PEMIKIRAN DAN KIPRAH K.H. MAHRUS AMIN
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam ( S.Kom.I )
Oleh : Pahlevy NIM. 105051001984
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam ( S.Kom.I )
Oleh : Pahlevy NIM. 105051001984
Di bawah Bimbingan :
Prof. Dr. Murodi, MA NIP. 19640705 1992031 1003
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi berjudul Dakwah dan Politik (Kiprah dan Pemikiran K.H Mahrus Amin) telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 23 September 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S. Kom.I.) pada Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam.
Jakarta, 23 September 2010 Sidang Munaqasyah,
Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,
Drs. Wahidin Saputra, MA Umi Musyarrofa,M.A NIP: 19700903 199603 1001 NIP: 1971816 199703 2002
Anggota,
Penguji I Penguji II
Dra. Asriati Djamil, M.Hum. Drs. Suhaimi, M.Si. NIP: 19610422 199003 2001 NIP: 19670906 199403 1001
Pembimbing,
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sangsi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 3 Juni 2010
Nama : Pahlevy
NIM : 105051001984
DAKWAH DAN POLITIK
KIPRAH DAN PEMIKIRAN K.H. MAHRUS AMIN
Elite agama Islam, yang oleh kalangan masyarakat Jawa khususnya disebut kyai, seringkali dijadikan bahan perbicangan para pengamat dan bahkan oleh kyai sendiri, menyangkut layak tidaknya mereka terjun dalam politik praktis. Sebagian kalangan berpendapat bahwa kyai seharusnya berperan saja sebagai pengayom umat terutama dalam kehidupan beragama, dan karena itu lebih tepat jika menghindarkan diri dari kegiatan politik. Sebaliknya, terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak ada alasan kyai harus meninggalkan politik praktis, sebab berpolitik merupakan bagian kehidupan agama itu sendiri. Saat ini, dari sekian banyak tokoh agama Islam atau kyaidi Indonesia yang menjadikan politik sebagai sarana atau media dakwah ialah K.H. Mahrus Amin.
Dalam penelitian ini penyusun mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: Konsep dakwah menurut K.H Mahrus Amin? Konsep politik menurut K.H. Mahrus Amin? Bagaimana kiprah dakwah dan politik menurut K.H. Mahrus Amin?
Sedangkan metodelogi dalam pembahasan skripsi ini menggunakan metodelogi kualitatif yaitu, melakukan wawancara langsung dengan K.H. Mahrus Amin, kemudian mengumpulkan data dari beberapa artikel di internet dan karya-karya berupa tulisan K.H. Mahrus amin serta buku-buku yang terkait dengan permasalahan.
Teori yag digunakan dalam pembahasan ini adalah teori global communitarianism, geographical mobility dan teori cult./lang./ competence/inheritance. teori global communitarianism yang berarti dapat menerima siapa saja untuk menjadi bagian dalam komunitasnya sebagaimana objek dalam berdakwah yang tidak dipilih-pilih. Teori geographical mobility yang artinya berpindah dari wilayah aslinya dan tersebar, sebagaimana agama Islam yang berasal dari Arab menyebar ke seluruh dunia. Teori cult./lang./competence/acquisition yang mempunyai makna dapat mengadopsi dan berakulturasi dengan budaya lain, sebagai contoh Indonesia adalah Indonesia akan tetapi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Islam baik dari segi sosial, budaya, ekonomi maupun politik.
Dari pembahasan di atas, dapat sekiranya saya simpulkan bahwa dakwah dan politik memiliki keterkaitan, di mana politik dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk berdakwah, dan tidak ada salah seandainya seorang kyai terjun ke dunia politik selama mempunyai niat dan tujuan yang baik untuk kemaslahatan umat, tanpa harus terkontaminasi kotornya politik yang menodai kemurnian dakwah Islam.
Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam, tempat berlindung dan bersandar atas segala kelemahan manusia sebagai makhluk dhaif dengan keagungan rahmat hidayah-Nya, sholawat beriring salam semoga tercurah limpahkan kepada makhluk Allah yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau dan orang-orang yang senantiasa berjalan di atas petunjuk beliau serta mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat.
Selanjutnya selama penyusunan skripsi ini, dan selama penulis menimba ilmu di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, penulis mendapatkan sesuatu yang berharga yang belum pernah penulis dapatkan sebelumnya, juga penulis banyak mendapatkan motivasi yang sangat besar dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada orang-orang yang memberikan andil besar dalam menyelesaikan skripsi ini, maka dengan selesainya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, terutama penulis sampaikan terima kasih kepada :
1. Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
2. Drs. Jumroni, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam 3. Umi Musyarofah M.A., selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam.
memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya serta memberikan ilmunya selama penulis mengerjakan skripsi ini.
5. Prof. Dr. Murodi, MA, selaku Dosen Penasehat Akademik.
6. K.H Mahrus Amin, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan wawancara secara langsung kepada penulis.
7. Seluruh staf Perpustakaan Utama dan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, yang telah membantu dalam menyediakan sumber-sumber selama penulis merampungkan skripsi ini.
8. Ayahanda Drs. Pahlawan Lubis dan Ibunda Neni Nelti yang telah mencurahkan semua perhatian dan cinta kasihnya selama ini, masukan dan arahannya sungguh bijak, sehingga mereka dapat menjadi inspirator utama dalam penyusunan skripsi ini.
9. Adik-adikku tersayang, Intan , Kinan, Almarhumah Siti Rahmah, Anggi, Joman dan Raihan, yang telah memberikan semangat kepada penulis. 10.Sahabatku Rahmat Hidayat, Iqbal Perdana dan M.Irfan.
11.Seluruh teman kelasku KPI D angkatan 2005, terutama buat Zulfikar, Kiki Maulana, M. Arif Sigit, Geary Fariq, Hifzanul Hanif, Ahmad Fauzi, Farah Nurul Hikam, Irma Iztarikizra, Upi Zahra.
12.Teman-teman BEM Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan HMI yang telah banyak memberikan wawasan keorganisasian kepada penulis.
iii
terdapat kelemahan dan kekurangan dalam skripsi ini karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.
Jakarta, 5 September 2010
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah... 1B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7
D. Metodologi Penelitian ... 8
E. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Dakwah dan Unsur-unsurnya 1. Pengertian Dakwah ... 122. Unsur-Unsur Dakwah ... 14
3. Hukum Dakwah ... 28
B. Politik 1. Pengertian Politik ... 29
2. Perpektif Islam Tentang Politik ... 31
3. Keterkaitan Dakwah dan Politik ... 34
C. Kiprah dan Pemikiran 1. Pengertian Pemikiran ... 35
2. Pengertian Kiprah... 36
BAB III PROFIL K.H. MAHRUS AMIN
A. Riwayat Hidup 1. Latar Belakang Keluarga ... 372. Latar Belakang Pendidikan ... 38
3. Latar Belakang Organisasi ... 40
B. Karya-Karya K.H Mahrus Amin ... 41
BAB IV ANALISIS
KONSEP DAKWAH DAN POLITIK
MENURUT K.H. MAHRUS AMIN
A. Konsep Dakwah Menurut K.H. Mahrus Amin ... 44B. Konsep Politik Menurut K.H. Mahrus Amin ... 50
C. Kiprah Dakwah dan Politik Menurut K.H. Mahrus Amin ... 52
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 62B. Saran ... 63
A. Latar Belakang Masalah
Elite agama Islam, yang oleh kalangan masyarakat Jawa khususnya disebut kyai, seringkali dijadikan bahan perbicangan para pengamat dan bahkan oleh kyai sendiri, menyangkut layak tidaknya mereka terjun dalam politik praktis. Sebagian kalangan berpendapat bahwa kyai seharusnya berperan saja sebagai pengayom umat terutama dalam kehidupan beragama, dan karena itu lebih tepat jika menghindarkan diri dari kegiatan politik. Sebaliknya, terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak ada alasan kyai harus meninggalkan politik praktis, sebab berpolitik merupakan bagian kehidupan agama itu sendiri.1
Namun, banyak kalangan yang kurang sependapat terhadap peranan kyai yang terlibat dalam kancah politik, karena seorang kyai belum cukup kuat untuk menahan godaan fasilitas yang disediakan bagi mereka tatkala tengelam dalam euporia politik praktis. Bahkan yang lebih memprihantinkan lagi, ketika antar kyai pun bisa terjadi konflik karena perbedaan aspirasi politik.2
