• Tidak ada hasil yang ditemukan

Images Analysis Densitas DNA Pada Mola Hydatidiform

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Images Analysis Densitas DNA Pada Mola Hydatidiform"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

I M AGES AN ALY SI S DEN SI T AS DN A

PADA M OLA H Y DAT I DI FORM

OLEH :

FI T RI AN I LU M ON GGA

DEPARTEMEN PATOLOGI ANATOMI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENDAHULUAN

Pada saat ini sering dijumpai kasus-kasus abortus spontan, tetapi hanya sekitar 15 %

dari seluruh kehamilan yang merupakan abortus spontan pada awal kehamilan. Para

ahli patologi menghubungkan abortus spontan tersebut dengan mola hydatidiform, oleh

karena penyakit ini (complete mole dan partial mole) merupakan penyebab abortus

spontan yang paling sering.

Pada beberapa kasus, diagnosa antara complete mole, partial mole dan hydrophic

abortus sering sulit untuk dilakukan, oleh karena gambaran morfologi sel – sel

trophoblast pada keadaan tersebut sering overlapping . Tetapi secara klinis , prognosis

dan gambaran cytogenetic antara kedua bentuk mola ini terdapat perbedaan. Ahli-ahli

patologi pada saat ini banyak melakukan penelitian pada hasil konsepsi pada trimester

pertama. Diferensial diagnose antara hydrophic abortus, complete mole dan partial

mole pada usia kehamilan trimester pertama sulit dilakukan, oleh karena dapat terjadi

pembuluh darah embryonal villi khorion yang kolaps pada partial mole mirip dengan villi

khorion pada complete mole. Serta adanya gambaran pseudocisterna yang dapat

terlihat pada beberapa kasus hydrophic abortion.

Para ahli patologi pada saat ini sebaiknya dapat mempertajam diagnosa dengan suatu

alat bantu dengan tehnologi yang tinggi untuk diferensiasi lesi secara dini. Pada lesi –

lesi trophoblastik yang mempunyai gambaran yang mirip dapat dilakukan pemeriksaan

(3)

COMPLETE MOLE HYDATIDIFORM

Pada waktu yang lalu complete mole rata-rata terjadi pada usia kehamilan 16 minggu,

tetapi pada saat ini dengan kemajuan tehnologi ultrasonografi, complete mole dapat

dideteksi pada usia kehamilan yang lebih muda. Secara klinis tampak pembesaran

uterus yang lebih besar dari usia kehamilan dan pasien memperlihatkan gejala toksik

pada kehamilan. Abortus terjadi dengan perdarahan abnormal dan disertai dengan

keluarnya jaringan mola.

Pada pemeriksaan laboratorium terjadi peningkatan titer serum human chorionic

gonadotropin ( -hCG) yang jumlahnya diatas 82,350 mIU/ml.

Gambaran mikroskopis dari complete mole adalah oedem pada villi dengan

pembentukan cistern. Cisterna adalah rongga aseluler yang terletak pada bagian

tengah villous yang berisi cairan oedem. Tetapi tidak semua villi terdapat cistern. Pada

villi dapat dijumpai nekrosis dan kalsifikasi parsial. Pembuluh darah pada villi biasanya

tidak terlihat , oleh karena perkembangan fetus yang terhenti pada awal masa

pembentukan placenta. Sel – sel trophoblast hyperplasia dan proliferasi abnormal yang

terdapat disekeliling villi chorion.

Pada sekitar 2 – 3 % kasus complete mole dapat berkembang menjadi

choriocarcinoma. Pada complete mole yang dini , terjadi pada usia kehamilan yang

masih muda (kurang dari 12 minggu) dengan villi yang masih halus dan cistern yang

belum tampak. Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat terminal villi berbentuk bulbous

dan seperti bunga kol , stroma villi hiperseluler dan karyorhexis. Oedem pada villi juga

(4)

Sel-sel trophoblast pada complete mole sering atypia dan membesar pleomorfik dengan inti

yang hyperkromatik. Aktifitas mitotik dapat dijumpai

Complete hydatidiform mole mempunyai komplemen genetik yang androgenetik, yaitu

material genetik berasal dari paternal. Pada sebagian besar kasus , complete mole

terjadi dari ovum yang tanpa inti (empty egg) yang kemudian dibuahi oleh satu sel

sperma dan selanjutnya duplikasi komplemen sperma haploid menjadi genotip yang

diploid. Sehingga biasanya complete mole mempunyai karyotipe 46 XX. Pada sebagian

kecil kasus (sekitar 15 % dari kasus), complete mole terjadi dispermy, yaitu pada

proses fertilisasi satu sel telur yang tanpa inti dibuahi oleh dua sel sperma dan

mempunyai karyotip 46XY. Mola dengan karyotipe 46 YY tidak pernah ditemukan,

karena keadaan seperti ini diduga bersifat lethal. Complete mole dengan triploid dan

