• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Jumlah Inti Blister Terhadap Ketebalan Lapisan Mutiara dan Perhunbuhan Tiram Mutiara Pteria penguin (Bivalvia : Pteridae)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Jumlah Inti Blister Terhadap Ketebalan Lapisan Mutiara dan Perhunbuhan Tiram Mutiara Pteria penguin (Bivalvia : Pteridae)"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)

PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER

TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN

PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA Pteria penguin

(BNALVIA

:

PTERIDAE)

OLEH:

KASFUL ANWAR

PROGRAM STUD1 ILMU PERAIRAN

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(80)

ABSTRAK

Kasful Anwar. Pengaruh jumlah inti blister terhadap ketebalan lapisan mutiara

dan perturnbuhan tiram mutiara Pteria penguin. Dibimbing oleh RIDWAN

AFFANDI, NORMAN RAZIEF AZWAR dan DAMIANA RITA EKASTUTI. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh

jumlah inti mutiara blister terhadap ketebalan lapisan mutiara dan pertumbuhan

tiram mutiara Pteria penguin, dilakukan di Balai Budidaya Laut Lampung selama

lima bulan (Maret-Juli 2001). Percobaan ini menggunakan rancangan acak

lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang

dicobakan adalah empat jurnlah inti blister yang berbeda yaitu : 6, 8, 10 dan 12

butir. Percobaan ini menggunakan tiram mutiara Pteria penguin dengan panjang

cangkang rata-rata 12 cm, tinggi cangkang 18 cm dan bobot inhvidu 390 g.

Pengamatan tirarn mutiara Pteriapenguin dilakukan setiap 15 hari sekali.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah inti blister tiram

mutiara Pteria penguin berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap ketebalan lapisan

mutiara, tingg nacreus, tingg cangkang dan bobot inhvidu pada akhir

percobaan. Berdasarkan uji lanjut diperoleh ketebalan lapisan mutiara tertinggi

sebesar 0.134 pm pada jumlah inti 10 butir, selanjutnya adalah jumlah inti 8 butir

0.127pm7 6 butir O.123pm dan 12 butir 0.1 15pm. Pada jumlah inti ideal tersebut

dicapai pertumbuhan maksimum tirarn mutiara Pteria penguin adalah tinggi

nacreus, tinggi cangkang dan bobot individu pada a h r percobaan sebesar 16.067

cm, 21.433 cm clan 407.833 g. Analisis isi lambung tirarn mutiara Pteriapenguin

terdapat fitoplankton jenis Chaetoceros 45.95 %, Nitzschia 27.15 %,

Coscinodiscus 8.65 %, Rhizosolenia 6.47 % dan Ethmodiscus 4.05 %.

Pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan pada setiap pengmatan

adalah: kisaran suhu 2tG30°c, kecepatan arus 1tG22 cmdetik-', pH 7-8, DO

(Oksigen terlarut) 6-7 ppm, Nitrat 0.003--0.004 ppm, salinitas 32-34 ppt, total

fosfat 0.016-0.030 ppm dan kecerahan 4.5-6.5 meter. Secara umum fluktuasi

beberapa parameter kualitas air selama percobaan relatif kecil. Kisaran tersebut

(81)

SURAT

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul

PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA

Pteria penguin (BIVALVIA : PTERIDAE)

Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belurn pernah dipublikasikan. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah lnyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Januari 2002

(82)

PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER

TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN

PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA Pteria

penguin

(BIVALVLA

:

PTERIDAE)

OLEH:

KASFUL ANWAR

Tesis

Sebagai d a b satu syarat mtuk memperoleh gelar Magista Sains pada

Program Studi Ilmu Peraim

PROGRAM STUD1 ILMU PERAIRAN

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(83)

Judul Pengaruh J d a h Inti Blister Terhadap Ketebalan Lapisan Mutiara dan Perhunbuhan Tiram Mutiara Pteria

penguin (Bivalvia : Pteridae)

N a m a : Kasful Anwar Nomor induk : 99469 Program Studi : Ilmu Perairan

Menyetujui,

1. Komisi Pembimbing

-

Prof. Dr. H. Norman R. Azwar, M.Sc. Dr. Damiana Rita EkBstuti. MS.

AWgota Anggota

2. Ketua Program Studi Ilrnu Perai gram Pascasarjana

Dr.1r.H. Kusman Sumawidjadja da Manuwoto. M.

-

Sc.
(84)

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1969 dari ayah

Amir dm Ibu Hj.R.Hudayah. Penulis merupkm putra ke empat dari tujuh

bersaudara. Pendidikan Menengah Atas pada Negeri XL Jakarta, lulm tahun 1988.

Pendidlkan sarjana muda ditempuh

di

AUP Jakarta jurusan Aquaculture, lulus

tahun 1991. Pendidikan sarjana di Program Studi Budidaya Perairan Fakultas

Per~karaan Universitas 45 Mataram, IuIus pada tahun 19%. Pada tahun 1999

penulis diterima Q Program Studi Ilmu Perairan, Program Pascasajana, Institut

Pertanian Bogor dengan biaya PT. mineral P e r m Lampung.

Penulis bekerja sebagai teknisi budidaya pada Balai Budidaya Laut

La.mpung tahun 1991 sampai dengan 1992. T a b 1992-1997 penulis bekerja

pada Balai Budidaya Laut Lombok. Pada tahm 1997 penulis dimutasikan kembah

ke Balai Bwkdaya h u t

Lamp-

Sejak pertengalan

tahun

1998 penulis bekerja

sebagai tenaga pengajar pada Akademi Perikanan Bima Sakti Lampung. Pada

(85)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala kanmia-

Nya se?xngga karya ilmiah ini berhasil dsselesaikm. Penelitian yang &laksanakan sejak Maret 2001 sampai dengan Juli 2001 dengan judul Pengaruh j d a h inti

blister terhadap ketebalan lapisan mutiara

dan

perttmbuhan

tiram

mutiitfa Fteria

pengurn.

Terima lcasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. H.

RTDWAN

AFFANDI, DEA. Prof Dr. H. NORMAN

R.

AZWAR, M.Sc. dan Ibu Dr.

DkMLANA

RITA EKASTUTI, MS. s&ku komisi pembimbing. Di samping itu, penghargaan penutis sampkan kepada Bapak Ir. Akhch, MS. dan Bapak

Ranta seiaku t e b i Laboratorium Hama dan Penyalut Ikan, Fakultas Periki3m.n

dm I h u Kelautan, Institut Pertanian Bogor yang telah membantu selama

perppnpulan data, serta Bapak Kepala Balai Budidaya b u t Lampung dan

Bapak

Syarifbdin teknisi budidaya BBL Lampung.

Ungkapan terima kasih juga disarnpaikan kepada kedua orang tua,

kakak

dan adik tersayang yang selalu mendo'akan, Bapak Yulfiperius serta Tbu Zulfa

Yandes beserta kedua putemya. Tidak lupa pula kepada semua prhak yang telah

memberikan arahan, masukan

dan

bantuan baik mod maupun materiil yang tidak

&pat dituliskan namanya satu persatu.

(86)

DAFTAR

IS&

...

DAFTAR TABEL vii

...

DAFTAR GAMBAR viii

...

DAFTAR LAMPIRAN ix

...

PENDAHULUAN 1

...

Latar Belakang 1

...

T u j m clan Manfmt Percobaan 2

...

Pendekatan dan Pemecahan Masalah 2

Hipotesis ... 3

...

TINJAUAN PUSTAKA 5

Biologi dan Ekologi Tiram Mutiara ... 5 ...

Histologi dan Fungsi Mantel 6

Proses Terjadinya M u k a Blister ... 7

...

