Pertemuan 1
PENTINGNYA BAHASA INDONESIA DIPELAJARI
1. Materi
1.1 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa. Setiap suku bangsa tersebut memiliki bahasa daerah. Oleh karena itu, untuk keperluan berkomunikasi antarsuku bangsa diperlukan bahasa perantara (lingua franca). Bahasa perantara yang terpilih adalah bahasa Indonesia. Hal ini dibuktikan melalui salah satu pernyataan Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Hal ini mengandung pengertian bahwa bahasa Indonsia berkedudukan sebagai bahasa nasional. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tercantum pula pasal 36 (Bab XV) mengenai kedudukan bahasa Indonesia yaitu sebagai bahasa negara. Dengan demikian, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928 dan berkedudukan sebagai bahasa negara sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam kedudukannnya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan penuturnya. Atas dasar kebanggan ini, bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia perlu dijunjung sehingga memiliki identitas. Sebagai alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarsuku bangsa, bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi yang penting bagi penuturnya dalam wilayah Indonesia sehingga setiap orang dapat leluasa menjelajahi wilayah Indonesia tanpa ada kendala bahasa. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya penyatuan berbagai suku bangsa yang memiliki latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda.
dengan fungsinya yang ketiga, bahasa Indonesia adalah alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan pemerintah. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia sebagai alat pengembangan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan kata lain, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan bangsa Indonesia membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah.
1.2 Variasi Bahasa Indonesia dalam Pemakaian
Dalam kehidupan sehari-hari, pemakaian bahasa Indonesia oleh masyarakat tidaklah sesederhana seperti yang dibayangkan, terurtama bagi orang asing yang baru mempelajarinya. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari tidaklah sama dengan bahasa Indonesia yang ada dalam buku pelajaran. Tentu hal ini pun menyulitkan bagi sebagian besar mahasiswa asing yang belajar di Universitas Padjadjaran.
Banyak faktor yang menyebabkan bahasa Indonesia dalam pemakaian sehari-hari (lisan) berbeda. Faktor tersebut banyak bergantung pada diri si penutur, terutama yang menyangkut daerah, usia, dan pendidikan. Sebagaimana kita ketahui, wilayah pemakaian bahasa Indonesia sangatlah luas, membentang dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi, sebagian besar daerah di Indonesia, bukanlah daerah yang berbahasa Indonesia (Melayu) melainkan daerah yang berbahasa daerah. Bahasa daerah tersebut merupakan bahasa ibu (mother tongue) bagi sebagian besar penduduk daerah tersebut.
Jawa Barat adalah daerah yang bukan berbahasa Indonesia, pada umumnya masyarakat Jawa Barat berbahasa Sunda dalam komunikasi sehari-harinya. Bahasa Sunda memiliki kesamaan struktur dengan bahasa Indonesia, tetapi kosakatanya sudah tentu banyak yang berbeda. Dengan demikian, dalam kehidupan berbahasa masyarakat Jawa Barat, setidaknya, mengenal dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Pemakaian dua bahasa ini, bahasa daerah (Sunda) sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, mau tidak mau mempengaruhi perilaku berbahasa masyarakat Jawa Barat (Sunda) sehingga terjadilah percampuran kedua bahasa itu, yang dikenal dengan bahasa Indonesia ragam Jawa Barat. Misalnya, dalam hal pelafalan, sebagian masyarakat Jawa Barat melafalkan kata bahasa Indonesia saya, apa, siapa sini, sana, situ dengan penambahan bunyi [h] di belakang kata tersebut,[s a y a h], [a p a h],[s i a p a h],[s i n i h],[s a n a h],[s i t u h]. Kondisi ini sudah barang tentu mempengaruhi pelafalan kata lain, seperti kata mempersilakan dewasa ini sering dilafalkan dengan [m e m p e r s i l a h k a n]. Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa lafal yang benar untuk kata tersebut adalah tanpa bunyi [h].
Faktor lain yaitu terkait dengan tingkat pendidikan, terutama pelafalan kata serapan dari bahasa asing yang mengandung fonem, misalnya, /f/, /v/, dan /ks/ seperti pada kata fakultas, televisi, kompleks. Kata-kata tersebut oleh sebagian masyarakat yang tidak berpendidikan tinggi diucapkan dengan [p a k u l t a s], [t e l e p i s i], dan [k o m p l e k]. Hal ini dapat menjadi model pelafalan yang tidak standar bagi pembelajar bahasa Indonesia.
bahasa Indonesia tidak terdapat kosakata tersebut. Misalnya, “Ini teh apa?” dan “Saya mah dari Bandung”. Kata (partikel) teh dan mah marak muncul dalam percakapan-percakapan bahasa Indonesia sehari-hari di wilayah Jawa Barat. Kata-kata tersebut tidak ada padananan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Kedua kalimat tersebut memiliki kesepadanan dengan kalimat bahasa Indonesia, “Ini apa?” dan “(Kalau) saya (berasal) dari Bandung, (sedangkan kamu…)”.
Dalam segi struktur, sering terdengar kalimat “Uangnya dikesayakan saja” dan “Sudah ditulis oleh saya”. Tentu saja kalimat tersebut tidak akan ditemukan dalam percakapan masyarakat lain di luar wilayah Jawa Barat sebab kalimat tersebut berasal dari struktur bahasa Sunda “Artosna dikaabdikeun weh” dan “Parantos diserat ku abdi”. Dalam bahasa Indonesia, konstruksi ke saya dan oleh saya tidak dikenal. Padanan dalam bahasa Indonesia yang baku untuk kedua kalimat tersebut adalah “Uangnya dititipkan saja kepada saya” dan “(Surat) sudah saya tulis”.
Dewasa ini penggunaan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari merambah ke kota-kota besar di Indonesia, tidak terkecuali Bandung. Di Bandung remaja tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi formal, tetapi dalam situasi nonformal pun bahasa Indonesia digunakan, misalnya di tempat-tempat umum. Akan tetapi, bahasa Indonesia yang digunakan bukanlah bahasa Indonesia standar, melainkan bahasa Indonesia ragam Jakarta. Dalam pertuturan remaja di Bandung, dan juga di kota-kota besar di Indonesia, sering terdengar kosakata gua(e) „saya‟ dan lu „kamu‟. Di samping itu, dalam pelafalan kata-kata seperti apa, mana, ada, fonem /a/ di akhir kata-kata tersebut dilafalkan [e], seperti [ape], [mane], [ade]. Yang lebih menggejala adalah pemakaian akhiran –in. Akhiran dari bahasa Melayu Betawi itu kini merasuk pada bahasa Indonesia remaja menggantikan akhir –kan. Dengan demikian, kata bawain, kerjain, habisin lebih banyak digunakan menggantikan kata-kata bahasa Indonesia formal bawakan, kerjakan, habiskan. Fenomena ini tidak terlepas dari pusat pengaruh sosial, budaya, dan ekonomi, yakni kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia, kota kosmopolitan, yang menjadi simbol kemodernan dan “gaul” bagi kalangan remaja di kota besar di Indonesia. Gejala ini merambah ke kota-kota besar di Indonesia terjadi karena, di antaranya, maraknya tayangan-tayangan televisi yang menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam ini. Sikap bahasa sebagian masyarakat Indonesia ini tentu saja memprihatinkan sebab tidak menutup kemungkinan bahasa Indonesia yang benar semakin jauh dari pemiliknya. Oleh karena itu, pemerintah, dalam hal ini Pusat Bahasa melalui Lembaga Bahasa yang ada di daerah-daerah, aktif menggalakkan penyuluhan bahasa Indonesia meskipun bagi kalangan terbatas. Hal ini paling tidak menyadarkan masyarakat Indonesia akan pentingnya kecermatan dalam berbahasa karena kegiatan berbahasa mencerminkan kegiatan berpikir pula. Bahasa yang digunakannya kacau, pikiran si penutur pun kacau.
