i
PERAGA YANG BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA POKOK BAHASAN CAHAYA
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika
oleh Agus Purwanto
4201407055
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ii panitia ujian skripsi.
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Sugianto, M.Si Dr. Putut Marwoto, M.S
iii
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
BERBASIS COOPERATIVE LEARNING BERBANTUAN LKS DAN
ALAT PERAGA YANG BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA POKOK BAHASAN CAHAYA
Disusun oleh
Agus Purwanto 4201407055
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA UNNES pada tanggal
Panitia:
Ketua Sekretaris
Dr. Kasmadi Imam S., M.S Dr. Putut Marwoto, M.S
195111151979031001 196308211988031004
Ketua Penguji
Drs. Sri Hendratto, M.Pd 194708101973021001
Anggota Penguji/ Anggota penguji/
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Dr. Sugianto, M.Si Dr. Putut Marwoto, M.S
iv
yang berjudul “
Pembelajaran Demonstrasi Berbasis Cooperative Learning Berbantuan LKS dan Alat Peraga yang Berkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari pada Pokok Bahasan Cahaya” ini bebas plagiat. Apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam skripsi ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Semarang, Agustus 2011
v
“Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang” (Al Fatihah: 1)
“Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, Masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yang menolong” (Al Israa’: 80)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Alam Nasyroh: 6-8)
Pengalaman adalah guru terbaik.
Persembahan:
Tulisan ini kupersembahkan untuk: Ibu dan almarhum bapakku tercinta Kakak-kakakku tersayang
Sahabat-sahabatku Nabla ’07
Teman-temanku di Al Hikmah Cost & Black Cat Boys
vi
Cooperative Learning Berbantuan Lks dan Alat Peraga yang Berkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari pada Pokok Bahasan Cahaya. Skripsi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. Sugianto, M.Si. dan Pembimbing Pendamping Dr. Putut Marwoto, M.S.
Kata kunci : kooperatif, demonstrasi, hasil belajar, pemahaman konsep.
Di dalam proses belajar mengajar pelajaran fisika masih dianggap sulit untuk dimengerti sehingga prestasi belajar siswa masih kurang memuaskan. Maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif. Berdasarkan latar belakang tersebut timbul suatu permasalahan yaitu apakah pemahaman konsep peserta didik dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi lebih baik dibandingkan dengan pemahaman konsep peserta didik dengan pembelajaran ceramah dan metode diskusi? Dari rumusan masalah tersebut tujuan penelitian yang dicapai adalah untuk mengetahui pemahaman konsep fisika peserta didik dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi lebih baik daripada peserta didik yang menggunakan pembelajaran ceramah dan diskusi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP 2 Kaliwungu tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, diperoleh kelas VIII-B sebagai kelas eksperimen dan VIII-E sebagai kelas kontrol. Variabel yang diteliti adalah pemahaman konsep siswa, dengan desain eksperimen randomized control group pre test – post test design. Data penelitian diambil menggunakan tes dan dianalis menggunakan uji t.
vii
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Demonstrasi Berbasis Cooperative Learning Berbantuan LKS dan Alat Peraga yang Berkaitan dengan Kehidupan Sehari-hari pada Pokok Bahasan Cahaya”. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu terselesainya skripsi ini, terutama kepada yang terhormat :
1. Dr. Kasmadi Imam S, M.S, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
2. Dr. Putut Marwoto M.S, Ketua Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang dan Pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Dr. Sugianto M.Si, Pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Suroso S.Pd, Kepala SMP 2 Kaliwungu Kudus yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.
5. Ahmad Sholikin S.Pd, guru pamong yang membantu penulis selama melakukan penelitian.
viii
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan informasi dan sumbangan, serta bermanfaat yang berguna bagi dunia pendidikan.
ix
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Penegasan Istilah ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
1.6 Sistematika Penulisan Skripsi ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Tinjauan Kurikulum KTSP ... 8
x
2.6 Metode Ceramah ... 14
2.7 Metode Diskusi ... 15
2.8 Tinjauan Pokok Bahasan Cahaya ... 15
2.9 Kerangka Berpikir ... 21
2.10 Hipotesis Penelitian ... 22
BAB 3 METODE PENELITIAN... 22
3.1 Penentuan Obyek Penelitian ... 23
3.2 Variabel Penelitian ... 24
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 25
3.4 Analisis Hasil Pengujian Instrumen ... 27
3.5 Rancangan Eksperimen ... 32
3.6 Analisis Data Tahap Awal ... 32
3.7 Analisis Data Tahap Akhir. ... 35
3.8 Lembar Pengamatan (Observasi) ... 40
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42
4.1 Hasil Penelitian ... 42
4.2 Pembahasan ... 51
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1 Simpulan ... 59
xii
3.2 Data Nilai Ulangan Akhir Semester I Kelas VIII ... 23
3.3 Ringkasan Validitas Soal Uji Coba ... 28
3.4 Ringkasan Daya Beda Soal Uji Coba... 29
3.5 Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Uji Coba ... 30
3.6 Rancangan Eksperimen Randomized control group pre test-post test Design ... 32
3.7 Harga untuk Uji Bartlett ... 33
3.8 Tabel Persiapan Anava ... 34
3.9 Kriteria Keberhasilan Terhadap Aktivitas Siswa ... 41
4.1 Kemampuan Awal Siswa Sebelum Pembelajaran ... 44
4.2 Hasil Uji Normalitas Data Pre Test ... 45
4.3 Hasil Uji Kesamaan Varians Data Pre Test ... 46
4.4 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pre Test ... 46
4.5 Deskriptif Data Hasil Belajar Setelah Pembelajaran ... 47
4.6 Hasil Uji Normalitas Data Post Test ... 47
4.7 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Post Test ... 48
4.8 Hasil Uji Peningkatan Hasil Belajar ... 49
4.9 Hasil Uji Signifikansi Gain Ternormalisasi ... 49
xiii
2.2 Pemantulan Baur ... 16 2.3 Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar ... 17 2.4 Bagian-bagian Cermin Cekung ... 18 2.5 Sinar datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan melalui
titik fokus ... 18 2.6 Sinar datang melalui titik fokus, akan dipantulkan sejajar
sumbu utama ... 18 2.7 Sinar datang melalui pusat kelengkungan akan dipantulkan
kembali melalui titik pusat kelengkungan cermin ... 19 2.8 Bagian-bagian Cermin Cembung ... 19 2.9 Sinar datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan
seolah-olah berasal dari titik fokus ... 20 2.10 Sinar datang seolah-olah menuju titik fokus akan dipantulkan
sejajar sumbu utama ... 20 2.11 Sinar datang yang menuju pusat kelengkungan cermin,
xiv
2. Rencana Pembelajaran Kelas Kontrol ... 71
3. Lembar Kerja Siswa ... 80
4. Kisi-kisi Soal Uji Coba ... 101
5. Soal Uji Coba ... 102
6. Kunci Jawaban Soal Uji Coba... 108
7. Hasil Analisis Soal Uji Coba... 109
8. Kisi-kisi Soal Penelitian ... 119
9. Soal Penelitian ... 120
10. Kunci Jawaban Soal Penelitian ... 125
11. Nilai Ulangan Akhir Semester I Kelas VIII ... 126
12. Uji Homogenitas Populasi ... 127
13. Analisis Varians ... 128
14. Data Kondisi Awal dan Hasil Belajar Kognitif Siswa ... 131
15. Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 132
16. Uji Kesamaan Dua Varians Data Pre Test antara Kelompok eksperimen dan Kontrol ... 136
17. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Data Pre Test Antara Kelompok eksperimen dan Kontrol ... 137
18. Uji Perbedaaan Dua Rata-rata Data Post Test antara Kelompok eksperimen dan Kontrol ... 138
xv
22. Uji Signifikansi Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa ... 142
23. Lembar Observasi Siswa Kelas Eksperimen ... 144
24. Lembar Observasi Siswa Kelas Kontrol ... 145
25. Daftar Nama Siswa Kelas VIII-B ... 146
26. Daftar Nama Siswa Kelas VIII-E ... 147
27. Dokumentasi ... 148
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kurikulum sains disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan sains secara nasional. Saat itu kesejahteraan bangsa bukan lagi bersumber pada alam dan fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial dan kepercayaan (kredibilitas), maka tuntutan untuk terus-menerus memutahirkan pengetahuan sains menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan oleh pemerintah. Di Indonesia pendidikan menjadi sorotan yang penting oleh pemerintah, bahkan pemerintah menganggarkan dana APBN sebesar 20% dan juga memberikan sertifikasi bagi tenaga guru profesional. Namun sampai saat ini pendidikan di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan.
