• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Perubahan Level Interleukin-1β Di Dalam Gingival Crevicular Fluid Pada Sisi Tekanan Dan Tarikan Pada Awal Pergerakan Gigi Secara Ortodonti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbandingan Perubahan Level Interleukin-1β Di Dalam Gingival Crevicular Fluid Pada Sisi Tekanan Dan Tarikan Pada Awal Pergerakan Gigi Secara Ortodonti"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN PERUBAHAN LEVEL INTERLEUKIN-1

β

DI

DALAM

GINGIVAL CREVICULAR FLUID

PADA SISI TEKANAN

DAN TARIKAN PADA AWAL PERGERAKAN GIGI SECARA

ORTODONTI

Penelitian

In Vivo

TESIS

Oleh :

LINA HADI

057028002

PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS ORTODONTI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERBANDINGAN PERUBAHAN LEVEL INTERLEUKIN-1

β

DI

DALAM

GINGIVAL CREVICULAR FLUID

PADA SISI TEKANAN

DAN TARIKAN PADA AWAL PERGERAKAN GIGI SECARA

ORTODONTI

Penelitian

In Vivo

TESIS

Untuk memperoleh gelar Spesialis Ortodonti dalam Program

Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Ortodonti pada Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

Oleh :

LINA HADI

057028002

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS ORTODONTI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2009

(3)

PERSETUJUAN TESIS

Judul Tesis : PERBANDINGAN PERUBAHAN LEVEL

INTERLEUKIN -1β DI DALAM GINGIVAL

CREVICULAR FLUID PADA SISI TEKANAN DAN TARIKAN PADA AWAL PERGERAKAN GIGI SECARA ORTODONTI

Penelitian In Vivo

Nama Mahasiswa : Lina Hadi Nomor Induk Mahasiswa : 057028002

Program Spesialis : Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Ortodonti

Menyetujui Komisi Pembimbing :

(F.Susanto A,drg.,FICD.,Sp.Ort (K)) (Erna Sulistyawati,drg., Sp.Ort) Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Ketua PPDGS-1 Ortodonti

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 17 September 2009

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : F.Susanto A, drg., FICD, Sp.Ort (K)

Anggota : - Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort

- Amalia Oeripto, drg., MS, Sp.Ort (K)

- S.Hamzah Daliemunthe, drg., Sp.Perio

(5)

PERNYATAAN

PERBANDINGAN PERUBAHAN LEVEL INTERLEUKIN-1

β

DI

DALAM

GINGIVAL CREVICULAR FLUID

PADA SISI TEKANAN

DAN TARIKAN PADA AWAL PERGERAKAN GIGI SECARA

ORTODONTI

Penelitian

In Vivo

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2009

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan

karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dan disajikan dalam bentuk tesis yang

berjudul Perbandingan Perubahan Level Interleukin-1β di dalam Gingival

Crevicular Fluid pada Sisi Tekanan dan Tarikan pada Awal Pergerakan Gigi

Secara Ortodonti.Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Spesialis dalam Ilmu Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera

Utara.

Dalam penyusunan tugas penelitian ini, peneliti banyak memperoleh bantuan

dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada :

Yang terhormat Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A(K) dan

Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros (K), yang telah memberikan

kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Gigi

Spesialis Ortodonti di Departemen Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Sumatera Utara Medan.

Yang terhormat Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort selaku Ketua Departemen

Ortodonti dan Nurhayati Harahap, drg., Sp.Ort (K) selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Ortodonti di Departemen Ortodonti Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Yang terhormat F.Susanto Adiwinata, drg., FICD., Sp.Ort (K) selaku

pembimbing utama dan Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort selaku pembimbing anggota

tesis ini, yang dengan sabar mendidik dan memberikan bimbingan serta motivasi

(7)

ilmiah ini dengan baik. Penulis sangat berterima kasih atas waktu dan bimbingan yang

telah diberikan.

Yang terhormat Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG (K) selaku

konsultan dalam metodologi penelitian dan Endang Winiati Bachtiar, drg.,

M.Biomed., Ph.D selaku konsultan dalam penelitian di Laboratorium Oral Biologi

Universitas Indonesia dan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

yang telah memberikan izin pemakaian Laboratorium.

Yang terhormat seluruh staf pengajar Program Pendidikan Dokter Gigi

Spesialis FKG USU Nurhayati Harahap, drg., Sp.Ort (K); Muslim Yusuf, drg.,

Sp.Ort; Erna Sulistyawati, F. Susanto A, drg., Sp.Ort (K) drg., Sp. Ort; Amalia

Oeripto, drg., MS, Sp.Ort (K), yang telah memberikan ilmu pengetahuan baik di

bidang Ortodonti maupun etika sehingga peneliti sadar dan menjadi dokter yang

berpendidikan dan berbudi pekerti serta beretika.

Yang terhormat S.Hamzah Daliemunthe, drg., Sp.Perio selaku dosen

pembimbing sewaktu peneliti menjalani pendidikan di S1 Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Sumatera Utara dan sebagai dosen penguji pada penelitian ini. Pada

kesempatan ini penulis dengan hati tulus mengucapkan terima kasih yang

sedalam-dalamnya atas waktu dan bimbingan yang diberikan beliau.

Yang tercinta kedua orang tua yang telah membesarkan dan membimbing

dengan penuh cinta kasih, suami, dan anak-anakku beserta seluruh keluarga atas doa

dan pengorbanan serta dukungan yang telah diberikan selama ini, peneliti sangat

menghargai dan berterima kasih.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman sejawat

peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Ortodonti, seluruh karyawan di

(8)

Ortodonti serta kepada semua pihak yang telah membantu dan tidak tersebutkan satu

persatu.

Akhir kata, semoga penelitian ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan

khususnya dalam bidang Ortodonti. Penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan

dan kekurangan selama mengikuti pendidikan ini.

Medan, Oktober 2009

Penulis

( Lina Hadi)

(9)

DAFTAR ISI 2.1. Mekanisme Biologis Pada Pergerakan Gigi Ortodontik--- 7

2.2. Separator--- 14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian --- 25

(10)

BAB V PEMBAHASAN --- 41

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan --- 46

6.2. Saran --- 46

DAFTAR KEPUSTAKAAN--- 48

LAMPIRAN --- 51

RIWAYAT HIDUP---

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Perbedaan level IL-1 antara sisi tarikan dan tekanan --- 38

Tabel 2. Perbedaan level IL-1 sebelum, setelah 30 menit dan 3 hari aplikasi

tekanan mekanis--- 39

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Struktur normal dari gigi dan jaringan pendukungnya --- 1

Gambar 2.Perubahan morfologis pada sisi tarikan selama pergerakan gigi secara Ortodonti --- 10

Gambar 3. Perubahan morfologis pada sisi tekanan menunjukkan respon

Jaringan dan selular yang berhubungan dengan resorpsi akar

selama pergerakan gigi secara ortodonti --- 11

Gambar 4. Keterlibatan sitokin didalam remodeling jaringan yang

menyebabkan pergerakan gigi --- 5

Gambar 5. Regulasi teoritis dari osteoklastogenesis oleh osteoblas. Aktivator

reseptor dari RANKL menginduksi osteoklas yang belum

matang (0C)

Gambar 6. Pengambilan GCF dengan filter paper strip. Strip masuk

ke dalam sulkus dan cairan meresap ke filter paper strip

(13)

ABSTRAK

Pada tahap awal pergerakan gigi secara ortodonti selalu melibatkan reaksi inflamasi akut, yang ditandai dengan vasodilasi periodontal dan migrasi leukosit keluar dari kapiler. Sel-sel bermigrasi ini menghasilkan berbagai sitokin. Sitokin merupakan unit fungsional yang berperan penting dalam remodeling jaringan, yang selalu bersama-sama dengan molekul sinyal sistemik dan lokal lainnya, menimbulkan sintesa dan sekresi substansi oleh sel-sel targetnya, yang meliputi beberapa biomarker resorpsi tulang yaitu IL-1 , IL-6, TNF-α, EGF, 2 microglobulin dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi tekanan mekanis terhadap level IL-1 di dalam Gingival Crevicular Fluid (GCF), level IL-1 dalam GCF sebelum aplikasi tekanan mekanis, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis, perbedaan pengaruh aplikasi tekanan mekanis pada sisi tekanan dan tarikan pada level IL-1 dalam GCF sehari sebelum aplikasi tekanan mekanis, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis yang ringan pada periodonsium (dalam penelitian ini memakai elastik separator yang digunakan di Klinik Spesialis Ortodonti FKG-USU). Total 48 sampel dari delapan subyek (4 perempuan dan 4 laki-laki; usia berkisar 8,9-13,8 tahun), berpartisipasi dalam penelitian ini. Banyak biomarker resorpsi tulang tetapi disini peneliti hanya meneliti level IL-1 .

