KARYA AKHIR
RANCANG BANGUN DAN ANALISA PERPINDAHAN
PANAS PADA KETEL UAP BERTENAGA LISTRIK
M.KELANA PUTRA.S 035202063
KARYA AKHIR YANG DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU SYARAT MEMPEROLEH
IJAZAH SARJANA SAINS TERAPAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI MEKANIK INDUSTRI
PROGRAM DIPLOMA-IV FAKULTAS TEKNIK
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan karya akhir ini dengan judul “RANCANG BANGUN DAN ANALISA
PERPINDAHAN PANAS PADA KETEL UAP BERTENAGA LISTRIK”.
Penyusunan laporan Karya Akhir ini dilakukan guna untuk menyelesaikan
Study di Prog. Studi Teknologi Mekanik Industri Universitas Sumatera Utara,
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan.
Dalam kegiatan penulis untuk menyelesaikan Karya Akhir ini, penulis
telah banyak mendapat bantuan berupa bimbingan, arahan dan saran dari berbagai
pihak. Untuk itu maka dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Ir.Mulfi Hazwi,Msc sebagai Dosen Pembimbing penulis
2. Bapak Ir. Alfian Hamsi, Msc, selaku Ketua Program Studi Teknologi
Mekanik Industri Program Diploma-IV, FT-USU.
3. Bapak Tulus Burhanudin S, ST, MT selaku Seketaris Program Studi
Teknologi Mekanik Industri Program Diploma-IV, FT-USU.
4. Seluruh Staf Pengajar Departemen Teknik Mesin Universitas Sumatera
Utara.
5. Pegawai Departemen Teknik Mesin kak Is, kak Sonta, bang Syawal, bang
Izhar Fauzi, bang Yono, bang Rustam dan bang Marlon.
6. Staf Laboratorium Motor Bakar Departemen Teknik Mesin bang Supriatin
8. Rekan-rekan mahasiswa di Program Studi Teknologi Mekanik Industri,
Program Diploma-IV, FT. USU stambuk ‘ 03 yang telah memberi
dukungan dan motivasi dalam penyelesaian karya akhir ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna adanya,
karena masih banyak kekurangan baik dari segi ilmu maupun susunan bahasanya.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi
menyempurnakan laporan ini.
Akhir kata bantuan dan budi baik yang telah penulis dapatkan,
menghaturkan terima kasih dan hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat
memberikan limpahan berkat yang setimpal. Semoga laporan ini dapat bermanfaat
bagi kita semua dan bagi penulis sendiri tentunya.
Medan, Oktober 2007 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR GAMBAR... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR NOTASI... vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 3
1.3. Sistematika Penulisan ... 3
1.4. Batasan Masalah ... 4
1.5 Metode konstruksi... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Ketel Bertenaga Listrik (Electric Boiler)... 5
2.2. Klasifikasi Ketel... 5
2.3. Susunan Umum dari Ketel ... 10
2.4 Dasar – dasar Perhitungan Kekuatan Konstruksi... 12
2.4.1 Perhitungan Tebal Dinding Plat... 12
2.4.2 Perhitungan Kekuatan Baut dan Mur... 13
2.5 Perpindahan Kalor dalam Instalasi Uap... 15
2.5.1 Perpindahan Kalor Konveksi... 15
2.6 Konduktivitas Termal ... 21
BAB III PERHITUNGAN KEKUATAN KONSTRUKSI KETEL BERTENAGA LISTRIK (ELECTRIC BOILER) 3.1. Perhitungan Tekanan Kerja Pada Dinding Ketel ... 23
3.2 Perhitungan Kekuatan Baut ... 23
3.3 Perhitungan Kekuatan Tabung Penyimpan Uap ... 24
BAB IV ANALISA PERPINDAHAN PANAS 4.1 Laju Pindahan Panas Secara Konveksi ... 25
4.1.1 Laju Pindahan Panas Pada Elemen Pemanas... 26
4.1.2 Laju Pindahan Panas Pada Silinder Luar... 26
4.2 Laju Pindahan Panas Secara Konduksi dinding Ketel... 32
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 36
5.2 Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA... 38
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Ketel lokomotif dan loko mobile ... 6
Gambar 2.2 Ketel B dan W ... 7
Gambar 2.3 Ketel Scotch. ... 8
Gambar 2.4 Ketel Benson ... 9
Gambar 2.5 Air yang tidak bersirkulasi ... 11
Gambar 2.6 Alat penimbang ... 13
Gambar 2.7 Perpindahan Kalor Konveksi dari Suatu Plat... 16
Gambar 2.8 Aliran kalor Satu Dimensi melalui Silinder Bolong dan Anologi listriknya ... 20
Gambar 2.9 Aliran Kalor Satu Imensi Melalui Penampang Silinder dan Anologi ... 21
Gambar 4.1 Photo Termometer Infrared... 25
Gambar 4.2 Grafik Pindahan Panas Konveksi Untuk Tiap Volume Air ... 31
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Nilai Kira – kira Koefesien Perpindahan Kalor Konveksi ... 17
Tabel 2.2 Konduktivitas Termal. ... 24
Tabel 4.1 Tempetur Panas Dinding Ketel... 27
Tabel 4.2 Data Hasil Perhitungan Pindahan Panas Secara Konveksi Pada
Dinding Ketel ... 29
Tabel 4.3 Data Hasil Perhitungan Pindahan Panas Konduksi Pada Dinding
DAFTAR NOTASI
Lambang Keterangan Satuan
hsat Enthalpi uap saturasi kJ/kg
X Fraksi uap
ha Enthalpi air permulaan kJ/kg
L Panas laten kJ/kg
sup
h Enthalpi uap super heater kJ/kg
Cp Panas jenis uap rata-rata kJ/kg ºC
sup
t Temperatur uap superheater ºC
sat
t Temperatur uap saturasi ºC
sl Entropi selama penguapan kJ / kg ºC
k
Effesiensi ketel %
mu Massa uap kg
mf Massa bahan bakar kg
W Energi listrik J
V Beda potensial Volt
I Kuat arus Ampere
t Waktu sekon
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Uap (steam) dalam pembicaraan selanjutnya dimaksudkan uap air yaitu
uap yang timbul akibat perubahan fase air (cair) menjadi uap dengan cara
pendidihan (boiling). Untuk melakukan proses pendidihan diperlukan energi
panas yang diperoleh dari sumber panas , misalnya dari pembakaran bahan bakar
(padat, cair, dan gas) tenaga listrik dan gas panas sebagai sisa proses kimia serta
tenaga nuklir.