(5)

PARTIAL MOLE HYDATIDIFORM

Partial mole secara makroskopis dan mikroskopis mempunyai gambaran yang mirip

dengan complete mole. Perbedaannya, pada partial mole tampak gambaran villi yang

normal dan oedem. Pada partial mole sering dijumpai komponen dari janin. Penderita

sering dijumpai pada usia kehamilan lebih tua, yaitu 18 – 20 minggu. Pada pemeriksaan

laboratorium, peningkatan kadar serum hCG tidak terlalu tinggi.

Gambaran mikroskopis yang tampak adalah sebagian villi immature yang relative

normal dan sebagian lagi villi dengan yang membesar dengan degenerasi hydrophic.

Pada tepi dari villi terdiri dari sel sel cytotrophoblast dan synsytiotrophoblast yang

tersusun irregular berbentuk scalloping. Cisterna jarang dijumpai. Dapat terlihat

pseudoinklusi trophoblast yang disebabkan oleh pemotongan tangensial villi pada tepi

villi yang irregular. Pada villi dapat terjadi fibrosis yang fokal. Derajat atypia dan

proliferasi trophoblast tidak terlalu banyak bila dibandiingkan dengan complete mole.

Pembuluh darah pada villi sering dijumpai.

Pada pemeriksaan cytogenetic, biasanya partial mole adalah triploid (69 kromosom)

dengan dua set kromosom yang berasal dari paternal(diandric) dan satu set maternal

haploid. Lebih dari duapertiga dari kasus, komposisi dari triploid kromosom ini adalah

69 XXY, jarang XXX dan sangat jarang XYY, dengan perbandingan kromosom paternal

: maternal adalah 2:1. Tetraploid dapat dijumpai pada partial mole yang mempunyai

(6)

antara complete mole dan partial mole ini tidak absolute. Oleh karena dapat terjadi

partial mole yang diploid dan kadang-kadang bias terjadi complete mole yang triploid.

Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa antara complete mole dan partial mole

memperlihatkan heterogenitas dalam pola ploidy. Pernah dilaporkan complete mole dan

partial mole yang haploid, aneuploid dan tetraploid. Pemeriksaan analysa DNA Ploidy

dapat membantu untuk membedakan klasifikasi mola tersebut dengan gambaran

morfologi yang mirip. Pada satu studi meneliti bahwa aneuploidy diduga merupakan

persisten pada complete mole. Studi yang lainnya menemukan bahwa aneuploidi pada

complete mole mempunyai resiko progresif yang lebih rendah dibandingkan dengan

diploid ataupun tetraploid.

Imprint gen mempunyai peranan yang penting pada perkembangan mola hydatiform.

Studi yang dilakukan pada mencit memperlihatkan bahwa gen yang berasal dari

paternal mempunyai peranan dalam perkembangan placenta dan gen yang berasal dari

maternal berperan dalam perkembangan fetus. Sehingga perkembangan materi genetik

paternal dapat menyebabkan proliferasi trophoblast yang berlebihan. Pada complete

mole hanya mempunyai DNA paternal sehingga terjadi proliferasi trophoblast yang

banyak bila dibandingkan dengan partial mole. Pada non molar troploid abortus yang

mempunyai perbandingan kromosom maternal : paternal adalah 2 : 1 dan berasal dari

nondisjunctional maternal kromosom sehingga terjadi perkembangan material genetik

maternal. Oleh karena itu pada non molar triploid abortus tidak terjadi proliferasi

(7)

Identifikasi paternal kromosom mempunyai peran yang penting dalam diagnosa mole

hydatidiform, maka banyak dikembangkan tehnik pemeriksaan yang berasal dari

paternal kromosom. Pemeriksaan tersebut antara lain adalah : Polymerase Chain

Reaction (PCR). DNA fingerprinting, restriction fragmen length polymorphism (RFLP)

assessment, short tandem repeat – derived DNA polymorphism, flowcytometri dan

analysis DNA dengan menggunakan images analysis.