diterapkan dan mampu meningkatkan prestasi belajar fisika di sekolah-sekolah. Sejalan dengan berkembangnya penelitian dibidang pendidikan maka ditemukan model-model pembelajaran baru yang dapat meningkatkan prestasi belajar dan interaksi siswa dalam proses belajar mengajar, yang dikenal dengan model pembelajaran kooperatif. Menurut Jacobs (1997 : 1) di dalam ratusan penelitian, pembelajaran kooperatif mampu menunjukkan peningkatan variabel seperti prestasi, keterampilan interpersonal, sikap terhadap sekolah, diri sendiri, dan lain-lain. Selain itu, pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterampilan berpikir. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif menjadi pertimbangan penting untuk digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas. Shimazoe dan Aldrich (2010 : 52-57) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif bercita-cita untuk mengalihkan pembelajaran dari guru yang hanya memberikan ceramah pada siswa yang pasif menjadi siswa yang aktif berinteraksi satu sama lain. Pada pembelajaran kooperatif siswa didorong untuk berkoordinasi dan berinteraksi dengan rekan mereka sehingga siswa diharapkan dapat belajar melalui kegiatan mereka sendiri.
dihadapi, dengan mempraktikkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik dan benda yang benar-benar nyata. Berdasarkan hal itu maka tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang memotivasi anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri. Dengan cara ini pengetahuan yang diperoleh akan lebih bermakna dan lebih mudah dipakai untuk memecahkan suatu permasalahan. Di samping itu, demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang membangkitkan rasa keingintahuan siswa melalui suatu percobaan. Diharapkan dengan rasa keingintahuan inilah timbul minat siswa untuk lebih termotivasi untuk belajar fisika.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh masalah tersebut melalui penelitian dengan judul: “IMPLEMENTASI MODEL
PEMBELAJARAN DEMONSTRASI BERBASIS COOPERATIVE
LEARNING BERBANTUAN LKS DAN ALAT PERAGA YANG
BERKAITAN DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI PADA POKOK
BAHASAN CAHAYA”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang dipecahkan dalam penelitian ini adalah:
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang dicapai yaitu untuk mengetahui pemahaman konsep fisika peserta didik dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi lebih baik daripada peserta didik yang menggunakan pembelajaran ceramah dan diskusi.
1.4
Penegasan istilah
1) Implementasi menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Indrawan Ws, 2003:220) adalah : penerapan, pelaksanaan. Menurut Nurdin dan Usman (2004) implementasi adalah suatu proses, suatu aktivitas yang digunakan untuk mentransfer ide atau gagasan, program atau harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk kurikulum desain (tertulis) agar dilaksanakan sesuai dengan desain tersebut.
2) Metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana bekerjanya suatu proses atau langkah-langkah kerja dari suatu alat atau instrumen tertentu kepada siswa.
3) Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. 4) Pembelajaran ceramah dan diskusi merupakan suatu metode pembelajaran
Metode diskusi adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara menggunakan gambar-gambar yang harus dipahami dan diartikan maknanya dan dilakukan secara berkelompok.
1.5
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat baik siswa, guru maupun penulis sendiri.
1) Bagi siswa
Dengan melaksanakan penelitian ini diharapkan dapat meminimalkan anggapan fisika kurang menarik dan sulit sehingga meningkatkan penguasaan materi fisika secara keseluruhan. Siswa dapat mengenal, memahami dan mengetahui arti penting dari materi cahaya serta mengaplikasikan terhadap kehidupan sehari-hari.
2) Bagi guru
Dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan, guru mengetahui bahwa demonstrasi dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi siswa sehingga memperbaiki dan meningkatkan kemampuan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.
3) Bagi penulis
1.6
Sistematika Penulisan Skripsi
Penulisan skripsi ini terdiri atas tiga bagian yang dapat dirinci sebagai berikut:
1) Bagian Pendahuluan skripsi, pada bagian ini berisi judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran.
2) Bagian Isi skripsi, terdiri dari: Bab I : Pendahuluan
Bab II : Tinjauan Pustaka dan Hipotesis Bab III : Metode Penelitian
Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab V : Simpulan dan Saran
8
BAB 2
Tinjauan Pustaka
2.1
Tinjauan Kurikulum KTSP
Abad XXI dikenal sebagai abad globalisasi dan abad teknologi informasi. Perubahan yang sangat cepat dan dramatis dalam bidang ini merupakan fakta dalam kehidupan siswa. Pengembangan kemampuan siswa dalam bidang sains merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan memasuki teknologi, termasuk teknologi informasi. KTSP yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah (Muslich, 2009:10).
Terkait dengan penyusunan KTSP, BSNP telah membuat panduan penyusunan KTSP. Panduan ini diharapkan menjadi acuan bagi pendidikan tingkat dasar hingga menengah dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
memperhatikan acuan operasional. Salah satu diantaranya yaitu peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Hal ini mengandung arti kurikulum harus disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangan dari peserta didik itu sendiri.
2.2
Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Menurut Moskowitz dan Orgel, sebagaimana dikutip Darsono (2000:3) pada dasarnya belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil langsung dari pengalaman dan bukan akibat hubungan-hubungan dalam sistem syaraf yang dibawa sejak lahir. Belajar sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman, dikemukakan oleh Whittaker sebagaimana dikutip Darsono (2000: 4). Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap.
Belajar mempunyai ciri-ciri tersendiri. Ciri-ciri belajar adalah sifat atau keadaan yang khas dimiliki oleh perbuatan belajar. Dengan demikian ciri-ciri belajar ini akan membedakannya dengan perbuatan yang bukan belajar. Beberapa ciri belajar yang perlu dikemukakan adalah:
2) Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat diwakilkan pada orang lain. Jadi belajar bersifat individual.
3) Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. Berarti individu harus aktif bila dihadapkan pada suatu lingkungan tertentu. Keaktifan ini dapat terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar. Misalnya perhatian, minat, pikiran, emosi, motivasi dll. 4) Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar.
Perubahan tersebut bersifat integral, artinya perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang terpisahkan satu dengan yang lain (Darsono, 2000: 30 – 31).
