• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika bisnis Islam dalam persaingan usaha pada Pt. asuransi Syariah Mubarakah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Etika bisnis Islam dalam persaingan usaha pada Pt. asuransi Syariah Mubarakah"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.EI)

Oleh:

ZULKIPLI

104046201 731

KONSENTRASI ASURANSI SYARIAH

PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

i

diimbangi dengan jumlah tenaga profesional asuransi yang memadai, meyebabkan tingkat profesionalisme menjadi rendah. Hal ini melahirkan persaingan yang semakin ketat dan munculnya praktik-praktik tidak terpuji di pasar asuransi (persaingan yang tidak sehat) atau monopoly rent yang dapat menjadikan situasi pasar tidak kondusif.

Dengan adanya perkembangan jumlah perusahaan yang ada dalam persaingan asuransi syari’ah saat ini, dibutuhkan para ahli asuransi yang handal dan mampu mengembangkan perusahaan-perusahaan asuransi. Asuransi syari’ah saat ini yang banyak dikenal lapisan masyarakat luas dengan sistem yang Islami, dan kulturnya yang dapat menampilkan perusahaan asuransi syari’ah tersebut mampu bersaing dengan perusahaan asuransi lainnya dengan segala konsep nilai-nilai etika bersaing menurut syara’ dalam bisnis asuransi.

(3)

ii

karunia-Nya kepada Penulis selama proses penyusunan skripsi ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya, Penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Salawat dan salam semoga tercurah-limpahkan kepada junjungan besar, Nabi Muhammad SAW dengan misi pembebasannya telah memberikan sinar dalam peradaban manusia.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan karya tulis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Peran serta mereka sangat membantu Penulis dalam menyusun karya tulis ini. Penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormt yang besar kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH, MA, MM., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. Euis Amalia, M.Ag., dan Bapak Ah. Azharuddin Latief, M.Ag., selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Muamalah (Ekonomi Islam).

3. Bapak Dr. Fuad Thohari, M.Ag, beserta Ibu Rosdiana, M.A, selaku Pembimbing Skripsi yang telah memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

(4)

iii

6. Orang tua tercinta: Ibunda Ainun Wardah dan Ayahanda Shohib. N, yang tak pernah letih dan bosan mendoakan penulis dan semua anak kecintaannya. Kasih sayang, dorongan, nasehat, serta ridho keduanya merupakan pondasi bagi segala niat dan tekad penulis dalam menuntut ilmu dan menjalani hidup. Semoga Sang Kholiq mengampuni segala dosanya. Amin.

7. Ahmad Romdoni, Husni Tamrîn, Siti Nurjannah, Ahmad Ridwan SE, yang telah memberikan dukungan moril dan materil yang tak terhingga kepada penulis. 8. Ikhwân dan Akhwât di Program Studi Konsentrasi Asuransi Syariah 2004.

Terima kasih telah memberikan semangat dan doanya dalam proses penyusunan skripsi ini.

Harapan penulis, semoga skripsi ini bermanfaat dan mempunyai kontribusi yang signifikan bagi penelitian selanjutnya. Amin

Jakarta, 1 Februari 2010

(5)

iv

transliterasi Arab atas keputusan Kememtrian Agama dan Diknas RI, dengan modifikasi pada sistem penulisan sebagaimana dijelaskan di bawah ini:

Huruf Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin ا = Tidak dilambanngkan غ = gh

ب = b ف = f

ت

= t ق = q

ث = ts ك = k

ج = j ل = l

ح = h م = m

خ

= kh = ن n

د = d و = w

ذ = dz ھ = h

ر = r ء = Apostrof

ز = z ي = y =

س s =

ش sy =

ص s =

ض d

=

ط t

=

ظ z

=

(6)

v

___ِ__ i kasrah

___ُ__ u dammah

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Ketarangan

ي __َ___ ai a dan i

و ___َ__ au a dan i

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ا__َ_ â a dengan topi di atas

ي__ِ_ î i dengan topi di atas

(7)

vi

huruf al-Syamsiyyah yaitu ﺲﻤﺸﻟا dan contoh huruf al-Qomariyyah yaitu ﺮﻤﻘﻟا.

2. Syaddah ditandai dengan ( ّ ) dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf yang digandakan, contoh ﺔﻨﺠﻟا/ al-jannah, ta marbûtah dialih aksarakan dengan huruf /h/.

(8)

vii

Pedoman Transliterasi Arab Latin ...iv

Daftar Isi ...vii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ...6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...7

D. Kajian Pustaka ...8

E. Metode Penelitian ...9

F. Kerangka Teori ...11

G. Sistematika Penulisan ...12

BAB II. TINJAUAN TEORI A. Asuransi Syari’ah 1. Sistem Operasional Syari’ah ...26

a. Akad ...27

b. Mekanisme Pengelolaan Dana ...29

(9)

viii

C. Persaingan Usaha ...40

BAB III. GAMBARAN UMUM MENGENAI PERKEMBANGAN PT. ASURANSI SYARIAH MUBARAKAH

B. Profil Umum PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah ...48 C. Kondisi Persaingan Usaha PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah ...53

BAB IV. ANALISIS ETIKA BISNIS ISLAMDALAM PERSAINGAN USAHA PT. ASURANSI SYARIAH MUBARAKAH

A. Pandangan dan Aplikasi Etika Bisnis Islam dalam Persaingan Usaha Pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah ...58

B. Faktor dan Kendala yang Mempengaruhi Penerapan Etika Bisnis Islam dalam PersainganUsaha Asuransi Syari’ah PT. Mubarakah

1. Faktor ...67

(10)

ix

1. Dampak Positif dan ………78

2. Negatif ...78

BAB V SARAN DAN PENUTUP

A. Kesimpulan ...82

B. Saran ...84

Daftar Pustaka Sementara ...85

(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan atau dinamika pasar asuransi Indonesia sangat kompleks. Pada dekade terakhir ini perkembangan industri asuransi umum Indonesia diwarnai hal-hal, yang menyebabkan pasar semakin kompetitif dan persaingan semakin ketat. Fenomena asuransi dinegeri ini semakin menarik untuk dicermati, dengan masuknya perusahan-perusahan multinasional semakin menambah ketatnya persaingan memperebutkan pasar. Sebagai salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia, jumlah penduduk Indonesia saat ini, yaitu 203,4 juta jiwa (sensus penduduk tahun 2000) yang diproyeksikan meningkat menjadi 220 juta jiwa pada tahun 2006 dengan laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,25% (BPS 2003) (www.Menkokesra.go.id). Tentu saja Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi perkembangan bisnis asuransi.1

Kajian Biro Riset Info Bank menunjukkan persaingan industri asuransi di Indonesia, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum selama 2005 dan semester pertama 2006 semakin ketat. Hal ini disampaikan Eko B.Supriyanto dalam acara pengumuman mengenai rating 130 asuransi versi Info Bank di Jakarta, hari ini. Perusahaan asuransi jiwa yang tergolong besar semakin menfokuskan diri membidik

1

Setiawan Assegaff, “Profesionalisme Agen Asuransi Indonesia”, 30 Oktober 2009 diakses dari

(12)

pasar menengah ke atas. “Pasar menengah ke bawah semakin menciut karena menurunnya ekonomi, ditambah dengan kenaikan bahan bakar minyak sebesar 126 persen Oktober tahun lalu”, ujar Eko. Sementara itu, untuk asuransi umum, sektor korporasi masih belum pulih. “Baik asuransi umum besar dan kecil semuanya berebut pasar ritel”. Akibatnya, terjadi perang dengan menawarkan harga serendah-rendahnya. Kondisi ini dalam jangka panjang bisa memastikan industri asuransi.2

Jumlah perusahaan asuransi yang semakin banyak ini tidak diimbangi jumlah tenaga profesional asuransi yang memadai, sehingga tingkat profesionalisme menjadi rendah. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan yang semakin ketat dan munculnya praktik-praktik tidak terpuji di pasar asuransi (persaingan yang tidak sehat) monopoly rent yang menjadikan situasi pasar tidak kondusif3, hal tersebut menimbulkan kasus-kasus pada perusahaan asuransi. Jumlah pengaduan kasus-kasus asuransi berdasarkan data dari Departemen Keuangan per Agustus 2003 adalah 243 kasus. Yang sudah terselesaikan 115 kasus dan belum terselesaikan 128 kasus. Diindikasikan banyak masalah asuransi yang dihadapi oleh masyarakat tertanggung yang tidak dilaporkan resmi ke Departemen Keuangan karena alasan alasan tertentu.4

Diungkapkan Muhaimin Iqbal, Perkembangan asuransi syariah ternyata cukup menjanjikan. Tahun 2005 ini saja, asuransi syariah diperkirakan tumbuh hingga 80 %.