Penguapan bisa saja terjadi disembarang tempat dan waktu pada tekanan
normal , bila diatas permukaan zat cair tekanan turun dibawah tekanan mutlak.
Uap yang dihasilkan dengan cara demikian tidak mempunyai energi potensial,
jadi tidak dapat digunakan sebagai sumber energi.
Sudah beribu-ribu tahuan manusia bersahabat dengan uap air, yaitu
semenjak manusia melakukan pekerjaan merebus ( boiling ), tetapi hanya baru
dua abad ini mereka baru menemui bagaimana untuk mempergunakan uap bagi
kepentingan mereka.
Para insinyur Yunani dan romawi telah mempunyai pengetahuan menarik
tentang sifat-sifat uap dan air panas, tetapi tidak mencoba untuk memakai ilmunya
tersebut. Hero dari Iskandar dengan Whirling aeolipyle mengembangkan prinsip
turbin reaksi dan mesin jet sekarang dalam bentuk sederhana, tetapi pada waktu
Tahun 1606 Giovanni Battista Della Porta merencanakan dua buah
laboratorium percobaan yang memperlihatkan tenaga uap dan sistem kondensasi.
Ketel sangat diperlukan di semua industri, baik industri kimia, tekstil
maupun industri mekanik lainnya, serta merupakan alat utama pada pembangkit
tenaga listrik (PLTU) juga merupakan kebutuhan di rumah-rumah sakit,
perhotelan, dan dikalangan transportasi laut (pada kapal laut).
Dengan melihat kenyataan yang ada, bahwa pemilihan teknologi tepat
guna, maka didalam penggunaan /pemakaian ketel, setiap pengoprasian dari alat
tersebut harus melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada
undang-undang dan peraturannya serta standar yang ada untuk keselamatan kerjanya.
Ditinjau dari aspek keselamatan kerja, jadi jenis ketel listrik yang
dioperasikan akan menimbulkan bahaya yang tidak diinginkan seperti : peledakan,
bahaya kebakaran, ataupun yang sifatnya merugikan, maka perlu diawasi secara
terus menerus, mengingat peralatan yang dioperasikan tersebut dalam keadaan
aman serta tenaga kerja yang bekerja disekitarnya berhak mendapat perlindungan
dan terjaminnya terhadap keselamatan, untuk itu perlu dilakukan pengawasan dan
evaluasi terhadap alat yang bekerja secara preodik untuk mencegah bahaya yang
lebih besar lagi.
Suatau hal yang wajar apabila ketel tersebut mengalami suatu perubahan
terhadap penilaian kekuatan konstruksi setelah dioperasikan selama 15 tahun, hal
itu diakibatkan olah cara kerja dari ketel, sistem penggunaan/pengoperasiannya,
baik terhadap air pengisi ketel yang dipakai ataupun faktor pada perencanaan yang
I.2 Tujuan
Tujuan dari perencanaan konstruksi yaitu:
1. Mengetahui konstruksi sebuah ketel bertenaga listrik (Electric Boiler).
2. Mengetahui laju pindahan kalor yang terjadi
I.3 Sistematika Penulisan
Karya akhir ini dibagi menjadi beberapa bab dengan garis besar tiap bab
adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab ini berisikan latar belakang permasalahan, tujuan konstruksi, sistematika
susunan laporan, batasan masalah dan metode konstruksi.
Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab ini berisikan mengenai pengertian tentang ketel bertenaga listrik (Electric
Boiler), klasifikasi ketel, susunan umum dari ketel, dasar-dasar perhitungan
kekuatan kostruksi, perpindahan kalor dalam instalasi uap.
Bab III : Perhitungan Kekuatan Konstruksi Ketel Bertenaga Listrik (Electric Boiler)
Bab ini berisikan Perhitungan kekuatan konstruksi dari ketel dan material dari
ketel tersebut.
Bab IV : Analisa Perpindahan Panas
Bab ini membahas tentang laju perpindahan kalor pada ketel secara konduksi
dan konveksi.
Bab V : Kesimpulan
Daftar Pustaka
Daftar pustaka berisikan literatur yang digunakan untuk menyusun laporan.
Lampiran.
Segala data hasil survey, data pendukung rancangan serta beberapa lampiran
yang digunakan dalam penulisan Karya Akhir ini dilampirkan guna
memudahkan dalam mencari maupun sebagai bahan kajian berikutnya.
I.4 Batasan Masalah
Dalam penulisan karya akhir ini, pembahasan dibatasi sebagai berikut :
1. Konstruksi dari ketel
2. Perhitungan laju pindahan kalor pada ketel.
I.5 Metode konstruksi
Metode yang dilakukan dalam konstruksi yaitu dengan memilih bahan
material yang akan dipakai kemudian cara pembuatan dari ketel tersebut dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1 Pengertian Ketel Bertenaga Listrik (Electric Boiling)
Ketel ini adalah merupakan salah satu jenis dari pada ketel yang ditinjau
dari sumber panas (Heat Source) untuk pembuatan uap dengan menggunakan elemen pemanas.