HYDROPHIC ABORTUS

Mola hydatidiform sering dilakukan diferensial diagnosa dengan hydrophic abortus yang

disertai dengan oedem villi. Pada pemeriksaan mikroskopis , villi tampak oedem dan

avascular. Kadang-kadang dapat dijumpai inklusi trophoblast. Proliferasi trophoblast

pada hydrophic abortus terdistribusi secara polar, hanya tampak pada permukaan

(8)

abortus dapat diploid, triploid ataupun aneuploid, sehingga pemeriksaan analysa DNA

ploidy hanya digunakan untuk membedakan mola dari hydrophic abortus.

(9)

Normal Conception

Monospermic Complete Mole

 

Dispermic Complete Mole

 

(10)

ANALISA DNA PLOIDY

Gambaran kromatin pada inti sel memperlihatkan morfologi DNA secara garis besar

yang berada pada inti. Gambaran kromatin merupakan gambaran yang paling penting

untuk menandakan suatu proses patologi. Untuk memeriksa gambaran kromatin pada

inti, diperlukan pewarnaan dan fiksasi yang baik. Kromatin ini paling jelas terlihat

dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran yang tinggi (40x, 60x, 100x).

Gambaran kromatin inti pada sel yang normal terlihat halus. Pada keadaan yang

meningkatkan aktivitas sel, seperti proses reaktif ataupun neoplasma, kromatin

mengalami perubahan yaitu menjadi lebih mudah dilihat. Gambaran yang sering terlihat

berupa retikular, granular, kasar, berkelompok dan yang paling penting sebarannya

merata atau tidak. Gambaran kromatin inti yang tersebar tidak merata merupakan salah

satu petunjuk yang kuat terhadap sel malignan.

DNA berada pada kromatin . Struktur kromatin terdiri dari rangkaian bola-bola yang

diikat oleh rantai molekul DNA. Komponen bola tersebut adalah histon yang merupakan

protein dasar khusus kromatin. Kadar DNA dalam inti dapat ditentukan keberadaannya

secara normal dan dapat ditetapkan dengan mengukur densitasnya. Banyaknya DNA

pada inti sel pada fase interfase adalah tetap, tetapi pada sel-sel yang mengalami

pembelahan, jumlah DNA dapat berubah. Pada proses malignansi, terjadi pembelahan

yang hebat pada sel , sehingga DNA dapat bertambah 2 kali , 4 kali, 8 kali dan

seterusnya kelipatan dua. Pada beberapa jenis kanker , terjadi perubahan pada

(11)

ditetapkan melalui pengukuran inti sel yang diwarnai spesifik untuk DNA, yaitu

pewarnaan feulgen

Untuk memeriksa kandungan DNA pada inti sel dapat dapat dilakukan dengan

pewarnaan feulgen dan kemudian diukur densitas warna merah – ungu yang tampak

pada sediaan sitologi tersebut. Pewarnaan Feulgen ini pertama kali dikemukakan oleh

Robert Feulgen yang melakukan identifikasi materi kromosom atau DNA pada sel.

Dengan pewarnaan feulgen , struktur kromatin dapat dibedakan dengan melihat

proporsi dari kromatin yang terkondensasi dengan yang tidak terkondensasi ,

tergantung pada penyerapan molekul zat warna terhadap substratnya. Pada analisa

gambar dilakukan penilaian kuantitasi terhadap derajat kepadatan kromatin pada

sejumlah sel dan kemudian dilakukan analisa stastistik.

Tekstur Kromatin Inti Pada Analisa Gambar

Dalam menegakkan diagnosa secara sitologi melalui morfometri, penilaian tekstur

kromatin merupakan salah satu kriteria utama. Pada saat ini penilaian tekstur kromatin

inti merupakan pemeriksaan yang dapat diulang dan digunakan untuk diagnosa yang

rutin ( Einstein et al, 1997). Pada waktu yang lalu penilainan kromatin inti berdasarkan

tekstur primitive atau texton dengan menilai unit struktural (texton) yang tersembunyi

didalam kromatin (Deligdish et al, 1993). Pada analisa gambar, tekstur dihitung melalui

distribusi gray level yang dapat dinilai secara kuantitasi dan menghasilkan gambaran

yang numerik. Cara yang sangat sederhana untuk menilai texton adalah dengan

membagi kisaran intranuklear gray level kedalam tiga ekual sektor , menghitung nilai

(12)

Selanjutnya inti sel akan memperlihatkan gambaran mosaik berwarna hitam, kelabu

dan putih dalam nilai yang bervariasi. Ukuran dan jumlah dari tekston ini akan

digunakan untuk klasifikasi (diagnosa).