1.3 Sifat Bahasa yang Selalu Berubah
Bahasa berhubungan erat dengan masyarakat. Masyarakat berubah sudah barang tentu bahasanya pun turut berubah. Hal ini paling tidak tampak dalam kosakata. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbuka sehingga dapat bergaul dengan bangsa lain dari mana pun. Hal itu terbukti dengan adanya kosakata yang berasal dari beberapa negara, seperti Arab, Belanda, Cina, dan Portugis. Adanya kosakata serapan tersebut tidak terlepas dari faktor sejarah Indonesia. Misalnya, banyaknya kosakata yang berasal dari bahasa Belanda terjadi karena bangsa Indonesia telah dijajah oleh negara ini cukup lama. Mau tidak mau kondisi ini mengharuskan bahasa Indonesia berkontak dengan bahasa Belanda. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia dikenal kosakata seperti antre (antreden), apotek (aphoteek), proklamasi (proklamatie), dan teknik (techniek). Kata-kata ini yang dalam perkembangan selanjutnya penulisannya muncul beragam, yaitu antri, apotik, proklamir, dan tehnik. Tentu saja hal ini membingungkan pemelajar bahasa Indonesia tatkala harus menulis kata bahasa Indonesia secara benar, apakah penulisan yang benar itu apotik atau apotek, tehnik atau teknik, selanjutnya praktek atau praktik, analisa atau analisis?
Perubahan bahasa Indonesia tidak saja terkait karena faktor sejarah, faktor orientasi masyarakat pun turut menentukan perubahan tersebut. Masyarakat Indonesia sebelumnya lebih banyak berorentasi pada pertanian sehingga kosakata yang menyangkut kosakata ini lebih marak. Akan tetapi, sekarang era teknologi, tentu saja hal ini menambah kosakata bahasa Indonesia dalam bidang tersebut, seperti adanya kosakata handphone, internet, komputer, dan laptop. Kosakata tersebut ada yang memiliki padananan dalam bahasa Indonesia, ada pula yang tidak, seperti internet dan komputer masih digunakan kata yang sesuai dengan kata aslinya, sedangkan handphone dan laptop ada yang memadankannya dengan telepon genggam dan komputer pangku.
Dewasa ini perkembangan kosakata bahasa Indonesia semakin disemarakkan oleh bahasa Inggris, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau dibiarkan tanpa kendali, tentu akan mengikis jati diri bahasa Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melakukan anitisipasi masuknya kosakata asing melalui pemadanan-pemadanannya dalam bahasa Indonesia. Upaya itu dapat dilakukan dengan menggali kata bahasa Indonesia yang memiliki makna sama dengan kata asing itu, kalau tidak ada, selanjutnya dicari dalam bahasa Indonesia lama, selanjutnya dicari dalam bahasa daerah, kalau tidak ditemukan barulah kata asing itu digunakan dengan menyesuaikan ejaannya dengan bahasa Indonesia. Misalnya, kata asing network memiliki padanan dengan jaringan, pain memiliki padanan dalam bahasa Sunda nyeri, tetapi shuttle cock, masih digunakan kata tersebut karena tidak ada padanan yang tepat, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa daerah.
Kosakata asing yang marak lainnya dalam bahasa Indoneia dewasa ini adalah kosakata dari bahasa Jepang. Kosakata dari bahasa Jepang terutama yang menyangkut makanan dan otomotif, seperti kata sukiyaki, hoka-hoka bento, samurai, katana, dan suzuki. Namun, sebelumnya kosakata bahasa Jepang seperti arigato, sayonara, harakiri, taiso telah dikenal oleh masyarakat Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan.
kata dalam bahasa Indonesia, bentuk kata tersebut bukanlah bentuk yang benar lagi sebab dewasa ini disadari bentuk yang benar dari kata-kata tersebut adalah simpulan dan pesaing, dengan pemahan akhiran –an dalam bahasa Indonesia menyatakan hasil, perhatikanlah kata tulisan dan karangan yang masing-masing berasal dari kegiatan menulis dan mengarang. Oleh karena itu, saingan dipahami sebagai hasil dari kegiatan bersaing/menyaingi. Dengan demikian, untuk menunjuk pada orang, bentuk yang benar bukanlah saingan, melainkan pesaing sebab dalam bahasa Indonesia awalan pe- dapat bermakna „orang yang melakukan…‟. Begitu pula dengan bentuk kata pengrajin dan menterjemahkan, awalan pe- tidak memunculkan nasal ketika berhadapan dengan fonem /r/ dan fonem /t/ diawal kata luluh jika mendapat awalan meN-. Dengan demikian, disadari bentuk yang benar dari kata pengrajin dan menterjemahkan adalah perajin dan menerjemahkan.
2. Pustaka Acuan
Alwi, Hasan dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Bahasa.
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- Demika Presindo.
Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik. Jakarta: Pustaka Jaya.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakar- ta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
3. Latihan
Jawablah pertanyaan berikut dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar! 1. Mengapa bahasa Indonesia sangat penting dipelajari, baik oleh masyarakat
Indonesia sendiri maupun oleh masyarakat lain yang berkepentingan dengan Indonesia, terutama yang menimba ilmu di perguruan tinggi?
2. Bagaimana situasi kebahasaan di daerah Anda?
Pertemuan 2
PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
1. Materi
1.1 Sumber Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia yang sekarang kita kenal berasal dari bahasa Melayu (Riau). Bahasa Melayu sendiri sejak dulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca) di Kepulauan Nusantara. Bahkan, pemakaian bahasa Melayu juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu sudah dijadikan alat komunikasi sudah sejak zaman Sriwijaya. Berbagai prasasti menunjukkan akan hal itu, seperti batu tulis (prasasti) kuno yang ditemukan, yaitu (1) Prasasti Kedukan Bukit di Palembang tahun 683, (2) Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684, (3) Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686, dan (4) Prasasti Karang Brahi atara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688, yang tertuilis Pra-Nagari dan bahasanya bahasa Melayu Kuno. Di samping itu, prasasti-prasasti yang juga tertulis di dalam bahasa Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah (Prasasti Gandasuli, tahun 832) dan di Bogor (Prasasti Bogor, tahun 942). Kedua prasasti di Pulau Jawa tersebut mengisyaratkan bahwa bahasa Melayu dipakai juga di Pulau Jawa, selain di Pulau Sumatra. Bukti yang lainnya pun mencerminkan bahwa bahasa Melayu telah tersebar ke seluruh nusantara yakni dengan adanya bahasa Melayu dalam berbagai ragam daerah, seperti dialek Melayu Jakarta, Manado, dan Ambon.
Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat dipahami bahwa pada zaman Sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut.
1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
2. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antarsuku di Indonesia.
3. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama di sepanjang pantai, baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia.
4. Bahasa Melayu befungsi sebagai bahasa resmi kerajaan.
1.2 Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang terus. Dalam waktu yang relatif tidak lama bahasa Indonesia tumbuh menjadi bahasa yang modern. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan peristiwa bersejarah bagi peresmian bahasa Indonesia. Pada saat itu bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa persatuan.
