SKRIPSI
Diajukan untuk Menempuh Ujian Akhir Sarjana
ABDUL ALIMUDIN
10109580
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
Daftar Riwayat Hidup
Nama : Abdul Alimudin
Tempat,Tgl Lahir : Bandung, 6 Juni 1989
Umur : 25 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat : Jl.Cibuntu Sayuran Gg. Sayuran III, Bandung
No Hp : 085777764231
Universitas Komputer Indonesia 2009 2014
PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR 2001 2007
MI AL-BAROKAH 1995 - 2001
1. Medianet Tech, bandung Indonesia, 2013 (IT Support)
Data Diri
Pendidikan Formal
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ...xiii
DAFTAR SIMBOL... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Maksud dan Tujuan... 3
1.4 Batasan Masalah ... 3
1.5 Metodologi Penelitian ... 3
1.6 Sistematika Penulisan ... 5
... BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Fatwa... 7
2.1.1 Definisi fatwa ... 7
2.1.2 Kaedah Menggali Hukum atau Fatwa ... 8
2.1.3 Makna Ijtihad ... 8
... 2.1.4 Syarat-syarat Mujtahid (Muftiy) ... 10
2.2 Information Retrieval System ... 14
2.3 Proses Indexing ... 13
2.3.1 Stemming Bahasa Indonesia dengan Algoritma Nazief dan Andriani ... 17
2.4 Term-Document Matrix ... 22
2.5 Latent Semantic Indexing (LSI)... 23
2.5.1 Singular Value Decomposition (SVD)... 24
2.6 Android ... 26
2.7.2 Sequence Diagram... 29
2.7.3 Class Diagram ... 31
2.7.4 Activity Diagram... 32
... 2.8 Kuesioner ... 32
. 2.8.1 Skala Likert ... 34
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM ... 37
3.1 Analisis Sistem... 37
3.1.1 Analisis Masalah ... 37
3.1.2 Analisis Arsitektur Sistem... 38
3.1.3 Analisis Alur Data Sistem ... 39
, 3.1.4 Analisis pencarian dokumen menggunakanLatent Semantic Indexing (LSI) ... 40
3.1.5 Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak... 48
3.1.6 Analisis Kebutuhan Perangkat Keras ... 49
3.1.7 Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak ... 50
3.1.8 Analisis Pengguna Sistem ... 51
3.1.9 Analisis Kebutuhan Fungsional ... 52
3.1.9.1 Analisis Kebutuhan Data ... 52
3.1.10 Analisis Pemodelan Sistem ... 52
3.2 Perancangan Sistem ... 74
3.2.1 Perancangan Basis Data ... 74
3.2.1.1 Skema Relasi... 74
3.2.1.2 Struktur Tabel ... 70
3.2.2 Perancangan Menu ... 77
3.2.3 Perancangan Antarmuka ... 78
3.2.4 Perancangan Jaringan Semantik... 85
3.2.5 Perancangan Method ... 86
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM... 91
4.1 Implementasi ... 91
4.1.1 Perangkat Lunak Pembangun... 91
4.2.1 Rencana Pengujian ... 97
4.2.2 Kasus dan Hasil Pengujian ... 98
4.2.3 Kesimpulan Hasil PengujianBlack Box... 105
4.3.4 PengujianBeta... 105
4.2.5 Kuesioner PengujianBeta... 105
4.2.6 Kesimpulan Hasil PengujianBeta... 113
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 115
5.1 Kesimpulan ... 115
5.2 Saran... 115
[1] Nasrullah, Nashih. 2013. Apa sangsi menunda qodha puasa?
http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/13/07/05/mpgzcd-apa-sanksi-menunda-qadha-puasa , 04 Oktober 2013.
[2] Safaat, Nazrudin. 2012. Pemrograman Aplikasi Mobile Smartphone dan Tablet PC berbasis Android.Informatika. Bandung.
[3] Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ...[et al.]. 1999.Fatwa-fatwa terkini Jilid 3. Terjemahan oleh Aini, Musthafa., Yahya, Hanif., Hamzah, Amir.2003. Jakarta. Darul Haq.
[4] Sommerville, Ian. 2004,Software Engineering, Ninth Edition. US: Addison Wesley.
[5] Ramadhan, Syamsuddin., dan Lajnah Staqofiyyah HTI. Kedudukan Fatwa dalam Syari’at islam. http://hizbut-tahrir.or.id/2008/10/29/kedudukan-fatwa-dalam-syariat-islam/ , 01 November 2013
[6] Mandala, Rila dan Setiawan, Hendra. 2002. Peningkatan Performansi Sistem Temu-Kembali Informasi dengan Perluasan Query Secara Otomatis, Bandung : Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung. [7] Basuki, T.A. 2001. Penggunaan Semi Discrete Decomposition pada Latent
Semantic Indexing untuk Temu - Kembali Informasi.
[8] Kowalski, Gerald. 2011.Information Retrieval Architecture and Algorithms. USA : Springer Science+Business Media.
[9] Widodo Prabowo Pudjo, dkk. (2011). Mengunakan UML – UML Secara Luas Digunakan untuk Memodelkan Analisis & Desain Sistem Berorientasi
Objek.Bandung:Informatika Bandung.
iii
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat rahmat dan karunia Nya sehingga penulis diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Penerapan Metode Latent Semantic Indexing Pada Pencarian Fatwa Islam Berbasis Mobile”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya.
Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi persyaratan yang merupakan salah satu syarat menempuh gelar sarjana di Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunannya, tugas akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran serta kritik yang membangun sangat diharapkan.
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis banyak mendapatkan bantuan baik berupa bimbingan, pengarahan, saran serta dorongan moril ataupun materil. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuni-Nya kepada penulis saat mengerjakan tugas akhir ini.
2. Kedua orang tua saya Bpk. Endang Ridwanulloh dan Ibu Anih Rohanih yang sangat penulis cintai, yang senantiasa mendoakan, memberikan dukungan serta motivasi yang begitu besar. Terima kasih atas segala pengorbanan yang tiada hentinya.
3. Bapak Prof. Dr. Ir Denny Kurniadie, M.Sc. selaku Dekan Fakultas Teknik dan Imu Komputer Universitas Komputer Indonesia.
iv
kasih untuk segala kebaikan dan ilmu yang bermanfaat yang telah diberikan. 5. Bapak Eko Budi Setiawan, S.Kom., M.T. selaku reviewer yang telah
memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasi serta waktunya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Terima kasih untuk segala kebaikan dan ilmu yang bermanfaat yang telah diberikan.
6. Bapak Andri Heryandi, S.T., M.T. selaku reviewer yang telah memberikan penulis kritik serta saran yang membangun.
7. Seluruh staf pengajar dan sekretariat di UNIKOM khususnya pada Program Studi Teknik Informatika yang telah melayani secara administrasi dan memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis .
8. Sahabat-sahabat dari kelas IF-13 Angkatan 2009 (Bayu Maulana, Yana Herdiana, Lokius William, Fachri Anafi, Herlan Purnawan, R,Isma Nur Aras, Irman Fauzi, Abdurachman Arief, Darul Taufiq, Ryan Prasetyo, Fadhila Rachmaniah, Gabriella Citra, Septiani Nur Hasanah, dll.) yang telah memberikan dorongan, semangat, dan segala bantuannya kepada penulis. 9. Sahabat-sahabat seperjuangan skripsi semester ini yang selalu mengingatkan
penulis dan memberikan motivasi .
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi ini.
Besar harapan penulis agar tugas akhir ini dapat bermanfaat tidak hanya untuk penulis namun juga untuk ilmu pengetahuan.
1
1.1 Latar Belakang
Fatwa (dari bahasa Arab) merupakan suatu nasihat, petuah, jawaban atau pendapat. Adapun yang dimaksud adalah sebuah keputusan atau nasihat resmi yang diambil oleh sebuah lembaga atau perorangan yang diakui otoritasnya, disampaikan oleh seorang ulama, sebagai tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa. Bagaimana cara mengqadha puasa bagi orang yang sakit berkelanjutan? Menurut Syekh Jawad, “Mereka yang sakit terus menerus tidak diharuskan mengqadha puasa dan tidak pula
membayar kafarat, Ini sesuai dengan pendapat mayoritas empat mazhab”. Sedangkan menurut Mazhab Imamiyah, pelaksanaan qadha gugur, tetapi ia tetap wajib membayar kafarat[1].
