• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSAL DESIGN FOR LEARNING SEBAGAI SA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "UNIVERSAL DESIGN FOR LEARNING SEBAGAI SA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSAL DESIGN FOR LEARNING SEBAGAI SARANA UNTUK MEMFASILITASI PERBEDAAN GAYA BELAJAR

PESERTA DIDIK DALAM BELAJAR

Beny Hari Firmansyah, Anselmus J.E. Toenlioe, Saida Ulfa Universitas Negeri Malang

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Kunci utama suatu bangsa agar mampu tetap survive mengahadapi persaingan di kancah internasional yaitu adalah pendidikan. Semakin berkembangnya jaman yang diwarnai oleh globalisasi maka pendidikan juga harus mampu mengimbanginya dan mengembangkan mutu serta kualitasnya agar dapat bertahan dari terpaan globalisasi. Lulusan pendidikan di Indonesia masih memiliki daya saing yang rendah sehingga tidak mampu memanfaatkan SDA yang melimpah di Indonesia. Perlu mengadakan pembaharuan dalam proses belajar mengajar agar berhasil mencetak SDM yang berkualitas. Banyaknya kegagalan peserta didik di Indonesia dalam menerima dan mengolah informasi karena ketidaksesuaian gaya mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik. Salah satu cara untuk mengatasi gaya belajar peserta didik yang beragam yaitu menggunakan Universal Design for Learning. UDL adalah perencanaan pembelajaran dan kerangka penyamapaian yang dimaksudkan untuk meningkatkan akses bermakna dan mengurangi hambatan belajar bagi siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam. UDL mengambil keuntungan dari teknologi inovatif untuk mengakomodasi perbedaan peserta didik.

Universal Design for Learning merupakan cara yang tepat untuk mengatasi kegagalan peserta didik dalam belajar. UDL mampu mengatasi keragaman semua peserta didik dan menciptakan kurikulum yang leksibel untuk mendukung akses, partisipasi, dan kemajuan bagi semua peserta didik. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk memilih metode yang paling tepat untuk mengakses informasi sementara guru memantau proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang diberikan oleh pendidik akan disesuaikan dengan peserta didik agar proses belajar mengajar menjadi lebih mudah. Peserta didik akan belajar dengan lebih bersemangat dan senang dengan penerapan proses pembelajaran Universal Design for Learning.

Kata Kunci: Universal Design for Learning, Gaya Belajar.

PENDAHULUAN

(2)

pendidikan agar dapat bertahan dari terpaan globalisasi.

Pengalaman-pengalaman negara maju seperti Jerman, Inggris, Prancis, Amerika Serikat serta negara-negara industri baru seperti Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan bahwa pertumbuhan mereka sebagian besar didukung oleh SDM yang berkualitas tinggi. Ali Idrus (2009) menjelaskan bahwa lulusan pendidikan Indonesia masih memiliki daya saing yang rendah, memiliki kualitas SDM yang rendah sehingga tidak mampu memanfaatkan SDA Indonesia yang melimpah. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi globalisasi diantaranya adalah mengadakan pembaharuan (inovation) dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) agar berhasil mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Munif Chatib (2012) menyatakan bahwa banyaknya kegagalan siswa dalam menerima informasi karena ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (2003) yang mengungkapkan bahwa “setiap metode mengajar bergantung pada cara atau gaya siswa belajar, pribadinya serta kesanggupannya”. Dengan demikian, guru dalam mengajar hendaknya memperhatikan gaya belajar atau “learning style” siswa yang beragam.

Ada tiga jenis gaya belajar (DePorter, 2000), yaitu: (1) gaya belajar visual; (2) gaya belajar auditorial; dan (3) gaya belajar kinestetik. Siswa dengan gaya belajar visual belajar melalui apa yang mereka lihat, siswa auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar dan siswa kinestetik belajar melalui gerak dan sentuhan. Dengan mengetahui gaya belajar siswa, guru dapat membantu siswa belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki siswa sehingga prestasi belajar siswa dapat tumbuh dengan baik melalui pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajarnya.

