BAB I
ZAMAN HINDIA BELANDA
1) Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sebelum berdirinya negara republik indonesia, indonesia pernah menjadi bagian dari hindia belanda selama 350 tahun. Dari segi hukum itu tidak dapat di sebutkan sebagai negara, karena hanya memiliki unsur-unsur untuk berdirinya negara, yaitu :
- Wilayah
- Warga negara
- Pemerintah yang berdaulat
Dalam politis yuridis, yaitu bahwa untuk masing-masing berbeda-beda, jadi masing-masing golongan mempunyai hukum sendirri-sendiri, demikian unsur warga negara yang dulu di sebut kaula negara, terdapat pada indishe staarsregeling ( I.S ) pasal 1311 yaitu
- Bagi golongan Eropa
Penyebutnya ini sifatnya politis karena sesungguhnya yang di maksud golongan ini hanyalah orang-orang belanda
- Bagi golongan timur asing
Ini di bedakan menjadi dua macam, yaitu golongan orang timur asing tionghoa, dan golongan orang timur asing bukan tionghoa
- Bagi golongan bumi putera
Ini adalah orang-orang bangsa indonesia asli
Di dalam pemikiran tentang negara hukum di kenal empat macam teori kedaulatan yaitu teori kedaulatan tuhan, teori kedaulatan negara, teori kedaulatan hukum dan kedaulatan rakyat2. Naaah indonesia tidak memilikin
unsur ketiga yaitu pemerintah yang berdaulatan. Pengusaan tertinggi hindia belanda ada di tangan gubernur jederal tapi tak lain hanya wakil dari ratu
1 Indische staatsregeling pasal 131.
belanda untuk hindia belanda. Adapun peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk hindia belanda dahulu adalah :
1. Wet. Peraturan ini di bentuk oleh badan pembentuk undang-undang di negeri belanda, yaitu Mahkota ( raja bersama dengan menterinya ) bersama-sama dengan parlemen
2. Algemene maatsregelen Van Bestuur (AMVB). Peraturan ini dibentuk oleh mahkota sendiri jadi keduanya peraturan tersebut di bentuk di negeri Belanda oleh badan pembentuk undang-undang negeri belanda
3. Ordonnatie. Peraturan ini dibentuk oleh gubernur jederal bersama-sama dengan Volksraad; ini sejak tahun 1918, sebab Volksraad baru di bentuk pada tahun1918 oleh gubernur jederal Mr. Graaf van limburg stirum
4. Regeerings verordeningen (Rv). Peraturan ini di bentuk oleh gubernur jederal sendiri
Keempat peraturan perundang-undangan tersebut secara bersama-sama di sebut Algemene verordeningen atau peraturan Umum. Peraturan dalam arti bahwa kekuasaanya meliputi seluruh wilayah Negara, semua orang yang berada di dalam wilayah negara itu, dan semua masalah yang timbul di dalam wilayah negara tersebut.
Di samping itu ada yang di sebut locale varordeningen atau peraturan lokal. Sifat lokalnya inipun juga bukan menunjukan pada sifat peraturan perundang-undangan tersebut, melainkan menunjukan sifat kekuasaan pejabat yang berwenang membentuk yaitu minsalnya gubernur, residen, bupati, wedana, dan camat.
Datang VOC pada tahun 1602, sebuah perkumpulan yang bergerak di bidang perdangangan namun di beri hak-hak kenegaraan oleh pemerintah negeri belanda3 yaitu ;
- Hak untuk mencetak dan mengedar mata uang
- Hak untukmembetuk angkatan perang
- Hak untuk mengadakan perjanjian dengan negara-negara lain.
Dalam hal ini asa yang menghendaki wilayah negara di bagi-bagi menjadi wilayah administratif atau wilayah pemerintahan pamong praja, dan di situ di tempatkan wakil pemerintahan pusat sebagai pemimpin pemerintah wilayah itu. Pemerintah pamong praja tersebut bersifat hierarkhis, bertingkat-tingkat dari bertingkat-tingkat yang paling luas hingga bertingkat-tingkat yang paling bawah, sehingga terdapat pemerintahan pamong praja. Adapun tingkat-tingkatanya sebagai berikut :
Wilayah di bagi menjadi lima tingkatan wilayah. Tingkat tertinggi di sebut provinsi yang di pimpin oleh gubernur. Tiap-tiap provinsi di bagi karesidenan yang di pimpin oleh residen. Tiap-tiap karesidenan di bagi menjadi afdeling yang di pimpin oleh asisten residen. Bersamaan itu pula terdapat kabupaten atau regenschap yang di pimpin oleh bupati atau regent. Tiap kabupaten di bagi lagi menjadi kawedanan yang bergelar wedana. Tiap wedana di bagi pula menjadi kecamatan masing-masing di kepalai oleh camat atau asisten wedana. Tiap kecamatan meliputi desa yangdi kepalai oleh seorang kepala desa.
Dalam-dalam jabatan tersebut terdapat orang-orang indonesia, tetapi jabatan-jabatan srategis tidak demikian. Jabatan strategis antara lain jabatan-jabatan gubernur, residen, asisten dan konstrolir. Dari provinsi sampai kecamatan itulah sebenarnya yang di sebut sebagi tingkat-tingkat pemerintahan pamong praja, sedang desa dan lainya buka termasuk pemerintahan pamong praja. Meskipun telah di laksanakan asas dekontrasi namun hingga tahun 1903 sistem pemerintahan hindia belanda di daerah-daerah yang dikuasai secara langsung masih bersifat sentrrali, dengan pemerintahan pamong praja sebagai pelaksana asas dekonsentrasi tersebut.
dengan negeri belanda bukan hanya itu telah terdengar tuntutan berdirinya negara indonesia merdeka terlepas dari ikatan kerajaan belanda.
Sehubung dengan hal=hali tersebut wet 16 desember 1916 ( ind. Stb. No. : 114 tahun 1917) reegeringsreglement di tambah dengan bab baru yaitu bab X yang mengatur tentang volkstraad. Tetapi ini tidak memuaskan bagi bangsa indonesia karena tidak lebih hanyalah merupakan penasehat bagi gubernur jenderal, sehingga tidak mempunyai kekusaan seperti dewan perwakilan rakyat. Jadi secara formal pemerintah hindia belanda pada tahun 1903 mengesyahkan di laksanakannya asas desentralisas, asas mana tercantum dalam regeeringsreglement 1854 yang kemudian nati mulai 1 januari 1926 berganti nama wet op de indishe staatsregeling (IS)4.
Dalam perkembangan selanjutnya decentralisatiewet 1903 tersebut kurang memenuhi perkembangan serta kebuatuhan zaman, maka perlu di sempurnakan guna memberi kemungkinan lebih luas lagi terhadap pembentukan daerah-daerah otonom. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka dikeluarkanlah bestuurshervormingsweet 1922 (wet tanggal 6 februari 1922; Ind. Stb. No. :216 tahun 1922) beserta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Kecuali memuat ketentuan-ketentuan tentang desetralisasi, bestuurhervorminswet 1922 tersebut memuat pula ketentuan-ketentuan tentang dekontsentrasi.
