Labuhan Ratu and SD Negeri 3 Gunung Terang) by
Martina Bulan
The aim of the research to obtain the education sector provision of public services in the of Bandar Lampung city.
The research method used in this paper are normative and empirical approach. The data used is secondary data and primary data. Analysis of data using qualitative analysis.
Result: The application of the principles of transparency, in exercising their public services in education in the of Bandar Lampung city that SDN 2 Labuhan Ratu and SDN 3 Gunung Terang is more transparent in the appropriate policy rules, applicable provisions related to the implementation of education in Bandar Lampung. The commitment to increase the degree of public education which is based on the principle of public participation in exercising their public service education that SDN 2 Labuhan Ratu and SDN 3 Gunung Terang gives and provides opportunities for parents to be able to provide participation in the implementation of teaching and learning in schools relating to the implementation of education. At Bandar Lampung City Department of Education, there are two sources of budget activities, namely Articles Deconsentration from the state budget and budget funds are derived from the budget which is embodied in the form of accountability in Bandar Lampung City Department of Education through the mechanism of administrative, financial and administrative extras.
Recommendation: Policies or Program BOS funds need to be continued in order to succeed equity of education Compulsory Basic Education 9 years in Indonesia with reference to the implementation of the policy program of BOS funds accompanied by effective monitoring and efficient by involving the public through a school committee formation and implementation of the program BOS funds should take into account the equitable funding. The perpetrators of education or the educational institution to be cooperative and open, the principles of transparency and accountability should be used as a benchmark in the management of BOS funds. The stakeholders to continue to assess and evaluate kbijakan issued, including the effectiveness of the management of BOS funds.
Labuhan Ratu dan SD Negeri 3 Gunung Terang) Oleh
Martina Bulan
Tujuan dari penelitian untuk mendapatkan kondisi pelayanan publik sektor pendidikan di Kota Bandar Lampung.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini bersifat normatif, dan pendekatan empiris. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Analisis data menggunakan analisis kualitatif.
Hasil penelitian: Penerapan prinsip transparansi, dalam pelakasanaan pelayanan publik bidang pendidikan di Kota Bandar Lampung bahwa Sekolah SDN 2 Labuhan Ratu dan SDN 3 Gunung Terang sudah lebih transparan dalam menyampaikan kebijakan sesuai aturan-aturan, ketentuan-ketentuan yang berlaku yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan di Kota Bandar Lampung. Adanya komitmen untuk meningkatkan derajat pendidikan masyarakat yang di dasarkan pada prinsip partisipasi masyarakat dalam pelakasanaan pelayanan publik bidang pendidikan bahwa SDN 2 Labuhan Ratu dan SDN 3 Gunung Terang memberikan dan membuka kesempatan kepada orang tua murid untuk dapat memberikan partisipasi dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan. Pada Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung terdapat dua sumber anggaran kegiatan, yaitu Anggaran Dekonsentrasi dari dana APBN dan Anggaran yang berasal dari APBD yang di wujudkan dalam bentuk akuntabilitas pada Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung melalui mekanisme administratif, keuangan, dan ekstra administratif.
Rekomendasi: Kebijakan atau Program Dana BOS perlu untuk dilanjutkan dalam rangka menyukseskan pemerataan pendidikan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun di Indonesia dengan mengacu pada kebijakan pelaksanaan program dana BOS disertai dengan pengawasan yang efektif dan efisien dengan melibatkan partisipasi publik melalui suatu pembentukan komite sekolah dan pelaksanaan program dana BOS harus memperhitungkan dana berkeadilan. Para pelaku pendidikan atau pihak lembaga pendidikan untuk bisa kooperatif dan terbuka, asas tranparansi dan akuntabilitas harus dijadikan patokan dalam pengelolaan dana BOS. Kepada pemangku kebijakan untuk tetap mengkaji dan mengevaluasi kbijakan yang dikeluarkan, termasuk efektifitas pengelolaan dana BOS.
Oleh
MARTINA BULAN
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA ADMINISTRASI NEGARA
Pada
Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu SWosial dan Ilmu Politik
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
Labuhan Ratu dan SD Negeri 3 Gunung Terang)
(Skripsi)
Oleh
MARTINA BULAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
Tabel 1. Angka Partisipasi Kasar (APK) 2010 -2014 SD di Bandar Lampung... 7
Tabel 2. Angka Putus Sekolah (APS) 2010 -2014 SD di Bandar Lampung... 8
Tabel 3. Informan Penelitian... 34
“Banyak KEGAGALAN dalamhidup ini
dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat merekamenyerah.”
(Thomas Alva Edison)
Dengan menyebut nama Allah SWT
Dengan segala kerendahan hati kuucapkan syukur atas karunia Mu
kepadaku
Penulis dedikasihkan karya kecil ini untuk :
Kedua Orang Tua serta Kakak dan Adikku tercinta yang selalu
memberikan yang terbaik untukku, terima kasih atas segala cinta,
pengorbanan, kesabaran, motivasi, keikhlasan dan do a yang tiada
henti dalam menanti keberhasilanku.
Seluruh keluarga besarku, Sahabat, Temen-Temenku, dan adik
tingkat yang selalu mendukungku.
Penulis bernama lengkap Martina Bulan lahir di Bandar Lampung
tanggal 16 Maret 1993. Penulis merupakan anak kedua dari ke tiga bersaudara
dari pasangan Bapak Aman Matondang (Alm) dan Ibu Munarsih.
Pendidikan yang telah penulis tempuh adalah Taman Kanak-kanak Dharma
Wanita Unilapada tahun 1998-1999, Sekolah Dasar SD Negeri 1 Raja Basa
Bandar lampung pada tahun1999-2005, SMP Negeri 8 Bandar lampung pada
tahun 2005-2008 dan SMA Gajah Mada Bandar lampung pada tahun 2008-2011.
Pada tahun 2011 penulis diterima sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Administrasi
Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung melalui jalur
SNMPTN.
Penulis pada tahun 2011tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Administrasi
Negara (Himagara). Pada tahun 2014 penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata
(KKN) Tematik Periode II di Desa Sumber Agung Kecamatan KemilingKota
telah melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan. Atas segala kehendak dan kuasa Allah SWT,
akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Analisis
Pelayanan Publik Sektor Pendidikan di Kota Bandar Lampung (Studi Kasus Pada
SD Negeri 2 Labuhan Ratu dan SD Negeri 3 Gunung Terang)”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Administrasi Negara (SAN) pada Jurusan
Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Lampung.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini karena
keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang peneliti miliki. Pada kesempatan
ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulusnya kepada
pihak-pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
antara lain :
1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si, selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Dedy Hermawan, S.Sos, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu
Administrasi Negara.
3. Bapak Simon Sumanjoyo, S.A.N, M.A.P selaku Sekretasis Jurusan Ilmu
Terimakasih Bu atas saran, masukan, motivasi dan bimbingannya yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Ikram, M.Si selaku dosen pembahas. Terima kasih bapak atas
arahan, saran, masukan, waktu, kesabaran yang telah banyak membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Seluruh dosen Ilmu Administarsi Negara, terima kasih atas segala ilmu
yang telah penulis peroleh selama proses perkuliahan semoga dapat
menjadi bekal yang berharga dalam kehidupan penulis ke depannya.
