PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER
TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN
PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA Pteria penguin
(BNALVIA
:PTERIDAE)
OLEH:
KASFUL ANWAR
PROGRAM STUD1 ILMU PERAIRAN
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
Kasful Anwar. Pengaruh jumlah inti blister terhadap ketebalan lapisan mutiara
dan perturnbuhan tiram mutiara Pteria penguin. Dibimbing oleh RIDWAN
AFFANDI, NORMAN RAZIEF AZWAR dan DAMIANA RITA EKASTUTI. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
jumlah inti mutiara blister terhadap ketebalan lapisan mutiara dan pertumbuhan
tiram mutiara Pteria penguin, dilakukan di Balai Budidaya Laut Lampung selama
lima bulan (Maret-Juli 2001). Percobaan ini menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang
dicobakan adalah empat jurnlah inti blister yang berbeda yaitu : 6, 8, 10 dan 12
butir. Percobaan ini menggunakan tiram mutiara Pteria penguin dengan panjang
cangkang rata-rata 12 cm, tinggi cangkang 18 cm dan bobot inhvidu 390 g.
Pengamatan tirarn mutiara Pteriapenguin dilakukan setiap 15 hari sekali.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah inti blister tiram
mutiara Pteria penguin berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap ketebalan lapisan
mutiara, tingg nacreus, tingg cangkang dan bobot inhvidu pada akhir
percobaan. Berdasarkan uji lanjut diperoleh ketebalan lapisan mutiara tertinggi
sebesar 0.134 pm pada jumlah inti 10 butir, selanjutnya adalah jumlah inti 8 butir
0.127pm7 6 butir O.123pm dan 12 butir 0.1 15pm. Pada jumlah inti ideal tersebut
dicapai pertumbuhan maksimum tirarn mutiara Pteria penguin adalah tinggi
nacreus, tinggi cangkang dan bobot individu pada a h r percobaan sebesar 16.067
cm, 21.433 cm clan 407.833 g. Analisis isi lambung tirarn mutiara Pteriapenguin
terdapat fitoplankton jenis Chaetoceros 45.95 %, Nitzschia 27.15 %,
Coscinodiscus 8.65 %, Rhizosolenia 6.47 % dan Ethmodiscus 4.05 %.
Pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan pada setiap pengmatan
adalah: kisaran suhu 2tG30°c, kecepatan arus 1tG22 cmdetik-', pH 7-8, DO
(Oksigen terlarut) 6-7 ppm, Nitrat 0.003--0.004 ppm, salinitas 32-34 ppt, total
fosfat 0.016-0.030 ppm dan kecerahan 4.5-6.5 meter. Secara umum fluktuasi
beberapa parameter kualitas air selama percobaan relatif kecil. Kisaran tersebut
SURAT
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul
PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA
Pteria penguin (BIVALVIA : PTERIDAE)
Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belurn pernah dipublikasikan. Semua sumber data dan informasi yang digunakan telah lnyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Januari 2002
PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER
TERHADAP KETEBALAN LAPISAN MUTIARA DAN
PERTUMBUHAN TIRAM MUTIARA Pteria
penguin
(BIVALVLA
:PTERIDAE)
OLEH:
KASFUL ANWAR
Tesis
Sebagai d a b satu syarat mtuk memperoleh gelar Magista Sains pada
Program Studi Ilmu Peraim
PROGRAM STUD1 ILMU PERAIRAN
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Pengaruh J d a h Inti Blister Terhadap Ketebalan Lapisan Mutiara dan Perhunbuhan Tiram Mutiara Pteria
penguin (Bivalvia : Pteridae)
N a m a : Kasful Anwar Nomor induk : 99469 Program Studi : Ilmu Perairan
Menyetujui,
1. Komisi Pembimbing
-
Prof. Dr. H. Norman R. Azwar, M.Sc. Dr. Damiana Rita EkBstuti. MS.
AWgota Anggota
2. Ketua Program Studi Ilrnu Perai gram Pascasarjana
Dr.1r.H. Kusman Sumawidjadja da Manuwoto. M.
-
Sc.Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1969 dari ayah
Amir dm Ibu Hj.R.Hudayah. Penulis merupkm putra ke empat dari tujuh
bersaudara. Pendidikan Menengah Atas pada Negeri XL Jakarta, lulm tahun 1988.
Pendidlkan sarjana muda ditempuh
di
AUP Jakarta jurusan Aquaculture, lulustahun 1991. Pendidikan sarjana di Program Studi Budidaya Perairan Fakultas
Per~karaan Universitas 45 Mataram, IuIus pada tahun 19%. Pada tahun 1999
penulis diterima Q Program Studi Ilmu Perairan, Program Pascasajana, Institut
Pertanian Bogor dengan biaya PT. mineral P e r m Lampung.
Penulis bekerja sebagai teknisi budidaya pada Balai Budidaya Laut
La.mpung tahun 1991 sampai dengan 1992. T a b 1992-1997 penulis bekerja
pada Balai Budidaya Laut Lombok. Pada tahm 1997 penulis dimutasikan kembah
ke Balai Bwkdaya h u t
Lamp-
Sejak pertengalantahun
1998 penulis bekerjasebagai tenaga pengajar pada Akademi Perikanan Bima Sakti Lampung. Pada
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala kanmia-
Nya se?xngga karya ilmiah ini berhasil dsselesaikm. Penelitian yang &laksanakan sejak Maret 2001 sampai dengan Juli 2001 dengan judul Pengaruh j d a h inti
blister terhadap ketebalan lapisan mutiara
dan
perttmbuhantiram
mutiitfa Fteriapengurn.
Terima lcasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. H.
RTDWAN
AFFANDI, DEA. Prof Dr. H. NORMAN
R.
AZWAR, M.Sc. dan Ibu Dr.DkMLANA
RITA EKASTUTI, MS. s&ku komisi pembimbing. Di samping itu, penghargaan penutis sampkan kepada Bapak Ir. Akhch, MS. dan BapakRanta seiaku t e b i Laboratorium Hama dan Penyalut Ikan, Fakultas Periki3m.n
dm I h u Kelautan, Institut Pertanian Bogor yang telah membantu selama
perppnpulan data, serta Bapak Kepala Balai Budidaya b u t Lampung dan
Bapak
Syarifbdin teknisi budidaya BBL Lampung.Ungkapan terima kasih juga disarnpaikan kepada kedua orang tua,
kakak
dan adik tersayang yang selalu mendo'akan, Bapak Yulfiperius serta Tbu Zulfa
Yandes beserta kedua putemya. Tidak lupa pula kepada semua prhak yang telah
memberikan arahan, masukan
dan
bantuan baik mod maupun materiil yang tidak&pat dituliskan namanya satu persatu.
DAFTAR
IS&
...
DAFTAR TABEL vii
...
DAFTAR GAMBAR viii
...
DAFTAR LAMPIRAN ix
...
PENDAHULUAN 1
...
Latar Belakang 1
...
T u j m clan Manfmt Percobaan 2
...
Pendekatan dan Pemecahan Masalah 2
Hipotesis ... 3
...
TINJAUAN PUSTAKA 5
Biologi dan Ekologi Tiram Mutiara ... 5 ...
Histologi dan Fungsi Mantel 6
Proses Terjadinya M u k a Blister ... 7
...
Pertumbuhan dan Pelapisan Mutiara 8
...
Pakan
dan
Cara Makan 9...
Sbvktur Cangkang 10
JumlahInti ... 10
BAHAN DAN METODE ... ... Bahan
. .