Dalam mencari kebenaran dari suatu hukum dan mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi perlu adanya pendekatan melalui fatwa dan jawaban terhadap masalah yang tengah dialami oleh kaum muslimin dan muslimah, akan tetapi untuk mendapatkan sumber yang terpercaya memerlukan waktu untuk mendapatkannya apalagi kalau sumber tersebut berada dilokasi yang sangat jauh serta dibutuhkannya bukti atau dokumen atas jawaban yang didapatkannya agar tidak lupa dan bisa dibaca kembali. Oleh karena itu dibutuhkan suatu aplikasi yang bisa melakukan pencarian dokumen serta dapat diakses dimanapun dan kapan saja untuk mendapatkan dokumen fatwa yang dicari.
(LSI), dalam metode ini terdapat dua teknik perhitungan yaitu menggunakan
Singular Value Decomposition (SVD) yang merupakan teknik untuk mendekomposisi matriks. Keunggulan dari metode ini yaitu hasil akurasi dari SVD cukup baik tetapi terdapat masalah dalam penyimpanan. Untuk mengatasi hal penyimpanan, bisa digunakan metode Semi Discrete Decomposition(SDD) tetapi akurasi tidak sebaik metode SVD.
Android merupakan generasi dari platform mobile, platform yang memberikan pengembang untuk melakukan pengembangan sesuai dengan yang diharapkannya[2]. Dibutuhkan aplikasi mobile yang bersifat moveble
(mudah dibawa kemana-mana) sehingga bisa membantu masyarakat dalam mencari suatu jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dengan pendekatan melalui fatwa secara cepat dan dapat dilakukan dimana saja.
Pada penelitian ini akan menerapkanRetrieval Information Systemdengan menggunakan Latent Semantic Indexing berbasis Singular Value Decomposition(SVD) dalam pencarian dokumen fatwa islam berbasisMobile
denganplatformAndorid.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana membangun aplikasi yang dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan jawaban dengan adanya pendekatan melalui fatwa islam dan jawaban terhadap masalah yang dihadapinya.
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini yaitu untuk membangun aplikasi pencarian fatwa hukum islam berbasis android, sedangkan tujuan penelitian ini yaitu memudahkan masyarakat dalam mendapatkan jawaban dengan adanya pendekatan melalui fatwa dan jawaban terhadap masalah yang dihadapinya.
1.4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam pembangunan aplikasi ini sebagai berikut: 1. Informasi fatwa atau hukum hanya berasal dari buku fatwa-fatwa
terkini[3], fatwa yang akan diberikan meliputi: a. Aqidah dan seputarnya.
b. Shalat dan hukum meninggalkannya c. Zakat maal.
d. Puasa wajib dan hukum meninggalkannya.
2. Informasi yang diberikan berupa hukum, dalil, penjelasan dan sumber (ulama).
3. Metode pencarian dokumen yang digunakan yaitu metode Latent Semantic Indexing (LSI) berbasis Singular Value Decomposition
(SVD).
4. Framework yang digunakan yaituphonegap.
5. Software yang digunakan dalam pembangunan aplikasi ini yaitu
Eclipse.
6. Pemodelan yang digunakan adalah unified modeling language (UML).
1.5 Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penuliasn tugas akhir ini adalah
metode waterfall. Ian sommerville mengemukakan dalam bukunya yang
berjudul Sofware Engineering Ninth Edition, “bahwa model waterfall
mengambil kegiatan proses dasar seperti spesifikasi, pengembangan, validasi
seperti spesifikasi persyaratan, perancangan perangkat lunak, implementasi,
pengujian dan seterusnya”[4]
Menurut Ian Sommerville model waterfall ini mempunyai tahapan sebagai
berikut:
1. Requirements analysis and definition
Tahapan ini merupakan analisa terhadap kebutuhan sistem. Dalam tahap ini developer akan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari
User kemudian dianalisa dan didefinisikan kebutuhan yang harus terpenuhi sehingga akan tercipta sistem komputer yang bisa melakukan tugas-tugas yang diinginkan olehUser tersebut. Pengumpulan data dalam tahapan inidilakukan dengan cara :
a. Studi Literatur.
Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan literatur, jurnal, paper
dan bacaan-bacaan yang ada kaitannya dengan judul penelitian.
b. Kuesioner
Pengumpulan data pada tahap ini yaitu dengan cara menyebarkan
lembar pertanyaan yang berkaitan dengan yang menjadi penelitian
untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan dalam penelitian.
2. System and Software Design
Proses desain sistem akan mengalokasikan persyaratan baik perangkat keras atau perangkat lunak sistem dengan membentuk arsitektur sistem secara keseluruhan.
3. Implementation and Unit Testing
4. Integration and System Testing
Pada tahap ini dilakukan penggabungan seluruh unit (modul) program yang telah selesai dibuat, dan dilakukan uji coba di lingkungan sebenarnya agar dapat digunakan olehUser.
5. Operation and Maintenance
Pada tahap ini dilakukan pemeliharaan perangkat lunak yang telah selesai dibangun dapat mengalami perubahan dan penambahan sesuatu dengan permintaan User. Pemeliharaan tersebut dapat terjadi karena perangkat lunak terdapat kesalahan yang tidak ditemukan pada proses awal perancangan perangkat lunak dengan lingkungan baru, atau karena
Usermembutuhkan perkembangan fungsional.
Gambar 1. 1WaterfallModel
1.6 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang permasalahan, mencoba merumuskan inti permasalahan yang dihadapi, menentukan maksud dan tujuan penelitian yang kemudian diikuti dengan batasan masalah, menentukan metodologi penelitian serta sistematika penulisan.
BAB 2. LANDASAN TEORI
Bab ini membahas teori-teori yang berkaitan denganSearcing, information retrieval, metode latent semantic indexing berbasis Singular Value Decomposition (SVD),pemrograman berorientasi objek dan android.
BAB 3. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
Bab ini membahas analisis sistem yang dibuat, juga membahas analisis kebutuhan fungsional dan non fungsional dalam merancang suatu aplikasi pencarian fatwa berbasis android.
BAB 4. IMPLEMENTASI SISTEM DAN PENGUJIAN
Bab ini berisi tentang tahapan pengujian perangkat lunak, kasus dan hasil pengujian dan pengujian pengolahan dokumen hingga pengujian beta yang dilakukan untuk menerapkan sistem yang telah dirancang.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
7
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fatwa
2.1.1 Definisi fatwa
Dalam terminologi usul fiqh, kata fatwa diberi definisi oleh sebagian kalangan ulama usul fiqh sebagai "penjelasan hukum suatu masalah yang merupakan jawaban atas suatu pertanyaan". Definisi ini merupakan pemahaman dari apa yang didefinisikan oleh Ibn Hamdan al-Hanbali saat mengemukakan makna kata "mufti". Beliau menyatakan bahwa mufti adalah orang yang memberitahukan hukum Allah SWT karena pengetahuannya tentang dalil-dalil hukum tersebut.
Di dalam KitabMafaahim Islaamiyyahditerangkan sebagai berikut,
Secara literal, kata al-fatwa mempunyai artijawaban atas persoalan-persoalan
syariat atau perundang-perundangan yang sulit. Bentuk jamaknya adalah
fataawin dan fataaway. Jika dinyatakan aftay fi al-mas`alah : menerangkan
hukum dalam permasalahan tersebut. Sedangkan al-iftaa` adalah penjelasan
hukum-hukum dalam persoalan-persoalan syariat, undang-undang, dan semua
hal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan orang yang bertanya (ibaanat
al-ahkaam fi al-mas`alah al-syar iyyah, au qanuuniyyah, au ghairihaa mimmaa
yata allaqu bisu`aal al-saail).Al-Muftiy adalah orang yang menyampaikan
penjelasan hukum atau menyampaikan fatwa di tengah-tengah
masyarakat.Mufti adalah seorang faqih yang diangkat oleh negara untuk
menjawab persoalan-persoalan. Sedangkan menurut pengertian syariat, tidak
ada perselisihan pendapat mengenai makna syariat dari kata al-fatwa dan
al-iftaa berdasarkan makna bahasanya. Oleh karena itu, fatwa secara syariat
bermakna, penjelasan hukum syariat atas suatu permasalahan dari
permasalahan-permasalah yang ada, yang didukung oleh dalil yang berasal dari
sangat urgen bagi manusia, dikarenakan tidak semua orang mampu menggali
hukum-hukum syariat.
2.1.2 Kaedah Menggali Hukum atau Fatwa
Jika fatwa adalah penjelasan hukum syariat atas persoalan tertentu, maka, kaedah pengambilan fatwa tidak ubahnya dengan kaedah menggali hukum-hukum syariat dari dalil-dalil syariat (ijtihad). Pasalnya, satu-satunya cara untuk mengetahui hukum syariat dari dalil-dalil syariat adalah dengan ijtihad, tidak ada yang lain. Oleh karena itu, seorangmuftiytak ubahnya dengan seorang mujtahid.
