• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Explainer Video Sejarah Lambang Negara Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Explainer Video Sejarah Lambang Negara Indonesia"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Pengantar Tugas Akhir

PERANCANGAN EXPLAINER VIDEO SEJARAH LAMBANG NEGARA INDONESIA

DK 38315/Tugas Akhir

Semester II 2013-2014

Oleh:

Taufan Ariestyo 51910501

Program Studi Desain Komunikasi Visual

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(2)
(3)
(4)

62 LAMPIRAN F

DAFTAR RIWAYAT DIRI

Nama : Taufan Ariestyo Jenis Kelamin : Laki-laki

TTL : Bandung, 3 Maret 1993 Alamat : Komp. Taman Kopo Indah

Blok L-112 06/11

Kelurahan Margahayu Tengah Kecamatan Margahayu Kab. Bandung

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

No. Telp : (022) 5421112 / 08997190200

(5)

vii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

ABSTRAK ... iii

I.2. Identifikasi Masalah ... 4

I.3. Rumusan Masalah ... 4

I.4. Batasan Masalah ... 4

I.5. Tujuan Perancangan ... 4

BAB II GARUDA PANCASILA SEBAGAI LAMBANG NEGARA INDONESIA ... 5

II.1. Lambang Negara ... 5

II.2. Garuda pada Lambang Negara... 6

II.2.1. Garuda sebagai Makhluk Mitologi ... 6

II.2.2. Simbol Garuda pada Lambang Negara ... 9

II.3. Garuda Pancasila sebagai Lambang Negara Indonesia ... 11

II.3.1. Sejarah Perancangan Lambang Negara Indonesia ... 11

II.3.2. Filosofi Visual dari Lambang Negara Indonesia ... 17

II.4. Media Pembelajaran... 18

II.4.1. Pengertian Media Pembelajaran ... 19

II.4.2. Sejarah Lambang Negara Indonesia untuk Media Pembelajaran ... 19

II.5. Kuisioner ... 20

II.6. Kajian Video ... 24

(6)

viii

II.7. Solusi... 25

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL ... 27

III.1. Target Audiens ... 27

III.2. Strategi Perancangan ... 28

III.2.1. Pendekatan Komunikasi ... 28

III.2.2. Strategi Kreatif ... 30

III.2.3. Strategi Media ... 31

III.2.4. Strategi Distribusi ... 33

III.3. Konsep Visual ... 34

III.3.1. Format Desain ... 34

III.3.2. Tata Letak ... 34

III.3.3. Tipografi ... 35

III.3.4. Ilustrasi... 36

III.3.5. Warna ... 38

IV.1.3. Media Merchendise... 47

IV.1.4. Media Gimmick ... 51

Lampiran E Surat Keterangan Persetujuan Publikasi... 61

(7)

54

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Adam, A.W. (2007). Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta:Ombak

Aizid, R. (2014). Menguak Kontroversi – Kontroversi Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Saufa

Baksin, A.(2003) Membuat Film itu Gampang, Bandung: Katarsis

Daman, R. (1992). Pancasila Dasar Falsafah Negara. Jakarta: Rajawali Pers Kasadena, P. (2014). Bung Karno Panglima Revolusi. Yogyakarta: Galang

Pustaka

Rahmat,J. (1996). Psikologi Komunikasi. Bandung:Remaja Rosdakarya

Rustan, S (2010). Layout Dasar & penerapannya. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama

Sachari, A. (2007). Budaya Visual Indonesia. Jakarta: Erlangga Sobur, Alex. (2013). Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosda

Makalah:

Rahmat, Hidayat Dudung. Materi Media Pembelajaran

http://www.file.upi.edu/ (2 Juli 2014)

Situs web/internet:

Kemendikbud. Cinta kebangsaan harus ditanam sejak usia dini

http://litbang.kemdikbud.go.id (16 Mei 2014)

http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_Negara_Indonesia (3 Agustus 2014) ---. Filosofi Visual Garuda

http://www.pusakaindonesia.org/ (3 Agustus 2014)

Museum KAA (24 Nov 2012). Garuda Pancasila National Symbol of Indonesia

(8)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas karunia dan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk junjungan besar Nabi Muhammad SAW.

Adapun maksud penulisan Tugas Akhir ini, diarahkan kepada suatu langkah terapan ilmu yang penulis peroleh selama dibangku perkuliahan yang

diaplikasikan pada penelitian-penelitian yang penulis lakukan dan juga salah satu proses dalam penyelesaian program pendidikan S1 Desain Komunikasi Visual di

Universitas Komputer Indonesia. Adapun judul tugas akhir ini adalah “PERANCANGAN EXPLAINER VIDEO SEJARAH LAMBANG NEGARA INDONESIA”.

Selama disusunnya Tugas Akhir ini penulis menemukan kesulitan maupun hambatan karena adanya keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis, akan tetapi penulis banyak mendapat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara moril, maupun materil, untuk itu perkenankanlah pada kesempatan baik ini Penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya terutama kepada:

1. Kedua orangtua dan keluarga yang senantiasa memberikan semangat, doa dan dukungan sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan ini.

2. Prof. Dr. Primadi Tabrani, selaku Dekan Fakultas Desain. 3. Deni Albar M.Ds, selaku koordinator Tugas Akhir.

4. Taufan Hidayatullah S.Sn., M.Ds., selaku ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual dan selaku dosen pembimbing tugas akhir yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan saran dan pengarahan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.

(9)

vi

6. Rekan – rekan kelas DKV-BU 2010 yang telah memberikan bantuan selama proses pembuatan tugas akhir ini.

7. Pihak – pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang tentunya atas bantuannya juga laporan ini bisa diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mohon kritik dan saran dari berbagai pihak untuk hasil yang lebih sempurna.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan Tugas Akhir ini dan memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Terlebih lagi jika bisa dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

Bandung, Agustus 2014

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Indonesia adalah bangsa yang kaya. Keberagamannya membuat Indonesia dikenal oleh negara lainnya. Agar bisa lebih dikenal Indonesia membutuhkan pembeda dengan negara lain. Indonesia telah memiliki beberapa bentuk identitas yang diantaranya seperti bahasa nasional atau bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia,

bendera negara yaitu sang Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya, semboyan negara yaitu Bhineka Tunggal Ika , dan kebudayaan

daerah yang telah diterima sebagai kebudayaan nasional. Namun, semua itu perlu diolah agar elemen-elemen tersebut menjadi satu kesatuan. Maka tercetuslah ide dari seorang Parada Harahap yang saat itu menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tgl 13 Juli 1945 pada rapat panitia perancang Undang Undang Dasar 1945 untuk menjadikannya sebuah lambang negara.