...
Hewan Uji
... Inti Mutiara Blister
... Peralatan
...
Metode
Waktu dan Tempat Percobaan ...
...
Metode Percobaan
...
Persiapan dan Pemasangan
Inti
Pemel~haraan ... Pengamatan
...
... Ketebalan Lapisan Mutiara
...
Persentase Pelapisan Mutiara
Tmgp Nacreus dm Tinggi Cangkang ...
... Bobot Individu
Laju Konsumsi Oksigen ...
...
Kadar Glukosa Darah
Andtsis Kehpahan Plankton ... ... Analisis Isi Lambung Tiram
... Analisis Perkembangan Mantel
...
Kualitas Perairan
HASIL DAN PEMBAI-WSAN ... Hail ...
... Ketebalan Lapisan Mutiara
... Persentase Pelapisan Mutiara
Tinge Nacreus dm Tinggi Cangkang ...
... Bobot f ndividu
Laju Konsumsi Oksigen ...
...
Kadar Glukosa Darah
Analisis
Pakan
Tiram Mutiara ... Analisis Perkembangan Mantel ......
Pengamatan Parameter Kualitas Air
...
Pembahasan
KESIWULAN DAN SARAN ... 42
...
KeshpuIan 42
DAFTAR
GAMBAR
Halarnan
1 . Skerna pendekatan dan pemecahan masalah ...
2 . Jenis inti mutiara blister yang Qgunakan pada percobaan ...
3
.
Pengukuran tinggi lapisan prismatik. tinggi cangkang. tinggi nacreus dan letak pelekatan inti dalam individu tiram pada percobaan ...4 . Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan
... lapisan mutiara pada setiap pengamatan
5 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteriu penguin) dan tebal lapisan mutiara pada akhtr percobaan ...
6 . Hubungan antara jumlah inti mutiara (Pteria penguin) dan persentase
pelapisan mutiara pa& stkhir percobam ...
7 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan tinggi
nacreus pada a h r percobaan ...
8 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dm tinggi
...
cangkang tiram pada akhir percob
aan
9 . Pengaruh jumlah inti mutiara (Pteria penguin) terhadap pertumbuhan
...
bobot inhvidu pada setiap pengamatan
10 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan bobot inQvidu tiram pada akhir percobam ...
11 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) dan laju
konsumsi oksigen pada metabolisme standar pa& &ir percobam ...
12 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan kadar
... glukosa darah p& akhir percobaan
1 3 . Komposisi fitoplankton dalam lambung tiram mutiara (Pteria penguin) ...
dan
& perairan selama percobaan14 . Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) dan tingkat ... konsumsi palcan selama percobaan
15 . Histologi berkas jaringan mantel tanpa p e r l h n (kontrol) ... 16 . Histologi berkas jaringan mantel pada akhir pengmatan ...
DAFTAR TABEL
1. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan lapisan mmrtiara pada setiap peqgmatan ... 20 2. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriu penguin) terhadap persentase
pekpisan mutiara pada setiap pengamatan ... 2 1
3. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap tinggi
nacreus pa& setiap pengamatan ... 23
4. Penganth jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap tingg
cangkang tiram pada setiap pengamatan.. ... 24
5. Pengaruh jumlah inti mutiara (Pteriapenguin) terhadap pertumbuhan
bob&
individu pada setiap pengamatan ... 266. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap laju
...
konsumsi oksigen pada mtdmlisme standar pada setiap pengamatan.. 28
7. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pteriapenguin) terhadap kadar
glukosa darah pada setiap pe- ... 29 ...
DAFTAR LAMPIRAN
1. Lokasi, rakit budidaya dan keranjang pemeliharaan tiram mutiara
...
(Pterla penguin). 47
2. Ketebalan pelapisan mutiara ( p m ) tiram (Pteriapenguin) pada setiap pengamtan ... 48
3. Persentase pelapisan mutiara
(YO)
tiram mutiara (Reria penguin) pada ...setiap pengamtan 49
4. Tinggi lapisan nacreus tiram mutiara (cm) (Pteria penguin) pada setiap pengunzitan ... 50
5. Tinggi cangkang (em) tiram mutiara (Pteriu penguin) pada setiap pengunzitan ... 5 1
6. Bobot individu (gram)tiTam mutiara (Pteria penguin) pada setiap
pengamatan.. ... 52
-1 -1
7. Laju konsumsi oksigen (mgOz g jam) tiram mutiara (Pteria penguin) pada setiap pengamatan ... 53
8. Kadar glukosa darah
(a1
100ml)tiram
mutiara (Pteriapengum) pa&...
setiap pengamatan.. 54
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tiram mutiara telah lama dkenal sebagai salah satu produsen mutiara
alam yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Menurut Dwiponggo (1976)
beberapa jenis tiram mutiara yang terdapat di perairan Indonesia, antara lain
Pinctada maxima, Pinctada Margaritifera, Pinctada fucata dan Pter~a penguin.
Percobaan tentang budidaya mutiara di Indonesia sudah dllakukan sejak tahun
1921 di Buton, Sulawesi Tenggara waktu itu disebut "Celebes". Tirarn mutiara
(Pterla pengum) merupakan salah satu jenis bivalvia penghasil mutiara
dari
farmliPteridae yang mempunyai prospek yang ba& untuk &embangkan.
Hasil produksi mutiara yang dikenal di pasaran adalah mutiara bulat
(round pearl) dan mutiara setengah bulat (blister pearl). Di pasaran nasional
maupun internasional, mutiara bhster mempunyai pangsa pasar yang cukup
spesifik dan u m m y a dhsilkan oleh jenis Pteria penguin. Menurut Aslkin
(1985), budidaya tiram mutiara blister sangat potensial
untuk
dikenibangkan,disamping itu juga mempunyai h h r a p a kelebihan, antara lain warna cangkang
bagian dalarnnya (rzacreus) indah seperti warna pelangi.
Di daerah benklim tropis seperti Indonesia pertumbuhan atau proses
pelapisan mutiara dapat terjadi sepanjang tahun. Budidaya mutiara blister
memerlukan waktu pemeliharaan 10-12 bulan sejak pemasangan inti dan
ukuran tiram yang &pat &@an wlltuk produksi mutiara blister adalah
berukuran panjang cangkang antara 1 5- 1 7 cm atau berumur 1 2- 1 4 bulan (Quay le
Di Indonesia pengembangan budidaya tiram mutiara (Pterra penguin)
sangat dunungkuzkan karena potensi be& yang cukup tersedirt, tersebar tenrtama
diperairan Sulawesi, Nusa Tenggara dan perairan Maluku (Mosse et al. 1994).
Mengingat akan berbagai k e l e b h yang
cfimrliki
clan prospek pasar, maka perluadanya upaya peningkatan kualitas mutiara blister. Namun sampai saat
ini
kegiatan buhdaya tuam mutiara hanya mampu menghasilkan mutiara blister
dengan kualitas yang rendah, karena belum adanya informasi mengenai jumlah
inti yang ideal yang dapat memaksunallran pelapisan mutiara
dan
peitumbuhantiram mutiara Pterra pengurn.
Berdasarkan ha1 tersebut sangat diperlukan adanya kajian jurnlah inti
mutiara blister yang 0-1 dan pengaruhnya terhadap ketebalan pelapisan
mutiara yang berkatan dengan pertumbuhan tiram mutiara (Pterra pengum),
sehingga nantinya diharapkan dapat menghasilkan mutiara blister yang
berkualitas tinggi.
