I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut undang undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta kepribadian yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Undang-Undang ini menginginkan suasana pembelajaran yang dilakukan dengan mengaktifkan peserta didik, dengan kata lain pembelajaran berpusat pada peserta didik, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Pembelajaran juga harus dapat mengembangkan potensi diri dan kreativitas peserta didik secara maksimal. Sejalan dengan itu Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar nasional pendidikan bab IV pasal 19 dinyatakan bahwa :
Peraturan pemerintah ini kembali menekankan tentang penyelenggaraan proses pembelajaran yang menantang, menuntut partisipasi aktif dan memberi ruang yang cukup bagi prakarsa kreativitas siswa. Hal ini sejalan dengan harapan pemerintah dan masyarakat yang menginginkan pembelajaran di sekolah lebih memberi ruang yang cukup bagi prakarsa kreatifitas siswa.
Mempelajari bahasa sangatlah penting termasuk mempelajari Bahasa Inggris untuk para siswa karena bahasa merupakan alat komunikasi bagi para siswa berinteraksi dengan lingkungan belajar hal ini sejalan dengan pemikiran dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan pengertian bahasa yaitu menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Pembelajaran Bahasa Inggris yang ideal adalah pembelajaran yang meletakkan peserta didik sebagai pusat dari pemikiran dan perencanaan pendidik atau yang dikenal dengan istilah student centered. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik bercirikan pada antusiasme, suasana pembelajaran yang hidup dimana siswa terlibat langsung dalam aktivitas pembelajaran. Cameron (2002:2) menyatakan:
If the teacher’s concern is centered on the child, there is a temptation to stay in that first place or to follow the child. The teacher has to do what the child may not be able to do: to keep in sight the longer view, and move the child towards increasingly demanding challenges, so that no learning potential is wasted. A learning- centered perspective on teaching will, I believe, help us to do more effectively.
dibawah KKM 55%
25% diatas KKM 20%(nilai
KKM)
memiliki aktivitas dan kreatifitas dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya prestasi belajar bahasa Inggris siswa
Seperti terlihat pada gambar:
Gambar 1.1 Persentase keberhasilan siswa
SMP Al Kautsar Bandar Lampung untuk mata pelajaran Bahasa Inggris
menetapkan KKM sebesar 68. Sedangkan standar ketuntasan belajar secara yang telah dicapai oleh siswa kelas VII pada semester ganjil hanya sebanyak 45%, kenyataan ini mencerminkan hasil pembelajaran bahasa Inggris yang masih belum memenuhi standar ketuntasan belajar yang ditetapkan yaitu skor 68 dalam
pembelajaran Bahasa Inggris.
Siswa hanya menerima informasi dari guru tanpa adanya timbal balikdan bersifat pasif , guru sebagai pusat informasi (teacher center) Xaviery (2004) menemukan bahwa proses pembelajaran saat ini kurang memiliki daya tarik. Kurang
menariknya pembelajaran karena 2 hal. Pertama, pembelajaran yang dirancang oleh pembelajar tidak dapat memacu keingintahuan pebelajar untuk membedah masalah seputar lingkungan sosialnya sekaligus dapat membentuk opini pribadi terhadap masalah tersebut. Kedua, pembelajar memposisikan diri sebagai pribadi menggurui pebelajar, belum memerankan diri sebagai fasilitator yang
membelajarkan pebelajar.
Berdasarkan kondisi di atas maka perlu dilakukan inovasi satu upaya yang perlu dilakukan untuk mengubah situasi pembelajaran tersebut adalah dengan
menggunakan berbagai metode, strategi dan teknik yang tepat dalam proses pembelajaran secara bervariasi sehingga lebih menarik. Untuk menetukan metode yang baik dan benar perlu adanya teori, Bruner mengemukakan pentingnya teori preskriptif yang melandasi praktik, karena yang ada sebelumnya adalah teori deskriptif. (Yusufhadi, Miarso: 2004:112.) adapun metode yang bisa dijadikan salah satu alternatif adalah metode pembelajaran kooperatif.
materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serata memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah (Trianto 2007:42)
Model pembelajaran kooperatif sangat diminati dan cocok bagi siswa dan siswi SMP Al Kautsar hal ini di dasarkan pengamatan dan angket yang diberikan kepada mereka yang menginginkan pembelajaran berkelompok pada kelas 7 C yang dipilih secara acak.
Tabel 1.1 Tabel Hasil Angket Siswa. Pembelajaran
Berkelompok
Setuju Tidak setuju
Laki laki 11 siswa 5 siswa
Perempuan 13 siswa 3 siswa
meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran dan akan memotivasi siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan motivasi dalam belajar karena akan terjadi kompetisi antar kelompok, dan memungkinkan bagi siswa untuk terlibat secara nyata bertingkah laku, berkerja sama, berkompromi serta saling memberi dukungan.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajar an berkelompok yang dilakukan asal – asalan yaitu saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka akuntabilitas individual dan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi hal ini sesuai pada pembelajaran kooperatif, karena pada pembelajar an kooperatif siswa yang memiliki kemampuan berbeda dalam belajar disatukan dalam suatu kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 anggota, setiap anggota
kelompok saling berkerjasama dan saling membantu dalam usaha memahami bahan pelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan kepada kelompoknya. Dalam pembelajaran kooperatif belum bisa dikatakan selesai apabila salah satu anggota kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran yang dipelajari. Dengan demikian semua semua siswa harus mengerjakan semua tugas yang diberikan bersama kelompoknya selama pembelajaran berlangsung.
dalam proses belajar mengajar, salah satu teknik untuk menciptakan hal itu adalah dengan menggunakan permainan
Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) merupakan salah satu pilihan metode dengan menggunakan permainan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode ini adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama,
persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada lima komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1). Penyajian kelas, 2). Kelompok (team), 3). Game, 4). Turnament, 5). Team recognize (penghargaan kelompok) TGT memiliki dimensi kegembiraan dalam yang diperoleh dari pelaksanaan pertandingan teman satu kelompok akan saling membantu dalam mempersiapkan diri menghadapi pertandingan. Peneliti melakukan penelitian pada pelaksanaan pembelajaran
mengembangkan kegiatan Bahasa Inggris yang berhubungan dengan materi tersebut.
