• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psychosocial Therapy Center Tema Human Senses

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Psychosocial Therapy Center Tema Human Senses"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

STUDIO TUGAS AKHIR

PSYCHOSOCIAL THERAPY CENTER

TEMA

HUMAN SENSES

LAPORAN PERANCANGAN AR 38313 S – STUDIO TUGAS AKHIR

SEMESTER GANJIL 2014 / 2015

Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Oleh :

ANGGA SUKANDAR PUTRA

104 10 009

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

(2)
(3)
(4)

ii

KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Puji syukur yang amat dalam saya sampaikan kepada Allah SWT Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, karena berkat kemurahan-Nya laporan tugas akhir ini dapat saya selesaikan sesuai dengan yang diharapkan.

Tujuan laporan ini dibuat adalah untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar S1 di program studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia. Begitu banyak bimbingan, bantuan, maupun dorongan positif yang saya dapatkan selama proses penyusunan Laporan Tugas Akhir ini. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orang tua saya, Mimin Suminar ibu saya dan Tatang Sukandar ayah saya, mereka berdua yang telah mengasuh serta mendidik saya sejak lahir hingga sekarang akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas akhir ini, semoga mereka berdua selalu disayang oleh Allah Rabb semesta alam, amin.

2. Istri saya Septen Mia Dini dan putri saya Talitha Hasna Sabira Sukandar, yang telah banyak memberikan dorongan positif dan penghibur hati ketika menghadapi hambatan dalam pengerjaan tugas akhir.

3. Bapak Heru Wibowo S.T.,M.T. sebagai dosen pembimbing yang sangat pengertian dan terus menerus memberikan masukan serta saran positif dalam pengerjaan tugas akhir.

(5)

iii 5. Tim penguji, yang telah mengoreksi dan memberikan saran dan

masukan dalam hal desain maupun literatur.

6. Ibu Ir. Dhini D. Tantarto, M.T. sebagai koordinator tugas akhir, yang telah memberikan ijin kepada saya agar dapat mengikuti mata kuliah tugas akhir.

7. Keluarga besar yang turut membantu dalam pengerjaan tugas akhir, dan memberikan doa untuk kelancaran tugas akhir yang saya kerjakan.

8. Teman – teman yang telah memberikan semangat dan bantuannya dalam pengerjaan tugas akhir ini.

Akhir kata saya berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan banyak kegunaan bagi yang membacanya.

Terima kasih.

Wa ‘alaikum salam Wr.Wb.

Bandung, 9 Februari 2015 Disusun Oleh,

(6)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR DIAGRAM ... x

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Masalah Perancangan ... 3

1.3 Maksud dan Tujuan ... 4

1.4. Kerangka Berpikir ... 5

1.5. Sistematika Laporan ... 5

BAB II DESKRIPSI PROYEK ... 7

2.1. Data Umum ... 7

2.2. Definisi Proyek ... 7

2.2.1. WHAT ... 7

2.2.2. WHERE ... 8

2.2.3. WHO ... 8

2.2.4. WHY ... 9

2.2.5. WHEN ... 10

(7)

v

2.3. Program Kegiatan ... 11

2.3.1. Terapi Kognitif-Behavioral (Cognitive Behaviour Therapy) ... 11

2.3.2. Terapi Keluarga (Family Therapy) ... 12

2.3.3. Terapi Kelompok (Group Therapy) ... 12

2.3.4. Terapi Okupasi (Occupational Therapy) ... 13

2.3.5. Terapi Rekreasi ... 13

2.3.6. Terapi Musik ... 13

2.4. Kebutuhan Ruang ... 14

2.5. Standar Fasilitas Kesehatan Gangguan Kejiwaan ... 17

2.6. Studi Banding Proyek Sejenis ... 17

2.6.1. Grha Atma ... 17

2.6.2. Puri Prima Harapan ... 20

BAB III ELABORASI TEMA ... 26

3.1. Pengertian ... 26

3.2. Interpretasi Tema ... 26

3.3. Studi Banding Tema Sejenis ... 27

BAB IV ANALISIS ... 29

4.1. Analisis Kondisi Tapak ... 29

4.2. Bubble Diagram ... 31

4.3. Analisis Hubungan Fungsional Skala Makro ... 33

4.4. Analisis Hubungan Fungsional Skala Mikro ... 36

BAB V KONSEP PERANCANGAN ... 39

5.1. Masalah Perancangan ... 39

5.2. Desain terhadap Stigma Negatif Masyarakat ... 39

(8)

vi

5.4. Desain Bangunan Terhadap Kondisi Tapak ... 41

5.5. Penerapan Tema Human Senses ... 43

BAB VI HASIL RANCANGAN ... 47

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, hal ini disebabkan oleh pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia terpusat di Jawa Barat. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi tersebut menimbulkan banyak masalah lainnya seperti masalah gaya hidup, masalah keamanan, masalah polusi hingga masalah kemacetan. Masalah – masalah tersebut menimbulkan stress yang dapat mempengaruhi keadaan psikologis penduduk yang tinggal di wilayah Jawa Barat.