Di atas adalah daerah-daerah otonom yang di bentuk berdasarkan peraturan perundangan-undangan oleh pemerintah hindia belanda dalam rangka pelaksanaan atas desentalisasi, yang lazim di sebut desentralisasi-fungsional. Di samping itu di laksanakan pula desentralisasi-fungsional yaitu sepertinya daerah-daerah swapraja surakarta- daerah swapraja yogyakarta, bedasarkan vorstenlands waterschapsordonnantie (Ind. Stb. No. : 722 tahun 1920 yang telah beberapa kali di ubah, peubahan terakhir dengan Ind. Stb. No. : 451 tahun 1935) dan bedasarkan itu di bentuklah badan hukum yang di selenggarakan kepentingan pengairan.
Namun demikian pemerintah daerah-daerah otonom pada masa hindia belanda belum mempunyai peranan dan tidak begitu di kenal masyarakat. Hal ini antara lain di sebabkan bahwa baik menurut decenteralisatiewet 1920 maupun menurut bestuursherorming 1992 urusan-urusan pemerintah yang di serahkan menjadi urusan-urusan rumah tangga daerah otonom masih sangat sedikit. Gubernur, bupati dan residen kesemuanya adalah pejabat- pejabat kepala pmerintahan yang bersifat dualistis yaitu sebagai alay pemerintah pusat dan sebagai alat pemerintah daerah otonom. Pun kantor pemerintah otonom menjadi satu dengan kantor pemerintahan pamong praja. Kepala pemerintahan daerah-daerah otonom dapat pula di serahi tugas-tugas pembantu (madebewind).
Pemerintahan hindia belanda jatuh belum dapat menguasai pemerintahan untuk seluruh wilayah hindia-belanda, terutama di daerah-daerah swaraja dimana kenyataannya penguasa-penguasa asli yaitu para raja masih menjalankan pemerintahan. Demikian pula terhadap pemerintah desa.
Kesatuan hukum pada masa hindia –belanda di kenal indlandshe gemeente pengaturannya di bagi dua yaitu di jawa dan madura di atur dalam Inlandsche gemeente ordonnatie jawa en madura (IGO) di muat dalam Ind. Stb. No. : 83 tahun 1906). Sedangkan untuk daerah di luar jawa dan madura di atur dalam inlandsche gemeente Ordonnantie Buitengewesten (IGOB) di muat dalam Ind. Stb. No. : 490 tahun 1938 jo Ind. Stb. No. : 681 tahun 1938). Dalam kenyataannya hukum adat masih hidup dan terus berkembang pada masa berakhirnya atau jatuhnya pemerintah hindia-belanda yang telah menjajah indonesia ini selama 350 tahun (dari tahun 1602 sampai tahun 1942). Kemudian di bawah kedudukan bala tentara jepang dari tanggal 8 maret 1942 sampai tanggal 17 agustus 1945.
Jepang masuk indonesia dengan mudahnya dengan melakukan propaganda NIPPON CAHAYA ASIA NIPPON PEMIMPIN ASIA -NIPPON PELINDUNG ASIA. Semboyan itu digambarkan dengan lambang “Tiga A”5. Bukannya untuk menjajah, melainkan untuk membebaskansaudara
mudanya. Namun keyataan nya kedatangan jepang tersebut untuk menjajah, hal ini terbukti dari kekejaman-kekejamannya serta penindasan nya terhadap bangsa indonesia dan jabatan-jabatan yang dulunya di duduki oleh orang-orang bangsa belanda di ganti oleh orang-orang-orang-orang bangsa jepang : sementara itu sesesua politik pemerintahan pendudukan bala tentara jepang, indonesia di bagi menjadi tiga daerah6, yaitu :
1. Daerah yang meliputi pulai sumatera berada di bawa kekuasaan angkatan darat, yang berkedudukan di bungkit tinggi.
2. Daerah yang meliputi pulau jawa berada di bawah kekuasaan angkatan darat, yang berkedudukan di jakarta.
3. Daerah-daerah selebihnya berada di bawah kekuasaan angkatan laut yang berkedudukan di makasar.
BAB II
BERDIRINYA NEGARA INDONESIA
Dalam propaganda yang di dilancarkan oleh jepang, yaitu akan membebaskan bangsa indonesia, yang di katakan sebagai suadara mudanya, dari belenggu penjajahan belanda, dan setelah itu akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa indonesia, bahkan akhirnya pada tanggal 7 september 1944 jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa indonesia nanti pada tanggal 24 agustus 1945.
Untuk mempersiapkan pelaksanaan janji jepang tersebut, pada tanggal 29 april 1945 di bentuklah Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPU-PKI) yang di lantik pada tanggal 28 mei 1945, dengan tugas pokok merancanakan organisasi pemerintahan nasional indonesia yang akan menerima kemerdekaan indonesia dari pihak jepang, serta membuat rancangan Undang-undang Dasar untuk negara indonesia merdeka nanti.
Sebagai persiapan berikutnya adalah dibentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 9 agustus 1945 oleh jenderal terauchi. Panitia inilah yang nanti akan bertugas menetapkan Undang-undang Dasar dan hal-hal yang perlu untuk indonesia merdeka, yang menurut rencana kemerdekaan indonesia akan di berikan oleh jepang nanti tanggal 24 agustus 1945. Dengan di ketuai Ir. Soekarno dan wakilnya Drs. Moh. Hatta.
Dengan hal tersebut lahirlah Tata hukum indonesia ‘’hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya’’. Dengan demikian tata hukum lama , yaitu tatahukum Hindia Belanda masih tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa Pancasila dan proklamasi kemerdekaan indonesia tanggal 17 agustus. Kemudian setelah di sahkanya Undang-Undang dasar negara indonesia merdeka, dan di nyatakan mulai berlaku pada tanggal 18 agustus 1945 sebagai ‘’revolusi grondwer’’7. Di tegaskan dalam pasal II aturan
peralihan Undang-Undang dasar. Kemudian hari yaitu pada tanggal 10 oktober 1945 di keluakanlah peraturan pemerintah No. : 2 tahun 1945 tentang Badan-badan dan peraturan pemerintah dulu.
Oleh karena itu segala sesuatunya di atur dalam diatur dalamn aturan peralihan undang-undang dasar 1945, yang menetukan ;
Pasal I : persiapan kemerdekaan indonesia mengatur dan menyelenggarakan kepindahan pemerintah kepada pemerintah indonesia.
Pasal II : segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang dasar itu.
Pasal III : untuk pertama kali Presiden dan wakil presiden di pilih oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
Pasal IV : sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat , dan Dewan Pertimbangan Agung di bentuk menurut undang-undang dasar ini, segala kekuasaannya di jelankan oleh presiden dengan bantuan Komite Nasional Indonesia.
Untuk menjalankan pasal IV tersebut keanggotaan Kominte Nasioanl indonesian Pusat (KNIP)berintikan bekas para anggota PPKI sehingga KNIP dapat bersifat representatif. Karena keadaan tersebut di pertimbangkan perlu adanya badan ikut bertanggung jawab tentang nasib bangsa dan negara
indonesia di samping pemerintah, dan di maksud pemerintah pada waktu itu adalah presiden.
Untuk memenuihi maksud tersebut di keluarkan lah maklumat wakil Presiden No. : X tanggal 16 oktober 1945 tentang kekuasaan legislatif kepada KNIP. Hal ini di tentukan dalam diktum Maklumat wakil presiden No. : X tersebut. Denga di keluarkannya Maklumat wakil Presiden No. : X tersebut semakin dipertegas kedudukan KNIP yang waktu itu di anggap sebagai Dewan Perwakilan Rakyat, Bahkan sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Terjadinya perubahan sistem pemerintahan negara dari sistem kabint Presidensial berubah menjadi sistem kabinet parlementer. Tanpa mengadakan perubahan bunyi pasal-pasal yang bersangkutan dalam Batang Tubuh Undang-undang Dasar 1945 maupun pasal IV aturan peralihan Undang-Undang-undang dasar 1945. Jadi perubahan itu dalam praktek penyelenggaraan ketatanegaraan atau cara-cara istimewa, seperti revolusi, coup d’etat, convention. Dan sebagainya8.