Fungsi dari ketel pada umumnya untuk mengubah air menjadi uap, dimana
uap ini diperoleh dengan memberikan sejumlah kalor terhadap air yang
merupakan bahan bakarnya dengan perkataan lain merupakan pesawat konversi
energi yang mengkonversikan energi listrik dari elemen pemanas menjadi energi
panas (uap) yang selanjutnya dapat digunakan untuk kepentingan pada proses
industri (dapat digunakan sebagai pembangkit listrik melalui turbin dan dapat
dimamfaatkan untuk proses pengolahan pada suatu pabrik industri).
Ketel bertenaga listrik pada dasarnya terdiri dari suatu bejana bertekanan
dimana didalamnya terdapat rangkaian elemen-elemen pemanas yang dialiri oleh
arus listrik. Ketel bertenaga listrik ini merupakan pembangkit tenaga uap yang
sangat sederhana sekali, dan terbatas hanya untuk tekanan uap yang relatif rendah.
II. 2 Klasifikasi Ketel
Ketel pada dasarnya terdiri dari drum yang tertutup pada ujung
pangkalnya dan dalam perkembanganya dilengkapi dengan pipa api maupun pipa
air. Banyak orang mengklasifikasikan ketel uap tergantung kepada sudut pandang
Dalam hal ini ketel diklasifikasikan dalam kelas yaitu :
1. Berdasarkan fluida yang mengalir dalam pipa, maka ketel diklasifikasikan
sebagai :
a. Ketel pipa api (Fire tube boiler), fluida yang mengalir dalam pipa adalah gas nyala yang membawa energi panas yang segera
mentransfernya ke air ketel melalui bidang pemanas.
b. Ketel pipa air (Water tube boiler), fluida yang mengalir dalam pipa adalah air, energi panas ditransferkan dari luar pipa ke air ketel.
2. Berdasarkan pemakaiannya, ketel dapat diklasifikasikan sebagai :
a. Ketel Stasioner (stasionary boiler) yaitu ketel-ketel yang didudukan diatas pondasi yang tetap, seperti boiler untuk pembangkit tenaga,
industri dan lain-lain.
b. Ketel Mobil (Mobile boiler) yaitu ketel yang dipasang pada pondasi yang berpindah-pindah seperti boiler lokomotif dan loko mobil.
Gambar 2.1 ketel lokomotif dan loko mobile
a. Ketel dengan pembakaran dalam (internally fired steam boiler), kebanyakan ketel pipa api memakai sistem ini.
b. Ketel dengan pembakaran luar (outternally fired steam boiler), kebanyakan ketel pipa air memakai system ini.
4. Menurut jumlah lorong (boiler tube), ketel diklasifikasikan sebagai :
a. Ketel dengan lorong tunggal (single tube steam boiler). Pada ketel ini hanya terdapat satu lorong saja, apakah itu lorong api atau
saluran air saja contoh : Cornish boiler dan simple vertical boiler.
b. Ketel dengan lorong ganda (multi tube steam boiler). Misalnya ketel B dan W.
Gambar 2.2 ketel B dan W
5. Tergantung kepada poros tutup drum (shell), ketel diklasifikasikan sebagai : a. Ketel tegak (vertikal steam boiler), seperti Ketel Cochran, Clarkson. b. Ketel mendatar (harizontal steam boiler), seperti ketel Cornish,
Gambar 2.3 ketel Scotch.
6. Menurut bentuk dan letak pipa, ketel uap diklasifikasikan sebagai :
a. Ketel dengan pipa lurus, bengkok dan berlekuk (straight, bent and sinous tube heating surfance).
b. Ketel dengan pipa miring-datar dan miring–tegak (harizontal, inclined or vertical tube heating surface).
7. Menurut sistem peredaran air ketel (water sirkulation), ketel uap diklasifikasikan sebagai :
a. Ketel dengan peredaran alam (natural circulation steam boiler), peredaran air dalam ketel terjadi secara alami, yaitu air yang ringan
naik sedangkan air yang berat turun, sehingga terjadi konveksi
b. Ketel dengan peredaran paksa (forced circulation steam boiler), aliran paksa diperoleh dari sejumlah pompa sentrifugal yang
digerakan dengan elektrik motor. Contoh La-mont boiler, Benson
boiler, Loeffer boiler dan Vencal boiler.
Gambar 2.4 Ketel Benson
8. Tergantung kepada sumber panasnya (heat source) untuk pembuatan uap, ketel uap dapat diklasifikasikan sebagai :
a. Ketel dengan bahan bakar alami
Contoh dari bahan bakar alami adalah bahan bakar kayu (wood), sekam padi (rice husk), serutan kayu (sawdust), batubara coklat (lignite), batubara bituminous (seperti aspal), batubara jenis antrasit (antrasite coal).
b. Ketel dengan bahan bakar buatan.
c. Ketel dengan dapur listrik
Ketel dengan dapur listrik yaitu ketel dengan menggunakan energi listrik
dimana terdapat elemen pemanas sebagai pemanas air ketel.
d. Ketel dengan energi panas.
Energi panas yang diperoleh dapat berupa energi panas matahari ataupun
energi panas bumi.
