• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR INSTALASI TENAGA LISTRIK PADA SISWA KELAS XI TPTL DI SMK N 2 MEDAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBING PROMPTING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR INSTALASI TENAGA LISTRIK PADA SISWA KELAS XI TPTL DI SMK N 2 MEDAN."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBING

PROMPTING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN

PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL

BELAJAR INSTALASI TENAGA LISTRIK PADA

SISWA KELAS XI TPTL DI SMK N 2 MEDAN

SKRIPSI

Oleh

OMSER TAMBA

NIM: 5122131008

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

(2)
(3)
(4)

i

ABSTRAK

Omser Tamba, NIM. 5122131008,”Perbedaan Model Pembelajaran Probing Promting Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Instalasi Tenaga Listrik pada Siswa Kelas XI TPTL SMK Negeri 2 Medan”. Skripsi. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan 2017.

Pembelajaran yang dilakukan di sekolah dengan cara yang monoton pada dasarnya menimbulkan kebosanan bagi siswa secara umum. Siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar untuk mengasah kemampuan belajar serta melatih rasa tanggung jawab dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran probing promting dengan model pembelajaran problem based learning terhadap hasil belajar instalasi tenaga listrik pada siswa kelas XI TPTL SMK Negeri 2 Medan.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen, dimana dalam pelaksanaannya melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok Eksperimen 2. Kelas eksperimen 1 diberi perlakuan dengan model pembelajaran probing promting, sedangkan pada kelas Eksperimen 2 siswa diberikan perlakuan dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Kedua kelompok dalam penelitian ini merupakan kelompok yang homogen dimana tidak ada perbedaan secara khusus. Penentuan kelas dilakukan denggan menggunakan metode claster sampling, dan kelas eksperimen 1 adalah kelas XI TPTL 1 dengan jumlah siswa 29 orang dan kelas Eksperimen 2 adalah kelas XI TPTL 2 dengan jumlah siswa 29 orang. Jadi, total siswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah 58 orang.

Berdasarkan analisi data pada instalasi tenaga listrik, terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran probing promting dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat hasil pengujian hipotesis. Dimana pengujian hipotesis yang digunakan adalah uji t, dengan taraf signifikan 5%. Harga thitung didapatkan sebesar 9.745 dan data tabel diketahui 1.672. Maka, kriteria pengujian data diperoleh thitung > ttabel yaitu 9.745 > 1,672 artinya Ha diterima yang berarti terdapat perbandingan hasil belajar instalasi tenaga listrik yang menggunakan model pembelajaran probing promting dengan yang menggunakan model pembelajaran problem Based Learning Kelas XI TPTL SMK Negeri 2 Medan Tahun Ajaran 2016/2017.

(5)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat TuhanYang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang dilimpahkan sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini mengungkap perbedaan model pembelajaran probing promting dengan model pembelajaran Problem Based Learning Terhadap hasil belajar Instalasi Tenaga Listrik kelas XI TPTL di SMK Negeri 2 Medan.

Dalam penyusunan Skripsi ini penulis banyak memperoleh masukan dan dukungan yang sangat membantu dalam menyelesaikannya, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan, dorongan serta motivasinya. Kepada yang terhormat :

1. Orangtua. Ayah/Ibu : Jamaris Tamba/Tiurmida Marbun yang selalu memberikan

dukungan kepada penulis baik dalam hal dukungan materi maupun dukungan secara moral bahkan juga Doa.

2. Prof. Dr. Haru Sitompul, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Teknik Unimed.

3. Dr. Baharuddin, S.T., M.Pd selaku ketua jurusan di jurusan Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Medan sekalian dosen Penasehat Akademik dan menjadi salah seorang Dosen penguji.

4. Dr. Muhammad Amin, S.T., M.Pd selaku dosen pembimbing skripsi yang

senantiasa bersabar untuk membimbing penulis dalam penyusunan Skripsi ini. 5. Prof.Dr. Paningkat Siburian, M.Pd selaku Dosen penguji yang juga telah

memberikan masukan kepada penulis dalam penyusunan Skripsi ini.

6. Dra.Pintauli Saragih, M.Pd selaku Dosen penguji yang juga telah memberikan

masukan kepada penulis dalam penyusunan Skripsi ini

7. Dr. Salman Bintang selaku sekretaris jurusan di jurusan Pendidikan Teknik Elektro Univesitas Negeri Medan.

8. Kepala sekolah SMK N 2 Medan beserta guru-guru yang bersangkutan di jurusan teknik pemenfaatan tenaga listrik yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini

(6)

iii

10. Teman-teman di kost Jl. Tanduan NO.138 medan Gilbert, Reni, Rina, fitri,Kanti, serta Teman-teman seperjuangan Febri, Agus Tinus, Andika, Irwanto,Winro,Pinal,Epan,Irma,Lasro,dan terutama Risdawani Sitompul yang selalu menyemangati saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari betul bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini dikemudian hari.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengerjaan skripsi ini dan penulis berharap semoga skripsi ini akan bermanfaat bagi pembaca.