Tujnan dan Manfaat Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah inti
mutiara blister yang tepat untuk mengbasilkan mutiara yang berkuahtas.
Hail percobaan
ini
diharapkan dapat memberikan informasi tentangjwnlah inti blister yang tepat untuk dilekatkan pada lapisan nacreus (nacreus layer) individu tiram mutiara (Pterza penguin) sehingga dapat dijaddcan sebagai
Pendekatan dan Pemecahan Masalah
Salah satu W o r yang menentukan kualitas mutiara blister adalah jumlah
inti yang dipasang. Jwnlah inti yang terlalu banyak dapat mengakhaatkan
terganggunya ahvitas fisiologis dan pertumbuhan tiram, yang pada akhirnya
akan m e n d a n kualitas mutiara yang d h i l k a n , bahkan dapat menimbulkan
kematian
Tekmk penempatan inti blister (nucleus lnsertron technrque) dan jumlah
inti blister merupakan faktor penentu kualitas mutiara yang dihasilkan. Bila tidak
sesuai dengan ruang yang tersedia dapat menyebabkan ketidak seimbangan dalam
proses pelapisan mutiara, sehmgga dapat menghambat perhunbuhan bahkan
menyebabkan kematian. Jlka terdapat suatu benda pada cangkang bag& &lain,
secara fisiologis
tiram
akan selalu membenkan reaksi penolakan, dengan caramengeluarkan nacre untuk melapisi benda tersebut.
Sampai saat ini belum diketahui jumlah inti yang maksimum dan ideal
yang dapat dipasang. Apabila jumlah inti yang &pasang melampaui kemampuari
tiram, maka mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidup
tiram.
Untukmengatasi ha1 tersebut, maka dalam budidaya tiram mutiara perlu &kaji jumlah inti yang optimum bagi pertumbuhan namun tidak menganggu aktivitas hdup
tiram dalam pemkntukan lapisan Imrtiara
dan
p e r t u m w sehingga diharapkandapat menghasilkan mutiara yang mempunyai nilai dranomis tin=.
Hipotesis
Berdasarkan pada tujuan dan pemecahan masalah, maka hpotesis yang
diajukan dalam percobaan ini adalah jumlah inti mutiara blister akan
. . . , . . , . . . , . . . , . . , . . . . , , . . , . . , . . , . . . , . . ,
[image:94.790.31.683.141.404.2]LINGKUNGAN
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi dan Ekologi Tiram Mutiara
Tiram mutiara termasuk dalam kelas Brvalvza dan famili Ptendae.
M e n m t Brusca (1990), nama f i l m moluska berasd dari bahasa latin moluscrcs
yang beParti lunak yang merupakan sinonim dari mollusces menjadi molluscs.
Keluarga yang dikenal sebagai penghasil mutiara dengan kualitas tinggi adalah
genus Pznctada dan Ptena.
Tiram mutiara (Ptena pengurn) mempunyai cangkang luar yang tidak
sama bentuknya (~nequlvalve) berwarna colclat kehitam-hitaman dengan garis
radier kecil-kecil, tidak jelas dan berwarna terang yang dihubungkan sepasang
engsel (hinge), sehingga cangkang bisa membuka dan menutup. Cangkang
cembung, ukuran dorso-ventral lebih panjang dari pada anterior-posterior yang
menyerupai sayap yang cukup panjang (Chernohorsky et al. 1978 dalam Gervis
dan Sims 1992).
Menurut Cahn ( 1949), bahwa tiram mutiara terdin dari tiga bagian yaitu;
kaki, mantel dan kumpulan organ bagian ddam (vzceral mass). Kaki merupakan
salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis, terdiri dari susunan jaringan otot,
yang dapat meregang. Tiram mutiara termasuk "monomary", yaitu hewan yang
memiliki otot tunggal, berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang.
Sepertt pada semua jenis moluska, eangkang tiram mutiara terbentuk oleh
mantel dengan mengeluarkan sel-sel yang dapat mernbentuk struktur cangkang
(penostracum layer, pnsmattc layer dan nacreus layer) serta corak warnanya
bergantung kepada faktor genetik. Mantel membungkus organ bagian dalam dan
terisap dan menyemburkan kotoran keluar.
Tiram mutiara (Pterra penguzn) hidup pada kedahnan 5-30 meter, dengan
salinitas kurang lebih 30 ppt, suhu 28-30°C, kecmahan 4,5-6,5 my dan ditemukan
menempel pada ranting-ranting hitam (Tun dan Winanto 1988). Menurut Angell
(1986) pertumbuhan yang baik untuk tiram dengan salinitas 16-30 ppt dan suhu
air 28-3 I0C. Kedalaman optimal untuk pertumbuhan adalah berkisar antara 8-10
meter, hal ini berkaitan dengan ketersediaan pakan untuk pertumbuhan tiram dan
pengontrolan faktor fisika dan biologi (Smitasiri et al. 1994). Buhdaya tiram
(Pteria penguin) di perairan Sulawesi dilakukan pada kedalaman &8 meter
(Parenrengi et al. 1998) dan bebas dari pencemaran (Gramno 1999). Sedangkan
untuk pertumbuhan Plnctada margantlfera yang baik adalah pada kedalaman
pemeliharaan 6 m (Atmomarsono et al. 1993).
Histologi dan Fungsi Mantel
Secara histologi, mantel terdiri atas selaput jaringan penghubung yang
dilindungi sel-sel epitel, bagian yang berhubungan dengan cangkang sebelah
dalam hsebut epitel luar, mengeluarkan zat kapur untuk membentuk cangkang
(Mulyanto 1987). Sel epitel lw ini juga menghasilkan kristal kalsium karbonat
(CaC03) dalam bentuk kristal aragonit, lebih dikenal sebagai "nacre" atau mother
of pearl dan laistal heksagonal kalsite yang merupakan pembentuk lapisan seperh
prisma pada can-. Sel-sel ini juga mengeluarkan zat or- dan protein yang
disebut conchiolin (C32&8N2011), dengan bahan kristal yang mengandung kapur
sebagai perekat dan seperti lendir (Cahn 1949). Kandungan asam amino yang
terdapat pada sel adalah berfUngsi membentuk sel jaringan dan sebagai bahan
Menurut Miller (1959) dalam Dwiponggo (1976), jika potongan mantel
yang diambil dari tiram dirnasukkan ke dalam organ bagian dalam, maka sel epitel
tersebut dapat memproduksi xl-sel baru dan t e n s berkembang disamping
menghasllkan bahan kapur (calcareous). Fungsi dari sel epitelium ialah
memproduksi sel-sel baru selama proses pembentukan lapisan mutiara (Wada
1991). Pada kondisi yang sesuai mantel dapat dicangkokkan ke dalam organ lain
(Mulyanto 1987).
Proses Terjadinya Mutiara Blister
Mutiara blister secara alami terjadi ketika suatu benda asing masuk ke
dalam tiram tetapi tidak mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam mantel.
Benda asing tersebut menetap diantara cangkang dan mantel akan tertutup oleh
nacre, karena tirarn membuat mgkangnya sepanjang waktu. Mutiara alami
tersebut terbentuk di atas cangkang, sehingga terbentuklah lapisan mutiara blister
pada cangkang (Mudasir 1 9 8 1).
Pada peristiwa yang lain mutiara tefbentuk karena adanya rangsangan dari
suatu benda aiau parasit yang masuk di luar kesengajaan di antara cangkang dan
mantel, kemudian menembus epithel luar dan masuk ke bagian dalam mantel.
