GAMBARAN KESIAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2012 PADA STANDAR SASARAN KESELAMATAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT HAJI JAKARTA TAHUN 2014
OLEH: Eko Setia Nugraha NIM : 109101000039
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
ii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Skripsi, Maret 2016
Eko Setia Nugraha, NIM : 109101000039
Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 pada Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014
85 + xix halaman, 1 bagan, 3 gambar, 2 tabel, 6 lampiran
ABSTRAK
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa akreditasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan, pada 2014, Status akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta masih menggunakan akreditasi 2009 sehingga dikategorikan telah kadaluarsa karena telah melebihi tenggat waktu tiga tahun. Berdasarkan wawancara, sejak tahun 2013 pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah mempersiapkan untuk mengikuti standar akreditasi rumah sakit versi 2012. Namun, pelaksanaan standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target yang ditetapkan. Penelitian ini ditujukan untuk melihat gambaran kesiapan Rumah Sakit Haji Jakarta dalam mendapatkan akreditasi versi 2012 pada sasaran keselamatan pasien. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Informan penelitian dipilih melalui metode purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah 1 anggota pokja akreditasi SKP, 2 perawat, 1 seksi unit farmasi, 2 pasien. Triangulasi sumber, metode dan data digunakan untuk meningkatkan validitas penelitian. Sesuai akreditasi 2012, terdapat enam sasaran dalam Sasaran Keselamatan Pasien. Terdiri dari ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat, kepastian tepat lokasi tepat prosedur tepat pasien operasi, pengendalian risiko infeksi dan pengurangan risiko pasien jatuh. Dari enam standar tersebut didapatkan hasil dokter operator sangat jarang menandai lokasi operasi dengan penanda khusus dan rumah sakit tidak memiliki dokumen untuk monitoring dan evaluasi untuk pasien risiko jatuh. Sedangkan pada sasaran lain, penyediaan dokumen dan implementasi sudah dilakukan. Rumah sakit Haji Jakarta perlu melakukan sosialisasi terkait penandaan lokasi operasi secara lebih intensif dan persuasif dan juga melengkapi dokumen monitoring dan evaluasi dalam pengurangan risiko pasien jatuh.
iii
FACULTY MEDICINE AND HEALTH SCIENCES DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
INTENTION HEALTH SERVICE MANAGEMENT Undergraduate Thesis, March 2016
Eko Setia Nugraha, NIM : 109101000039
An Overview of Readiness of Accreditation 2012 version Process on Patient Safety Standard Goal in Jakarta Haji Hospital at 2014
85 + xix page, 1 chart, 3 image, 2 table, 6 attachment
ABSTRACT
The Ministry of Health of Republic Indonesia state that accreditation is conducted for increasing a quality of health care so that can increase a trust of patient. Based on the preliminary studies that has been conducted, in 2014, accreditation status of Haji Hospital Jakarta still use 2009 accreditation version so that can be categorized as an expired accreditation because of exceed 3 years as the limit of accreditation time. Based on interview, since 2013 the hospital was preparing for getting a 2012 accreditation version. Nevertheless, the process to get the accreditation encountered retardation by the target. This research aimed to make an overview of Jakarta Haji Hospital readiness in getting a 2012 accreditation version on the patient safety goal. This research uses a qualitative method. Informants in this research are chosen by purposive sampling method. The informants are 1 person from the member of accreditation working group of patient safety goal, 2 nurses, 1 person from pharmacy unit and 2 patients. Based on 2012 accreditation version, there are six goals on the patient safety goal. There are identifying patient, increasing an effective communication, managing alert drugs, to make sure right location, procedure and patient operation, reducing infection risk and decreasing patient fall risk. From that six standard, the results are operating doctor very rare mark the operation location using a special marker and hospital does not have a monitoring and evaluation form for decreasing patitent fall risk. On the other goals, requiring document and implementing have been completed. Haji hospital need to make a socialization regarding operation location marking intensively and persuasively and complete an evaluation and monitoring documents regarding decreasing patient fall risk.
iv
GAMBARAN KESIAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2012 PADA STANDAR SASARAN KESELAMATAN PASIEN
DI RUMAH SAKIT HAJI JAKARTA TAHUN 2014
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Oleh
Eko Setia Nugraha NIM: 109101000039
Pembimbing I,
dr. Yuli Prapancha Satar, MARS NIP. 19530730 198011 1 001
Pembimbing II,
Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D NIP. 19761209 200604 2 003
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI
Skripsi dengan judul Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 Pada Standar Sasaran Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014 telah diajukan dalam sidang ujian skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 4 Maret 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM.) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Jakarta, Maret 2016
Penguji I
Riastuti Kusuma Wardani, MKM NIP. 1980516 200901 2 005
Penguji II
Dr. Ela Laelasari, M. Kes NIP. 19721002 200604 2 001
Penguji III
vi
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Maret 2016
vii
RIWAYAT HIDUP
Nama : Eko Setia Nugraha
Tempat/Tgl Lahir : Bireuen, 14 Januari 1992
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Jl. Medan-Banda Aceh, Dusun Sejahtera, Desa Geulanggang Baro, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh 24251
Riwayat Pendidikan:
1. TK Nurul Hilal (1996 – 1997)
2. SD Negeri 12 (Cot Gapu) Bireuen (1997 – 2003)
3. SMP Negeri 1 Bireuen (2003 – 2006)
4. SMA Negeri 1 Bireuen (2006 – 2009)
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Kesiapan
Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 Standar Sasaran Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014”. Shalawat dan salam juga tercurah bagi junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan saran, bimbingan serta bantuan baik langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak yang sangat membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Keluarga tercinta Ibunda Rosmanidar, S.Pd dan Ayahanda Mardi Ahmad, SE serta adikku Dessy Purnamasari yang selalu mendoakan secara tulus dan memberikan dorongan baik moril maupun materil.
2. Bapak Prof. Dr. Arif Sumantri, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan.
3. Ibu Fajar Ariyanti, M.Kes, Ph.D selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat serta pembimbing skripsi.
4. Ibu Raihanna Nadra Alkaff, SKM, M.MA dan bapak dr. Yuli Prapancha Satar, MARS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan waktu, arahan dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
ix
6. Ibu Dewi Utami Iriani, Ph.D selaku Sekretaris Program Studi Kesehatan Masyarakat dan seluruh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, terima kasih untuk seluruh ilmu dan nasihat yang diberikan selama ini. Mohon maaf atas semua kesalahan yang dilakukan penulis selama masa perkuliahan.
7. Ibu Riastuti Kusuma Wardani, MKM dan ibu Susanti Tungka, MARS sebagai penguji di sidang skripsi
8. Keluarga lainnya seperti Om, Tante, Sepupu dan semua yang telah memberi dukungan serta senantiasa mengingatkan untuk lulus kuliah.