(14)

ABSTRACT

In the initial of Orthodontic tooth movement always involves an acute inflamation reaction, with periodontal vasodilatation and migration of leucocyt out of the cappilary.

The migration of these cells produce the cytokines. Cytokine is a fungsional unit which play an important roles in remodelling, always together with the local and systemic molecul, which arouse several bone resorption biomarker that is 1 , IL-6, TNF-α, EGF, 2 microglobulin etc.

The purpose of this study was to know the effects of the application of light force on periodontium (in this study using elastic separator from Orthodontic Specialist Clinic Faculty University of North Sumatra) can be reflected from the changes of level IL-1 in the initial tooth movement that is before, 30 minute dan 3 days after application of elastic separator dan the comparison between the tension and pressure sides. Total of 48 sample from 8 subject (4 boys and 4 girls; age between 8,9-13,8) had attended in this study. We have a lot of biomarker bone resorpsion, but here we only investigate the level of IL-1 .

The data analysis was to compare the relative changes among the measurement of GCF before the application of elastic separator, 30 minute and 3 days after the application of elastic separator with One Way ANOVA. Whereas t-test is used to compare the changes between the pressure and tension sides. One Way ANOVA showed there was no statistically significant difference before (P=0,877), 30 minute (P=0,525) dan 3 days (P=0,519) after application of elastic separator. T-test showed there was no statistically significant difference between tension (P=0,898) and pressure (P=0,540). Level IL-1 become lower 30 minute after the application of force and become higher at the pressure side whereas at the tension side level of IL-1 higher after 30 minute of force application, then become lower after 3 days.

.

(15)

ABSTRAK

Pada tahap awal pergerakan gigi secara ortodonti selalu melibatkan reaksi inflamasi akut, yang ditandai dengan vasodilasi periodontal dan migrasi leukosit keluar dari kapiler. Sel-sel bermigrasi ini menghasilkan berbagai sitokin. Sitokin merupakan unit fungsional yang berperan penting dalam remodeling jaringan, yang selalu bersama-sama dengan molekul sinyal sistemik dan lokal lainnya, menimbulkan sintesa dan sekresi substansi oleh sel-sel targetnya, yang meliputi beberapa biomarker resorpsi tulang yaitu IL-1 , IL-6, TNF-α, EGF, 2 microglobulin dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi tekanan mekanis terhadap level IL-1 di dalam Gingival Crevicular Fluid (GCF), level IL-1 dalam GCF sebelum aplikasi tekanan mekanis, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis, perbedaan pengaruh aplikasi tekanan mekanis pada sisi tekanan dan tarikan pada level IL-1 dalam GCF sehari sebelum aplikasi tekanan mekanis, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis yang ringan pada periodonsium (dalam penelitian ini memakai elastik separator yang digunakan di Klinik Spesialis Ortodonti FKG-USU). Total 48 sampel dari delapan subyek (4 perempuan dan 4 laki-laki; usia berkisar 8,9-13,8 tahun), berpartisipasi dalam penelitian ini. Banyak biomarker resorpsi tulang tetapi disini peneliti hanya meneliti level IL-1 .

(16)

ABSTRACT

In the initial of Orthodontic tooth movement always involves an acute inflamation reaction, with periodontal vasodilatation and migration of leucocyt out of the cappilary.

The migration of these cells produce the cytokines. Cytokine is a fungsional unit which play an important roles in remodelling, always together with the local and systemic molecul, which arouse several bone resorption biomarker that is 1 , IL-6, TNF-α, EGF, 2 microglobulin etc.

The purpose of this study was to know the effects of the application of light force on periodontium (in this study using elastic separator from Orthodontic Specialist Clinic Faculty University of North Sumatra) can be reflected from the changes of level IL-1 in the initial tooth movement that is before, 30 minute dan 3 days after application of elastic separator dan the comparison between the tension and pressure sides. Total of 48 sample from 8 subject (4 boys and 4 girls; age between 8,9-13,8) had attended in this study. We have a lot of biomarker bone resorpsion, but here we only investigate the level of IL-1 .

The data analysis was to compare the relative changes among the measurement of GCF before the application of elastic separator, 30 minute and 3 days after the application of elastic separator with One Way ANOVA. Whereas t-test is used to compare the changes between the pressure and tension sides. One Way ANOVA showed there was no statistically significant difference before (P=0,877), 30 minute (P=0,525) dan 3 days (P=0,519) after application of elastic separator. T-test showed there was no statistically significant difference between tension (P=0,898) and pressure (P=0,540). Level IL-1 become lower 30 minute after the application of force and become higher at the pressure side whereas at the tension side level of IL-1 higher after 30 minute of force application, then become lower after 3 days.

.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sebelum akhir tahun 1960-an perawatan ortodonti pada pasien dewasa

tidaklah umum dan bahkan ditolak.Beberapa dekade terakhir banyak orang dewasa

berminat mencari perawatan ortodonti karena masyarakat lebih sadar akan kesehatan

daripada sebelumnya dan sebagian besar ingin memperbaiki penampilan wajahnya.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan pada perawatan terutama pasien dewasa

adalah bahwa pasien dewasa lebih banyak penyakit sistemik seperti diabetes mellitus

dan kehilangan tulang akibat penyakit periodontal1,2,3,4,5

Gaya yang dilepas piranti ortodonti, menekan mahkota gigi dan diteruskan

melalui akar gigi ke ligamen periodontal dan tulang alveolar, sehingga permukaan

tulang alveolar yang mendapatkan tekanan mengalami proses resorpsi dan pada sisi

yang berlawanan mengalami tarikan atau proses aposisi. Kedua proses ini dinamakan

remodeling berdasarkan prinsip atau hukum Wolff. Remodeling tulang alveolar

merupakan hal yang sangat menentukan dalam perawatan ortodonti dan merupakan

proses untuk menjaga keseimbangan jaringan pendukung gigi. Dalam perawatan

ortodonti, perlu dipertimbangkan : Oklusi, Stabilisasi, dan Estetis. Untuk itu klinisi

perlu meningkatkan pengetahuan, khususnya mekanisme biologis pada pergerakan

gigi secara ortodonti yang memegang peranan penting terhadap keberhasilan suatu

perawatan. 4,6,7,8

Mekanisme biologis yang menstimulasi resorpsi tulang secara fisiologis

berhubungan dengan sitokin yang merupakan suatu kumpulan mediator protein.

(18)

lanjut peranan sitokin pada proses resorpsi tulang yang dapat digunakan sebagai

biomarker perawatan ortodontik. Satu cara untuk mengevaluasi perubahan-perubahan

ini adalah dengan menganalisa komposisi Gingival Crevicular Fluid (GCF).9

Penelitian-penelitian telah dilakukan mengenai suatu variasi dari substansi

yang terlibat dalam remodeling tulang. Perubahan-perubahan di dalam komposisi

GCF sebagai konsekuensi dari bakteri yang menyebabkan inflamasi juga telah

dievaluasi. Mekanisme remodeling tulang selama perawatan ortodonti berhubungan

dengan pelepasan mediator inflamasi pada satu sisi, seperti PGE2 dan Interleukin-1 (

IL-1 ) , dan produksi neuropeptida dari sisi lainnya, seperti Substance P. 10,11,12,13

Terjadi peningkatan osteocalcin dan piridinium dari kolagen tulang dalam

GCF dari gigi yang telah dirawat ortodonti (Griffiths dkk.,1988). Selama perawatan

ortodonti, level dari mediator yang berbeda dalam GCF, yakni IL-1 , IL-6, TNF-α,

EGF, dan 2 microglobulin, menunjukkan peningkatan yang signifikan (Uematsu

dkk.,1996). Grieve (1994) menemukan hasil yang sama pada PGE dan IL-1. Lowney

dkk. (1995) menemukan peningkatan TNF- α dalam GCF dari gigi yang menerima

tekanan mekanis ortodonti. Sitokin meliputi chemokines, interleukins, interferons dan

TNF. Sitokin dapat menstimulasi chemokines dan sitokin pro-inflamatory atau anti

inflamasi yakni interferon (Julkunen 2003). 11-14

IL-1 adalah sitokin dengan efek pro-inflamatory. IL-1 diekspresikan dalam

dua isoform : IL-1α dan IL-1 . IL-1 mempertinggi resorpsi tulang dan menghambat

pembentukan tulang (Nguyen dkk. 1991). Hasil penelitian mengenai level IL-1

diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana jaringan periodontal bereaksi

terhadap tekanan mekanis. Saito dkk. 1991 menyatakan IL-1 meningkat signifikan

(19)

Alat-alat yang dipakai pada perawatan ortodonti dapat menyebabkan

penumpukan plak bakteri dan penumpukan debris makanan, yang menghasilkan

gingivitis. Oleh karena itu , klinisi wajib memperhatikan kesehatan periodontal

sebelum, selama, dan sesudah pemakaian piranti ortodonti. Sebagai contoh yang

paling sederhana pada aplikasi elastik separator, biasanya elastik separator disisipkan

diantara gigi sehingga didapatkan ruang untuk pemasangan band pada gigi molar

yang digunakan sebagai penjangkar. Di Klinik Spesialis Ortodonti Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara memakai elastik separator dari Orto

Organizer tipe Blue Regular 400-355 bentuk ring. 18,19 Ngan dkk.1994 menemukan

bahwa rasa sakit mencapai puncak pada 2 hari setelah pemakaian separator. Begitu

juga dengan penelitian Marris 2004, Bondemark dkk. 2004 yaitu terjadi peningkatan

rasa sakit pada pengunyahan pada hari kedua dibandingkan dengan hari pertama.