2

Biro Riset Info Bank Eko B.Supriyanto dalam acara pengumuman mengenai rating 130

asuransi versi InfoBank di Jakarta. Artikel diakses 2 November 2009 dari

http://www.AAUI.com/news/files/Artikel_ 3

Herris B Simandjuntak, “Pasar Asuransi Indonesia Semakin Kompetitif (2000)”, artikel

diakses pada tanggal 30 Oktober 2009 dari www.kompas.com

4

Kapler A Marpaung, “Kepercayaan Publik dan Kasus dalam Perasuransian”, artikel diakses

(13)

Angka tersebut berarti lebih baik dari angka asuransi konvensional yang hanya tumbuh 15 % pertumbuhannya masih tinggi tahun ini saja mencapai 80 %”, nilai premi asuransi syariah saat ini masih sangat rendah. Namun pertumbuhan dan perkembangannya masih akan tinggi dan bahkan diprediksi tahun depan dapat mencapai 80-100 %, Info Bank, (Jakarta), usai pembukaan kursus internasional Islamic Insurance and Takaful Jakart a, 21 November 2005. Pertumbuhannya tahun depan minimal sama dengan tahun sekarang. Mungkin tahun depan bisa mencapai 80-100 %,. Premi yang dikumpulkan oleh asuransi syariah umumnya sebagian besar ditanamkan di bank syariah dan reksa dana syariah. Namun penyalurannya harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah Mengenai persaingan asuransi syariah dan konvensional memang ada, namun jumlahnya sangat tidak signifikan. Di Indonesia, perkembangan asuransi syariah dimulai tahun 1994 yang dipelopori oleh Takaful Indonesia yang menjadi dasar perkembangan asuransi syariah Indonesia, walaupun telah terdapat banyak pada saat ini persaingan-persaingan pada dunia asuransi.

(14)

Dalam pelaksanaan operasional-nya selain memiliki peran perencanaan perlindungan kerugian bagi masyarakat, asuransi syariah juga memiliki peran yang sangat penting yaitu pengelolaan dana masyarakat dalam bentuk kegiatan investasi, oleh karena itu asuransi juga memiliki tanggung jawab ekonomi, karena dana yang disetorkan nasabah merupakan amanah yang harus dilaksanakan dan di kelola dengan baik, termasuk dalam hal keputusan investasi, sehingga diperlukan analisa yang tepat mengacu pada studi kelayakan bisnis.

Seiring dengan perkembangannya, asuransi syari’ah tidak luput dari pemahaman tentang etika bisnis Islam dalam persaingan usaha, yang dapat membekali para masyarakat luas umumnya sekaigus menjadi peserta asuransi, dan bagi para karyawan perusahaan khususnya menjadi sebuah pengetahuan tersendiri dan pandangan bahwa ia merupakan hal yang vital dalam perjalanan sebuah aktivitas bisnis professional.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syahata, bahwa EBI dalam persaingan usaha/bisnis mempunyai fungsi subtansial yang membekali para pelaku bisnis beberapa hal sebagai berikut ini:

1. Membangun kode etik Islam yang mengatur, mengembangkan, dan menancapkan metode bersaing dalam berbisnis dalam kerangka ajaran agama,

(15)

3. Kode etik ini dapat menjadi dasar hukum dalam menetapkan tanggung jawab pelaku bisnis, terutama bagi diri mereka sendiri, antara komunitas bisnis, masyarakat, dan di atas segalanya adalah tanggung jawab di hadapan Allah SWT, 4. Kode etik ini dipersepsi sebagai dokumen hukum yang dapat menyelesaikan

persoalan yang muncul, dari pada harus diserahkan kepada pihak peradilan, 5. Kode etik ini dapat memberikan kontribusi dalam penyelesaian banyak persoalan

yang terjadi antara sesama pelaku bisnis, antara pelaku bisnis dan masyarakat tempat mereka bekerja. Sebuah hal yang dapat membangun persaudaraan (fraternity) dan kerja sama (cooperation) antara mereka semua,

6. Kode etik ini juga dapat membantu mengembangkan kurikulum pendidikan, pelatihan, dan seminar yang diperuntukkan bagi pelaku bisnis yang harus menggabungkan nilai-nilai, moral, dan perilaku dalam bersaing di dalam dunia bisnis baik dengan prinsip-prinsip bisnis kontemporer,

7. Kode etik ini dapat mempresentasikan bentuk aturan Islam yang konkrit dan bersifat kultural sehingga dapat mendeskripsikan comprehensiveness (universalitas) dan orisinalitas ajaran Islam yang dapat diterapkan di setiap zaman dan tempat, tanpa harus bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi.5

Upaya atau usaha menjamin agar setiap orang yang berusaha di Indonesia berada dalam situasi persaingan yang sehat dan wajar adalah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan posisi dominan oleh pelaku ekonomi tertentu,

5

Faisal Badroen, Etika Bisnis dalam Islam, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2007,

(16)

spesifikasinya dalam bisnis asuransi syari’ah. Kesempatan berusaha yang terjaga akan membuka lebar kesempatan konsumen untuk mendapatkan pilihan produk asuransi syari’ah yang tak terbatas, yang memang menjadi hak mereka. Berjalannya kehidupan ekonomi yang menjamin keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha/bisnis asuransi syari’ah dan kepentingan umum ini pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena masyarakat umum menghendaki segala hal yang menyangkut bidang perekonomian di Indonesia ini yang dapat mewujudkan dan menjadikan aktivitas yang terdapat dalam perekonomian di Negara kita ini lebih dipandang oleh mata dunia khususnya dalam dunia perasuransian syari’ah, dan agar nantinya tercipta apresiasi masyarakat Indonesia sendiri terhadap kompetensi pemerintah yang dapat mewujudkannya.

Demikian pula Ibnu Abidin6 mensinyalir bahwa:”seorang professional ataupun industriawan tidak dibenarkan untuk melarang pihak lain yang ingin memasuki dunia professional atau industri tertentu, jalan harus dibuka bagi pihak mana pun yang hendak belajar untuk dunia tersebut, tanpa terkecuali dan tidak dihalalkan untuk menghalanginya”. Di lain pihak, dalam konteks yang sama yang lebih umum al-Satibi menegaskan dalam bukunya “al-Muwaafaqaat fii Ushuulil Ahkaam” bahwa setiap aktivitas yang akan membawa kepada maslahat, tidak dibenarkan untuk melarangnya, selama kemaslahatan tersebut memang tercipta dari aktivitas tersebut..7 Jelas sekali keduanya sepakat bahwa pembatasan pada aktivitas

6

Ibid, h. 97

7

(17)

produksi oleh pihak-pihak tertentu tak terkecuali pemerintah untuk tujuan memonopoli adalah inti dari pemahaman modern akan monopoli itu sendiri, apalagi jika hal tersebut ditujukan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

Lembaga-lembaga keuangan syari’ah (asuransi syari’ah) yang dalam melaksanakan aktivitas perusahaan memerlukan adanya arah pandang yang jelas, sehingga apa yang menjadi tujuannya dalam bersaing di dunia bisnis dapat dirumuskan dengan seksama dan pencapaiannya dapat direncanakan dengan tepat dan terinci (optimal). Adapun arah pandang lembaga-lembaga keuangan syari’ah (asuransi syari’ah) tersebut kemudian dirumuskan atau terkonsep dalam suatu visi dan misi yang menjadi tujuan dan bekal prospek yang akan datang.

