• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Dampak Gas Amoniak Dan Klorin Pada Faal Paru Pekerja Pabrik Sarung Tangan Karet "X" Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisa Dampak Gas Amoniak Dan Klorin Pada Faal Paru Pekerja Pabrik Sarung Tangan Karet "X" Medan"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA DAMPAK GAS AMONIAK DAN KLORIN PADA

FAAL PARU PEKERJA PABRIK SARUNG

TANGAN KARET ”X” MEDAN

TESIS

Oleh

IMELDA OLIVIA HUTABARAT

057010011/KK

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISA DAMPAK GAS AMONIAK DAN KLORIN PADA

FAAL PARU PEKERJA PABRIK SARUNG

TANGAN KARET ”X” MEDAN

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Dalam Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Kekhususan Program Studi Kesehatan Kerja

Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

OLEH

IMELDA OLIVIA HUTABARAT

057010011/KK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : Analisa Dampak Gas Amoniak Dan Klorin Pada Faal Paru Pekerja Pabrik Sarung Tangan Karet ”X” Medan

Nama Mahasiswa : Imelda Olivia Hutabarat

Nomor Pokok : 057010011

Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kekhususan Program Studi Kesehatan Kerja

Menyetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Sutomo Kasiman, Sp.PD, Sp.JP Ketua

Ir. Indra Chahaya S., M.Si Dra. Lina Tarigan, Apt., MS Anggota Anggota

Ketua Program Studi Direktur SPs USU

Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B.,M.Sc

(4)

Telah diuji pada :

Tanggal 31 Agustus 2007

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Sutomo Kasiman, Sp.Pd, Sp.JP

Anggota : Ir. Indra Chahaya S., M.Si

Dra. Lina Tarigan, APT, MS

dr. Halinda Sari Lubis, MKKK

(5)

PERNYATAAN

ANALISA DAMPAK GAS AMONIAK DAN KLORIN PADA

FAAL PARU PEKERJA PABRIK SARUNG

TANGAN KARET ”X” MEDAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, September 2007

(6)

ANALISA DAMPAK GAS AMONIAK DAN KLORIN PADA FAAL PARU PEKERJA PABRIK SARUNG TANGAN KARET ”X” MEDAN

ABSTRAK

Proses pembuatan sarung tangan karet menghasilkan gas amoniak dan gas klorin. Gas amoniak dihasilkan dari proses penambahan cairan amoniak berkadar tinggi yaitu 0.6% sebagai antikoagulan pada latex, dan gas klorin dihasilkan dari proses pencucian sarung tangan karet dengan kadar 500-700 ppm. Pemaparan gas amoniak dan gas klorin dengan lama paparan dan konsentrasi yang cukup, akan menyebabkan gangguan paru.

Pabrik sarung tangan karet ”X” memiliki 15 pekerja di bagian Amoniak, 28 pekerja di bagian Klorin yang terbagi dalam 3 shift yaitu pagi, siang, dan malam yang bekerja tanpa menggunakan alat pelindung pernafasan, dan 4 pekerja di bagian Manajemen Representatif (MR) sebagai kontrol. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode cross sectional untuk menganalisa dampak amoniak dan klorin pada faal paru pekerja di bagian Amoniak dan Klorin dengan memberikan kuesioner untuk menilai keluhan-keluhan pernafasan, pemeriksaan faal paru menggunakan spirometer, dan pemeriksaan udara untuk mengetahui kadar gas amoniak di bagian Amoniak, klorin di bagian Klorin, dan gas amoniak dan klorin di ruang MR.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa di bagian Amoniak, terdapat keluhan berupa tenggorokan kering (80%), jalan pernafasan kering (73.3%), mata perih (66.67%), iritasi hidung dan batuk (53.3%), dan pingsan (6.67%). Di bagian Klorin, terdapat keluhan berupa hidung berair (96.42%), merasa tersedak (92.85%), batuk dan sakit pada dada (89.28%), kering tenggorokan, mata iritasi dan dada sesak (85.71%), dan pingsan (7.14%). Di ruang MR, seluruh pekerja tidak mengalami keluhan. Hasil pemeriksaan udara menunjukkan bahwa kadar pada lingkungan kerja masih berada dibawah ambang batas, yaitu gas amoniak di bagian Amoniak sebesar 1.7, 1.9, dan 3.5 ppm, gas klorin di bagian Klorin sebesar 0.0869 dan 0.0697 ppm, dan di ruang MR, gas amoniak sebesar 0.05 ppm, dan gas klorin <0.00001. Kadar gas di bagian Amoniak dan Klorin tidak dapat menunjukkan kadar normal di pabrik, karena pada saat penelitian dilakukan, proses klorin berjalan sebesar 25% dan proses secara keseluruhan sebesar 24.1%. Hasil spirometri menunjukkan bahwa di bagian Amoniak terdapat 1 pekerja memiliki gangguan ringan jenis restriktif, di bagian Klorin terdapat 3 pekerja yang memiliki gangguan ringan yaitu 1 pekerja dengan jenis obstruktif dan 2 pekerja dengan jenis restriktif, dan di bagian MR, seluruh pekerja memiliki faal paru yang normal. Setelah dilakukan uji korelasi pearson, ditemukan tidak ada hubungan antara tempat kerja dengan gangguan paru. Untuk menjaga kesehatan faal paru pekerja, disarankan untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada pekerja dan pemeriksaan kadar gas amoniak dan klorin secara teratur.

(7)

ANALYSIS OF AMMONIA AND CHLORINE GAS EFFECT ON WORKERS PULMONARY FUNCTION IN RUBBER GLOVES INDUSTRY ”X” MEDAN

ABSTRACT

Rubber gloves manufacturing process produces ammonia and chlorine gas. Ammonia gas arises as the result of adding high concentration of liquid ammonia (0.6 %) as an anticoagulant to latex and chlorine gas arises as the result of rubber gloves wash process using high concentration of chlorine (500-700 ppm). Inhaling Ammonia and chlorine gas with enough concentration and duration of exposure, will damage pulmonary function.

There are fifteen workers in the Ammonia department, twenty eight workers in the Chlorine department for three work shifts that are working without respiratory protective devices, and four workers in the Management Representative department as control. The purpose of this cross sectional study is to analyze ammonia and chlorine gas effect on workers pulmonary function by giving a questionnaire to evaluate the respiratory symptoms, testing workers pulmonary function by using Spirometer, and measuring the level of ammonia gas in the Ammonia department, chlorine gas in the Chlorine department, and ammonia and chlorine gas in the MR room.

The results showed that in the Ammonia department, the respondents reported having dry throat (80%), dry respiratory tract (73.3%), eye irritation (66.6%), nose irritation and cough (53.3%), and unconsciousness (6.67%). In the Chlorine department, the respondents reported having choked (92.85%), wet nose (96.24%), cough and chest pain (89.28%), dry throat, eye irritation, and breathing difficulty (85.71%), and unconsciousness (7.14%). All workers in the MR department did not report any respiratory symptoms. The chlorine gas and ammonia gas levels were below the threshold limit value, the ammonia levels in the Ammonia department were 1.7, 1.9, and 3.5 ppm, the chlorine levels in the Chlorine department were 0.0869 and 0.0697 ppm. These values can’t express the normal level, because by the time the research was done, the chlorine process was run 25%, and the whole process was run only 24.19%. The ammonia and chlorine gas levels in the MR room are 0.05 and <0.00001 ppm. One worker from the Ammonia department had mild restrictive pulmonary and three workers from the Chlorine department had mild obstructive (1 worker) and mild restrictive (2 workers). All workers in the MR department had normal pulmonary function. No relationship was found between workplace and pulmonary dysfunction. Few recommendations are given in order to keep the workers pulmonary function healthy, such as having regular medical check up for each worker and regular ammonia and chlorine gas measurement.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih

setia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini, yang sekaligus sebagai

pernyataan akhir penyelesaian pendidikan pada Program Magister Kesehatan Kerja

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan

penghargaan sebesar-besarnya kepada:

1. Komisi pembimbing yakni Bapak Prof. Dr. Sutomo Kasiman, Sp.Pd, Sp.JP,

Ibu Ir. Indra Chahaya S., M.Si, dan Ibu Dra. Lina Tarigan, APT, MS yang

selama ini telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Tesis sehingga Tesis

dapat semakin sempurna.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B.,Msc sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana

USU; Bapak Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM selaku Ketua Program Studi

Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Magister Kesehatan Kerja, Program

Pascasarjana USU yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk

mengikuti pendidikan di Program Magister Kesehatan Kerja, Program

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara; serta Bapak/Ibu staf pengajar yang

selama ini telah memberikan pengajaran dan bimbingan kepada penulis.

3. Alm. Prof. Dr. Harwinta F. Eyanoer, Msc, MPH, DrPH, SpOK selaku mantan

Ketua Program Magister Kesehatan Kerja yang telah memberikan ilmu yang

(9)

4. Ibu Ellen Hutapea dan keluarga yang telah memberikan banyak bantuan dan

dukungan selama penulis melaksanakan penelitian.

