjadi

hal yang dinanti-nantikan bagi kebanyakan pasangan suami isteri. Hal ini

sama seperti yang diungkapkan oleh dr. Syaifudin Ali Akhmad dalam M.T

lndriati, 2007 bahwa setiap pasangan menginginkan segera memiliki anak

sebagai buah hati dan pengikat tali cinta mereka.

Harapan orang tua terhadap anaknya dimulai sejak mereka merencanakan

kehamilan. Masa kehamilan akan menjadi sesuatu yang ditunggu,

dipersiapkan sebaik-baiknya. Orang tua terutama seorang ibu mempunyai

(14)

anaknya dapat menjadi anak yang baik, cakap, pintar, membanggakan orang

tua dan sebagainya, lahir ke dunia dalam keadaan yang sempurna, sehat

jasmani dan rohani tanpa kurang suatu apapun dan dapat berkembang

secara optimal menjadi pribadi yang baik, shaleh dan dapat berlaku optimal di

dalam masyarakat.

Persiapan awal kehamilan para ibu biasanya dimulai dengan mencari

informasi sebanyak-banyaknya sehingga dapat mencapai proses kelahiran

yang lancar, dan kesehatan yang diharapkan. Persiapan para calon ibu tidak

hanya secara fisik tetapi juga persiapan psikologis dimana orang tua sudah

memikirkan bagaimana mendidik anak, merencanakan pendidikan dan di

mana si anak akan sekolah, persiapan yang akan dilakukan untuk

mengembangkan potensi yang ada pada diri anak.

Hari demi hari dinantikan selama sembilan bulan, bayi akhirnya lahir ke alam

dunia nyata. Perasaan sakit, proses kelahiran yang di·asa berat, butuh

perjuangan, antara hidup dan mati terobati dengan kelahiran bayi. Semua

perasaan tidak menyenangkan untuk ibu dan ayah menjadi sesuatu yang

membahagiakan dan menjadi sebuah kabar yang harus disampaikan kepada

(15)

lbu <:kan terus memantau, memperhatikan apa yang anak tampilkan. Perilaku

anak yang ditampilkan mulai dibandingkan dengan anak-anak seusianya dan

yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal yang biasanya dibandingkan adalah

pada awal perkembangan anak, anak-anak sudah mulai dapat duduk,

berjalan dan memulai kata-kata pertamanya, seperti rremanggil "mama" atau

"ibu". Jika perkembangan yang nampak sesuai atau lebih dari pada

umumnya, maka orang tua akan merasa senang, bangga clan mendapat

pujian dari orang-orang sekitar.

Sebaliknya, orang tua akan merasa prihatin dan khawatir jika

perkembangannya tidak nampak seperti anak seusianya pada umumnya.

Perkembangan motorik ketika kanak-kanak pada usia 3 tahun anak-anak

masih suka akan gerakan sederhana seperti berjingkak-jingak, melompat.

Mereka bangga dapat berlari melewati suatu ruangan dan melompat

(John.W.Shantrok, 2002). Dunia kognitif anak-anak ialah kreatif, bebas, dan

pem:h imajinasi (John.W.Shantrok, 2002). Dalam bukunya, Hurlock

mengemukakan bahwa perkembangan bahasa pada masa awal anak-anak

umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok

dalam belajar berbicara, yaitu menambah kosa kata, menguasai pengucapan

kosa kata dengan menggabungkan kata-kata menjadi kalirnat (Elizabeth

B.Hurlock, 1980). Tugas perkembangan ini tidak ditemukan pada anak

(16)

apabila anak tersebut memiliki kekhususan, karena perkembangan bahasa

sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognisi (Sotjihati, 2006)

Orang tua mulai menyadari bahwa perkembangan anaknya terlambat, tidak

seperti anak normal. Hal seperti ini menurut orang tua tidak wajar seperi

halnya anak-anak lain pada umumnya. Reaksi kegembiraan karena

kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga dapat berubah sebaliknya

di saat kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan awal orang tua

saat masih mengandung, yaitu melahirkan anak yang sehat seperti

anak-anak pada umumnya.

Rasa khawatir akan masa depan anal< dalam mengurus diri sendiri juga

dapat menjadi pikiran bagi orang tua, yang diKhawatirkan adalah siapa yang

akan mengurus anal< sepeninggalnya. Bayangan mengenai anak yang

optimal perkembangannya tidak terwujud, kenyataan yang terjadi malah

sebaliknya, hal ini dapat menyebabkan stress dan merupak.an hal yang

menyakitkan bagi orang tua.

Keterlambatan perkembangan anal< juga menjadi hal sensitif bagi orang tua.

Pernyataan seperti diagnosis yang menyatakan bahwa anak Mental

Retardation akan memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata, keterbatasan

(17)

untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga kehadiran anak tidak sealu

mudah jika anak tersebut memiliki kekhususan.

Kekhawatiran orang tua berdampak pada fisik, emosional, psikologis pada

orang tua khusunya bagi ibu, secara fisik menyebabkan ibu jatuh sakit,

sedangkan secara emosional orang tua akan mudah tersinggung, cepat

marah, menangis, dampak psikologis dapat berupa kecemasan akan masa

depan anak, depresi, malu dan merasa gagal sebagai orang tua sejak

mengetahui keadaan anak tidak sesuai seperti apa yang diharapkan. Hal ini

pernah dirasakan oleh F, seorang ibu yang anak bungsunya didiagnosis

down sundrome sejak bayi (sumber, Majalah Paras edisi 313).

Stigma atau pandangan terhadap anak berkekhususan dapat menjadi hal

yang memalukan bagi orang tua. Orang tua akan ber Jsaha menghindari

situasi yang dapat menimbulkan komentar mengenai kecac:atan anaknya. Hal

ini disebabkan karena lingkungan sosial seolah menekan seseorang untuk

bertindak di luar batas kemampuannya (psikologi klinis).

Banyak usaha yang dilakukan orang tua guna memulihkan kondisi anak,

diantaranya pergi ke dokter untuk menanyakan secara lan9sung masalah

yang dihadapi oleh anaknya sampai berkonsultasi dengan para ahli atau

(18)

mendatangi dokter atau psikolog, secara spirtual dengan mendatangi para

normal yang mungkin didasari atas saran dari masyarakat untuk melakukan

tindakan-tindakan yang dapat menyembuhkan anak yang clianggap berbeda,

dan juga mendatangi pengobatan alternatif. Usaha selalu orang tua lakukan

walaupun tidak mudah menerima anak yang didiagnosis tuna grahita.

Banyak reaksi dan perasaan yang dapat ditimbulkan orang tua yang memiliki

anak dengan kekhususan, diantaranya dapat berupa sedih, marah,

terguncang, menolak kondisi anak, sedih, merasa bersalah, dan pengandaian

seandainya keadaan tersebut tidak menimpa dirinya.

