EFISIENSI PADA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DI INDONESIA DENGAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat – Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
DisusunOleh : MUHAMMAD YUSUF
NIM :1111084000058
JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I.
IDENTITAS PRIBADI
1.
Nama Lengkap
: Muhammad Yusuf
2.
Tempat Tanggal Lahir
: Jakarta, 10 Juni 1993
3.
Alamat
: Jl. Bangka IV No.50, RT 020 RW 03,
Pela Mampang, Mampang Prapatan,
Jakarta Selatan, DKI Jakarta
4.
Telepon
: 08561046515
5.
II.
PENDIDIKAN
1.
SDN 02 Petang Jakarta
Tahun 1999-2005
2.
SMP Negeri 141 Jakarta
Tahun 2005-2008
3.
SMA Negeri 60 Jakarta
Tahun 2008-2011
4.
S1 Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan
Tahun 2011-2015
UIN Syarif Hidayatullah
III.
PENGALAMAN ORGANISASI
IV.
SEMINAR DAN WORKSHOP
1.
Seminar Nasional “How to Get International Scholarships?”,
diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 17 Oktober 2012.
2.
Dialog Jurusan & Seminar Konsentrasi “Mengenal Lebih Dekat
dengan Jurusan Sendiri”, diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa
Jurusan Ilmu Ekonimi dan Studi Pembangunan (HMJ IESP) Fakultas
Ekonomi dan Bisnis – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 3 Oktober
3.
Bedah Buku “ Satanic Finance”, diselenggarakan oleh LDK KOMDA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 7 Mei
2014,
4.
Seminar Nasional IAEI “Penyiapan SDM Berbasis Kompetensi
Syariah Dalam Pengembangan Perbankan Syariah Era MEA 2015”,
diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia
bekerjasama dengan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), 11
Oktober 2014.
5.
Seminar Nasional “Mewujudkan Lembaga Keuangan Mikro yang
Berdaya Saing Dalam Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi
ASEAN) 2015”, diselenggarakan oleh Social Trust Fund UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 13 Oktober 2014.
6.
Seminar Nasional “Prospek Dan Peluang Bekerja Di Perbankan
Syariah” diselenggarakan oleh Yayasan Panca Sakti Luhur Jakarta
bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Manajemen IMMI, 11 April
2015.
V.
PENGALAMAN KERJA
1.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai divisi perlengkapan, 2014.
2.
Litbang KOMPAS Gramedia sebagai surveyor dalam Survei Pemilu,
2014.
3.
Transpararency International Indonesia sebagai Rapporteur dalam
Forum Gratifikasi Nasional, 2014.
4.
Litbang KOMPAS Gramedia sebagai surveyor dalam Survei Indeks
iii
VI.
LATAR BELAKANG KELUARGA
1.
Ayah
: Sugiyo Futopo
2.
Tempat, Tanggal Lahir
: Comal, 27 Mei 1963
3.
Ibu
: Almh. Muharyati
4.
Tempat, Tanggal Lahir
: Brebes, 12 Juni 1964
5.
Alamat
: Jl. Bangka IV No.50, RT 20 RW 03,
Pela Mampang, Mampang Prapatan,
Jakarta-Selatan, DKI Jakarta
ABSTRACT
If the talk and focus on Indonesia, to which Indonesia is a country with a
Muslim majority in the world, if seen from the facts and existing rasuah case, still
worth if Indonesia becomes a haven for corruptors to commit criminal acts of
corruption, this is due to the weakness and not maximal governing law. Rasuah
potential is still very large in Indonesia, therefore the government established the
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). The purpose of this study was to determine
the level of efficiency of the Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). The data used in
this research is secondary data obtained from the annual report published by Komisi
Pemberantasan Korupsi. Measurement of efficiency in this study using Data
Envelopment Analysis (DEA). Input variables used in this study is the budget for the
KPK and the number of deputies prosecution, while the variable output is and
religiosity (religious activities) and cases handled.
Results from this study indicate that the KPK is always achieve the level of
efficiency of 100 percent in the period 2010, 2012 and 2014, in other side the KPK
experienced inefficiency in 2011 and 2013. On average achievement of efficiencies
KPK from 2010 to 2014 amounted to 96.71 percent.
v
ABSTRAK
Jika bicara dan fokus pada Indonesia, yang mana Indonesia merupakan
Negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, jika dilihat dari fakta dan
kasus rasuah yang ada, masih pantaslah jika Indonesia menjadi surga para
koruptor untuk melakukan tindak pidana korupsi, hal ini dikarenakan masih
lemahnya dan belum maksimalnya hukum yang mengatur. Potensi rasuah masih
sangat besar di Indonesia, maka dari itu pemerintahan mendirikan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui tingkat efisiensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan
tahunan yang diterbitkan oleh KPK. Pengukuran efisiensi dalam penelitian ini
menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Variabel input yang
digunakan dalam penelitian ini adalah anggaran untuk KPK dan jumlah deputi
penindakan, sedangkan variabel outputnya adalah religiusitas (kegiatan
keagamaan) dan kasus yang ditangani.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa KPK yang selalu mencapai
tingkat efisiensi 100 persen pada periode 2010, 2012 dan 2014, di sisi lain KPK
mengalami inefisiensi pada tahun 2011 dan 2013. Rata-rata pencapaian efisiensi
KPK dari tahun 2010 sampai 2014 adalah sebesar 96.71 persen.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji bagi Allah SWT, Al - Wahhab Yang Maha Penganugrah, yang telah
memberikan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW, nabi akhir zaman, yang telah membimbing umatnya menuju jalan
kebenaran. Penulisan skripsi yang berjudul “Efisiensi Pada Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) di Indonesia Dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA)” ini
disusun dalam rangka memenuhi syarat - syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan
terimakasih atas bantuan, bimbingan, dukungan, semangat dan doa, baik langsung
maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1.
Keluarga yang terbaik dan tersayang, Almarhum Ibunda Muharyati yang selama
hidupnya tidak pernah bosan mencurahkan doa di setiap sujudnya untuk
mengiringi langkah hidup penulis, dan selalu memberikan motivasi terbaik serta
perhatiannya selama ini kepada penulis. Ayahanda Sugiyo Futopo yang telah
bekerja keras demi anak - anak dan keluarga. Penulis mengucapkan banyak
terima kasih untuk segala curahan kasih sayang yang tulus, perhatian, motivasi
baik moril maupun materil, serta doa - doanya yang selalu mengiringi langkah
penulis untuk meraih cita - cita yang penulis impikan.
2.
Dr. Arief Mufraini selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang baru semoga dapat memajukan dan mengembangkan
FEB lebih baik lagi.
3.
Bapak Arief Fitrijanto M, Si, selaku Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan
vii
4.
Bapak Zuhairan Y. Yunan, S.E, M. Sc dan Bapak Zainail Mutaqqin M.Pp selaku
Ketua Jurusan dan Sekretaris IESP sebelumnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Jakarta yang telah meluangkan waktu dan arah – arahan yang baik selama saya
berkonsultasi.
5.