Sumpah Pemuda berisi tiga pernyataan sebagai berikut. Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pertanyaan yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan lautan yang menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik Indonesia adalah satu kesatuan tumpah darah yang disebut tanah air Indonesia. Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati bumi Indonesia itu juga merupakan satu kesatuan yang disebut bangsa Indonesia. Pernyataan yang ketiga merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia tumbuh semakin pesat. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Kongres Bahasa Indonesia I di Solo setahun setelah Sumpah Pemuda. Selanjutnya, Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tahun 1954 dan kongres yang terakhir (Kongres Bahasa Indonesia VI) di selenggarakan di Jakarta pada tahun 1993. Setiap kongres tersebut menghasilkan putusan yang strategis bagi perkembangan bahasa Indonesia dewasa ini. Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan bahasa Indonesia.
1) Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
2) Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka.Balai Pustaka menerbitkan buku-buku novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, dan buku-buku pengetahuan lainnya.
3) Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal 28 oktober 1928 itulah para pemuda mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
4) Pada tanggal 25 – 28 Juni 1938 dilangsungkan kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Kongres ini menetapkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar.
5) Masa pendudukan Jepang (1942 – 1945) memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi resmi antara pemerintah Jepang dengan rakyat Indonesia karena niat mengganti bahasa Belanda dengan bahasa Jepang sebagai alat komunikasi tidak terlaksana. Bahasa Indonesia juga dipakai sebagai bahsa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dan untuk keperluan ilmu pengetahuan.
6) Pada tanggal 18 agustus 1945 ditandatangani Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
7) Pada tanggal 19 maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya. 8) Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober-2 November
1954 adalah juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia.
10)Pada tanggal 13 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meneyapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh Indonesia. 11)Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28
Oktober – 2 Novemeber 1978 merupakan peristiwa yang penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres tersebut selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. 12)Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21-26
November 1983. Kongres ini memutuskan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan.
13)Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-3 November 1988. Kongres ini merupakan kongres yang terbesar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Kongres ini meluncurkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa di nusantara, yakni berupa (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dan (3) buku-buku bahan penyuluhan bahasa Indonesia.
14)Kongres Bahasa Indonesia VI yang diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1993 memantapkan peran bahasa Indonesia sebagai sarana pembangunan bangsa, sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana pembinaan kehidupan bangsa. Seperti kongres sebelumnya, kongres ini dihadiri oleh berbagai kalangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
15)Kongres Bahasa Indonesia VII diadakan di Jakarta pada tanggal 26-30 Oktober 1998. Kongres ini mengusulkan adanya Badan Pertimbangan Bahasa yang dapat memberikan nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
16)Kongres Bahasa Indonesia VIII diadakan di Jakarta pada tanggal 14-17 Oktober 2003. Kongres ini memantapkan peranan bahasa Indonesia dalam era global.
1.3 Alasan Mengapa Bahasa Melayu Diangkat Menjadi Bahasa Indonesia?
Tentu kita bertanya-tanya, mengapa bahasa Melayu dijadikan bahasa nasional Indonesia? Faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu sebagai berikut.
1) Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca Indonesia, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan.
2) Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena bahasa ini tidak mengenal tingkat tutur (speech levels), seperti dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, yaitu bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.
3) Suku lain penutur bahasa mayoritas, seperti Jawa dan Sunda serta suku-suku yang lain dengan sadar menerima bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa nasional.
2. Pustaka Acuan
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- Demika Presindo.
Junus, Husain & Aripin Banasaru. Bahasa Indonesia: Tinjauan Sejarahnya dan Pe- Makaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakar- ta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1998. Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
3. Latihan
Jawablah pertanyaan berikut dalam bahasa Indonesia yang benar!
1. Sudah dipahami bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Perbedaan apa yang mencolok pada bahasa Indonesia dewasa ini?
2. Pada butir (3) sumpah pemuda bukan berupa pengakuan terhadap bahasa Indonesia, mengapa?
Pertemuan 3
RAGAM DALAM BAHASA INDONESIA
1. Materi
1.1 Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Sebagaimana telah disebutkan, bahasa Indonesia digunakan secara luas di wilayah Indonesia. Mengingat penutur bahasa Indonesia memiliki berbagai latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi, sudah tentu melahirkan sejumlah ragam bahasa. Ragam yang paling mudah diamati dalam bahasa Indonesia adalah ragam lisan dan ragam tulis. Bahasa Indonesia ragam lisan berbeda dengan bahasa Indonesia ragam tulis.
Berikut perbedaan antara ragam lisan dan tulisan. Pertama, ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan demikian. Kedua, di dalam ragam lisan unsur kalimat, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu hadir. Unsur-unsur tersebut kadang-kadang dapat dihilangkan. Hal ini terjadi karena dalam berkomunikasi secara lisan dapat dibantu oleh gerak, mimik, intonasi, dsb.
Contoh:
Orang menawar ongkos naik ojek. A: “Mas, berapa ke kampus?” B: “Tujuh ribu.”
A: “Empat ribu ya?” B: “Lima ribu saja.”
Unsur kalimat dalam ragam tulis harus lebih lengkap karena pada ragam tulis kawan bicara tidak berada di depan pembicara sehingga informasi yang disampaikan menjadi jelas. Ketiga, ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu. Keempat, ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca.
Di samping perbedaan di atas, berikut ini dapat bandingkan bahasa Indonesia ragam lisan dan ragam tulis. Perbandingan ini didasarkan atas perbedaan penggunaan bentuk kata, kosakata, dan struktur kalimat.
a) Ragam Lisan
1. Penggunaan bentuk kata
(1a) Anak itu nyuri mainan di took. (2a) Dia bisa ngoordinir acara itu.
2. Penggunaan kata
(3a) Sepatu yang dibikin pabrik itu kualitasnya bagus. (4a) Setiap hari saya selalu ngasih dia uang.
3. Penggunaan struktur kalimat (5a) Tugas itu sudah dikedosenkan.
b) Ragam Tulis
1. Penggunaan bentuk kata
(1b) Anak itu mencuri mainan di took. (2b) Dia bisa mengkoordinasikan acara itu.
2. Penggunaan kata
(3b) Sepatu yang dibuat pabrik itu kualitasnya bagus. (4b) Setiap hari yang selalu memberi dia uang.
3. Penggunaan struktur kalimat
(5b) Tugas itu sudah diserahkan kepada dosen. (6b) Pengumuman itu sudah saya tulis.
1.2 Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Pada dasarnya ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam buku.
Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagi berikut. a) Kemantapan Dinamis
Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Jika kata rasa diberi awalan pe-, akan terbentuk kata perasa. Oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi awalan pe- akan menjadi perajin, bukan pengrajin.
Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang berlangganan itu disebut pelanggan.
b) Cendekia
Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Perwujudan ragam baku ini adalah orag-orang yang terpelajar. Hali ini terjadi karena pembinaan dan pengembangan bahasa lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah).
Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Ragam baku dapat pula memberikan gambaran yang jelas dalam pikiran pendengar atau pembaca. Contoh kalimat yang tidak cendekia adalah sebagai berikut.
4. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima beasiswa.
Frasa mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal mengandung konsep ganda, yaitu mahasiswanya yang terkenal atau perguruan tingginya yang terkenal. Dengan demikian, kalimat itu tidak memberikan informasi yang jelas. Agar menjadi cermat kalimat tersebut dapat diperbaiki sebagai berikut.
c) Seragam
Ragam baku bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian penyeragaman. Misalnya, pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari. Beranalogi pada bentuk yang sudah ada, kata yang mengandung konsep “pelayan” digunakan pramu-, seperti pramusaji (pelayan restoran), pramuniaga (pelayan toko), dan pramuwisma (pelayan rumah/pembantu).
