DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHADAP ANAK
TUNA GRAHITA
Oleh:
Ajeng Nidar Ramanda
103070029077
Skripsi diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Psikologi
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN
SYARIF HIDAYATULLAhl
DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHIADAP
ANAK TUNA GRAHITA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memperoleh syarat - syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Oleh:
AJENG NIDAR RAMANDA
103070029077
Di Bawah Bimbingan
/
e
bm .,gll
7
. .
-_,--- I
M.Si S. Evangeline l.S, M.si, Psi
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
cripsi yang berjudul " DINAMIKA PENERIMAAN IBU TERHADAP ANAK TUNA セahitaB@ telah diujikan dalam Sidang Munaqasah Fakultas Psikologi Universitas am Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 6 Februari 2008. Skripsi ini ah diterima sebagai salah sat syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.
d・セ。ョ@
)tua Mera gFap Anggota
lMMセ@
/
artati M.Si
\5 938
\
.J
Pembimbing I I
Jakarta, 6 Februari 2008
Sidang Munaqosah
Anggota,
Pembantu Dekan
Sekertaris Merangkap Anggota
CA'
Orn. Hj.
z。ィセᄋNB@
••
M.s;
NIP. 150 23E 773
M.Si
Penguji I
a Fadhilah Sural a M.Si.
NIP. 150 215 283
Penguji II
A1
Dra. H". Zahrotun ihayah, M.Si
Sef\sil'i saja f\simu 6efajaruntuli.,6erputus asa maf\si af\sin menjatfi. Rg6iasaan.
( 'f/ince Lom6an[)
J[Ufup 6isa demi/i.,ian 6afragia rfafam /igter6atasan jif\si cfimali.,nai dengan
/igifi.fifasan 6erfi..rr6an untuli.,sesama.
'l(pti/ig, al{,u d'ifafiirlig,n al{,u 6ertanya pada
'l'uhan
"'l'uhan .
..
mengapa al{,u difarirlig,n seperti
ini?"'l'uhan merljawa6 pertanyaanl{,u
"'l(prena /ig,u adafali anaf.,istimewa, ma/ig, a/{,u align
ュ・ュVQセイゥ@padamu orang tua
yang istimewa"
S/{,ripsi ini aipersem6ali/ig,n untul{,para orangtua istimewa, yang tefafi mencurafilig,n
ABSTRAK
( C ) Ajeng Nidar Ramanda 103070029077
(A ) Fakultas Psikologi ( B ) ,Januari 2008
( D ) Dinamika Penerimaan lbu terhadap Anak Tuna Grahita ( E ) i+ 85 halaman
( F ) Setiap pasangan suami isteri mendambakan kehadiran anak dalam keluarga. Orang tua terutama ibu mempunyai harapan tentang anak yang dikandungnya, ibu berharap agar anak dapat menjadi anak yang baik, cakap, pintar, membanggakan orang tua. Harapan yang ditunggu, rasa mendebarkan dan menyenangkan seketika hilang ketika
mengetahui anak mengalami kekhususan sehingga menjadi hal yang sensitif bagi orang tua. Keh2diran anak tidak selalu mudah jika anak tersebut memiliki kekhususan. Banyak reaksi yang timbul pada orang tua, didahului oleh shock, sedih, marah, terguncang, rnenolak kondisi anak, dan merasa bersalah, hi'1gga akhirnya mereka dapat
menyesuaikan diri dan menerima kondisi anak.
( G ) Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran tentang dinarnika penerimaan ibu terhadap anal< tuna grahita dengan proses -proses penerimaan yang dilalui ibu.
( H ) Sampel dalam penelitian ini adalah tiga orang ibu yang memiliki anak tuna grahita dengan rentang usia antara 30 - 45 tahun.
( I ) Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam peneliti dapat menggali lebih banyak ir,formasi dari responden.
( J ) Hasil penelitian ini adalah, tidal< mudah untuk mencapai tahap
penyesuaian dan penerimaan terhadap anak. Setiap ibu memiliki kekhasan masing - masing dalam penerimaan diri, pada tahap primary phase ditemukan bahwa dua subjek mengalami tahap shock, semua subjek mengalami denial ( menolak mengenali kecacatan anak ), satu subjel< mengalami grief ( sedih ). Pada tahap secondary phase satu subjek mengalami ambivalence ( antara menerima dan menolak kondisi anak), semua subjek mengalami tahap guilt ( perasaan bersalah orang tua terhadap anaknya ). dua subjek mengalami anger ( perasaan marah pada diri sendiri ). Pada tahap tertiary phase satu subjf'k mengalami bergaining ( mengadakan perundingan agar anak dapat kembali seperti semula ), dua subjek mengalami adaptation and reorganization (
mempengaruhi kurangnya penerimaan diri ibu, diantaranya adalah diagnosis dokter yang menyatakan anak tuna grahita yang dirasa kurang memberikan empati kepada pasiennya;selain itu faktor ekonomi dan reaksi negatif dari masyarakat ataskeberadaan anak - anak
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan kasih sayong dan kekuatanNya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada tauladan umat
baginda Rasulullah Saw.
Penulis menyadari banyak sekali bantuan yang telah penulis terima datam penulisan skripsi
ini, maka penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada
1. Dra. Hj. Netty Hartati. M.SI, Dekan Fakultas Psikologi, beserta seluruh jajaran
dekanat lainnya yang telah membantu kelancaran skripsi ini.
2. Para Dasen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah
membimbing dan memberikan banyak ilmu bagi penulis.
3. Staf Tata Usaha Fakultas Psikologi ( !bu Syariah, Bu Uus, Bu Sri, Pak Miftah Dan
lain - lain ), yang telah banyak membantu penulis dan memberikan motivasi untuk
menyelesaikan skripsi ini, serta Stal Tata Usaha UIN Jakarta.
4. Pembantu Dekan II dan pembimbing I Dra. Zahrotun Nihayah "terima kasih Bu ... alas
saran dan masukannya"
5. S. Evangeline. l.S, M.SI, Psi, pembimbing II yang banyak meluangkan waktunya
untuk penulisan skripsi ini.
6. Untuk orang tua terhebat Bapak dan Mamah tercinta yang telah mencurahkan hidup
dengan peluhan keringat sehingga penulis bisa menyelasaikar skripsi ini, terima
kasih atas untaian doanya, karena doa Bapak dan Mamah merupakan suatu
kekuatan.
7. Kepada ketiga bintangku (Amar, Agin, Alika) yang selalu memberikan keceriaan
bagi penulis dan menjadi penyemangat bagi penulis untuk menjadi contoh yang baik.
Bual Agin terima kasih alas keistimewaannya, tan pa Agin judul ini belum tentu ada
8. Yudi Rosdiana dan keluarga yang banyak meluangkan waktu untuk membantu
penulis dan mendegarkan segala keluh kesah.
9. Teman - teman angkatan 2003 khususnya kelas C \ Andin, Ina, Fanny, Nia, Litha,
Zora, Wulan, Ira, lryn, lka, Ayu dil ) atas canda tawa, pengertiannya pada segala
kekurangan yang penulis miliki, semoga pertemanan ini tidak berhenti sampai disini.
10. Teman - teman KKL Ml MP 2007 ( Jernih, Resti, Wiwi, Ai, Ira, Mis, Ari), akhirnya
kita sudah sampai pada tahap ini, semoga keberhasilan aknn menghampiri kita.
11. Para Orang tua pilihan yang istirnewa yang telah bersedia menjadi subjek, terima
kasih atas waktu yang telah ibu luangkan untuk kelancaran skripsi ini.
12. Keluarga besar KMF Kalacitra ( lyos, Sinden, Ridho, Yuni, Irma, Erna, Dina, Suri,
Agus, Zaky, Rifl<i ), yang telah memberikan persahabatan yang begitu indah.
13. Keluarga besar lkatan Mahasiswa Muhamadiyah ( JMM ), yang telah banyak
memberikan pengalaman dan ilmu.