(18)

memperhatikan etika Islam dalam berkompetisi. Tidak jarang para pakar atau juga alim Ulama Indonesia (MUI) memberikan fatwa-fatwanya dalam menuntun dan juga mengarahkan perusahaan-perusahaan asuransi syari’ah di Indoneisa yang terbentuk dalam bagian perusahaan yaitu sebagai Dewan Pengawas Syari’ah (DPS).

Dalam persoalan inilah yang kemudian penulis angkat dalam skripsi yang berjudul “Penerapan Etika Bisnis Islam Dalam Persaingan Usaha Asuransi Syari’ah Pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah ”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini diarahkan dalam rangka meneliti bagaimana persaingan usaha asuransi syari’ah pada PT. Mubarakah sesuai dengan norma atau etika bisnis Islam. Dari pembatasan diatas, maka masalah yang dapat penulis rumuskan adalah sebagai berikut:

2. Perumusan masalah

a. Bagaimana penerapan Etika Bisnis Islam dalam persaingan usaha asuransi pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.?

b. Apa faktor yang mempengaruhi penerapan etika bisnis Islam dalam persaingan usaha asuransi pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.?

(19)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

a. Untuk mengetahui penerapan Etika Bisnis Islam dalam persaingan usaha pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.

b. Untuk mengetahui faktor dan kendala penerapan etika bisnis Islam dalam persaingan usaha pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.

c. Untuk mengetahui dampak dari penerapan Etika Bisnis Islam dalam persaiangan usaha pada PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah

2. Manfaat Penelitian

Dengan adanya hasil yang dapat diperoleh dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak yaitu :

a. Untuk pemerintah, bahan acuan yang bisa dijadikan sebagai informasi dan sebagai arah kebijakan perekonomian

b. Untuk masyarakat, sebagai bahan informasi dan pendorong semangat motivasi dalam atau untuk melakukan kegiatan investai dalam dunia asuransi khususnya syari’ah.

c. Untuk lembaga keuangan syari’ah (LKS), sebagai analisis yang berpotensi kepada skema pengelolaan keuangan berbasis syari’ah.

(20)

D. Kajian Pustaka

1. Sabik Emhaqi, tahun 2003 “Etika Pemasaran Dalam Asuransi Islam (studi kasus Bringin Life Syari’ah)”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konsep etika pemasaran atau marketer pada PT. Asuransi Bringin Life cabang Syari’ah. Perbedaannya dengan skripsi saya, yaitu penulis menitik beratkan analisis melalui kode etik marketing dengan konsep syari’ah.

2. “Konsep Etika Bisnis Perdagangan Global Dalam Pandangan Islam”. Skripsi yang ditulis oleh Badiatul Luthfiani, tahun 2004. Dengan penerapan etika yang ruang lingkupnya pada perdagangan global. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai etika bisnis perdagangan global menurut pandangan Islam. Perbedaannya dengan skripsi saya, yaitu penulis mencoba mengimplementasikan nilai-nilai etika berbisnis yang penganalisaannya melalui pendekatan dari segi pandangan Islam.

(21)

4. “Etika Promosi Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam”. Skripsi yang ditulis oleh Siti Yuliani, tahun 2003. Adapun tujuan dan perbedaannya dengan skripsi saya, adalah penulis mensosialisasikan produk asuransi syari’ah dengan nilai-nilai etika promosi yang berlandaskan pada nilai-nilai etika Islam yang terdapat dalam Ekonomi Islam.

E. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data yang ada di lapangan akan dianalisis berupa konsep-konsep penerapan Etika Bisnis Islam dalam persaingan usaha di PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.

1. Jenis Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bersifat teoritik atau penelitian kepustakaan (library research). Namun demikian, untuk mendukung hasil penelitian, penulis tetap membutuhkan penelitian lapangan (field research) yakni penelitian yang mengumpulkan data-data di lapangan. Untuk memahami implementasinya dalam bentuk studi kasus di PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.

2. Data Penelitian

a. Jenis dan Sumber Data

(22)

tempat melakukan penelitian berupa orang dan dokumen-dokumen. Sedangkan data sekunder diperoleh dari bahan pustaka. Jenis data yang digunakan adalah data yang bersifat kualitatif berupa implementasi Etika Bisnis Islam dalam persaingan usaha PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah b. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode sebagai berikut:

1) Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab dengan karyawan atau pejabat dari perusahaan asuransi yang berkenaan dengan penelitian ini. 2) Dokumen, yaitu mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan

Etika Bisnis Islam dalam persaingan usaha asuransi syari’ah 3. Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah karakter persaingan usaha asuransi syari’ah sesuai dengan Etika Bisnis Islam (EBI). Sedangkan objek penelitiannya adalah PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah yang beralamat di Jalan Raya Sudirman kav 22-23, Barclays Building, lt 17-18, Jakarta Selatan.

4. Teknik Pengolahan Data

(23)

bentuk narasi berupa teks yang dapat dipahami. Semua data tersebut akan diolah secara manual.

6. Metode Analisis

(24)

7. Teknik Penulisan

Adapun teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007.

F. Kerangka Teori

1. Definis Asuransi Syari’ah

Asuransi Syari’ah, yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi, memberi perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang dengan ketentuan-ketentuan syari’ah.8

2. Definisi Etika Bisnis Islam (EBI)

Selama Etika Bisnis adalah Etika Bisnis sebagai seperangkat nilai tentang baik, buruk, benar, dan salah dalam dunia bisnis berdasarkan pada prinsip-prinsip moralitas akan menjadikan sebuah pembekalan kepada pelaku bisnis akan pencapaian produktivitas dan efisiensi kerja yang optimal.9

3. Definisi Persaingan Usaha

Dalam beraktivitas di dunia kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat adil, tidak terkecuali kepada pihak yang tidak disukai. Pengertian adil

8

AM. Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam, Jakarta, Predana Media 2004,

h. 61 9

(25)

dalam Islam diarahkan agar hak orang lain, hak lingkungan sosial, hak alam semesta dan hak Allah dan Rasul-Nya berlaku sebagai stakeholder dari perilaku adil seseorang.10

G. Sistematika Penulisan

BAB I : Bab ini berisi tentang latar belakang penulis mengangkat tema yang akan dibahas dalam skripsi, perumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori dan kerangka konsep, metode penelitian dan teknik penulisan serta sistematika penulisan.

BAB II : Bab ini akan membahas tinjauan teoritis mengenai gambaran umum asuransi syariah, dasar hukum asuransi syariah, prinsip-prinsip asuransi syariah, akad-akad asuransi syariah, dan gambaran umum Etika Bisnis Islam dan persaingan usaha, fungsi dan tujuan serta landasan operasional.

BAB III : Bab ini akan menjelaskan mengenai sejarah singkat, visi dan misi, produk-produk dan kondisi persaingan usaha PT. Asuransi Syari’ah Mubarakah.

Bab IV : Pada bab ini, penulis akan menyajikan terlebih dahulu pandangan dan penerapan etika bisnis Islam dalam persaingan usaha yang meliputi, sistem operasional, etika marketer (agen), marketing strategi (strategi pemasaran) PT. Mubarakah menurut padangan etika bisnis Islam dalam persaingan usaha.

10

(26)

Kemudian penulis menjelaskan atas faktor yang mempengaruhi penerapannya, setelah itu penulis menerangkan dampak penerapannya.