Di pertegas setelah di keluarkannya maklumat pemerintah tanggal 14 november 1945 tentang susunan Kabinet II di bawah pimpinan perdana menteri St. Sjahrir. Dalam maklumat pemerintah ini ditegaskan bahwa ‘’yang terpenting dalam perubahan-perubahan susunan kabinet itu ialah, bahwa tanggung jawab adalah di dalam tangan menteri.
Dalam maklumat wakil presiden tersebut ditetapkan bahwa KNIP, sebelum terbentuk MPR dan DPR, diserahkan kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan garis-garis besar dari pada haluan negara dan mengingat gentingnya keadaan, pekerjaan KNIP sehari-hari akan di kerjakan oleh Badan Pekerja. Menurut putusan ini maka Badan Pekerja Berkewajiban dan Berhak : 1. Turut menetapkan garis-garis besar haluan negara
Ini berarti, bahwa badan pekerja, bersama-sama dengan Presiden, menetapkan garis-garis besar haluan negara, badan pekerja tidak berhak ikut campur dalam kebijakasanaan (dagelijksbeleit) pemerintah sehari-hari. Ini tetap ditangan presiden semata-mata
2. Menetapkan bersama-sama dengan presiden undang-undang yang boleh menegenai segala macam urusan pemerintahan. Yang menjalankan undang-undang ini adalah pemerintah, artinya : presiden di bantu oleh menteri-menteri dan pegawai-pegawai yang di bawahnya.
Berhubung dengan perubahan dalam kedudukan dan kewajiban KNIP,mulai tangaal 17 oktober 1945 KNIP (dan atas namanya badan pekerja) tidak berhak lagi mengurus hal-hal yang berkenaan dengan tindakan pemerintah (uitvoering).
2) Arti Kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia
Dengan proklamasi kemerdekaan indonesia tanggal 17 agustus 1945 tata hukum lama (maksudnya tata hukum hindia belanda) telah didobrak, dan lahirnya tata hukum baru, yaitu tata hukum indonesia. Dengan demikian di penuhilah unsur-unsur untuk adanya negara, yaitu :
Wilayah; yaitu bekas wilayah hindia belanda dahulu
Warganegara; yaitu meliputi bekas kaula negara hindia belanda Pemerintah yang berdaulat
Yang menjadi dasar hukum bagi tata hukum indonesia adalah proklamasi kemerdekaan indonesia sehingga menjadi dasae berlakunya segala macam peraturan perundang-undangan, baik undang dasar, Undang-Undang, peraturan pemerintah, maupun peraturan perundang-undangan lainnya. Jadi dengan demikian proklamasi kemerdekaan indonesia tanggal 17 agustus 1945 merupakan norma dasar bagi tata hukum indonesia.
Satu-satunya sumber norma dasar adalah Pancasila. Hal ini dikatakan dalam ketetapan Majelis Permusyaratan Sementara No. : XX/MPRS/1966 sebagai berikut : ‘’sumber dari tertib hukum sesuatu negara atau yang biasa di sebut sebagai sumber daripada segala sumber hukum’’ adalah pandangan meliputi suasana kejiwaan dan watak dari rakyat negara yang bersangkutan.
falsasafah bangsa indonesia, untuk mempertahankan serta mengisi kemerdekaannya.
3) Sifat Undang-Undang Dasar
Undang-Undang dasar 1945 yang di sahkan serta ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 17 agustus masih sementara; sifat kesementaraanya ini teryata dari ketentuan pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945 itu sendiri yang menentjukan : Majelis permusyawaratan Rakyat menetapkan Undang-undang Dasar9.
Sifat kesementaraan Undang-undang Dasar 1945 tersebut juga dapat di ketahui dari ketentuan aturan tambahan kalimat kedua Undang-Undang Dasar 1945 yang menentukan : dalam enam bulan sesudah MPR di bentuk, Majelis itu bersidang Untuk menetapkan Undang-Undang Dasar.
Tetapi selamaberlakunya Undang-Undang dasar 1945 dalam kurun waktu pertama, yaitu dari tanggal 18 agustus 1945 sampai tangggal 27 desember 1949 Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut belum pernah terbentuk.
Menurut ketentuan pasal 2 ayat (1) undang-undang Dasar 1945 MPR terdiri dari atas anggota-anggota DPR di tambah dengan utusan-utusan daerah dan golongan. Menurut aturan yang ditetapkan dengan Undang-undang. Jadi terbentuknya MPR, harus di selenggarakan dulu pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, sedangkan untuk dapat menyelenggarakan pemilihan umum harus ada Undang-undang tentang pemilihan umum terlebih dahulu. Undang-undangnya belum ada karena pembentuknya, yaitu presiden dengan persetujuan DPR, DPRnya pun belum terbentuk.
Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) UUD 1945 di katakan bahwa Badan yang akan besar jumlahnya bersidang sedikit-dikitnya sekali dalam lima tahun. Sedikit-dikitnya jadi kalau perlu dalam lima tahun tentu boleh bersidang lebih dari sekali dengan mengadakan persidangan istimewa.
4) Bentuk Negara
Berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat (1) UUD 1945 negara indonesia ialah negara kesatuan, yang berbentuk republik. Kesatuan bukanlah menunjukan bentuk negaranya, melainkan menunjukan sifat susuna negara. Negara kesatuan ialah negara yang bersusunan tunggal, jadi tidak ada negara di dalam negara.
5) Sistem Pemerintahan Negara
Menurut UUD 1945, pemerintah republik indonesia dipimpin oleh presiden dan di bantu oleh wakil presiden (pasal 4 ayat (1) dan (2). Presiden, kecuali sebagai kepala negara ia juga sebgai kepala pemerintahan10.
Sistem pemerintahan kita adalah presidensiil dalam arti kepala pemerintahan adalah presiden, dan pihak lain ia tidak bertanggung jawab kepada DPR, artinya kedudukan presiden tidak tergantung kepada DPR(alinea kedua angka V, penjelasan tentang UUD 1945).
Kecuali presiden di bantu oleh wakil presiden, ia juga dibantu oleh menteri-menteri negara, yang memimpim departemen pemerintahan (sekarang ada menteri yang tidak memimpin departemen), di angkat dan diberhentikan presiden (pasal 17 ayat (1), (2), dan (3)). Menteri-menteri ini tidak bertanggung jawab kepada DPR. Kedudukannya tidak tergantung kepada DPR, akan tetapi tergantung presiden. Mereka adalah pembatu presiden (angka VI penjelasan UUD 1945). Sementara itu kedudukan menteri-menteri dikatakan bukan pegawai tinggi biasa sekalipun kedudukannya itu tergantung presiden. Merekalah yang menjalankan pouvoir executif (kekuasaan pemerintah) dalam praktiknya.