9. Bapak dr. Chairul Radjab Nasution, SpPD-KGEH, FINASIM, M.Kes yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis baik di Rumah Sakit Haji Jakarta dan magang di Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI.
10.Seluruh pihak Rumah Sakit Haji Jakarta yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, khususnya pada Pak Kusnanto, informan dalam hal ini Ibu Yati dan Pak Muzammil serta lainnya.
11.M. Iqbal Nurmansyah, selaku teman sekelas dalam perkuliahan dan menjadi teman diskusi dalam berbagai hal. Serta teman-teman lain seperjuangan di jurusan yang kuliahnya telat lulus dan sudah memberi motivasi satu sama lain. 12.Terakhir kepada seluruh kenalan dan teman yang ada di berbagai daerah
x
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih kurang dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kemajuan di masa yang akan datang. Penulis berdo’a semoga semua setiap bantuan yang telah kalian berikan mendapat balasan dari Allah SWT. Amin Terakhir kiranya penulis berharap semoga laporan skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca umumnnya
هت اك رب و ه ا ةمحرو كي ع اسل ا و
Hormat saya
xi
xii
2.1.3 Tujuan Rumah Sakit …... .. 13
2.1.4 Manfaat Akreditasi …... .. 13
2.1.5 Langkah-Langkah Pelaksanaan Akreditasi …... .. 16
2.1.6 Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit Secara Nasional.. . 16
2.1.7 Keputusan Akreditasi Rumah Sakit …... . 18
2.2 Perbedaan Akreditasi Lama dan Baru ... 20
2.3 Sasaran Keselamatan Pasien (Akreditasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Tahun 2012 ... .. 22
2.3.1 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien ... .. 22
2.3.1.1 Maksud dan Tujuan Sasaran I ... .. 22
2.3.1.2 Elemen Penilaian Sasaran I . ... .. 23
2.3.2 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ... .. 24
2.3.2.1 Maksud dan Tujuan Sasaran II ... .. 24
2.3.2.2 Elemen Penilaian Sasaran II . ... .. 25
2.3.3 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Pelru Diwaspadai ... .. 25
2.3.3.1 Maksud dan Tujuan Sasaran III ... .. 25
2.3.3.2 Elemen Penilaian Sasaran III . ... .. 26
2.3.4 Sasaran IV: Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi ... .. 27
2.3.4.1 Maksud dan Tujuan Sasaran IV ... .. 27
2.3.4.2 Elemen Penilaian Sasaran IV . ... .. 28
2.3.5 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan ... .. 29
xiii
2.3.5.2 Elemen Penilaian Sasaran V . ... .. 29
2.3.6 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh ... .. 30
2.3.6.1 Maksud dan Tujuan SasaranV I ... .. 30
2.3.6.2 Elemen Penilaian Sasaran VI . ... .. 30
2.4 Keselamatan Pasien . ... .. 31
2.5 Kerangka Teori ... .. 32
BAB III KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ... 3.1. Kerangka Pikir ... ... 40
3.2 Definisi Istilah ... ... 41
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian ... ... 43
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... ... 43
4.3 Informan Penelitian... ... 43
4.4. Instrumen Penelitian ... ... 44
4.5 Metode Pengumpulan Data ... ... 44
4.6 Validasi Data ... ... 45
4.7 Pengolahan dan Analisis Data ...…... ... 46
4.7.1 Pengolahan Data …... 46
4.7.2 Analisis Data …... ... 47
BAB V HASIL 5.1 Gambaran Umum Informan Penelitian... ... 48
5.2 Profil Rumah Sakit Haji... ... 49
5.2.1 Visi dan Misi Rumah Sakit Haji ... 49
xiv
5.2.1.2 Misi Rumah Sakit Haji Jakarta ... 49
5.2.2 Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta ... 50
5.2.3 ISO 9001:2000 ... 50
5.2.4 Kebijakan Mutu di Rumah Sakit Haji Jakarta ... 50
5.3 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien ... 51
5.4 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ... 54
5.5 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai ... 56
5.6 Sasaran IV: Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat pasien Operasi ... 58
5.7 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan ... 60
5.8 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh ... 62
BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan Penelitian ... 65
6.2 Kesiapan RS Haji dalam menghadapi akreditasi versi 2012 pada sasaran keselamatan pasien ... 65
6.3 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien ... 66
6.4 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi yang Efektif ... 68
6.5 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai ... 70
6.6 Sasaran IV: Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat Pasien Operasi ... 71
6.7 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan ... 73
xv BAB VII SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan ... 78
7.2 Saran ... 81
7.2.1Bagi Rumah Sakit Haji Jakarta ... 81
xvi
DAFTAR BAGAN
xvii
DAFTAR GAMBAR
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Istilah ... 41 Tabel 4.1 Sumber Perolehan Data Berdasarkan Informan dan
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara
Lampiran 2 Daftar Telaah Dokumen dan Observasi
Lampiran 3 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta tentang Ketepatan Identifikasi Pasien Lampiran 4 SK Direktur Rumah Sakit Haji Jakarta tentang Peningkatan Komunikasi
yang Efektif
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang memegang peranan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/PER/III/2010 “Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat
darurat”.
Berbagai upaya pemerintah dan masyarakat telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit, diantaranya adalah akreditasi rumah sakit. Rumah sakit yang telah memiliki akreditasi akan mampu memberikan jaminan hukum kepada pelanggan dan masyarakat bahwa pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit sudah baik dan sesuai dengan standar yang diterapkan (Departemen Kesehatan RI, 2000).
Melalui Undang-Undang (UU) terbaru mengenai rumah sakit, yaitu UU No. 44 tahun 2009, pada pasal 40 bagian ketiga juga disebutkan bahwa semua rumah sakit di Indonesia wajib melaksanakan akreditasi dengan tujuan agar mutu rumah sakit semakin meningkat. Sementara dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit juga menegaskan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan harus berdasarkan pada etika dan moral.
2
standar manajemen rumah sakit, 3). Sasaran keselamatan pasien rumah sakit, dan 4). Sasaran millennium development goals. Dimana pada proses pelaksanaanya melibatkan seluruh sumber daya manusia professional rumah sakit dari mulai tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen rumah sakit, dan tenaga non kesehatan.
Dalam akreditasi rumah sakit, sumber daya manusia telah diatur yakni melalui penentuan jumlah dan spesifikasi tenaga serta fasilitas penunjang layanan yang harus dimiliki oleh rumah sakit tersebut (Soepojo, 2002). Sumber daya terstandarisasi seperti SDM, manajemen dan teknologi terstandarisasi merupakan komponen yang sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan dan menciptakan rumah sakit yang mempunyai jasa pelayanan kesehatan berkualitas yang merupakan indikator untuk meningkatkan citra rumah sakit dan profitabilitasnya (Hafizurrachman, 2009).
