Pada bab ini berisi gambar-gambar hasil rancangan, mulai dari peta situasi, denah, siteplan hingga tampilan perspektif.
7
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
2.1. Data Umum
Judul Proyek : Psychosocial Therapy Center
Sifat Proyek : Tidak Nyata Pemilik Proyek : Pemerintah Sumber Dana : Pemerintah Lokasi : Jalan Cipunegara Peruntukkan Lahan : Residential
Luas Lahan : 1.4 Ha Luas Lantai Dasar : 7500 m2 Luas Bangunan : 1.2 Ha KDB Maksimum : 80% KLB Maksimum : 1.5 KDH Minimum : 10% GSB Minimum : 3m 2.2. Definisi Proyek 2.2.1. WHAT
Psychosocial Therapy Center merupakan rumah sakit khusus untuk penanganan dan pengobatan gangguan kejiwaan ringan psikososial, dengan cakupan wilayah Jawa Barat dan menitik fokuskan pengobatan dengan metoda psikologis dan sosial untuk memperbaiki keadaan psikologis dan sosial klien dimasyarakat, sehingga dapat mempengaruhi perubahan social masyarakat menjadi lebih baik.
8 Secara harafiah psychosocial therapy center dapat diartikan sebagai berikut :
Psychosocial
•Psyche = human soul, human mind (Encarta)
•Social = relating to interaction of people (Encarta)
Therapy = treatment to cure (Encarta)
Center = middle point or part (Encarta)
Psychosocial Therapy menurut Sheafor & Horejsi (2003) adalah perawatan untuk membantu orang- orang dalam mencapai tingkat keberfungsian psikososial yg efektif dan mempengaruhi perubahan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan semua manusia.
2.2.2. WHERE
Psychosocial Therapy Center terletak di Kota Bandung, dengan lokasi tapak berada di antara Jln. Cipunegara dan Jln. Ciwulan.
Gambar 2.2.1 Lokasi Tapak Sumber : www.wikimapia.com
2.2.3. WHO
Psychosocial Therapy Center diperuntukkan bagi kalangan menengah atas, namun bagi kalangan menengah
9 bawah dapat menggunakan BPJS untuk dapat menggunakan fasilitasnya.
Jenjang usia pengguna mulai dari 5 tahun hingga seterusnya, yang beresiko atau memiliki gangguan kejiwaan ringan psikososial, seperti:
• Depresi
• Labil secara Emosional
• Fobia akibat kejadian psikologis
• Penyimpangan perilaku
2.2.4. WHY
Berikut ini adalah diagram yang menjelaskan mengapa dibutuhkannya Psychosocial Therapy Center
Diagram 2.2.1. Needs Diagram Sumber : Data Pribadi
10 2.2.5. WHEN
Psychosocial Therapy Center dapat digunakan ketika seseorang merasa tidak mampu untuk beradaptasi dengan permasalahan yang dihadapinya, dan juga digunakan ketika seseorang sudah mengalami gangguan kejiwaan ringan.
Diagram 2.2.2. Siklus Penggunaan Psychosocial Therapy Center Sumber : Data Pribadi
2.2.6. HOW
Melalui Psychosocial Therapy Center dapat mencegah dan menanggulangi terjadinya perilaku negatif yang memberikan dampak buruk terhadap keadaan sosial masyarakat, menjadi perilaku positif yang tentunya memberikan dampak baik bagi keadaan sosial masyarakat.