Di beberapa negara, figur burung dijadikan simbol untuk identitasnya karena kebanyakan negara berbicara tentang kebesaran, kekuatan dan kebebasan yang ingin dicapai oleh negaranya tersebut. Seperti Indonesia yang memilih simbol Garuda untuk dipakai sebagai lambang negara karena perannya yang positif pada kisah-kisah terdahulu.

Selain Indonesia, figur Garuda juga dijadikan sebagai simbol nasional atau lambang negara dari beberapa negara di dunia, diantaranya Thailand, Ulan Bator (ibu kota Mongolia) dan Indonesia. Di Thailand figur Garuda digunakan sebagai perlambang keluarga kerajaan dan otoritas. Lambang ini disebut Krut Pha, yang dapat diartikan "garuda sebagai wahana dewa Wishnu". Lambang ini menjadi

(11)

2 Lambang negara merupakan perwujudan sebuah ideologi dari suatu negara. Dari situ lambang negara juga dapat diartikan sebagai indentitas suatu kalangan yang berisi kepribadian dipegang untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Penggunaan lambang negara diharapkan pembeda untuk bangsa-bangsa lain. Dari beberapa lambang negara yang ada, sebagian diantaranya menggunakan figur burung. Figur burung sendiri dianggap mampu merepresentasikan keberagaman dan kekuatan sebuah negara. Di Indonesia sendiri, Garuda dipakai sebagai lambang negara setelah dilebur dengan nilai nilai luhur yang disebut Pancasila. Dari situ lahirlah nama Garuda Pancasila yang disepakati sebagai perwujudan ideologi Pancasila yang selesai disempurnakan pada tahun 1950an.

Dalam perancangan lambang negara Indonesia sendiri dibuatlah tim khusus dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Sultan Hamid II dengan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini

bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Setelah dilakukannya sayembara terpilihlah dua rancangan

lambang negara terbaik, yaitu karya M Yamin dan karya Sultan Hamid II. Namun karya M Yamin terlalu memperlihatkan visual yang berbau Jepang. Terpilihlah karya Sultan Hamid II, lalu mengalami beberapa perubahan dan penyempurnaan. Dan sampai pada tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar Lambang Negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno.

Dalam pandangan budaya yang lebih luas, telah tampak tanda–tanda lunturnya simbol-simbol yang membentuk jati diri bangsa Indonesia. Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya program pewarisan nilai, sehingga terdapat proses pengroposan nilai-nilai di kalangan generasi muda.

(12)

nilai-3 nilai luhur yang terkandung dalam pacasila mereka akan mencintai tanah air ini. Cinta tanah air adalah salah satu hal utama dalam membentuk sikap dan karakter warga negara khususnya generasi penerus yang baik dan beradab, dengan menumbuhkan cinta tanah air maka akan menimbulkan rasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air pada setiap diri warga negara Indonesia akan menjadikan negara ini menuju kearah yang yang lebih baik dari sekarang. Alasan lain kenapa kita harus menanamkan rasa cinta tanah air adalah karena tanah air adalah tempat berpijak bagi individu maupun kelompok secara kultural dan historis (sejarah).

Keberadaan identitas nasional dan jati diri suatu bangsa harus dijaga agar bangsa tersebut tidak mudah ditindas oleh bangsa lain dan menjadi bangsa yang kuat. Kita harus bisa memahami arti dari identitas nasional dan bagaimana kita bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Itu itulah pentingnya mengetahui siapa kita dan tujuan hidup kita sebagai sebuah bangsa.

Seperti semboyan yang dikatankan oleh Soekarno, “Jas Merah” yang berarti

(13)

4 I.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun beberapa identifikasi masalah sebagai berikut :

a. Masyarakat khusunya pelajar belum terlalu tahu dan paham tentang sejarah perancangan Lambang Negara Indonesia

b. Media informasi tentang sejarah perancangan Lambang Negara Indonesia yang ada terbatas

c. Minat pelajar yang cenderung menurun terhadap pembelajaran sejarah Indonesia

I.3. Rumusan Masalah

Bagaimana mempermudah proses pemahaman pelajar tentang sejarah perancangan Lambang Negara Indonesia.

I.4. Batasan Masalah

Fokus permasalahan ditujukan pada perancangan sebuah media informasi yang membahas tentang sejarah Lambang Negara Indonesia untuk media bantu belajar.

I.5. Tujuan Perancangan

a. Mempermudah para pelajar untuk mempelajari sejarah perancangan Lambang Negara Indonesia

b. Memberikan media informasi yang menarik agar penyampaian materi dalam proses belajar dapat dilakukan secara efektif

(14)

5

BAB II

MEDIA INFORMASI SEJARAH LAMBANG NEGARA

INDONESIA

II.1. Lambang Negara

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS (1987), simbol atau

lambang dapat diartikan sebagai tanda, lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya, yang menyatakan sesuatu hal atau mengandung maksud tertentu.

Warna merah pada Sang Merah Putih merupakan lambang “keberanian” dan warna putih merupakan lambang “kesucian” seperti yang dikatakan Ogden Richard (1972:9), lambang ini bersifat konvensional, perjanjian tetapi lambang dapat diorganisir, direkam dan dikomunikasikan. Lalu menurut Prof. R.Djoko Soetono SH, negara adalah organisasi yang terdiri dari kumpulan manusia yang berada dibawah pemerintahan yang sama. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa arti lambang negara adalah suatu penanda identitas suatu kalangan yang berisi kepribadian dan ideologi yang dipegang suatu kalangan tersebut.

Identitas nasional pada hakekatnya adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri khas dan dengan khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya (Wibisono,2005). Identitas nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.

Kelahiran identitas nasional suatu bangsa memiliki sifat, ciri khas serta keunikan sendiri-sendiri, yang sangat ditentukan oleh faktor-faktor seperti;

1. Faktor objektif, yang meliputi faktor geografis-ekologis dan demografis.

(15)

6 Kondisi geografis-ekologis yang membentuk Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang beriklim tropis dan terletak di persimpangan jalan komunikasi antarwilayah dunia di Asia Tenggara, ikut mempengaruhi perkembangan kehidupan demografis, ekonomis, sosial dan kultural bangsa Indonesia. Selain itu faktor historis yang dimiliki Indonesia ikut mempengaruhi proses pembentukan masyarakat dan bangsa Indonesia beserta identitasnya, melalui interaksi berbagai faktor yang ada di dalamnya.