1.2 Identifikasi Masalah
Adapun permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Persentase penguasaan vocabulary siswa yang telah tuntas belajar masih
rendah, hal ini dapat dilihat dari prestasi siswa yang masih rendah.
2. Kurangnya kemauan dan kemampuan guru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang bersifat student centered sehingga dapat mengembangkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan aktivitas siswa dan dapat
mengembangkan seluruh potensi siswa.
3. Metode pembelajaran masih menggunakan metode yang konvensional misalnya dengan menggunakan ceramah.
4. Kurangnya aktivitas pembelajaran siswa telah menyebabkan hasil evaluasi yang masih rendah.
5. Media pembelajaran yang kurang sehingga membuat pembelajaran kurang menarik.
6. Kreatifitas siswa yang kurang berkembang membuat siswa kurang aktif dalam belajar
1.3. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas masalah yang akan diteliti adalah 1. Desain pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran
2. Proses pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
3. Sistem evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
4. Peningkatan aktivitas pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
1.4. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
a. Bagaimanakah desain perencanaan pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament? b. Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament? c. Bagaimanakah sistem evaluasi pada pembelajaran Bahasa Inggris dengan
menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament? d. Bagaimanakah penguasaan kosakata siswa pada pembelajaran Bahasa Inggris
setelah dilaksanakannya pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament?
1.5. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis:
b. Proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament pada siswa kelas VII SMP Al Kautsar Bandar Lampung
c. Sistem evaluasi pada pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
d. Peningkatan penguasaan kosakata Bahasa Inggris siswa kelas VII SMP Al Kautsar Bandar Lampung.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Penelitian Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran untuk perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam teknologi pembelajaran pada kawasan desain dan pengelolaan pembelajaran
b. Secara Praktis
1) Bagi guru, dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas dan bervariasi 2) Bagi siswa, siswa termotivasi dalam belajar dan memiliki rasa precaya diri untuk selalu aktif dalam proses pembelajaran serta mendapat hasil belajar yang optimal.
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Teori Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang penting, dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan. Pernyataan di atas didukung oleh Gagne dalam buku Ratna Wilis bahwa (1988:12-13)“ Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.” Kutipan di atas dapat diartikan bahwa belajar membutuhkan waktu yang lama dan melalui proses perubahan perilaku dan pola pikir dari seseorang.
Belajar menurut Drs. Bambang Warsita bahwa (2008:87)“ Belajar merupakan
suatu kumpulan proses yang bersifat individu, yang mengubah stimulasi yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang.”
Surya (2003:24) mengemukakan tiga ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yaitu: a) Belajar merupakan perubahan yang intensional, b) Belajar merupakan perubahan yang bersifat positif dan aktif, c) Belajar merupakan yang bersifat efektif dan fungsional. Belajar merupakn proses orang yang memperoleh kecakapan ketrampilan dan sikap. Hakikatnya belajar harus mengahasilkan sesuatu perubahan yang permanen dalam diri manusia melalui pengalaman yang diolah daya nalar. Pengalaman adalah hasil proses interaksi manusia dan lingkungannnya.
Dari beberapa teori tersebut di atas dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku , kepribadian yang dimiliki oleh seseorang baik ketrampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan secara dinamis dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum dewasa menjadi dewasa, dari yang sederhana menjadi yang kompleks. Hakikat belajar harus menghasilkan sesuatu perubahan permanen dalam diri seseorang melalui pengalaman. Pengalaman adalah hasil proses interaksi seseorang dengan lingkungannya. Semakinbanyak interaksi dengan lingkungan hidupnya maka seseorang semakin banyak
pengalamannya. Belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman seseorang itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
2.2 Pengembangan Instruksional
mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar yang ada untuk memperbaiki pendidikan.
Desain instruksional sebuah upaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan sistem instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih produktif untuk semua tujuan Instruksional di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi untuk mencapai tujuan instruksional. Komponen seperti instruktur, peserta didik, materi, kegiatan instruksional, sistem penyajian materi, dan kinerja lingkungan belajar saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil instruksional pebelajar yang dikehendaki. Desain sistem instruksional meliputi untuk perencanaan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi instruksional.
2.2.1 Komponen Desain Instruksional Model Dick and Carey.
Model Dick – Carey adalah model desain instruksional yang dikembangkan oleh Walter Dick, Lou Carey dan James O Carey. Model ini adalah salah satu dari model prosedural, yaitu model yang menyarankan agar penerapan prinsip disain instruksional disesuaikan dengan langkah-langkah yang harus di tempuh secara berurutan.
Model Dick – Carey tertuang dalam Bukunya The Systematic Design of Instruction edisi 6 tahun 2005. Perancangan instruksional menurut sistem
pendekatan model Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut. Langkahnya
Berikut adalah langkah pengembangan desain instruksional menurut Dick and Carey :
1) Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)). Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar pebelajar dapat
melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program Instruksional. Tujuan Instruksional mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, dari analisis kinerja (performance analysis), dari penilaian kebutuhan (needs assessment), dari pengalaman praktis dengan kesulitan belajar pebelajar, dari analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan (Job Analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru.
2) Melakukan Analisis Instruksional (Conduct Instructional Analysis). Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuan ke dalam ranah belajar Gagne, menentukan langkah-demi-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tujuan tersebut (mengenali keterampilan bawahan / subordinat). Langkah terakhir dalam proses analisis
Instruksional adalah untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap, yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang diperlukan peserta didik untuk dapat memulai Instruksional. Peta konsep akan menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi.
3) Analisis Pembelajar dan Lingkungan (Analyze Learners and Contexts). Langkah ini melakukan analisis pembelajar, analisis konteks di mana mereka akan belajar, dan analisis konteks di mana mereka akan
dimiliki pembelajar akan digunakan untuk merancang strategi Instruksional.
4) Merumuskan Tujuan Performansi (Write Performance Objectives). Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis Instruksional, akan mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk kinerja yang sukses.
5) Pengembangan Tes Acuan Patokan (Develop Assessment Instruments). Berdasarkan tujuan performansi yang telah ditulis, langkah ini adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siwa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.
6) Pengembangan Siasat Instruksional (Develop Instructional Strategy). Bagian-bagian siasat Instruksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar pebelajar termasuk kegiatan praInstruksional, presentasi isi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan tindak lanjut kegiatan.