14. Teman-teman kos (Zee, Mba Dani, K. Diar, Aci, Dika, K.Uci, Mb. Andri) yang telah
bersedia menjadi tempat curhat dan mengingatkan penulis dalam banyak hal.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap akan ada
karya-karya lain yang dapat penulis hasilkan. Amin
Jakarta, Fet>ruari 2008
LEMBAR PENGESAHAN
MOTTO
DAFTAR ISi
ABSTRAK.... .. ... ... ... .. ... .... .. ... ... ... ... ... ii
KATA PENGANTAR... V DAFT AR ISi... .. .. . . .. . . .. Viii BAB1 PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang ... 1
1.2. Pembatasan Masalah ... 7
1.3. Perumusan Masalah ... 10
1.4. Tujuan Penelitian ... 10
1.5. Manfaat Penelitian ... 11
1.6. Sistematika Penulisan ... 12
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Penerimaan... 14
2.1.1 . Pengertian Penerimaan.... ... .. .. ... ... .. .... .. .. .. .. .. ... 14
2.1.2. Penerimaan Dalam Islam ... 17
2.2. Anak Tuna Grahita ... 20
2.2.1. Klasifikasi Tuna Grahita ... 23
2.2.2. Faktor Penyebab Tuna Grahita ... 24
2.3. Orang Tua Anak Luar Biasa ... 30
2.4. Kerangka Berpikir ... 31
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 32
3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 32
3.1.2. Metode Penelitian ... 33
3.2. Sampel Penelitian ... ... 34
3.2.1. Karakteristik Sampel ... 34
3.2.2. Jumlah Sampel ... 34
3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel ... 35
3.3. Pengumpulan Data ... 35
3.3.1. Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.3.2. lnstrumen Penelitian ... ... 38
3.4. Teknik Analisa Data ... 38
BAB 4 ANALISA DATA 4.1. Analisis Subjek 1 ... ... 40
4.1.1. Biodata Subjek ... 40
4.1.2. Biodata Anak ... ... 41
4.1.3. Gambaran Umum ... 41
4.2. Analisis Kasus Subjek 2 ... 53
4.2.1. Biodata Subjek ... 53
4.2.3.
Gambaran Umum Subjek2 ...
54
4.2.4.
Gambaran anak ... ...56
4.3.
Subjek3 ...
61
4.3.1.
Biodata Subjek ...61
4.3.2.
Biodata Anak ...62
4.3.3.
Gambaran umum subjek3 ...
62
4.3.4.
Gambaran umum anak ...64
4
.4.
Analisis Antar Kasus ... 68BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan ... 735.2.
Diskusi ... ... 785.3.
SaranDAFTAR PUSTAKA
LAMPI RAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap manusia ュ・ョセQゥョァゥョォ。ョ@ kelak akan dapat berumah tangga,
membangun keluargEI, hidup berdampingan bersama pasangannya, dan
memiliki anak. Setiap keluarga mendambakan kehadiran anak sebagai
pemersatu suami-isteri, sebagai penerus generasi. Selain itu juga anak
merupakan buah hati yang mendatangkan kelengkapan di dalam keluarga,
dan dapat mempererat tali cinta suami istri. Tingkah !aku anak yang dapat
menjadi kebanggaan orang tua menjadikan kelahiran seorang anak menjadi
hal yang dinanti-nantikan bagi kebanyakan pasangan suami isteri. Hal ini
sama seperti yang diungkapkan oleh dr. Syaifudin Ali Akhmad dalam M.T
lndriati, 2007 bahwa setiap pasangan menginginkan segera memiliki anak
sebagai buah hati dan pengikat tali cinta mereka.
Harapan orang tua terhadap anaknya dimulai sejak mereka merencanakan
kehamilan. Masa kehamilan akan menjadi sesuatu yang ditunggu,
dipersiapkan sebaik-baiknya. Orang tua terutama seorang ibu mempunyai
anaknya dapat menjadi anak yang baik, cakap, pintar, membanggakan orang
tua dan sebagainya, lahir ke dunia dalam keadaan yang sempurna, sehat
jasmani dan rohani tanpa kurang suatu apapun dan dapat berkembang
secara optimal menjadi pribadi yang baik, shaleh dan dapat berlaku optimal di
dalam masyarakat.
Persiapan awal kehamilan para ibu biasanya dimulai dengan mencari
informasi sebanyak-banyaknya sehingga dapat mencapai proses kelahiran
yang lancar, dan kesehatan yang diharapkan. Persiapan para calon ibu tidak
hanya secara fisik tetapi juga persiapan psikologis dimana orang tua sudah
memikirkan bagaimana mendidik anak, merencanakan pendidikan dan di
mana si anak akan sekolah, persiapan yang akan dilakukan untuk
mengembangkan potensi yang ada pada diri anak.
Hari demi hari dinantikan selama sembilan bulan, bayi akhirnya lahir ke alam
dunia nyata. Perasaan sakit, proses kelahiran yang di·asa berat, butuh
perjuangan, antara hidup dan mati terobati dengan kelahiran bayi. Semua
perasaan tidak menyenangkan untuk ibu dan ayah menjadi sesuatu yang
membahagiakan dan menjadi sebuah kabar yang harus disampaikan kepada
lbu <:kan terus memantau, memperhatikan apa yang anak tampilkan. Perilaku
anak yang ditampilkan mulai dibandingkan dengan anak-anak seusianya dan
yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal yang biasanya dibandingkan adalah
pada awal perkembangan anak, anak-anak sudah mulai dapat duduk,
berjalan dan memulai kata-kata pertamanya, seperti rremanggil "mama" atau
"ibu". Jika perkembangan yang nampak sesuai atau lebih dari pada
umumnya, maka orang tua akan merasa senang, bangga clan mendapat
pujian dari orang-orang sekitar.
Sebaliknya, orang tua akan merasa prihatin dan khawatir jika
perkembangannya tidak nampak seperti anak seusianya pada umumnya.
Perkembangan motorik ketika kanak-kanak pada usia 3 tahun anak-anak
masih suka akan gerakan sederhana seperti berjingkak-jingak, melompat.
Mereka bangga dapat berlari melewati suatu ruangan dan melompat
(John.W.Shantrok, 2002). Dunia kognitif anak-anak ialah kreatif, bebas, dan
pem:h imajinasi (John.W.Shantrok, 2002). Dalam bukunya, Hurlock
mengemukakan bahwa perkembangan bahasa pada masa awal anak-anak
umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok
dalam belajar berbicara, yaitu menambah kosa kata, menguasai pengucapan
kosa kata dengan menggabungkan kata-kata menjadi kalirnat (Elizabeth
B.Hurlock, 1980). Tugas perkembangan ini tidak ditemukan pada anak
apabila anak tersebut memiliki kekhususan, karena perkembangan bahasa
sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognisi (Sotjihati, 2006)
Orang tua mulai menyadari bahwa perkembangan anaknya terlambat, tidak
seperti anak normal. Hal seperti ini menurut orang tua tidak wajar seperi
halnya anak-anak lain pada umumnya. Reaksi kegembiraan karena
kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga dapat berubah sebaliknya
di saat kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan awal orang tua
saat masih mengandung, yaitu melahirkan anak yang sehat seperti
anak-anak pada umumnya.
Rasa khawatir akan masa depan anal< dalam mengurus diri sendiri juga
dapat menjadi pikiran bagi orang tua, yang diKhawatirkan adalah siapa yang
akan mengurus anal< sepeninggalnya. Bayangan mengenai anak yang
optimal perkembangannya tidak terwujud, kenyataan yang terjadi malah
sebaliknya, hal ini dapat menyebabkan stress dan merupak.an hal yang
menyakitkan bagi orang tua.
Keterlambatan perkembangan anal< juga menjadi hal sensitif bagi orang tua.
Pernyataan seperti diagnosis yang menyatakan bahwa anak Mental
Retardation akan memiliki fungsi intelektual di bawah rata-rata, keterbatasan
untuk berinteraksi dengan lingkungan, sehingga kehadiran anak tidak sealu
mudah jika anak tersebut memiliki kekhususan.
Kekhawatiran orang tua berdampak pada fisik, emosional, psikologis pada
orang tua khusunya bagi ibu, secara fisik menyebabkan ibu jatuh sakit,
sedangkan secara emosional orang tua akan mudah tersinggung, cepat
marah, menangis, dampak psikologis dapat berupa kecemasan akan masa
depan anak, depresi, malu dan merasa gagal sebagai orang tua sejak
mengetahui keadaan anak tidak sesuai seperti apa yang diharapkan. Hal ini
pernah dirasakan oleh F, seorang ibu yang anak bungsunya didiagnosis
down sundrome sejak bayi (sumber, Majalah Paras edisi 313).