Bagi kyai keterlibatan mereka dalam berpolitik tentu saja sangat beralasan, bagi mereka antara politik dan dakwah merupakan suatu kesatuan, mustahil untuk dipisahkan. sebab agama merupakan ajaran tata perilaku
1
Imam Suprayogo, Kyai dan Politik “Membaca Citra Politik Kyai”, Malang , (UIN Malang Press, 2009), Cet. ke-2 hal. 1
2
Hamadan Daulay, Membangun Kerukunan Berpoltik dan Beragama Di Indonesia, (Yogyakarta, Puslitbang Depag RI, 2002) hal. 11
kemanusiaan, sehingga ia bukan hanya sistem teologi tetapi juga sebuah kebudayaan yang kompleks. Dakwah harus didukung dengan sebuah kekuasaan politik. Sebab, baik agama maupun politik, secara kasat mata sama-sama berkolerasi dengan kemaslahatan umat.3
Walau bagaimanapun, kalau memang politik adalah salah satu jalan untuk menegakkan kemaslahatan umat (al-maslahah al-ammah), dan menancap sangat kuat dalam kaidah politik Islam (qowaidu siyasah al-Islamiyah), kyai harus tetap berjuang dengan konsisten untuk terus berekperimentasi. Nabi Muhammad SAW juga "politisi" ulung yang mempunyai kedudukan, bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga kepala negara.4
Jadi, kalau mengikuti tata nilai yang diteladankan Nabi dan sahabatnya, pastilah akan terus berevaluasi dalam sekian eksperimentasi, sehingga akan lahir kedewasaan berpolitik. Sebagi sistem hidup yang sempurna, Islam tidak bergerak pada tataran pemikiran (teoritis) semata, tetapi bekerja padatataran praktis, mengatur semua segi kehidupan manusia secra realistis dan objektif. Ini berarti, Islam haruslah diterjemahkan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dengan membangun komunitas dan masyarakat Islam.5
Dakwah dibidang politik adalah ajakan mengembalikan tata cara pengurusan masyarakat ke dalam suasana yang teduh dan Islami. Inilah
3
Syaiful Amin Sholihin, Tokoh Agama dan Pilihan Politik, (Yogyakarta, Tugu Pess, 2004), hal. 27
4
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hal 25
5
panggilan yang sesuai dengan fitrah manusia di manapun dia berada. Tidak ada manusia di dunia ini yang diciptakan Allah SWT dan tidak satupun mahluk manusia yang tidak akan kembali kepada Allah SWT. Jadi wajarlah bahwa manusia yang berakal menghormati aturan pencipta-Nya dan kepada siapa dia kembali. Kita pun tak bisa membayangkan kekuatan Islam dapat tersebar tanpa adanya perjuangan dakwah yang justru ditujukan untuk menyebarkannya. Artinya, seandainya tidak melalui perjuangan dakwah, Islam tidak mungkin memiliki kekuatan, tidak mungkin tersebar luas, tidak mungkin dapat dijaga dan tidak mungkin pula hujjah Allah bisa ditegakkan atas para makhluknya.6
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dakwah dan politik adalah dua hal yang berbeda walaupun terkadang saling terkait dalam mencapai tujuan tertentu, jika dakwah diletakkan dalam politik maka dakwah akan menjadi instrument dan sarana untuk mencapai tujuan politik. Berpolitik dalam Islam berarti menjunjung tinggi dakwah Islamiyah, dakwah sendiri dapat kita artikan sebagai upaya mengajak atau meningkatkan usaha manusia dalam berbuat kebaikan, dakwah yang dimaksud tidak terbatas pada spiritual saja akan tetapi dakwah harus memasuki semua dimensi kehidupan baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik.
Saat ini, dari sekian banyak tokoh agama Islam atau kyai di Indonesia yang menjadikan politik sebagai sarana atau media dakwah, salah satunya ialah K.H Mahrus Amin. Ia dilahirkan di desa Kali Buntu, Ciledug, Cirebon
6
pada tanggal 14 Februari 1940, nama lengkap beliau adalah Mahcrus Amin. Orang tua, saudara dan teman-temannya memanggil beliau Mahrus. Beliau dilahirkan dalam keluarga terpandang. Ayahnya bernama Casim Jasim Ahmad Amin, yang menjabat sebagai seorang Kuwu (setingkat lurah) dan juga salah satu keturunan anak cucu Syarif Hidayatullah, tokoh Islam di Jawa Barat pada masa lalu. Selain itu ayahnya juga adalah seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang tergabung dalam Laskar Hizbullah di Jawa Barat. Ibunya bernama Hj. Jamilah binti H. Muharom yang berasal dari Cirebon. Ibunya adalah cucu kyai Idris seorang ulama pimpinan pondok pesantren Lumpur di daerah Lumpur Brebes. Bersama Kyai Ismail yang dikenal sebagai ahli hikmah dan juga saudaranya kyai Idris, Keduanya adalah ulama yang berpengaruh di kawasan Losari.7 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
K.H. Mahrus Amin berasal dari keluarga terpandang baik dsri segi sosial maupun keagamaan.
K.H. Mahrus Amin mengeyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Islam (SRI) di Kalimukti pada tahun 1953 beliau lulus. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikanya ke Pondok Modern Gontor di Ponorogo selama 6 tahun dan lulus pada tahun 1961, Setelah tamat beliau mendapatkan izin untuk tidak perlu mengajar di Gontor. Beliau berhijrah ke Jakarta untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan yaitu Madrasah Darunnajah Petukangan dan melanjutkan Pendidikannya di Fakultas Ushuludin Jurusan Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif
7
Hidayatullah) hingga tamat tahun 1972.8 Setelah tamat dari IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta Beliau mendapatkan kesempatan menjadi dosen untuk mengajar dialmamaternya, Fakultas Ushuludin, tapi beliau hanya mengajar sebentar saja. Beliau mengundurkan diri menjadi dosen dan memilih jalur lain, beliau lebih memilih untuk berkonsentrasi pada pembinaan dan pengelolaan pondok pesantren yang didirikannya hingga sekarang.9
Di antara cita-citanya K.H. Mahrus Amin adalah menggagas pendirian 1000 Pesantren Nusantara di antaranya adalah pondok pesantren Darunnajah Jakarta dan pondok pesantren Madinnatunnajah Tangerang Selatan dengan Gerakan Nasional Cinta Wakaf Zakat, Infaq, dan Shadaqoh. Selain menjadi kyai atau pimpinan pesantren, beliau juga banyak menempati posisi penting di organisasi keislaman seperti Ketua I DPP Forum Islamic Center Indonesia, Ketua Forum Umat Islam, Ketua Umum BKsPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia), Pengurus Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin), Ketua Yayasan Qolbu Salim Masjid Istiqlal dan Anggota Dewan Penasehat Majlis Ulama DKI Jakarta.10
Selain aktif di dunia dakwah beliau juga bergiat dalam kegiatan politik. Pada waktu Orba (Orde Baru) jatuh, berganti Era Reformasi, Pemerintah RI mengizinkan masyarakat mendirikan Parpol. Lalu lahir banyak partai Islam seperti PBB, PUI (Partai Umat Islam), Partai Politik Islam Masyumi Abdullah Hehamahua, Partai Masyumi Baru, Partai Keadilan (PK) atau Partai Keadilan
8
Ibid, hal. 17
9
Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, Kyai Entrepreneur “Social Entrepreneurship Berbasis Nilai-Nilai Agama”, (Jakarta, Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, 2010), hal. 74
10
Sejahtera (PKS) 1999-2004 dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Kemudian jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, lahir pula 38 Parpol Nasional dan 6 Parpol lokal NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). Anwar Harjono membacakan deklarasi PBB pada 17 Juli 1998 usai Shalat Jum’at di Masjid Agung Al-Azhar Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Jaksel). beliau adalah salah satu pendiri Partai Bulan Bintang (PBB) bersama Prof Dr HM Yusril Ihza Mahendra, Marlan Mardjoned, Abdul Kadir Jaelani, Hartono Mardjono SH, Badruzzaman Busyairi Brebes, Ahmad Soemargono, Tumpal Daniel S SPdI MSi, Ikhwan Ridwan SH dan lain sebagainya.11 Saat ini beliau juga aktif didalamnya sebagai wakil ketua Majelis Syura di Partai Bulan Bintang (PBB).12
Berangkat dari sini penulis terarik untuk menganalisis “Dakwah dan Politik : Kiprah dan Pemikiran K.H Mahrus Amin ” karena dalam hal perpolitikan dan berdakwah, tokoh yang satu ini merupakan tokoh yang cukup pantas untuk dianalisis.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dan agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang jauh dari pembahasan penulis hanya membatasi pembahasan pada kiprah dan pemikiran dakwah dan politik K.H Mahrus Amin.