II.2. Garuda pada Lambang Negara

Lambang Negara umumnya mengandung sebuah identitas tertentu. Secara tidak langsung, identitas tersebut akan lebih dikenal jika mempunyai keunikan dan makna tersendiri. Dari beberapa lambang negara yang ada, biasanya dipakai figur yang bisa mewakili identitas negara tersebut.

II.2.1. Garuda sebagai Makhluk Mitologi

Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad ke-15, dan berati ilmu yang menjelaskan tentang mitos. Di masa sekarang, mitologi menurut Kamus

(16)

7

Gambar II.1. Garuda sebagai Wahana Wisnu

Sumber: http://www.hindudevotionalblog.com/2013/04/Garuda-purana.html

Dalam cerita, dikisahkan Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di kepalanya. Konon ukuran tubuh Garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari.

Dalam situs Wikipedia dijelaskan, Garuda yang dalam bahasa Sanskerta: Garuḍa dan Bahasa PāliGarula tampil di berbagai candi kuno di Indonesia, seperti Prambanan, Mendut, Sojiwan, Penataran, Belahan, Sukuh dan Cetho dalam bentuk relief atau arca. Dalam banyak ceritanya Garuda

melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu

sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta.

(17)

8 dapat terbang" dan "Raja agung para burung". Namun sebenarnya rupa Garuda yang sekarang berbeda dengan Garuda cerita-cerita di Bali. Dalam perkembangannya, di Indonesia sendiri sosok fisik Garuda dipercaya merupakan perwujudan dari elang jawa karena sangat mirip perawakannya.

Sedangkan di Jepang, Garuda dikenal sebagai Karura. Makhluk ini memiliki tubuh manusia dan kepala seekor elang. Makhluk ini berdasarkan Garuda dan dibawa ke Jepang dengan penyebaran agama nama Buddha. Nama Karura juga merupakan pelafalan bahasa Jepang dari kata Sansekerta Garuda. Namun nampaknya bentuk Jepang ini diambil dari bahasa Pali

Garuda.

Garuda juga dikenal sebagai Phoenix. Phoenix (Phœnix) dalam mitologi Mesir adalah burung api legendaris yang keramat. Phoenix memiliki bulu yang sangat indah berwarna merah dan keemasan. Phoenix dikatakan dapat

hidup selama 500 atau 1461 tahun. Setelah hidup selama itu, phoenix membakar dirinya sendiri. Setelah itu, dari abunya, munculah burung

phoenix muda. Siklus hidup burung phoenix seperti itu (regenerasi), bangkit kembali setelah mati, lalu muncul sebagai sosok yang baru.

Burung Phoenix merupakan simbol dari keabadian, lambang dari siklus kehidupan setelah mati, dan simbol dari kebangkitan tubuh setelah mati. Phoenix menjadi simbol suci pemujaan terhadap Dewa matahari di Heliopolis, Mesir. Burung phoenix simbol dari “Dewa matahari - Ra”.

II.2.2. Simbol Garuda pada Lambang Negara

(18)

9

Gambar II.2. Lambang Negara-Negara di Dunia

Sumber: http://untukpendidikan.wordpress.com/2009/05/06/

Di Thailand figur Garuda digunakan sebagai perlambang keluarga kerajaan dan otoritas. Lambang ini disebut Krut Pha, yang dapat diartikan "Garuda sebagai wahana dewa Wishnu". Sedangkan di Ulan Bator, sebutan bagi Garuda adalah Khangarid. Amerika juga memakai figure burung, tepatnya Elang Botak atau Bald Eagle. Lambang negara Amerika Serikat atau Segel Agung Amerika Serikat adalah lambang yang digunakan sebagai segel resmi berbagai dokumen yang dikeluarkan oleh Pemerintah Federal Amerika Serikat. Lambang ini pertama kali digunakan secara umum pada tahun 1782.

(19)

10 tersebut bernama resmi Garuda Pancasila. Garuda merupakan nama burung itu sendiri, sedangkan Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang disimbolkan dalam gambar-gambar di dalam perisai yang dikalungkan itu. Nama resmi Garuda Pancasila yang tercantum dalam Pasal 36A, UUD 1945.

Meskipun Garuda menjadi lambang negara bagi Indonesia. Namun masih banyak yang mempertanyakan apakah burung Garuda ini benar-benar ada

dan hidup atau sekedar rekaan manusia semata dalam keberadaanya. Namun dalam perkembangan kajiannya Garuda sendiri dalam masyarakat jawa banyak diidentikan dengan sosok elang jawa karena kemiripan dari sisi fisiknya. Pada pidatonya Soekarno juga sering menyebutnya sebagai representasi dari burung elang rajawali.

II.3. Garuda Pancasila Sebagai Lambang Negara Indonesia

Burung Garuda atau sering disebut Garuda Pancasila merupakan bentuk asli yang melambangkan citra dari negara Indonesia. Burung Garuda ini diambil dari cerita pewayangan lalu sering dijadikan sebuah perlambang karena figurnya memiliki nilai positif.

II.3.1. Sejarah Perancangan Lambang Negara Indonesia

Berdasarkan video dokumenter yang dirilis oleh Museum Konferensi Asia Afrika yang berjudul Garuda Pancasila National Symbol of Indonesia, diceritakan sejarah awal mula diciptakannya Lambang Negara Indonesia. Pada awalnya, Parada Harahap yang saat itu menjadi anggota penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tgl 13 Juli 1945 pada rapat panitia perancang Undang Undang Dasar 1945 mengusulkan lambang negara. Usul tersebut disetujui oleh semua anggota dan disepakati akan dibahas tersendiri dalam betuk Undang-Undang

(20)

11 Sesudah proklamasi kemerdekaan RI, dibetuklah Panitia Indonesia Raya. Yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dan M. Yamin selaku sekertaris umum. Panitia ini bertugas menyelidiki arti lambang-lambang dalam peradaban bangsa Indonesia. Sebagai langkah awal mempersiapkan bahan kajian tentang lambang negara. Namun akibat peristiwa 3 Juli 1946 yang merupakan penentangan terhadap Kabinet Sutan Sjahrir, Panitia Indonesia Raya belum dapat menyelesaikan tugas.

Pada tahun 1947 kementrian penerangan menyelenggarakan sayembara rancangan lambang negara, sayangnya kebanyakan pelukis pada masa itu kurang paham akan hukum-hukum kesejarahan akan tanda dari Lambang Negara, sehingga tak satu pun rancangan lambang negara tersebut dapat kita kenali seperti sekarang ini.