Bapak DR. IR. H. Roikhan Mochamad Aziz MM, selaku Dosen Pembimbing
Skripsi I dan penemu rumus tuhan hahslm, yang dengan kerendahan hatinya
bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan, ilmu yang berharga,
serta bimbingan yang sangat berarti selama penyelesaian skripsi. Terima kasih
atas semua saran dan arahan yang Bapak berikan selama proses penulisan hingga
terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak.
6.
Bapak Rizqon Halal Syah Aji, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang
yang telah meluangkan waktu untuk memberikan ilmu dan pengetahuan guna
melancarkan penulisan skripsi ini sehingga sampai pada sidang skripsi.
7.
Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan karyawanUIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bantuan kepada penulis.
8.
Kakak penulis yaitu Gaga Angga Saputra yang selalu memberi semangat dan
menghibur dalam menyelesaikan skripsi ini.
9.
Adik penulis yaitu Lulu Fauziah yang selalu menghibur dan memberikan
semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
10.
Sahabat yang terbaik dan tersayang sejak SMP yaitu Andri Riyadi, Bobby
Hamonangan Simanjuntak, Jefry Wahyu Saputra, Raden Mohammad Denny
Saputra, dan Umar Muchtar. Terima kasih atas doa kalian dan semangat serta
dukungannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga
persahabatan ini selalu erat dan saling mendukung serta mendoakan satu sama
lain dalam menggapai impian masing - masing.
11.
Sahabat yang terbaik dan tersayang sejak SMA yaitu Basori Ahmad, Langgeng
Setyo Utomo dan Rosyaleh Zakhiri. Terima kasih atas doa kalian dan semangat
persahabatan ini selalu erat dan saling mendukung serta mendoakan satu sama
lain dalam menggapai impian masing - masing.
12.
Kepada Rahma Chairunisa yang selalu mendukung dan mendoakan saya serta
memberikan semangat dan membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini,
penulis mengucapkan banyak terima kasih atas perhatiannya selama ini.
13.
Sahabat yang terbaik dan seperjuangan IESP 2011, Feristi Irza Rolis, Dita Nur
Amanda, Refi Kurniasari, Aldila Hapsari, Mirna Fitri, Vina Refriana, Dimas
Brianto, Dwi Nuni, Ario Wicaksono, Ziko Medri Saputra, Geo Fikri Muhammad,
Ahmad Misbahul Munir dan Risdiansyah. Terima kasih atas dukungan, semangat,
doa, serta seluruh masa indah yang kita pupuk saat senang dan sedih selama
empat tahun kuliah ini.
14.
Teman - teman IESP angkatan 2011 yang penulis cintai dan tidak bisa penulis
sebutkan satu-persatu. Terima kasih untuk empat tahun kebersamaan dengan
kalian yang penuh warna, tanpa kalian penulis bukanlah siapa - siapa, serta tiada
kesan tanpa adanya kalian selama empat tahun ini. Semoga Allah selalu
melindungi setiap langkah kalian dalam menggapai kesuksesan dan membalas
kebaikan - kebaikan kalian.
15.
Kakak jurusan IESP yaitu Virgin Ariana Pramono yang dengan kerendahan hati
telah berbagi ilmu dan memberikan bantuannya, serta dukungannya untuk penulis
selama menyelesaikan skripsi ini.
16.
Kelompok KKN “Teropong” yaitu Abdil Izzat Malanovic, Indras Pian, Eko
Prayitno, Ridho Ihsani, Maryanti Wahyuningsih, Siti Noer Rahma Cahyani,
Nevisia Nindya Pradani, Uswatun Hasanah, Nurmahalia, Fahrul Ramadhan, dan
Ade Badru Tamam, terima kasih atas kerjasamanya dalam menyukseskan praktek
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Situdaun, Bogor. Semoga Allah Swt
ix
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurnadikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki
penulis.Olehkarena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan
bahkankritik yang membangun dari berbagai pihak.
Wassalamua’alaikumWr. Wb.
Jakarta, 5 Juli 2015
DAFTAR ISI
Cover
Lembar Pengesahan Pembimbing
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah
Daftar Riwayat Hidup……….
i
Abstract………..
iv
Abstrak……….
v
Kata Pengantar………
vi
Daftar Isi……… ………
x
Daftar Tabel……….. xiii
Daftar Grafik………. xiv
Daftar Lampiran………..
xv
BAB I PENDAHULUAN……….
1
A.
Latar Belakang…….………...
1
B.
Perumusan Masalah………
7
C.
Tujuan dan Manfaat Penelitian………..
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……….
9
A.
Landasan Teori………...
9
1.
Rasuah.………
9
2.
Korupsi……….... 10
xi
b.
Korupsi Dalam Hukum Islam………
11
3.
Komisi Pemberantasan Korupsi………
15
a.
Pengertian Komisi Pemberantasan Korupsi………
15
b.
Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi…………...…….……...
16
c.
Struktur Komisi Pemberantasan Korupsi …….………..
17
d.
Visi dan Misi Komisi Pemberantasan Korupsi……….……….
18
4.
Teori Efisiensi………...………...
19
a. Pengertian Efisiensi……….
19
b. Efisien Dalam Hukum Islam………
26
5. Konsep CRS dan VRS……….
29
6. Orientasi Pengukuran Data Dengan Menggunakan Data Envelopment
Analisys……….
32
7. Konsep Input dan Output Dalam Pengukuran Efisiensi………
33
8. Data Envelopment Analysis (DEA)……….
34
B.
Penelitian Terdahulu………...
37
1.
Harjum Muharam dan Pusvitasari (2007)………
38
2.
Lela Dina Pertiwi (2007)..…………...………..…….
38
3.
Nasher Akbar (2009) ………...………...
39
4.
Rakhmat Purwanto (2011) …..………....
40
5.
Norazlina Abd. Wahab dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2012)…. 40
6.
Sandi Kusuma Wardana (2013)……….……
41
7.
Dian Merini (2013)………
42
8.
Norazlina Abd. Wahab dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2013)….
43
C.
Kerangka Berpikir………...
48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN……….
51
A.
Ruang Lingkup Penelitian………
51
B.
Sumber Data……….………
51
C.
Metode Pengumpulan Data……..………
51
D.
Metode analisis Data…….………..……….
53
1.
Metode Data Envelopment Analysis (DEA)………..
53
2.
Model Pengukuran Efisiensi Teknik………..
60
E.
Variabel Operasional Penelitian………
64
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN………..
66
A.
Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian………..
66
2.
Perkembangan Badan Amaliah Islam KPK (BAIK)………... 72
3.
Uraian Data……….. 73
B.
Analisis dan Pembahasan………
80
1.
Hasil Perhitungan dan Analisis Tingkat Efisiensi KPK………
82
a.
Analisis Teknis Efisiensi KPK Tahun 2010………
83
b.
Analisis Teknis Efisiensi KPK Tahun 2011………
84
c.
Analisis Teknis Efisiensi KPK Tahun 2012………
85
d.
Analisis Teknis Efisiensi KKP Tahun 2013………..
86
e.
Analisis Teknis Efisiensi KPK Tahun 2014………
87
2.
Analisis dan Interpretasi………... 88
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……….
93
A.
Kesimpulan……….
93
B.
Saran………
94
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Peringkat Indeks Persepsi Korupsi……….
2
Tabel 1.2 Daftar Peringkat Indeks Persepsi Korupsi……….