7. Ibu Nur selaku Staf Administrasi yang banyak membantu
kelancaranadminstrasi skripsi ini.
8. Bapak Tatang Setiadi selaku Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas
Pendidikan Kota Bandar Lampung yang telah memberikan izin dan
meluangkan waktu kepada penulis untuk diwawancarai sehingga skripsi
ini dapat terselesaikan.
9. SD Negeri 2 Labuhan Ratu Bandar Lampung yang telah memberikan izin
dan meluangkan waktu kepada penulis untuk diwawancarai. Terimakasih
kepada Ibu Herawati, S.Pd, Bapak Ibu Noni Asmantina, Ibi Rosmini, Ibu
Linda Asmara dan siswa-siswi serta pihak yang terkaitan kerjasamanya
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
10. SD Negeri 3 Gunung Terang Bandar Lampung yang telah memberikan
terselesaikan.
11. Keluargaku tercinta yang selalu mendoakan dan mendukungku. Bapak dan
Ibu yang tak pernah lelah memberikan doa, semangat, motivasi dan kerja
kerasnya untuk membiayai anaknya agar menjadi lebih baik. Makasih ibu
yang selalu jadi penyemangat dan inspirasi dalam hidup ku dan selalu
mengingatkan untuk selalu dekat dengan Allah SWT dengan rajin shalat,
mengaji dan berdoa. Doakan selalu anakmu, insya allah saya akan sukses
dan dapat dibanggakan. Rani Anggrani dan Antonni Korkis Matondang
canda tawa kalian membuatku semakin semangat. Makasih ibu dan bapak
sudah menjadi orang tua yang baik dan menyayangiku serta mendoakan ku
untuk selalu lebih baik.
12. Terima kasih untuk Papi Yusren atas dukungan, saran, dan semangatnya
kepada penulis agar cepat menyelesaikan skripsi.
13. Terimakasih untuk keluarga besarku spesial Abang Wawan Andriano
Hasibuan, Della Adriyani dan semuanya yang tidak bisa disebutkan
satu-satu.
14. Terima kasih untuk sahabat-sahabat KKN Abang Faisal Suhanda, Aak
Muhammad Rafik, Ibu Umi Nur Arifah, Nyonya Jati alias Ayu Septriana
yang selalu dengerin curhatan penulis serta memberikan semangat kepada
Ria, Riza Armelia, Lisa Sagita, Sylvia, Okta, Octa , Ahmed, Akbar, Andi,
Astri, Kartika, Ratu, Feby, Pebie, Tami, Eky, Nyunyu, Hesty, Seza, Eka,
Deo, Ibnu, Kristi, Tiwi, Rendy, Ciko, Rinanda, Iid, Ade,Laras, Cindy, Lili,
Leni, Watik, Raras, Farah Anisa, Ririn, Ninda, Wulan, Nisa, Tria, Rio,
Iksan, Widi, David, Devin, Menceng, Frendy, Fredy, Kiyo, Leli, Juzna,
Ayu, Fatma, Mut, Fitri, Manda, Popo, Rosyid, Wahyu, Sigit, Novi
Nurkholis, Esa, Rano, Putridan semuanya tidak bisa disebutkan
satu-satumakasihatas motivasi dan dukungannya.
Akhir kata penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan
akan tetapi sedikit harapan semoga karya sederhana ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Amin
ABASTRAK... i
ABSTRACT... ii
LEMBAR JUDUL... iii
LEMBAR PERSETUJUAN... iv
LEMBAR PENGESAHAN... v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... vi
RIWAYAT HIDUP... vii
MOTO... viii
PERSEMBAHAN... ix
SANWACANA... x
DAFTAR ISI... xiv
DAFTAR TABEL... xvii
DAFTAR GAMBAR... xviii
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1
1.2. Rumusan Masalah... 9
1.3. Tujuan Penelitian... 9
1.4. Manfaat Penelitian... 10
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Pelayanan Publik... 11
2.1.1. Pengertian Pelayanan Publik... 11
2.1.2. Ruang Lingkup Pelayanan Publik... 13
2.1.3. Prinsip–Prinsip Dasar Pelayanan Publik... 15
2.2. KonsepGovernance... 18
2.4. Kerangka Pemikiran... 27
III. METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian... 30
3.2. Fokus Penelitian... 31
3.3. Lokasi Penelitian... 32
3.4. Jenis dan Sumber Data... 32
3.4.1. Jenis Data... 32
3.4.2. Sumber Data... 33
3.5. Informan dan Teknik Penarikan Informan... 33
3.6. Teknik Pengumpulan Data... 34
3.6.1. Observasi... 34
3.6.2. Wawancara(Interview)... 35
3.6.3. Dokumentasi... 36
3.7. Teknik Analisa Data... 36
3.8. Keabsahan Data ... 36
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Profil Organisasi... 38
4.2. Gambaran Umum... 41
4.3. Struktur Organisasi... 43
4.4. Program Kerja... 45
4.5. Uraian Tugas... 57
V. PEMBAHASAN DAN ANALISIS 5.1. Pembahasan... 64
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu kunci dalam peningkatan taraf hidup masyarakat.
Oleh karena itu, negara sebagai penjamin kehidupan masyarakat harus mampu
menyelenggarakan pendidikan agar taraf hidup masyarakatnya semakin baik.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
disebutkan bahwa setiap warga negara berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar. Sedangkan pasal 34 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah
menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar
tanpa memungut biaya, dalam ayat 3 juga disebutkan bahwa wajib belajar
merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga
pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Untuk mewujudkan
amanah Undang-Undang tersebut maka pemerintah wajib menyelenggarakan
layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar yaitu
Hak setiap warga negara Indonesia untuk mendapat pelayanan pendidikan
dijamin UUD 1945. Sebagai resiprokasi juridis-nya hak ini mewajibkan
pemerintah sebagai penyelenggara negara untuk memberikan pelayanan
pendidikan kepada masyarakat sebagai kumpulan warga negara. Pasal 31 UUD
secara eksplisit menyatakan: (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat
pengajaran, serta (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sampai saat ini
pelayanan pendidikan di Indonesia dihadapkan pilihan yang dilematis oleh karena
adanya "tarik menarik" kepentingan di satu pihak ialah kepentingan peningkatan
kualitas untuk memperkuat daya kompetisi bangsa, di lain pihak kepentingan
kuantitas untuk memberikan hak pelayanan pendidikan kepada warga negara.
Guna mengahadapi era globalisasi yang penuh tantangan dan peluang, aparatur
negara sebagai pelayan masyarakat yang memberikan pelayanan sebaik-baiknya
menuju good governence. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat setiap waktu selalu menuntut pelayanan publik yang berkualitas dari birokrat yang
dilakukan secara transparan dan akuntabilitas. Berangkat dari fakta sementara,
saat ini konsep desentralisasi dan otonomi daerah diartikulasikan oleh daerah
untuk hanya terfokus pada usaha menata dan mempercepat pembangunan di
wilayahnya masing-masing. Penerjemahan seperti ini ternyata belum cukup
Berdasarkan konteks negara modern, pelayanan publik telah menjadi lembaga
dan profesi yang semakin penting. Pelayanan Publik tidak lagi merupakan
aktivitas sambilan, tanpa payung hukum, gaji dan jaminan sosial yang memadai,
sebagaimana terjadi di banyak negara berkembang pada masa lalu. Sebagai
sebuah lembaga, pelayanan publik menjamin keberlangsungan administrasi
negara yang melibatkan pengembangan kebijakan pelayanan dan pengelolaan
sumber daya yang berasal dari dan untuk kepentingan publik. Sebagai profesi,
pelayanan publik berpijak pada prinsip-prinsip profesionalisme dan etika
seperti akuntabilitas, efektifitas, efisiensi, integritas, netralitas, dan keadilan bagi
semua penerima pelayanan.