5. Pihak Pimpinan, staff, dan seluruh karyawan Pabrik Sarung Tangan Karet ”X”

Medan, khususnya di bagian Amoniak, Klorin, dan Manajemen Representatif

tempat penulis melaksanakan Tesis.

6. Rekan-rekan mahasiswa/i Magister Kesehatan Kerja Angkatan 2005 yang

banyak memberikan motivasi kepada penulis.

7. Pimpinan dan seluruh staff Medan International School tempat penulis bekerja

yang memberikan banyak dukungan, motivasi, dan bantuan kepada penulis dalam

menyelesaikan pendidikan di Program Magister Kesehatan Kerja, Program

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan yang khusus ini, penulis ingin menyampaikan dan

mengungkapkan terima kasih dengan segala rasa kasih dan sayang kepada orang tua

yang tercinta Bapak M. Hutabarat dan Ibu T. br Simanjuntak. Bapak dan Ibu

penulis yang telah mengasuh penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi

pada Strata Magister (S-2), dan juga kepada kakak-kakak terkasih: Eli, Anton, Kris,

dan Sri Hutabarat yang telah memberi perhatian, dan dukungan kepada penulis.

Akhirnya penulis berharap semoga penulisan Tesis ini dapat berguna bagi

kemajuan Ilmu Pengetahuan khususnya di bidang Kesehatan Kerja.

Medan, September 2007

(10)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Imelda Olivia Hutabarat merupakan anak pertama dari lima orang bersaudara, dari keluarga Bapak M. Hutabarat dan Ibu T. Simanjuntak

Nama : IMELDA OLIVIA HUTABARAT Tempat/Tanggal Lahir : Medan , 22 Oktober 1979

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Jln. Binjai Km. 8.5 No. 41A Medan - 20126

Telp. : 061-8453036

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. Tahun 1985 – 1991 : SD Methodist Indonesia 6 Medan 2. Tahun 1991 – 1994 : SMP Methodist Indonesia 6 Medan 3. Tahun 1994 – 1997 : SMUN 11 Medan

4. Tahun 1997 – 2001 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

5. Tahun 2005 -2007 : Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Studi Kesehatan Kerja

Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT PEKERJAAN

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

BAB 1 PENDAHULUAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu ... 16

3.1.1. Tempat ... 16

(12)

3.2. Rancangan Penelitian ... 16

(13)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 47

5.2. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1. Landasan Teoritis ... 6

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 19

Gambar 4.1. Seorang pekerja sedang membersihkan tabung ... 30

Gambar 4.2. Pipa penghisap gas klorin ... 31

Gambar 4.3. Tabung berisi latex dan amoniak sebagai anti koagulan 37

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Jenis dan Contoh Gangguan Faal Paru ... 13

Tabel 2.2. Keterangan Secara Umum Pada Pengujian FVC ... 15

Tabel 4.1. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur di bagian Amoniak, Klorin, dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X”

Medan Tahun 2007 ... 32

Tabel 4.2. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin di bagian Klorin dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan

Tahun 2007 ... 33

Tabel 4.3. Distribusi Responden Menurut Lama Bekerja di bagian Amoniak, Klorin, dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007 ... 33

Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Status Merokok di bagian Amoniak dan Klorin Pabrik Sarung Tangan Karet “X”

Medan 2007 ... 34

Tabel 4.5. Distribusi Responden Menurut Banyak Keluhan di bagian Amoniak dan Klorin Pabrik Sarung Tangan Karet “X”

Medan 2007 ... 35

Tabel 4.6. Kadar amoniak dan klorin pada ruang MR Pabrik Sarung

Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007 ………. 36

Tabel 4.7. Kadar amoniak pada ruang Amoniak Pabrik Sarung

Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007 ………. 36

Tabel 4.8. Kadar klorin pada ruang Klorin Pabrik Sarung Tangan

Karet “X” Medan Tahun 2007 ……….. 37

Tabel 4.9. Distribusi Responden Menurut Hasil Spirometri di

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian

Lampiran 2: Hasil Uji Korelasi Pearson

Lampiran 3: Flow Chart Pembuatan Sarung Tangan Bebas Tepung

Lampiran 4: Hasil pengukuran Faal Paru (Spirometri) di bagian Amoniak, Klorin, dan Manajemen Representatif

Lampiran 5:Hasil Kuesioner pada pekerja di bagian Amoniak, Klorin, dan Manajemen Representatif

Lampiran 6: Laporan Hasil Pengujian oleh Laboratorium BAPEDALDA

(17)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Latex adalah cairan kental seperti susu yang di ambil dari pohon karet

(Hevea brasilliensis), yang merupakan bahan mentah pembuatan sarung tangan

karet. Bahan mentah tersebut dicampur dengan zat pengawet berupa amoniak

dengan kadar yang tinggi yaitu 0.6% sehingga mencapai konsentrasi tertentu

kemudian dikirim untuk diolah menjadi bahan baku pembuatan sarung tangan.

Cairan kental ini mengandung partikel CIS-1,4 polyisoprene, yang membuat latex

menjadi elastis, partikel tersebut mengandung protein 30kD phenyltransferese dan

14.5kD yang membuat latex dapat diregangkan ataupun dibentuk menjadi panjang

dan tipis.

Dalam prosesnya, pembuatan sarung tangan menggunakan zat pengawet

berupa amoniak yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (Issley, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Arwood dkk (1985) melaporkan banyak terjadi

kematian akibat menghirup amoniak. Pada umumnya kematian tersebut adalah

akibat paparan akut oleh gas amoniak.

Suatu studi kohort yang dilakukan oleh Heederik dkk (2000) pada petani

yang bekerja pada tempat penyimpanan ternak, pada penelitian ini dilakukan

pengukuran kadar amoniak, debu total, debu yang dapat dihirup, karbondioksida,

(18)

itu yang paling berhubungan dengan peningkatan gangguan pernafasan adalah

amoniak dan debu, dan gangguan pernafasan berkurang pada saat pemaparan

dihilangkan. Kadar amoniak berkisar 1.60 mg/m3 dan debu 2.63 mg/m3. Efek

pernafasan berupa reaktivitas bronchial (hyperresponsiveness), inflamasi,

batuk-batuk, susah bernafas, sesak nafas, berkurangnya fungsi paru.

Penelitian cross sectional yang dilakukan oleh Ballal dkk. (1998), pada

pekerja laki-laki di dua pabrik pupuk di Saudi Arabia menunjukkan adanya

hubungan antara pemaparan gas amoniak dengan gejala gangguan pernafasan

termaksud asma bronchial. Pekerja pada pabrik pertama terpapar pada kadar

2.82-183.86 ppm / 2-130.4 mg/m3 memiliki gangguan pernafasan yang lebih tinggi

dibandingkan dengan pekerja pada pabrik kedua terpapar pada kadar 0.03-9.87

ppm / 0.02-7 mg/m3.

Untuk mengurangi kadar tepung dan bahan-bahan kimia yang masih

tertinggal pada sarung tangan, digunakan klorin pada proses pencucian.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lehmann (1887), menemukan adanya

hubungan antara menghirup klorin dengan kerusakan paru, yaitu dengan

mengadakan percobaan terhadap binatang dengan pemaparan klorin berkadar 1

ppm. Pada tahun kedua perang dunia I, klorin digunakan sebagai senjata dan

memberikan dampak racun. Berghoff (1919) melaporkan efek klorin terhadap

paru dialami oleh 2000 korban, dan 50% dari tentara tersebut mengalami

(19)

Chester dkk (1969) meneliti tentang efek pemaparan klorin dalam waktu

yang lama dengan kadar 1 ppm. Dari 139 pekerja, terdapat 55 orang yang cukup

parah yang memerlukan terapi oksigen, dan 3 orang mengalami obstruksi pada

jalan pernafasan. Enarson dkk (1984), melaporkan bahwa pekerja (tidak merokok)

pada industri pemutihan bubur kertas di Columbia Inggris, mengalami obstruksi

saluran pernafasan. Para pekerja tersebut mengalamai gejala susah bernafas, dan

pada pemeriksaan paru ditemukan adanya penurunan angka aliran midmaximal

dan ratio FEV1/FVC.

Pada tahun 1990, Shi dkk mengadakan penelitian terhadap 2 kelompok

pekerja berdasarkan lama waktu bekerja . Kelompok A terdiri dari 220 pekerja

yang telah bekerja/ terpapar selama 25 tahun. Kelompok B terdiri dari 133 pekerja

yang bekerja/terpapar kurang dari 10 tahun. Kelompok A dan B terpapar gas

klorin dengan kadar 0.37-1.75 ppm. Kelompok sebagai kontrol terdiri dari 192

pekerja yang tidak terpapar klorin pada tempat yang sama dan rata-rata umur

mereka adalah 39.7 tahun. Ditemukan bahwa kelompok A dan B menunjukkan

3-8 kali lebih tinggi memiliki keluhan pada saluran pernafasan dibandingkan dengan

kelompok kontrol. Pekerja yang merokok dari grup A dan B menunjukkan gejala

kerusakan paru yan tertinggi.