7) Pengembangan atau Memilih Material Instruksional (Develop and Select Instructional Materials). Ketika kita menggunakan istilah bahan
8) Merancang dan Melaksanakan Penilaian Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction). Ada tiga jenis evaluasi formatif yaitu penilaian satu-satu, penilaian kelompok kecil, dan penilaian uji lapangan. Setiap jenis penilaian memberikan informasi yang berbeda bagi perancang untuk digunakan dalam meningkatkan Instruksional. Teknik serupa dapat diterapkan pada penilaian formatif terhadap bahan atau Instruksional di kelas.
9) Revisi Instruksional (Revise Instructional). Strategi Instruksional ditinjau kembali dan akhirnya semua pertimbangan ini dimasukkan ke dalam revisi Instruksional untuk membuatnya menjadi alat Instruksional lebih efektif. 10)Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif (Design And Conduct
Summative Evaluation). Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif.
2.3 Pembelajaran Bahasa Inggris
Proses pembelajaran akan mengarah pada apa yang dibutuhkan siswa dan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Selain itu, peningkatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap akan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Gagne (1972) mengemukakan bahwa: “learning is a change inhuman disposition or capacity, which persist over a period time, and which is not simply ascribable to process of growth” (Warsita, Bambang. 2008:65-79)
kemampuan perolehan bahasa (language acquisition). Inggris merupakan bahasa asing yang diajarkan sejak sekolah dasar. Pemerolehan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing diajarkan dengan tahapan-tahapan pembelajaran sehingga
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan belajar bahasa asing menjadi kebiasaan. Hal ini sesuai dengan Gagne yang menyatakan
belajar adalah mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks.
Kompetensi yang diperlukan meliputi skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas. Gagne, Robert M. : 1977, siswa pembelajaran bahasa Inggris membutuhkan fasiltator pengatur jalannya pelajaran hal ini sesuai dengan pemikiran vygotsky yang menyatakan bahwa
Teacher is to be kind of walking resources center in the classroom. in the other words teacher should always be ready to offer help if it is needed. Therefore, teacher has to appear to be well prepared and knowledgeable about the material. (Vygotski, 2003;56)
Proses pembelajaran mempunyai tujuan yaitu agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang kita inginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik dimulai dari rancangan pelaksanaan pembelajaran hingga ke evaluasi pembelajaran.
pembelajaran Bahasa Inggris itu terdiri dari empat kemampuan yaitu: mendengar, berbicara, membaca dan menulis Selain memiliki empat skills dalam Bahasa Inggris juga memiliki komponen bahasa tidak dapat ditinggalkan yaitu structure, vocabulary, pronunciation, komponen bahasa ini memiliki keterkaitan antara satu dan yang lain dan tentunya mempengaruhi pada empat keahlian berbahasa Inggris, listening, reading, speaking dan writing.
Pembelajaran Bahasa Inggris prioritas utama adalah pencapaian tujuan
pembelajaran itu sendiri, metode pembelajaran harus menarik dan sesuai dengan tingkat satuan pendidikan peserta didik khususnya dalam mengajar vocabulary atau kosakata siswa. Mengingat pentingnya karna kata adalah bagian terkecil dari kesadaran manusia “A word is a microcosm of human consciousness”
(vygotsky:2003:4) dan kita membutuhkan metode yang tepat dalam
mengajarkannya betapa pentingnya metode sehingga Asher (1988: 1) berpendapat bahwa “method” implies a formula, a formula implies a science. Sebelum
Dengan aktivitas pembelajaran yang tinggi tentu berdampak pada prestasi yang tinggi pula. Seperti yang dikatakan Richard dan Rodger 2001 dalam (Setiyadi 2003:116):
no method of teaching foreign speech is likely to be economical or successful which does not include in the first period a very considerable proportion of that type of classroom work which consists of the carrying out of pupil of orders by teacher.
2.4 Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan model pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan, jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang di persyaratkan.
Roger dan David Johnson (Lie, Anita, 2008:31) mengemukakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan: 1) Saling ketergantungan positif
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas
sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2) Tanggung jawab perseorangan
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. 3) Tatap muka
Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4) Komunikasi antar anggota
bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk
memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5) Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim, Muslimin, et, al. (Trianto, 2011:48) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas mereka.
Fase-5 Evaluasi
Memberikan penghargaan upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.
Sumber: Ibrahim, Muslimin, et, al. (Trianto, 2011:48)
Menurut Slavin, Robert E (2010:257) mengemukakan “Pendekatan paling efektif terhadap manajemen kelas bagi pembelajaran kooperatif adalah menciptakan sebuah sistem penghargaan positif yang didasarkan pada kelompok”. Berikut
petunjuk perhitungan skor perkembangan individu menurut Slavin, Robert E (2010:159) terdapat pada Tabel 2.2 sebagai berikut:
Tabel 2.2
Konversi Skor Perkembangan
SKOR KUIS INDIVIDU SKOR
PERKEMBANGAN Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5 poin
10 hingga 1 poin dibawah skor awal 10 poin Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20 poin Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 poin Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30 poin Sumber: Slavin, Robert E (2010:159)
Tabel 2.3
Tingkat Penghargaan Kelompok
NILAI RATA-RATA KELOMPOK PENGHARGAAN
15 poin TIM BAIK
16 poin TIM SANGAT BAIK
17 poin TIM SUPER
Sumber: Slavin, Robert E (2010:160) 2.5 Teams Games Tournament (TGT)
Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. (Robert E.2009:162)
Metode TGT ini dirancang untuk mengenalkan kosa kata Bahasa Inggris kepada
siswa. pembelajaran menggunakan TGT ini sangat ideal jika diterapkan pada
anak sekolah menengah dikarenakan pembelajaran yang dititik beratkan pada
aktivitas pembelajaran kelompok (grouping) adapun aktivitas yang diamati yaitu
1) mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru. 2) bertanya kepada guru.3) menjawab pertanyaaan guru.4)menjelaskan materi pada teman dan kelompok. 5) menyelesaikan soal diskusi. 6)membuat catatan/rangkuman. 7) aktif dalam persentasi kelas. 8) aktif dalam pertandingan
Menurut Robert E. Slavin (2010;214), Pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 komponen utama, yaitu : presentasi di kelas, tim (kelompok), game
(permainan), turnamen (pertandingan), dan rekognisi tim (perhargaan kelompok). Prosedur pelaksanaan TGT dimulai dari aktivitas guru dalam menyampaikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk
menyumbangkan poin bagi skor timnya.