Diagram 2.2.3. Pengaruh Psychosocial Therapy Center Sumber : Data Pribadi
11
2.3. Program Kegiatan
Psychosocial therapy center adalah tempat khusus untuk penanganan dan perawatan bagi penderita gangguan kejiwaan ringan psikososial, dalam cakupan wilayah Jawa Barat dengan menggunakan metode pengobatan secara psikologis dan sosial sehingga memperbaiki kedaan psikologis dan social di masyarakat guna mempengaruhi perubahan sosial
Berikut adalah macam dari terapi psikososial :
Terapi Kognitif Behavioral (Cognitive Behaviour Therapy)
Terapi Keluarga (Family Therapy)
Terapi Kelompok (Group Therapy)
Terapi Okupasi (Occupational Therapy)
Terapi Rekreasi
Terapi Musik
2.3.1. Terapi Kognitif-Behavioral (Cognitive Behaviour Therapy) Terapi Kognitif-Behavioral atau Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat secara mental, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain. Selain itu, terapi ini juga memfokuskan pada upaya pembelajaran klien agar memiliki cara berpikir yang lebih positif dalam kehidupannya dan tidak hanya sekedar berupaya mengatasi penyakit atau gangguan jiwa yang sedang dialaminya. Dengan kata lain, konseling kognitif memfokuskan pada kegiatan mengelola dan memonitor pola pikir klien sehingga dapat mengurangi pikiran negatif dan mengubah isi pikiran
12 agar dapat memperoleh emosi yang lebih positif. Sedangkan Konseling Behavioral memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan klien, menentukan bentuk imbalan (rewards) yang dapat mendorong klien untuk melakukan tindakan tertentu, pemberian konsekuensi yang tidak menyenangkan, guna mencegah klien melakukan tindakan yang tidak dikehendaki.
2.3.2. Terapi Keluarga (Family Therapy)
Terapi keluarga menurut Gurman, Kniskern & Pinsof (1986) adalah salah satu jenis terapi yang bertujuan untuk mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya.
2.3.3. Terapi Kelompok (Group Therapy)
Terapi Kelompok adalah terapi yang dilakukan pada sekelompok klien bersama-sama dengan cara saling berdiskusi satu sama lain dengan dipimpin oleh seorang terapis dengan berbagai macam tujuan.
Tujuan Umum :
Meningkatkan kemampuan uji realitas
Membentuk sosialisasi
Meningkatkan fungsi psikologis : meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional dengan perilaku defensive
Membangkitkan motivasi bagi kemampuan fungsi kognitif dan afektif
13 Tujuan Khusus :
Meningkatkan identitas diri
Menyalurkan emosi
Keterampilan hubungan social
Tujuan Rehabilitatif :
Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
Soialisasi di tengah masyarakat
Empati
Meningkatkan pengetahuan problema hidup dan penyelesaian.
2.3.4. Terapi Okupasi (Occupational Therapy)
Terapi Okupasi (Occupational Therapy) adalah salah satu jenis terapi untuk membantu seseorang menguasi keterampilan motorik halus dengan lebih baik. Keterampilan motorik halus adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil yang ada di dalam tangan
2.3.5. Terapi Rekreasi
Terapi reakreasi adalah suatu bentuk terapi yang menggunakan media reakresi (bermain, berolahraga, berdarmawisata, dan sebagainya) dengan tujuan untuk mengurangi gangguan emosional dan memperbaiki prilaku melalui diskusi tentang kegiatan rekreasi yang telah dilakukan, sehingga perilaku yang baik diulang dan yang buruk dihilangkan.
2.3.6. Terapi Musik
Terapi musik adalah salah satu jenis terapi yang memanfaatkan keahlian seorang terapis dalam bermain
14 musik untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional dan spritual. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuai dengan keinginan, seperti musik klasik, intrumental, slow music, orkestra, dan musik modern lainnya.