21,22,23

Dari pengamatan peneliti, terlihat kurangnya perhatian oleh para klinisi

mengenai pemakaian elastik separator dan berdasarkan penelitian Mc.Devitt dkk.2003

bahwa trauma oklusal merupakan faktor penyebab utama periodontal bone loss

bahkan pada daerah yang rendah plak dan inflamasinya.20 Peneliti menyadari banyak

penelitian mengenai elastik separator, tetapi semuanya dihubungkan dengan rasa nyeri

akibat pemakaiannya. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai durasi

pemakaian elastik separator sehingga klinisi mendapatkan informasi yang tepat

mengenai kapan waktu pelepasan separator sehingga periodontal bone loss akibat

trauma oklusal dari karet separator dapat dicegah karena pada pengunyahan pasien

yang memakai elastik separator juga terjadi trauma oklusal dari elastik tersebut.26

Pada penelitian dapat diketahui durasi yang diperlukan elastik separator

(20)

masukan bagi mahasiswa PPDGS kapan waktu yang tepat untuk pemasangan molar

band setelah aplikasi elastik separator tersebut supaya tidak terjadi bone loss yang

irreversible akibat pemakaian terlalu lama karena adanya tekanan oklusal dari

pengunyahan dan penumpukan plak. Menurut Peter Loh, 2003, hanya diperlukan

waktu 2 sampai 3 hari untuk memisahkan kontak area dari gigi yang bersebelahan

sehingga band dapat dipasangkan. Sedangkan menurut Proffit, 2000, elastik separator

tidak boleh dipakai lebih dari 2 minggu. 6,19,20

Hasil penelitian mengenai level IL-1 dapat memberikan gambaran bagaimana

jaringan periodontal bereaksi terhadap kekuatan mekanis. Meskipun laporan-laporan

ini penting, penulis menyadari hanya sedikit penelitian yang mengevaluasi level IL-1

di dalam GCF, dan juga masih kurang penelitian mengenai perbandingan perubahan

yang terjadi pada sisi tekanan dan tarikan yang diberikan pada periodonsium selama

tahap awal pergerakan gigi secara ortodonti yang direfleksikan dengan perubahan

komposisi GCF pada level IL-1 .

1.2.Permasalahan

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai

berikut :

1.2.1. Apakah tekanan mekanis yang ringan mempengaruhi level IL-1 di dalam

GCF?

1.2.2. Apakah ada perbedaan level IL-1 di dalam GCF sebelum aplikasi tekanan

mekanis , 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis?

1.2.3. Bagaimana perbandingan level IL-1 di dalam GCF pada sisi tekanan dan

sisi tarikan sebelum aplikasi tekanan mekanis , 30 menit dan 3 hari sesudah

(21)

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1.3.1. Untuk mengetahui pengaruh aplikasi tekanan mekanis terhadap level

IL-1 di dalam GCF.

1.3.2. Untuk mengetahui level IL-1 dalam GCF sebelum aplikasi tekanan mekanis,

30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis.

1.3.3. Untuk melihat perbedaan pengaruh aplikasi tekanan mekanis pada sisi

tekanan dan tarikan pada level IL-1 dalam GCF sehari sebelum aplikasi

tekanan mekanis, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi tekanan mekanis.

1.4. Hipotesis

Ada peningkatan level IL-1 di dalam GCF pada sisi tekanan dan tarikan

pada pergerakan gigi secara ortodonti.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian adalah :

1.5.1. Memberi tambahan informasi bagi klinisi terutama di Klinik Spesialis

Ortodonti

FKG USU dalam menggunakan tekanan mekanis yang sesuai dan memahami

dasar biologis pada perawatan ortodonti.

1.5.2. Dapat digunakan sebagai panduan durasi aplikasi elastik separator sebelum

pemasangan molar band.

1.5.3. Diharapkan dengan memahami respon jaringan terhadap tekanan mekanis

(22)

1.5.4. Sebagai dasar penelitian lebih lanjut bagaimana pengaruh IL-1 dan

mediator

kimiawi lainnya di dalam GCF dalam proses remodeling dengan penggunaan

piranti yang berbeda dengan level dan duration of force yang berbeda pula.

1.5.5. Sebagai masukan untuk klinisi dalam mempertimbangkan pemakaian jenis

piranti

yang dapat menggerakkan gigi dengan cepat dan tidak menimbulkan

kerusakan jaringan periodontal.

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mekanisme Biologis Pada Pergerakan Gigi Secara Ortodonti

Perawatan ortodonti dilakukan berdasarkan suatu prinsip bahwa bila suatu

tekanan diberikan cukup lama pada gigi, terjadi pergerakan gigi karena tulang di

sekitar gigi berubah atau remodeling. Elemen jaringan yang mengalami perubahan

sewaktu pergerakan gigi, yang pertama adalah ligamen periodontal berserta

sel-selnya, serat pendukung, kapiler dan persyarafan, sedang yang kedua adalah tulang

alveolar dan sementum. Setiap gigi melekat pada tulang alveolar dengan perantaraan

ligamen periodontal yang pada keadaan normal tebalnya lebih kurang 0,5 mm. Pada

gigi, ligamen periodontal melekat pada sementum dan perlekatan pada tulang adalah

pada lamina dura, yang merupakan lapisan tulang yang padat (Proffit dan Fields,

1993). Perlekatan pada sementum terletak lebih ke apikal daripada perlekatan ligamen

pada tulang alveolar. Dengan demikian, serabut ligamen periodontal tersusun miring,

sehingga ligamen periodontal dapat menahan pergerakan gigi pada fungsi normal

(gambar 1).6,7

Dalam mekanisme biologis pada pergerakan gigi secara ortodonti harus

dipertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pergerakan gigi,

pertimbangan penjangkaran, penyebab relaps, dan resorpsi akar. Semua prinsip

biologis yang berhubungan erat dan mendasari pergerakan gigi secara ortodontik

dapat dikarakteristikkan sebagai remodeling jaringan. Proses pegerakan gigi secara

ortodonti adalah untuk mendapatkan perubahan dinamis dalam bentuk dan komposisi

dari tulang dan jaringan lunak yang lebih baik. Gigi dan jaringan periodontal (dentin,

(24)

mekanisme perbaikan aktif dan akan beradaptasi di bawah tekanan yang normal pada

piranti ortodonti. 7

Gambar 1 : Struktur normal dari gigi dan jaringan pendukungnya 28

Pada level paling dasar, gaya ekstrinsik menghasilkan area tekanan dan tarikan

yang terlokalisir pada jaringan yang bersebelahan dengan gigi dan respon yang cepat

sesuai dengan prinsip hukum Wolff tentang remodeling tulang. Ketika digunakan

piranti cekat untuk mengaplikasikan tekanan mekanis pada gigi, pergerakan gigi yang

terprediksi dapat diantisipasi, hal ini disertai oleh penambahan mobiliti gigi sementara

dan kadang-kadang adanya resorpsi ringan pada gambaran radiografis. Tipe migrasi

gigi alami lainnya yang umumnya tidak dikehendaki adalah pergeseran gigi ke mesial

atau distal yang disebabkan oleh persistensi atau kehilangan dini gigi susu. Setiap

penemuan klinis umum dapat dijelaskan dengan pemahaman prinsip dasar biologis

yang lebih baik yaitu menentukan pergerakan gigi.7

Walaupun sebagian besar ruangan periodontal diisi oleh ikatan serabut

kolagen, terdapat juga elemen seluler yang merupakan sel-sel mesenkhim yang tidak

berdiferensiasi (Undifferentiated mesenchymal cells) berikut vaskularisasi dan

persyarafan serta cairan jaringan. Elemen seluler dan cairan jaringan memegang

(25)

Sel-sel kolagen ligamen periodontal terus-menerus diperbaharui selama fungsi

normal. Hal ini dilakukan oleh fibroklas yang menghancurkan kolagen yang sudah

terbentuk dan fibroblas yang berfungsi untuk membentuk kolagen yang baru.