11
http://www.madina-sk.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5580
dikutip pada 14/03/2010
12
2. Perumusan Masalah
Bedasarkan batasan masalah diatas secara sederhana perumusan masalah tersebut dapat disimpulkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
a. Konsep dakwah menurut K.H Mahrus Amin? b. Konsep politik menurut K.H Mahrus Amin?
c. Bagaimana Kiprah dakwah dan politik K.H Mahrus Amin?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka ada beberapa tujuan penelitian yang hendak dicapai, yaitu :
a. Untuk mengetahui konsep pemikiran K.H Mahrus Amin tentang dakwah dan politik.
b. Untuk mengetahui perjalanan dan pergerakan dakwah dan politik K.H Mahrus Amin.
2. Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat dai penelitian ini adalah : a. Secara Akademis
b. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang media dakwah terutama kiat dakwah melalui jalur atau pendekatan politik. Karena menurut penulis dakwah disertai dengan politik sejak awal hingga kini menjadi alternatif yang sangat berpeluang dan menjanjikan dalam menyiarkan Islam di Indonesia. Penelitian ini juga diharapkan berguna sebagai wawasan pemikiran dan praktek yang diperoleh dari Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam khususnya dan umumnya bagi Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
D. Metodelogi Penelitian 1. Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriftif-analisis, yaitu sebuah teori yang bermaksud meneliti dan menemukan informasi seluas-luasnya tentang sebuah permasalahan yang akan diteliti, dalam hal ini adalah Dakwah dan Politik : Kiprah dan Pemikiran K.H. Mahrus Amin.
2. Bentuk Penelitian
Reseacrh) dengan menghimpun buku-buku atau tulisan yang berkaitan dengan masalah diatas.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.13
Dalam hal ini adalah K.H Mahrus Amin
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunalan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Wawancara (Interview)
Wawancara dalam hal ini penulis mengadakan wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan tanya jawab, dengan menggunakan alat panduan wawancara.14
Wawancara adalah tehnik dalam upaya menghimpun data yang akurat untuk keperluan melaksanakan proses pemecahan masalah tertentu yang sesuai dengan data.15 Dalam hal ini teknik mengumpulkan data
melalui metode Tanya jawab berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan langsung kepada yang bersangkutan yaitu, K.H. Mahrus
13
Lexy J.Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. ke-33, edisi revisi, hal 4
14
Muhammad Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta, Gaila Indonesia, 1998), Cet ke-3, hal 234
15
Amin mengenai kiprah, pemikiran, alasan dan tujuan beliau tentang dakwah dan politik.
b. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung untuk memperoleh data yang diperlukan.16 Demi menunjang sebuah
penelitian yang sempurna, penulis mengobservasi langsung subjek dan objek penelitian langsung kepada K.H Mahrus Amin dengan menggunakan metode penelitian lapangan dengan cara mengumpulkan data yang berkaitan dengan segala aktifitas beliau baik dalam berdakwah dan berpolitik.
c. Dokumentasi
Yakni teknik pengumpulan data melalui dokumen-dokumen untuk memperkuat informasi. Dalam penelitian ini dokumen yang dijadikan sumber penelitian yaitu seperti buku-buku, model yang memuat dan dijadikan media dakwah dan politik serta artikel-artikel yang memuat pemberitaan mengenai K.H Mahrus Amin.
E. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan susunan penyusunan laporan akhir (Skripsi) maka dibuatlah sistematika penulisan yang terdiri dari beberapa bab dan bab-bab tersebut memiliki beberapa subbab, yakni seperti berikut :
16
BAB I Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodelogi penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Teoritis yang berisi tentang Pengertian Dakwah dan Unsur-unsurnya, Pengertian Dakwah, Unsur-Unsur Dakwah, Hukum Dakwah, Pengertian Politik, Perpektif Islam Tentang Politik, Hubungan Keterkaitan Dakwah dan Politik.
BAB III Profil K.H. Mahrus Amin pada bagian ini dijelaskan mengenai riwayat hidup dan pendidikan, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, aktivitas dakwah dan politik, akivitas K.H. Mahrus Amin dalam berdakwah dan akivitas K.H. Mahrus Amin dalam berpolitik.
BAB IV Analisis konsep dakwah dan politik menurut K.H. Mahrus Amin, pada bagian ini akan menjelaskan mengenai konsep dakwah menurut K.H. Mahrus Amin, konsep politik menurut K.H. Mahrus Amin dan korelasi antara dakwah dan politik menurut K.H. Mahrus Amin.
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Dakwah
Dilihat dari segi bahasa, kata dakwah berasal dari kata bahasa Arab
da`wah ( ةﻮْ د ) merupakan bentuk kata masdar (kata kerja) dari da`a, yad`u, da`watan ( ةﻮْ د – ْﻮ ْﺪ – ﺎ د ) yang berarti menyeru, memanggil, mengajak.1
Maka dakwah dari sudut bahasa berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan.
Sedangkan secara istilah dakwah dapat didefinisikan sebagai setiap
kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk
beriman dan taat kepada Alllah SWT sesuai dengan garis aqidah, yaitu syari`at
dan akhlak islamiyah.2
Menurut M. Quraish Shihab Bahwa dakwah adalah sebagai seruan atau
ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi yang lebih baik atau
sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.3
Menurut Wardi Bachtiar dakwah dapat dilakukan dalam 3 kategori
yaitu :
1. Dakwah bi al-lisan
Dakwah bi al-lisan adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan, dapat berupa ceramah symposium, diskusi, khutbah, sarasehan dan lain sebagainya.
1
Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Yayasan Penyelenggara Al-Quran, 1973), hal. 126
2
Muhammad Sayyid Alwakil, Prinsip dan Kode Etik Dakwah, Penerjemah Nabhani Idris, (Jakarta, Akademika Pressindo, 2002), hal 1
3
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, (Badung, Raizan, 1995), Cet. ke-2, hal. 31
2. Dakwah bil al-qalam
Dakwah dengan tulisan adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melaului tulisan, dapat berupa buku, majalah, surat kabar, spanduk, pamphlet, lukisan-lukisan, buletin dakwah dan lain sebaginya.
3. Dakwah bi al-hal
Dakwah bi al-hal adalah dakwah melalui perbuatan nyata seperti perilaku yang sopan sesuai dengan ajaran Islam, memelihara lingkungan, mencari nafkah dengan tekun, ulet, sabar, semangat, kerja keras serta menolong sesame manusia. Dakwah ini dapat berupa pendirian rumah sakit, pendirian panti dan memelihara anak yatim piatu, pendirian lembaga pendidikan, pendirian pusat pencarian nafkah seperti pabrik, pusat perbelanjaan, kesenian dan lainnya.4
Menurut Sayyid Quthub dakwah merupakan salah satu kewajiban bagi
orang Islam, dakwah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kaum Muslim baik
individu maupun kelompok. Tentunya dengan memperhatikan tugas-tugas
dakwah yang demikian berat dan tantangan yang demikian besar, maka
dakwah tidak bisa tidak menghendaki adanya kelompok orang atau umat
(kelompok profesional) yang secara sunggu-sungguh memikirkan masalah
dakwah dan melakukan tugas dakwah dengan baik dan sempurna.5
Sedangkan menurut Abu Risma dakwah adalah sebagai segala usaha
yang dilakukan oleh seorang muslim atau lebih untuk merangsang orang lain
agar memahami, menyakini dan kemudian menghayati ajaran Islam sebagai
pedoman hidup dalam kehidupan.6
4
Wardi Bachtiar, Metodelogi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta, Logos Wahana Ilmu, 1997), hal. 34
5
A. Ilyas Ismail, Pradigma Dakwah Sayyid quthub Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah , (Jakarta, Penerbit Madani 2006), hal. 139
6
Sehubungan dengan ini Allah SWT berfirman :
☺
☺
Artinya : Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. .” (QS. al-Maidah : 67)
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, bahwa dakwah adalah
mengadakan suatu perubahan dan pembenahan baik yang bersifat individu
maupun sosial sesuai dengan ajaran Islam. Dakwah sendiri dapat disampaikan
melalui lisan, tulisan dan juga dengan tinggkah laku yang dilakukan secara
sadar dan terencana dalam upaya mempengaruhi orang lain agar timbulnya
keinsyafan dalam individu dengan menghayati dan mengamalkan ajaran
agamanya dalam keseharian.