Sebagian sel epithel luar akan menimbulkan rangsangan untuk bekernbang dan
membentuk satu kesatuan, sel yang berhubungan dengan benda tersebut akan
mensehesikm lapisan nacre sepanjang waktu terbentuklah lapisan mutiara
dengan benda (inti) sebagai pusatnya (Cah. 1949).
Menurut Mulyanto (1987), tiram yang hendak dirnasukkan inti atau
operasi hendaknya mempunyai kelengkapan organ dan kondisi tubuh yang sehat.
dari luar, oleh karena itu tidak dapat dilakukan operasi pemaangan inti dan
apabila operasi ini dipaksakan juga biasanya tiram akan mengalami stress dan
pelapisan yang tefbentuk tidak sempurna.
Pertumbuhan dan Pelapisan Mutiara
Pertumbuhan didefinisikan sebagai berbagai perubahan pada ukuran atau
jumlah materi tubuh. Kualifikasi ukuran untuk pertumbuhan dapat berupa panjang
dan bobot (basah, kering atau abu). Pada dassnnya pertumbuhan dan pelapisan
mutiara (Pterra pengum) adalah pertambahan bobot dagmg dan cangkangnya
yang tergantung pada ketersediaan pakan dan perubahan kondisi lingkungan.
Sedangkan pertambahan bobot cangkang tiram dipengaruhi oleh kandungan
makro mineral dan fosfor dalam perairan. Suharyanto dan Sudrajat (1993)
menyatakan pertumbuhan tiram meliputi pertumbuhan daging dan cangkang
(bobot tiram). Kecepatan pertumbuhan daging tidak selalu seiring dengan
kecepatan pertumbuhan cangkang karena kedua pertumbuhan tersebut
dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Selain itu pula struktur rnikro dan
komposisi asam amino mempengaruhi pula pembentukan cangkang dan lapisan
mutiara atau nacre (Marin dan Dauphin 1992).
Pertumbuhan adalah hasil perkembangan yang harmonis dari organ-organ,
seperti cangkang, otot, jaringan Pdiposa dan jaringan-jaringan perdrat yang
merupakan komponen utama tubuh tiram. Kecepatan pertumbuhan dipengaruhl
oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan, pakan, fisiologis dan genetk. Faktor-
faktor ini bekeqa secara simultan dalam mengontrol kecepatan tumbuh yang
d i n g berinteraksi sehingga proses pertumbuhan dapat berjalan dengan baik.
proses-proses metabolisme yang terdapat di dalam tubuh maupun penghematan
pembelanjaan m a g i untuk proses metabolisme.
Pertumbuhan merupakan ekspresi dari proses sintesis fosfor, asam amino
dan protein yang terjah pada kelompok-kelompok sitoplasmik yang sangat kecil
yang disebut ribosom. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi kandungan asam
amino di dalam tubuh tiram. Chin dan Lim (1975) mengatakan perubahan suhu
dan salinitas dapat m e m p e n g d i kecepatan pertumbuhan tiram. Pertumbuhan
tiram dipengmhi oleh faktor lingkungan (suhu dm salinitas) dm ketersdaan pakan maupun kemampuan tumbuh tiram (Brown dan Harhvick 1988). Laju
pertumbuhan tercepat adalah pada tinggi cangkang atau pertumbuhan yang sangat
lambat terdapat pada ketebalan cangkang (Sims 1993). Pengukmn dorso-ventral
merupakan indikator terbaik bagi pertumbuhan tinggi cangkang individu serta
ketebalannya yang bervariasi.
Pakan dan Cara Makan
Tiram mutiara (Pteriu pengum) mempunyai cara makan dengan menyaring
pakannya dari air (filter feeder mechanzsm), yang berperan adalah insang clan
mantel. Kebutuhan akan pakan bergantung pada kelitnpahan pakan alami di
paairan sekitarnya. Dari hasil penelitian di dalam saluran p e n w y a
ditemukan antara lain; sisa bahan organik (detritus), bakteri, flagellata, jams,
pasir, larva invertebrata dan beberapa jenis plankton. Menurut Ukeless (1962)
diantara jenis pakan yang terbanyak adalah fitoplankton (Skeletonemu costaturn
dan Chaetoceros) 80-95% memenuhi isi pencernaan tiram. Ini menunjukkan
bahwa pada umumnya aktivitas makan tiram berlangsung terus menerus dengan
Struktur Cangkang
Cangkang (shell) bagian luar tubuh tiram yang melindungi mantel dan
organ bagian dalam (vzsceral mass) yang terletak diantara kedua belah
cangkangnya. Lapisan zat-zat penyusun cangkang adalah : periostrakum, bagian
luar yang kasar tersusun dari zat organik (chztzn); prisrnatik, lapisan tengah yang
tersusun dari kristal heksagonal kalsit dan lapisan dalam (nacreus) tersusun dari
matrik organik dan kalsium karbonat yang disebut kristal aragonit (Has 1935
dalam Wilbur 1955). Fase patumbuhan kristal formasi lapisannya dalam bentuk
spiral yang tumbuh perlahan membentuk nacreus (Wada 1961).
Jumlah Inti
Jumlah inti yang dipasang untuk setiap jenis tiratn mutiara (Ptena
pengurn) berbeda-beda sesuai dengan ukuran tiram dan ukuran inti yang
digunakan. Menurut Gunanta (1988) untuk tiram jenis Pinctah maxima, setiap
belahan cangkang dapat dipasang 4-8 buah inti, panjang cangkang 16-18 cm
dengan demikian untuk satu ekor tiram dapat dipasang 8-16 buah inti yang
berdiameter 10-1 2 mm. Jumlah inti disesuaskan dengan besar kecilnya tiram yang
&an dirnasuki inti (operasi), yaitu berlusar panjang cangkang antara 15-25 an,
jar& pemasangan inti yang satu dengan yang lain sebaiknya sama dengan
besamya inti yang digunakan. Inti mutiara setengah bulat terbuat dari plastik
(mote), gelas (kaca) dm dari cangkang tiram. Terdapat tiga bentuk inti, yaitu
setengah bulat, jantung dan tetes air mata. Ukuran inti yang &an dipasang pada
BAHAN DAN METODE
Bahan
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan tiram mutiara jenis Pteria Penguin sebanyak
% ekor, dengan rata-rata panjang cangkang 12 an, tinggi cangkang 18 cm dan
bobot individu 390 g.
Inti Mutiara Blister
Inti mutiara blister (setengah bulat) dibuat dari manik-manik atau mote
[image:101.574.160.474.344.481.2]yang terbuat dari plastik dengan diameter inti 0,8 cm dm tmggi inti 0,6 cm
... Inti
Lapisan nacreus
...
diameter 0.8 an tinggi 0.6 cm
Gambar 2. Jenis inti mutiara blister yang digunakan dalam percobaan individu tiram mutiara (Pteria penguin).
Peralatan
Rakit apung, keranjang pemeliharaan, alat operasi, millimeter sekerup,
foto rmkroskop, micrometer okuler, timbangan elektrik, botol sampd plankton
Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan tiram mutiara (Ptena pengurn) dilaksanakan sejak bulan Maret
sampai dengan Juli 2001 di teluk Harun Bdai Budidaya Laut Lampung.
Metode Percobaan
Metode percobaan adalah eksperimental. Sedangkan rancaugan percobaan
yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ernpat perlakuan dan
tiga ulangan (Steel and Torrie 1993).