1.3 Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah. Ragam baku tulis dapat mengacu pada buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Ragam baku lisan belum memiliki pedoman seperti ragam baku tulis. Hal terjadi karena sulitnya mencarai lafal yang standar bagi penutur bahasa Indonesia yang majemuk ini. Lafal yang baku untuk sementara ini adalah lafal yang tidak mencerminkan lafal kedaerahan atau dialek daerahnya. Misalnya, lafal yang baku untuk kata beberapa adalah dengan bunyi e pepet [b b r a p a], bukan dengan e taling [b E b E r a p a].
1.4 Ragam Sosial dan Ragam Fungsional
Ragam sosial yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Misalnya, ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial . Selain itu, ragam sosial berhubungan pula dengan tinggi atau rendahnya status kemasyarakatan lingkungan sosial yang bersangkutan.
Ragam fungsional (profesional) adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lungkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Ragam fungsional dapat menjadi bahasa negara dan bahasa teknis keprofesian, seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan/teknologi, kedokteran, dan keagamaan.
1.5 Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Pemahaman bahasa Indonesia yang baik dan benar menyangkut pula pemahaman pada bahasa baku. Kebakuan suatu kata sudah menunjukkan masalah benar kata itu. Walaupun demikian, masalah baik tentu tidak sampai pada sifat kebakuan suatu kalimat, tetapi sifat efektifnya suatu kalimat.
Pengertian benar pada suatu kata atau suatu kalimat adalah pandangan yang diarahkan dari segi kaidah bahasa. Sebuah kalimat atau sebuah pembentukan kata dianggap benar apabila bentuk itu mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku.
penulisannya karena pemunculan kata itu tidak mengikuti kaidah penyerapan yang telah ditentukan. Pembentukan penyerapan yang benar ialah standardisasi karena diserap dari kata standardization, bukan dari kata standar + -isasi.
Pengertian baik pada suatu kata atau kalimat menyangkut pada pilihan kata (diksi). Dalam suatu situasi kita dapat memakai kata yang sesuai dengan situasi tersebut sehingga kata-kata yang digunakan tidak akan menimbulkan nilai rasa yang tidak pada tempatnya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kata mati memiliki sinonim seperti mampus, tewas, meninggal dunia, berpulang ke rahmatullah, gugur dsb. Kata-kata tersebut tentu penggunaannya tidak sembarangan. Dalam suatu situasi, tidak memungkinkan seseorang mengatakan, “Pencopet itu telah gugur”. Hal ini terjadi karena kata gugur memiliki nilai yang positif dan digunakan untuk orang yang terhormat, seperti pahlawan.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bahasa yang benar adalah bahasa yang mengandung kaidah yang benar, sedangkan bahasa yang baik adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi pemakaiannya.
2. Pustaka Acuan
Alwi, Hasan dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Bahasa.
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- Demika Presindo.
Effendi, S. 1995. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
3. Latihan
1. Ciri apa yang tampak dalam ragam lisan dan tulis suatu bahasa?
2. Mana di antara kalimat berikut yang mengandung kata yang tidak baku. a. Adik ngedorong meja.
b. Dari tadi saya nyari kamu. c. Ibu nyuci baju.
d. Ayah membaca koran.
Pertemuan 4
DIKSI (PILIHAN KATA)
1. Materi
1.1 Pengertian Diksi
Dalam berkomunikasi sebenarnya kita memilih-milih kata yang sesuai dengan tujuan berkomunikasi itu sendiri. Pilihan kata sering pula disebut diksi. Ketepatan suatu pesan komunikasi sampai kepada pembaca/pendengar tidak terlepas dari diksi yang digunakan. Dengan demikian, diksi merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan berbahasa.
Diksi secara lebih luas dapat dipahami mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Diksi dipahami juga kemampuan membedakan secara tepat nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Oleh karena itu, pilihan kata yang tepat hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah kosakata bahasa tersebut.
1.2 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Makna denotatif disebut makna referensial, konseptual, atau ideasional karena makna kata tersebut mengacu pada acuan (referen), konsep, atau ide tertentu. Di samping itu, makna ini disebut pula makna kognitif atau proposional karena berhubungan dengan kesadaran atau pengetahuan atau berhubungan dengan pernyataan faktual. Kata amplop, misalnya, bermakna pembungkus surat.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Makna ini disebut pula makna emotif atau evaluatif. Kata amplop dalam makna konotatif dapat berarti uang suap.
1. Gadis itu cantik.
2. Gadis itu manis.
Kata manis bermakna konotatif, sedangkan cantik bermakna denotatif. Dalam kata manis terkandung maksud suatu perasaan (terpesona, terpukau).
1.3 Makna Umum dan Khusus
Makna umum dipahami sebagai kata yang digunakan oleh hampir seluruh masyarakat pemakai bahasa tersebut. Dengan kata lain, kosakata umum adalah kata-kata umum yang digunakan dalam berbagai bidang ilmu. Di samping itu, kosakata-kata umum bermakna umum dan dipahami secara luas sehingga sering digunakan dalam berkomunikasi. Penguasaan kosakata umum dapat dilakukan melalui kamus umum. Makna khusus adalah kata yang memiliki makna khusus. Kosakata ini
digunakan dalam bidang ilmu atau lingkungan tertentu. Penguasaan kosakata khusus dapat dilakukan melalui kamus bidang ilmu tertentu. Contoh berikut menampakkan perbedaan antara kosakata umum dan khusus, kata burung memiliki makna umum karena memiliki makna yang luas, belum ada spesifikasi jenis apa. Namun, kalau kita menyebutkan, misalnya merpati, beo, dan cendrawasih, kata-kata tersebut termasuk kosakata khusus karena sudah mengacu pada satu jenis burung.
1.4 Kata Konkret dan Abstrak
Kata konkret adalah kata yang acuannya nyata atau dapat dicerap oleh pancaindera, misalnya buku, rumah, dan dingin. Kata-kata tersebut dapat dirasakan keberadaannya melalui indera kita. Sebaliknya, kata abstrak adalah kata yang acuannya tidak dapat dicerap oleh pancaindera, misalnya demokrasi, reformasi, dan karunia.
Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan yang rumit. Di samping itu, kata abstrak dapat membedakan gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Akan tetapi, dalam karangan ilmiah senantiasa digunakan kata konkret untuk menghindari acuan yang samar dan tidak cermat.
1.5 Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Pemakaian sinonim ini bertujuan, di antaranya, kalimat yang dihasilkan tidak membosankan. Di samping itu, pemakaian kata yang bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan memperjelas pesan komunikasi karena pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat, sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Sebagai contoh, kata benar bersinonim dengan betul. Kedua kata tersebut dapat saling menggantikan dalam kalimat berikut.
3. Pilihlah jawaban yang benar.
Akan tetapi, dalam kalimat berikut kedua kata tersebut tidak dapat saling menggantikan. Perhatikanlah:
4. Cincinnya seperti emas *benar.
betul
2. Pustaka Acuan
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- Demika Presindo.
Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Pateda, Mansoer. 1995. Kosakata dan Pengajarannya. Ende: Nusa Indah.
Soedjito. 1989. Sinonim. Bandung: Sinar Baru.
3. Latihan
1. Mengapa diksi atau pilihan kata merupakan unsur yang penting, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam menyusun karangan ilmiah?
2. Kata-kata berikut termasuk pada makna denotatif ataukah konotatif? Jelaskan! a. penonton – pemirsa
b. sesuai – harmonis c. mati – mampus
3. Sebutkanlah kata khusus dari kata umum berikut ini! a. warna
b. kendaraan c. penyakit
4. Sebutkanlah lima kata abstrak dan buatlah kalimatnya!
5. Kata-kata berikut bersinonim. Jelaskan perbedaan dan persamaan kata-kata tersebut dan berilah contoh melalui penggunaannya dalam kalimat!
a. jam – pukul b. ialah – adalah
Pertemuan 5
TATA BENTUK KATA I
1. Materi
1.1Kata Dasar
Kosakata bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar adalah kata yang belum mengalami proses morfologis apapun. Contoh kata dasar dalam bahasa Indonesia di antaranya adalah makan, rumah, dan indah.