Sebagian besar peneliti menganjurkan untuk menganalisa tektur kromatin ini

berdasarkan pada fraktal analisa ( fraktal analisa dari Mandelbrot , 1993). Dimensi

fraktal merupakan penghitungan yang dapat diulang kembali terhadap ketidakteraturan

bentuk inti sel pada sediaan sitologi. Einstein et al, 1998, meneliti bahwa kromatin inti

mempunyai struktur fractal.

Kuantitasi Images Analisis

Analisa kualitatif dan kuantitatif pada bidang patologi anatomi saat ini didominasi oleh

software yang menggunakan algoritme. Pada penggunaan analisa gambar, hal utama

yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan mutlak pada image segmentasi (deteksi

batas inti). Aplikasi analisa gambar dengan menggunakan komputer ini pada bidang

patologi anatomi diharapkan dapat menjadi alat yang dapat diandalkan , dapat diulang

pemeriksaannnya dan objektif dalam menentukan diagnosa.

Analisa gambar merupakan teknik monokromatik yang kuat yang berdasarkan pada

perbedaan intensitas gray level pada area yang berwarna dan yang tidak berwarna.

Kuantitasi pada pemeriksaan imunohistokimia dapat menjadi aplikasi aplikasi

densitometri khusus yang berdasarkan pada skala gray level. Pada banyak kasus ,

jumlah zat warna akan sebanding dengan konsentrasi substratnya, hubungan ini sesuai

(13)

Segmentasi Inti

Pengertian segmentasi pada dasarnya adalah membuat suatu batas antara dua buah

kompartemen. Pada analisa gambar, segmentasi inti berarti yang membuat garis batas

disekeliling inti sehingga dapat memisahkan inti dari sitoplasma. Jika inti sel sudah

disegmentasi , maka akan lebih mudah untuk dianalisa dan dilakukan penilaian secara

komputerisasi pada daerah inti yang sudah dibatasi tersebut. Segmentasi ini dapat juga

dilakukan pada sitoplasma sehingga sitoplasma dapat dipisahkan dari latar belakang.

Akan tetapi pada sebagian besar kasus, hal ini sulit untuk dilakukan oleh karena sering

batas sitoplasma tidak jelas sehingga segmentasi sitoplasma menjadi tidak tepat.

Gambar : Segmentasi dari inti sel

Pada beberapa studi dilakukan penelitian terhadap kasus – kasus abortus dengan

melakukan analisa terhadap DNA ploidy. Tehnik yang menggunakan analisa DNA

cytometri melalui images analysis lebih disukai dibandingkan dengan flowcytometri.

Pada images analysis dapat dilihat secara langsung populasi sel yang akan hitung DNA

nya dengan memeriksa kandungan DNA pada sel ( densitas) maupun morfologinya.

Pada penelitian ploidy analisis pada penyakit mola yang dilakukan oleh Ostherheld et

(14)

diploid (index 0,8 – 1.15), pada tetraploid tampak puncak utama pada 1.70 – 2.30,

sedangkan pada triploid mempunyai index antara 1.3 – 1.55.

Untuk mendapatkan diagnosa yang lebih akurat pada kasus abortus spontan dan

penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan patologi yang meliputi pemeriksan

histopatologi, images analisis DNA cytometri dan immunohistologi. Pemeriksaan ini

dilakukan untuk menyingkirkan diferensial diagnosa pada mola hydatidiforme dan untuk

(15)

DAFTAR PUSTAKA

1. Gil J , Wu H , Image Analysis and Morphometry in the Diagnosis of Breast Cancer, Microscopy Research And Tehnique 59 . 2002 :109-118

2. Gil J, Wu H, Application of Image Analysis to Anatomic Pathology : Realities and Promises , Cancer Investigation Vol.21, No.6. 2003 : 950-959

3. Einstein AJ, Fractal characterization of chromatin appearance for diagnosis in breast cytology, available at http://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/abstract

4. Moore GW, Berman JJ, Sydnor DL., Fractal Dimension for Pathology Images, a Repeatable and Quantitative Measurement of Nuclear Rim Irregularity.

Am J Clin Pathol 102. 1994 :538.