Perubahan paradigma standar akreditasi baru diaplikasikan pada pelayanan berfokus pasien, dimana kepuasan pasien menjadi standar utama. Kesinambungan pelayanan harus dilakukan baik saat merujuk keluar maupun serah terima pasien di dalam rumah sakit. Proses akreditasi bukan hanya meneliti secara cross sectional tetapi juga longitudinal, serta hasil survey pencapaian RS terhadap skoring yang ditentukan berupa level-level pencapaian pratama, madya, utama dan paripurna (KARS, 2012).
3
modal negosiasi dengan asuransi kesehatan dan sumber pembayar lainnya dengan data tentang mutu pelayanan menciptakan budaya yang terbuka untuk belajar dari pelaporan yang tepat dari kejadian yang tidak diharapkan; dan menetapkan prioritas pada kualitas dan keselamatan pasien di semua tingkat (RSUD Dr. Soegiri Lamongan, 2015).
Dengan adanya akreditasi versi 2012 yang dikeluarkan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit, beberapa rumah sakit tengah mempersiapkan diri untuk bisa mengikuti akreditasi tersebut. Dalam prosesnya, beberapa rumah sakit masih mengalami hambatan atau dapat dikatakan belum siap untuk mengikuti akreditasi tersebut dikarenakan oleh beberapa sebab. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang menyebutkan bahwa rumah sakit belum siap menghadapi akreditasi versi 2012 karena belum memiliki kebijakan terkait dengan pelaksanaan petugas terhadap perlindungan dokumen rekam medis dari kerusakan dan kehilangan, tidak adanya pokja, sarana prasarana yang tidak menunjang dan keterbatasan sistem manajemen rumah sakit (Prawira & Asfawi, 2016).
Selain itu, penelitian lain yang dilakukan di RS umum Rajawali Citra Kabupaten Bantul terkait analisis kesiapan menghadapi akreditasi pada bidang pelayanan keselamatan kerja, kebakaran dan kewaspadaan bencana, menyebutkan bahwa masih terdapat kesulitan dalam persiapan sumber daya manusia mengingat staf yang ditunjuk untuk menyiapkan perangkat akreditasi belum memahami ilmu kesehatan keselamatan kerja (Hariyono, 2013).
4
di dukung oleh peralatan canggih dan di tangani oleh tenaga yang berkualitas dan profesional. Pada tahun 2014, RS Haji Jakarta terakhir kali mendapatkan akreditasi oleh Badan Akreditasi Departemen Kesehatan RI pada tahun 2009 dengan enam belas pelayanan yang terakreditasi atau terakreditasi penuh.
Status akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta telah kadaluarsa karena telah melebihi tenggat waktu yakni tiga tahun. Oleh karena itu, pihak Rumah Sakit Haji Jakarta telah mempersiapkan untuk mengikuti standar akreditasi rumah sakit versi 2012 sejak tahun 2013. Namun, berdasarkan wawancara dengan pihak rumah sakit, pelaksanaan standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target yang ditetapkan, semula awal 2014 lalu diundur menjadi pertengahan 2014 dan masih terjadi keterlambatan.
Pada akreditasi versi 2012 terdapat beberapa sasaran yang dilakukan penilaian dimana salah satu sasarannya ialah sasaran keselamatan pasien. Keselamatan pasien sudah menjadi isu tidak hanya di Indonesia namun di negara berkembang maupun negara maju lainnya. sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat 10% pasien di rumah sakit mengalami kejadian yang tidak diinginkan dimana setengahnya merupakan tindakan yang dapat dicegah. Selain itu, penelitian di beberapa negara juga menyebutkan angka yang tidak sedikit terhadap kejadian yang tidak diinginkan seperti Australia sebesar 16,6%, Selandia Baru sebesar 12,9%, Inggris sebesar 10,8% dan Swedia sebesar 12,3% (Zegers, Wollersheim, Wensing, Vincent, & Grol, 2013).
5
Jakarta menempati urutan tertinggi yaitu yaitu 37,9%. Selain itu, insiden keselamatan pasien pada provinsi lainnya ialah Jawa Tengah 15,9%, D.I. Yogyakarta 13,8%, Jawa Timur 11,7%, Sumatera Selatan 6,9%, Jawa Barat, 2,8%, Bali 1,4%, Sulawasi Selatan 0,7%) (KKP-RS, 2008).
WHO dalam bukunya menyebutkan bahwa situasi di negara berkembang memerlukan perhatian lebih dalam hal keselamatan pasien dimana negara tersebut cenderung lebih memiliki infrastruktur dan peralatan yang miskin, pasokan dan kualitas obat yang kurang, kurang baiknya manajemen limbah dan pengendalian infeksi, kurangnya kinerja personel dikarenakan kurangnya motivasi dan kemampuan teknis dan kekurangan pendanaan menjadikan kemungkinan terjadinya insiden yang merugikan jauh lebih besar ketimbang negara maju. WHO juga menyebutkan bahwa dilaporkan sekitar 77% kasus obat palsu dan dibawah standar terjadi di negara berkembang (World Health Organization, 2005).
6
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti “Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi 2012 Standar Sasaran Keselamatan Pasien Di
Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2014”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumah Sakit Haji Jakarta pertama terakreditasi oleh Badan Akreditasi Departemen Kesehatan RI pada bulan April 1998 dengan lima pelayanan yang terakreditasi yaitu Unit Gawat Darurat, Administrasi, Keperawatan, Pelayanan Medik dan Rekam Medik. Selanjutnya, RS Haji Jakarta terakhir diakreditasi pada tahun 2009 dengan 16 pelayanan dengan menggunakan standar lama, sehingga dapat disimpulkan bahwa rumah sakit haji belum mendapatkan akreditasi versi 2012 pada tahun 2014.
Belum terakreditasinya RS Haji dengan versi 2012 adalah karena beberapa hal yaitu : 1) tertundanya akreditasi yang seharusnya dilaksanakan setiap 3 tahun sekali tetapi tertunda selama 5 tahun yaitu dari tahun 2009 sampai 2014, 2) Akreditasi baru lebih sulit dan harus mengajukan hal-hal baru dalam prosesnya, sehingga sampai dengan sekarang RS Haji Jakarta sedang mempersiapkan akreditasi versi baru tersebut, 3) Hal-hal yang dinilai kurang selama pelaksanaan akreditasi yaitu implementasi pelaksanaan dan penyediaan dokumen dari standar yang diberlakukan. Dalam studi pendahuluan, berdasarkan wawancara dengan pihak rumah sakit, juga disebutkan bahwa pelaksanaan standar akreditasi versi 2012 mengalami beberapa keterlambatan dari target yang ditetapkan, semula awal 2014 lalu diundur menjadi pertengahan 2014.