Pembuatan sarung tangan karet semakin meningkat jumlahnya, hal ini

disebabkan semakin meningkatnya pemakaian sarung tangan latex untuk

mencegah penularan penyakit melaui darah seperti HIV, Hepatitis B, dan infeksi

(20)

in Health-Care Settings (CDC 1987) dan pada Guidlines for Prevention of

Transmission of Human Immunodeficiency Virus and Hepatitis B Viris to

Health-Care and Public Safety Workers Arikal (CDC 1989 ).

Pabrik Sarung Tangan Karet ”X” merupakan pabrik pembuat sarung

tangan yang memakai latex sebagai bahan mentah. Dalam prosesnya, pabrik

menggunakan amoniak dan klorin. Setiap harinya, latex yang digunakan adalah

sebanyak 7 ton, dan amoniak dengan konsentrasi 0.6% yang digunakan sebagai

antikoagulan pada latex, dan klorin dengan kadar 500-1000 ppm untuk proses

pembersihan sarung tangan. Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang

dilakukan peneliti pada pabrik sarung tangan ini, ditemukan adanya

masalah-masalah kesehatan, khususnya gangguan pada pernafasan seperti batuk-batuk,

sesak nafas, tenggorokan kering, hidung gatal dan berair pada pekerja khususnya

pekerja dibagian Amoniak dan Klorin. Sifat amoniak dan klorin yang cepat

menguap dan larut dalam air mengakibatkan kedua bahan kimia ini dapat merusak

saluran pernafasan bagi pekerja yang menghirupnya.

1.2. Perumusan Masalah

Pada pabrik Sarung Tangan Karet ”X”, tahap-tahap proses produksi berada

dalam suatu kawasan pabrik yang tertutup, dan pekerja bekerja selama 8 jam

setiap hari tanpa memakai alat pelindung pernafasan. Pekerja mengalami beberapa

keluhan yaitu gangguan pernafasan seperti batuk-batuk, tenggorokan kering,

(21)

lingkungan kerja yang mengandung amoniak dan klorin yang dicurigai telah

melebihi ambang batas.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk menganalisa dampak amoniak dan klorin di udara lingkungan kerja

terhadap faal paru pekerja pada Pabrik Sarung Tangan Karet ”X”, Medan.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui kadar amoniak di udara lingkungan kerja bagian

Amoniak pada Pabrik Sarung Tangan Karet ”X”, Medan.

2. Untuk mengetahui kadar klorin di udara lingkungan kerja bagian Klorin

pada Pabrik Sarung Tangan Karet ”X”, Medan.

3. Untuk mengetahui prevalens / besarnya gangguan pernafasan pada pekerja

di bagian Amoniak dan Klorin.

4. Untuk mengetahui hubungan tempat kerja dengan gangguan paru.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pabrik Sarung Tangan ”X”, untuk memberi masukan mengenai

dampak amoniak dan klorin pada pernafasan pekerja, sehingga dapat

segera mengambil tindakan untuk mengurangi efek samping yang

(22)

2. Bagi pekerja Pabrik Sarung Tangan “X”, untuk mengurangi dampak

amoniak dan klorin pada pernafasan akibat udara lingkungan kerja.

3. Bagi peneliti, untuk mengetahui dampak amoniak dan klorin pada

pernafasan akibat udara lingkungan kerja, dan bagaimana pencegahannya.

1.5. Landasan Teoritis

Gambar 1.1. Landasan Teoritis

Mata, hidung, kerongkongan, jalan pernafasan kering, batuk-batuk, iritasi pada hidung dan tenggorokan,

kerusakan paru-paru, kebutaan, pingsan Amoniak

Iritasi membran mukosa, kerongkongan sakit, keracunan paru-paru, edema pada paru, sakit dada, sulit bernafas, asma, muntah, dyspnea, batuk

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Latex

Latex dibuat dari suatu cairan kental seperti susu yang diambil dari pohon

karet yaitu Hevea brasilliensis, yang ditanam di Malaysia, Indonesia, dan

Thailand. Latex mengandung protein sebanyak 15mg/ml. Amoniak dicampur pada

latex untuk mencegah penggumpalan dan kontaminasi dengan zat lain.

Konsentrasi amoniak yang dicampur terbagi 2 yaitu konsentrasi tinggi yaitu 0.6%

dan konsentrasi rendah yaitu 0.2-0.3%. Konsentrasi amoniak yang tinggi

digunakan untuk menstabilkan larutan latex, sehingga penambahan bahan kimia

lainnya dapat dikurangi, tetapi apabila menggunakan konsentrasi amoniak yang

lebih rendah, perlu adanya penambahan akselerator dan antioksidan yang lebih

tinggi (Woods J, Lambert S, TAE P-M, Drake D, Edlich R, 1996).

2.2. Amoniak

Amoniak merupakan bahan kimia yang bersifat basa, dalam bentuk gas

bersifat sangat iritan, tidak berwarna, dan memiliki bau yang sangat tajam. Sangat

mudah larut dan membentuk larutan amonium hidroksida yang dapat

mengakibatkan iritasi dan terbakar. Amoniak sering digunakan dalam produksi

peledakan, farmasi, pestisida, tekstil, bahan-bahan yang terbuat dari kulit

(24)

sianida. Amoniak juga merupakan komponen besar dalam produksi bleaching dan

bahan pembersih rumah tangga, seperti pembersih kaca, pembersih toilet, pelapis

logam, pembersih lantai, pembersih lilin. Nilai ambang batas amoniak yang aman

dihirup pekerja selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu adalah 25 ppm.

Pekerja dapat terpapar dengan amoniak dengan cara terhirup gas ataupun

uapnya, tertelan, ataupun kontak dengan kulit, pada umumnya adalah melalui

pernafasan (dihirup). Amoniak dalam bentuk gas sangat ringan, lebih ringan dari

udara sehingga dapat naik, dalam bentuk uap, lebih berat dari udara, sehingga

tetap berada dibawah.

Gejala yang ditimbulkan akibat terpapar dengan amoniak tergantung pada

jalan pemaparan, dosis, dan lama pemaparan. Gejala-gejala yang dialami dapat

berupa mata berair dan gatal, hidung iritasi, gatal dan sesak, iritasi tenggorokan,

kerongkongan dan jalan pernafasan terasa panas dan kering, batuk-batuk. Pada

dosis yang tinggi dapat mengakibatkan kebutaan, kerusakan paru-paru, bahkan

kematian. Amoniak juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

Kematian mendadak akibat pemaparan amoniak secara akut terjadi

diakibatkan karena adanya penyumbatan saluran pernafasan, dan adanya infeksi

atau komplikasi lainnya merupakan faktor yang dapat menyebabkan kematian

pada orang-orang yang dapat bertahan selama beberapa hari ataupun minggu

setelah terpapar amoniak. Pada kadar ini, terjadi kerusakan atau terbakar pada

(25)

Penelitian de la Hoz dkk. 1996 menemukan dari 94 kasus, terdapat 20 yang

berakibat fatal dan 35 memerlukan pengobatan selama 1 tahun atau lebih.

Efek yang ditimbulkan akibat pemaparan amoniak bervariasi tergantung

kadarnya, yaitu:

• 25ppm, merupakan nilai ambang batas yang dapat diterima

• 25-50ppm, bau dapat ditandai, pada umumnya tidak menimbulkan dampak

• 50-100ppm, mengakibatkan ritasi ringan pada mata, hidung, dan tenggorokan,

toleransi dapat terjadi dalam 1-2 minggu tanpa memberikan dampak

• 140ppm, mengakibatkan iritasi tingkat menengah pada mata, tidak

menimbulkan dampak yang lebih parah selama kurang dari 2 jam

• 400ppm, mengakibatkan iritasi tingkat menengah pada tenggorokan

• 500ppm merupakan kadar yang memberikan dampak bahaya langsung pada

kesehatan

• 700ppm, bahaya tingkat menengah pada mata

• 1000ppm, dampak langsung pada jalan pernafasan

• 1700ppm, mengakibatkan laryngospasm

• 2500ppm, berakibat fatal setelah pemaparan selama setengah jam

• 2500-6500ppm, mengakibatkan nekrosis dan kerusakan jaringan permukaan

jalan pernafasan, sakit pada dada, edema paru, dan bronchospasm

(26)

2.3. Klorin

Gas klorin berwarna kuning kehijau-hijauan, tidak mudah terbakar dan 2.5

kali lebih berat dari udara sehingga gas klorin cenderung tinggal didekat

permukaan tanah sehingga waktu pemaparan menjadi meningkat. Klorin bersifat

moderate water solubility yaitu dapat larut dalam air dalam beberapa saat, tidak

secara langsung seperti amoniak, karena sifatnya ini, klorin tidak langsung

menimbulkan gejala gangguan pernafasan, tetapi memerlukan waktu beberapa

menit. Klorin dapat memberi dampak pada permukaan yang mengandung air,

seperti kulit, mata, hidung, dan mucous membrane dan saluran pernafasan atas

dan bawah. Klorin dalam bentuk cairan menyebabkan iritasi berat dan kulit

melepuh.