Lebih lanjut, dijelaskan mengenai langkah-langkah pembelajaran TGT modifikasi dari Robert E. Slavin (2010:245) bahwa TGT terdiri dari siklus reguler dari aktivitas pengajaran, sebagai berikut:
Guru menjelaskan secara garis besar dan siswa memperhatikan dengan seksama. Tahap penjelasan di artikan sebagai proses penyampaian pokok – pokok materi pembelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok yang tujuannya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
2. Belajar Kelompok (Tim)
Siswa melaksanakan pembelajaran dalam kelompok kelompok kecil yang heterogen dalam kemampuan akademis yang terdiri dari siswa dengan tingkat akademis tinggi sedang dan kurang setelah guru selesai memberikan materi, setiap kelompok mengerjakan soal – soal secara berkelompok, selanjutnya satu dari anggota kelompok mempresentasikan hasil diskusinya sementara kelompok lain menanggapi.
3. Permainan/Pertandingan (Game/Turnamen)
Pelaksanaan pertandingan akademik adalah ciri khas dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT. Kelompok heterogen dirombak untuk sementara waktu dan kemudian dibentuk kelompok yang homogeny dalam tingkat kecerdasan dan digabungkan dalam 1 meja pertandingan
Gambar 2.2 Mekanisme Pertandingan
Pada saat pertandingan usai, nilai yang diperoleh setiap siswa dihitung dan ditulis pada lembar penilaian individu, peserta mendapat nilai terbanyak meraih tingkat
A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 B4
C1 C2 C3 C4 D1 D2 D3 D4 MEJA 2
1 (top scorer), peserta mendapat nilai terbanyak kedua meraih tingkat 2 (high middle scorer), peserta mendapat nilai terbanyak ketiga meraih tingkat 3 (lower middle scorer), peraih nilai terkecil meraih tingkat (lower scorer) Selanjutnya perolehan nilai peserta dikonversikan dengan tabel 2.4, 2.5, 2.6 (slavin 1995:90) dibawah ini :
Tabel 2.4 Perolehan Skor Untuk 4 Pemain
Tingkat
Tabel di atas memperlihatkan aturan perolehan skor untuk pemain terdiri dari 4 orang dengan keterangan sebagai berikut: Jika tidak ada seri diantara keempat pemain, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2
pemain tingkat 4 memperoleh skor 20, jika pemain tingkat 2 dan tingkat 3 seri maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 dan tingkat 3 mendapatkan skor 40 sedangkan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20 jika pemain tingkat3 dan 4 seri maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 memperoleh skor 40 dan pemain tingkat 3 dan 4 memperoleh skor 30 jika pemain tingkat 1,2 dan 3 seri maka ketigaa pemain tersebut memperoleh skor 50 sedangkan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20, jika pemain tingkat 1,2. Dan 4 seri maka tingkat 1 memperoleh skor 60 maka ktiga pemain seri mendapatkan nilai skor 30 jika semua pemain seri maka masin – masing pemain mendapatkan nilai 40, jika pemain tingkat 1 dan 2 seri dan pemain tingkat 3 dan 4 seri maka pemain tingkat 1 dan 2 mendapatkan skor 50 dan pemain tingkat 3 dan 4 mendapatkan skor 30
Tabel 2.5 perolehan skor untuk tiga pemain Tingkatan
Tabel 2.5 memperlihatkan aturan untuk pemain yang terdiri dari tiga orang dengan keterangan sebagai berikut:
skor 50 dan tingkat 3 mandapatkan skor 20, Jika pemain tingkat 2 dan 3 seri maka pemain tingkat 1 memperoleh nilai 60 dan tingkat 2 mendapakan skor 30 dan tingkat 3 mandapatkan skor 30, Jika pemain tingkat 1 , 2 dan 3 seri maka pemain tingkat 1 memperoleh nilai 40 dan tingkat 2 mendapatkan skor 40 dan tingkat 3 mandapatkan skor 40.
Tabel 2.6 Perolehan skor untuk 2 pemain
Tingkatan pemain Tidak ada seri Tingkat 1-2 seri
1 (top scorer) 60 40
2 (low scorer) 20 40
Tabel 2.6 memperlihatkan aturan pemain yang terdiri dari dua orang keterangannya sebagai berikut: jika tidak ada seri maka pemain tingkat 1 mendapatkan skor 60 dan tingkat 2 mendapatkan nilai 20 jika pemain tingkat 1 dan 2 seri maka masing masin pemain mendapatkan skor 40
4. Rekognisi Tim (Penghargaan Tim)
Tabel 2.7 Kriteria Penghargaan Kelompok
NILAI PENGHARGAAN
Nilai ≥ 50 Super team
45 ≤ Nilai < 50 Great team
40 ≤ Nilai < 45 Good team
Berikut adalah contoh lembar rangkuman catatan skor yang sudah diisi menurut slavin (1995:91) seperti tertera sebagai berikut:
Tabel 2.8 Kriteria Penghargaan Kelompok ANGGOTA
KELOMPOK A B C D E F
1 60 20 20 40
2 40 40 20 60
3 50 20 40 60
4 60 60 20 40
Total skor 210 140 100 200
Rata rata skor 55 35 25 50
Penghargaan kelompok
Super Team
Good Team
2.6 Teori Belajar Sosial Vygotsky
Vygotsky berpendapat seperti Piaget, bahwa peserta didik membentuk
pengetahuan sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan peserta didik sendiri melalui bahasa. Vygotsky berkeyakinan bahwa perkembangan tergantung baik pada faktor biologis menentukan fungsi-fungsi elementer memori, atensi, persepsi, dan stimulus-respon, faktor sosial sangat penting artinya bagi perkembangan fungsi mental lebih tinggi untuk pengembangan konsep, penalaran logis, dan
pengambilan keputusan (Kern, 2008: 38-39).
Teori Vygosky ini, lebih menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran. Menurut Vygotsky bahwa proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka disebut dengan zone of proximal development, yakni daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan
seseorang saat ini. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dari percakapan dan kerja sama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut (Kern, 2008: 39).