Pertumbuhan dan Pelapisan Mutiara 8

...

Pakan

dan

Cara Makan 9

...

Sbvktur Cangkang 10

JumlahInti ... 10

BAHAN DAN METODE ... ... Bahan

. .

...

Hewan Uji

... Inti Mutiara Blister

... Peralatan

...

Metode

Waktu dan Tempat Percobaan ...

...

Metode Percobaan

...

Persiapan dan Pemasangan

Inti

Pemel~haraan ... Pengamatan

...

... Ketebalan Lapisan Mutiara

...

Persentase Pelapisan Mutiara

Tmgp Nacreus dm Tinggi Cangkang ...

... Bobot Individu

Laju Konsumsi Oksigen ...

...

Kadar Glukosa Darah

Andtsis Kehpahan Plankton ... ... Analisis Isi Lambung Tiram

... Analisis Perkembangan Mantel

...

Kualitas Perairan

(87)

HASIL DAN PEMBAI-WSAN ... Hail ...

... Ketebalan Lapisan Mutiara

... Persentase Pelapisan Mutiara

Tinge Nacreus dm Tinggi Cangkang ...

... Bobot f ndividu

Laju Konsumsi Oksigen ...

...

Kadar Glukosa Darah

Analisis

Pakan

Tiram Mutiara ... Analisis Perkembangan Mantel ...

...

Pengamatan Parameter Kualitas Air

...

Pembahasan

KESIWULAN DAN SARAN ... 42

...

KeshpuIan 42

(88)

DAFTAR

GAMBAR

Halarnan

1 . Skerna pendekatan dan pemecahan masalah ...

2 . Jenis inti mutiara blister yang Qgunakan pada percobaan ...

3

.

Pengukuran tinggi lapisan prismatik. tinggi cangkang. tinggi nacreus dan letak pelekatan inti dalam individu tiram pada percobaan ...

4 . Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan

... lapisan mutiara pada setiap pengamatan

5 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteriu penguin) dan tebal lapisan mutiara pada akhtr percobaan ...

6 . Hubungan antara jumlah inti mutiara (Pteria penguin) dan persentase

pelapisan mutiara pa& stkhir percobam ...

7 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan tinggi

nacreus pada a h r percobaan ...

8 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dm tinggi

...

cangkang tiram pada akhir percob

aan

9 . Pengaruh jumlah inti mutiara (Pteria penguin) terhadap pertumbuhan

...

bobot inhvidu pada setiap pengamatan

10 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan bobot inQvidu tiram pada akhir percobam ...

11 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) dan laju

konsumsi oksigen pada metabolisme standar pa& &ir percobam ...

12 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan kadar

... glukosa darah p& akhir percobaan

1 3 . Komposisi fitoplankton dalam lambung tiram mutiara (Pteria penguin) ...

dan

& perairan selama percobaan

14 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan tingkat ... konsumsi palcan selama percobaan

15 . Histologi berkas jaringan mantel tanpa p e r l h n (kontrol) ... 16 . Histologi berkas jaringan mantel pada akhir pengmatan ...

(89)

DAFTAR TABEL

1. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan lapisan mmrtiara pada setiap peqgmatan ... 20 2. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriu penguin) terhadap persentase

pekpisan mutiara pada setiap pengamatan ... 2 1

3. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap tinggi

nacreus pa& setiap pengamatan ... 23

4. Penganth jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap tingg

cangkang tiram pada setiap pengamatan.. ... 24

5. Pengaruh jumlah inti mutiara (Pteriapenguin) terhadap pertumbuhan

bob&

individu pada setiap pengamatan ... 26

6. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap laju

...

konsumsi oksigen pada mtdmlisme standar pada setiap pengamatan.. 28

7. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap kadar

glukosa darah pada setiap pe- ... 29 ...

(90)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lokasi, rakit budidaya dan keranjang pemeliharaan tiram mutiara

...

(Pterla penguin). 47

2. Ketebalan pelapisan mutiara ( p m ) tiram (Pteriapenguin) pada setiap pengamtan ... 48

3. Persentase pelapisan mutiara

(YO)

tiram mutiara (Reria penguin) pada ...

setiap pengamtan 49

4. Tinggi lapisan nacreus tiram mutiara (cm) (Pteria penguin) pada setiap pengunzitan ... 50

5. Tinggi cangkang (em) tiram mutiara (Pteriu penguin) pada setiap pengunzitan ... 5 1

6. Bobot individu (gram)tiTam mutiara (Pteria penguin) pada setiap

pengamatan.. ... 52

-1 -1

7. Laju konsumsi oksigen (mgOz g jam) tiram mutiara (Pteria penguin) pada setiap pengamatan ... 53

8. Kadar glukosa darah

(a1

100ml)

tiram

mutiara (Pteriapengum) pa&

...

setiap pengamatan.. 54

(91)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tiram mutiara telah lama dkenal sebagai salah satu produsen mutiara

alam yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Menurut Dwiponggo (1976)

beberapa jenis tiram mutiara yang terdapat di perairan Indonesia, antara lain

Pinctada maxima, Pinctada Margaritifera, Pinctada fucata dan Pter~a penguin.

Percobaan tentang budidaya mutiara di Indonesia sudah dllakukan sejak tahun

1921 di Buton, Sulawesi Tenggara waktu itu disebut "Celebes". Tirarn mutiara

(Pterla pengum) merupakan salah satu jenis bivalvia penghasil mutiara

dari

farmli

Pteridae yang mempunyai prospek yang ba& untuk &embangkan.

Hasil produksi mutiara yang dikenal di pasaran adalah mutiara bulat

(round pearl) dan mutiara setengah bulat (blister pearl). Di pasaran nasional

maupun internasional, mutiara bhster mempunyai pangsa pasar yang cukup

spesifik dan u m m y a dhsilkan oleh jenis Pteria penguin. Menurut Aslkin

(1985), budidaya tiram mutiara blister sangat potensial

untuk

dikenibangkan,

disamping itu juga mempunyai h h r a p a kelebihan, antara lain warna cangkang

bagian dalarnnya (rzacreus) indah seperti warna pelangi.

Di daerah benklim tropis seperti Indonesia pertumbuhan atau proses

pelapisan mutiara dapat terjadi sepanjang tahun. Budidaya mutiara blister

memerlukan waktu pemeliharaan 10-12 bulan sejak pemasangan inti dan

ukuran tiram yang &pat &@an wlltuk produksi mutiara blister adalah

berukuran panjang cangkang antara 1 5- 1 7 cm atau berumur 1 2- 1 4 bulan (Quay le

(92)

Di Indonesia pengembangan budidaya tiram mutiara (Pterra penguin)

sangat dunungkuzkan karena potensi be& yang cukup tersedirt, tersebar tenrtama

diperairan Sulawesi, Nusa Tenggara dan perairan Maluku (Mosse et al. 1994).

Mengingat akan berbagai k e l e b h yang

cfimrliki

clan prospek pasar, maka perlu

adanya upaya peningkatan kualitas mutiara blister. Namun sampai saat

ini

kegiatan buhdaya tuam mutiara hanya mampu menghasilkan mutiara blister

dengan kualitas yang rendah, karena belum adanya informasi mengenai jumlah

inti yang ideal yang dapat memaksunallran pelapisan mutiara

dan

peitumbuhan

tiram mutiara Pterra pengurn.

Berdasarkan ha1 tersebut sangat diperlukan adanya kajian jurnlah inti

mutiara blister yang 0-1 dan pengaruhnya terhadap ketebalan pelapisan

mutiara yang berkatan dengan pertumbuhan tiram mutiara (Pterra pengum),

sehingga nantinya diharapkan dapat menghasilkan mutiara blister yang

berkualitas tinggi.