Berdasarkan Alinea ke 4 (empat) Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 hasil
amandemen mengamanatkan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal ini mencerdaskan kehidupan bangsa
harus diartikan secara mendalam dan menyeluruh. Artinya bahwa pendidikan
seharusnya tidak hanya dijadikan sebuah alat untuk menaikkan derajat sosial
ekonomi saja, namun harus dapat menjadikan manusia sebagai manusia
seutuhnya. Pelayanan publik merupakan salah satu tugas penting yang tidak dapat
diabaikan oleh pemerintah daerah sebab jika komponen pelayanan tidak optimal
maka hampir dipastikan semua sektor akan berdampak kemacetan. Oleh sebab itu
perlu ada perencanaan yang baik dan bahkan perlu diformulasikan standar
pelayanan pada masyarakat sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh
Konsep good governance memiliki arti yang luas dan sering dipahami secara berbeda tergantung pada konteksnya. Dalam konteks pemberantasan Korupsi
Kolusi Nipotisme (KKN),good governancesering diartikan sebagai pemerintahan yang bersih dari praktik KKN. Sebagian kalangan ada yang mengartikan good governancesebagai penerjemahan kongkrit dari demokrasi dengan meniscayakan adanya budaya sipil(civil culture)sebagai penopang kelangsungan (sustainability)
demokrasi itu sendiri. Pada umumnya good governance diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik, Koirudin (2005: 160).
Good governance, sebenarnya sudah lama menjadi mimpi banyak orang Indonesia. Kendati pemahaman mereka mengenai good governance berbeda-beda,
namun setidaknya sebagian besar dari mereka membayangkan bahwa dengan
good governance mereka akan dapat memiliki kualitas pemerintahan yang lebih baik. Dengan demikian, kualitas pelayanan publik akan menjadi semakin baik,
angka korupsi menjadi semakin rendah dan pemerintah semakin peduli dengan
kepentingan warga. Subarsono (2005: 34) mendefenisikan pelayanan publik
sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk
memenuhi kebutuhan warga pengguna.
Berdasarkan hasil penelitian Ulbert Silalahi (Utomo, 2003: 62) atas pelayanan
publik sebelum reformasi diperoleh data bahwa tingkat kepuasan layanan aparatur
negara yang diberikan kepada masyarakat menunjukkan presentase rata-rata
33.7% yang dikategorikan rendah. Wujud atau bentuk pelayanan publik tersebut
negara dapat berbagai bentuk dan wujud antara lain apatis, menolak berurusan,
bersikap dingin, memandang rendah, bekerja mekanis, ketat pada prosedur dan
sering mempingpong masyarakat.
Secara teoritik, Birokrasi Pemerintahan memiliki tiga fungsi utama, yaitu; fungsi
pelayanan, fungsi pembangunan dan fungsi pemerintahan umum (LAN, 2007).
a. Fungsi pelayanan, berhubungan dengan unit organisasi pemerintahan
yangberhubungan langsung dengan masyarakat. Fungsi utamanya,
memberikan pelayanan(service)langsung kepada masyarakat.
b. Fungsi pembangunan, berhubungan dengan unit oganisasi pemerintahan yang
menjalankan salah satu bidang tugas tertentu disektor pembangunan. Fungsi
pokoknya adalah development function (fungsi pembangunan) dan ada
ptivefunction(fungsi adaptasi).
c. Fungsi pemerintahan umum, berhubungan dengan rangkaian kegiatan
organisasi pemerintahan yang menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum
(regulasi), temasuk di dalamnya menciptakan dan memelihara ketentraman
dan ketertiban. Fungsinya lebih dekat pada fungsi pengaturan (regulation function).
Persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan pemerintah umumnya kinerjanya
masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat antara lain dari
banyaknya pengaduan atau keluhan dari masyarakat kepada Kementrian
Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) seperti menyangkut prosedur dan
informatif, kurang akomodatif, kurang konsisten, terbatasnya fasilitas, sarana dan
prasarana pelayanan, sehingga tidak menjamin kepastian (hukum, waktu, dan
biaya) serta masih banyak dijumpai praktek pungutan liar serta tindakan-tindakan
yang berindikasi penyimpangan dan KKN.
Buruknya kinerja pelayanan publik ini antara lain dikarenakan belum
dilaksanakannya transparansi dan akuntabilitas (prinsip good governance) dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Oleh karena itu, pelayanan publik harus
dilaksanakan secara transparan dan akuntabel oleh setiap unit pelayanan instansi
pemerintah karena kualitas kinerja birokrasi pelayanan publik memiliki implikasi
yang luas dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Persoalannya, isu ini tidak
mewarnai proses pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Tanah Air. Faktanya,
pihak-pihak yang terkait dengan dunia pendidikan lebih disibukkan dengan
kualifikasi dan sertifikasi guru, komite sekolah yang mandul, dana BOS yang
diselewengkan, dan ujian nasional (UN) yang kontroversial. Pada hal,
persoalan-persoalan ini sebetulnya menjadi lebih mudah ditangani ketika desentralisasi
pendidikan itu mengoptimalkan kerangka kelembagan governance yang memungkinkan warga negara melibatkan diri dan menyuarakan hak-hak asasi
untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik (Hadiyanto, 2004: 63).
Mengacu pada fungsi pelayanan, Pemerintah Kota Bandar Lampung sebagai salah
satu pemerintah daerah di Indonesia wajib untuk memberikan pelayanan publik
diberikan Pemerintah Kota Bandar Lampung harus secara menyeluruh pada
struktur pemerintahan baik di dinas, badan, maupun kantor.
Seiring dengan muatan kewenangan yang dikandung oleh Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka kebijakan pembangunan Kota
Bandar Lampung salah satunya diarahkan pada sektor pendidikan.