Satu lagi ide penting dari Vygotsky adalah scaffolding yakni pemberian bantuan kepada anak selama tahap-tahap awal perkembangannya dan mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih
bahwa diajarkan sedikit demi sedikit komponen-komponen suatu tugas yang kompleks yang pada suatu hari diharapkan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk menyelesaikan tugas kompleks tersebut (Kern, 2008: 6)
2.7 Penelitian Yang Relevan
Lismawati (2005) dalam penelitannya menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dan diikuti peningkatan hasil belajar siswa. Rahardi Moersetyo (2002) dalam penelitianya menyimpulkan bahwa hasil pembelajaran tipe TGT lebih baik daripada pembelajaran dengan model belajar konvensional, dan Magdalena, Elva. 2010. Peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui peningkatan kooperatif tipe teams-games-turnament di SMP Negeri 23 Bandar
III. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Penelitian Tindakan (PT). karena peneliti ingin mendesain dan mencari solusi terbaik untuk meningkatkan
penguasaan vocabulary dan proses PT diharapkan mampu meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.
Sedangkan menurut Iskandar (2009:5), Penelitian tindakan kelas didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana pembelajaran tersebut dilakukan.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas VII E dan VII F SMP Al Kautsar Bandar Lampung pada bulan Januari sampai dengan Maret tahun ajaran 2011/2012.
3.3 Subjek dan Objek Penelitian
pembelajaran Bahasa Inggris dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams-Games-Tournament (TGT).
3.4 Definisi Konseptual dan Operasional
3.4.1 Konseptual Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe teams games tournamnent, yang terdiri dari 5 komponen, yaitu komponen tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode, media dan sumber pembelajaran serta komponen evaluasi.
3.4.2 Konseptual Proses Pembelajaran Bahasa Inggris
Proses pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada materi bentuk notice, shopping list dan announcement dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe teamsgamestournamnent di kelas VII E dan VII F
3.4.3 Konseptual Sistem Evaluasi Pembelajaran
3.4.4 Konseptual Penguasaan Kosakata Bahasa Inggris Siswa
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu kegiatan pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan
mengandung unsur permainan dan reinforcement.
3.4.5 Operasional Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan skenario pembelajaran yang disusun oleh guru sebagai pedoman dan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran yang dinilai dengan menggunakan APKG dengan nilai rata-rata 4 pada setiap siklusnya dengan skala 1-5.
3.4.6 Operasional Proses Pembelajaran
3.4.7 Operasional Sistem Evaluasi
Sistem evaluasi adalah penilaian observer terhadap kegiatan pengumpulan data belajar siswa tentang standar penilaian validitas, reliabilitas, daya beda, tingkat kesukaran tes dan pengolahan hasil tes dalam bentuk uraian pada saat siklus berlangsung.
3.4.8 Operasional Penguasaan Kosakata Siswa
Penguasaan Bahasa Inggris kosakata siswa adalah merupakan prestasi hasil tes berupa nilai yang didapat setelah siswa menyelesaikan menjawab soal-soal tentang materi pelajaran yang sudah diajarkan.
3.5 Lama Tindakan
Penelitian dilaksanakan dengan beberapa siklus sampai mencapai target
ketuntasan nilai 68 atau lebih dan presentase ketuntasan siswa lebih dari 80% dan penelitian akan dihentikan jika sudah mencapai target.
3.6 Rancangan Penelitian Tindakan
untuk memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang efektif, sehingga dimungkinkan adanya tindakan yang berulang dengan revisi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris.
Peneliti berperan sebagai guru untuk melakukan tindakan pembelajaran sesuai perencanaan tindakan yang dibuat. Peneliti selalu bekerja sama dengan guru bidang studi Bahasa Inggris mulai dari:
1. Dialog awal;
2. Perencanaan tindakan; 3. Pelaksanaan tindakan; 4. Pemantauan (observasi);
RANCANGAN PENELITIAN
Gambar 3.1. Diagram Siklus PTK Model Kemmis dan McTaggart dalam Hopkins (1993)
Penelitian ini mengarah pada model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat didefinisikan sebagai salah satu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan alasan melakukan tindakan tertentu agar dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Model penelitian tindakan kelas sebagaimana dinyatakan
Orientasi teori dan kajian lapangan
Perencanaan
Pelaksanaan tindakan pembelajaran I Analisis data dan
refleksi I
Tes siklus I
Perencanaan
Pelaksanaan tindakan
pembelajaran II Analisis data dan
refleksi II
Tes siklus II
Perencanaan
Pelaksanaan tindakan pembelajaran III Analisis data dan
refleksi III
oleh Kemmis dan Mc Taggart (1988) dalam Suharsimi Arikunto (2006:34), merupakan penelitian bersiklus yang terdiri dari rencana, aksi/ tindakan, observasi dan refleksi yang dilakukan secara berulang.
Mengacu pada teori tentang penelitian tindakan kelas, maka rancangan penelitian disusun menggunakan prosedur sebagai berikut:
1. Dialog Awal
Dialog awal dilakukan dengan mengadakan pertemuan peneliti dengan guru bidang studi Bahasa Inggris yang bermaksud mendiskusikan maksud dan tujuan penelitian sehingga peneliti yang akan melakukan Perencanaan Tindakan
a. Observasi dan Monitoring Evaluasi, Dialog Awal, Refleksi, Pengertian dan Pemahaman, Perencanaan Tindakan
b. Observasi dan Monitoring, Evaluasi Refleksi, Pengertian dan Pemahaman Seterusnya Sesuai Waktu yang Direncanakan tindakan benar-benar mengerti permasalahan yang dihadapi oleh guru di kelas
2. Perencanaan Tindakan
a. Setelah ditemukan permasalahan, maka peneliti bersama guru merencanakan tindakan yang akan dilakukan, meliputi model pembelajaran yang akan digunakan, waktu dan hari pelaksanaan.
b. Membuat kesepakatan bersama guru bidang studi Bahasa Inggris untuk menetapkan materi yang akan diajarkan.
manusia, kartu-kartu yang berisi soal turnamen, dan soal post-test serta lembar pengamatan untuk penilaian afektif siswa.
d. Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti dan guru berlatih bersama untuk menyamakan persepsi mengenai proses pembelajaran yang telah
direncanakan.
3. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan, peneliti bersama guru melakukan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Peneliti melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam usaha ke arah perbaikan. Suatu perencanaan bersifat fleksibel dan siap dilakukan perubahan sesuai dengan apa yang terjadi dalam proses pelaksanaan di lapangan. Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti berperan sebagai guru, sedangkan guru berperan sebagai observer.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games-Tournament) yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
A. Penjelasan materi
Guru menjelaskan secara garis besar dan siswa memperhatikan dengan seksama. Tahap penjelasan di artikan sebagai proses penyampaian pokok – pokok materi pembelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok yang tujuannya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
B. Belajar Kelompok (Tim)
akademis tinggi sedabg dan kurang setelah guru selesai memberikan materi, setiap kelompok mengerjakan soal – soal secara berkelompok, selanjutnya satu dari anggota kelompok mempresentasikan hasil diskusinya sementara kelompok lain menanggapi.
C. Permainan/Pertandingan (Game/Turnamen)
Pelaksanaan pertandingan akademik adalah ciri khas dalam pembelajaran
kooperatif tipe TGT. Kelompok heterogen dirombak untuk sementara waktu dan kemudian dibentuk kelompok yang homogeny dalam tingkat kecerdasan dan digabungkan dalam 1 meja pertandingan
4. Observasi dan Monitoring
Observasi dan monitoring dilakukan bersama ketika pembelajaran (pelaksanaan tindakan) berlangsung. Pengamatan ini tidak dilakukan oleh peneliti sendiri yang bertindak sebagai guru tetapi bekerja sama dengan guru bidang studi Bahasa Inggris.
5. Refleksi
Data dari hasil observasi dapat berupa data kuantitatif yang berupa penguasaan materi (nilai post-test) dan tanggapan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan penelitian tindakan kelas. Karena dengan adanya suatu refleksi yang tajam dan terpercaya akan didapatkan suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan langkah tindakan selanjutnya. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut:
Data yang diperoleh dari hasil observasi, selanjutnya didiskusikan antara guru bidang studi dengan peneliti untuk mengetahui:
a. Apakah tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan rencana.
b. Kemajuan apa yang dicapai siswa, terutama dalam hal peningkatan prestasi belajar siswa.
Tabel 3.1 Kegiatan Tiap Siklus
Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi
3.7 Kisi-kisi Instrumen
Kisi-kisi instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a) Kisi-kisi instrumen penilaian kemampuan perencanaan pembelajaran
Kisi-kisi instrumen penilaian kemampuan perencanaan meliputi beberapa aspek dalam lembar penilaian RPP sertifikasi guru dalam jabatan, seperti yang dituliskan dalam tabel 3.2 di bawah ini:
Tabel 3.2. Kisi-Kisi Instrumen RPP
No Aspek Indikator No.
A.Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar)
B.Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) C.Pengorganisasian materi ajar
(keruntutan, sistematika materi, dan kesesuaian dengan alokasi waktu) D.Pemilihan sumber/ media
pembelajaran (sesuai dengan tujuan, materi dan karakteristik peserta didik) E. Kejelasan skenario pembelajaran
(langkah-langkah kegiatan
pembelajaran: awal, inti dan penutup) F. Kerincian skenario pembelajaran
(setiap langkah tercermin strategi/ metode dan alokasi waktu pada setiap tahap)
G.Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran
H.Kelengkapan instrumen evaluasi (soal, kunci, pedoman penskoran)
b) Kisi – Kisi Instrumen Aktivitas Peserta Didik
Diedrich dalam Hamalik (2004: 11) menggolongkan aktivitas sebagai berikut: (1) Visual Activities, misalnya: membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan. (2) Oral Activities, misalnya: bertanya, memberikan saran, mengeluarkan pendapat dan diskusi. (3) Listening Activities,
misalnya: mendengarkan uraian, diskusi percakapan. (4) Writing Activities, misalnya: menulis laporan, menyalin. (5) Drawing Activities,
misalnya: menggambar, membuat grafik, diagram. (6) Motor Activities, misalnya: melakukan percobaan. (7) Mental Activities, misalnya: mengingat, menganalisis, mengambil keputusan. (8) Emotional Activities, misalnya: gembira, berani, bergairah. Dari penggolongan aktivitas di atas, peneliti mengambil beberapa aktivitas yang akan dijadikan sebagai indikator pada penelitian ini, dengan kisi-kisi sebagai berikut.
Tabel 3.3. Kisi – Kisi Instrumen Aktivitas Peserta Didik
ASPEK INDIKATOR NO ITEM
Aktivitas Peserta Didik dalam Pembelajaran
1. Mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru
1
2. Bertanya kepada guru 1
3. Menjawab pertanyaaan guru 1 4. Menjelaskan materi pada teman dan
kelompok
c) Kisi-Kisi Instrumen Tes Prestasi Belajar
Kisi-kisi instrumen tes tertulis dalam bentuk pilihan jamak terbuka pada setiap siklusnya disajikan pada tabel berikut.
Tabel 3.4. Kisi-Kisi Butir Soal
SIK LUS
KOMPETENSI
DASAR MATERI INDIKATOR
BUTIR berupa instruction in the house
2. Menuliskan lawan kata dari teks berupa instructionin the school
List 1. Mengidentifikasi List of things 2. Menentukan
- Mentukan kata dalam teks berbentuk announcement - Menuliskan teks
3.8 Teknik Analisis Instrumen Tes
3.8.1 Validitas Tes
Validitas artinya sejauh mana ketepatan dan kecermatan dalam mengukur sesuai dengan tujuan pengukuran tersebut. Suatu tes atau instrumen pengukur dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tesebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya
pengukuran tersebut. Menurut Arikunto (2006: 206) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sedangkan instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.
Pengujian instrumen dilakukan dengan teknik : 1. Validitas Isi (Content Validity). 2. Validitas tampilan (Face Validity) 3. Analisis butir. Validitas Isi Adalah
dilanjutkan ke teknik yang ketiga yaitu menganalisis tiap butir soal menggunakan program anates.