(21)

12

Gambar II.4. Sultan Hamid II

Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/e/e7/Sultan_Hamid_II.jpg/220px-Sultan_Hamid_II.jpg

Sultan Hamid II teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, dimana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam Lambang Negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Portofolio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M. Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M.A. Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM. Ng. Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan Lambang Negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang

(22)

13

Gambar II.5. Rancangan M Yamin

Sumber: http://i50.tinypic.com/2nq65v9.jpg

Rancangan lambang negara yang pertama dibuat oleh M. Yamin, bentuknya mengadaptasi bentuk perisai, dan diberi nama matahari bulan / Syamsiah-Kamariyah / Aditya-Chandra yang di dalamnya terdapat simbol- simbol yang berasal dari alam seperti banteng, air, matahari, dan pohon kelapa.

Namun karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan visual yang membawa pengaruh Jepang. Akhirnya

terpilihlah karya Sultan Hamid II, yang nantinya akan mengalami beberapa perubahan dan penyempurnaan.

Gambar II.6. Rancangan pertama perisai oleh Sultan Hamid II

(23)

14 Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu.

Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap

bersifat mitologis.

Gambar II.7. Rancangan ke-2 Sultan Hamid II

Sumber: edu-komik-dibalik-sosok-sang-Garuda-6

(24)

15 Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep. Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Gambar II.8. Rancangan ke-3 Sultan Hamid II

Sumber: Sumber: edu-komik-dibalik-sosok-sang-Garuda-6

(25)

16 Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Gambar II.9. Rancangan ke-4 Sultan Hamid II

Sumber:

http://dreamindonesia.files.wordpress.com/2011/06/Garuda_pancasila2.jpg

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar

(26)

17 II.3.2. Filosofi Visual dari Lambang Negara Indonesia

Burung Garuda berwarna kuning emas mengepakkan sayapnya menolehkan kepalanya ke arah kanan yang berarti menatap ke arah barat, karena pada zamannya peradaban yang saat itu maju adalah peradaban bangsa barat. Hal ini dimaksudkan agar bangsa Indonesia dapat mencontoh dan dapat melampaui kemajuan seperti halnya yang terjadi pada bangsa barat.

Secara tegas para pendahulu bangsa Indonesia telah memilih burung Garuda sebagai lambang kebangsaannya yang besar, karena Garuda adalah burung yang penuh percaya diri, energik, dinamis. Ia terbang menguasai angkasa dan memantau keadaan sendiri, tak suka bergantung pada pihak lain. Garuda adalah perlambang sifat berani dalam mempertahankan wilayah, tetapi juga ia akan menghormati wilayah milik yang lain sekalipun milik burung yang lebih kecil. Warna kuning emas melambangkan bangsa yang besar berjiwa. Burung Garuda juga memiliki sifat yang sangat setia pada kewajiban yang

ditanggungnya menurut pada budaya bangsa yang dihayati secara turun temurun. Burung Garuda pun pantang mundur dan pantang menyerah.

(27)

18 II.4. Media Pembelajaran

Pengetahuan sejarah berguna ikan hikmah dan pelajaran bagi generasi penerus. Disamping itu, suri tauladan generasi pendahulu dapat dijadikan panutan bagi generasi penerus. Menurut Nugroho Notosusanto, sejarah mempunyai kegunaan eduktif (pendidikan), kegunaan instruktif (pelajaran), kegunaan inspiratif (ilham), dan kegunaan rekreatif (hiburan).

II.4.1. Pengertian Media Pembelajaran

Saat ini para pengelola pendidikan semakin sadar pentingnya media yang membantu pembelajaran. Proses perubahan dari pemanfaatan perpustakaan yang menekankan pada penyediaan meda cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan menjadi bervariatif dan secara luas. Selain itu, dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta

ditemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pembelajaran semakin menuntut media yang bervariasi pula.

Proses belajar adalah proses internal dalam diri manusia maka guru bukanlah merupakan satu-satunya sumber belajar, namun merupakan salah satu komponen dari sumber belajar (Rahmat Hidayat ,2009). AECT (Associationfor Educational Communication and Technology ) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu: a. Pesan; mencakup materi apa yang ingin disampaikan.

b. Orang; mencakup guru, orang tua, tenaga ahli, dan sebagainya.

c. Bahan; merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, OHT (over head transparency ), program slide, alat peraga dan sebagainya (biasa disebut software).

(28)

19 e. Teknik; yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah, permainan/simulasi, tanya jawab, sosio drama (roleplay ), dan sebagainya.

f.Latar (setting) atau lingkungan; termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, dan sebagainya.

Bahan dan alat yang kita kenal sebagai software dan hardware tak lain adalah media pendidikan. Pertanyaan yang sering muncul pada guru, sejauh mana peran media pembelajaran. Kita harus mengetahui dahulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran, karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengajar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun non-verbal, proses ini dinamakan encoding . Sedangkan penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding .

II.4.2. Sejarah Lambang Negara Indonesia untuk Media Pembelajaran Pengetahuan sejarah berguna ikan hikmah dan pelajaran bagi generasi penerus. Disamping itu, suri teladan generasi pendahulu dapat dijadikan panutan bagi generasi penerus. Menurut Nugroho Notosusanto, sejarah mempunyai kegunaan eduktif (pendidikan), kegunaan instruktif (pelajaran), kegunaan inspiratif (ilham), dan kegunaan rekreatif (hiburan).

(29)

20 Daman. R. dalam bukunya “Pancasila Dasar Falsafah Negara” dapat di kemukakan sebagai berikut;

a. Mengerti dan memahami arti dari isi Pancasila itu dengan sebenar-benarnya

b. Menghayati dan mengamalkan semua sila dengan sebaik-baiknya

c. Mengamankan dan menyelamatkan Pancasila dari setiap usaha yang hendak merogrong atau menggantinya

Pancasila sendiri harusnya sudah mendarah daging dalam diri masyarakat agar dapat menimbulkan rasa cinta tanah air dan bangsanya sendiri. Dan rasa cinta terhadap bangsa harusnya sudah giat di tanamkan sejak usia pelajar. Kemudahan mengingat dan menerima paham-paham kenegaraan sangat perlu dilakukan, misalnya disisipkan pada keseharian anak atau pun menjadi mata pelajaran wajib saat di bangku sekolah. Agar nantinya para

siswa tersebut dapat menjadi tombak awal kebangkitan generasi muda penerus bangsa yang berbudi luhur. Terlebih lagi diharapkan semangat

kebangsaan tidak akan pernah luntur dari jiwa seluruh warga bangsa ini.

