Hubungan Anggaran Penjualan Dengan Pendapatan Opersi Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung

74  95  Download (0)

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan perekonomian di suatu negara ditandai dengan pesatnya perkembangan dunia usaha di negara tersebut, serta munculnya perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam berbagai sektor. Agar perusahaan-perusahaan tersebut berjalan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan, diperlukan sistem manajemen yang baik yang dapat mewujudkan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Sistem manajemen yang diciptakan tidak terlepas dari unsur manusianya yaitu pengelola perusahaan, pengelola perusahan harus melakukan berbagai kegiatan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Oleh karena itu,manajemen perusahaan perlu menetapkan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin dihadapi perusahaan dalam mencapai tujuan dan keberhasilan perusahaan dimasa yang akan datang. Untuk itu, manajemen perlu menyusun berbagai program kerja yang terperinci sebagai suatu perencanaan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan perusahaan untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan perencanaan tersebut memungkinkan perusahaan mampu memprediksi tingkat keuntungan yang diinginkan dalam suatu periode tertentu.

(2)

dapat dicapai oleh sebuah perusahaan apabila penjualan sesuai dengan yang direncanakan dan biaya dapat ditekan seminimal mungkin tetapi hanya harus mengabaikan kualitas produk, untuk itu perusahaan harus mengelola usahanya dengan baik, karena pada masa sekarang ini persaingan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya semakin ketat. Agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain, langkah awal yang harus diambil oleh perusahaan adalah melakukan penyusunan anggaran perusahaan. Anggaran merupakan rencana tertulis dari pihak manajemen tentang kegiatan- kegiatan yang akan dilaksanakan pada suatu waktu tertentu.

Dalam menyusun anggaran harus dilakukan dengan cermat dan teliti karena selain berfungsi sebagai alat perencanaan anggaran juga dapat digunakan sebagai alat pengendalian pelaksanaan kegiatan perusahaan, jika perusahaan sedang melakukan suatu kegiatan, maka manajemen perusahaan akan dapat membandingkan pelaksanaan kegiatan tesebut dengan yang telah dianggarkan sebelumnya. Dalam hal ini anggaran hanya dapat dipergunakan sebagai alat pengendalian kegiatan yang sedang dilaksanakan perusahaan.

(3)

(kualitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.

Perusahaan Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah merupakan perusahaan yang didirikan oleh pemerintahan daerah dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat dan sebagai sumber pendapatan Pemerintah Daerah. Pembentukan Perusahaan Daerah biasanya didasarkan atas kebutuhan akan pengelolaan sarana milik publik yang salah satunya adalah air. Air merupakan keutuhan pokok bagi masyarat. Untuk itu, dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air, pemerintahan daerah membentuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). PDAM memiliki peran diantaranya, dalam bidang pengelolaan air bersih, penyalur air kotor daerah, dan meningkat kesejahteraan untuk rumah tangga maupun industri. Sehingga menghasilkan keuntungan yang maksimum, yang pada umumnya memberikan kontribusinya terhadap perkembangan pembangunan nasional dan pemerataan pembangunan nasional, khususnya keberhasilan dan kesejahteraan perusahaan itu sendiri sehingga kontinuitas perusahaan dapat terjaga. Anggaran ditetapkan dan diterapkan oleh pimpinan perusahaan dapat dikatakan berhasil atau efektif bila anggaran tersebut dapat melindungi harta perusahaan.

(4)

Tabel 1.1

Anggaran Penjualan dan Pendapatan Operasi Perusahaan Daerah air minum(PDAM) Kota Bandung Tahun 2002 – 2008

TAHUN Anggaran Penjualan Pendapatan Operasi

(Rp) (Rp)

2002 86.682.744.000 90.304.321.293

2003 91.248.139.000 87.042.137.597

2004 87.301.427.000 87.214.625.129

2005 88.466.508.000 88.563.997.802

2006 99.337.164.000 87.387.826.062

2007 132.177.927.000 126.314.414.672

2008 148.869.974.000 140.026.582.737

Sumber : Laporan Rugi Laba Perusahaan Daerah air minum(PDAM) Kota Bandung Untuk lebih jelas mengenai perkembangan anggaran penjualan, dapat dilihat dari grafik dibawah ini :

Grafik 1.1

Anggaran Penjualan dan Pendapatan Operasi Perusahaan Daerah air minum(PDAM) Kota Bandung

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Anggaran Penjualan Dan

Pendapatan Operasi

(5)

Dari laporan anggaran penjualan dan pendapatan operasi diatas dapat diketahui fenomena yang ada pada Perusahaan Daerah air minum(PDAM) Kota Bandung. Pada anggaran penjualan cenderung naik setiap tahunnya tetapi di lain pihak tingkat pendapatan operasi mulai tahun 2003 dan 2004 mengalami penurunan. Hal ini terjadi akibat dari kegiatan pergantian meter baik yang telah rusak maupun yang telah lewat masa teknis dan faktor pencatatan meter yang masih belum optimal sehingga kubikasi terjual yang diproyeksi sebesar 3,3 juta m3/ bulan baru mencapai rata-rata 2,8 m3/bulan sehingga prediksi kubikasi mengalami penurunan yang cukup besar. Faktor penyebab lain adalah banyak pelanggan yang menunggak pembayaran yang mengakibatkan penurunan pendapatan. Dengan tingkat pendapatan operasi yang seperti itu, maka perusahaan akan mengalami dua kemungkinan antara kerugian dan keuntungan. Untuk itu, perusahaan harus meningkatkan kinerja perusahaannya agar hal seperti itu tidak terjadi kembali dimasa yang akan datang dan tidak menutup kemungkinan perusahaan akan mengalami kerugian yang dapat berdampak negatif bagi kelangsungan hidup perusahaan.

(6)

persaingan perusahaan yang kiat berat, terutama perusahaan yang mengambil keuntungan dari tingkat pendapatan penjualan hasil produksinya dituntut untuk lebih mengorganisir seluruh kegiatannya kedalam anggaran penjualan yang lebih sistematis dan terperinci, agar kegiatan perusahaan lebih terstruktur lagi, sehingga permasalahan yang dihadapi akan lebih kecil efeknya bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) dengan mengambil judul :

”Hubungan Anggaran Penjualan Dengan Pendapatan Operasi Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung”.

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah 1.2.1 Identifikasi Masalah

(7)

1.2.2 Rumusan Masalah

Dari uraian diatas maka penulis merumuskkan masalah yang akan dibahas yaitu :

1. Bagaimana perkembangan anggaran penjualan pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM).

2. Bagaimana perkembangan pendapatan operasi pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM).

3. Bagaimana keeratan hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM). 1.3 Maksud dan tujuan penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh, mengumpulkan, dan mengolah data serta menganalisis data informasi yang berkenaan dengan anggaran penjualan dan pendapatan operasi.

1.3.2 Tujuan Peneltian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui perkembangan anggaran penjualan pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) .

2. Untuk mengetahui perkembangan pendapatan operasi pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) .

(8)

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak, antara lain :

1.4.1 Kegunaan Akademis

1. Bagi Pengembangan ekonomi, mampu memberikan referensi tentang hubungan anggaran penjualan dengan pendapatan operasi.

2. Bagi Peneliti lain,mampu memberikan masukan dan informasi yang berguna untuk penelitian selanjutnya.

3. Bagi penulis

 Menambah wawasan serta ilmu pengetahuan mengenai pengaruh hubungan anggaran penjualan dengan pendapatan operasi.

 Sebagai uji kemampuan dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh diperkuliahan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

 Mampu menjadi bahan masukan yang memberikan informasi tentang hubungan anggaran penjualan dengan pendapatan operasi.

(9)

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penulis melakukan penelitian dan pengambilan data di Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kota Bandung.

Table 1.2 Jadwal Waktu Penelitian

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV 1. Penelitian Pendahuluan

2. Penulisan Usulan Penelitian 3. Pengumpulan Data

4. Pengolahan Data 5. Penulisan Penelitian

Bulan

(10)

10

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Anggaran Penjualan

2.1.1.1 Pengertian Anggaran Penjualan

Menurut M. Munandar (2001 : 49), Anggaran Penjualan adalah sebagai berikut :

Anggaran penjualan adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahaan selama periode yang akan datang yang didalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.

Sedangkan menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008 : 15), adalah sebagai berikut :

Anggaran penjualan ialah rencana pendapatan (revenue) perusahaan dalam kurun waktu satu tahun atau lebih.

Berdasarkan dari kedua definisi diatas, penulis memberikan kesimpulan bahwa anggaran penjualan merupakan sebuah rencana tentang penjualan dan pendapatan yang diharapkan perusahaan pada periode tertentu.

2.1.1.2 Kegunaan Anggaran Penjualan

(11)

1. Sebagai pedoman kerja

Budget berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arah serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan diwaktu yang akan datang.