3
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu………
44
Tabel 2.2 Kerangka Berpikir………..
50
Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian……….
65
Tabel 4.1 Input Anggaran untuk KPK………...
74
Tabel 4.2 Input Jumlah Deputi Penindakan……….
76
Tabel 4.3 Output Religiusitas (kegiatan keagamaan)……….
77
Tabel 4.4 Output Kasus yang Ditangani………...……….
78
Tabel 4.5 Tingkat Efisiensi KPK………...
81
Tabel 4.6 Tingkat Efisiensi KPK………
83
Tabel 4.7 Hasil Efisiensi KPK Tahun 2010 ………...……… 83
Tabel 4.8 Hasil Efisiensi KPK Tahun 2011 ……….………
84
Tabel 4.9 Hasil Efisiensi KPK Tahun 2012……….
85
Tabel 4.10 Hasil Efisiensi KPK Tahun 2013………. 86
DAFTAR GRAFIK
Grafik 4.1 Input Anggaran Untuk KPK……….
75
Grafik 4.2 Input Jumlah Deputi Penindakan .………
76
Grafik 4.3 Output Religiusitas (kegiatan keagamaan)……….
78
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Input – Output KPK Tahun 2010 – 2014 ……….. 99
Lampiran 2 Tabel Efisiensi KPK Tahun 2010 dengan DEAWIN .……… 100
Lampiran 3 Tabel Efisiensi KPK Tahun 2011 dengan DEAWIN………. 101
Lampiran 4 Tabel Efisiensi KPK Tahun 2012 dengan DEAWIN………. 102
Lampiran 5 Tabel Efisiensi KPK Tahun 2013 dengan DEAWIN……... 103
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Dari berbagai Negara yang berada di belahan dunia, rasuah atau yang dikenal dengan korupsi dianggap sebagai musuh terbesar di dalam Negara tersebut, karena korupsi sangat bisa menghancurkan suatu sistem ataupun tujuan yang telah dibuat dan direncanakan dengan bagus oleh suatu Negara tersebut dan korupsi semestinya harus dilawan dan diperangi secara bersama – sama oleh masyarakat serta pemerintahan di dalam suatu Negara, agar keadaan suatu Negara dapat lebih baik dan dapat memenuhi dan mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh suatu Negara tersebut.
Jika bicara mengenai rasuah, sesungguhnya rasuah memang sudah ada dari zaman dahulu dan perkembangannya serta prakteknya sampai sekarang masih saja ada, hal ini dikarenakan dengan adanya budaya dan kebiasaan yang terus - menerus diterapkan oleh masyarakat di suatu Negara dan ditambah dengan peraturan serta hukum yang belum memberikan efek jerah bagi para pelaku praktek rasuah di berbagai Negara, maka dari itu sekiranya hal - hal yang menyebabkan prektek rasuah ini masih saja ada pada zaman sekarang ini.
dilakukan itu berbeda – beda, dari yang mempunyai skala kecil, sampai dengan skala yang besar, yang mana dari melakukan suap sampai dengan mengambil uang milik Negara demi kepentingan dan memperkaya diri sendiri. Hal ini tentunya membuat masyarakat sangat khawatir akan hal ini, maka dari itu di berbagai Negara, rasuah dinyatakan sebagai kejahatan yang sangat luar biasa dan hukumannya sangat berat bagi pelakunya.
Tabel 1.1
Daftar Peringkat Indeks Persepsi Korupsi Peringkat Negara Skor
107 Indonesia 34
126 Pakistan 29
136 Iran 27
159 Syria 20
166 Libya 18
172 Afganistan 12
173 Sudan 11
Sumber : Laporan Indeks Persepsi Korupsi Tahun 2014, Transparancy International Indonesia, Diolah
Jika merujuk dari laporan yang dikeluarkan oleh Transparency International di tahun 2014, yang menunjukkan bahwa yang termasuk ke dalam Negara yang paling rasuah ialah bukan saja Negara muslim yang tipologi nya sekuler, tetapi juga ada Negara muslim yang merupakan neo Islam seperti Afganistan, Iran, Libya, Pakistan dan juga Sudan. Sementara Negara muslim yang tipologinya sekuler yang dinilai termasuk dalam Negara yang tinggi praktek
Tabel 1.2
Daftar Peringkat Indeks Persepsi Korupsi Peringkat Negara Skor
1 Denmark 92
2 New Zealand 91
3 Finlandia 89
4 Sweden 87
5 Norway 86
Sumber : Laporan Indeks Persepsi Korupsi Tahun 2014, Transparancy International Indonesia, Diolah
Jika melihat pada tabel diatas pada laporan yang dikeluarkan oleh
Transparency International di tahun 2014, yang menjadi Negara yang paling bersih dan menjauhi dari praktek rasuah merupakan Negara non muslim, yaitu Denmark, New Zealand, Finlandia, Swedia, dan Norwegia. Sedangkan Negara muslim jauh tertinggal di belakang, jika sudah begini berarti bisa dikatakan bahwa Negara non muslim lebih pandai dan lebih mampu dalam menerapkan nilai – nilai terhadap anti rasuah jika dibandingkan dengan Negara muslim sendiri.
Jika melihat Indonesia, rasuah memang sudah ada dan mendarah daging sejak zaman pemerintahan terdahulu sampai dengan zaman pemerintahan sekarang, hal inilah yang membuat rasuah harus diberantas secara keseluruhan, karena pelaku praktek rasuah sangatlah cerdas dalam menyembunyikan berbagai praktek rasuahnya tersebut, dari rasuah yang kerugiannya tidak diraasakan langsung maupun yang dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat.
Jika bicara dan fokus pada Indonesia saja, yang mana Indonesia merupakan Negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, jika dilihat dari fakta dan kasus rasuah yang ada, masih pantaslah jika Indonesia menjadi surga para koruptor untuk melakukan tindak pidana korupsi, hal ini dikarenakan masih lemahnya dan belum maksimalnya hukum yang mengatur, bahkan di Indonesia masih terdapat beberapa praktek rasuah yang dilakukan oleh aparat hukum. Kemudian hal inilah yang dengan sendirinya akhirnya membentuk opini publik terhadap pemerintahan dan aparat Negara menjadi buruk dan cenderung tidak percaya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintahan dan aparat Negara tersebut.
Indonesia, rasuah juga bisa terjadi dari sifat individu itu sendiri yang akhlaknya buruk dan juga mempunyai sifat tamak atau rakus akan harta.
Sifat tamak atau rakus ini merupakan sifat yang buruk, sifat ini memang lumrah dimiliki oleh manusia, yang mana manusia merupakan makhluk yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang sudah dimiliki, dan apa yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT, biasanya sifat inilah yang dominan terhadap terjadinya rasuah di Indonesia, mereka yang mempunyai sifat tamak ini hanya memandang bahwa kesenangan dan kepuasan terletak pada melimpahnya harta kekayaan yang dimiliki, tanpa memperdulikan dari mana asal harta kekayaan tersebut dan juga rasuah merupakan cara yang cepat dan cara yang mudah untuk memperoleh kekayaan.