Insrumen yang kurang baik diperbaiki didasarkan pada masukan dari dosen pembimbing dan ahli bidang studi serta telah diujikan sebelumnya. Untuk
mengetahui apakah apakah tes mempunya validitas secara empiris adalah dengan mengkorelasikan skor yang diperoleh pada setiap butir soal. Apabila skor semua pernyataan yang disusun memiliki koefesien korelasi, item yang mepunyai korelasi positif dengan korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula dengan kata lain alat ukur tersebut valid. Validitas ini dinamakan validitas butir soal. Untuk menetukan validitas tes dibandingkan dengan kriteria sebagai berikut:
0.80 – 1.00 : Sangat tinggi 0.60 – 0.79 : Tinggi 0.40 – 0.59 : Sedang 0.20 – 0.39 : Rendah
0.00 – 0.19 : Sangat Rendah. (Hadi, 2003:67)
Hasil analisis validitas tes pada Siklus pertama menggunakan program Anates dapat ditafsirkan sebagai berikut:
Validitas tes dengan korelasi XY pada siklus pertama dengan nilai
3.8. 2 Reliabilitas Tes
Reliabilitas adalah tingkat kemampuan instrument penelitian untuk
mengumpulkan data secara tetap dari sekelompok individu. Instrumen yang memiliki tingkat reabilitas tinggi cenderung menghasilkan data yang sama tentang suatu variabel unsur-unsurnya, jika diulangi pada waktu yang berbeda pada sekelompok individu yang sama atau dengan kata lain instrumen tersebut konsisten atau ajeg.
Adapun kriteria reliabilitas tes yaitu: 0.80 – 1.00 : Sangat tinggi 0.60 – 0.79 : Tinggi 0.40 – 0.59 : Sedang 0.20 – 0.39 : Rendah
0.00 – 0.19 : Sangat Rendah. (Hadi, 2003:64)
Hasil analisis reabilitas tes pada tiap siklus menggunakan program Anates dapat ditafsirkan sebagai berikut:
Reabilitas tes pada siklus pertama dengan nilai 0. 75 kategori Sedang Reabilitas tes pada siklus kedua dengan nilai 0.89 kategori Tinggi Reabilitas tes pada siklus ketiga dengan nilai 0.92 kategori Tinggi
3.8. 3 Tingkat Kesukaran
dalam penelitian. Untuk menentukan taraf kesukaran soal dengan membandingkan dengan kriteria sebagai berikut:
- soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar - soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang - soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
(Arikunto, 2006: 210)
Hasil analisis tingkat kesukaran soal pada siklus pertama menggunakan program Anates dapat ditafsirkan sebagai berikut: soal nomor 1, 3, 5, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 22, 24, 25, 26, 27, 28 tergolong kategori mudah dengan
kisaran indeks kesukaran 0, 70 – 1, 00. Soal nomor butir 2, 4, 5, 7, 9, 21, 23, 30 tergolong kategori sedang dengan kisaran indeks kesukaran 0,30 – 0, 70. Soal nomor butir 16, 29 tergolong kategori Sukar dengan kisaran Indeks Kesukaran soal antara 0,00 - 0,30.
0, 70 – 1, 00. Soal nomor butir tergolong kategori sedang dengan kisaran indeks kesukaran 0,30 – 0, 70. Soal nomor butir 7, 10, 14, 20 tergolong kategori Sukar dengan kisaran Indeks Kesukaran soal antara 0,00 - 0,30.
3.8.4 Daya Pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi,disingkat D. Daya pembeda ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00 sama halnya dengan indeks kesukaran namun bedanya pada indeks diskriminasi ini ada tanda negatif. Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika sesuatu soal terbalik menunjukan kualitas test yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak pandai disebut pandai.
Sesuatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Demikian juga apabila soal tersebut tidak dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa
bodoh,maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Soal yang baik adalah soal yang dapat dijawab benar oleh siswa-siswa yang pandai saja. Seluruh pengikut tes dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok atas dan kelompok bawah dengan jumlah yang sama. Jika seluruh kelompok atas dapat menjawab soal dengan benar, sedangkan kelompok bawah menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai D paling besar yaitu 1,00 sebaliknya jika semua
bawah sama-sama menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai nilai D 0,00 karena tidak mempunyai daya pembeda sama sekali. Berikut ini adalah Klasifikasi daya pembeda :
D = 0,00-0,20= jelek D = 0,21-0,40=cukup D = 0,41-0,70= baik D = 0,70–1,00= baik sekali
D = negatif, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sabaiknya dibuang saja. Arikunto ( 2006 : 207 ).
Hasil analisis daya pembeda soal pada siklus pertama menggunakan program Anates dapat ditafsirkan sebagai berikut: soal nomor butir 1,13, 14, 15,23,26 tergolong kategori jelek dengan kisaran nilai 0, 00 – 0, 20. Soal nomor butir 3, 5, 10, 13, 18, 20, 24, 27, 28, 29, 30 tergolong kategori cukup dengan kisaran nilai 0,21 – 0, 40. Soal nomor butir 2, 4, 8, 11, 12, 17, 19, 21, 22, 25 tergolong kategori baik dengan kisaran nilai antara 0,41 - 0,70. Soal nomor butir 9 tergolong kategori baik sekali dengan kisaran nilai 0,70–1,00= baik sekali Adapun soal nomor butir 6, 7 dan 16 diganti dengan soal lain.
kategori baik sekali dengan kisaran nilai 0,70–1,00= baik sekali adapun soal nomor butir 7, 26 diganti dengan soal lain.
Hasil analisis daya pembeda soal pada siklus ketiga menggunakan program Anates dapat ditafsirkan sebagai berikut: soal nomor butir 7, 16 tergolong kategori jelek dengan kisaran nilai 0, 00 – 0, 20. Soal nomor butir 5, 25, 26 tergolong kategori cukup dengan kisaran nilai 0, 21 – 0, 40. Soal nomor 2, 3, 4, 6, 8, 9, 11, 12, 15, 17, 18, 19, 23, 27, 28, 29, 30 tergolong kategori baik dengan kisaran nilai antara 0,41 - 0,70. Soal nomor butir 13, 21, 22, 24, tergolong kategori baik sekali dengan kisaran nilai 0,70–1,00= baik sekali
Adapun soal nomor butir 1, 10, 14, 20 diganti dengan soal lain.
3.9 Instrumen Penelitian
1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penilaian RPP menggunakan format lembar penilaian RPP sertifikasi guru dalam jabatan suplemen buku 3.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat diamati dengan menggunakan lembar observasi pengamatan aktivitas peserta didik.