Dalam hubungannya dengan kalimat, dalam bahasa Indonesia dikenal dua jenis kata dasar, yaitu kata dasar yang tidak dapat digunakan di dalam kalimat sebelum kata-kata tersebut mengalami pengimbuhan, misalnya kata juang, henti, dan baring. Kata-kata tersebut perlu diberi imbuhan dalam penggunaanya dalam kalimat, misalnya menjadi berjuang, berhenti, dan berbaring. Perhatikanlah contoh berikut:
1a. *Wanita itu sedang juang melawan penyakitnya. b. Wanita itu sedang berjuang melawan penyakitnya. 2a. *Mobil itu tiba-tiba henti di tengah jalan.
b. Mobil itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. 3a. *Kini ia hanya bisa baring tanpa daya. b. Kini ia hanya bisa berbaring tanpa daya
Kata dasar lainnya yaitu kata dasar yang tanpa penambahan imbuhan atau proses morfologis sudah dapat digunakan dalam kalimat, misalnya buku, gambar, dan merah.
1.2Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata-kata yang sudah mengalami proses morfologis. Menurut proses yang dialami oleh kata tersebut dapat dibedakan adanya empat macam kata berimbuhan dalam bahasa Indonesia, yaitu (1) kata berafiks, (2) kata berinfiks, (3) kata bersufiks, dan (4) kata bersimulfiks.
Kata berafiks adalah kata-kata yang mengandung awalan (afiks). Dalam bahasa Indonesia dikenal afiks ber-, me-, di-, ter-, pe-, dan se-. Setiap kata memiliki kemampuan daya gabung yang berbeda-beda dengan tiap-tiap afiks tersebut. Contoh kata berafiks adalah berjanji, menulis, disiksa, terbaca, penyanyi, dan setinggi. Kata-kata tersebut berasal dari Kata-kata dasar janji, tulis, siksa, baca, nyanyi, dan tinggi.
Indonesia di antaranya adalah gerigi, temali, dan telapak. Kata-kata tersebut masing-masing berasal dari bentuk dasar gigi, tali, dan tapak.
Kata besufiks adalah kata-kata yang mengandung akhiran (sufiks). Sufiks dalam bahasa Indonesia adalah –kan, -i, -an, dan –nya. Sebagaimana kata-kata yang berafiks, tidak setiap kata dasar dalam bahasa Indonesia dapat diberi sufiks ini. Tiap-tiap kata memiliki daya gabung yang berbeda-beda. Kata bersufiks dalam bahasa Indonesia di antaranya adalah bersihkan, datangi, temuan, dan dosennya. Kata-kata tersebut masing-masing berasal dari kata dasar bersih, datang, temu, dan dosen.
Kata bersimulfiks adalah kata-kata yang mengandung imbuhan gabung, yaitu kata tersebut mendapat infiks dan sufiks. Simulfiks dalam bahasa Indonesia adalah ber-an, ber-kan, me-kan, me-i, memper-, memper-kan, memper-i, di-kan, di-i, ter-kan, ter-I, diper-, diper-kan, diper-I, ter-kan, ter-I, ke-an, se-nya, dan pe-an. Kata bersimulfiks dalam bahasa Indonesia adalah berdatangan, melemparkan, mengunjungi, mempercantik, mempermalukan, kehutanan, seandainya, dan penentuan. Kata-kata tersebut masing-masing berasal dari kata dasar datang, lempar, kunjung, cantik, malu, hutan, andai, dan tentu.
2. Pustaka Acuan
Chaer, Abdul. 1989. Penggunaan Imbuhan Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.
Sneddon, James Neil. 1996. Indonesian: A Comprehensive Grammar. London: Routledge.
3. Latihan
1. Berilah imbuhan (afiks, sufiks, simulfiks) pada kata-kata berikut. a. ajar
b. jumpa c. pandang d. teliti e. jelas
2. Buatlah kalimat dengan kata-kata berikut. a. berdiskusi
Pertemuan 6
TATA BENTUK KATA II
1. Materi
1.1Kata Berulang
Selain bentuk kata yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, dalam bahasa Indonesia dikenal kata berulang. Kata berulang adalah kata-kata yang sudah mengalami proses pengulangan, misalnya buku-buku, pandai-pandai, dan tinggi-tinggi.
Dalam bahasa Indonesia dikenal tiga jenis kata berulang, yaitu (1) kata berulang penuh, (2) kata berulang sebagian, dan (3) kata berulang berubah bentuk. Kata berulang penuh adalah kata-kata yang diulang secara utuh tanpa mendapat perubahan, misalnya diam-diam, ragu-ragu, dan murid-murid. Kata berulang tersebut masing-masing berasal dari kata diam, ragu, dan murid. Kata berulang sebagian adalah kata-kata yang hanya diulang sebagian dari sukunya saja, misalnya lelaki, tetangga, dan tetamu. Kata berulang tersebut masing-masing berasal dari kata laki, tangga, dan tamu. Dewasa ini bentuk kata berulang sebagian mulai memunculkan bentuk baru, seperti jejari dan rerata. Sebelumnya kata tersebut lebih banyak digunakan jari-jari dan rata-rata. Kata tersebut berasal dari kata dasar jari dan rata. Kata rerata digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris mean. Kata ulang berubah bentuk adalah kata-kata yang diulang dengan perubahan bentuk, misalnya sayur-mayur, beras-petas, dan langak-longok.
Di samping kata berulang tersebut, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu jenis kata berulang lainnya. Kata berulang yang dimaksud adalah kata berulang yang tidak jelas kata dasarnya, seperti kupu-kupu, laba-laba, dan kunang -kunang. Kata dasar kupu, laba, dan kunang tidak digunakan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebagian ahli menyebut kata berulang semacam itu disebut kata ulang semu.
1.2 Kata Bergabungan
Bentuk kosakata bahasa Indonesia ada pula yang berwujud gabungan dua bentuk atau lebih. Upaya ini ditempuh untuk membentuk kata baru atau menambah konsep yang sudah ada. Kata bergabungan dalam bahasa Indonesia di antaranya adalah buku tulis, rumah sakit, dan kereta api.
ditambah lagi, misalnya, dengan kata cepat, jadilah kata bergabungan kereta api cepat.
1.2Kata Kompleks
Kata kompleks adalah kata-kata yang mengalami baik pengimbuhan maupun pengulangan, atau pengulangan dan pengimbuhan, atau penggabungan dan pengimbuhan, misalnya kata mempertanggungjawabkan. Kata tersebut berasal dari kata dasar tanggung dan jawab. Selanjutnya, kedua kata tersebut mengalami penggabungan menjadi tanggung jawab. Kemudian, kata bergabungan tanggung jawab mendapat pengimbuhan berupa prefiks ber- sehingga menjadi bertanggung jawab. Pada perkembangan selanjutnya dalam kalimat kata bergabungan tersebut mendapat pengimbuhan berupa penambahan simulfiks memper-kan untuk keperluan kalimat aktif transitif menjadi mempertanggungjawabkan.