2.4. Kebutuhan Ruang
Zoning Nama Ruang Aktivitas Sifat Kuantitas
PENERIMA Hall Datang Publik 1
Reception + Pendaftaran + kasir Registrasi Pembayaran layanan telepon Private 1
R. Tunggu Menunggu Publik 1
PENGELOLA R. Direktur Bekerja Private 1
R. sekretaris Menerima telepon Menerima tamu
Private 1
R. KABAG Bekerja Private 3 R. Rapat Rapat Private 1 R. Bagian Pelayanan Bekerja Private 1 R. Bag. Keuangan, Administrasi & informasi Bekerja Private 1 R. Bag. Umum, SDM & Pelayanan Bekerja Private 1
15 R. Istirahat Dokter & Psikolog Istirahat Private 2 RAWAT JALAN
R. Anemnesis Periksa riwayat Semi Publik 3
R. Konseling Konseling Semi Publik 10
R. Observasi Pengamatan Private 2
R. Oneway Mirror
Konseling Tes Perilaku
Private 2
RAWAT INAP Kamar Tidur+ Kamar Mandi (Pasien) Tidur Istirahat Mandi Ganti pakaian Private 32 Kamar Tidur+ Kamar Mandi (Terapis) Tidur Istirahat Mandi Ganti pakaian Private 4 Ruang serbaguna Terapi okupasi Terapi kelompok Semi Private 4
Ruang jaga Berjaga Mengawasi
Private 4
TERAPI RAWAT INAP
R. Anemnesis Periksa riwayat Semi Publik 1
R. Konseling Konseling Semi Publik 6
16 R. Oneway Mirror Konseling Tes Perilaku Private 2 Ruang Hydrotherapy
Hydrotherapy Semi Publik 2
Ruang Meditasi Meditasi Semi Publik 1
Ruang Karaoke dan terapi musik
Bernyanyi Bermain musik
Semi Publik
Ruang Olahraga Olah raga Semi Publik
Ruang Terapi Okupasi Aktivitas terapi okupasi (memasak, menulis, menggambar, berkebun, dll) Semi Publik SERVICE DAN PENDUKUNG Gudang Penyimpanan barang service
Laundry Laundry service
Ruang ganti dan locker pengelola
Ganti pakaian Pemyimpanan
barang
service
Dapur memasak service
Ruang makan pengelola
makan semiprivate
Ruang genset Penyimpanan genset service Ruang Bahan Bakar Penyimpanan bahan bakar service
17 Ruang
mekanikal
mekanikal service
Ruang elektrikal elektrikal service
Ruang absensi absen service
Toilet Buang air service
Tabel 2.4.1 Kebutuhan Ruang Sumber : Data Pribadi
2.5. Standar Fasilitas Kesehatan Gangguan Kejiwaan
Terlampir
2.6. Studi Banding Proyek Sejenis
2.6.1. Grha Atma
Grha atma merupakan salah satu tempat untuk menangani pasien gangguan kejiwaan. Lokasi graha atma berada di Jl. Laks. RE Martadinata no 11, Bandung.
Sebelumnya grha atma dinamakan dengan RS Jiwa Riau 11, yang kemudian mengalami renovasi bangunan dan pergantian nama pergantian nama tersebut merupakan suatu bentuk perhatian pemerintah Jawa Barat, untuk menghapus stigma negatif tentang seorang yang mengidap penyakit kejiwaan.
18
Gambar 2.6.1 Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi
Jenis pelayanan yang disediakan oleh grha atma antara lain:
Rawat jalan
Konseling dan konsultasi jiwa
Rawat observasi kedaruratan jiwa
Pemeriksaan psikologi dan psikometri
Laboratorium dan radiologi
One day care
Home visit
Manajemen kasus
Aksesibilitas
Grha atma berlokasi di Jl. Laks. RE Martadinata no 11, Bandung. Dari segi aksesibilitas, grha atma dapat diakses melalui Jl. Wastukencana, Jl. Ir. H. Juanda (TDago), dan melalui jalur lingkar Kota Bandung.
19
Gambar 2.6.2 Peta Situasi Grha Atma Sumber : www.wikimapia.com
Tingkat Kebisingan
Jl. Laks. RE Martadinata merupakan salah satu jalur yang padat di Kota Bandung, dan sering sekali terjadi kemacetan di sepanjang jalan ini terutama di depan grha atma. Hal ini berdampak pada tingkat kebisingan yang tinggi. Tingkat kebisingan yang tinggi tersebut sangat mengganggu dan menghambat proses penyembuhan bagi pasien yang sedang dirawat di grha atma.
Fasade Bangunan
Gambar 2.6.3 Fasade Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi
Grha atma memiliki fasade bangunan yang terkesan formal. Dan masih memberi kesan sebagai bangunan rumah sakit.