Dengan demikian dalam sistem pemerintahan kabinet presidensiil ini kekuasaan presiden sangat luas, sedangkan pada waktu itu keadaan menjadi gawat. Sehubungan denga keadaan tersebut dipertimbangkan perlu adanya badan ikut bertanggung jawab tentang nasib bangsa dan negara indonesia di samping pemerintah (presiden). Untuk memenuhi maksud ini di keluarkanlah
maklumat wakil presiden No. : X tanggal 16 oktober 1945 tentang pemberian kekuasaan legislatif kepada KNIP. ‘’bahwa komite nasional pusat, sebelum terbentuk majelis permusyawaratan rakyat dan dewan perwakilan rakyat di serahi kekuasaan legislatif dan ikut serta menetapkan garis-garis besar dari halaun negara, serta bahwa pekerja komite nasional pusat sehari-hari berhubung dengan gentingnya keadaan oleh sebuah badan pekerja yang di pilih dia antara yang bertanggung jawan kepada komite nasioanal pusat’’.
Menurut ketentuan pasal IV aturan peralihan UUD 1945 fungsi KNIP adalah sebagi pembantu presiden dalam hal presiden menjalankana kekuasaan MPR, DPR, atau DPA sebelum badan-badan dapat di bentuk.
Dengan di keluarkannya maklumat wakil presiden presiden No. : X tanggal 16 oktober 1945 tersebut semakin dipertegas kedudukan Komite nasional pusat yang pada waktu itu di anggap sebagai DPR, bahkan di anggap sebagai MPR karena ikut serta menetapkan GBHN11.
Hal ini akan menimbulkan kosekuensi lebih lanjut, khususnya dalam pelaksanann sistem pemerintahan negara yaitu terjadinya perubahan sistem pemerintahan negara dari sistem pemerintahan presidensiil berubah menjadi sistem pemerintahan parlementer, tanpa mengadakan bunyi pasal-pasal yang bersangkutan dalam batang tubuh UUD 1945 maupun pasal IV aturan peralihan UUD 1945. Jadi perubahan tersebut terjadi dalam praktek penyelenggaraan sistem ketatanegaraan.
Perubahan tersebut terjadi setelah di keluarkannya maklumat pemerintahan tanggal 14 nopember 1945 tentang susuna kabinet II di bawah pimpinan perdana menteri St. Sjahrir. Dalam maklumat pemerintah ini di tegaskan bahwa ‘’yang terpenting dalam perubahan-perubahan kabinet baru itu ialah, bahwa tanggung jawab adalah di dalam tangan menteri’'
BAB III
TERBENTUKNYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA SERIKAT
1. Proses Terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat
Berdirinya Negara Republik Indonesia atas dasar Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyatakan menyerah kalah tanpa syarat dalam Perang Dunia II kepada pihak Sekutu tanggal 15 Agustus 1945.
Saat Belanda tahu bahwa Indonesia telah merdeka maka pihak Belanda tidak tinggal diam, ia ingin menjajah kembali dengan berusaha menduduki wilayah Negara Republik Indonesia dan merebut kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Sejak saat itu berkembanglah dua bentuk pemerintahan di wilayah Negara Republik Indonesia :
a. Pemerintahan Republik Indonesia yang mempertahankan kemerdekaanya serta kedaulatannya baik terhadap pihak Belanda maupun terhadap dunia luar berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
b. Pemerintah Negara-negara kecil yang didirikan oleh, atau setidaknya atas bantuan Belanda.
Akibat mendapatkan perlawanan sengit dari bangsa Indonesia, maka Belanda menyadari bahwa tidaklah mungkin menjajah dan kembali mendirikan pemerintahan seperti pada jaman Hindia Belanda dahulu. Namun Belanda masih memiliki cara lain, yaitu diusahakan terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat. Dengan maksud melemahkan bahkan menghancurkan sama sekali Pemerintahan Republik Indonesia (Proklamasi Yogyakarta) dalam menghadapi pihak Belanda.
Untuk maksud serta keperluan itulah maka dibentuk Komite Indonesia Serikat. Setelah negara-negara kecil dibentuk kemudian bergabung dalam Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Pertemuan Untuk Permusyawaratan Federal.
hakikatnya bersifat mempersempit wilayah kekuasaan Pemerintahan Republik Indonesia.
Tetapi karena usaha-usaha tersebut masih belum berhasil, maka jalan lain yang diambil oleh pihak Belanda dengan jalam mengadakan tindakan kekerasan bersenjata, dilakukan diwilayah mana oleh pihak Belanda baik dalam Persetujuan Linggarjati dan Persetujuan Renville telah diakuinya sebagai wilayah Republik Indonesia.
Namun sesungguhnya dipandang dari segi strategis maupun politis tindakan kedua agresi Belanda justru mempertinggi semangat perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.
Oleh karena pertikaian yang semakin memuncak dan situaasi semakin menjadi gawat maka Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan untuk menyelesaikannya, yaitu dengan diadakannya Konferensi Meja Bundar atau KMB. Dalam konferensi tersebut PBB bertindak sebagai mediator.
Setelah tanggal 14 Desember 1949 pengesahan Piagam Penandatanganan Konstitusi Republik Indonesia Serikat, pada tanggal 27 Desember 1949 berdilah Negara Republik Indonesia Serikat dan Negara Republik Indonesia(Proklamasi Yogyakarta) hanya berstatus negara bagian.
Saat agresi Belanda yang kedua pada 19 Desember 1948 bangsa Indonesia mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk mengadakan perubahan dalam negeri, yaitu merubah bentuk susunan negara dari Negara Federasi menjadi bentuk susunan Kesatuan kembali.
Negara Federasi merupakan negara yang tersusun dari beberapa negara yang semula berdiri sendiri, kemudian negara itu mengadakan ikatan kerjasama yang efektif namun masing-masing negara masih ingin memiliki kewenangan yang dapat diurus sendiri. Dapat diurus sendiri dimaksudkan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi kesimpang siuran, serta tetap ada kesatuan karena ini menentukan hidup matinya negara tersebut.
Negara Serikst dan Perserikatan Negara. Negara Serikat dimana kedaulatan ada pada Pemerintah Negara Federasi. Namun Perserikatan Negara merupakan kedaulatan itu masih tetap ada pada Pemerintah Negara-Negara Bagian.
2. Sifat Konstitusi Republik indonesia Serikat 1949
Konstitusi Republik Indonesia Serikat masih bersifat sementara, hal ini dapat diketahui dari :
a. Ketentuan pasal 186 Konstitusi Republik Indonesi Serikat 1949. b. Pasal 1 Undang-undang Federal No. 7 Tahun 1950
3. Bentuk Negara
Tertera dalam ketentuan pasal 1 ayat (1) Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949 dapat diketahui bahwa bentuk negaranya adalah Federasi. Pasal 1 ayat (1) Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949 tersebut menentukan : “Republik Indonesia Serikat yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokrasi dan berbentuk Federasi”.
4. Sistem Pemerintahan Negara
Menurut ketentuan pasal-pasal Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949 sistem pemerintahan negara yang dianut adalah sistem pemerintahan Kabinet Perlementer. Dimana sistem pemerintahan ini biasanya dianut oleh negara demokrasi, dengan sistem pemisahan kekuasaan, ada hubungan timbal balik yang bersifat politis, dengan konsekuensi apabila salah satu badan kebijaksanaannya tidak dapat diterima oleh badan lain, dapat dibubarkan.
Sistem parlementer dibagi dalam dua segi, yaitu :
a. Segi positif berarti bahwa para Menteri harus diangkat oleh, atau sesuai dengan mayoritas dalam Dewan Perwakilan Rakyat.