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa ternyata ada beberapa orang tua

"sulit" menerima kondisi anak berkebutuhan khusus, pada umumnya orang

tua dengan anak kebutuhan khusus adalah merasa shock, setelah itu adanya

penyangkalan kondisi anak, duka cita, diikuti dengan depresi, antara

menerima dan menolak kondisi anak, merasa bersalah, merasa malu,

mengadakan perundingan sebelum akhirnya melewati tahap adaptasi dan

penerimaan.(Yoana Sari)

Sumber lain menyebutkan bahwa ada orang tua dengan keadaan anak

'cacat' merasa sulit untuk menerima keberadaan anak, bahkan setelah

(19)

memaksakan kehendak untuk menyembuhkan anaknya, merasa bahwa

kondisi anak dapat pulih seperti semula, tidak jarang orang tuapun merasa

malu dengan kondisi 'kecacatan' anak sehingga anak cenderung

disembunyikan dari pandangan orang lain, hal ini dialami ol1:ih seorang wanita

penyandang polio di Bandung. (Yudi Dzulfadli, 2007)

Hal tersebut sama menurut teori yang diungkapkan oleh Gargiulo dan juga

J.P Chaplin. Orang tua juga akan merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri,

terguncang dengan yang telah terjadi, menolak untuk mengenali kecacatan

yang terjadi pada anaknya sehingga orang tua menjadi tidak percaya diri

untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Dari pemaparan di alas, penulis merasa tertarik dengan bagaimana dinamika

penerimaan ibu terhadap anak tuna grahita.

1.2. Pembatasan Masalah

Dalam penulisan ini, penulis hanya membatasi pada permasalahan pada:

1.2.1.

Penerimaan

Proses penerimaan yang dijelaskan oleh Kubler Ross (dalam Gargiulo,

1985),

berkaitan dengan reaksi atau respon orangtua terhadap objek, yang
(20)

1. Prima1y Phase

a. Shock, orang tua merasa terguncang dengan apa yang telah terjadi.

Timbul tingkah laku yang tiduk rasional dan perasaan tidak berdaya.

b. Denial, yaitu menolak mengenali kecatatan yang terjadi pada anaknya

dan beberapa orangtua mungkin melakukan rasionalisasi, dan mencari

penegasan dari para ahli.

c. Grief and Deppresion, merupakan reaksi yang alami, dimana orangtua

akan merasa sedih dan perasaan marah pada diri sendiri. Ditandai

dengan penarikan diri dari lingkungan.

2. Secondary Phase

a. Ambivalence, yaitu perasaan yang dirasakan orangtua yang saling

bertentangan antara menerima dan menolal< kondisi yang terjadi pada

anak.

b. Guilt, yaitu perasaan bersalah orangtua terhadap anaknya. Biasanya

untuk mengatasi perasaan bersalah terhadap anaknya, orangtua

berusaha membayar kesalahannya dengan mencari informasi

mengenai apa yang harus dilakukan seperti membawa anak berobat.

c. Anger, yaitu perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri dan

orang lain (displacement)

d. Shame and Embarassment, yaitu perasaan malu yang timbul saat

(21)

3. Tertiary Phase

a. Bergaining, yaitu strategi dimana orangtua mengadakan perundingan

dan perjanjian dengan pihak yang dapat mengembalikan anaknya

seperti semula.

b. Adaptation and Reorganization, yaitu reaksi orangtua untuk

beradaptasi dengan keadaan yang membuat cemas dan emosional

lainnya. Dan merasa nyaman dengan situasi yang ada.

c. Acceptance and Adjustment, yaitu proses dimana orangtua berusaha

untuk mengenali, memahami, dan menerima kondisi yang terjadi.

Kesadaran seseorang atas segala hal yang terdapat dalarn dirinya, baik

potensi yang positif maupun kekurangan diri, yang menimbulkan rasa senang

atas kepemilikan semua hal tersebut.

Penerimaan dalam Islam dapat meliputi tawakal yaitu berserah diri kepada

Allah yang ditinjau dari psikologi pengertian tawakal adalah mengandung

makna penerimaan diri sepenuhnya, kesabaran meiliki manfaat yang besar

dalam mendidik diri agar meningkatkan kemampuan manusia dalam

menanggung kesulitan, memperbarui tenaganya dalam mengadapi berbagai

(22)

1.2.2. Tuna Grahita

Tuna grahita adalah istilah yang digunakan untuk anak den9an

keterbelakangan intelegensi. Klasifikasi anak tuna grahita menurut Binet

adalah (10=67-52) untuk taraf ringan, (10=51-36) untuk taraf sedang,

(10=<35) Untuk taraf berat. Sedangkan menurut Weschler (10=69-55) untuk

taraf ringan, (10=54-40) untuk taraf sedang, (10=<40) u11tuk taraf berat.

1.2.3. lbu

Adalah orang tua perempuan yang melahirkan dan yang membesarkan anak,

dalam penelitian ini penulis membatasi sampel pada tiga orang ibu yang

memiliki anak Tuna Grahita.

1.3. Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membuat perumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana dinamika penerimaan ibu yang memiliki anak tuna grahita

2. Apa yang dirasakan ibu pada tahap pertama?

3. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi penerimaan diri ibu?

1.4.

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan tema di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk

(23)

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini secara teoris adalah dapat dijadikan referensi dan juga memberi kontribusi untuk penelitian-penelitian selanjutnya dalam bidang

psikologi.

Secara praktis penelitian ini berguna diantaranya:

Untuk para orang tua diharapkan

Mendapatkan pengetahuan yang memadai dalam mengasuh anak

berkebutuhan khusus. lbu yang memiliki anak tuna grahita dapat membantu

penerimaan diri ibu-ibu yang lain. Untuk para ibu, agar dapat menerima

keadaan anak seutuhnya dan membiarkannya hidup seoptimal mungkin yaitu

dengan berusaha mengembangkan kemampuannya secara optimal, serta

dapat mencari sekolah luar biasa (SLB) yang tepat bagi anak, mengajaknya

bermain.

Untuk para keluarga diharapkan

Dapat memahami kondisi seorang ibu yang memiliki anak tuna grahita

sehingga mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan.

Untuk saudara sekandung, dapat memahami kondisi saudara dan

membantunya mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan.

(24)

Untuk para pendidik diharapkan

Agar dapat memberikan cara belajar sesuai dengan kebutuhan anak.

Memberikan materi berdasarkan kemampuan yang dimiliki anak sehingga

dapat diperoleh hasil pembelajaran yang optimal di lingkungan formal.

Saling memberikan dukungan antara pihak sekolah dengan orang tua dengan

keadaan yang dialami oleh anak baik di rumah maupun di sekolah

Serta dapat bermanfaat bagi semua orang sebagai suatu ilmu yang tidak

akan pernah ada habisnya, agar nantinya penelitian ini dapat dikembangkan

lebih dalam dan lebih luas lagi sebagai suatu pembahasan yang real dan

menarik untuk diangkat.

1.6. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pemahaman pada tulisan ini, maka penulis

ュ・ョセᄋオウオョョケ。@ dalam sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB 1 Pendahuluan

Yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan masalah,

(25)

BAB 2 Kajian Pustaka

Bagian ini terdiri dari teori - teori dari permasalahan ini, diantaranya

teori tentang penerimaan diri (self acceptance), dan tuna grahita

yang terdiri dari pengertian dan penjelasan.

BAB 3 Metode Penelitian

Bagian ini terdiri dari metode pengumpulan data, subjek penelitian

yang terbagi menjadi karakteristik dan jumlah subjek penelitian,

banyaknya alat Bantu pengumpulan data, prosedur pengumpulan

data dan yang terakhir adalah analisa data.