2.1.3 Makna Ijtihad
Menurut Imam al-Amidiy, secara literal kata “ijtihad” bermakna ,”Istafraagh wus iy fi tahqiiq amr min umuur mustalzim li kalafat wa al-musyaqqaq (mencurahkan seluruh kemampuan dalammentahqiq(meneliti dan mengkaji) suatu perkara yang meniscayakan adanya kesukaran dan kesulitan).
Imam Syaukaniy berpendapat, bahwa kata “ijtihad diambil dari kata
al-juhdyang bermaknaal-musyaqqah wa al-thaqah (kesukaran dan
kemampuan).Ijtihad digunakan secara khusus untuk menggambarkan sesuatu yang membawa konsekuensi kesulitan dan kesukaran (kemampuan paling optimal). Sedangkan suatu usaha yang tidak sampai pada taraf “kesukaran dan kesulitan” (musyaqqah) tidak dinamakan dengan ijtihad. Dalam kitab al-Mahshuuldisebutkan, secara literal ijtihad bermakna “istafraagh al-wus iy fi ayy fi li (mencurahkan segenap kemampuan pada setiap perbuatan).Untuk itu, kataistafraagh al-wus iyhanya digunakan pada seseorang yang membawa beban yang sangat berat, tidak bagi orang yang membawa beban yang ringan.
Di kalangan ‘ulama ushul, ijtihad diistilahkan dengan mencurahkan
seluruh kemampuan untuk menggali hukum-hukum syara dari dalil-dalil
dzanniy,hingga batas dirinya merasa tidak mampu melakukan usaha lebih dari
apa yang telah dicurahkannya.
mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan, hingga dirinya tidak mungkin lagi melakukan usaha lebih dari itu.
Dengan demikian, suatu aktivitas diakui sebagai ijtihad jika memenuhi tiga syarat berikut :
a. Ijtihad hanya melibatkan dalil-dalil yang bersifatdzanniy. Menurut al-Amidiy, hukum-hukum yang sudahqath’iytidak digali berdasarkan proses ijtihad. Sebab hukum yang terkandung di dalam nash-nash yang qath’iy (dilalahnya) sudah sangat jelas, dan tidak membutuhkan interpretasi lain. Sebab, tidak ada pertentangan atau multi interpretasi pada nash-nash yang qath’iy. Oleh karena itu, ijtihad tidak berhubungan atau melibatkan dalil-dalil yang bersifat qath’iy, akan tetapi hanya melibatkan dalil-dalil yang bersifat dzanniy. Atas dasar itu, ijtihad tidak berlaku pada perkara-perkara ‘aqidah, maupun hukum-hukum syara’ yangdilalahnya qath iy; misalnya wajibnya potong tangan bagi pencuri, had bagi pezina, bunuh bagi orang-orang yang murtad, dan lain sebagainya.
b. Ijtihad adalah proses menggali hukum syara’, bukan proses untuk menggali hal-hal yang bisa dipahami oleh akal secara langsung (ma’qulaat), maupun perkara-perkara yang bisa diindera (
al-mahsuusaat). Penelitian dan uji coba di dalam laboratorium hingga menghasilkan sebuah teorema maupun hipotesa tidak disebut dengan ijtihad.
2.1.4 Syarat-syarat Mujtahid (Muftiy)
Seseorang layak melakukan ijtihad bila telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:
a. Memahamidalil-dalil sam iyyahyang digunakan untuk membangun kaedah-kaedah hukum. Yang dimaksud dengan dalil sam’iyyahadalah al-Quran, Sunnah, dan Ijma’.Seorang mujtahid harus memahami al-Quran, Sunnah, dan Ijma’, klasifikasi dan kedudukannya. Seorang mujtahid juga harus memiliki kemampuan untuk memahami, menimbang, mengkompromikan, serta mentarjih dalil-dalil tersebut jika terjadi pertentangan. Kemampuan untuk memahami dalil-dalil sam’iyyah dan menimbang dalil-dalil tersebut merupakan syarat pokok bagi seorang mujtahid.
b. Memahami arah penunjukkan dari suatu lafadz (makna yang ditunjukkan lafadz) yang sejalan dengan lisannya orang Arab dan paraahli
balaghah.Syarat kedua ini mengharuskan seseorang yang hendak berijtihad memiliki kemampuan dalam memahami seluk beluk bahasa Arab, atau kemampuan untuk memahami arah makna yang ditunjukkan oleh suatu lafadz. Oleh karena itu, seorang mujtahid atau mufti harus memiliki kemampuan bahasa yang mencakup kemampuan untuk memahami makna suatu lafadz, makna balaghahnya, dalalahnya, serta pertentangan makna yang dikandung suatu lafadz serta mana makna yang lebih kuat–setelah dikomparasikan dengan riwayattsiqqahdan perkataan ahli bahasa. Seorang mujtahid tidak cukup hanya mengerti dan menghafal arti sebuah kata berdasarkan pedoman kamus. Akan tetapi, ia harus memahami semua hal yang berkaitan dengan kata tersebut dari sisi kebahasaan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, penetapan fatwa harus didasarkan pada prinsip-prinsip ijtihad, yakni ”fahm al-nash (memahami
nash)danfahm al-waaqi al-haaditsah (memahami realitas yang terjadi). Fahmu
tersebut. Sedangkanfahmu al-waaqi al-haaditsahadalah upaya mengkaji dan meneliti realitas yang hendak dihukumi agar substansi persoalannya bisa diketahui, serta hukum syariat yang paling sesuai dengan realitas tersebut.
Realitas bukanlah dalil hukum (sumber hukum), akan tetapi realitas adalah obyek yang dihukumi. Oleh karena itu, fatwa tidak digali atau dirujuk dari realitas, akan tetapi diambil dan dirujuk dari dalil-dalil syariat (al-Quran, Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas)[5].
2.2 Information Retrieval System
Information Retrieval System (Sistem Temu Kembali Informasi) adalah suatu sistem yang digunakan untuk menemukan kembali (retrieve) informasi-informasi yang relevan terhadap kebutuhan pengguna dari suatu kumpulan informasi secara otomatis.
Salah satu aplikasi dari Sistem Temu Kembali Informasi adalah mesin pencari yang dapat diterapkan di berbagai bidang. Pada mesin pencari dengan Sistem Temu Kembali Informasi pengguna dapat memasukkan keyword yang bebas dalam arti kata keyword yang sesuai dengan bahasa manusia dan sistem dapat menemukan dokumen yang sesuai dengan keyword yang ditulis oleh pengguna.
Model sistem Sistem Temu Kembali Informasi menentukan detail sistem Sistem Temu Kembali Informasi yaitu, meliputi:
1. Representasi dokumen dankeyword.
2. Fungsi pencarian.
3. Notasi kesesuaian (relevance notation) dokumen terhadapkeyword.
bagaimana mesin mengolah keyword untuk dicocokkan dengan dokumen, lalu mengambil dokumen yang relevan.
Bagian ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu: 1. Cara memilih kata (term) untuk indeks.
2. Cara mengindeks kata.
3. Cara membobot kata.
Bagian yang paling signifikan pengaruhnya adalah pembobotan kata. Cara pembobotan kata mencirikan bagaimana sebuah sistem temu kembali informasi di bangun. Notasi kesesuaian adalah hubungan yang terjadi antara query dengan hasil pencarian. Sistem temu kembali informasi digunakan untuk menemukan kembali informasi-informasi yang relevan terhadap kebutuhan pengguna dari suatu kumpulan informasi secara otomatis.
Gambar 2. 1 Bagian-Bagian Sistem Temu Kembali Informasi
Bagian-bagian dari sistem Sistem Temu Kembali Informasi menurut gambar 2.1 meliputi:
1. Text Operation (operasi terhadap teks) yang meliputi pemilihan kata-kata dalam query maupun dalam dokumen (term selection) dalam transformasi dokumen atau query menjadi term index (index dari kata-kata).
2. Query formulation (formulasi terhadap query) yaitu memberi bobot pada kata indeksquery.
3. Ranking (perangkingan), mencari dokumen-dokumen yang relevan terhadap query dan mengurutkan dokumen tersebut berdasarkan kesesuaiannya denganquery.
4. Indexing (indeks), membangun pangkalan data indeks dari koleksi dokumen. Dilakukan terlebih dahulu sebelum pencarian dokumen dilakukan.
Sistem Temu Kembali Informasi menerima query dari pengguna, kemudian melakukan perangkingan terhadap dokumen pada koleksi berdasarkan kesesuaiannya dengan query. Hasil perangkingan yang diberikan kepada pengguna merupakan dokumen yang menurut sistem relevan dengan query. Namun relevansi dokumen terhadap suatu query merupakan penilaian pengguna yang subjektif dan dipengaruhi banyak faktor seperti topik, pewaktuan, sumber informasi maupun tujuan pengguna.