Tempat kerja yang merupakan sumber pemaparan klorin adalah produksi

plastik khususnya PVC, kertas dan bubur kertas, pekerjaan berhubungan dengan

logam, alat-alat elektronik, dan bahan pembersih kering, pengolahan air bersih,

dan farmasi. Tempat kerja yang menggunakan klorin harus memiliki ventilasi

yang baik, tersedia shower, oksigen, alat pelindung pernafasan atau tabung

pernafasan yang gampang digunakan. Studi kasus yang dilakukan pada manusia

yang terpapar klorin selama 4 jam dengan kadar 1 ppm, ditemukan bahwa

pemaparan tersebut mengakibatkan penurunan FVC, FEV1, dan aliran peak

expiratory.

Nilai ambang batas klorin adalah 0.3-0.5ppm. Efek yang ditimbulkan

(27)

• 0.2 – 0.4 ppm, merupakan ambang batas yang dapat diterima.

• 1-3 ppm (ringan), mengakibatkan iritasi membran mukosa, dapat di terima

oleh tubuh dengan batas pemaparan sampai selama 1 jam.

• 5-15 ppm (sedang), mengakibatkan sakit dada, muntah, dyspnea, dan

batuk

• 40-60 ppm (beracun), mengakibatkan keracunan paru-paru dan edema

pada pulmonary

• 430 ppm, lethal pada pemaparan yang lebih dari 30 menit

• 1000 ppm, fatal dalam pemaparan beberapa menit.

2.4. Faal Paru

Volume paru manusia rata-rata adalah 6 liter udara, dan hanya sedikit saja

yang digunakan dalam pernafasan biasa. Volume paru menunjukkan adanya

perbedaan fisik, kapasitas paru menunjukkan beberapa kombinasi volume paru

yang berbeda, sehubungan dengan aktivitas pernafasan (menghirup dan

mengeluarkan).

Kapasitas total paru yang paling besar yang dicatat oleh seorang peneliti

Inggris, Peter Reed, adalah 11.68 liter. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi

volume paru, beberapa diantaranya dapat dikendalikan dan ada yang tidak dapat

(28)

1. Jenis Kelamin (laki-laki memiliki kapasitas paru yang lebih besar dari pada

perempuan)

2. Tinggi badan (orang yang berbadan tinggi memiliki kapasitas paru yang lebih

besar dari pada orang yang berbadan pendek)

3. Status merokok (tidak perokok memiliki kapasitas paru yang lebih besar dari

pada perokok)

4. Pergerakan fisik (atlit memiliki kapasitas paru yang lebih besar dari pada tidak

atlit)

5. Tinggi permukaan tanah (orang yang tinggal didataran tinggi memiliki

kapasitas paru yang lebih besar dari pada orang yang tinggal didataran rendah)

Seseorang yang lahir pada daerah yang memiliki ketinggian yang rendah,

akan memiliki kapasitas paru yang lebih kecil dari pada orang yang tinggal pada

daerah yang lebih tinggi. Hal ini terjadi karena atmosfir kurang padat pada

permukaan yang lebih tinggi, dan karena itu, pada volume udara yang sama akan

mengandung molekul gas yang lebih sedikit termaksud oksigen. Karena itu, paru

akan semakin besar untuk menghasilkan lebih banyak udara. Ketika seseorang

yang berasal dari permukaan yang lebih rendah pindah ke daerah yang lebih

tinggi, mereka akan mengalami altitude sickness (penyakit akibat level

ketinggian) karena paru mereka tidak dapat menghasilkan oksigen yang cukup

(29)

Berikut ini adalah element dasar dari pengujian fungsi paru. Hasilnya

dapat digunakan untuk membedakan antara penyakit paru restriktif atau

obstruktif.

Tabel 2.1. Jenis dan Contoh Gangguan Faal Paru

Jenis Contoh Keterangan FEV1/FVC

Restrictive Fibrosis paru Volume berkurang Sering dalam interval yang normal

Obstructive Asma atau COPD

Volume normal tetapi

angka alirannya terhambat.

Sering rendah

Sumber: Wikipedia 2007, Lung Volume

Faal paru yang normal apabila hasil nilai prediksi menunjukkan >

80%. Tingkat keparahan gangguan paru dibagi menjadi 3 yaitu

1. Faal paru yang mengalami gangguan ringan apabila hasil nilai prediksi

menunjukkan 65% - 80%.

2. Faal paru yang mengalami gangguan sedang apabila hasil nilai prediksi

menunjukkan 50% - 65%.

3. Faal paru yang mengalami gangguan berat apabila hasil nilai prediksi

(30)

2.5. Spirometri

Pengujian spirometri dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut

spirometer. Pada umumnya spirometer dapat menunjukkan keterangan berikut ini:

1. Kurva waktu volume, menunjukkan volume (liter) sepanjang garis Y dan

waktu (detik) sepanjang garis X.

2. Lup volume aliran, secara grafik menunjukkan angka aliran udara pada

garis Y dan volume total udara yang dihirup atau yang dikeluarkan pada

garis X.

2.5.1. Prosedur Pengukuran

Pasien diminta untuk bernafas sedalam mungkin, dan mengeluarkannya

sekeras mungkin ke dalam mouth piece. Hasil pencatatan volume udara yang

ditiupkan tampak pada kurva waktu volume sehingga dapat diperoleh besar

Forced Expiratory Volume dalam waktu 1 detik (FEV1) dan Force Vital Capacity

(FVC).

Hasil spirometri meliputi: nilai ukuran normal dari FVC, FEV1 &

(31)

2.5.2. Keterangan Secara Umum Pada Pengujian FVC

Tabel 2.2. Keterangan Secara Umum Pada Pengujian FVC

Singkatan Nama Keterangan

FVC Forced Vital Capacity Jumlah total udara yang dapat dikeluarkan secara paksa setelah

melakukan inspirasi penuh, diukur dalam liter.

FEV1 Forced Expiratory Volume in 1 second

Jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara paksa dalam 1 detik, diukur dalam liter.

FEV1/FVC - Ratio FEV1 dengan FVC. Pada orang dewasa yang sehat berkisar 75 – 80% PEF Peak Expiratory Flow Kecepatan pergerakan udara yang keluar

dari paru pada saat dimulainya ekspirasi, diukur dalam liter per detik.

FEF 25-75% atau 25-50%

Forced Expiratory Flow 25-75% or 25-50%

Kecepatan atau rata-rata aliran udara yang keluar pada saat pertengahan dilakukannya ekspirasi (kadang-kadang menunjukkan angka MMEF yaitu maximal mid-expiratory flow / aliran maksimal pertengahan ekspirasi) FIF 25-75%

atau 25-50%

Forced Inspiratory Flow 25%-75% or 25%-50%

Sama halnya dengan FEF 25-75% atau 25-50%, tetapi pengukuran ini dilakukan pada saat melakukan inspirasi.

(32)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu

3.1.1. Tempat

Penelitian dilakukan di Pabrik Sarung Tangan Karet ”X” yang berlokasi di

Kawasan Industri Medan, Jalan Yos Sudarso Km. 10,5 Medan Belawan. Alasan

pemilihan lokasi penelitian adalah semakin banyaknya produksi sarung tangan

karet karena semakin banyaknya pesanan dari dalam maupun luar negri, yang

pada umumnya digunakan di rumah sakit untuk mencegah penularan HIV/AIDS

terutama pada saat melakukan operasi. Pekerja yang bekerja terus menerus selama

8 jam sehari terpapar dengan lingkungan kerja yaitu dengan bahan kimia yang

dicampur dalam proses pembuatan sarung tangan.

3.1.2. Waktu

Penelitian dilakukan sejak Oktober 2006, dan melakukan survey awal pada

3 Febuari 2007. Seluruh rangkaian proses pembuatan tesis selama 10 bulan yaitu

dari bulan Oktober 2006 sampai Juli 2007.

3.2. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu studi analitik dengan disain penelitian

Cross Sectional yaitu untuk menganalisa dampak amoniak dan klorin pada faal

(33)

kuesioner tertutup sehingga dapat diketahui keluhan-keluhan gangguan pernafasan

akibat bahan kimia tertentu yang digunakan dalam proses pembuatan sarung

tangan.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi pada penelitian adalah pekerja di Pabrik Sarung Tangan ”X”,

Medan.

3.3.2. Sampel

Sampel penelitian adalah pekerja yang berada pada bagian Amoniak (15

orang), Klorin (28 orang), dan bagian Manajemen Representatif/MR (4 orang)

yaitu sebanyak 47 orang. Pengambilan sampel diambil secara purposif yaitu

sesuai dengan tujuan penelitian yaitu seluruh pekerja dibagian Amoniak, Klorin,

dan bagian MR sebagai pembanding.

3.4. Pelaksanaan Penelitian

3.4.1. Pengisian Kuesioner

Kuesioner yang bersifat tertutup diberikan kepada pekerja mengenai:

1. Data pribadi meliputi nama, umur, tinggi badan

2. Lama bekerja.

(34)

4. Keluhan-keluhan yang dialami pekerja selama bekerja di pabrik pembuatan

sarung tangan karet tersebut.

3.4.2. Survey Lingkungan

Untuk mengetahui kadar amoniak di bagian Amoniak, dan klorin di bagian

Klorin, dan kadar amoniak dan klorin di bagian MR, dilakukan pemeriksaan

kualitas udara.