BAB 4 Hasil Penelitian

Pada bab ini penulis akan memberikan gambaran umum masalah

dan hasil utama penelitian.

BAB 5 Kesimpulan, Diskusi, Saran

Pada bab ini penu!is akan memberikan kesimpulan dari penelitian

(26)

2.1. Penerimaan

BAB2

LANDASAN TEORI

2.1.1 Pengertian Penerimaan

Dalam kamus psikologi, acceptance atau penerimaan ditandai dengan sikap

positif, pengakuan atau penghargaan terhadap nilai - nilai individu, dengan

kata lain penerimaan dapat merupakan segala perilaku yang positif baik yang

ditujukan pada dirinya atau orang lain serta adanya pengakuan kelebihan

yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.

Berikut adalah proses penerimaan yang dijelaskan oleh Kubler Ross (dalam

Gargiulo, 1985). lbu dapat berada dalam satu tahap untuk waktu yang lebih

lama atau lebih cepat dibandingkan dengan orang tua lain, oleh karena itu

mereka tidak memberi patokan waktu dalam tiap tahapnya. Selain itu perlu

diingat bahwa dalam melewati proses penerimaan, setiap ibu memiliki

keunikan-keunikan tersendiri yang berkaitan dengan kepriclian mereka, ada

ibu yang tidak mengalami reaksi tertentu, clan langsung melompat pada

(27)

1 . Primary Phase

a. shock, orang tua merasa terguncang dengan apa yang telah terjadi.

Timbul tingkah laku yang tidak rasional dan perasaan tidak berdaya

ditandai dengan menangis terus menerus.

b. Denial, yaitu menolak mengenali kecacatan yang terjadi pada anaknya

dan beberapa orangtua mungkin melakukan rasionalisasi, dan mencari

penegasan dari para ahli.

c. Grief and Deppresion, merupakan reaksi yang alami, dimana orangtua

akan merasa sedih dan perasaan marah pada diri seセョ、ゥイゥL@ dengan

perasaan ini, ibu mengalami masa transisi dimana harapan masa lalu

mengena 'anak yang sempurna' disesuaikan dengan kenyataan yang

terjadi saat ini. Salah satu perilaku yang paling mun9kin muncul dalam

fase ini adalah penarkan diri dari lingkungan. Olhansky (dalam

Gargiulo, 1985).

2. Secondary Phase

a. Ambivalence, yaitu perasaan yang dirasakan orangtua yang saling

bertentangan antara menerima dan menolak kondisi yang terjadi pada

anak. Kondisi anak menyebabkan ibu lebih ekstra dalam mengasuh

anak, dengan adanya perasaan bersaah maka ibu membayarnya

dengan memberikan sebagian besar waktunya untuk anak. Sementara

(28)

mengakui 'kelainan' anak. Selain itu ibu juga memiliki penilaian negatif

pada anak secara terus menerus (Gallagher dalam Gargiulo 1985)

b. Guilt, yaitu perasaan bersalah orangtua terl1adap anaknya karena

menganggap dialah yang menyebabkan 'kecacatan' anaknya.

Biasanya untuk mengatasi perasaan bersalah terhadap anaknya,

orangtua berusaha membayar kesalahannya dengan mencari

informasi mengenai apa yang harus dilakukan seperti membawa anak

berobat.

c. Anger, yaitu perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri dan

orang lain (displacement), seperti dokter, terapis, pasangan, atau anak

kandungnya.

d. Shame and Embarassment, yaitu perasaan malu yang timbul saat

menghadapi lingkungan sosial yang menolak, mengasihani, atau

mengejek ' kecacatan' anak. Sikap lingkungan yang terus menerus

seperti ini dapat menurunkan harga diri karena beberapa ibu

menganggap anak merupakan penerus dirinya.

3. Tertiary Phase

a. Bargaining, yaitu strategi dimana orangtua mengadakan perundingan

dan perjanjian dengan pihak yang dapat mengembalikan anaknya

(29)

b. Adaptation and Reorganization, yaitu reaksi orangtua untuk

beradaptasi dengan keadaan yang membuat cemas dan emosional

lainnya. Dan merasa nyaman dengan situasi yang ada dan

menunjukkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka merawat

dan mengasuh anak, sehingga membantu meningkatkan hubungan

antara ibu dengan anak. lbu mulai mampu bertanggung jawab atas

masalah anak.

c. Acceptance and Adjustment, yaitu proses dimana orangtua berusaha

untuk mengenali, memahami, dan menerima kondisi yang terjadi.

Namun tetap saja perasaan negatif yang sebelumnya perah terbentuk

tidak pernah hilang. Pada fase ini ibu menyadari bahwa dalam proses

penerimaan ibu tidak hanya menerima kondisi anaknya, namun juga

menerima diri sendiri.

2.1.2 Penerimaan Dalam Islam

a.Sabar

Islam mengajarkan hubungan dengan Allah dan manusia, ketika peran

tersebut mengalami hambatan maka individu tersebut harus dapat

menyesuaikan diri. Kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya

menyenangkan. Ada orang yang berhasil mencapai cita-citanya dan ada pula

yang gagal. Penyebab kegagalan itupun bermacam-macam pula. Terlebih

(30)

semata-mata untuk menguji keimanannya, seperti dalam firman Allah surat

Al-Kahfi ayat 46:

"Harta dan anak adalah perhiasan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh ada/ah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta /ebih baik untuk menjadi harapan".

Allah memerintahkan orang Islam agar menjadikan sabar clan shalat untuk

menolongnya. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 153:

"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertofongan dengan sabar dan sha/at, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang salat".

Dalam bukunya Dr. M. 'Utsman Najati mengungkapkan bahwa sabar memiliki

manfaat yang besar dalam mendidik diri, memperkuat kepribadian,

meningkatkan kemampuan manusia dalam menanggung kesulitan,

memberbaharui tenaganya dalam menghadapi berbagai problem dan beban

kehidupan serta bencana dan cobaan, dan membangkitkan kemampuannya

(31)

Seorang mukmin yang sabar tidaklah menjadi terlalu sedih sewaktu ia

tertimpa cobaan, ia tidak pernah menjadi lemah atau ambruk ketika tertimpa

bencana atau malapetaka. Allah telah menganjurkannya untuk bersabar dan

memberi tahu kepada hambaNya bahwa apa yang menimpanya dalam

kehidupan dunia ini tidak lain adalah cobaan dari Allah, agar la tahu siapakah

di antara manusia yang termasuk orang-orang sabar.