Sistem temu kembali informasi terutama berhubungan dengan pencarian informasi yang isinya tidak memiliki struktur. Demikian pula ekspresi kebutuhan pengguna yang disebut query, juga tidak memiliki struktur. Hal ini yang membedakan sistem temu kembali informasi dengan sistem basis data. Dokumen adalah contoh informasi yang tidak terstruktur. Isi dari suatu dokumen sangat tergantung pada pembuat dokumen tersebut.
informasi yang diproses terkandung dalam sebuah dokumen yang bersifat tekstual.
Dalam konteks ini, temu kembali informasi berkaitan dengan representasi, penyimpanan, dan akses terhadap dokumen representasi dokumen. Dokumen yang ditemukan tidak dapat dipastikan apakah relevan dengan kebutuhan informasi pengguna yang dinyatakan dalam query. Pengguna Sistem Temu Kembali Informasi sangat bervariasi dengan kebutuhan informasi yang berbeda-beda.
Tujuan dari sistem Sistem Temu Kembali Informasi adalah:
1. Menemukan seluruh dokumen yang relevan terhadap suatuquery.
2. Hanya menemukan dokumen relevan saja, artinya tidak terdapat dokumen yang tidak relevan pada dokumen hasil pencarian.[6]
2.3 Proses Indexing
Indexing subsystem adalah proses subsystem yang merepresentasikan koleksi dokumen kedalam bentuk tertentu untuk memudahkan dan mempercepat proses pencarian dan penemuan kembali dokumen yang relevan.
Pembangunan index dari koleksi dokumen merupakan tugas pokok pada tahapan preprocessing di dalam IR. Kualitas index mempengaruhi efektifitas dan efisiensi sistem IR. Index dokumen adalah himpunan term yang menunjukkan isi atau topik yang dikandung oleh dokumen. Index akan membedakan suatu dokumen dari dokumen lain yang berada di dalam koleksi. Ukuran index yang kecil dapat memberikan hasil buruk dan mungkin beberapa item yang relevan terabaikan. Index yang besar memungkinkan ditemukan banyak dokumen yang relevan tetapi sekaligus dapat menaikkan jumlah dokumen yang tidak relevan dan menurunkan kecepatan pencarian (searching).
Pembuatan inverted index harus melibatkan konsep linguistic processing
1. Penghapusan stop-words. Stop-word didefinisikan sebagai term
yang tidak berhubungan (irrelevant) dengan subyek utama dari
database meskipun kata tersebut sering kali hadir di dalam dokumen. Berikut ini adalah Contoh stop wrds dalam bahasa inggris :a, an, the, this, that, these, those, her, his, its, my, our, their, your, all, few, many, several, some, every, for, and, nor, bit,
or, yet, so, also, after, although, if, unless, because, on, beneath,
over, of, during, beside, dan etc. Contoh stop words dalam bahasa Indonesia : yang, juga, dari, dia, kami, kamu, aku, saya, ini, itu, atau, dan, tersebut, pada, dengan, adalah, yaitu, ke, tak, tidak, di, pada, jika, maka, ada, pun, lain, saja, hanya, namun, seperti, kemudian, dll. Stop-words termasuk pula beberapa kata tertentu yang didefinisikan terkait dengan topik database, misal pada
database yang menampung daftar karya tulis (paper) penelitian terkait dengan heart diseases, maka kata heart dan disease
sebaiknya dihapus.
Terdapat 5 langkah pembangunaninverted index, yaitu: a. Penghapusan format dan markup dari dalam dokumen.
Tahap ini menghapus semua tag markup dan format khusus dari dokumen, terutama pada dokumen yang mempunyai banyak tag
dan format seperti dokumen (X)HTML. b. Pemisahan rangkaian kata (tokenization).
Tokenization adalah tugas memisahkan deretan kata di dalam kalimat, paragraf atau halaman menjadi token atau potongan kata tunggal atau termmed word. Tahapan ini juga menghilangkan karakter-karakter tertentu seperti tanda baca dan mengubah semua
tokenke bentuk huruf kecil (lower case). c. Penyaringan (filtration)
Pada tahapan ini ditentukantermmana yang akan digunakan untuk merepresentasikan dokumen sehingga dapat mendeskripsikan isi dokumen dan membedakan dokumen tersebut dari dokumen lain di dalam koleksi. Term yang sering dipakai tidak dapat digunakan untuk tujuan ini, setidaknya karena dua hal. Pertama, jumlah dokumen yang relevan terhadap suatu query kemungkinan besar merupakan bagian kecil dari koleksi. Term yang efektif dalam pemisahan dokumen yang relevan dari dokumen tidak relevan kemungkinan besar adalah term yang muncul pada sedikit dokumen. Kedua, term yang muncul dalam banyak dokumen tidak mencerminkan definisi dari topik atau sub-topik dokumen. Karena itu, term yang sering digunakan dianggap sebagai stop-word dan dihapus.
d. Konversitermke bentuk dasar (stemming).
stemming, operasi ini bertujuan menemukan suatu kelompok kata terkait. Akan tetapi sinonim bekerja berdasarkan pada thesaurus, tidak berbagi-pakai term stem. Jika pengguna memasukkan query
“heart disease” maka query diekspansi untuk mengakomodasi semua sinonim dari disease seperti ailment, complication, condition, disorder, fever, ill, illness, infirmity, malady, sickness, dan lain-lain.
e. Pemberian bobot terhadap term (weighting).
Setiaptermdiberikan bobot sesuai dengan skema pembobotan yang dipilih, apakah pembobotan lokal, global atau kombinasi keduanya. Banyak aplikasi menerapkan pembobotan kombinasi berupa perkalian bobot lokal term frequency dan global inverse document frequency, ditulis tf .idf.
2.3.1 Stemming Bahasa Indonesia dengan Algoritma Nazief dan Andriani
Algoritma stemming untuk bahasa yang satu berbeda dengan algoritma stemming untuk bahasa lainnya. Sebagai contoh bahasa Inggris memiliki morfologi yang berbeda dengan bahasa Indonesia sehingga algoritma stemming untuk kedua bahasa tersebut juga berbeda. Proses stemming pada teks berbahasa Indonesia lebih rumit/kompleks karena terdapat variasi imbuhan yang harus dibuang untuk mendapatkan root word (kata dasar) dari sebuah kata.
Pada umumnya kata dasar pada bahasa Indonesia terdiri dari kombinasi: Prefiks 1 + Prefiks 2 + Kata dasar + Sufiks 3 + Sufiks 2 + Sufiks 1
Algoritma Nazief & Adriani yang dibuat oleh Bobby Nazief dan Mirna Adriani ini memiliki tahap-tahap sebagai berikut:
1. Pertama cari kata yang akan diistem dalam kamus kata dasar. Jika ditemukan maka diasumsikan kata adalah root word. Maka algoritma berhenti.
maka langkah ini diulangi lagi untuk menghapus Possesive Pronouns (“-ku”, “-mu”, atau “-nya”), jika ada.
3. Hapus Derivation Suffixes (“-i”, “-an” atau “-kan”). Jika kata ditemukan di kamus, maka algoritma berhenti. Jika tidak maka ke langkah 3a
a.Jika “-an” telah dihapus dan huruf terakhir dari kata tersebut adalah “-k”, maka “-k” juga ikut dihapus. Jika kata tersebut ditemukan dalam kamus maka algoritma berhenti. Jika tidak ditemukan maka lakukan langkah 3b.
b.Akhiran yang dihapus (“-i”, “-an” atau “-kan”) dikembalikan, lanjut ke langkah 4
4. Hilangkan derivation prefixes DP {“di-”,“ke-”,“se-”,“me-”,“ be-”,“pe”, “te-”} dengan iterasi maksimum adalah 3 kali:
a. Langkah 4 berhenti jika:
• Terjadi kombinasi awalan dan akhiran yang terlarang seperti pada Tabel 1
• Awalan yang dideteksi saat ini sama dengan awalan yang dihilangkan sebelumnya.
• Tiga awalan telah dihilangkan.
Tabel 2. 1 Kombinasi Awalan Akhiran yang tidak diijinkan
Awalan Akhiran yang tidak diizinkan
be- -i
di- -an
ke- -i, -kan
me- -an
se- -i, -kan
te- -an
b. Identifikasikan tipe awalan dan hilangkan. Awalan ada tipe:
• Kompleks: “me-”, “be-”, “pe”, “te-” adalah tipe-tipe awalan yang dapat bermorfologi sesuai kata dasar yang mengikutinya. Oleh karena itu, gunakan aturan pada Tabel 2 untuk mendapatkan pemenggalan yang tepat.