Medan, Februari 2017

Penulis,

Omser Tamba

(7)

iv

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 7

1. Hakekat Hasil Belajar Instalasi tenaga Listrik ... 10

2. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Probim Promting ... 18

3. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Problem Based Learning ... 32

4. Penelitian Yang Relevan ... 40

B. Kerangka Berfikir ... 41

C. Pengajuan Hipotesis ... 44

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 45

B. populasi penelitian ... 45

1. populasi ... 45

2. sampel ... 46

C. variabel penelitian ... 46

D. jenis dan desain penelitian ... 46

D. prosedur penelitian ... 49

E. defenisi operasional ... 52

(8)

v

1. tes hasil belajar ... 54

2. uji validitas tes ... 55

3. uji reliabilitas tes ... 56

4. Daya pembeda ... 58

5. Uji Indeks Kesukaran Soal ... 59

G. teknik analisis data ... 60

1. deskripsi data penelitian ... 60

2. uji persiaratan analisis ... 60

a. uji normalitas data ... 60

b. uji homogenitas data ... 61

c. oji hipotesis ... 62

BAB IV HASIL PENELITIA DAN PEMBAHASAN A. deskripsi hasil penelitian ... 63

B. uji persiaratan analisis ... 65

1. uji normalitas ... 65

2. uji homogeenitas... 66

C. pengajuan hipotesis ... 66

D. pembahasan hasil penelitian ... 67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

DAFTAR KUTIPAN ... 75

(9)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Langkah-langkah Model pembelajaran berbasis masalah ... 33

Tabel 3.1 Langkah penelitian ... 47

Tabel 3.2 kisi-kisi pemasangan instalasi tenaga listrik... 54

Tabel 3.3 klasifikasi indeks kesukaran ... 59

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar pada Kelas Eksperimen (PP) ... 63

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar pada Kelas Eksperimen (PBL) ... 64

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data ... 65

Tael 4.4 Uji Homogenitas Data ... 66

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan pada hakikatnya adalah bertujuan untuk membentuk karakter. Orang-orang terdidik adalah orang yang berkarakter yaitu orang yang bertindak mulia. Tindakan mulialah yang akan membuat keadaan dan dunia selalu berputar ke arah positif. Oleh karena itu di dalam semboyan pendidikan dikatakan bahwa: “Hidup adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan”. Di dalam

semboyan ini tersirat makna filosofi bahwa semua aktivitas pendidikan harus diletakkan pada landasan yang tidak hanya benar secara rasional, tetapi juga kuat dengan pengendalian emosional, tetapi juga kuat dengan pengendalian emosional serta bermanfaat besar dan meluas dalam kehidupan. Inti kegiatan pendidikan adalah proses belajar dan pembelajaran. Belajar berlangsung secara internal pada peserta didik melalui semua pengalaman dan dapat berlangsung melalui pengalaman yang dirancang oleh guru. Secara filosofis kegiatan mendidik sesungguhnya adalah menyentuh masa depan anak-anak.

Semua anak seyogyanya mendapat perhatian, kasih sayang dan motivasi-motivasi yang sama dalam pendidikannya. Mendapat pendidikan yang standar dari guru-gurunya. Tidak jadi persoalan dimanapun seorang anak bersekolah yang penting adalah kemampuan belajarnya standar dengan yang seharusnya. Dalam hal ini “semua anak patut berhasil, tak seorang pun dapat tertinggal dan terbelakang”. Mereka layak mendapatkan pendidikan yang standar, sehingga

(11)

2

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menurut Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 telah mengatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003).

Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu jenjang pendidikan menengah dengan kekhususan mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja, pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya. Dengan pengertian bahwa setiap bidang studi adalah pendidikan kejuruan sepanjang bidang studi tersebut dipelajari lebih mendalam dan kedalaman tersebut dimaksudkan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Mengacu pada pada isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 mengenai tujuan pendidikan nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu.

(12)

3

keahlianTeknik pemanfaatan tenaga listrik maka SMK Negeri 2 Medan memberikan mata pelajaran Instalasi Tenaga Listrik, syarat Instalasi Tenaga Listrik dan sebagai modal dasar untuk pengetahuan pemanfaatan tenaga listrik.