II.5. Kuisioner

(30)

21

Gambar II.10. Diagram Data Responden

(31)

22

Gambar II.11. Diagram Minat Responden

(32)

23

Gambar II.12. Diagram Minat Responden 2

Sumber:Pribadi

(33)

24 II.6. Kajian Video

II.6.1. Pengertian Video

Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Pada mulanya video diputar menggunakan film seluloid, sinyal elektronik, atau media digital. Video juga bisa dikatakan sebagai gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu.

J.E Kemp (1985 : 221) mengatakan bahwa video dapat menyajikan informasi, mengambarkan suatu proses dan tepat mengajarkan keterampilan, menyingkat dan mengembangkan waktu serta dapat mempengaruhi sikap. Hal ini dipengaruhi oleh ketertarikan minat, dimana tayangan yang ditampilkan oleh media video dapat menarik gairah rangsang (stimulus) seseorang untuk menyimak lebih dalam.

Secara empiris kata video berasal dari sebuah singkatan yang dalam bahasa inggris yaitu visual dan audio. Kata “Viadalah singkatan dari Visual

yang berarti gambar, kemudian pada kata “Deoadalah singkatan dari “Audioyang berarti suara. Dari pemnjelasan di atas dapat kita simpulkan pemahaman bahwa “Videoadalah merupakan seperangkat komponen atau media yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Pada dasarnya hakekat video adalah mengubah suatu ide atau gagasan menjadi sebuah tayangan gambar dan suara.

II.6.2. Explainer Video

(34)

25 Terdapat beberapa jenis Explainer Video diantaranya adalah:

a Live Action Explainer Video: Sebuah video promosi non-animasi menjelaskan produk bisnis anda atau jasa.

b Animated Explainer Video: Jenis yang paling populer dari explainer video, animasi sering format pilihan untuk menjelaskan jasa atau produk teknologi tidak berwujud seperti perangkat lunak.

c Whiteboard Explainer Video: Sebuah video papan tulis adalah sebuah video explainer dimana animasi digambar tangan dan dihapus pada papan tulis.

d Kickstarter Explainer Video: tidak begitu berbeda dari explainer video lainnya , namun durasi tayangnya cenderung lebih panjang.

II.7. Solusi

Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim

pesan (guru), komponen penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. (Sanjaya, 2010:162). Kadang-kadang

dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa; lebih parah lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber pelajaran.

Pada situs ayuagniar.blogspot.com dijelaskan fungsi lain dari penggunaan media dalam proses pembelajaran menurut (Fathurrohman dan Sutikno, 2010: 67) adalah sebagai berikut :

a) Menarik perhatian siswa

b) Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran; c) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalis ;

(35)

26 e) Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif;

f) Waktu pembelajaran bisa dikondisikan;

g) Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar;

h) Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu/menimbulkan gairah belajar;

i) Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam;

j) Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran;

(36)

27 BAB III

STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

III.1. Target Audiens

Target audiens adalah pemilihan segmentasi audiens yang akan menjadi sasaran dalam sebuah kegiatan. Pemilihan audiens ditentukan melalui riset yang telah dilakukan. Didapatlah dua kelompok target audiens yaitu primer dan sekunder.

a. Target Primer • Demografi

Usia : 12-18 tahun

Jenis klamin : Laki-laki dan perempuan Pendidikan : SMP-SMA

Pekerjaan : Pelajar

Bahasa : Indonesia formal dan non-formal • Psikografi

Kelas sosial : Ekonomi kelas menengah

Gaya hidup : Senang bermain, berkumpul, senang menonton • Geografi

Tempat : Kabupaten dan Kota Bandung

b. Target Sekunder • Demografi

Usia : 9-20 tahun

Jenis klamin : Laki-laki dan perempuan Pendidikan : SD - Mahasiswa

Pekerjaan : Pelajar

Bahasa : Indonesia formal dan non-formal • Psikografi

Kelas sosial : Ekonomi kelas menengah

Gaya hidup : Senang bermain, berkumpul, senang menonton • Geografi

(37)

28 III.2. Strategi Perancangan

Strategi perancangan terdiri dari dua kata yaitu strategi dan perancangan. Strategi sendiri merupakan proses untuk menentukan arah yang akan dituju oleh perusahaan untuk mencapai suatu misi dan sebagai daya dorong yang membantu perusahaan dalam menentukan suatu produk, jasa dan pasar. (Morrisey 1995:45) Sedangkan perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisa, menilai, memperbaiki dan menyusun suatu sistem, baik fisik maupun non fisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada. (Shafwandi, 2011)

Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa strategi perancangan merupakan proses yang bertujuan untuk menganalisa, menilai, memperbaiki dan menyusun suatu sistem untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Adapun tujuan perancangan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

a. Mengenalkan sejarah perancangan lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila.

b. Mengingatkan kembali peristiwa peristiwa penting saat perjuangan usaha mewujudkan kemerdekaan oleh para pendahulu.

c. Mempermudah target audiens atau masyarakat diluar untuk menggali sejarah Indonesia.

d. Membangkitkan kembali gairah mempelajari sejarah Indonesia agar para target audiens menjadi bangsa yang besar karena menghormati sejarah.

III.2.1. Pendekatan Komunikasi

(38)

29 Pendekatan komunikasi dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu pendekatan verbal dan pendekatan visual.

a. Pendekatan Verbal

Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi (1996) disebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan (persuasif).

Melihat dari target audiens yang umumnya berada pada usia pelajar, bahasa yang digunakan cenderung bahasa Indonesia yang formal atau lebih dikenal dengan EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan). Karena dengan mengusung materi sejarah bahasa sangat berpengaruh penting, agar materi yang akan disampaikan dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat. Terlebih lagi

dengan bahasa formal lebih mudah dimengerti, target audiens juga akan merasa untuk masuk kedalam forum diskusi yang dengan tidak terkesan

kaku.

Di beberapa bagian juga disisipkan dengan kata-kata yang bersifat kekinian, atau bahasa sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar audiens tidak terlalu bosan. Dengan membawa bahasa yang sehari-hari mereka gunakan, audiens tentu akan tertarik untuk mengikuti lebih jauh informasi yang disajikan.

b. Pendekatan Visual

(39)

30 Gaya gambar yang digunakan adalah gaya gambar sederhana, terkesan seperti goresan tangan atau sketsa. Ilustrasi hanya berupa garis yang disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan sebuah objek. Misalnya objek mati seperti benda-benda maupun hidup seperti gambar figure manusia. Garis yang digunakan adalah garis lengkung yang meminimalisir sudut dan hanya berupa outline disetiap penggabaran sebuah objek. Hal ini ditujukan agar daya imajinasi pembaca saat menggambarkan percakapan yang dibaca tidak dibatasi oleh realita.