Salah satu kerangka kerja untuk menangani keragaman semua siswa dan menciptakan kurikulum yang leksibel yang mendukung akses, partisipasi, dan kemajuan bagi semua peserta didik adalah Universal Design for Learning (UDL: Meyer & Rose. 2000; Rose & Meyer. 2002). UDL adalah perencanaan pembelajaran dan kerangka penyampaian yang dimaksudkan untuk meningkatkan akses bermakna dan mengurangi hambatan belajar bagi siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam (Maya, Cecelia & Sean; 2014). Sebagai kerangka kerja untuk menciptakan kurikulum yang leksibel, yang dalam pengaturan berbasis standar termasuk tujuan instruksional, metode, penilaian, dan bahan. UDL mengambil keuntungan dari teknologi inovatif untuk mengakomodasi perbedaan peserta didik.

Berdasarkan uraian diatas, penelitian memandang perlunya sebuah inovasi pembelajaran yang mampu mengatasi kegagalan peserta didik dalam belajar yaitu dengan menggunakan Universal Design for Learning.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana cara untuk mengatasi kegagalan peserta didik dalam belajar? (2) Mengapa Universal Design for Learning merupakan salah satu cara untuk mengatasi kegagalan peserta didik dalam belajar?

(3)

mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik.

Untuk memudahkan penelitian mengamati sasaran maka diberikan batasan penelitian sebagai berikut: (1) Penelitian ini hanya merupakan sebuah kajian teori tentang Universal Design for Learning untuk mengatasi kegagalan peserta didik dalam belajar. (2) Dalam penelitian ini hanya membahas tentang Universal Design for Learning dan Gaya Belajar.

LANDASAN TEORI

Universal Design for Learning

Pada dasarnya, UDL adalah sebuah konsep pendidikan atau pendekatan untuk merancang metode pembelajaran, bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan prosedur evaluasi dalam upaya untuk membantu individu dengan “perbedaan besar dalam kemampuan mereka untuk melihat, mendengar, berbicara, bergerak, membaca, menulis, memahami bahasa, hadir, mengatur, terlibat, dan mengingat” (Orkwis, 2003). UDL memberikan akses yang sama terhadap pembelajaran, tidak hanya akses yang sama terhadap informasi. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk memilih metode yang paling tepat untuk mengakses informasi sementara guru memantau proses pembelajaran (Ohio State University Partnership Grant, 2010).

Salah satu kerangka kerja untuk menangani keragaman semua siswa dan menciptakan kurikulum yang leksibel yang mendukung akses, partisipasi, dan kemajuan bagi semua peserta didik adalah Universal Design for Learning (UDL: Meyer & Rose. 2000; Rose & Meyer. 2002). Sebagai kerangka kerja untuk menciptakan kurikulum yang leksibel, yang dalam pengaturan berbasis standar termasuk tujuan instruksional, metode, penilaian, dan bahan. UDL mengambil keuntungan dari teknologi inovatif untuk mengakomodasi perbedaan peserta didik. Kerangka kerja ini penting karena mencerminkan cara di mana siswa mengambil dan memproses informasi. Menggunakan kerangka kerja ini, pendidik dapat meningkatkan hasil untuk beragam peserta didik dengan menerapkan prinsip-prinsip dibawah ini untuk pengembangan tujuan, metode pembelajaran, bahan kelas, dan penilaian. Penggunaan prinsip-prinsip ini mengarah ke hasil yang lebih baik bagi siswa karena mereka memberikan semua individu dengan kesempatan yang adil untuk belajar dengan meningkatkan akses konten.

UDL adalah perencanaan pembelajaran dan kerangka penyampaian yang dimaksudkan untuk meningkatkan akses bermakna dan mengurangi hambatan belajar bagi siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam (Maya, Cecelia & Sean; 2014). UDL sebagai desain pembelajaran material dan aktivitas untuk mengikuti tujuan pembelajaran sebagai capaian individu dengan taraf mengikuti tujuan pembelajaran sebagai capaian individu dengan taraf perbedaan di dalam kemampuannya untuk melihat, mendengar, berbicara, berbuat, membaca, menulis, memahami bahasa, kehadiran, mengorganisasikan, keterlibatannya dan keanggotaan di dalam kelompoknya.