2. Sebagai alat pengkoordinasian kerja

Budget berfungsi pula sebagai alat untuk pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat didalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik, untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

3. Sebagai alat pengawasan kerja

(12)

2.1.1.3 Pelaksanaan Anggaran penjualan

Dalam pelaksanaan anggaran penjualan tanggung jawab dari manajer bagian penjualan tidak hanya tertuju pada pencapaian sesuai dengan rencana yang telah tercantum dalam anggaran karena hal tersebut hanya mengandung konsep efektivitas dari penjualan.

Adapun konsep efisiensi sebenarnya sama pentingnya, sehingga selain memikirkan bagaimana mencapai apa yang telah dianggarkan, seorang manajer penjualan juga harus memikirkan bagaimana cara menggunakan sumber daya yang tersedia di perusahaan seefisien mungkin dalam rangka pencapaian apa yang telah dianggarkan tadi.

Selain sehubungan dengan fungsi pengendalian maka manajer tingkat atas yang berkepentingan dalam bidang penjualan harus selalu memonitor pelaksanaan anggaran penjualan oleh manajer tingkat bawah. Untuk mengetahui sejauhmana anggaran penjualan tersebut telah dilaksanakan lalu manajer tingkat atas itu mengevaluasi kegiatan penjualan yang telah terjadi yang biasanya dilakukan secara periode apakah perhari, perminggu atau perbulan.

2.1.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Anggaran Penjualan

(13)

Menurut Ellen Christina, M. Fuad, Sugiarto dan Edi Sukarno (2001 : 34), faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Faktor Intern.

a. Penjualan tahun-tahun yang lalu meliputi kualitas, kuantitas, harga, waktu maupun tempat (daerah) penjualannya.

b. Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah penjualan, seperti tentang pemilihan saluran distribusi, pemilihan media-media promosi, cara penetapan harga jual dan sebagainya. c. Kepastian produksi yang dimiliki perusahaan serta kemungkinan

perluasannya dimasa yang akan datang.

d. Tenaga kerja yang tersedia, baik jumlah, keterampilan maupun keahliannya, serta kemungkinan pengembangannya dimasa yang akan datang.

e. Modal kerja yang dimiliki perusahaan serta kemungkinan penambahannya dimasa yang akan datang.

f. Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan serta kemungkinan perluasannya dimasa yang akan datang.

2. Faktor Ekstern.

a. Keadaan persaingan di pasar.

(14)

e. Elastisitas permintaan terhadap harga barang yang dihasilkan perusahaan, terutama akan mempengaruhi perencanaan harga jual dalam anggaran penjualan yang akan disusun.

f. Agama, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

g. Berbagai kebijaksanaan pemerintah, baik politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan.

h. Keadaan perekonomian nasional maupun internasional.

i. Kemajuan teknologi, barang-barang subtitusi, selera konsumen dan kemungkinan perubahannya.

2.1.1.5 Prosedur Penyusunan Anggaran Penjualan

Menurut Gunawan Adi Saputro dan Marwan Asri (2000 : 127), mengemukakan bahwa langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menyusun anggaran penjualan yaitu sebagai berikut :

1. Penentuan dasar-dasar anggaran.

a. Penentuan relevan variabel yang mempengaruhi penjualan. b. Penentuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan. c. Penentuan strategi pemasaran yang dipakai.

2. Penyusunan rencana penjualan.

a. Melakukan analisa ekonomi, dengan mengadakan proyeksi terhadap aspek-aspek makro dan menilai akibatnya terhadap permintaan. b. Melakukan analisa industri, dilakukan untuk mengetahui

(15)

c. Melakukan analisa prestasi penjualan yang lalu, yang dilakukan untuk mengetahui posisi perusahaan pada masa lalu, dengan kata lain untuk mengetahui market share yang dimiliki perusahaan dimasa lampau.

d. Melakukan analisa penentuan prestasi penjualan yang akan datang, dilakukan untuk mengetahui kemampuan perusahaan mencapai target penjualan dimasa depan dan memperhatikan faktor-faktor produksi.

e. Menyusun forecast penjualan, yaitu meramalkan jumlah penjualan yang diharapkan dengan anggapan segala sesuatu berjalan seperti masa lalu.

f. Menentukan jumlah penjualan yang dianggarkan. g. Menghitung laba atau rugi yang mungkin diperoleh.

h. Mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah disetujui kepada pihak lain yang berkepentingan.

2.1.2 Pendapatan

Pendapatan merupakan unsur yang penting dalam perusahaan, karena pendapatan akan dapat menentukan maju mundurnya suatu perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh pendapatan yang memuaskan dan diharapkan dengan menggunakan segala sumber yang ada didalam perusahaan seefisien mungkin.

(16)

dengan semaksimal mungkin akan memperoleh pendapatan yang memuaskan seperti yang diharapkan.

2.1.2.1 Pengertian Pendapatan

Didalam suatu perusahaan, pendapatan merupakan jantung perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pendapatan juga dapat mencerminkan berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam melaksanakan operasinya, dimana besar kecilnya pendapatan itu sendiri sebagai tolak ukur.

Konsep pendapatan sulit dirumuskan karena pada umumnya pendapatan dikaitkan dengan prosedur akuntansi tertentu, jenis perubahan nilai tertentu dan diasumsikan untuk menetapkan kapan pendapatan harus dilaporkan. Pengukuran dan penetapan waktu pendapatan merupakan masalah yang menarik dalam akuntansi, tetapi harus didekati dengan perkiraan tertentu.

Ikatan Akuntansi Indonesia (2004 : 23), memberikan pengertian pendapatan sebagai berikut :

Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari konstribusi penanaman modal.

Sedangkan pengertian pendapatan menurut Haryono Jusuf (2001 : 24), menyatakan bahwa :

(17)

Menurut Kusnadi (2001 : 325), mengemukakan pendapatan sebagai berikut : Pendapatan(Revenue)adalah ekspresi moneter dari keseluruhan produk atau jasa-jasa yang ditransferkan oleh perusahaan kepada para konsumennya selama suatu periode.

Dengan demikian, dari pengertian-pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan kas masuk bruto dari manfaat ekonomi, sebagai aliran penerimaan kas dan kegiatan pokok perusahaan.

2.1.2.2 Pengertian pendapatan Operasi

Pendapatan Operasi, yaitu pendapatan yang diterima oleh perusahaan yang ada hubungannya langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan tersebut. Pendapatan operasi juga dapat mencerminkan berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam melaksanakan operasinya, dimana besar kecilnya pendapatan itu sendiri sebagai tolak ukur. Dalam banyak hal, pendapatan diperoleh pada saat perusahaan menyerahkan barang atau jasa yang telah selesai dikerjakan kepada konsumen.

Adapun pengertian pendapatan operasi menurut M.M. Hanafi dan Abdul Halim (2003 : 16), menyatakan bahwa:

(18)

2.1.2.3 Sumber-sumber Pendapatan

Pendapatan merupakan hasil penjualan barang atau jasa yang diukur berdasarkan jumlah yang dibebankan kepada langganan atau pembeli atas barang dan jasa yang diserahkan kepada mereka.

Pendapatan yang diperoleh perusahaan pada dasarnya dikelompokkan kedalam dua sumber, yaitu :

1. Pendapatan Operasi, yaitu pendapatan yang diterima oleh perusahaan yang ada hubungannya langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan tersebut. Pendapatan operasi terdiri dari beberapa jenis : a. Penjualan (sales), adalah hasil penjualan barang-barang yang

menjadi objek usaha pokok perusahaan.

b. Potongan pembelian tunai (purchases discount), adalah potongan yang diperoleh perusahaan dalam melakukan pembelian barang-barang yang merupakan objek usaha pokok perusahaan dengan pembayaran tunai.

c. Penerimaan tambahan dari pembelian (purchases allowen), adalah tambahan barang ekstra yang diterima dari pihak penjual karena perusahaan merupakan melakukan pembelian barang-barang dengan pembayaran tunai atau karena perusahaan membeli barang-barang dalam jumlah besar.

(19)

a. NormalRevenue Activities, terdiri dari : 1) Penghasilan barang.

2) Penghasilan sewa. 3) Penghasilan kas dividen.

b. Normal Revenue Activities, adalah pendapatan pertukaran atau penjualan yang bukan barang dagangan yang dikenal dengan istilah Gain,dimana gain ini merupakaninflowdari asset.

2.1.2.4 Pengukuran Pendapatan

Pengukuran pendapatan dapat dilakukan dengan menggunakan nilai tukar dari barang atau jasa tersebut yang telah disetujui oleh kedua belah pihak yang pada akhirnya menentukan berapa besar pendapatan itu sendiri.