Dalam bahasa Indonesia, kata kompleks dapat dibedakan atas lima jenis. Pertama, kata kompleks yang terjadi sebagai hasil pengimbuhan dan pengulangan, misalnya berlomba-lomba dan berseri-seri. Kedua, kata kompleks yang terjadi sebagai hasil pengulangan dan pengimbuhan, misalnya berlari-lari dan bersenang-senang. Kata tersebut mula-mula mengalami pengulangan lari-lari dan senang-senang, selanjutnya mendapat imbuhan prefiks ber-. Berbeda dengan jenis pertama, mula-mula kata tersebut mendapat imbuhan prefiks ber-, berlomba dan berseri, selanjutnya mengalami pengulangan. Ketiga, kata kompleks sebagai hasil pengimbuhan dan pengulangan yang terjadi secara sekaligus, misalnya berhari-hari dan berpuluh-puluh. Keempat, kata kompleks sebagai hasil penggabungan dan pengimbuhan, misalnya berperan serta dan berjual beli. Kelima, kata kompleks yang terjadi sebagai hasil penggabungan dan pengulangan, misalnya surat-surat kabar dan kereta-kereta api cepat. Kata ini terjadi mula-mula dari kata dasar surat, kemudian mengalami penggabungan dengan kabar menjadi surat kabar, setelah itu kata bergabungan surat kabar mendapat pengulangan menjadi surat-surat kabar.
2. Pustaka Acuan
Chaer, Abdul. 1989. Penggunaan Imbuhan Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.
Sneddon, James Neil. 1996. Indonesian: A Comprehensive Grammar. London: Routledge.
3. Latihan
1.Bagaimana bentuk kata dalam bahasa Anda, apakah ada persamaan dengan bahasa Indonesia?
a. kira b. lihat c. mata d. tinggi
3.Bentuklah kata berikut menjadi kata bergabungan! a. ikut
Pertemuan 7
PEMBENTUKAN KATA
1. Materi
1.1 Pembentukan Kata dari dalam dan luar Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki dua upaya pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya tata bahasa, daya tahan, serba mewah, tutup buku, dan lepas landas. Dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui pungutan kata, misalnya abad (Arab), banderol (Belanda), cek (Inggris), gincu (Cina), jiwa (Sansekerta/Jawa Kuno), dan tembang (Sunda).
Kosakata bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa asing. Hal ini terjadi karena, sebagaimana telah dijelaskan, kontak bahasa tidak dapat dielakkan karena kita berhubungan dengan bangsa lain. Oleh sebab itu, demi keajekan bahasa Indonesia kosakata tersebut diatur dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Kata-kata pungut adalah kata yang diambil dari kata-kata asing. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan kita terhadap nama dan penamaan benda atau situasi tertentu yang belum dimiliki oleh bahasa Indonesia. Pemungutan kata-kata asing yang bersifat internasional sangat diperlukan karena masyarakat Indonesia memerlukan suatu komunikasi dalam dunia dan teknologi modern.
Kata-kata pungut tersebut ada yang dipungut tanpa diubah, tetapi ada juga yang diubah. Kata-kata pungut yang sudah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia disebut bentuk serapan. Bentuk-bentuk serapan itu ada empat macam. Pertama, kata yang sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia, misalnya abstain, bank, dan status. Kedua, kata yang ejaannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia, misalnya aborsi (abortion), objek (object), dan universitas (university). Ketiga, kata atau istilah asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, misalnya mutakhir (up to date), canggih (sophisticated), dan dengar pendapat (hearing). Keempat, kata atau istilah yang dipungut tetap seperti aslinya untuk mempertahankan keuniversalan, misalnya de facto, status quo, dan cum laude.
1.2 Kesalahan Pembentukan Kata dan Pemilihan Kata
Dalam berkomunikasi tidak jarang masyarakat Indonesia melakukan kesalahan berbahasa, terutama yang menyangkut pembentukan kata, baik dalam bahasa lisan maupun tulis. Hendaknya hal ini dapat dihindari karena akan mengurangi kecermatan berbahasa. Namun, ada kemungkinan tersebut tidak disengaja oleh penutur atau penutur tidak tahu bentuk yang benarnya.
Kesalahan pembentukan kata dapat menyangkut hal-hal berikut. Pertama, penanggalan awalan (prefiks) me-, misalnya dalam kalimat Dosen periksa hasil ujian mahasiswa. Tentu, bentuk periksa dalam kalimat tersebut tidak benar. Kata yang tepat adalah memeriksa. Namun, dalam penulisan judul berita di surat kabar, hal ini masih diperbolehkan, tetapi teks sesungguhnya bentuk kata haruslah lengkap.
Kedua, penanggalan awalan ber-. Sering kali pemirsa televisi di rumah mendengar ungkapan akhir pembawa acara sebuah acara, “Sampai jumpa lagi”. Hal ini sebaiknya tidak terjadi sebab kata jumpa sama halnya dengan kata juang yang harus mendapat imbuhan prefiks ber- dalam penggunaanya. Jadi, ungkapan yang benar adalah “Sampai berjumpa lagi”.
Ketiga, peluluhan bunyi /c/, misalnya kata cuci mendapat awalan meN- menjadi menyuci dan cinta menjadi menyintai. Bentuk-bentuk ini jelas tidak benar sebab dalam bahasa Indonesia kata dasar yang diawali fonem atau bunyi /c/ tidak luluh. Dengan demikian, kata yang benar untuk menyuci dan menyintai adalah mencuci dan mencintai.
Keempat, penyengauan kata dasar. Gejala ini sering terjadi, misalnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata mandang, nolak, dan nyetak. Kata-kata tersebut muncul karena pengaruh dari bahasa daerah, seperti bahasa Sunda dan Jawa. Kata-kata tersebut dalam ragam tulis baku hendaknya dihindari dengan menggunakan kata memandang, menolak, dan menyetak.
Kelima, beberapa fonem atau bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh, misalnya pada kata mentaati dan mengkikis. Kata mentaati dan mengkikis berasal dari kata dasar taat dan kikis. Kata-kata dengan fonem awal seperti yang telah disebutkan mengalami peluluhan. Dengan demikian, kata mentaati dan mengkikis yang benar adalah menaati dan mengikis.
Keenam, kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan awalan ke- yang tidak tepat, misalnya kata kebawa dan ketawa. Kata-kata tersebut sering digunakan menggantikan kata baku terbawa dan tertawa. Kesalahan ini pun muncul karena pengaruh dari bahasa daerah.
Ketujuh, kesalahan jenis dipengaruhi karena bahasa asing, dalam hal ini bahasa Belanda. Kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan kata yang menggunakan akhiran –ir, misalnya melegalisir dan mengkoordinir. Bentuk yang benar dari kata-kata tersebut adalah legalisasi dan koordinasi sebab kata asalnya adalah legalisatie (kata benda) dan legaliseren (kata kerja). Dengan demikian, untuk membentuk kata legalisasi menjadi kata kerja dalam bahasa adalah melegalisasi; demikian pula dengan mengkoordinasi(kan).
kalimat dapat berfungsi sebagai induk kalimat, sedangkan kalimat lainnya berfungsi sebagai anak kalimat, misalnya menjadi Dia malas belajar maka tidak lulus ujian atau Karena malas belajar, dia tidak lulus ujian.
Di samping kesalahan-kesalahan tersebut, dalam bahasa Indonesia sering pula ditemukan kesalahan berupa penjamakan bentuk yang sudah jamak, misalnya para tamu-tamu dan beberapa buku-buku. Bentuk seperti itu jelas sangat rancu.
Selain itu, kesalahan sering pula ditemukan berupa ketidakhematan penggunaan kata, maksudnya kata yang memiliki arti sama digunakan dalam satu kalimat sehingga terkesan boros, misalnya agar supaya, demi untuk, dan hanya saja. Dalam penggunaan bahasa Indonesia yang apik hendaknya kata-kata tersebut digunakan salah satu saja, yaitu agar atau supaya, demi atau untuk, dan hanya atau saja.