B. Unsur-Unsur Dakwah
Aktifitas dakwah akan berjalan dengan baik, jika memperhatikan
unsur-unsurnya. Unsur-unsur dakwah adalah sebagai berikut :
1. Da`I (sebagai subjek)
Subjek dakwah, bisa seorang atau sekelompok orang yang
berorganisasi, bisa dikaji dari sudut pandang al-Islam manusia diciptakan
memakmurkan bumi yang telah diciptakan-Nya untuk bekal hidup
manusia dalam mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
manusia diciptakan sebagai khalifah (wakil) Allah dan harus mengabdi
kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. diri manusia terdiri dari fisik dan
non fisik, kedua-duanya memerlukan pemeliharaan, memerlukan peranan
dan fungsi untuk menyempurnakan hidup agar mencapai keseimbangan
hidup di dunia dan di akhirat.7
Allah SWT berfirman :
☺
☺
☺
☺
☺
⌧
⌧
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 71) Jelas bahwa tugas pelaksana dakwah atau da`i adalah hubungan
masyarakat, mulai dari keluarga sendiri, masyarakat ramai hingga dunia
internasional. Aspek-aspek yang dihadapi cukup rumit dan banyak,
meliputi daya fikir mereka, sikap hidup dan tingkah laku mereka, hal-hal
7
yang menjadi pendorong dalam kehidupannya, mungkin yang menyangkut
frustasi, juga yang menyangkut program belajar mereka untuk
meningkatkan taraf hidup, menyangkut perbedaan-perbedaan sosial dan
individual, dan yang lebih penting adalah yang menyangkut
pemecahan-pemecahan problema kehidupan manusia yang sangat luas dan multi
kompleks. situasi hidup riil manusia adalah arena dakwah, dan disitulah
para pelaksana dakwah harus mampu terjun dan membenahi yang kurang
beres, menuntun jalan hidup yang benar dan menunjukkan apa yang
dikenal dalam agama sebagai sirathal mustaqim.8
Menurut Sayyid Quthub ada tiga unsur penting yang harus dimiliki
oleh Da`i yaitu :
a. Akhlak Da`i
Da`i merupakan salah satu unsur yang teramat penting dalam proses dakwah. Sebagai pelaku dan penggerak kegiatan dakwah. Da`i menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan dakwah.da`i pada dasarnya adalah penyeru ke jalan Allah SWT, pengibar panji-panji Islam, dan pejuang (mujahidin) yang mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam realitas kehidupan umat manusia. Da`i harus memiliki pemahaman yang luas mengenai Islam sehingga ia dapat menjelaskan ajaran Islam kepada masyarakat dengan baik dan benar.
b. Bekal Da`i
Seorang da`i untuk melaksanakan amanat dan kewajiban dakwah diharuskan memiliki persiapan-persiapan dan bekal perjalan yang cukup, terutama persiapan dan bekal spiritual yang baik. Oleh karena itu sebelum melaksanakan tugas yang berat para da`i harus mempersiapkan diri dengan memperkuat jiwa dan mental merek dengan iman dan takwa kepada Allah SWT, karena iman adalah bekal utama bagi para da`i.
c. Perjuangan Da`i
8
Dakwah adalah proses yang panjang ubtuk membangun sistem Islam dalam proses ini da`i tidak hanya memerlukan berbagai bekal akan tetapi juga membutuhkan komitmen perjuangan yang amat tinggi karena dakwah pada dakwah identik dengan perjuangan. Sayyid Quthub memposisikan da`i sebagai pejuang (mujahid), sebagai pejuang da`i harus bekerja dan berjuang tanpa lelah sepanjang hidupnya.9
Meskipun dakwah merupakan kewajiban setiap muslim, namun
sebelum melakukan dakwah da`i harus tahu tugas, syarat dan sifat apa yang
harus dimiliki yaitu :
a. Tugas da’i
Di dalam sebuah misi penyebaran agama khususnya agama Islam
tidak terlepas dari penyampaiannya yang sering disebut dengan da’i, da’i
adalah orang yang melakukan dakwah.10 Atau dapat diartikan sebagai
orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada khalayak (mad’u).
Seseorang dapat dikatakan da’i apabila secara keilmuan ia telah menguasai
tentang ajaran-ajaran Islam. Dari segi wawasan intelektual, pengalaman
spiritual, sikap mental dan kewibawaannya. Seorang yang disebut da’i
biasanya akan terlihat lebih matang tentang keilmuan dibandingkan
mad’unya.11 Karena seorang da’i haruslah bisa mengarahkan orang yang
diajak agar tidak ada kekeliruan dalam menjalani ibadah dan kehidupan
agar selamat dunia akhirat.
Da’i merupakan penerus Rasul, oleh karena itu tugas da’i sama
dengan Rasul yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar (Mengajak
9
A. Ilyas Ismail, Pradigma Dakwah Sayyid quthub Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah ,(Jakarta, Penerbit Madani 2006), hal. 311-358
10
Ensiklopedia Indonesia, (Jakarta:PT. Ikhtiar Ouve, 1992), hal. 137 11
kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan) serta mengajak
manusia beriman kepada Allah dengan diiringi mengerjakan perintahnya
dan menjauhi larangannya.12
Setiap Muslim yang hendak menyampaikan dakwah, khususnya
da’i seyogyanya memiliki kepribadian yang baik untuk menunjang
keberhasilan dakwah, baik kepribadian yang bersifat rohaniah (psikologi)
ataupun kepribadian jasmaniah (fisik).
b. Syarat dan Sifat Da’i
Dalam kegiatan dakwah, peranan da’i sangatlah penting yaitu:
sebagai penyebar asama Islam. Tanpa da’i ajaran Islam hanyalah berupa
ideologi yang tidak terwujud dalam kehidupan masyarakat. Oleh Karena
itu, untuk menyebarkan ajaran Islam seorang da’i harus tahu syarat dan
sifat-sifat yang harus dimilikinya sehingga ia mampu menghadapi
beragam mad’u dan beragam persoalannya.
1) Adapun syarat da’i:
a) Pengetahuan mendalam tentang Islam
Dakwah pada dasarnya ialah aktivitas mengajarkan ajaran
islam, sedangkan da’i adalah yang mengajarkan ajaran Islam. Oleh
karena itu sebelum ia mengajarkan kepada orang lain ia harus tahu
lebih mendalam tentng Islam, sehingga ia bisa menjelaskan kepada
mad’u bahwa Islam merupakan ajaran yang berbeda dengan ajaran
lain yaitu bersifat universal, yang ajarannya tidak terbatas, pada
12
hubungannya manusia dengan penciptanya, melainkan juga
hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.13
b) Juru dakwah jiwa kebenaran
Maksud dari juru dakwah jiwa kebenaran ialah da’i
haruslah menjadi ruh yang penuh kebenaran, kesadaran dan
kemauan serta mampu menjadi pengingat terhadap penyimpangan
dalam masyarakat.14
2) Sifat Da’i/karakter da’i
Karakteristik ialah sifat yng khas kepribadian seseorang
dipertimbangkan dari titik pandang etis atau moral.15
a) Hubungan dengan Allah
Adanya hubungan dengan Allah merupakan dasar utama pada
Akhlak da’i, Karena tanpa adanya hubungan dengan Allah, maka
dakwahnya tidak menghasilkan hasil yang optimal. Adapun jalan
mengikat hubungan dengan Allah antara lain dengan memuliakan
kitabnya, memahami pembacanya, memperhatikan maknanya,
merenungkan alam ciptaan-Nya.16
b) Meningkatkan perbaikan diri
Meningkatkan perbaikan diri merupakan kewajiban yang
mutlak harus ada pada seorang da’i. Karena segala tingkah laku da’i
itu dijadikan sebagai contoh bagi mad’unya sehingga setiap saat ia
13
A. Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hal. 148 14
Ibid, hal. 149 15
J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah Dr. Kartini Kartono (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004), Cet. ke-9, hal. 82
16
harus introspeksi diri agar apa yang ia sampaikan sesuai dengan
perbuatannya.17
c) Memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi.
Pemahaman terhadap karakteristik mad’u sangatlah penting.
Bila mad’u nya telah diketahui karekteristiknya, maka da’i dapat
menyesuaikan materi, metode serta media apa yang cocok yang
digunakan.18
Di samping sifat-sifat yang dijelaskan diatas, Hamzah Ya’kub
menambahkan sifat-sifat sebagai berikut
a) Memiliki pengetahuan yang cukup tentang Al-Qu’ran dan As-Sunnah
Rasul serta ilmu-ilmu yang berinduk kepada keduanya seperti tafsir,
ilmu hadist, sejarah kebudayaan Islam dan lainnya.
b) Memiliki pengetahuan yang menjadi kelengkapan dakwah.
c) Penyantun dan lapang dada.
d) Berani kepada siapapun dalam menyatakan dan membela kebenaran.19
Adapun sifat da’i yang dijelaskan dalam Al-Qur’an tertera pada
surat As-Syura ayat 15 yaitu:
☺
☺
☺
☺
17
Sa’id Al-Qahthan, Menjadi Da’i Yang Sukses, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hal. 314 18
Mustofa Ar-Rafi’I, Potret Juru Dakwah, ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), hal. 38-50 19
Artinya : ”Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)". (QS. as-Syura: 15)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa da’i haruslah istiqomah, tidak
mengikuti hawa nafsu, menjelaskan tentang ketegarannya dalam iman, berbuat
adil dan berusaha berdakwah sampai non muslim.