Rasuah yang dilakukan oleh pejabat Negara dan pegawai pemerintahan tentunya akan merugikan keuangan Negara dan juga dapat menghambat berkembangnya suatu daerah ataupun suatu Negara karena yang seharusnya uang yang awalnya untuk membangun ataupun untuk memperbaiki sarana prasarana, namun banyak sekali yang diselewengkan dan digunakan untuk kepentingan pribadi, dari tindakan segelintir orang inilah, masyarakat di suatu daerah ataupun suatu Negara banyak yang terkena dampaknya, akibat dari perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh pejabat Negara yang melakukan praktek rasuah.
ditekan dan bahkan bisa menghilangkan praktek rasuah di Indonesia, serta juga dapat mengembalikan dan menciptakan pemerintahan yang amanah, karena uang yang sudah dianggarkan dapat digunakan sebaik – baiknya oleh pihak terkait dan tidak disalah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Di dalam lembaga KPK tentunya terdapat kinerja atau laporan yang mana KPK biasa mengeluarkannya dalam bentuk laporan tahunan yang diterbitkan hampir di setiap tahun, sekiranya bagi masyarakat perlu mengetahui bahwa sesungguhnya telah efisien atau belum kinerja pada KPK. Jika telah diketahui bahwa kinerja KPK telah efisien, maka KPK dapat dikatakan juga sebagai lembaga yang amanah di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka perumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat efisiensi pada Komisi Pemberantasan Korupsi?
2. Seberapa besar input serta output yang dapat diperbaiki guna mencapai kondisi efisien melalaui potential improvement variable input output pada Komisi Pemberantasan Korupsi?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah : a. Untuk mengetahui tingkat efisiensi pada Komisi Pemberantasan Korupsi. b. Untuk mengetahui seberapa besar input serta output yang dapat diperbaiki guna mencapai kondisi efisien melalaui potential improvement variable input
output pada Komisi Pemberantasan Korupsi.
2. Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini penulis mengharapkan dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak, Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari penilitian ini antara lain :
a. Bagi penulis
meningkatkan pengetahuan mengenai tingkat efisiensi pada Komisi Pemberantasan Korupsi.
b. Bagi Lembaga
Penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan untuk meningkatkan kualitas dan senantiasa memperbaiki perannya dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi.
c. Bagi Universitas
Penelitian ini diharapkan berguna untuk kalangan akademis yang dijadikan sebagai pedoman, bahan referensi atau juga untuk kajian pustaka untuk menambah informasi bagi penelitian selanjutnya atau penelitian lainnya yang terkait.
d. Bagi Masyarakat
[image:28.612.119.523.133.564.2]BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Rasuah
Dalam kamus dewan edisi keempat (2010) terbitan dewan bahasa dan pustaka, malaysia, kata “rasuah” dimaknai sebagai “pemberian untuk menumbuk rusuk (menyuap, menyogok), (wang) tumbuh rusuk (sogok suap). (Kamus Dewan Edisi keempat Malaysia 2010:1292).
Sedangkan menurut KBBI, istilah “rasywah” yang tergolong nomina (kata benda) berarti “pemberian untuk menyogok (menyuap), uang sogok (suap)”(KBBI; 933).
Rasuah adalah penerimaan atau pemberian suapan sebagai upah atau
dorongan untuk seseorang individu karena melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang berkaitan dengan tugas rasmi.Suapan terdiri daripada
wang, hadiah, bonus, undi, perkhidmatan, jawatan upah, diskaun. (Akta Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia 2009 (ASPRM 2009) :Akta 694).
Terdapat empat kesalahan rasuah yang utama iaitu :
1) Meminta/menerima rasuah (seksyen16 & 17(a) ASPRM 2009)
2) Menawar/memberi suapan (seksyen17(b) ASPRM 2009)
4) Menggunakan jawatan/kedudukan untuk suapan pegawai badan awaw (seksyen 23 ASPRM 2009)
2. Korupsi
a. Pengertiaan Korupsi
Korupsi dan koruptor berasal dari bahasa latincorruptus, yakni berubah dari kondisi yang adil, benar dan jujur menjadi kondisi yang sebaliknya (Azhar, 2003:28). Sedangkan kata corruptio berasal dari kata kerja corrumpere, yang mempunyai arti yaitu busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik dan menyogok, orang yang dirusak, dipikat, atau disuap (Nasir, 2006:281-282). Korupsi adalah penyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi (Anwar, 2006:10). Masyarakat pada umumnya menggunakan istilah korupsi untuk merujuk kepada serangkaian tindakan - tindakan terlarang atau melawan hukum dalam rangka mendapatkan keuntungan dengan merugikan orang lain. Hal yang paling mengidentikkan perilaku korupsi bagi masyarakat umum adalah penekanan pada penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan publik.
menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi (KPK, 2006: 19-20).
Dalam UU No. 20 Tahun 2001 terdapat pengertian bahwa korupsi adalah tindakan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Ada sembilan tindakan kategori korupsi dalam UU tersebut, yaitu: suap, illegal profit, secret transaction, hadiah, hibah (pemberian), penggelapan, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan jabatan dan wewenang serta fasilitas negara.
b. Korupsi Dalam Hukum Islam
Tindak pidana korupsi sejatinya adalah salah satu tindak pidana yang cukup tua usianya. Hal ini dapat ditelusuri melalui sejarah klasik Islam yaitu pada masa Rasulullah sebelum turunnya surat Ali Imran ayat 161. Saat itu, kaum muslimin kehilangan sehelai kain wol berwarna merah pasca perang.Kain wol yang sebagai harta rampasan perang itu pun diduga telah diambil sendiri oleh Rasulullah Saw. Untuk menghindari keresahan kalangan muslim saat itu, Allah pun menurunkan surat Al Imran ayat 161 yang berbunyi :
Artinya: “tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya”.(QS al – Imran (3):161)
Tindak pidana korupsi sangat identik dengan penyalahgunaan jabatan yang didefinisikan sebagai perbuatan khianat dalam perspektif Islam. Karena jabatan yang telah disandang oleh seseorang adalah sebuah kepercayaan dari rakyat yang telah terlanjur menaruh harapan padanya atau jabatan yang langsung dibebankan atas nama negara yang tentunya bertujuan untuk menjalankan berbagai program yang bermuara kepada kesejahteraan rakyat.
Terlebih lagi jika amanat itu menyentuh pada ranah hukum seperti pegawai pada bidang kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dll yang berbasis kepada keadilan yang diinginkan oleh semua pihak.Amanat yang telah diemban itulah yang tentunya wajib untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.
Allah swt berfirman dalam beberapa ayat mengenai kewajiban menjalankan amanat, di antaranya di dalam Al – Qur’an Surat al – Anfal yang berbunyi:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Anfal
(8) : 27)
Amanat tentunya adalah sebuah kepercayaan yang wajib untuk dipelihara dan disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Allah swt berfirman:
Artinya :“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.Sesungguhnya Allah adalah
Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. an-Nisa (4) : 58)
Ayat - ayat tersebut menunjukkan adanya kewajiban menyampaikan amanat dan memelihara amanat yang telah dibebankan kepada orang yang dipercayanya. Sehingga apabila kewajiban yang tidak ditunaikan, tentunya terdapat keharaman dan hukuman yang mengiringinya.
memiliki kekuasaan agar dapat memengaruhinya atau memenuhi keinginannya. Al-Qur’an menjelaskan mengenai keharaman melakukan suap atau korupsi dan juga sabda Rasulullah saw mengenai pelaku suap menyuap, yaitu:
Artinya :“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah (2) : 188)
Menurut Zaenal Abidin bin Syamsudin (2008:18) dalam bahasa agama, korupsi, suap, sogok, uang pelican, money politics, pungli dan kelompok turunannya digolongkan sebagai risywah, yakni tindakan atau perbuatan seseorang yang memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain dengan tujuan memengaruhi keputusan pihak penerima agar menguntungkan pihak pemberi secara melawan hukum.