20 Interior Bangunan
Suasana interior grha atma menyerupai suasana interior rumah sakit. Berdasarkan hasil wawancara terhadap pengunjung, sebagian besar pengunjung merasa terganggu dan kurang nyaman dengan suasana interior yang menyerupai rumah sakit, hal ini dikarenakan mereka merasa sehat dan tidak mau berada di rumah sakit, dan takut dikatakan sedang berada didalam rumah sakit jiwa, karena stigma masyarakat umum yang menganggap gangguan jiwa sama dengan gila.
Gambar 2.6.4 Interior Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi
Berdasarkan hasil wawancara terhadap psikolog, suasana bangunan sangat berpengaruh terhadap proses pengobatan pasien gangguan kejiwaan. Suasana bangunan sebaiknya menyerupai rumah agar pasien merasa nyaman dan tenang, sehingga dapat membantu proses pengobatan.
2.6.2. Puri Prima Harapan
Puri Prima Harapan merupakan tempat rehabilitasi mental bagi penderita gangguan jiwa ringan dan gangguan jiwa berat. Puri Prima Harapan berlokasi di Jl. Ciguruwik KM 3.5 (Terusan Cipadati) Kp. Cikoneng III , Desa Cibiru Wetan, Kec. Cileunyi Kabupaten Bandung.
21 Fasilitas Ruang
Berikut ini adalah fasilitas ruang yang disediakan oleh Puri Prima Harapan :
1. Ruang UGD
Ruang UGD disediakan bagi pasien gangguan jiwa yang sedang dalam kondisi tidak dapat dikendalikan (tidak tenang, mengamuk dan sebagainya)
2. Ruang istirahat pasien (Kamar Tidur)
Satu ruang istirahat pasien pada Puri Prima Harapan dihuni oleh 2 orang pasien, fasilitas yang diberikan untuk ruang istirahat pasien hanya berupa tempat tidur, hal ini dimaksudkan agar terjadi interaksi antar sesame penghuni kamar.
Gambar 2.6.5 Kamar Tidur Pasien Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com
3. Toilet
4. Ruang Kamar Keluarga
Ruang Kamar Keluarga diperuntukkan bagi pasien yang ingin didampingi oleh keluarganya. Di dalam ruang kamar keluarga terdapat fasilitas tempat tidur berukuran double dan lemari untuk menyimpan barang bawaan. Di dalam ruang kamar keluarga juga terdapat fasilitas toilet khusus bagi pengguna kamar.
22
Gambar 2.6.6 Ruang Kamar Keluarga Sumber : www.primaharapan.com 5. Ruang Kebersamaan
Ruang kebersamaan berfungsi sebagai ruang tempat diadakannya group therapy, dan juga sebagai tempat dimana pasien dapat saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
6. Lapangan Olahraga
Lapangan olahraga disediakan sebagai tempat dilaksanakannya terapi rekreasi dan juga tempat olah raga ringan bagi pasien, seperti senam, yoga dan sebagainya.
Gambar 2.6.7 Lapangan Olahraga Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com
23
.
7. Taman
Taman berfungsi sebagai tempat yang memberikan efek relaksasi secara visual, sehingga memberikan kenyamanan bagi pasien yang sedang menjalani terapi.
Gambar 2.6.8 Taman Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com 8. Ruang periksa psikiatri
Yaitu ruang yang disediakan khusus untuk memeriksa keadaan pasien dari sisi psikiatri.
9. Ruang Konseling
Yaitu ruang yang disediakan khusus bagi pasien untuk menjalani konseling maupun terapi family.
Gambar 2.6.9 Ruang Konseling Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com
24
10. Ruang Karaoke
Merupakan salah satu fasilitas untuk penerapan terapi musik bagi pasien.
11. Ruang Seminar
Ruang seminar diadakan untuk memberikan motivasi dan pengarahan positif bagi pasien dalam menghadapi permasalahan.