Dengan demikian maka yang bertanggung jawab atas keputusan atau peraturan adalah menteri yang bersangkutan, yaitu yang turut serta menandatangani keputusan atau peraturan tadi. Maka di dalam sistem parlementer ini Kepala Negara diberi kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat.
Inilah pengertian secara singkat yang disebnut sistem parlementer, yaitu ketika Negara Indonesia berada di bawah kekuasaan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949, dan juga ketika di bawah kekuasaan Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950, juga di negara-negara Eropa Barat.
BAB IV
1. Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949 menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
Sejak terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949, maka semakin kuatlah perjuangan bangsa Indonesia menetang susunan negara yang federalistis dan sebaliknya semakin kuat tuntutan untuk kembali kepada bentuk susunan negara yang unitaristis.
Jadi perubahan Konstitusi Sementara Republik Indoenesia Serikat 1949 tersebut dilakukan berdasakan pasal 190, pasal 127 huruf a dan pasal 191 ayat (2) sehingga dilakukan dengan Undang-undang Federal yang dibentuk oleh Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat, dan Senat; yaitu Undang-undang Federal No. : 7 tahun 1950 tentang “Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia”; Lembaran Negara No. : 56 Tahun 1950.
2. Sifat Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
Kecuali dari namanya, sifat kesementaraan ini juga dapat diketahui dari ketentuan :
a. Pasal 1 Undang-undang Federal No. : 7 Tahun 1950,
b. Pasal 134 Undang-undang Daasar Sementara Republik Indonesia.
3. Sistem Pemerintahan Negara menurut Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
Rakyat tidak dapat memaksa Kabinet atau masing-masing Menteri meletakkan jabatannya.
4. Bentuk Negara
BAB V
BERLAKUNYA LAGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA 1945
Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950 merupakan undang yang berlaku hanya sementara, sebelum dibuatnya Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang baru dan bersifat disinitif (tetap).
Dalam ketentuan pasal 134 telah ditegaskan bahwa Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950 menyatakan “Konstituante (Sidang Pembuat Undang-undang Dasar) bersama-sama dengan Pemerintah selekas-lekasnya menetapkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan UUDS sementara ini”.
Susunan konstituante menurut pasal 135 UUDS 1950adalah berlainan daripada susunan Konstituante yang dimaksud dalam pasal 188 Konstitusi Sementara Republik Indonesia 1949.
Berdasarkan Undang-undang No.7 Tahun 1953 tentang Pemilihan Umum untuk Aanggota-anggota Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakyat, Lembaran Negara No.29 Tahun 1953, maka pada bulan September 1955 telah dilaksanakan pemilihan umum untuk anggota-anggota DPR dan kemudian pada bulan Desember 1955 juga telah dilaksanakan pemilihan umum untuk anggota-anggota Konstituante yang pelantikannya dilaksanakan ada tanggal 10 November 1956.
Namun setelah lebih-kurang 2,5 tahun bekerja Konstituante belum dapat menghasilkan Undang-undang Dasar karena adanya perbedaan pendapat dalam Konstituante yang disebabkan oleh suatu kesalahan. Kesalahan tersebut yaitu UUDS Republik Indonesia 1950 dianut dan dilaksanakan Demokrasi Liberal (demokrasi yang mengutamakan kebebasan individu), demokrasi ini ternyata tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
sidangnya pada tanggal 10 Februari 1959 mengambil keputusan untuk melaksanakan Demokrasi Terpimpin dengan cara kembali pada UUD RI 1945.
Menurut ketentuan pasal 134 UUDS RI 1950 yang memiliki wewenang untuk menetapkan Undang-undang Dasar itu adalah Konstituante bersama-sama dengan pemerintah, maka dari itu agar kembali kepada Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 itu dapat ditetapkan secara Konstitusionel yaitu melalui tata cara yang telah ditentukan menurut pasal 134, pasal 137 UUDS RI 1950.
Setelah Konstituante tidak mungkin lagi dapat menyelesaikan tugasnya, maka hal tersebut menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan, kesatuan, serta keselamatan Negara, Nusa dan Bangsa Indonesia serta menghambat tercapainya tujuan negara, maka pada tanggal 5 Juli 1959 dilaksanakanlah Dekrit Presiden dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.150 Tahun 1959, UUD RI 1945 dinyatakan lagi.
Dengan demikian Presiden tidak hanya berkedudukan sebagaimana menurut sistem ketatanegaraan UUDS RI 1950, melainkan berdasar sistem ketatanegaraan UUD RI 1945 dimana Presiden berkedudukan sebagai :
1. Kepala Negara. 2. Kepala Pemerintahan.
3. Pembentukan Undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.: XX/MPRS/1966 tersebut antara lain dikemukakan bahwa : “Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 tersebut merupakan sumber bagi berlakunya kembali UUD RI 1945 sejak penetapan Dekrit Presiden tersebut dikeluarkan atas dasar hukum darurat negara (Staatsnoodrecht), mengingat keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan kesatuan Negara, Nusa dan Bangsa Indonesia, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, yang disebabkan kegagalan Konstituante dalam melaksanakan tugasnya.
perundang-undangan yang berlaku sehari-hari, manakala kepentingan negara menghendaki yang demikian itu, artinya negara sedang terancam persatuan, kesatuan, serta keselamatannya.
Selain itu latar belakang yang lebih mendalam terkait dikeluarkannya Dekrit Presiden ialah ekses-ekses pelaksanaan demokrasi liberal berdasarkan Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950, yang sebenarnya bertentangan dengan Demokrasi Terpimpin berdasarkan Pancasila.
Demikianlah tindakan Presiden dalam hal mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dapat digolongkan pada suatu tindakan yang didasarkan kepada hukum darurat negara yang subyektif (tidak konstitusionil). Kekuatan berlakunya tindakan Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 1959 semata-mata adalah pada penerimaan rakyatnya, selain daripada itu dibagian awal telah dijelaskan ialah penerimaan Dewan Perwakilan Rakyat atas kesediaannya untuk bekerja terus atas dasar Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden menyebabkan adanya perubahan dalam sistem ketatanegaraan antara lain pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri dari anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara, diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Sejak berlakunya lagi Undang-undang Dasar 1945 berdasarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, banyak terjadinya penyimpangan-penyimpangan akibat tidak dilaksanakannya Undang-undang dasar 1945 secara murni dan koonsekuen. Penyimpangan tersebut antara lain banyaknya lembaga-lembaga negara yang tidak berfungsi sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Dasar 1945. Puncak penyimpangan dan atau penyelewengan terjadap Undang-undang Dasar 1945 tersebut ialah terjadinya gerakan kontra revolusi G.30. S/PKI.
Dasar 1945, yang antara lain perlu diadakannya peninjauan kembali terhadap produk-produk legislasi negara, maka dikeluarkanlah Ketetapan MPRS No. XIX/MPRS/1996 dan No. XX/MPRS/1966.
Pengangkatan 1/3 (sepertiga) jumlah anggota lembaga negara pemegang kedaulatan rakyat, yaitu MPR tersebut oleh Presiden untuk mengamankan Pancasila dan UUD 1945, ini berdasarkan atas konsensus perjuangan sejak permulaan pemerintahan Orde Baru. Berdasarkan berbagai pertimbangan pada waktu itu dapat dikonsensuskan antara semua pimpinan partai politik dan Golongan Karya dan ABRI (Angkatan Bersenjata Repbulik Indonesia), bahwa ABRI tidak ikut serta dalam pemilu, tetapi duduk dalam keanggotaan MPR dan DPR melalui pengangkatan oleh Presiden.