Umumnya risywah terjadi melalui kesepakatan antara dua pihak, pemberi (risywah) dan penerima (murtasyii) suap. Namun, kadang ia juga melibatkan pihak ketiga sebagai perantara.
kehidupan masyarakat. Tak hanya subur di Negara kita, praktik ini juga terjadi di Negara maju sekalipun. Padahal Nabi Muhammad SAW menegaskan, risywah merupakan tindakan yang sangat tercela, dibenci agama dan dilaknat Allah SWT.
3. Komisi Pemberantasan Korupsi
a. Pengertian Komisi Pemberantasan Korupsi
Menurut Undang – Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, menjelaskan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia adalah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, KPK diberi amanat melakukan pemberantasan korupsi secara profesional, intensif, dan berkesinambungan. KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen, yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun.
atau sebagai stimulus agar upaya pemberantasan korupsi oleh lembaga - lembaga yang telah ada sebelumnya menjadi lebih efektif dan efisien.
b. Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi
Adapun tugas KPK adalah koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi (TPK), supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap TPK, melakukan tindakan - tindakan pencegahan TPK dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Dalam pelaksanaannya tugasnya, KPK berpedoman kepada lima asas, yaitu: kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, dan proposionalitas. KPK bertanggung jawab kepada publik dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada presiden, DPR, dan BPK.
Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas:
1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Dalam melaksanakan tugas koordinasi, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang :
1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi.
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi.
3. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait.
4. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, dan
5. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi.
Selengkapnya mengenai tugas, wewenang, dan kewajiban Komisi Pemberantasan Korupsi, dapat dilihat pada Undang - Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
c. Struktur Komisi Pemberantasan Korupsi
Kelima pimpinan KPK tersebut merupakan pejabat negara, yang berasal dari unsur pemerintahan dan unsur masyarakat. Pimpinan KPK memegang jabatan selama empat tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan.Dalam pengambilan keputusan, pimpinan KPK bersifat kolektif kolegial.
Pimpinan KPK membawahkan empat bidang, yang terdiri atas bidang Pencegahan, Penindakan, Informasi dan Data, serta Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat. Masing-masing bidang tersebut dipimpin oleh seorang deputi. KPK juga dibantu Sekretariat Jenderal yang dipimpin seorang Sekretaris Jenderal yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Republik Indonesia, namun bertanggung jawab kepada pimpinan KPK.
Ketentuan mengenai struktur organisasi KPK diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan masyarakat luas tetap dapat berpartisipasi dalam aktivitas dan langkah - langkah yang dilakukan KPK. Dalam pelaksanaan operasional, KPK mengangkat pegawai yang direkrut sesuai dengan kompetensi yang diperlukan.
d. Visi dan Misi Komisi Pemberantasan Korupsi
Visi KPK di tahun 2011 - 2015 yaitu menjadi lembaga penggerak pemberantasan korupsi yang berintegritas, efektif, dan efisien.
Misi KPK adalah sebagai berikut:
2. Melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap Tindak Pidana Korupsi.
4. Melakukan tindakan - tindakan pencegahan Tindak Pidana Korupsi.
5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
4. Teori Efisiensi
a. Pengertian Efisiensi
Hendri Tanjung dan Abrista Devi (2013:320) menyatakan bahwa dalam teori manajemen konvensional, kinerja organisasi dinilai dari seberapa bagus suatu organisasi mampu meminimalkan biaya dan menciptakan kekayaan. Kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dengan biaya serendah mungkin dan menghasilkan output kekayaan sebanyak-banyaknya melahirkan konsep efisiensi. Berdasarkan sudut pandang perusahaan dikenal tiga macam efisiensi, yaitu (Prasetyo, 2007):
1. Technical efficiency dapat merefleksikan kemampuan perusahaan untuk
proses produksi dikatakan efisien secara teknis apabila output dari suatu barang tidak dapat lagi ditingkatkan tanpa mengurangi output dari barang lain.
2. Allocative efficiency dapat merefleksikan kemampuan perusahaan dalam
mengoptimalkan penggunaan inputnya dengan struktur harga dan teknologinya. Terminology efisiensi Pareto sering disamakan dengan efisiensi alokatif untuk menghormati ekonom Italia Vilfredo Pareto yang mengembangkan konsep
efficiency in exchange. Efisiensi pareto mengatakan bahwa input produksi digunakan secara efisien apabila input tersebut tidak mungkin lagi digunakan untuk meningkatkan suatu usaha tanpa menyebabkan setidak - tidaknya keadaan suatu usaha yang lain menjadi lebih buruk. Dengan kata lain, apabila input dialokasikan untuk memproduksi output yang tidak dapat digunakan atau tidak diinginkan konsumen, hal ini berarti input tersebut tidak digunakan secara efisien.
3. Economic efficiency, yaitu kombinasi antara efisiensi teknikal dan efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomis secara implicit merupakan konsep least cost
production. Untuk tingkat output tertentu, suatu perusahaan produksinya
Menurut Ivan Gumilar dan Siti Komariah (2011:101), secara umum terdapat 3 pendekatan konsep dasar model efisiensi sektor finansial, termasuk industri perbankan yaitu :
a. Cost Efficiency pada dasarnya mengukur tingkat biaya suatu bank dibandingkan dengan bank yang memiliki biaya operasi terbaik (best practice
bank’s cost) yang menghasilkan output yang sama dengan teknologi yang sama.
b. Standard Profit Efficiency pada dasarnya mengukur tingkat efisiensi suatu bank didasarkan pada kemampuan bank untuk menghasilkan profit maksimal pada tingkat harga output tertentu dibandingkan dengan tingkat keuntungan bank yang beroperasi terbaik (best practice bank) dalam sampel. Model ini sering kali dikaitkan dengan suatu kondisi pasar persaingan sempurna didalam harga input dan output ditentukan oleh pasar. Dengan kata lain tidak satupun bank yang menentukan harga input maupun harga output sehingga bank tidak sebagai price taking agent.
Menurut Abidin dan Endri (2009:22) efisiensi merupakan salah satu parameter kinerja yang secara teoritis mendasari seluruh kinerja sebuah organisasi dengan mengacu pada filosofi “kemampuan menghasilkan output yang optimal dengan inputnya yang ada, adalah merupakan ukuran kinerja yang diharapkan”. Ketika membicarakan mengenai pemanfaatan secara lebih baik dari setiap sumber daya yang telah diberikan, maka hal tersebut merupakan konsep yang sangat dasar mengenai efisiensi (Shahid, Dkk, 2010:25).