Gambar 2.6.10 Ruang Seminar Puri Prima Harapan Sumber : www.primaharapan.com
Metode Penyembuhan
Di Puri Prima Harapan metode penyembuhan yang digunakan bagi penderita gangguan jiwa, terbagi menjaid 2 tahap, yaitu :
Tahap 1. Pemulihan Psikiatrik
Farmakoterapi oleh psikiater dengan dibantu jururawat (suster dan mantri)
Psikoterapi oleh psikiater, psikolog dan konselor
Siraman rohani
Evaluasi pasien oleh psikiater dan psikolog
Disajikan makanan dengan nutrisi yang tepat dan seimbang sesuai kebutuhan pasien
25 Tahap 2. Pemulihan Kualitas Hidup
Dilakukan oleh konselor, pekerja sosial, keluarga, serta profesional lainnya :
Pendidikan / pelatihan / penyuluhan
Pemberian contoh
Pemberdayaan Pasien sesuai minat bakat
26
BAB III
ELABORASI TEMA
3.1. Pengertian
Psychosocial therapy center merupakan tempat penanganan dan pengobatan bagi pasien penderita gangguan kejiwaan ringan psikososial. Untuk membantu proses penyembuhan, maka dibutuhkan tema bangunan yang dapat menunjang fungsi dari bangunan tersebut.
Untuk mendukung fungsi, tema yang diusung pada desain bangunan psychosocial therapy center adalah human senses.
Secara bahasa kata human senses memiliki arti indra manusia.
3.2. Interpretasi Tema
Melalui tema human senses pada bangunan psychosocial therapy center berarti bangunan didesain secara khusus sehingga dapat menciptakan interaksi antara bangunan dengan panca indra manusia, sehingga menimbulkan perasaan positif terhadap pasien, yang dapat membantu jalannya terapi pengobatan bagi pasien.
Diagram 3.2.1. Tema Bangunan Terhadap Indra Manusia Sumber : Data Pribadi
27
3.3. Studi Banding Tema Sejenis
The Falling Water
The Falling Water merupakan salah satu karya Frank Lloyd Wright yang dibangun pada tahun 1930, yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal keluarga Kaufmann.
Gambar 3.3.1. Eksterior The Falling Water Sumber : www.fallingwater.org
Gambar 3.3.2. Interior The Falling Water Sumber : www.fallingwater.org
28 Pada bangunan ini terjadi interaksi yang melibatkan bangunan dengan panca indra manusia, yang menimbulkan perasaan positif bagi manusia yang berada di dalamnya, seperti :
Indra Penglihatan
Warna Hijau yang mendominasi lingkunan eksterior bangunan, dipadukan denagn warna oranye pada material interior bangunan, secara visual menimbulkan perasaan santai dan nyaman, perasaan tersebut sangat mendukung fungsi bangunan sebagai tempat tinggal.
Indra Pendengaran
Suara gemericik air yang berasal dari sungai disekitar bangunan mampu menimbulkan suasana tenang dan damai.
Indra Penciuman dan Indra Perasa
Aroma dedaunan, aroma bebatuan dan aroma tanah yang basah ditangkap oleh indra penciuman sehingga membangkitkan sensasi rasa di dalam mulut, yang dapat menimbulkan kesan dingin, alami dan menenangkan.
Indra PerabaMaterial bebatuan yang digunakan pada bagian eksterior dan interior bangunan dipadukan dengan keadaan iklim yang mendukung, menghasilkan temperatur bebatuan yang dingin, sehingga ditangkap oleh indra peraba manusia dan menimbulkan kesan sejuk dan santai.
29
BAB IV
ANALISIS
4.1. Analisis Kondisi Tapak
Psychosocial Therapy Center terletak di Kota Bandung, dengan beberapa kelebihan sebagai berikut :
o Kota Bandung merupakan Ibu Kota Jawa Barat, sehingga cocok dijadikan sebagai pusat.
o Kota Bandung Terletak di tengah wilayah Jawa Barat, sehingga mempermudah aksesibilitas dari kota – kota di wilayah Jawa Barat.
o Kota Bandung memiliki fasilitas transportasi yang mendukung, seperti :
• Bandara
• Stasiun Kereta
• Terminal
• Jalan Tol
Gambar 4.1.1. Peta Jawa Barat Sumber : http://disperindag.jabarprov.go.id/
30 Sedangkan lokasi tapak Psychosocial therapy Center berada di antara Jln. Cipunegara dan Jln. Ciwulan dengan beberapa kelebihan sebagai berikut :
• Mudah diakses melalui Jalan Tol Pasteur maupun Jalur Lingkar Selatan Kota Bandung.