II. 3 Susunan umum dari Ketel
Supaya konstruksi dari ketel dapat dipahami betul-bentul, haruslah
diketahui sifat-sifat dari uap dan pristiwa pembentukan pada uap, dalam
bentuknya yang sederhana , dapat dimisalkan ketel uap sebagai tong logam yang
sebahagian berisi dengan air. Air merupakan fluida yang sukar untuk merambat
panas, sehingga dengan demikian perpindahan panas didalam air yang ada didalan
ketel uap hampir berlangsung secara konveksi. Bila didalam sebuah tempat
terdapat air dingin didalamnya, yang kemudian dipanasi pada bagian bawahnya
maka air akan menjadi panas. Air menjadi panas karena berat jenisnya menjadi
berkurang, maka akan naik keatas. Dibekas tempatnya akan digantikan oleh air
dingin dibagian atas, yang berat jenisnya lebih besar dibandingkan dengan air
panas tersebut. Air yang tidak turut beredar dalam ketel dinamai air yang tidak
bersirkulasi, jadi temperatur air ini tidak secepat air yang beredar naiknya. Ini
dapat membahayakan bagi ketel karena dinding ketel juga tidak akan rata panas.
Pemuaian ketel tidak sama dan karena ini mungkin terjadi tekanan-tekanan yang
Gambar 2.5 Air yang tidak bersirkulasi
Gambar 2.5 memperlihatkan bagai mana pengaruh letak pemanas pada
peredaran air. Ketika seluruh temperatur air 100 ºC, gelembung-gelembung uap
yang dibentuk dalam seluruh zat cair, sampai pada permukaan dan lepas dari zat
cair, karena tong ini terbuka, uap yang terbentuk lepas keluar melalui bahagian
yang terbuka. Dikatakan sekarang air mendidih. Jadi mendidih adalah suatu
peristiwa dimana pembentukan uap terjadi didalam seluruh massa zat-cair.
Titik didih dari suatu zat cair tergantung kepada tekanan yang dilakukan
pada permukaan zat cair. Pada tong yang terbuka, tekanan udara luar yang
dilakukan pada permukaan air, besarnya 1 atmosfer (1,0332 kg / cm2) pada
tekanan ini air mendidih pada 100 ºC, kalau tekanan lebih besar dari 1 atm
umpamanya 5 kg / cm2, air akan mendidih pada temperatur 151,1 ºC. Bila tekanan
rendah dari 1 atm , umpamanya 0,12575 kg / cm2 air mendidih pada temperatur 50
ºC. Kalau pada gambar 2.5 diteruskan pemanasan sesudah air sesampai kepada
titik didihnya akan terjadi bahwa temperatur air tidak akan lebih 100 ºC. Untuk
mengubah 1 kg air dari 100 ºC air menjadi 100 ºC uap perlu 537 kilo kalori
II.4 Dasar-dasar Perhitungan Kekuatan Konstruksi.
Didalam pengoperasian ketel, terdapat bagian-bagian yang harus menahan
tekanan yang ditimbulkan oleh uap yang bertekanan. Bagian-bagian ini harus
diamati secara tepat agar dapat menerima beban tekanan cukup kuat.
Kekuatan bahan harus diperhitungkan sesuai dengan kondisi operasi yang
akan berlangsung, untuk itu penilaian bahan yang akan digunakan harus
benar-benar diteliti untuk memberikan informasi yang akurat serta perangkat peralatan
pengaman yang menjamin bahwa ketel tersebut bekerja pada kondisi yang telah
diperhitungkan.
II.4.1 Perhitungan tebal dinding plat
Dimana perhitungan tebal dinding plat dapat ditentukan dari rumus
dibawah ini : Gaya tekan diperoleh dari :
2 4di
p pA
F ...(2.2)
Sehingga untuk tebal plat (mm) :
II.4.2 Perhitungan kekuatan baut dan mur
Baut dan mur merupakan alat pengikat atau penggerak yang sangat
penting. Dalam gambar 2.6 diperlihatkan macam-macam kerusakan yang dapat
terjadi pada baut.
gambar 2.6 macam-macam kerusakan pada baut
Untuk menentukan ukuran baut dan mur, berbagai faktor yang harus
diperhatikan seperti gaya yang bekerja pada baut, syarat kerja, kekuatan bahan,
kelas ketelitian dan lain-lain. Adapun gaya-gaya yang bekerja pada baut dapat
berupa :
i) Beban statis aksial murni
ii) Beban aksial, bersama dengan beban puntir
iii) Beban geser
iv) Beban tumbukan aksial
Dalam hal ini persamaan yang berlaku adalah :
2 1 4d
F
t
...(2.3)
dimana F (kg) adalah beban tarik atau tekan pada baut, t adalah tegangan tarik
baut yang mempunyai diameter luar d.umumnya diameter inti d10,8dsehingga
dari persamaan 2.3 dan 2.4 maka :
izin
harga izin tergantung pada macam bahan yaitu SS, SC atau SF. Jika difinising
faktor keamanannya dapat diambil sebesar 6-8 dan jika difinis biasa besarnya
8-10.
Bila jumlah ulir n dan tinggi mur h maka dapat dihitung dari persamaan berikut :
izin
Dalam konstruksinya bagian ujung tabung ditutup dengan penutup dimana
sambungan antara penutup dengan dinding tabung digunakan sebuah baut. Maka
gaya tarik yang terjadi pada baut adalah :
n F
Fbaut uap ...(kg)
Sementara Fbaut dapat diperoleh dari :
Ab
Fbaut izin ...(kg)
Dimana : Ab = luas penampang baut (mm2)
izin = tegangan izin baut (kg / mm2)
Jadi jumlah baut (n) :
Ab F n
izin uap
...(2.8)
II. 5 Perpindahan Kalor dalam Instalasi Uap
Didalam ketel terdapat perpindahan kalor dari sumber panas terhadap
bidang pemanas, dari bidang pemanas dihantarkan lagi ke air secara konveksi.
Pindahan kalor secara konduksi dari sebahagian panas diabaikan.