Sesuai dengan pengertian belajar secara umum, yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. Maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24).
Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis (Darsono, 2000: 25).
2.3
Pemahaman Konsep
Pemahaman berasal dari kata paham mendapat awalan “pe” dan akhiran “an”. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 2003), paham berarti mengerti dengan tepat sedangkan konsep berarti suatu rancangan. Di dalam fisika, konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk menggolongkan suatu objek atau kejadian. Jadi pemahaman konsep adalah pengertian yang benar tentang suatu rancangan atau ide abstrak.
Pemahaman konsep ialah suatu pengertian yang merupakan kemampuan untuk menemukan ciri-ciri yang sama pada sejumlah benda dan merupakan dasar bagi pembentukan konsep-konsep konkret. Ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu itulah yang disebut dengan konsep (tanggapan).
2.4
Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kontruktivisme.
untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik, dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Menurut Johnson, Johnson dan Smith, sebagaimana dikutip oleh Shimazoe dan Aldrich (2010:52-57) terdapat lima prinsip dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut : (1) ketergantungan antar anggota, (2) setiap anggota bertanggung jawab akan tugasnya masing-masing, (3) ada interaksi antar anggota, (4) saling mengembangkan dan meningkatkan keahlian masing-masing anggota kelompok, dan (5) lebih mengutamakan penilaian kelompok daripada individu. Pembelajaran kooperatif juga bermanfaat bagi siswa sebagaimana ditulis oleh Shimazoe dan Aldrich (2010:52-57) sebagai berikut: (1) meningkatkan pembelajaran, (2) membantu meningkatkan nilai lebih tinggi, (3) mengajarkan keterampilan sosial dan nilai-nilai sipil, (4) mengajarkan keterampilan berpikir, (5) meningkatkan kemampuan individu, dan (6) mengembangkan sikap positif terhadap pembelajaran otonom.
Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat sebab sebagian besar orang bekerja dalam suatu organisasi yang saling bergantung satu sama lain.
Metode demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana bekerjanya suatu proses atau langkah-langkah kerja dari suatu alat atau instrumen tertentu kepada siswa. Untuk memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan oleh guru atau anak didik itu sendiri. Metode demonstrasi cukup baik apabila digunakan dalam penyampaian bahan pelajaran sains dan teknologi, misalnya : bagaimana cara kerja suatu mesin cuci atau apa yang terjadi jika suatu balon berisi air bakar dengan api.
2.5.1 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Metode Demonstrasi :
1) Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar apabila alat yang di demonstrasikan tidak bisa diamati dengan seksama oleh siswa. Misalnya alatnya terlalu kecil atau penjelasannya tidak jelas.
2) Demonstrasi menjadi kurang efektif apabila siswa sendiri tidak dapat ikut memperhatikan.
3) Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di kelas karena alat-alat yang terlalu besar atau yang berada di tempat lain yang tempatnya jauh dari kelas.
4) Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis tetapi dapat membangkitkan minat siswa.
2.5.2 Kelebihan Metode Demonstrasi :
1) Perhatian anak didik dapat dipusatkan, dan titik berat yang dianggap penting oleh guru dapat diamati.
2) Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang didemonstrasikan, jadi proses anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada masalah lain.
3) Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar. 4) Dapat menambah pengalaman anak didik.
5) Bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang disampaikan. 6) Dapat mengurangi kesalahpahaman karena pengajaran lebih jelas dan
kongkrit.
7) Dapat menjawab semua masalah yang timbul di dalam pikiran setiap siswa karena ikut serta berperan secara langsung.
2.6
Metode ceramah
Metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Dalam pembelajarannya siswa dituntut untuk melihat dan mendengarkan. Pembelajaran terpusat pada guru siswa cenderung pasif. Di dalam metode ceramah pembelajaran hanya terjadi satu arah yaitu dari guru ke siswa.
2.7
Metode diskusi
terbiasa bertukar pikiran dengan teman, menghargai dan menerima pendapat orang lain.
2.8
Pokok Bahasan Cahaya
2.6.1 Cahaya sebagai Gelombang Elektromagnetik
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang tidak memerlukan medium untuk merambat sehingga cahaya dapat merambat tanpa memerlukan medium. Setiap benda yang memancarkan cahaya disebut sumber cahaya dan setiap benda yang tidak dapat memancarkan cahaya disebut benda gelap.
1) Benda tembus cahaya, yaitu benda yang dapat meneruskan cahaya yang diterimanya. contoh benda baur adalah es dan air keruh.
2) Benda tak tembus cahaya, yaitu benda yang tidak dapat meneruskan cahaya yang diterimanya.
2.6.2 Pemantulan Cahaya
Setiap benda bersifat memantulkan cahaya. Benda dapat terlihat karena benda tersebut memantulkan cahaya. Secara lengkap hukum pemantulan cahaya adalah sebagai berikut.
1) Sinar datang, sinar pantul, dan garis normal terletak pada satu bidang datar.
2) Sudut datang sama dengan sudut pantul.
[image:30.595.112.510.324.652.2]teratur oleh permukaan tersebut. Pemantulan ini disebut sebagai pemantulan teratur.
Gambar 2.1 Pemantulan Teratur
Pada permukaan yang tidak rata, cahaya akan dipantulkan secara tidak teratur. Perhatikan Gambar 2.2! Pantulan jenis ini disebut dengan pemantulan baur. Sinar-sinar cahaya yang datang sejajar akan dipantulkan oleh permukaan menjadi tidak sejajar.
Gambar 2.2 Pemantulan Baur 2.6.2.1 Pemantulan Cahaya pada Cermin Datar
Gambar 2.3 Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar
Sinar datang yang mengenai cermin datar akan dipantulkan. Jika sinar datang tegak lurus terhadap cermin akan dipantulkan tegak lurus cermin. Pada gambar terlihat bahwa bayangan pada cermin datar merupakan perpanjangan sinar -sinar pantulnya. Bayangan yang terbentuk akibat perpotongan dari perpanjangan sinar-sinar pantul dinamakan bayangan maya. Sifat bayangan yang dibentuk oleh cermin datar adalah (1) sama besar, (2) berkebalikan, (3) tegak, (4) maya, dan(5) jarak benda ke cermin sama dengan jarak bayangan ke cermin.
Jika terdapat dua buah cermin datar yang membentuk sudut α, maka banyaknya bayangan yang dibentuk dirumuskan oleh persamaan sebagai berikut.
1 360 n
Keterangan:
n = banyaknya bayangan yang dibentuk (nilai n harus bilangan bulat tidak pecahan).
α = sudut antara dua cermin.
2.6.2.2 Pemantulan Cahaya pada Cermin Cekung
[image:32.595.111.513.313.654.2]cermin mempengaruhi bayangan yang dihasilkan. Bayangan yang dibentuk oleh cermin cekung merupakan perpotongan sinar pantul atau merupakan perpotongan dari perpanjangan sinar pantul. Cermin cekung bersifat mengumpulkan cahaya (konvergen). Berikut adalah gambar lukisan sinar istimewa pada cermin cekung.
[image:33.595.119.510.221.690.2].