Stigma atau pandangan terhadap anak berkekhususan dapat menjadi hal
yang memalukan bagi orang tua. Orang tua akan ber Jsaha menghindari
situasi yang dapat menimbulkan komentar mengenai kecac:atan anaknya. Hal
ini disebabkan karena lingkungan sosial seolah menekan seseorang untuk
bertindak di luar batas kemampuannya (psikologi klinis).
Banyak usaha yang dilakukan orang tua guna memulihkan kondisi anak,
diantaranya pergi ke dokter untuk menanyakan secara lan9sung masalah
yang dihadapi oleh anaknya sampai berkonsultasi dengan para ahli atau
mendatangi dokter atau psikolog, secara spirtual dengan mendatangi para
normal yang mungkin didasari atas saran dari masyarakat untuk melakukan
tindakan-tindakan yang dapat menyembuhkan anak yang clianggap berbeda,
dan juga mendatangi pengobatan alternatif. Usaha selalu orang tua lakukan
walaupun tidak mudah menerima anak yang didiagnosis tuna grahita.
Banyak reaksi dan perasaan yang dapat ditimbulkan orang tua yang memiliki
anak dengan kekhususan, diantaranya dapat berupa sedih, marah,
terguncang, menolak kondisi anak, sedih, merasa bersalah, dan pengandaian
seandainya keadaan tersebut tidak menimpa dirinya.
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa ternyata ada beberapa orang tua
"sulit" menerima kondisi anak berkebutuhan khusus, pada umumnya orang
tua dengan anak kebutuhan khusus adalah merasa shock, setelah itu adanya
penyangkalan kondisi anak, duka cita, diikuti dengan depresi, antara
menerima dan menolak kondisi anak, merasa bersalah, merasa malu,
mengadakan perundingan sebelum akhirnya melewati tahap adaptasi dan
penerimaan.(Yoana Sari)
Sumber lain menyebutkan bahwa ada orang tua dengan keadaan anak
'cacat' merasa sulit untuk menerima keberadaan anak, bahkan setelah
memaksakan kehendak untuk menyembuhkan anaknya, merasa bahwa
kondisi anak dapat pulih seperti semula, tidak jarang orang tuapun merasa
malu dengan kondisi 'kecacatan' anak sehingga anak cenderung
disembunyikan dari pandangan orang lain, hal ini dialami ol1:ih seorang wanita
penyandang polio di Bandung. (Yudi Dzulfadli, 2007)
Hal tersebut sama menurut teori yang diungkapkan oleh Gargiulo dan juga
J.P Chaplin. Orang tua juga akan merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri,
terguncang dengan yang telah terjadi, menolak untuk mengenali kecacatan
yang terjadi pada anaknya sehingga orang tua menjadi tidak percaya diri
untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Dari pemaparan di alas, penulis merasa tertarik dengan bagaimana dinamika
penerimaan ibu terhadap anak tuna grahita.
1.2. Pembatasan Masalah
Dalam penulisan ini, penulis hanya membatasi pada permasalahan pada:
1.2.1.
PenerimaanProses penerimaan yang dijelaskan oleh Kubler Ross (dalam Gargiulo,
1985),
berkaitan dengan reaksi atau respon orangtua terhadap objek, yang1. Prima1y Phase
a. Shock, orang tua merasa terguncang dengan apa yang telah terjadi.
Timbul tingkah laku yang tiduk rasional dan perasaan tidak berdaya.
b. Denial, yaitu menolak mengenali kecatatan yang terjadi pada anaknya
dan beberapa orangtua mungkin melakukan rasionalisasi, dan mencari
penegasan dari para ahli.
c. Grief and Deppresion, merupakan reaksi yang alami, dimana orangtua
akan merasa sedih dan perasaan marah pada diri sendiri. Ditandai
dengan penarikan diri dari lingkungan.
2. Secondary Phase
a. Ambivalence, yaitu perasaan yang dirasakan orangtua yang saling
bertentangan antara menerima dan menolal< kondisi yang terjadi pada
anak.
b. Guilt, yaitu perasaan bersalah orangtua terhadap anaknya. Biasanya
untuk mengatasi perasaan bersalah terhadap anaknya, orangtua
berusaha membayar kesalahannya dengan mencari informasi
mengenai apa yang harus dilakukan seperti membawa anak berobat.
c. Anger, yaitu perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri dan
orang lain (displacement)
d. Shame and Embarassment, yaitu perasaan malu yang timbul saat
3. Tertiary Phase
a. Bergaining, yaitu strategi dimana orangtua mengadakan perundingan
dan perjanjian dengan pihak yang dapat mengembalikan anaknya
seperti semula.
b. Adaptation and Reorganization, yaitu reaksi orangtua untuk
beradaptasi dengan keadaan yang membuat cemas dan emosional
lainnya. Dan merasa nyaman dengan situasi yang ada.
c. Acceptance and Adjustment, yaitu proses dimana orangtua berusaha
untuk mengenali, memahami, dan menerima kondisi yang terjadi.
Kesadaran seseorang atas segala hal yang terdapat dalarn dirinya, baik
potensi yang positif maupun kekurangan diri, yang menimbulkan rasa senang
atas kepemilikan semua hal tersebut.
Penerimaan dalam Islam dapat meliputi tawakal yaitu berserah diri kepada
Allah yang ditinjau dari psikologi pengertian tawakal adalah mengandung
makna penerimaan diri sepenuhnya, kesabaran meiliki manfaat yang besar
dalam mendidik diri agar meningkatkan kemampuan manusia dalam
menanggung kesulitan, memperbarui tenaganya dalam mengadapi berbagai
1.2.2. Tuna Grahita
Tuna grahita adalah istilah yang digunakan untuk anak den9an
keterbelakangan intelegensi. Klasifikasi anak tuna grahita menurut Binet
adalah (10=67-52) untuk taraf ringan, (10=51-36) untuk taraf sedang,
(10=<35) Untuk taraf berat. Sedangkan menurut Weschler (10=69-55) untuk
taraf ringan, (10=54-40) untuk taraf sedang, (10=<40) u11tuk taraf berat.
1.2.3. lbu
Adalah orang tua perempuan yang melahirkan dan yang membesarkan anak,
dalam penelitian ini penulis membatasi sampel pada tiga orang ibu yang
memiliki anak Tuna Grahita.
1.3. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis membuat perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana dinamika penerimaan ibu yang memiliki anak tuna grahita
2. Apa yang dirasakan ibu pada tahap pertama?
3. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi penerimaan diri ibu?
1.4.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan tema di atas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini secara teoris adalah dapat dijadikan referensi dan juga memberi kontribusi untuk penelitian-penelitian selanjutnya dalam bidang
psikologi.
Secara praktis penelitian ini berguna diantaranya:
Untuk para orang tua diharapkan
Mendapatkan pengetahuan yang memadai dalam mengasuh anak
berkebutuhan khusus. lbu yang memiliki anak tuna grahita dapat membantu
penerimaan diri ibu-ibu yang lain. Untuk para ibu, agar dapat menerima
keadaan anak seutuhnya dan membiarkannya hidup seoptimal mungkin yaitu
dengan berusaha mengembangkan kemampuannya secara optimal, serta
dapat mencari sekolah luar biasa (SLB) yang tepat bagi anak, mengajaknya
bermain.
Untuk para keluarga diharapkan
Dapat memahami kondisi seorang ibu yang memiliki anak tuna grahita
sehingga mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan.
Untuk saudara sekandung, dapat memahami kondisi saudara dan
membantunya mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan.
Untuk para pendidik diharapkan
Agar dapat memberikan cara belajar sesuai dengan kebutuhan anak.
Memberikan materi berdasarkan kemampuan yang dimiliki anak sehingga
dapat diperoleh hasil pembelajaran yang optimal di lingkungan formal.
Saling memberikan dukungan antara pihak sekolah dengan orang tua dengan
keadaan yang dialami oleh anak baik di rumah maupun di sekolah
Serta dapat bermanfaat bagi semua orang sebagai suatu ilmu yang tidak
akan pernah ada habisnya, agar nantinya penelitian ini dapat dikembangkan
lebih dalam dan lebih luas lagi sebagai suatu pembahasan yang real dan
menarik untuk diangkat.
