PENCARUH PEMBENGKOKAN SUDUT MATA PANCING
TERHADAP HASIL TANGKAPAN
OLEH
NOFRIZAL
PROGRAM PASCA SARJANA
JNSTITUT PERTANJAN BOGOR
ABSTRAK
NOFRIZAL. Pengaruh Pembengkokan Mata Pancing Terhadap Hasil Tangkapan. Dibimbing oleh M. FED1 A. SONDITA dan SULAEMAN MARTASUGANDA.
Mata pancing sangat penting dalam operasi penangkapan ikan dengan pancing (line fishing). Kegagalan pemancingan umumnya terjadi setelah ikan memakan umpan adalah salah satu masalah utama yang melatar belakangi penelitian ini. Untuk lnenurunkan tingkat kegagalan tersebut di perlukan desain bentuk mata pancing yang baik. Mata pancing dengan sudut bengkokan antara shunk dan throat diharapkan dapat meningkatkan keefektifan pemancingan.
Pengamatan tingkah laku ikan di akuarium selama proses tertangkapnya ikan oleh pancing menunjukan bahwa mata pancing yang memiliki sudut 15' dan 30' adalah lebih efektif dari yang tidak memiliki sudut, karena mata pancing ini memiliki peluang terkait yang cukup besar akibat adanya sudut antara shank dan fhrout. Pada pancing tersebut posisi porn[ dan slwrzk tidak lagi berada pada posisi yang sejajar, sehingga porn/ lebih mudah tertusuk dan terkait pada bagian rongga mulut ikan. Nan~un sudut yang terlalu besar dapat menurunkan keefektifan mata pancing yang dioperasikan secara pasif Hal ini disebabkan sudut yang besar menghasilkan celah yang besar pula sehingga ikan dapat 'merasakan' adanya mata pancing di dalam m ul utnya dan memuntahkannya keluar.
Pengujian pengaruh sudut pembengkokan terhadap hasil tangkapan dilakukan dengan menggunakan metode e.t-perirnentul fishing di sebuah kolam pemancingan dengan menerapkan pemancingan dengan metode pasif (mengunakan pancing lotzg Irnr) dan metode abif (menggunakan pancing spinning). Mata pancin yan terbaik
5
.r:
untuk pemancingan secara pasif adalah mata pancing bersudut 15 . UJI Anova menyimpulkan hasil tangkapan (hook rule) berbeda nyata (a = 0,05). Uji lanjutan ujibeda nyata terkecil dari Fisher's, menyimpulkan mata pancing bersudut 15' tidak berbeda nyata dengan mata pancing tanpa sudut (o"), mata pancing tanpa sudut tidak berbeda nyata dengan mata pancing bersudut 30". Perbedaan yang nyata hanya terlihat pada hail tangkapan mata pancing bersudut 15" dan bersudut 30'.
Judul Tesis : Pengaruh Pembengkokan Sudut Mata Pancing Terhadap Hasil Tangkapan
Nama Mahasiswa : Nofrizal
Nomor Pokok : P26500004
Program Studi : Teknologi Kelautan Program Pasca Sarjana IPB
Disetujui
I . Komisi Pembimbing
Dr. Sulaeman Martasu anda B.Fish.Sc. M.Sc
Ketua Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Prograt~i Studi ogram Pasca Sarjana
2
4
JUL 2002RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Taluk Kuantan Provinsi Riau pada tanggal 25 November 1974 sebagai anak keempat dari lima bersaudara, dari pasangan Raja Amir dan Darnis.
Penulis menempuh pendidikan dasar di SDN 06 Tanjung Pinang. Selanjutnya penulis melanjutkan sekolah di SMPN 06 Tanjung Pinang hingga kelas I1 dan pindah ke SMPN 03 Pekanbaru pada kelas 111 yang akhirnya menyelesaikan sekolah disana. Penulis melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMA PGRI I Pekanbaru. Selanjutnya penulis menempuh pendidikan sarjana di Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, pada tahun 1994 dan lulus pada tahun 1998.
Kesempatan untuk melanjutkan ke program pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Teknologi Kelautan Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor diperoleh pada tahun 2000. Dengan beasiswa BPPS-DIKTI.
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang be rjudul:
PENGARUH PEMBENGKOKAN SUDUT
MATA
PANCING
TERHADAP HASIL TANGKAPAN
Adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belu~n pernah
dipublikasikan. Semua sumber data dan inforrnasi yang digunakan telah dinyatakan
secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Mei 2002
PENGARUH PEMBENGKOKAN SUDUT MATA PANCING
TERHADAP HASIL TANGKAPAN
NOFRIZAL
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Teknologi Kelautan
PROGRAM STUD1 TEKNOLOGI
KELAUTAN
PROGRAM
PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Mata pancing merupakan bagian yang terpenting pada alat penangkapan ikan dengan pancing (linefishing). Keberhasilan usaha penangkapan dengan alat tangkap ini samgat ditentukan oleh desain dan bentuk mata pancing yang baik. Kegagaian pemancingan yang umumnya te rjadi setelah ikan memakan umpan merupakan salah satu masalah utama yang melatarbelakangi penelitian ini.
Tema yang dipilih dalam peneiitian ini adalah modifikasi bentuk mata pancing, sehingga judul tesis yang diajukan adalah: "Pengaruh Pembengkokan Sudut Mata Pancing Terhadap Hasil Tangkapan". Hasil penelitian ini diharapkan dapat menemukan suatu bentuk bengkokan sudut mata pancing yang efektif untuk pernancingan.
Daiam penulisan tesis i ni, penui is telah berupaya semaksimal mungkin tetapi ticiak nienutup kemungkinan ~nasi h a& kek urangan-kekurangan. Untuk i tu, penuiis sangat mengharapkan kritik dan saran dari selnua pihak guna kesempumaan tesis ini. Seinoga tesis ini bemanfaat.
UCAPAN TERIMA KASlH
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini. Penyelesaian tulisan ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis menghaturkan rasa terimah kasih kepada:
1. Dr. Ir. M. Fedi A. Sondita, M.Sc selaku Ketua Kolnisi Pembiinbing yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran selama proses pembimbingan hingga selesai.
2. Dr. Sulaernan Martasuganda, B.Fish, M.Sc. selaku Anggota Komisi Peinbimbing
yang juga telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran selama proses pembimbingan hingga selesai.
3. Ketua dan seluruh staf Program Studi Teknologi Kelautan PPS-IPB yang telah banyak msinbantu penulis selama inasa studi hingga selesai.
1. "Team " 1,aboratorium Tingkah Laku lkan PSP - FPlK IPB yang telah banyak
rnernhantu dan menyediakan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan penelitian
. .
t n i .
5. Fakultas Perikanan dan Ilrnu Kelautan Universitas Riau atas kesempatan yang diberikan kepada penu!is untuk ineneruskan jenjang studi S2 di Institut Pertanian
Bogor.
6. Prof Dr. Muchtar Ahtnad. M.Sc, Ir. Syaifuddin, M.Sc dan Irivandy Syofyan, S.Pi
7. Sapak, ibu, Bang Frites, Kak Yenni, Kak Rita dan Adik Rina dan keiuarga tersayang di Pekanbaru, yang teiah me~nberi semangat dan dorongan serta doa
untuk menyeiesaikan stucii.
8. Bapak clan ibu iji Rajiman berserta keiuarga cii Bekasi, terima kasih atas segaia
perhatian yang diberikan.
9.
as
"n'dut" Faiic sebagai juru kamera dan yang teiah lnembantu dan menemanipenuiis seiarna ini. Sung~rujl sebuah persahabatan yang berarti bagi penuiis.
.
,-,IU. Pak
mi,
Heru, ivi'ba Ocha, ivi'ba Erina, ivf'ba Eva, hi'ba iia, Ivlas Arier', PakBurhannudin, Fak Duto, Pak Mahiswara, Sophia Sandi dan seiuruh inahahsiwa
Program Studi Teknoiogi Keiautan iainnya yang teian banyak lnembantu dan memberikan motivasi kepada penuiis.
i i . Seiuruh penghuni Puri Chiwandi, khususnya team domino (Romi "8ocek", Acii "Cepak", Abot, Eri j, Romi "Kocai", joey, Garor, Ahmad, joko, Aerii, Tams~r, Siivana, Meiiisa, inaah, Bibi, Tuti, ika, ibu Andi, ibu Ayu dan Pak Bustaini
berserta Ibu Haji, terimah kasih atas perhatian dan dukungan moriinya. *
,.
i ~Rina adikku tersayang, rewei dan tercerewet, terima kasih atas seiuruh .
pengorbanan dan kasih sayang yang diberikan kepada penuiis seiama ini. . A
~ j . Dan semua pihak yang tidak dapat disebut namanya satu persatu, yang tidak
DAFTAR IS1
Halaman
DAFTAR TABEL ... vi ...
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix I . PENDAHULUAN ... I
1.1 Latar belakang ... 1
...
1.2 Perurnusan masalah 2
1.3Tujuandanmanfaatpenelitian ... 3 1.4 Hipotesis ... 3 I1 . TINJAUAN PUSTAKA ... 4 2.1 Mata pancing ... 4 2.2 Modifikasi mata pancing ... 9
...
2.3 Umpan 19
...
III . METODOLOGI 27
...
3.1 Tempat dan waktu penelitian
...
3.2 Metode dan rancangan penelitian
1 1
3 . 3 Alat dan bahan ...
3.3.1 Peralatan dan bahan penelitian pendahuluan ...
3 3 . 2 Peralatan dan bahan penelitian lanj utan ...
...
3.4 Prosedur dan pengumpulan data penelitian
3.4.1 Prosedur dan pengumpulan data penelitian secara pasif ...
3.4.2 Prosedur dan pengumpulan data penelitian secara aktif ... . .
...
3.5. Analls~s data
3.5.1 Asumsi ...
IV . HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44 4.1 Hasil Penelitian Pendahuluan: Tingkah Laku lkan dan Proses
Tertangkapnya oleh Pancing di Akuarium ... 44 4.2 Hasil Penelitian Lanjutan: Uji Coba Bentuk Mata Pancing di
...
V . KESIMPULAN DAN SARAN 74
...
5.1 Kesimpulan 74
6.2 Saran . . . 75
...
DAFTAR PUSTAKA 77
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Sistem penomoran mata pancing yang memiliki dmneter batang (shank)
...
berbentuk bulat (regular hook type) menurut F A 0 8 2 Sistem penomoran mata pancing yang memiliki diameter batang (shunk)
... berbentuk bulat memanjang @ged hook type) menurut F A 0 8
...
3 Spesifikasi
mata
pancing yang dimodif 364 Hasil pengamatan pemancingan di akuarium pada penelitian pendahuluan . . ... 46
5 Persentase posisi terkaitnya mata pancing dalam rongga mulut ikan dari hasil pemancingan di akuarium pada peneiitian pendahuluan ... 5 1
6 Data laju hasil tangkapan per-seratus mata pancing pada alat tangkap
. .
long line yang dwjicobakan ... 57 7 Persentase posisi terkaitnya mata pancing dalam rongga mulut ikan dari
h a i l pemancingan dengan metode pasif (pancing long line) ... 60
8 Total hasil tangkapan dari kelima pemancing dengan menggunakan pancingsp~nn~ng ... 63
9 Persentase posisi terkaitnya mata pancing dalam rongga mulut ikan dari hasil pemancingan dengan menggunakan metode aktif (pancing
...
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Bagian-bagian mata pancing . . . 5 2 Mekanisme terkaitnya mata pancing pada rongga mulut ikan ... I I
...
3 Berbagai bentulc mata pancing 12
4 Mata pancing tuna tanpa duri/piarit (hurh) alat tangkap huhate @ole and
...
line). 1 4
5 Proses terkaitnya mata pancing dengan s h ~ ~ r l k lurus dan sl~unk berbentuk k urva . . . 14
6 Mata pancing tuna berbentuk "G" (circle /took) dan proses terkaitnya mata pancing tersebut ... 1 5
7 Tipe mata pancing yang diujicobakan pada alat tangkap rawai (long line) oleh Huse ( I 979) ... 1 5
8 Morfologi bagian rongga mulut dan tengkorak kepala ikan nila (Oreoclzromis spp) psis1 dimana kemungkinan mata pancing akan . . .
mengait 1 8
. .
9 Bentuk mata pancing yang drujrcobakan ... 29
10 Proses tertangkapnya ikan oieh alat tangkap pancing . . . 45 11 Diagram proses tertangkap dan lolosnya ikan pada alat tangkap pancing 48 12 Posisi terkaltnya mata panclng tanpa sudut 0' ( H I ) pada bagian rongga
...
mulut ikan.. 50
13 Posisi terkaitnya mata pancing bersudut 15"
(Hz)
pada bagiail rongga. . .
rnulut ikan 50
15 Persentase posisi terkaitnya mata pancing pa& bagian rongga mulut ikan dari hasil pemancingan di akuarium pada penelitian pendahuluan ... 52
I 6 Total hasil tangkapan (A) dan rataan hook rute (l3) untuk ketiga jenis mata pancing yang diteliti dengan pancing lung /me.. ... 58
17 Persentase posisi terkaitnya mata pancing pada bagian rongga mulut .. ikan dari hasil pemancingan dengan menggunakan pancing long line). 6 1
18 Histogram total hasil tangkapan ketiga bentuk mata pancing yang diuji cobakan pada pemancingan secara aktif ... 64
19 Persentase posisi terkaitnya mata pancing pada bagian rongga mulut ikan dari hasil pemancingan dengan menggunakan pancing
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
. .
1 Peralatan penelltian ... 8 1
... 2 Konstruksi pancing yang digunakan pada penelitian awal 82
...
3 Desain dan kostruksi long line 83
. *
4 Pancing spinning yang digunakan pada penelitian ujicoba bentuk mata pancing ... 84
5 Kolam pemancingan tempat dilakukannya ujicoba bentuk mata pancing.. 85
6 Hasil pengolahan data hasil tangkapan perseratus mata pancing dengan uji hipotesis statistik ANOVA rancangan acak lengkap ... 86
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penggunaan berbagai macam alat dan kapal penangkapan ikan oleh nelayan tradisional sebagai sarana untuk memanfaatkan sumberday~ hayati laut terkadang
masih terdapat kelemahan; salah satu di antaranya adalah rancangan dan konstruksi yang tidak tepat. Hal ini dapat tejadi karena kebiasaan para nelayan dan
ketergantungan mereka pada pengetah uan yang di peroleh secara turun temurun. Oleh karena itu upaya untuk ~nemodifikasi berbagai macani alat penangkapan jarang terjadi.
Alat tangkap yang biasa digunakan oleh masyarakat nelayan terdiri dari berbagai jenis jaring, pancing, perangiiap. dan sebagainya. Alat tangkap pancing (lir7e . f i s l ~ i i ~ g ~ L ' u I ' ) banyak dioperasikan di perairan laut maupun tatcsr, baik yang bersifat
komersial skala besar, seperti long lini., huhate (pnlc cmd line) maupun perikanan skala lcecil, seprti rawai (mrrri Iort,g Irrtc~), raicai tancap, pancing ulur (ver/icuI Orop itne) dan sebagainya.
Pancing biasanya digunakan untuk menangkap ikan pelagis maupun demersal,
terutama untuk jenis ikan karnivora seperti kakap (l,ir/e.v C U I C U I I ~ ~ ~ ) , tuna (Tllut7nzt.v
spp), cucut (('urclturi~ri~itrc.), tongkol (f<r,/hynnzi.v c#jirzi.v), cakalang (Ku/.suw:~trus peiumi.v), ikan layaran ( A ' t p i i ~ ( ~ . ~ ~ I u L I I u . ~ ) dan jenis ikan kamivora iainnva. iieefektifan
dilakukan oleh nelayan sering terjadi pada saat urnpan berserta mata pancing yang dimakan ikan gaga1 mengait bagian rongga mulut ikan.
Proses penemuan alat penangkapan yang bersifat inovatif tidak terlepas dari pengetahuan tentang tingkah laku ikan yang menjadi sasaran utama penangkapan.
Ikan karnivora yang menjadi sasaran penangkapan dengan pancing akan menyarnbar mangsa dengan mulutnya dan mengerakan mangsa tersebut ke kiri dan ke kanan dengan tujuan untuk mematikan mangsa sebelum ditelan. Oleh karena itu keefektifan
pancing standar (yaitu pancing yang tidak memiliki sudut antara shunk dan tl~roirt) akan berbeda dengan pancing yang bersudut. Perbedaan ini disebabkan jenis pancing
pertama menempati ruang relatif besar sehingga mata pancing di dalam rongga inulut ikan tidak bergerak pada saat ikan menelan urnpan. Sudut antara slwnk dan tl~rout
juga akan mempennudah bagian point pada mata pancing mengait rongga mulut ikan tersebut.
Karena peran mata pancing sangat penting dalam operasi penangkapan ikan yang
mengunakan metode lmr fi.~l~il?g, peneliti tertarik untuk membandingkan hasil
tangkapan dari mata pancing yang berbeda bentuknya, yaitu rnata pancrtig standar
dan yang teiah dimodifikasi dengan bengkokan sudut.
1.2. Perumusan masalah
Kegagalan ikan tertangkap dalarn upaya pemancrngan darr ka11 setelah mernakan
umpan adalah salah satu masalah utama Hal In1 kemunghlnan d~sebahkan olch
bentuk rnata pancrng yang trdak cesuar dengan rnorfologr rongga cnulut ~ h a n tang
menurunkan frekuensi kegagalan, modifikasi bentuk mata pancing diharapkan dapat
mengatasi pennasalahan tersebut.
1.3. Tujuan dan manfaat penelitian
Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil tangkapan dari dua bentuk mata
pancing yang berbeda, yaitu mata pancing standar (tanpa sudut) dan mata pancing
dengan bengkokan sudut. Dari penelitian ini diharapkan dapat menemukan suatu
bentuk bengkokan sudut mata pancing yang efektif untuk penangkapan ikan-ikan
yang memiliki kesamaan inorfologi dan tingkah laku dengan ikan nila (0reochrorni.s
) l l / O / I C ' I J . Y ) .
1.4. Hipotesis
Sesuai dengan masalah yang teridenti fi kasi, hipotesis yang diajukan adalah sudut
11.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. M a t a pancing
Mata pancing semula dibuat orang dari bahan batu, tanduk, tulang atau cangkang
binatang dengan bentuk sederhana (Sahrhage dan Lundbeck, 1992). Sekarang mata pancing dibuat dari logam dengan bentuk dan ukuran bermacam-macam, disesuaikan
dengan ikan yang akan ditangkap. Teknik penangkapan yang akan digunakan mensyaratkan bahwa, mata pancing harus terbuat dari bahan yang kuat (tidak lentur
atau fleksibel), tidak mudah berkarat apabila terkena air laut, mudah penanganannya, mudah diperoleh dan murah harganya.
Mata pancing merupakan salah satu komponen yang sangat penting dari satu unit pancing. Tanpa mata pancing mustahil seorang dapat melakukan kegiatan memancing di suatu perairan (U'udianto. Mahisivara dan Anung, 1993). Mata pancing sendiri memiliki beberapa bagian ssperti tertera pada Gambar 1 berikut:
Mata pancing sebatkn!.a memiliki sudut lengkungan atau bend sedemikian rupa
sehingga ikan tidah mudah Iepas, mudah penanganannya dan gerakan mata pancing
di air aapat leluasa (Ditjenlian, 1986). Seiring dengan itu pembengkokan mata pancing hingga membentuk lekukan sudut antara shunk dan rhroui bertujuan memperkecil ruang gerak mata pancing tersebut di dalam rongga mulut ikan hir~gga peluang pancing untuk mengait bagian mulut ikan menjadi besar.
. . . . . . . . . . . .
[image:137.774.49.679.89.524.2]'I'am pak depan
... ... ... . ....,.,.. ... ,..,..,.... . ... ...
Keterangan:
A. Mata (e-ye)
B. Sl~ank (1,engtlr of hook)
C. Diameter batang mata pancing (wire diameter) D. Jarak antara shank dan throat.(gup).
E. Durilpiarit (h(1r.h)
F. Pengait atau panjang bagian keseluruhan point, hurh dan I W ~ I I L V of hurh (tl~rout)
G. Bagian mata pancing yang runcing dan tajam (point) H. Sudut lengkungan (bend)
F I. Jari-jari bagian dalam pada tl~roat (rudizita of'barb) J. Jari-jari bagian dalaln pada shank (rud~z~.s ofshank)
S l r ~ ~ ~ h c r : l'~.t/r/o ( 1 990)
dimakan oleh ikan walaupun mata pancing berada pada posisi melintang atau sejajar
dengan mulut ikan tersebut atau berada dalam posisi vertikal (Gambar 2).
Menurut Wudianto e! a!. (1993), dilihat dari bentuknya ada dua jenis mata pancing yang ada di pasaran yaitu bentuk punggung lurus yang lebih dikenal dengan bentuk
"J"
dan bentuk punggung melengkung yang dikenal dengan bentuk " G . Kedua bentuk ini ada yang berukuran besar dan kecil, dan dapat dipergunakan perairan tawar maupun laut. Bentuk mata pancing yang baik untuk perairan karang berdasarkanpercobaan di Maldves adalah jenis c~rcle lzooks atau bentuk "G". Bentuk seperti ini diperlukan untuk menghindari agar mata pancing tidak mudah tersangkut pada batu-
batu karang (FAO; Bay of Bengal Programme, 1982). Jika dilihat dari ada tidaknya pengait, ada dua jenis mata pancing yaitu mata pancing yang dilengkapi dengan
pengait atau piarit (hurh) dan tanpa pengait.
Untuk pemancingan rekreatif, umumnya menggunakan mata pancing yang dilengkapi dengan pengait. Adapun jenis mata pancing tanpa piarit (hurh) umumnya digunakan di bidang perikanan komersial khususnya untuk penangkapan ikan tuna dan cakalang dengan alat tangkappole und l~rze (Wudianto e/ ul., 1993).
Berdasarkan bentuk kepalanya atau mata (eye), ada dua mscam bentuk kepala mata pancing (eye) yaitu bentuk lingkaran dan bentuk gepeng. Bentuk yang berbeda
ini tentunya membutuhkan cara pengikatan tali pancing yang berbeda. Juga kalau diperhatikan secara cerrnat, maka dapat dibedakan pula bentuk batang lnata pancing yaitu gilig (normal) dan segi empat (tempaan). Selanjutnya Wudianto e/ u/. (1993),
yang beredar di pasaran, yaitu mata pancing yang berkait tunggal (single lzook), berkait ganda (double hook) dan berkait tiga (triple hook) (lihat Gambar 3).
Ukuran mata pancing dapat diketahui melalui nomor mata pancing tersebut. Penomoran ini ditentukan oleh lebar celah mata pancing (gup) dan diameter batang
mata pancing (wire dtutneter). Disamping itu ada juga yang mencantumkan panjang
mata pancing (shank) dan panjang durilpiarit (barb) sebagai patokan untuk menentukan nomor mata pancing (Wudianto et ul., 1993).
Menurut Chapman (1996) bentuk pembagian mata pancing berdasarkan bentuk .vlzunk dapat dibagi tiga, yaitu tipe regulur, tipe,fi,rged dan yang ketiga adalah tipe knlfi. edge. Tipe bentuk ~T~IJC. edge adalah bentuk mata pancing yang memiliki
diameter shunk berbentuk seperti mata pisau.
Ukuran mata pancing dinyatakan dan nomor I sampai dengan nomor 20 (von Brandt, 1959). Semakin besar ukuran mata pancing maka semakin kecil nomor yang
dibenkan, ukuran ini dibuat berdasarkan ukuran celah (gup) dan bentuk diameter shank (wire). Penomoran mata pancing secara baku untuk dua jenis pancing menurut
F A 0 dalam Fisherman's Work Book, dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Menurut Prado (1990) penomoran mata pancing dibedakan berdasarkan tipe mata
pancing, yang ditentukan oleh bentuk penampang shunk pancing tersebut. Untuk shurrk berpenampang bulzt disebut dengan tipe regulur hook$, pada t i p ini, nomor mata pancing semakin kecil maka ukuran mata pancing semakin besar (Tabel 1).
Sedangkan untuk ti pe . firgc'd adal ah mata pancing berpenampang shank bulat
Tabel I . Sistem penomoran mata pancing yang memiliki diameter shunk berbentuk bulat (regzdur l700k &pe) men urut F A 0
Tabel 2. Sistem penomoran mata pancing yang memiliki diameter shunk berbentuk. bulat memansang ( f o r ~ o d hook.^ ljpc) menurut F A 0
Nomor
j Nomor Ukuran (mm) I
I
Ukuran (mm)
I
! I
I Mata Panclng --- Celah j D~ameter Batang
I
I7
-
10 1I
I I 1 1
i
, 1i
1 0 12 i 1
I
Mata Pancing
i
Celah Diameterbat an^
Ii
12i
9,s
I I
i
I 10I
10 I
2.2 Modifikasi mata pancing
Menurut Prado (1 990) bentuk mata pancing yang dimodifi kasi memili ki sudut antara shunk dan ~hroul yang membengkok ke arah kanan dikenal dengan sebutan isti iah kirhed /zook atau c@ssel lzook.
Berdasarkan hasil penelitian awal ikan-ikan yang dipancing di akuarium memiliki kebiasaan memakan ulnpan dan pancing kemudian lnerespon umpan tersebut, jika
umpan tersebut terlalu besar, keras atau tidak cocok dengan selera ikan maka ikan akan menyemburkan umpan dan pancing tersebut, ini kemungkinan organ gu1ur.s dan purc~~spl~enoid pada ikan memiliki fungsi mendeteksi kesesuaian makanan yang akan
dimakan. Hal tersebut yang akan mengakibatkan pancing gaga1 mengait pada mulut ikan.
Dari hasil pengamatan pada penelitian awal ikan juga sering memakan dan mengeluarkan umpan serta mengerakan utnpan ke kiri dan ke kanan dengan maksud memperkecil dan mempermudah ikan untuk menelan umpan, dan ini juga
memberikan kesempatan pada pancing mengait bagian dari mulut ikan tersebut. Tetapi jika mata pancing telah mengait pada barian mulut ikan, gerakan seperti ini
bertujuan untuk meiepaskan pancing yang telah mengait pada mulut ikan. Gerakan seperti ini pada sebagian ikan yang memakan umpan membuat pancing semakin kuat
mengait karena adanya duri/piarit (hurh) pada pancing, meskipun dalam pengamatan penelitian ada sebagian kecil i kan berhasi I melepaskan diri karena pancing hanya mengait sedikit pada mu1 ut ikan dan pada akhi rnya bagian mului ikan tersebut sobek.
Dengan adanya modifikasi pada mata pancing diharapkan pada saat ulnpan dan
mudah terkait pada mulut ikan. Hal ini diperkuat dengan hasil pengamatan tingkah laku ikan pada saat dilakukan pemancingan di akuarium. Dan bentuk mata pancing
yang berbeda maka mata pancing memiliki kecenderungan posisi mengait yang berbeda pula.
Mekanisme terkaitnya mata pancing yang dimodifikasi pada mulut ikan dapat
dilihat pada Gambar 2. Pada gambar tersebut terlihat bahwa mata pancing tanpa sudut
memiliki peluang 1010s akan lebih besar jika dibandingkan dengan mata pancmg yang memiliki sudut. Karena bagian mata pancing @oznt) dapat tersangkut pada bagian rongga mulut ikan.
Banyak bentuk mata pancing yang dimodifikasi berdasarkan target spesies yang
diinginkan seperti halnya menurut Chapman ( 1 996) bentuk mata panc~ng untuk menangkap ikan tuna dengan alat tangkap pole und lrne lebih ditekankan pada penangkapan ikan dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang singkat sehlngga bentuk mata pancing tidak menggunakan durilpiarit (burb) agar ikan yang tertangkap
oleh pancing segera terlepas dan mendarat di atas palkah kapal. Hal in] sangat
membantu dalam efisiensi penangkapan ikan densan alat tangkap pole und lrnc~ Untuk jelasnya bentuk mata pancingpole untl lrne tersebut dapat dllihat pada Gambar
4.
Modifikasi bentuk mata pancing juga telah dilakukan pada usaha penangkapan ikan cucut. Modifikasi mata pancing cucut ini berdasarkan tingkah laku ikan cucut
Posisi tkroul dengan sudut
Sudut yang dibentuk pada mata
Mata pancing (hook)
Posisi pancing mengai
pancing tidak terkait
Mata pancing berada pada posisi melintang dan sejajar dengan inulut i kan
I
I I
[image:143.770.23.683.52.419.2]Stimher: llusar penzikirun pemhengkoknn n~utu pcrric~iirg clun j7ertgcrmutan proses terpancingnya ikan pndu penelitiurl penduhuluan.
pengait kepaldmata
lengkungan
kepala berbentiik cincin (c;\no)
n
diameter batangIi
kepala bentuk gepeng ( c y ~ )
7 9
pancing tunggald r r
pancing ganda pancing triple
Sunzher: Wud~cm/o et al. (1993).
Selanjutnya Chapman (1996) menambahkan modifikasi ini berkembang terus
hingga pada tahun 1968 modifikasi bentuk mata pancing untuk cucut ini berkembang dari slzunk yang l urus menjadi slzunk berbentuk kurva. Selanj utnya Chapman ( 1 996) lnenalnbahkan modifikasi ini berkembang terus hingga pada tahun 1968 modifi kasi bentuk mata pancing untuk cucut ini berkembang dari slzunk yang lurus menjadi .v/zunk berbentuk kurva.
Menurut Gang seperti dikutip oleh Chapman (1996) modifikasi bentuk mata pancing untuk cucut dilaporkan dapat meningkatkan hasil tangkapan sebesar 18.6 %
lebih banyak dari pada mata pancing sebelumnya. Hal ini dijelaskan karena bentuk mata pancing yang berbentuk kurva ini dapat dengan mudah berputar dalam mulut
ikan cucut, pada saat umpan dan mata pancing dimakan oleh ikan. Teori pada penelitian di atas digambarkan pada Gambar 5.
Pengembangan desain mata pancing dilakukan mulai pada saat penggunaan mata
pancing tradisional yang berasal dari tulang pada mulanya. Hingga rancangan ini berkembang sedemikian rupa dengan bahan mata pancing yang berasal dari baja dan
bahkan ada yang berasal baja stenden steel anti karat.
Sedangkan percobaan vang telah dilakukan di Inggris mencoba berbagai bentuk desain mata pancing. Tennasuk pengujian mata pancing yang digunakan untuk tnenangkap ikan cucut dan niata pancing yang digunakan untuk menangkap ikan tuna
berbentuk li ngkaran yang biasa digunakan oleh para nelayan setempat. Dari hasi 1 penelitian tersebut mata pancing ikan tuna berbentuk lingkaran (circle lzook) temyata
c
3
Mata pancing pole and line Sri Langka
[image:146.568.81.499.71.349.2]Sumher : C'I7upmur? (1996)
Gambar 4. Mata pancing tuna tanpa durilpiarit (hurh) alat tangkap pole and line
77
1
.
- *L - *
Sumher: ( ;ung duluni ( ltclptnu~t ( I 996)
[image:146.568.72.502.192.678.2]Sunzher : C,'hupmun ( I 996).
Gambar 6. Mata pancing tuna c~rcke hook dan proses terkaltnya mata pancing
Keterangall
A = Tipe E Z (Easy Balter Clrcle)
B = Tipe Kirby
C = Tipe Norway ".I" D
-
Tipe Wide GapSumher : Hollmngwor/lr f 1993)
dasarnya desain antara pancing ikan cucut dan tuna memiliki bentuk yang berbeda, seperti terlihat pada Gambar 6.
Hasil penelitian di atas ternyata sama halnya dengan pemancingan yang
dilakukan di beberapa negara di Amerika khususnya di Alaska, di mana hasil tangkapan "lzook rate" sebesar 16 ekor ikan perseratus mata pancing dengan
menggunakan pancing berbentuk "J" menjadi 25 ekor perseratus mata pancing dengan menggunakan mata pancing berbentuk lingkaran (circle hook). Dan dilaporkan juga terjadi peningkatan sebanyak 20% dari total hasil tangkapan dengan
menggunakan pancing clr-cle lzook untuk memancing ikan-ikan dasar (Chapman, 1996).
Huse (1979) seperti dikutip oleh Lokkeborg, Bjordal, and Ferno (1993) meneliti tentang berbagai bentuk desain mata pancing. Berdasarkan hasil penelitiannya dalaln
pengembangan dan perbaikan desain mata pancing dia melakukan obeservas~ t~nghah laku ikan terhadap berbagai bentuk pancing di laboratorium dan lapangan Bent~lk mata pancing yang memiliki porn/ yang berjarak lebih lebar dapat menghas~lkari
peluang yang lebih besar untuk terkait dari pada pancing trad~sional Norna!
berbentuk "J". Dan menurutnya gup yang berjarak lebih lebar merupakan pers>aratan yang harus dipenuhi oleh sebuah mata pancing.
Berdasarkan peneli tian tingkah laku ikan cod terhadap pancing mata pancing tipe wrde gap memiliki kemungkinan terkait lebih besar, yaitu 0.36 dari pada mata
pancing berbentuk "J", yaitu 0.15 (Huse, 1979 seperti dikutip oleh 1,okkeborg
u/., 1993). Selanjutnya Huse dan Ferno (1 990) seperti dikutip ole11 Wardle dan
pada alat tangkap long line hasil tangkapan ikan cod (12 %) dan haddock (34 %)
meningkat dengan menggunakan mata pancing tipe wide gup dari pada mata pancing biasa tipe "J". Adapun beberapa bentuk mata pancing yang diujicobakan tersebut
dapat dilihat pada Gambar 7.
Dalam percobaan pemancingan skala besar selama musim pasang mata pancing tipe ~jide gap menangkap ikan cod lebih banyak dari pada mata pancing tipe "J".
Peningkatan hasil tangkapan ini rata mencapai
17
% (~jordal, 1983 seperti dikutipoleh Lokkeborg c/ ul., 1993).
Setelah itu penelitian yang dilakukan oleh Skeide ei ul. (1986) dan Bjordal (1987) seperti dikutip oleh Lokkeborg ei ul. (1993) menyimpulkan pancing tipe EZ (easy huller c~rcle) hasil tangkapan rata-ratanya lebih besar dari pada pancing tipe "J".
Jadi menurut Lokkeborg ei ul. (1993) tipe mata pancing EZ (eu.vy hurler crrcle)
dan wrde gup sudah menjadi persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam mekanisasi usaha penangkapan dengan menggunakan alat tangkap pancing long lrne.
Di samping itu bentuk dan morfologi rongga mulut ikan (Gambar 8) Juga
menentukan peluang mata pancing untuk terkait. Untuk ikan-ikan yang memiliki
rongga mulut yang relatif kecil maka mata pancing yang akan digunakan tentu
berukuran kecil pula. Di beberapa daerah, nelayan telah memodifikasi mata
pancing menjadi beberapa rangkaian (tiga atau lebih rangkaian mata pancing)
untuk metnancingikan-ikan yang tnemiliki ukuran mulut jrang kecil,
seperti pemancingan ikan baronang atau lingkis (Srgunus cunulrcu/us) dan ikan
Tengkorak kepala
-
Rahang atas
Keterangan :
1 = Upperjuw 7 = (;zrkurs 2 = Lower jaw 8 = ('Iuv~cle
3 = Opercullunr 9 = l~runchrostegulruy.~
4 = Premuxrllu 10 -- Ijbmrr
5 = M~~rrllu 1 1 = f'huru.sphenord
6 = Denturr 1 2
-
/'uro/rc. ~ I U I C [image:150.568.72.496.78.646.2]Rahang bawah
Gambar 8. Morfologi rongga n~ulut dan tenghorak kepala ikan nila (Orc.ocl~rot?zr,s
candit, mekanisme terkaitnya ikan pada pancing ini adalah pada saat ikan memakan
umpan yang diletakan persis di atas mata pancing, kemudian pancing ditarik dengan
cepat sehingga pancing mengait pada bagian perut dan badan ikan.
Namun secara umum pemancingan yang biasa dilakukan oleh para pernancing
adalah dengan membiarkan umpan ditelan oleh ikan dan mata pancing inengait pada
bagian rongga mulut ikan tersebut. Untuk itu para pemancing juga perlu mengetahui sedi kit banyaknya mengenai morfologi bentuk rongga mulut ikan yang akan menjadi
sasaran utama pemancingan.
2.3 Umpan
Umpan adalah ha1 yang pokok yang harus diperhitungkan oleh seorang pemancing, karena ikan memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Di samping itu
ikan juga merniliki kepekaan yang berbeda terhadap berbagai bentuk makanannya Ada ~kan yang akan tertank pada bau umpan yang menyengat dan ada pula lhan >ang tertarik pada umpan yang memllikl bentuk yang menarlk bag~nya Kepehaan lkan tn1
tergantung kepada jenis ikan tersebut. Tidak jarang para pemancing yang
menggunakan berbagai alat pancing mengalami kegagalan dalam melakukan pemancingan karena tidak sesuainya umpan yang digunakan.
Biasanya untuk jenis ikan aktif di malam hari (noc/zrrrzul) seperti sembilang (Plo/osus spp), lele (Clurius spp) dan manyung (7uci1yuru.v spp) akan menyukai umpan hidup yang menliliki bau yang kuat. Sedangkan untuk ikan cakalang ncla!an-
alat tangkap troll line yang ditarik dengan kecepatan tertentu. Ikan-ikan cakalang
yang tertangkap tersebut disebabkan tertarik pada kemilauan tali plastik yang ditarik
dengan kecepatan tertentu hingga menyerupai mangsa di mata gerombolan ikan cakalang tersebut.
Seiring dengan itu Sadhori (1985) mengatakan umpan adalah merupakan salah
satu faktor yang sangat besar pengamhnya terhadap keberhasilan dalam usaha
penangkapan baik masalah jenis umpan, sifat umpan maupun cara ikan inemakan umpar.. Sedangkan Leksono ( 1983) membagi jenis-jenis umpan berdasar!tan kondisi umpan tersebut, yaitu umpan hidup (live huit) clan umpan mati (dead huit), sedangkan
menurut sifatnya dibagi menjadi umpan alami (nuturul huit) dan umpan buatan (urtiJiciul huit).
Menurut Gunarso ( 1985) perikanan pancing menggunakan metode panangkapan dengan cara memikat ikan dengan sesuatu yang berupa inangsanya yaitu umpan.
Umpan ini dapat berupa umpan alami atau umpan buatail. Mata pancing pada umumnya diberi umpan secara langsung, namun ada juga yang tidak diberi umpan secara langsung. Umpan-umpan dapat berupa umpan alami (nulurcrl huit) baik dalam
bentuk mati maupun hidup, umpan tiruan (ur/tficiu/ huit) dan umpan palsu atau
benda-benda lain yang sifatnya menarik. Ikan-ikan yang tertangkap dengan pancing umumnya disebabkan karena terkait di bagian mulutnya. Hal ini terjadi karena ikan
terangsang dan tertarik oleh umpan kemudian inemakan (memangsanya) dan
akhirnya terkait.
hewan, khususnya ikan yang berhubungan langsung dengan tingkah laku makan ikan (feedzng hehuviour) yang menunjukkan serangkaian tahap orientasi ikan terhadap
makanan (Bardach dan Villars (1974) dan Lokkeborg (1990a) yang dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994)).
Selanjutnya Atema (1971) dan Lokkeborg (1990a) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994) mengemukakan empat phase tingkah laku ikan terhadap ulnpan dan
pancing, yaitu;
1 . Terangsang atau terbangungnya ikan oleh kehadiran umpan.
Phase ini disebabkan oleh ikan dapat mendeteksi keberadaan umpan. Menurut Rardach dan Villars (1974) dan Hara (1993) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994) terbangunnya ikan akibat kehadiran umpan sebagai makanan merupakan
salah satu yang penting dalam proses rangkaian aktivitas mencari makan bagi ikan. Ditambahkan lagi oleh Atema (1980) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994)
yang mengatakan bahwa pada ulnumnya ikan menggunakan organ o/juctory-nya untuk mendeteksi jarak atau keberadaan makanan (umpan).
Ikan juga dapat mengetahui keberadaan makanan atau umpan pada long liize akibat adanya organ clzeinosensoty yang dapat mendeteksi jarak atau posisi dimana makanan itu berada (Wilson clan Bossert (1963) yang dikutip oleh Ferno dan Olsen
( 1 994).
Dari hasil penelitian didapat adanya pengaruh lama perendaman pancing terhadap
Ulnpan mackerel yang digunakan dalam keadaan segar dengan lama waktu perendaman selama 24 jam menghasilkan hasil tangkapan 50 % dari rata-rata hasil
tangkapan, tetapi pada perendaman lebih dari 24 jam hasil tangkapan mengalami penurunan (Lokkeborg ( I 990a) yang dikutip oleh Ferno dan Olsen ( 1 994)).
Hal di atas membuktikan bahwa umpan ikan yang telah lama terendam akan
kehilangan bau amisnya dan ini tidak lagi dapat menarik ikan-ikan yang menjadi target pemancingan.
2. Tahap pencarian
Setelah phase pertama, i kan-i kan akan berorientasi untuk dapat mencari lokasi umpan yang telah dideteksinya melalui organ clzemoreceptor ataupun organ deteksi
lainya. Dan biasanya ikan-ikan akan mengunakan vision organnya pada tahap ini untuk menemukan inakanan atau umpan.
~ g d a phase ini arus juga memegang peranan penting bagi keberhasilan ikan untuk menemukan umpan tersebut. Karena arus merupakan media transfer bau yang baik di
perairan. Untuk beberapa jenis ikan orientasi renang dalam pencarian makan atau umpan berbeda. Menurut Jones (1992) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994), jenis ikan curfi.c.lt (ic/ul/urtcs sp) dan cucut (Citrclzurinidue) akan berenang zig-zag
dalam mencan makan atau umpan, ini kemungkinan pada jenis ikan-ikan ini
pencarian makanat~ melalui adaptasi chemo-or~eniaiion memiliki kosentrasi yang berbeda.
3 Mengidentifikasi umpan (uptuke)
laboratorium, ikan yang menemukan umpan akan berhenti sejenak sebelum mulai
memakannya.
Menurut Bardac dan Villars (1974) dan Atema (1980) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1 994) ikan-ikan akan menggunakan penglihatannya dan t?zechonorecep/or
untuk mengidentifikasi &in memutuskan makanannya layak atau tidak untuk dimakan.
4. Tahap masuknya makanan (umpan) ke &lam mulut ikan Vi,od ingestion).
Phase ini adalah dimana umpan mulai masuk ke dalam mulut ikan. Pada phase inilah kesempatan mata pancing untuk mengait ikan. Hal yang sangat berpengaruh pada phase ini adalah ukuran dan bentuk umpan, dimana umpan yang terlalu besar tidak akan termakan oleh ikan yang berukuran kecil. Sedangkan utnpan yang terlalu
kecil akan sulit terdeteksi atau terlihat oleh ikan.
Menurut hasil penelitian McCracken (1963) seperti dikutip oleh Ferno dan Olsen (1994), pada alat tangkap pelagis long line ukuran dan bentuk umpan secara signiiikan me~npengaruhi hasil tangkapan. Bentuk dan ukuran ikan ini akan
krpengaruh terhadap daya lihat ikan di dalam perairan. Disamping itu, umpan yang
k s a r akan menghasilkan bau yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan umpan yang berukuran lebih kecil.
Dari beberapa proses di atas ada ha1 yang jiiga sangat berpengaruh terhadap ketertarikan ikan pada umpan yans digunakan pada pancing yaitu jenis umpan itu
sendiri, menurut F A 0 ( 1982) jenis urnpan yang digunakan untuk pengoperasian long
/ I ) J C , antara lain adalah lem uru ( . \ ; I I Y / I ~ I L ' / / L I Iorrgi~'c)p.c.), layang (1)ec.upleru.c. spp),
diperairan pantai Utara Jawa Tengah, ikan yang digunakan sebagai umpan berupa
ikan utuh yang berukuran kecil dengan panjang antara 8 - 10 cm atau ikan yang
dipotong-potong dengan ukuran 3 x 4 sampai 3 x 5 cm. Jenis ikan yang digunakan sebagai umpan antara lain : leinuru (Surdrr~elh spp), juwi (C'lupeu sp), swangi (Priucunthus spp), kuniran ((beneus spp) dan gerot-gerot (Piinadasys spp). Ikan
umpan disimpan di dalam peti atau palka yang diberi es dengan tujuan ikan umpan tersebut tetap dalam kondisi segar.
Menurut Tampubolon (1980) sifat ikan yang menjadi umpan yang baik yaitu ikan yang dapat memberikan refleksi yang sangat baik di dalam air, daya tarik wama ikan, dan mempunyai daya tahan terhadap pembusukan. Ditambahkan lagi oleh
Djatikusumo (l975), karakteristik umpan yang baik adalah:
I . tahan lama artinya umpan tersebut tidak mudah mengalami pembusukan
2. mempuyai wama yang menkilap sehingga rnudah terlihat oleh ikan dan menarik
bagi ikan yang menjadi tujuan penangkapan
-3. mempuyai bau yang spesi fi k yang dapat merangsang 4. harganya te rjangkau
5. mempuyai ukuran yang memadai
6. disenangi oleh ikan yang menjadi tujuan penangkapan.
Umpan untuk alat tangkap pancing long line nelayan Jepang , menggunakan ikan
salnma (Pu.vfic suup). cumi-cumi (1,olrgo spp) dan di Indonesia dipakai ikan-ikan belanak (Mugrl spp), Kembung (I~u.v~rrll~~qc~r spp), Julung-julung (Hemrr/zump/zus spp), Layang (llecup/erzr\ spp). Bandeng 1 ( ' / I U ~ Y O \ c/~uno.v), Lemuru (Surdrnellu spp)
Menurut Tampubolon (1983) seperti yang dikutip oleh Widiana (1989), jenis
umpan yang digunakan dalam rawai tuna adalah Lemuru (Surdinella spp), Mo~nar (Decuplerus mucrosomu), Cumi-cumi (Loiigo spp) dengan ukuran parljang umpan kira-kira 20 cm.
Jenis-jenis umpan yang biasa digunakan pada perikanan pancing rawai (perawe)
oleh para nelayan diperairan Selat Bali, yaitu daging lumba-lumba (Pl~ocuepu-
plzocuepu) (Prayitno (1952) seperti dikutip oleh Thamrin (1976)) dan di daerah Pengadaran umpan yang digunakan Cumi-cumi (Loligo spp) (Abdullah ( 1 965) yang dikutip oleh Thamrin (1976)). Sedangkan di Juwana, Jawa Tengah umpan yang
digunakan pada rawai dasar umumnya adalah ikan siro (Surdinellc~ sirm) dan lemuru (Surdinellu lungiceps) yang telah digarami serta dipotong dua (Harifin dan
Wijopriono, 1993).
Nelayan pesisir Kepulauan Riau menggunakan umpan cumi-cuini (1,oli~o Sp) sebagai umpan untuk memacing ikan kakap (Lutes culcul~f~r). Tetapi jenis ulnpan ini
bukan hanya digemari oleh ikan kakap saja, jenis ikan-ikan karang lainnya seperti
kerapu (fiplzinep1tt.lu.v sp), kuro/senangi (/'o(vnentu.v sp) dan berapa jenrs ikan karang lainnya.
Berdasarkan pengamatan pada penelitian pendahuluan, untuk ikan nila (Oreochr,omis nilolicus) umpan yang baik adalah cacing tanah karena cacing tanah memiliki bau yang menyengat dan selalu bergerak di dalam air sehingga menjadi
yang bersifat tisik maupun kimia yang dapat memberikan respon bagi ikan-ikan
tertentu dalam tuj uan penangkapan i kan
Begitu bervariasinya jenis umpan yang digunakan oleh para pemancing atau
nelayan untuk menangkap jenis ikan yang berbeda, ha1 ini membuktikan setiap ikan memiliki kecendenrngan memakan jenis makanan yang berbeda sesuai dengan
111.
METODOLOGI
3.1 Tempat dan waktu penelitian
Penelitian dilakukan dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan lanjutan. Penelitian pendahuluan yang dilakukan di Laboratorium Tingkah Laku Ikan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 15 Juni - 15 Juli 2001, mencakup
kegiatan persiapan dan pengamatan tingkah laku ikan terhadap pancing. Penelitian lanjutan di!akukan pada tanggal 28 Juli
-
8 Agustus 2001, untuk menguji pengaruh bentuk mata pancing yang berbeda terhadap hasil tangkapan.3.2 Metode dan rancangan peneiitian
Untuk membantu penganalisaan hasil penelitian serta mempermudah penarikan
kesimpulan, peneliti telah mengadakan penelitian pendahuluan di laboratorium, dengan maksud untuk dapat mengamati tingkah laku dan proses terkaitnya mata pancing pada ikan.
Penelitian pendahuluan dilakukan untuk melihat respon ikan terhadap umpan dan pancing. Pengamatan diiakukan pada saat ikan akan memakan umpan dan pancing
hingga tahap dimana ikan berupaya rnelepaskan diri dari pat~cing yang telah mengait pada mulutnya di tiga buah akuarium. Penelitian lanjutan dilakukan untuk menguji
pengaruh bentuk mata pancing dan metode pemancingan terhadap hasil tangkapan. Dalam penelitian ini diujicobakan tiga bentuk mata pancing dan dua metode pemancingan, yaitu secara pasif dengan alat tanghap /r,nYIy l/nc/ dan secara akti f dengan
dua metode ini diharapkan dapat mewakili dua rnetode pemancingan yang biasa dilakukan oleh nelayan untuk mengoperasikan alat tangkap pancing.
Alasan pemilihan long line pada percobaan, karena alai tangkap ini merupakan salah satu jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan secara statis di jkhzng groz~nd, tanpa adanya pengaruh penarikan oleh seorang pemancing (nelayan).
Diharapkan dengan menggunakan alat ini dapat memperoleh data yang menyimpulkan keefekti fan sebuah bentuk mata pancing dengan pemancingan
metode statis atau pasif
Penggunaan pancing spinnmng untuk rnetode pemancingan secara aktif, karena jenis pancing ini biasanya dioperasikan secara aktif dengan membenkan respon berupa tarikan pada pancing saat ikan memakan umpan. Diharapkan data hasil
tangkapan dengan menggunakan pancing .vpznnlrlg ini dapat membenkan gambaran tingkat kdberhasilan masing-masing bentuk mata pancing yang d~ujicobakan secara aktif
Sedangkan rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah rancangan acak
lengkap satu faktor yaitu mata pancing dengan tiga perlakuan. Maslng-ma\~ng perlakuan memiliki perbedaan sudut antara shclnk dan throut sebesar
o",
15" dan 30"terdiri dari HI, H2 dan H3, yang merupakan variable bebas pada penelitian ini. sedangkan unit pengamatannya yang merupakan variable tidak bebasnya adalah hasil
Tampak Tampak Tampak Tampak Tampak Talnpak
depan samping depan sanlping depan samping
(?
4-- Shank t SIzankPosisi point Posisi point
setelah setelah
point Posisi P U / ) N - + Posisi point-,
6
awal awal
Tampak atas Tampak atas Talnpak atas
[image:161.765.55.687.84.482.2]- -
3.3 Alat dan bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan untuk pelaksanaan penelitian pendahuluan di antaranya (Lampiran I ) adalah;
3.3.1 Peralatan dan bahan penelitian pendahuluan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:
0 Busurderajat 1 buah Q Jangka sorong
0 Tang U Obeng
0 Palu 0 Pengaris
0 Dan alat bantu lainnya yang diperlukan.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian pendahuluan dan
lanjutan adalah:
1. Bahan penelitian pendahul uan
0 3 buah pancing yang dilengkapi snup, wire, swrvel, nilon dan ketiga mata
pancing yang memiliki sudut bukaan yang berbeda (Lampiran 2). Adapun proses pembentukan sudut mata pancing adalah sebagai berikut:
b. Kemudian mata pancing tersebut dibengkokan hingga mencapai sudut 15' dan 30' dengan bantuan tang dan busur derajat untuk memastikan ketepatan sudut mata pancing tersebut.
c. Selanjutnya untuk memperkokoh mata pancing yang dipijarkan dilakukan
penyepuan (quenching) yaitu pencelupan sesaat mata pancing ke dalam air. D 3 buah akuariurn
O Ikan nila (Oreochromw nilolrcus)
0 Hun~vcum
0 Kamera dan alat tulis
3.3.2 Peralatan dan bahan penelitian lanjutan
Peralatan yang diperlukan pada penelitian lanjutan, adalah;
0 Busur derajat 1 buah 3 Jangka sorong 3 Tang
D Obeng
3 Palu
0 Pengaris
0 Pisau 3 Cuban
Bahan penelitian lanjutan, adalah;
D
1 Unit long line dengan ukuran 25 meter, yang terdlri clan 4 basket clan masing- masing basket terdiri dari 6 tali cabang (brunch line), yang terdiri dari bagian- bagiannya;1 . 1,ong 11ne
Satu unit long line yang akan digunakan pada percobaan ini terdiri dari 6 kantong ( h ~ s k ~ ~ ) . Masing-masing basket terdiri dari 6 tali cabang dan tiga bentuk mata
pancing, dengan kode H I .