• Berada diantara Bandara Husein Sastranegara, Stasiun Kereta Api Bandung, Terminal Leuwi Panjang dan Terminal Cicaheum.
• Dekat dengan Gedung Sate sebagai salah satu landmark di Kota Bandung, sehingga mudah ditemukan.
• Berada ditengah kota, sehingga mempermudah dalam terapi sosial.
• Fungsi bangunan sekitar didominasi perumahan, dan berada di jalan lokal sehingga terhindar dari kebisingan.
Gambar 4.1.2. Peta Situasi Tapak Sumber : www.wikimapia.com
31
4.2. Bubble Diagram
Diagram 4.2.1. Bubble Diagram Keseluruhan Sumber : Data Pribadi
Diagram 4.2.2. Bubble Diagram Area Rawat Jalan Sumber : Data Pribadi
32
Diagram 4.2.3. Bubble Diagram Area Rawat Inap Sumber : Data Pribadi
Diagram 4.2.4. Bubble Diagram Area Terapi Sumber : Data Pribadi
33
Diagram 4.2.5. Bubble Diagram Area Pengelola Sumber : Data Pribadi
4.3. Analisis Hubungan Fungsional Skala Makro
Secara makro, hubungan fungsional Psychosocial Therapy Center dapat dijabarkan sebagai berikut :
Gambar 2222. Peta Situasional Hubungan Skala Makro Sumber : www.wikimapia.com
1. Kebun Binatang
Kebun binatang yang berlokasi di Jalan Taman Sari dapat digunakan sebagai salah satu area untuk terapi. Pada waktu
34 tertentu pasien rawat inap dapat diajak menuju kebun binatang untuk menjalani terapi rekreasi dan juga terapi sosial.
Gambar 4.3.1. Kebun Binatang Bandung Sumber : Dokumentasi Pribadi
2. RS ST. Borromeus
Lokasi Rumah Sakit ST Borromeus yang dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan sebagai pilihan rumah sakit bila suatu waktu terjadi kecelakaan.
Gambar 4.3.2. RS ST. Borromeus Sumber : Dokumentasi Pribadi
3. Grha Atma
Keberadaan Grha Atma dapat mendukung fungsi
Psychosocial Therapy Center dalam penanganan penderita gangguan kejiwaan, karena merupakan salah satu fungsi bangunan yang memiliki fungsi serupa yaitu menangani gangguan kejiwaan ringan.
35
Gambar 4.3.3. Grha Atma Sumber : Dokumentasi Pribadi
4. RSJ Cisarua Cimahi
Psychosocial Therapy Center sangat bermanfaat bagi mantan pasien RSJ Cisarua Cimahi, yaitu sebagai tempat penanganan lebih lanjut, agar mantan pasien RSJ mampu beradaptasi sosial secara lebih baik dan diberikan masukan positif untuk memunculkan kembali kepercayaan diri di tengah masyarakat
Gambar 4.3.4. RSJ Cisarua Cimahi Sumber : Dokumentasi Pribadi
5. Kawasan Car Free Day
Lokasi tapak Psychosocial Therapy center dekat dengan kawasan Car free Day Dago. Event Car Free Day yang diadakan rutin setiap hari minggu tersebut, dapat digunakan sebagai salah satu area untuk dilakukannya terapi rekreasi dan juga terapi social, untuk memunculkan kembali rasa percaya diri pasien.
36
Gambar 4.3.5. Event Car Free Day Sumber : dinolefty.wordpress.com
4.4. Analisis Hubungan Fungsional Skala Mikro
Fungsi Psychosocial Therapy Center sangat erat kaitannya dengan bangunan sekitar terutama dalam menciptakan keadaan sosial masyarakat yang lebih baik. Hubungan fungsional skala mikro tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
Gambar 4.4.1. Peta Situasional Hubungan Skala Mikro Sumber : www.wikimapia.com
1. Lapangan Gasibu
Lapangan gasibu dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk kegiatan terapi rekreasi dan juga terapi sosial, seperti olahraga dan permainan kelompok.