(27)

BAB II TINJAUAN TEORI

Dalam kegiatan perekonomian yang berbasis syari’ah adalah sebuah hal penting untuk suatu perbandingan dalam setiap melakukan atau melaksanakan kegiatan ekonomi yang beruang lingkup dalam koridor syari’ah, sebab dalam kegiatan berinvestasi dan asuransi merupakan dua hal bagian dalam keping mata uang yang kedua bagiannya tidak pernah lepas dari kegiatan operasionalnya, menjadi bisnis yang sehat serta bernuansa Islami, dengan demikian hadirnya asuransi syariah yang merupakan pembaharuan wajah asuransi yang suram menjadi wajah yang menyegarkan, prinsip-prinsip yang ditanamkan menjadi jawaban dari sekian permasalahan yang ada sejak asuransi muncul,11 sebab dana yang terkumpul dari masyarakat melalui premi asuransi sudah menjadi kewajiban bagi pengelola untuk mengelolanya dalam bentuk investasi, sesuai dengan peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 73 pasal 13 ayat 1 tahun 1992 tentang penyelenggaraan usaha perasuransian, yang berisi tentang kewajiban perusahaan asuransi syariah mengelola dananya pada investasi yang aman dan menguntungkan. Demikian juga dalam asuransi syari’ah dalam kegiatannya yang berpedoman pada fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) yang dari semua kegiatan investasinya itu diarahkan kepada sektor-sektor yang berpredikat halal yang telah diproses oleh fatwa DSN, tujuannya adalah

11

(28)

agar terjamin dari kehalalannya sesuai dengan fatwa DSN yang sudah barang tentu berbeda dengan konsep kegiatan asuransi konvensional. Dalam hal inipun Allah SWT, menegaskan dalam surat al-An’am, (6:152):12

….

….



)

مﺎﻌﻧﻻا

١٥٢

:

٦

(

dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.”

Konsep ekuilibrium juga dapat dipahami bahwa keseimbangan hidup di dunia dan akhirat harus diusung oleh seorang pebisnis muslim.13 Oleh karenanya, konsep keseimbangan berarti menyerukan kepada para pengusaha muslim untuk bisa merealisasikan tindakan-tindakan dalam bisnis yang dapat menempatkan dirinya dan orang lain dalam kesejahteraan duniawi dan keselamatan akhirat

A. Asuransi Syari’ah

Kehidupan dan kegiatan manusia, pada hakikatnya mengandung berbagai hal yang menunjukkan sifat hakiki dari kehidupan itu sendiri. Sifat hakiki yang dimaksud di sini adalah suatu sifat “tidak kekal” yang selalu menyertai kehidupan dan kegiatan manusia pada umumnya. Sifat tidak kekal termaksud, selalu meliputi dan menyertai manusia baik ia sebagai pribadi. Maupun ia dalam kelompok atau dalam bagian kelompok masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.

Dengan itu segala upaya untuk mengatasi sifat ilmiah yang manifestasinya sebagai suatu keadaan yang tidak pasti, antara lain dilakukan oleh manusia dengan

12

Faisal Badroen,h. 92 13

(29)

cara menghindari, atau melimpahkannya kepada pihak-pihak lain di luar dirinya sendiri. Upaya atau usaha manusia untuk mengurangi, menghindarkan risikonya itu sudah lama dilakukan. Usaha itu dimulai sejak permulaan kegiatan ekonomi manusia, yaitu sejak manusia melakukan kegiatan perdagangan yang sangat sederhana. Usaha-usaha manusia untuk mengatasi risiko dengan cara melimpahkannya kepada pihak lain beserta proses pertumbuhannya dikenal oleh peradaban manusia, baik di dunia bagian Timur maupun Tengah pada abad-abad awal sebelum Masehi.

Dalam bukunya, Muhammad Syakir Sula mengatakan bahwa jika makna asuransi dilihat dari latinnya berarti suatu alat untuk mengurangi risiko dengan menghubungkan sejumlah unit-unit yang berisiko agar kerugian individu secara kolektif dapat diprediksi.14 Kemudian sebuah kerugian tersebut yang dapat diprediksi akan dibagi dan didistribusikan secara proposional di antara semua unit-unit dalam gabungan tersebut. Definisi asuransi sebenarnya definisi asuransi bisa di artikan dari beberapa pandangan antara lain adalah ekonomi, hukum, bisnis, sosial, ataupun dari segi matematis. Banyak definisi yang telah diberikan kepada istilah asuransi, secara sepintas tidak ada kesamaan antara definisi yang satu dengan lainnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena mereka dalam mendefinisikannya disesuaikan dengan sudut pandang yang mereka gunakan dalam memandang asuransi, di mana sesuai dengan uraian di atas bahwa asuransi dapat dipandang dari beberapa sudut.15 Sebenarnya bisnis asuransi itu sangat kompleks dengan arti bahwa asuransi itu sebuah usaha yang

14

Muhammad Syakir Sula, h. 26 15

Soeisno Djojosoedarso, Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko Asuransi, Jakarta, Salemba

(30)

di dalamnya terdapat beberapa sudut pandang yang disebutkan tadi karena aspek yang ada dari badan usaha asuransi itu meliputi aspek ekonomi, hukum, sosial, bisnis juga aspek matematik tersebut.

Demikian dari beberapa aspek-aspek umumnya kemudian dari aspek-aspek syari’ahnya, asuransi itu dikatakan bahwa bahasa arab menyebutkan asuransi itu adalah at-ta’miin (penanggung), atau mu’ammin, sedangkan mua’mman lahu atau musta’min (tertanggung). Kata-kata ini memiliki arti dasar yaitu memberi perlindungan (at-ta’miin), ketenangan, rasa aman juga bebas dari rasa takut.16 Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-Quraisy, (106:4)







)

ﺶﯾﺮﻘﻟا

٤

:

١٠٦

(

yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (al-Quraisy: 4)

Dari ayat di atas jelas bahwa kata-kata

ْفْﻮ

َﺧ

ْ َﻦِﻣ ْﻢُﮭَﻨَﻣاَءَو

akan berhubungan

dengan kata-kata lawan kata khianat, kufur, dan yang paling penting dari makna kata tersebut adalah sesuatu yang akan memberikan rasa aman terhadap setiap orang-orang yang ditolongnya. Dari kata tolong itu pun mempunyai arti yang sangat penting terhadap arti asuransi syari’ah itu sendiri di mana usaha saling tolong-menolong akan terwujud apabila terciptanya sebuah kepercayaan sesama muslim itu akan kuat dan saling memotivasi dengan keikhlasan hati.

Dari kata di atas yang paling tepat kita definisikan adalah istilah at-ta’min, kata ini bisa diartikan dengan sebuah konsep kegiatan yaitu, seseorang

16

(31)

membayar/menyerahkan uang cicilan agar ia atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti rugi terhadap hartanya yang hilang, dikatakan ‘seseorang mempertanggungjawabkan atau mengasuransikan hidupnya, rumahnya atau mobilnya’.17

Adapun tujuan dalam Islam yang menjadi kebutuhan mendasar, yaitu al-kifayah ‘kecukupan’ dan ‘keamanan’. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dialah Allah yang mengamankan mereka dari ketakutan”. Sehingga sebagian masyarakat menilai bahwa bebas dari lapar merupakan bentuk keamanan. Mereka menyebutnya dengan al-amnu al-qidza’I’ aman konsumsi. Dari prinsip tersebut, Islam mengarahkan kepada umatnya untuk mencari rasa aman baik untuk dirinya sendiri maupun bagi anggota keluarganya. Dalam ayat Allah juga berfirman dalam QS al-Hasyr, (59:18)







)

ﺮﺸﺤﻟا

١٨

:

٥٩

(

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pada definisi lain dikatakan Mushtafa Ahmad Zarqa, arti dari asuransi adalah sebuah metode yang bertujuan untuk memelihara manusia dalam meminimalisir atau mengendalikan risiko (bahaya) yang selalu atau juga pasti di dalam kehidupan

17

(32)

manusia muncul dan akan terjadi, baik dari kegiatan kehidupannya dari bidang mana saja terutama dari bidang perekonomian.