II.5.1 Perpindahan Kalor Konveksi
Sudah umum diketahui bahwa plat logam panas akan menjadi dingin lebih
cepat bila ditaruh didepan kipas angin dibandingkan dengan bilamana
ditempatkan diudara tenang. Proses ini dinamakan Perpindahan-kalor secara konveksi. Perhatikan plat panas seperti pada gambar 2.7. Suhu plat ialah Tw, dan suhu fluida T~. Kecepatan aliran adalah seperti tergambar, yaitu nol pada muka plat sebagai akibat aksi kental (viscous action). Oleh karena kecepatan lapisan fluida pada dinding adalah nol, maka di sini kalor hanya dapat berpindah dengan
cara konduksi saja. Jadi kita dapat menghitung perpindahan kalor, yaitu dengan
persamaan (2.9), dengan menggunakan konduktivitas termal fluida dan gradien
suhu fluida pada dinding. Jadi, gradien suhu pada dinding bergantung dari medan
menghubungkan kedua besaran itu. Namun, perlu diingat bahwa mekanisme fisis
pada dinding itu berupa proses konduksi.
Guna menyatakan pengaruh konduksi secara menyeluruh, digunakan
hukum Newton tentang pendinginan:
) ...(2.9) (Lit :4 hal:11) (
hA T T
q w
Dimana : q = Laju pindahan kalor (W)
h = Koefesien pindahan kalor konveksi (W/m2 ºC)
A = Luas permukaan (m2)
Tw = Suhu plat (ºC)
T~ = Suhu fluida (ºC)
A r u s b e b a s T ~
D i n d i n g T w q
u u ~ A l i r a n
Di sini laju perpindahan kalor dihubungkan dengan beda suhu menyeluruh
antara dinding dan fluida, dan luas permukaan A. Besaran h disebut koefisien perpindahan-kalor konveksi (convection heat-transfer coefficient), dan persamaan (2.9) itulah rumus dasarnya. Dapat dilakukan perhitungan analisis atas h untuk beberapa sistem.
Gambar 2.7 Perpindahan kalor konveksi dari suatu plat
Untuk situasi yang rumit h harus ditentukan dengan percobaan. Koefisien perpindahan kalor kadang-kadang disebut konduktans film (film conductance)
karena hubungannya dengan proses konduksi pada lapisan fluida diam yang tipis
per persegi per derajat celcius. Dari pembahasan diatas, dapatlah diharapkan
bahwa perpindahan kalor konveksi bergantung pada viskositas fluida.
Jika suatu plat panas dibiarkan berada diudara sekitar tanpa ada sumber
gesekan dari luar, maka udara itu akan bergerak sebagai akibat terjadinya gradien
densitas didekat plat itu. Peristiwa ini dinamakan Konveksi alamiah untuk membedakannya dengan konveksi paksa yang terjadi apabila udara itu dehembuskan diatas plat itu dengan kipas
Tabel 2.1 Nilai kira-kira koefesien perpindahan kalor konveksi
h bujur sangkar 0,2 m
Aliran udara 35 m/s diatas plat bujur sangkar 0,75 m
Udara 2 atm mengalir didalam tabung diameter 2,5 cm, kecepatan 10 m/s
Air 0,5 kg/s mengalir di dalam tabung 2,5 cm
Aliran udara melintas silinder diameter5cm,kecepatan50m/s
Air mendidih
Dalam kolam atau bejana Mengalir dalam pipa
II.5.2 Perpindahan Kalor Konduksi
Jika pada suatu benda terdapat gradien suhu (Temperatur Gradient), maka menurut pengalaman akan terjadi perpindahan energi dari bagian bersuhu tinggi
kebagian bersuhu rendah. Dapat dikatakan bahwa energi berpindah secara
konduksi berbanding dengan gradien suhu normal :
x T A q
~ ...(2.10)
Jika dimasukkan konstanta proposionalitas atau tetapan kesebandingan, maka :
x T KA q
...(2.11)
Dimana q adalah laju perpindahan kalor dan
x T
merupakan gradien suhu ke arah
perpindahan kalor. Konstanta positif k disebut konduktifitas thermal benda, sedangkan tanda minus diselipkan agar memenuhi hukum thermodinamika, yaitu
bahwa kalor mengalir ketempat yang lebih rendah. Pada persamaan (2.10) disebut
juga hukum Fourier tentang konduksi kalor, yaitu menurut nama ahli matematika
fisika bangsa Perancis, Joseph Fourier yang telah memberi sumbangan yang
sangat penting dalam pengolahan analisis masalah perpindahan kalor konduksi.
II.5.2.1 Bidang Silinder
Perhatikan suatu silinder panjang dengan jari-jari dalam ri, jari-jari luar rO, dan panjang L, seperti pada gambar 2.8. Silinder mengalami beda suhu Ti- To. Untuk silinder yang panjangnya sangat besar dibandingkan dengan diameternya,
dapat diandaikan bahwa aliran kalor berlangsung menurut arah radial, sehingga
ri
Fourier digunakan lagi dengan menyisipkan rumus luas yang sesuai. Luas bidang
dalah aliran kalor dalam sistem silinder a
rL Ar 2
Sehingga hukum Fourier menjadi
dr dT kA qr r
bar 2.8 Aliran kalor sa
listriknya
Gam tu-dimensi melalui silinder bolong dan analogi
dr
Penyelesaian persamaan 2.12 adalah kondisi batas
T4
untuk dinding lapis rangkap
dinding datar. Untuk sistem
seperti pada gambar 2.8 penyelesaiannya adalah :
ro = jari-jari luar silinder (m)
ri = jari-jari dalam silinder (m)
Konsep tahanan thermal dapat juga digunakan
berbentuk silinder, seperti halnya dengan tiga lapis
C
Sistem berbentuk bola dapat ditangani
berfungsi sebagai jari-jari saja aliran kalornya menjadi :
sebagai suatu dimensi apabila suhu
o
Gambar 2.9 Aliran kalor satu-dimensi melalui penampang silinder dan analogi
listriknya
II.6 Konduktivitas Termal
Persamaan 2.9 merupakan persamaan dasar tentang konduktivitas termal.