Berdasarkan bidang pendidikan, implementasi pelayanan pemerintah Kota Bandar
Lampung masih dihadapkan pada situasi problematik yang amat serius. Di satu
pihak ada keinginan yang sangat kuat untuk meningkatkan mutu sumber daya
manusia terdidik dan terampil, tetapi di lain pihak daya dukung institusi
pendidikan ke arah itu ternyata tidak cukup kuat.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Bandar Lampung, pelaksanaan pendidikan
wajib belajar di Bandar Lampung tingkat SD Angka Partisipasi Kasar (APK) SD
di Bandar Lampung Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2014 adalah :
Tabel 1
Angka Partisipasi Kasar (APK) 2010 -2014 SD di Bandar Lampung
Dengan melihat data tabel 1 di atas maka dapat di uraikan bahwa selalu ada
kenaikan Angka Partisipasi Kasar (APK) disetiap tahunnya. Kenaikan terbesar
pada tahun 2011 dan tahun 2013 yang masing-masing besaran kenaikannya
23.279 (4,65 %) dan 25,673 (5,13 %). Dengan demikian jumlah keseluruhan data
selama 5 (lima) tahun dari tahun 2010–2014 adalah 111.189 (22,21 %)
Tabel 2
Angka Putus Sekolah (APS) 2010 -2014 SD di Bandar Lampung
Tahun Angka Putus Sekolah (APS) %
2010 14.431 2.88 %
Sumber : Data Disdik Bandar Lampung, 2014
Dengan melihat data tabel 2 di atas maka dapat di uraikan bahwa selalu ada
kenaikan Angka Putus Sekolah (APS) disetiap tahunnya. Kenaikan terbesar pada
tahun 2010 besaran kenaikannya 14.431 (2,88 %). Dengan demikian jumlah
keseluruhan data Angka Putus Sekolah (APS) selama 5 (lima) tahun dari tahun
2010–2014 adalah 73.903 (12,78 %). Dari anak usia sekolah di Bandar Lampung
7 hingga 13 tahun yang mencapai 77.585 anak. Sedangkan untuk peringkat
pendidikan di Provinsi Lampung sendiri peraih nilai UN tertinggi yakni Kota
Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Barat dan Kota Metro (Disdik 2014).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan secara nasional
cukup tinggi sedangkan pada tingkat Provinsi Lampung Kota Bandar Lampung
Lampung. Pelayanan publik haruslah menjadi perhatian pemerintah. Isu tata
kelola (governance) dan hak melekat (inherent) dalam konsep desentralisasi pendidikan. Pentingnya isu tata kelola dan hak disebabkan karena desentralisasi
pendidikan mensyaratkan partisipasi politik aktif warga negara, didesain
melibatkan multipihak, baik secara personal maupun kelembagaan, dan
bersentuhan langsung dengan hak dasar manusia untuk memperoleh pendidikan.
Berdasarkan hasil uraian latar belakang masalah di atas peneliti tertarik untuk
mengangkat judul “Analisis Pelayanan Publik Sektor Pendidikan di Kota
Bandar Lampung (Studi Kasus Pada Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SD Negeri 2 Labuhan Ratu dan SD Negeri 3 Gunung Terang)”
sebagai karya ilmiah.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagimana pelayanan publik sektor pendidikan di Kota Bandar Lampung ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mendapatkan kondisi pelayanan publik sektor pendidikan di Kota Bandar
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1). Sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu Administrasi Negara
pada umumnya, khususnya tentang sektor pelayanan publik.
2). Memberi masukan kepada pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan
publik khususnya pelayanan publik disektor pendidikan.
3). Sebagai tambahan informasi atau referensi bagi pemerintah daerah dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pelayanan Publik 2.1.1. Pengertian Pelayanan Publik
Penggunaaan istilah publik, yang berasal dari bahasa Inggris (public), terdapat beberapa pengertian, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia, yaitu umum,
masyarakat dan negara. Sedangkan dalam pengertian negara salah satunya adalah
public authorities (otoritas negara), public building (bangunan negara), public revenue (penerimaan negara) dan public sector (sektor negara). Dalam hal ini, pelayanan publik merujuk pada pengertian masyarakat atau umum (Inu Kencana
Syafi’ie, dkk, 1999: 18).
Menurut Ibrahim Amin (2008: 15) pelayanan publik adalah segala bentuk
kegiatan pelayanan kepada umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di
Pusat, di Daerah, dan diilingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah
(BUMN/BUMD) dalam bentuk barang dan atau jasa dalam upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan
Menurut Sinambela (2006: 42) pengertian publik yang melekat pada pelayanan
publik tidak sepenuhnya sama dengan pengertian masyarakat. Karakteristik
khusus dari pelayanan publik yang membedakan dari pelayanan swasta adalah:
a. Sebagian besar layanan pemerintah berupa jasa, dan barang tak nyata.
Contohnya sertifikat, perijinan, peraturan, transportasi, ketertiban, kebersihan,
dan lain sebagainya.
b. Selalu terkait dengan jenis pelayanan-pelayanan yang lain, dan membentuk
sebuah jalinan sistem pelayanan yang berskala nasional. Contohnya dalam hal
pelayanan transportasi.
c. Pelanggan internal cukup menonjol, sebagai akibat dari tatanan organisasi
pemerintah yang cenderung birokratis. Selanjutnya dalam pelayanan berlaku
prinsip utamakan
d. Pelanggan eksternal lebih dari pelanggan internal. Namun kondisi nyata
dalam hal hubungan antar lembaga pemerintahan sering memojokkan petugas
pelayanan agar mendahulukan pelanggan internal.
e. Efisiensi dan efektivitas pelayanan akan meningkat seiring dengan
peningkatan mutu pelayanan. Semakin tinggi mutu pelayanan bagi
masyarakat, maka semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah. Dengan demikian akan semakin tinggi pula peran serta
masyarakat dalam kegiatan pelayanan.
f. Masyarakat secara keseluruhan diperlakukan sebagai pelanggan tak langsung,
yang sangat berpengaruh kepada upaya-upaya pengembangan pelayanan.
hanya pelanggan langsung (mereka yang pernah mengalami gangguan
keamanan saja), akan tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat.
g. Tujuan akhir dari pelayanan publik adalah terciptanya tatanan kehidupan
masyarakat yang berdaya untuk mengurus persoalannya masing-masing.
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik
adalah pemberian pelayanan (melayani) yang dilaksanakan oleh penyelenggara
pelayanan publik sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan
perundang-undangan yang mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut sesuai dengan
aturan pokok dan tata cara yang telah di tetapkan.
2.1.2. Ruang Lingkup Pelayanan Publik
Secara umum, pelayanan dapat berbentuk barang yang nyata (tangible), barang tidak nyata (intangible), dan juga dapat berupa jasa. Layanan barang tidak nyata dan jasa adalah jenis layanan yang identik. Jenis-jenis pelayanan ini memiliki
perbedaan mendasar, misalnya bahwa pelayanan barang sangat mudah diamati
dan dinilai kualitasnya, sedangkan pelayanan jasa relatif lebih sulit untuk dinilai.
Walaupun demikian dalam prakteknya keduanya sulit untuk dipisahkan. Suatu
pelayanan jasa biasanya diikuti dengan pelayanan barang, demikian pula
Nurcholis (2005:42) membagi fungsi pelayanan publik ke dalam bidang-bidang
sebagai berikut:
a. Pendidikan.
b. Kesehatan.
c. Keagamaan.
d. Lingkungan: tata kota, kebersihan, sampah, penerangan.
e. Rekreasi: taman, teater, museum.
f. Sosial.
g. Perumahan.
h. Pemakaman.
i. Registrasi penduduk: kelahiran, kematian.
j. Air minum.
k. Legalitas (hukum), seperti KTP, paspor, sertifikat, dll.