Pembaharuan tulang dan sementum juga terus-menerus terjadi walaupun

dalam skala kecil. Osteoklas dan sementoklas berfungsi untuk menghancurkan tulang

dan sementum, sedang pembentukan tulang dan sementum baru dilakukan oleh

osteoblas dan sementoblas. Cairan jaringan (tissue fluid) yang terdapat pada ruang

ligamen periodontal berasal dari sistem vaskuler. Dalam fungsi pengunyahan yang

normal cairan jaringan ini berperan sebagai “shock absorber”.

Selama pengunyahan normal, gigi dan struktur periodontal menerima gaya

berkala (intermittent) yang besar. Gigi berkontak sekitar 1-2 detik dengan besar gaya

yang diterima sekitar 1-2 kg pada pengunyahan makanan yang lembut. Pada

pengunyahan makanan keras, besar gaya yang diterima meningkat sampai 50 kg.

Pada jenis pembebanan ini, gaya itu akan disalurkan ke tulang alveolar yang akan

sedikit melengkung sebagai respons terhadap adanya gaya tersebut. Gigi akan sedikit

bergerak dalam soketnya karena melengkungnya tulang alveolar dan sedikit cairan

jaringan pada ruang periodontal akan terperas.7,21,22

(26)

Gambar 2. Perubahan morfologis pada sisi tarikan selama pergerakan gigi secara ortodonti. A. Perubahan awal ditandai tarikan dari serabut-serabut PDL, di sini terlihat orientasi linear dari sel nuklei yang bersebelahan dengan gigi. B. Perubahan selanjutnya menunjukkan deposisi tulang pada serabut-serabut PDL yang tertarik, tegak lurus pada gigi dan dinding soket (panah). T = tooth root (akar gigi); Bn = alveolar bone (tulang alveolar). C. Organisasi tiga dimensi dari tulang dapat dilihat dengan menggunakan scanning electron micrograf dari tulang alveolar pada dinding soket setelah pencabutan gigi dan PDL. Gambaran micrograf menyoroti soket dengan dinding soket tarikan di sebelah kanan

Bila gaya yang besar terus-menerus dikenakan pada gigi, cairan jaringan

dengan cepat akan terperas dan gigi akan bergerak pada ruang periodontal. Dengan

demikian gigi akan menekan ligamen periodontal ke tulang dan akan terasa sakit.

Rasa sakit ini akan terasa sekitar 3-5 detik. Walaupun ligamen periodontal

mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap tekanan mekanis dengan waktu yang

singkat, kemampuan adaptasi ini akan hilang bila seluruh cairan jaringan terperas

keluar.

Tekanan mekanis yang lama durasinya, walaupun sangat kecil menghasilkan

respon fisiologis yang berbeda dalam merubah tulang dan pergerakan gigi secara

ortodonti yang dapat dipengaruhi oleh aplikasi tekanan yang terus-menerus. Sebagai

tambahan, tekanan natural dari lidah, bibir maupun pipi mempunyai potensi yang

sama dengan tekanan ortodonti dalam menggerakkan gigi. Erupsi gigi membuktikan

bahwa tekanan yang timbul di dalam ligamen periodontal dapat menyebabkan

pergerakan gigi.

Mekanisme erupsi gigi tergantung pada aktivitas metabolism dalam ligamen

(27)

dan pemendekan serabut-serabut kolagen. Proses ini berlanjut terus sampai tua dengan

kapasitas yang menurun.

Pergerakan gigi secara ortodonti adalah peristiwa biologis. Hal ini melibatkan

suatu urutan proses tranduksi sinyal yang hasilnya adalah remodel atau pembentukan

ulang tulang alveolar. Peran dari aktivitas gen antara osteoblas dan osteoklas

mengatur adaptasi tulang alveolar dengan tekanan mekanis ortodonti . Perubahan

morfologis dari sisi tarikan dan tekanan akibat perawatan ortodonti terlihat pada

gambar 2 dan 3. 7,21,22

Gambar 3. Perubahan morfologis pada sisi tekanan menunjukkan respon jaringan dan selular yang berhubungan dengan resorpsi akar selama pergerakan gigi secara ortodonti. A. Perubahan awal ditandai daerah tertentu yang mengalami nekrosis pada PDL (hyalinisasi), terlihat gambaran jelas dari PDL. B. Perubahan selanjutnya menunjukkan pemindahan dari jaringan nekrotik PDL dan sekitarnya, termasuk sementum akar dan dentin oleh osteoklas, sementoblas, dan makrofag (panah). Sisa jaringan nekrotik dari PDL terlihat pada daerah merah muda pada pertengahan bawah dari micrograf. PDL yang vital terlihat sebagai gambaran yang tinggi seluler di atas dan bawah daerah nekrosis.

Mekanisme yang mentransfer rangsang mekanik menjadi peristiwa molekuler

dan tetap menjadi tanda tanya bagi peneliti dalam jangka waktu lama. Mekanisme

yang baru-baru ini ditemukan mengenai mekanisme komunikasi sitoplasma yang

mungkin dapat menjelaskan sinyal-sinyal antara perawatan ortodonti dan respon sel

tulang. Maka, sel tersebut dapat mengetahui beban mekanis dan mengaktifkan

(28)

membuat lebih mudah untuk dapat mengatur manipulasi remodeling tulang, kontrol

pergerakan gigi lebih mudah dan lebih dapat diperkirakan dimasa yang akan datang.

Intervensi obat-obatan dan pengubahan genetik adalah contoh aplikasi klinis yang

dijanjikan peneliti dalam ilmu-ilmu dasar.27,28

2.1.1. Kontrol Biologis Gerakan Gigi

Peranan stimulus tekanan mekanik ortodonti terhadap respon gerakan gigi

dikontrol oleh dua elemen yaitu keadaan listrik secara biologis dan aliran darah yang

diterangkan dalam teori utarna pergerakan gigi secara ortodontik. Teori Piezoelectric

menghubungkan gerakan gigi pada perubahan tulang alveolar.

Teori yang lain adalah teori tekanan dan tarikan (Pressure-Tension Theory)

yang menghubungkan gerakan gigi pada perubahan seluler yang disebabkan

perubahan aliran darah pada ligamen periodontal akibat dari tekanan dan tarikan yang

disebabkan oleh adanya gaya ortodonti. Tekanan atau tarikan pada ligamen

periodontal akan memperkecil atau memperbesar diameter pembuluh darah dan

dengan sendirinya akan mempengaruhi jalannya aliran darah.

Kedua teori ini tidak berlawanan tapi juga tidak saling mendukung. Dapat

dikatakan bahwa kedua mekanisme ini memerankan peranan dalam kontrol biologis

(29)

2.1.2. Teori Piezoelectric

Piezoelectricity adalah suatu fenomena yang terlihat pada material inorganik

yang berkristal, dimana deformasi struktur kristal akan menghasilkan suatu aliran

listrik karena adanya perpindahan elektron pada kristal-kristal tersebut. Bila suatu

gaya dikenakan pada tulang yang dapat menyebabkan pelengkungan (bending) tulang,

maka sinyal piezoelectric dapat terlihat. Efek piezoelectric ini terjadi karena migrasi

elektron-elektron dalam latis kristal dari mineral tulang ketika kristal ini berubah

karena adanya tekanan.

2.1.3. Teori Tekanan-Tarikan

Teori ini dapat menerangkan hal-hal yang terjadi yang berhubungan dengan

pergerakan gigi. Aliran darah akan berkurang bila ligamen periodontal mendapat

tekanan dan akan bertambah atau tetap saja kalau ligamen periodontal mendapat

tarikan. Perubahan pada aliran darah akan merubah keadaan kimia darah. Proporsi

relatif metabolit yang lain juga akan berubah dan perubahan kimia ini akan

menyebabkan perubahan seluler yang akan menyebabkan gigi berpindah dari

tempatnya.

Walaupun teori piezoelectric dan teori tekanan-tarikan ini dapat diaplikasikan sebagai

kontrol biologis pergerakan gigi, teori tekanan-tarikan lebih dapat digunakan sebagai

basis dari pergerakan gigi secara ortodonti. Kedua teori ini juga menerangkan sifat

Adaptive Respons dari tulang terhadap gaya yang mengenai itu. 6,7,21

2.1.4. Inflamasi

Inflamasi merupakan serangkaian perubahan-perubahan imunologis

melibatkan sitokin-sitokin sebagai mediator inflamasi yang dihasilkan oleh sel

fibroblas. Respon inflamasi distimulasi oleh pelepasan dan aktivasi beberapa

(30)

menggunakan durasi sebagai kriteria. Proses inflamasi akut ditandai oleh tiga tahap

utama (Scott et al. 1994):

1. Vasodilasi dan peningkatan aliran darah ke daerah tersebut.

2. Peningkatan permeabilitas vascular dengan kebocoran plasma dari

mikrosirkulasi.