Apabila MPR berkehendak untuk mengubah Undang-undang Dasar 1945 melalui pasal 37 UUD 1945, sebelum kehendak tersebut dilaksanakan maka MPR terlebih dahulu harus minta ijin kepada rakyat melalui suatu referendum. Rakyat setuju atau tidak atas penggunaan hak MPR mengubah UUD 1945 melalui pasal 37 UUD 1945 tersebut.
BAB VI
PEMBENTUKAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA TINGKAT PUSAT SETELAH BERLAKUNYA LAGI UNDANG-UNDANG DASAR REPUBLIK INDONESIA 1945 BERDASARKAN DEKRIT PRESIDEN
TANGGAL 5 JULI 1959
1) Presiden dan Menteri-Menteri
Sejak berlakunya Undang-undang Dasar Republik Indonesia berdasarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, Presiden hanya berkedudukan sebagai Kepala Negara, Presiden juga berkedudukan sebagai : 1. Kepala Negara
2. Kepala Pemerintahan, dan
3. Pembentukan Undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Bersamaan dengan itu, pada tanggal 10 Juli 1959, Presiden Soekarno mengumumkan susunan serta nama-nama Menteri Kabinet baru, yaitu Kabinet Presidensiil. Sesuai ketentuan pasal 17 Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 maka :
1. Para Menteri itu berkedudukan sebagai Pembantu Presiden; 2. Para Menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; 3. Para Menteri itu memimpin Departemen Pemerintahan.
2) Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
Selama Dewan Perwakilan Rakyat yang baru dibentuk berdasarkan Undang-undang sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan pasal 19 ayat (1) UUD RI 1945 belum dalam dibentuk, maka dengan Penetapan Presiden No. 1 Th. 1959, Dewan Perwakilan Rakyat hasil pemilihan umum tersebut di atas supaya menjalankan tugas-tugas Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan UUD RI 1945.
Rakyat berdasarkan Undang-undang sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 19 ayat (1) Undang-undng Dasar Republik Indonesia 1945.
Oleh karena itu kemudian diadakan pembaharuan, yaitu dengan Penetapan Presiden No. 3 Tahun 1960 tentang “Pembaharuan Susuna Dewan Perwakilana Rakyat: yaitu :
a. Penghentian pelaksanaan tugas dan pekerjaan anggauta Dewa Perwakilan Rakyat sekarang.
b. Pembaharuan susunan Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 pada waktu yang singkat.
c. Penetapan presiden ini mulai berlaku pada tanggal 5 Maret 1960.
Untuk melaksanakan pembaharuan susunan Dewan Perwakilan, kemudian dikeluarkan Penetapan Presiden No. 4 Tahun 190 tentang “Susunan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong”. Penetapan ini berlaku pada tanggal 24 Juni 1960.
3) Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
Untuk melaksanakan Diktum Presiden tanggal 5 Juli 1959 maka dikeluarkanlah Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959 tentang “Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara”. Sebagai Peraturan lebih lanjut dikelurakanlah Peraturan No. 12 Tahun 1960 tentang “Susunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara”.
Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959 mulai berlaku pada tanggal 22 Juli 1959 sedangkan Peraturan No. 12 Tahun 1960 mulai berlaku pada tanggal 31 Desember 1959.
4) Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Diktum ketiga Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 tersebut, maka dikeluarkanlah Penetapan Presiden No. 3 Tahun 1959 tentang “Dewan Pertimbangan Agung Sementara” yang menurut ketentuan pasal 2 Penetapan Presiden tersebut bahwa :
(2) Jumlah anggauta Dewan Pertimbangan Agung Sementara ditetapkan oleh Presiden.
(3) Anggauta-anggauta Dewan Pertimbangan Agung Sementara diangkat dari: Partai-partai politik, Golongan karya, Orang-orang yang dapat mengemukakan persoalan-persoalan daerah; dan Tokoh-tokoh nasional
5) Badan Pemeriksaan Keuangan
Tugas Badan Pemeriksa Keuangan adalah mengadakan ringkasan tentang pengumpulan dan penggunaan keuangan Negara yang dilakukan oleh Pemerintah seperti yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang telah ditetapkan dengan UU Ps. 23 ayat (5) UUD RI 1945. Hasil pemeriksaan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Ps. 23 ayat (5) UUD RI 1945. Hasil laporan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dipergunakan sebagai bahan pengawasan jalannya pemerintahan Negara, terutama dalam bidang keuangan.
6) Mahkamah Agung
Mahkamah agung berfungsi sebagai badan pengadilan tertinggi dengan tugas : 1. Mengawasi jalannya peradilan pada pengadilan lain dengan jalan peradilan
kasasi
2. Mahkamah Agung berwenang untuk menilai peraturan perundangan di bawah Undang-undang dengan alasan bertentangan dengan peraturan yang tingkatnya lebih tinggi
BAB VII
PENYELESAIAAN MENGENAI MASALAH IRIAN BARAT
Dalam Undang-undang Dasar RI 1945 tidak terdapat satu ketentuan pasalpun yang menentukan sampai dimana batas daerah Negara Republik Indonesia. Ir. Soekarno maupun Drs. Muhammad Hatta mengemukakan dalam rapat Badan Penyelidikan Usaha Periapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 10 Juli 1945 bahwa dalam UUD tidak perlu diadakan ketentuan mengenai Batas Negara12, sebab masalah batas negara sebenarnya bukan merupakan persoalan dari
bangsa itu sendiri. Tetapi harus ditentuakan dengan suatu Perjanjian Internasional/ dengan Perjuangan senjata.
Dalam rapatnya tanggal 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarto telah menegaskan bahwa hendaknya yang dijadikan pedoman mengenai batas Negara, ialah “bekas daerah Hindia Belanda dahulu”13
Menurut ketentuan keputusan Konperensi Meja Bundar di S’Gravenhage – Den Haag yang berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 sampai dengan 2 Nopember 1949, terhadap Irian Barat tetap diberlakukan statusquo, dengan ketentuan bahwa selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun setelah penyerahan kedaulatan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda terhadap Pemerintah Negara Republik Indonesia serikat, maka masalah statusquo (kedudukan kenegaraan) Irian Barat akan diselesaikan dengan jalan perundingan antara Pemerintah Negara RI Serikat dengan pemerintah Kerajaan Belanda.
Pada waktu negara Indonesia kembali ke susunan Negara Kesatuan cara yang ditempuh ialah merubah Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949 menjadi UUD RI 1950, perubahan nama dilakukan dengan UU Federal No. 7 Tahun 1950. Dalam UUD Sementara RI 1950 ternyata sikapnya lebih tegas, karena ternyata dalam ketentuan pasal 2 UUD Sementara RI 1950 tersebut ditentukan bahwa “Republi Indonesia meliputi seluruh daerah Indonesia. Dalam
12 Periksa : Prof. mr. H. Muhammad Yamin; Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945; Jilid I; hal. 185
penjelasan Rencana UUD ini bahwa yang dimaksud daerah-daerah “Indonesia” itu ialah daerah “Hindia Belanda, dulu.
Daerah tersebut meliputi Irian Barat. Irian barat adalah de jure bagian dari Republik Indonesia. Maka dengan demikian ketentuan Pasal 2 Undang-undang Dasar Sementara RI 1950 merupakan reaksi, dan sekaligus koreksi terhadap pasal 2 Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949, dan lebih daripada itu tidak mengakui kekuasaan Belanda atas daerah Irian Barat.