Gambar III.1. Whiteboard Explainer Video

Sumber: youtube video”Whiteboard Explainer Video by idris kadri”

III.2.2. Strategi Kreatif

Dalam merancang sebuah media informasi tentang sejarah perancangan lambang negara Indonesia, dibutuhkan strategi kreatif berupa video pembelajaan yang bertujuan membantu para pelajar dalam mengenal sejarah

perancangan lambang negara Indonesia tersebut. Media informasi berupa video dipilih karena memiliki kelebihan yaitu dapat memberikan pesan yang

(40)

31 Pemilihan target juga berpengeruh pada kuatnya kegiatan promosi. Target audiens yang berada di kalangan pelajar mudah untuk tertarik pada informasi dengan bentuk media yang baru. Misalnya dengan proses pembelajaran melalui menonton video, siswa akan mudah mengaplikasikannya dimanapun untuk mempelajarinya. Dengan cara yang inovatif, media yang menarik dan proses promosi yang baik , informasi yang akan disampaikan berupa sejarah akan gampang masuk difikiran mereka.

III.2.3. Srategi Media

Strategi media yang digunakan meliputi dua jenis media, diantaranya:

1. Media Utama

Pemilihan media utama yang menarik, akan menentukan sebesar apa sebuah media mempengaruhi target audiens untuk menggunakannya. Melihat target audiens yang masih berstatus pelajar, maka dipilihlah media audiovisual yang disebut Explainer Video yang berjenis Whiteboard Explainer Videos.

Dalam kasus ini, konten materinya sendiri berisi sejarah perancangan lambang negara Indonesia. Pendeskripsian dengan memakai kronologi atau runtutan peristiwa akan lebih mudah dipahami karena memecah sebuah kondisi berdasarkan waktu dan keadaan yang terjadi pada suatu waktu.

Explainer Video ini mempunyai sebuah wadah yang bernama “KENALI INDONESIAMU”. Sebuah wadah yang nantinya akan membahas semua hal tentang Indonesia. Mulai dari sejarah, gaya hidup, kebudayaan dan lain-lain. Namun untuk saat ini fokus materinya akan membahas tentang sejarah Lambang Negara Indonesia.

(41)

32 2. Media Pendukung

Selain media utama, juga disediakan media pendukung untuk menunjang keberadaan media utama sebagai bagian dari proses promosi. Media pendukung berikut ini diambil berdasarkan contact point dari target audien. Diantaranya adalah:

1. CD Packaging

Media informasi ini akan dikemas dengan kemasan yang menarik, sehingga dalam penggunaannya pun dapat menarik perhatian target audiens. Didalamya juga terdapat sekilas tentang materi yang dibawakan.

2. Mini Banner

Media promosi ini akan diaplikasikan di dekat meja display di sekolah-sekolah SMP atau SMA tempat media informasi ini dipromosikan. Target audiens adalah anak-anak yang berada dalam lingkungan tersebut.

3. Infografis Tokoh Sejarah

Dalam kegiatan belajar dibutuhkan juga media penunjang diluar

media utama sebagai media pembelajaran tambahan. Media ini akan dipajang di kelas-kelas, berguna untuk memberi pengetahuan tentang seorang tokoh yang tentunya yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. Dalam hal ini infografis dibuat dengan membahas tentang anggota panitia pembentukan lambang negara dan ide-ide yang mereka sarankan.

4. Sketchbook

Sketchbook dipilih karena target audiens adalah anak sekolah. Fungsinya tidak sebatas sebagai buku catatan namun juga media untuk menuangkan semua ide yang tidak terpatok dengan garis yang ada seperti notebook.

5. T-shirt

(42)

33 melihat ini timbul juga minat untuk mencari tau lebih jauh tentang promosi tesebut.

6. Mug

Digunakan untuku merchandise bagi target audiens saat diadakannya kegiatan promosi di sekolah-sekolah.

7. Pembatas buku

Media ini akan dibagikan gratis. Selain berguna sebagai pembatas buku media pendukung ini juga berfungsi lain sebagai pengingat materi yang disampaikan.

8. Pin

Media ini akan dibagikan gratis. Selain berguna sebagai pembatas buku media pendukung ini juga berfungsi lain sebagai pengingat materi yang disampaikan.

9. Sticker

Media ini akan diaplikasikan nantinya oleh target audien di cermin,

pintu kamar, kulkas, meja belajar dan rak buku.

III.2.4.Strategi Distribusi

Media Informasi ini dapat dibagi yaitu offline dan online. Untuk pendistribusian offline, sistem distribusi akan bekerja sama dengan Kemendikbud. Media Pembelajaran ini akan didistribusikan sebagai media pembantu untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sedangkan untuk pendistribusian online, media informasi ini akan di-upload melalui situs

Youtube. Pelajar ataupun masyarakat diluar lingkungan pelajar bisa mengaksesnya dengan mudah.

Media informasi Explainer Video ini bertujuan untuk memperkenalkan sejarah proses perancangan Lambang Negara Indonesia. Oleh karena itu media informasi ini akan didistribusikan di:

• SMP-SMA Kabupaten dan Kota di Bandung.

• Tempat-tempat pariwisata sejarah seperti Museum Konfrensi

(43)

34 III.3.Konsep Visual

III.3.1.Format Desain

Media utama yang berbentuk video yang berdursi selama 7 menit.

Media ini berjudul Explainer Video “ Mengenal Proses Perancangan

Lambang Negara Indonesia”. Mempunyai ukuran video widescreen

1280p x 720p dan ber-framerate 25f/s. Video ini berformatMPEG-4.

Judul yang dipilih adalah “Kenali Indonesiamu”. Karena “Kenali Indonesiamu”, adalah topik yang mencangkup materi yang ada. Judul ini dipakai menjadi identitas yang harus ada semua media. Judul ini dibuat menyerupai gari-garis sketsa tangan karena menyesuaikan dengan tema yang ada. Terdapat pita yang melambangkan agar wadah ini menjadi pemersatu dan penyelaras pemahaman kita akan sejarah negara kita yang harus kita lestarikan.

Gambar III.2. Judul Sumber: pribadi

III.3.2.Tata Letak

(44)

35 Setiap bagian struktur cerita dalam scene, memiliki tata letak yang berbeda-beda namun disesuaikan dengan struktur gaya visual yang ditetapkan. Tata letak yang digunakan untuk Explainer Video ini umumnya bersifat simetris dan terpusat ditengah bidang video. transisi yang digunakan juga transisi simetris atrinya objek yang keluar atau yang masuk bidang gambar bergerak kearah yang pasti misal kekanan, kiri, atas atau bawah. Semua bertujuan agar target audiens tetap fokus untuk melihat.