3. Migrasi phagocytic leukosit dari mikrosirkulasi ke dalam jaringan sekeliling. 24

Proses inflamasi akut pada awal gerakan gigi secara ortodonti pada dasarnya

bersifat eksudatif, di mana plasma dan leukosit bermigrasi dari kapiler di daerah

regangan paradental. Satu atau dua hari kemudian, fase inflamasi akut berakhir dan

digantikan oleh proses kronis yang pada pokoknya bersifat proliferatif, yang

melibatkan fibroblast, sel endothelial, osteoblast dan sel sumsum tulang alveolar.

Selama periode ini, leukosit terus bermigrasi ke dalam jaringan paradental yang

meregang dan memodulasi proses remodeling.

Inflamasi kronis berlangsung sampai janji-temu klinik berikutnya, saat

ortodontis mengaktifkan alat penggeser-gigi, dengan demikian dimulai periode

inflamasi akut lainnya dan dapat menimpa kembali inflamasi kronis yang sudah

terjadi. Untuk pasien, periode inflamasi akut terkait dengan sensasi nyeri dan

penurunan fungsi (mengunyah). Refleksi dari fenomena ini bisa ditemukan pada

cairan crevicular gingival (GCF) gigi yang sedang bergerak, di mana kenaikan yang

signifikan dalam akonsentrasi mediator inflamasi, seperti sitokin dan prostaglandin,

terjadi untuk sementara. 24

2.2. Separator

Di dalam perawatan ortodonti dengan memakai pesawat cekat, biasanya perlu

(31)

kontak interdental diperlukan aplikasi separator. Pada aplikasi separator pasien akan

merasa tidak nyaman. Gigi terpisah dan medapatkan sedikit ruang pada interdental

untuk memudahkan pemasangan band. Ada beberapa tipe separator yaitu : separator

brass wire, ring, dan dumbell.6,19

2.3. Interleukin-1β

Interleukin-1, dideskripsikan sebagai lymphocyte activating factor (LAF)

untuk efek thymocyte-nya, merupakan sitokin polipeptide dengan dua bentuk

molekul. Dua bentuk molekul dari IL-1 berasal dari dua gen yakni IL-1 α dan IL-1 .

Keduanya mempunyai berat molekul 15 kD tetapi berbeda dalam isoelektrik. Inhibitor

IL-1 secara struktural berbeda pada IL-1 dan penting di dalam aksi regulasi IL-1 .

Semula Sitokin disebut juga limfokin ketika masih dikira hanya disekresikan

oleh T sel, baru kemudian diketahui sel-sel lain seperti makrofag juga dapat

mensekresinya. Bagaimanapun, ketika menyebut sitokin limfosit, istilah limfokin

masih digunakan.

Sitokin merupakan hasil “soluble polypeptide” dari sel pada sistem imun.

Yang diproduksi makrofag adalah monokin dan limfosit menghasilkan limfokin.

Beberapa fakta mengenai sitokin :

1. Sitokin dapat memodifikasi sel-sel lain begitu juga dengan sel-sel yang

memproduksinya. Ini disebut regulatory cytokines. Beberapa sitokin memacu

proliferasi sel-sel seperti neutrofil, makrofag dan fibroblas, sedangkan yang

lainnya menyebabkan differensiasi sel-sel seperti T sel dan B sel.

2. Sebagian sitokin dapat mencapai sirkulasi umum dan memberi efek sistemik

(32)

3. Sitokin nama lainnya adalah ”interleukin” yang dibagi atas nomor-nomor.

Sitokin diberi nama berdasarlkan efek biologisnya bila sekuen asam amino

tidak diketahui (contoh, tumour necrosis factor, macrophage inhibition factor).

Oleh karena itu sitokin mempunyai lebih dari satu efek biologis, nama-nama

diskriptif dapat disalah artikan.

4. Limfokin diproduksi sebagai respon dari stimulasi antigen limfosit, dan bebas

dari antigen spesifik yang mengawali respon.

Pada reaksi imunologik atau reaksi inflamasi banyak substansi serupa hormon

dilepaskan oleh limfosit T dan B maupun oleh sel-sel lain, berfungsi sebagai sinyal

interselular untuk mengatur respons inflamasi lokal maupun sistemik terhadap

rangsangan dari luar. Sekresi substansi itu dibatasi sesuai kebutuhan (self-limitting).

Substansi-substansi tersebut secara umum dikenal dengan nama sitokin,

substansi yang dilepaskan oleh limfosit disebut limfokin sedangkan yang disekresikan

oleh monosit disebut monokin. Sitokin ini berperan dalam pengendalian haemopoesis

maupun limfopoesis dan juga berfungsi dalam mengendalikan respons imun dan

reaksi inflamasi dengan cara mengatur pertumbuhan, serta mobilitas dan diferensiasi

leukosit maupun sel-sel lain. Selain itu sitokin juga diketahui berperan dalam

patofisiologi berbagai jenis penyakit.

Tidak hanya destruksi tulang terinflamasi diatur oleh produksi sitokin lokal

akan tetapi begitu juga remodeling tulang normal. Secara fisiologi, tulang

mengalami resorpsi dan aposisi tulang yang terus-menerus. Keseimbangan negatif

antara resorpsi dan pembentukan tulang sering karena resorpsi yang berlebihan,

adalah dasar dari banyaknya penyakit tulang. Diantara faktor-faktor yang dihasilkan

secara lokal untuk mengatur remodeling tulang fisiologis adalah PGs, IL-1, TNF-α

(33)

merupakan sel-sel multinucleated khusus berasal dari hemopoietic sedangkan

pembentukan tulang dilaksanakan oleh osteoblas. Strategi utama dalam ortodonti

klinis adalah aplikasi kekuatan mekanik untuk menghasilkan remodeling jaringan

periodontal yang terorganisasi dengan sebuah tujuan yakni pergerakan gigi. Kekuatan

ortodonti disalurkan dari akar gigi ke periodontium dimana sel-sel distimulasi untuk

remodeling matriks yang mengelilingi mereka. Pergerakan ortodonti disebabkan

resorpsi tulang di tempat-tempat tekanan dan aposisi tulang di tempat-tempat tarikan

(Reitan, 1954; Rygh, 1973, 1976; Brudvik dan Rygh, 1993). Sitokin seperti IL-1α,

IL-1β, dan TNF-α telah diimplikasikan dalam proses tersebut. (Davidovitch dkk,

1988; Saito dkk, 1991) (Gambar 4).24,25,26

Gambar 4 : Keterlibatan sitokin didalam remodeling jaringan yang menyebabkan pergerakan gigi (Davidovitch,1988)29

(34)

Ada beberapa sifat umum yang dimiliki oleh setiap jenis sitokin, yaitu

1. Sekresi sitokin pada umumnya terjadi singkat dan membatasi diri; sitokin tidak

pernah disimpan, sebagai molekul yang preformed dan sintesis sitokin biasanya

diawali dengan transkripsi gen yang terjadi akibat stimulasi. Aktivasi transkripsi ini

biasanya berlangsung sesaat, dan mRNA yang menyandi sebagian besar sitokin

bersifat tidak stabil sehingga sintetis sitokin juga hanya sesaat. Produksi beberapa

sitokin dikendalikan oleh pemrosesan RNA dan mekanisme paskatranskripsi,

misalnya pelepasan produk aktif dari precursor inaktif. Segera setelah disintesis

sitokin dengan cepat disekresikan dan menghasilkan aktivitas yang diperlukan.

2. Setiap jenis sitokin biasanya diproduksi oleh lebih dari satu jenis sel, dapat

bereaksi terhadap berbagai jenis sel (pleiotropic) dan memberikan dampak yang

berbeda pada satu jenis sel sasaran yang sama.

3. Sitokin sering mempengaruhi sintesis dan aktivitas sitokin lainnya.

Kemampuan satu jenis sitokin untuk mempengaruhi sitokin lainnya memungkinkan

terjadinya suatu kaskade di mana sitokin kedua atau ketiga dapat memperantarai efek

sitokin pertama, tetapi mungkin juga 2 (dua) sitokin bekerja sebagai antagonis satu

dengan lain, atau berinteraksi untuk menghasilkan efek yang lebih besar dari yang

diharapkan.