1.6. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman pada tulisan ini, maka penulis
ュ・ョセᄋオウオョョケ。@ dalam sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB 1 Pendahuluan
Yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan masalah,
BAB 2 Kajian Pustaka
Bagian ini terdiri dari teori - teori dari permasalahan ini, diantaranya
teori tentang penerimaan diri (self acceptance), dan tuna grahita
yang terdiri dari pengertian dan penjelasan.
BAB 3 Metode Penelitian
Bagian ini terdiri dari metode pengumpulan data, subjek penelitian
yang terbagi menjadi karakteristik dan jumlah subjek penelitian,
banyaknya alat Bantu pengumpulan data, prosedur pengumpulan
data dan yang terakhir adalah analisa data.
BAB 4 Hasil Penelitian
Pada bab ini penulis akan memberikan gambaran umum masalah
dan hasil utama penelitian.
BAB 5 Kesimpulan, Diskusi, Saran
Pada bab ini penu!is akan memberikan kesimpulan dari penelitian
2.1. Penerimaan
BAB2
LANDASAN TEORI
2.1.1 Pengertian Penerimaan
Dalam kamus psikologi, acceptance atau penerimaan ditandai dengan sikap
positif, pengakuan atau penghargaan terhadap nilai - nilai individu, dengan
kata lain penerimaan dapat merupakan segala perilaku yang positif baik yang
ditujukan pada dirinya atau orang lain serta adanya pengakuan kelebihan
yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.
Berikut adalah proses penerimaan yang dijelaskan oleh Kubler Ross (dalam
Gargiulo, 1985). lbu dapat berada dalam satu tahap untuk waktu yang lebih
lama atau lebih cepat dibandingkan dengan orang tua lain, oleh karena itu
mereka tidak memberi patokan waktu dalam tiap tahapnya. Selain itu perlu
diingat bahwa dalam melewati proses penerimaan, setiap ibu memiliki
keunikan-keunikan tersendiri yang berkaitan dengan kepriclian mereka, ada
ibu yang tidak mengalami reaksi tertentu, clan langsung melompat pada
1 . Primary Phase
a. shock, orang tua merasa terguncang dengan apa yang telah terjadi.
Timbul tingkah laku yang tidak rasional dan perasaan tidak berdaya
ditandai dengan menangis terus menerus.
b. Denial, yaitu menolak mengenali kecacatan yang terjadi pada anaknya
dan beberapa orangtua mungkin melakukan rasionalisasi, dan mencari
penegasan dari para ahli.
c. Grief and Deppresion, merupakan reaksi yang alami, dimana orangtua
akan merasa sedih dan perasaan marah pada diri seセョ、ゥイゥL@ dengan
perasaan ini, ibu mengalami masa transisi dimana harapan masa lalu
mengena 'anak yang sempurna' disesuaikan dengan kenyataan yang
terjadi saat ini. Salah satu perilaku yang paling mun9kin muncul dalam
fase ini adalah penarkan diri dari lingkungan. Olhansky (dalam
Gargiulo, 1985).
2. Secondary Phase
a. Ambivalence, yaitu perasaan yang dirasakan orangtua yang saling
bertentangan antara menerima dan menolak kondisi yang terjadi pada
anak. Kondisi anak menyebabkan ibu lebih ekstra dalam mengasuh
anak, dengan adanya perasaan bersaah maka ibu membayarnya
dengan memberikan sebagian besar waktunya untuk anak. Sementara
mengakui 'kelainan' anak. Selain itu ibu juga memiliki penilaian negatif
pada anak secara terus menerus (Gallagher dalam Gargiulo 1985)
b. Guilt, yaitu perasaan bersalah orangtua terl1adap anaknya karena
menganggap dialah yang menyebabkan 'kecacatan' anaknya.
Biasanya untuk mengatasi perasaan bersalah terhadap anaknya,
orangtua berusaha membayar kesalahannya dengan mencari
informasi mengenai apa yang harus dilakukan seperti membawa anak
berobat.
c. Anger, yaitu perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri dan
orang lain (displacement), seperti dokter, terapis, pasangan, atau anak
kandungnya.
d. Shame and Embarassment, yaitu perasaan malu yang timbul saat
menghadapi lingkungan sosial yang menolak, mengasihani, atau
mengejek ' kecacatan' anak. Sikap lingkungan yang terus menerus
seperti ini dapat menurunkan harga diri karena beberapa ibu
menganggap anak merupakan penerus dirinya.
3. Tertiary Phase
a. Bargaining, yaitu strategi dimana orangtua mengadakan perundingan
dan perjanjian dengan pihak yang dapat mengembalikan anaknya
b. Adaptation and Reorganization, yaitu reaksi orangtua untuk
beradaptasi dengan keadaan yang membuat cemas dan emosional
lainnya. Dan merasa nyaman dengan situasi yang ada dan
menunjukkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka merawat
dan mengasuh anak, sehingga membantu meningkatkan hubungan
antara ibu dengan anak. lbu mulai mampu bertanggung jawab atas
masalah anak.
c. Acceptance and Adjustment, yaitu proses dimana orangtua berusaha
untuk mengenali, memahami, dan menerima kondisi yang terjadi.
Namun tetap saja perasaan negatif yang sebelumnya perah terbentuk
tidak pernah hilang. Pada fase ini ibu menyadari bahwa dalam proses
penerimaan ibu tidak hanya menerima kondisi anaknya, namun juga
menerima diri sendiri.
2.1.2 Penerimaan Dalam Islam
a.Sabar
Islam mengajarkan hubungan dengan Allah dan manusia, ketika peran
tersebut mengalami hambatan maka individu tersebut harus dapat
menyesuaikan diri. Kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya
menyenangkan. Ada orang yang berhasil mencapai cita-citanya dan ada pula
yang gagal. Penyebab kegagalan itupun bermacam-macam pula. Terlebih
semata-mata untuk menguji keimanannya, seperti dalam firman Allah surat
Al-Kahfi ayat 46:
"Harta dan anak adalah perhiasan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh ada/ah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta /ebih baik untuk menjadi harapan".
Allah memerintahkan orang Islam agar menjadikan sabar clan shalat untuk
menolongnya. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 153:
"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertofongan dengan sabar dan sha/at, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang salat".
Dalam bukunya Dr. M. 'Utsman Najati mengungkapkan bahwa sabar memiliki
manfaat yang besar dalam mendidik diri, memperkuat kepribadian,
meningkatkan kemampuan manusia dalam menanggung kesulitan,
memberbaharui tenaganya dalam menghadapi berbagai problem dan beban
kehidupan serta bencana dan cobaan, dan membangkitkan kemampuannya
Seorang mukmin yang sabar tidaklah menjadi terlalu sedih sewaktu ia
tertimpa cobaan, ia tidak pernah menjadi lemah atau ambruk ketika tertimpa
bencana atau malapetaka. Allah telah menganjurkannya untuk bersabar dan
memberi tahu kepada hambaNya bahwa apa yang menimpanya dalam
kehidupan dunia ini tidak lain adalah cobaan dari Allah, agar la tahu siapakah
di antara manusia yang termasuk orang-orang sabar.
Sabar dapat menjauhkan perasaan cemas, gelisah, dan frustasi. Bahkan
sebaliknya akan membawa pada ketentraman batin. Ada yang mudah
tersinggung, cepat marah dan tidak dapat berpikiran jernih karena dia tidak
sabar. (Zakiah Daradjat, 2002)
b. Tawakal
Tawakal merupakan salah satu cara untuk meraih ketentraman batin. Apabila
pengertian tawakal ditinjau dari segi psikologis dapat dikatakan bahwa sikap
tawakal itu mengandung makna penerimaan diri sepenuhnya terhadap
kenyataan diri dan hasil usahanya sebagaimana adanya, atau dengan
perkataan lain mau dan mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, yang
Orang yang tidak mau atau tidak mampu menerima dirinya sebagaimana
adanya, maka ia akan merasa tertekan, gelisah, cemas, dan lebih jauh
mungkin akan terserang gangguan jiwa. (Zakiah Daradjat, 2002)
Selain itu sebagai seorang muslim hendaknya ketika ditimpa musibah
menyerahkan semuanya kepada Allah, karena Allah tidak akan menguji
kaumnya sampai batas kemampuan dirinya dengan meyakini dan optimis
Allah pasti memberikan solusi dari permasalahan yang menimpa dirinya.
2.2.