Tujnan dan Manfaat Percobaan

Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah inti

mutiara blister yang tepat untuk mengbasilkan mutiara yang berkuahtas.

Hail percobaan

ini

diharapkan dapat memberikan informasi tentang

jwnlah inti blister yang tepat untuk dilekatkan pada lapisan nacreus (nacreus layer) individu tiram mutiara (Pterza penguin) sehingga dapat dijaddcan sebagai

(93)

Pendekatan dan Pemecahan Masalah

Salah satu W o r yang menentukan kualitas mutiara blister adalah jumlah

inti yang dipasang. Jwnlah inti yang terlalu banyak dapat mengakhaatkan

terganggunya ahvitas fisiologis dan pertumbuhan tiram, yang pada akhirnya

akan m e n d a n kualitas mutiara yang d h i l k a n , bahkan dapat menimbulkan

kematian

Tekmk penempatan inti blister (nucleus lnsertron technrque) dan jumlah

inti blister merupakan faktor penentu kualitas mutiara yang dihasilkan. Bila tidak

sesuai dengan ruang yang tersedia dapat menyebabkan ketidak seimbangan dalam

proses pelapisan mutiara, sehmgga dapat menghambat perhunbuhan bahkan

menyebabkan kematian. Jlka terdapat suatu benda pada cangkang bag& &lain,

secara fisiologis

tiram

akan selalu membenkan reaksi penolakan, dengan cara

mengeluarkan nacre untuk melapisi benda tersebut.

Sampai saat ini belum diketahui jumlah inti yang maksimum dan ideal

yang dapat dipasang. Apabila jumlah inti yang &pasang melampaui kemampuari

tiram, maka mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidup

tiram.

Untuk

mengatasi ha1 tersebut, maka dalam budidaya tiram mutiara perlu &kaji jumlah inti yang optimum bagi pertumbuhan namun tidak menganggu aktivitas hdup

tiram dalam pemkntukan lapisan Imrtiara

dan

p e r t u m w sehingga diharapkan

dapat menghasilkan mutiara yang mempunyai nilai dranomis tin=.

Hipotesis

Berdasarkan pada tujuan dan pemecahan masalah, maka hpotesis yang

diajukan dalam percobaan ini adalah jumlah inti mutiara blister akan

(94)

. . . , . . , . . . , . . . , . . , . . . . , , . . , . . , . . , . . . , . . ,

[image:94.790.31.683.141.404.2]

LINGKUNGAN

(95)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi dan Ekologi Tiram Mutiara

Tiram mutiara termasuk dalam kelas Brvalvza dan famili Ptendae.

M e n m t Brusca (1990), nama f i l m moluska berasd dari bahasa latin moluscrcs

yang beParti lunak yang merupakan sinonim dari mollusces menjadi molluscs.

Keluarga yang dikenal sebagai penghasil mutiara dengan kualitas tinggi adalah

genus Pznctada dan Ptena.

Tiram mutiara (Ptena pengurn) mempunyai cangkang luar yang tidak

sama bentuknya (~nequlvalve) berwarna colclat kehitam-hitaman dengan garis

radier kecil-kecil, tidak jelas dan berwarna terang yang dihubungkan sepasang

engsel (hinge), sehingga cangkang bisa membuka dan menutup. Cangkang

cembung, ukuran dorso-ventral lebih panjang dari pada anterior-posterior yang

menyerupai sayap yang cukup panjang (Chernohorsky et al. 1978 dalam Gervis

dan Sims 1992).

Menurut Cahn ( 1949), bahwa tiram mutiara terdin dari tiga bagian yaitu;

kaki, mantel dan kumpulan organ bagian ddam (vzceral mass). Kaki merupakan

salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis, terdiri dari susunan jaringan otot,

yang dapat meregang. Tiram mutiara termasuk "monomary", yaitu hewan yang

memiliki otot tunggal, berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang.

Sepertt pada semua jenis moluska, eangkang tiram mutiara terbentuk oleh

mantel dengan mengeluarkan sel-sel yang dapat mernbentuk struktur cangkang

(penostracum layer, pnsmattc layer dan nacreus layer) serta corak warnanya

bergantung kepada faktor genetik. Mantel membungkus organ bagian dalam dan

(96)

terisap dan menyemburkan kotoran keluar.

Tiram mutiara (Pterra penguzn) hidup pada kedahnan 5-30 meter, dengan

salinitas kurang lebih 30 ppt, suhu 28-30°C, kecmahan 4,5-6,5 my dan ditemukan

menempel pada ranting-ranting hitam (Tun dan Winanto 1988). Menurut Angell

(1986) pertumbuhan yang baik untuk tiram dengan salinitas 16-30 ppt dan suhu

air 28-3 I0C. Kedalaman optimal untuk pertumbuhan adalah berkisar antara 8-10

meter, hal ini berkaitan dengan ketersediaan pakan untuk pertumbuhan tiram dan

pengontrolan faktor fisika dan biologi (Smitasiri et al. 1994). Buhdaya tiram

(Pteria penguin) di perairan Sulawesi dilakukan pada kedalaman &8 meter

(Parenrengi et al. 1998) dan bebas dari pencemaran (Gramno 1999). Sedangkan

untuk pertumbuhan Plnctada margantlfera yang baik adalah pada kedalaman

pemeliharaan 6 m (Atmomarsono et al. 1993).

Histologi dan Fungsi Mantel

Secara histologi, mantel terdiri atas selaput jaringan penghubung yang

dilindungi sel-sel epitel, bagian yang berhubungan dengan cangkang sebelah

dalam hsebut epitel luar, mengeluarkan zat kapur untuk membentuk cangkang

(Mulyanto 1987). Sel epitel lw ini juga menghasilkan kristal kalsium karbonat

(CaC03) dalam bentuk kristal aragonit, lebih dikenal sebagai "nacre" atau mother

of pearl dan laistal heksagonal kalsite yang merupakan pembentuk lapisan seperh

prisma pada can-. Sel-sel ini juga mengeluarkan zat or- dan protein yang

disebut conchiolin (C32&8N2011), dengan bahan kristal yang mengandung kapur

sebagai perekat dan seperti lendir (Cahn 1949). Kandungan asam amino yang

terdapat pada sel adalah berfUngsi membentuk sel jaringan dan sebagai bahan

(97)

Menurut Miller (1959) dalam Dwiponggo (1976), jika potongan mantel

yang diambil dari tiram dirnasukkan ke dalam organ bagian dalam, maka sel epitel

tersebut dapat memproduksi xl-sel baru dan t e n s berkembang disamping

menghasllkan bahan kapur (calcareous). Fungsi dari sel epitelium ialah

memproduksi sel-sel baru selama proses pembentukan lapisan mutiara (Wada

1991). Pada kondisi yang sesuai mantel dapat dicangkokkan ke dalam organ lain

(Mulyanto 1987).

Proses Terjadinya Mutiara Blister

Mutiara blister secara alami terjadi ketika suatu benda asing masuk ke

dalam tiram tetapi tidak mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam mantel.

Benda asing tersebut menetap diantara cangkang dan mantel akan tertutup oleh

nacre, karena tirarn membuat mgkangnya sepanjang waktu. Mutiara alami

tersebut terbentuk di atas cangkang, sehingga terbentuklah lapisan mutiara blister

pada cangkang (Mudasir 1 9 8 1).

Pada peristiwa yang lain mutiara tefbentuk karena adanya rangsangan dari

suatu benda aiau parasit yang masuk di luar kesengajaan di antara cangkang dan

mantel, kemudian menembus epithel luar dan masuk ke bagian dalam mantel.