Sebagai perlakuan adalah jumlah inti yang berbeda yaitu : 6,8,10 dan 12
butir. Penempatan perlakuan dalam wadah (keranjang pemeularaan) dilakukan
secara acak.
Persiapan dan Pemasangrmn Inti
Hewan uji tiram mutiara (Pteria penguin) yang digunakan adalah berasal
dari perairan Teluk Lampung. Setelah persiapan inti mutiara blister, maka
pemasangan inti blister pada hewan uji dilakukan dengan cara melekatkan inti
blister pada cangkang bagian dalam atau pada lapisan nacreus dengan
menggunakan bahan perekat "silicon".
Pemeliharaan
Setelah pemasangan inti, hewan uji dimasukan ke dalam keranjang
sebagai wadah pemeliharan. Keranjang yang digunakan berukuran: tinggi 60 an
dm lebar 80 cm, kemudian disekat-sekat berbentuk kantong. Masing-masing
pemeliharaan yang digantungkaddimasukkan ke laut sampai kedalarnan 7 meter.
Sedangkan rakit diternpatakan berjarak lebih kurang 75 meter dari garis pantai.
Untuk menjaga kebersihan tirarn supaya tidak mudah diserang oleh organisme
penempel dan parasit maka setiap 15 hari sekali dilakukan pembersihan cangkang
tiram bagian luar.
Pengamatan
Pengamatan data biologis dan ekologis hewan uji dilakukan setiap 15 hari
sekali dengan mengukur parameter peubah yang meliputi:
1. Ketebalan Lapisan Mutiara
Ketebalan lapisan mutiara pada inti blister diukur dengan alat
micrometer pada setiap pengamatan, lapisan mutiara yang telah terbentuk
pada inti diiris pada bagian atas (puncak) kemudian diukur di bawah
mikroskop dengan menggunakan micrometer okuler yang dipasang pada
mikroskop dan difoto.
2. Persentase Pelapisan Mutiara
Pesentase pelapisan mutiara yang dimaksud adalah untuk melihat
seberapa banyak inti mutiara blister yang terlapisi mutiara per individu
tiram mutiara Pteria penguin yang dihitung berdasarkan jumlah inti yang
dilapisi mutiara dengan persamaan :
PM = Pelapisan mutiara (%)
TM = Jumlah inti terlapisi mutiara (butir)
3. Tinggi Nacreus dan Tinggi Cangkang
Pengukuran tinggi nacreus diukur dari umbo ke bagian tepi
cangkang atau Dorso Ventral Measurement (DVM) sampai pada batas
lapisan nacreus. Tinggi cangkang di~ikur dari umbo ke bagian tepi
cangkang atau Dorso Ventral Measurement (DVM) sampai ujung
cangkang (Gambar 3).
a - b, adalah tinggi lapisan prismatik tiram mutiara
(Pteria penguin)
a - c, adalah tinggi cangkang tiram
b - c, adalah tinggi
lapisan nacreus tiram mutiara
c - d, adalah panjang
[image:104.568.75.471.149.616.2]cangkang tiram
Gambar 3. Pengukuran tinggi lapisan prismatik, tinggi cangkang, tinggi nacreus dan tata letak pelekatan inti dalam individu tiram mutiara (Pterra
penguin) pada pexcobaan
4. Bobot Individu
Bobot individu tiram mutiara (Pteria penguin) ditimbang dengan
5. Laju Konsumsi Oksigen
Laju konsumsi oksigen &tung berdasarkan rumus Stroganov
(1964) sebagai benkut :
Keterangan :
d~zdt-l = Laju komumsi oksigen (rng ag-ljam-')
DOx = Kandungan oksigen terlarut pada awal percobaan (mgl")
Do,
= Kandungan oksigen terlarut pada a kpercobaan (mgl-l)V = Volume air medm (L)
g = Berat tiram (g)
t = Lama pengamatan (jam)
6. Kadar Glukosa Darah
Pengamatan pola perubahan kadar glukosa plasma
&ah
dilakukan setelah pengukuran laju konsumsi oksigen. Pengambilan sampel
darah Qbilas dengan natrium sitrat 3,8 % untuk mencegrth pembekuan
darah. Sampel darah tersebut selanjutnya disentrifuse 3500 rpm selama 5
menit pada suhu 4"C, kemuhan plasma darah &analisis.
Analisis Kelimpahan Plankton
Fitoplankton dari perairan dhtung dengan menggumkan Sadpick Raper
Counting Cell dengan ukuran panjang 50 mm, lebar 20 mm dan kedalaman 1 rnm. Jumlah lapang pandang yang diamati ini sebanyak 10 buah dengan tiga kali
ulangan. Menurut Ingram dan Palmer (1952), perhtungan kelimpahannya adalah
sebagai berikut:
Keterangan :
N = Jumlah plankton per rnl (individu~~')
T = Luas penampang S-R (SO x 20 nun2)
L = Luas satu lapang pandang (2,404 mm2$
V = Volume air contoh yang tersaring (30 ml)
v = Volume konsentrasi dalam S-R (1 ml)
W = Volume air yang disaring (40 1)
P = Jumlah fitoplankton yang diamati (rata-rata)
P
= Jumlah lapang pandang yang diamati (1 0 buah)Analisis Isi Lambung Tiram
Untuk menganalisis jenis-jenis fitoplankton yang merupakan pakan tiram
digunakan metode jumlah (numeric) (Effendie 1997), sedangkan untuk
mengetahui jenis-jenis fitoplankton yang inenjadi pakan pilihan digunakan
indeks pilihan (indeb of electivity). Indeks ini dihitung badasarkan perbandingan
persentase jenis fitoplankton sebagai pakannya dengan organisme plankton yang
ada di perairan (availability factor). Indeks ini dapat digunakan untuk mengetahui
jenis fitoplankton yang disukai tiram mutiara (Pteria penguin). Indeks ini
memiliki variasi ni1ai antara -1 sampai +I dengau ketentuan d a i 0 sampai -1 pakan cenderung dihindari, h a n g dis* dan nilai antara 0 sampai +I pakan
disukai. Formula indeks pilihan menurut Ivlev (1 961) dalam Krebs (1 989) adalah:
Ipi = ri-pi In +pi
Kderangan :
Ipi = Indeks pilihan organisme ke i
ri = Persentase organisme ke i yang dimakan
Nilai ri (Persentase organisme ke i yang dimakan) didapat dengan
menggunakan formulasi yang mendekati perhitungan kelimpahan (Ingram dan
Palmer 1952) dan kemudian dikonversi dalam bentuk persen (%) sebagai berikut:
ri = ni/N x 100%
Keterangan:
ri = Persentase organisme ke-i yang dimakan
ni = Jumlah organisme ke-i per ml
N = Jumlah total organisme per ml
Sedangkan nilai pi didapat berasal dari perhtungan kelimpahan kemudlan
dikonversi dalam bentuk persen (%) seperti berikut ini :
Keterangan :
pi = Persentase organisme ke-i di perairan
ni = Jumlah organisme ke-i per ml
N = Jumlah total organisme per ml
Analisis Perkembangan Mantel
Analisis perkembangan organ mantel dilakukan secara deskriptif terhadap
penampakan berkas jaringan sel mantel (makroskopik) dari hasil pemotretan
terhadap preparat histologis. Bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah inti
dan pada kontrol (tanpa pelekatan inti) terhadap perkembangan mantel yang
dilakukan pada akhir percobaan (hari ke 120).