1.3 Ungkapan Idiomatik
Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. Ungkapan idiomatik adalah kata-kata yang mempunyai sifat idiom yang tidak terkena kaidah ekonomi bahasa.
Ungkapan ini terdiri atas dua atau tiga kata. Ungkapan idiomatik dalam bahasa Indonesia di antaranya adalah sesuai dengan, terdiri atas, dan bergantung pada.
2. Pustaka Acuan
Arifin, Zaenal & Farid Hadi. 1991. 1001 Kesalahan Berbahasa:Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- demika Presindo.
Jumariam dkk. 1996. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Pusat Bahasa. 2003. Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing. Edisi Kedua. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Santoso, Kusno Budi. 1990. Problematika Bahasa Indonesia: Sebuah Analisis Prak- tis Bahasa Baku. Jakarta: Rineka Cipta.
3. Latihan
2. Sesuaikanlah kaidah ejaan bahasa Indonesia kata serapan berikut. a. affective
b. acceleration c. coexistency d. validity e. variance
3. Carilah padanannya dalam bahasa Indonesia kata serapan berikut. a. accidentalmeans
b. softlens c. beautyclinic d. aftersalesservice e. launching
4. Carilah pasangan ungkapan idiomatik berikut. a. sejalan ……..
b. bertepatan ……….. c. berhubungan ………. d. terjadi ……..
e. disebabkan …….
5. Perbaiki bentuk kata yang salah atau penggunaan kata yang tidak tepat dalam kalimat berikut.
a. Penerbit itu luncurkan buku-buku baru. b. Pendapat saya beda dengan pendapatnya. c. Saya ingin nyoba mobil barunya.
Pertemuan 8
KATA DAN ISTILAH
1. Materi
1. 1 Kata dan Istilah
Pemakaian kata dan istilah secara tepat diperlukan dalam penulisan karangan ilmiah. Kata yang digunakan bermakna tunggal dan denotatif. Hal ini ditempuh untuk menghindari timbulnya berbagai penafsiran terhadap gagasan yang dikemukakan dalam kalimat. Demikian pula dengan penggunaan kata yang bermakna denotatif.
Sebagaimana telah dijelaskan beberapa kata dalam bahasa Indonesia bermakna makna ganda dan tidak denotatif, seperti kata amplop pada pembahasan sebelumnya. Kata bunga pada kalimat di bawah ini menggambarkan hal itu.
Dia adalah bunga desa di kampungnya.
Bunga pada kalimat di atas tidak mengacu pada bunga yang sesungguhnya. Tentu dalam karangan ilmiah hal ini sebaiknya dihindari.
Istilah dipahami sebagai kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Kata ialah unsur bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata dan istilah memiliki kemiripan sebagai berikut.
1. Istilah itu adalah kata, baik berupa kata dasar, kata turunan, kata ulang, maupun gabungan kata.
2. Tidak semua kata merupakan istilah. Kata yang tidak termasuk istilah adalah kata yang tidak mengandung konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu.
3. Jadi, istilah pasti merupakan kata, tetapi kata belum tentu merupakan istilah.
„menempatkan‟. Dengan demikian, untuk ungkapan tersebut adalah “Selamat datang di permukiman ideal”.
1.2 Pembentukan Istilah Baru
Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia berpengaruh juga pada perkembangan perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia, khususna istilah. Istilah-istilah baru banyak yang muncul diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Penyerapan tersebut, terutama kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing dapat dilakukan dengan tiga upaya.
Pertama, apabila mempunyai sifat-sifat yang sama dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia, istilah itu dipungut tanpa mengalami perubahan, misalnya radio (radio). Kedua, apabila kata asing tersebut memiliki sifat yang mirip dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia, untuk penulisan kata asing tersebut dilakukan penyesuaian, misalnya sistem (system). Ketiga, apabila kata asing tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan ejaan bahasa Indonesia, untuk penulisan istilah tersebut dilakukan penerjemahan dengan mempertimbangkan kesamaan konsep pada bahasa sumber dan bahasa sasaran serta struktur morfologi dalam bahasa sumber dan dalam bahasa Indonesia, misalnya subbagian (subdivision).
1.3 Aspek Bentuk Kata pada Pembentukan Istilah
Dalam pembentukan istilah dipertimbangkan pula bentuk kata karena istilah itu dapat berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, dan gabungan kata. Dengan demikian, penulisan istilah tersebut harus sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia.
Dalam kenyataannya sering muncul masalah pembentukan istilah yang berupa kata berimbuhan. Misalnya, pada penggabungan kata dasar dengan awalan terjadi proses morfofonemik. Proses morfofonemik dipahami sebagai proses perubahan bentuk fonem pada awal kata akibat penggabungan dua morfem. Perubahan bentuk fonem ini tidak berakibat pada perubahan makna. Anggota satu morfem yang wujudnya berbeda ini, tetapi memiliki fungsi dan makna yang sama disebut alomorf. Misalnya, seperti kata menterjemahkan yang pernah dibahas pada materi sebelumnya. Demikian pula dengan kata yang memiliki satu silabe, sering kata-kata tersebut diucapkan atau ditulis secara salah, seperti kata bom, sah, tes diucapkan membom, mensahkan, dan mentes. Padahal, kaidah yang benar dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, kata yang memiliki satu silabe pada saat dibentuk menjadi kata kerja aktif haruslah mendapat awalan menge- sehingga bentuk yang benar dari kata-kata tersebut adalah mengebom, mengesahkan, dan mengetes.
Akan tetapi, bagi kecermatan berbahasa dan keruntutan berpikir jelaslah hal seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja, tanpa kecuali siapapun orangnya.
2. Pustaka Acuan
Nazar, Noerzisri A. 2004. Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiah. Bandung: Humaniora.
Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. 2002. Pedoman Umum Pembentukan Isti- lah. Jakarta: Pusat Bahasa.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1998. “Kata dan Maknanya”. Dalam Lembar Komunikasi. Edisi Januari 1998, Nomor 1/XII/98.
3. Latihan
Jawablah pertanyaan berikut!
1. Mengapa suatu karangan ilmiah harus menggunakan kata-kata yang lugas, tidak boleh yang mengandung nilai rasa tertentu?
2. Sebutkan sepuluh kata yang menjadi istilah dalam bidang studi Anda sekarang!
3. Cobalah Anda padankan istilah berikut dalam bahasa Indonesia! a. standard deviation ………..
b. visual field ………... c. microwave ……….. d. stainless ……….. e. power steering ……….
4. Betulkanlah penulisan kata-kata berikut berdasarkan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia!
Pertemuan 9
KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA
1. Materi
1.1 Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Pikiran yang utuh tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk lisan dan tulisan. Dalam bentuk lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam bentuk tulis kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Perhatikanlah contoh berikut:
1. Mahasiswa Malaysia telah datang. 2. Mereka tiba malam hari?
3. Antarkan mereka ke kampus!
Kalimat tidak selalu dibentuk atas beberapa unsur. Dalam bahasa Indonesia kalimat dapat dibentuk oleh satu unsur. Akan tetapi, konstruksi tersebut merupakan kalimat karena telah mengungkapkan pikiran yang utuh, sebagaimana dapat diamati contoh (4a-b).
4a. Pergi! 4b. Hati-hati!
1.2 Unsur Pembentuk Kalimat
Ciri utama kalimat yaitu memiliki subjek (S) dan predikat (P). Jika tidak memiliki kedua unsur itu, suatu konstruksi disebut frasa.