Anak Tuna Grahita
Dalam bukunya, Sutihaji Somantri menulis tuna grahita adalah istilah yang
digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di
bawah rata atau kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah
rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam
interaksi sosial. Anal< tuna grahita atau dikenal juga dengan istilah
keterbelakangan mental !<arena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan
dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara
klasikal. Oleh !<arena itu anak keterbelakangan mental membutuhkan layanan
pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuan anak
Tuna grahita atau keterbelakangan mental merupakan kondisi dimana
perkembangan kecerdasan mengalami hambatan sehingga tidak mencapai
tahap perkembangan yang optimal. Ada beberapa karakte1·istik umum tuna
grahita yang dapat diketahui, yaitu :
1. Keterbatasan intelegensi
lntelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan
menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan
baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat
menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi
kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tuna
grahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. kapasitas belajar
anak tuna grahita terutama yang bersifat abstrak seperti belajar dan
berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya
cenderung tan pa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.
2. Keterbatasan sosial
Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tuna grahita juga memiliki
kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu
mereka memerlukan bantuan. Anak tuna grahita cenderung berteman
dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua
bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga
mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tan pa memikirkan
akibatnya.
3. Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainya
Anak tuna grahita memerlukan lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada
situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila
mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari ke hari.
Anak tuna grahita tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas
dalam jangka waktu yang lama.
Anak tuna grahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Mereka
bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat pengolahan
(perbendaharaan kata) yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya.
Karena alasan itu mereka membutuhkan kata-kata konkret yang sering
didengarnya. Selain itu perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara
berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar
dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu
menggunakan pendekatan yang konkret.
Selain itu, anak tuna grahita kurang mampu untuk mempertimbangkan
yang benar dan yang salah. lni semua karena kemampuanya terbatas
sehingga anak tuna grahita tidak dapat membayangka11 terlebih dahulu
konsekuensi dari suatu perbuatan.
2.2.1. Klasifikasi Tuna Grahita
IQ difemukan pada anak tuna grahita ringan, sedang, berat, anak tuna grahita
merniliki IQ sendiri-sendiri yang tidak bisa ditukar-tukar.
Tuna grahita ringan
Tuna grahita ringan disebut dengan moron atau debil. Kelompok ini rnemiliki
IQ antara 68 - 52 menurut Binet, sedangkan menurut skala Weschler (WISC)
rnemiliki IQ 69 - 55. Mereka mas.h dapat belajar membaca,. menulis, dan
berhitung sederhana. Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak
keterbelakangan mental ringan pada saatnya akan dapat memperoleh
penghasilan untuk dirinya sendiri.
Tuna grahita sedang
Anak tuna grahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ
51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (WISC). Anak
keterbelakangan mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai
diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya,
berlindung dari hujan dan sebagainya.
Tuna grahita berat
Kelompok anak tuna grahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini
dibedakan lagi antara anak tuna grahita berat dan sangat berat. Tuna grahita
berat (severa) memilik IQ antara 32-20 menurut skala Binet dan antara 39-25
menurut skala Weschler (WISC). Tuna grahita sangat berat (profound)
memiliki IQ dibawah 19 menurut skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut
skala Weschler (WISC). Kemampuan mental atau MA maksimal yang dapat
dicapai kurang dari tiga tahun. (Sutihaji Soemantri hal 106-108).
2.2.2. Faktor Penyebab Tuna Grahita
Sebab-sebab yang bersumber dari luar
1 . Keracunan sewaktu ibu hamil yang bisa menimbulkan kerusakan pada
plasma inti, misalnya karena penyakit sipilis atau kebanyakan minum
alkohol.
2. Kerusakan pada otak sewaktu kelahiran, misalnya lahir karena ala! bantu
atau pertolongan dan lahir prematur.
3. Panas yang terlalu tinggi, misalnya pernah sakit keras, typhus, cacar dan
4. Gangguan pada otak, misalnya ada tumor otak, anoxia, infeksi pada otak,
hydrocephalus.
5. Gangguan fisiologis, seperti mongolisme, cretinisme
6. pengaruh lingkungan dan kebudayaan
Sebab-sebab yang bersumber dari dalam
Yaitu sebab dari faktor keturunan. Sebab ini dapat berupa gangguan pada
plasma inti. Pada kondisi genetik kecacatan ditentukkan pada saat konsepsi.
Kecacatan dapat ditimbulkan karena ketidak normalan krornosom. Salah
satunya adalah peristiwa trisomy, di mana pada keadcian ini kromosom yang
ada pada individu tidak lagi berjumlah 46, tetapi 47. lndividu yang tergolong
dalam kategori Down's syndrome atau mongolism adalah al<ibat dari trisomy
tersebut. Selain adanya ketidaknormalan kromosom, kecacatan juga dapat
disebabkan oleh ketidaknormalan genetik. Yang termasuk dalam
ketidaknormalan genetik antara lain janin yang rusak karena gangguan
metabolisme karbohidrat. Gangguam metabolisme ini juga rnengakibatkan
kerusakan pada ginjal dan hati selain ketunagrahitaan pada anak. (Clarke,
1982)
2.2.3. Karakteristik Anak Tuna Grahita
Karakteristik anak retardasi mental "mild" (ringan) adalah mereka yang
nemperlihatkan keadaan fisik yang mencolok. Walaupun perkembangan
fisiknya sedikit agak lambat dari pada anak rata-rata. Mereka masih bisa
dididik di sekolah umum, namun membutuhkan perhatian khusus dan guru
khusus. Proses penyesuaian dirinya sedikit lebih rendah dari pada anak-anak
normal pada umumnya. Mereka kadang-kadang memperlihatkan rasa malu
atau pendiam. Beberapa keterampilan dapat mereka lakukan tanpa selalu
mendapat pengawasan, seperti keterampilan mengurus diri sendiri (mandi,
makan, berpakaian).
Karakteristik anak retardasi mental "moderate" (menengah) adalah mereka
yang digolongkan sebagai anak yang mampu latih, dimana mereka dapat
dilatih untuk beberapa keterampilan tertentu. Mereka menampakkan kelainan
fisik yang merupakan gejala bawaan. Mereka juga menampakkan adanya
gangguan pada fungsi bicara.
Karakterisrik anak retardasi mental "severe" adalah mereka yang
memperlihatkan banyak masalah. Oleh karena itu mereka membutuhkan
perlindungan hidup dan pengawasan yang teliti. Mereka membutuhkan
pelayanan dan pemeliharaan yang terus menerus, mereka tidak mampu
mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka juga mengalami
gangguan bicara. Tanda-tanda kelainan fisik lainnya ialah lidah seringkali
besar dari biasanya. Kondisi fisiknya lemah dan mereka hanya bisa dilatih
keterampilan khusus selama kondisi fisiknya memungkinkan (LPSP3 UI)
Payne & Patton (1981) mengemukakan beberapa hal tentang anal< tuna
grahita dilihat dari segi tingkah laku, sosial dan emosional, belajar, fisik dan
kesehatanya. Berikut ini adalah penjabarannya:
Karakter Tingkah Laku
1) Tuna Grahita Taraf Ringan
Menunjukkan sedikit penyimpangan tingkah laku adaptif dan fungsi
intelektual.
Keterbelakangan anak sering tak terditeksi sampai anal< mulai
masuk sekolah.
Mengalami kesulitan dalam bidang akademis yang sering berkaitan
dengan masalah perhatian (atensi), dan dapat muncul dalam satu
bidang studi (misalnya menbaca) atau pada semua bidang studi.
Tingkah laku yang tidal< pantas yang dilakukan oleh anal< dapat
disebabkan oleh ketidakmampuan anal< membedakkan tingkah laku
apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima.
Sebagian besar anak tuna grahita dapat bergaul dEmgan orang lain.
Walaupun kosa kata yang dimiliki terbatas, kemampuan bahasa dan
2) Tuna Grahita Taraf Sedang
Menunjukkan keterlambatan perkembangan kemampuan berjalan,
duduk dan bahasa.
Pada umumnya tidak mampu mempelajari bidang akademis seperti
berhitung, membaca, selain menghafal beberapa angka dan kata
sederhana.
Mampu mempelajari kegiatan merawat diri seperti membuka dan
memakai baju, makan, menjaga kebersihan diri dan kegiatan
sehari-hari yang dapat membuat mereka cukup mandiri.
Mampu belajar bersosialisasi dengan anggota keluarga dan tetangga
dekat.