Kualitas Perairan
Pengambilan data parameter kualitas air dilakukan setiap 15 hari sekali
(suhu dan kecepatan arus), kimia (pH, oksigen terlarut, nitrat, salinitas dan total
fosfat) dan biologi (kecerahan). Analisis Data
Untuk memperoleh validitas data serta memudahkan dalam analisanya,
maka Qlakukan penyusunan data dalam bentuk tabel yang menggambarkan
karakter atau variabel dari perlakuan (Bengen 1999). Respon jumlah inti dianalis
dengan sidik ragam (ANOVA). Untuk melihat pengaruh perbedaan antar
perlakuan dilakukan uji lanjut beda rerata dengan menggunakan uji BNT, pada
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Ketebalan Lapisan Mutiara
Ketebalan lapisan mutiara pada masing-masing perlakuan selama
[image:109.568.77.441.222.452.2]percobaan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Pengaruh jurnlah inti tiram mutiara (Pteria penguin) terhadap ketebalan lapisan mutiara pada setiap pengamatan.
Jumlah inti tiram mutiara berpengaruh nyata terhadap ketebalan lapisan
mutiara (p4.05) pada pengarnatan han ke 60,90,105 dan 120, tapi tidak berbeda
nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke 75 disajikan pada Tabel 1. Hasil uji
lanjut pada a b r percobaan (hari ke120) jumlah inti 10 butir menunjukkan
ketebalan lapisan mutiara tertinggi sebesar 0.1 34pm, selanjutnya adalah jumlah
Tabel 1. Pengaruh jumlah inti blister terhadap ketebalan lapisan
tiram mutiara Pleriu penguin pada setiap penmatan.
Uji statistik P<O. 05 PM.05 P<0.05 P<0.05 P<O. 05 ah inti
10
)
12Keterangan : Angka-angka yang diikuti h m f superscript tidak
sama adalah berbeda nyata (pd.05) pada Uji BNT. 0.039'
fO.001 0.041 a f 0.004
0.063 a k0.004
0.109 a
_+ 0.008 0 . 1 3 4 ~ f 0.001
Hubungan antara jumlah inti dan ketebalan lapisan mutiara pada akhir
0.031' 20.002
0.033
+
0.002 0.05 1f 0.001 0.093 f 0.003 0.115" k0.007
percobaan dapat dilihat pada Gambar 5.
0,135
c 0,13
Q
Q
2
0,125-
c
E
.=
2 %
0,123
E
'
0,115 0,116 8 10 12
Jumlah inti (butir)
Gambar 5. Hubungan antara jumlah inti dan ketebalan lapisan mutiara (Pteria penguin) pada akhr percobaan.
Respon ketebalan lapisan mutiara (Y terhadap jumlah inti
(X)
berbentukkuadratik, dengan persamaan:
[image:110.568.78.442.406.628.2]Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum (10 butir) menghasilkan
ketebalan mutiara maksimum sebesar 0.132 pm.
Persentase Pelapisan Mutiara
Persentase pelapisan mutiara pada masing-masing indrvidu tiram mutiara
Pteria penguin selama percobaan jumlah inti berpengamh nyata terhadap persentase pelapisan mutiara (p<0.05) pa& pengamatan h m ke 60
dan
75, tetapitidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke 90, 105 dan 120 disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh jurnlah inti blister terhadap persentase pelapisan
tiram mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak
sama adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT.
Persentase pelapisan mutiara menurun dengan meningkatnya jumlah inti.
Hubungan antara jumlah inti (X)
dan
persentase pelapisan mutiara (Y) dapatdilihat pada Gambar 6. Hari Ke 60 75 90 105 120 Uji statistik P<0.05 P<0.05 P>0.05
M . 0 5
M . 0 5 Jumlah inti
6 83.343
"
+
16.65 77.777"+
0.004 72.233"
f 0.004 94.443
"
f0.002 88.887" f0.0028 79.167"
+
0.002 75"+
0.003 70.833"
f 0.002 83.333 abk0.006 87.5" , f 0 . 0 0 1
10 66.667 a
+
0.001 46.667bk0.004 63.333 ab
+
0.004 83.333 k0.008 86.667" fO.OO1 12 19.464+
0.002 47.22 LO.002 56.1 1 +_ 0.00177.777
C 90 (I!
(I)
-
882s
-
@-
86:
!?3 %
84E '
82'
80 16 8 10 12
jumlah inti (butir)
Gmbar 6. Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara (Pteria penguin)
dan persentase pelapisan mutiara pada a ~percobaan. r
Respon persentase pelapisan mutiara (Y2) terhadap jumlah inti (X)
berbentuk kuadratik, dengan persamaan:
Yz = - 0 . 2 9 5 2 ~ ~
+
4.222X + 75.089 R~ = 0.958Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan persentme
pelapisan mutiara sebesar 86.65 %.
Tinggi Nacreus dan Tinggi Cangkang
Laju pertumbuhan tinggi nacreus tiram mutiara Pteria penguin secara
nyata & p e n g h oleh jumlah inti tiram mutiara ( ~ ~ 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 30,45 dan 120, tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke
Tabel 3. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi nacreus tiram
mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatau.
Keterangan : Angkaangka yang diikuti huruf superscript tidak
sama adalab berbeda nyata ( 6 . 0 5 ) pada Uji BNT.
Hubungan antara jumlah inti dm pertumbuhan tingg nacreus tirarn mutiara Ptena
penguin dapat dilihat pada Gambar 7. Hari
ke
22,s
U) 22
3
L
21,50 , 21
2
20,s'6
-
rn 20
c
i= 193
19 18,5
6 8 I 0 12
Jumkh inti (butir)
Gambar 7. Hubungan antara jumlah inti tiram mutiara {Pteria penguin)
dan
tinggi nacreus pada akhir percobaan.Jumlah inti
6
1
8 101
12 statistik Uji15
30
14.2
"
5-0.17314.167
"
20.153f 0.020 14.267~ f 0.058
14.7" k0.200 45
14.133
"
k0.115P<0.05~
P>0.05 14.233
"
f 0.056 14.867"
f 0.057 14.333 f 0.153 14.733" k0.115
P-0.05
14.167~~1 14.133
14.2 "b
f 0.058 1 4 . 2 ~ f 0.100 14.567" k0.115
P<O.O5 14.1
"
H.100
f 0.153
75 15.267" 15173"
1
15.2" 60P ~ 0 . 0 5
15033" +_ 0.058
14.733" k0.252
15.067~
f 0.1 10 f 0.200 90
f 0.058
16' '15.633 ab 15.667~
105
120
20.551 15.933" f 1.007 16.033"
k 2.58 k0.404
16"
+
0.624 16.233"f 0.252
5-0.289 15.833"
+
0.208 16.067"f 1151
L0.115 15.267"
f 0.208 15.333 f 0.557
PM.05
[image:113.568.90.415.120.399.2]Respon tinggi nacreus (Y3) terhadap jumlah inti (X) berbentuk kuadratik,
dengan persamaan :
Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan
Pertumbuhan tinggi m g k a n g tiram mutiara Pteria penguin nyata
dipengaruhi oleh jumlah inti (pX0.05) pada pengamatan hari ke 45,75 dan 120,
tetapi tidak berbeda nyata (pM.05) pada pengamatan hari ke 15, 30, 60, 90 dm
[image:114.568.73.422.319.767.2]105 hsajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi cangkang tiram
mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak
=ma adalah berbeda nyata f ~ ~ 0 . 0 5 ) pada Uji BNT.