Menurut Theodorus M. Tuanakota (2000 : 155) adalah sebagai berikut : Cara terbaik untuk mengukur pendapatan (Revenue) adalah dengan menggunakan nilai tukar (Exchange Value)dari barang atau jasa. Nilai tukar ini merupakan Cash Equivalent (Ekuivalen kas) atau Present Value (nilai sekarang) dari tagihan yang diharapkan akan diterima dari transaksi pendapatan (Revenue) ini, dalam hal ini kebanyakan hal ini adalah harga yang sudah disepakati dengan langganan.

Sedangkan menurut Kusnadi dkk (2001 : 327), apabila tenggang waktu tersebut pendek, maka discount dapat diabaikan berdasarkan tiga alasan sebagai berikut :

(20)

2. Apabila jumlah bunga tidak material, maka pengelompokannya langsung kedalam pendapatan tidak akan membawa pengaruh yang besar atas total pendapatan dalam periode yang bersangkutan.

3. Pengklasifikasian pendapatan yang timbul karena adanya masa menunggu (bunga) tidak akan berarti banyak dan oleh karena itu dapat dimasukkan kedalam pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk. Dari pengukuran pendapatan dengan cash equivalent atau present value dari uang yang diterima, jelas bahwa retur penjualan, potongan-potongan (trade discount) dan pengurangan-pengurangan lain dari harga jual yang ditetapkan harus dikurangi dari pendapatan yang dihasilkan sebagai akibat adanya transaksi-transaksi khusus, yang sering menimbulkan keraguan adalah perilaku atas adanya potongan tunai (cash discount) dan kerugian-kerugian yang timbul dari tidak tertagihnya suatu piutang.

2.1.3 Hubungan Anggaran Penjualan dengan pendapatan Operasi

Untuk memastikan bahwa perusahaan bekerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan maka perusahaan melakukan tindakan beberapa proses pengendalian manajemen menjelaskan bagaimana suatu pusdat pertanggungjawaban suatu departemen dalam suatu perusahaan bekerja dengan informasi yang tersedia didalamnya sesuai dengan arah tujuan yang telah ditetapkan tersebut, yang meliputi kegiatan pemograman, penganggaran, operasi dan pengukuran serta analisis.

(21)

kegiatan salah satunya dengan anggaran penjualan. Anggaran ini diperlukan untuk semua jenis usaha tanpa anggaran suatu perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menjalankan operasinya. Dalam perusahaan keberadaan anggran penjualan sangat diperlukan sebab perusahaan bertujuan mencari pendapatan dari operasinya yang optium. Apalagi jika peruahaan tersebut berada dalam persaingan yang ketat dengan perusahaan lain yang sejenis. Disamping itu berguna sebagai alat koordinasi kegiatan-kegiatan, sehingga tercipta sebuah kondisi yang saling menunjang antar bagian yang mempermudah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Adapun menurut Welsch, Hilton and Gordon (2000 : 147), mengemukakan bahwa :

Rencana penjualan yang menyeluruh memasukkan keputusan manajemen seperti tujuan, dimana tujuan utama rencana penjualan yaitu untuk mengurangi ketidakpastian tentang pendapatan dimasa yang akan datang.

(22)

Pendapatan merupakan penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, dividen, royalti dan sewa. Oleh karena itu,menurut Ellen Christina, M. Fuad, Sugiarto dan Edi Sukarno (2001 : 22)”, menyatakan bahwa :

Anggaran Penjualan umumnya menggambarkan penghasilan yang diterima karena ada penjualan.

Sedangkan menurut Narumondang Bulan Siregar (2003 : 9), menyatakan bahwa :

Anggaran penjualan merupakan anggaran yang sangat penting dalam penentuan proyeksi penjualan dan penghasilan yang realistis dan pendukung utama dalam menyusun rencana anggaran komprehensip perusahaan.

Oleh karena itu, dengan adanya anggaran penjualan maka suatu perusahaan dapat menggambarkan pendapatan operasi yang akan diterima perusahaan baik dimasa sekarang maupun masa yang akan datang. Semakin besar anggaran penjualan maka semakin besar pula pendapatan operasi yang diterima perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anggaran penjualan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pendapatan operasi perusahaan.

2.1.4 Penelitian Sebelumnya

(23)

dalam penelitian ini Independen sama yaitu hubungan anggaran penjualan dan perbedaannya Variable (y) adalah laba operasi yaitu selisih laba dengan total biaya operasi hasilnya Anggaran penjualan meningkat 30 % dan terhadap laba operasinal sebesar 35,775.

b) Penelitian yang dilakukan Noviyanti yang berjudul Pengaruh Anggaran Penjualan Terhadap pendapatan Operasi Pada PT. Kereta Api (PERSERO) Penelitian dilakukan pada tahun 2008 metode yang digunakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif. Persamaan dalam penelitian ini Indicator dan skala pengumpulan data pada anggaran penjualan dan pendapatan operasi dan perbedaannya Teknik pengumpulan data menggunakan quotasi, paraphrase, dan summary hasilnya Hasil penelitiannya anggaran penjualan, pendapatan operasi mengalami penurunan pada tahun 2004 sebesar 3.29%. Hal ini terjadi karena adanya faktor persaingan jasa transportasi lain.

(24)

Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh para peneliti – peneliti terdahulu menghasilkan kesimpulan, yaitu terdapat pada tabel 2.1

Tabel 2.1

Hasil Penelitian Sebelumnya

No Nama Tahun Judul Persamaan Perbedaan Hasil

1 Ahmad meningkat 30 % dan terhadap laba operasinal sebesar 35,775

(25)

2.2 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 2 .2.1 Kerangka Pemikiran

Perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatannya mengarah pada pencapaian tujuan yang hendak dicapai, oleh karenanya dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya harus selalu disesuaikan dengan rencana dan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam meningkatkan kemampuan untuk mengefektifkan pendapatan operasi perusahaan adalah dengan cara mengendalikan pendapatan operasi melalui penyusunan anggaran penjualan perusahaan.

Menurut M. Munandar (2001 : 49) pengertian Anggaran Penjualan adalah sebagai berikut :

Anggaran penjualan adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahaan selama periode yang akan datang yang didalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.

(26)

dengan peningkatan jumlah penjualan sedangkan biaya yang dikeluarkan harus dapat dikendalikan seminimal mungkin sampai batas tertentu.

Ikatan Akuntansi Indonesia (2004 : 23) memberikan pengertian pendapatan sebagai berikut :

Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari konstribusi penanaman modal.

Adapun pengertian pendapatan operasi menurut M.M.Hanafi dan Abdul Halim (2003:16) adalah sebagai berikut :

Pendapatan operasi yaitu pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan pokok perusahaan.

Dengan adanya pendapatan yang berasal dari kegiatan operasi yang disebut dengan pendapatan operasi, perusahaan berusaha untuk mencapai tujuan pokoknya yaitu meningkatkan nilai perusahaan atau meningkatkan nilai saham. Untuk meningkatkan nilai perusahaan, maka pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pokok perusahaan haruslah ditingkatkan seoptimal mungkin. Hal ini dilakukan untuk menciptakan laba, untuk mendukung hal tersebut maka kinerja dalam perusahaan harus ditingkatkan sebagai salah satu penunjang dalam peningkatan aset.

(27)

Oleh karena itu, terdapat teori menurut Ellen Christina, M. Fuad, Sugiarto dan Edi Sukarno (2001 : 22), menyatakan bahwa :

Anggaran penjualan umumnya menggambarkan penghasilan yang diterima karena ada penjualan.

Sedangkan menurut Narumondang Bulan Siregar (2003 : 9), menyatakan bahwa :

Anggaran penjualan merupakan anggaran yang sangat penting dalam penentuan proyeksi penjualan dan penghasilan yang realistis dan pendukung utama dalam menyusun rencana anggaran komprehensip perusahaan.

Adapun menurut Welsch, Hilton and Gordon (2000 : 147), mengemukakan bahwa :

Rencana penjualan yang menyeluruh memasukkan keputusan manajemen seperti tujuan, dimana tujuan utama rencana penjualan yaitu untuk mengurangi ketidakpastian tentang pendapatan dimasa yang akan datang.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka dapat dibuat suatu bagan kerangka pemikiran sebagai berikut :

Welsch,hilton And Gordon (2000 : 147)

Gambar 2.1

Paradigma Penelitian Anggaran Penjualan dan Pendapatan Operasi Anggaran Penjualan

Independen X

Anggaran Penjualan

M. Munandar (2001 : 49)

Pendapatan Operasi Dependent Y

Pendapatan Operasi

(28)

2.1.2 Hipotesis

(29)

29 3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian yang dijadikan sasaran dalam skripsi ini adalah anggaran penjualan dalam hubungannya dengan pendapatan operasi pada Perusahaan Daerah Air minum tahun 2002 sampai pada tahun 2008. Untuk itu, penulis akan meneliti anggaran penjualan yang digunakan oleh perusahaan beserta data pendapatan operasi yang sebenarnya terjadi. Juga data mengenai pendapatan yang diperoleh perusahaan selama periode akuntansi tahun anggaran yang dibuat dimana kedua objek ini terdapat dalam laporan keuangan perusahaan. 1. Variabel Independen (X)

Menurut Sugiyono (2008:4) :

“Variabel bebas (independen) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”. 2. Variabel dependen (Y)

Menurut Sugiyono (2008:4) :

(30)

3.2. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam peneliatian ini adalah metode penelitian deskriptif verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis.