4. Aktivitas sitokin dapat lokal maupun sistemik. Sebagian besar sitokin beraksi

dekat dengan tempatnya diproduksi baik dalam sel yang memproduksinya (autocrine

action) maupun pada sel yang letaknya berdekatan (paracrine action). Bila diproduksi

dalam jumlah banyak, sitokin dapat masuk dalam sirkulasi dan bekerja sistemik

(endocrine action);

5. Sitokin merupakan mediator respons imun yang sangat poten dan mampu

(35)

berikatan reseptor sitokin pada membran sel sasaran dengan afinitas sangat tinggi.

Ekspresi reseptor dipengaruhi oleh sinyal-sinyal eksternal, misalnya stimulasi sel T

atau sel B akan meningkatkan ekspresi reseptor sitokin, dengan demikian turut

mengatur kepekaan sel tersebut terhadap sitokin.

6. Respons seluler terhadap sebagian besar sitokin terdiri atas perubahan ekspresi

gen pada sel sasaran yang berakibat ekspresi fungsi baru atau proliferasi sel sasaran.

Pengecualian dalam hal ini adalah chemokine yang mengakibatkan migrasi sel tanpa

menambah ekspresi gen, dan TNF yang menginduksi kematian sel tanpa memerlukan

sintesis protein baru.

Reseptor sitokin diklasifikasikan dalam beberapa tipe sesuai kesamaan

(homolog) struktur domain reseptor yang mengikat sitokin. Berdasarkan homologi ini

reseptor sitokin dikelompokkan dalam 5 kelompok, yaitu reseptor tipe I, tipe II, Ig

Super Famili (IgSF) reseptor TNF dan reseptor-α heliks transmembran. Reseptor

sitokin sangat berperan dalam menghasilkan transkripsi gen yang diperlukan dalam

(36)

Gambar 5. Regulasi teoritis dari osteoklastogenesis oleh osteoblas. Aktivator reseptor dari RANKL menginduksi osteoklas yang belum matang (0C)

Integritas skeletal adalah akibat dari interaksi dinamis antara osteoblas untuk

aposisi tulang dan osteoklas dalam terjadinya resorpsi tulang. Tingkat remodeling

didefinisikan selain dari pembentukan tulang dari osteoblas, juga melibatkan aktivasi

precursor osteoklas. Meskipun demikian, dasar komunikasi antara osteoblas dan

osteoklas tidak jelas sehingga terbagi atas beberapa kelompok secara terpisah, yang

mengidentifikasikan keberadaan faktor intermediary pada permukaan osteoblas yang

bertanggung jawab atas induksi osteoklastogenesis. Faktor ini adalah anggota

superfamili Tumour Necrosis Factor (TNF) dan diistilahkan Reseptor Aktivator dari

Nuclear Factor kB Ligand (RANKL). Pengikatan RANKL pada reseptor cognate,

Receptor Activator of Nuclear Factor kB (RANK), yang diekspresikan pada

permukaan sel-sel progenitor osteoklas, menimbulkan osteoklastogenesis dan

mengaktifkan osteoklas (dalam keberadaan Macrophage Colony Stimulating

Factor/M-CSF), menyebabkan peningkatan resorpsi tulang. Meskipun demikian

RANKL juga berpotensi untuk mengikat Osteoprotegerin (OPG), sejenis protein

reseptor decoy yang dapat larut secara kompetitif terikat pada protein RANKL yang

(37)

osteoklastogenesis. Oleh karena itu interaksi RANKL-OPG mengurangi resorpsi

tulang (Gambar 5)

2.4. Gingival Crevicular Fluid (GCF)

GCF adalah suatu campuran yang berasal dari serum dan berfungsi sebagai

vehicle dari mekanisme pertahanan tubuh. Setelah mulainya pembentukan plak,

permeabilitas vaskuler jaringan konektif meningkat, yang dapat dideteksi secara klinis

melalui peningkatan aliran GCF . Dalam GCF crevice gingival sehat dilepaskan hanya

dalam jumlah kecil. Kuantifikasi volume GCF telah digunakan untuk menyatakan

status terinflamasinya jaringan periodontal. Volume GCF meningkat pada gingivitis,

dan periodontitis (Nakamura 2000), akan tetapi aliran yang meningkat tidak

merefleksikan aktivitas penyakit periodontal.

Komposisi GCF telah dibuktikan mengikuti dan merefleksikan kesehatan dan

penyakit gingiva yang berdekatan (Cimasoni 1983). Kualifikasi GCF yang

dikumpulkan dapat digunakan untuk merefleksikan aktivitas inflamasi jaringan

periodontal. Pada pasien-pasien periodontitis, konsentrasi GCF MMP-8 yang

meninggi secara berulang dapat mengindikasikan tempat-tempat pada resiko progresi

periodontitis dan juga pasien-pasien dengan respon yang kurang baik terhadap

pengobatan periodontal konvensional (Mantyla dkk., 2003).

GCF dapat dikumpulkan melalui beberapa tehnik: dengan filter paper strips,

micropipette tube dan capillary tubing. Filter paper strips adalah metode yang umum

digunakan (Gambar 6). Waktu sampling biasanya 30 detik atau kurang (Mantyla dkk.

2003, 2006), akan tetapi 3 hingga 5 menit juga telah digunakan dalam studi-studi

(38)

Gambar 6. Pengambilan GCF dengan filter paper strip. Strip masuk ke dalam sulkus dan cairan meresap ke filter paper strip9

Ada beberapa cara penempatan filter paper strip (Gambar 7). Pada penelitian

ini dipakai metode intracrevicular superficial karena tidak invasif sehingga lebih

aman dan mudah terserap.

(39)

2.5. Kerangka Teori

Tekanan yang dilepas piranti ortodonti

Tekanan diaplikasikan ke mahkota gigi

Tekanan diteruskan melalui akar gigi ke ligamen periodontal dan tulang alveolar

2 (Dua) elemen Kontrol

Teori Piezoelektric Teori Tekanan-Tarikan

Aliran darah pada sisi tekanan ↓

Aliran darah pada sisi tarikan ↑

Pelepasan mediator kimia : - IL-1 - EGF

- IL-6 - 2 microglobulin - TNFα

- SP

- IFN-γ

Aktivasi dari sel-sel : - Fibroblas

- Osteoblas - Osteoklas

- undifferentiates cells

Remodelling tulang alveolar

(40)

2.6. Kerangka Konsep

Tekanan mekanik alat ortodontik (elastik separator)

Ligamentum peridontal mengalami tekanan dan tarikan

Proses inflamasi

Sel leukosit migrasi keluar dari kapiler ligamentum periodontal

BAB 3

level IL-1β ?

Mengaktifkan dan menstimulasi pembentukan osteoklas

Stimulasi resorpsi tulang

Pergerakan gigi

30 menit 3 hari Sebelum aplikasi

elastik separator

(41)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Eksperimental murni

3.2. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian

3.2.1. Tempat Penelitian : - Klinik Spesialis Ortodonti FKG-USU

- Laboratorium Oral Biologi FKG UI

3.2.2. Waktu Penelitian : - 1 (satu ) bulan

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi Penelitian

Pasien yang akan dirawat giginya dengan pesawat ortodonti cekat.

3.3.2. Sampel Penelitian

Perkiraan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Snedecor

dan Cochran (Budiarto, 2002)

n = Zα2 P(1-P) / d2

= 1,96 x 0,2 (1-0,2) / 0,05

= 0,39 x 0,8 / 0,05

= 0,31 x 0,05

= 6,27

Untuk mengurangi bias besar n ditambah 20% sehingga :

6,27 + (6,27 x 20% ) = 7,52 (digenapkan menjadi 8)

(42)

n = besar sampel

p = proporsi variabel

Zα = simpangan rata-rata distribusi normal standar dengan α = 0,05

d = kesalahan sampling yang masih dapat ditoleransi

3.3.2.1. Kriteria Sampel

Kriteria Inklusi : - Molar kedua belum erupsi

- Kesehatan umum baik

- Tidak dalam terapi antibiotika pada 6 bulan terakhir

- Tidak menggunakan obat anti inflamasi pada bulan

pelaksanaan penelitian

- Periodonsium sehat dengan kedalaman probing ≤ 3 mm

- Tidak ada bone loss

Kriteria Eksklusi : - Pasien yang loss follow up

(43)