Tabel 2. 2 Aturan Pemenggalan AwalanStemmerNazief dan Adriani
Aturan Format Kata Pemenggalan
1 berV... ber-V...|be-erV...
2 berCAP... ber-CAP... dimana C!=’r’ & P!=’er’ 3 berCAerV... ber-CaerV... dimana C!=’r’
4 belajar bel-ajar
5 beC1erC2... be-C1erC2... dimana C1 !={‘r’|’l’} 6 terV... ter-V... | te-rV...
7 terCerV... ter-VerV... dimana C!=’r’ dan P!=’er’ 8 terCP... ter-CP... dimana C!=’r’ dan P!=’er’ 9 teC1erC2... te-C1erC2... dimana C1 !=’r’ 10 me{l|r|w|y}V... me-{l|r|w|y}V...
19 mempV... mem-pV... dimana V!=’e’ 20 pe{w|y}V... pe-{w|y}V...
21 perV... per-V... |per-pV...
22 perCAP... per-CAP... dimana C!=’r’ dan P!=’er’ 23 perCAerV... per-CaerV... dimana C!=’r’
24 pem{b|f|V}... pem-{b|f|V}...
31 pelV... pe-lV... kecuali“pelajar” yang menghasilkan “ajar” 32 peCerV... per-erV... dimana C!={r|w|y|l|m|n}
33 peCP... pe-CP... dimana C!={r|w|y|l|m|n} dan P!=’er’
c. Cari kata yang telah dihilangkan awalannya ini di dalam kamus. Apabila tidak ditemukan, maka langkah 4 diulangi kembali. Apabila ditemukan, maka keseluruhan proses dihentikan.
2.2 Recoding dilakukan dengan menambahkan karakter recoding di awal kata yang dipenggal. Pada Tabel 2, karakter recoding adalah huruf kecil setelah tanda hubung (‘-’) dan terkadang berada sebelum tanda kurung. Sebagai contoh, kata “menangkap” (aturan 15), setelah dipenggal menjadi “nangkap”. Karena tidak valid, maka recoding dilakukan dan menghasilkan kata “tangkap”.
6. Jika semua langkah telah selesai tetapi tidak juga berhasil maka kata awal diasumsikan sebagai root word. Proses selesai.
Tipe awalan ditentukan melalui langkah-langkah berikut:
1. Jika awalannya adalah: “di-”, “ke-”, atau “se-” maka tipe awalannya secara berturut-turut adalah “di-”, “ke-”, atau “se-”.
2. Jika awalannya adalah “te-”, “me-”, “be-”, atau “pe-” maka dibutuhkan sebuah proses tambahan untuk menentukan tipe awalannya.
3. Jika dua karakter pertama bukan “di-”, “ke-”, “se-”, “te-”, “be-”, “me -”, atau “pe-” maka berhenti.
4. Jika tipe awalan adalah “none” maka berhenti. Jika tipe awalan adalah bukan “none” maka awalan dapat dilihat pada Tabel 2.3 Hapus awalan jika ditemukan.
Tabel 2. 3Cara Menentukan Tipe Awalan Untuk Awalan “te-“
Following Characters Tipe awalan
Set 1 Set 2 Set 3 Set 4
-r- -r- - - none
-r- - - - ter-luluh
-r- not (vowel or -r- ) “-er-“ vowel ter
-r- not (vowel or -r- ) “-er-“ not vowel
ter--r- not (vowel or -r- ) not “-er-“ - ter
not (vowel or -r- ) -er- vowel - none
Tabel 2. 4 Jenis Awalan Berdasarkan Tipe Awalannya
Tipe awalan Awalan yang harus dihapus
di-
di-ke-
ke-se-
de-te-
te-ter-
ter-ter-luluh ter
Untuk mengatasi keterbatasan pada algoritma di atas, maka ditambahkan aturan-aturan dibawah ini :
1. Aturan untuk reduplikasi.
a. Jika kedua kata yang dihubungkan oleh kata penghubung adalah kata yang sama maka root word adalah bentuk tunggalnya, contoh : “buku-buku” root word-nya adalah “buku”.
b. Kata lain, misalnya “bolak-balik”, “berbalas-balasan, dan ”seolah -olah”. Untuk mendapatkan root word-nya, kedua kata diartikan secara terpisah. Jika keduanya memiliki root word yang sama maka diubah menjadi bentuk tunggal, contoh: kata “berbalas-balasan”, “berbalas” dan “balasan” memiliki root word yang sama yaitu “balas”, maka root word “berbalas-balasan” adalah “balas”. Sebaliknya, pada kata “bolak-balik”, “bolak” dan “balik” memiliki root word yang berbeda, maka root word-nya adalah “bolak-balik”. 2. Tambahan bentuk awalan dan akhiran serta aturannya.
a. Untuk tipe awalan “mem-“, kata yang diawali dengan awalan “memp-” memiliki tipe awalan “mem-”.
b. Tipe awalan “meng-“, kata yang diawali dengan awalan “mengk-” memiliki tipe awalan “meng-”.
Kelebihan dan Kelemahan Algoritma Nazief dan Adriani • Kelebihan :
2. Proses stemming dokumen teks berBahasa Indonesia menggunakan Algoritma Nazief dan Adriani memiliki prosentase keakuratan (presisi) lebih besar dibandingkan dengan stemming menggunakan Algoritma Porter.
• Kelemahan :
1. Penyamarataan makna variasi kata
2. Jumlah database kata dan kata dasarnya harus besar. Kesalahan terjadi bila kata tidak ditemukan di database dan kemudian dianggap kata dasar, padahal bukan
3. Lamanya waktu yang diperlukan dalam proses pencarian kata di dalam kamus. [7]
2.4 Term-Document Matrix
Term-Document matriks adalah sebuah string yang berisikan jumlah kemunculan term dalam suatu lokasi dokumen. Terms yang digunakan dalam hal ini tidak meliputitermsberupa frasa namun hanya dibatasi padatermsberupa kata tunggal, karena penyimpanan frasa akan menambah jumlah kata yang tidak sesuai karena frasa terdiri atas 1 atau lebih kata. Pada matriks ini, kolom mewakili dokumen, dan baris mewakiliterms.
Term-document matrix dapat berukuran sangat besar, terdiri atas ribuan baris dan kolom, dan tahap selanjutnya perlu dilakukan dekomposisi terhadap matriks ini, maka untuk mempersingkat proses, perlu dilakukan penyederhanaan terhadapterm-document matrix.
Term-document matrix hanya perlu menyimpan term yang dapat menjelaskan isi dari suatu dokumen atau disebut juga sebagai content words.
Kata-kata yang merupakanstopwords,yakni kata-kata yang tidak memiliki makna jika berdiri sendiri dapat diabaikan.
akan memiliki bobot yang lebih besar. Bobot terms untuk keseluruhan koleksi dokumen disebut sebagai global weight, perhitungan global weight berkebalikan dengan local weight, di mana terms yang muncul pada dokumen tertentu saja dianggap lebih signifikan sehingga memiliki bobot yang lebih besar.
2.5 Latent Semantic Indexing (LSI)
Mesin pencari (search engine) memegang peranan penting dalam pencarian informasi. Kebanyakan mesin pencari hanya membandingkan isi dari dokumen terhadap query berdasarkan kata kunci yang tersedia berupa statistik kemunculan kata. Masalah akan muncul pada saat sebuah kata yang secara statistik berbeda tetapi memiliki makna yang sama (sinonim). Hal ini mengakibatkan recall yang rendah karena mesin pencari akan mengembalikan dokumen sedikit. Masalah lain ialah apabila ada satu kata yang secara statistik sama tetapi memiliki banyak makna (polisemi) yang akan menghasilkan nilai precision yang rendah karena mesin pencari akan mengembalikan dokumen yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna. Hal ini dapat mengakibatkan kinerja mesin pencari menjadi kurang baik karena tidak memperhatikan kata secara semantik.
Pendekatan lainnya untuk mengatasi permasalahan ini ialah menggunakan
Proses pencarian dengan metode LSI pada sistem ini menerima masukan berupa sebuah keyword yang akan dicari pada dokumen. Pada proses pencarian dengan metode LSI kata-kata yang unik pada setiap dokumen akan direpresentasikan sebagai baris matriks dan dokumen-dokumen akan direpresentasikan sebagai kolom matriks. Nilai dari matriks tersebut adalah banyaknya kemunculan sebuah kata di setiap dokumen yang akan dibandingkan.[8]
2.5.1 Singular Value Decomposition (SVD)
Pembuatan matriks term-dokumen bertujuan untuk membuat indeks dari kumpulan dokumen yang disimpan. Pada metode ruang vektor, matriks term-dokumen yang dibuat berukuran m x n, dimana m adalah banyaknya term pada kumpulan dokumen. Terdapat dua masalah utama yang ditemui dalam metode ruang vektor yaitu: masalah akurasi dan masalah ruang penyimpanan yang dibutuhkan untuk menyimpan matriks term-dokumen.