Gambar 4.4.2. Lapangan Gasibu Sumber : Dokumentasi Pribadi
37 2. Gedung Sate
Gedung merupakan salah satu landmark di Kota Bandung yang terkenal, keberadaan Gedung Sate yang dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan patokan untuk memberikan gambaran pemetan tuntuk memperjelas posisi tapak.
Gambar 4.4.3. Gedung Sate Sumber : http://hotel-di.com/
3. Taman Lansia dan Taman Kandaga Puspa
Taman Lansia dan Taman Kandaga Puspa yang berada dekat dengan lokasi tapak dapat dijadikan sebagai tempat konseling maupun sebagai tempat kegiatan terapi rekreasi. Pada hari minggu lokasi di sekitar taman ini pun menjadi pusat keramaian, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk berlatih dan beradaptasi untuk berinteraksi sosial.
Gambar 4.4.4. Taman Lansia Sumber : Dokumentasi Pribadi
4. Pengadilan Negeri Bandung
Pengadilan merupakan salah satu fungsi bangunan yang berpotensi meningkatkan tingkat stres yang tinggi terutama bagi seseorang yang akan diadili. Fungsi Psychosocial Therapy
38
Center dapat memberikan efek positif bagi masalah kejiwaan bagi seseorang yang akan diadili.
5. Gereja Maranatha
Gereja Maranatha yang dekat dengan lokasi tapak dapat menunjang kegiatan terapi kerohanian bagi klien yang beragama Kristen
Gambar 4.4.5. Gereja Maranatha Sumber : Dokumentasi Pribadi
6. PUSDAI
PUSDAI dapat dijadikan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan terapi kerohanian bagi klien yang beragama Islam.
Gambar 4.4.6. PUSDAI Sumber : http://www.skyscrapercity.com/
47
BAB VI
HASIL RANCANGAN
6.1. Siteplan Terlampir 6.2. Denah Terlampir 6.3. Tampak Terlampir 6.4. Potongan Terlampir 6.5. Bentuk BangunanGambar 6.5.1 Bentuk Bangunan 1 Sumber : Data Pribadi
48
Gambar 6.5.2 Bentuk Bangunan 2 Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.5.3 Bentuk Bangunan 3 Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.5.4 Bentuk Bangunan 4 Sumber : Data Pribadi
49
6.6. Perspektif Suasana
Gambar 6.6.1 Open Space 1 Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.2 Open Space 2 Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.3 Side Entrance Sumber : Data Pribadi
50
Gambar 6.6.4 Main Entrance Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.5 Drop off Area Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.6 Hall Sumber : Data Pribadi
51
Gambar 6.6.7 Area Tunggu Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.8 Taman dan Area Tunggu Sumber : Data Pribadi
Gambar 6.6.9 Area Tunggu Anak Sumber : Data Pribadi
52
6.7. Foto Maket
Gambar 6.7.1 Foto Maket 1 Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 6.7.2 Foto Maket 2 Sumber : Dokumentasi Pribadi
Gambar 6.7.3 Foto Maket 3 Sumber : Dokumentasi Pribadi
39
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5.1. Masalah Perancangan
Terdapat beberapa masalah perancangan yang akan mempengaruhi desain bangunan, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
• Bangunan harus mampu menghilangkan stigma negatif masyarakat tentang gangguan jiwa.
• Bangunan mampu beradaptasi dengan Iklim Tropis.
• Bangunan mampu beradaptasi dengan kondisi Tapak.
• Penerapan tema human senses pada bangunan
5.2. Desain terhadap Stigma Negatif Masyarakat
Open Space
Stigma Negatif Masyarakat, dapat dihilangkan melalui adanya
open space. Open space tersebut bertujuan untuk menciptakan ruang bagi pengunjung maupun warga sekitar untuk berinteraksi