3.4. Variabel dan Definisi Operasional

3.4.1. Hubungan Antar Variabel

VARIABEL BEBAS VARIABEL TERGANTUNG

- Tekanan mekanis dari elastik - Level IL-1 pada GCF

sebelum aplikasi elastik separator, 30 menit dan 3 hari setelah aplikasi elastik separator

dari elastik separator tipe ring

- Waktu pemakaian 30 menit dan 3 hari

VARIABEL KENDALI VARIABEL TAK TERKENDALI

- Usia - Terjadi reaksi alergi

- Jenis kelamin laki-laki dan

perempuan

- Pengunyahan pasien yang

menyebabkan lepasnya elastik separator selama penelitian berlangsung

- Level of force (elastik separator) - Suhu penyimpanan

- Metode pengambilan GCF

- Sterilisasi alat, bahan penelitian dan media

- Ketrampilan peneliti

3.4.1.1. Variabel Bebas (Variabel Independen)

- Tekanan mekanis dari elastik separator tipe ring

- Waktu pemakaian elastik separator

3.4.1.2. Variabel Tergantung

- Level IL-1 pada GCF sebelum aplikasi elastik separator; 30 menit dan 3

hari

setelah aplikasi elastik separator

3.4.1.3. Variabel Kendali

- Usia

- Jenis kelamin laki-laki dan perempuan

- Level of force (elastik separator), jenis separator yang dipakai adalah tipe

(44)

- Suhu penyimpanan sampel

- Waktu pengambilan GCF yaitu sebelum aplikasi elastik separator, 30 menit

dan 3 hari setelah aplikasi elastik separator

- Metode pengambilan GCF

- Sterilisasi alat, bahan penelitian dan media

- Ketrampilan peneliti

3.4.1.4. Variabel Tak Terkendali

- Terjadi reaksi alergi

- Pengunyahan pasien yang menyebabkan lepasnya elastik separator selama

penelitian berlangsung

3.4.2. Definisi Operasional

- IL-1 adalah sitokin dan salah satu mediator inflamasi akibat pemakaian

elastik separator yang diambil dari GCF dengan memakai filter paper point

- Level IL-1 adalah banyaknya kadar IL-1 di dalam GCF yang diukur

sebelum aplikasi elastik separator , 30 menit dan 3 hari setelah aplikasi elastik

separator

- GCF adalah cairan yang diambil dari sulkus gingiva dengan kedalaman 1 mm

selama 30 detik

- GCF pada sisi tekanan adalah GCF pada sisi distal molar pertama permanen

(45)

3.5. Bahan , Alat dan Cara

3.5.1. Bahan

- Phosphate- buffered saline (PBS,PH 7,2)

- Phenylmethylsulfonyl+fluoride (PMSF)

- Filter paper point (gambar 8)

- Cotton roll dan cotton pellet

Gambar 8 : Filter paper point ukuran 25 dipakai untuk mengambil GCF

3.5.2. Alat

- Elastik separatordari Ortho Organizer tipe Blue Regular 400-355 bentuk ring

- Separator plier

- Kaca mulut

- Pinset

- Sonde

- Scaler

- Probe

- Kulkas

- Stopwatch

(46)

3.5.3. Cara

Pada penelitian ini dipakai tehnik Elisa. Human IL-1 ELISA adalah

enzyme linked immunosorbent assay untuk mendeteksi kuantitas IL-1 manusia.

Human IL-1 ELISA adalah untuk penelitian dan bukan untuk keperluan prosedur

diagnostik atau terapeutik (Gambar 9). Protokol penelitian di laboratorium adalah

sebagai berikut :

1. Tentukan nomor dari microwell yang dipakai untuk menguji sampel. Setiap sampel

dinilai duplikat supaya lebih akurat (Gambar 10)

2. Tabung eppendorf di microcentrifuge 2000 rpm selama 5 menit (Gambar 11)

3. Tabung eppendorf (48 tabung) yang sudah di centrifuge dibuka satu-persatu ,

ambil 50 μl cairan ke microwell. Satu tabung eppendorf untuk 2 microwell, sehingga

microwell berjumlah 96. Shaker 96 microwell selama 2 jam (Gambar 12 dan 13)

4. Tambah Biotin Conjugate 50 μl (Gambar )

5. Shaker selama 2 jam.

6. Cuci pakai Wash Buffer Elisa untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan.

IL-1 sudah attached di dasar microwell (yang tidak attached akan lepas)

7. Kemudian ditambah Streptavioline HRP 100 μl

8. Shaker 1 jam

9. Inkubasi selama 20 menit

10. Lalu IL-1 yang sudah attached di dasar microwell dikomputerisasi dan

diperoleh data

(47)

Gambar 9. Human IL-1 beta Elisa

A. B. C.

Gambar 10A. Setiap tabung diberi nomor dari nomor 1 sampai 48 10B dan C. Assay Record Template. Setiap sampel dinilai duplikat.

(48)

Gambar 12. Alat eppendorf untuk mengambil cairan penelitian

Gambar 13. Tabung eppendorf yang sudah di centrifuge dibuka satu-persatu , ambil 50 μl cairan ke microwell. Satu tabung eppendorf untuk 2 microwell, sehingga

(49)

Gambar 14. Sampel yang terdapat di microwell, masing-masing ditambah Biotin

Conjugate 50 μl dan kemudian di shaker selama 2 jam

Gambar 15. Setelah di shaker selama 2 jam, lalu dicuci dengan Wash Buffer Elisa

untuk

membuang zat-zat yang tidak diperlukan, kemudian ditambah Streptavioline

(50)

A. Gambar 16A. Alat shaker (dari depan) B. Alat shaker (dari atas)

A B

Gambar 17A. Mesin Pengukur level IL-1 (dari depan) B. Dari atas. Mesin tersebut

dihubungkan dengan komputer dan dapat dikomputerisasi lalu

diperoleh

hasil (data)

(51)

3.6. Prosedur Penelitian

Delapan subyek (4 perempuan dan 4 laki-laki; usia berkisar 8,9-13,8

tahun), berpartisipasi dalam penelitian ini. Pasien menjalani perawatan ortodonti

karena gigi yang berjejal pada satu atau kedua rahang dengan molar kedua permanen

belum erupsi. Penelitian mendapatkan izin dari Komite Etik Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara dan inform consent dari orang tua atau wali pasien.

Kunjungan pertama adalah 14 hari sebelum aplikasi elastik separator, pasien

di-instruksikan untuk menjaga oral hygiene, scaling dan polishing, serta pemeriksaan

kedalaman probing periodontal pada keempat sisi molar pertama permanen dan ada

atau tidaknya pendarahan antara 15 detik setelah probing. Kunjungan kedua adalah

untuk aplikasi elastik separator (Gambar 18) pada mesial molar pertama permanen.

Setiap gigi yang diikutsertakan pada penelitian ini diisolasikan dengan cotton roll dan

dibersihkan dengan cotton pellet serta permukaan gigi dikeringkan dengan semprotan

angin. GCF diambil dengan filter paper point sebelum aplikasi elastik separator dan

30 menit sesudah aplikasi elastik separator. Kunjungan ketiga adalah pengambilan

GCF 3 hari sesudah aplikasi elastik separator. Pengambilan GCF (Gambar 19)

dilakukan pada sisi mesial dan distal. Sampel dimasukkan ke dalam tabung

eppendorf (Gambar 20) dan segera dibekukan pada -20oC sampai hari

penganalisaan menggunakan tehnik Elisa.

(52)

Gambar 19. Pengambilan GCF memakai filter paper point dengan metode

intracrevicular superficial

A B

Gambar 20 A. Sampel dimasukkan dalam tabung eppendorf yang berisi cairan PMSF

dan PBS kemudian segera dibekukan.

B. Sebannyak 48 tabung eppendorf yang berisi sampel disusun ke dalam rak

eppendorf

3.7. Analisa Data

Analisis data untuk membandingkan perubahan relatif antara pengukuran

dari GCF sebelum aplikasi elastik separator, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi

elastik separator dilakukan dengan One Way ANOVA. Sedangkan Uji-t dipakai untuk

(53)

3.8

Pemeriksaan periodontal (menentukan 8 subyek yang termasuk kriteria inklusi)

Scaling dan Polishing

Instruksi Oral Hygiene

14 hari kemudian

Sebelum aplikasi elastik separator

(mesial dan distal)

Sampel dimasukka l= 48 tabung) yang

berisi 100 UL cairan PBS yang diberi PMSF

Dibekukan -20oC sampai hari penganalisaan

Ekstrak IL- dari GCF

ELISA

Data

. Alur Penelitian

Pengambilan GCF

Sesudah aplikasi elastik separator 30 menit

3 hari

n ke dalam tabung eppendorf (total 48 sampe

(54)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

kkan perbedaan tetapi tidak signifikan

ntara sisi tarikan dan tekanan (tabel 1).

an

Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian

Dari 8 subyek yang diperiksa dari sisi tarikan (mesial) dan tekanan (distal),

pada pemeriksaan GCF sebelum aplikasi elastik separator, menunjukkan sisi

tekanan lebih tinggi dari sisi tarikan. Pada pemeriksaan GCF setelah 30 menit

aplikasi elastik separator menunjukkan sisi tarikan lebih tinggi dari sisi tekanan

dan sesudah 3 hari aplikasi elastik separator menunjukkan sisi tekanan lebih tinggi

dari sisi tarikan. Level IL-1 menunju

a Sesudah 3 hari Tarikan

Tekanan 8 271,063+40,34 0,519

Tabel 1. Perbedaan level IL-1 antara sisi tarikan dan tekanan

Level IL-1 pada sisi tarikan meningkat setelah 30 menit aplikasi elastik

separator dan kemudian menurun sesudah 3 hari aplikasi elastik separator, sedangkan

pada sisi tekanan sebaliknya yaitu level IL-1 pada sisi tekanan menurun setelah 30

menit aplikasi elastik separator dan kemudian meningkat sesudah 3 hari aplikasi

(55)

Sisi an

Tabel 2. Perbedaan level IL-1 sebelum, setelah 30 menit dan 3 hari aplikasi tekanan mekanis

Gambar 21 . Grafik perubahan level IL-1 sisi mesial atau tarikan.