Gambar 2.4Bagian-bagian Cermin Cekung
Gambar 2.5 Sinar Datang Sejajar Sumbu Utama Dipantulkan Melalui Titik Fokus
Gambar 2.6 Sinar Datang Melalui Titik Fokus Dipantulkan Sejajar Sumbu Utama Keterangan :
SU = Sumbu Utama M = Pusat
Gambar 2.7 Sinar Datang Melalui Pusat Kelengkungan Dipantulkan Kembali Melalui Titik Pusat Kelengkungan Cermin
2.6.2.3 Pemantulan Cahaya pada Cermin Cembung
Cermin cembung adalah cermin yang bagiannya melengkung seperti bagian luar bola. Perhatikan skema bentuk cermin cembung pada Gambar 2.8. Terlihat bahwa cermin cembung merupakan kebalikan cermin cekung. Seperti halnya cermin cekung, sebelum menggambarkan pembentukan bayangan, perlu diketahui sinar-sinar istimewa yang dimiliki cermin cembung. Sinar-sinar istimewa itu dapat dilihat pada Gambar 2.9, Gambar 2.10, dan Gambar 2.11.
Gambar 2.8 Skema Cermin Cembung
Keterangan :
SU = Sumbu Utama M = Pusat
[image:34.595.110.515.122.651.2]Gambar 2.9 Sinar Datang Sejajar Sumbu Utama Dipantulkan Seolah-olah Berasal dari Titik Fokus
Gambar 2.10 Sinar Datang Seolah-olah Menuju Titik Fokus Dipantulkan Sejajar Sumbu Utama
2.9
Kerangka Berpikir
Tujuan pembelajaran sangatlah penting sebab suatu pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila tujuan dari pembelajaran itu dapat tercapai. Untuk itu guru harus mampu untuk merumuskan tujuannya secara tepat agar mampu mengukur prestasi belajar siswa. Prestasi belajar yang dicapai tiap individu merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang saling mempengaruhi. Diantara berbagai faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar adalah lingkungan sekolah, karena sekolah merupakan lingkungan tempat siswa berinteraksi sehingga mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Proses belajar mengajar dapat mencapai hasil yang lebih baik apabila siswa mempunyai motivasi dan keinginan untuk belajar. Dalam hal ini guru dituntut untuk mendesain suatu kegiatan pembelajaran yang tidak membosankan. Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi merupakan salah satu langkah yang dapat diterapkan oleh guru. Hal ini karena pelajaran fisika yang membutuhkan contoh-contoh konkret agar siswa mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak. Misalnya pada pokok bahasan cahaya yang membutuhkan suatu peragaan sehingga siswa mudah untuk memahami materi yang diajarkan.
pemahaman konsep pemantulan cahaya pada siswa sehingga hal ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa.
2.10
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan materi di atas maka hipotesis dari penelitian ini adalah
23
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1
Penentuan Objek Penelitian
3.1.1 Populasi
[image:38.595.116.534.291.686.2]Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP 2 Kaliwungu Kudus kelas VIII tahun ajaran 2010/2011. Populasi ini terdiri dari enam kelas seperti pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Populasi Siswa Kelas VIII
Kelas VIII-A VIII-B VIII-C VIII-D VIII-E VIII-F Jumlah
siswa 40 40 38 38 38 38
Jadi banyaknya populasi yang diambil 232 siswa. Populasi ini mempunyai kondisi awal yang relatif sama. Hal ini dapat dilihat dari data nilai ulangan akhir semester I kelas VIII SMP 2 Kaliwungu Kudus seperti pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Data Nilai Ulangan Akhir Semester I Kelas VIII
Kelas n Rata-rata Varians
Uji Homogenitas Uji kesamaan rata-rata 2
hitung 2Tabel Kriteria Fhitung FTabel Kriteria X-1 40 72.90 49.02
9.41 11.07 Homogen 2.08 2.25
Tidak berbeda signifikan X-2 40 71.10 41.22
Berdasarkan hasil uji homogenitas diperoleh 2hitumg (9.41) 2tabel (11.07) yang berarti bahwa ketujuh kelas tersebut mempunyai varians yang relatif sama. Dilihat dari hasil uji anava diperoleh F hitung sebesar 2.08 F tabel (2.25) yang berarti keenam kelas tersebut mempunyai rata-rata yang relatif sama. Berdasarkan kedua analisis tersebut menunjukkan bahwa populasi tersebut homogen.
3.1.2 Sampel
Pada penelitian ini digunakan teknik random sampling, yaitu sampel yang diambil secara acak.
Penentuan sampel diambil dengan cara diundi dari enam kelas sampel tersebut terdiri dari satu kelas kontrol dan satu kelas eksperimen. Sampel dalam penelitian ini diambil dua dari enam kelas siswa SMP 2 Kaliwungu Kudus kelas VIII tahun ajaran 2010/2011. Diperoleh kelas VIII-B sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-E sebagai kelas kontrol.
3.2
Variabel Penelitian
Variabel merupakan obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan yaitu:
[image:39.595.108.516.275.649.2]2) Variabel terikat adalah akibat atau variabel yang dipengaruhi (Arikunto, 1998: 93). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah pemahaman konsep fisika siswa SMP kelas VIII semester II.
3) Variabel yang dikendalikan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dikendalikan adalah materi pelajaran berasal dari guru yang sama, kurikulum yang digunakan guru untuk mengajar dan sumber belajar siswa.
3.3
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Arikunto (1998: 225) definisi metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Keberhasilan pengumpulan data sangat dipengaruhi oleh metode pengumpulan data, karena data yang terkumpul akan digunakan sebagai bahan analisis dan pembahasan.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.3.1 Metode Dokumentasi
3.3.2 Tes
Metode tes ini dipergunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Tes ini terdiri dari dua macam tes yaitu pre test dan post test. Bentuk tesnya adalah tes obyektif berbentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.
Dalam penyusunan perangkat tes langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut.
1) Materi yang akan diteskan dibatasi pada pokok bahasan cahaya.
2) Menyusun jumlah soal uji coba sebanyak 40 butir soal obyektif pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban.
Pilihan soal obyektif ini dengan pertimbangan sebagai berikut: 1) Dapat mewakili isi dan keluasan materi.
2) Dapat dinilai secara obyektif oleh siapapun.
3) Kunci jawaban telah tersedia secara pasti sehingga mudah dikoreksi. Sebelum tes digunakan untuk memperoleh data dari sampel sebagai objek penelitian terlebih dahulu diadakan uji coba tes pada kelas di luar kelas kontrol dan kelas eksperimen.
3.3.3 Lembar Pengamatan ( Observasi )
3.4
Analisis Hasil Pengujian Instrumen
Untuk mendapatkan instrumen yang baik, terlebih dahulu dilakukan uji coba tes untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Dari hasil uji coba itu kemudian dianalisis untuk mengetahui daya pembeda, taraf/indeks kesukaran, validitas dan reliabilitas tes.
3.4.1 Analisis Validitas
Menurut Arikunto (2007: 79), instrumen penelitian dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui validitas item soal digunakan rumus korelasi biserial sebagai berikut :
q p St
Mt Mp rbis
keterangan:
Mp = rata-rata skor siswa yang pada butir soal menjawab benar. Mt = rata-rata skor seluruh siswa
St = simpangan baku skor total p = proporsi siswa
q = 1 – p p =
siswa seluruh jumlah
benar menjawab yang
siswa banyaknya
Tabel 3.3 Ringkasan Validitas Soal Uji Coba
No Kriteria No soal Jumlah %
1. Valid
1; 5; 6; 7; 8; 9; 10; 11; 13; 14; 15; 16; 17; 18; 20; 22; 23; 25; 26; 27; 28; 29; 30; 32; 34; 35; 36;37;38;39;40
31 77.5
2. Tidak valid
2; 3; 4; 12; 19; 21; 24; 31
9 22.5
3.4.2 Analisis Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa kelas atas dan kelas bawah. Soal ini dikatakan baik apabila daya pembeda soal makin besar. Dalam menentukan daya pembeda soal atau indek diskriminasi (D), peserta dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas atas dan kelas bawah (Arikunto, 2006: 213).
Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah: D =
P
AP
BDengan PA =
A A
J B
P
B B B
J B
Keterangan :
D = Daya beda soal (indeks diskriminasi)
PA = Proporsi siswa kelas atas yang menjawab benar
PB = Proporsi siswa kelas bawah yang menjawab benar JA = Banyaknya siswa kelas atas
BA = Banyaknya siswa kelas atas yang menjawab benar
BB = Banyaknya siswa kelas atas yang menjawab benar
Kriteria soal-soal yang dapat dipakai sebagai instrumen berdasarkan daya pembedanya diklasifikasikan sebagai berikut :
0,00 ≤ D < 0,20 maka daya pembedanya kurang 0,20 ≤ D < 0,40 maka daya pembedanya cukup 0,40 ≤ D < 0,70 maka daya pembedanya baik 0,70 ≤ D ≤ 1,00 maka daya pembedanya baik sekali
bila D negatif, semua tidak baik, jadi butir soal yang mempunyai nilai D negatif, sebaiknya dibuang.
[image:44.595.117.508.263.648.2]Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, soal yang memenuhi yang kriteria daya beda dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Ringkasan Daya Beda Soal Uji Coba
No Kriteria No soal Jumlah %
1. Baik 15; 16; 20; 33; 35; 36; 37; 38; 39
9 22.5
2. Cukup 1; 3; 4; 5; 6; 8; 9; 10; 11; 12; 14; 17; 18; 22; 23;24; 25; 26; 27; 28; 30; 31; 32; 34; 40
25 62.5
3. Jelek 2; 7; 13; 19; 21; 29 6 15
3.4.3 Analisis Taraf Kesukaran
Rumus yang digunakan adalah : P =
Keterangan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab benar JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria yang menunjukkan tingkat kesukaran soal adalah: 0,00 P 0,30 maka dikategorikan soal sukar 0,30 P 0,70 maka dikategorikan soal sedang 0,70 P 1,00 maka dikategorikan soal mudah
Dengan demikian tes yang baik mempunyai perbandingan yang proporsional antara soal yang mudah, sedang dan sukar (Arikunto, 2006: 208).
[image:45.595.113.511.260.646.2]Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, soal yang memenuhi yang kriteria tingkat kesukaran dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Ringkasan Tingkat Kesukaran Soal Uji Coba
No Kriteria No soal Jumlah %
1. Sukar 7; 8; 22; 23; 26; 36; 37; 40 8 20 2. Sedang 1; 2; 3; 4; 5; 6; 9; 10; 11; 12;
13; 15; 16; 18; 19; 20; 21; 24; 25; 27; 28; 29; 30; 31; 32; 33; 34; 35; 38; 39
30 75
3. Mudah 14; 17; 2 5
3.4.4 Analisis Reliabilitas
2 2 11 1 S pq S k k r Keterangan :
r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir soal ∑pq = Jumlah dari pq
S2 = Varians total Nilai r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5%. Jika nilai r11≥ rtabel maka instrumen tersebut reliabel.
Harga
r
11 yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan aturanpenetapan reabilitas sebagai berikut:
20
,
0
00
,
0
r
11 = reliabilitas sangat rendah40
,
0
20
,
0
r
11 = reliabilitas rendah60
,
0
40
,
0
r
11 = reliabilitas sedang80
,
0
60
,
0
r
11 = reliabilitas tinggi00
,
1
80
,
0
r
11 = reliabilitas sangat tinggi [image:46.595.112.511.201.613.2]3.5
Rancangan Eksperimen
Dalam penelitian ini, terdapat dua kelas yang akan diteliti yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rancangan eksperimen dipilih Randomized control group pre test-post test design seperti Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Rancangan eksperimen Randomized control group pre test-post test design
Kelas Pre test Treatmen Post test
Kelas eksperimen T1 X T2
Kelas Kontrol T1 Y T2
Keterangan:
X : penggunaan model kooperatif dengan metode demonstrasi
Y : tanpa penggunaan metode demonstrasi (pembelajaran ceramah dan diskusi)
T1 : pre test sebelum pembelajaran pemantulan cahaya
T2 : post test setelah pembelajaran pemantulan cahaya
3.6
Analisis Data Tahap Awal
Tahap awal digunakan untuk mengetahui kondisi populasi sebagai pertimbangan dalam pengambilan sampel yang meliputi uji homogenitas dan uji anava.
3.6.1 Uji Homogenitas
[image:47.595.121.511.265.651.2]Kemudian dari data sampel tersebut dilakukan analisis selanjutnya. Pengujian tersebut adalah uji homogenitas varians yang bertujuan untuk menguji kesamaan k buah (K ≥ 2) varians populasi yang berdistribusi normal. Analisis dilakukan untuk pengujian hipotesis Ho = σ12 = σ22=...= σk2. Dalam menguji homogenitas sampel dipergunakan uji Bartlett. Untuk memudahkan perhitungan pengujian Bartlett dibuat tabel seperti Tabel 3.7.
Tabel 3.7. Harga untuk uji Bartlett
Sampel Dk 1/dk Si2 Log Si2 (dk) log Si2
1 2 3 k
N1-1
N2-1
N3-1
Nk-1
1/(N1-1)
1/(N2-1)
1/(N3-1)
1/(Nk-1)
S12
S22
S32
Sk2
Log S12
Log S22
Log S32
Log Sk2
(N1-1) Log S12
(N2-1) Log S22
(N3-1) Log S32
(Nk-1) Log Sk2
Jumlah - - - - -
Langkah-langkah antara lain:
(1) Menghitung Variansi gabungan
1 1 2 2 Ni i S Ni S Keterangan :
S2 = Varians gabungan dari kelas sampel N = Jumlah Siswa
(2) Menghitung Koefisien Bartlett B = log S2 - (Ni – 1) (3) Menghitung χ2 data
2
log 1
10 B Ni S
Kriteria pengujian tolak hipotesis Ho jika χ2≥ χ2
(1- α)(k- 1), dengan α = 5% dan dk = (k- 1).
3.6.2 Uji Kesamaan Varians
Pada penelitian ini untuk mengetahui sampel apakah populasi berasal dari varians yang sama besar disebut varians homogen dan bila tidak dari varians yang sama disebut varians heterogen. Uji kesamaan varians digunakan untuk menentukan kehomogenan sampel yang diambil dengan teknik random sampling. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
terkecil ian
terbesar ian
F var var
[image:49.595.117.517.284.700.2]Untuk pengujian hipotesis tersebut digunakan uji F dengan bantuan tabel analisis varians seperti pada Tabel 3.8, untuk k lebih dari dua.