2. Mad`u (sebagai objek)
Mad`u dalam istilah isim maf`ul dari da`a. berarti orang yang diajak,
atau dikenakan perbuatan dakwah. mad`u adalah objek sekaligus subjek dalam
dakwah yaitu seluruh manusia tanpa terkecuali. siapapun mereka, laki-laki
maupun perempuan, tua maupun muda, seorang bayi yang baru lahir ataupun
orang tua menjelang ajalnya, semua adalah mad`u dalam dakwah Islam.
dakwah Islam tidak hanya ditujukan kepada orang Islam, tetapi orang-orang di
luar Islam, baik mereka itu atheis, penganut aliran kepercayaan, pemeluk
agama-agama lain, semua adalah mad`u.20
Objek dakwah adalah manusia, baik seorang atau lebih, yaitu
masyarakat. Hal ini disebabkan oleh misi kedatangan Islam adalah rahmat
bagi alam semesta, Islam tidak akan tereliasasikan sebagai rahmat semesta
20
alam apabila dakwah hanya dibatasi pada kalangan tertentu saja. Allah Ta`ala
telah berfirman :
☺
Artinya : Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. .” (QS.Al-Anbiya : 107)
3. Metode Dakwah
Secara bahasa metode berasal dari 2 kata yaitu meta (melalui) dan
hodos (jalan/cara). dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata Methodos yang artinya jalan yang dalam bahasa Arab disebut Thariq. metode berarti
cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran yang mencapai suatu
maksud.21
Metode Dakwah artinya cara-cara yang dipergunakan oleh seorang
da`I untuk menyampaikan materi dakwah, yaitu Al-Islam atau serentetan
kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.22
Dalam menghadapi serbuan bermacam-macam nilai, keagamaan,
pilihan hidup dan sejumlah janji-janji kenikmatan duniawi, dakwah
diharapkan bisa menjadi solusi dengan fungsi mengimbangi dan pemberi arah
dalam kehidupan umat. Dakwah ke depan menempatkan perencanaan dan
strategi yang tepat dengan merujuk kepada metode dakwah Rasulullah SAW.
Para intelektual muslim dapat merumuskan konsep dan metode dakwah untuk
generasi muda, orang dewasa atau objek dakwah bagi berbagai lapisan
masyarakat yang tingkat pemahaman keagamaannya tergolong rendah atau
21
M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta, Pemuda Media, 2006), hal. 6 22
sebaliknya bagi masyarakat yang tingkat pendidikannya tergolong tinggi,
sehingga materi dakwah sesuai dengan objeknya.
Menurut Toto Asmara metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang
dilakukan oleh seorang da`I kepada mad`u untuk mencapai tujan atas dasar
hikmah dan kasih sayang. 23
Menurut Slamet Muhaemin Abda, metode dakwah pada umumnya
terbagi pada beberapa segi, yaitu sebagai berikut :
a. Metode dari segi cara, yaitu :
1) Cara tradisional, termasuk didalamnya adalah sistem ceramah umum,
cara ini marak dilakukan oleh masyaraka luas.
2) Cara modern, termasuk dalam metode ini adalah diskusi, seminar dan
sejenisnya.
b. Metode dari segi jumlah audiens, yaitu :
1) Dakwah perorangan, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap
perorangan secara langsung (Face to Face atau Privat).
2) Dakwah kelompok, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap kelompok
tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya, seperti kelompok pengajian, karang taruna, organisasi dan lain-lain.
c. Metode dari segi pelaksanaan, yaitu :
1) Cara Langsung, yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara tatap muka
antara komunikator dengan komunikannya.
2) Cara tidak langsung, yaitu dakwah yang dilakukan oleh media seperti televise, radio, penerbitan-penerbitan, internet dan lain-lain.
d. Metode dari segi penyampaian isi, yaitu :
1) Cara serentak, cara ini dilakukan untuk pokok-pokok bahsan yang
praktis dan tidak terlalu banyak kaitannya dengan masalah-masalah lainnya (fokus terhadap suatu permasalahan ).24
23
Jadi kesimpulan metode dakwah adalah suatu cara bagaimana
menyampaikan dakwah sehingga sasaran dakwah atau mad`u mudah
mencerna, memahami, meyakini terhadap materi yang disampaikan25
Adapun metode dalam melaksanakan dakwah tercantum dalam Al
Qur`an surat An-Nahl ayat 125:
☺
☺
☺
☺
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. an-Nahl : 125)
4. Materi Dakwah
Materi dakwah tidak lain adalah Islam yang bersumber dari
al-Qur`an dan al-Hadist sebagai sumber utama yang meliputi aqidah, syari`ah
dan akhlak dengan berbagai macam cabang ilmu yang diperoleh darinya.26
Al-Qur`an adalah sumber ajaran Islam yaitu wahyu Allah yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad. Wahyu Allah itu diturunkan dalam
24
Slamet Muhaemin Abda, Prinsip-Prinsip Metodologi Dakwah, (Surabaya, Usaha Nasional, 1994), Cet. ke-1, hal. 80-87
25
Imam Zaidillah Al-wisral, Stategi Dakwah, (Jakarta, Kalam mulia, 2002), Cet. ke-1, hal. 71
26
bahasa Arab dan secara otentik terhimpun dalam mushaf al-Qur`an.
Sedangkan Hadist atau as-Sunnah ditinjau dari segi bahasa berarti cara, jalan,
kebiasaan, dan tradisi. Kebiasaan dan tradisi mencakup yang baik dan buruk.
Kata as-Sunnah di dalam al-Qur`an diulang 16 kali pada 11 surat. Makna
Sunnah secara etimologi menurut Muhammad Ajaj Al-Khatib identik dengan
Al-Hadist, yaitu berupa ucapan, perbuatan atau ketetapan yang disandarkan
kepada NAbi Muhammad. Sunnah merupakan salah satu nama dari dalil-dalil
hukum. Apabila suatu hukum ditetapkan bedasarkan hukum tersebut iaalah
keterangan dari Nabi Muhammad, baik ucapan, perbuatan maupun
ketetapan.27
Menurut M. Syafaat Habib materi dakwah adalah seluruh ajaran agama
Islam secara kaffah, tidak dipotong-potong. Ajaran Islam telah tertuang dalam
Al-Qur`an dan Assunah, sedangkan perkembanganya dikemudian akan
mencakup kultur Islam.28
Menurut penulis semua aspek kehidupan manusia dapat dijadikan
meteri dalam berdakwah, baik dari segi agama, sosial, ekonomi, budaya
bahkan politik. Akan tetapi harus tetap beracuan kepada Qur`an dan
al-Hadist
5. Media Dakwah
Bila dilihat dari asal katanya, media berasal dari bahasa Latin yaitu
Medium yang artinya alat perantara, sedangkan pengertian istilahnya media
27
Srijanti, Purwanto S.K, Wahyudi Pramono, Etika Membagun Masyarakat Islam Modern, (Yogyakarta, Graha Ilmu, 2007) Cet. ke-2, hal. 37
28
mempunyai arti segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alat perantara
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.29
Dakwah dapat didefinisikan sebagai penyebarluasan ajaran atau
paham, dan media merupakan alat penyebaran itu. Jadi media dakwah adalah
alat penyebaran ajaran atau paham. Maka, pengemasannya pun harus
benar-benar bisa diterima mad`u yang notabene memiliki banyak pilihan untuk
memilih media mana yang selayaknya dikonsumsi. Dalam artian, media
dakwah harus bisa sedemikian mungkin untuk menarik simpati pasarnya,
dengan tentunya tidak melepaskan visi dan misinya sebagai media dakwah.
Dalam proses melakukan dakwah ada beberapa komponen yang tak
bisa dipisahkan, salah satunya adalah penggunaan media sebagai alat untuk
melakukan aktivitas dakwah. Media dakwah adalah peralatan yang
dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah, pada zaman modern
umpamanya : televisi, video, kaset rekaman, majalah, surat kabar.30
Untuk mencapai sasaran dakwah yang tepat dan memperoleh tujuan
yang dikehendaki maka dakwah sudah barang tentu memerlukan alat dan
sarana sebagai agen pelayanan masyarakat yang mencakup seluruh segi
kehidupan manusia atau masyarakat, alat dan sarana tersebut adalah media
dakwah. Media merupakan segala sesuatu yang membantu juru dakwah dalam
menyampaikan dakwahnya secara efektif dan efesien.31
29
Amuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah, (Surabaya Islam, Al-Iklas, 1999), hal. 163
30
Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 35
31
Sebenarnya media dakwah tidak hanya berperan sebagai alat Bantu
dakwah, namun apabila ditinjau lebih lanhut media dakwah adalah salah satu
faktor penting dalam mencapai tujuan dakwah.