Menurut Muharram dan Pusvitasari (2007) pengukuran efisiensi dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu:
1. Pendekatan Rasio: mengukur efisiensi dengan cara menghitung perbandingan output dan dengan inout yang digunakan. Pendekatan rasio akan dinilai efisien yang tinggi jika produksi ouput yang maksimal dengan input yang minimal. Efisiensi = input output. Menurut Chu-Fen Li (2007) melihat pendekatan rasio sebagai “the most critical limitation of the financial ratio is that they fail to consider the multiple input-output”. Oleh karena itu pendekatan ini belum mampu menilai kinerja lembaga keuangan secara menyeluruh.
2. Pendekatan Regresi: pendekatan ini dalam mengukur efisiensi menggunakan sebuh model dari tngkat output tertentu sebagai fungsi dari berbagai tingkat input tertentu. Persamaan regresi dapat ditulis sebagai berikut :
Y=f (X1. X2, X3, X4……….Xn)
Pendekatan ini juga tidak dapat mengatasi kondisi banyak output karena hanya satu indikator output yang dapat ditampung dalam sebuh persamaan regresi.
3. Pendekatan frontier: pendekatan frontier dalam mengukur efisiensi dibedakan menjadi dua jenis yaitu pendekatan frontier non perametrik dapat diukur dengan tes non parametric yaitu dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Pendekatan frontier parametric dapat diukur dengan tes
parametric yaitu Stockhastic Frontier Analysis (SFA) dan Distribution Free
Analysis (DFA). Persamaan perhitungan menggunakan metode non parametric
dan metode parametric yaitu sama - sama menggunakan input dan output sebagai
variabel. Dalam penelitian ini digunakan metode parametric Data Envelopment Analysis (DEA).
Menurut Adisasmita R. (2006), Efisiensi adalah input yang digunakan, dialokasikan secara optimal dan baik untuk mencapai output yang menggunakan biaya terendah. Efisiensi berarti pemanfaatan sumber daya ekonomi dengan cara - cara paling efektif. Efektif berarti bahwa output yang dihasilkan benar - benar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Efisien dapat diartikan pula bahwa segala input dialokasikan sedemikian rupa, hingga output dapat diproduksi dengan biaya termurah.
masyarakat, efisiensi berarti menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan kebijakan pemerintah seharusnya diupayakan untuk menghindari pemborosan, meningkatkan kehematan, dan menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Kepmendagri Nomor 13 Tahun 2006, Efisien adalah pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah. Untuk mencapai keluaran tertentu dalam suatu sistem persaingan yang sehat, produsen-produsen mampu menerapkan teknik - teknik produksi dengan biaya - biaya produksi yang termurah, sehingga tercapailah efisiensi.
Namun kenyataannya banyak produsen tidak mengetahui sehingga tidak mampu menggunakan teknik produksi yang paling murah, maka biaya produksinya lebih tinggi, yang berarti tidak efisien. Banyak pabrik dan industri telah menimbulkan pencemaran udara dan pencemaran air yang menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat sekitarnya, berupa kerusakan kesehatan dan harta benda.
Singkatnya menurut Kamus Lengkap Ekonomi (2002:149) Bahwa: “Efisiensi adalah Rasio atau perbandingan usaha atau kerja yang berhasil, dan seluruh kerja atau pengorbanan yang dikerahkan untuk mencapai hasil tersebut dengan kata lain, rasio antara input dan output”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Efisiensi merupakan sebuah metode perbandingan antara usaha yang dilakukan dengan hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perusahaan dalam melakukan kegiatan.
Menurut Kumbhaker dan Lovell (2000), efisiensi teknis hanya merupakan satu komponen dari efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Namun, dalam rangka mencapai efisiensi ekonominya suatu perusahaan harus efisien secara teknis. Dalam rangka mencapai tingkat keuntungan yang maksimal, sebuah perusahaan harus memproduksi output yang maksimal dengan jumlah input tertentu (efisiensi teknis) dan memproduksi output dengan kombinasi yang tepat dengan tingkat harga tertentu (efisiensi alokatif).
Menurut Farrell (1957) efisiensi dari perusahaan terdiri dari dua komponen, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis mencerminkan kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan output dengan sejumlah input yang tersedia. Sedangkan efisiensi alokatif mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan inputnya, dengan struktur harga dan teknologi produksinya. Kedua ukuran ini yang kemudian dikombinasikan menjadi efisiensi ekonomi (economic efficiency). Suatu perusahaan dapat dikatakan efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut dapat meminimalkan biaya produksi untuk menghasilkan output tertentu dengan suatu tingkat teknologi yang umumnya digunakan serta harga pasar yang berlaku.
b. Efisiensi Dalam Hukum Islam
Tujuan efisiensi adalah untuk mencapai keuntungan optimal.Dalam Islam istilah efisiensi tidak dikenal. Menekan biaya yang sebesar – sebesarnya untuk mendapatkan keuntungan yang paling maksimal dalam teori produsen akan berakibat pada perbuatan dzalim yang tidak bersenyawa dengan ruh Islam. Dalam Islam, perwujudan keuntungan yang optimal dihasilkan melalui usaha yang optimal (kerja keras) untuk menghasilkan sesuatu secara optimal dengan tetap menjaga keseimbangan (ta’adul) dan etika syariah.
produsen mesti memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Untuk mewujudkan optimalisasi dan keseimbangan, Islam memberikan beberapa
guidance, di antaranya :
1. Memanfaatkan seluruh potensi sumber daya alam
Islam menghendaki umatnya untuk bekerja memakmurkan bumi dan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya alam. Allah berfirman dalam surat Huud ayat 61 :
Artinya : dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah
kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)."
2. Spesialisasi Kerja
memperbesar surplus dan perdagangan internasional. Pembagian tenaga kerja internasional akan lebih tergantung pada perbedaan keahlian dan keterampilan penduduk dibandingkan dengan ketersediaan sumber daya alam. Dalam Islam, prinsip dasar tentang spesialisasi dapat ditelaah dalam hadits Nabi saw yang menjelaskan tentang konsep itiqan dan ihsan.
3. Larangan Terhadap Riba
Salah satu cara Islam mewujudkan efisiensi dengan cara minimalisasi biaya produksi adalah dengan pengharaman riba (bunga). Sebagai bagian dari elemen biaya tetap dalam produksi, penghapusan Bunga akan membuat biaya produksi lebih rendah (efisien).
4. Larangan Israf dan Tabdzir dalam produksi
Artinya : “dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.
5. Konsep CRS dan VRS
Hendri Tanjung dan Abrista devi (2013:332) menyebutkan frontier
analysis menggunakan dua pendekatan model yang umum digunakan, yaitu model
Charnes, Cooper dan Roodes (CCR) yang dikembangkan pada tahun 1978 dan model Banker, Charnes dan Cooper (BCC) pada tahun 1984 (Coelli, et.al, 2005). Model CCR (rasio) merupakan model yang digunakan secara luas dalam model DEA.
1) Constant Return to Scale (CRS)
Untuk mendapatkan skor efisiensi bagi perusahaan I( ), yang memiliki satu input x dan satu output y, diperoleh dengan memecahkan sistem persamaan linier sebagai berikut :
St
Keterangan: Y = X =
N = jumlah unit bisnis yang diobservasi x1 = input x untuk unit bisnis 1
y1 = output y untuk unit bisnis 1 = vector dari konstan
2) Variable return to Scale (VRS)
beroperasi pada skala optimal. Dengan tujuan inilah, Banker, Charnes, dan Cooper (1984) memperkenalkan model DEA VRS.