Diagram 1.1 Pengaruh Masalah Perkotaan Sumber : Data Pribadi

(10)

2

Diagram 1.2 Siklus terjadinya gangguan kejiwaan Sumber : Data Pribadi

Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana keadaan individu seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Gangguan jiwa juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang dapat menyerang semua usia. Sifat serangan penyakitnya biasanya akut dan bisa kronis atau menahun. Di masyarakat terdapat stigma negatif bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, memalukan dan aib bagi keluarganya.

Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa gangguan jiwa identik dengan gila, padahal dalam dunia medis psikiatri kondisi gila diasumsikan sebagai kondisi yang sudah kehilangan akal dan daya pikir logis atau disebut dengan schizophrenia yang digolongkan sebagai gangguan jiwa berat. Stigma tersebut berdampak buruk pada enggannya masyarakat untuk mengobati gangguan kejiwaan yang dideritanya.

Gangguan jiwa secara prinsip medis dibagi menjadi dua kategori yaitu psikosis dan non-psikosis. Gangguan jiwa psikosis

(11)

3 Sedangkan gangguan jiwa non-psikosis adalah gangguan jiwa kategori ringan, dimana penderita masih mampu untuk berhubungan dengan orang lain dan masih bisa melakukan pekerjaan biasa sehari-hari. Namun karena ketidaktahuan masyarakat, pada umumnya gangguan jiwa non-psikosis ini dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan, padahal jika terus menerus dibiarkan gangguan jiwa non-psikosis dapat menjadi pemicu utama gangguan jiwa psikosis.

Penanganan gangguan jiwa dapat ditangani melalui 2 disiplin ilmu, yaitu psikologi dan psikiatri. Pada gangguan jiwa berat atau psikosis peranan disiplin ilmu psikologi dan psikiatri sama besarnya, dimana disiplin ilmu psikologi berperan mengobati dari sisi kejiwaan, melalui pendekatan secara sosial dan emosional sedangkan disiplin ilmu psikatri berperan dalam memperbaiki dan mengobati organ biologis manusia yang berkaitan dengan masalah kejiwaan.

Sedangkan pada gangguan jiwa ringan atau non psikosis, disiplin ilmu psikologi mempunyai peran lebih dominan dbandingkan dengan disiplin ilmu psikiatri. Seorang psikolog berperan penting dalam memahami, mengobati serta memperbaiki sistem kejiwaan dan pola pikir pasien, sedangkan dalam hal ini seorang psikiater hanya membantu proses pengobatan melalui pemberian obat penenang jika dibutuhkan.

1.2 Masalah Perancangan

Berikut ini adalah beberapa data terkait mengenai masalah gangguan kejiwaan yang dialami oleh penduduk di Jawa Barat 1. Riskesdas 2013

Jumlah penderita gangguan jiwa Jawa Barat pada tahun 2013 sebanyak 465.975 Jiwa (naik 63% dari tahun 2012)

(12)

4 Dari 100% penderita gangguan jiwa, sebanyak 98.9% menderita ganguan jiwa ringan

3. Riset Diklit RSJ Cisarua Cimahi

Penderita gangguan jiwa ringan tidak sadar sedang sakit, sehingga tidak mendapatkan penanganan dan pengobatan bahkan cenderung dibiarkan serta beraktivitas layaknya orang normal

4. Wawancara terhadap psikolog Grha Atma

Gangguan kejiwaan ringan psikososial mampu menimbulkan siklus masalah kejiwaan yang baru

5. Wawancara terhadap pengunjung Grha Atma

5 dari 6 pengunjung Graha Atma yang diwawancara merasa malu ketika berobat, karena adanya stigma negatif tentang gangguan kejiwaan

1.3 Maksud dan Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan data masalah perancangan tersebut melalui tugas akhir ini bermaksud untuk memberikan solusi berupa bangunan yang berfungsi sebagai tempat penanganan dan pengobatan khusus bagi penderita gangguan kejiwaan psikososial, yang bertujuan untuk :

 Mengurangi dan mencegah permasalahan gangguan kejiwaan dengan cakupan wilayah Jawa Barat.

(13)

5

1.4. Kerangka Berpikir

Diagram 1.4.1. Kerangka Berpikir Sumber : Data Pribadi

1.5. Sistematika Laporan

Berikut ini adalah sistematika yang diterapkan dalam penyusunan laporan tugas akhir :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang, masalah perancangan, maksud dan tujuan serta sistematika penulisan laporan tugas akhir.

(14)

6 Pada bab ini dibahas mengenai deskripsi keseluruhan mengenai proyek yang dipilih sebagai judul tugas akhir, beserta hasil studi banding mengenai proyek sejenis.