Berdasarkan Keputusan Menpan No: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman
Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, pengelompokan pelayanan publik
secara garis besar adalah :
a. Pelayanan administratif
b. Pelayanan barang
Berdasarkan berbagai jenis pengelolaan pelayanan publik yang disediakan oleh
pemerintahtersebut, umumnya akan timbul beberapa persoalan dalam hal
penyediaan pelayanan publik. LAN, (2003) mengidentifikasi persoalan-persoalan
sebagai berikut:
a.Kelemahan yang berasal dari sulitnya menentukan atau mengukur output
maupun kualitas dari pelayanan yang diberikan oleh pemerintah.
b.Pelayanan yangdiberikan pemerintah memiliki ketidakpastian tinggi dalam hal
teknologi produksi sehingga hubungan antara output dan input tidak dapat
ditentukan dengan jelas.
c.Pelayanan pemerintah tidak mengenal “bottom line” artinya seburuk apapun
kinerjanya, pelayanan pemerintah tidak mengenal istilah bangkrut.
d.Berbeda dengan mekanisme pasar yang memiliki kelemahan dalam
memecahkan masalah eksternalities, organisasi pelayanan pemerintah
menghadapi masalah berupa internalities. Artinya, organisasi pemerintah sangat
sulit mencegah pengaruh nilai-nilai dan kepentingan para birokrat dari
kepentingan umum masyarakat yang seharusnya dilayaninya.
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa ruang lingkup
pelayan publik berdasarkan pada Pelayanan administratif berupa surat-surat,
Pelayanan barang berupa barang dan Pelayanan jasa berupa tindakan atau
2.1.3. Prinsip – Prinsip Dasar Pelayanan Publik
Di Indonesia, upaya untuk menetapkan standar pelayanan publik dalam rangka
peningkatan kualitas pelayanan publik sebenarnya telah lama dilakukan. Upaya
tersebut antara lain ditunjukan dengan terbitnya berbagai kebijakan, diantaranya
adalah UU RI No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Namun sejauh ini standar pelayanan publik sebagaimana yang dimaksud masih
lebih banyak berada pada tingkat konsep, sedangkan implementasinya masih jauh
dari harapan. Hal ini terbukti dari masih buruknya kualitas pelayanan yang
diberikan oleh berbagai instansi pemerintah sebagai penyelenggara layanan
publik.
Adapun yang dimaksud dengan standar pelayanan (LAN, 2003) adalah suatu tolok
ukur yang dipergunakan untuk acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai
komitmen atau janji dari pihak penyedia pelayanan kepada pelanggan untuk
memberikan pelayanan yang berkualitas. Sedangkan yang dimaksud dengan
pelayanan berkualitas adalah pelayanan yang cepat, menyenangkan, tidak
mengandung kesalahan, serta mengikuti proses dan prosedur yang telah
ditetapkan terlebih dahulu. Jadi pelayanan yang berkualitas tidak hanya ditentukan
oleh pihak yang melayani, tetapi juga pihak yang ingin dipuaskan ataupun
Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya standar pelayanan (LAN, 2003)
antara lain adalah:
a. Memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa mereka mendapat pelayanan
dalam kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan, memberikan fokus
pelayanan kepada pelanggan pelanggan masyarakat, menjadi alat komunikasi
antara pelanggan dengan penyedia pelayanan dalam upaya meningkatkan
pelayanan, menjadi alat untuk mengukur kinerja pelayanan serta menjadi alat
monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan.
b. Melakukan perbaikan kinerja pelayanan publik. Perbaikan kinerja pelayanan
publik mutlak harus dilakukan, dikarenakan dalam kehidupan bernegara
pelayanan publik menyangkut aspek kehidupan yang sangat luas. Hal ini
disebabkan tugas dan fungsi utama pemerintah adalah memberikan dan
memfasilitasi berbagai pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat,
mulai dari pelayanan dalam bentuk pengaturan ataupun pelayanan-pelayanan
lain dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang
pendidikan, kesehatan, utlilitas, sosial dan lainnya.
c. Meningkatkan mutu pelayanan. Adanya standar pelayanan dapat membantu
unit-unit penyedia jasa pelayanan untuk dapat memberikan pelayanan yang
terbaik bagi masyarakat pelanggannya. Dalam standar pelayanan ini dapat
terlihat dengan jelas dasar hukum, persyaratan pelayanan, prosedur pelayanan,
waktu pelayanan, biaya serta proses pengaduan, sehingga petugas pelayanan
memahami apa yang seharusnya mereka lakukan dalam memberikan
Masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan juga dapat mengetahui dengan pasti
hak dan kewajiban apa yang harus mereka dapatkan dan lakukan untuk
mendapatkan suatu jasa pelayanan. Standar pelayanan juga dapat membantu
meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja suatu unit pelayanan. Dengan
demikian, masyarakat dapat terbantu dalam membuat suatu pengaduan ataupun
tuntutan apabila tidak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di simpulkan prinsip-prinsip dasar
pelayanan publik adalah standar pelayanan menjadi faktor kunci dalam upaya
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Upaya penyediaan pelayanan yang
berkualitas antara lain dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran-ukuran apa
saja yang menjadi kriteria kinerja pelayanan.
2.2. Konsep Governance
2.2.1. Pengertian Governance
Menurut Punyarata Bandu (2004) dalam buku Bujang Rahman (2014: 28)
Governance merupakan penyelanggaraan sistem organisasi yang lebih
mementingkan kebutuhan dan partisipasi masyarakat dalam arti yang sangat luas
yang dicirikan oleh adanya interkasi antar sistem yang komplek yang menyangkut
fungsi, tradisi, proses, dan struktur sumber daya yang di karakterisasi oleh tiga
Defenisi lain menyebutkan governance adalah mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sektor negara dan sektor
non-pemerintah dalam suatu usaha kolektif. Defenisi ini mengasumsikan banyak aktor
yang terlibat dimana tidak ada yang sangat dominan yang menentukan gerak aktor
lain. Pesan pertama dari terminology governance membantah pemahaman formal tentang berkerjanya institusi-institusi negara. Governance mengakui bahwa didalam masyarakat terdapat banyak pusat pengambilan keputusan yang berkerja
pada tingkat yang berbeda (Winarno, 2002:122).
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat disimpulkan Governance adalah tindakan, cara, atau sistem sebuah pemerintahan terhadap tata kelola yang
merupakan proses pengambilan keputusan dan proses dengan mana keputusan
tersebut akan diimplementasikan (atau tidak diimplementasikan).
2.2.2. Pengertian Good Governance
Menurut United Nations Deploment Programe (1997) UNDP, dalam buku Bujang
Rahman (2014: 31) Good Governace sebagai interaksi antara negara dengan lingkungan masyarakatnya dengan bercirikan adanya kesadaran masyarakat dalam
berkontribusi dalam tata kelola pemerintahan.
government (pemerintahan yang baik), dan clean governance (pemerintahan yang bersih). Untuk lebih dipahami makna sebenarnya dan tujuan yang ingin dicapai
atas good governance, maka adapun beberapa pengertian dari good governance,
antara lain :
1. Menurut Bank Dunia (World Bank) Good governance merupakan cara kekuasaan yang digunakan dalam mengelola berbagai sumber daya sosial dan
ekonomi untuk pengembangan masyarakat (Mardoto, 2009).
2. Menurut UNDP (United National Development Planning) Good governance
merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan.
Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua
tingkatan. Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu:
a. Kesejahteraan rakyat (economic governance).
b. Proses pengambilan keputusan (political governance).
c. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance) (Prasetijo, 2009).
3. Kunci utama memahami good governance, menurut Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), adalah pemahaman atas prinsip-prinsip yang mendasarinya.