'
Hari ke 15 3 0 45 60 75 90 105 120Hubungan antara jumlah inti (X) dan pertumbuhan tinggi cangkang pada akhir
percobaan (Y) dapat Qlihat pada Gambar 8.
Uji Statistik
P>0.05
P>0.05
P 4 . 0 1
P>0.05 PcO.05 PXI.05 PXl.05 Pc0.05 Jumlah inti 6 18.233" f 0.252
19.2
"
+O.OOO 19.947" k0.049 19.607"i- 0.121 8 18.1
+
0.173 19.133"
fO.110 19.433 k0.11519.6"
+
0.09210 18.133
f 0.231 19.133
"
k0.057 19.367 t 0 . 1 5 3 19.593" f 0.012 19.997"k0.260 20"
+
1.323 20.067"+
0.802 21.323" f 0.57512 18.1 0.100 19.133
"
k0.057 19.267" zk0.115 19.533"f 0.012 1 9 . 7 ~
k0.265 20.1
"
+
0.1000 20.433"+
0.404 21.433"+
0.404 20.247"~kO.11 20.333"
+
0.058 21"f 0.500 22"
+
0.55519.45" k0.180 19.7"
k 10.265 29.833"
k 0.764 19.133~
22,5
m 22
21,5
cll
Y
P-
218
5
20,5.-
m 209 )
=
19,5F
19 18,5
6 8 10 12
[image:115.574.74.456.32.793.2]Jumlah inti (butir)
Gambar 8. Hubungan antara jumlah inti tirarn mutiara (Pferia penguin)
dan tinggi cangkang tiram pada a ~ i r percobaan.
Respon pertumbuhan tinggi cangkaag (Y4) terhadap jumlah inti (X)
berbentuk kuadratik, dengan persamaan :
Yi = - 0 . 0 4 ~ ~
+
0.627X+ 17.497
R~ = 0.994Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan
tinggi cangkang sebesar 21.024 em.
Bobot Individu
Perhunbuhan bobot individu tiram mutiara pada masing-masing perlakuan
selama percobaan dapat Qlihat pada Gambar 9 dan Lampiran 10.
[image:115.574.83.442.78.247.2]Hari ke
I
Gambar 9. Pengaruh jumlah inti tiram mutiara (Pterza penguin) terhadap
Jumlah inti berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot individu tiram
mutiara (p<0.05) pada pengamatan
han ke 30, 45, 90 dan 120, tetapi tidak
[image:116.572.75.447.150.763.2]b e k d a nyata ( ~ ~ 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 15,60 dan 105 disajikan pada
Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh jumlah inti blister terhadap tinggi cangkang tiram
mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak
sama adalah berbeda nyata ( ~ 0 . 0 5 )
pada
Uji BNT.Pada pengamatan hari ke 15, 30, 45 dan 75, terjadi penurunan bobot
individu tiram mutiara yang disebabkan oleh pembelanjaan energi yang &peroleh
dari pakan dan energi tersedia lebih banyak digunakan untuk mengatasi stress
karena adanya beban inti. Hubungan antara jumlah inti (X) clan bobot individu tiram mutiara pada akhir percobaan (Y), dapat dilihat pada Gambar 10.
.-
Hari ke 15 30 45 60 75 90 105 120 Uji statistik P>0.05 P<.05 P<0.05 P>0.05 PN.05 P<.05 P>05 Pc0.05 6 388.967"f 4.000 382.730
"
+
3.910 377.88"+
3.880 381.787"+
3.520 388.48"
f. 70640 397.833
"
+
2.470 399.5"
f 0.870 407.167"f 0.289
inti Jumlah 8 386.633 a
rt 8.830 378ab
+
4.770 370.143+
0.140 381.54"If: 3.010 383.527"
f 15.020 396.917"
+
5.780 399.333"f 9.020
~ 8 . 5 " ~
f 0.500
10 12
385.583 a
f 2.770 374.920 b"
+
3.480 370.533t 0.410 382.783 a
+
4.760 390"f 5.000 393.667a
+
2.000 396.333 af 1.890 407.833 ab
.f. 0.289
385.95
"
2 1.480 371.167"
+
1.010 370.083f 0.140 371.713
"
It 2.160 378.333
"
f. 10.410 388.333
k 2.890 391.333
"
f 7.09 406.3
2 7
3 409
3
408,5>
.-
= -
408.E 407,5
C,
0
m
407:
406,5 1406
6 8 I 0 12
[image:117.574.82.450.82.242.2]Jumlah inti (butir)
Gambar 10. Hubungan antara jumlah inti dm bobot inhvidu tiram mutiara
(Pteria penguin) pada akhir percobaan.
Respon pertumbuhan bobot indvidu (Ys) terhadap jumlah inti (X)
berbentuk kuadratik dengan persamaan :
Y5
= - 0 . 2 2 4 4 ~ ~+
3.1442X+
377.79 R~ = 0.91 1Berdasarkan atas persamaan jumlah inti optimum menghasilkan pertumbuhan
bobot individu maksimum sebesar 407.8 10 g.
Laju Konsumsi Oksigen
Laju konsumsi oksigen pada metabolisme stmdar selama percobaan
jumlah inti X berpengaruh nyata terhadap laju konsumsi oksigen Y tiram mutiara
Pterla penguzn pada metabolisme standar (p<O.OS) pada pengamatan hari ke 15,
30,45,90 dan 105, tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) pada pengamatan hari ke
Tabel 6. Pengaruh jumlah inti blister terhadap laju konsumsi oksigen tiram mutiara Pteria penguin pada setiap penmatan.
Keterangan : Angka-angka yang dilkuti hutuf superscript tidak sama adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT. Hari
ke
Hubungan antara jumlah inti dan laju koflsumsi oksigen pada
metabolisme standar dapat QIihat pada Gambar 1 1 .
=
0,076a8
0,074
$
--
0
.-
,E
0,072cn v
-5
'% 0,070,068
2
=
0,0663
7 0,064
A
0,062
6 8 10 12
Jumtah inti (butif)
[image:118.572.73.448.79.775.2]Uji siatistik 3umlah inti
Gambar 1 1. Hubungan antara jumlah inti dan laju konsumsi oksigen tiram mutiara pada metabolisme standar pada akhir percobaan.
6
15 0.159" '0.170"~ 0.173"~ 8 10
1
120 . 1 8 9 ~ P<O.05
f 0.000 0.164
+
0.002 0 . 1 4 0 ~ f 0.0070.121
"
H.000P<0.05
Pc0.05
P>0.05
+
0.020 0.153 3 0 45 60 D0.05 P<0.01.2 0.028
f 0.000 0.152 0.148
"
+
0.008 0.110"+
0.002 0.098"+
0.005 0.129"f 0.013 _+ 0.001
+
0.006 0.131abf 0.016
105
120
0.102"
_+ 0.024 0 . 0 6 6 ~ 75
90
0.077" f 0.014 0.074"
+
0.006+
0.003 f 0.0030.078a
+
0.008 0.073" +_ 0.015 0.1 11"
+
0.002 0.096"_+ 0.028 0.082"
0 . 0 8 2 ~
+
0.019 0.074"+
0.0080.059' k0.010
0.064"
+
0.007 0.129"P<0.05
P>0.05 0.105"
f 0.029
0.085"
0.106"
_+ 0.029 0.087a
f 0.004
[image:118.572.77.449.493.676.2]Respon laju konsumsi oksigen pada metabolisme standar (Y6) terhadap
jurnlah inti (X) berbentuk kuadratila, dengan persarnaan :
Y6 =-0.0014~~ + 0.0255X + 0.0036 R~ = 0.924
Berdasarkan atas persamaan menghilkan laju konsumsi oksigen maksimum
pada metahisme standar diperoleh sebesar 0.073 5 mgag-'j am-' dengan j umlah
inti optimum.