3.4.3. Pemeriksaan Faal Paru

Pemeriksaan dilakukan dengan sebuah alat yang disebut spirometri. Dari

hasil pengukuran akan diperoleh besar Force Vital Capacity (FVC) dan Forced

Expiratory Volume dalam waktu 1 detik (FEV1).

3.5. Variabel Penelitian

3.5.1. Variabel Bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah tempat kerja yang kemungkinan

besar terkontaminasi dengan amoniak dan klorin.

3.5.2. Variabel Terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah dampak pada faal paru pekerja

(35)

3.6. Kerangka Konsep Penelitian

Pabrik Sarung Tangan Karet ”X”

Bagian Amoniak Amoniak dan Gas Klorin

Faal Paru Pekerja

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan:

(36)

3.6.1. Definisi Operasional

1. Bagian Amoniak merupakan salah satu bagian dalam proses pembuatan

sarung tangan karet di pabrik sarung tangan karet ”X”, dimana diadakan

pencampuran latex dengan amoniak.

2. Bagian Klorin merupakan salah satu bagian dalam proses pembuatan

sarung tangan karet di pabrik sarung tangan karet ”X”, dimana diadakan

pencucian sarung tangan karet untuk mengurangi kadar tepung dan bahan

sisa kimia lainnya.

3. Bagian Manajemen Representatif merupakan ruangan administrasi pada

pabrik sarung tangan karet ”X” dimana pekerja-pekerja pada ruangan ini

bertugas untuk memastikan sistem manajemen mutu dilaksanakan dengan

baik.

4. Pengukuran kadar gas amoniak dan klorin adalah suatu pengukuran yang

dilakukan dengan metode penyerapan oleh larutan penyerap, dan setelah

proses penyerapan selesai, larutan akan dianalisa.

5. Amoniak merupakan senyawa kimia dengan rumus NH3, dan biasa

dijumpai dalam bentuk gas, pada pabrik sarung tangan karet “X”, amoniak

dicampurkan pada larutan latex konsentrat sebagai antikoagulan dan

pengawet.

6. Klorin adalah elemen kimia dengan rumus Cl2, dalam bentuk gas

(37)

digunakan dalam proses pencucian untuk mengurangi kadar tepung,

protein, dan sisa bahan kimia lainnya.

7. Faal paru normal bila pada pemeriksaan spirometri ditemukan nilai

prediksi FVC > 80% dan nilai FEV1 > 70%.

8. Faal paru terganggu adalah bila ada gangguan fungsi ventilasi paru-paru

yang dilihat pada nilai predicted FVC dan FEV1 dibawah nilai normal.

9. Gangguan paru obstruktif adalah gangguan paru yang ditandai dengan

berkurangnya aliran udara yang keluar pada saat mengeluarkan nafas

sekencang dan sekeras mungkin, pada pemeriksaan spirometri

menunjukkan penurunan nilai prediksi FEV1.

10.Gangguan paru restriktif adalah gangguan paru yang ditandai dengan

berkurangnya volume paru, pada pemeriksaan spirometri menunjukkan

penurunan nilai prediksi FVC.

11.Gangguan paru campuran adalah gangguan paru yang ditandai dengan

adanya penurunan volume paru dan volume aliran udara yang keluar pada

saat mengeluarkan nafas sekencang dan sekeras mungkin, pada

pemeriksaan spirometri menunjukkan penurunan nilai prediksi FVC dan

(38)

3.7. Alat Pengumpul Data

3.7.1. Kuesioner

Kuesioner yang bersifat tertutup mengenai data pribadi pekerja, umur,

lama bekerja, status merokok, dan keluhan yang dialami selama bekerja di pabrik

tersebut.

3.7.2. Spirometer

Alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan faal paru pekerja.

3.7.3. Air Sampler-Impinger

Alat ini digunakan untuk mengukur kadar amoniak diudara. Cara kerjanya

adalah:

1. Pipet 10 ml larutan penangkap didalam tabung impinger.

2. Isi tabung pengaman dengan kristal silika gel yang masih aktif (berwarna biru).

3. Hubungkan selang yaitu:

Selang bagian atas tabung impinger ditempatkan ditempat terbuka untuk

menarik gas dari udara ambient.

Selang dari bagian bawah tabung impinger dihubungkan dengan pipa atas

tabung pengaman.

Selang bagian bawah tabung pengaman dihubungkan ke inlet pompa

impinger.

(39)

4. Hidupkan pompa impinger dengan menekan tombol On.

5. Menghitung laju alir penangkapan udara dalam satuan per menit.

6. Membuat grafik hubungan antara Laju Alir Udara dan Step Potensio..

3.7.4. Spektrofotometer UV-Vis

Alat ini digunakan untuk mengukur gas klorin dengan kisaran panjang

gelombang 340 – 960 nm. Kisaran konsentrasi pengukuran antara 0.5 ml – 3.0 ml.

Metode disebut absorfotometer (orthotolidine) di ukur serapannya pada panjang

gelombang 400 nm.

Gas klorin yang dihasilkan pada proses diserap dengan menggunakan

absorban / larutan penyerap dimethyl benzinidium dichloride. Penyerapan

dilakukan standard sampling 0.5 – 1 l/menit diambil 2.5 liter. Kemudian diukur

setelah perubahan warna kuning. Larutan komplek yang terbentuk diperiksa

dengan spektrofotometer yang panjang gelombangnya 400 nm. Limit deteksi

konsentrasi Cl2 yang dapat diukur dengan metode ini pada kisaran 1 – 100 ppm

atau 3 – 314 mg/m3.

3.8. Metode Pengumpulan Data

3.8.1. Data Primer

Diperoleh dengan mengadakan wawancara langsung dengan pekerja dan

(40)

lingkungan dengan mengadakan pemeriksaan sampel udara untuk melihat kadar

amoniak dan klorin.

3.8.2. Data Sekunder

Diperoleh dari perusahaan mengenai gambaran umum perusahaan, dan

data pekerja.

3.9. Analisis Data

3.9.1. Analisis Univariat

Data yang telah terkumpul, diolah dan dianalisa untuk mendapatkan

gambaran deskriptif mengenai distribusi dan frekuensi atau besarnya proporsi tiap

variabel.

3.9.2. Analisis Bivariat

Korelasi pearson untuk mengetahui ada tidaknya hubungan tempat kerja

(41)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL

4.1.1. Gambaran Umum Perusahaan

1. Latar Belakang Pendirian Pabrik

Sarung tangan latex pada umumnya digunakan sebagai penghalang

pelindung terhadap infeksi virus seperti HIV, Hepatitis, dan beberapa bakteri

lainnya. Sarung tangan banyak digunakan di rumah sakit, klinik pengobatan dan

gigi, dan ditempat-tempat kesehatan lainnya.

Dengan berkembangnya AIDS pada tahun 1987, mengakibatkan

peningkatan yang mendadak akan kebutuhan sarung tangan latex. Sehingga

banyak pihak yang melihat industri ini sangat menguntungkan sehingga tertarik

untuk mendirikannya dan akibatnya industri ini pun meluas dan penyakit dapat

dikendalikan. Peningkatan industri ini mengakibatkan harga sarung tangan karet

yang relatif murah.

Perlis Plantation Berhad (PPB) petama sekali mengadakan pembuatan

sarung tangan medis pada tahun 1998. Pengembangan usaha dilakukan untuk

memenuhi permintaan yang terus meningkat, tetapi terhambat akibat terbatasnya

tenaga kerja. Suatu pemikiran kedepan untuk berusaha dinegara tetangga di

pelajari dan akhirnya diputuskan untuk mendirikan suatu pabrik yang memiliki 10

(42)

2. Lokasi Pabrik

Pabrik sebesar 4 hektar berada di Kawasan Industri Medan, kira-kira 10

km dari Medan, dan dengan mudah mencapai pelabuhan Belawan dengan melalui

15 km jalan besar.

3. Implemetasi Proyek

Pembangunan dimulai pada Januari 1993 dan produksi dilakukan pada

bulan September 1993, pada awalnya hanya 2 barisan dan kemudian meningkat

menjadi 10 barisan di tahun 1995, 15 baris pada tahun 1998 dan akhirnya 17

barisan yang menghasilkan 800 juta sarung tangan per tahun dan pabrik-pabrik

memiliki kapasitas untuk menghasilkan 750 juta sarung tangan per tahun dan

memperkerjakan 1200 pekerja. Sarung tangan tersedia dengan ukuran X-Small,

Small, Medium, Large, dan X-Large.

4. Produksi dan Pasar

Pabrik menghasilkan sarung tangan karet yang bertepung dan bebas

tepung, dan untuk selanjutnya mengusahakan menghasilkan produk yang lebih

aman dan mengurangi resiko iritasi kulit dan reaksi alergi lainnya. Seluruh

produksi di eksport, umumnya ke Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa.