7
Kesehatan sendiri telah membuat Peraturan Menteri Kesehatan tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit dimana peraturan ini dibuat untuk mempersiapkan rumah sakit agar dapat meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, pemerintah juga menempatkan aspek keselamatan pasien pada salah satu sasaran akreditasi versi 2012. Sedangkan secara kuantitatif, untuk melihat angka kejadian tidak diinginkan dan kejadian nyaris cedera di Indonesia, harus diakui bahwa data tersebut masih sangat langka karena standar pelayanan di Indonesia masih kurang optimal (Rasdini, Wedri, & Mega, 2014).
1.3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran kesiapan Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 pada standar sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta tahun 2014?
1.4.Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Diketahui gambaran kesiapan Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 pada standar sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta tahun 2014. 1.4.2. Tujuan Khusus
1. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran I keselamatan pasien (ketepatan identifikasi pasien) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
2. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran II keselamatan pasien (peningkatan komunikasi yang efektif) di Rumah Sakit Haji tahun 2014. 3. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran III keselamatan pasien
8
4. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran IV keselamatan pasien (kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat pasien operasi) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
5. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran V keselamatan pasien (pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan) di Rumah Sakit Haji tahun 2014.
6. Diketahui gambaran kesiapan pada sasaran VI keselamatan pasien (pengurangan risiko pasien jatuh) di Rumah Sakit Haji tahun 2014. 1.5. Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui informasi jumlah dokumen yang dimiliki Rumah Sakit Haji Jakarta serta implementasinya dalam penilaian akreditasi standar sasaran keselamatan pasien. Serta dijadikan gambaran dalam menentukan strategi kerja dalam pemenuhan dokumen penilaian akreditasi standar sasaran keselamatan pasien.
1.5.2 Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai gambaran kesiapan penilaian akreditasi rumah sakit.
9
1.5.3 Bagi Penelitian Lain
Sebagai informasi mengenai gambaran kesiapan penilaian akreditasi rumah sakit. Serta menjadi bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.
1.6. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang berjudul “Gambaran Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Versi
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab dua berikut akan diuraikan teori-teori yang digunakan sesuai dengan topik penelitian antara lain yang berhubungan dengan akreditasi rumah sakit.
2.1. Akreditasi Rumah Sakit
Peraturan Menteri Kesehatan RI, No 159a/MENKES/PER/II/1998 tentang Rumah Sakit di sebutkan bahwa : Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan bahwa Rumah Sakit memenuhi standar minimal yang ditentukan Akreditasi merupakan pengakuan resmi yang biasanya diberikan oleh Pemerintah terhadap lembaga sertifikasi yang memenuhi standar EN-45012, yaitu persyaratan internasional bagi sebuah lembaga sertifikasi. Sertifikasi merupakan pengakuan resmi terhadap keberhasilan penerapan system mutu di perusahaan berdasarkan pada standar system mutu. Di Indonesia, lembaga yang berwenang memberikan akreditasi kepada lembaga sertifikasi adalah Komite Akreditasi Rumah Sakit (Depkes RI, 2000).
2.1.1 Maksud Akreditasi Rumah Sakit Menurut (KARS, 2012) :
1. Memberikan standar-standar operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan dan pelayanan lain yang berhubungan.
11
3. Menghubungkan program-program pendidikan dan riset dan menerbitkan hasil dari itu, yang akan lebih lanjut maksud lain dari organisasi, dan untuk menerima bantuan, pemberian dan warisan dan perlengkapan, dan mendukung organisasi. 4. Memberikan tanggungjawab dan menghubungkan kegiatan-kegiatan lain
menyesuaikan dengan opersional dari penyusunan standar,survey dan program akreditasi.
Akreditasi memiliki ciri:
a. Bersufat sukarela dari organisasi kesehatan b. Lebih dari persyaratan yang ada pada lisensi
c. Tujuan untuk mengarahkan organisasi menuju optimasi penampilan daripada hanya sekedar pencapaian minimum
d. Pencapaian secara maksimal standar maksimal
12
Peningkatan mutu adalah seharusnya dimulai dari keinginan diri sendiri (rumah sakit) secara keseluruhan dengan maksud untuk meningkatkan penampilan atas citra dirinya dengan kesadaran , bahwa semakin bermutu rumah sakitnya akan semakin banyak memperoleh keuntungan dalam arti luas. Sebelum di akreditasi, mulai (di evaluasi) oleh pihak luar (KARS dan Kemenkes), rumah sakit tersebut akan menilai dirinya sendiri lebih dulu.
Proses akreditasi Rumah Sakit secara garis besar adalah (KARS, 2012):
˜ Sebelum dilakukan akreditasi oleh Tim Akreditasi, Rumah Sakit mempersiapkan
diri senaik-baiknya melaksanakan dan melengkapi apa saja yang akan dinilai, dengan melakukan penilaian diri sendiri dengan instrument atau kuisioner.
˜ Pada saatnya Komite Akeditasi RS melakukan pemeriksaan ( survey) ke Rumah
Sakit tersebut dan memeriksa dokumen- dokumen yang ada, peralatan medis, mengamati kegiatan pelayanan medis, mewawancarai manajer, staf medis, paramedis, dan non medis, serta pasien dan keluarganya.
2.1.2. Penyelenggaraan Akreditasi Rumah sakit
Menurut (Depkes RI, 2000) Standar pelayanan Rumah Sakit dan Standar pelayanan Medis telah di tetapkan berdasar Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI, No 436/MENKES/SK/VI/1993. Standar yang digunakan untuk akreditasi mengacu pada standar dalam Surat Keputusan Menteri tersebut dan pertimbangan lain yang telah ditetapkan. Yang berwenang melakukan akreditasi Rumah Sakit, baik milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, maupun swasta adalah “Komisi Akreditasi Rumah
13
Direktur Jenderal Pelayan Medik Depkes RI, terdiri atas unsur-unsur: PERSI ,Organisasi profesi bidang kesehatan, Ahli Perumahsakitan, Departemen Kesehatan, dan Instansi/ unit terkait.
2.1.3. Tujuan Akreditasi Rumah Sakit
Menurut (Depkes RI, 2000) Tujuan umum dari akreditasi adalah untuk mendapatkan gambaran seberapa jauh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi berbagai standar yang ditentukan, dengan demikian mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan.
Tujuan Khusus
Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada Rumah Sakit yang telah
mencapai tingkat pelayanan Kesehatan sesuai dengan standar yang ditetapkan Memberikan jaminan kepada petugas rumah sakit bahwa semua fasilitas, tenaga
dan lingkungan yang diperlukan tersedia, sehingga dapat mendukung upaya penyembuhan dan pengobatan pasien dengan sebaik-baiknya.