BAB III ELABORASI TEMA

Bab ini berisi mengenai uraian tema yang diterapkan sebagai konsep dasar pada bangunan, serta uraian tentang hasil studi banding mengenai tema bangunan sejenis.

BAB IV ANALISIS

Pada bab ini dibahas mengenai hasil analisis fungsional beserta dengan hasil analisis kondisi lingkungan sekitar.

BAB V KONSEP RANCANGAN

Bab ini berisi uraian mengenai konsep dasar dan penerapannya pada bangunan serta tapak.

BAB VI HASIL RANCANGAN

(15)

7

BAB II

DESKRIPSI PROYEK

2.1. Data Umum

Judul Proyek : Psychosocial Therapy Center

Sifat Proyek : Tidak Nyata Pemilik Proyek : Pemerintah Sumber Dana : Pemerintah Lokasi : Jalan Cipunegara Peruntukkan Lahan : Residential

Luas Lahan : 1.4 Ha

2.2. Definisi Proyek

2.2.1. WHAT

(16)

8 Secara harafiah psychosocial therapy center dapat diartikan sebagai berikut :

Psychosocial

Psyche = human soul, human mind (Encarta)

Social = relating to interaction of people (Encarta)

Therapy = treatment to cure (Encarta)

Center = middle point or part (Encarta)

Psychosocial Therapy menurut Sheafor & Horejsi (2003) adalah perawatan untuk membantu orang- orang dalam mencapai tingkat keberfungsian psikososial yg efektif dan mempengaruhi perubahan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan semua manusia.

2.2.2. WHERE

Psychosocial Therapy Center terletak di Kota Bandung, dengan lokasi tapak berada di antara Jln. Cipunegara dan Jln. Ciwulan.

Gambar 2.2.1 Lokasi Tapak Sumber : www.wikimapia.com

2.2.3. WHO

(17)

9 bawah dapat menggunakan BPJS untuk dapat menggunakan fasilitasnya.

Jenjang usia pengguna mulai dari 5 tahun hingga seterusnya, yang beresiko atau memiliki gangguan kejiwaan ringan psikososial, seperti:

• Depresi

• Labil secara Emosional

• Fobia akibat kejadian psikologis

• Penyimpangan perilaku

2.2.4. WHY

Berikut ini adalah diagram yang menjelaskan mengapa dibutuhkannya Psychosocial Therapy Center

(18)

10 2.2.5. WHEN

Psychosocial Therapy Center dapat digunakan ketika seseorang merasa tidak mampu untuk beradaptasi dengan permasalahan yang dihadapinya, dan juga digunakan ketika seseorang sudah mengalami gangguan kejiwaan ringan.

Diagram 2.2.2. Siklus Penggunaan Psychosocial Therapy Center Sumber : Data Pribadi

2.2.6. HOW

Melalui Psychosocial Therapy Center dapat mencegah dan menanggulangi terjadinya perilaku negatif yang memberikan dampak buruk terhadap keadaan sosial masyarakat, menjadi perilaku positif yang tentunya memberikan dampak baik bagi keadaan sosial masyarakat.

(19)

11

2.3. Program Kegiatan

Psychosocial therapy center adalah tempat khusus untuk penanganan dan perawatan bagi penderita gangguan kejiwaan ringan psikososial, dalam cakupan wilayah Jawa Barat dengan menggunakan metode pengobatan secara psikologis dan sosial sehingga memperbaiki kedaan psikologis dan social di masyarakat guna mempengaruhi perubahan sosial

Berikut adalah macam dari terapi psikososial :

 Terapi Kognitif Behavioral (Cognitive Behaviour Therapy)

 Terapi Keluarga (Family Therapy)

 Terapi Kelompok (Group Therapy)

 Terapi Okupasi (Occupational Therapy)

 Terapi Rekreasi

 Terapi Musik

2.3.1. Terapi Kognitif-Behavioral (Cognitive Behaviour Therapy)

(20)

12 agar dapat memperoleh emosi yang lebih positif. Sedangkan Konseling Behavioral memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan klien, menentukan bentuk imbalan (rewards) yang dapat mendorong klien untuk melakukan tindakan tertentu, pemberian konsekuensi yang tidak menyenangkan, guna mencegah klien melakukan tindakan yang tidak dikehendaki.

2.3.2. Terapi Keluarga (Family Therapy)

Terapi keluarga menurut Gurman, Kniskern & Pinsof (1986) adalah salah satu jenis terapi yang bertujuan untuk mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya.

2.3.3. Terapi Kelompok (Group Therapy)

Terapi Kelompok adalah terapi yang dilakukan pada sekelompok klien bersama-sama dengan cara saling berdiskusi satu sama lain dengan dipimpin oleh seorang terapis dengan berbagai macam tujuan.