Tabel 3.8 Tabel persiapan anava
Sumber variasi dk JK KT F
Rata-rata 1 RY RY+1
Antar kelas k – 1 AY A=AY:(k-1)
F=A/D Dalam Kelas (ni - 1) DY D=DY: ( (ni
-1)
Total ni X2
(Sudjana, 1998: 305) keterangan:
RY = ( Y2)/n
AY = ( Xi)2/ni – RY JK tot = Xi2
DY =Jktot – RY- AY
Hasil uji F dikonsultasikan dengan kriteria jika harga Fhitung < FTabel,
disimpulkan kedua kelas mempunyai varians yang homogen (Sudjana, 2002: 250).
3.7
Analisis Tahap Akhir
Setelah perlakuan selesai diberikan, maka diadakan tes II untuk mengambil data hasil belajar kognitif siswa dari kelas yang menggunakan pembelajaran model kooperatif dengan metode demonstrasi dan kelas yang menggunakan pembelajaran ceramah dan diskusi yang kemudian hasil dari tes II, kedua kelas tersebut dilakukan analisis tahap akhir untuk menguji hipotesis penelitian. Langkah-langkah untuk analisis tahap akhir yaitu :
3.7.1 Uji Kenormalan Data
Asumsi bahwa populasi berdistribusi normal membantu menyelesaikan persoalan dengan mudah dan lancar, yaitu untuk mengetahui apakah data hasil penelitian dianalisis dengan memakai statistika parametrik atau non parametrik. Jika populasi berdistribusi normal dan menggunakan instrumen yang terukur maka dapat diselesaikan dengan parametrik. Oleh karena itu asumsi normalitas perlu dicek keberlakuannnya, agar langkah-langkah selanjutnya dapat dipertanggungjawabkan (Sudjana, 2002: 291). Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan data. Uji ini menggunakan rumus Chi kuadrat sebagai berikut:
i i i
E E O
2
keterangan: χ 2
Oi = frekuensi hasil pengamatan
Ei = frekuensi yang diharapkan
Kriteria pengujian, jika χ 2hitung χ 2tabel dengan dk = k – 3, maka data berdistribusi normal (Sudjana, 1996: 273).
3.7.2 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pre Test
Uji kesamaan dua rata-rata uji dua pihak digunakan untuk menguji apakah rata-rata kelas eksperimen dan kontrol mempunyai rata-rata yang sama atau tidak. Uji hipotesis ini menggunakan rumus t tes yang jenis rumusnya ditentukan dari hasil uji kesamaan dua varians, yaitu jika variansinya sama rumus t tes yang digunakan adalah rumus:
2 1
2 1 1
1 1
n n S
X X
t (Sudjana 1996 ; 241)
keterangan : _
1
X = Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen
_ 2
X = Rata-rata hasil belajar kelas kontrol n1 = Banyaknya data sampel kelas eksperimen
n2 = Banyaknya data sampel kelas kontrol
S = Varians
Dalam uji kesamaan dua rata-rata pre test, hipotesis statistik yang diajukan adalah:
[image:51.595.114.506.314.652.2]Ha : yang berarti ada perbedaan nilai-nilai rata-rata pre test kedua kelas. Hipotesis nol diterima artinya μe = μk, jika t’ dalam kriteria di atas, sedang Ho ditolak artinya μe > μk, jika t’ di luar kriteria di atas.
3.7.3 Uji Perbedaan Dua Rata- rata Data Post Test
Uji perbedaan dua rata-rata uji satu pihak kanan dilakukan untuk mengetahui hasil penelitian, apakah hipotesis kerja diterima atau ditolak.
Dalam uji perbedaan dua rata-rata peningkatan hasil belajar, hipotesis statistik yang diajukan adalah:
Ho : yang berarti rata-rata peningkatan hasil belajar kelas eksperimen kurang dari atau sama dengan rata-rata peningkatan hasil belajar kelas kontrol.
a yang berarti rata-rata peningkatan hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata peningkatan hasil belajar kelas kontrol.
Uji hipotesis ini menggunakan rumus t tes yang jenis rumusnya ditentukan dari hasil uji kesamaan dua varians, yaitu jika variansinya sama rumus t tesyang digunakan adalah sebagai berikut:
keterangan: _
1
X = Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen
_ 2
X = Rata-rata hasil belajar kelas kontrol n1 = Banyaknya data sampel kelas eksperimen
n2 = Banyaknya data sampel kelas kontrol
2 1
S = Varians kelas eksperimen
2 2
S = varians kelas kontrol
Derajat kebebasan untuk tabel distribusi t adalah (n1+n2 - 2) dengan
peluang (1- ), taraf signifikan (Sudjana, 1998: 243). Dalam penelitian ini diambil taraf signifikan = 5%.
Dalam uji perbedaan dua rata-rata post test, kriteria pengujiannya sebagai berikut.
1) Terima Ho jika t hitung < t(1 – 1/2 )(n1+n2 - 2), hal ini berarti nilai rata-rata post test kelas eksperimen kurang dari atau sama dengan nilai rata-rata post test kelas kontrol.
2) Tolak Ho jika t hitung ≥ t(1 – 1/2 )(n1+n2 - 2), hal ini berarti nilai rata-rata post test kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata post test kelas kontrol.
3.7.4 Uji Peningkatan Pemahaman Konsep
Keterangan:
g : besarnya faktor g
Spre : skor rata-rata pre test (%)
Spost : skor rata-rata post test (%)
Besarnya faktor-g dikategorikan sebagai berikut: Tinggi : g > 0,7
Sedang : 0,3 g 0,7
Rendah : g < 0,3 (Hake, 1998: 64)
3.7.5 Uji Signifikansi Gain Ternormalisasi
Uji ini bertujuan untuk menguji perbedaan antara hasil pre test dan post test dari masing-masing kelas sampel atau untuk melihat ada tidaknya peningkatan hasil belajar yang signifikan. Dalam pengujian ini digunakan hipotesis:
Ho: yang berarti tidak ada peningkatan yang signifikan. Ha: yang berarti ada peningkatan yang signifikan. Rumus yang digunakan untuk pengujian hipotesis;
keterangan:
= rata-rata kelas eksperimen = rata-rata kelas kontrol
= simpangan baku kelas eksperimen = simpangan baku kelas kontrol = varians kelas eksperimen = varians kelas kontrol
= korelasi antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol
Dengan menggunakan uji pihak kanan, apabila t hitung > t tabel, maka dapat dinyatakan bahwa ada peningkatan hasil belajar yang signifikan.
3.8
Lembar Pengamatan ( Observasi )
Data hasil observasi merupakan data pendukung dalam penelitian ini. Data hasil observasi ini disajikan dalam bentuk tabel dengan tujuan untuk mempermudah dalam membaca data. Kemudian dianalisis untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan pembelajaran fisika, serta aktivitas siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif.
Untuk menganalisis hasil observasi aktivitas siswa menggunakan analisis persentase. Setelah itu, mengubah skor mentah ke dalam bentuk persentase dengan rumus:
∑ Skor yang diperoleh
Persentase Skor Rata-rata = × 100%
Skor maks
Tabel 3.9 Kriteria Keberhasilan Terhadap Aktivitas Siswa Persentase Keberhasilan Interpretasi
81 – 100 Sangat Baik
61 – 80 Baik
41 – 60 Cukup
21 – 40 Kurang
< 21 Sangat Kurang
42
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Uji Coba Test
Uji coba perangkat tes dilakukan pada anak kelas IX SMP 2 Kaliwungu Kudus, hal ini mengambil pertimbangan bahwa anak kelas IX telah menerima materi pelajaran dengan proporsi yang sama. Jumlah soal yang diuji cobakan sebanyak 40 butir soal dalam bentuk soal tes obyektif selama 2 jam mata pelajaran. Setelah dianalisis yang meliputi reliabilitas tes, taraf kesukaran, dan daya pembeda serta validitas butir soal, maka dipilih 30 soal yang memenuhi kriteria sebagai alat ukur.