Dikatakan Husain Hamid Hisan, asuransi adalah sebuah sikap ta’awun yang telah diatur dengan sangat sistematis.18 Dalam arti ini Husain Hamid Hisan menyatakan segala peristiwa atau juga kejadian yang akan muncul dan yang akan terjadi pada setiap diri manusia itu bisa ditanggulangi dengan antisipasi yang terprogram, dengan maksud bahwa manusia itu bisa menjaga dirinya itu melalui mediasi-mediasi yang bisa membantu, salah satunya adalah mediasi lembaga yang menangani masalah jiwa manusia tidak ada lagi melainkan asuransi yang bisa menjawab permasalahan manusia yang bisa mengantisipasi risiko-risiko yang akan terjadi menimpa, setidak-tidaknya manusia itu bisa mengeliminir risiko tersebut, tidak akan mungkin manusia bisa menghilangkan risiko-risiko yang akan terjadi, karena peristiwa itu tercipta baik dan buruknya itu dari sessuatu yang pasti buruk itu terlahir dari kesalahan-kesalahan manusia itu sendiri dan kebenaran atau kebaikan-kebaikan itu datang dari Yang Maha Pencipta Allah SWT, dari semua itu asuransi yang diartikan oleh Husain Hamid Hisan itu adalah asuransi yang di dalamnya memberikan konsep derma atau sisihan harta yang telah ditentukan. Makna derma tersebut bisa diartikan dengan shadaqah pemberian harta dari seseorang kepada yang membutuhkan dengan cara cuma-cuma, maka dari itu asuransi menurutnya sebuah sistem kegiatan yang dapat menolong sesama dari segala risiko atau peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.

18

(33)

Abdul Ghoni dan Erni Arianty menyatakan, 19 Asuransi Syari’ah adalah usaha atau sistem saling melindungi dan tolong-menolong di antara para peserta melalui pembayaran premi sebagai dana kontribusi yang akan dialokasikan sebagai dana tabarru’ (hibah). Dana tabarru’ adalah sejumlah dana kumpulan milik peserta yang dikelola oleh Perusahaan Asuransi dan akan digunakan untuk menanggung setiap klaim yang terjadi atas kerugian atau musibah yang menimpa di antara peserta. Kegiatan Asuransi Syari’ah merupakan implemetasi dari prinsip-prinsip ekonomi Islam dengan karakteristik, antara lain pelarangan riba dan berbagai bentuk, pelarangan akan gharaar, dan pelarangan akan maysiir.

Menurut Az-Zarqa20 bahwa sistem asuransi yang dipahami oleh para ulama hukum (syari’ah) adalah sebuah sistem ta’awun dan tadlamun yang bertujuan untuk menutupi kerugian peristiwa-peristiwa atau musibah-musibah. Semua ini adalah sebuah amanah sekelompok atau juga perusahaan asuransi yang dikatakan sebagai tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tetimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari semua kumpulan premi-premi mereka yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dengan segala perinciannya. Para ulama menyatakan bahwa dalam penetapan segala hukum yang berimplikasi dengan kehidupan ekonomi dan sosial harus selalu singkron, sepadan tidak boleh sewenang-wenang mencari, mengambil, mengklaim, bahkan menjadikan sebuah hukum menjadi pedoman hidup itu sangat disalahkan, karena Islam juga mengatur segala segi

19

Abdul Ghoni dan Erni Arianty, Akuntansi Asuransi Syari’ah Antara Teori dan Praktik,

Jakarta, INSCO Consulting, 2007, h. 15 20

(34)

kehidupan manusia dengan segala prosedur-prosedur hukumnya yang telah ditentukan, bertujuan agar masyarakat hidup berdasarkan atas asas saling percaya, menjaga, melindungi, yang paling penting adalah saling tolong-menolong dan menjamin dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya.

Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUD), dalam fatwanya tentang pedoman umumnya asuransi syari’ah, memberi definisi tentang asuransi. Menurutnya, Asuransi Syari’ah (at-Ta’miin, Takaful, Ta’awwun, Tadlaamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syari’ah. Atau juga cara konsep yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bermuamalat rules of the game21

Dari definisi di atas diketahui bahwa makna asuransi syari’ah itu tidak jauh dari pengertian usaha saling tolong menolong yang dapat dimanifestasikan oleh sistem tabarru’ yang terdapat dalam prinsip-prinsip asuransi syari’ah itu sendiri, tolong menolong (ta’aawun) itu salah satu dasar dari rasa ukhuwah Islamiyah antara sesama tapi diartikan dalam asuransi yaitu dengan sesama anggota peserta asuransi syari’ah dalam menghadapi bahaya ancaman atau risiko-risiko yang menimpa.

Takaful dalam pengertian muamalah, ialah saling memikul risiko di antara sesama orang sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas

21

Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Wacna Ulama dan Cendekiawan (Jakarta:

(35)

risiko yang lainnya. Dasar dari saling memegang beban risiko yang terjadi itu semata-mata hanya ingin saling membantu satu sama lainnya atau tolong menolong dalam segala hal kebaikan dengan membayarkan atau menyumbang dana tabarru’ yang dikeluarkan oleh setiap peserta yang dapat diartikan dengan dana derma, sumbangan, shadaqah yang ditujukan oleh perusahaan untuk menanggung semua risiko. Dalam firman-Nya al-Maidah, (5:2)









)

ةﺪﺋﺎﻤﻟا

٢

:

٥

(

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (Q.S: al-Maidah: 2) Menurut Abu Zahra’22, yang dimaksud dengan ta’aawun al-Ijtima’i itu ialah bahwa setiap individu suatu masyarakat berada dalam jaminan atau tanggungan masyarakatnya. Setiap orang yang memiliki kemampuan menjadi penjamin dengan suatu kebajikan bagi setiap potensi kemanusiaan dalam masyarakat sejalan dengan pemeliharaan kemaslahatan individu. Yakni, dalam hal menolak yang merusak dan memelihara yang baik agar terhindar dari berbagai kendala pembangunan masyarakat yang dibangun di atas dasar-dasar yang benar.

Muhammad Syakir Sula mengatakan, istilah lain yang dijelaskan yaitu yang sering digunakan untuk asuransi syari’ah adalah Takaful, kata Takaful berasal dari kata takaafala-yatakaafalu, yang secara etimologis berarti menjamin atau saling

22

(36)

menanggung. Kata Takaful sebenarnya tidak dijumpai dalam al-Qur’an. Namun, ada sejumlah kata yang seakar dengan kata Takaful, seperti dalam al-Qur’an Surah Thahaa, ayat (20:40),



……

)

ﮫﻃ

٤٠

:

٢٠

(

“Ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?"

Menurut Abdul Ghoni dan Erni Arianty23, asuransi syari’ah yaitu usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui aqad (perikatan) yang sesuai dengan Syari’ah, – Akad yang sesuai dengan syari’ah yang dimaksud di atas adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat, akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong menolong, bukan semata tujuan komersial, akad tijarah adalah semua pihak bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial. Demikian hal yang dapat merugikan yaitu mengambil hak-hak orang lain dengan menzolimi orang lain demi kuntungan semata. 24

23

Abdul Ghoni dan Erni Atianty, h. 1 24

QS Al-Fajr, dalam Akhmad Mujahidin, ekonomi Islam (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,

(37)

Usaha asuransi merupakan satu usaha di bidang jasa yang memberikan jasa proteksi. Oleh karena itu dalam tata kehidupan pada umumnya, sehingga mempunyai karakteristis yang khusus dibandingkan jenis usaha lain. Mengingat sifatnya yang khusus tadi, maka pada usaha ini perlu diatur pula secara khusus mengenai pembiayaan dan pengawasannya, demi kepentingan masyarakat luas. Dalam usaha di bidang asuransi sudah diatur bahwa mempunyai wewenang untuk mengadakan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha asuransi adalah Menteri Keuangan.

Adapun bentuk dari pembinaan dan pengawasan terhadap usaha asuransi oleh Menteri Keuangan. Direktorat Lembaga Keuangan dan Akuntansi Direktorat Moneter antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi, untuk pendirian perusahaan asuransi. 2. Persyaratan teknis dan keuangan yang harus dipenuhi berkenaan dengan

pemberian izin usaha.