Sebagian besar sistem temu kembali informasi mempresentasikan dokumen danquerymenggunakan kata-kata yang terdapat di dalamnya (termasuk metode ruang vektor), dan menggunakan jumlah kata yang sama yang terdapt pada query dan dokumen sebagai dasar perbandingan. Semakin banyak kata dalam dokumen yang sama dengan kata-kata query, semakin tinggi peringkat kesesuaian dokumen tersebut.
Ada dua masalah yang terjadi jika menggunakan cara diatas dalam sistem temu kembali dokumen, yaitu:
a. Kata-kata bersifat ambigu, yang mengakibatkan temu kembali menghasilkan dokumen yang tidak relevan. Masalah ini terjadi karena adanya kata-kata yang sama penulisannya namun memiliki arti berbeda (polysemy).
Latent Semantic Indexing merupakan pengembangan dari metode ruang vektor. Tujuannya adalah mengatasi kedua masalah diatas. Pada LSI tidak menggunakan term-dokumen yang utuh melainkan pendekatannya saja. Untuk membentuk pendekatan dari matriks term-dokumen digunakan Singular Value Decomposition (SVD). SVD adalah suatu teknik untuk mendekomposisi matriks. Misalkan A adalah matriks term-dokumen, maka SVD dari A adalah ,
dimana U dan V adalah matriks ortogonal dan adalah matriks diagonal.
Karena hasil SVD sebagian cukup dekat dengan matriks semula, maka sistem temu kembali berbasis SVD sebagian bisa diharapkan mempunyai sebaik sistem berbasis matriks semula.
Kelemahan dari SVD adalah ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan cukup besar. Pada metode ruang vektor hanya A yang perlu disimpan. Karena matriks A adalah matriks jarang, hanya sebagian kecil elemennya saja yang perlu disimpan. Pada LSI berbasis SVD, harus disimpan matriks U, V, dan .[6]
Tahapan perhitungan matriks menggunakan Singular Value Decomposistiondapat dilihat dalam tahapan berikut :
1. Membuat matrik A 2. Hitung (2.1)
3. Menghitung determinan dari (2.2)
4. Menghitung nilai Singular Value dan
5. Menghitung nilai Eigenvector dan normalisasi dari . (2.3)
6. Membentuk matrik V dari hasil normalisasi eigenvektor. 7. Membentuk matrik U dengan (2.4)
Dalam perhitungan pembobotan antara hubungan query dengan dokumen digunakan rumus Cosine Similarity untuk mendapatkan dokumen yang relevan terhadapquerymasukan dengan rumus :
(2.6)
Rumus diatas digunakan untuk mendapatkan nilai cosinus minimal = 0 dan maksimalnya = 1. [9]
2.6 Android
Android merupakan subset perangkat lunak untuk perangkat meliputi sistem operasi,middlewaredan aplikasi. Sedangkan Android SDK (dan API yang diperlukan untuk mengembangkan aplikasi pada platform Android dengan menggunakan bahasa pemrograman Java. Dikembangkan bersama antara Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, T-Mobile, NVIDIA yang tergabung dalam OHA (Open Handset Alliance) dengan tujuan membuat sebuah standar terbuka untuk perangkat bergerak (mobile device)..
Berikut adalah perkembangan versi android :
1. Android versi 1.1
Pada 9 Maret 2009, Google merilis Android versi 1.1. Android versi ini dilengkapi dengan pembaruan estetis pada aplikasi, jam alarm, voice search (pencarian suara), pengiriman pesan dengan Gmail, dan pemberitahuan email.
2. Android versi 1.5 (Cupcake)
Bluetooth, animasi layar, dan keyboard pada layar yang dapat disesuaikan dengan sistem.
3. Android versi 1.6 (Donut)
Donut (versi 1.6) dirilis pada September dengan menampilkan proses pencarian yang lebih baik dibanding sebelumnya, penggunaan baterai indicator dan kontrol applet VPN. Fitur lainnya adalah galeri yang memungkinkan pengguna untuk memilih foto yang akan dihapus pada kamera, camcorder dan galeri yang dintegrasikan pada CDMA / EVDO, 802.1x, VPN, Gestures, dan Textto- speech engine. Kemampuan dial kontak teknologi text to change speech (tidak tersedia pada semua ponsel). 4. Android versi 2.0/2.1 (Eclair)
Pada 3 Desember 2009 kembali diluncurkan ponsel Android dengan versi 2.0/2.1 (Eclair), perubahan yang dilakukan adalah pengoptimalan hardware, peningkatan Google Maps 3.1.2, perubahan UI dengan browser
baru dan dukungan HTML5, daftar kontak yang baru, dukungan flash untuk kamera 3,2 MP, digital Zoom, dan Bluetooth 2.1. Untuk bergerak cepat dalam persaingan perangkat generasi berikut, Google melakukan investasi dengan mengadakan kompetisi aplikasi Mobile terbaik (killer apps - aplikasi unggulan). Kompetisi ini berhadiah $25,000 bagi setiap pengembang aplikasi terpilih. Kompetisi diadakan selama dua tahap yang tiap tahapnya dipilih 50 aplikasi terbaik. Dengan semakin berkembangnya dan semakin bertambahnya jumlah handset Android, semakin banyak pihak ketiga yang berminat untuk menyalurkan aplikasi mereka kepada sistem operasi Android. Aplikasi terkenal yang diubah ke dalam sistem operasi Android adalah Shazam, Backgrounds, dan WeatherBug. Sistem operasi Android dalam situs Internet juga dianggap penting untuk menciptakan aplikasi Android asli, contohnya oleh MySpace dan Facebook.
5. Android versi 2.2 (Froyo: Frozen Yoghurt)
lain dukungan Adobe Flash 10.1, kecepatan kinerja dan aplikasi 2 sampai 5 kali lebih cepat, intergrasi V8 JavaScript engine yang dipakai Google Chrome yang mempercepat kemampuan rendering pada browser, pemasangan aplikasi dalamSD Card,kemampuan WiFi Hotspot portabel, dan kemampuanauto updatedalam aplikasi Android Market.
6. Android versi 2.3 (Gingerbread)
Pada 6 Desember 2010, Android versi 2.3 (Gingerbread) diluncurkan. Perubahan-perubahan umum yang didapat dari Android versi ini antara lain peningkatan kemampuan permainan (gaming), peningkatan fungsi
copy paste, layar antar muka (User Interface) didesain ulang, dukungan format video VP8 dan WebM, efek audio baru (reverb, equalization, headphone virtualization, dan bass boost), dukungan kemampuan Near Field Communication (NFC), dan dukungan jumlah kamera yang lebih dari satu.
7. Android versi 3.0 (Honeycomb)
8. Android versi 4.0 (ICS: Ice Cream Sandwich)
Diumumkan pada tanggal 19 Oktober 2011, membawa fitur Honeycomb untuk smartphone dan menambahkan fitur baru termasuk membuka kunci dengan pengenalan wajah, jaringan data pemantauan penggunaan dan kontrol, terpadu kontak jaringan sosial, perangkat tambahan fotografi, mencari email secara offline, dan berbagi informasi dengan menggunakan NFC. Ponsel pertama yang menggunakan sistem operasi ini adalah Samsung Galxy Nexus.
9. Android versi 4.1 (Jelly Bean)
Android Jelly Bean yaang diluncurkan pada acara Google I/O lalu membawa sejumlah keunggulan dan fitur baru. Penambahan baru diantaranya meningkatkan input keyboard, desain baru fitur pencarian, UI yang baru dan pencarian melalui Voice Search yang lebih cepat. Tak ketinggalan Google Now juga menjadi bagian yang diperbarui. Google Now memberikan informasi yang tepat pada waktu yang tepat pula. Salah satu kemampuannya adalah dapat mengetahui informasi cuaca, lalu-lintas, ataupun hasil pertandingan olahraga. Sistem operasi Android Jelly Bean 4.1 muncul pertama kali dalam produk tablet Asus, yakni Google Nexus 7.
2.7 Unified Modeling Language (UML)
Unified Modelling Language (UML) adalah sebuah "bahasa" yang telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem piranti lunak. UML menawarkan sebuah standar untuk merancang model sebuah sistem.
Pada UML dikenal beberapa diagram, diantaranya sebagai berikut:
2.7.1 Use Case Diagram
sistem, meng-create sebuah daftar belanja, dan sebagainya. Seorang/sebuah aktor adalah sebuah entitas manusia atau mesin yang berinteraksi dengan sistem untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Gambar 2. 2Contohuse case diagram
2.7.2 Sequence Diagram
Gambar 2. 3Contohsequence diagram
2.7.3 Class Diagram
Class (Kelas) adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah objek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi objek. Kelas menggambarkan keadaan (atribut/properti) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metoda/fungsi).