6. Tujuan Dakwah
Tujuan dilaksankannya dakwah adalah untuk mengajak manusia
kejalan Tuhan yang benar, yaitu Islam. Dakwah adalah usaha atau kegiatan
yang bertujuan, suatu kegiatan tidak akan bermakna jika tanpa arah tujuan
yang jelas. Tujuan dakwah Islam antara lain adalah mengubah pandangan
hidup seseorang. dari perubahan pandangan hidup ini akan berubah pula pola
pikir dan pola sikap.32
Menurut Sayyid Quthub Pada dasarnya tujuan dakwah adalah untuk
mewujudkan kesejahteraan dan kebahagian bagi umat manusia baik dalm
kehidupan maupun dunia akhirat kelak. Akan tetapi kebahagian tentu tidak
dapat dicapai apabila terjadi berbagai kerusakan di tengah-tengah masyarakat,
baik berupa kedzholiman, kemunkaran, dan berbagai tindak kejahatan lainnya.
Kebahagiaan juga tidak dapat dicapai apabila sebagian anggota masyarakat
merampas hak-hak anggota masyarakat lainya dengan menuhankan diri dan
memperbudak orang lain. Maka dari itu tujuan dakwah yang sesungguhnya
adalah hal-hal yang mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan umat
manusia.33
Allah SWT berfirman :
32
Rafiudin dan Maman Abdul Jalil, Prinsip dan Strategi Dakwah, (Bandung, CV. Pustaka Setia. 2001), Cet. ke-2, hal. 32
33
☺
☺
☺
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.
C. Hukum Dakwah
Hukum ada dalam masyarakat sejak manusia itu ada di atas muka bumi
ini. Masyarakat terbentuk apabila ada dua orang atau lebih untuk hidup
bersama. oleh karena itu, hukum ada dan diprlukan keberadaannya sejak
adanya manusia itu sendiri dan paling tidak, sejak adanya dua manusia untuk
hidup bersama. Demikian juga dengan dakwah. Dakwah ada dan diperlukan
keberadaannya sejak manusia itu ada. bahkan ada yang mengatakan, dakwah
itu ada sejak manusia hidup di dalam surga (Nabi Adam dan Siti hawa), dan
terus berkembang sampai saat dimana manusia berada di muka bumi. Dengan
demikian dakwah itu ada dan dilakukan, sejak adanya manusia.34
Allah SWT berfirman tentang dakwah dalam Al-Qur`an berbunyi :
☺
⌧
☺
34
☺
⌧
Artinya : ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik ”.(QSAl-Imran : 110)
Dakwah merupakan tugas yang mulia, karna dakwah tidak lain utuk
menujukan manusia kepada kebaikan dan menggiring mereka untuk bersatu
dalam satu kalimat tauhid. mengajak mereka untuk menghadapi kedzaliman
dan kejahilan. tak ada suatu perbuatan yang paling mulia selain berdakwah.
rosulullah SAW bersabda “balligu anni wallau ayyah”.
Pada dasarnya ulama sepakat bahwa dakwah Islam itu wajib
hukumnya akan tetapi wajibnya ada yang berpendapat wajib `ain, artinya
seluruh umat Islam dalam kedudukan apapun tanpa kecuali wajib
melaksanakan dakwah, dan ada pula yang berpendapat wajib kifayah, artinya
dakwah itu hanya diwajibkan atas sebagian umat Islam yang mengerti saja
seluk-beluk agama Islam.35
B. Politik
1. Pengertian Politik
Kata politik berasal dari kata politic (Inggris) yang menunjukkan
sifat pribadi atau perbuatan, kata ini terambil dari kata latin politicus dan
35
Kata politik dalam bahasa Arab adalah as-syiasah (ﺔ ﺎ ا) merupakan masdar dari kat sas - yasusu (سﻮ ﺎ -سﺎ ), dan ini merupakan kosa kata bahasa Arab asli.37
Politic kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan tiga arti, yaitu :
Segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya)
mengenai pemerintahan sesuatu Negara atau terhadap Negara lain, tipu
muslihat atau kelicikan, dan juga dipergunakan sebagai nama bagi sebuah
disiplin pengetahuan, yaitu ilmu politik.38
Sebagai istilah “politik” pertama kali dikenal melalui buku Plato yang
berjudul Politeia yang juga dikenal dengan Republik.39
Menurut Salim Ali Al-Bahsanawi politik adalah cara dan upaya
menangani masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk
mewujudkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi
kepentingan manusia.40
Sedangkan menurut Deliar Noor, Politik merupakan segala aktivitas atau
sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan juga bermaksud untuk
36
Abd. Mu`in Salim, FIQH SIYASAH “Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam Al quran”,
(Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 1995) Cet. ke-2, hal. 34 37
Yusuf al-Qordowi, Pedoman Bernegara dalam Perspektif Islam, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1999), hal 35
38
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1983), hal 763
39
Delian Noer, Pemikiran Politik di Negeri Barat, (Jakarta, Rajawali, 1982), hal. 11 40
mempengaruhi, dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu macam bentuk
susunan masyarakat.41
Dengan demikian politik pada dasarnya memiliki sedikitnya dua
kecenderungan pendefinisian yaitu, pandangan yang mengkaitkan politik dengan
orang banyak baik dalam satu bangsa atau negara, dan pandangan politik dengan
masalah kekuasaan, otoritas atau dengan konflik.42
2. Perspektif Islam Tentang Politik
Berbicara tentang Islam dan politik, keduanya hingga saat ini tetap
merupakan topik yang hangat untuk diperbincangkan, sejalan dengan
pandangan yang sangat dikenal para ahli Islam. menurut Nurcholis Madjid,
Islam merupakan sistem-sistem kehidupan yang lengkap. Islam merupakan
din (agama) dan sekaligus dawlah (negara).43
Islam adalah agama yang komprehensif (mengandung pengertian yang
luas dan menyeluruh) didalamya terdapat sistem politik, sistem ekonomi,
sistem sosial dan sebagainya. dapat dilihat dari segi sejarah Nabi dan Rosul,
tidak satu pun yang diutus Allah SWT melainkan untuk berdakwah, dan
berdakwah itu mencakup berbagai aspek termasuk politik didalamnya. karena
itu politik tak bisa dipisahkan dari dakwah itu sendiri.
Agama Islam sejak kemunculanya di Mekah tahun 611 M dan
disebarkan oleh Nabi Muhammad sudah harus bersentuhan dengan kekuasaan
politik. Ajaran tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad membawa dampak
41
Deliar Noor, Pengantar ke Pemikiran Politik, (Jakarta, CV. Rajawali, 1982), hal. 194 42
Jeje Abdul Rozak, Politik Kenegaraan al-Ghazali dan Ibnu Tamiyah, (Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1999), hal. 49
43
sosial, budaya dan politik, karena menawarkan agama tauhid, persamaan
derajat manusia dan keadilan, kepada masyarakat jahiliyah yang sudah
memiliki kepercayaan menyembah banyak dewa, memberlakukan perbedaan
status manusia dan penumpukan harta pribadi.44
Dalam Islam politik pertama kali dilakukan oleh para nabi yang diutus
Allah SWT sebagai contoh yang dialami Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman
AS yang dikenal sebagai raja. Dan juga ketika Nabi Muhammad SAW sebagai
Rasullulah mendirikan dan memimpin Negara Madinah.
Sedangkan hukum dakwah dalam kaitannya dengan politik dapat
dikategorikan kedalam hukum dakwah yang bersifat kifayah sebab tidak
semua orang yang memiliki kemampuan dalam bidang politik.
Politik yang dalam Islam disebut siyasah bermakna mengatur urusan
umat, yang dilaksanakan oleh Negara (pemerintah) maupun umat. Dalam
al-Qur`an tidak tertulis secara tekstual mengenai kata siyasah, namun dalam surat
keempat yaitu surat an-Nisaa ayat ke 58-59 membahas tentang menyerahkan
amanat dan penghormatan kepada pemimpin.
Allah SWT Berfirman :
⌧
☺
☺
⌧
☺
⌧
44
⌧
⌧
Artinya :“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.an-Anisaa :58) “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.an-Anisaa :59)
Dua ayat di atas yaitu ayat 58 dan 59 dalam surat an-Nisaa adalah
dasar yang diturunkan oleh Allah SWT dengan wahyu sebagai pokok pertama
di dalam mendirikan sesuatu kekuasaan, atau sesuatu pemerintahan, sekaligus
untuk menaati pemimpin yang memimpin umat.