Menurut Sugiyono (2008:2) :

Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagai mana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

Menurut Umi Narimawati (2008:21):

” verifikatif adalah pengujian hipotetis penelitian melalui alat analisis”. Menurut Sugiyono (2008:23) :

“Kuantitatif adalah data yang berbentuk angka”. Jadi pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang menggunakan data yang berbentuk angka.

Jadi Penelitian deskriptif verifikatif dengan pendekatan kuantitatif adalah menjelaskan,mendeskripsikan masing-masing variabel dengan menggunakan data berupa angka kemudian menjelaskan hubungan kedua variabel melalui uji hipotesis.

3.2.1 Desain Penelitian

(31)

Dalam pengertian yang lebih sempit penelitian ini penulis menetapkan desain penelitian dalam pengertian lebih luas, desain penelitiannya mencakup proses-proses sebagai berikut :

1. Merumuskan masalah penelitian, masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah anggaran penjualan (variabel X) sebagai variabel bebas dan pendapatan operasi (variabel Y) sebagai variabel terikat.

2. Memilih serta memberi pengukuran variabel. Pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran dengan skala rasio. 3. Menyusun alat serta teknik pengumpulan data dengan cara langsung

turun kelapangan dan dari kepustakaan.

4. Memilih prosedur dan teknik yang digunakan. Teknik yang digunakan untuk mengubah data-data yang kualitatif yang diperoleh menjadi suatu urutan kuantitatif yaitu dengan menggunakan korelasi regresi.

5. Pelaporan hasil penelitian termasuk proses penelitian dan interprestasi data.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Penulis melakukan penelitian tentang hubungan anggaran penjualan sebagai variabel independen dengan pendapatan operasi sebagai variabel dependen pada Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) Kota Bandung. Dalam penelitian ini operasional variable yang digunakan adalah:

(32)

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala Sumber

Anggaran Penjualan

(X)

Anggaran penjualan adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahaan selama periode yang akan datang yang didalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.

Pendapatan Operasi adalah pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan pokok perusahaan.

M.M Hanafi dan Abdul Halim (2003 : 16)

3.2.3. Metode Penarikan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2008:61) mengemukakan :

(33)

Berdasarkan pengertian di atas,maka yang di jadikan populasi dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung.

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2008: 62), sampel adalah :

“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.

Metode penarikan sampling sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalahnon probability samplingdengan teknikpurposive sampling.

Menurut Sugiyono ( 2008:66 ) :

Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel”

Menurut Sugiyono ( 2008:66 ) :

Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”.

Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah berupa data laporan keuangan yaitu anggaran dan laporan laba/rugi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung periode tahun 2002-2008.

3.2.4 Jenis dan Metode Pengumpulan Data

(34)

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua data yaitu data primer dan data sekunder agar memudahkan dalam penelitian.

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara denga responden antara lain pengurus, karyawan.

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari literatur-literatur dan laporan-laporan yang berhubungan dengan obyek penelitian.

3.2.4.2 Metode Pengumpulan Data

Jenis pengumpulan data adalah cara bagaimana agar data yang diperlukan dalam penelitian dapat diperoleh. Berkaitan dengan hal tersebut maka metode pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah:

1. Studi Kepustakaan(Library Research)

Pengumpulan data dilakukan dengan menelaah buku-buku ilmiah untuk memeperoleh gambaran serta informasi teoritis yang berkaitan dengan masalah penelitian, seperti petunjuk menganalisa laporan keuangan dalam akuntansi maupun penerapan perbankkan.

2. Studi Lapangan(Field Research)

Pengumpulan data dilakukan dengan penelitian langsung ke tempat yang diteliti dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Observasi

(35)

b. Wawancara

Memperoleh informasi melalui komunikasi langsung dengan pimpinan perusahaan atau anggota yang mampu memberikan data yang berkaitan dengan penelitian,baik berupa tanya jawab ataupun kuisioner.

c. Dokumentasi

Pengumpulan data dengan cara mempelajari naskah, brosur dan dokumen lainya yang terdapat di Perusahaan Air minun Daerah (PDAM) yang berhubungan dengan penelitian.

3.2.5. Metode Analisis dan Perancangan Data

3.2.5.1. Metode Analisis

Menganalisis data adalah upaya untuk menerangkan tentang pengolahan data secara bertahap, diharapkan memperoleh hasil yang diharapkan dari tujuan penialian tersebut. Analisis data pada penelitian ini bersifat kuantitatif.

Dalam metode analisis atau perhitungan,peneliti akan menggunakan metode sebagai berikut :

1. Analisis regresi linier sederhana

Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variable independent dengan satu variable dependent. Regresi linier sederhana digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan serta untuk melihat atau menguji ketergantungan variabel independent dan variabel dependent.

(36)

Regersi linier sederhana adalah untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung dan memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas.

Sumber : Jonathan Sarwono (2005: 68)

Keterangan :

Y = Variabel terikat (subyek dalam variabel dependen) X = Variabel bebas (subyek dalam variabel independen) a = Nilai konstan

b = Koefien arah regresi

Dimana nilai a dan b dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

a

=

(∑ ࢏)൫∑ ࢏൯ି(∑ ࢏)(∑ ࢏ ࢏)

࢔൫∑ ൯ି(∑ )

b =

࢔(∑ ࢏ ࢏)ି(∑ ࢏)(∑ ࢏)

࢔ ∑ ି(∑ )

Sumber : Sugiono (2003:206)

2. Analisis Koefisien korelasi

Analisis koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keeratan/kekuatan hubungan antara Anggaran Penjualan sebagai variabel X dan Pendapatan Operasi sebagai variabel Y. Persamaan korelasi pearson dinyatakan dalam rumus : Menurut Sugiyono (2008:274)

(37)

Keterangan:

r = Koefisien korelasi ( -1≤r≥+1),dimana : x = Variabel bebas

y = Variabel terikat n = Jumlah sampel

Adapun menurut Sugiyono (2008:231) untuk menginterpretasikan hasil penelitian korelasi adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2

Koefosien Korelasi

Koefisien korelasi Tingkat hubungan

0.00 – 0.199 Sangat rendah

0.20 – 0.399 Rendah

0.40 – 0.599 Sedang

0.60 – 0.799 Kuat

0.80 – 1.00 Sangat kuat

Sumber : Sugiono (2004:231)

Nilai koefisien korelasi menurut Husein (2002:178) berkisar antara -1 sampai +1 yang criteria pemanfaatannya dijelaskan sebagi berikut :

 Jika nilai r > 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier positif, yaitu makin besar variabel X maka semakin besar variabel Y.

(38)

 Jika nilai r < 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier negatif, yaitu semakin kecil nilai variabel X maka semakin besar variabel Y atau sebaliknya semakin besar variabel X maka semakin kecil variabel Y.

 Jika nilai r = 0, artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X dengan variabel Y.

 Jika nilai r = 1 atau r = -1, telah terjadi hubungan linier sempurna, yaitu berupa garis lurus, sedangkan bagi r yang mengarah kearah angka 0 maka garis semakin tidak lurus.

3.2.5.2 Uji Hipotesis

Hipotesis adalah kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang masih belum sempurna yang perlu dibuktikan kesempurnaannya melalui uji hipotesis.(Umi narimawati,2007:63)

Untuk mengetahui hubungan kedua variable tersebut,maka dilakukan pengujian hipotesis yang dikemukakan oleh sugiyono sebagai berikut :

Ho :

= 0 Berarti anggaran penjualan tidak ada hubungan dengan pedapatan operasi.

H1 :

≠ 0 Berarti anggaran penjualan ada hubungan dengan pendapatan

operasi.

Menurut Sugiyono (2008:230) untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus :

t

hitung

=

࢘√࢔ି

(39)

Keterangan : t = Probabilitas r = Koefisien korelasi n = Jumlah periode

Agar dapat menarik kesimpulan dari hipotesis maka hasil perhitungan statistik uji t (t hit) dibandingkan dengan (t tab) dengan tinkat signifika 0,05

(5%).

Kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis H0adalah sebagai berikut :

 Jika ttabel< thitung, maka H0ada pada daerah penolakan, berarti H1diterima

artinya terdapat hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi.

 Jika ttabel> thitung, maka H0ada pada daerah penerimaan, berarti H1ditolak

artinya tidak terdapat hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi.

a.