(4)

Center of Applied Special Technology (CAST), yang didanai oleh Kantor Program Pendidikan Khusus (OSEP), di Departemen Pendidikan Amerika Serikat, telah menyusun tiga set metode pengajaran yang luas yang mendukung masing-masing dari tiga prinsip UDL. Metode mengajar ini menarik pengetahuan tentang kualitas media digital dan bagaimana pengakuan, strategis, dan jaringan afektif beroperasi. Metode pengajaran UDL (Rose & Meyer, 2002) tercantum dibawah ini.

Untuk mendukung beragam pengakuan jaringan: a.

Menyediakan beberapa contoh;

Sorot itur penting;

Menyediakan beberapa media dan format; dan

Dukungan konteks latar belakang.

Untuk mendukung beragam strategis jaringan: b.

Memberikan model yang leksibel kinerja terampil;

Memberikan kesempatan untuk berlatih dengan dukungan;

Menyediakan berkelanjutan, umpan balik yang relevan; dan

Menawarkan kesempatan yang leksibel untuk menunjukkan

keterampilan.

Untuk mendukung beragam afektif jaringan: c.

Menawarkan pilihan konteks dan alat;

Menawarkan tingkat disesuaikan tantangan;

Menawarkan pilihan belajar konten; dan

Menawarkan pilihan hadiah.

Dengan UDL, pendidik masih bisa memaksimalkan konsistensi tujuan pendidikan, dengan mengembangkan kurikulum yang leksibel yang mendukung semua peserta didik (Hitchcock, 2002). UDL juga menyediakan untuk memberikan instruksi menggunakan berbagai metode pengajaran. Teknologi memberikan salah satu sarana untuk mengubah instruksi dan melibatkan siswa dalam format pembelajaran digital (Abdell & Lewis, 2005); namun, ada berbagai cara tambahan yang UDL dapat dimasukkan ke dalam pendidikan, seperti berikut:

Aksesibilitas bangunan ke dalam desain membantu untuk memastikan bahwa itur

memenuhi kebutuhan jangkauan terluas siswa dimasukan integral dalam kurikulum. Desain seperti ini dapat mencegah kebutuhan untuk adaptasi atau penyesuasian. Misalnya, bahan kurikuler elektronik yang dirancang agar kompatibel dengan perangkat teknologi bantu memungkinkan para professional, orang tua, atau guru untuk lebih mudah memprogram perangkat ini dengan konten yang sesuai.

Menyediakan bahan beradaptasi dan media memungkinkan siswa untuk

(5)

Menggunakan beberapa media, seperti video dan audio format, menyediakan

berbagai cara untuk mewakili konsep dan memungkinkan siswa untuk mengakses materi melalui indera yang berbeda. Misalnya, simulasi berbasis komputer yang mencakup deskripsi video dapat membantu siswa dengan dan tanpa cacat untuk memvisualisasikan konsep-konsep sulit. Sebuah contoh berteknologi rendah lebih mungkin menggunakan buku dengan cetak besar atau menyediakan buku-buku tentang tape untuk siswa.

Menyediakan bahan menantang, menonjol, dan sesuai dengan usia untuk semua

siswa memotivasi siswa yang mungkin tidak sebaliknya dapat mengakses konten kurikuler yang mereka butuhkan karena usia dan tingkat perkembangan. Misalnya, seorang siswa dengan ketidakmampuan belajar dapat menggunakan dukungan decoding dan itur text-to-speech dimasukkan ke dalam sejarah atau ilmu pengetahuan buku didigitalkan, meningkatkan kemampuannya untuk mengakses konten tingkat kelas.

Menyajikan informasi dalam berbagai, bentuk paralel membantu untuk

mengakomodasi gaya belajar yang beragam. Misalnya, informasi dapat disampaikan secara lisan dalam kuliah, visual melalui gambar atau bacaan, kinestetik melalui model demonstrasi, dan menggunakan program berbasis teknologi yang lebih memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan konsep.

Gaya Belajar

Tidak ada satu metode mengajar pun yang cocok untuk semua pebelajar, karena metode mengajar yang ditentukan haruslah melalui proses pertimbangan atas cara belajar atau gaya belajar para pembelajarnya. Masing-masing siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) “Gaya adalah kesanggupan, sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu atau berubahnya tingkah laku yang disebabkan oleh pengalaman. Jadi gaya belajar adalah kesanggupan seseorang untuk memperoleh kepandaian atau ilmu sehingga dapat merubah tingkah laku seseorang menjadi lebih baik.”