4.1.2 Pelaksanaan Penelitian
kedua kelas mengalami 3 tahap kegiatan yaitu pre test, pembelajaran, dan post test. Pre test di sini digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa apakah dalam
keadaan awal yang sama sebelum diadakan pembelajaran dan post test digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Pembelajaran dari kedua kelas hampir sama yaitu menggunakan metode ceramah dan diskusi untuk membuktikan sifat dan karakteristik cahaya. Perbedaannya pada kelas eksperimen diberikan metode demonstrasi sehingga siswa diberikan gambaran secara nyata sifat dan karakteristik cahaya.
4.1.2.1 Proses Pembelajaran Kelas Eksperimen
Pelaksanaan penelitian pada kelas eksperimen dibagi dalam enam kali pertemuan. Pertemuan pertama digunakan untuk pre test sedangkan pertemuan keenam digunakan untuk post test. Perangkat test untuk pre test dan post test yang digunakan adalah soal yang sudah diuji cobakan berupa soal obyektif berjumlah 30 butir dengan 4 pilihan jawaban.
4.1.2.2 Proses Pembelajaran Kelas Kontrol
Pelaksanaan penelitian pada kelas kontrol dibagi dalam enam kali pertemuan. Pertemuan pertama digunakan untuk pre test sedangkan pertemuan keenam digunakan untuk post test. Perangkat test yang digunakan adalah soal yang sudah diuji cobakan berupa soal obyektif berjumlah 30 butir dengan 4 pilihan jawaban, perangkat test untuk pre test dan post test yang digunakan pada kelas kontrol sama dengan kelas eksperimen.
Tahapan pelaksanaan penelitian untuk kelas kontrol berbeda dengan kelas eksperimen, untuk tahapan pada kelas kontrol adalah sebagai berikut : (1) ceramah dan diskusi materi pelajaran, dan (2) memberi latihan soal.
Ringkasan kegiatan kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 2.
4.1.3 Analisis Data Kemampuan Awal Siswa Sebelum Pembelajaran
4.1.3.1 Deskriptif Data Kemampuan Awal Siswa
[image:59.595.112.514.257.754.2]Kemampuan awal siswa sebelum diadakan pembelajaran dari kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Kemampuan Awal Siswa Sebelum Pembelajaran
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
n 38 38
Rata-rata 36,47 40,34
Varians 57,82 95,58
Standart deviasi 7,60 9,78
Maksimal 50 57
Berdasarkan pada Tabel 4.1 dari 38 siswa kelas eksperimen rata-rata kemampuan awalnya mencapai nilai 36.47 sedangkan kelas kontrol rata-rata kemampuan awalnya mencapai nilai 40.34. Kemampuan awal tertinggi kelas eksperimen mencapai nilai 50 dengan nilai terendah mencapai 23 sedangkan untuk kelas kontrol kemampuan awal tertinggi mencapai nilai 57 dengan nilai terendah mencapai 23. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelas tersebut masih dibawah batas ketuntasannnya yaitu 72.
4.1.3.2 Uji Normalitas Data Pre Test
[image:60.595.113.512.278.612.2]Hasil uji normalitas data pre test dari kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Data Pre test
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
x2hitung 7,6082 6,5412
Dk 3 3
x2 hitung 7,81 7,81
Kriteria Normal normal
Berdasarkan hasil analisis diperoleh x2 hitung untuk kelas eksperimen sebesar 7,6082 sedangkan untuk kelas kontrol sebesar 6,5412. Dari hasil perhitungan kedua nilai tersebut kurang dari x2 tabel pada taraf kesalahan 5% dengan dk = 3 yaitu 7.81, yang berarti bahwa kedua kelas tersebut berdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam analisis selanjutnya yaitu menggunakan statistika parametrik.
Hasil uji kesamaan varians data pre test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil Uji Kesamaan Varians Data Pre Test
Kelas Varians dk F hitung F tabel
Eksperimen 57,82 37
1,653 1,92
Kontrol 7,60 37
Berdasarkan Tabel 4.3 diperoleh F hitung sebesar 1,653 < F tabelsebesar 1,92 dengan dk (37:37) yang berarti bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai varians yang tidak berbeda.
4.1.3.4 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pre Test
[image:61.595.112.513.287.622.2]Hasil uji kesamaan dua rata-rata data pre test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Pre Test
Kelas Rata-rata dk t hitung t tabel
Eksperimen 36,47
74 -1,925 1,993
Kontrol 40,34
4.1.4 Analisis Data Hasil Belajar Siswa Setelah Pembelajaran
4.1.4.1 Deskriptif Data Hasil Belajar Siswa
[image:62.595.111.512.278.656.2]Kemampuan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dari kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Deskriptif Data Hasil Belajar Siswa Setelah Pembelajaran
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
N 38 38
Rata-rata 71,09 67,45
Varians 50,37 69,97
Standart deviasi 7,10 8,36
Maksimal 83 80
Minimal 53 47
4.1.4.2 Uji Normalitas Data Post Test
Hasil uji normalitas data post test dari kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Data Post Test
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
x2hitung 5,04 5,84
Dk 3 3
x2 tabel 7,81 7,81
Kriteria Normal normal
Berdasarkan hasil analisis diperoleh x2 hitung untuk kelas eksperimen sebesar 5,04 sedangkan untuk kelas kontrol sebesar 5,84. Dari hasil perhitungan kedua nilai tersebut kurang dari x2 tabel pada taraf kesalahan 5% dengan dk = 3 yaitu 7.81, yang berarti bahwa kedua kelas tersebut berdistribusi secara normal. Berdasarkan hasil analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam analisis selanjutnya yaitu menggunakan statistika parametrik.
4.1.4.3 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Post Test
Hasil uji perbedaan dua rata-rata data post test antara kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-rata Data Post Test
Kelas Rata-rata dk t hitung t tabel
Eksperimen 71,09
74 2,04 1,993
[image:63.595.113.515.233.681.2]Berdasarkan Tabel 4.7 diperoleh t hitungsebesar 2,04 > t tabel sebesar 1,993 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol.
4.1.4.4 Uji Peningkatan Hasil Belajar Kognitif
[image:64.595.111.512.283.639.2]Untuk menguji adanya peningkatan hasil belajar setelah adanya pembelajaran dari kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilihat dari hasil uji peningkatan yang menggunakan uji gain ternormalisasi seperti Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Hasil Uji Peningkatan Hasil Belajar Kognitif
Kelas Faktor g
<g> Kriteria
Eksperimen 0,54 Sedang
Kontrol 0,45 Sedang
Berdasarkan Tabel 4.8 diperoleh besarnya faktor g untuk kelas eksperimen sebesar 0,54 dengan kriteria pengambilan keputusan sedang, untuk kelas kontrol sebesar 0,45 dengan kriteria pengambilan keputusan sedang. Namun apabila dilihat dari besarnya faktor g dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.