Sabar dapat menjauhkan perasaan cemas, gelisah, dan frustasi. Bahkan

sebaliknya akan membawa pada ketentraman batin. Ada yang mudah

tersinggung, cepat marah dan tidak dapat berpikiran jernih karena dia tidak

sabar. (Zakiah Daradjat, 2002)

b. Tawakal

Tawakal merupakan salah satu cara untuk meraih ketentraman batin. Apabila

pengertian tawakal ditinjau dari segi psikologis dapat dikatakan bahwa sikap

tawakal itu mengandung makna penerimaan diri sepenuhnya terhadap

kenyataan diri dan hasil usahanya sebagaimana adanya, atau dengan

perkataan lain mau dan mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, yang

(32)

Orang yang tidak mau atau tidak mampu menerima dirinya sebagaimana

adanya, maka ia akan merasa tertekan, gelisah, cemas, dan lebih jauh

mungkin akan terserang gangguan jiwa. (Zakiah Daradjat, 2002)

Selain itu sebagai seorang muslim hendaknya ketika ditimpa musibah

menyerahkan semuanya kepada Allah, karena Allah tidak akan menguji

kaumnya sampai batas kemampuan dirinya dengan meyakini dan optimis

Allah pasti memberikan solusi dari permasalahan yang menimpa dirinya.

2.2.

Anak Tuna Grahita

Dalam bukunya, Sutihaji Somantri menulis tuna grahita adalah istilah yang

digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di

bawah rata atau kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah

rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam

interaksi sosial. Anal< tuna grahita atau dikenal juga dengan istilah

keterbelakangan mental !<arena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan

dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara

klasikal. Oleh !<arena itu anak keterbelakangan mental membutuhkan layanan

pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuan anak

(33)

Tuna grahita atau keterbelakangan mental merupakan kondisi dimana

perkembangan kecerdasan mengalami hambatan sehingga tidak mencapai

tahap perkembangan yang optimal. Ada beberapa karakte1·istik umum tuna

grahita yang dapat diketahui, yaitu :

1. Keterbatasan intelegensi

lntelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai

kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan

menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan

baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat

menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi

kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tuna

grahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. kapasitas belajar

anak tuna grahita terutama yang bersifat abstrak seperti belajar dan

berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya

cenderung tan pa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.

2. Keterbatasan sosial

Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tuna grahita juga memiliki

kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu

mereka memerlukan bantuan. Anak tuna grahita cenderung berteman

dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua

(34)

bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga

mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tan pa memikirkan

akibatnya.

3. Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainya

Anak tuna grahita memerlukan lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada

situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila

mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari ke hari.

Anak tuna grahita tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas

dalam jangka waktu yang lama.

Anak tuna grahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Mereka

bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat pengolahan

(perbendaharaan kata) yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya.

Karena alasan itu mereka membutuhkan kata-kata konkret yang sering

didengarnya. Selain itu perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara

berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar

dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu

menggunakan pendekatan yang konkret.

Selain itu, anak tuna grahita kurang mampu untuk mempertimbangkan

(35)

yang benar dan yang salah. lni semua karena kemampuanya terbatas

sehingga anak tuna grahita tidak dapat membayangka11 terlebih dahulu

konsekuensi dari suatu perbuatan.

2.2.1. Klasifikasi Tuna Grahita

IQ difemukan pada anak tuna grahita ringan, sedang, berat, anak tuna grahita

merniliki IQ sendiri-sendiri yang tidak bisa ditukar-tukar.

Tuna grahita ringan

Tuna grahita ringan disebut dengan moron atau debil. Kelompok ini rnemiliki

IQ antara 68 - 52 menurut Binet, sedangkan menurut skala Weschler (WISC)

rnemiliki IQ 69 - 55. Mereka mas.h dapat belajar membaca,. menulis, dan

berhitung sederhana. Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak

keterbelakangan mental ringan pada saatnya akan dapat memperoleh

penghasilan untuk dirinya sendiri.

Tuna grahita sedang

Anak tuna grahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ

51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC). Anak

keterbelakangan mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai

(36)

diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya,

berlindung dari hujan dan sebagainya.

Tuna grahita berat

Kelompok anak tuna grahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini

dibedakan lagi antara anak tuna grahita berat dan sangat berat. Tuna grahita

berat (severa) memilik IQ antara 32-20 menurut skala Binet dan antara 39-25

menurut skala Weschler (WISC). Tuna grahita sangat berat (profound)

memiliki IQ dibawah 19 menurut skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut

skala Weschler (WISC). Kemampuan mental atau MA maksimal yang dapat

dicapai kurang dari tiga tahun. (Sutihaji Soemantri hal 106-108).

2.2.2. Faktor Penyebab Tuna Grahita

Sebab-sebab yang bersumber dari luar

1 . Keracunan sewaktu ibu hamil yang bisa menimbulkan kerusakan pada

plasma inti, misalnya karena penyakit sipilis atau kebanyakan minum

alkohol.

2. Kerusakan pada otak sewaktu kelahiran, misalnya lahir karena ala! bantu

atau pertolongan dan lahir prematur.

3. Panas yang terlalu tinggi, misalnya pernah sakit keras, typhus, cacar dan

(37)

4. Gangguan pada otak, misalnya ada tumor otak, anoxia, infeksi pada otak,

hydrocephalus.

5. Gangguan fisiologis, seperti mongolisme, cretinisme

6. pengaruh lingkungan dan kebudayaan

Sebab-sebab yang bersumber dari dalam

Yaitu sebab dari faktor keturunan. Sebab ini dapat berupa gangguan pada

plasma inti. Pada kondisi genetik kecacatan ditentukkan pada saat konsepsi.

Kecacatan dapat ditimbulkan karena ketidak normalan krornosom. Salah

satunya adalah peristiwa trisomy, di mana pada keadcian ini kromosom yang

ada pada individu tidak lagi berjumlah 46, tetapi 47. lndividu yang tergolong

dalam kategori Down's syndrome atau mongolism adalah al<ibat dari trisomy

tersebut. Selain adanya ketidaknormalan kromosom, kecacatan juga dapat

disebabkan oleh ketidaknormalan genetik. Yang termasuk dalam

ketidaknormalan genetik antara lain janin yang rusak karena gangguan

metabolisme karbohidrat. Gangguam metabolisme ini juga rnengakibatkan

kerusakan pada ginjal dan hati selain ketunagrahitaan pada anak. (Clarke,

1982)

2.2.3. Karakteristik Anak Tuna Grahita

Karakteristik anak retardasi mental "mild" (ringan) adalah mereka yang

(38)

nemperlihatkan keadaan fisik yang mencolok. Walaupun perkembangan

fisiknya sedikit agak lambat dari pada anak rata-rata. Mereka masih bisa

dididik di sekolah umum, namun membutuhkan perhatian khusus dan guru

khusus. Proses penyesuaian dirinya sedikit lebih rendah dari pada anak-anak

normal pada umumnya. Mereka kadang-kadang memperlihatkan rasa malu

atau pendiam. Beberapa keterampilan dapat mereka lakukan tanpa selalu

mendapat pengawasan, seperti keterampilan mengurus diri sendiri (mandi,

makan, berpakaian).

Karakteristik anak retardasi mental "moderate" (menengah) adalah mereka

yang digolongkan sebagai anak yang mampu latih, dimana mereka dapat

dilatih untuk beberapa keterampilan tertentu. Mereka menampakkan kelainan

fisik yang merupakan gejala bawaan. Mereka juga menampakkan adanya

gangguan pada fungsi bicara.