Yang pertama ialah menyerahkan amanat umat kepada ahlinya.
maksudnya hendaklah seluruh pelaksana pemerintahan atau seluruh aparat
pemerintah diberikan kepada orang yang bisa memegang amanat, dan orang
yang ahli pada bidangnya. Yang kedua adalah perintah untuk menaati Allah
dengan hukum Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur`an dan al-Hadist yang
menjadi petunjuk hidup umat Islam.45
Salah satu contoh pada waktu Fathul Makkah (Pembukaan kota Makkah) nabi Muhammad Saw menyerahkan kunci Ka`bah kepada seseorang dari Bani
Syaibah, agar mampu menjalankan sebagai Siqaayatul Hajji (pemberi air minum orang-orang yang sedang menjalankan ibadah haji) dan sebagai Sadaanatul Bait (perawat Baitul Haram, penjaga pintu masuk dan sebagai pengantar masuk). Dan
karena Abbas (paman Rosululah SAW) juga memintanya, maka turunlah ayat yang
berorientasi pada kebijaksanaan politik berdasarkan syari`at Islam (yang dituangkan
dalam surat An Nisa ayat 58-59). Mengacu kepada kedua ayat tersebut, maka
wajiblah bagi waliyul amri untuk mengangkat seseorang yang paling superior (ahli dibidangnya) untuk mengurusi suatu urusan kaum Muslimin.46
Rosulullah SAW bersabda :
ىورو ﻮ أ ةﺮ ﺮه ﺪ ا : نأ ا لﺎ : ﺎ إ ﻮه عرد ﺪﺋﺎ ، سﺎ او موﺎ ءﻮ او ﻪ ﺎ ﺪ ﺪ ا ﻰ إ ﷲا ﺰ و او ﻰ إ ﺪ ﺎ ، فﻮ ﻓ ﻰ ةﺄﻓﺎﻜ . ﻜ ﺎ ﺪ ﻜ ﻓ ناﺪ ىﺮﺧأ ، فﻮ ﻰ ﺔ . ) ( Artinya :
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw. beliau bersabda: Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya. (Shahih Muslim No.3428)
.
3. Keterkaitan Dakwah dan Politik
45
Hamka, Tafsir Al-Azhar : Juz` V, (Jakarta, PT Pustaka Panjimas, 1983), hal : 136 46
Dakwah dan politik adalah dunia yang terkadang menampilkan
wajah dan perspektif berbeda. Politik adalah dunia yang berhubungan erat
dengan kekuasaan dan persoalan mengelola negara oleh karena itu politik
cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh tujuan politiknya
dan tidak terlalu memperdulikan efek yang akan terjadi.
Berbeda dengan politik yang bersifat duniawi, dakwah bersifat
lebih sakral. Dakwah menjadi semacam media untuk mensosialisasikan
ajaran-ajaran dan ide yang berkembang dalam Islam.
Dakwah di bidang politik adalah ajakan mengembalikan tata cara
pengurusan masyarakat kedalam suasana yang teduh dan Islami. Inilah
panggilan yang sesuai dengan fitrah manusia dimanapun dia berada. Tidak
ada manusia di dunia ini yang tidak diciptakan Allah SWT dan tidak
satupun mahluk manusia yang tidak akan kembali kepada Allah SWT. Jadi
wajarlah bahwa manusia yang berakal menghormati aturan pencipta-Nya
dan kepada siapa dia kembali.
C. Pemikiran dan Kiprah 1. Pengertian Pemikiran
Menurut WJS Purwodarminta pemikiran berarti abstraksi
seseorang terhadap sesuatu atau lebih jauh lagi pemikiran diartikan sebagai
konsepsi, pandangan, nalar akal sesorang atas suatu hal.47
47
Menurut penulis pemikiran adalah buah karya tertinggi manusia
yang diberikan sang pencipta, manusia adalah mahluk paling sempurna
yang Allah ciptakan, yang membedakan manusia dengan mahluk Allah
lainnya adalah manusia dikaruniakan akal pikiran. Pemikiran merupakan
buah aktivitas berfikir yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Selama kesadaran terjadi, selama itu pula aktivitas berfikir berlangsung.
Sesuai dengan potensi yang telah Allah berikan kepada manusia maka
konsekuensi logisnya adalah manusia harus memanfaatkan dan
mengembangkannya semaksimal mungkin.
2. Pengertian Kiprah
Kata kiprah berasal dari gerakan cepat dan dinamis tarian Jawa
dalam pertunjukan wayang orang dan sebagainya (biasanya ditarikan oleh
seorang laki-laki). Pada perkembangannya ‘kiprah’ bisa berarti derap
kegiatan. Berkiprah sebagai kata kerja berarti melakukan kegiatan dengan
semangat tinggi, bergerak (di bidang), berusaha giat dalam bidang (politik,
kesenian dan lain lain).48
Sedangkan menurut WJS Purwodarminta dalam kamus umum
Bahasa Indonesia kata kiprah diartikan sebagai, tindakan, aktifitas,
kemampuan kerja, reaksi, cara pandang seorang terhadap ideologi atau
institusinya.49
48
http://www.bahasakita.com/updates/kiprah dikutip pada 14\03\2010 49
Kiprah merupakan suatu peranan yang dilakukan oleh seseorang
dalam suatu aktivitas, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
secara bahasa berkiprah adalah derap kegiatan sedangkan berkiprah adalah
melakukan kegiatan atau berpartisipasi dengan semangat tinggi, bergerak
atau berusaha di sebuah bidang.50
Menurut penulis berkiprah tidak jauh berbeda dengan beraktivitas
hanya saja berkiprah lebih menonjolkan sisi eksistensi seseorang dalam
beraktivitas. Sedangkan aktivitas adalah kebiasaan atau rutinitas yang
biasa dilakukan manusia. Sedangkan pengertian kiprah dalam dakwah
yaitu melakukan dakwah atau berpartisipasi dalam kegiatan dakwah secara
berkelanjutan.
50
PROFIL K.H MAHRUS AMIN
A. Riwayat Hidup
1. Latar Belakang Keluarga
K.H Mahrus Amin dilahirkan di desa Kali Buntu, Ciledug, Cirebon pada tanggal 14 Februari 1940. Nama lengkap beliau adalah Mahcrus Amin. Orang tua, saudara dan teman-temannya memanggil beliau Mahrus. Beliau dilahirkan dalam keluarga terpandang. Ayahnya bernama Casim Jasim Ahmad Amin, yang menjabat sebagai seorang Kuwu (setingkat lurah). Dalam catatan silsilah keluarga K.H. Mahrus Amin merupakan salah satu keturunan anak cucu Syarif Hidayatullah, tokoh Islam di Jawa Barat pada masa lalu. Ayahnya juga adalah salah seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang tergabung dalam Laskar Hizbullah di Jawa Barat. Ibunya bernama Hj. Jamilah binti H. Muharom yang berasal dari Cirebon. Ibunya adalah cucu kyai Idris seorang ulama pimpinan pondok pesantren Lumpur di daerah Lumpur Brebes. Bersama Kyai Ismail yang dikenal sebagai ahli hikmah dan juga saudaranya kyai Idris, Keduanya adalah ulama yang berpengaruh di kawasan Losari.1
Pada usia 26 tahun beliau menikahi seorang wanita bernama Hj. Sumiyati pada tanggal 1 Oktober 1965. hingga saat ini beliau telah di
1
K.H Mahrus Amin, Dakwah Melalui Pondok Pesantren, (Jakarta, Penerbit Grup DANA, 2008), hal. 3
karuniai 4 orang anak dan 12 cucu.2 Anak-anak beliau pun bersama para menantunya ikut meneruskan cita-cita sang ayah yaitu, putri sulung beliau Hj. Emah Maziyah yang bersuamikan H. Drs. Mustafa Hadi Chirzin yang merupakan pimpinan pondok pesantren Al-Mansur Serang, Banten. Putri ke dua beliau Hj. Nana Rosdiana yang bersuamikan H.M Agus Abdul Ghofur yang merupakan pimpinan pondok pesantren Madinnatunnajah Jombang, Tangerang Selatan. Putri ke tiga beliau Diah Nadiah B.Hsc yang bersuamikan H. Mardhani Zuhri MA. yang merupakan Kepala Biro Kemasyarakatan pondok pesantren Darunnajah Jakarta. Dan yang terakhir adalah putra beliau Ahmad Najih.3
2. Latar Belakang Pendidikan
Masa revolusi kemerdekaan sangatlah membekas di benak beliau. Pada Usia 8 tahun beliau terpaksa berhenti sekolah karena agresi militer Belanda. Setelah belanda ditarik mundur, orang tuanya memasukkan beliau ke Madrasah Ibtidaiyah di Losari, Brebes. Beliau melanjutkan pendidikannya yang terbengkalai selama setahun karena perang. Saat revolusi berkecamuk, beliau sudah duduk di bangku kelas 3 Sekolah Rakyat Islam (SRI) di Kalimukti. Perang membuat perekonomian keluarga beliau ambruk dan harus memulai lagi dari nol. Dalam kondisi serba kekurangan setelah perang, beliau harus rela berjalan kaki sejauh 7
2
Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, Kyai Entrepreneur “Social Entrepreneurship Berbasis Nilai-Nilai Agama”, (Jakarta, Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, 2010), hal. 56
3
kilometer untuk berangkat sekolah melintasi perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, pada tahun 1953 beliau lulus dan berniat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ayah dan ibu beliau mendorongnya agar bersekolah lagi, untuk meneruskan tradisi keluarga menjadi guru dan panutan bagi masyarakat.4
Sekolah Guru Bantu (SGB) adalah tujuan beliau berikutnya, sekolah ini mempersiapkan siswanya menjadi guru pemula. Jenjang berikutnya dari SGB (Sekolah Guru Bantu) adalah SGA (Sekolah Guru Atas). Artinya dengan berbekal ijazah SLTA pun seseorang bisa menjadi guru. Tetapi pada masa Orde Baru sekolah ini dihapus. Rupanya nasib baik tidak berpihak kepada beliau, usaha masuk SGB tidak berhasil. Atas saran orang tua dan guru-guru di madrasah, beliau mendaftar ke Pondok Modern Gontor di Ponorogo. Beliau tidak sendirian ke sana, ada 7 orang teman dari sekolahnya yang mendaftar. Di kemudian hari, hanya beliau seorang yang menyelesaikan janjang KMI (Kuliyatul Mualimin Al Islamiyah) selama 6 tahun pada Tahun 1961. KMI adalah sistem pendidikan Gontor yang menggabungkan tingkat tsanawiyah dan aliyah (setingkat SLTP dan SLTA) dalam satu paket.