Memberikan jaminan dan kepuasan kepada “costumer “ dan masyarakat bahwa
pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit di selenggarakan sebaik mungkin. 2.1.4. Manfaat Akreditasi
Manfaat dari akreditasi antara lain :
1. Bagi Rumah Sakit, menurut (Depkes RI, 2000)
14
b. Rumah sakit dapat mengetahui pelayanan yang berada dibawah standar atau perlu ditingkatkan.
c. Penting untuk rekrutmen dan membatasi “Turn Over “ staf rumah sakit karena pegawai akan lebig senang, tenang dan aman bekerja di rumah sakit yang akan di akreditasi.
d. Dengan perkembangan asuransi Kesehatan, semakin banyak perusahaan asuransi yang mempersyaratkan pesertanya untuk berobat di Rumah sakit yang telah terakreditasi.
e. Alat untuk negosiasi dengan perusahaan asuransi kesehatan
f. Status Akreditasi dapat dijadikan alat untuk marketing pada masyarakat.
g. Pemerintah akan mempersyaratkan akreditasi sebagai criteria untuk memberi izin rumah sakit yang menjadi tempat pendidikan tenaga medis/ para medis.
h. Merupakan status simbol bagi Rumah Sakit dan dapat meningkatkan citra dan kepercayaan masyarakat atas Rumah Sakit.
i. Dengan diketahuinya kekurangan di bandingkan dengan standar yang ada, rumah sakit dapat menggunakannya untuk kepentingan pengajuan anggran dan perencanaan/pengembangan rumah sakit kepada pemilik.
2. Bagi pemerintah, menurut (Depkes RI, 2000)
15
b. Dapat memberikan gambaran keadaan Perumahsakitan di Indonesia yang memenuhi standar yang di tentukan sehingga menjadi bahan masukan untuk perencanaan pengembangan pembangunan Kesehatan pada masa datang.
3. Bagi Perusahaan Asuransi, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Akreditasi penting untuk negosiasi klaim asuransi kesehatan dengan rumah sakit. b. memberi gambaran rumah sakit mana yang dapat dijadikan mitra kerja
4. Bagi masyarakat, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Dapat mengenal dengan melihat sertifikat Akreditasi yang biasanya di pajang diRumah Sakit yang pelayanannya telah memenuhi standar, sehingga dapat membantu mereka memilih rumah sakit yang di anggap baik.
b. Masyarakat akan merasa lebih aman mendapat pelayanan di Rumah Sakit yang sudah di akreditasi daripada yang belum di akreditasi.
5. Bagi pemilik, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Mempunyai rasa kebanggaan bila rumah sakitnya diakreditasi
b. Pemilik dapat menilai seberapa baik pengelolaan sumber daya (efisiensi) rumah sakit ini dilakukan oleh manajemen dan seluruh tenaga yang ada, sehingga misi dan program rumah sakit dapat lebih mudah tercapai
6. Bagi petugas, menurut (Depkes RI, 2000)
a. Merasa lebih senang dan aman serta terjamin bekerja pada Rumah Sakit yang terakreditasi
16
c. Self Asesment akan menambah kesadaran akan pentingnya pemenuhan standard an peningkatan mutu sehingga dapat memotivasi pegawai tersebut bekerja baik. 2.1.5. Langkah-langkah Pelaksanaan Akreditasi
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Kegiatan di tingkat Rumah Sakit dalam Program Akreditasi akan meliputi :
1. Membentuk Sub Komite Akreditasi di tingkat Rumah Sakit
2. Mengikuti pelatihan-pelatihan tentang Akreditasi yang diadakan baik oleh wilayah maupun pusat.
3. Diseminasi informasi mengenai Akreditasi kepada seluruh staf Rumah Sakit 4. Menyiapkan atau memenuhi standar.
2.1.6. Pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit Secara Nasional
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011). Pada prinsipnya kegiatannya meliputi :
1. Penjadwalan Rumah Sakit yang akan di Akreditasi 2. Pentahapan kegiatan pelayanan yang akan di Akreditasi 3. Proses/ prosedur pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit adalah:
a. Setelah Komisi Gabungan menerima Surat permohonan akreditasi dari Rumah sakit yang telah di tetapkan, Komisi akan mengirimkan instrumen kuisioner pre-survei yang harus di isi dan di lengkapi oleh rumah sakit. Kriteria penilaian di kelompokkan pada 15 bab standar yaitu:
standar 1 Sasaran Keselamatan Pasien standar 2 Hak Pasien dan Keluarga
17
Standar 4 Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Standar 5 Milennium Development Goal’s
Standar 6 Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan Standar 7 Asesmen Pasien
Standar 8 Pelayanan Pasien
Standar 9 Pelayanan Bedah dan Anestesi Standar 10 Manajemen Penggunaan Obat
Standar 11 Manajemen Komunikasi dan Informasi Standar 12 Kualifikasi dan Pendidikan Staf
Standar 13 Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Standar 14 Tata Kelola, Kepemimpinan, dan Pengarahan Standar 15 Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
1. Komisi Gabungan Akreditasi akan menganalis hasil Self- assessment ini 2. Komisi Gabungan Akreditasi akan menjadwalakn kemusian melakukan
survey di lapangan dengan menunjuk satu tim survey yang terdiri dari tenaga professional terlatih di bidang medis klinis, keperawatan dan adminisrasi.
3. Tim survey memeriksa rekaman, dokumen, peralatan dan proses
pelayanan. Selain itu di lakukan juga wawancara dengan manajer, staf dan pasien.