3. Persyaratan-persyaratan teknis dan keuangan berkenaan dengan penyelengaraan usaha asuransi.

(38)

Investasi yang harus dilakukan oleh usaha asuransi jiwa harus dalam bentuk tanah dan bangunan, hipotik, pinjaman polis, saham, obligasi syari’ah dan surat berharga lainnya. Jadi pada investasi yang aman serta penyebaran yang merata, demi kepentingan nasabah, dalam jangka panjang. Sedangkan investasi oleh usaha asuransi kerugian cukup dalam bentuk deposito berjangka, tanah dan bangunan serta saham syari’ah, obligasi syari’ah dan surat berharga lain, mengingat jangka waktu perjanjian asuransi kerugian relatif lebih pendek dari perjanjian asuransi jiwa.

Ali Mustafa Ya’qub mengatakan25, bahwa salah satu bentuk pengelolaan dana asuransi yang paling dominan adalah menginvestasikan dana yang terkumpul dari seluruh premi yang didapat. Dan bentuk investasi tersebut dapat berbentuk apa saja selama tidak mengandung salah satu dari unsur yang dilarang.

Hedi Sudarsono mengatakan26, bahwa dari pengertian asuransi yang dijelaskan oleh UU No. 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian yaitu perjanijian antara dua belah pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian keuntungan yang diharapkan, atau tertanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin ada diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

25

M. Syakir Sula, h. 378 26

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripdi dan Ilustrasi, Yogyakarta,

(39)

Dari pengertian asuransi tersebut diketahui adanya tiga unsur pokok dalam asuransi yaitu bahaya yang dipertanggungkan, premi pertanggungan dan sejumlah uang ganti rugi pertanggungan. Bahaya yang dipertanggungkan sifatnya tidak pasti terjadi (uncertainty). Premi pertanggungan pun tidak mesti sesuai dengan yang tertera dalam polis. Jumlah uang santunan atau ganti rugi sering atau bahkan pada umumnya jauh lebih besar daripada premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi. Atau juga dalam visi dan msisnya sebuah usaha yang tergolong dalam sebuah legalitasnya akomodasi ekonomi sebuah perusahaan dalam segala biaya27

Hal-hal yang demikian itulah yang oleh para ahli hukum Islam dipermasalahkan. Unsur ketidak pastian dalam perjanjian menurut hukum Islam. Akan terjadi bahaya yang dipertanggungkan risikonya terdapat ketidakpastian (uncertainty) demikian pula premi yang tidak seimbang. Dalam asuransi kebakaran misalnya, jika kebakaran terjadi, tertanggung dipandang menang, karena akan memperoleh ganti rugi jauh lebih besar daripada uang premi yang dibayarkan. Adanya unsur menang kalah atau pendapat bahwa di dalam perjanjian asuransi terdapat perjudian. Selain itu investasi dana peserta yang terhimpun melalui premi pada perusahaan asuransi dengan jalan dibungakan menimbulkan pendapat bahwa di dalam perjanjian asuransi terdapat unsur riba.28

27

Awalil Rizky, :Strategi Jitu Investasi di UMK: Optimalisasi Konstribusi UMK dalam

Makroekonomi Indonesia, dalam Euis amalia, Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam Penguatan Peran LKM dan UKM di Idonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h.42.

28

(40)

Unsur-unsur ketidakpastian atau untung-untungan, ketidakseimbangan antara premi dan ganti rugi serta investasi dengan jalan riba itulah yang oleh banyak ahli hukum Islam menjadikan alasan tidak dapat membenarkan perjanjian asuransi yang berlaku hingga sekarang ditinjau dari hukum Islam. Namun ada pula golongan ahli hukum Islam yang tidak merasa keberatan. Perbedaan pendapat itu kiranya terletak pada perbedaan mereka yang memandang apakah perjanjian asuransi itu merupakan perjanjian antara tertanggung secara perorangan dan perusahaan asuransi, ataukah antara sejumlah tertanggung dan perusahan asuransi.

Yang merasa keberatan terhadap perjanjian asuransi, perjanjian itu dilakukan secara perorangan antara tertanggung dan perusahan asuransi, sedangkan yang tidak merasa keberatan memandang perjanjian untuk terjadi antara sejumlah tertanggung yang saling membantu, kerjasama atau gotong-royong dan perusahaan asuransi. Namun, dalam hal yang hampir menjadi kesepakatan dalam memandang perusahaan asuransi yang berlaku hingga sekarang perusahaan yang mencari keuntungan besar dari premi yang dibayarkan oleh para tertanggung dan dari keuntungan investasi dengan jalan membungakan uang hasil dan peserta yang dikumpulkan oleh perusahaan.

(41)

jumlah pekerja itu bergantung kepada definisi yang diberikan oleh pemerintah atau institusi lainnya dengan tujuan-tujuan tertentu.29

Sebenarnya dalam persaingan dunia usaha sekarang ini selain harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat membangkitkan pertumbuhan usaha di bidang asuransi, juga harus diperhatikan pula jenis-jenis transaksi sebab ada beberapa jenis transasksi yang dilarang. Pemilihan dan pelaksanaan teransaksi harus dilaksanakan menurut prinsip kehati-hatian (ihtiyath) serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung unsur gharaar. Tindakan yang dimaksud termasuk melakukan penawaran palsu (najs); melakukan penjualan atas barang yang belum dimiliki atau barang tidak ada di hadapannya (short selling), menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading), melakukan penempatan atau investasi pada perusahaan yang memiliki rasio (nisbah) utang yang di atas kelaziman perusahaan pada industri sejenis.

1. Sistem Operasional Syari’ah

Asuransi sebagai akibat suatu yang berbenntuk polis, jika sebuah peristiwa yang dimaksud dalam asuransi terjadi, berupa pembayaran sejumlah uang. Memang benar bahwa polis asuransi, dalam lingkungan tertentu, kemungkinan merupakan suatu pilihan untuk mengubah landasan pemikiran dalam

29

(42)

menggunakan uang, tetapi bukan mengubah fakta bahwa hanya jaminan dari perusahan asuransi saja yang mampu membayarkan uang tersebut. 30

Pokok masalah asuransi:

Pokok masalah asuransi antara lain: a. Tujuan atas jiwa atau benda;

b. Hutang piutang atau tindakan lain, atau c. Jaminan yang ditetapkan untuk tertanggung.

Dalam menjalankan operasionalnya, asuransi syari’ah berpegang pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada program pelaksanaannya:

1. Akad

Sebagaimana dijelaskan dalam bab terdahulu bahwa akad merupakan salah satu persoalan pokok dalam asuransi konvensional yang menjadikannya kendala, sementara itu diharapkan oleh para ulama karena dengan perjanjian yang ada di asuransi konvensional dapat berdampak pada munculnya gharar dan maishir. Oleh karena itu para ulama mencari solusi bagaimana agar masalah gharar dan maishuir ini dapat dihindarkan. Masalah pertama adalah penipuan yang muncul karena akad yang dipakai di asuransi konvensional adalah aqad tabadduli pertukaran, sesuai dengan syarat-syarat akad pertukaran, maka harus jelas berapa pembayaran premi dan berapa uang pertanggungan yang akan diterima. Masalah hukum (syari’ah) di sini muncul karena kita bisa menentukan secara tepat jumlah

30

Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, (Jakarta , Dana Bhakti Wakaf, 1996, jilid 4, 1996),

(43)

premi yang akan dibayarkan, sekalipun syarat-syarat lainnya, penjual, pembeli, ijab kabul dan jumlah uang pertanggungan barang dapat dihitung. Jumlah premi yang akan dibayarkan amat tergantung pada takdir, tahun berapa kita meninggal atau mungkin sampai akhir kontrak kita tetap hidup inilah proses gharaar terjadi. transaksi bisnis yang bebas dari unsure aidah, syariah dan akhlaq. Ia adalah sebuah system dan ilmu yang dibangun di atas unsure pokok ajaran Islam.31

Kejelasannya akad dalam praktek muammalah merupakan prinsip karena akan menentukan sah atau tidaknya secara syari’ah. Demikian halnya dengan asuransi, akad antara perusahaan dengan peserta harus jelas. Apakah akad-nya jual-beli atau tolong menolong. Syarat dalam transaksi jual beli penjual, membeli terdapatnya harga dan barang yang dijualbelikan. Pada asuransi biasa, penjual dan pembeli, barang yang diperoleh, yang dipersoalkan berapa premi yang harus dibayar kepada perusahan asuransi, padahal hanya Allah SWT yang tahu kapan kita meninggal. Jadi pertanggungan yang akan diperoleh sesuai dengan perjanjian, akan tetapi jumlah yang akan setorkan tidak jelas tergantung usia kita, dan hanya Allah SWT yang tahu kapan kita meninggal dengan demikian akad jual beli dalam asuransi terjadi cacat secara syari’ah karena tidak jelas (gharaar). Yaitu beberapa besar yang akan dibayarkan kepada pemegang polis (pada product saving) atau berapa besar yang diterima pemegang polis (pada product non saving).