Grafik perubahan level IL-1 pada sisi tarikan (mesial) pada pemeriksaan

awal ( sebelum aplikasi elastik separator), kemudian diperiksa pada 30 menit sesudah

aplikasi elastik separator dan 3 hari sesudah aplikasi elastik separator (gambar 8).

Terjadi peningkatan level IL- 1 setelah 30 menit aplikasi tekanan mekanis

(56)

kemudian menurun setelah 3 hari berikutnya dan penurunannya sedikit di bawah

sebelum aplikasi elastik separator.

Gambar 22 . Grafik perubahan level IL-1 sisi distal atau tekanan.

asi tekanan mekanis dan meningkat kembali setelah 3 hari aplikasi tekanan

ekanis. Kenaikan level IL- 1 jauh diatas level IL- 1 sebelum aplikasi elastik

eparator. level IL-1

Grafik perubahan level IL-1 pada sisi tekanan (distal) pada pemeriksaan

awal (sebelum aplikasi elastik separator), 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi elastik

separator (Gambar ). Pada sisi tekanan terjadi penurunan level IL- 1 setelah 30

(57)

BAB 5

k lagi hanya sebatas struktur kimia atu fisika, melainkan

juga fu

gan buntelan-buntelan serat PDL menghasilkan peningkatan

PEMBAHASAN

Biologi molekular dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari

fungsi dan organisasi jasad hidup (organisme) ditinjau dari struktur dan regulasi

molekular unsur atau komponen penyusunnya. Istilah biologi molekular pertama kali

digunakan oleh William Astbury pada tahun 1945 untuk menjelaskan struktur kimia

dan fisika makromolekul biologis. Dengan perkembangan biologi modern, cakupan

biologi molekular kini tida

ngsi dan organisasi makromolekul tersebut didalam organisme serta interaksi

antarkomponen selular. 30

Penelitian histologik klasik tentang pergerakan gigi oleh Sandstedt (1904),

Oppenheim (1911) dan Scwarz (1932) mendorong mereka mengajukan hipotesa

bahwa gigi bergerak dalam ruang periodontal dengan menghasilkan “sisi tekanan”

dan “sisi tarikan”. Hipotesa ini menjelaskan bahwa, pada sisi tekanan, PDL

menunjukkan ketidakteraturan dan penurunan produksi serat. Di sini, replikasi sel

ternyata berkurang disebabkan penyempitan vascular. Di sisi tarikan , stimulasi yang

dihasilkan peregan

replikasi sel. Peningkatan aktivitas proliferatif ini akhirnya menyebabkan peningkatan

produksi serat. 31,32

Konsep tekanan-tarikan pada gerakan gigi ortodontik dievaluasi terutama

dengan studi histologik periodontium. Diajukan bahwa perubahan lebar pada PDL

menyebabkan perubahan populasi sel dan peningkatan aktivitas seluler. Terjadi

gangguan nyata serat-serat collagen pada PDL, dengan bukti kerusakan sel dan

(58)

yang diikuti dengan daerah aselularitas atau zona bebas-sel. Penyelesaian masalah

dimulai saat elemen-elemen seluler seperti makrofage, osteoclast dari daerah yang

tidak rusak di dekatnya menginvasi jaringan nekrotik. Sel-sel ini juga meresorpsi sisi

bawah

tulang terdiri kehilangan massa tulang pada daerah tekanan PDL dan

ila gaya

mekani

tulang yang persis berdekatan dengan daerah PDL nekrotik dan

melenyapkannya bersama-sama dengan jaringan nekrotik. 33

Ulasan yang diberikan menunjukkan bahwa inflamasi mungkin

bertanggungjawab setidaknya sebagian atas perekrutan seluler dan remodelling

jaringan di daerah pemberian gaya. Proses ini menyebabkan resorpsi frontal (di mana

osteoclast dihadapkan pada margin tulang alveolar yang berdekatan dengan PDL yang

mengalami tekanan, yang menghasilkan resorpsi tulang langsung). Tahap ketiga

remodelling

aposisi pada daerah tarikan. Fenomena ini membentuk tema utama hipotesa

tekanan-tarikan. 33

Sampai saat ini belum ada satupun hipotesa memberikan bukti konklusif

tentang sifat rinci dari mekanisme biologik gerakan gigi. Studi histologik, histokimia

dan immunohistokimia di abad 20 dan awal abad 21 menunjukkan bahwa banyak

fenomena, baik fisika maupun biologi, terlibat dalam pergerakan gigi. B

k diberikan, sel-sel dan juga matriks ekstraseluler PDL dan tulang alveolar,

bereaksi secara bersamaan, yang menghasilkan remodelling jaringan. 31,32,33

Pada penelitian Dudic dkk. dengan subyek delapan belas orang anak (usia

rata-rata 10,8) yang baru memulai perawatan ortodonti diikutsertakan dalam

penelitian. Elastik separatordiisersi di bagian mesial pada kedua molar pertama atas

dan bawah. Salah satu molar antagonis berperan sebagai kontrol. GCF dikumpulkan

dari sisi mesial dan distal dari tiap molar, sebelum peletakan separator (-7d, 0d) dan

(59)

dengan enzyme-linked immunosorbent assay. Pada pergerakan gigi secara ortodonti,

level GCF dari IL-1 , SP dan PGE2 signifikan lebih tinggi daripada gigi kontrol pada

kedua sisi tension dan compression, dan pada hampir semua tindakan setelah insersi

separator. Peningkatan yang relatif terhadap nilai awal pada umumnya lebih tinggi

pada sisi tension. Untuk gigi kontrol, ketiga mediator yang digunakan pada level awal

selama percobaan.hasilnya menyatakan bahwa level IL-1 , SP dan PGE2 dalam GCF

erefleksi

dalam bentuk brass wire, dan

m kan aktifitas biologis dalam periodonsium selama pergerakan gigi

ortodonti.

Pada penelitian ini didapat hasil bahwa tidak ada perbedaan bermakna

antara sisi tekanan dan tarikan pada sebelum, 30 menit dan 3 hari sesudah aplikasi

tekanan mekanis. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya peran biomarker yang lain

selain IL-1 dan kemungkinan adanya teori lain selain teori tekanan-tarikan yaitu teori

piezoelectric dan teori pembengkokan tulang. Pada sisi tekanan terjadi penurunan

level IL-1 setelah 30 menit aplikasi tekanan mekanis dan meningkat kembali setelah

3 hari aplikasi tekanan mekanis.Tekanan mekanis yang dipakai adalah elastik

separator, dan elastik menggunakan gaya ringan dan berkesinambungan (light

continuous force), perlu diteliti bagaimana bila dipakai gaya yang berat dan

terputus-putus (heavy and intermittent). Sedangkan pada sisi tarikan terjadi peningkatan level

IL-1 setelah 30 menit aplikasi tekanan mekanis, kemudian menurun setelah 3 hari

berikutnya. Perlu diteliti proses apa yang terjadi pada 2 hari atau lebih dari 3 hari.

Disini peneliti menggunakan durasi 30 menit karena dengan waktu tersebut (hitungan

menit) sudah terjadi pergerakan gigi, dan durasi 3 hari karena dengan pemakaian

elastik 3 hari sudah didapat ruangan yang cukup untuk pemasangan molar band.

Gambar

Gambar 1 :     Struktur normal dari gigi dan jaringan pendukungnya 28
Gambar 2. Perubahan morfologis pada sisi tarikan selama pergerakan gigi   secara ortodonti
gambar 2 dan 3. 7,21,22
Gambar  4  : Keterlibatan sitokin didalam remodeling jaringan yang                  menyebabkan pergerakan gigi (Davidovitch,1988)29
+7

Referensi

Dokumen terkait