Gaya belajar merupakan cara bagaimana seseorang menerima dan memproses informasi dalam pembelajaran (Brown, 2000). Juga dipahami sebagai pendekatan umum yang digunakan pebelajar dalam belajarnya. Dengan kata lain gaya belajar, merupakan suatu cara yang nyaman dilakukan pebelajar dalam proses belajarnya.

Nasution (2003) menyatakan bahwa gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal atau permasalahan.

(6)

hanya cenderung pada satu gaya belajar, mereka juga memanfaatkan kombinasi gaya belajar tertentu yang memberikan mereka bakat dan kekurangan alami tertentu, menurut Markova (dalam DePorter, 2000).

Menurut DePorter (2000) menyebutkan masing-masing dari gaya belajar sebagai berikut:

Visual 1.

Gaya belajar ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat. Warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam gaya belajar ini. siswa yang sangat visual mungkin bercirikan sebagai berikut:

Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan -

Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan -

Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh, menangkap detail dan -

mengingat apa yang dilihat. -

Auditorial 2.

Gaya belajar ini mengakses segala jenis bunyi dan kata yang diciptakan maupun diingat. Music, nada, irama, rima, dialog internal dan suara menonjol dalam gaya belajar ini. Siswa yang sangat auditorial dapat dicirikan sebagai berikut:

Perhatiannya mudah terpecah -

Berbicara dengan pola berirama -

Belajar dengan cara mendengarkan dan menggerakkan bibir/bersuara saat -

membaca

Merdialog secara internal dan eksternal -

Kinestetik 3.

Gaya belajar ini mengakses segala jenis gerak dan emosi yang diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional dan kenyamanan isik menonjol dalam gaya belajar ini. Siswa yang sangat kinestetik ini dapat dicirikan sebagai berikut:

Menyentuh orang, berdiri berdekatan dan banyak bergerak -

Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membeca, menanggapi -

secara isik

Mengingat sambil berjalan dan melihat. -

(7)

SIMPULAN

Penelitian ini bertujuan menemukan cara yang tepat untuk mengatasi kegagalan siswa. Banyaknya kegagalan siswa dalam menerima informasi karena ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Tidak ada satu metode mengajar pun yang cocok untuk semua pebelajar, karena metode mengajar yang ditentukan haruslah melalui proses pertimbangan atas cara belajar atau gaya belajar para pembelajarnya. Masing-masing siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengelolah informasi. Gaya belajar siswa dapat dikenal diantaranya gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik. Setiap siswa tidak hanya cenderung pada satu gaya belajar, mereka juga memanfaatkan kombinasi gaya belajar tertentu. Pembenahan di dalam bidang pendidikan sangat diperlukan serta bagaimana menciptakan sebuah proses pembelajaran yang mampu menyesuaikan dan memfasilitasi para peserta didik dalam belajar. Proses pembelajaran yang mampu untuk membantu individu dengan “perbedaan besar dalam kemampuan mereka untuk melihat, mendengar, berbicara, bergerak, membaca, menulis, memahami bahasa, hadir, mengatur, terlibat, dan mengingat”.

Universal Design for Learning merupakan salah satu kerangka kerja untuk menangani keragaman semua siswa dan menciptakan kurikulum yang leksibel yang mendukung akses, partisipasi, dan kemajuan bagi semua peserta didik. UDL memberikan akses yang sama terhadap pembelajaran, tidak hanya akses yang sama terhadap informasi. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk memilih metode yang paling tepat untuk mengakses informasi sementara guru memantau proses pembelajaran. Pendidik dapat meningkatkan hasil untuk beragam peserta didik dengan menerapkan prinsip-prinsip dibawah ini untuk pengembangan tujuan, metode pembelajaran, bahan kelas, dan penilaian. Penggunaan prinsip-prinsip ini mengarah ke hasil yang lebih baik bagi siswa karena mereka memberikan semua individu dengan kesempatan yang adil untuk belajar dengan meningkatkan akses konten. Dapat disimpulkan bahwa Universal Design for Learning sangat mampu untuk mengurangi kegagalan para peserta didik dalam belajar dikarenakan proses pembelajaran yang diberikan pendidik akan disesuaikan dengan peserta didik agar proses belajar mengajar menjadi lebih mudah. Dengan Universal Design for Learning akan membuat para peserta didik lebih bersemangat dan senang dalam belajar.