Tujuan Umum :

 Meningkatkan kemampuan uji realitas

 Membentuk sosialisasi

 Meningkatkan fungsi psikologis : meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional dengan perilaku defensive

(21)

13 Tujuan Khusus :

 Meningkatkan identitas diri

 Menyalurkan emosi

 Keterampilan hubungan social

Tujuan Rehabilitatif :

 Meningkatkan kemampuan hidup mandiri

 Soialisasi di tengah masyarakat

 Empati

 Meningkatkan pengetahuan problema hidup dan penyelesaian.

2.3.4. Terapi Okupasi (Occupational Therapy)

Terapi Okupasi (Occupational Therapy) adalah salah satu jenis terapi untuk membantu seseorang menguasi keterampilan motorik halus dengan lebih baik. Keterampilan motorik halus adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil yang ada di dalam tangan

2.3.5. Terapi Rekreasi

Terapi reakreasi adalah suatu bentuk terapi yang menggunakan media reakresi (bermain, berolahraga, berdarmawisata, dan sebagainya) dengan tujuan untuk mengurangi gangguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang kegiatan rekreasi yang telah dilakukan, sehingga perilaku yang baik diulang dan yang buruk dihilangkan.

2.3.6. Terapi Musik

(22)

14 musik untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional dan spritual. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuai dengan keinginan, seperti musik klasik, intrumental, slow music, orkestra, dan musik modern lainnya.

2.4. Kebutuhan Ruang

Zoning Nama Ruang Aktivitas Sifat Kuantitas

PENERIMA Hall  Datang Publik 1

R. sekretaris  Menerima telepon

(23)

15

RAWAT INAP Kamar Tidur+

Kamar Mandi

R. AnemnesisPeriksa riwayat Semi Publik 1

R. Konseling  Konseling Semi Publik 6

(24)

16

dan terapi musik

 Bernyanyi

 Aktivitas terapi

okupasi (memasak,

GudangPenyimpanan

barang

service

Laundry  Laundry service

Ruang ganti dan

locker pengelola

Ruang genset  Penyimpanan

(25)

17 Ruang

mekanikal

 mekanikal service

Ruang elektrikal  elektrikal service

Ruang absensi  absen service

Toilet  Buang air service

Tabel 2.4.1 Kebutuhan Ruang Sumber : Data Pribadi

2.5. Standar Fasilitas Kesehatan Gangguan Kejiwaan

Terlampir

2.6. Studi Banding Proyek Sejenis

2.6.1. Grha Atma

Grha atma merupakan salah satu tempat untuk menangani pasien gangguan kejiwaan. Lokasi graha atma berada di Jl. Laks. RE Martadinata no 11, Bandung.

(26)

18

Gambar 2.6.1 Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi

Jenis pelayanan yang disediakan oleh grha atma antara lain:

 Rawat jalan

 Konseling dan konsultasi jiwa

 Rawat observasi kedaruratan jiwa

 Pemeriksaan psikologi dan psikometri

 Laboratorium dan radiologi

One day care

Home visit

 Manajemen kasus

Aksesibilitas

(27)

19

Gambar 2.6.2 Peta Situasi Grha Atma Sumber : www.wikimapia.com

Tingkat Kebisingan

Jl. Laks. RE Martadinata merupakan salah satu jalur yang padat di Kota Bandung, dan sering sekali terjadi kemacetan di sepanjang jalan ini terutama di depan grha atma. Hal ini berdampak pada tingkat kebisingan yang tinggi. Tingkat kebisingan yang tinggi tersebut sangat mengganggu dan menghambat proses penyembuhan bagi pasien yang sedang dirawat di grha atma.

Fasade Bangunan

Gambar 2.6.3 Fasade Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi

(28)

20 Interior Bangunan

Suasana interior grha atma menyerupai suasana interior rumah sakit. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pengunjung, sebagian besar pengunjung merasa terganggu dan kurang nyaman dengan suasana interior yang menyerupai rumah sakit, hal ini dikarenakan mereka merasa sehat dan tidak mau berada di rumah sakit, dan takut dikatakan sedang berada didalam rumah sakit jiwa, karena stigma masyarakat umum yang menganggap gangguan jiwa sama dengan gila.

Gambar 2.6.4 Interior Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan hasil wawancara terhadap psikolog, suasana bangunan sangat berpengaruh terhadap proses pengobatan pasien gangguan kejiwaan. Suasana bangunan sebaiknya menyerupai rumah agar pasien merasa nyaman dan tenang, sehingga dapat membantu proses pengobatan.

2.6.2. Puri Prima Harapan

(29)

21 Fasilitas Ruang

Berikut ini adalah fasilitas ruang yang disediakan oleh Puri Prima Harapan :

1. Ruang UGD

Ruang UGD disediakan bagi pasien gangguan jiwa yang sedang dalam kondisi tidak dapat dikendalikan (tidak tenang, mengamuk dan sebagainya)

2. Ruang istirahat pasien (Kamar Tidur)

Satu ruang istirahat pasien pada Puri Prima Harapan dihuni oleh 2 orang pasien, fasilitas yang diberikan untuk ruang istirahat pasien hanya berupa tempat tidur, hal ini dimaksudkan agar terjadi interaksi antar sesame penghuni kamar.