18
5. Laporan Surveyor bersama-sama dengan usulan untuk status akreditasi disampaikan kepada Komisi Gabungan Akreditasi.
2.1.7. Keputusan Penilaian Akreditasi Rumah Sakit Hasil penilaian :
Menurut (KARS, 2012) Ada 4 kriteria hasil penilaian terhadap EP : 1. Tercapai penuh ( skor 10)
Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “ya” atau “selalu”, atau dapat menjawab sesuai dengan konteks
pertanyaan
Melalui observasi dokumen, ditemukan minimal 9 dari 10 dokumen yang
diminta atau 90 % dokumen lengkap
Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan
minimal 4 bulan terakhir dari masa penilaian 2. Tercapai sebagian (skor 5)
Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “tidak selalu” atau “kadang-kadang”
Melalui observasi dokumen, ditemukan 50 sampai 89 % dokumen yang
diminta
Bukti dipenuhinya persyaratan hanya dapat ditemukan di sebagian
daerah/unit kerja dimana persyaratan harus ada
Kebijakan/prosedur dapat dilaksanakan tetapi tidak dapat dipertahankan Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan 1 -
19
3. Tidak tercapai (skor 0)
Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “jarang” atau “tidak pernah”,
Melalui observasi dokumen, ditemukan <50% dari dokumen yang diminta, Bukti dipenuhinya persyaratan tidak dapat ditemukan di daerah/unit kerja
dimana persyaratan harus ada,
Kebijakan/proses ditetapkan tetapi tidak dilaksanakan
Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan hanya ≤1 bulan terakhir dari masa penilaian. Berbeda dengan instrumen akreditasi versi 2007 yang menggunakan skoring 0 sampai dengan 5, pada instrumen versi 2012 skoring yang digunakan adalah 0, 5 dan 10. Rumah sakit mendapat skor = 10 bila 80 % standar telah dipenuhi,skor = 5 bila 20–79 % standar terpenuhi dan skor = 0 bila pemenuhan standar kurang dari 20 %. Pada survei akreditasi versi 2012 ini, pemenuhan standar tidak hanya dilihat dari kelengkapan dokumen, tetapi juga implementasi dari standar akreditasi yang akan dinilai dengan menggunakan metodologi telusur. Bagi rumah sakit yang baru pertama kali survei dengan menggunakan standar akreditasi versi 2012 maka 4 (empat) bulan sebelum survei dilakukan, rumah sakit harus sudah melaksanakan standar. Dan bagi rumah sakit yang akreditasi ulang maka 1 (satu) bulan sebelum survei, rumah sakit harus sudah melaksanakan standar. Berdasarkan standar versi 2012 ada 4 Keputusan yang akan dikeluarkan, yaitu:
1. Pratama (Dasar)
20
2. Utama
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi delapan standar yang ada 3. Madya
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi dua belas standar yang ada 4. Paripurna
Status ini diberikan bila Rumah Sakit telah memenuhi keseluruhan standar yang ada, berjumlah lima belas standar.
2.2. Perbedaan Akreditasi Lama dan Baru
Menurut (KARS, 2012) Pada akreditasi versi lama dimulai dengan 5 pelayanan, 12 pelayanan dan pada versi baru dengan 16 pelayanan yaitu : 1) Pelayanan Administrasi dan manajemen, 2) Pelayanan Medik, 3) Pelayanan Gawat Darurat, 4) Pelayanan Keperawatan, 5) Pelayanan Rekam Medik, 6) Pelayanan Farmasi, 7) Palayanan Keselamatan Kerja, 8) Pelayanan Radiologi, 9) Palayanan Laboratorium, 10) Pelayanan Kamar Operasi, 11) Palayanan Pengendalian Infeksi, 12) Pelayanan Perinatal resiko tinggi, 13) Pelayanan Rehabilitasi Medik, 14) Pelayanan Gizi, 15) Pelayanan Intensif, dan 16) Pelayanan Darah. Selanjutnya Pada akreditasi lama lebih mengutamakan :
1). Berfokus pada provider
2). Kuat pada input dan dokumentasi
3). Format akreditasi (standard dan parameter)
4). Lemah implementasi kurang melibatkan petugas Dan pada akreditasi versi baru 2012 lebih mengutamakan :
21
2). Kuat pada proses, output dan outcome 3). Format akreditasi terdiri :
1. Standard :
2. Maksud dan tujuan : 3. Elemen penilaian
4). Kuat pada implementasi melibatkan seluruh petugas Sumber Acuan Akreditasi RS Baru adalah :
1. International Principles for Healthcare Standards, A Framework of requirement for standards, 3rd Edition December 2007, International Society for Quality in Health Care / ISQua
2. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals 4 rd Edition, 2011
3. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit, edisi 2007, Komisi Akreditasi Rumah Sakit / KARS
4. Standar-standar spesifik lainnya.
Perubahan Paradigma Standar Akreditasi Baru dari akreditasi lama ialah : Menurut (KARS, 2012) :
1. Tujuan akreditasi adalah peningkatan mutu pelayanan RS, bukan semata-mata sertifikat kelulusan
2. Standar akreditasi harus memenuhi krieria –kriteria internasional dan bersifat dinamis
3. Pelayanan berfokus pada pasien
22
5. Kesinambungan pelayanan harus dilakukan , baik saat merujuk keluar maupun serah terima pasien di dalam RS ( antar unit, antar sift, antar petugas)
6. Hasil survey merupakan upaya pencapaian RS terhadap skoring yang ditentukan berupa level level pencapaian : Pratama, Madya, Utama, Paripurna.
2.3. Sasaran Keselamatan Pasien (Akreditasi Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Tahun 2012)
Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat yang harus diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Penyusunan sasaran ini mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS PERSI), dan dari Joint Commission International (JCI) Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran ini menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsunsus para ahli atas permasalahan ini diakui bahwa desain sistem yang baik secara intrinsik adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu tinggi, sedapat mungkin sasaran secara umum, difokuskan pada solusi-solusi sistem yang menyeluruh.
2.3.1 Sasaran I: Ketepatan Identifikasi Pasien 2.3.1.1 Maksud dan Tujuan Sasaran I
23
sakit, adanya kelainan sensori; atau akibat situasi lain. Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan : pertama untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratifdikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah / produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; memberikan pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas yang berbeda pada lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, atau kamar operasi, termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi dapat diidentifikasi.
2.3.1.2 Elemen Penilaian Sasaran I
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) :
1.Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien
24
3.Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis
4.Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan / prosedur 5.Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten
pada semua situasi dan lokasi
2.3.2 Sasaran II: Peningkatan Komunikasi Yang Efektif 2.3.2.1 Maksud dan Tujuan Sasaran II
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telpon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telpon ke unit pelayanan.
25
2.3.2.2 Elemen Penilaian Sasaran II
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1.Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah
2.Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima perintah.
3.Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan
4.Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten
2.3.3 Sasaran III: Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai 2.3.3.1 Maksud dan Tujuan SKP III
26
lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat-).
Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tsb adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja / kurang hati-hati.
2.3.3.2 Elemen Penilaian Sasaran III
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1.Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan elektrolit konsentrat. 2.Implementasi kebijakan dan prosedur
27
4.Elektrolit konsentrat yang disimpan di pada unit pelayanan pasien harus diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted).
2.3.4 Sasaran IV: Kepastian tepat-lokasi, tepat prosedur, tepat-pasien operasi 2.3.4.1 Maksud dan Tujuan Sasaran IV
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Salah-lokasi, salah-prosedur, salah pasien pada operasi, adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu pula asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi.
28
multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multipel level (tulang belakang). Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk :
Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;
Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil pemeriksaan yang
relevan tersedia, diberi
label dengan baik, dan dipampang;
Lakukan verifikasi ketersediaan setiap peralatan khusus dan/atau implant-implant
yang dibutuhkan.