Pada tahun 1959 Presiden Soekarno dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 yang diberi judul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” mengingatkan kembali kepada bangsa Indonesia akan tujuan revolusi Bangsa Indonesia. Pidato tersebut memuat 3 segi kerangka, yaitu :
a. Bahwa Negara Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat meliputi juga bekas Karesidenan Irian Barat;
b. Bersikap waspada terhadap politik devide et impera Belanda; c. Menggalang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Pada tanggal 19 Desember 1961 dikeluarkanlah “TRI KOMANDO RA RAKYAT” (TRIKORA) yang mengkomandokan :
a. Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua, buatan Belanda kolonialisme; b. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, Tanah Air Indonesia;
c. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa.
1. Perairan Indonesia ialah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia.
2. Laut wilayah Indonesia ialah laut selebar 12 mil laut yang luarnya diukur tegak lurus atas garis dasar/ titik pada garis dasar yang terdiri dari garis-garis lurus yang menghubungkan ititk terluar garis air terendah pada pulau-pulau, maka garis batas laut wilayah Indonesia ditarik pada tengah selat.
3. Perairan pedalaman Indonesia ialah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis dasar sebagai yang dimaksud dalam ayat 2.
BAB VIII
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SECARA MURNI DAN KONSEKUEN
1) Lahirnya Orde Baru
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 berlaku kembali setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1949 sampai awal tahun 1966. Namun dengan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 itu belum berarti sudah dilaksanakan dengan baik, pada pelaksanaannya belum dilaksanakan secara murni dan konsekuen dikarenakan adanya beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh lembaga pelaksana pada zaman tersebut, antara lain adalah sebagai berikut.
Banyak lembaga negara yang masih bersifat sementara serta belum adanya upaya pengupasan mengenai fungsi-fungsi lembaga negara tersebut sudah sesuai dengan ketentuan UUD 1945 atau msh harus dikaji kembali. Lembaga negara tersebut antara lain adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Pertimbangan Agung, dan Badan Pemeriksa Keuangan.
Presiden yang pada masa itu belum menggunakan kekuasaan engan semestinya. Hal ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya Penetalan Presiden tanpa adanya persetujuan dari DPR, padahal sebagai kepala legislatif negara Presiden mempunyai wewenang mengeluarkan peraturan berupa perundang-undangan itupun hanya dengan persetujuan DPR. Adanya penyimpangan yang dilakukan oleh MPR dengan ketetapannya
No. III/MPR/1963 karena telah melantik Soekarno sebagai Presien seumur hidup. Padahal hal yang dilakukan oleh MPR tersebut jelas menyimpang dari Pasal 7 UUD 1945 yang berbunyi "Presiden dan Wakil Presiden memgang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali."
Belanja Negara kepada DPR sebelum berlakunya tahun anggaran yang bersangkutan. Bahkan pada tahun 1960 Presiden membubarkan DPR dengan alasan yang sepele karena DPR tidak dapat menyetujui RAPBN yang telah diajukan oleh pemerintah.
Keadaan demikian yang mana banyak sekali terjadi penyimpangan atas UUD 1945 tidak hanya menjadikan sistem pemerintahan negara berjalan tidak baik pada masa itu melainkan juga menjadikan kemerosotan diberbagai bidang seperti politik, ekonomi dan keamanan negara. Hal tersebut merupakan faktor memuncaknya keamarahan masyarakat dengan timbulnya pemberontakan yang gagal G-30-S/PKI. Dengan keadaan kacau seperti ini, maka timbullah tuntutan yang dipelopori oleh angkatan 66 dengan tuntutan yang dikenal dengan sebutan TRITURA yaitu :
1. Pelaksanaan kembali secara murni dan konsekuen UUD Republik Indonesia 1945.
2. Pembubaran Partai Komunis Indonesia. 3. Penurunan harga barang-barang.
Pada akhirnya diadakanlah tindakan maha penting dalam sejarah ketatanegaraan Indoneaia yaitu dengan dikeluarkannya Surat Perintah Presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto pada tanggal 11 Maret 1966 yang kemudian dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret atau SUPERSEMAR. Surat Perintah ini merupakan kunci pembuka babak baru dalam sejarah Ketatanegaraan Indonesia. Surat perintah tersebut merupakan suatu detik yang menentukan jalan sejarah Ketatanegaraan Indonesia serta sejarah revolusi Indonesia selanjutnya bagi Revolusi Pancasila di Indonesia.
kehidupan sosial masyarakat untuk menghilangkan segala yang abnormal dan mengembalikan kepada keadaan yang seharusnya.
Keluarnya Supersemar tersebut ternyata mendapat simpati serta dukungan dari seluruh masyarakat di Indonesia. Indonesia sebagai negara hukum mengharuskan segala tindakan oleh siapapun baik penguasa ataupun masyarakat harus berdasarkan hukum yang berada. Lalu apakah dasar hukum dikeluarkannya Supersemar oleh Soekarno kepada Soeharto ? Ketika melihat dasar hukum maka sudah jelas bahwa dasar hukum Supersemar yang disebutkan dalam konsideran Supersemar itu sendiri yaitu :
a. Perlu adanya ketenangan dan kestabilan pemerintah serta jalannya Revolusi Indonesia.
b. Perlu adanya jaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Rakyat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala ajaran-ajarannya.
Dari kedua kalimat konsideran Supersemar tersebut sudah jelas bahwa dasar hukum dikeluarkannya Supersemar adalah 'Hak Darurat Negara' atau 'Hukum Darurat Negara'. Berdasarkan bunyi konsideran tersebut dapat dikatakan bahwa dasar hukumnya adalah "hak darurat negara yang subjektif". MPRS sendiri dalam ketetapannya No.:IX/MPRS/1966 yabg mengatakan sebagai "suatu upaya khusus untul mengatasi ancaman bahaya terhadap keselamatan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, kewibawaan pimpinan revolusi, serta terhadap keutuhan Bangsa dan Negara."
2) Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia yang Ke IV
Sejak ditetapkannya Supersemar oleh ketetapan MPRS Republik Indonesia No.:IX/MPRS/1966, maka sejak saat itu mulailah dapat dijamin usaha-usaha pelaksanaan salah satu unsur atau tuntutan rakyat yang terkandung dalam Tri Tuntutan Rakyat yaitu melaksanakan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 secara murni dan konsekuen. Untuk itu perlunya langkah untuk harus ditegakkannya kembali lembaga-lembaga negara yang demokratis. Dalam hal ini yang penting ialah sidang umum ke IV MPRS RI yang dilaksanakan di Jakarta pada bulan Juli 1996 yang sesuai dengan ketentuan di dalam UUD 1945. Sidang kali ini menghasilkan 24 buah ketetapan, dengan begitu lengkaplah sudah landasan bekerja untuk waktu selanjutnya dalam penyelenggaraan pemerintahan negara dalam rangka pelaksanaan secara murni dan konsekuen UUD 1945. Beberapa buah ketetapan tersebut merupakan hasil koreksi terhadap Ketetapan-Ketetapan MPRS RI yang sebelumnya. Oleh karena iru apabila tidak tegas merubah atau mencabut ketetapan yang sebelumnya maka akan timbul tubrukan makna dalam ketetapan keteapan tersebut sehingga diberlakukan asas hukum "apabila lebih dari satu peraturan yang satu bertentangan dengan yang lainnya maka yang diberlakukan atau yang dimenangkan adalah peraturan yang baru".