Bertolak dari prinsip-prinsip ini didapat tolok ukur kinerja suatu pemerintah.
Prinsip-prinsip tersebut meliputi (Hardja Soemantri, 2003):
a. Partisipasi masyarakat: semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
lembaga-lembaga perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka.
Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan
berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kepastian untuk
berpartisipasi secara konstruktif.
b. Transparasi: transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas.
Seluruh proses pemerintah, lembaga-lembaga, dan informasi perlu dapat
diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia
harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
c. Akuntabilitas: para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta, dan
organisasi masyarakat bertanggungjawab, baik kepada masyarakat maupun
kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan.
Selanjutnya dalam proses memaknai peran kunci stakeholders (pemangku
kepentingan), mencakup 3 domain good governance, yaitu:
1. Pemerintah yang berperan menciptakan iklim politik dan hukum yang
kondusif.
2. Sektor swasta yang berperan menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan.
3. Masyarakat yang berperan mendorong interaksi sosial, konomi, politik dan
mengajak seluruh anggota masyarakat berpartisipasi (Efendi, 2005).
artinya kekuasaan tidak lagi semata-mata dimiliki atau menjadi urusan
pemerintah. Governance itu sendiri memiliki unsur kata kerja yaitu governing
yang berarti fungsi pemerintah bersama instansi lain (LSM, swasta dan warga
negara) yang dilaksanakan secara seimbang dan partisipatif. Sedangkan good governance adalah tata pemerintahan yang baik atau menjalankan fungsi pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa (struktur, fungsi, manusia, aturan,
dan lain-lain). Clean government adalah pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Good corporate adalah tata pengelolaan perusahaan yang baik dan bersih. Governance without goverment berarti bahwa pemerintah tidak selalu di warnai dengan lembaga, tapi termasuk dalam makna proses pemerintah (Prasetijo,
2009).
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat di simpulkan Good Governance
adalah suatu proses pengambilan keputusan yang taat dengan aturan-aturan
sehingga dalam proses pengambilan keputusan tersebut dapat dihindari adanya
usaha untuk tidak melanggar.
2.3. Konsep Kebijakan Pendidikan 2.3.1. Pengertian Kebijakan Pendidikan
Istilah kebijakan dalam dunia pendidikan sering disebut dengan istilah
istilah-istilah tersebut itu sebenarnya memiliki perbedaan isi dan cakupan makna dari
masing-masing yang ditunjukan oleh istilah tersebut (Arif Rohman, 2009:
107-108).
Kebijakan pendidikan menurut Devine (2007) dalam (Muhammad Munadi dan
Banawi 2011: 19) memiliki empat demiensi pokok, yaitu: dimensi normatif,
struktural, konsituentif dan teknis. Dimensi Normatif terdiri atas nilai, standard
an filsafat. Dimensi ini memaksa masyarakat untuk melakukan peningkatan dan
perubahan melalui kebijakan pendidikan yang ada. Dimensi ini berkaitan dengan
ukuran pemerintah dan satu strukltur organisasi, motode dan prosedur yang
menegaskan dan mendukung kebijakan bidang pendidikan, Dimensi Konsituentif
teridiri dari individu, kelompok kepentingtan, dan penerima yang menggunakan
kekuatan untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijkan. Demensi teknis
memnggabungkan pengembangan praktis, implementasi dan penilaian dari
pembuatan kebijakan pendidikan
Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut (Riant Nugroho, 2008: 37) sebagai
bagian dari kebijakan publik, yaitu kebijakan publik di bidang pendidikan.
Dengan demikian, kebijakan pendidikan harus sebangun dengan kebijakan publik
dimana konteks kebijakan publik secara umum, yaitu kebijakan pembangunan,
maka kebijakan merupakan bagian dari kebijakan publik. Kebijakan pendidikan di
pahami sebagai kebijakan di bidang pendidikan, untuk mencapai tujuan
pembangunan Negara Bangsa di bidang pendidikan, sebagai salah satu bagian dari
Pengertian Kebijakan Pendidikan menurut Arif Rohman (2009: 108) kebijakan
pendidikan merupakan bagian dari kebijakan negara atau kebijakan publik pada
umumnya. Kebijakan pendidikan merupakan kebijakan publik yang mengatur
khusus regulasi berkaitan dengan penyerapan sumber, alokasi dan distribusi
sumber, serta pengaturan perilaku dalam pendidikan. Kebijakan pendidikan
(educational policy) merupakan keputusan berupa pedoman bertindak baik yang bersifat sederhana maupun kompleks, baik umum maupun khusus, baik terperinci
maupun longgar yang dirumuskan melalui proses politik untuk suatu arah
tindakan, program, serta rencana-rencana tertentu dalam menyelenggarakan
pendidikan.
Berdasarkan pada beberapa pandapat mengenai kebijakan pendidikan di atas maka
dapat disimpulkan bahwa pengertian kebijakan pendidikanmerupakan suatu sikap
dan tindakan yang di ambil seseorang atau dengan kesepakatan kelompok
pembuat kebijakan sebagai upaya untuk mengatasi masalah atau suatu persoalan
dalam dunia pendidikan.
2.3.2. Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
Dengan adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang untuk
berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek
kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih memajukan
pemrintah ini, maka diusahakan pendidikan mulai dari tingkat SD sampai
pendidikan di tingkat Universitas.
Pada intinya pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter seseorang yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi disini
pendidikan hanya menekankan pada intelektual saja, dengan bukti bahwa adanya
Ujian Nasional (UN) sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan tanpa melihat
proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.
Adapun tujuan pendidikan nasional didasarkan pada:
a. Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945 (versi Amandemen)
1) Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
2) Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan
bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
b. Tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang No. 20Tahun 2003
Penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggungjawab.”
c. Tujuan Pendidikan Menurut UNESCO
Guna upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali
melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu,
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni:
(1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.
Berdasarkan hasil uraian di atas maka dapat di simpulkan tujuan pendidikan
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indoensia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung
2.4. Kerangka Pemikiran
Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan ukuran daya serap lembaga
pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka Putus Sekolah(APS)
merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada
fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi
Angka Partisipasi Kasar (APK) semakin besar jumlah penduduk yang
berkesempatan mengenyam pendidikan.Namun demikian meningkatnya Angka
Partisipasi Kasar (APK) tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya
pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan.
Angka Partisipasi Kasar (APK), menunjukkkan partisipasi penduduk yang sedang
mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Angka Partisipasi
Kasar (APK) merupakan persentase jumlah penduduk yang sedang bersekolah
pada suatu jenjang pendidikan (berapapun usianya) terhadap jumlah penduduk
usia sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.
APK digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan
yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk
untuk mengenyam pendidikan. Nilai APK bisa lebih dari 100%, hal ini
disebabkan karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan
mencakup anak berusia di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan yang
masih sekolah di tingkat SD atau juga banyak anak-anak yang belum berusia 7
tahun tetapi telah masuk SD.