Oleh karena sarung tangan digunakan untuk keperluan medis, maka dalam

pembuatan mengikuti standard mutu dan Praktek Pembuatan yang Baik yang

(43)

Gambaran sarung tangan yang diproduksi adalah sebagai berikut:

a. Memiliki lingkaran yang agak tebal pada area pergelangan tangan agar

mudah dipakai.

b. Kuat dimana pada saat diregangkan pada saat mau memakai, sarung

tangan tidak koyak atau rusak.

c. Sarung tangan yang bertepung mengandung tepung dalam kadar rendah

dan bahan-bahan kimia yang rendah yang dapat melarutkan protein,

sehingga dapat mengurangi reaksi dermatitis.

d. Sarung tangan yang diproduksi adalah yang halus dan tidak halus, dengan

disain selanjutnya adalah meningkatkan kualitas pegangan sarung tangan

dan karakter bahannya.

4.1.2. Gambaran Umum Proses Kerja

1. Pembuatan Sarung Tangan Karet

Pembuatan sarung tangan karet latex melalui beberapa tahap sebagai

berikut:

1. Latex yang mengandung protein dikumpulkan dari pohon karet H.

brasiliensis.

2. Penggumpalan latex dicegah dengan penambahan amoniak.

3. Latex diolah sehingga berkonsentrasi 30-60% padat. Perpindahan fase serum

mengurangi konsentrasi protein-protein yang larut dalam air (dalam tahap

(44)

4. Bahan-bahan kimia dicampurkan pada Pearl Mill yaitu Sulphur (.0-1.1), ZnO

(0.3-0.5), ZDBC (0.30-0.35), ZDEC (0.50-0.55), TiO2 (0.30-0.50),

Antioksidan (0.30-0.50):CPL, Ralox, dan Wingstay, dan Vultamol 0.10 dalam

satuan part per hundred)

5. Cetakan-cetakan yang terbuat dari porselin dibersihkan untuk membersihkan

sisa-sisa dari pencetakan sebelumnya, dengan mencelupkan cetakan ke larutan

asam HNO3, air, basa NH3, dan yang terakhir dengan air.

6. Cetakan dicelupkan pada cairan koagulan yaitu berupa kalsium karbamat dan

kalsiun nitrat, sehingga sarung tangan tidak lengket ke cetakan.

7. Cetakan yang berlumur cairan koagulan dikeringkan.

8. Cetakan-cetakan dicelupkan ke dalam larutan latex.

9. Kemudian dipanaskan sehingga lapisan cairan pada cetakan menjadi padat.

10.Sikat-sikat yang berputar dikenakan pada cetakan yang berputar dan

angin-angin kecil dihembuskan pada sarung tangan untuk membantu proses

pengeringan.

11.Cetakan melewati air hangat untuk menghilangkan protein-protein yang larut

dalam air dan zat-zat lainnya.

12.Diadakan vulkanisasi yaitu pemanasan yang sangat tinggi untuk menguatkan

ikatan-ikatan pada sarung tangan sehingga kuat dan tidak mudah robek.

(45)

13.Dicelupkan pada larutan klorin dengan kadar 1000-1400 ppm sebagai anti

lengket. Setelah itu dinetralkan dengan sodium tiosulfat dan kemudian dicuci

dengan air dan dikeringkan.

14.Sarung tangan di keluarkan dari cetakannya.

15.Sarung tangan dikeringkan dan dikelompokkan kedalam goni seberat 55 kg.

16.Dilakukan proses klorinisasi dengan kadar 500-1000ppm untuk

menghilangkan tepung ataupun sisa-sisa bahan kimia yang masih tertinggal

pada sarung tangan.

17.Kemudian dicuci dengan air dan dicuci kembali dengan klorin dengan kadar

yang rendah.

18.Diadakan penetralan dengan amoniak, setelah itu dicuci dengan air.

19.Proses spin dry untuk menghilangkan air pada sarung tangan kemudian

dimasukkan ke mesin tumbler untuk dikeringkan.

20.Sarung tangan dipacking.

2. Bagian Amoiak

Pekerja di bagian Amoniak terdiri dari 15 orang yang terbagi dalam 3

shift. Pekerja bertugas untuk mencampur latex dan amoniak dengan menggunakan

pipa, latex dan amoniak dibiarkan beberapa hari agar tercampur dengan sempurna.

Petugas juga memeriksa suhu, kadar latex dan amoniak secara berkala, dan

(46)

memiliki bau amoniak yang sangat tajam, semakin lama tabung dibiarkan kosong

maka semakin berkurang bau amoniak pada tabung.

Gambar 1: Seorang pekerja sedang membersihkan tabung

3. Bagian Klorin

Pekerja di bagian Klorin terdiri dari 28 orang yang terbagi dalam 3 shift.

Proses pencucian dengan klorin dilakukan sebagai berikut:

1. Diadakan pencucian awal dengan air selama 10 menit.

2. Setelah itu klorin dimasukkan sesuai dengan permintaan, dan biasanya

dengan kadar 500-1000 ppm. Klorin bercampur dengan air dan mulai

melakukan pencucian selama 20 menit.

3. Pada saat proses ke 2 hampir selesai, dituangkan larutan amoniak dan

(47)

4. Uap klorin di serap melalui pipa dan dikeluarkan sehingga pekerja yang

didalam ruang tidak menghirup uapnya.

5. Sisa cairan klorin mengalir melalui pipa dan masuk ke cairan sodium

hidroksida sehingga air yang mengalir ke parit-parit penduduk tidak bau

klorin.

Gambar 2: Pipa penghisap gas klorin

4. Ruang Manajemen Representative (MR)

Ruang Manajemen Representative merupakan ruangan yang diduga tidak

terpapar dengan amoniak dan klorin karena terletak terpisah dengan ruang

produksi. Pekerja di bagian MR terdiri dari 4 orang yang bertugas untuk

(48)

4.1.3. Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang akan dilihat adalah menurut umur, jenis

kelamin, lama bekerja, status merokok, dan banyak keluhan.

1. Umur

Tabel 4.1. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur di bagian Amoniak Klorin, dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Amoniak Klorin MR

Kelompok Umur

Tabel 4.1. menunjukkan bahwa, di bagian Amoniak, responden yang paling

banyak adalah kelompok umur dibawah 30 tahun dan 30-34 yaitu masing-masing

sebanyak 5 orang (33.3%) dan yang paling sedikit adalah kelompok umur >39

tahun yaitu sebanyak 1 orang (6.7%); di bagian Klorin, responden yang paling

banyak adalah kelompok umur dibawah 30 tahun yaitu sebanyak 13 orang

(46.4%) dan yang paling sedikit adalah kelompok umur 35-39 tahun yaitu

sebanyak 5 orang (17.9%); di bagian MR, umur responden yang paling banyak

adalah kelompok umur 30-34 tahun yaitu sebanyak 2 orang (50%) dan yang

paling sedikit adalah kelompok umur <30 dan 35-39 tahun yaitu masing-masing

(49)

2. Jenis Kelamin

Seluruh responden di bagian Amoniak pabrik sarung tangan karet

“X”adalah laki-laki yaitu sebanyak 15 orang (100%).

Tabel 4.2. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin di bagian Klorin dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Klorin MR

Tabel 4.2. menunjukkan bahwa responden di bagian Klorin terdiri dari

laki-laki sebanyak 26 orang (92%) dan perempuan sebanyak 2 orang (7.1%);

responden di bagian MR terdiri dari laki-laki sebanyak 2 orang 50%) dan

perempuan sebanyak 2 orang (50%).

3. Lama Bekerja

Tabel 4.3. Distribusi Responden Menurut Lama Bekerja di bagian Amoniak, Klorin, dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Amoniak Klorin MR

Lama Bekerja

Tabel 4.3. menunjukkan bahwa, di bagian Amoniak, lama bekerja

(50)

(53.3%) dan yang paling sedikit adalah kelompok 11-15 tahun yaitu sebanyak 3

orang (20%); di bagian Klorin, lama bekerja responden yang terbanyak adalah

kelompok 6-10 tahun yaitu sebanyak 23 orang (82.1%) dan yang paling sedikit

adalah kelompok 11-15 tahun yaitu sebanyak 5 orang (17.9%); di bagian MR,

lama bekerja responden yang terbanyak adalah kelompok 6-10 tahun yaitu

sebanyak 2 orang (50%) dan yang paling sedikit adalah kelompok 1-5 tahun dan

11-15 tahun yaitu masing-masing sebanyak 1 orang (25%).

4. Status Merokok

Tabel 4.4. Distribusi Responden Menurut Status Merokok di bagian Amoniak, dan Klorin Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Amoniak Klorin Status Merokok

Jlh % Jlh %

Ya 12 80 18 64.3

Tidak 3 20 10 35.7

Total 15 100.0 28 100.0

Tabel 4.4. menunjukkan bahwa di bagian Amoniak terdapat 12 responden

(80%) yang merokok dan 3 responden (20%) yang tidak merokok; di bagian

Klorin terdapat 18 responden (64.3%) yang merokok dan 10 responden (35.7%)

yang tidak merokok.