Efisiensi Teknis (TE) yang dihitung dengan model VRS ini disebut sebagai efisiensi Teknis Murni (Pure Technical Efficiency [PTE]), yang selanjutnya disebut efisiensi teknis. Dengan melakukan estimasi frontier
menggunakan model CRS dan VRS, maka dapat dilakukan dekomposisi Efisiensi Teknis Keseluruhan (Overall Technical Efficiency [OTE]) menjadi Efisiensi Teknis Murni (Pure Technical efficiency [PTE]) dan Efisiensi Skala (Scale Efficiency [SE]). Maka perhitungan secara matematisnya adalah :
OTE = PTE x SE
Skor efisiensi DEA dengan ancangan VRS diperoleh dengan mencari solusi sistem persamaan berikut ini, yang sebenarnya serupa dengan persamaan pada model CRS, namun dengan menggunakan kendala konveksitas N1’ = 1, sehingga :
Keterangan: Y = X =
N = jumlah unit bisnis yang diobservasi x1 = input x untuk unit bisnis 1
y1 = output y untuk unit bisnis 1 N1’ = N X 1 vector 1
6. Orientasi Pengukuran Data Dengan Menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA)
Hendri Tanjung dan Abrista Devi (2013:322) menyebutkan pengukuran model efisiensi dapat dilihat melalui dua pendekatan, yaitu : pendekatan pada sisi input dan pendekatan pada sisi output. Menjelaskan pendekatan ukuran efisiensi sebagai berikut:
1) Pendekatan Sisi Input
Pendekatan sisi input digunakan untuk menjawab berapa banyak kuantitas input dapat dikurangi secara proporsional untuk memproduksi kuantitas output yang sama. Pendekatan input ini digunakan jika kondisi pasar sudah mengalami tingkat “jenuh” sehingga perusahaan perlu mengetahui tingkat efisiensi dari sumber daya yang ada saat ini.
Berbeda dengan pendekatan sisi input yang menjawab berapa banyak kuantitas input dapat dikurangi secara proporsional untuk memproduksi kuantitas output yang sama, pendekatan sisi output menjawab berapa banyak kuantitas output dapat ditingkatkan secara proporsional dengan kuantitas input yang sama. Pendekatan ini digunakan pada saat kondisi pasar masih bagus sehingga produsen diharapkan dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan output dengan input yang sama.
7. Konsep Input dan Output Dalam Pengukuran Efisiensi
Hadad, dkk (2003:3) menyebutkan ada tiga pendekatan yang biasa
digunakan dalam metode parametrik Stochastic Analysis (SFA), Distribution Free
Analysis (DFA) dan non parametrik DataEnvelopment Analysis (DEA) untuk
mendefinisikan hubungan input dan output dalam kegiatan finansial suatu lembaga keuangan yaitu:
1) pendekatan Aset (The Asset Approach)
Pendekatan aset mencerminkan fungsi primer sebuah lembaga keuangan sebagai pencipta kredit pinjaman (loans). Dalam pendekatan ini, output
didefinisikan ke dalam bentuk aset.
2) Pendekatan Produksi (The Production Approach)
mendefinisikan output sebagai jumlah tenaga kerja, pengeluaran modal pada asset – asset tetap dan material lainnya.
3) Pendekatan Intermediasi (The Intermediation Approach)
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa lembaga keuangan bertindak sebagai perantara antara penabung dan peminjam dan menjadikan total kredit dan sekuritas sebagai output. Sedangkan deposito dengan tenaga kerja dan modal fisik didefinisikan sebagai input (Sufian, 2006:38).
8. Data Envelopment Analysis (DEA)
Fase pertama diawali dengan menggunakan metode DEA oleh Farrel (1957) untuk membandingkan efisiensi relatif dengan sampel petani secara cross section dan terbatas pada satu output yang dihasilkan oleh masing-masing unit sampel.
secara optimal oleh unit pelaku ekonomi ketika menghadapi harga pasar dalam pasar persaingan sempurna maupun dalam pasar persaingan tidak sempurna.
Alasan penggunaan DEA, yaitu (1) pemberian bobot penilaian untuk setiap variabel penentu kinerja dilakukan secara objektif, (2) DEA merupakan analisis titik ekstrim yang berbeda dengan tendensi pusat, sehingga setiap observasi atau unit kegiatan ekonomi dianalisis secara individual, (3) DEA membentuk referensi hipotesis (virtual production function) berdasar pada data observasi yang ada (Samubar saleh, 2000).
Menurut Insukrindo (2000) dalam Adhisty Mohammad Khariza (2009) menyatakan bahwa terdapat tiga manfaat dari pengukuran efisiensi dengan memperoleh efisiensi relatif yang berguna untuk :
a) Memudahkan perbandingan antar unit ekonomi yang sama,
b) Mengukur berbagai informasi efisiensi antar UKE sebagai bahan untuk
mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya, dan
c) Menentukan implikasi kebijakan dalam meningkatkan efisiensi.
Begitu pula jika nilai input semakin kecil bersamaan dengan nilai output yang semakin besar. Kelemahan analisis rasio terlihat pada kondisi dimana terdapat banyak input dan banyak output. Analisis DEA di desain secara spesifik untuk mengukur efisiensi relatif suatu unit produksi dalam kondisi terdapat banyak input maupun banyak output, yang biasaya sulit disiasati secara sempurna oleh tehnik analisis pengukur efisiensi lainnya (Hastarini Dwi Atmanti, 2005).
Efisiensi relatif suatu UKE adalah efisiensi suatu UKE dibanding dengan UKE lain dalam sampel yang menggunakan jenis input dan output yang sama. Dalam perkembangannya, DEA merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur efisiensi relatif dalam penelitian pendidikan, kesehatan, transportasi, pabrik, maupun perbankan (Sengupta, 2000 dalam Adhisty, 2009 dalam Rica Amanda, 2010).
DEA adalah metode dan bukan model yang mana dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa metodologi DEA merupakan sebuah metode non-parametrik yang menggunakan model program linear untuk menghitung perbandingan rasio input ouput untuk semua unit yang dibandingkan. Metode ini tidak memerlukan fungsi produksi dan hasil perhitungannya disebut nilai efisiensi relatif (Erwita siswadi dan Wilson Arafat, 2004 dalam Dhita Triana Dewi, 2010).
Meskipun memiliki banyak kelebihan dibandingkan analisis rasio parsial dan regresi umum, namun DEA juga memiliki keterbatasan antara lain :
b) Metode DEA berasumsi bahwa setiap unit input atau output identik dengan unit lain dalam tipe yang sama dan tidak mampu mengenali perbedaan tersebut, sehingga DEA dapat memberikan hasil yang bias. Maka diperlukan pengukuran data base yang lebih spesifik.
c) Metode DEA berasumsi pada constant return to scale (CRS) menyatakan bahwa perubahan proporsional pada semua tingkat input akan menghasilkan perubahan proporsional yang sama pada tingkat output. Asumsi ini penting karena memungkinkan semua UKE diukur dan dibandingkan terhadap unit isokuan walaupun pada kenyataannya hal tersebut jarang terjadi.
d) Bobot input dan output yang dihasilkan dalam DEA sulit ditafsirkan dalam nilai ekonomi meskipun koefisien tersebut memiliki formulasi matematik yang sama.