Prinsip-prinsip tolok ukur kinerja suatu pemerintah tersebut meliputi
(Hardjasoemantri, 2003):
a. Partisipasi masyarakat: semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui
lembagalembaga perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka.
b. Transparasi: transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas.
c. Akuntabilitas: para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta, dan
organisasi masyarakat bertanggungjawab, baik kepada masyarakat maupun
Gambar 1 Alur Kerangka Pikir
Sumber: Olah Data 2015
SDN 2 Labuhan Ratu
SDN 3 Gunung Terang
Governance dalam Pelayanan Publik
Transparasi
Data Disdik Bandar Lampung APK = 111.189
APS =73.903
Pelayanan Publik
Akuntabilitas Partisipasi
III. METODE PENELITIAN
3.1. Tipe Penelitian
Menurut Sugiyono (2010:9), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat postpositifsime, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana
peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sample sumber dan data
dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan data dilakukan
dengan triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif / kualitatif, dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi.
Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam buku Moleong (2014:4) metode
kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Dalam peneltian menggunakan dasar penelitian study survey dimana objek atau masalah yang di teliti kemudian dianalisis secara menyeluruh sebagai suatu
kesatuan yang terintegritias dengan tujuan akan memperoleh informasi dari
Tipe penelitian yang dipergunakan adalah tipe penelitian deskriptif analisis
kualitatif, yaitu penelitian yang digunakan untuk menggambarkan secara rinci
mengenai objek penelitian serta menganalisa fenomena-fenomena pelayanan
publik sektor pendidikan yang terjadi di SD Negeri 2 Labuhan Ratu dan SD
Negeri 3 Gunung Terang di Kota Bandar Lampung.
3.2. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pemusatan konsentrasi terhadap tujuan penelitian
yang akan atau sedang dilakukan. Fokus penelitian harus diungkapkan secara
eksplisit untuk mempermudah peneliti sebelum melaksanakan observasi. Adapun
fokus dari penelitian ini adalah:
a. Transparasi
Menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat
melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh
informasi yang akurat dan memadai.
b. Partisipasi
Mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan
pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut kepentingan
masyarakat, baik secara langsungmaupun tidaklangsung.
c. Akuntabilitas
Meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang
3.3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung
sebagai pelaksana urusan pemerintahan daerah bidang pendidikan berdasarkan
azas otonomi dan tugas pembantuan. Selanjutnya lokasi penelitian lainnya adalah
SD Negeri 2 Labuhan Ratu dan SD Negeri 3 Gunung Terang Bandar Lampung.
Dipilihnya kedua SD Negeri tersebut dikarenakan memperoleh Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat. Hal ini yang di jadikan bahan
perbandingan dari kedua SD Negeri tersebut dalam sektor pelayanan publik yang
berkaitan dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
3.4. Jenis dan Sumber Data 3.4.1. Jenis Data
Data penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data yang menunjukkan kualitas
atau mutu dari suatu yang ada, berupa keadaan, proses, kejadian/peristiwa dan
lain-lain yang dinyatakan dalam bentuk perkataan. Sedangkan bentuk operasional
data penelitian ini ialah melalui pendekatan kualitatif deskriptif yaitu berupa
narasi, cerita, pengaturan informan, dokumen-dokumen pribadi seperti foto,
catatan pribadi, perilaku, gerak tubuh dan banyak hal yang tidak didominasi
angka-angka sebagaimana penelitian kuantitatif.
Sumber data penelitian yaitu sumber subjek dari tempat mana data bisa
didapatkan. Sumber Data yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi data
sekunder dan data primer.
a. Data Primer
Untuk memperoleh data primer, peneliti wajib mengumpulkannya secara
langsung. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian di
lapangan (field research) secara langsung pada objek penelitian yang dilakukan dengan cara pengamatan (observation), Wawancara (Interview).
b. Data Sekunder
Data sekunder yang dibutuhkan bukan menekankan pada jumlah tetapi pada
kualitas dan kesesuaian oleh karena itu peneliti harus selektif dan hati-hati
dalam memilih dan menggunakannya.
3.5. Informan dan Teknik Penarikan Informan
Informan penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi
tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian (Moleong 2004 : 97).
Informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang
akan diteliti.
Berdasarkan penjelasan yang sudah diterangkan diatas, maka peneliti
menggunakan teknik Purposive Sampling dalam menentukan informannya.
kedudukan, pedoman, atau wilayah tetapi didasarkan pada adanya tujuan dan
pertimbangan tertentu yang tetap berhubungan dengan permasalahan
penelitian.Informan dalam penelitian ini yaitu:
Tabel 3
Informan Penelitian
No Nama Informan Jabatan
1 Tatang Setiadi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas
Pendidikan Kota Bandar Lampung
2 Herawati, S.Pd Kepala Sekolah SDN 2 Labuhan Ratu
3 Noni Asmantina Komite Sekolah SDN 2 Labuha Ratu
4 Sri Edi Aspriyono Komite Sekolah SDN 3 Gunung Terang
5 Nuryati AM Bendahara BOS SDN 3 Gunung Terang
6 Drs. Sugiman, M.Pd Lektor Kepala (Pemerhati Pendidikan)
7 Ruslan Orang tua siswa SDN 3 Gunung Terang
8 Endang Orang tua siswa SDN 3 Gunung Terang
9 Ratna Orang tua siswa SDN 2 Labuhan Ratu
10 Alan Orang tua siswa SDN 2 Labuhan Ratu
3.6. Teknik Pengumpulan Data 3.6.1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan
menggunakan panca indra. Tetapi observasi sebenarnya adalah kegiatan
melalui panca indra atau diartikan sebagai pengamatan dalam pencatatan secara
sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
Teknik observasi yang akan dilakukan ialah observasi langsung (participant observation). Maksudnya, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap fenomena-fenomena pelayanan publik di SD Negeri 2 Labuhan Ratu dan SD
Negeri 3 Gunung Terang Bandar Lampung.
3.6.2. Wawancara (Interview)
Wawancara atau Interview adalah sebuah percakapan langsung (face to face)
antara peneliti dan informan, dalam proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab. Proses interview (wawancara) dilakukan untuk mendapatkan data dari informan dan key informan.
Berdasarkan hal ini peneliti mengajukan pertanyaan kepada informan, terkait dengan penelitian yang dilakukan.Sedangkan informan bertugas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara.Meskipun demikian, informan
berhak untuk tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya privasi atau rahasia organisasi/instansi.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
teknik wawancara yang terstruktur. Maksudnya adalah proses wawancara
interview guide (panduan wawancara) sebagai panduan dalam mewawancarai
informan untuk mendapatkan informasi.
3.6.3. Dokumentasi
Selain wawancara dan observasi, pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti
dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik dokumentasi atau studi
pustaka. Intinya, dokumentasi atau studi pustaka adalah metode yang digunakan
untuk menelusuri data history atau mengkaji literatur-literatur dan laporan-laporan yang berkaitan dengan judul penelitian.
3.7. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan cara menganalisa/memeriksa
data, mengorganisasikan data, memilih dan memilahnya menjadi sesuatu yang
dapat diolah, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting
berdasarkan kebutuhan dalam penelitian dan memutuskan apa yang dapat
dipublikasikan. Langkah analisis data akan melalui beberapa tahap yaitu:
pengumpulan data, mengelompokkannya, memilih dan memilah data, lalu
kemudian menganalisanya. Analisa data ini berupa narasi dari rangkaian hasil
penelitian yang muaranya untuk menjawab rumusan masalah.