Sebagian sel epithel luar akan menimbulkan rangsangan untuk bekernbang dan

membentuk satu kesatuan, sel yang berhubungan dengan benda tersebut akan

mensehesikm lapisan nacre sepanjang waktu terbentuklah lapisan mutiara

dengan benda (inti) sebagai pusatnya (Cah. 1949).

Menurut Mulyanto (1987), tiram yang hendak dirnasukkan inti atau

operasi hendaknya mempunyai kelengkapan organ dan kondisi tubuh yang sehat.

(98)

dari luar, oleh karena itu tidak dapat dilakukan operasi pemaangan inti dan

apabila operasi ini dipaksakan juga biasanya tiram akan mengalami stress dan

pelapisan yang tefbentuk tidak sempurna.

Pertumbuhan dan Pelapisan Mutiara

Pertumbuhan didefinisikan sebagai berbagai perubahan pada ukuran atau

jumlah materi tubuh. Kualifikasi ukuran untuk pertumbuhan dapat berupa panjang

dan bobot (basah, kering atau abu). Pada dassnnya pertumbuhan dan pelapisan

mutiara (Pterra pengum) adalah pertambahan bobot dagmg dan cangkangnya

yang tergantung pada ketersediaan pakan dan perubahan kondisi lingkungan.

Sedangkan pertambahan bobot cangkang tiram dipengaruhi oleh kandungan

makro mineral dan fosfor dalam perairan. Suharyanto dan Sudrajat (1993)

menyatakan pertumbuhan tiram meliputi pertumbuhan daging dan cangkang

(bobot tiram). Kecepatan pertumbuhan daging tidak selalu seiring dengan

kecepatan pertumbuhan cangkang karena kedua pertumbuhan tersebut

dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Selain itu pula struktur rnikro dan

komposisi asam amino mempengaruhi pula pembentukan cangkang dan lapisan

mutiara atau nacre (Marin dan Dauphin 1992).

Pertumbuhan adalah hasil perkembangan yang harmonis dari organ-organ,

seperti cangkang, otot, jaringan Pdiposa dan jaringan-jaringan perdrat yang

merupakan komponen utama tubuh tiram. Kecepatan pertumbuhan dipengaruhl

oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan, pakan, fisiologis dan genetk. Faktor-

faktor ini bekeqa secara simultan dalam mengontrol kecepatan tumbuh yang

d i n g berinteraksi sehingga proses pertumbuhan dapat berjalan dengan baik.

(99)

proses-proses metabolisme yang terdapat di dalam tubuh maupun penghematan

pembelanjaan m a g i untuk proses metabolisme.

Pertumbuhan merupakan ekspresi dari proses sintesis fosfor, asam amino

dan protein yang terjah pada kelompok-kelompok sitoplasmik yang sangat kecil

yang disebut ribosom. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi kandungan asam

amino di dalam tubuh tiram. Chin dan Lim (1975) mengatakan perubahan suhu

dan salinitas dapat m e m p e n g d i kecepatan pertumbuhan tiram. Pertumbuhan

tiram dipengmhi oleh faktor lingkungan (suhu dm salinitas) dm ketersdaan pakan maupun kemampuan tumbuh tiram (Brown dan Harhvick 1988). Laju

pertumbuhan tercepat adalah pada tinggi cangkang atau pertumbuhan yang sangat

lambat terdapat pada ketebalan cangkang (Sims 1993). Pengukmn dorso-ventral

merupakan indikator terbaik bagi pertumbuhan tinggi cangkang individu serta

ketebalannya yang bervariasi.

Pakan dan Cara Makan

Tiram mutiara (Pteriu pengum) mempunyai cara makan dengan menyaring

pakannya dari air (filter feeder mechanzsm), yang berperan adalah insang clan

mantel. Kebutuhan akan pakan bergantung pada kelitnpahan pakan alami di

paairan sekitarnya. Dari hasil penelitian di dalam saluran p e n w y a

ditemukan antara lain; sisa bahan organik (detritus), bakteri, flagellata, jams,

pasir, larva invertebrata dan beberapa jenis plankton. Menurut Ukeless (1962)

diantara jenis pakan yang terbanyak adalah fitoplankton (Skeletonemu costaturn

dan Chaetoceros) 80-95% memenuhi isi pencernaan tiram. Ini menunjukkan

bahwa pada umumnya aktivitas makan tiram berlangsung terus menerus dengan

(100)

Struktur Cangkang

Cangkang (shell) bagian luar tubuh tiram yang melindungi mantel dan

organ bagian dalam (vzsceral mass) yang terletak diantara kedua belah

cangkangnya. Lapisan zat-zat penyusun cangkang adalah : periostrakum, bagian

luar yang kasar tersusun dari zat organik (chztzn); prisrnatik, lapisan tengah yang

tersusun dari kristal heksagonal kalsit dan lapisan dalam (nacreus) tersusun dari

matrik organik dan kalsium karbonat yang disebut kristal aragonit (Has 1935

dalam Wilbur 1955). Fase patumbuhan kristal formasi lapisannya dalam bentuk

spiral yang tumbuh perlahan membentuk nacreus (Wada 1961).

Jumlah Inti

Jumlah inti yang dipasang untuk setiap jenis tiratn mutiara (Ptena

pengurn) berbeda-beda sesuai dengan ukuran tiram dan ukuran inti yang

digunakan. Menurut Gunanta (1988) untuk tiram jenis Pinctah maxima, setiap

belahan cangkang dapat dipasang 4-8 buah inti, panjang cangkang 16-18 cm

dengan demikian untuk satu ekor tiram dapat dipasang 8-16 buah inti yang

berdiameter 10-1 2 mm. Jumlah inti disesuaskan dengan besar kecilnya tiram yang

&an dirnasuki inti (operasi), yaitu berlusar panjang cangkang antara 15-25 an,

jar& pemasangan inti yang satu dengan yang lain sebaiknya sama dengan

besamya inti yang digunakan. Inti mutiara setengah bulat terbuat dari plastik

(mote), gelas (kaca) dm dari cangkang tiram. Terdapat tiga bentuk inti, yaitu

setengah bulat, jantung dan tetes air mata. Ukuran inti yang &an dipasang pada

(101)

BAHAN DAN METODE

Bahan

Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan tiram mutiara jenis Pteria Penguin sebanyak

% ekor, dengan rata-rata panjang cangkang 12 an, tinggi cangkang 18 cm dan

bobot individu 390 g.

Inti Mutiara Blister

Inti mutiara blister (setengah bulat) dibuat dari manik-manik atau mote

[image:101.574.160.474.344.481.2]

yang terbuat dari plastik dengan diameter inti 0,8 cm dm tmggi inti 0,6 cm

... Inti

Lapisan nacreus

...

diameter 0.8 an tinggi 0.6 cm

Gambar 2. Jenis inti mutiara blister yang digunakan dalam percobaan individu tiram mutiara (Pteria penguin).

Peralatan

Rakit apung, keranjang pemeliharaan, alat operasi, millimeter sekerup,

foto rmkroskop, micrometer okuler, timbangan elektrik, botol sampd plankton

(102)

Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan tiram mutiara (Ptena pengurn) dilaksanakan sejak bulan Maret

sampai dengan Juli 2001 di teluk Harun Bdai Budidaya Laut Lampung.

Metode Percobaan

Metode percobaan adalah eksperimental. Sedangkan rancaugan percobaan

yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ernpat perlakuan dan

tiga ulangan (Steel and Torrie 1993).