Gambar 2.6.5 Kamar Tidur Pasien Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com

3. Toilet

4. Ruang Kamar Keluarga

Ruang Kamar Keluarga diperuntukkan bagi pasien yang

ingin didampingi oleh keluarganya. Di dalam ruang

kamar keluarga terdapat fasilitas tempat tidur berukuran

double dan lemari untuk menyimpan barang bawaan. Di

dalam ruang kamar keluarga juga terdapat fasilitas toilet

(30)

22

Gambar 2.6.6 Ruang Kamar Keluarga Sumber : www.primaharapan.com

5. Ruang Kebersamaan

Ruang kebersamaan berfungsi sebagai ruang tempat

diadakannya group therapy, dan juga sebagai tempat

dimana pasien dapat saling berinteraksi antara satu

dengan yang lainnya.

6. Lapangan Olahraga

Lapangan olahraga disediakan sebagai tempat

dilaksanakannya terapi rekreasi dan juga tempat olah

raga ringan bagi pasien, seperti senam, yoga dan

sebagainya.

(31)

23

.

7. Taman

Taman berfungsi sebagai tempat yang memberikan efek

relaksasi secara visual, sehingga memberikan

kenyamanan bagi pasien yang sedang menjalani terapi.

Gambar 2.6.8 Taman Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com

8. Ruang periksa psikiatri

Yaitu ruang yang disediakan khusus untuk memeriksa

keadaan pasien dari sisi psikiatri.

9. Ruang Konseling

Yaitu ruang yang disediakan khusus bagi pasien untuk

menjalani konseling maupun terapi family.

(32)

24

10. Ruang Karaoke

Merupakan salah satu fasilitas untuk penerapan terapi

musik bagi pasien.

11. Ruang Seminar

Ruang seminar diadakan untuk memberikan motivasi

dan pengarahan positif bagi pasien dalam menghadapi

permasalahan.

Gambar 2.6.10 Ruang Seminar Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com

Metode Penyembuhan

Di Puri Prima Harapan metode penyembuhan yang digunakan bagi penderita gangguan jiwa, terbagi menjaid 2 tahap, yaitu :

Tahap 1. Pemulihan Psikiatrik

 Farmakoterapi oleh psikiater dengan dibantu jururawat (suster dan mantri)

 Psikoterapi oleh psikiater, psikolog dan konselor

 Siraman rohani

 Evaluasi pasien oleh psikiater dan psikolog

(33)

25 Tahap 2. Pemulihan Kualitas Hidup

Dilakukan oleh konselor, pekerja sosial, keluarga, serta profesional lainnya :

 Pendidikan / pelatihan / penyuluhan

 Pemberian contoh

 Pemberdayaan Pasien sesuai minat bakat

(34)

26

BAB III

ELABORASI TEMA

3.1. Pengertian

Psychosocial therapy center merupakan tempat penanganan dan pengobatan bagi pasien penderita gangguan kejiwaan ringan psikososial. Untuk membantu proses penyembuhan, maka dibutuhkan tema bangunan yang dapat menunjang fungsi dari bangunan tersebut.

Untuk mendukung fungsi, tema yang diusung pada desain bangunan psychosocial therapy center adalah human senses.

Secara bahasa kata human senses memiliki arti indra manusia.

3.2. Interpretasi Tema

Melalui tema human senses pada bangunan psychosocial therapy center berarti bangunan didesain secara khusus sehingga dapat menciptakan interaksi antara bangunan dengan panca indra manusia, sehingga menimbulkan perasaan positif terhadap pasien, yang dapat membantu jalannya terapi pengobatan bagi pasien.

(35)

27

3.3. Studi Banding Tema Sejenis

The Falling Water

The Falling Water merupakan salah satu karya Frank Lloyd Wright yang dibangun pada tahun 1930, yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal keluarga Kaufmann.

Gambar 3.3.1. Eksterior The Falling Water Sumber : www.fallingwater.org

(36)

28 Pada bangunan ini terjadi interaksi yang melibatkan bangunan dengan panca indra manusia, yang menimbulkan perasaan positif bagi manusia yang berada di dalamnya, seperti :

 Indra Penglihatan

Warna Hijau yang mendominasi lingkunan eksterior bangunan, dipadukan denagn warna oranye pada material interior bangunan, secara visual menimbulkan perasaan santai dan nyaman, perasaan tersebut sangat mendukung fungsi bangunan sebagai tempat tinggal.

 Indra Pendengaran

Suara gemericik air yang berasal dari sungai disekitar bangunan mampu menimbulkan suasana tenang dan damai.

 Indra Penciuman dan Indra Perasa

Aroma dedaunan, aroma bebatuan dan aroma tanah yang basah ditangkap oleh indra penciuman sehingga membangkitkan sensasi rasa di dalam mulut, yang dapat menimbulkan kesan dingin, alami dan menenangkan.