Perhatikanlah:
5. Adik bernyanyi. (kalimat)
6. mobil baru (frasa)
Contoh (5) merupakan kalimat karena konstruksi tersebut terdiri atas S (adik) dan P (bernyanyi), sedangkan contoh (6) adalah frasa karena tidak mengandung P. Hubungan antara mobil dan baru tidaklah bersifat fungsional seperti hubungan antara adik dan bernyanyi (S-P), tetapi diterangkan-menerangkan (D-M). Dengan demikian, konstruksi mobilbaru merupakan frasa (nomina).
Pada umumnya P dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja. Oleh karena itu, untuk menentukan mana P, carilah terlebih dahulu kata kerja. Setelah itu, buatlah pertanyaan dengan P tsb. untuk menentukan S.
Carilah P dan S dalam contoh berikut berikut.
7. Masyarakat membicarakan kenaikan harga BBM. 8. Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.
9. Dalam ruangan itu memerlukan dekorasi yang baik. 10. Singa yang menerkam kambing itu.
Pada dasarnya kalimat mengandung dua bagian, yaitu bagian inti dan bagian bukan inti. Bagian inti merupakan gagasan pokok, sedangkan bagian bukan inti merupakan gagasan penjelas. Bagian inti merupakan unsur wajib yang harus ada di dalam kalimat, sedangkan bagian bukan inti tidak wajib. Unsur inti dalam kalimat yaitu S dan P.
Di samping unsur S, P, ada pula unsur lain dalam kalimat bahasa Indonesia, yaitu objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K).
Contoh:
11. Paman menjual baju-baju bekas. S P O
12. Paman berjualan baju-baju bekas. S P Pel
13. Petani menanam padi di sawah. S P O K
Setiap unsur kalimat memiliki ciri. S memiliki ciri: (1) dapat berupa kata atau frasa (benda/kerja), (2) dapat berupa klausa, (3) dapat ditandai kata penunjuk itu/ini, (4) tidak boleh didahului kata depan, dan (5) dapat menjadi Pel jika dalama kalimat pasif. Ciri P meliputi: (1) dapat berupa kata atau frasa (kerja/benda/sifat), (2) dapat didahului dengan kata ingkar tidak/bukan, dan (3) dapat didahului akan, sedang, telah, dan (4) dapat dilekati partikel –lah. Ciri O meliputi: (1) hadir setelah kata kerja transitif, (2) dapat menjadi S dalam kalimat pasif, dan (3) tidak dapat didahului oleh kata depan. Pel memiliki kemiripan dengan O, hanya saja Pel memiliki ciri: (1) tidak dapat menjadi S dalam kalimat pasif dan (2) dapat didahului oleh kata depan. K merupakan unsur kalimat yang bukan inti. K memiliki kebebasan dalam posisi. Dengan demikian, K dapat terletak di awal, di tengah, dan di akhir kalimat.
1.3 Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia
Kalimat dasar bahasa Indonesia memiliki pola sebagai berikut. a. KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.
b. KB + KB : Ayahnya dokter. c. KB + KS : Dosen itu ramah.
f. KB + KK + KB : Mereka menonton film.
g. KB + KK + KB + KB : Ayah membelikan saya mobil baru.
2. Pustaka Acuan
Alwi, Hasan dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Bahasa.
Arifin, Zaenal & S. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Aka- Demika Presindo.
Djajasudarma, T. Fatimah.1999. Penalaran Deduktif-Induktif dalam Wacana Bahasa Indonesia. Jatinangor: Alqaprint.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
3. Latihan
1. Tentukan unsur-unsur dalam kalimat berikut!
a. Musim kemarau yang panjang berdampak pada tanaman the di Jawa Barat. b. Daerah itu selalu mengalami banjir pada musim penghujan.
c. Seluruh masyarakat Indonesia merayakan hari Kemerdekaan dengan sangat meriah.
d. Setiap tahun banyak mahasiswa Malaysia belajar di Bandung. e. Di Afrika banyak hewan yang masih buas.
2. Perbaiki kalimat berikut menjadi kalimat yang benar! a. Laporan yang dibuat oleh mahasiswa.
b. Pada surat kabar itu memberitakan banyaknya korban bencana alam.
c. Di dalam kampus bagi mahasiswa harus menaati segala peraruran yang ada. d. Banyak mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia.
Pertemuan 10
JENIS KALIMAT
1. Materi
1.1 Kalimat menurut Struktur Gramatikalnya
Dalam bahasa Indonesia, kalimat dari segi struktur gramatikalnya dapat dibedakan atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal digunakan untuk mengungkapkan gagasan tunggal, sedangkan kalimat majemuk digunakan untuk mengungkapkan gagasan yang lebih dari satu gagasan. Perihal kalimat tunggal dapat dipelajari lagi uraian kalimat sebelumnya. Pada kesempatan ini kita akan membicarakan jenis kalimat lain, yaitu kalimat majemuk.
Kalimat majemuk dipahami sebagai kalimat yang terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal. Kalimat majemuk terbagi atas:
(i) Kalimat majemuk setara, yang terbagi lagi atas: (1) Kalimat majemuk setara perjumlahan
Kalimat majemuk ini dahubungkan oleh kata sambung dan atau serta. Contoh:
1. Adik menari. 2. Kakak melukis.
3. Adik menari dan kakak melukis.
(2) Kalimat majemuk setara pertentangan
Kalimat majemuk ini dihubungkan oleh kata sambung tetapi, sedangkan, atau melainkan.
Contoh:
4. Dia tidak cantik, tetapi menarik.
5. Amerika tergolong negara maju, sedangkan Indonesia tergolong negara berkembang.
(3) Kalimat majemuk setara perurutan
Kalimat majemuk ini dihubungkan oleh kata sambung lalu dan kemudian.
Contoh:
6. Dia bangkit dari duduknya, lalu meninggalkannya sendiri.
(4) Kalimat majemuk setara pemilihan
Kata majemuk ini dihubungkan oleh kata sambung atau. Contoh:
Di samping itu, dalam bahasa Indonesia dikenal pula kalimat majemuk setara rapatan. Unsur yang dirapatkan biasanya subjek.
Contoh:
8a. Dia berlatih. b. Dia bertanding. c. Dia berhasil menang.
9. Dia berlatih, bertanding, dan berhasil menang.
(ii) Kalimat majemuk tidak setara
Kalimat majemuk ini terdri atas dua atau lebih kalimat. Salah satu dari kali mat itu adalah induk kalimat yang berisi gagasan inti, sedangkan kalimat lainnya disebut anak kalimat. Anak kalimat memiliki ciri yaitu di depan- nya didahului oleh kata sambung seperti walaupun, meskipun, karena,
apabila, kalau, agar, supaya, sehingga, dan setelah.
Kaidah kalimat majemuk tidak setara adalah sebagai berikut.
Kaidah I:
kalimat1 + kata sambung + kalimat2 --- --- induk kalimat anak kalimat
Contoh :
10. Kami segera pulang karena pekerjaan sudah selesai.
Kaidah II
kata sambung + kalimat2, kalimat1 --- --- anak kalimat induk kalimat
Contoh :
11. Karena pekerjaan sudah selesai, kami segera pulang.
Perhatikan tanda koma dalam kaidah II yang sifatnya wajib.
1.2 Kalimat menurut Fungsinya
Kalimat bahasa Indoneaia berdasatkan fungsinya dapat pula dibedakan sebagai berikut.
a) Kalimat pernyataan (deklaratif ), yaitu kalimat yang berisi informasi lengkap. Contoh:
Positif