Berdasarkan rumus itu maka dapatlah dilaksanakan pengukuran dalam percobaan
untuk menentukan nilai kondiktivitas termal berbagai bahan. Untuk meramalkan
konduktivitas termal zat cair dan zat padat ada teori-teori yang digunakan dalam
berbagai situasi tertentu. Mekanisme konduktivitas termal pada gas cukup
sederhana. Energi kinetik molekul ditunjukan oleh suhunya, jadi pada bagian
bersuhu tinggi molekul-molekul mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dari pada
yang berada dibagian yang bersuhu rendah, molekul-molekul ini selalu berada
dalam gerakan acak saling bertumbukan satu sama lain dinama terjadi pertukaran
energi dan momentum. Jika suatu molekul bergerak dari daerah yang bersuhu
tinggi kedaerah yang bersuhu rendah, maka molekul itu akan mengangkut energi
konduktivitas termal beberapa bahan diberikan pada tabel 2.2
dibawah ini.
kebagian sistem suhu yang lebih rendah
Tabel 2.2 Konduktivitas Termal
Bukan logam Kuarsa
buk gergaji
BAB III
PERHITUNGAN KEKUATAN KONSTRUKSI KETEL BERTENAGA LISTRIK (ELECTRIC BOILER)
III.1 Perhitungan Tekanan Kerja Pada Dinding Ketel
Dinding ketel direncanakan dari pipa baja SC 42 dengan diameter luar 17
cm, tinggi 27 cm dan tebal plat 2 mm, dengan faktor keamanan 5, maka tekanan
kerja terhadap dinding ketel adalah :
Kekuatan tarik untuk bahan SC 42 = 42 kg/mm2 (Lampiran A)
4
Maka gaya tekan uap pada dinding ketel :
)
Tekanan uap maksimal adalah :
06297
III.2 Perhitungan Kekuatan Baut
Baut pengikat direncanakan dari baja cor SC 37 dengan ukuran baut 3/8
inchi
Kekuatan tarik untuk bahan SC 37 = 37 kg/mm2 (Lampiran A)
As = Luas penampang tutup slinder (mm2)
Jadi gaya tekan uap terhadap tutup slinder :
13
Gaya tarik yang terjadi pada sebuah baut :
Ab Fbaut izin
Bila faktor keamanan direncanakan 5 maka :
4
Jadi jumlah baut yang dibutuhkan untuk menahan tekanan uap sebesar 6,297
kg/cm2 adalah :
Dalam hal ini jumlah baut dibuat 9 buah agar lebih aman.
III.3 Perhitungan kekuatan tabung penyimpan uap
Tabung ini adalah tempat penyimpanan uap dimana tekanan uap ini bisa
mencapai 0,33 sampai 2,01 kgf/cm2. Pad a percobaan pertama telah dibuat tabung
dari bahan kaca berukuran 10 cm × 10 cm × 15 cm dengan bahan sambungan
berupa lem silikon tetapi pada tekanan 0.5 kgf/cm2 tabung tersebut pecah, maka
untuk tabung berikutnya direncanakan dari tabung tempahan, tetapi tabung hanya
BAB IV
ANALISA PERPINDAHAN PANAS
IV.1 Laju Pindahan Panas Secara Konveksi
Pembahasan laju pindahan panas secara konduksi pada konstruksi ketel
bertenaga listrik (electric boiler) dalam karya akhir ini meliputi pada bagian dinding slinder. Pengukuran temperatur pada bagian luar slinder ketel dengan
menggunakan termometer infrared.
IV.1.1 Laju Pindahan Panas Pada Elemen Pemanas
Elemen pemanas dengan diameter 1 cm dengan panjang 75 cm, dari hasil
pengukuran bahwa panas yang dihasilkan mencapai 780 ºC. Suhu air didalam
silinder adalah 30 ºC, maka daya pemanasan secara konveksi dapat dihitung
sebagai berikut :
Suhu film adalah 405
2
Tf ºC = 678 K, sehingga sifat-sifat udara pada
temperatur 678 K adalah (Lampiran A)
β = 1/Tf = 1/678 = 0,001475 v = 62,844 × 10-6 m2/s
Perpindahan kalor atau daya yang diperlukan adalah
697
Jadi daya yang diperlukan adalah 393,697 Watt
IV.1.2 Laju Pindahan Panas Pada Silinder Ketel
Pada perhitungan laju pindahan panas pada silinder ketel ini akan dihitung
dari Volum air 3, 3,5, 4,5 dan 4,7 liter dengan temperatur pemanas 100,110, 120,
Tabel 4.1 Temperatur panas dinding ketel
Temp.Dinding (°C) Volume air
(L)
Temp. Akhir air (°C)
Temp. Uap
(°C) 1 2 3
Temp. rata-rata (°C)
Dari tabel diatas maka pindahan panas konveksi pada dinding ketel untuk 3 liter
air dengan temperatur pemanasan 100 ºC dapat dihitung :
Suhu film adalah 64,05
Tf ºC = 337,05 K, sehingga sifat-sifat
udara pada temperatur 337,05 K adalah (Lampiran A)
β = 1/Tf = 1/337,05 = 0,002967 v = 19,447 × 10-6 m2/s
Perpindahan kalor konveksi pada dinding ketel adalah
45
Dengan cara yang sama seperti diatas maka pindahan panas secara konveksi pada
3,5, 4, 4,5 dan 4,7 liter air dengan temperatur pemanasan 100, 110, 120, 130, 140
Tabel 4.2 Data hasil perhitungan pindahan panas secara konveksi pada dinding
ketel
Temp.Dinding (°C) Volume air
(L)
Temp. Akhir air (°C)
Temp. Uap
(°C) 1 2 3 q konv
100 104 97,7 98,2 98,4 64.4536
110 116 109,5 109,8 110,3 78.2971
120 122 118,8 119,2 119,7 89.6243
130 134 129 129,2 130,1 102.203
140 145 138 138,8 139,2 113.782
3
150 152 149,2 149,6 149,8 127.652
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.Dinding (°C)
(L) air (°C) (°C) 1 2 3 q konv
100 107 98,75 99,6 100 66.0184
110 112 109,4 109,7 110,1 78.078
120 120 119,2 119,6 120,2 90.1545
130 135 128,7 129 129,8 101.871
140 142 137,7 138,3 139,2 113.426
3.5
150 154 146,3 147 148,1 124.551
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.Dinding (°C)
(L) air (°C) (°C) 1 2 3 q konv
100 102 99,8 101 101,6 67.5894
110 110 109,2 109,5 109,8 77.859
120 122 119 119,8 120,2 90.1545
130 130 128,9 129,5 130 102.244