Beberapa anak membutuhkan pengawasan dan dukungan ekonomi
selama hidupnya.
3) Tuna Grahita Tahap Berat dan Parah
Jika tidak ada intervensi selama masa prasekolah, individu akan
menunjukkan koordinasi motorik yang buruk.
Ketergantungan pada orang lain sangat tinggi.
lnteraksi dengan lingkungan sangat sedikit.
Pada anak tuna grahita yang parah, pengasuhan total dibutuhkan.
Pada anak tuna grahita yang berat, sebagian besar anak bisa sedikit
berkomunikasi, dapat dilatih merawat diri, tapi tidak untuk bidang
akademis.
Karakteristik Sosial dan Emosional
Anak tuna grahita mempunyai kebutuhan psikolugis, sosial dan emosional
yang sama dengan anak normal, antara lain anak butuh kasih sayang dan
diterima orang lain. Penerimaan dan kasih sayang dari orang lain berguna
bagi perkembangan psikososial anak.
Karakteristik Belajar
Dalam mempelajari materi yang abstrak dan kompleks, anak tuna grahita
tertinggal dari anak normal. Pada umumnya mereka tidak bisa bersaiang
dengan teman sebayanya yang normal. Keterlambatan anak terlihat dalam
kegiatan yang membutuhkan kemampuan pemahaman bacaan, mengikuti
petunjuk yang kompleks lainnya. Waktu yang dibutuhkan anak untuk
memperhatikan suatu stimulus lebih besar dari anak normal.
Karakteristik Fisik dan Kesehatan
Pada anak tuna grahita taraf ringan, kararteristik yang dimiliki anak tidak jauh
anak tuna grahita mengalami keterlambatan dibandingkan dengan anak
normal. (Mosier dalam Payne & Patton, 1981 ).
2.3 Orang Tua Anak Luar Biasa
Saat-saat yang menyenangkan akan berubah menjadi kekHcewaan manakala
mengetahui anak memiliki kebutuhan khusus. Tahap pertama yang biasanya
muncul perasaan shock, mengalami goncangan batin, terkejut dan tidak
mempercayai kenyataan "kecacatan" yang diderita anaknya. Pada tahap ini
biasanya orang tua akan banyak mencari tahu mengenai keadaan anaknya
dan mencoba memperoleh diagnosa dari dokter maupun terapis yang bias
memberikan prognosis yang lebih positif. Tahap berikutnya mereka merasa
kecewa, sedih dan mungkin merasa marah ketika mereka mengetahui
realitas yang harus dihadapinya. Setelah itu perasaan tersebut diikuti dengan
penerimaan 'kecacatan' anaknya dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan
'kecacatan' tersebut. Namun demikian proses penerimaan ini akan memakan
waktu yang lama, selain itu juga mungkin akan berfluktuasi.
lbu merupakan tokoh yang sangat rentan terhadap masalah penyesuaian.
Hal ini dikarenakan mereka berperan langsung dalam kelahiran anak.
kesenjangan antara kegembiraan setelah masa penantian pada masa
kehamilan dengan realitas keadaan anaknya.
2.3.
Kerangka Berpikir
Harapan ibu :
• Mengandung dan sehat
• Anak yang sempurna dalam fisiknya • Anak yang seha\ jasmani dan rohani • Anak dapat menjadi pribadi yang baik • Shaleh
• Dapat berlaku optimal di masyarakat • Cerdas
• Shock
• Denial (menolal<)
• Grief & Deppression ( sedih & marah pada diri sendiri)
Harapan vs Kenyataan :
• Fisik yang sempurna vs fisik khas • Kecerdasan normal vs kurang • Tugas perkembangan optimal vs
lambat
• Peka terhadap lingkungan vs tidak dapat berkomunikasi
Karakteristik Anak :
• penyimpan£1an tingkah laku adaptif dan intelektual • fisik yang khas
• kurangnya respon anak
Y
Diagnosis Tuna GRahita• Ambivalence (antara
menerima & menolak kondisi yang terjadi pada anak) • Guilt (perasaan bersalah
orang tua)
• Mencari informasi • Anger
• Same & Arnbarassment (perasaan malu)
• Bergaining (strategi)
BAB3
METODOLOGI PENELITIA.N
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan, yaitu Self acceptance
(penerimaan diri ibu yang memiliki anak tuna grahita, maka pada bagian ini
peneliti akan merinci jenis penelitian, subjek penelitian teknik pengambilan
sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
3.1. Jenis Penelitian
3.1.1. Pendekatan Penelitian
PenP-litian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang pada dasarnya
memiliki tiga unsur utama. Pertama, data, bisa berasal dari bermacam
sumber; biasanya dari wawancara atau pengamatan, unsur kedua terdiri dari
prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk rnendapatkan
temuan atau teori, unsur ketiga adalah laporan tertulis dan lisan. (Anselm
Strauss & Juliet Corbin, 2003). Pendekatan kualitatif menghasilkan dan
mengolah data yang sifatnya deskkriptif seperti wawancara, observasi,
catatan lapangan dan lain sebagainya. (Poerwandari, 1998), serta data yang
terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan
naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah
(natural setting), langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen
kunci. (Sugiyono, 2005).
Dengan dasar penelitian kualitatif di atas, maka untuk mengetahui
self-acceptance (penerimaan diri) ibu yang memiliki anak tuna grahita diperlukan
data-data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi serta data yang
berasal dari berbagai sumber.
3.1.2. Metode Penelitian
Dalam penelitian kualitatif ada beberapa tipe penelitian salah satunya adalah
studi kasus. Studi kasus atau penelitian kasus (case study) adaleh penelitian
tentang suatu subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik
atau khas dari keseluruhan personality (Maxfield dalam Nazir, 1999). Studi
kasus sangat bermanfaat ketika peneliti merasa perlu mernahami suatu
kasus spesifik, orang-orang tertentu, kelompok dengan karakteristik tertentu,
atau situasi unik secara mendalam dan dapat menggambarkan secara
lengkap berbagai gejala dan proses perilaku rnanusia serta
peristiwa-peristiwa khusus yang tidal< mudah dijelaskan melalui pendekatan kuantitatif.
(Patton dalam Poerwandari, 1998)
3.2. Subjek Penelitian
3.2.1. Karakteristik Subjek
Subjek atau responden yang dilibatkan dalam penelitian ini memiliki
karakteristik sebagai berikut :
a. Subjek penelitian adalah ibu kandung yang anaknya didiagnosis tuna
grahita.
b. Berusia antara 30-45 tahun karena menurut Hurlock (2002) pada usia ini
adalah masa periode pertengahan dewasa, masa dimana seseorang
memperluas tanggung jawab sosial dan pribadi, membantu genererasi
selanjutnya menjadi generasi selanjutnya.
c. Subjek bertempat tinggal di Jakarta dan sekitarnya, hal ini agar peneliti
lebih mudah untuk melakukan koordinas
d. Pendidikan ibu minimal SD, dapat membaca dan menulis, kriteria ini
bertujuan agar subjek dapat mengerti dan memahami rnaksud pertanyaan
yang diajukan dan dapat memberikan jawaban yang jelas.
3.2.2. Jumlah Subjek
Jumlah subjek sangat bergantung pada apa yang ingin diketahui peneliti,
konteks saat itu apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan
waktu dan sumber daya yang tersedia (Poerwandari, 1998). Berdasarkan hal
disamping keterbatasan waktu dan responden yang terbatas, maka dalam
penetian ini ditetapkan jumlah subjek sebanyak 3 orang ibu.
3.2.3. Teknik Pengambilan Subjek.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Maksud purposive sampling yakni cara agar manusia,
latar dan kejadian tertentu (unik, khusus, aneh, nyeleneh) betul-betul diupayakan terpilih untuk memberikan informasi penting. (Le Compte &
Preissle, 1993), pada penelitian ini subjek diambil sesuai dengan karakteristik
yang telah ditentukan.