Gambar 3.1 Pengujian Hipotesis

Daerah Penolakan Ho Daerah Penolakan Ho

(40)

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Sejarah Perusahaan

Bandung, kota berhawa sejuk dengan suhu rata-rata 25oC merupakan kota metropolitan baru, Karena iklimnya yang sejuk dan topografinya yang unik maka Bandung dijadikan sebagai kota wisata oleh Pemerintah Kolonial Belanda, Kota yang semula dirancang hanya untuk 200,000 penduduk itu kini sudah dihuni oleh lebih dari 2 (dua) juta jiwa, bahkan pada siang hari mencapai 2,5 juta jiwa karena ada arus pendatang dari wilayah seputar Bandung, Secara Topografis Bandung merupakan sebuah cekungan yang terbentuk dari danau purba Bandung, Cekungan Bandung yang luasnya mencapai 2,283 KM 2 itu terdiri dari dua wilayah administratif yaitu Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, Berkembangnya jumlah penduduk dan tingginya arus urbanisasi ke kota ini menyebabkan tingginya rata-rata kepadatan penduduk yang mencapai 10,899 jiwa per Km 2 dan selaras dengan itu diikuti pula peningkatan permintaan perumahan dengan sarana penunjang diantaranya air bersih dan air kotor,

(41)

Tahun 1916 – 1928 : Stadsgemente Water Leiding Bandung Tahun 1928 – 1943 : Technische Ambtenaar

Tahun 1943 – 1945 : Sui Doko Tahun 1945 – 1954 : Perusahaan Air

Tahun 1953 – 1965 : Dinas Perusahaan Bagian B (DPB) Tahun 1965 – 1974 : Dinas Teknik Penyehatan (DTP)

Tahun 1974 – Sekarang :Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung

Tahun 1987 : Pengelolaan Air Kotor masuk ke dalam PDAM Pada tahun 1978 sampai dengan tahun 1985 untuk meningkatkan debit air, mulai dilaksanakan fisik Pengembangan Air Minum Tahap I atau BAWS I, dengan membuat Sumur Artesis sepanjang jalan kereta api, Tahun 1985 sampai dengan 1991 membangun Mini Plant Cibeureum dengan air bakunya dari Sungai Cibeureum, Mini Plant Pakar, air bakunya dari Sungai Cikapundung dan membangun Intake Siliwangi serta pembangunan saluran air kotor sepanjang 176,30 km,

Dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, maka masalah-masalah sanitasi lingkungan merupakan masalah-masalah yang cukup penting untuk diperhatikan, diantaranya masalah pembuangan air kotor,

(42)

Pada tahun 1979 - 1994 Pemerintah Kota Bandung melalui " Bandung Urban Development Project (BUDP)" tahap I dan II memperoleh bantuan dana dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dan penyertaan modal dari Pemerintah untuk membangun sarana air kotor dan Instalasi Pengolahan Pengolahan Air Kotor,

Sarana air kotor yang dibangun berupa jaringan perpipaan air kotor yang berada di daerah berpenduduk padat yaitu Bandung Barat, Bandung Timur dan Bandung Tengah-Selatan, sedangkan Instalasi Pengolahan Air Kotor dibangun di Desa Bojongsari Kecematan Bojongsoang Kabupaten Bandung

Status Perusahaan

 Sejarah pendirian PDAM Kota Bandung dimulai sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia, Pembentukan PDAM Kota Bandung sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kotamadya Bandung Nomor 7/PD/1974, Dikukuhkan dan disyahkan oleh Gubernur Jawa Barat tanggal 31 Oktober 1974 No, 340/AU/Perund/SK/1974,

 Peraturan Daerah No,22/PD/1981 tentang perubahan untuk pertama kali PERDA tentang pembentukan Perusahaan Daerah Air Minum Dati II Bandung,

 Diubah untuk terakhir kalinya dengan Perda Nomor 08 Tahun 1987, Pengelolaan Air Kotor masuk ke dalam PDAM Kota Bandung,

(43)

telah disahkan oleh Walikota Bandung melalui Peraturan Daerah Kota Bandung No, 15 Tahun 2009 tentang PErusahaan Daerah Air Minum

Maksud dan Tujuan PDAM Kota Bandung

Sesuai Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 15 Tahun 2009, PDAM Tirtawening Kota Bandung didirikan dengan maksud dan tujuan :

 Menyelenggarakan usaha pengelolaan air minum dan air limbah bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta usaha lainnya di bidang air minum dan air limbah,

 Memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah Daerah di bidang air minum dan air limbah dalam rangka menunjang pembangunan dengan menetapkan prinsip perusahaan,

Tugas dan Fungsi PDAM Kota Bandung

Tugas pokok Perusahaan Daerah Air Minum Tirtawening Kota Bandung sesuai Peraturan Walikota Bandung Nomor 236 Tahun 2009 adalah bergerak di bidang pengelolaan air minum dan pengelolaan sarana air kotor di daerah, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mencakup aspek ekonomi, sosial, kesehatan dan pelayanan umum,

Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud, PDAM menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut :

 Perumusan kebijakan dan strategi usaha pengelolaan air minum dan sarana air kotor ;

(44)

 Perencanaan pembangunan, pemeliharaan dan pengawasan sarana dan prasarana air minum dan air kotor ;

 Pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah untuk membiayai kelangsungan hidup Perusahaan Daerah dan Pembangunan Daerah ;

 Pengelolaan pegawai PDAM ;

 Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan dan usaha PDAM kepada Walikota melalui Badan Pengawas,

Visi, Misi, dan Moto

Visi :

Terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan air bersih dan air kotor yang berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan,

Misi :

 Memberikan pelayanan dan kemanfaatan umum kepada seluruh masyarakat melalui pelayanan air bersih dan air kotor yang berwawasan lingkungan,

 Mewujudkan pengelolaan keuangan perusahaan secara mandiri melalui pendapatan yang diperoleh dari masyarakat dan dikembalikan lagi kepada masyarakat guna meningkatkan pelayanan dan penyediaan air bersih maupun sarana air kotor,

 Meningkatkan pengolahan kualitas air bersih dan air kotor yang sesuai dengan standar kesehatan dan lingkungan,

(45)

Motto : "Selamatkan Air Milik Kita"

4.1.2. Struktur Organisasi Perusahaan

Sumber : Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung

Gambar 4.1

Struktur Organisasi PDAM Kota Bandung

4.1.3. Job Description

Jabatan-jabatan di dalam Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung berdasarkan susunan organisasi adalah sebagai berikut :

1. Badan Pengawas

(46)

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung dengan Pemerintah Daerah. Badan pengawas mempunyai tugas sebagai berikut:

1. Menetapkan rencana kerja dan pembagian tugas antara para anggota menurut bidang mereka masing-masing.

2. Menyelenggarakan rapat kerja sekurang-kurangnya 3 bulan sekali untuk membicarakan dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung dalam melaksanakan operasinya. 3. Merumuskan kebijaksanaan umum untuk Perusahaan Daerah Air Minum

(PDAM) Kota Bandung secara terarah dalam bidang penanaman modal. 4. Mengadakan penilaian atas prestasi kerja dari para anggota. Direksi

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan.

5. Mengesahkan sistem dan prosedur menjalankan perusahaan yang diajukan oleh Direksi.

6. Menyelenggarakan pembinaan dan pengarahan /petunjuk kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung secara efektif.

7. Mengesahkan/menolak rencana aggaran perusahaan untuk tahun berikutnya yang diajukan oleh Direksi.

8. Meneliti dan memberikan petunjuk lebih lanjut atas laporan perhitungan hasil usaha.

9. Mengesahkan/menolak laporan tahunan perusahaan.

(47)

2. Direktur Utama

Direktur utama bertanggung jawab atas kelancaran operasi perusahaan secara keseluruhan serta terlaksananya secara efisien dan mempunyai tugas : 1. Merencanakan kegiatan perusahaan untuk jangka panjang.

2. Merumuskan strategi perusahaan dan menjalankan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas dalam pelaksanaan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.

3. Memelihara suasana kerja yang baik dalam seluruh organisasi dan berusaha mencapai taraf efisiensi dan administrasi yang makin baik.

4. Memelihara laporan tahunan kepada Badan Pengawas.

5. Mengambil inisiatif dalam penempatan, pemindahan dan pemberhentian pegawai dan menentukan batas ganti rugi.

6. Memelihara hubungan baik dikalangan masyarakat,pemerintah daerah dan pusat,mewakili perusahaan pada peristiwa penting.

3. Direktur Umum

Tugas-tugasnya adalah :

Mengadakan kerja sama atau koordinator dengan direktur air bersih dan direktur air kotor dalam mengatur,mengawasi,menyediakan fasilitas dan material yang dibutuhkan untuk kelancaran dalam bidang operasional.