DAFTAR RUJUKAN

Abdell, M., & Lewis, P. (2005). Universal Design for Learning: A Statewide Improvement Model for Academic Success. Information Technology and Disabilities, XI. Brown, H.D. (2000). Principles of Language Teaching and Learning (4th Edition). White

Plains, Ny: Longman.

Center for Applied Special Technology. (2008). Universal Design for Learning Guidelines Version 1.0. Wakeield, MA: Author.

(8)

Chatib, Munif. (2012). Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa.

DePorter, B., & Hernacki, M. (2003). Quantum Learning. Jakarta: Kaifa.

DePorter, B., & Reardon, M., & Singer-Nourie, S. (1999). Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Terjemahan oleh Ari Nilandri. 2000. Bandung: Kaifa.

Halis, Farida. (2006). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran dan Gaya Belajar Mahasiswa Terhadap Hasil Belajar Ketrampilan Memasang Infus pada Mahasiswa Politeknik Kesehatan Malang. Tesis. Malang: Universitas Negeri Malang.

Hitchcock, Chuk., Meyer, Anne., Rose, David., & Jackson, Richard. (2002). Providing New Access to the General Curriculum: Universal Design for Learning. TEACHING Exceptional Children, 35, 8-17.

Idrus, Ali. (2009). Manajemen Pendidikan Global. Jakarta: Gaung Persada Press.

Israel, Maya., Ribuffo, Cecelia., & Smith, Sean. (2014). Universal Design for Learning: Recommendations for Teacher Preparation and Proffesional Development. The CEEDAR Center. Gainsville: University of Florida.

Meo, Grace. (2008). Curriculum Planning for All Learners: Applying Universal Design for Learning (UDL) to a High School Reading Comprehension Program. Preventing School Failure.

Meyer & Rose. (2000). Universal Design for Individual Differences. Educational Leadership.

Nasution, S. (2003). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

---. (2003). Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Ridha, Muhammad. (2015). Pengintegrasian Teknologi dalam Pembelajaran Ditinjau dari Karakteristik Pebelajar dan Eisiensi Pembelajaran. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan. Malang: Prodi TEP UM.

Rose & Meyer. (2002). Teaching Every Student in The Digital Age: Universal Design for Learning. Alexandria. VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

---. (2006). A Practical Reader in Universal Design for Learning, Cambridge. MA: Harvard Education Press.

Utomo, Jimmy Trianto. (2015). Universal Design for Learning: Pengertian, Prinsip, dan Penerapan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan. Malang: Prodi TEP UM.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk perbaikan dan penelitian selanjutnya, saran yang dapat diberikan adalah Pihak sekolah, juga diharapkan mampu merealisasikan ke dalam kurikulum sekolah, agar e-learning

tactile information. Malls which have applied all aspects of universal design signage and information criteria optimally are Tunjungan Plaza, Supermall, Ciputra World, Grand

Dasar dari desain universal untuk pembelajaran terletak pada keyakinan bahwa guru dan pengembang kurikulum harus mengidentifikasi dan memperbaiki hambatan belajar peserta

The application of the human centered design method makes the UI UX design process for this digital learning application for autistic users run well and produce applications

If the goal of an educator is to assist students with the learning process, it is necessary to attain a better understanding of the stress which students experience, how those issues

This learning management has the following objectives: 1 To develop the Blended Learning instructional plan for Website Development Skill on Communication Design Undergraduates using

CONCLUSION Based on the results of research that has been conducted on UI/UX design in the web- based learning evaluation of artificial intelligence e-learning on intrinsic learning

Design, pada tahap design yang merupakan tahap kedua pada metode ADDIE dilakukan proses Konversi knowledge yang merupakan bagain dari perancangan konten e-Learning kegiatan pemasangan