Seluruh responden di bagian MR yaitu sebanyak 4 orang (100%) tidak

(51)

5. Banyaknya Keluhan

Tabel 4.5. Distribusi Responden Menurut Banyak Keluhan di bagian Amoniak dan Klorin Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Amoniak Klorin Banyak Keluhan

Jlh % Jlh %

1-5 1 6.7 1 3.6

6-10 7 46.7 4 14.3

11-15 6 40.0 13 46.4

>15 1 6.7 10 35.7

Total 15 100.0 28 100.0

Tabel 4.5. menunjukkan bahwa responden di bagian Amoniak yang

memiliki keluhan paling banyak adalah pada kelompok 6-10 keluhan yaitu

sebanyak 7 orang (46.7%), dan paling sedikit pada kelompok >15 keluhan yaitu

sebanyak 1 orang (6.7%); di bagian Klorin yang memiliki keluhan paling banyak

adalah pada kelompok 11-15 keluhan yaitu sebanyak 13 orang (46.4%), dan

paling sedikit pada kelompok 1-5 keluhan yaitu sebanyak 1 orang (3.6%).

Seluruh responden di bagian MR yaitu sebanyak 4 orang (100%) tidak

memiliki keluhan sehubungan dengan paparan amoniak. Untuk pemaparan klorin,

(52)

4.1.4. Keadaan Lingkungan Kerja

1. Pengukuran Ambient Udara

Tabel 4.6. Kadar amoniak dan klorin pada ruang MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Titik Tempat Parameter Hasil Analisa (ppm)

Table 4.6. menunjukkan kadar klorin di udara pada ruangan MR yaitu

<0.00001ppm yang artinya tidak dapat terdeteksi, dan kadar amoniak sebesar 0.05

ppm.

Tabel 4.7. Kadar amoniak pada ruang Amoniak Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Titik Tempat Parameter Hasil Analisa (ppm)

Table 4.7. menunjukkan kadar amoniak di udara pada bagian Amoniak

(53)

Tabel 4.8. Kadar klorin pada ruang Klorin Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Titik Tempat Parameter Hasil Analisa (ppm)

Acuan Metode

Keterangan

I Klorin Cl2 0.0869 Impinger < NAB

II Klorin Cl2 0.0697 Impinger < NAB

Table 4.8. menunjukkan kadar klorin diudara pada bagian Klorin adalah

0.0869 ppm dan 0.0697 ppm.

2. Gambaran Umum Ruang Kerja

2.1.Ruang Amoniak

Di dalam ruang Amoniak terdapat tabung sebanyak 6 buah yang letaknya

saling berdekatan, didalamnya terdapat latex dan amoniak sehingga latex tidak

menggumpal.

(54)

2.2. Ruang Klorin

Didalam ruang klorin terdapat 8 buah base untuk pencucian sarung tangan

dengan menggunakan klorin. Base tersusun saling berdekatan dengan jarak sekitar

60 cm, terdiri dari 2 baris dan setiap baris terdiri dari 4 base. Ruang klorin

memiliki 1 pintu besar dengan ukuran 2x2 m yang terbuka setiap saat sehingga

udara luar dapat masuk. Terdapat pipa sebagai alat untuk penghisap gas klorin

hasil dari proses pencucian, tetapi pada saat penelitian diklakukan, pipa penghisap

tersebut dalam keadaan yang tidak sempurna, sehingga udara lingkungan kerja

terpapar dengan sebahagian gas klorin hasil dari proses pencucian.

(55)

Gambar 5: Pintu pada ruang klorinator

2.3. Ruang Manajemen Representatif (MR)

Ruang MR merupakan suatu ruangan yang tertutup memiliki pembatas

dan terpisah dengan ruang proses produksi. Dalam ruangan terdapat 2 buah AC

dan 1 kamar mandi.

4.1.5. Hasil Pemeriksaan Faal Paru (Spirometri)

Tabel 4.9. Distribusi Responden Menurut Hasil Spirometri di bagian Amoniak, Klorin, dan MR Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan Tahun 2007

Amoniak Klorin MR Hasil Spirometri

Jlh % Jlh % Jlh %

(56)

Tabel 4.9. menunjukkan bahwa di bagian Amoniak, dari 15 responden

terdapat 14 orang (93.3%) dengan hasil normal dan 1 orang (6.7%) dengan hasil

terganggu; di bagian Klorin, dari 28 responden terdapat 25 orang (89.3%) dengan

hasil normal dan 3 orang (10.7%) dengan hasil terganggu; dan dibagian MR,

seluruh responden yaitu sebanyak 4 orang (100%) memiliki hasil spirometri

normal.

4.1.6. Hubungan Tempat Kerja dengan Faal Paru

Setelah dilakukan uji korelasi, didapatkan tidak ada hubungan antara

tempat kerja yaitu dibagian Amoniak, Klorin, dan Manajemen Representatif

dengan gangguan faal paru pekerja. Nilai Signifikan menunjukkan angka yang

lebih besar dari alpha yaitu sebesar 0.05.

4.2. PEMBAHASAN

4.2.1. Kadar Amoniak di Udara Lingkungan Kerja Bagian Amoniak

Kadar gas amoniak di bagian Amoniak adalah sebesar 1.7, 1.9, 3.5 ppm,

kadar tersebut masih berada di bawah ambang batas yang diperkenankan yaitu

sebesar 25 ppm. Pada saat penelitian dilakukan, pabrik tidak beroperasi penuh,

hanya sekitar 5 line dari 17 yaitu 29.41%. Apabila pabrik beroperasi 100%,

kemungkinan besar kadar amoniak dalam udara akan menjadi lebih besar karena

(57)

sebagai antikoagulan akan semakin banyak pula. Pekerja diprediksikan pernah

terpapar gas amoniak dengan kadar yang lebih besar pada saat proses berjalan

secara keseluruhan. Kadar amoniak di udara lingkungan kerja pada ruangan

kontrol yaitu ruang Manajemen Representatif, jauh lebih kecil yaitu sebesar 0.05

ppm, dan diduga berasal dari kamar mandi yang berada dalam ruangan tersebut.

Paparan amoniak dalam kadar rendah juga dapat menyebabkan gangguan

paru apabila pemaparan berlangsung dalam waktu yang lama, hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Heederik dkk. 2000, yaitu berupa studi

kohort pada petani yang terpapar dengan amoniak 1.60 mg/m3. Selain itu suatu

penelitian cross sectional pada pekerja laki-laki pada dua pabrik pupuk di Saudi

Arabia menunjukkan suatu hubungan yang penting antara pemaparan gas amoniak

dengan gejala gangguan pernafasan termaksud asma bronchial dimana kadar

amoniak dalam interval 2.82-183.86 ppm (Ballal dkk. 1998).

4.2.2. Kadar Klorin di Udara Lingkungan Kerja Bagian Klorin

Kadar gas klorin di bagian Klorin sebesar 0.0869 dan 0.0697 ppm, masih

berada di bawah ambang batas yang diperkenankan yaitu sebesar 0.2-0.4 ppm.

Pada saat pemeriksaan dilakukan, proses klorin yang berjalan hanya 25% yaitu 2

base dari 8 base, oleh karena itu kadar tersebut tidak dapat menggambarkan kadar

selama ini pada pabrik. Apabila seluruh base pencucian klorin dijalankan maka

dapat di perkirakan bahwa kadar klorin di udara menjadi lebih tinggi. Kadar klorin

(58)

yang lama, gangguan paru dapat terjadi seperti penelitian yang dilakukan

Kennedy dkk, 1991, menemukan bahwa gejala gangguan pernafasan yang kronik

dapat menyebabkan penurunan fungsi paru dan efek kronik klorin dapat

disebabkan oleh pemaparan klorin secara akut yang berulang-ulang dan ataupun

pemaparan klorin dengan kadar rendah yang lama.

Seluruh responden yang bekerja di bagian Klorin yaitu sebanyak 28 orang,

telah bekerja paling sedikit 6 tahun, paling lama bekerja selama 15 tahun dan

rata-rata keseluruhan lama bekerja adalah 8.7 tahun. Kadar klorin di udara lingkungan

kerja pada ruangan kontrol yaitu ruang Manajemen Representatif, tidak dapat

terdeteksi, dan dalam pengukuran menunjukkan angka sebesar <0.0001 ppm.

4.2.3. Prevalens / Besarnya Gangguan Pernafasan pada Pekerja di Bagian

Amoniak dan Klorin

4.2.3.1. Bagian Amoniak

Di bagian Amoniak terdapat responden sebanyak 15 orang yang bekerja

selama 8 jam sehari tanpa menggunakan alat pelindung pernafasan. Setelah

dilakukan pemeriksaan spirometri, terdapat hanya 1 pekerja (6.67%) memiliki

gangguan paru restriktif ringan. Prevalens gangguan paru di bagian Amoniak

kecil, kemungkinan besar hal ini disebabkan karena kadar amoniak masih berada

dibawah ambang batas. Pekerja yang mengalami gangguan paru tersebut telah

(59)

sehari, kedua hal ini juga dapat menjadi penyebab gangguan paru yang

dialaminya.

Wawancara dilakukan dengan memberikan kuesioner tertutup mengenai

keluhan yang dialami pada saat bekerja pada 15 pekerja dibagian amoniak,

terdapat 80% responden yaitu sebanyak 12 orang mengalami tenggorokan kering,

jalan pernafasan kering sebesar 73.3% yaitu 11 orang, mata perih sebesar 66.67%

yaitu 10 orang, hidung kering & gatal dan batuk sebesar 53.3% yaitu 8 orang,

mata kering dan gatal sebesar 20% yaitu 3 orang, dan pingsan sebesar 6.67% yaitu

1 orang.