31

M. Nadratuzzaman Hosen, dkk, Materi Dakwah Ekonomi Syariah (Pusat Komunikasi

(44)

Dipandang dari sisi Islamnya, bahwa semua peristiwa yang akan maupun yang telah terjadi, dahulu, sekarang, maupun yang akan datang itu telah ditentukan oleh Allah SWT sebagai pemegang takdir kehidupan kita. Maka dari itu masalah yang bisa diminimalisir atau juga dikendalikan oleh kita dalam teorinya asuransi syari’ah maupun konvensioanl, sebenarnya melawan takdir yang telah ditentukan oleh yang Maha Kuasa Allah SWT, juga kita tahu bahwa dalam asuransi syari’ah ada kata-kata istilah yaitu maishiir, ghariar dan riba, sebenarnya kata-kata ini dalam penjelasan para ulama telah konkrit sekali sebuah praktek yang bila dianalogikan akibatnya dapat merugikan masyarakat banyak, apalagi jika bagi orang-orang yang awam (asing) dengan istilah-istilah yang terdapat dalam asuransi.

Syafi’i Antonio memberikan ilutrasi yang simpel tetapi jelas dalam menjelaskan masalah gharar, “Dalam konsep syari’ah, masalah gharar dapat dieliminir karena akad yang dipakai bukanlah akad tabaduli yaitu akad jual beli, tetapi akad takafuli atau tolong menolong dan saling menjamin.”32

Dalam konsep asuransi syari’ah, bahwa setiap peserta yang ikut serta dalam kegiatan asuransi syari’ah tersebut maka otomatis harus saling membantu dengan penjelasan yang klasifikatif dengan artian, bahwa mana dana untuk investasi juga mana dana yang untuk tabarru’, atau klasifikasi dana-dana lain yang dialokasikan yang sistematis dengan konsep syari’ah. Semua peserta yang telah memberikan uang premi yang nanti akan dialokasikan itu, harus merelakan karena dari

32

(45)

beberapa persennya akan dijadikan dana derma untuk peserta lainnya yang terkena musibah, begitu juga peserta lainnya.

2. Mekanisme Pengelolaan Dana

Dalam sistemnya asuransi syari’ah itu memakai prinsip saling tolong-menolong ini adalah sebuah kelebihan sistem asuransi syari’ah dibanding dengan sistem asuransi konvensional. Dan hal ini yang menjadikan alasan bagi masyarakat untuk tertarik menjadi bagian dari penyelenggaraan asuransi syari’ah berdiri di Indonesia. Dalam hal ini dalam penggunaan dan seleksi sumberdaya dalam negeri untuk pengembangan perekonomian negeri. .33

Pada prinsipnya yaitu dengan saling melindungi antara para pesertanya, perusahan asuransi syari’ah diberi kepercayaan atau amanah oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan yang halal, dan memberikan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian. Keuntungan perusahan diperoleh dari pembagian keuntungan dana peserta yang dikembangkan dengan prinsip mudharabah (sistem bagi hasil). Para peserta asuransi syari’ah berkedudukan sebagai pemilik modal (shahibul mal) dan perusahan asuransi syari’ah berfungsi sebagai pemegang amanah (mudharib).

Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara para peserta dan perusahan sesuai dengan ketentuan (nisbah) yang telah disepakati.

33

(46)

Mekanisme pengelolaan dana peserta (premi) terbagi menjadi dua sistem. Demikian hal yang orientasi ini untuk penolakan akses individualisme34

1. Sistem pada produk saving ‘tabungan’

2. Sistem pada produk non saving ‘tidak ada tabungan’ 3. Sumber Biaya Operasional

Dalam operasionalnya asuransi syari’ah itu berbentuk perseroan terbatas, dimana badan usaha berbentuk PT tersebut ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan selain tampak peranan yang besar dari para pemegang saham dalam penggabungan suatu PT. demikian pula tentang perlindungan terhadap pemegang saham minoritas, karyawan dan konsumen/masyarakat merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi dalam hal penggabungan. Hal ini tampak dalam ketentuan pasal 104 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, dan dipertegas lagi dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998.35

Selain dalam operasionalnya asuransi syari’ah yang berbentuk bisnis seperti Perseroan Terbatas (PT), sumber biaya operasional menjadi sangat menetukan dan perkembangan dan percepatan pertumbuhan industri. Lain halnya asuransi yang berbentuk badan sosial, mutual, atau koperasi, di sini peran pemerintah lebih mendominasi sebab subsidi terbesar diberikan oleh pemerintah dengan tahap awal berdirinya asuransi tersebut.

34

http://putracenter.wordpress.com/2009/01/22/definisi-ekonomi-dalam-islam-menurut-para-ahli/ diakses pada 13 Desember 2010

35

Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, Jakarta, Raja

(47)

3. Underwriting

dalam definisinya adalah sebuah proses penyeleksian risiko dan mengklasifikasinya sesuai dengan tingkat insurability (dapat ditanggungnya), sehingga dapat ditentukannya tarif yang sesuai. Proses ini meliputi penolakkan atas risiko-risiko yang tak dapat diterima (unacceptable).

Atau secara teknis bisa diartikan dengan orang yang menuliskan namanya di bawah sebuah peutupan asuransi, menerima semua atau sebagian risikonya. Dalam asuransi jiwa dan kesehatan, dipakai untuk menunjukkan pejabat di kantor pusat yang meninjau fakta-fakta tentang risiko, menerima atau menolak risiko itu dan menetukan tarifnya; penanggung di kantor pusat. Dalam asuransi jiwa, untuk menunjuk seoarang agen solisitasi, karena agen itu memang melaksanakan kebijakan penanggungan dalam memilih risiko-risiko (calon-calon) yang dihubunginya.36

4. Aktuaris

Orang professional yang terlatih dalam bidang matematika, statistik, dan akunting serta prinsip-prinsip operasi asuransi, annuittet, dan rancangan-rancangan pensiun. Berdasarkan pengalaman, aktuaris menentukan taksiran besarnya kerugian-kerugian di masa yang akan datang.37

36

A. Hasyim Ali, Agustinus Subekti, Wardana, Kamus Asuransi, (Jakarta, Bumi Aksara, 2002),

h 331 37

(48)

Jika dalam penjelasan Ir. Syakir Sula dalam bukunya, Asuransi Syari’ah Life and General Konsep dan Sistem Operasional menjelaskan bahwa peran aktuaria pada suatu perusahaan yang berbasis syari’ah dibagi dalam tiga pokok.

a. Sertifikat Produk (Product Certification)

Perusahaan asuransi syari’ah beroperasi berdasarkan peraturan perundangan di bidang perasuransian yang dikeluarkan oleh pemerintah. Aktuaria akan membuat atau menghitung premi-premi dasar dari produk asuransi syari’ah tersebut, yang didasarkan pada prinsip-prinsip aktuaria. b. Penaksiran Aktuaria (Actuarial Valuation)

Perusahaan asuransi syari’ah diharuskan membuat laporan tahunan kepada departemen keuangan. Aktuaria melaporkan hasil investigasi aktuaria, yaitu tentang kondisi keuangan asuransi yang layak.

c. Aktuaria yang Ditunjuk (Appointed Actuary)

Apabila perusahaan asuransi syari’ah tersebut tidak memiliki seorang aktuaris sendiri, maka perusahaan harus menunjuk seorang aktuaris atau suatu lembaga yang diakui oleh departemen keuangan sebagai konsultan aktuaria. Konsultan inilah yang bertanggung jawab untuk memeriksa laporan keuangan yang setiap tahun harus dilaporkan ke departemen keuangan sebagai pihak regulator.