3.8. Keabsahan Data
Penelitian kualitatif harus mengungkap kebenaran yang objektif. Karena itu
keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting. Melalui
Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan
triangulasi. Adapun triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat
menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang
telah ada. (Sugiyono 2010: 241)
Dalam memenuhi keabsahan data penelitian ini dilakukan triangulasi dengan
sumber. Menurut Patton, triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2007:29).
Triangulasi dengan sumber yang dilaksanakan pada penelitian ini yaitu
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1. Profil Organisasi
1. Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung
Visi:
Terwujudnya pendidikan berkualitas dan terjangkau dengan dilandasai oleh
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai IPTEK
dan daya saing
Misi :
1. Mewujudkan perluasan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan
2. Meningkatkan kualitas SDM yang menguasai IPTEK, unggul dan berstandar
nasional/Internasional
3. Menimngkatkan kualitas pendidikan kejuruan yang memiliki keterampilan
unggul dan berdayasaing
2.Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu
No. Induk : 100080
Provinsi : Lampung
No. Statistik : 101126001008
Otonomi Daerah : Bandar Lampung
Kecamatan : Kedaton
Kelurahan : Labuhan ratu
Alamat sekolah : Jln. Beringin No. 59 Kode Pos. 35142
Daerah : Perkotaan
Status : Sekolah Negeri
Tahun Berdiri : 1977
Kegiatan : Belajar mengajar pagi dan siang
Visi : Unggul dalam berprestasi yang berdasarkan iman dan
taqwa dan berkarakter
Misi : 1. Menjadi SDM yang beriman yang bertaqwa sesuai
dengan Agama yang di anut
2. Menciptakan SDM yang berkualitas dan berkuantitas
serta pembelanjaran yang kondusif
3. Menanamkan sikap percaya diri dan disiplin, peduli dan
2. Sekolah Dasar Negeri 3 Gunung Terang
No. Induk : 100240
No. Statistik : 101126004024
Provisi : Lampung
Otonomi Daerah : Bandar lampung
Kecamatan : Tanjung Karang Barat
Kelurahan : Gunung Terang, Kode Pos. 35155
Daerah : Perkotaan
Status Sekolah : Negeri
Tahun Berdiri : 1990
Kegiatan : Belajar mengajar pagi dan siang
Visi : Mewujudkan sekolah yang berkualitas berlandaskan iman
dan taqwadan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang
berbudi pekerti yang luhur
Misi : 1. Melaksanakan pendidikan dan pembelanjaran dengan
aktif, kreatif, efektif agar memperoleh hasil yang
maksimal
2. Melaksanakan tambahan belajar bagi siswa kelas 6
3. Melaksanakan kegiatan pendidikan Al Quraan, pramuka,
4.2. Gambaran Umum
1.Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu
Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung berdiri pada tahun
1977. Berdasarkan data tahun 2013-2014 Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu
memiliki 28 orang guru dan 575 murid yang dibagi ke dalam murid laki-laki 288
serta murid perempuan 287 dengan jumlah lokal 6 lokal. Sekolah Dasar Negeri 2
Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung yang beralamat di Jl. Beringin No 59
Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung merupakan salah satu sekolah yang
masuk dalam jaringan sekolah dasar yang hadir sebagai upaya untuk memadukan
antara nilai imtaq dan iptek, sehingga diharapkan akan melahirkan peserta
didik yang memiliki kekuatan iman, ilmu dan amal.
Prestasi Guru dan siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu Kota
Bandar Lampung sejak tahun 2009 sampai tahun 2013 hanya di tingkat
kecamatan Labuhan Ratu saja. Selain itu Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu
Kota Bandar Lampung juga dijadikan sekolah inti sebagai sekolah
percontohan tingkat Kecamatan Labuhan Ratu yang menggunakan kurikulum
2013.
2. Sekolah Dasar Negeri 3 Gunung Terang
Sekolah Dasar Negeri 3 Gunung Terang Kota Bandar Lampung berdiri pada tahun
memiliki 26 orang guru dan 558 murid yang dibagi ke dalam murid laki-laki 285
serta murid perempuan 273 dengan jumlah lokal 8 lokal. Sekolah Dasar Negeri 3
Gunung Terang Kota Bandar Lampungyang beralamat di Jl. S. Hamdani,
Palapa 10, Gunung Terang Kota Bandar Lampung merupakan salah satu
sekolah yang masuk dalam jaringan sekolah dasar yang hadir sebagai upaya untuk
memadukan antara nilai imtaq dan iptek, sehingga diharapkan akan melahirkan
Gambar 2
STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH SD NEGERI 2 LABUHAN RATU KECAMATAN LABUHAN RATU KOTA BANDAR LAMPUNG
4.4. Program Kerja
1. Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Ratu
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk
mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas
SDM tersebut adalah pendidikan sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa
ditingkatkan termasuk peningkatan kualitas pendidikan di SD Negeri 2 Labuhan
Ratu Kecamatan Kedaton. Sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat
terhadap pendidikan anaknya, sekolah ini memerlukan peningkatan dan
pengembangan dalam berbagai aspek, misalnya dalam hal kesiswaan, kurikulum
dan kegiatan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan serta
pengembangannya, sarana dan prasaran, keuangan dan pembiayaan, budaya dan
lingkungan sekolah, peran serta masyarakat dan kemitraan, dalam pendidikan,
serta lain-lain. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu kiranya dilakukan upaya
penyusunan Rencana Kerja Tahunan Sekolah (RKTS) agar sekolah memiliki
rambu-rambu yang bisa dijadikan landasan dalam pengelolaan program,
implementasi, memonitoring dan evaluasi yang baik, terstruktur dan terukur.
Rencana Kerja Tahunan SD Negeri 2 Labuhan Ratu tahun 2013/2014 ini disusun
bardasarkan:
1) hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan rencana anggaran pendapatan
belanja sekolah (RAPBS) tahun 2009/2010
2) pelaksanaan rencana program dan kegiatan sekolah (RPKS) tahun 2008-2012
3) disesuaikan dengan Permendiknas No. 19 tahun 2007 tentang Rencana Kerja
Anggaran Sekolah (RKAS). Berkaitan dengan uraian di atas, maka RKTS ini
memuat pendahuluan, profil, harapan program kerja tahunan sekolah, rencana
anggaran sekolah, dan penutup.
Tujuan Penyusunan RKTS
Pada dasarnya tujuan penyusunan RKTS ini adalah :
1) Membantu sekolah dalam membelanjakan anggaran secara bijaksana untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dalam satu tahun.
2) Membantu sekolah dalam merespon tuntutan partisipasi masyarakat, dan
3) Membantu sekolah dalam meningkatkan keterbukaan dan akuntabilitas.
Manfaat RKTS
Manfaat RKTS ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sebagai acuan bagi sekolah untuk mencapai terget-target peningkatan kualitan
pendidikan yang akan dicapai dalam jangka pendek.
2. Dapat digunakan sebagai panduan bagi sekolah dalam memanfaatkan subsidi
baik subsidi dari pemerintah maupun dari non pemerintah.
3. Sebagai sumber inspirasi bagi seluruh warga sekolah dalam meningkatkan
kualitas pendidikan dan pembelajaran, dan
4. Sebagai tolak ukur bagi keberhasilan implementasi berbagai program