3) Sistem Penilaian Evaluasi
4) Prestasi Belajar
Pengukuran prestasi belajar peserta didik dengan menggunkan tes tertulis bentuk pilihan jamak dengan memperhatikan indikator pada masing-masing standar kompetensi.
3.10 Teknik Analisis Data
a) Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran diukur dengan Lembar Penilaian RPP. Setiap komponen dinilai dengan skala 1-5. Rumus menentukan nilai akhir adalah sebagai berikut:
R = A + B + C + D + E + F + G + H 8
Keterangan: R = Nilai Akhir
Interpretasi kualitas RPP sebagai berikut:
a. nilai 4,1 - 5 = Sangat baik;
b. nilai 3,1 - 4 = Baik;
c. nilai 2,1 - 3 = Sedang;
d. nilai 1,1 - 2 = Kurang; dan
b) Analisis Aktivitas Peserta Didik
Untuk mengetahui nilai aktivitas peserta didik setelah diterapkan pembelajaran, maka jumlah persentase aktivitas peserta didik tiap kelas dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
X = Persentase aktivitas peserta didik ∑Naktif = Jumlah peserta didik yang aktif
∑N = Jumlah seluruh peserta didik tiap kelas
c) Analisis Sistem Evaluasi Pembelajaran
Sistem evaluasi pembelajaran dihitung dengan menggunakan softwareanatest untuk menghitung tingkat validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat
kesukaran butir soal.
d) Analisis Prestasi Belajar Peserta Didik
Analisis prestasi belajar peserta didik dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
%P = Persentase Peserta didik yang mendapatkan nilai ≥ 65. ∑N70 = Jumlah Peserta didik yang mendapatkan nilai ≥ 65.
∑N = Jumlah seluruh peserta didik tiap kelas.
3.11 Indikator Keberhasilan
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan:
1. Adapun langkah-langkah pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) sebagai berikut:
a) Guru menjelaskan materi pelajaran dengan metode tanya jawab b) Guru memberikan latihan soal secukupnya.
c) Siswa diminta dalam kelompok untuk memberikan jawaban yang tepat d) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya.
e) Siswa diberikan waktu untuk bertanding mengeluarkan kemampuan masing-masing.
f) Penghargaan tim dan individu..
Berdasarkan data dan langkah-langkah pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris menggunakan metode Teams Games Tournament (TGT), posisi tempat duduk saling berhadapan dan variasi menggunakan ceramah, diskusi , dan demonstrasi menjadikan metode ini lebih efektif dan kualitas Rencana Pelaksanaan
2) Proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, yaitu skor aktivitas belajar kelas VII E adalah 88%, kelas VII F adalah 84%.
3) Sistem evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan tes bentuk Pilihan Ganda 4) Pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan kooperatif tipe Teams Games
Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, yaitu nilai rata-rata kelas VII E siklus 1 meningkat menjadi 56%, kemudian siklus II adalah 72% dan siklus III adalah 88%. Pada kelas VII F nilai rata-rata siklus I adalah 53%, kemudian siklus II adalah 69 % dan siklus III adalah 84%.
5.2 Saran
1. Sekolah
Kepada kepala SMP Al Kautsar Bandar Lampung: agar dapat memotivasi guru di sekolahnya menggunakan metode pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan variasi posisi tempat duduk saling berhadapan dan variasi menggunakan ceramah, diskusi , dan demonstrasimenjadikan metode ini lebih efektif untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.
2. Guru
Tournament (TGT) merupakan metode alternatif yang yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Kemudian kepada guru lain yang ingin menggunakan pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) untuk karakteristik siswa dan materi yang sama agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Untuk mempermudah kolaborator mengamati proses pembelajaran siswa diberikan nomor dada sesuai dengan nomor absen.
2) Guru ketika mengatur perjalanan pembelajaran agar memperhatikan waktu dan merancang pembelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia atau indikator yang ingin dicapai dalam satu pertemuan agar mempertimbangkan waktu. 3) Penerapan pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan kooperatif tipe
DAFTAR PUSTAKA
Arends 2009, cooperative learning. Grasindo. Bandung
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi aksara. Jakarta Asher. 1988. Metodologi Pembelajaran . Bumi aksara. Jakarta. .
Atwi Suparman. 2001. Pekerti mengajar di Perguruan Tinggi, Desain Instruksional, Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional Cameron, L. 2002. Teaching Languages to Young Learners. Cambridge
University Press.
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori – Teori Belajar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Dick, W. Carey, L & Carey, J.O. 2005. The Systematic Design of Instruction. New york: Pearson.
Gagne, Robert M. 1977. The Conditions of Learning. New York: Holt, Rinehart, and Winston.
Iskandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Cipayung-Ciputat: Gaung Persada Press
Joni, T.R. 2000. Rasional Pembelajaran Terpadu. Makalah disajikan dalam Seminar Regional: Implementasi Pembelajaran Terpadu dalam Menyongsong Era Indonesia Baru: PPS Universitas Negeri Malang, Malang
Kern, 2008. Perkembangan peserta didik. Rineka Cipta. Jakarta
Lampung.
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan., Rineka Cipta, Jakarta Robert E. 2009 Cooperatif Learning Teori Riset dan Praktik Nusa media,
Bandung.
Sanjaya, Wina.2010.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada Media, Jakarta
.\
Setiyadi, Bambang. 2003. Teaching English as Foreign Language. Lampung University, Bandar Lampung. Indonesia.
Slavin, Robert E. 2010.Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan Narulita Yusron. Nusa Media, Bandung.
Smaradhipa, Galih. Bertutur dengan Tulisan http://www.rayakultura.com. Diakses tanggal 2 Januari 2013
Surya brata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. : Rajawali, Jakarta
Trianto, S.Pd, M.Pd. 2007, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka, Jakarta
Trianto S.Pd, M.Pd. 2011Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivitis. Prestasi Pustaka, Jakarta.
Vygotski, 2003, Teaching Learning, Gramedia Pustaka, Jakarta.
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.
Xaviery, 2004. Strategi Pembelajaran Sosiologi Tingkat
SMA. http://artikel.us/xaviery6-04.html. diakses tanggal 27 Agustus 2012
Yusufhadi, Miarso, 2004 Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Kencana, Jakarta.