4.1.4.5 Uji Signifikansi Gain Ternormalisasi
Tabel 4.9 Hasil Uji Signifikansi Gain Ternormalisasi
Kelas Rata-rata dk t hitung t tabel Kriteria Eksperimen 71,09
74 2,193 1,982 berbeda
Kontrol 67,45
Berdasarkan Tabel 4.9 diperoleh t hitung sebesar 2,192 > t tabel (1,982), yang berarti ada perbedaan yang signifikan, dimana peningkatan pemahaman konsep siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
4.1.4.6 Uji Observasi Aktivitas Siswa
Hasil uji observasi siswa antara kelompok eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Uji Observasi Aktivitas Siswa
Sumber variasi Eksperimen Kontrol
Nilai penskoran 2668,8 2350
Rata-rata aspek
penilaian 70,64% 61,84%
Kriteria Baik Cukup baik
[image:65.595.115.513.289.601.2]4.2 Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Februari – 19 Maret 2011 dengan mengambil populasi siswa kelas VIII SMP 2 Kaliwungu Kudus tahun ajaran 2010/2011. Populasi terdiri dari enam kelas yang terdiri dari kelas VIII A – kelas VIII F, namun di dalam penelitian ini hanya diambil sampelnya saja. Sampel dalam penelitian ini diambil dua dari enam kelas siswa SMP 2 Kaliwungu Kudus kelas VIII. Pada penentuan sampel peneliti menggunakan teknik random sampling, sehingga diperoleh kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan VIII E sebagai kelas kontrol.
Pada tahap pelaksanaan kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda, pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi sedangkan pada kelas kontrol diberi perlakuan dengan model ceramah dan diskusi. Pada penelitian ini kedua kelas mengalami 3 tahap kegiatan yaitu pre test, penerapan model pembelajaran (kegiatan inti), dan post test.
t untuk taraf kesalahan 5% dengan dk 74. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang nyata kemampuan belajar awal dari kedua kelas.
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Menurut suparno (2007:142) lewat demonstrasi siswa dapat mengamati sesuatu yang nyata dan bagaimana cara bekerjanya. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Sebelum demonstrasi dilakukan siswa diatur agar berkelompok, kelompok di sini dibentuk dengan sistem heterogen. Kelompok terdiri dari 4-5 orang, kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif karena model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan seting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok. Kelompok-kelompok ini berguna sebagai wadah siswa bekerja sama dan memecahkan masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya. Setelah demonstrasi, siswa dituntun untuk mengerjakan LKS yang telah disediakan. LKS pada penelitian di sini dibuat agak berbeda sehingga siswa lebih tertantang untuk mengerjakan LKS tersebut. Pada akhir pembelajaran siswa diberikan tes akhir, tes akhir ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pembelajaran yang telah dilakukan. Pada kelas kontrol pembelajaran hanya dilakukan secara ceramah dan diskusi tidak disertai dengan adanya demonstrasi alat peraga.
sebesar 36,47 mencapai 71,09. Untuk kelas kontrol kemampuan rata-rata meningkat dari sebesar 40,34 mencapai 67,45. Melalui uji t (pada Tabel 4.7) diperoleh t hitung sebesar 2,04 sedangkan t tabel sebesar 1,993. Karena t hitung lebih besar daripada t tabel maka Ho ditolak sehingga ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara kedua kelas, hal ini berarti pemahaman konsep pemantulan cahaya siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Untuk menguji adanya peningkatan hasil belajar digunakan uji gain ternormalisasi. Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan faktor gain untuk kelas eksperimen diperoleh sebesar 0,54 sedangkan untuk kelas kontrol faktor gain diperoleh sebesar 0,45. Dari uji gain tersebut didapatkan kriteria sedang untuk kelas eskperimen maupun kelas kontrol, hal ini berarti kedua kelas mengalami peningkatan dengan kriteria sedang. Secara garis besar, apabila dilihat dari faktor gainnya terlihat bahwa faktor gain dari kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol. Namun hal ini belum cukup untuk membuktikan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan antara kedua kelas tersebut. Melalui uji signifikansi gain ternormalisasi (pada Tabel 4.9) diperoleh t hitungsebesar 2,193 dengan t tabel 1,982, karena t hitung berada pada daerah penolakan Ho maka ada perbedaan peningkatan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, dimana peningkatan kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol.
jawaban yang sesuai untuk setiap permasalahan yang muncul. Sistem pembelajaran yang terjadi dapat menimbulkan ketertarikan/minat dan motivasi pada siswa dalam materi pemantulan cahaya dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Pada pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi siswa diarahkan bekerja sama dalam suatu kelas untuk berdiskusi dengan mengaitkan permasalahan yang muncul dengan apa yang telah didemonstrasikan. Dengan adanya demonstrasi siswa secara tidak langsung akan menggunakan pengalaman yang dia dapat sebagai suatu sarana yang dapat menghantarkan siswa agar lebih mudah memahami suatu permasalahan. Pembelajaran kooperatif dengan metode demonstrasi dapat mengkongkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam memahami materi pembelajaran. Adanya demonstrasi dapat membangkitkan motivasi siswa karena percobaan yang dilakukan berkaitan dengan apa yang terjadi pada kehidupan mereka sehingga proses pembelajaran menarik perhatian siswa. Motivasi dan ketertarikan tinggi ini berakibat pada kemauan belajar siswa, yang akhirnya berpengaruh terhadap pemahaman konsep pemantulan cahaya pada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2001 : 161) bahwa motivasi berfungsi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Secara lebih lengkap Hamalik (2001 : 161) menjelaskan fungsi motivasi ada tiga yaitu sebagai berikut :
2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Motivasi diandaikan sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Dalam pelaksanakan penelitian tidak hanya kemampuan kognitif saja yang dilihat, di dalam setiap pembelajaran baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol aktivitas tiap individu juga diamati. Pada setiap pertemuan aktivitas individu diamati dan dicatat dalam lembar observasi. Pengamatan pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol dilakukan oleh guru pendamping penelitian. Untuk mempermudah dalam pengambilan data, peneliti membuat penomoran bagi setiap siswa dari nomor 1 – 5. Penomoran ini telah ditentukan oleh peneliti sebelumnya agar tidak terjadi kegaduhan dalam kelas. Penomoran ditentukan berdasarkan kemampuan siswa, hal ini bertujuan memudahkan pengamat dalam mengambil data pada saat pembelajaran berlangsung.
dimungkinkan karena kelompok tersebut tidak membawa alat peraga berupa sendok sayur. Pada kelas kontrol aktivitas individu cenderung tidak mengalami perubahan dari pertemuan pertama sampai terakhir. Berdasarkan data aktivitas lembar observasi menunjukkan adanya perbedaan aktivitas individu. Melalui uji observasi aktivitas siswa (pada Tabel 4.10) diperoleh kemampuan psikomotorik siswa pada kelas eksperimen mencapai 70,64% dalam kriteria baik sedangkan kemampuan psikomotorik siswa pada kelas kontrol mencapai 61,84% dalam kriteria cukup baik. Berarti kemampuan psikomotorik siswa pada kelas eksperimen lebih aktif daripada kelompok kontrol, tapi hanya diambil sampelnya saja yaitu pada pertemuan kedua.
benda-benda tersebut sehingga lebih memudahkan siswa dalam menggunakan alat dan mengkaitkannya dengan pembelajaran dibandingkan dengan kelas kontrol yang tidak menggunakan alat peraga. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (2004 : 98) bahwa dengan melakukan percobaan menggunak