3) Orde Baru
Pengertian Orde Baru menurut Angkatan Darat Republik Indonesia yang pokok-pokok hasilnya adalah sebagai berikut.
1. Musuh utama orde baru adalah Partai Komunis Indonesia beserta pengikut-pengikutnya.
2. Orde baru adalah suatu sikap mental.
3. Tujuan orde baru adalah menciptakan kehidupan politik, ekonomi dan kulturil yang dijiwai moral Pancasila khususnya sila pertama.
4. Orde baru menghendaki suatu pikiran yang realistis dan pragmatis.
berdasarkan lembaga lembaga dan kurang dipengaruhi oleh oknum oknum 6. Orde baru mengutamakan konsolidasi ekonomi dan sosial ke luar negeri 7. Orde baru menghendaki pelaksanaan yang sungguh sungguh dari
demokrasi politik dan ekonomi
8. Orde baru menghendaki suatu tatanan politik yang berlandaskan Pancasila dan didasarkan oleh konstitusi negara.
9. Orde baru adalah suatu proses peralihan dari orde lama, masih menunggu pelaksanaan dari segala ketententuan Ketetapan MPRS RI.
BAB IX
PELAKSANAAN PEMILU
Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia telah melaksanakan pemilihan umum atau pemilu yang pertama pada bulan September 1955 berdasarkan Undang-Undang No.:7 Tahun 1953 dan Lembaran Negara No.:29 Tahun 1953.
Berdasarkan undang undang tersebut maka bulan September 1955 telah dilakukan pemilihan umum untuk Anggauta-Anggauta DPR dan kemudian pada bulan Desember telah lula diselenggarakan pemilu untuk Anggauta Anggauta Konstituante yang pelantikkannya dilakukan pada tanggal 10 Nopember 1956. Pada qaktu itu masyarakat menyambut dengan baik dan dengan gembira atas pemilihan tersebut. Harapan mereka antara lain adalah bahwa konstituante segera dapat memenuhi tugasnya membentuk dan menetapkan UUD RI bersama dengan pemerintah yang akan menggantikan UUDS 1950. Tetapi ternyata tugas tersebut tidak dapat dijalankan dengan baik karena terjadinya pertentangan pertentangan politik internal tersendiri. Intuk mengatasi kemacetan Konstitusi yang menimbulkan bencana ke bidang lain maka dengan Dekrit Presiden dinyatakan bahwa : menetapkan pembubaran konstituante.
Kemudian setelah berlakunya kembali UUD RI 1945 berdasarkan Dekrit Presiden pembentukkan lembaga lembaga negara belum juga bersifat demokratis oleh karena itu para Anggauta DPR belum dipilih melalui pemilihan umum tetapi masih ditunjuk oleh presiden.
Sementara itu sehubungan dengan telah dikeluarkannya Ketetapan MPRS No.XI/MPRS/1966 tentang pemilihan umum yang antara lain menentukan : 1. Pemilu yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, dan rahasia
diselenggarakan selambat-lambatnya pada tanggal 5 Juli 1968.
2. Undang undang pemilihan umum dan undang undang susunan MPR, DPR, DPRD sudah harus selesai diundang undangkan selambat lambatnya dalam jangka waktu enam bulan.
tersebut.
Pada ketentuan pasal 1 tersebut bel berjalan sesuai yang dikehendaki lantas dikeluarkanlah Ketetapan MPRS No. XLII/MPRS/1968. Majelia permuayawaratan rakyat republik Indonesia hasil pemilihan umum tersebut kemudian menyelengarakan sidang umum pada tahun 1973.
Pemilihan umum yang ketiga dilaksanakan pada tahun 1977 yang keanggotaannya diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1977 yang kemudian mengadakan sidang umum pada tahun 1978. Sedangkan pemilihan umum berikutnya telah diselenggarakan pada tahun 1982 yang kemudian mengadakan sidang umum pada tanggal 1 sampai dengan 11 Maret 1983. Pemilihan umum selanjutnya diselenggarakan pada tahun 1987 yang kemudian MPR hasil pemilihan umum tahun 1987 ini mengadakan Sidang Umumnya pada tahun 1988.
BAB X PENUTUP
Dari uraian tersebut di muka ternyata bahwa perkembangan Sejarah Ketatanegaraan Indonesia mengalami pasang surut. Perjuangan Bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya sudah dimulai sejak masuknya VOC di Bumi Nusantara atau Indonesia ini pada tahun 1602.
Sebagaimana dikatakan oleh Ir. Soekarno dalam Pidato Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, bahwa telah berpuluh-puluh tahun kita Bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus ratus tahun. Dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka.Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Demikianlah antara lain Pidato Proklamasi Ir. Soekarno sesaat sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia maka berdirilah Negara Indonesia yang merdeka, dan lahirnya Tata hukum Indonesia.
Baru kemudian, 18 Agustus 1945 disyahkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia merdeka oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang mulai berlaku tanggal 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949. Pada tanggal 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950 berlaku Konstitusi Sementara Republik Indonesia 1949. Kemudian dengan Undang-Undang Federal No 7 Tahun 1950 Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949 diubah menjadi Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1950, yang berlaku 17 Agustus 1950 sampai dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 juli 1959.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan rahmat, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Resume Kelompok yang disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Hukum Tata Negara (HTN).
Makalah ini disusun mengingat bahwa bahwa perkembangan Sejarah Ketatanegaraan Indonesia mengalami pasang surut. Perjuangan Bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya sudah dimulai sejak masuknya VOC di Bumi Nusantara atau Negara Indonesia.
DAFTAR ISI
BAB I Zaman Hindia Belanda ....
....1
1) Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
... ... 1
BAB II Berdirinya Negara Indonesia ....
....7
2) Arti Kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia
... ... 10
3) Sifat Undang-Undang Dasar
... ... 11
4) Bentuk Negara
... ... 12
5) Sistem Pemerintahan Negara
... ... 12
BAB III Terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat ....
....14
1) Proses Terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat ... ... 14
... ... 16
3) Bentuk Negara
... ... 16
4) Sistem Pemerintahan Negara
... ... 16
BAB IV Terbentuknya Kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia ....
....18
1) Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949 menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
... ... 18
2) Sifat Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
... ... 18
3) Sistem Pemerintahan Negara menurut Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950
... ... 18
4) Bentuk Negara
... ... 19
BAB V Berlakunya Lagi Undang-Undang Republik Indonesia 1945 ....
BAB VI Pembentukan Lembaga-Lembaga Negara Tingkat Pusat Setelah Berlakunya Lagi Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 Berdasarkan Dekrit Presiden Tanggal 5 Juli 1959 ....
....24
1) Presiden dan Menteri-Menteri
... ... 24
2) Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
... ... 24
3) Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
... ... 25
4) Dewan Pertimbangan Agung Sementara
... ... 25
5) Badan Pemeriksaan Keuangan
... ... 26
6) Mahkamah Agung
... ... 26
BAB VII Penyelesaiaan Mengenai Masalah Irian Barat ....
....27
BAB VIII Pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 Secara Murni Dan Konsekuen
.... ....30
... ... 30
2) Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia yang Ke IV
... ... 33
3) Orde Baru
... ... 33
BAB IX Pelaksanaan Pemilu ....
....35 BAB X Penutup