Direktur Umum,membawahi 6 enam bagian : 1) Bagian Keuangan

(48)

a. Sie. Kas b. Sie. Penagihan

c. Sie. Pemegang rekening

Bagian Keuangan ini mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Menyusun rencana kerja bagian keuangan berdasarkan petunjuk dan arahan dari Direktur Umum Dan evaluasi pelaksanaan rencana kerja tahun lalu sebagai pedoman kerja bawahan.

2. Mendistribusikan petunkuk kepada keuangan sesuai dengan permasalahan agar tercapai kejelasan tugas.

3. Memberikan petunjuk kepada bawahan sesuai dengan permasalahan agar tercapai kejelasan tugas.

4. Mengatur semua kegiatan agar pelaksanaan teknis maupun administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5. Membuat dan mengatur program pendapatan dan pengeluaran keuangan sepanjang tidak bertentangan dengan anggaran.

6. Meneliti dan mengevaluasi hasil pendapatan penerimaan dan pengeluaran biaya operasional untuk bahan laporan kepada atasan.

(49)

2) Bagian Pembukuan

Bagian pembukuan ini terdiri dari : a. Sie. Pembukuan Umum. b. Sie. Pembukuan Biaya. c. Sie. Anggaran.

Bagian Pembukuan mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Menyusun rencana kerja bagian pembukuan berdasrkan petunjuk dan arah dari Direktur Umum dalam upaya peningkatan pelayanan di bidang pembukuan,

2. Merencanakan,mengkoordinsikan dan mengawasi kegiatan dari sub bagian pembukuan,sub bagian rekening,dan laporan Berta sub bagian verifikasi. 3. Menyelenggarakan pembuatan dan penyelesaian tunggakan rekening air. 4. Menyelenggarakan pendataan pemutusan dan penyambungan kembali

sambungan langganan.

5. Menyusun laporan pembukuan perusahaan.

6. Mengadakan perkiraan dan analisa terhadap penerimaan dan pengeluaran kas,penilaian dan koreksi penyusunan anggaran dan biaya.

3) Bagian Hubungan Langganan

Bagian hubungan langganan ini terdiri dari : a. Sie. Langganan air bersih.

b. Sie. Pencatat meter. c. Sie. Pengaduan.

(50)

Bagian Hubungan langganan mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Menyusun rencana kerja bagian pembinaan langganan berdasarkan petunjuk dan arahan dari Direksi Umum dalam upaya peningkatan pelayanan serta pemasaran untuk pengembangan langganan dan sambungan langganan. 2. Mengkoordinasikan kegiatan bawahan melalui rapat atau arahan langsung

agar diperoleh kesesuaian pelaksanaan tugas.

3. Membina langganan dengan cara langsung maupun tidak langsung sebagai upaya peningkatan efisiensi penagih.

4. Memonitor,mengevaluasi keadaan dan penggunaan instalasi sambungan langganan untuk menentukan jenis langganan.

5. Melaporkan kepada atasan kegiatan bagian pembinaan langganan secara rutin untuk bahan pertimbangan atasan dalam mengambil langkah-langkah selanjutnya.

6. Menyelesaikan pelaksanaan tugas bawahan untuk mengetahui permasalahan atau kasus yang terjadi pada petugas atau pada langganan serta mengupayakan pemecahannya.

4) Bagian perbekalan dan Perawatan a. Sie. Pengadaan.

b. Sie. Gudang. c. Sie. Perawatan. d. Sie.Pool Perawatan.

(51)

b. Sie. Humas dan Protokol. c. Sie. Personalia.

d. Sie. Diklat dan pengembangan karier.

Bagian Tata Usaha dan personalia mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Menyusun rencana bagian tata usaha dan personalia yang mencakup kerumah tangga,kepegawaian,pembelian dan pergudangan berdasarkan petunjuk dan pengarahan dari Direktur Umum untuk pedoman kerja.

2. Mengatur kegiatan bawahan sesuai rapat atau arahan langsung agar diperoleh kesesuaian dalam pelaksanaan tugas,

3. Menerima,mengevaluasi laporan keberadaan,penggunaan,pemeliharaan dan pengadministrasian barang milik perusahaan dan mengupayakan pengadaan peralatan teknis maupun non teknis yang diperlukan perusahaan guna menunjang operasional.

4. Menyelesaikan tugas-tugas surat menyurat,kearsipan,pengadaan dan pergudangan.

5. Membuat laporan secara berkala kepada atasan sebagai bahan penentuan langkah selanjutnya.

6) Bagian Pengolahan Data

Data Bagian Pengolahan terdiri dari : a. Sie. Pemeriksaan Data.

b. Sie. Pengolahan Data.

(52)

Bagian pengolahan data mempunyai tugas yaitu merencanakan pengembangan produksi air,melaksanakan analisis kimia dan bakteriologi,sebagai mutu air dapat di pertanggung jawabkan hasilnya,Berta mengawasi agar volume air dan sumber-sumber yang tercatat pada penelitian peralatan mesin listrik melebihi kapasitas.

4.1.4. Aspek Perusahaan

Tugas pokok dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung adalah bergerak dalam bidang pengelolaan air bersih dan melayani sarana pembuangan air kotor (domestik) baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mencakup aspek sosial, kesehatan dan pelayanan umum,

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, PDAM Kota Bandung menyelenggarakan fungsi – fungsi sebagai berikut:

1. Melaksanakan pelayanan umum / jasa kepada masyarakat konsumen dan menyelenggarakan air bersih dan sarana air kotor,

2. Memupuk pendapatan untuk membiayai kelangsungan hidup Perusahaan Pembangunan Daerah,

Sistem distribusi air ke daerah yang dilakukan oleh PDAM menggunakan beberapa cara, diantaranya :

1. Sistem Jaringan Pipa

(53)

2. Sistem Pelayanan Air Tangki

Armada tangki siap beroperasi melayani kebutuhan masyarakat secara langsung selama 24 jam,

3. Sistem Kran Umum dan Terminal Air

Merupakan sarana pelayanan air bersih untuk daerah pemukiman tertentu dan dinilai cukup padat dan sebagian penduduknya belum mampu menjadi pelanggan air minum melalui saluran rumah, Jumlah kran umum dan terminal air di wilayah kota Bandung sebanyak 2,100 buah,

Sarana yang disediakan oleh PDAM Kota Bandung dalam usahanya melayani pembuangan air kotor adalah :

1. Saluran utama pembuangan air kotor yang dibangun pada jaman Belanda sepanjang 1 km,

2. Saluran tercampur yang berfungsi menyalurkan air kotor dan menampung air hujan (Brand Gaang),

3. Sarana pembuangan air basil BDUP I yang meliputi sarana 176,30 km, manhole 5734 buah dan bak kontrol 13,371,

4. Sarana pembuangan air basil BDUP II yang meliputi saluran 128,6 km, menhole 4,100 buah dan bak kontrol 14,000 buah,

5. Storm Over Flowsebanyak 32 buah,

6. Daerah pelayanan saluran air kotor di wilayah kota Bandung termasuk daerah pengembangan di 73 Kelurahan,

(54)

4.2. Pembahasan Penelitian

4.2.1. Perkembangan Anggaran Penjualan pada PDAM Kota Bandung

periode 2002 – 2008

Anggaran Penjualan merupakan sebuah rencana tentang penjualan dan pendapatan yang diharapkan perusahaan pada periode tertentu. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan anggaran penjualan pada PDAM Kota Bandung, berikut ini akan disajikan gambaran perkembangan Anggaran Penjualan pada PDAM Kota Bandung dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2008 sebagai berikut

Tabel 4,1

Perkembangan Anggaran Penjualan pada PDAM Kota Bandung Periode 2002-2008

Tahun Anggaran Penjualan (Rp)

Perkembangan

Rp %

2002 86.682.744.000

2003 91.248.139.000 4.565.395.000 0.052 2004 87.301.427.000 (3.946.712.000) (0.043) 2005 88.466.508.000 1.165.081.000 0.013 2006 99.337.164.000 10.870.565.000 0.122 2007 132.177.927.000 32.840.763.000 1.330 2008 148.869.972.000 16.692.045.000 0.126 Sumber : Laporan Keuangan PDAM Kota Bandung periode 2002-2008

(Data diolah kembali)

(55)

Sumber : Laporan Keuangan PDAM Kota Bandung periode 2002-2008 (Data diolah kembali)

Grafik 4.1

Perkembangan Anggaran Penjualan PDAM Kota Bandung Periode 2002-2008

Berdasarkan tabel dan gambar diatas Pada tahun 2002 anggaran penjualan PDAM Kota Bandung sebesar Rp. 86.682.744.000 sedangkan pada tahun 2003 menjadi Rp. 91.248.139.000. Angka tersebut menunjukan adanya kenaikan Anggaran Penjualan sebesar 50.02%, yang disebabkan oleh kenaikan dari penjualan air bersih dan pemeliharaan meteran. Pada tahun 2004 Anggaran Penjualan menjadi Rp. 87.301.427.000 atau menurun sebesar 0.043 % dari tahun 2003.Hal ini terjadi akibat dari kegiatan pergantian meter baik yang telah rusak maupun yang telah lewat masa teknis dan faktor pencatatan meter yang masih belum optimal sehingga prediksi kubikasi mengalami penurunan yang cukup besar. Pada tahun 2005 Anggran Penjualan menjadi Rp 88.466.508.000 yang berarti bahwa terjadinya peningkatan anggaran pebjualan sebesar 0.013%. Hal

Rp-Rp20,000,000,000 Rp40,000,000,000 Rp60,000,000,000 Rp80,000,000,000 Rp100,000,000,000 Rp120,000,000,000 Rp140,000,000,000 Rp160,000,000,000

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(56)

tersebut disebabkan oleh adanya penyesuaian harga air dan biaya harga dasar listrik.bahan kimia, Pada tahun 2006 Anggaran penjualan menjadi Rp99.337.164.000 ,yang berarti bahwa terjadinya peningkatan Anggaran Penjualan sebesar 0.122%. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya Anggaran Penjualan air bersih,biaya produksi dan distribusi.