Karakterisrik anak retardasi mental "severe" adalah mereka yang

memperlihatkan banyak masalah. Oleh karena itu mereka membutuhkan

perlindungan hidup dan pengawasan yang teliti. Mereka membutuhkan

pelayanan dan pemeliharaan yang terus menerus, mereka tidak mampu

mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka juga mengalami

gangguan bicara. Tanda-tanda kelainan fisik lainnya ialah lidah seringkali

(39)

besar dari biasanya. Kondisi fisiknya lemah dan mereka hanya bisa dilatih

keterampilan khusus selama kondisi fisiknya memungkinkan (LPSP3 UI)

Payne & Patton (1981) mengemukakan beberapa hal tentang anal< tuna

grahita dilihat dari segi tingkah laku, sosial dan emosional, belajar, fisik dan

kesehatanya. Berikut ini adalah penjabarannya:

Karakter Tingkah Laku

1) Tuna Grahita Taraf Ringan

Menunjukkan sedikit penyimpangan tingkah laku adaptif dan fungsi

intelektual.

Keterbelakangan anak sering tak terditeksi sampai anal< mulai

masuk sekolah.

Mengalami kesulitan dalam bidang akademis yang sering berkaitan

dengan masalah perhatian (atensi), dan dapat muncul dalam satu

bidang studi (misalnya menbaca) atau pada semua bidang studi.

Tingkah laku yang tidal< pantas yang dilakukan oleh anal< dapat

disebabkan oleh ketidakmampuan anal< membedakkan tingkah laku

apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima.

Sebagian besar anak tuna grahita dapat bergaul dEmgan orang lain.

Walaupun kosa kata yang dimiliki terbatas, kemampuan bahasa dan

(40)

2) Tuna Grahita Taraf Sedang

Menunjukkan keterlambatan perkembangan kemampuan berjalan,

duduk dan bahasa.

Pada umumnya tidak mampu mempelajari bidang akademis seperti

berhitung, membaca, selain menghafal beberapa angka dan kata

sederhana.

Mampu mempelajari kegiatan merawat diri seperti membuka dan

memakai baju, makan, menjaga kebersihan diri dan kegiatan

sehari-hari yang dapat membuat mereka cukup mandiri.

Mampu belajar bersosialisasi dengan anggota keluarga dan tetangga

dekat.

Beberapa anak membutuhkan pengawasan dan dukungan ekonomi

selama hidupnya.

3) Tuna Grahita Tahap Berat dan Parah

Jika tidak ada intervensi selama masa prasekolah, individu akan

menunjukkan koordinasi motorik yang buruk.

Ketergantungan pada orang lain sangat tinggi.

lnteraksi dengan lingkungan sangat sedikit.

Pada anak tuna grahita yang parah, pengasuhan total dibutuhkan.

(41)

Pada anak tuna grahita yang berat, sebagian besar anak bisa sedikit

berkomunikasi, dapat dilatih merawat diri, tapi tidak untuk bidang

akademis.

Karakteristik Sosial dan Emosional

Anak tuna grahita mempunyai kebutuhan psikolugis, sosial dan emosional

yang sama dengan anak normal, antara lain anak butuh kasih sayang dan

diterima orang lain. Penerimaan dan kasih sayang dari orang lain berguna

bagi perkembangan psikososial anak.

Karakteristik Belajar

Dalam mempelajari materi yang abstrak dan kompleks, anak tuna grahita

tertinggal dari anak normal. Pada umumnya mereka tidak bisa bersaiang

dengan teman sebayanya yang normal. Keterlambatan anak terlihat dalam

kegiatan yang membutuhkan kemampuan pemahaman bacaan, mengikuti

petunjuk yang kompleks lainnya. Waktu yang dibutuhkan anak untuk

memperhatikan suatu stimulus lebih besar dari anak normal.

Karakteristik Fisik dan Kesehatan

Pada anak tuna grahita taraf ringan, kararteristik yang dimiliki anak tidak jauh

(42)

anak tuna grahita mengalami keterlambatan dibandingkan dengan anak

normal. (Mosier dalam Payne & Patton, 1981 ).

2.3 Orang Tua Anak Luar Biasa

Saat-saat yang menyenangkan akan berubah menjadi kekHcewaan manakala

mengetahui anak memiliki kebutuhan khusus. Tahap pertama yang biasanya

muncul perasaan shock, mengalami goncangan batin, terkejut dan tidak

mempercayai kenyataan "kecacatan" yang diderita anaknya. Pada tahap ini

biasanya orang tua akan banyak mencari tahu mengenai keadaan anaknya

dan mencoba memperoleh diagnosa dari dokter maupun terapis yang bias

memberikan prognosis yang lebih positif. Tahap berikutnya mereka merasa

kecewa, sedih dan mungkin merasa marah ketika mereka mengetahui

realitas yang harus dihadapinya. Setelah itu perasaan tersebut diikuti dengan

penerimaan 'kecacatan' anaknya dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan

'kecacatan' tersebut. Namun demikian proses penerimaan ini akan memakan

waktu yang lama, selain itu juga mungkin akan berfluktuasi.

lbu merupakan tokoh yang sangat rentan terhadap masalah penyesuaian.

Hal ini dikarenakan mereka berperan langsung dalam kelahiran anak.

(43)

kesenjangan antara kegembiraan setelah masa penantian pada masa

kehamilan dengan realitas keadaan anaknya.

2.3.

Kerangka Berpikir

Harapan ibu :

• Mengandung dan sehat

• Anak yang sempurna dalam fisiknya • Anak yang seha\ jasmani dan rohani • Anak dapat menjadi pribadi yang baik • Shaleh

• Dapat berlaku optimal di masyarakat • Cerdas

• Shock

• Denial (menolal<)

• Grief & Deppression ( sedih & marah pada diri sendiri)

Harapan vs Kenyataan :

• Fisik yang sempurna vs fisik khas • Kecerdasan normal vs kurang • Tugas perkembangan optimal vs

lambat

• Peka terhadap lingkungan vs tidak dapat berkomunikasi

Karakteristik Anak :

• penyimpan£1an tingkah laku adaptif dan intelektual • fisik yang khas

• kurangnya respon anak

Y

Diagnosis Tuna GRahita

• Ambivalence (antara

menerima & menolak kondisi yang terjadi pada anak) • Guilt (perasaan bersalah

orang tua)

• Mencari informasi • Anger

• Same & Arnbarassment (perasaan malu)

• Bergaining (strategi)

(44)

BAB3

METODOLOGI PENELITIA.N

Sesuai dengan permasalahan yang diajukan, yaitu Self acceptance

(penerimaan diri ibu yang memiliki anak tuna grahita, maka pada bagian ini

peneliti akan merinci jenis penelitian, subjek penelitian teknik pengambilan

sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

3.1. Jenis Penelitian

3.1.1. Pendekatan Penelitian

PenP-litian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang pada dasarnya

memiliki tiga unsur utama. Pertama, data, bisa berasal dari bermacam

sumber; biasanya dari wawancara atau pengamatan, unsur kedua terdiri dari

prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk rnendapatkan

temuan atau teori, unsur ketiga adalah laporan tertulis dan lisan. (Anselm

Strauss & Juliet Corbin, 2003). Pendekatan kualitatif menghasilkan dan

mengolah data yang sifatnya deskkriptif seperti wawancara, observasi,

catatan lapangan dan lain sebagainya. (Poerwandari, 1998), serta data yang

terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan

(45)

naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah

(natural setting), langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen

kunci. (Sugiyono, 2005).