Tahap “Sebelum insisi” (Time out) memungkinkan semua pertanyaan atau
kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan di tempat, dimana tindakan akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan checklist.
2.3.4.2Elemen Penilaian Sasaran IV
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan. 2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi
saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.
29
4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi / dental yang dilaksanakan di luar kamar operasi.
2.3.5 Sasaran V: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan 2.3.5.1 Maksud dan Tujuan Sasaran V
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan.
Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa di baca di kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan intemasional.
30
2.3.5.2Elemen Penilaian Sasaran V
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO Patient Safety).
2. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan
2.3.6 Sasaran VI: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh 2.3.6.1 Maksud dan Tujuan Sasaran VI
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011) Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. Program tersebut harus diterapkan di rumah sakit.
2.3.6.2 Elemen Penilaian Sasaran VI
Menurut (Dirjen BUK Kemenkes RI & KARS, 2011)
1.Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan dll. 2.Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang
31
3.Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian tidak diharapkan
4.Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit.
2.4 Keselamatan Pasien
Pengertian Keselamatan Pasien Rumah Sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sedangkan insiden keselamatan pasien atau insiden adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri dari Kejadian Tidak Diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Cedera dan Kejadian Potensial Cedera. Uraian pengertian dari kerjadian-kejadian menurut diatas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 sebagai berikut :
32
2. Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
3. Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
33
2.5 Kerangka Teori
Sumber: Standar Akreditasi Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2011.
Sasaran Keselamatan Pasien
Akreditasi Rumah Sakit
Versi 2012
Sasaran I : Ketepatan
identifikasi pasien
Sasaran II : Peningkatan
Komunikasi yang efektif
Sasaran III : Peningkatan
keamanan obat yang pelu
diwaspadai
Sasaran IV : Kepastian
tepat-lokasi, tepat-prosedur,
tepat-pasien operasi
Sasaran V : Pengurangan
risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan
34
Penjelasan dari kerangka teori berdasarkan instrumen akreditasi rumah sakit standar enam sasaran keselamatan pasien dapat dilihat sebagai berikut :
1. Sasaran I : Ketepatan Identifikasi Pasien
35
berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan ambulatori atau pelayanan rawat jalan yang lain, unit gawat darurat, atau kamar operasi. Identifikasi terhadap pasien koma yang tanpa identitas, juga termasuk. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur untuk memastikan telah mengatur semua situasi yang memungkinkan untuk diidentifikasi.
2. Sasaran II : Peningkatan Komunikasi yang Efektif
36
3. Sasaran III : Peningkatan Keamanan Obat
37
prosedur juga mengidentifikasi area mana yang membutuhkan elektrolit konsentrat secara klinis sebagaimana ditetapkan oleh petunjuk dan praktek profesional, seperti di IGD atau kamar operasi, serta menetapkan cara pemberian label yang jelas serta bagaimana penyimpanannya di area tersebut sedemikian rupa, sehingga membatasi akses untuk mencegah pemberian yang tidak disengaja/kurang hati-hati.
4. Sasaran IV : Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, dan Tepat Pasien Operasi
38
Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi melibatkan pasien dan dilakukan dengan tanda yang segera dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di seluruh rumah sakit; dan harus dibuat oleh orang yang akan melakukan tindakan; harus dibuat saat pasien terjaga dan sadar; jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai pasien disiapkan dan diselimuti. Lokasi operasi ditandai pada semua kasus termasuk sisi (laterality), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang). Maksud dari proses verifikasi praoperatif adalah untuk : memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar; memastikan bahwa semua dokumen, foto (images), dan hasil pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan dipampang; Memverifikasi keberadaan peralatan khusus yang dibutuhkan.
Tahap “Sebelum insisi” / Time out memungkinkan setiap pertanyaan yang belum
terjawab atau kesimpang-siuran dibereskan. Time out dilakukan di tempat tindakan akan dilakukan, tepat sebelum tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan (secara ringkas, misalnya menggunakan checklist)
5. Sasaran V : Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
39
infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku secara internasional bisa diperoleh dari WHO, Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk implementasi pedoman itu di rumah sakit.
6. Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh
40 BAB III
KERANGKA PIKIR DAN DEFINISI ISTILAH
3.1 Kerangka Pikir
Berdasarkan penjelasan berbagai teori yang telah dijelaskan pada bab tinjauan pustaka, maka dapat dirumuskan tahapan untuk menilai kecukupan dokumen akreditasi dan implementasi adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Pikir
Penilaian Kesiapan Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta
Kerangka pikir di atas menggambarkan sasaran-sasaran yang terdapat pada penilaian akreditasi standar sasaran keselamatan pasien yang terdiri dari enam sasaran seperti sasaran ketepatan identifikasi pasien, sasaran peningkatan komunikasi yang efektif, sasaran peningkatan kemanan obat yang perlu diwaspadai, sasaran kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi, sasaran pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan sasaran pengurangan risiko pasien jatuh. Sasaran-sasaran tersebut memiliki unsur dari dokumen yang dibutuhkan seperti dokumen akreditasi, pedoman/panduan, kebijakan, dan standar operasional prosedur.
Sasaran 1: ketepatan identifikasi pasien
Sasaran 4: kepastian tepat lokasi, prosedur, pasien operasi
41
3.2. Definisi Istilah
Tabel 3.1 Definisi Istilah
No .
43 BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif melalui pendekatan kualitatif yang didapatkan melalui metode observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen untuk mengetahui gambaran kesiapan akreditasi pada standar sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Haji Jakarta, Jl. Raya Pondok Gede no. 4, Jakarta Timur. Dikhususkan pada seksi akreditasi yang dibentuk oleh pihak rumah sakit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2014.
4.3 Informan Penelitian
44
pihak rumah sakit dalam menentukan informan maka informan pada penelitian ini diantaranya adalah Anggota Pokja Akreditasi Rumah Sakit Standar Sasaran Keselamatan Pasien, Seksi Pelayanan Keperawatan dan Kepala Unit Farmasi. Seluruh informan tersebut bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan akreditasi rumah sakit yang dilaksanakan oleh KARS. Yang menjadi informan dalam penelitian berjumlah enam orang, yaitu :
1. Anggota Pokja Akreditasi SKP : 1 orang informan 2. Seksi Pelayanan Keperawatan : 2 orang informan 3. Seksi Unit Farmasi : 1 orang informan
4. Pasien : 2 orang informan
4.4. Instrumen Penelitian
1. Pedoman wawancara semi terstruktur.
2. Daftar tilik kelengkapan dokumen akreditasi.
3. Buku catatan dan alat perekam untuk merekam proses wawancara mendalam. 4.5 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui teknik wawancara mendalam yang rencananya dilaksanakan selama 1-2 minggu dan observasi. Wawancara dilakukan langsung oleh peneliti menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun. Hasil wawancara akan dicatat dan direkam menggunakan alat perekam. Sedangkan observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi.