Kadar Giukosa Darab
Kadar glukosa darah tiram mutiara pada setiap pengamatan mas-
masing perlakuan selama percobaan disajikan pada Tabel 7
Tabel 7. Pengaruh jumlah inti blister terhadap b b o t individu tiram
mutiara Pteria penguin pada setiap pengamatan.
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf superscript tidak
sarna adalah berbeda nyata (pC0.05) pada Uji BNT.
Hari ke 15 30 45 60 75 90 105 120 L Uji Statistik
~ ~ 0 . 0 5 '
Pc0.05 Pc0.05 Pc0.05 Pxl.05 P>0.05 P9.05 PXl.05 6 63.667b
5 1.528 58333"
+
1.528 55.667"
+
2.08255"
L2.646 55.333" f 1.528
54
"
+
4.000 55"
f 2.000 55"
f 1.000
Jumlah inti
8 10 12
69.667 ab
5 0.577 65333
5 3.786 62.333"
+
3.055 61.333 3.055 57" f2.646 57" k4.359 56" k2.646 57.667" A2.517 68"5 1.000 61,667" f 2.517 5 8 ~ 3 3 " ~
+
0.577 ~ 7 . 3 3 3 " ~50.577 55" f3.000
56
"
+
3.60654" k4.000 56.333" k2.517
68.333"
5 1.528 ~ 5 4 " ~
5 2.000
6ob"
+
2.000 59* 52.00057"
f2.000 57
"
[image:119.572.82.415.388.668.2]30
Jumlah inti tiram mutiara berpengaruh nyata terhadap glukosa darah tiram mutiara
(p<0.05) pada pengamatan
hrtrt
ke 15, 30, 45 dan 60, tetapi tidak berbeda nyata ( p 0 . 0 5 ) pada pengamatan hari ke 75,90,105 dan 120.Hubungan antara jumlah inti (X) dan glukosa darah tiram mutiara Pteria
penguin pada akhir percobaan (Y) dapat dilihat pada Gambar 12.
58,5
r 58
e
--
57,s 18
?
57g
56,53
56=
.5
55,5C3 55
5435
6 8 10 12
Jumlah inti (butir)
Gambar 12. Hubungan antara jwnlah inti dan glukosa darah tiram mutiara (Pteria pengum) pada akhrr percobaan.
Respon kadar glukosa darah tiram mutiara (Y7) terhadap jumlah inti (X)
berbentuk linier, dengan persamaan :
Y7
= 0.7345X+
52.142R~
= 0.983Kadar glukosa d a d tiram mutiara meningkat dengan semakm meningkatnya
jumlah inti tiram mutiara.
Aaalisis Pakan Tiram mutiara (Pterra pngurn)
Tiram mutiara (Pteria penguin) termasuk organisme pemakan bahan
tersuspensi di perairan (suspensronfeeder) dengan cara menyaring makanan (filter
perairan budidaya tiram mutiara (Pteria penguin) ditemukan 37 jenis, berturut-
turut didominasi oleh jenis fitoplankton Chaetoceros 26.32 %, Coscinodiscus
12.01 %, Nitzschia 11.74 %, Rhizosolenia 8.27 % dan Ethmodiscus 6.7 %. Sedangkan organisme fitoplankton yang dikonsumsi oleh tiram sebanyak 11 jenis
yaitu: Chaetoceros 45.95 %, Nitzschia 27.15 %, Coscinodiscus 8.65 %,
Rhizosolenia 6.47 % dan Ethmodiscus 4.05 % seperti terlihat pada Lampiran 9. Analisis isi lambung tiram pada setiap pengamatan didapatkan bahwa
indek pilihan (E) terhadap plankton yang dimakan oleh tiram menunjukkan bahwa
lokasi perairan budidaya tiram mutiara mempunyai nilai indek pilihan positif
satu ( + I ) terhadap jenis Chaetoceros yang berarti tidak ada seleksi dan pilihan,
positif dua (+2) untuk jenis Nitzschia dan Pleurosigma (Gambar 13 dan Lampiran
9).
45
40
---Q--- Perairan
.-
35 (1) Chaefocems(I) 30
3
-
$"'
b c 25 (3) f h 3 U ~ ~
'd
20 (4) Coscinodiscus2
3Q) x (5) Rhizosolenia
E l5
30
(6) T h a k s i o ~
m
Tinfinnopsis5 Bacbriasbum
0
I 2 3 4 5 6 7 8 9
[image:121.568.75.485.285.725.2]Jenis plankton
Gambar 13. Komposisi fitoplankton di lambung tiram mutiara (Pteria penguin) dan di perairan selama percobaan.
Sesuai dengan hasil analisis fitoplankton di dalam lambung tiram
32
melimpah di perairan tersebut. H~b-utlwn aritara jiimlah inti
(X)
dengan tingkat [image:122.574.79.458.68.629.2] [image:122.574.74.446.129.367.2]konsumsi pakan (Y) tiram mutiara (Pteria penguin) masing-masing Qsajikan pada
Gambar 14.
.-
25,4E
25,23 n
S 25
r v
S g
2483
24,6a
.E 24,4
I-
24,2
6 8 i 0 12
Jumlah inti
Gambar 14. Hubungan antara jumiah inti dan tingkat konsumsi pakan
tirm mutiara (Paeriir p e r i ~ i i ? )
selma
percubam.
Respon tingkat konsumsi pakan (Y8) terhadap jumlah inti (X) berbentuk
kuadratik, dengan persamaan :
y8
=-u.i~l!~P
+
1.7772~
+
46.i14
I?
=0.909
Berdasarb atas yc=rw~~aan jumlah inti uptimum menghasilkm tingkat kumumsi
pkafi maksimum titam muti8~8
s e k w
25.23%.AaalbB
PerbtlbBaBg&a
Rr&a€ei
Berdasitrkan k&r&eristik spesifik potongan mantel yimg dianalisis pa&
kontrol (tanpa perlakuan) maupun akhir percobaan pada masing-masing perlakuan
33
penguin) adalah homogen pada semua bagan mantel. Bentuk jaringan sel bagian
ujung mantel (mmtle edge) dan bagian tengah (midle fold) sama dengan pa&
bagian dalam (~nner fold). Di bagan berkas jaringan mantel banyak terdapat
jaringan sel sekretori yang rnengandung granula-granula, glikoprotein netral,
glikoprotein asam dan sel mukosa pada bagian epitellium.
Untuk kontrol (tanpa pembenan inti) perkernbangan Qameter berkas
jaringan mantel selama pengamatan adalah 0.13-0.15 pm (Gambar 15).
Sedangkan pada kontrol pengamatan hari ke 120 jika hbandingkan dengan
perlakuan ,pda hari ke 120 (Gambar 16) tiram mutiara yang mendapatkan
perlakuan ' (pemberian inti) terlihat adanya interaksi yaitu Qmana te rjadi
perubahan berkas jaringan sel mantel. Susunan berkas jaringan semakin jarang
dan
ukuran semakin membesar dengan meningkatnya jumlah inti tiram mutiara Pteria penguin sampai pada jumlah inti 10 butir diameter berkas jaringanberukuran 0.25pm. Pada jumlah inti 12 butir drperoleh ukuran berkas jaringan
Pengamatan
h r ike
120
~ j a r i n g