Indra Peraba

(37)

29

BAB IV

ANALISIS

4.1. Analisis Kondisi Tapak

Psychosocial Therapy Center terletak di Kota Bandung, dengan beberapa kelebihan sebagai berikut :

o Kota Bandung merupakan Ibu Kota Jawa Barat, sehingga

cocok dijadikan sebagai pusat.

o Kota Bandung Terletak di tengah wilayah Jawa Barat,

sehingga mempermudah aksesibilitas dari kota – kota di wilayah Jawa Barat.

o Kota Bandung memiliki fasilitas transportasi yang

mendukung, seperti :

• Bandara

• Stasiun Kereta

• Terminal

• Jalan Tol

(38)

30 Sedangkan lokasi tapak Psychosocial therapy Center berada di antara Jln. Cipunegara dan Jln. Ciwulan dengan beberapa kelebihan sebagai berikut :

• Mudah diakses melalui Jalan Tol Pasteur maupun Jalur Lingkar Selatan Kota Bandung.

• Berada diantara Bandara Husein Sastranegara, Stasiun Kereta Api Bandung, Terminal Leuwi Panjang dan Terminal Cicaheum.

• Dekat dengan Gedung Sate sebagai salah satu landmark di Kota Bandung, sehingga mudah ditemukan.

• Berada ditengah kota, sehingga mempermudah dalam terapi sosial.

• Fungsi bangunan sekitar didominasi perumahan, dan berada di jalan lokal sehingga terhindar dari kebisingan.

(39)

31

4.2. Bubble Diagram

Diagram 4.2.1. Bubble Diagram Keseluruhan Sumber : Data Pribadi

(40)

32

Diagram 4.2.3. Bubble Diagram Area Rawat Inap Sumber : Data Pribadi

(41)

33

Diagram 4.2.5. Bubble Diagram Area Pengelola Sumber : Data Pribadi

4.3. Analisis Hubungan Fungsional Skala Makro

Secara makro, hubungan fungsional Psychosocial Therapy Center dapat dijabarkan sebagai berikut :

Gambar 2222. Peta Situasional Hubungan Skala Makro Sumber : www.wikimapia.com

1. Kebun Binatang

(42)

34 tertentu pasien rawat inap dapat diajak menuju kebun binatang untuk menjalani terapi rekreasi dan juga terapi sosial.

Gambar 4.3.1. Kebun Binatang Bandung Sumber : Dokumentasi Pribadi

2. RS ST. Borromeus

Lokasi Rumah Sakit ST Borromeus yang dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan sebagai pilihan rumah sakit bila suatu waktu terjadi kecelakaan.

Gambar 4.3.2. RS ST. Borromeus Sumber : Dokumentasi Pribadi

3. Grha Atma

Keberadaan Grha Atma dapat mendukung fungsi

(43)

35

Gambar 4.3.3. Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi

4. RSJ Cisarua Cimahi

Psychosocial Therapy Center sangat bermanfaat bagi mantan pasien RSJ Cisarua Cimahi, yaitu sebagai tempat penanganan lebih lanjut, agar mantan pasien RSJ mampu beradaptasi sosial secara lebih baik dan diberikan masukan positif untuk memunculkan kembali kepercayaan diri di tengah masyarakat

Gambar 4.3.4. RSJ Cisarua Cimahi Sumber : Dokumentasi Pribadi

5. Kawasan Car Free Day

(44)

36

Gambar 4.3.5. Event Car Free Day Sumber : dinolefty.wordpress.com

4.4. Analisis Hubungan Fungsional Skala Mikro

Fungsi Psychosocial Therapy Center sangat erat kaitannya dengan bangunan sekitar terutama dalam menciptakan keadaan sosial masyarakat yang lebih baik. Hubungan fungsional skala mikro tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

Gambar 4.4.1. Peta Situasional Hubungan Skala Mikro Sumber : www.wikimapia.com

1. Lapangan Gasibu

Lapangan gasibu dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk kegiatan terapi rekreasi dan juga terapi sosial, seperti olahraga dan permainan kelompok.

(45)

37 2. Gedung Sate

Gedung merupakan salah satu landmark di Kota Bandung yang terkenal, keberadaan Gedung Sate yang dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan patokan untuk memberikan gambaran pemetan tuntuk memperjelas posisi tapak.

Gambar 4.4.3. Gedung Sate Sumber : http://hotel-di.com/

3. Taman Lansia dan Taman Kandaga Puspa

Taman Lansia dan Taman Kandaga Puspa yang berada dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan sebagai tempat konseling maupun sebagai tempat kegiatan terapi rekreasi. Pada hari minggu lokasi di sekitar taman ini pun menjadi pusat keramaian, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk berlatih dan beradaptasi untuk berinteraksi sosial.