Pada tahun 2007 anggaran Penjualan menjadi Rp132.177.927.000 yang berarti bahwa terjadinya peningkatan Anggaran Penjualan sebesar 0.330%. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh peningkatan pencatatan meter.

Pada tahun 2008 Anggaran Penjualan menjadi Rp148.869.972.000 yang berarti bahwa terjadinya peningkatan Anggaran Penjualan sebesar 0.126%. Hal tersebut terjadi disebabkan peningkatan biaya pemasangan sambungan langganan baru sebanyak 10.000 SL dan penjualan air bersih,biaya produksi dan distribusi.

4.2.2. Perkembangan Pendapatan Operasi pada PDAM Kota Bandung

periode 2002 – 2008

(57)

Tabel 4.2

Perkembangan Pendapatan Operasi pada PDAM Kota Bandung Periode 2002-2008

Tahun Pendapatan Operasi (Rp)

Perkembangan

Rp %

2002 90.304.321.293

2003 87.042.137.597 (3.262.183.696) (0.036)

2004 87.214.625.129 172.487.532 0.001

2005 88.563.997.802 1.349.372.673 0.015 2006 87.387.826.062 (1.176.171.740) (0.013) 2007 126.314.414.672 38.926.588.610 0.445 2008 140.026.582.737 13.712.168.065 0.108

Sumber : Laporan Keuangan PDAM Kota Bandung periode 2002-2008 (Data diolah kembali)

Sumber : Laporan Keuangan PDAM Kota Bandung periode 2002-2008 (data diolah kembali)

Grafik 4.2

Perkembangan Pendapatan Operasi PDAM Kota Bandung

Periode 2001-2008

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

(58)

Berdasarkan tabel 4.2 dan grafik 4.2 dapat diketahui bahwa besarnya tingkat Pendapatan Operasi PDAM Kota Bandung selama periode 2002-2008 mengalami peningkatan maupun penurunan. Besarnya tingkat Pendapatan Operasi pada tahun 2002 sebesar Rp. 90,304,321,293,sedangkan pada akhir Desember 2003 mengalami penurunan menjadi Rp. 87,042,137,597 atau menurun sebesar 0,036%, hal ini terjadi karena banyak pelanggan yang menunggak pembayaran yang mengakibatkan penurunan pendapatan, Sedangkan pada tahun 2004 tingkat pendapatan operasi menjadi Rp. 87,214,625,129 atau meningkat sebesar 0,001% dari tahun sebelumnya hal ini terjadi karena adanya peningkatan penerimaan pendapatan operasi.

(59)

sebelumnya,kemudian diikuti dengan penurunan jumlah anggaran penjualan sehingga pendapatan mengalami peningkatan.

4.2.3. Hubungan Anggaran Penjualan Dengan Pendapatan Operasi Pada

Perusahan Daerah Air Minum Kota Bandung

Agar dapat menjelaskan hubungan Anggaran Penjualan dengan Pendapatan Operasi Kota Bandung, maka dapat dilakukan dengan cara menganalisis data-data yang telah di olah dengan menggunakan analisis regresi, menghitung koefisien korelasi, dan melakukan uji t yang kemudian di tarik kesimpulannya. Dalam analisis ini, variabel yang digunakan adalah Anggaran Penjualan sebagai variabel X dan Pendapatan Operasi sebagai variabel Y.

Analisis Regresi Linier Sederhana

(60)

Tabel 4.3

Anggaran Penjualan (X) dan Pendapatan Operasi (Y) untuk menghitung Regresi dan Korelasi antara X dan Y

(dalam jutaan)

Sumber : Hasil olahan data

Berdasarkan table di atas maka dapat diketahui :

∑X = 734084.88

∑Y = 706854.94

∑X2 = 80789128273.62

∑Y2 =74380584094.04

∑XY = 77441758035.38

Analisis regresi linier sederhana dapat dihitung dengan rumus :

Keterangan:

Y = Pendapatan Operasi

X = Anggaran Penjualan

a = Nilai konstan

Tahun

Anggaran penjualan

Pendapatan

Operasi X2 Y2 XY

2002 86682.74 90304.32 7513898107.37 8154870444.19 7827826364.73

2003 91248.14 87042.14 8326222870.96 7576333717.46 7942433070.31

2004 87301.43 87214.63 7621539156.24 7606390836.39 7613961229.03

2005 88466.51 88564.00 7826323037.71 7843581706.67 7834947620.06

2006 99337.16 87387.86 9867872151.56 7636638435.77 8680862385.26

2007 132177.93 126314.41 17471004386.02 15955331342.56 16695977475.62

2008 148869.97 140026.58 22162269158.76 19607443873.00 20845753731.37

Total 734083.88 706853.94 80789128868.62 74380590356.04 77441761876.38

(61)

b = Koefien arah regresi

Untuk menghitung a digunakan rumus sebagai berikut :

= (706854.94)( 80789128273.62)-( 706854.94)( 77441758035.38) 7(80789128273.62)-( 706854.94)2

= (257.364.886.123.57) 26.644.754.800 = 9659.120

Untuk menghitung b digunakan rumus sebagai berikut :

= ( 77441758035.38) ( 80789128273.62)-( 706854.94) 7(80789128273.62)-( 706854.94)2

= (23.202.247.230.22) 26644754800 = 0.87079

(Sumber: Data yang telah diperoleh dari hasil pengolahan kalkulator) Hasil yang diperoleh untuk perhitungan regresi adalah :

Y = 9659.120 + 0,87079X

(62)

Berdasarkan persamaan di atas maka dapat dijelaskan dengan konstanta 9659.120 maka, apabila X atau Anggaran Penjualan bernilai nol maka Pendapatan Operasi bernilai 0,87079. Artinya apabila Perusahaan Daerah Air Minuman Kota Bandung tidak melakukan penambahan anggaran penjualan maka terjadi penurunan pendapatan operasi sebesar Rp 9659.120. Sebaliknya dengan koefisien regresi 0,87079 berarti apabila X atau Anggaran Penjualan di tambah Rp 1,00 maka perolehan Pendapatan Operasi akan meningkat sebesar Rp 0,87079. Tanda positif menunjukan hubungan yang positif, artinya apabila Anggaran Penjualan (X) meningkat maka perolehan Pendapatan Operasi (Y) pun akan meningkat. Sebaliknya, apabila Anggaran Penjualan (X) menurun maka perolehan Pendapatan Operasi (Y) akan ikut menurun.

Sedangkan perhitungan dengan menggunakan SPSS for windows versi 12.1 sebagai berikut :

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 9659.127 8413.584 1.148 .303

anggaran .871 .078 .980 11.119 .000

a. Dependent Variable: pendapatan

Analisis Koefisien Korelasi

(63)

analisis dengan menggunakan metode analisis korelasiPearson Product Moment. Adapun perhitungannya dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

r = nΣxy-(Σx)(Σy)

(Sumber: Data yang diperoleh dari hasil pengolahan kalkulator)

(64)

Correlations

anggaran pendapatan anggaran Pearson Correlation 1 .980**

Sig. (2-tailed) .000

N 7 7

pendapatan Pearson Correlation .980** 1 Sig. (2-tailed) .000

N 7 7

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan Nilai r = 0,9804 berada pada tingkat hubungan sedang di mana r > 0 merupakan hasil perhitungan korelasi maka anggaran penjualan memiliki hubungan positif yang sangat kuat dengan pendapatan operasi artinya jika anggaran penjualan mengalami kenaikan maka pendapatan operasi akan meningakat.

 Nilai koefisien korelasi berkisar antara –1 sampai dengan +1 yang berkriteria pemanfaatannya adalah sebagai berikut :

 Jika nilai r > 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier positif, yaitu makin besar variabel X, maka semakin besar variabel Y.