Dengan dasar penelitian kualitatif di atas, maka untuk mengetahui

self-acceptance (penerimaan diri) ibu yang memiliki anak tuna grahita diperlukan

data-data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi serta data yang

berasal dari berbagai sumber.

3.1.2. Metode Penelitian

Dalam penelitian kualitatif ada beberapa tipe penelitian salah satunya adalah

studi kasus. Studi kasus atau penelitian kasus (case study) adaleh penelitian

tentang suatu subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik

atau khas dari keseluruhan personality (Maxfield dalam Nazir, 1999). Studi

kasus sangat bermanfaat ketika peneliti merasa perlu mernahami suatu

kasus spesifik, orang-orang tertentu, kelompok dengan karakteristik tertentu,

atau situasi unik secara mendalam dan dapat menggambarkan secara

lengkap berbagai gejala dan proses perilaku rnanusia serta

peristiwa-peristiwa khusus yang tidal< mudah dijelaskan melalui pendekatan kuantitatif.

(Patton dalam Poerwandari, 1998)

(46)

3.2. Subjek Penelitian

3.2.1. Karakteristik Subjek

Subjek atau responden yang dilibatkan dalam penelitian ini memiliki

karakteristik sebagai berikut :

a. Subjek penelitian adalah ibu kandung yang anaknya didiagnosis tuna

grahita.

b. Berusia antara 30-45 tahun karena menurut Hurlock (2002) pada usia ini

adalah masa periode pertengahan dewasa, masa dimana seseorang

memperluas tanggung jawab sosial dan pribadi, membantu genererasi

selanjutnya menjadi generasi selanjutnya.

c. Subjek bertempat tinggal di Jakarta dan sekitarnya, hal ini agar peneliti

lebih mudah untuk melakukan koordinas

d. Pendidikan ibu minimal SD, dapat membaca dan menulis, kriteria ini

bertujuan agar subjek dapat mengerti dan memahami rnaksud pertanyaan

yang diajukan dan dapat memberikan jawaban yang jelas.

3.2.2. Jumlah Subjek

Jumlah subjek sangat bergantung pada apa yang ingin diketahui peneliti,

konteks saat itu apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan

waktu dan sumber daya yang tersedia (Poerwandari, 1998). Berdasarkan hal

(47)

disamping keterbatasan waktu dan responden yang terbatas, maka dalam

penetian ini ditetapkan jumlah subjek sebanyak 3 orang ibu.

3.2.3. Teknik Pengambilan Subjek.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

purposive sampling. Maksud purposive sampling yakni cara agar manusia,

latar dan kejadian tertentu (unik, khusus, aneh, nyeleneh) betul-betul diupayakan terpilih untuk memberikan informasi penting. (Le Compte &

Preissle, 1993), pada penelitian ini subjek diambil sesuai dengan karakteristik

yang telah ditentukan.

3.3. Pengumpulan Data

3.3.1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan metode

observasi dan wawancara.

a. Observasi

Observasi merupakan cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan

pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau

(48)

Menurut Patton dalam Nasution (1988), dinyatakan bahwa manfaat observasi

adalah sebagai berikut:

a. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami

konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh

pandangan yang holistik dan menyeluruh.

b. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga

memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak

dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan

induktif menemukan kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.

c. Dengan observasi. Peneliti dapat melihat hal-hal yang l<urang atau tidak

diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalarn lingkungan itu,

karena telah dianggap "biasa" .

d. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar

persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh garnbaran yang lebih

konferhensif.

e. Melalui pengamatan di lapangan, peneliti memperoleh l<esan-kesan

pribadi dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti.

b. Wawancara

Wawancara adalah percal<apan dengan mal<sud tertentu. Percakapan itu

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan

(49)

atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara seperti yang

ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985), antara lain ュ・ョセQォッョウエイオォウゥ@

mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan,

kepedulian.

Wawancara merupakan salah satu bentuk komunikasi verbal semacam

percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Wawancara merupakan

metode pengumpuan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan

sistematik dan berdasarkan pada masalah, tujuan dan hipotesis penelitian.

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi

berstruktur dengan sifat wawancara terbuka. Artinya pewawancara dan yang

diwawancarai sama-sama mengetahui tujuan wawancara, sering juga disebut

in-depth interview (Poerwandari 2005). Pada penelitian ini wawancara akan

dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara (pedoman wawancara

terlampir)

Langkah-Langkah Wawancara

Lincoln and Cuba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah

dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian

(50)

a) menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan

b) menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan

pembicaraan

c) mengawali atau membuka alur wawancara

d) melangsungkan alur wawancara

e) mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya

f) menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan

g) mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

3.3.2. lnstrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, instrumen yang peneliti gunakan adalah berupa

pedoman wawancara, pedoman observasi, tape recorder. Pedoman

wawancara dan alat perekam (tape recorder) diperlukan untuk menunjang

jalannya wawancara agar sesuai dengan tujuan penelitian dan landasan

teoritis sehingga jawaban wawancara akan lebih terarah dengan apa yang

ingin diteliti.

3.4.

Teknik Analisa Data

Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data

yang diperoleh dari hasil wawncara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan

(51)

Adapun prosedur dalam analisa data adalah sebagai berikut:

a. Membuat transkip wawancara secara verbatim dan membaca

berulang-ulang untuk menemukan makna dari jawaban responden.

b. Melakukan penelitian data yang relevan dengan pokok permasalahan.

c. Mengelompokkan data-data dengan memberikan kode-kode.

d. Melakukan interpretasi dengan analisa pencocokan pola lalu hasil analisa

dibandingkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini.

(52)

BAB4

ANALISA DATA

Dalam bab ini akan menganalisis hasil wawancara dari ketiga subjek

penelitian, yang didapat dari lapangan penelitian. Adapun hasil penelitian

dapat dijabarkan dalam bentuk gambaran umum subjek, riwayat kasus,

analisa kasus, dan analisa perbandingan antar kasus.

Subjek yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 3 orang ibu yang telah

dipilih berdasarkan dengan kriteria yang ditetapkan sebelurnnya. Nama-nama

subjek dalam penelitiaan ini sengaja disamarkan untuk menjaga kerahasiaan

subjek penelitian dan sesuai dengan etika peneitian.

4.1. Analisis Subjek 1

4.1.1. Biodata Subjek

--·

Subjek 1 Suami

·-·---lnisial A H

Usia

45

49

Pendidikan SMA STM

'

-Pekerjaan IRT Karyawan Swasta

(53)

4.1.2. Biodata Anak

lnisial

Jenis Kelamin

Usia

- Anak.