B. Penelitian Terdahulu
1. Harjum Muharam dan Pusvitasari (2007)
Penelitian ini berjudul “Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Syariah di Indonesia dengan Metode Data Envelopment Analysis (periode tahun 2005)”.Variabel input yang digunakan dalam penelitian ini adalah simpanan dan biaya operasional lain, sedangkan output yang digunakan adalah pembiayaan, aktiva lancar, dan pendapatan operasional lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bank-bank syariah di indonesia periode 2005.
Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada perbedaan nilai efisiensi anatara BUS dan UUS tidak ada perbedaan efisisnsi antara bank syariah BUMN dan bank syariah non BUMN, tidak ada perbedaan nilai efisiensi bank syariah swasta non devisa dan bank syariah devisa. Hanya bank BTN syariah, bank Niaga syariah, dan bank permata syariah selalu mencapai nilai efisiensi 100 persen selama periode pengamatan.
2.Lela Dina Pertiwi (2007)
Menurut hasil dari penelitian ini ialah bahwa Efisiensi pengeluaran pendidikan di setiap Kabupaten di Jawa Tengah cenderung belum efisien.Sedangkan untuk pengeluaran kesehatan hanya satu jota yang mengalami kondisi efisien yaitu Kota Salatiga (100%).
3. Nasher Akbar (2009)
Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi organisasi Pengelola Zakat Nasional Dengan Pendekatan Data Envelopment Analysis”.Tujuan dari penelitiaan ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi Organisasi Pengelola Zakat, sehingga dapat diketahui manakah OPZ yang paling efisien. Diharapkan dari studi ini akan ditemukan variabel – variabel yang bekerja inefisien dan seberapa besar variabel – variabel tersebut dapat ditingkatkan efisiennya. Analisis data yang digunakan adalah non-parametric analisis metodologi Data Envelopment Analysis (DEA). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi variabel input dan variabel output. Variabel input terdiri dari biaya personalia, biaya sosialisasi, dan biaya operasional lainnya, sedangkan variabel outputnya terdiri dari dana terhimpun dan dana tersalurkan.
4. Rakhmat Purwanto (2011)
Penelitian ini berjudul “Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Umum Konvensional (BUK) dan Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) (Periode 2006-2010)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi pada 21 bank-bank di indonesia yang terdiri dari 10 Bank Umum Konvensional (BUK) dan 11 Bank Umum Syariah (BUS) selama periode 2006-2010 dengan menggunakan Data Envelopment Analysisi (DEA).
Variabel input yang digunakan adalah jumlah simpanan, jumlah asset dan biaya tenaga kerja. Sedangkan variabel output yang digunakan adalah pembiyaan dan laba operasional. Hasil analisis menggunakan metode DEA menunjukkan bahwa selama periode 2006-2010 BUK dan BUS cenderung mengalami peningkatan efisiensi walaupun berfluktuatif dengan rata-rata efisiensi 83,29 persen untuk BUK dan 89,3 persen untuk BUS. Hal ini menunjukkan bahwa BUS sedikit lebih baik dari BUK di indonesia dalam hal efisiensinya. Pada pengujian hipotesis uji bedamenggunakan independent sample t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai efisiensi antara BUK dan BUS selama periode tahun 2006 - 2010.
5.Norazlina Abd. Wahab dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2012)
dalam penelitian ini adalah Data Envelopment Analysis (DEA). Variable input yang digunakan adalah No. of staff dan total expenditures, sedangkan variable output yang digunakan adalah total collection, total distribution, dan No. of zakat payers. Hasil dari penelitian ini adalah lembaga zakat di Malaysia telah menunjukkan efisiensi teknis rata-rata 80,6% dan juga inefisiensi teknis murni mendominasi skala efek inefisiensi dalam menentukan efisiensi teknis lembaga zakat di Malaysia.
6. Sandi Kusuma Wardana (2013)
Penelitian ini berjudul “Analisis Tingkat Efisiensi Perbankan dengan Pendekatan Non Parametrik Data Envelopment Analysis (DEA)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mrnganalisis kinerja fisiensi dari 13 bank komersial di indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan penelitian periode 2005-2011 dan memenuhi kriteria yang telah diharapkan. Analisis data yang digunakan adalah non parametric analisis metodologi Data Envelopment Analysis (DEA).
Menurut hasil tingkat efisiensi tidak berubah banyak antara 2005 dan 2011.Skor efisiensi mencapai tingkat atas pada tahun 2011 untuk semua bank. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam efisiensi antara bank umum yang dimiliki Negara dan bank umum swasta nasional di indonesia.
7. Dian Merini (2013)
Penelitian ini berjudul “Analisis Pengeluaran Pemerintah Sektor Publik di Kawasan Asia Tenggara: Aplikasi Data EnvelopmentAnalysis (DEA)”. Penelitian ini mengulas tentang teknis efisiensi pengeluaran pemerintah sektor publik yang terdiri dari sektor kesehatan, pendidikan dan infrastruktur di kawasan Asia Tengagara.
Variabel input yang digunakan yaitu Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan, Anggaran Pendidikan, dan Infrastruktur, sedangkan variabel output yaitu Angka Harapan Hidup(AHH)& Angka Kematian Bayi(AKB) (Kesehatan), Indeks Pendidikan & Angka partisipasi kasar sekolah menengah (Pendidikan), Konsumsi Listrik perkapita, akses sanitasi, akses air bersih, persentase jalan beraspal, dan akses internet (Infrastruktur).
Indonesia dan Phillipines dapat meningkatkan derajat efisiensi dengan cara melakukan pengurangan input pada tingkat output yang tetap melalui alokasi anggaran yang tepat sasaran dan atau sebaliknya meningkatkan ouput pada tingkat input yang tetap.
8. Norazlina Abd. Wahab dan Abdul Rahim Abdul Rahman (2013)
Penelitian ini berjudul “Determinants of Efficiency of Zakat Institutions in Malaysia: A Non-parametric Approach”. Penelitian ini meneliti produktivitas dan efisiensi lembaga zakat di Malaysia selama periode 2003-2007.Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa efisiensi lembaga zakat di Malaysia dengan memulai studi tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap efisiensi lembaga zakat di Malaysia dengan harapan untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja lembaga zakat di Malaysia.
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian Metode Penelitian
Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan 1. Harjum
Muharam dan Pusvitasari (2007 Analysis Perbandingan Efisiensi Bank Syariah di Indonesia dengan Metode Data Envelopment Analysis (periode tahun 2005) Data Envelopment Analysis (DEA) Hasil analisis
menggunakan metode Data Envelopment Analysis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilai efisiensi antara BUS dan UUS, tidak ada perbedaan efisiensi antara bank syariah BUMN dan bank syariah non BUMN, tidak ada perbedaan nilai efisiensi bank syariah swasta non devisa dan bank syariah devisa. Hanya bank BTN syariah, bank Niaga syariah, dan bank permata syariah selalu mencapai nilai efisiensi 100 persen selama periode pengamatan. Persamaan: Sama-sa