Terdapat 1 responden mengalami pingsan pada saat bekerja di bagian

Amoniak, pingsan dapat terjadi apabila seseorang terpapar dengan amoniak

dengan kadar yang tinggi (Issley, 2007). Dengan ini dapat disimpulkan bahwa

responden tersebut pernah terpapar amoniak dengan kadar yang tinggi di tempat

kerjanya pada saat bekerja yaitu dibagian Amoniak sehingga membuatnya

pingsan.

Pada umumnya responden memiliki gangguan pernafasan dan setelah

dilakukan pemeriksaan, terdapat hanya 1 pekerja yang mengalami gangguan paru.

Banyaknya keluhan yang dialami oleh pekerja tidak dapat menjadi suatu kepastian

akan banyaknya pekerja yang memiliki gangguan faal paru. Amoniak pada

umumnya berdampak pada saluran pernafasan atas, dan tidak umum berdampak

pada pernafasan bawah. Tetapi menurut penelitian-penelitian yang telah

(60)

kronik dapat mengakibatkan gangguan paru berupa gangguan restriktif, yang

merupakan suatu indikasi adanya penyakit paru (encyclopedia).

4.2.3.2. Bagian Klorin

Pada penelitian ini terdapat 28 responden yang bekerja di bagian klorin

yang bekerja selama 8 jam sehari tanpa memakai alat pelindung pernafasan.

Setelah dilakukan pemeriksaan spirometri, terdapat 3 pekerja yang mengalami

gangguan paru yaitu 2 pekerja dengan gangguan restriktif ringan dan 1 pekerja

dengan obstruktif ringan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Chester dkk

(1969) yaitu meneliti efek pemaparan klorin kadar rendah sekitar 1 ppm dalam

waktu yang lama, ditemukan 55 dari 139 pekerja mengalami paparan akut yang

memerlukan terapi oksigen, dan setelah diadakan pemeriksaan, hanya 3 orang

yang mengalami gangguan paru obstruktif.

Pekerja pada bagian Klorin pabrik sarung tangan karet “X” yang

mengalami gangguan obstruktif ringan telah bekerja selama 6 tahun dan tidak

merokok, kemungkinan pernah mengalami paparan akut yang tinggi, tetapi tidak

mendapat pengobatan, dan terus bekerja dengan tetap terpapar klorin walaupun

dengan kadar lebih rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

Schwartz dkk, 1990, pada pekerja yang mengalami paparan klorin yang akut dan

12 tahun kemudian diadakan pemeriksaan dan ditemukan 5 dari 13 responden

(61)

Dua pekerja di bagian Klorin yang mengalami gangguan restriktif ringan

telah bekerja selama 7 dan 10 tahun dan merokok 6 dan 12 batang per hari. Klorin

merupakan gas yang bersifat iritan, sehingga dapat mengiritasi setiap permukaan

yang terkena termaksud saluran pernafasan. Klorin dapat menyebabkan gangguan

paru secara langsung pada saluran pernafasan dan jika dihirup dengan kadar yang

cukup, seperti penelitian yang dilakukan oleh Lehmann,1887.

Setelah dilakukan wawancara dengan memberikan kuesioner tertutup

mengenai keluhan yang dialami pada saat bekerja pada 28 pekerja dibagian

Klorin, terdapat keluhan penyakit seperti merasa tersedak 92.85%, hidung berair

96.42%, batuk dan sakit pada dada 89.28%,kering tenggorokan, mata iritasi dan

dada sesak sebesar 85.71%, dan pingsan sebesar 7.14%. Menghirup klorin pada

tingkat konsentrasi berapapun sepanjang dapat di ketahui dari baunya bahwa itu

adalah klorin, dapat mengakibatkan batuk, mata berair, hidung berair, dan

kesulitan bernafas.

Terdapat 7.14% yaitu sebanyak 2 responden yang pingsan dibagian Klorin

akibat terpapar klorin, hal ini membuktikan bahwa pekerja pernah karena terpapar

klorin pada kadar yang tinggi dalam durasi yang lama, seperti penelitian yang

telah dilakukan oleh Chester dkk pada tahun 1969. Apabila kasus seperti ini

terjadi lagi, disarankan kepada seluruh pekerja untuk meninggalkan daerah yang

terpapar secepatnya atau berlindung ke suatu tempat yang tertutup dimana uap

(62)

Gangguan paru yang diakibatkan oleh paparan klorin dipengaruhi oleh

banyak hal yaitu lama paparan, kadar paparan, banyaknya air yang terkandung

pada jaringan yang terpapar, umur (umur yang paling rendah dan umur yang

paling tinggi, memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan paru

akibat pemaparan klorin), adanya masalah kesehatan lain, respon individu itu

sendiri, interval waktu pengobatan yang dilakukan setelah pemaparan, dan macam

pengobatan.

4.2.4. Hubungan Tempat Kerja dan Faal Paru

Gas amoniak dan klorin merupakan gas yang iritan yang dapat

menyebabkan gangguan faal paru dan pada kenyataannya gas klorin bersifat lebih

iritan dan lebih umum menyebabkan gangguan paru dari pada gas amoniak.

Namun setelah dilakukan uji korelasi, ditemukan tidak ada hubungan antara

tempat kerja dan faal paru pekerja pabrik sarung tangan karet ”X” Medan di

bagian Amoniak, Klorin, dan MR. Hal ini disebabkan karena kadar gas amoniak

dan klorin di lingkungan kerja masih berada dibawah ambang batas dan hanya

(63)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

1. Kadar amoniak pada bagian Amoniak yaitu 1.7-3.5 ppm. Kadar amoniak

tersebut tidak melewati ambang batas yang diperkenankan yaitu 25 ppm dan

prevalensi pekerja yang mengalami gangguan sebanyak 1 pekerja (6.67%)

yaitu jenis restriktif dengan tingkat ringan.

2. Kadar klorin pada bagian Klorin yaitu 0.0869 ppm dan 0.0697 ppm. Kadar

klorin tersebut tidak melewati ambang batas yang diperkenankan yaitu 0.2-0.4

ppm. Prevalensi pekerja yang mengalami gangguan pada bagian Klorin

sebanyak 3 pekerja (10.34%) yaitu jenis restriktif dengan tingkat ringan

sebanyak 2 pekerja dan obstruktif dengan tingkat ringan sebanyak 1 pekerja.

(64)

5.2. Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran-saran yang dapat

diberikan dalam upaya pencegahan terjadinya gangguan paru adalah sebagai

berikut:

1. Dilakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada pekerja.

2. Dilakukan pemeriksaan secara teratur terhadap besar kadar gas amoniak dan

klorin di udara lingkungan kerja.

3. Di bagian Amoniak, ada interval waktu antara waktu pengosongan tabung

(tempat pencampuran latex dan amoniak) dengan waktu pembersihan tabung.

4. Di bagian Klorin, segera dilakukan perbaikan pada pipa penghisap gas klorin

yang sedang rusak, dan untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan secara

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Arwood R, Hammond J, Ward GG. Ammonia Inhalation Trauma. May 1985; 25 (5) 444-7.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?db=PubMed&cmd=Retrieve& dopt=Citation&list_uids=3999167

Ballal SG, Ali BA, Albar AA, Ahmed HO, Al-Hasan AY. Bronchial asthma in two chemical fertilizer producing factories in Eastern Saudi Arabia. Int J Tuberc Lung Dis 1998;2:330–335.

Bastarache, Edouard, Ammonia, Occupational & Environmental Medicine, 2003, www.ceramicmaterials.info.

Berghoff RS, The more common gases-their effect on the respiratory tract.

Observation on two thousands cases., 1919, Arch Intern Med 24:678-84.

Brautbar et all, Chronic Ammonia Inhalation and Interstitial Pulmonary Fibrosis: A Case Report and Review of the Literature, Archives of Environmental Health, 9 Januari 2003.

B, Nirmal dkk, Effects of Accidental Chlorine Inhalation on Pulmonary Function, West J Med September 1985, hal 333-334.

B, Richard. Chlorine: State of The Art, Cayuga Medical Centre, Ithaca, NY, 2005.

Carol Ann Sims, D.D.S, An Update on Diagnosis, Prevention, and Treatment of Latex Associated Allergic Reactions.

Chester EH, Kaimal J, Payne CB, Kohn PM, Kohn Junior. Pulmonary Injury Following Exposure to Chlorine Gas, Chest 1977;72;247-250.

Chlorine-Chronic Toxicity Summary, CAS Registry Number 7782-50-5.

De la Hoz RE, Schlueter DP, Rom WN. Chronic lung disease secondary to ammonia inhalation injury: a report on three cases. Am J Ind Med. 1996;29(2):209-14.

Gambar

Gambar 4.3. Tabung berisi latex dan amoniak sebagai anti koagulan
Tabel 2.1. Jenis dan Contoh Gangguan Faal Paru
Tabel 2.2. Keterangan Secara Umum Pada Pengujian FVC
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait