PENGARUH BAHAN AKTIF 3,4-D DAN P-Etyl TERHADAP KANDUNGAN KLOROFIL DAN PERTUMBUHAN AKAR NANAS
(Ananas comosus)
Khusnul Lestari
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung [email protected]
ABSTRAK
Nanas (Ananas comosus) secara luas tumbuh di daerah tropis dan bernilai ekonomis. PT. Great Giant Pineapple (GGP) adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan nanas dimana keberadaan gulma merupakan salah satu kendala yang dihadapi. Salah satu cara penanggulangan gulma adalah menggunakan herbisida. Penggunaan konsentrasi herbisida yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman budidaya meskipun dapat mematikan gulma. Di PT. GGP herbisida yang biasa digunakan untuk nanas cultivar GP1 adalah kombinasi herbisida berbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kombinasi herbisida berbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap pertumbuhan nanas cultivar GP3.
Penelitian ini dilaksanakan di PT. GGP Lampung dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, pada bulan Desember 2013 sampai dengan Februari 2014. Percobaan faktorial menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan tiga ulangan sebagai kelompok. Faktor pertama adalah perlakuan herbisida berbahan aktif 3,4-D dengan taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15%. Faktor kedua adalah perlakuan herbisida berbahan aktif P-Etyl taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15%. Variabel yang diamati adalah perubahan warna pada daun, pertumbuhan akar, dan kandungan klorofil daun nanas. Data yang diperoleh dianalisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf kepercayaan 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.
Pada kombinasi konsentrasi herbisida 0 % kandungan klorofil total rata-rata sebesar 2,284 mg/L, sedangkan pada kombinasi konsentrasi herbisida 0,15 % kandungan klorofil total rata-rata sebesar 1,952%. Dan pertumbuhan akar pada kombinasi konsentrasi herbisida 0 % rata-rata sebesar 32,133 dan pada kombinasi konsentrasi herbisida 0,15 % rata-rata sebesar 34,944 cm. Sehingga penggunaan kombinasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl aman digunakan untuk pertumbuhan nanas cultivar GP3.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahikan di desa Tias Bangun pada tanggal 5 Juni 1993 dari pasangan ibu Sulis Tyowati dan bapak Riyanto. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.
Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-kanak Nusantara Tias Bangun pada tahun 1996-1998 dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Tias Bangun pada tahun 1998-2004. Pada tahun 2004-2007 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Poncowati. Pada Tahun 2007-2010 melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1
Terbanggi Besar. Pada tahun 2010 penulis telah diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Biologi melalui jalur PKAB (Penyeleksian Kreatifitas, Akademik dan Bakat) dan penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada tahun 2014.
Selama duduk di perguruan tinggi, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) pada tahun 2010-2011. Pada tahun 2011-2012 penulis mengemban amanah sebagai ketua Biro Rumah Tangga dan
Tumbuhan (2013 dan 2014) di jurusan Biologi FMIPA Unila.
Skripsi ini dipersembahkan kepada orang tua terkasih ku ibu Sulis
Tyowati dan bapak Riyanto berkat perjuangan dan pengorbanan
kasih sayang dan cintayang telah diberikan untuk kami. Dan
teruntuk sodara sekandung ku Luxman Riyawan, Ma’ruf Tendi
Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Skripsi dengan judul “Pengaruh Bahan Aktif 3,4-D dan P-Etyl Terhadap Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan Akar Nanas (Ananas comosus)” yang telah dilaksanakan di PT. Great Giant Pineappel dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNILA pada bulan Desember 2014 sampai dengan Maret 2014.
Penulis menyadari akan banyaknya bantuan yang telah diberikan selama pelaksanaan Penelitian. Dengan telah selesainya penelitian ini penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada :
1. Ibu Dra. Tundjung Tripeni Handayani, M.S., selaku Pembimbing 1 yang telah dengan sabar membimbing saya, memberikan masukan, motivasi, semangat dan do’a selama pelaksanaan penelitian ini.
9
3. Ibu Dra. Ellyzarti, M.Sc., selaku Pembahas sekaligus Pembimbing Akademik saya yang senantiasa memberikan masukan kepada saya sehingga menjadikan skripsi ini menjadi lebih baik.
4. Bapak Basuki,SP., selaku Pembimbing Lapangan yang senantiasa meluangkan waktu untuk selalu membimbing, memberikan ilmu serta membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.
5. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani,M.Sc., selaku ketua jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung.
6. Bapak Prof. Suharso, Ph.D., selaku Dekan FMIPA Universitas Lampung
7. Bapak Purwito selaku Manager Research dan Development PT. GGP Terbanggi Besar
8. Seluruh Staff dan tenaga kerja bagian Proteksi Tanaman yang selalu memberikan dorongan dan motivasi serta kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
9. Kepada Ibu Sulis tyowati dan Bapak Riyanto yang selalu memberikan bantuan fisik maupun materi dan selalu memberikan bimbingan dan do’a kepada saya. 10. Kepada ketiga saudara saya Luxman Riyawan, Ma’ruf Tendi Setiyadi dan Neny
Agnasari.
11. Serta patner saya Eka Rahmawati atas kebersamaan, dukungan dan bantuan yang telah diberikan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.
13. Kepada mas Tumingan yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan bantuan baik fisik maupun materi sehingga ]penulis dapat menyelesaikan dengan baik. 14. Kepada teman-teman seperjuangan Biologi FMIPA UNILA 2010 yang telah
bersama-sama menempuh masa studi ini.
15. Kepada adik-adik tingkat dan kakak tingkat yang ada di Biologi FMIPA UNILA.
Akhir kata, Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan jauh dari sempurna, namun sedikit harapan dari Penulis semoga kesederhanaan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bandar Lampung, Juli 2014 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 5
1.3 Manfaat Penelitian ... 6
1.4 Kerangka Pemikiran ... 6
1.5 Hipotesis ... 10
2 TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Botani Tanaman Nanas ... 11
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Nanas ... 11
2.1.2 Syarat Tumbuh ... 14
2.2 Gulma ... 15
2.3 Cara-Cara Pengendalian Gulma ... 16
2.3.1 Preventif (Pencegahan) ... 16
2.3.2 Pengendalian Gulma Secara Fisik ... 17
2.3.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budidaya ... 18
2.4 Herbisida ... 20
2.5 Jenis Herbisida ... 22
2.5.1 Herbisida Kontak ... 22
2.5.2 Herbisida Sistemik ... 23
2.6 Mekanisme Kerja Herbisida ... 25
2.6.1 Pengaruh Herbisida Terhadap Fotosintesis ... 26
2.6.2 Pengaruh Herbisida Terhadap Pembelahan Sel Dan Perkembangannya ... 27
2.6.3 Pengaruh Herbisida Terhadap Sintesis Lipid ... 28
2.6.4 Pengaruh Herbisida Terhadap Pertumbuhan ... 28
2.6.5 Pengaruh Herbisida Terhadap Pernafasan ... 29
2.7 Gejala-gejala akibat herbisida ... 29
2.7.1 Chlorosis ... 29
2.7.2 Kelainan Tumbuh ... 30
2.7.3 Necrosis ... 30
2.7.4 Pengaruh Varietas dalam Hal Ketahanan Tumbuhan ... 31
2.8 Diuron ... 31
2.9 Quizalopop ... 33
2.10 Klorofil ... 34
3. METODE PERCOBAAN ... 37
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 37
3.2 Bahan dan Alat ... 37
3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 38
3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 39
3.4.2 Penyiapan Media Pertanaman ... 39
3.4.3 Penaman Nanas... 40
3.4.1 Cara Pembuatan Perbandingan Konsentrasi Herbisida ... 40
3.4.4 Pemberian Perlakuan ... 41
3.5 Analisis Data ... 42
4. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ... 43
4.1 Hasil Pengamatan ... 43
4.1.1 Perubahan Warna Daun pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) 43 4.1.2 Kandungan Klorofil pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 48
4.1.3 Pertumbuhan Panjang Akar terpanjang Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 54
4.2 Pembahasan ... 57
4.1.1 Perubahan Warna Daun pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) 57 4.1.2 Kandungan Klorofil pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 59
4.1.3 Pertumbuhan Panjang Akar terpanjang Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 60
V. KESIMPULAN ... 62
5.1 Kesimpulan ... ... 62
5.2 Saran ... 63
LAMPIRAN ... 64
Halaman
Tabel
1. Taraf Konsentrasi Herbisida ... 38
2. Tata Letak Percobaan ... 39
3. Daftar komposisi Larutan Herbisida ... 40
4. Pengaruh kombinasi konsentrasi herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D (D) dan Quizolopop berbahan aktif P-Etyl (Q) terhadap penampakan warna daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 45 5. Analisis ragam kandungan klorofil a (mg/L) pada daun nanas
(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 49 6. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil a (mL/g) pada daun nanas (Ananas
comosus) pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah
perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 0,375) ... 49
7. Analisis ragam kandungan klorofil b (mg/L)pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 51 8. Hasil Uji BNT kandungan klorofil b (mg/L)pada daun nanas (Ananas
comosus) pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah
perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 0,394) ... 51
9. Analisis ragam kandungan klorofil total (mg/L) pada daun nanas
(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 53 10. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil total (mg/L) pada daun nanas (Ananas
aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah
perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 5,640) ... 53
11. Analisis ragam kandungan pertumbuhan akar terpanjang (cm)
4 minggu setelah perlakuan ... 55
12. Hasil Uji BNJ pertumbuhan akar terpanjang (cm) pada perlakuan
kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah perlakuan
pada = 5 % (BNJ interaksi = 19,046) ... 55
13. Kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus)
dalam mL/g 4 minggu setelah perlakuan ... 68
14. Data Transformasi Log (x+1) kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 68 15. Uji Homogenitas data kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas
comosus) dalam mL/g ... 69 16. Analisis ragam kandungan klorofil a (mg/L) pada daun nanas
(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 69 17. Nilai rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus)
dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida
Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 0,188 ... 70
18. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida diuron
bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 0,145 pada = 5 %... 70
19. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian herbisida
Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,188
pada = 5 % ... 70
20. Hasil Uji BNJ Perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl
dengan nilai BNJ = 0,188 pada = 5 % ... 70
21. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,375 pada = 5 % ... 72
23. Kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus)
dalam mL/g 4 minggu setelah perlakuan ... 72
24. Data Transformasi Log (x+1) kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 73 25. Uji Homogenitas kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas
comosus) dalam mL/g ... 73 26. Analisis ragam kandungan klorofil b (mg/L) pada daun nanas
(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 74 27. Nilai rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas
(Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 0,197 ... 74
28. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida Diuron
bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 0,197 pada = 5 % ... 74
29. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Annanas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian hrbisida Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,197 pada = 5 % ... 74
30. Hasil Uji BNT kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,197 pada ... 75
31. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi
herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan
aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,394 pada = 5 % ... 75
32. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,394 pada = 5 % ... 76
34. Uji Homogenitas kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 77 35. Analisis ragam kandungan klorofil total 4 minggu setelah perlakuan .. 77
36. Nilai rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 2,820 ... 78
37. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida Diuron
bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 2,820 pada = 5 % ... 78
38. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian herbisida
Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 2,820
pada = 5 % ... 78
39. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl dengan nilai BNJ = 2,820 pada = 5 % ... 78
40. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi
herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan
aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 5,640 pada = 5 % ... 79
41. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 5,640 pada = 5 % ... 80
42. Panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam
cm 4 minggu setelah perlakuan ... 80
43. Uji Homogenitas data panjang akar terpanjang tanaman nanas
(Annanas comosus) dalam cm ... 80 44. Hasil analisis ragam panjang akar terpanjang (cm) 4 minggu setelah
perlakuan ... 81
45. Nilai rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl
46. Selisih rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian bahan aktif P-Etyl
dengan nilai BNJ = 9,523 pada = 5 % ... 82
47. Hasil Uji BNJ panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm Perlakuan pemberian konsentrasi herbisida
Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif
P-Etyl BNJ = 9,523 pada = 5 % ... 82
48. Selisih rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian kombinasi
konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 19,046 pada = 5 % ... 82
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar
1. Tanaman Nanas ... 11
2. Akar Tanah (a) dan Akar Samping (b) Tanaman Nanas ... 12
3. Batang Tanaman Nanas ... 12
4. Daun Tanaman Nanas ... 13
5. Bunga Nanas ... 14
6. Rumus Bangun Senyawa yang Terkandung dalam Herbisida Diuron .... 32
7. Struktur kloroplas beserta bagian-bagiannya ... 36
8. Tanaman Nanas berumur 3 bulan (obyek penelitian) yang dihilangkan akarnya ... 40
9. Daun sehat atau sebelum perlakuan …... 43
10. Leaf Color Chart ... 44
11. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D) terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 49
12. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida berbahan aktif P-Etyl terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 50
13. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 50
16. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 52 17. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D
terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 53 18. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Quizalopop berbahan aktif
P-Etyl terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 54 19. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan
P-Etyl terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas
comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 54 20. Pengaruh perlakun konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D
terhadap pertumbuhan akar pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 56 21. Pengaruh perlakun konsentrasi herbisida Quizalopop berbahan aktif P-Etyl terhadap pertumbuhan akar pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 56 22. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nanas merupakan tanaman buah yang memiliki nama ilmiah Ananas
comosus. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera).
Nanas secara luas tumbuh di daerah tropis dan bernilai ekonomis. Nanas
selain mengandung gula juga mengandung vitamain A, B dan C. Di
samping itu nanas juga mengandung bromelin yang dapat digunakan untuk
melunakan daging (Mortensen, 1970).
Tanaman nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan
(perennial). Batang tanaman nanas beruas, batangnya berukuran cukup
panjang 20-25 cm atau lebih dan memiliki diameter 2,0-3,5 cm (Hartmann,
1981). Daun nanas bentuknya memanjang, liat dan tidak mempunyai ibu
tulang daun. Pada tepi daunnya ada yang ditumbuhi duri tajam dan ada
yang tidak berduri. Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.
Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun
Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk yang tersusun pada ujung
batangnya. Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200.
Waktu yang diperlukan dari mulai menanam tanaman nanas sampai
terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan.
Menurut Sunarjono (2004), tanaman nanas dapat tumbuh di dataran
rendah hingga dataran tinggi 1.200 m dpl. Tanaman nanas dapat tumbuh
baik pada tanah subur dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun.
Namun demikian nanas masih mampu berbuah di daerah beriklim kering
(4-6 bulan kering), dengan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Sebab
akar tanaman nanas berakar serabut yang pola pertumbuhannya tidak
masuk ke dalam tanah, disamping itu tanaman nanas mampu menyimpan
air di dalam mesofil daunnya.
Kesuburan tanah dapat meningkatkan produktivitas tanaman nanas, tanah
yang subur terdiri atas udara 25%, air 25 %, mineral 45%, dan bahan
organik 5 %. Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan
untuk pertanian cocok untuk tanaman nanas. Meskipun demikian, lebih
cocok pada jenis tanah yang mengandung pasir, subur, gembur. Derajat
keasaman yang cocok adalah dengan pH 4,5-6,5. Tanah yang banyak
mengandung kapur (pH lebih dari 6,5) menyebabkan tanaman nanas
menjadi kerdil dan klorosis. Sedangkan tanah yang asam (pH 4,5 atau
lebih rendah) mengakibatkan penurunan unsur Fosfor, Kalium, Belerang,
3
Terdapat beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman nanas, seperti misalnya : penggunaan kombinasi
dan taraf konsentrasi herbisida yang tidak tepat. Terlebih pada tanaman
nanas, pemberian herbisida biasa dilakukan pada saat tanaman nanas
berumur 3 bulan, apabila kombinasi herbisida dan taraf konsentrasi yang
digunakan tidak tepat bisa mengakibatkan clorosis pada daun.
Perkebunan nanas terbesar di Indonesia adalah yang dimiliki PT. Great
Giant Pineapple (GGP), yang berdiri sejak tahun 1979 bertempat di
Provinsi Lampung dengan luas lahan perkebunan ± 32.000 ha. Perusahaan
ini berkembang dalam bidang agribisnis dan nanas merupakan produk
utamanya. Salah satu kendala yang dihadapi oleh perkebunan ini adalah
keberadaan gulma.
Gulma merupakan tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dalam
ekosistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam
membudidayakan tanaman pada suatu lahan. Di dalam ekosistem
pertanian, setiap spesies gulma mampu berkembang biak dengan cepat
dan bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan dalam hal pemanfaatan
unsur hara, air, ruang, CO2, dan cahaya baik di lahan sawah maupun
lahan kering. Hal tersebut tentu akan merugikan bagi tanaman yang
dibudidayakan, antara lain berupa penurunan hasil panen, menyulitkan
pekerjaan pemeliharaan tanaman dan pemanenan, serta meningkatkan
Salah satu cara penanggulangan gulma adalah dengan menggunakan
herbisida. Penggunaan herbisida pada umumnya dapat mematikan
beberapa jenis tumbuhan penganggu (gulma) tanpa mengganggu atau
mematikan tanaman yang dibudidayakan. Sebab ketika kemampuan
selektivitas herbisida dalam mematikan gulma dapat ditingkatkan tidak
menimbulkan kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan, maka akan
mempermudah pengendalian gulma dilapangan (Muliyadi, 2005).
Beberapa jenis herbisida yang biasa digunakan di PT. GGP adalah
herbisida Diuron yang mengandung bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
dengan bahan aktif P-Etyl. Dalam penggunaanya kedua herbisida ini
dikombinasikan.
Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini berbahan
aktif 3,4-D dengan rumus kimia yaitu
3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea. Herbisida dengan bahan aktif ini bersifat sistemik.
Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui akar dan ditranslokasikan ke
daun melalui batang. Herbisida diuron menghambat reaksi Hill (reaksi
pemecahan air) pada fotosintesis tepatnya pada fotosistem II. Dengan
demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,
1984).
Quizalopop merupakan herbisida sistemik purna tumbuh untuk
mengendalikan gulma pada pertanaman. Bahan aktif pada herbisida ini
5
(R)-2-[4-(6-chloroquinoxalin-2-yloxy)fenoksi]asam propionat[6]. Bahan
aktif ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan
ditransformasikan ke seluruh organ tanaman. Senyawa ini diduga mirip
dengan hormon pada tumbuhan yang dapat menyebabkan pembelahan sel
secara tidak normal sehingga dapat menghancurkan sistem transportasi
nutrisi tanaman (Sulistyo, 2003).
Penggunaan konsentrasi herbisida yang tidak tepat dapat mengakibatkan
kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan meskipun dapat mematikan
gulma. Di PT.GGP telah dilakukan uji efektifitas penggunaan kombinasi
herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D dan Quizalopo berbahan aktif
P-Etyl pada cultivar nanas GP1 dan aman utuk pertumbuhannya. Saat ini
cultivar GP3 merupakan varietas nanas unggulan di perusahaan tersebut
sehingga perlu dilakukan uji coba penggunaan herbisida berbahan aktif
3,4-D dan P-Etyl pada cultivar GP3.
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida berbahan aktif
3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil dan pertumbuhan akar tanaman
1.3 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang lebih jelas
mengenai penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron berbahan
aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl terhadap kandungan
klorofil dan pertumbuhan akar tanaman nanas (Annanas comosus) varietas
smooth cayenne cultivar GP3.
1.4 Kerangka Pemikiran
Salah satu produsen dan eksportir nanas kalengan terbesar di Indonesia
adalah PT. Great Giant Pineapple (PT. GGP) yang terletak di Terbanggi
Besar, Lampung Tengah. Sejak tahun 2004 hingga saat ini, PT. GGP
tercatat sebagai tiga besar produsen nanas di dunia. PT. GGP juga
merupakan produsen private label terbesar di dunia dengan pangsa pasar
17%. Selain itu, PT. GGP merupakan produsen yang memiliki luas lahan
penanamannya terbesar di dunia (Iskandar dan Soelaeman, 2007).
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi di perkebunan ini adalah
pengendalian gulma. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak
diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa
dicapai oleh tanaman produksi.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara
7
belum matang karena kemungkinan bibit gulma terbawa di dalamnya.
Secara fisik, misal dengan pembabatan, gulma yang tumbuh pada lahan
pembudidayaan. Dengan sistem budidaya, misal dengan penaungan
dengan tumbuhan penutup (cover crops) sehingga memungkinkan gulma
tidak dapat tumbuh pada kondisi kekurangan cahaya. Secara biologis,
yaitu dengan menggunakan organisme lain seperti fungi atau jamur yang
biasa disebut dengan fungisida.
Selain itu pengendalian gulma juga dapat dilakukan dengan cara kimiawi,
yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat
digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik
secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat
pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan
menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk
mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Salah satu pengendalian gulma di PT. GGP dilakukan secara kimiawi yaitu
dengan menggunakan herbisida. Kemampuan herbisida dalam mematikan
gulma namun tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya
bergantung jenis dan konsentrasi herbisida yang digunakan. Untuk saat ini
di PT. GGP, penggunaan jenis herbisida yang tepat namun tidak
mematikan tanamn budidaya adalah kombinasi herbisida Diuron berbahan
aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl dengan konsentrasi
Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini berbahan
aktif 3,4-D dengan rumus kimia yaitu
3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea. Herbisida dengan bahan aktif ini bersifat sistemik.
Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui akar dan ditranslokasikan ke
daun melalui batang. Herbisida diuron menghambat reaksi Hill (reaksi
pemecahan air) pada fotosintesis tepatnya pada fotosistem II. Dengan
demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,
1984).
Quizalopop merupakan herbisida sistemik purna tumbuh untuk
mengendalikan gulma pada pertanaman. Bahan aktif pada herbisida ini
adalah P-Etyl dan memiliki rumus kimia yaitu
(R)-2-[4-(6-chloroquinoxalin-2-yloxy)fenoksi]asam propionat[6]. Bahan
aktif ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan ditranslokasikan
ke seluruh organ tanaman. Senyawa ini diduga mirip dengan hormon
tumbuhan yang dapat menyebabkan pembelahan sel secara tidak normal
sehingga dapat menghancurkan sistem transportasi nutrisi tanaman.
Pemberian herbisida di perkebunan PT. GGP ini biasa dilakukan dengan
menggunakan alat yang disebut Boom Spraying Cameco (BSC). Dengan
alat ini memungkinkan herbisida yang disemprotkan tidak hanya mengenai
gulma tetapi juga akan mengenai tanaman nanas terutama helaian
daunnya. Apabila penggunaan herbisida yang tidak tepat maka akan
menyebabkan kerusakan pada daun nanas yang dapat menyebabkan
9
penurunan kandungan klorofil akan terjadi gangguan pada proses
metabolisme dari tanaman nanas tersebut. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya permasalahan dalam pertumbuhan tanaman nanan.
Di PT. GGP penggunaan herbisida pada tanaman nanas biasa dilakukan
pada saat tanaman berumur 3 bulan. Pada umur tersebut tanaman nanas
sedang mengalamai proses pertumbuhan yang cukup pesat. Apabila pada
masa pertumbuhan tanaman nanas tersebut terhambat maka proses
pertumbuhan dan perkembangan bagian-bagian tumbuhan yang lain pun
akan terhambat, seperti misalnya pertumbuhan akar dan pembentukan
bunga yang biasanya akan terbentuk pada usia 12 bulan setelah tanam.
Diduga salah satu yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan nanas
adalah penggunaan jenis dan konsentrasi herbisida yang tidak tepat.
Di PT. GGP telah digunakan herbisida Quizalopop yang berbahan aktif
P-Etyl dan Diuron yang berbahan aktif 3,4-D pada nanas varietas smooth
cayenne cultivar GP1 dengan taraf konsentrasi 0,2% - 0,3%. Pada
konsentrasi yang diberikan tersebut tidak menimbulkan kerusakan pada
nanas varietas smooth cayenne cultivar GP1. Saat ini cultivar GP3
merupakan varietas nanas unggulan yang sedang dikembangbiakkan di
perusahaan tersebut oleh karena itu perlu dilakukan uji coba penggunaan
kombinasi konsentrasi herbisida Diuron yang berbahan aktif 3,4-D dan
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini akan
dicoba penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida Quizalopop dan
Diuron dengan taraf konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15% pada
varietas smooth cayenne tanaman nanas cultivar GP3 yang berumur 3
bulan dengan cara penyemprotan langsung mengenai daun tanaman nanas.
1.5 Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perlakuan kombinasi
konsentrasi herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D dan Quizalopop
berbahan aktif P-Etyl memberikan pengaruh terhadap kandungan klorofil
dan pertumbuhan akar tanaman nanas (Annanas comosus) varietas smooth
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Tanaman Nanas
[image:31.595.220.359.334.439.2]2.1.1 Klasifikasi Tanaman Nanas
Gambar 1. Tanaman Nanas(Foto koleksi Pribadi)
Klasifikasi tanaman nanas menurut Plantamor yaitu sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (monokotil)
Bangsa : Farinosae (Bromeliales)
Suku : Bromeliaceae
Marga : Ananas
Akar nanas (lihat gambar 2) dapat dibedakan menjadi akar tanah (a) dan
akar samping (b), dengan sistem perakaran yang terbatas. Akar-akar
melekat pada pangkal batang dan termasuk berakar serabut
(monocotyledonae). Kedalaman perakaran pada media tumbuh yang baik
tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di tanah biasa jarang mencapai
kedalaman 30 cm (Murniati, 2006).
[image:32.595.153.495.222.406.2]a b
Gambar 2. Akar TanahTanaman Nanas (a) dan Akar SampingTanaman Nanas (b) (Foto koleksi Pribadi)
Batang tanaman nanas (gambar 3) berukuran cukup panjang 20-25 cm
atau lebih, tebal dengan diameter 2,0 -3,5 cm, beruas-ruas (buku-buku)
pendek. Batang sebagai tempat melekat akar, daun, bunga, tunas dan
buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak karena
disekelilingnya tertutup oleh daun. Tangkai bunga atau buah merupakan
perpanjangan batang (Hartmann, 1981).
[image:32.595.221.354.607.703.2]13
Daun nanas (lihat gambar 4) panjang, liat dan tidak mempunyai tulang
daun utama. Pada tepi daunnya ada yang ditumbuh duri tajam dan ada
yang tidak berduri. Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.
Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun
[image:33.595.136.449.222.358.2](Halfacre, 1979).
Gambar 4. Daun Tanaman Nanas (Foto koleksi Pribadi)
Nanas merupakan tanaman yang termasuk kedalam bangsa bromeliales,
dimana taman ini tergolong sebagai tanaman Crassulacean Acid
Metabolism(CAM). Tanaman CAM pada umumnya hidup di daerah
kering, mempunyai daun tebal, laju transpirasi rendah, sel-sel daun
mempunyai vakuola relatif besar dan lapisan sitoplasma yang tipis.
Stomata pada tanaman ini akan membuka pada malam hari dan akan
terjadi proses fiksasi CO2 yang menghasilkan asam malat. Sedangkan
pada siang hari stomata akan tertutup dan akan terjadi daur Calvin yang
menghasilkan glukosa (Campbell et al., 2006).
Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk pada ujung batangnya (lihat
gambar 5). Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200,
mekar setiap hari, berjumlah sekitar 5-10 kuntum. Pertumbuhan bunga
dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas memakan waktu 10-20 hari.
Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan
[image:34.595.215.321.198.284.2](Murniati, 2006)
Gambar 5. Bunga Nanas (Foto koleksi Pribadi)
2.1.2 Syarat Tumbuh
Tanaman nanas dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 1.200
mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap
kekeringan. Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah subur,
daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-1.500 mm per tahun.
Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3,3-7,9,
tetapi paling baik adalah pH tanah antara 4,5-6,2. Oleh karena itu, tanaman
nanas bagus pula dikembangkan di lahan gambut (Murniati, 2006).
Pada daerah yang kering, nanas tetap dapat tumbuh karena memiliki struktur
dan morfologi daun yang dapat menampung air, embun, dan air hujan ke
arah pangkal daun. Selain itu, nanas juga memiliki trikoma dan lapisan
15
Meskipun demikian, kedalaman air tanah tidak lebih dari 150 cm di bawah
permukaan tanah (Murniati, 2006).
2.2 Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan
pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan
proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan
hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi.
Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada
tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya,
tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak
mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman
monokulturjagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem
tumpangsari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian,
beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan
alang-alang(Sutiono, 2010).
Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma darat, dan gulma air.
Gulma darat merupakan gulma yang hidup didarat, dapat merupakan gulma
yang hidup setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas).
Penyebarannya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh gulma
darat diantaranya Ageratumconyzoides, Digitaria spp, Imperatacylindrical,
berada di air. Jenis gulma air dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang
hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina crassipes, Sailvinia spp),
gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan
gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Sutiono, 2010).
2.3 Cara-Cara Pengendalian Gulma
Pengendalian dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah
biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih mudah. Di negara-negara yang
sedang membangun kegiatan pengendalian gulma yang banyak dilakukan
orang adalah pemberantasan. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan
cara-cara :
2.3.1 Preventif (Pencegahan)
Cara-cara pencegahan masuk dan menyebarnya gulma baru antara lain
adalah :
a. Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji
gulma
b. Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang
c. Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput
makanan ternak
d. Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan
17
f. Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain
sebagainya (Hance, 1987).
Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan dengan baik,
maka harus dicegah pula agar jangan sampai gulma berbuah dan berbunga.
Di samping itu juga mencegah gulma tahunan (perennial weeds) jangan
sampai berkembangbiak terutama dengan cara vegetatif (Hance, 1987).
2.3.2 Pengendalian Gulma Secara Fisik
Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan :
a. Pengolahan tanah
b. Pembabatan (pemangkasan, mowing)
c. Penggenangan
d. Pembakaran
e. Mulsa (mulching, penutup seresah) (Hance, 1987).
2.3.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budidaya
Cara pengendalian ini juga disebut pengendalian secara ekologis, oleh
karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan
sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman
Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat
beberapa cara yaitu :
a. Pergiliran Tanaman
b. Budidaya pertanaman
c. Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) (Hance, 1987).
2.3.4 Pengendalian Gulma Secara Biologis
Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma
dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, ikan
dan sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau
fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang
telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang
lama serta membutuhkan ketelitian. Juga harus yakin apabila species
gulma yang akan dikendalikan itu habis, insekta atau fungi tersebut tidak
menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis
(Hance, 1987).
2.3.5 Pengendalian Gulma Secara Kimiawi
Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan
menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa
kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan
19
tanaman budidiaya. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun
sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau
pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah
cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas dengan tidak mematikan
tanaman budidaya. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan
tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya
(Institut Pertanian Bogor, 2013).
2.3.6 Pengendalian Gulma Secara Terpadu
Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu
pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara
bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Artinya gulma bisa dibunuh tetapi tanaman budidaya tetap hidup.
2.4 Herbisida
Herbisida merupakan bahan kimia yang dikembangkan pertama kali
padatahun 1940-an. Sebelum era tahun tersebut, garam dapur dan asam
sulfat jugamerupakan bahan kimia yang telah lama diketahui dapat
mematikan tumbuhan, dan memang dapat disebut sebagai herbisida. Namun
ledakan perkembangan herbisida tidak begitu pesat sampai pada pemakaian
Herbisida 2,4-D muncul di pasaran pada tahun 1945, dikembangkan oleh tim
dari Inggris yang menginginkan peningkatan produksi pangan sebagai usaha
yang dilakukan pada saat perang. Penemuan 2,4-D ini mampu memberikan
konsep yang lebih jelas tentang herbisida, yaitu efektif dalam jumlah yang
sedikit, bersifat selektif, dan sistemik (Sarianti, 2012).
Penemuan herbisida membuat petani Eropa dan Amerika tertarik, karena hal
ini bertepatan dengan hebatnya metode mekanisasi pertanian yang bertujuan
untuk meningkatkan hasil pertanian baik kuantitas maupun kualitas, serta
mengurangi biaya (Anonim, 2010).
Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian
untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan
hasil. Karakteristik herbisida dibagi ke dalam beberapa penggolongan,
diantaranya penggolongan herbisida berdasarkan daya aktif terhadap jenis
gulma, berdasarkan bidang sasaran, berdasarkan gerakannya (Sarianti,
2012).
Pada pengendalian gulma, mengendalikan gulma secara khemis merupakan
salah satu cara pengendalian disamping pengendalian secara manual/mekanis.
Dalam mengendalikan gulma secara khemis digunakan herbisida. Herbisida
adalah bahan kimia yang digunakan untuk mematikan atau menghambat
pertumbuhan gulma. Secara kasat mata tanaman dan gulma memiliki
morfologi yang hampir sama namun berbeda peran dalam pertanian (Sarianti,
21
Penyemprot harus memastikan bahwa herbisida yang diberikan terarah pada
gulma dan meniadakan persentuhan semprotan herbisida terhadap tanaman.
Herbisida merupakan bagian atau anggota dari pestisida. Selain herbisida,
pestisida terdiri atas insektisida, fungisida, bakterisida dan lain-lain
(Sulistyo, 2003).
Dalam pengendalian species gulma yang berada di lahan sangat menentukan
pada tindakan yang akan diambil. Bagi gulma annual akan berbeda dengan
gulma perennial, demikaian pula dengan gulma yang berdaun sempit,
berdaun lebar atau jenis teki-tekian. Dan juga gulma yang hidup di dataran
rendah dan yang hidup di dataran tinggi (Muliyadi, 2005).
2.5 Jenis Herbisida
2.5.1 Herbisida Kontak
Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan
jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama
bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat
cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih
hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas
(Biolucious, 2011).
Di dalam jarinngan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak
melalui phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena,
pertumbuhan gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian, rotasi
pengendalian menjadi singkat. Herbisida kontak memerlukan dosis dan air
pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan
gulma dan diperoleh efek pengendalian yang lebih baik (Biolucious,
2011).
Herbisida kontak juga yang bekerja dengan cara menghasilkan radikal
hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh
konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup
yang terkena larutan, jadi bagian tanaman di bawah tanah seperti akar
atau akar rimpang tidak terpengaruh. Proses kerja pada herbisida ini pun
sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena
semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif
berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat,
2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati.
Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan.
Kelemahannya, gulma akan tumbuh kembali secara cepat sekitar 2
minggu kemudian dan bila herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses
kerjanya tidak berpengaruh pada gulma.
Contoh-contoh herbisida kontak pada umumnya yang digunakan adalah
sebagai berikut
23
• Paracol (Novizan, 2007).
2.5.2 Herbisida Sistemik
Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan
ke seluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai
keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan
waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya
(gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang
terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi jaringan
tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan
jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke
perakarannya (Novizan, 2007).
Keistimewaannya, dapat mematikan tunas-tunas yang ada dalam tanah,
sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya
hampir sama merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun
sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali terjadi
sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama (panjang).
Penggunaan herbisida sistemik ini secara keseluruhan dapat menghemat
waktu, tenaga kerja, dan biaya aplikasi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik, yaitu:
- Cuaca cerah waktu menyemprot.
- Tidak menyemprot menjelang hujan.
- Keringkan areal yang akan disemprot.
- Gunakan air bersih sebagai bahan pelarut (Novizan, 2007).
Pemakaian suatu jenis herbisida secara terus menerus akan membentuk
gulma yang resisten sehingga akan sulit mengendalikannya. Guna
mengantisipasi kelemahan tersebut diatas adalah dengan mencampurkan
dua herbisida. Pencampuran dua jenis herbisida telah dilakukan sejak
lama dengan tujuan untuk memperluas spektrum pengendalian gulma,
mengurangi resistensi gulma terhadap salah satu herbisida sehingga
mencegah vegetasi gulma yang mengarah ke homogen (Novizan, 2007).
Ketika dua atau lebih bahan kimia terakumulasi di dalam tanaman,
mereka melakukan interaksi dan respon ditunjukkan keluar menghasilkan
reaksi yang berbeda ketika bahan kimia tersebut diberikan sendiri-sendiri.
Interaksi ini bisa bersifat sinergi, adidtif atau antagonis (Novizan, 2007)
2.6 Mekanisme Kerja Herbisida
Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme
senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi
dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida menjadi
kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang
25
mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan
tumbuhan (Boerboom, 2005).
Herbisida bekerjasama dengan enzim dan membelokkan arah metabolisme ke
arah yang salah atau menghentikannya. Contohnya :
1. 2,4-D suatu zat tumbuh tiruan berkekuatan ± 1000 kali IAA. Herbisida
ini dapat memacu pertumbuhan secara berlebihan sehingga tumbuhan
itu mati. Hal ini dikarenakan laju respirasi meningkat dan laju
fotosintesis menurun. Kemungkinan mengganggu inti sel sehingga
proses metabolism menjadi terganggu.
2. Amitrole (aminotriazok) mencengah pembentukan carotenoids.
Carotenoid/carotene harus dibentuk untuk menggantikan klorofil yang
rusak. Tanpa carotenoids, khlorofil terokdsidasi oleh oksigen dalam
proses fotosintesis. Khlorofil teroksidasi yang dipacu sinar matahari.
Ratio carotene; khlorofil = 1:8. Bila jumlah carotene kurang dari 1/8,
khlorofil teroksidasi.
3. Paraquat mengkatalisasi pemecahan H2O menjadi ½ O2 dan 2H+ (Riadi,
2011).
2.6.1 Pengaruh Herbisida pada Fotosintesis
Herbisida yang aman digunakan adalah herbisida yang memiliki
mekanisme kerja dalam menghambat proses fotosintesis. Dalam
mekanismenya khloroplast yang telah memperoleh energi dari cahaya
1. H2O dipecah menjadi 2H+ dan ½ O2. Lewat serangkai reaksi kimia H+
dipakai untuk mereduksi zat-zat antara, sehingga akhirnya ADP dan
H3PO4 direduksi menjadi ATP. Rantai pertama ini dinamai PS2
(fotosistem 2).
2. Pada rantai kedua terjadi beberapa reaksi, yang berakhir dengan
reduksi NADP menjadi NADPH. Rantai kedua dinamai PS1
(fotosistem 1)(Riadi, 2011).
Ada empat kelompok yang mempengaruhi fotosintesis, yaitu:
1. Senyawa amitrole mencengah pembentukan carotene. Caroten
bertugas untuk melindungi khlorofil, jangan sampai bereaksi dengan ½
O2 yang tereksitasi dan kelebihan tenaga (excited).
2. Triazines, uracils, dan turunan ureas mencengah reaksi Hill, sehingga
fotosintesis terhenti.
3. Ioxynil, mengganggu reaksi-reaksi diantara PS2 dan PS1.
4. Paraquat/diquat, yang membelokkan rantai transport elektron,
sehingga terjadi rekasi ½ O2 + H2O +e- H2O2. Senyawa H2O2
merupakan herbisida yang merusak membran sel (plasmalemma).