III.3.3.Tipografi

Jenis huruf sangat berpengaruh dalam penyampaian pesan, terlebih lagi mendukung tema yang dipakai. Dalam media utama jenis huruf yang dipakai terbagi dua yaitu headline dan bodytext. Untuk headline diperlukan jenis huruf yang jelas .

Villa

Gambar III.3. Jenis Huruf Headline Sumber: pribadi

(45)

36

Passing Notes

ABCDEFGHIJKLMBOPQRSTUVWXYZ

abcdefghijklmnopqrstuvwxyz

1234567890

Gambar III.4. Jenis Huruf Bodytext

Sumber: pribadi

Untuk bodytext menggunakan juga huruf berjenis handwritten atau tulisan tangan. Huruf ini dipilih karena terlihat nyaman untuk dibaca dan juga tidak terlalu tegas sehingga membuat target audiens usia pelajar nyaman saat membaca.

III.3.4.Ilustrasi

Menurut Baldinger (1986:120), ilustrasi adalah seni membuat gambar yang berfungsi untuk memperjelas dan menerangkan naskah. Sedangkan menurut Jan D. White (1982:110) ilustrasi adalah sebuah tanda yang tampak di atas kertas, yang mampu mengkomunikasikan permasalahan tanpa menggunakan kata. Ia dapat menggambarkan suasana, seseorang, dan bahkan objek tertentu agar dapat menarik penggambaran suasana yang dapat membawa pembacanya ke dalam cerita.

Ilustrasi merupakan bentuk visual dari teks atau ungkapan. Dengan menggambarkan suatu adegan dalam sebuah cerita, dapat menerangkan secara umum karakter atau keseluruhan isi cerita. Selain itu, ilustrasi berfungsi untuk menarik pembaca agar tertarik untuk membaca cerita. Sebuah ilustrasi yang dipaparkan dalam sebuah majalah berfungsi sebagai

pendukung estetik dari sebuah cerita. Selain fungsi tersebut, ilustrasi juga dapat mewakili perwatakan cerita yang ditampilkan, ada korelasi antara

(46)

37 Dalam media pembelajaran ini menggunakan ilustrasi yang sederhana, pada penggambaran sebuah objek dilalukan penyederhanaan. Sehingga objek hanya berupa garis outline, dan meminimalisir blok bidang menggunakan warna.

Gambar III.5. Ilustrasi Sumber: pribadi

Dalam video ini juga dilakukan studi untuk memunculkan sebuah figur narrator, yang diberi nama Garu. Narator tesebut diciptakan untuk membantu melengkapi proses penyampaikan pesan yang sudah tersirat melalui visual didalam video.

Gambar III.6. Garu Sumber: pribadi

Nama : Garu Danendra Aryasuta TTL : 1juni 1998

(47)

38

- Tertarik dengan semua hal yang berkaitan dengan Indonesia

Fisik : - Wajah persegi - Alis tebal

Kostum : - Kaos putih lengan pendek

- Kemeja di gulung setengah lengan - Celana jeans panjang

- Sepatu kets bertali

III.3.5.Warna

Warna merupakan elemen penting dalam semua lingkup disiplin seni rupa, bahkan secara umum warna merupakan bagian penting dari segala aspek

kehidupan manusia. Hal tersebut dapat kita lihat dari semua benda yang dipakai oleh manusia, semua peralatan, pakaian, bahkan alam disekeliling kita merupakan benda yang berwarna.

Dan pada tahun 1858, Albert Munsell menyelidiki warna dengan standar warna untuk aspek fisik dan psikis. Dari situ ia menemukan bahwa wana mempunyai beberapa peran, yaitu:

a. Warna sebagi elemen estetika: b. Warna sebagai representasi dari alam

c. Warna sebagai alat/sarana/media komunikasi

(48)

39 # ED4023 R=238 G=63 B=35

C=0% M=90% Y=100% K=0%

Penggunaan warna merah ditujukan agar audiens tertarik dengan hanya sekali lihat. Dengan itu audiens akan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang media informasi ini. Untuk background pada Explainer Video

digunakan warna monokrom yang bertekstur seperti area tulis disebuah papantulis. Selain itu juga pemilihan warna berkaitan dengan materi yang mengandung unsur ke-Indonesiaan. Maka dari itu dipilihlah dua warna, merah dan putih sebagai representasi dari warna bendera Indonesia.

III.3.6. Animasi

Ada 3 bentuk animasi yang ada didalam Explainer Video ini diantaranya yaitu;

a Drawing

Animasi yang berupa pergerakan tangan yang selaras dengan tulisan

tangan seiring munculnya objek- objek. Sehingga munculnya objek- objek terkesan seperti sketsa tangan.

Gambar III.7. Drawing Sumber: pribadi

b Animated

Animasi yang dibuat dengan memainkan ukuran dan opacity.

(49)

40 Gambar III.8. Animasi

Sumber: pribadi

c Dragging

Animasi yang berupa pergeseran seolah-olah sebuah objek digeser dari luar bidang gambar ke tengah bidang gambar.

(50)

41 BAB IV

TEKNIS PRODUKSI MEDIA

IV.1. Teknik Media

Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam proses produksi media, yaitu: 1. Tahap Pencarian Data

Di tahap awal ini, pencarian data mutlak harus dilakukan. Dalam hal ini data yang diperoleh berupa script yang di adaptasi video yang berasal dari video yang berjudul “National Symbol of Indonesia Garuda Pancasila”. Dari data yang diperoleh mengalami perbaikan mulai dari segi pembenaran runut kejadian menurut waktunya dan ejaan yang harus disesuaikan dengan target audiens.

2. Tahap Pembuatan Script

Selanjutnya, data yang sudah ada mengelompokkannya berdasarkan waktu dan

runut kejadiannya. Dalam pembuatan script dibuat dengan tabel yang berisi tentang, catatan scene, waktu, visual yang muncul dan audio yang sedang diputar. Dengan itu, akan memudahkan untuk menjalani tahap selanjutnya.

(51)

42 3. Tahap Rekaman

Setelah pembuatan script selesai, proses selanjutnya adalah rekaman. Hasil rekaman berupa audio yang berformat .wav nantinya akan disingkronisasi dengan ilustrasi dalam proses perancangan video.

4. Tahap Sketsa Storyboard

Sketsa yang dibuat merupakan penggambaran dari script yang sudah ada. Tahapan sketsa dibuat secara manual dengan pensil untuk membantu tahapan-tahapan selanjutnya. Sketsa yang dibuat merupakan gambaran per-scene yang sudah dibuat ditahap sebelumnya.