Sebagai perlakuan adalah jumlah inti yang berbeda yaitu : 6,8,10 dan 12

butir. Penempatan perlakuan dalam wadah (keranjang pemeularaan) dilakukan

secara acak.

Persiapan dan Pemasangrmn Inti

Hewan uji tiram mutiara (Pteria penguin) yang digunakan adalah berasal

dari perairan Teluk Lampung. Setelah persiapan inti mutiara blister, maka

pemasangan inti blister pada hewan uji dilakukan dengan cara melekatkan inti

blister pada cangkang bagian dalam atau pada lapisan nacreus dengan

menggunakan bahan perekat "silicon".

Pemeliharaan

Setelah pemasangan inti, hewan uji dimasukan ke dalam keranjang

sebagai wadah pemeliharan. Keranjang yang digunakan berukuran: tinggi 60 an

dm lebar 80 cm, kemudian disekat-sekat berbentuk kantong. Masing-masing

(103)

pemeliharaan yang digantungkaddimasukkan ke laut sampai kedalarnan 7 meter.

Sedangkan rakit diternpatakan berjarak lebih kurang 75 meter dari garis pantai.

Untuk menjaga kebersihan tirarn supaya tidak mudah diserang oleh organisme

penempel dan parasit maka setiap 15 hari sekali dilakukan pembersihan cangkang

tiram bagian luar.

Pengamatan

Pengamatan data biologis dan ekologis hewan uji dilakukan setiap 15 hari

sekali dengan mengukur parameter peubah yang meliputi:

1. Ketebalan Lapisan Mutiara

Ketebalan lapisan mutiara pada inti blister diukur dengan alat

micrometer pada setiap pengamatan, lapisan mutiara yang telah terbentuk

pada inti diiris pada bagian atas (puncak) kemudian diukur di bawah

mikroskop dengan menggunakan micrometer okuler yang dipasang pada

mikroskop dan difoto.

2. Persentase Pelapisan Mutiara

Pesentase pelapisan mutiara yang dimaksud adalah untuk melihat

seberapa banyak inti mutiara blister yang terlapisi mutiara per individu

tiram mutiara Pteria penguin yang dihitung berdasarkan jumlah inti yang

dilapisi mutiara dengan persamaan :

PM = Pelapisan mutiara (%)

TM = Jumlah inti terlapisi mutiara (butir)

(104)

3. Tinggi Nacreus dan Tinggi Cangkang

Pengukuran tinggi nacreus diukur dari umbo ke bagian tepi

cangkang atau Dorso Ventral Measurement (DVM) sampai pada batas

lapisan nacreus. Tinggi cangkang di~ikur dari umbo ke bagian tepi

cangkang atau Dorso Ventral Measurement (DVM) sampai ujung

cangkang (Gambar 3).

a - b, adalah tinggi lapisan prismatik tiram mutiara

(Pteria penguin)

a - c, adalah tinggi cangkang tiram

b - c, adalah tinggi

lapisan nacreus tiram mutiara

c - d, adalah panjang

[image:104.568.75.471.149.616.2]

cangkang tiram

Gambar 3. Pengukuran tinggi lapisan prismatik, tinggi cangkang, tinggi nacreus dan tata letak pelekatan inti dalam individu tiram mutiara (Pterra

penguin) pada pexcobaan

4. Bobot Individu

Bobot individu tiram mutiara (Pteria penguin) ditimbang dengan

(105)

5. Laju Konsumsi Oksigen

Laju konsumsi oksigen &tung berdasarkan rumus Stroganov

(1964) sebagai benkut :

Keterangan :

d~zdt-l = Laju komumsi oksigen (rng ag-ljam-')

DOx = Kandungan oksigen terlarut pada awal percobaan (mgl")

Do,

= Kandungan oksigen terlarut pada a kpercobaan (mgl-l)

V = Volume air medm (L)

g = Berat tiram (g)

t = Lama pengamatan (jam)

6. Kadar Glukosa Darah

Pengamatan pola perubahan kadar glukosa plasma

&ah

dilakukan setelah pengukuran laju konsumsi oksigen. Pengambilan sampel

darah Qbilas dengan natrium sitrat 3,8 % untuk mencegrth pembekuan

darah. Sampel darah tersebut selanjutnya disentrifuse 3500 rpm selama 5

menit pada suhu 4"C, kemuhan plasma darah &analisis.

Analisis Kelimpahan Plankton

Fitoplankton dari perairan dhtung dengan menggumkan Sadpick Raper

Counting Cell dengan ukuran panjang 50 mm, lebar 20 mm dan kedalaman 1 rnm. Jumlah lapang pandang yang diamati ini sebanyak 10 buah dengan tiga kali

ulangan. Menurut Ingram dan Palmer (1952), perhtungan kelimpahannya adalah

sebagai berikut:

(106)

Keterangan :

N = Jumlah plankton per rnl (individu~~')

T = Luas penampang S-R (SO x 20 nun2)

L = Luas satu lapang pandang (2,404 mm2$

V = Volume air contoh yang tersaring (30 ml)

v = Volume konsentrasi dalam S-R (1 ml)

W = Volume air yang disaring (40 1)

P = Jumlah fitoplankton yang diamati (rata-rata)

P

= Jumlah lapang pandang yang diamati (1 0 buah)

Analisis Isi Lambung Tiram

Untuk menganalisis jenis-jenis fitoplankton yang merupakan pakan tiram

digunakan metode jumlah (numeric) (Effendie 1997), sedangkan untuk

mengetahui jenis-jenis fitoplankton yang inenjadi pakan pilihan digunakan

indeks pilihan (indeb of electivity). Indeks ini dihitung badasarkan perbandingan

persentase jenis fitoplankton sebagai pakannya dengan organisme plankton yang

ada di perairan (availability factor). Indeks ini dapat digunakan untuk mengetahui

jenis fitoplankton yang disukai tiram mutiara (Pteria penguin). Indeks ini

memiliki variasi ni1ai antara -1 sampai +I dengau ketentuan d a i 0 sampai -1 pakan cenderung dihindari, h a n g dis* dan nilai antara 0 sampai +I pakan

disukai. Formula indeks pilihan menurut Ivlev (1 961) dalam Krebs (1 989) adalah:

Ipi = ri-pi In +pi

Kderangan :

Ipi = Indeks pilihan organisme ke i

ri = Persentase organisme ke i yang dimakan

(107)

Nilai ri (Persentase organisme ke i yang dimakan) didapat dengan

menggunakan formulasi yang mendekati perhitungan kelimpahan (Ingram dan

Palmer 1952) dan kemudian dikonversi dalam bentuk persen (%) sebagai berikut:

ri = ni/N x 100%

Keterangan:

ri = Persentase organisme ke-i yang dimakan

ni = Jumlah organisme ke-i per ml

N = Jumlah total organisme per ml

Sedangkan nilai pi didapat berasal dari perhtungan kelimpahan kemudlan

dikonversi dalam bentuk persen (%) seperti berikut ini :

Keterangan :

pi = Persentase organisme ke-i di perairan

ni = Jumlah organisme ke-i per ml

N = Jumlah total organisme per ml

Analisis Perkembangan Mantel

Analisis perkembangan organ mantel dilakukan secara deskriptif terhadap

penampakan berkas jaringan sel mantel (makroskopik) dari hasil pemotretan

terhadap preparat histologis. Bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah inti

dan pada kontrol (tanpa pelekatan inti) terhadap perkembangan mantel yang

dilakukan pada akhir percobaan (hari ke 120).