Riwayat Kesehatan

:D

: Laki-laki

: 15

tahun

: 2 dari 3 bersauadara

* Panas selama 2 hari

Pendidikan

* SLB C sejak usia

3

tahun hingga sekarang

* TK usia

3

tahun (hanya sebentar)

Kursus

* Berenang seminggu sekali di gor R

* Membaca dan menulis di SLB setiap hari set13lah jam sekola

usai

Diagnosis

4.1.3. Gambaran Umum

Subjek

1

: Tuna Grahita sedang ( 42 )

A adalah ibu dari tiga orang anak dengan postur tubuh gernuk dan tinggi

serta berkulit gelap. Profesi yang dijalani A adalah ibu rumah tangga namun

A mempunyai pekerjaan sampingan yaitu membuka kantin di SDLB tempat D

(54)

dan alat tulis. Aktivitas sampingan itu tidak mengganggu kegiatan ibu A

sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak tuna grahita. A masih bisa

menemani anaknya itu kesekolah dan ke tempat kursus berenang setiap satu

minggu sekali.

A sangat memperhatikan segala kebutuhan D dari mulai pakaian, makan

serta kebutuhan sekolah D dan berusaha untuk memenuhinya. A mengasuh

sendiri D sejak dari kecil.

A menikah pada usia 25 tahun, mengandung dan melahirkan pada usia 26

tahun. A mengandung dan melahirkan D pada usia 32 tahun. Saat itu A tidak

merencanakan kehamilan

Pada saat mengandung D, A mengalami kekhasan dalam pola makan yaitu,

A selalu mengkonsumsi mie ayam dengan saos hingga ke11tal, A menyadari

bahwa itu kurang baik untuk janin, namun A merasa tidak tahu harus

bagaimana lagi, karena A tidak dapat mengkonsumsi makanan apapun,

setiap makanan yang dikonsumsi akan kembali keluar (muntah) kecuali mie

ayam dengan saos kental dan air putih, ini berlangsung selama lima bulan

(55)

Saat proses kelahiran A mengalami rasa sakit yang berbeda dengan saat

melahirkan sebelumya. A merasakan sakit luar biasa di bagian bawah perut.

Subjek memperlihatkan antusiasme yang tinggi dalam menjawab pertanyaan,

ia sangat antusias dan ekspresif, jawaban yang diberikan lugas dan spontan.

Tidak ada hambatan yang berarti maupun catatan khusus selama wawancara

berlangsung.

Anak yang menyandang Tuna Grahita

O adalah laki-laki berumur 15 tahun, berbadan gemuk dengan warna kulit

agak gelap. la memiliki wajah khas, terlihat dari bentuk wajah yang bulat,

rnata yang sipit, mulut cenderung terbuka, letak gigi yang terletak tidak

beraturan, leher yang pendek, dan jari tangannya yang gemuk-gemuk dan

pendek serta garis tangan yang lurus dan berjumlah dua buah.

Dari perkembangannya diketahui bahwa D bisa berjalan pada usia 2 tahun 8

bulan tanpa melalui tahapan tengkurap, duduk dan meranokak dan dapat

mengucapkan satu kata pada usia 3 tahun 6 bulan. Dalam kemandirian, pada

usia sekarang ia sudah mampu melakukan beberapa hal seorang diri seperti

makan dan minum. Namun D masih membutuhkan bantuan saat mandi,

buang air besar dan buang air kecil. D jarang sakit, kalaupun sakit hanya

(56)

Di rumah D memiliki kebiasaan main setrika-setrikaan, biasanya untuk

membuat D tenang, A memberikan setumpuk pakaian yan£J sudah dijemur

lalu diberikan kepada D agar membuat D anteng, jika sudah melihat banyak

tumpukan pakaian maka D akan senang dan duduk dengan tenang sambil

bermain.

Selain itu D juga senang meminum minuman yang dingin dan diberi es batu,

apabila es batu di dalam tekonya mencair maka D akan membuka lemari es

dan mengganti es batu yang sudah cair dengan yang masih beku, D juga

sangat senang mengkonsumsi makanan-makanan berminyak seperti

gorengan.

D bersekolah di SLB sejak usia 3 tahun. Sekarang D masih duduk di kelas 6

SD dengan usia 15 tahun karena D mengalami kesulitan dalam bidang

akademik seperti membaca dan menulis. Selain sekolah D juga diberi

pelajaran tambahan setelah jam sekolah berakhir clan ikut les renang

seminggu sekali. D tidak memiliki perilaku bermasalah yan9 berarti, malah ia

sangat menurut kepada ibunya, kecuali dengan ayahnya, karena menurut

pengakuan ibu A, sejak D pernah ditampar oleh ayahnya dikarenakan D tidak

mau dicukur, D menjadi kurang mau mendengar perintah ayahnya. Dalam

berhubungan dengan orang baru D masih agak sulit untuk beradaptasi dan

(57)

seringkali D tidak mau diajak menumpang mobil teman ibu A yang kebetulan

searah dengan rumahnya.

Tahap Penerimaan

Menurut Gargiulo (1985) proses penerimaan diri berkaitan dengan reaksi dan

respon terdiri dari tiga tahap.

1. Primary Phase

A merasa terpukul ketika ia memperoleh keterangan bahwa anaknya

mengalami kelainan pada tahap pertama ini disebut dengan tahap shock dimana ibu merasa terguncang dengan kondisi yang terjadi pada anaknya.

Pada saat itu A tidak bisa menerima keterangan dokter yang menurut A tidak

memberikan spirit kepada pasien, karena ibu A merasa justru disaat seperti

inilah seorang dokter sangat berperan untuk memberikan clukungan serta

memberikan informasi sebanyak-banyaknya bukan sebaliknya dan

penyampaian dokter yang kurang menyenangkan inilah yang dialami oleh ibu

A.

. ... Waktu pertama kali saya bawa ke dr. Kumiasih katanya "!bu, ini anaknya ada kelainan"aduh, rasanya ancur banget, kayaknya udah ga punya masa depan ....

. . .. akhirnya saya bawa ke dokter lain, .karena ga ada spirit dari dokter, dari pertama kan dokternya ''ibu, anaknya down syndrome, ntar

sekolahnya di SLB, nama dokternya dr.K", saya tuh putus asa ....

r··--1

(58)

Yang ibu A rasakan pada tahap denial adalah ibu A merasa berat dengan

kondisi D saat itu, ibu A menolak keadaan yang terjadi pacla anaknya, karena

yang terbayang kata-kata dokter yang mengatakan bahwa D down syndrome

dan akan sekolah di SLB tanpa memberikan tambahan informasi apapun

mengenai anak down syndrome, sehingga yang ada hanya pikiran buruk

dalam diri ibu A saat itu. lbu A juga merasa bahwa D sudah tidal< mempunyai

harapan dan masa depan layaknya anak-anak lainnya .

.... Ampe saya setiap abis sembahyang saya doain biar cepet mati, ya Allah ya Tuhan ... saya pengen cekek, udah pengen saya matiin ... Setelah itu A juga mencari penegasan dari para ahli meng13nai apa yang

terjadi dengan anaknya .

. . .pertama kali saya bawa D ke dr.Kurniasih, di situ saya disuruh berobat ke rumah sakit besar, saya bawa ke rumah sakit Cipto periksa ke dr.Ketut, trus akhirnya setelah dari dr. Ketur saya bawa /agi ke Dokter Lili Sudarta."

Tahap grief yang dilalui oleh ibu A merupakan suatu reaks1 alami dimana

sebagai seorang ibu yang anaknya didiagnosis retardasi mental tentunya ibu

A merasakan kesedihan dengan kondisi anaknya yang tidak sesuai dengan

harapannya yaitu dapat berkembang secara optimal seperti anak-anak pada

umumnya .