3.3. Pengumpulan Data
3.3.1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan metode
observasi dan wawancara.
a. Observasi
Observasi merupakan cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan
pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau
Menurut Patton dalam Nasution (1988), dinyatakan bahwa manfaat observasi
adalah sebagai berikut:
a. Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami
konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh
pandangan yang holistik dan menyeluruh.
b. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga
memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak
dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan
induktif menemukan kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.
c. Dengan observasi. Peneliti dapat melihat hal-hal yang l<urang atau tidak
diamati orang lain, khususnya orang yang berada dalarn lingkungan itu,
karena telah dianggap "biasa" .
d. Dengan observasi, peneliti dapat menemukan hal-hal yang di luar
persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh garnbaran yang lebih
konferhensif.
e. Melalui pengamatan di lapangan, peneliti memperoleh l<esan-kesan
pribadi dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti.
b. Wawancara
Wawancara adalah percal<apan dengan mal<sud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara seperti yang
ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (1985), antara lain ュ・ョセQォッョウエイオォウゥ@
mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan,
kepedulian.
Wawancara merupakan salah satu bentuk komunikasi verbal semacam
percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Wawancara merupakan
metode pengumpuan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan
sistematik dan berdasarkan pada masalah, tujuan dan hipotesis penelitian.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi
berstruktur dengan sifat wawancara terbuka. Artinya pewawancara dan yang
diwawancarai sama-sama mengetahui tujuan wawancara, sering juga disebut
in-depth interview (Poerwandari 2005). Pada penelitian ini wawancara akan
dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara (pedoman wawancara
terlampir)
Langkah-Langkah Wawancara
Lincoln and Cuba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah
dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian
a) menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
b) menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan
pembicaraan
c) mengawali atau membuka alur wawancara
d) melangsungkan alur wawancara
e) mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
f) menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
g) mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh
3.3.2. lnstrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang peneliti gunakan adalah berupa
pedoman wawancara, pedoman observasi, tape recorder. Pedoman
wawancara dan alat perekam (tape recorder) diperlukan untuk menunjang
jalannya wawancara agar sesuai dengan tujuan penelitian dan landasan
teoritis sehingga jawaban wawancara akan lebih terarah dengan apa yang
ingin diteliti.
3.4.
Teknik Analisa Data
Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data
yang diperoleh dari hasil wawncara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,
sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan
Adapun prosedur dalam analisa data adalah sebagai berikut:
a. Membuat transkip wawancara secara verbatim dan membaca
berulang-ulang untuk menemukan makna dari jawaban responden.
b. Melakukan penelitian data yang relevan dengan pokok permasalahan.
c. Mengelompokkan data-data dengan memberikan kode-kode.
d. Melakukan interpretasi dengan analisa pencocokan pola lalu hasil analisa
dibandingkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
BAB4
ANALISA DATA
Dalam bab ini akan menganalisis hasil wawancara dari ketiga subjek
penelitian, yang didapat dari lapangan penelitian. Adapun hasil penelitian
dapat dijabarkan dalam bentuk gambaran umum subjek, riwayat kasus,
analisa kasus, dan analisa perbandingan antar kasus.
Subjek yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 3 orang ibu yang telah
dipilih berdasarkan dengan kriteria yang ditetapkan sebelurnnya. Nama-nama
subjek dalam penelitiaan ini sengaja disamarkan untuk menjaga kerahasiaan
subjek penelitian dan sesuai dengan etika peneitian.
4.1. Analisis Subjek 1
4.1.1. Biodata Subjek
--·
Subjek 1 Suami
·-·---lnisial A H
Usia
45
49
Pendidikan SMA STM
'
-Pekerjaan IRT Karyawan Swasta
4.1.2. Biodata Anak
lnisial
Jenis Kelamin
Usia
- Anak.
Riwayat Kesehatan
:D
: Laki-laki
: 15
tahun: 2 dari 3 bersauadara
* Panas selama 2 hari
Pendidikan
* SLB C sejak usia
3
tahun hingga sekarang* TK usia
3
tahun (hanya sebentar)Kursus
* Berenang seminggu sekali di gor R
* Membaca dan menulis di SLB setiap hari set13lah jam sekola
usai
Diagnosis
4.1.3. Gambaran Umum
Subjek
1
: Tuna Grahita sedang ( 42 )
A adalah ibu dari tiga orang anak dengan postur tubuh gernuk dan tinggi
serta berkulit gelap. Profesi yang dijalani A adalah ibu rumah tangga namun
A mempunyai pekerjaan sampingan yaitu membuka kantin di SDLB tempat D
dan alat tulis. Aktivitas sampingan itu tidak mengganggu kegiatan ibu A
sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak tuna grahita. A masih bisa
menemani anaknya itu kesekolah dan ke tempat kursus berenang setiap satu
minggu sekali.
A sangat memperhatikan segala kebutuhan D dari mulai pakaian, makan
serta kebutuhan sekolah D dan berusaha untuk memenuhinya. A mengasuh
sendiri D sejak dari kecil.
A menikah pada usia 25 tahun, mengandung dan melahirkan pada usia 26
tahun. A mengandung dan melahirkan D pada usia 32 tahun. Saat itu A tidak
merencanakan kehamilan
Pada saat mengandung D, A mengalami kekhasan dalam pola makan yaitu,
A selalu mengkonsumsi mie ayam dengan saos hingga ke11tal, A menyadari
bahwa itu kurang baik untuk janin, namun A merasa tidak tahu harus
bagaimana lagi, karena A tidak dapat mengkonsumsi makanan apapun,
setiap makanan yang dikonsumsi akan kembali keluar (muntah) kecuali mie
ayam dengan saos kental dan air putih, ini berlangsung selama lima bulan
Saat proses kelahiran A mengalami rasa sakit yang berbeda dengan saat
melahirkan sebelumya. A merasakan sakit luar biasa di bagian bawah perut.
Subjek memperlihatkan antusiasme yang tinggi dalam menjawab pertanyaan,
ia sangat antusias dan ekspresif, jawaban yang diberikan lugas dan spontan.
Tidak ada hambatan yang berarti maupun catatan khusus selama wawancara
berlangsung.
Anak yang menyandang Tuna Grahita
O adalah laki-laki berumur 15 tahun, berbadan gemuk dengan warna kulit
agak gelap. la memiliki wajah khas, terlihat dari bentuk wajah yang bulat,
rnata yang sipit, mulut cenderung terbuka, letak gigi yang terletak tidak
beraturan, leher yang pendek, dan jari tangannya yang gemuk-gemuk dan
pendek serta garis tangan yang lurus dan berjumlah dua buah.
Dari perkembangannya diketahui bahwa D bisa berjalan pada usia 2 tahun 8
bulan tanpa melalui tahapan tengkurap, duduk dan meranokak dan dapat
mengucapkan satu kata pada usia 3 tahun 6 bulan. Dalam kemandirian, pada
usia sekarang ia sudah mampu melakukan beberapa hal seorang diri seperti
makan dan minum. Namun D masih membutuhkan bantuan saat mandi,
buang air besar dan buang air kecil. D jarang sakit, kalaupun sakit hanya
Di rumah D memiliki kebiasaan main setrika-setrikaan, biasanya untuk
membuat D tenang, A memberikan setumpuk pakaian yan£J sudah dijemur
lalu diberikan kepada D agar membuat D anteng, jika sudah melihat banyak
tumpukan pakaian maka D akan senang dan duduk dengan tenang sambil
bermain.
Selain itu D juga senang meminum minuman yang dingin dan diberi es batu,
apabila es batu di dalam tekonya mencair maka D akan membuka lemari es
dan mengganti es batu yang sudah cair dengan yang masih beku, D juga
sangat senang mengkonsumsi makanan-makanan berminyak seperti
gorengan.
D bersekolah di SLB sejak usia 3 tahun. Sekarang D masih duduk di kelas 6
SD dengan usia 15 tahun karena D mengalami kesulitan dalam bidang
akademik seperti membaca dan menulis. Selain sekolah D juga diberi
pelajaran tambahan setelah jam sekolah berakhir clan ikut les renang
seminggu sekali. D tidak memiliki perilaku bermasalah yan9 berarti, malah ia
sangat menurut kepada ibunya, kecuali dengan ayahnya, karena menurut
pengakuan ibu A, sejak D pernah ditampar oleh ayahnya dikarenakan D tidak
mau dicukur, D menjadi kurang mau mendengar perintah ayahnya. Dalam
berhubungan dengan orang baru D masih agak sulit untuk beradaptasi dan
seringkali D tidak mau diajak menumpang mobil teman ibu A yang kebetulan
searah dengan rumahnya.
Tahap Penerimaan
Menurut Gargiulo (1985) proses penerimaan diri berkaitan dengan reaksi dan
respon terdiri dari tiga tahap.