140 140 138,8 139,4 139,7 114.583
4
150 150 149,4 149,7 149,8 127.781
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.Dinding (°C)
(L) air (°C) (°C) 1 2 3 q konv
100 102 99,8 99,6 101 66.8128
110 114 109,8 110 110,4 78.5363
120 122 119,5 119,7 119,8 90.1545
130 134 129,8 130,2 130,4 103.074
140 140 139 139,5 139,9 114.794
4.5
150 152 150,2 150,4 150,7 128.812
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.Dinding (°C)
(L) air (°C) (°C) 1 2 3 q konv
100 102 99,2 99,4 100 66.1152
110 112 109,8 110,1 110,4 78.5762
120 122 119 119,5 119,8 89.869
130 130 128,8 129,5 129,6 102.037
140 140 139,2 139,4 140 114.879
4.7
Pada temperatur pemanasan air sampai 100 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 3 liter adalah yang paling sedikit yaitu 64,4536 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 4 liter
yaitu 67,5894 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 110 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 4 liter adalah yang paling sedikit yaitu 77,859 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 4,7 liter
yaitu 78,57 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 120 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 4 liter adalah yang paling sedikit yaitu 77,859 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 3,5, 4,
dan 4,5 liter yaitu 90,1545 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 130 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 3,5 liter adalah yang paling sedikit yaitu 101,871 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 4,5 liter
yaitu 103,074 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 140 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 3,5 liter adalah yang paling sedikit yaitu 131,426 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 4,7 liter
yaitu 114,879 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 150 ºC, Pindahan panas konveksi yang
terbentuk pada volum 3,5 liter adalah yang paling sedikit yaitu 124,551 Watt.
Dan pindahan panas konveksi yang paling besar adalah pada volum 4,5 liter
Pindahan panas konduksi bergantung kepada temperatur, semakin tinggi
temperatur maka pindahan panasnya semakin tinggi. Secara keseluruhan untuk
tiap liternya selisih pindahan panasnya tidak terlalu jauh hanya 1 sampai 2 Watt.
Jadi dapat dikatakan pindahan panas konveksi untuk tiap liter percobaan adalah
sama. Pindahan panas konveksi tidak bergantung kepada banyaknya volume air.
100
Q konveksi ( att)
Te
Gambar 4.1 Grafik pindahan panas konveksi untuk tiap volume air
4.2 Laju Pindahan Panas Secara Konduksi Dinding Ketel
Data temperatur panas dinding ketel dapat dilihat pada tabel 4.1, maka dari
data tersebut besarnya laju perpindahan panas secara konduksi yang terjadi pada
dinding ketel pada volum 3 liter dengan temperatur pemanasan 100 ºC dapat
dihitung dengan persamaan:
Ti= 102 ºC
=11942,22 Watt
Dengan cara yang sama seperti diatas maka pindahan panas secara konduksi pada
3,5, 4, 4,5 dan 4,7 liter air dengan temperatur pemanasan 100, 110, 120, 130, 140
dan 150 ºC dapat dihitung dan dilihat dalam tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data hasil perhitungan pindahan panas konduksi pada dinding ketel
Volume air (L)
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.
(L) air (°C) (°C) rata-rata (°C) q kond
100 102 100,80 612,4218
110 110 109,50 1531,054
120 122 119,67 4082,812
130 130 129,47 1633,125
140 140 139,30 2143,476
4
150 150 149,63 1122,773
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.
(L) air (°C) (°C) rata-rata (°C) q kond
100 102 100,13 2653,828
110 114 110,07 5920,077
120 122 119,67 4082,812
130 134 130,13 5715,937
140 140 139,47 1633,125
4.5
150 152 150,43 1735,195
Volume air Temp. Akhir Temp. Uap Temp.
(L) air (°C) (°C) rata-rata (°C) q kond
100 102 99,53 4491,093
110 112 110,10 2755,898
120 122 119,43 4797,304
130 130 129,30 2143,476
140 140 139,53 1428,984
4.7
150 150 149,63 1122,773
Pada temperatur pemanasan air sampai 100 ºC, Pindahan panas konduksi yang
terbentuk pada volum 4 liter adalah yang paling sedikit yaitu 612,4218 Watt.
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3.5 liter
yaitu 12401,54 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 110 ºC, Pindahan panas konduksi yang
terbentuk pada volum 4 liter adalah yang paling sedikit yaitu 1531,054 Watt.
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3 liter
yaitu 9594,608 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 120 ºC, Pindahan panas konduksi yang
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3 liter
yaitu 5409,726 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 130 ºC, Pindahan panas konduksi yang
terbentuk pada volum 4 liter adalah yang paling sedikit yaitu 1633,125 Watt.
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3,5 liter
yaitu 10207,03 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 140 ºC, Pindahan panas konduksi yang
terbentuk pada volum 4,7 liter adalah yang paling sedikit yaitu 1428,984Watt.