5. Perwujudan Ta’awwun dalam Mekanisme Asuransi

(49)

peserta. Sehingga, antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko yang muncul. Konsep ini juga terujuk pada adanya dana tabarru’, yaitu manifestasi dari sebuah konsep asuransi syari’ah itu sendiri yang bisa diartikan dengan sebuah makna dana kemanusiaan atau ‘derma’ yang harus dikeluarkan oleh setiap peserta dengan secara sistematis dari setiap uang premi yang dibayarkan oleh peserta, kemudian dialokasikan untuk dana tersebut dengan ketentuan perusahaan.

6. Dewan Pengawas Syari’ah (DPS)

Keberadaan Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) dalam perusahaan asuransi syari’ah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi agar senantiasa sejalan dengan syari’at Islam yang di jelaskan sebelumnya oleh para ahli asuransi syari’ah.38 Karena itulah Dewan Pengawas Syari’ah itu sendiri ada, dan kedudukannya sebagai salah satu institusi dalam skala nasional, dapat dijadikan sebagai Garda terdepan, dan dapat dijadikan payung bagi semua pihak dalam misi yang agung ini.

Dengan demikian, pembenahan, yang perlu tenaga dan energi yang baru agar lebih kuat dan lincah. Juga agar lebih taktis dan lebih strategis dalam menghadapi permasalahan yang setiap saat siap menghadang.

B. Etika Bisnis Islam

(50)

masa mudanya, prinsip Nabi banyak dilukiskan sebagai Al-Amiiin, Al-Siddiiq,39 dan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syam dan Syiria. Lebih dari dua puluh tahun lamanya Muhammad SAW. Berkiprah di bidang wirausaha, sehingga beliau dikenal di Yaman, Syria, Busrah, Iraq, Yordania, uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan berdagangnya kurang memperoleh pengamatan. Dalam kinerjanya Rasulullah SAW, selalu menganjurkan untuk mengedepankan sifat STAF Siddiiq, Tabliigh, Amanaah, Fatoonah, agar terbiasa melakukan kegiatan ekonomi yang telah dikonsepkan oleh Islam dan juga terhindar dari unsur-unsur yang dapat merugikan semua pihak. Dengan melakukan kegiatan perekonomian yang berbasiskan wahyu dan sunnah Rasul akan membantu pembentukan system aplikasi manual dari mekanisme ekonomi syari’ah.40

Nabi Muhammad Saw. Telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen, dan etos dalam bekerja yang mendahului zamannya. Dasar-dasar etika dan manajemen bisnis tersebut, telah mendapat legitimasi keagamaan setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Prinsip-prinsip etika binis yang diwariskan semakin mendapat pebenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau abad ke-21. prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efesiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran pribadi, dan etika bisnis Muhammad SAW, ketika beliau masih muda.41

39

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam, dalam Akhmad Mujahidin, ekonomi Islam

(Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 13. 40

Faisal Badroen,h. 68 41

(51)

Dalam reputasinya Nabi Muhammad SAW, di dunia bisnis diinformasikan antara lain oleh Muhaddits, Abdul Razzaq. Ketika mencapai usia dewasa beliau memilih menjadi wirausaha. Pada saat belum memiliki modal, beliau menjadi manajer perdagangan para investor (sahibul mal) berdasarkan bagi hasil. Seorang investor besar Makkah Khadijah, mengangkatnya sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kepiawaiannya sebagai wirausaha telah mendatangkan keuntungan dan tidak satu pun jenis bisnis yang beliau tangani mendapat kerugian. Beliau juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jaorash, dan Bahrain di sebelah Timur semenanjung Arab.

Mungkin kita bisa jadikan sebuah konsep yang lebih konkrit dan lebih eksplisit untuk mendapatkan sebuah arti dari definifi etika tersebut, dengan itu dalam bukunya Drs. Faisal Badrun, MBA menyatakan bahwa ketetapan ‘boleh’ dan ‘tidak’ dalam kehidupan manusia telah dikenal sejak manusia pertama, Adam dan Hawa diciptakan.42 Seperti dikisahkan dalam kitab suci Al-Qur’an, kedua sejoli ini diperkenankan oleh Allah SWT memakan apa saja yang mereka inginkan di surga, namun jangan sekali-kali mendekati sebuah pohon yang apabila dilakukan mereka akan tergolong orang-orang yang zalim al-Baqarah, (2:35):











)

ةﺮﻘﺒﻟا

٣٥

:

٢

(

35. dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu

42

(52)

sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini43, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.

Prinsip ‘boleh’ dan ‘tidak’ tersebut berlanjut dan dilanjutkan oleh para nabi-nabi yang diutus oleh Allah kemudian termasuk Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW. Mereka diutus untuk merealisir ketentuan Sang Pencipta dalam seperangkat regulasi agar dapat mengarahkan manusia hidup bahagia di dunia. Tata nilai itu diletakkan sebagai regulator kehidupan guna mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh tingkah laku manusia yang cenderung egoistis dan liar. Tata nilai itulah yang disebut dengan etika.

Seruan untuk menerapkan nilai-nilai etika, sebagaimana diungkapkan di atas, terjadi di setiap sudut kehidupan duniawi dan pada setiap zaman. Karena kalau tidak niscaya tidak ada kaidah yang dapat menjadi tolok ukur nilai kebajikan dan kejahatan, kebenaran dan kebathilan, kesempurnaan dan kekurangan, dan lain sebagainya disebabkan Allah SWT menciptakan sesuatu dengan saling berpasangan.

Islam sebagai agama dengan sistem komprehensif juga mengatur aspek-aspek di atas dengan berbasis moralitas. Islam mengkombinasikan nilai-nilai spiritual dan material dalam kesatuan yang seimbang dengan tujuan menjadikan manusia hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Tetapi persolaan kemudian bahwa konsep materialistis yang berkembang di alam modern sekarang ini telah mengubah manusia pada kondisi di mana nilai-nilai spiritual tersingkirkan. Hal ini terjadi terutama di

43

Pohon yang dilarang Allah bagi Adam AS untuk mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab

Al-Qur’an dan Hadits tidak menerangkannya. Ada yang menambahkan pohon Khuldi sebagaimana

(53)

kalangan kaum pebisnis yang pada gilirannya berimbas negarif terhadap lapisan lain. Artinya, paradigma yang terbangun di masyarakat bahwa harta, jabatan, dan kekuasaan menjadi tolok ukur ‘baik’ dan ‘tidak’-nya se

Gambar

Grafika.2001

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini sejalan teori menurut Robbins (2001:188) yang mengemukakan bahwa lingkungan kerja merupakan faktor yang penting dalam mendukung kinerja pegawai

Berdasarkan Hasil penelitian yang di peroleh dari siklus I dan siklus II terhadap peningkatan kemampuan mengajar guru dalam menerapkan teori belajar Dienes

Berdasarkan uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa meningkatkan akhlak siswa tidak terlepas dari pengajaran akhlak itu sendiri dengan metode yang disesuaikan dengan kondisi

Melalui penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa indikasi-indikasi rendahnya kualitas pelayanan izin mendirikan bangunan (IMB) tersebut adalah sebagai

Implementasi Peraturan Darah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2000 tentang Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima di Kecamatan Semarang Selatan memiliki

Masyarakat Desa Mergosari Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo yang mengangkat anak disebabkan dalam pernikahannya tidak dikaruniai anak. Kondisi tersebut

Dari hasil validasi pengukuran nilai osmolalitas larutan standar berdasarkan parameter akurasi, presisi, dan linearitas, maka dinyatakan bahwa alat automatic osmometer

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah, pertama, dari keterpaduan transportasi didapatkan bahwa Kota Solo telah memiliki cukup fasilitas pergantian moda transportasi untuk