1. Primary Phase
A merasa terpukul ketika ia memperoleh keterangan bahwa anaknya
mengalami kelainan pada tahap pertama ini disebut dengan tahap shock dimana ibu merasa terguncang dengan kondisi yang terjadi pada anaknya.
Pada saat itu A tidak bisa menerima keterangan dokter yang menurut A tidak
memberikan spirit kepada pasien, karena ibu A merasa justru disaat seperti
inilah seorang dokter sangat berperan untuk memberikan clukungan serta
memberikan informasi sebanyak-banyaknya bukan sebaliknya dan
penyampaian dokter yang kurang menyenangkan inilah yang dialami oleh ibu
A.
. ... Waktu pertama kali saya bawa ke dr. Kumiasih katanya "!bu, ini anaknya ada kelainan"aduh, rasanya ancur banget, kayaknya udah ga punya masa depan ....
. . .. akhirnya saya bawa ke dokter lain, .karena ga ada spirit dari dokter, dari pertama kan dokternya ''ibu, anaknya down syndrome, ntar
sekolahnya di SLB, nama dokternya dr.K", saya tuh putus asa ....
r··--1
Yang ibu A rasakan pada tahap denial adalah ibu A merasa berat dengan
kondisi D saat itu, ibu A menolak keadaan yang terjadi pacla anaknya, karena
yang terbayang kata-kata dokter yang mengatakan bahwa D down syndrome
dan akan sekolah di SLB tanpa memberikan tambahan informasi apapun
mengenai anak down syndrome, sehingga yang ada hanya pikiran buruk
dalam diri ibu A saat itu. lbu A juga merasa bahwa D sudah tidal< mempunyai
harapan dan masa depan layaknya anak-anak lainnya .
.... Ampe saya setiap abis sembahyang saya doain biar cepet mati, ya Allah ya Tuhan ... saya pengen cekek, udah pengen saya matiin ... Setelah itu A juga mencari penegasan dari para ahli meng13nai apa yang
terjadi dengan anaknya .
. . .pertama kali saya bawa D ke dr.Kurniasih, di situ saya disuruh berobat ke rumah sakit besar, saya bawa ke rumah sakit Cipto periksa ke dr.Ketut, trus akhirnya setelah dari dr. Ketur saya bawa /agi ke Dokter Lili Sudarta."
Tahap grief yang dilalui oleh ibu A merupakan suatu reaks1 alami dimana
sebagai seorang ibu yang anaknya didiagnosis retardasi mental tentunya ibu
A merasakan kesedihan dengan kondisi anaknya yang tidak sesuai dengan
harapannya yaitu dapat berkembang secara optimal seperti anak-anak pada
umumnya .
... waktu dikasih tau pertama kali anak saya ada kelainan, uh ... sedih banget, itu kan yang ngasih tau Dr.Kurniasih ....
2. Secondary phase
Pada tahap ini A mengalami perasaan yang saling bertentangan antara
mencrima kondisi dengan dapat mengurus dan menjalani kehidupan dengan
keadaan D, pada tahap ambivalence ini ibu A merasa menolak karena tidak
sanggup dengan reaksi yang diberikan orang lain ketika A berjalan dengan D
ke tempat-tempat umum .
. . . Kala sekarang mah, ya udah /ah saya jalanin aja, tapi saya bener ga sanggup ka/o dijalan ada orang yang nyo/ek-nyo/ek ngasih tau
temennya ... udah cape gitu ngurusin 0, ih ... ujiannya berat banget ... lbu A masih terus berusaha agar kondisi anal< dapat membaik karena
perkembangan yang dialami oleh D adalah lambat sehing9a pada tahap guilt
karena ada rasa bersalah dalam diri ibu A akhirnya ibu A membawa D untuk
berobat ke dokter maupun para alternatif .
... emang salah saya kali ya .. .D kaya gini I setelah saya bawa ke mas agung yang di jembatan /ima, saya mau tau aja, katanya kan dia orang pinter, "emang nih anak udah dari sananya tapi umur 2 tahun /ebih bis a ja/an, ternyata bener, umur 2 tahun 3 bu/an D bisa jalan ... Tahap anger juga dialami oleh ibu A saat menghadapai reaksi ingkungan,
ketika mendapatkan reaksi yang negatif ibu A langsung melampiaskan
kemarahan kepada orang yang memperlakukan D secara tidak baik hal itu
juga dikarenakan kepribadian ibu A yang terbuka terhadap apa yang
dirasakannya dan penyakit ibu A yaitu darah tinggi, karena menurut ibu A
... Sa ya merasa berat kalo lagi diejek orang, di sekolah, di jalanan jadi berantem melu/u, saya orangnya panasan, kalo ga saya ungkapin saya ga bisa, saya kan punya darah tinggi, jadi kalo ga saya ungkapin saya bisa sakit kepala. Pernah saya pengen marah tapi masih anak kecil ga ngerti, anak-anak SD udah penuh mobil, eh D naek pada turun, saya kasian sama supirnya ya, akhirnya saya yang ngalah, saya sama D yang tu run ....
lbu A juga sering merasa marah dan tidak sabar sehingga meluapkan
kemarahannya pada orang yang menghina D karena ibu A merasa bukan hal
yang mudah menjalani kehidupan seperti ini dan hal ini bukan merupakan
keinginannya melainkan sudah pemberian dari Tuhan .
. . . saya ga sabar kalo harus ngadepin kaya gini, sekalipun sabar manusia ada batasnya ....
Selain itu, pada tahap shame and embrassement ibu A merasa malu dan
minder menghadapi lingkungan sosial karena :<ekhasan anak yang menonjol.
.. .Oulu saya sempet minder waktu D umur 4 tahun, malunya gimana ya punya anak gini, malu aja. Kala saya bawa ke undangan malu sama tetangga, waktu piknik dari kantor ayahnya tuh saya agak malu ...
Tidaklah mudah menerima keadaan anak, proses diatas dipengaruhi oleh
dukungan sosial, karena dukungan sosial merupakan kenyamanan,
perhatian, penghargaan atau bantuan yang diterima oleh individu dari orang
lain (Sarafino, 1994 ), dari hasil penelitian ibu A mendapatkan dukungan
sosial yang positif dan juga membangun motivasi hidupnya, diantaranya
adalah dari kakak yang juga membantu proses kelahirannya, menurut ibu A
bantuan dan juga dukungan yang ibu A perlukan, hal ini sama seperti yang
diungkapkan oleh sarason 1997 , yang berpendapat bahwa dukungan sosial
merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan
saat individu membutuhkan bantuan .
. . . saya bilang ke kakak saya, "dokter mana yang bilang gitu?saya bi/ang "dokter Ketut'', akflimya dimaki- maki sama kakak saya ...
.. . kakak saya sih udah tau dari /ahir, Cuma ga sanggup ngasih tau ke saya, kakak saya udah punya firasat tapi biar saya tau dari dokter du/u ...
Dukungan lain juga ibu A dapatkan dari seorang dokter, dengan berkonsultasi
dengan dokter , ibu A memperoleh nasihat yang membesarkan hatinya
menjadi merasa lebih baik, .
.. . akhirnya saya minta konsu/ sama dia, sejam 200.000, ke
Rawamangun kerumahnya saya konsu/, akhrnya saya masih agak mendingan ...
Sela in dukungan sosial yang positif, ibu A juga sering tidak mendapatkan
dukungan dari lingkungan sekitar, saat-saat seperti inilah yang juga dirasa
berat oleh ibu A karena menjadi bahan pembicaraan orang dalam hal yang
negatif .
. . . saya merasa be rat kalo /agi diejek orang, di sekolah, dija/anan, orang pake kerudungan, sekolah di MAN ada D nunjuk-nunjukin ke temennya, kan saya kese/ ...
Dukungan sosial juga tidak ibu A dapatkan dari keluarga suaminya terutama
mertua yang sampai sekarang tidak percaya karena menurut mertuanya ayah
D sarna dengan kondisi yang dialami oleh ayahnya dulu, s1:ihingga tidak perlu
ada yang dikhawatirkan .
. . . kalo dari mbahnya (pihak ayah) sampe sekarang ga percaya, du/u juga ayahnya umur 8 tahun baru bisa ngomong, ga usah kaget, jaman
kan udah maju ...
Anak pertama ibu A juga memperlihatkan sika