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3 liter
yaitu 11738,08 Watt.
Pada temperatur pemanasan air sampai 150 ºC, Pindahan panas konduksi yang
terbentuk pada volum 4,7 liter adalah yang paling sedikit yaitu 1122,773 Watt.
Dan pindahan panas konduksi yang paling besar adalah pada volum 3.,5 liter
yaitu 14940,54 Watt.
Pada perpindahan panas secara konduksi dapat dilihat bahwa perpindahan
panas konduksi tidak normal pada temperatur 100 ºC perpindahan panasnya tinggi
kemudian pada temperatur 110 ºC pindahan panasnya menurun, kemudian naik
kembali pada temperatur 120 ºC dikarenakan perbedaan temperatur didalam dan
diruang dinding ketel yang naik turun untuk tiap kenaikan temperatur.
Perbedaanya dapat mencapai 91,77 % (Diambil nilai yang maksimal) secara
100 110 120 130 140 150 160
500 5500 10500 15500
Q konduksi (Watt)
Te
m
p
3 Liter
3.5 Liter 4 Liter
4.5 Liter
4.7 Liter
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan perencanaan konstruksi ketel bertenaga (Electric Boiler)
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penentuan ukuran-ukuran utama dari ketel bertenaga listrik :
Dinding ketel
Bahan : Pipa baja SC 42
Diameter : 17 cm
Panjang : 27 cm
Tebal : 2 mm
Tekanan uap maksimal : 6,297 kg/cm2
Baut
Bahan : Baja cor SC 37
Ukuran : W 3/8
Jumlah : 9 Buah
Tabung penyimpan uap
Bahan : kaca
Tekanan maksimal : 0.5 kgf/cm2
Kapasitas maksimal : 16 gram uap
Untuk ukuran yang lain adalah penyesuaian terhadap bentuk konstruksi dan
2. Untuk pindahan panas secara konveksi pada keseluruhan percobaan hampir
dikatakan memiliki nilai yang sama. perbedaannya tidak terlalu jauh sekitar
1 sampai 2 watt.
3. Pindahan panas secara konveksi tidak bergantung kepada volume air tetapi
bergantung pada temperatur yang dihasilkan.
4. Untuk pindahan panas secara konduksi terjadi pindahan panas yang tidak
normal. Pindahan panasnya naik turun untuk tiap kenaikan temperatur.
Perbedaanya dapat mencapai 91,77 % (Diambil nilai yang maksimal)
secara keseluruhan pengujian.
V.2 Saran
1. Untuk mendukung kelancaran dan akurasi hasil pengujian sebaiknya dilakukan
pemeriksaan dan kalibrasi terhadap instrumentasi dan alat ukur setiap kali
DAFTAR PUSTAKA
1. Chatae, Ketel Uap dan Kelengkapanya, Pradnya Paramitha, Jakarta, 1975.
2. Daryanto, Teknik Pesawat Tenaga, Bumi Aksara, Jakarta, 1987.
3. Djokosetyardjo, Pembahasan Lebih Lanjut Tetang Ketel Uap, Pradnya
Paramitha, Jakarta, 1990.
4. Holman, J.P. Perpindahan Kalor. Edisi ke-6. Erlangga. Jakarta. 1988
5. Sularso, Suga, Kiyokatsu, Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin,
LAMPIRAN A
Daftar A-1 Kekuatan tarik baja karbon cor
Daftar A-2 Sifat-sifat udara pada tekanan atmosfer
T (K) v (m²/s) k (W/m ºC) Pr
100 1.923E-06 0.009246 0.77 150 4.343E-06 0.013735 0.753 200 7.49E-06 0.01809 0.739 250 1.131E-05 0.02227 0.722 300 1.569E-05 0.02624 0.708 350 2.076E-05 0.03003 0.697 400 0.0000259 0.03365 0.689 450 3.171E-05 0.03707 0.683 500 0.0000379 0.04038 0.68
550 4.434E-05 0.0436 0.68
600 5.134E-05 0.04659 0.68 650 5.851E-05 0.04953 0.682 700 6.625E-05 0.0523 0.684 750 7.391E-05 0.05509 0.686 800 8.229E-05 0.05779 0.689 850 9.075E-05 0.06028 0.692 900 0.0000993 0.06279 0.696 950 0.0001082 0.06525 0.699 1000 0.0001178 0.06752 0.702
Daftar A-3 Konstanta untuk permukaan isotermal
Geometri Grf Prf C m
10-1 - 104 Gunakan Daftar A-4 Gunakan Daftar A-4
104 - 109 0,59 ¼
109 - 1013 0,021 2/5
Bidang dan silinder vertikal
109 - 1013 0,10 1/3
0 – 10-5 0,4 0
10-5 - 104 Gunakan Daftar A-5 Gunakan Daftar A-5
104 - 109 0,53 ¼
109 - 1012 0,13 1/3
10-10 – 10-2 0,675 0,058
10-2 - 102 1,02 0,148
102 - 104 0,850 0,188
104 - 107 0,480 ¼
Silinder harizontal
107 - 1012 0,125 1/3
(Lit :5 Hal 310)
Daftar A-4 Kolerasi pindahan kalor konveksi bebas untuk perpindahan kalor dari
silinder vertikal panas.
-0.2 0.2 0.6 1 1.4 1.8 2.2 2.6
Log (Grf Prf)
L
og (
N
uf
)
-1 1 3 5 7 9 11
Daftar A-5 Kolerasi pendahan kalor konveksi bebas untuk perpindahan kalor dari
Silinder harizontal panas.
-0.6 -0.2 0.2 0.6 1 1.4 1.8 2.2
Log (Grf Prf)
Lo
g (
N
uf
)
-5 -3 -1 1 3 5 7 9