Menjelang akhir masa pendidikan di Gontor, beliau belum menentukan pilihan. Setelah itu ia meminta saran Prof. Tohir Abdul Muin, guru besar IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, yang juga adalah paman beliau. Kemudian pamannya menyarankan agar ia tinggal di kota besar
4
seperti Jakarta atau Surabaya setelah lulus dari Gontor. Setelah tamat beliau mendapatkan izin untuk tidak perlu mengajar di Gontor. Kebetulan saat masih di Gontor beliau ditawari bergabung dan berkerja oleh Hasim Munif salah seorang alumni Gontor di Jakarta. Beliau berhijrah ke Jakarta untuk mengajar di sebuah lembaga pendidikan yaitu Madrasah Darunnajah Petukangan dan melanjutkan Pendidikannya di Fakultas Ushuludin Jurusan Dakwah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) hingga tamat tahun 1972.5
Setelah tamat dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Beliau mendapatkan kesempatan menjadi dosen untuk mengajar di almamaternya, Fakultas Ushuludin, tapi beliau hanya mengajar sebentar saja. Beliau mengundurkan diri menjadi dosen dan memilih jalur lain, setelah menikahi Hj. Sumiyati yang merupakan putri dari H. Manaf Muhayar salah satu pendiri Darunnajah, beliau lebih memilih untuk berkonsentrasi pada pembinaan dan pengelolaan pondok pesantren yang didirikannya hingga sekarang.6
3. Latar Belakang Organisasi
Sejak kecil beliau telah aktif berorganisasi di mulai dari tingkat Sekolah Dasar beliau yang turut bergabung dengan Laskar Hizbullah sebagai pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Ketika di pondok
5
Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, Kyai Entrepreneur “Social Entrepreneurship Berbasis Nilai-Nilai Agama”, (Jakarta, Panitia Tasyakuran 70 K.H. Mahrus Amin, 2010), hal. 17
6
pesantren Gontor, ia aktif sebagai pengurus organisasi Gontor sebagai bagian penerangan. Selain itu ia juga aktif di pengurus santri konsulat Jawa Barat dan juga atif di kegiatan kepanduan (sekarang Pramuka). Bahkan ketika melanjutkan studinya di IAIN Syarif Hidayattullah Jakarta, ia pun aktif di MenWa (Resimen Mahasiswa) dan Juga HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)7.
Saat ini beliau tidak hanya berorganisasi melalui lembaga yang didirikannya dan organisasi kepemudaan ia juga aktif di beberapa organisasi di antaranya Ketua Forum Umat Islam, Ketua Umum BKsPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia), Ketua Umum GNC WAKAF dan ZIS (Gerakan Nasional Cinta Wakaf, Zakat, Infaq dan Shodaqoh), Ketua Umum Forum Islamic Center Indonesia, Pengurus Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin), Anggota Dewan Penasehat MUI (Majelis Ulama Indonesia) DKI, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang dan lain-lain.8
Dengan demikian beliau dapat dikatakan sebagai seorang aktivis organisasi, baik semasa sekolah hingga saat ini.
B. Karya-Karya K.H Mahrus Amin
Sebagai seorang kyai K.H Mahrus Amin tidak hanya mampu berdakwah secara lisan dan kiprah saja akan tetapi juga dengan karya tulisnya, meski tak banyak, diantaranya :
7
K.H. Mahrus Amin, Wawancara Pribadi, Jakarta tanggal 19 Maret 2010 di Kediaman beliau (Ulujami)
8
1. Dakwah Melalui Pondok Pesantren
Buku ini adalah kumpulan pengalaman pribadi K.H Mahrus Amin selama merintis dan memimpin Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami dari tahun 1961-sekarang. Pesan dan pelajaran dari perjuangan beliau membangun jaringan pesantren layak dirujuk oleh siapa saja yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan dakwah keislaman.9
2. Pembinaan Kader Bangsa dan Umat Melalui Gerakan Pramuka Santri Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya pendidikan Pramuka sangatlah berguna untuk anak-anak dan remaja Indonesia, karena di dalamnya terdapat pembekalan sikap kedisiplinan, ketegasan, kemandirian, kesosialan, pengabdian, dan tanggung jawab. Ini semua guna membentuk jatidiri dan meningkatkan kader-kader bangsa dan umat di Indonesia. Gerakan Pramuka tidaklah asing lagi bagi pondok pesantren. Gerakan Pramuka telah lama berkembang di kalangan pondok pesantren, dilaksanakan diseluruh jenjang pendidikan dari tingkat dasar, menegah dan tinggi. Kiprah beliau dalam kepramukaan, pada tahun 2007 K.H. Marus Amin mendapat penghargaan MELATI dari kwartir Nasional dan tahun 2009 mendapat penghargaan dari Departemen Agama sebagai tokoh Revitalisasi gerakan Pramuka di Pondok pesantren.10
3. Buku Pedoman Santri Bela Negara Kader Pemersatu Bangsa Pembela Umat
9
K.H Mahrus Amin, Dakwah Melalui Pondok Pesantren, (Jakarta, Penerbit Grup DANA, 2008)
10
Buku ini adalah hasil renungan dan pengamatan K.H. Mahrus Amin terhadap kondisi riil umat Islam di Indonesia khususnya di kalangan pesantren. Menurut pengamatan beliau kegiatan pengkaderan di kalangan umat terutama dalam bela Negara kurang diterapkan secara sistematis dan menyeluruh. Kondisi ini berbeda dengan situasi di awal masa kemerdekaan di mana banyak munculnya laskar pejuang dan sukalerawan. Padahal ancaman terhadap kedaulatan Negara tidak pernah surut. Sebagai Negara kepulauan, Indonesia amat rentan dengan penyusupan oleh pihak-pihak asing terlebih garis perbatasan Indonesia amat panjang dan berbatasan dengan 10 negara. Demikian juga di lingkungan tempat tinggal kita, ancaman budaya dan penyakit sosial juga menjadi alasan perlunya digiatkan kegiatan pengkaderan ini. Krimnialitas, pergaulan bebas, peredaran narkotika dan ideologi-ideologi sesat lainnya adalah ancaman nyata terhadap generasi muda khususnya dan masa depan bangsa dan Negara Indonesia pada umumnya.11
4. Kumpulan Doa-doa Amaliah
Buku ini merupakan pedoman doa-doa khusus dan harian, serta surat-surat pendek dari Juz`Amma (Juz ke 30 Dalam Al Qur`an). Buku ini merupakan pedoman doa-doa dari buku ibadah amaliah yang sangat dianjurkan oleh setiap santri/santriwati Pondok Pesantren Darunnajah dan seluruh cabang/binaannya. Dimaksudkan agar ada keseragaman antara guru pembimbing dengan muridnya.12
11
K.H. Mahrus Amin, Buku Pedoman Santri Bela Negara Kader Pemersatu Bangsa Pembela Umat, (Jakarta, Pen