Gambar 4.4.4. Taman Lansia Sumber : Dokumentasi Pribadi

4. Pengadilan Negeri Bandung

(46)

38

Center dapat memberikan efek positif bagi masalah kejiwaan bagi seseorang yang akan diadili.

5. Gereja Maranatha

Gereja Maranatha yang dekat dengan lokasi tapak dapat menunjang kegiatan terapi kerohanian bagi klien yang beragama Kristen

Gambar 4.4.5. Gereja Maranatha Sumber : Dokumentasi Pribadi

6. PUSDAI

PUSDAI dapat dijadikan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan terapi kerohanian bagi klien yang beragama Islam.

(47)

47

BAB VI

HASIL RANCANGAN

6.1. Siteplan

Terlampir

6.2. Denah

Terlampir

6.3. Tampak

Terlampir

6.4. Potongan

Terlampir

6.5. Bentuk Bangunan

(48)

48

Gambar 6.5.2 Bentuk Bangunan 2 Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.5.3 Bentuk Bangunan 3 Sumber : Data Pribadi

(49)

49

6.6. Perspektif Suasana

Gambar 6.6.1 Open Space 1 Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.6.2 Open Space 2 Sumber : Data Pribadi

(50)

50

Gambar 6.6.4 Main Entrance Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.6.5 Drop off Area Sumber : Data Pribadi

(51)

51

Gambar 6.6.7 Area Tunggu Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.6.8 Taman dan Area Tunggu Sumber : Data Pribadi

(52)

52

6.7. Foto Maket

Gambar 6.7.1 Foto Maket 1 Sumber : Dokumentasi Pribadi

Gambar 6.7.2 Foto Maket 2 Sumber : Dokumentasi Pribadi

(53)

39

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

5.1. Masalah Perancangan

Terdapat beberapa masalah perancangan yang akan mempengaruhi desain bangunan, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

• Bangunan harus mampu menghilangkan stigma negatif masyarakat tentang gangguan jiwa.

• Bangunan mampu beradaptasi dengan Iklim Tropis.

• Bangunan mampu beradaptasi dengan kondisi Tapak.

• Penerapan tema human senses pada bangunan

5.2. Desain terhadap Stigma Negatif Masyarakat

Open Space

Stigma Negatif Masyarakat, dapat dihilangkan melalui adanya

(54)

40

Gambar 5.2.1. Open Space Sumber : Data Pribadi

Bentuk Bangunan

Psychosocial Therapy Center mempunyai bentuk bangunan yang iconic namun tetap selaras dengan bentuk bangunan sekitarnya, bentuk bangunan iconic tersebut mempunyai tujuan untuk menarik perhatian masyarakat, sehingga masyarakat akan merasa penasaran tentang fungsi bangunan Psychosocial Therapy Center. Melalui rasa penasaran tersebut masyarakat secara tidak sadar akan mencari tahu lebih dalam fungsi bangunan tersebut yang dapat menimbulkan sisi positif berupa menambah pengetahuan tentang masyarakat tentang gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan fungsi bangunan.

(55)

41

5.3. Desain Bangunan Terhadap Iklim Tropis

Massa Bangunan

Bentuk massa bangunan Psychosocial Therapy Center

memanjang dari arah timur menuju arah barat, hal ini bertujuan untuk menyesuaikan terhadap arah datangnya sinar matahari.

Atap Bangunan

Bangunan Psychosocial Therapy Center menggunakan atap pelana yang mempunyai sudut kemiringan yang bertujuan untuk beradaptasi terhadap curah hujan pada iklim tropis.

Gambar 5.3.1. Atap Bangunan Sumber : Data Pribadi

Atap bangunan tersebut didesain dengan kemiringan yang berbeda yang merupakan perwujudan keadaan emosional gangguan kejiwaan, sehingga menimbulkan kesan iconic, selain itu juga bertujuan untuk memungkinkan sinar matahari masuk melalui irama atap sehingga bangunan mempunyai sistem pencahayaan alami.

5.4. Desain Bangunan Terhadap Kondisi Tapak

Nodes dan Arah Datangnya Pengunjung

(56)

42 tersebut juga diletakkan open space dan side entrance yang dapat meningkatkan kesan menerima.

Gambar 5.4.1. Desain terhadap Arah Datangnya Pengunjung Sumber : Data Pribadi

Bangunan Sekitar

Bangunan Psychosocial Therapy Center menggunakan jenis atap pelana yang merupakan penyesuaian terhadap bentuk bangunan sekitar sehingga keberadaan bangunan Psychosocial Therapy Center tetap selaras dengan bangunan sekitar.

(57)

43

Gambar 5.4.2. Sikap Terhadap Ketinggian Bangunan. Sumber : Data Pribadi

5.5. Penerapan Tema Human Senses

Interior dan Eksterior

Taman dan area tunggu pada bangunan Psychosocial Therapy Center didesain secara sadar untuk menciptakan interaksi manusia, melalui bentuk area tunggu yang memusat, sehingga secara psikologis memicu penggunanya untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.