Kualitas Perairan

Pengambilan data parameter kualitas air dilakukan setiap 15 hari sekali

(108)

(suhu dan kecepatan arus), kimia (pH, oksigen terlarut, nitrat, salinitas dan total

fosfat) dan biologi (kecerahan). Analisis Data

Untuk memperoleh validitas data serta memudahkan dalam analisanya,

maka Qlakukan penyusunan data dalam bentuk tabel yang menggambarkan

karakter atau variabel dari perlakuan (Bengen 1999). Respon jumlah inti dianalis

dengan sidik ragam (ANOVA). Untuk melihat pengaruh perbedaan antar

perlakuan dilakukan uji lanjut beda rerata dengan menggunakan uji BNT, pada

(109)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Ketebalan Lapisan Mutiara

Ketebalan lapisan mutiara pada masing-masing perlakuan selama

[image:109.568.77.441.222.452.2]

percobaan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Pengaruh jurnlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan lapisan mutiara pada setiap pengamatan.

Jumlah inti tiram mutiara berpengaruh nyata terhadap ketebalan lapisan

mutiara (p4.05) pada pengarnatan han ke 60,90,105 dan 120, tapi tidak berbeda

nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke 75 disajikan pada Tabel 1. Hasil uji

lanjut pada a b r percobaan (hari ke120) jumlah inti 10 butir menunjukkan

ketebalan lapisan mutiara tertinggi sebesar 0.1 34pm, selanjutnya adalah jumlah

(110)
[image:110.568.72.442.18.759.2]

Tabel 1. Pengaruh jumlah inti blister terhadap ketebalan lapisan

tiram mutiara Pleriu penguin pada setiap penmatan.

Uji statistik P<O. 05 PM.05 P<0.05 P<0.05 P<O. 05 ah inti

10

)

12

Keterangan : Angka-angka yang diikuti h m f superscript tidak

sama adalah berbeda nyata (pd.05) pada Uji BNT. 0.039'

fO.001 0.041 a f 0.004

0.063 a k0.004

0.109 a

_+ 0.008 0 . 1 3 4 ~ f 0.001

Hubungan antara jumlah inti dan ketebalan lapisan mutiara pada akhir

0.031' 20.002

0.033

+

0.002 0.05 1

f 0.001 0.093 f 0.003 0.115" k0.007

percobaan dapat dilihat pada Gambar 5.

0,135

c 0,13

Q

Q

2

0,125

-

c

E

.=

2 %

0,12

3

E

'

0,115 0,11

6 8 10 12

Jumlah inti (butir)

Gambar 5. Hubungan antara jumlah inti dan ketebalan lapisan mutiara (Pteria penguin) pada akhr percobaan.

Respon ketebalan lapisan mutiara (Y terhadap jumlah inti

(X)

berbentuk

kuadratik, dengan persamaan:

[image:110.568.78.442.406.628.2]
(111)

Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum (10 butir) menghasilkan

ketebalan mutiara maksimum sebesar 0.132 pm.

Persentase Pelapisan Mutiara

Persentase pelapisan mutiara pada masing-masing indrvidu tiram mutiara

Pteria penguin selama percobaan jumlah inti berpengamh nyata terhadap persentase pelapisan mutiara (p<0.05) pa& pengamatan h m ke 60

dan

75, tetapi

tidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke 90, 105 dan 120 disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengaruh jurnlah inti blister terhadap persentase pelapisan

tiram mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak

sama adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT.

Persentase pelapisan mutiara menurun dengan meningkatnya jumlah inti.

Hubungan antara jumlah inti (X)

dan

persentase pelapisan mutiara (Y) dapat

dilihat pada Gambar 6. Hari Ke 60 75 90 105 120 Uji statistik P<0.05 P<0.05 P>0.05

M . 0 5

M . 0 5 Jumlah inti

6 83.343

"

+

16.65 77.777"

+

0.004 72.233

"

f 0.004 94.443

"

f0.002 88.887" f0.002

8 79.167"

+

0.002 75"

+

0.003 70.833

"

f 0.002 83.333 ab

k0.006 87.5" , f 0 . 0 0 1

10 66.667 a

+

0.001 46.667b

k0.004 63.333 ab

+

0.004 83.333 k0.008 86.667" fO.OO1 12 19.464

+

0.002 47.22 LO.002 56.1 1 +_ 0.001

77.777

(112)

C 90 (I!

(I)

-

88

2s

-

@

-

86

:

!?

3 %

84

E '

82

'

80 1

6 8 10 12

jumlah inti (butir)

Gmbar 6. Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin)

dan persentase pelapisan mutiara pada a ~percobaan. r

Respon persentase pelapisan mutiara (Y2) terhadap jumlah inti (X)

berbentuk kuadratik, dengan persamaan:

Yz = - 0 . 2 9 5 2 ~ ~

+

4.222X + 75.089 R~ = 0.958

Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan persentme

pelapisan mutiara sebesar 86.65 %.

Tinggi Nacreus dan Tinggi Cangkang

Laju pertumbuhan tinggi nacreus tiram mutiara Pteria penguin secara

nyata & p e n g h oleh jumlah inti tiram mutiara ( ~ ~ 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 30,45 dan 120, tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke

(113)
[image:113.568.76.434.79.782.2]

Tabel 3. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi nacreus tiram

mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatau.

Keterangan : Angkaangka yang diikuti huruf superscript tidak

sama adalab berbeda nyata ( 6 . 0 5 ) pada Uji BNT.

Hubungan antara jumlah inti dm pertumbuhan tingg nacreus tirarn mutiara Ptena

penguin dapat dilihat pada Gambar 7. Hari

ke

22,s

U) 22

3

L

21,5

0 , 21

2

20,s

'6

-

rn 20

c

i= 193

19 18,5

6 8 I 0 12

Jumkh inti (butir)

Gambar 7. Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara {Pteria penguin)

dan

tinggi nacreus pada akhir percobaan.

Jumlah inti

6

1

8 10

1

12 statistik Uji

15

30

14.2

"

5-0.173

14.167

"

20.153

f 0.020 14.267~ f 0.058

14.7" k0.200 45

14.133

"

k0.115

P<0.05~

P>0.05 14.233

"

f 0.056 14.867"

f 0.057 14.333 f 0.153 14.733" k0.115

P-0.05

14.167~~1 14.133

14.2 "b

f 0.058 1 4 . 2 ~ f 0.100 14.567" k0.115

P<O.O5 14.1

"

H.100

f 0.153

75 15.267" 15173"

1

15.2" 60

P ~ 0 . 0 5

15033" +_ 0.058

14.733" k0.252

15.067~

f 0.1 10 f 0.200 90

f 0.058

16' '15.633 ab 15.667~

105

120

20.551 15.933" f 1.007 16.033"

k 2.58 k0.404

16"

+

0.624 16.233"

f 0.252

5-0.289 15.833"

+

0.208 16.067"

f 1151

L0.115 15.267"

f 0.208 15.333 f 0.557

PM.05

[image:113.568.90.415.120.399.2]
(114)

Respon tinggi nacreus (Y3) terhadap jumlah inti (X) berbentuk kuadratik,

dengan persamaan :

Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan

Pertumbuhan tinggi m g k a n g tiram mutiara Pteria penguin nyata

dipengaruhi oleh jumlah inti (pX0.05) pada pengamatan hari ke 45,75 dan 120,

tetapi tidak berbeda nyata (pM.05) pada pengamatan hari ke 15, 30, 60, 90 dm

[image:114.568.73.422.319.767.2]

105 hsajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi cangkang tiram

mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak

=ma adalah berbeda nyata f ~ ~ 0 . 0 5 ) pada Uji BNT.

'

Hari ke 15 3 0 45 60 75 90 105 120

Hubungan antara jumlah inti (X) dan pertumbuhan tinggi cangkang pada akhir

percobaan (Y) dapat Qlihat pada Gambar 8.

Uji Statistik

P>0.05

P>0.05

P 4 . 0 1

P>0.05 PcO.05 PXI.05 PXl.05 Pc0.05 Jumlah inti 6 18.233" f 0.252

19.2

"

+O.OOO 19.947" k0.049 19.607"

i- 0.121 8 18.1

+

0.173 19.133

"

fO.110 19.433 k0.115

19.6"

+

0.092

10 18.133

f 0.231 19.133

"

k0.057 19.367 t 0 . 1 5 3 19.593" f 0.012 19.997"

k0.260 20"

+

1.323 20.067"

+

0.802 21.323" f 0.575

12 18.1 0.100 19.133

"

k0.057 19.267" zk0.115 19.533"

f 0.012 1 9 . 7 ~

k0.265 20.1

"

+

0.1000 20.433"

+

0.404 21.433"

+

0.404 20.247"~

kO.11 20.333"

+

0.058 21"

f 0.500 22"

+

0.555

19.45" k0.180 19.7"

k 10.265 29.833"

k 0.764 19.133~

(115)

22,5

m 22

21,5

cll

Y

P-

21

8

5

20,5

.-

m 20

9 )

=

19,5

F

19 18,5

6 8 10 12

[image:115.574.74.456.32.793.2]

Jumlah inti (butir)

Gambar 8. Hubungan antara jumlah inti tirarn mutiara (Pferia penguin)

dan tinggi cangkang tiram pada a ~ i r percobaan.

Respon pertumbuhan tinggi cangkaag (Y4) terhadap jumlah inti (X)

berbentuk kuadratik, dengan persamaan :

Yi = - 0 . 0 4 ~ ~

+

0.627X

+ 17.497

R~ = 0.994

Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan

tinggi cangkang sebesar 21.024 em.

Bobot Individu

Perhunbuhan bobot individu tiram mutiara pada masing-masing perlakuan

selama percobaan dapat Qlihat pada Gambar 9 dan Lampiran 10.

[image:115.574.83.442.78.247.2]

Hari ke

I

Gambar 9. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pterza penguin) terhadap

(116)

Jumlah inti berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot individu tiram

mutiara (p<0.05) pada pengamatan

han ke 30, 45, 90 dan 120, tetapi tidak

[image:116.572.75.447.150.763.2]

b e k d a nyata ( ~ ~ 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 15,60 dan 105 disajikan pada

Tabel 5.

Tabel 5. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi cangkang tiram

mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak

sama adalah berbeda nyata ( ~ 0 . 0 5 )

pada

Uji BNT.

Pada pengamatan hari ke 15, 30, 45 dan 75, terjadi penurunan bobot

individu tiram mutiara yang disebabkan oleh pembelanjaan energi yang &peroleh

dari pakan dan energi tersedia lebih banyak digunakan untuk mengatasi stress

karena adanya beban inti. Hubungan antara jumlah inti (X) clan bobot individu tiram mutiara pada akhir percobaan (Y), dapat dilihat pada Gambar 10.

.-

Hari ke 15 30 45 60 75 90 105 120 Uji statistik P>0.05 P<.05 P<0.05 P>0.05 PN.05 P<.05 P>05 Pc0.05 6 388.967"

f 4.000 382.730

"

+

3.910 377.88"

+

3.880 381.787"

+

3.520 388.48

"

f. 70640 397.833

"

+

2.470 399.5

"

f 0.870 407.167"

f 0.289

inti Jumlah 8 386.633 a

rt 8.830 378ab

+

4.770 370.143

+

0.140 381.54"

If: 3.010 383.527"

f 15.020 396.917"

+

5.780 399.333"

f 9.020

~ 8 . 5 " ~

f 0.500

10 12

385.583 a

f 2.770 374.920 b"

+

3.480 370.533

t 0.410 382.783 a

+

4.760 390"

f 5.000 393.667a

+

2.000 396.333 a

f 1.890 407.833 ab

.f. 0.289

385.95

"

2 1.480 371.167"

+

1.010 370.083

f 0.140 371.713

"

It 2.160 378.333

"

f. 10.410 388.333

k 2.890 391.333

"

f 7.09 406.3

(117)

2 7

3 409

3

408,5

>

.-

= -

408

.E 407,5

C,

0

m

407

:

406,5 1

406

6 8 I 0 12

[image:117.574.82.450.82.242.2]

Jumlah inti (butir)

Gambar 10. Hubungan antara jumlah inti dm bobot inhvidu tiram mutiara

(Pteria penguin) pada akhir percobaan.

Respon pertumbuhan bobot indvidu (Ys) terhadap jumlah inti (X)

berbentuk kuadratik dengan persamaan :

Y5

= - 0 . 2 2 4 4 ~ ~

+

3.1442X

+

377.79 R~ = 0.91 1

Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan

bobot individu maksimum sebesar 407.8 10 g.

Laju Konsumsi Oksigen

Laju konsumsi oksigen pada metabolisme stmdar selama percobaan

jumlah inti X berpengaruh nyata terhadap laju konsumsi oksigen Y tiram mutiara

Pterla penguzn pada metabolisme standar (p<O.OS) pada pengamatan hari ke 15,

30,45,90 dan 105, tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke

(118)

Tabel 6. Pengaruh jumlah inti blister terhadap laju konsumsi oksigen tiram mutiara Pteria penguin pada setiap penmatan.

Keterangan : Angka-angka yang dilkuti hutuf superscript tidak sama adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT. Hari

ke

Hubungan antara jumlah inti dan laju koflsumsi oksigen pada

metabolisme standar dapat QIihat pada Gambar 1 1 .

=

0,076

a8

0,074

$

--

0

.-

,E

0,072

cn v

-5

'% 0,07

0,068

2

=

0,066

3

7 0,064

A

0,062

6 8 10 12

Jumtah inti (butif)

[image:118.572.73.448.79.775.2]

Uji siatistik 3umlah inti

Gambar 1 1. Hubungan antara jumlah inti dan laju konsumsi oksigen tiram mutiara pada metabolisme standar pada akhir percobaan.

6

15 0.159" '0.170"~ 0.173"~ 8 10

1

12

0 . 1 8 9 ~ P<O.05

f 0.000 0.164

+

0.002 0 . 1 4 0 ~ f 0.007

0.121

"

H.000

P<0.05

Pc0.05

P>0.05

+

0.020 0.153 3 0 45 60 D0.05 P<0.01.

2 0.028

f 0.000 0.152 0.148

"

+

0.008 0.110"

+

0.002 0.098"

+

0.005 0.129"

f 0.013 _+ 0.001

+

0.006 0.131ab

f 0.016

105

120

0.102"

_+ 0.024 0 . 0 6 6 ~ 75

90

0.077" f 0.014 0.074"

+

0.006

+

0.003 f 0.003

0.078a

+

0.008 0.073" +_ 0.015 0.1 11

"

+

0.002 0.096"

_+ 0.028 0.082"

0 . 0 8 2 ~

+

0.019 0.074"

+

0.008

0.059' k0.010

0.064"

+

0.007 0.129"

P<0.05

P>0.05 0.105"

f 0.029

0.085"

0.106"

_+ 0.029 0.087a

f 0.004

[image:118.572.77.449.493.676.2]
(119)

Respon laju konsumsi oksigen pada metabolisme standar (Y6) terhadap

jurnlah inti (X) berbentuk kuadratila, dengan persarnaan :

Y6 =-0.0014~~ + 0.0255X + 0.0036 R~ = 0.924

Berdasarkan atas persamaan menghilkan laju konsumsi oksigen maksimum

pada metahisme standar diperoleh sebesar 0.073 5 mgag-'j am-' dengan j umlah

inti optimum.

Kadar Giukosa Darab

Kadar glukosa darah tiram mutiara pada setiap pengamatan mas-

masing perlakuan selama percobaan disajikan pada Tabel 7

Tabel 7. Pengaruh jumlah inti blister terhadap b b o t individu tiram

mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak

sarna adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT.

Hari ke 15 30 45 60 75 90 105 120 L Uji Statistik

~ ~ 0 . 0 5 '

Pc0.05 Pc0.05 Pc0.05 Pxl.05 P>0.05 P9.05 PXl.05 6 63.667b

5 1.528 58333"

+

1.528 55.667

"

+

2.082

55"

L2.646 55.333" f 1.528

54

"

+

4.000 55

"

f 2.000 55"

f 1.000

Jumlah inti

8 10 12

69.667 ab

5 0.577 65333

5 3.786 62.333"

+

3.055 61.333 3.055 57" f2.646 57" k4.359 56" k2.646 57.667" A2.517 68"

5 1.000 61,667" f 2.517 5 8 ~ 3 3 " ~

+

0.577 ~ 7 . 3 3 3 " ~

50.577 55" f3.000

56

"

+

3.606

54" k4.000 56.333" k2.517

68.333"

5 1.528 ~ 5 4 " ~

5 2.000

6ob"

+

2.000 59* 52.000

57"

f2.000 57

"

[image:119.572.82.415.388.668.2]
(120)

30

Jumlah inti tiram mutiara berpengaruh nyata terhadap glukosa darah tiram mutiara

(p<0.05) pada pengamatan

hrtrt

ke 15, 30, 45 dan 60, tetapi tidak berbeda nyata ( p 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 75,90,105 dan 120.

Hubungan antara jumlah inti (X) dan glukosa darah tiram mutiara Pteria

penguin pada akhir percobaan (Y) dapat dilihat pada Gambar 12.

58,5

r 58

e

--

57,s 1

8

?

57

g

56,5

3

56

=

.5

55,5

C3 55

5435

6 8 10 12

Jumlah inti (butir)

Gambar 12. Hubungan antara jwnlah inti dan glukosa darah tiram mutiara (Pteria pengum) pada akhrr percobaan.

Respon kadar glukosa darah tiram mutiara (Y7) terhadap jumlah inti (X)

berbentuk linier, dengan persamaan :

Y7

= 0.7345X

+

52.142

R~

= 0.983

Kadar glukosa d a d tiram mutiara meningkat dengan semakm meningkatnya

jumlah inti tiram mutiara.

Aaalisis Pakan Tiram mutiara (Pterra pngurn)

Tiram mutiara (Pteria penguin) termasuk organisme pemakan bahan

tersuspensi di perairan (suspensronfeeder) dengan cara menyaring makanan (filter

(121)

perairan budidaya tiram mutiara (Pteria penguin) ditemukan 37 jenis, berturut-

turut didominasi oleh jenis fitoplankton Chaetoceros 26.32 %, Coscinodiscus

12.01 %, Nitzschia 11.74 %, Rhizosolenia 8.27 % dan Ethmodiscus 6.7 %. Sedangkan organisme fitoplankton yang dikonsumsi oleh tiram sebanyak 11 jenis

yaitu: Chaetoceros 45.95 %, Nitzschia 27.15 %, Coscinodiscus 8.65 %,

Rhizosolenia 6.47 % dan Ethmodiscus 4.05 % seperti terlihat pada Lampiran 9. Analisis isi lambung tiram pada setiap pengamatan didapatkan bahwa

indek pilihan (E) terhadap plankton yang dimakan oleh tiram menunjukkan bahwa

lokasi perairan budidaya tiram mutiara mempunyai nilai indek pilihan positif

satu ( + I ) terhadap jenis Chaetoceros yang berarti tidak ada seleksi dan pilihan,

positif dua (+2) untuk jenis Nitzschia dan Pleurosigma (Gambar 13 dan Lampiran

9).

45

40

---Q--- Perairan

.-

35 (1) Chaefocems

(I) 30

3

-

$"'

b c 25 (3) f h 3 U ~ ~

'd

20 (4) Coscinodiscus

2

3

Q) x (5) Rhizosolenia

E l5

30

(6) T h a k s i o ~

m

Tinfinnopsis

5 Bacbriasbum

0

I 2 3 4 5 6 7 8 9

[image:121.568.75.485.285.725.2]

Jenis plankton

Gambar 13. Komposisi fitoplankton di lambung tiram mutiara (Pteria penguin) dan di perairan selama percobaan.

Sesuai dengan hasil analisis fitoplankton di dalam lambung tiram

(122)

32

melimpah di perairan tersebut. H~b-utlwn aritara jiimlah inti

(X)

dengan tingkat [image:122.574.79.458.68.629.2] [image:122.574.74.446.129.367.2]

konsumsi pakan (Y) tiram mutiara (Pteria penguin) masing-masing Qsajikan pada

Gambar 14.

.-

25,4

E

25,2

3 n

S 25

r v

S g

248

3

24,6

a

.E 24,4

I-

24,2

6 8 i 0 12

Jumlah inti

Gambar 14. Hubungan antara jumiah inti dan tingkat konsumsi pakan

tirm mutiara (Paeriir p e r i ~ i i ? )

selma

percubam.

Respon tingkat konsumsi pakan (Y8) terhadap jumlah inti (X) berbentuk

kuadratik, dengan persamaan :

y8

=

-u.i~l!~P

+

1.7772~

+

46.i14

I?

=

0.909

Berdasarb atas yc=rw~~aan jumlah inti uptimum menghasilkm tingkat kumumsi

pkafi maksimum titam muti8~8

s e k w

25.23%.

AaalbB

PerbtlbBaBg&a

Rr&a€ei

Berdasitrkan k&r&eristik spesifik potongan mantel yimg dianalisis pa&

kontrol (tanpa perlakuan) maupun akhir percobaan pada masing-masing perlakuan

(123)

33

penguin) adalah homogen pada semua bagan mantel. Bentuk jaringan sel bagian

ujung mantel (mmtle edge) dan bagian tengah (midle fold) sama dengan pa&

bagian dalam (~nner fold). Di bagan berkas jaringan mantel banyak terdapat

jaringan sel sekretori yang rnengandung granula-granula, glikoprotein netral,

glikoprotein asam dan sel mukosa pada bagian epitellium.

Untuk kontrol (tanpa pembenan inti) perkernbangan Qameter berkas

jaringan mantel selama pengamatan adalah 0.13-0.15 pm (Gambar 15).

Sedangkan pada kontrol pengamatan hari ke 120 jika hbandingkan dengan

perlakuan ,pda hari ke 120 (Gambar 16) tiram mutiara yang mendapatkan

perlakuan ' (pemberian inti) terlihat adanya interaksi yaitu Qmana te rjadi

perubahan berkas jaringan sel mantel. Susunan berkas jaringan semakin jarang

dan

ukuran semakin membesar dengan meningkatnya jumlah inti tiram mutiara Pteria penguin sampai pada jumlah inti 10 butir diameter berkas jaringan

berukuran 0.25pm. Pada jumlah inti 12 butir drperoleh ukuran berkas jaringan

(124)

Pengamatan

h r i

ke

120

~ j a r i n g

Gambar

Gambar 1. Skema pendekatan dan pemecahan masalah
Gambar 2. Jenis inti mutiara blister yang digunakan dalam percobaan
Gambar 3. Pengukuran tinggi lapisan prismatik, tinggi cangkang, tinggi nacreus
Gambar 4. Pengaruh jurnlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap
+7

Referensi

Dokumen terkait