... waktu dikasih tau pertama kali anak saya ada kelainan, uh ... sedih banget, itu kan yang ngasih tau Dr.Kurniasih ....

(59)

2. Secondary phase

Pada tahap ini A mengalami perasaan yang saling bertentangan antara

mencrima kondisi dengan dapat mengurus dan menjalani kehidupan dengan

keadaan D, pada tahap ambivalence ini ibu A merasa menolak karena tidak

sanggup dengan reaksi yang diberikan orang lain ketika A berjalan dengan D

ke tempat-tempat umum .

. . . Kala sekarang mah, ya udah /ah saya jalanin aja, tapi saya bener ga sanggup ka/o dijalan ada orang yang nyo/ek-nyo/ek ngasih tau

temennya ... udah cape gitu ngurusin 0, ih ... ujiannya berat banget ... lbu A masih terus berusaha agar kondisi anal< dapat membaik karena

perkembangan yang dialami oleh D adalah lambat sehing9a pada tahap guilt

karena ada rasa bersalah dalam diri ibu A akhirnya ibu A membawa D untuk

berobat ke dokter maupun para alternatif .

... emang salah saya kali ya .. .D kaya gini I setelah saya bawa ke mas agung yang di jembatan /ima, saya mau tau aja, katanya kan dia orang pinter, "emang nih anak udah dari sananya tapi umur 2 tahun /ebih bis a ja/an, ternyata bener, umur 2 tahun 3 bu/an D bisa jalan ... Tahap anger juga dialami oleh ibu A saat menghadapai reaksi ingkungan,

ketika mendapatkan reaksi yang negatif ibu A langsung melampiaskan

kemarahan kepada orang yang memperlakukan D secara tidak baik hal itu

juga dikarenakan kepribadian ibu A yang terbuka terhadap apa yang

dirasakannya dan penyakit ibu A yaitu darah tinggi, karena menurut ibu A

(60)

... Sa ya merasa berat kalo lagi diejek orang, di sekolah, di jalanan jadi berantem melu/u, saya orangnya panasan, kalo ga saya ungkapin saya ga bisa, saya kan punya darah tinggi, jadi kalo ga saya ungkapin saya bisa sakit kepala. Pernah saya pengen marah tapi masih anak kecil ga ngerti, anak-anak SD udah penuh mobil, eh D naek pada turun, saya kasian sama supirnya ya, akhirnya saya yang ngalah, saya sama D yang tu run ....

lbu A juga sering merasa marah dan tidak sabar sehingga meluapkan

kemarahannya pada orang yang menghina D karena ibu A merasa bukan hal

yang mudah menjalani kehidupan seperti ini dan hal ini bukan merupakan

keinginannya melainkan sudah pemberian dari Tuhan .

. . . saya ga sabar kalo harus ngadepin kaya gini, sekalipun sabar manusia ada batasnya ....

Selain itu, pada tahap shame and embrassement ibu A merasa malu dan

minder menghadapi lingkungan sosial karena :<ekhasan anak yang menonjol.

.. .Oulu saya sempet minder waktu D umur 4 tahun, malunya gimana ya punya anak gini, malu aja. Kala saya bawa ke undangan malu sama tetangga, waktu piknik dari kantor ayahnya tuh saya agak malu ...

Tidaklah mudah menerima keadaan anak, proses diatas dipengaruhi oleh

dukungan sosial, karena dukungan sosial merupakan kenyamanan,

perhatian, penghargaan atau bantuan yang diterima oleh individu dari orang

lain (Sarafino, 1994 ), dari hasil penelitian ibu A mendapatkan dukungan

sosial yang positif dan juga membangun motivasi hidupnya, diantaranya

adalah dari kakak yang juga membantu proses kelahirannya, menurut ibu A

(61)

bantuan dan juga dukungan yang ibu A perlukan, hal ini sama seperti yang

diungkapkan oleh sarason 1997 , yang berpendapat bahwa dukungan sosial

merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan

saat individu membutuhkan bantuan .

. . . saya bilang ke kakak saya, "dokter mana yang bilang gitu?saya bi/ang "dokter Ketut'', akflimya dimaki- maki sama kakak saya ...

.. . kakak saya sih udah tau dari /ahir, Cuma ga sanggup ngasih tau ke saya, kakak saya udah punya firasat tapi biar saya tau dari dokter du/u ...

Dukungan lain juga ibu A dapatkan dari seorang dokter, dengan berkonsultasi

dengan dokter , ibu A memperoleh nasihat yang membesarkan hatinya

menjadi merasa lebih baik, .

.. . akhirnya saya minta konsu/ sama dia, sejam 200.000, ke

Rawamangun kerumahnya saya konsu/, akhrnya saya masih agak mendingan ...

Sela in dukungan sosial yang positif, ibu A juga sering tidak mendapatkan

dukungan dari lingkungan sekitar, saat-saat seperti inilah yang juga dirasa

berat oleh ibu A karena menjadi bahan pembicaraan orang dalam hal yang

negatif .

. . . saya merasa be rat kalo /agi diejek orang, di sekolah, dija/anan, orang pake kerudungan, sekolah di MAN ada D nunjuk-nunjukin ke temennya, kan saya kese/ ...

Dukungan sosial juga tidak ibu A dapatkan dari keluarga suaminya terutama

mertua yang sampai sekarang tidak percaya karena menurut mertuanya ayah

(62)

D sarna dengan kondisi yang dialami oleh ayahnya dulu, s1:ihingga tidak perlu

ada yang dikhawatirkan .

. . . kalo dari mbahnya (pihak ayah) sampe sekarang ga percaya, du/u juga ayahnya umur 8 tahun baru bisa ngomong, ga usah kaget, jaman

kan udah maju ...

Anak pertama ibu A juga memperlihatkan sika

Referensi

Dokumen terkait

Ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus mempunyai kebermaknaan hidup dan optimisme yang tinggi sehingga seorang ibu dapat mengisi kehidupannya dengan penuh

Kesimpulan dari penelitian adalah (1) ada hubungan antara dukungan ayah, pengetahuan ibu tentang anak autis dan religiusitas (dimensi praktik agama) dengan penerimaan

Di samping itu, dukungan dan penerimaan dari orangtua dan anggota keluarga yang lain akan memberikan ‘energi’ dan kepercayaan dalam diri anak berkebutuhan khusus

&lt; 0,05 bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan dukungan sosial dengan keterlibatan ibu dalam terapi, sesuai dengan hasil

Berdasarkan hasil data wawancara pada keempat orang tua anak berkebutuhan khusus tuna grahita di Yayasan Rumah Bersama, di dapat bahwa sebagian keluarga telah menerapkan

Kajian Teori Tentang Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus.. Kelompok-

Di samping itu, dukungan dan penerimaan dari orangtua dan anggota keluarga yang lain akan memberikan ‘energi’ dan kepercayaan dalam diri anak berkebutuhan khusus

Terlepas dari penerimaan akan orientasi seksual anaknya, pada penelitian ini ditemukan bahwa ketika ibu memandang hubungan interpersonal dengan anak perempuan mereka sebagai suatu hal