Diagram kelas menggambarkan struktur dan deskripsi kelas, paket dan objek beserta hubungan satu sama lain seperti containment, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain.
2.7.4 Activity Diagram
Activity diagram menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, decision yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir. Activity diagram juga dapat menggambarkan proses paralel yang mungkin terjadi pada beberapa eksekusi.
Activity diagram merupakan state diagram khusus, di mana sebagian besar state adalah action dan sebagian besar transisi di-trigger oleh selesainya state sebelumnya (internal processing). Oleh karena itu activity diagram tidak menggambarkan perlakuan internal sebuah sistem (dan interaksi antar subsistem) secara eksak, tetapi lebih menggambarkan proses- proses dan jalur-jalur aktivitas dari level atas secara umum. [9]
Gambar 2. 5Contohactivity diagram
2.8 Kuesioner
Kuesioner (atau sering disebut juga angket) adalah penyelidikan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak), dengan cara mengedarkan fomulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada sejumlah objek, untuk mendapatkan jawaban (tanggapan, respon) tertulis seperlunya. Kuesioner adalah satu set pertanyaan yang berurusan dengan satu topik tunggal atau satu set topik yang saling berkaitan, yang harus dijawab oleh objek.
1. Kuesioner bentuk isian
Dalam kuesioner bentuk isian ini responden diperbolehkan memberikan jawaban secara singkat maupun dalam bentuk uraian. Jenis pertanyaan yang memberikan kebebasan bagi responden untuk menjawabnya disebut open question. Kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk open question disebut kuesioner bentuk terbuka (open form questionaire). Kuesioner bentuk terbuka ini banyak memberikan kemungkinan bagi para peneliti untuk menggali unsur-unsur emosional dan afeksi, opini pribadi, dan interpretasi yang orisinil, selain itu juga bisa menggali motivasi-motivasi yang melatarbelakangi perbuatan/tingkah laku dan unsur-unsur psikis lainnya. Nilai terpenting dari kuesioner bentuk terbuka adalah sebagai alat eksploratif untuk memperkokoh satu opini, atau untuk lebih menjelaskan suatu masalah.
Kuesioner jenis ini juga efektif sekali dalam menggali motivasi-motivasi pribadi dan informasi-informasi primer, langsung dari pribadi responden yang kualitatif sifatnya.
Selain kuesioner bentuk terbuka ini, dalam kuesioner bentuk isian terdapat pula satu bentuk yang hanya menyediakan ruangan-ruangan khusus yang amat terbatas untuk memberikan informasinya. Pada kuesioner jenis ini responden diminta untuk mengisi pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang singkat. Pertanyaan jenis ini disebut supply type question. Kuesioner jenis ini disebut closed form questionnaire.
2. Kuesioner bentuk pilihan
disebut juga sebagai kuesioner dikotomis. Kuesioner jenis ini memang praktis, hemat, dan mudah dijawab, tetapi kurang dapat menyajikan informasi yang cukup mengenai masalah yang akan diteliti.
Jenis lain dari kuesioner bentuk pilihan adalah pilihan ganda (multiple choice), dimana responden diminta untuk memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban yang ada atau memilih lebih dari satu jawaban dari banyaknya kemungkinan jawaban yang disediakan.
Kuesioner jenis ini memang lebih susah untuk dibuat, karena pembuat kuesioner harus memikirkan alternatif jawaban yang mungkin dan menyusunnya dalam format yang terstruktur, tetapi waktu yang dibutuhkan menghitung dan menganalisa jawaban responden lebih singkat dibanding dengan kuesioner jenis isian. Selain itu variasi jawaban-jawaban yang diberikan responden juga lebih sedikit, karena responden hanya dapat memilih dari alternatif-alternatif yang disediakan saja.
2.8.1 Skala Likert
Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner, dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Nama skala ini diambil dari nama Rensis Likert, yang menerbitkan suatu laporan yang menjelaskan penggunaannya Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format seperti:
1. Sangat tidak setuju 2. Tidak setuju 3. Netral 4. Setuju 5. Sangat setuju
bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip.
Rumus yang digunakan dalam skala Likert adalah : P= S/skorideal x 100% [10] Keterangan:
P = Nilai persentase yang dicari
S = jumlah frekuensi dikalikan dengan nilai yang ditetapkan jawaban Skorideal = nilai tertinggi dikalikan dengan jumlah sampel
✁
IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM
Implementasi merupakan tahap representasi perangkat lunak sesuai dengan hasil analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah implementasi maka dilakukan pengujian sistem yang baru untuk menyesuaikan perangkat lunak yang dibangun dengan hasil analisis yang telah dilakukan dimana akan dilihat kekurangan-kekurangan pada aplikasi yang baru untuk pengenbangan selanjutnya.
4.1 Implementasi
Tujuan implementasi sistem adalah untuk menjelaskan tentang
penggunaan aplikasi kepada semua pengguna yang akan menggunakan sistem yang telah dibangun. Sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan sistem tersebut melalui tampilan yang diberikan oleh sistem dan selanjutnya pengguna memberikan masukan kepada pengembang sistem untuk dilakukan perbaikan agar sistem menjadi lebih baik.
4.1.1 Perangkat Lunak Pembangun
Perangkat lunak pembangun menjelaskan perangkat lunak yang digunakan untuk membangun aplikasi pencarian fatwa hukum islam berbasismobile.
Adapun perangkat lunak yang digunakan untuk membangun aplikasi ini adalah sebagai berikut:
1. Aplikasi Frontend
a. Eclipse Juno, sebagai perangkat lunak yang digunakan untuk membangun aplikasifrontend.
b. Android SDK, untuk pengembangan aplikasi android.
c. JDK (Java Development Kit) versi 6, untuk kompilasi kode-kode program.
d. ADT (Android Development Tool), sebagai plugin android pada eclipse.
2. Aplikasi Backend
a. Adobe Dreamweaver CS6, Sublime Text Editor sebagai perangkat lunak yang digunakan untuk membangun aplikasibackend.
b. Google Chrome, untuk menjalankan aplikasibackend. c. Windows 8 Pro, sebagai sistem operasi.
4.1.2 Perangkat Keras Pembangun
Perangkat keras pembangun menjelaskan perangkat keras yang digunakan untuk membangun aplikasi pencarian fatwa hukum islam berbasismobile. Adapun perangkat keras yang digunakan untuk membangun aplikasi ini adalah sebagai berikut:
1. Kecepatan Processor 2.4GHz, 2. Kapasitas RAM 2 GB,
3. Kapasitas Harddisk 500 GB, 4. Monitor,
5. KeyboarddanMouse.
4.1.3 Implementasi Basisdata
Implementasi basisdata diambil berdasarkan perancangan data yang dibuat sebelumnya. Secara fisik, implementasi basisdata diimplementasikan
menggunakan perangkat lunak MySQL sebagaidatabase serveryang ditempatkan pada aplikasibackend. Tabel-tabel berikut menggambarkan struktur tabel yang diimplementasikan padadatabase server.