45
dilakukan untuk mengetahui berapa banyak dokumen yang telah dibuat oleh seksi, sehingga dapat menggambarkan kesiapan dalam akreditasi. Data sekunder yang telah dikelompokkan berdasarkan standar-standar akan dinilai kelengkapannya berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
4.6. Validasi Data
Guna mempertahankan agar data valid dalam teknik kualitatif deskriptif, peneliti menggukanan triangulasi yang meliputi sumber dan metode. Penggunaan triangulasi pada penelitian ini dijelaskan secara lebih detil pada tabel 4.1.
1. Triangulasi sumber
Melakukan cek ulang data dengan fakta dari sumber lainnya, membandingkan dan menggunakan kelompok informan yang sangat berbeda semaksimal mungkin.
2. Triangulasi metode
Membandingkan hasil wawancara mendalam dengan telaah dokumen serta observasi yang saling terkait atau mengecek ulang data primer dan data sekunder.
3. Triangulasi data
46
Tabel 4. 1. Sumber Perolehan Data Berdasarkan Sumber Informan dan Metode Pengumpulan Data
Elemen pada Sasaran Keselamatan Pasien Sumber Metode Jenis Data
Sasaran I A, B, D W, D P,S
Keterangan: A: Anggota Pokja Akreditasi SKP W: Wawancara B: Seksi pelayanan keperawatan D: Telaah dokumen C: Seksi unit farmasi O: Observasi
Pengolahan dari hasil data primer yang dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam diantaranya :
a) Mendengar dan membuat transkrip hasil wawancara b) Menelaah transkrip wawancara
c) Merangkum hasil wawancara ke dalam bentuk matriks. 2. Data sekunder
47
4.7.2 Analisis Data
48 BAB V
HASIL PENELITIAN 5. 1 Gambaran Umum Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah pihak yang terlibat dalam persiapan akreditasi RS Haji Jakarta dimana diantaranya adalah Pokja Akreditasi bidang Sasaran Keselamatan Pasien, Kepala Perawat dan pasien. Berikut adalah gambaran setiap informan:
1. Anggota Pokja Akreditasi (Informan A)
Informan ialah Anggota Pokja Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta. Informan memiliki tanggung jawab dalam mensukseskan persiapan akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta.
2. Seksi Pelayanan Keperawatan (Informan B dan Informan C)
Informan selanjutnya berasal dari seksi pelayanan keperawatan yakni kepala seksi instalasi rawat inap dan kepala sub instalasi (ruang rawat inap Afiyah) RS Haji Jakarta. Informan merupakan tenaga paramedik yang memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien.
3. Kepala Instalasi Farmasi (Informan D)
49
4. Keluarga Pasien (Informan E dan Informan F)
Informan juga berasal dari kalangan keluarga pasien. Informan merupakan keluarga pasien rawat inap RS Haji Jakarta. Dikarenakan pasien tidak mampu menjawab pertanyaan maka yang menjawab adalah keluarga pasien. Informan merupakan pihak yang mengetahui pelayanan yang diberikan oleh RS Haji Jakarta.
5. 2 Profil Rumah Sakit Haji
Rumah Sakit Haji Jakarta beralamatkan di Jalan Raya Pondok Gede No. 4 Jakarta Timur dan di atas lahan seluas 1 Ha Rumah Sakit Haji Jakarta dibangun atas 6 (enam) lantai. Keberadaan Rumah Sakit Haji Jakarta tidak berbeda dengan rumah sakit lainnya; yaitu merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang juga melayani masyarakat umum tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa. Didukung oleh peralatan yang canggih dan ditangani oleh tenaga yang berkualitas dan profesional, Rumah Sakit Haji Jakarta siap melayani kesehatan masyarakat umum. 5. 2. 1 Visi dan Misi Rumah Sakit Haji Jakarta
5. 2. 1. 1 Visi Rumah Sakit Haji Jakarta
Dari pemberdayaan dan pemfokusan sumber daya manusia dan kualitas sistem manajemen, kami akan bertumbuh menjadi institusi layanan kesehatan Islami modern, berkelas dunia dengan jejaring rumah sakit di seluruh Indonesia.
5. 2. 1. 2 Misi Rumah Sakit Haji Jakarta
50
5. 2. 2 Akreditasi Rumah Sakit Haji Jakarta
Rumah Sakit Haji Jakarta telah diakreditasi tingkat dasar (lima pelayanan) oleh Badan Akreditasi Departemen Kesehatan RI pada bulan April 1998. Lima pelayanan yang telah diakreditasi yaitu Unit Gawat Darurat, Administrasi, Keperawatan, Pelayanan Medik dan Rekam Medik dengan hasil lulus. Saat ini Rumah Sakit Haji Jakarta mendapat status akreditasi penuh (16 pelayanan) dari standar lama dan sedang mempersiapkan proses akreditasi rumah sakit versi 2012.
5. 2. 3 ISO 9001:2000
Selain mengikuti akreditasi rumah sakit, Rumah Sakit Haji Jakarta juga telah mengikuti penilaian ISO 9001 : 2000. Persiapan penilaian ISO 9001 : 2000 dimulai pada tanggal 13 Juni 2002 dengan mempersiapkan dokumen POB (Prosedur Operasional Baku) Rumah Sakit Haji Jakarta. Selanjutnya pada tanggal 22 November 2002, Rumah Sakit Haji Jakarta mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2000. Hingga kini, Rumah Sakit Haji Jakarta tetap mempertahankan sertifikat ISO 9001 : 2000 dengan melakukan renual tiga tahun sekali; tahun 2005 dan 2008.
5. 2. 4 Kebijakan Mutu Rumah Sakit Haji Jakarta
Kebijakan mutu yang ada di Rumah Sakit Haji Jakarta merupakan gabungan dari visi dan misi. Adapun isi dari kebijakan mutu tersebut adalah sebagai berikut:
51
dan kualitas sistem manajemen. Dengan menjalankan tugas sesuai dengan prosedur, standar serta nilai dasar yaitu, keikhlasan, kejujuran, integritas, kebersihan, penghargaan atas martabat manusia dan keterbukaan pikiran adalah kontribusi sebagai karyawan di Rumah Sakit Haji Jakarta.
5. 3 Sasaran I Keselamatan Pasien : Ketepatan Identifikasi Pasien
Sasaran I dalam keselamatan pasien sesuai akreditasi versi 2012 ialah identifikasi pasien. Dalam sasaran ini dilakukan penilaian terhadap praktik, kebijakan dan atau prosedur dalam identifikasi pasien sebelum tindakan, pemberian obat, pemberian darah atau produk darah dan pengambilan spesimen darah atau spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.