 Jika nilai r < 0, artinya telah terjadi hubungan yang linier negatif, yaitu makin kecil nlai variabel X maka makin besar variabel Y atau sebaliknya makin besar variabel X maka makin kecil variabel Y.

(65)

 Jika nilai r = 1 atau r = -1, telah terjadi hubungan linier sempurna, yaitu berupa garis lurus, sedangkan bagi nilai r yang mengarah ke arah angka 0 maka garis semakin tidak lurus.

Uji Statistik (Uji t)

Berdasarkan rancangan pengujian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka untuk menarik kesimpulan apakah anggaran penjualan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan operasi harus dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t.

Tujuan dari pengujian hipotesis tidak hanya semata-mata untuk menghitung nilai statistik, melainkan untuk memutuskan apakah perbedaan antara nilai statistik dan parameter sebagai hipotesis cukup nyata atau tidak. Karena penelitian ini menyangkut bidang ekonomi maka penulis memilih tingkat signifikan adalah 5 % atau . Karena dinilai cukup ketat untuk mewakili pengaruh antara variabel dan merupakan tingkat signifikan yang umum digunakan dalam penelitian.

Selanjutnya untuk menguji signifikansi nilai , maka digunakan uji t dengan menggunakan rumus :

(66)

Selanjutnya digunakan tabel distribusi t pada derajat kebebasan (dk) = n-2 untuk mengetahui ditolak atau tidaknya suatu hipotesis, dinyatakan dengan kriteria sebagai berikut :

Jika ttabel≥thitung, maka H0ada pada daerah penerimaan, berarti H1ditolak

atau tidak ada hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi pada PDAM Kota Bandung.

Jika ttabel≤thitung, maka H0ada pada daerah penolakan, berarti H1diterima

atau ada hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi pada PDAM Kota Bandung.

 Dengan menggunakan rumus diatas maka besarnya adalah sebagai berikut :

thitung = 11.182

(67)

Sedangkan perhitungan dengan menggunakan SPSS for windows versi 12.1 adalah sebagai berikut:

Coefficientsa

B Std. Error Beta

1 (Constant) 9659.127 8413.584 1.148 .303

anggaran .871 .078 .980 11.119 .000

a. Dependent Variable: pendapatan

Sedangkan berdasarkan tabel distribusi t, besarnya dengan derajat kebebasan (df) n-2 dan atau tingkat kepercayaan 95 %. karena pengujian dilakukan dengan 2 sisi atau 2 pihak maka yang digunakan adalah , maka t adalah sebesar 2,447. Karena nilai lebih besar dari 11.182 > 2,447 maka H berada di daerah penerimaan sehingga keputusannya menolak H yaitu terdapat hubungan yang signifikan. Serta hasil ini berhubungan dengan teori penghubung yang diambil dari Welsch, Hilton and Gordon (2000 : 147) yang mengemukakan Rencana penjualan yang menyeluruh memasukkan keputusan manajemen seperti tujuan, dimana tujuan utama rencana penjualan yaitu untuk mengurangi ketidakpastian tentang pendapatan dimasa yang akan datang.

Anggaran Penjualan dengan pendapatan operasi pada PDAM Kota Bandung.dan menerima H . Hasil perhitungan diatas dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

tabel

tabel thitung ttabel

0 1

(68)

-2.446 2.446 11.182

Gambar 4.2

Uji Dua Pihak Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis

Berdasarkan perhitungan nilai thitungsebesar 11.182 dan berdasarkan tabel

distribusi t, nilai t tabelsebesar 2,447 yang berarti t hitung > ttabel dan bahwa rumus

hipotesis statistik menunjukan Ho diterima yang berarti tidak ada pengaruh biaya operasional terhadap tingkat laba bersih pada PDAM Kota Bandung.

H1 di tolak H1 di tolak

t

hitung

(69)

70

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada Perusahaan Daerah air Minun Kota Bandung dalam membahas berapa besar hubungan Anggaran Penjualan terhadap Pendapatan Operasi, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya:

(70)

71

2. Pendapatan operasi merupakan salah satu tujuan utama perusahaan dan juga digunakan sebagai alat pengefesiensi kegiatan usaha yang akan dijalankan perusahaan. Perkembangan Pendapatan setiap tahunnya juga mengalami kenaikan dan penurunan ( fluktuasi ) dan disebabkan karena kondisi ekonomi politik yang tidak stabil.

3. Hubungan anggaran penjualan terhadap Pendapatan Operasi pada Perusahaan Daerah air Minun Kota Bandung artinya anggaran penjualan hubungan signifikan terhadap Pendapatan Operasi. Ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis penulis dengan menggunakan metode statistic yaitu Regresi linier sederhana dan koefesien korelasi ( r ). Untuk nilai koefesien korelasi 0,9804 artinya setiap kenaikan variabel X yaitu anggaran penjualan maka akan diikuti dengan perkembangan Pendapatan Operasi sebagai variabel Y, ini menunjukkan tingkat hubungan yang signifikan. Jadi kesimpulan dari hasil analisis yang penulis teliti adalah Ho ditolak maka H1 diterima. Ho adalah anggaran penjualan terdapat hubungan dengan pendapatan operasi.

5.2 Saran

Setelah penulis mengambil beberapa kesimpulan diatas, penulis akan mengemukakan beberapa saran diantaranya:

(71)

72

Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bandung untuk lebih meningkatkan kinerja para pegawai, karena dengan kinerja yang lebih baik maka pemerintah akan menilai bahwa perusahaan kinerjanya sangat baik, dengan penilaian tersebut pemerintah akan lebih mengeluarkan anggaran jauh lebih besar dari sebelumnya. Kalau itu terjadi maka perusahaan akan mengalami keuntungan yang berguna bagi perkembangan perusahaan itu sendiri.

(72)

iv

Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung. Oleh : Susilowatia / 21205125

Di bawah bimbingan Linna Ismawati, SE,.M.Si

Anggaran Penjualan berfungsi pula sebagai alat untuk pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat didalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik, untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan anggaran penjualan, untuk mengetahui perkembangan pendapatan operasi, dan untuk mengetahui hubungan anggaran pejualan dengan pendapatan operasi pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bandung periode 2002-2008.

Metode penelitian yang di gunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik penentuan data yang di lakukan adalah dengan menggunakan studi kepustakaan serta studi lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang di peroleh di analisis dengan cara menghitung analisis regresi linier sederhana, koefisien korelasi dengan pearson product moment (r), dan uji t.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara anggaran penjualan dengan pendapatan operasi. Tingkat keeratan hubungan (korelasi) kedua variabel sangat kuat yaitu r= 0,9804 dengan nilai korelasi Positif, artinya jika anggaran penjualan menurun, maka pendapatan operasi akan menurun dan sebaliknya. Hasil pengujian hipotesis yaitu dengan menggunakan uji t, diperoleh nilai ttabelsebesar 2.446 dan nilai thitungsebesar 11.182. Berdasarkan nilai

thitung tersebut, maka ttabel > thitung, sehingga H0 diterima. Jadi dapat disimpulkan

bahwa anggaran penjualan berhubungan positif secara signifikan terhadap pendapatan operasi pada Perusahan Daerah Air minum Kota Bandung.

Figur

grafik dibawah ini :

grafik dibawah

ini : p.4
Tabel 1.1

Tabel 1.1

p.4
Table 1.2

Table 1.2

p.9
Tabel 2.1

Tabel 2.1

p.24
Gambar 2.1Paradigma Penelitian Anggaran Penjualan dan Pendapatan Operasi

Gambar 2.1Paradigma

Penelitian Anggaran Penjualan dan Pendapatan Operasi p.27
Tabel 3.1Operasionalisasi Variabel

Tabel 3.1Operasionalisasi

Variabel p.32
Tabel 3.2Koefosien Korelasi

Tabel 3.2Koefosien

Korelasi p.37
Gambar 3.1Pengujian Hipotesis

Gambar 3.1Pengujian

Hipotesis p.39
Gambar 4.1Struktur Organisasi PDAM Kota Bandung

Gambar 4.1Struktur

Organisasi PDAM Kota Bandung p.45
Tabel 4,1

Tabel 4,1

p.54
Grafik 4.1Perkembangan Anggaran Penjualan PDAM Kota Bandung

Grafik 4.1Perkembangan

Anggaran Penjualan PDAM Kota Bandung p.55
Tabel 4.2

Tabel 4.2

p.57
Grafik 4.2

Grafik 4.2

p.57
Tabel 4.3Anggaran Penjualan (X) dan Pendapatan Operasi (Y)

Tabel 4.3Anggaran

Penjualan (X) dan Pendapatan Operasi (Y) p.60
Gambar 4.2Uji Dua Pihak Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis

Gambar 4.2Uji

Dua Pihak Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis p.68

Referensi

Memperbarui...