5. Fractal Evolution, available at : http://www.fractal.org/Bewustzijns-Besturings-Model/Fractal-Evolution.htm

6. Stacey E.Mills , Ming Shih IE, Mazur MT. Gestational Trophoblastic Disease.In : Stenberg’s Diagnostic Surgicl Pathology . 4th Ed. Vol 2. Lippincott Wiliams and Wilkins. Philadelphia. 2004 : 2279 - 90

7. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, The Female Genital Tract. In: Robbins and Cotran Pathology Basis of Disease. 7th Ed, Philadelphia. Elsevier Saunders. 2005 : 129 – 14

8. Beil M, A dual approach to structural texture analysis in microscopic cell images, available at : http://www.sciencedirect.com/science

9. Imaging Research , MCID Analysis TM Version, 7.0 , available at : www,imagingresearch.com

10. Feulgen stain, available at : http://en.wikipedia.org/wiki/Feulgen_stain 11. Feulgen (DNA) Staining Procedure , available at :

www.cvm.missouri.edu/vmdl/vmdl_histo_sop/sophisto/FEULGEN.DOC

12. Feulgen stain, available at : http://en.wikipedia.org/wiki/Feulgen_stain

(16)

14. Boon ME, Standarization and Quantitation of Diagnostic Staining in Cytology , Coulomb Press Leyden . 1986 :21 – 22

15. Mazur MT, Kurman RJ. Gestational Trophoblastic Disease. In : Diagnosis of Endometrial Biopsies and Curetting . 2nd Ed. Springer . USA, 2005: 69-78 16. Baergen RN. Gestational Trophobalstic disease . In : Manual of Benirschke and

Kaufmann’s Pathology of the Human Placenta . Springer. USA. 2005 : 416 – 32 17. Gestational Trophoblastic Disease: Trophoblastic development, down load :

http://www.pathologyresource.com/AFIP/uterine/chap10.htm

18. Osterheld,M.C et al, Combination of Immunohistochemistry and Ploidy Analysis to Assist Histopathologycal Diagnosis of Molar Disease , Clinical Medicine,Pathology 2008 : 61 – 67

19. Lage J.M, Gestational trophoblastic tumors: refining histologic diagnoses by using DNA flow and image cytometry, down load :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7742500?ordinalpos=1&itool=EntrezSystem2.

PEntrez.Pubmed.Pubmed_Re

20. Jeffers M.D, Comparison of Ploidy Analysis by Flow cytometri and Images Analysisin Hydatidiform Mole and Non-molar Abortion, down load

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8575731?ordinalpos=1&itool=EntrezSystem2.

PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_Disco

very_RA&linkpos=5&log$=relatedarticles&logdbfrom=pubmed

21. Williams R.A, et al , Image analysis DNA densitometry measurements on complete and partial hydatidiform mole and nonmolar products of conception, download :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8598331?ordinalpos=1&itool=EntrezSystem2. PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_Disco very_RA&linkpos=3&log$=relatedarticles&logdbfrom=pubmed

22. Keith Killian , Genomic Imprinting: Parental differentiation of the genome Download: http://atlasgeneticsoncology.org/Deep/GenomImprintID20032.html

Gambar

Gambar :  Segmentasi dari inti sel

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapat hasil kejadian abortus yang sering terjadi pada kelompok usia 20-35 sebanyak 59 orang (62,8%), berdasarkan paritas paling

Kesimpulan : diagnosa yang muncul pada kasus Ny.K hamil disertai dengan plasenta previa adalah anemia berhubungan dengan perdarahan antepartum, intoleransi

seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes. Demonstrasi yang marak akhir-akhir ini sering disertai dengan tindakan yang tidak bertanggungjawab yaitu dengan

Pemikiran ini berdasarkan survey yang telah dilakukan selama praktik 5 minggu banyak kasus yang sering dijumpai yaitu diagnosa medis gastritis diagnosa keperawatan

Kesimpulan : diagnosa yang muncul pada kasus Ny.K hamil disertai dengan plasenta previa adalah anemia berhubungan dengan perdarahan antepartum, intoleransi

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatkan prestasi belajar mahasiswa pada pembelajaran Kalkulus Diferensial yang disertai praktikum dengan

4.2 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan tinjauan pustaka terdapat diagnosa keperawatan diantaranya yang sering muncul pada penderita hipertensi yaitu : 4.2.1 Nyeri akut berhubungan

Diagnosa keperawatan Berdasarkan diagnosa keperawatan dari pengkajian yang dilakukan pada pasien didapatkan diagnosa keperawatan resiko gangguan perkembangan anak berhubungan dengan