Berdasarkan pengalaman peneliti observasi awal di SMK Negeri 2 Medan, Peneliti mendapatkan masalah yaitu, belum adanya model yang dianggap tepat untuk digunakan yang diberikan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa, dan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran selalu monoton. Alangkah baiknya jika guru menggunakan model yang lain yang dianggap sesuai dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jika dikaitkan dengan pembelajaran kurikulum 2013, terdapat pembelajaran dengan pendekatan saintifik yaitu: pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

(13)

4

aplikatif, (8) peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills, (9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat, (10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (Ing Ngarso Sung Tulodo), membangun kemauan (Ing Madyo Mangun Karso), danmengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (Tut Wuri Handayani), (11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, (12) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, (13) pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta didik, dan (14) suasana belajar menyenangkan dan menantang.

(14)

5

Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari narasumber melalui angket, wawancara, mengembangkan. (4) Mengasosiasikan/mengolah informasi: SISWA mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi - mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan. (5) Mengkomunikasikan: siswa menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya - menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan. (6) Dapat dilanjutkan dengan Mencipta: siswa menginovasi, mencipta, mendisain model, rancangan, produk (karya) berdasarkan pengetahuan yang dipelajari.

Sesuai dengan pendekatan saintifik yang dijelaskan diatas, ada banyak model pembelajaran yang berhubungan dengan pendekatan saintifik yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, diantaranya sebagai berikut: cooperatif learning, problem solving, scramble, explicit instruction, demonstrsion,

problem basedlearning, inkuiri, probing prompting, generatif, jigsaw, dan banyak

(15)

6

pembelajaran. Kurikulum 2013 harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan karena dianggap penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Dari permasalahan diatas, maka peneliti mencoba untuk menggunakan model pembelajaran yang berkaitan dengan pendekatan sentifik, yaitu dengan melihat perbedaan antara hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran probing prompting dan problem based learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI program Teknik

pemanfaatan tenaga listrik.

Berdasarkan hasil observasi awal peneliti banyak faktor yang berhubungan dengan rendahnya hasil Instalasi Tenaga Listrik tersebut diantaranya bakat, minat, motivasi belajar dan fasilitas pemanfaatan tenaga listrik. Hal yang menjadi permasalahan bagi siswa dalam melaksanakan proses belajar adalah karena kurangnya semangat siswa dalam belajar dengan model pembelajaran yang monoton terhadap bidang studi yang ditekuninya dan dapat berakibat menurunnya prestasi belajar siswa. Melihat dari masalah di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Perbedaan Model Pembelajaran Probing Prompting dengan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Instalasi Tenaga Listrik Siswa Kelas XI Program Keahlian

(16)

7

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka terdapat beberapa masalah yang perlu diidentifikasi antara lain:

1. Pembelajaran yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar sehari-hari dengan model yang biasa menyebabkan siswa kurang aktif dalam proses belajar-mengajar.

2. Siswa terkesan malas dengan pembelajaran yang monoton. 3. Kurang tertariknya siswa pada materi yang disampaikan. 4. Motivasi belajar siswa yang rendah.

5. Hasil belajar siswa rendah dan rata-ratanya berada di bawah nilai ketuntasan minimum.

C. Pembatasan Masalah

Guna memberikan ruang lingkup yang jelas dan terarah karena mengingat begitu luas dan kompleksnya permasalahan, maka penulis membatasi hanya pada Model pembelajaran Probing Prompting, Model Problem Based Learning, dan Hasil Belajar Pemasangan Sistim Pembumian Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik SMK N 2 Medan Tahun Ajaran 2016/2017. D. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah hasil belajar siswa pada Instalasi Tenaga Listrik yang

menggunakan model pembelajaran Probing Prompting ?

(17)

8

3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada Instalasi Tenaga Listrik yang diajarkan menggunakan model pembelajaran Probing Prompting dengan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas XI Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik pada mata pelajaran instalasi tenaga listrik yang menggunakan model Probing Prompting.

2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas XI Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik pada mata pelajaran instalasi tenaga listrik yang menggunakan model Problem Based Learning.

3. Untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa kelas XI Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik pada mata pelajaran instalasi tenaga listrik yang menggunakan model pembelajaran Probing Prompting dan yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis.

1. Manfaat Teoritis

(18)

9

2. Manfaat Praktis

a. Bahan masukan bagi siswa untuk meningkatkan motivasi belajar sehingga mendapat hasil belajar yang lebih baik.

(19)

71

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisa data dan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil belajar siswa kelas XI TPTL pada instalassi tenaga listrik yang menggunakan model pembelajaran Probing Promting memiliki rata - rata nilai 16.72 dengan nilai tertinggi diperoleh siswa adalah 28 dan nilai terendah 12. Dapat dikatakan bahwa hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran Probing Promting adalah baik.

2. Hasil belajar siswa kelas XI TPTL pada instalasi tenaga listrik yang menggunakan model pembelajaran problem based learning Memiliki rata - rata nilai 16.00 dengan nilai tertinggi diperoleh siswa adalah 25 dan nilai terendah 13. dapat dikatakan bahwa hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning di sekolah masih kurang baik.

3. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas XI TPTL pada instalasi tenaga listrik yang menggunakan model pembelajaran Probing Promting lebih baik dari yang menggunakan model pembelajaran problem based learning. Hal ini dapat di buktikan dengan melihat uji hipotesis atau uji t,

(20)

72

B. Saran

Berdasarkan hasil analisa data dan kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka disarankan hal - hal sebagai berikut:

1. Bagi siswa

Dalam mengikuti pembelajaran dengan model probing promting ini, siswa perlu melihat bahwa keaktifan menjawab sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Karena dari keaktifan tersebut guru dapat mengetahui sampai dimanakah pembelajaran yang telah dimiliki siswa pada pembelajaran yang telah, sedang, ataupun belum dipelajari. Selain itu, siswa sebagai peserta didik perlu melatih diri untuk aktif dan fokus dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

2. Bagi guru

Dengan menerapkan model pembelajaran probing promting tentu akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan partisipasinya didalam kelas. Hal yang perlu disadari adalah bahwa siswa memiliki kemampuan awal masing – masing yang akan di kembangkan lewat tanggung jawab yang diberikan guru kepada mereka. Dengan begitu, siswa perlu diberikan tanggung jawab dan terlibat langsung dalam 3. Bagi Sekolah

(21)

73

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Sani Ridwan. 2014. Pembelajaran saintifik untuk kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsini, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Aris shoimin. 2014. 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yokyakarta: AR-ruz media.

Brahim, K.T. 2007. Peningkatan Hasil Belajar Sains Siswa Kelas IV SD Melalui Pendekatan Penempatan Sumber Daya Alam Hayati Di Lingkungan Sekitar. pendidikan penabur no 09 tahun ke 6 (online) 8 april 2014.

Endang sukmawati, 2014. Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Probing-Prompting dan Scramble Pada Materi Lingkaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII Smp Negeri 36 Purworejo Tahun Pelajaran 2013/2014. perpustakaan unimed.

Hamid Hasan.1991. Evaluasi kurikulum. Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan.

Istarani. 2011. 58 Model Pembelajaran inofatif (refrensi guru dalam menentukan model pembelajaran), medan: media persada.

Lumbantoruan , 2009. Pengaruh Model Pembelajaran Probing Prompting Terhadap Hasil Belajar Akutansi Siswa Kelas XI IS SMA Negeri 2 Bandar

Pulau Kabupaten Asahan Tahun Pembelajaran 2009/2010”. perpustakaan

unimed.

Miftahul,Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mulyasa.E. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

(22)

74

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran (Berorientasi Standar Proses Pendidikan). Jakarta : Prenada Media Group

Simanjuntak, 2010. Penerapan Model Pembelajaran Probing Prompting untuk Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X SMA Bintang Timur Pematang Siantar Tahun Ajaran 2010/2011.perpustakaan unimed.

Slameto. 2013. Belajar dan Fakor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Pt. Rineka cipta

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Sudjana, Nana. 2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suherman,Erman, Dkk. 2001. Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: jica

Sunal, C.S. & Haas, M. (1993). Social Studies and the Elementary/Middle School Student. Fort Worth: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.

Sutirman. 2013. Media dan model-model pembelajaran inovatif. Yokyakarta: graha ilmu.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Trianto, 2009. Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Jakarta: kencana

Usman, Muh. User, Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. (Bahan Kajian PKG, MGBS, MGMP). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Gambar

Tabel 2.1 Langkah-langkah Model pembelajaran berbasis masalah ..................................

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan telah dilaksanakannya tahapan evaluasi administrasi sampai kualifikasi yang dilakukan oleh Pokja Konstruksi II ULP Kab. Pokja Konstruksi II

Pimpinan Pesantren dibantu oleh 5 (lima) biro yang bertugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kinerja organisasi guna mengoptimalkan proses pendidikan dan

Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel bebas Pemakaian Masker (X6), Pemakaian Sabuk Keselamatan (X8) dan Pemakaian Sepatu Karet (X9) terhadap masalah K3 secara

PENGARUH IMAGE MERK, MANFAAT MERK DAN IKLAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MERK.. (Studi Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL MODERATING DALAM HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENYUSUNAN.. ANGGARAN DAN

Jadi pada saat beban luar bernilai nol maka hanya beban awal Fi, yang bekerja pada sambungan seperti terlihat pada gambar 8.21(a) Pada saat beban maksimum, Pmax, maka beban

Dengan ini kami beritahukan bahwa perusahaan Saudara telah masuk dalam calon penyedia jasa untuk pekerjaan Pengawasan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perkuatan Tebing, Perbaikan