(58)

44

Gambar 5.5.1. Taman dan Ruang Tunggu Sumber : Data Pribadi

Penggunaan vegetasi berupa tanaman lavender dan geranium bertujuan untuk menciptakan aroma wewangian yang dapat menimbulkan perasaan nyaman dan rileks.

Rumput banyak digunakan pada taman sebagai alas untuk duduk, hal ini bertujuan untuk menciptakan interaksi dengan indra peraba manusia.

Bagian interior menggunakan material parquette yang didominasi oleh warna coklat dan oranye, serta dipadukan dengan warna vegetasi yang didominasi oleh warna hijau. Perpaduan warna - warna tersebut mampu menciptakan kesan nyaman, tenang, dan rileks.

Detail Kamar Pasien

Kamar bagi pasien rawat inap didesain secara sadar untuk menciptakan interaksi dengan indra manusia tanpa mengurangi segi keselamatan bagi pasien di dalamnya.

(59)

45 1. Tempat tidur dan Ruang Penyimpanan

Tempat tidur pasien dan ruang penyimpanan barang kebutuhan bagi pasien didesain dan diletakkan pada posisi yang mudah terlihat dari arah pintu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengecekkan yang dilakukan oleh perawat dan terapis, sehingga jika suatu waktu terjadi keadaan darurat, perawat dan terapis dapat dengan sigap mengambil keputusan.

2. Windtrap

Windtrap adalah perangkap angina yang dapat digunakan untuk mengatur sirkulasi udara. Di dalam windtrap terdaoat tanaman lavender yang bertujuan sebagai sumber wewangian dan juga mencegah datangnya nyamuk ke dalam ruangan. 3. Jendela

Jendela pada kamar tidur pasien dibuat agar tidak dapat dibuka, sehingga mencegah pasien untuk keluar melalui jendela kamar

4. Interior fountain

Fungsi dari interior fountain adalah sebagai penghasil suara gemericik air yang dapat menimbulkan efek ketenangan bagi pasien.

Konsep Human Senses pada Kamar Tidur Pasien

(60)

46

(61)

53

DAFTAR PUSTAKA

Ching, Francis D.K. (2000). Arsitektur : Bentuk, Ruang dan Tatanan Edisi 2. Jakarta : Erlangga.

Neufert, Ernst. (1996). Data Arsitek Jilid I Edisi 33. Terjemahan Sunarto Tjahjadi. Jakarta : Erlangga.

Neufert, Ernst. (1996). Data Arsitek Jilid II Edisi 33. Terjemahan Sunarto Tjahjadi. Jakarta : Erlangga

Frederick, Matthew. (2007). 101 Things I learned in Architecture School. Cambridge : The Mit Press

Llewelyn – Davies. Urban Design Compendium.

Hunt, James. (2013). Design Guide for the Built Environment of Behavioral Health Facilities. NAPHS

Design Guide : Mental Health Facilities. Department of Veteran Affairs

Ulrich, Roger. (2007). Effect of Interior Design on Welness: Theory and Scientific Research

(62)
(63)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Curriculum Vitae

Data Pribadi/ Personal Details

Nama : Angga Sukandar Putra, S.T.

Jenis kelamin : Pria

Tempat, tanggal lahir : Tasikmalaya, 25 Juni 1988

Kewarganegaraan : WNI

Status : Menikah

Tinggi, berat badan : 173cm, 55kg

Kesehatan : Baik

Agama : Islam

Alamat lengkap : Jl. Oto Iskandardinata No.277 RT

004, RW 002, kelurahan Balong Gede,

Kecamatan Regol, Bandung

Telepon, HP : 0856 9411 2775

E-mail / Website : [email protected]

Riwayat Pendidikan dan Pelatihan / Educational and Professional Qualification

» Formal

Periode Sekolah / Institusi / Universitas Jurusan Jenjang IPK

1995 - 2001 SD Islam Al-Azhar Cirebon - - -

2001 - 2004 SMP N 1 Cirebon - - -

2004 - 2005 SMAN 2 Cirebon - - -

2005 - 2007 SMA YPHB Bogor - - -

2008 2009 Bogor Hotel Institute Perhotelan D1 3.8

2010 - 2015 Universitas Komputer Indonesia Arsitektur S1 3.45

» Non – Formal

(64)

 Mengikuti Praktek Kerja Lapangan di PT. Rasy Cipta

 Mengikuti Seminar “Urban Vernacular” di UNIKOM.

 Mengikuti Seminar “Past and Future”di UNIKOM.

Gambar

Gambar 2.6.6 Ruang Kamar Keluarga
Gambar 2.6.8 Taman Puri Prima Harapan
Gambar 3.3.2. Interior The Falling Water
Gambar 4.1.1. Peta Jawa Barat Sumber : http://disperindag.jabarprov.go.id/
+7

Referensi

Dokumen terkait