Gambar IV.1. Storyboard Sumber: Pribadi

5. Tahap Pembuatan Visual

(52)

43 Gambar IV.2. Tracing

Sumber: Pribadi

6. Tahap Perancangan Video Explainer

Tahapan perancangan merupakan tahapan paling utama. Di tahap ini ilustrasi yang sebelumnya sudah dibuat, disusun sesuai storyboard yang ada dengan ditambahkan animasi dan transisi per-scene-nya. Tahapan ini menggunakan

software After Effect CS6. Lalu proses selanjutnya dengan mensingkronisasi audio yang sudah di rekam. Proses pengisian audio ini menggunakan software Adobe Premiere Pro CS6.

(53)

44 7. Tahap Akhir

Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam pembuatan media promosi ini dengan melakukan koreksi dan penyesuaian pada tahapan yang telah dilakukan sebelumnya.

IV.1.1.Media Utama

Media utama berupa media audiovisual yang berjenis Explainer Video. Media tersebuat dipilih karena Explainer Video dapat digunakan lebih praktis dan menjelaskan secara terstruktur, sehingga anak-anak dapat lebih mengerti dan lebih paham. Visual dari konten video juga dapat dibuat menarik dengan animasi dan transisi yang seolah-olah dijelaskan oleh guru, sehingga anak-anak tidak merasa bosan saat membaca. Diharapkan minat pengetahuan anak-anak tentang wawasan tentang sejarah Indonesia dapat bertambah.

Gambar IV.4. Explainer Video Sumber: Pribadi

Format media:

- Nama media: Explainer Video “ Mengenal Proses Perancangan Lambang

Negara Indonesia”

- Ukuran: 1280x720px

- Format: video MPEG-4

(54)

45 IV.1.2.Media Pendukung

Media pendukung merupakan media tambahan yang digunakan untuk membantu promosi media utama agar informasi yang diberikan lebih jelas.

1. Kemasan CD

Untuk membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, guru membutuhkan. Untuk kemasan CD dibuat di software Adobe Illustrator CS6 kemudian membuat format dalam bentuk .jpeg untuk dicetak.

Gambar IV.5. CD dan Kemasan Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 14 cm x 12,75 cm - Format: portrait

- Material bahan: bahan artpaper tebal 210gr - Teknis produksi: cetak offset sparasi

2. Mini Banner

(55)

46 banner ini dengan membuat sketsa awal kemudian mengatur tata letak dari ilustrasi yang ada dan huruf. Selanjutnya adalah mengubah format

ke dalam format .jpeg untuk dicetak. Gambar buku dibuat dengan

menggunakan software Adobe Illustrator CS6.

Gambar IV.6. Mini Banner Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 40 cm x 25 cm - Format: portrait

- Material bahan: bahan artpaper tebal 250gr laminasi glossy - Teknis produksi: cetak digital printing

3. Infografis Tokoh Sejarah

(56)

47 Gambar IV.7. Infografis

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 38,5 cm x 32 cm

- Format: portrait

- Material bahan: bahan artpaper tebal 210gr

- Teknis produksi: cetak offset sparasi

IV.1.3.Media Merchandise

Media merchandise berfungsi untuk memberikan kenangan ketika promosi berlangsung agar selalu diingat oleh target sasaran.

1. T-Shirt

T-Shirt digunaan untuk merchandise ketika kegiatan promosi diadakan di sekolah- sekolah. Fungsinya untuk dijadikan kenang-kenangan untuk target audiens dan media promosi juga bagi target

(57)

48 Gambar IV.8. T- Shirt

Sumber: Pribadi

Format media: - Format: Potrait

- Material bahan: Cotton Combat 21 - Teknis produksi: sablon printing

2. Sketchbook

Sketchbook dipilih karena target audiens adalah anak sekolah. Fungsinya tidak sebatas sebagai buku catatan namun juga media

untuk menuangkan semua ide yang tidak tepatok dengan garis yang ada seperti notebook. Untuk cover sketchbook dibuat di

(58)

49 Gambar IV.9. Sketchbook

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 21 cm x 14,8 cm - Format: Potrait

- Material bahan: artpaper tebal 260gr laminasi dof - Teknis produksi: cetak offset sparasi

3. Mug

(59)

50 Gambar IV.10. Mug

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran dimensi: 10cm x 10cm x 10cm - Material bahan: mug keramik

- Teknis produksi: printing

4. Gantungan Kunci Pin

(60)

51 Gambar IV.11. Gantungan Kunci

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: diameter 4,5 cm

- Material bahan: artpaper tipis 150gr laminasi dof - Teknis produksi: cetak printing

IV.1.4.Media Gimmick

Media Gimmick diberikan secara gratis kepada target audiens ketika mendatangi boot atau di bagikan saat promosi dan berfungsi untuk menarik minat.

1. Pembatas Buku dan penggaris

Pembatas buku diberikan sebagai bagian dari kegiatan promosi.tidak hanya berguna sebagai pembatas buku, di bagian lain pembatas buku juga bisa dijadikan penggaris .

Tahap awal pembuatan pembatas buku ini adalah dengan membuat desain serta mengatur tata letak, kemudian membuat format .jpeg

(61)

52 Gambar IV.12. Pembatas Buku dan Penggaris

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 15 cm x 5 cm - Format: portrait

- Material bahan: artpaper tebal 260gr - Teknis produksi: cetak offset sparasi

2. Sticker

Stiker merupakan media promosi yang sangat efektif karena media

promosi ini dapat ditempel dimana saja di tempat-tempat yang

strategis. Sticker ini mempunyai dua bentuk yaitu logo Kenali

Indonesia mu dan figure Garu.

Tahap awal pembuatan stiker adalah dengan membuat desain gambar

terlebih dahulu dengan menggunakan teknik ilustrasi. Selanjutnya

adalah mengatur tata letak gambar dengan huruf. Selanjutnya adalah

membuat format .jpeg kemudian dicetak dengan mengunakan kertas

(62)

53 Gambar IV.13. Sticker

Sumber: Pribadi

Format media:

- Ukuran: 7 cm x 5,2 cm dan 10cm x 4,5cm

- Format: landscape

- Material bahan: vinyl

Gambar

Gambar II.1. Garuda sebagai Wahana Wisnu
Gambar II.2. Lambang  Negara-Negara di Dunia
Gambar II.4.  Sultan Hamid II
Gambar II.5. Rancangan M Yamin
+7

Referensi

Dokumen terkait