Hz
dan H3, Untuk jelasnya garnbar desain dan konstruksi long lme tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3. Sedangkan bagian-bagtan dari lo)zgIirw ini, terdiri dari; pelampung dan bendera, tali pelampung, pemberat, tali ubma
dan tali cabang.
a Pelampung dan bendera
Pelampung yang digurlakan adalah tipe erpunded PVC (Polyvmyl ('lorrde) atau
sejenisnya dan dilengkapi dengan bendera kecil sebagai tanda posisi pancing, pelarnpung Ini berfungsi untuk mengetahui posls~ dari ujung long lrnr pada saat kita
.\elring dr perairan. Untuk jumlah pelampung dan bendera tergantung dari jumlah
basket dar~ alat tangkap ini.
b. Tali pelampung
Tal i pelam pung terbuat dari tali po(vetlze1ine berdiameter 2,5 mln dengan panjang
c. Pemberat
Pemberat terbuat dari bahan tirnah hitam Pb berfungsi menahan ujung long line berada pada posisi semula dimana alat ini diletakan di perairan untuk mencegah posisi long line tidak berpindah oleh angin.
d. Tali utama
Tali utama terdiri dari bahan Polyetlzelirze dengan diameter 2,5 mm, dibagi _ I
-
menjadi beberapa bagian atau disebut juga dengan basket (kantong) yang terdiri dari beberapa tali cabang (brurrch line) yang merupakan bagian terpenting dari pancing ini. Pada bagian tali utama ini terdapat simpulan ring (stopper ut every) setiap 60 cmyang berfungsi untuk ternpat menggantungkan tali cabang.
e. Tali cabang
Tali cabang terdiri dari beberapa bagian, pada bagtan inilah yang sangat berperan dalam penangkapan ikan pada alat tcingkap ini, adapun bagian tali cabang terdiri dari
1 . Snapper
-
on corrrrecltrrStzupper
-
on connec/or adafah bagian pada tali cabang yang berbentuk sepertipeniti terbuat dari tembaga atau besi .vrc~nclotf ,s~erl anti karat. Snupper on conector
yang digunakan adalah No. 2, yang berfungsi sebagai penghubung tali cabang ke tali
2. Tali cabang aktual
Tali cabang aktual (necklines) terbuat
dan
bahan kawat (wire) berdiameter 0.8 mm dengan panjang 25 cm, tali cabang ini yang menghubungkan antara snupper dan swlvel.3 . Swivel
Swivel adalah suatu alat yang menghubungkan antara tali cabang aktual dan tali
pengikat pancing. Alat ini terbuat dari besi perunggu atau kuningan yang memiliki kemampuan berputar secara bebas. Fungsi swrvel untuk menghindari tali cabang agar
tidak kusut atau tepintal-pintal. Swrvel yang digunakan pada penelitian ini adalah Morigen Type 303, size 1 2.
4. Tali pengikat pancing
Tali pengikat pancing yang digunakan adalah dari bahan rnonofilamen diameter 0,28 mm dengan panjang 75 cm pada masing-masing pancing.
5. Mata pancing
Mata pancing adalah baja anti karat yang berfungsi untuk mengait ikan pada saat ikan memakan urnpan yang dipasang pada mata pancing tersebut. Mata pancing
inilah yang menjadi perlakuan pada percobaan ini dengan modi
fi
kasi kemiringan sudut antara shank dan ~hrouf. Mata pancing yang digunakan adalah mata pancingNo. 12 sebanyak 36 buah, yaitu;
0
H I = mata pancing tanpa sudut 0"Cl H2 = mata pancing dengan sudut 15'
Perubahan sudut mata pancing yang dibengkokan adalah sebesar 15
'
. Pemilihan0 . .
pembengkokan sebasar 15 In, dikarenakan setiap pembengkokan sudut sebesar 15' akan merubah jarak antara poinl dan shurlk ( p p ) sebesar 1 mm. Hal ini sama
dengan perubahan nilai ukuran dan nomor pada mata pancing, setiap perubahan nomor mata pancing maka jarak gap akan berubah sebesar 1 - 2 mm. Maka diharapkan dengan perubahan gup sebesar 1 mm akan memberikan perbedaan yang nyata terhadap keefekti fan mata pancing yang di bengkokan.
Spesifikasi mata pancing yang dimodifikasi dan diujicobakan dapat dilihat pada Tabel 3.
0 5 unit pancing berjoran
Dari 5 unit pancing berjoran ini adalah jenis pancing spinning, 3 buah bentuk
mata pancing yang dimodifikasi dirangkai untuk diujicobakan (Lampiran 4). Pancing .spinning ini terdiri dari :
1 . Joran
Joran yang digunakan dari bahan fibre glass dengan panjang 156 cm. Joran
berfungsi sebagai sebuah tongkat untuk meinpermudah menarik pancing pada saat
pancing dan umpan dimakan oleh ikan.
2. Tali pancing
Tabel 3. Spesifikasi mata pancing yang dimodifikasi Shunk cross section : Regulur
Type of hook : Kirbed (o#set) Model of hook : Fulcon Kode
mata pancing
H I H2 H3 Nomor pancing 12
Celah (Gap) (mm) 9>5 Diameter shunk (mm) I
l 2
1
8,5 [image:168.568.72.502.68.719.2]3. Gulungan
Pancing spinning yang digunakan dilengkapi dengan gulungan benang berkapasitas gulungan 6 lbsl250 yd, 8 lbs1215 yd dan 10 Ibsll50yd (lbs = satuan kekuatan talilkemampuan benang menahan berat dalam pound). Gulungan ini
berfungsi untuk menggulung benang agar tidak kusut pada saat penarikan pancing dan dapat mengulur benang pada saat pancing dilemparkan kembali.
4. Pelampung
Pelampung digunakan berbentuk lonjong densdn panjang 5 cm, 0 0.5 cm terbuat
dari bahan kayu yang diwarnai. Pelampung ini berfungsi sebagai tanda apakah
pancing dan umpan dimakan oleh ikan dan mempertahankan posisi umpan pada kedalaman tertentu yang kita inginkan serta lnengetahui dimana posisi umpan dan pancing yang telah ki ta lemparkan sesuai dengan yang dikehendaki.
5. Pemberat
Pemberat yang digunakan adalah dari jenis timah hitam Pb (Plu~nhunz), yang berfungsi sehagai peng~mbang dan memperkokoh kedudukan pela~npung di air,
mempercepat tenggeiamnya umpan yang dilemparkan ke air serta dapat membantu meluruskan posisi senar di Jalam air.
Kili-kili (.vwivel) yang digunakan memiliki tipe dan ukuran sama dengan yang di gunakan pada pancing long 'lincj di atas. S