Database Server
1. Tabel tb_doc_fatwa
Tabel 4. 1 Tabel tb_doc_fatwa
CREATE TABLE `tb_doc_fatwa` (
`Id_Doc` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Judul` varchar(100) NOT NULL,
`Fatwa` text NOT NULL,
`Kategori` int(11) NOT NULL,
`File` varchar(255) NOT NULL,
PRIMARY KEY (`Id_Doc`),
FOREIGN KEY (`Kategori`) REFERENCES tb_kategori(`Id_Kategori`) ON
DELETE CASCADE ON UPDATE CASCADE
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
2. Tabel tb_term_frekuensi
Tabel 4. 2 Tabel tb_term_frekuensi
CREATE TABLE `tb_term_frekuensi` (
`Id_Term` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Term` varchar(30) NOT NULL,
`DocId` int(11) NOT NULL,
`Count` int(11) NOT NULL,
`Hasil` double DEFAULT NULL,
PRIMARY KEY (`Id_Term`),
FOREIGN KEY (`DocId`) REFERENCES tb_doc_fatwa(`Id_Doc`) ON DELETE
CASCADE ON UPDATE CASCADE
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
3. Tabel tb_kategori
Tabel 4. 3 Tabel tb_kategori
CREATE TABLE `tb_kategori` (
`Id_Kategori` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Nama_Kategori` varchar(150) NOT NULL,
PRIMARY KEY (`Id_Kategori`)
4. Tabel tb_user
CREATE TABLE IF NOT EXISTS `tb_user` (
`user_id` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT, `user_username` varchar(20) NOT NULL,
`user_password` varchar(100) NOT NULL, PRIMARY KEY (`user_id`),
UNIQUE KEY `user_username` (`user_username`) ) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
5. Tabel tb_katadasar
Tabel 4. 4 Tabel tb_katadasar
CREATE TABLE `tb_katadasar` (
`Id_Katadasar` int(10) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Katadasar` varchar(20) NOT NULL,
`Tipe_Katadasar` varchar(20) NOT NULL,
PRIMARY KEY (`Id_Katadasar`)
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
6. Tabel tb_stoplist
Tabel 4. 5 Tabel tb_stoplist
CREATE TABLE `tb_stoplist` (
`Id_Stoplist` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Stoplist` varchar(50) NOT NULL,
PRIMARY KEY (`Id_Stoplist`)
7. Tabel tb_vector
Tabel 4. 6 Tabel tb_vector
CREATE TABLE `tb_vector` (
`DocId` int(11) NOT NULL,
`Panjang` float NOT NULL,
PRIMARY KEY (`DocId`)
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
8. Tabel tb_cache
Tabel 4. 7 Tabel tb_cache
CREATE TABLE `tb_cache` (
`Id` int(11) NOT NULL AUTO_INCREMENT,
`Query` varchar(100) NOT NULL,
`DocId` int(11) NOT NULL,
`Hasil` float DEFAULT NULL,
PRIMARY KEY (`Id`)
) ENGINE=InnoDB DEFAULT CHARSET=latin1;
4.1.4 Implementasi Antarmuka
Tabel 4. 8 Tabel Implementasi Antarmuka Aplikasi pencarian fatwa hukum islam
backend
No Halaman Deskripsi File Fisik
1 Login Digunakan admin untuk masuk ke
halaman utama aplikasibackend
pencarian fatwa hukum islam
berbasismobile
index.php
2 Dashboard Halaman yang berisikan menu
utama pada aplikasibackend
pencarian fatwa hukum islam
berbasismobile
dashboard.php
3 Tambah Dokumen Halaman yang digunakan admin
untuk melakukan penambahan data
dokumen fatwa
tambah.php
4 Edit Dokumen Halaman yang digunakan admin
untuk melakukan pengeditan data
dokumen fatwa
edit.php
5 Pencarian Halaman ini digunakan admin untuk
melakukan pencarian dokumen
fatwa
pencarian.php
6 Melihat Hasil Pencarian Halaman ini digunakan untuk
menampilkan hasil pencarian
pencarian.php
7 Melihat dokumen Halaman ini digunakan untuk
menampilkan isi dari dokumen
Lihatdokumen.php
4.2 Pengujian Sistem
Pengujian sistem merupakan tahapan untuk menemukan kekurangan-kekurangan pada aplikasi pencarian fatwa hukum islam berbasismobileyang dibangun sehingga bisa diketahui apakah sistem tersebut telah memenuhi kriteria sesuai dengan tujuan atau tidak. Pada tahapan ini menggunakan metode pengujian
black boxini terdiri dari dua tahapan pengujian, yaitu tahapan pengujianalpha
dan tahapan pengujianbeta.
4.2.1 Rencana Pengujian
Pengujian yang dilakukan yaitu pengujianblack boxdan pengujian beta. Pengujianblack boxdigunakan untuk menguji fungsi-fungsi khusus dari
perangkat lunak yang dirancang. Pengujian beta digunakan untuk mengetahui tanggapan pengguna terhadap aplikasi pencarian dokumen fatwa, dengan melakukan kuesioner.
Tabel 4. 9 Tabel Rencana Pengujian Aplikasi pencarian fatwa hukum islam
Frontend
Pengujian AplikasiFrontend
Item Uji Butir Uji Jenis Uji
Pencarian Memasukan kata kunci Black Box
Membaca Dokumen Menampilkan isi dokumen fatwa Black Box
Tabel 4. 10 Tabel Rencana Pengujian AplikasiBackend
Pengujian AplikasiBackend
Item Uji Butir Uji Jenis Uji
Login
Username Black Box
Password Black Box
Tambah data dokumen
Nama Mufty Black Box
Judul Black Box
Deskripsi Black Box
Kategori Black Box
Pengujian AplikasiBackend
Item Uji Butir Uji Jenis Uji
Edit data dokumen
Cek Pencarian Memasukan kata kunci Black Box
Melihat Dokumen Menampilkan isi dari dokumen Black Box
4.2.2 Kasus dan Hasil Pengujian
Berdasarkan rencana pengujian aplikasi fronend dan backend, maka dapat dilakukan pengujianalphapada aplikasi pencarian fatwa hukum islam berbasis
mobileadalah sebagai berikut:
1. Kasus dan Hasil Pengujianblack boxPada AplikasiFrontend
a. Pengujian pencarian
Pengujian pencarian merupakan pengujian fungsional untuk menampilkan dokumen apa saja yang tersedia berdasarkan kata kunci yang dimasukan oleh pengguna.
Tabel 4. 11 Tabel Pengujian pencarian data normal
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Kata kunci :
“zakat emas dan
perak”
Menampilkan list
dokumen fatwa yang
sesuai dengan “Zakat
emas dan perak”
Menampilkan list
dokumen fatwa yang
sesuai dengan “Zakat
emas dan perak”
[√ ] diterima
Tabel 4. 12 Tabel Pengujian pencarian data kosong
Kasus dan Hasil Uji (Data Kosong)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Kata kunci :
Pengujian membaca dokumen fatwa merupakan pengujian fungsional untuk menampilkan halaman dokumen fatwa berdasarkan dokumen yang telah dipilih oleh pengguna.
Tabel 4. 13 Tabel Pengujian Membaca Dokumen
Kasus dan Hasil Uji
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Memilih dokumen
2. Kasus dan Hasil PengujianBlack BoxPada AplikasiBackend
a. Pengujian Login Admin
Tabel 4. 14 Tabel Pengujian Login Admin Data Normal
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Username: admin
Tabel 4. 15 Tabel Pengujian Login Admin Data Salah
Kasus dan Hasil Uji (Data Salah)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Username :
admin
password :
adminn
Menampilkan pesan “nama pengguna atau password salah”
Menampilkan pesan “nama pengguna atau password salah” “nama pengguna atau password salah”
Menampilkan pesan “nama pengguna atau password salah”
[√ ] diterima
[ ] ditolak
Tabel 4. 16 Tabel Pengujian Login Admin Data Kosong
Kasus dan Hasil Uji (Data Kosong)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Username: - Menampilkan pesan
“Harap isi bidang
b. Pengujian Tambah Data Dokumen Fatwa
data dokumen fatwa dilakukan dengan dua cara, yaitu pengujian dengan kasus data normal dan pengujian dengan kasus data salah.
Tabel 4. 17 Tabel Pengujian Tambah Data Dokumen Fatwa Data Normal
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Tabel 4. 18 Tabel Pengujian Tambah Data Dokumen Fatwa Data Salah
Kasus dan Hasil Uji (Data Sudah ada di database)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Nama Mufty :
Tabel 4. 19 Tabel Pengujian Tambah Data Dokumen Fatwa Data Kosong
Kasus dan Hasil Uji (Data Kosong)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
c. Pengujian Edit Data Dokumen Fatwa
Pengujian Edit Data Dokumen Fatwa merupakan pengujian fungsional untuk mengiditdit data dokumen fatwa pada database server. Pengujian edit data dokumen fatwa dilakukan dengan dua cara, yaitu pengujian dengan kasus data normal dan pengujian dengan kasus data kosong.
Tabel 4. 20 Tabel Pengujian Edit Data Dokumen Fatwa Data Benar
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Nama Mufty :
“Syaikh Ibnu Jibrin
dan lajnah daimah”
bila telah mencapai
nisab dan haul.”
Tabel 4. 21 Tabel Pengujian Edit Data Dokumen Fatwa Data Kosong
Kasus dan Hasil Uji (Data Kosong)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Kasus dan Hasil Uji (Data Kosong)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Deskripsi :
Pengujian pencarian merupakan pengujian fungsional untuk melakukan pencarian dokumen fatwa yang sesuai yang terdapat padadatabase server. Pengujian pencarian dilakukan dengan pengujian kasus data normal, data salah dan pengujian data kosong.
Tabel 4. 22 Tabel Pengujian Pencarian Data Benar
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Cek Pencarian :
Tabel 4. 23 Tabel Pengujian Pencarian Data Salah
Kasus dan Hasil Uji (Data Salah)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan
Kata kunci :
Tabel 4. 24 Tabel Pengujian Pencarian Data Kosong
Kasus dan Hasil Uji (Data Salah)
Data Masukan Yang Diharapkan Pengamatan Kesimpulan