Akibatnya sel menjadi kering (Riadi, 2011).
2.6.2 Pengaruh Herbisida Terhadap Pembelahan Sel dan
27
Beberapa herbisida mampu mencengah terbentuknya sel-sel baru pada
kecambah, mata tunas, dan ujung akar. Pecengahan dilakukan dengan
cara:
a. Mencegah terbentuknya ATP
b. Menimpangkan keseimbangan hormon, yang mengatr datangnya
zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan (Riadi, 2011).
2.6.3 Pengaruh Herbisida Terhadap Sintesa Lipid
Plasmalemma terdiri atas protein dan lipid.Sehinggalipid dibutuhkan untuk
sempurnanya plasmalemma. Organel-organel seperti khloroplast dan
mitokondria dibungkus oleh membran, serupa dengan plasmalemma.Pada
bagian atas kutikula lipid berperan dalam proses penebalan kutikula
sehingga penguapan di dalam sel akan berkurang. Terdapat beberapa
senyawa yang terkandung di dalam herbisida seperti Dalapon dan EPTC
mampu mencengah penebalan lipid lilin di atas kutikula. Pada kekentalan
yang lebih tinggi membran-membran di dalam sel pun dirusak, sehingga
isi organel berantakan (Riadi, 2011).
Hormon Auxins, geberelin, cytokinin, ABA, dan C2H4 merupakan
hormon yang mengatur pertumbuhan dan proses fisiologis. Senyawa
2,4-D dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, seringkali
pertumbuhan terhenti. Kadang-kadang tangkai-tangkai daun mulai
tumbuh kembali dan tumbuhnya melengkung. Jaringan dewasa tumbuh
membengkak, melengkung, pecah, menjadi callus, dan bahkan menjadi
akar. Pertumbuhan demikian merupakan pertumbuhan yang tidak normal
(Riadi, 2011).
2.6.5 Pengaruhnya Terhadap Pernafasan
Pernafasan mulai dengan oksidasi sukrose sampai ke pembentukan ATP.
Ioxynil, homoxynil, dan dinoseb mencengah pembentukan ATP.
Sedangkan ATP sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme (Riadi,
2011).
2.7 Gejala-Gejala Akibat Herbisida
2.7.1 Chlorosis
Gangguan terhadap produksi chlorofil dan pemeliharaannya menyebabkan
gejala chlorosis. Chlrosis menyebabkan hijau digantikan oleh putih atau
merah muda, yang disebabkan oleh chloromatofora. Amitrole
memutihkan seluruh tumbuhan. Herbisida lain menyebabkan memutihnya
jaringan intervenal atau sebagian dari daun. Chlorosis disebabkan oleh
29
Selain itu dapat juga terjadi kerdil yang disebabkan oleh mitotic inhibitors;
pencengahan pembelahan sel, sehingga apex pucuk maupun akar tidak
tumbuh. Trifluralin dan turunan nitroaniline menyebabkan akar-akar
lateral menjadi kerdil. Pencengahan tumbuh akar tunggang adalah akibat
karbamat dan amides. Gejala pertama yang biasanya nampak pada
keracunan dichlobenil dan carbamates adalah tertahannya pertumbuhan
pucuk (Riadi, 2011).
2.7.2 Kelainan Tumbuh
Phenoxy – alkanoic acids dan picloram menyebabkan kelainan tumbuh
pada tumbuhan yang peka. Bentuk gangguan itu adalah ganguan pada
pembelahan sel & pemanjangan sel. Akibatnya terjadi epinasty
(melengkunya ranting muda dan tangkai dan), terjadinya bentuk aneh
pada daun (daun berlekuk/berbukit), ranting bengkak sampai pecah.
Kadang-kadang terbentuk callus dan akar di atas tanah (Riadi, 2011).
2.7.3 Necrosis.
Membran sel pecah sehingga sel kehilangan air dan mati. Permukaan
membran merupakan tempat terjadinya reaksi biokimia. Tanpa kehilangan
air pun sel akan mati. Penggunaan herbisida diquat, paraquat, ioxynil, 7
dinoseb mampu menghanguskan jaringan hijau hangus & mati (necrosis)
2.7.4 Pengaruh Varietas dalam Hal Ketahanan Tumbuhan
Perbedaan jenis dan konsentrasi dapat menyebabkan adanya tumbuhan
yang rentan dan kurang rentan, bahkan ada yang tahan terhadap satu
herbisida (Riadi, 2011).
Contoh gulma yang bervariasi ketahanannya adalah :
· Amaranthus powellii terhadap trifluralin dan diphenamid, yang menjadi
dominan
· Sorgum halepense terhadap dalapon (Riadi, 2011).
2.8 Diuron
Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini merupakan
herbisida yang selektif dan dipakai lewat tanah, walaupun ada beberapa
yanglewat daun. Termasuk dalam kelompok ini adalah diuron, linuron,
monuron dan sebagainya. Nama kimia dari herbisida diuron adalah
3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea (gambar 6). Menurut Thomson (1967
diuron dapat digunakan sebagai herbisida pra tumbuh, pasca tumbuh serta
31
3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea
Gambar 6. Rumus Bangun Senyawa yang Terkandung dalam Herbisida Diuron(Tjitrosoedirdjo et al, 1984).
Herbisida diuron bersifat sistemik. Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui
akar dan ditranslokasikan ke daun melalui batang. Pemakaian lewat daun
tidak ditranslokasikan lagi. Di dalam tubuh tumbuhan diuron mengalami
degradasi, terutama melalui pelepasan gugus metil. Herbisida diuron
menghambat reaksi Hill pada fotosintesis, yaitu dalam fotosistem II. Dengan
demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,
1984).
Ada dua hal yang menyebabkan diuron tetap berada di permukaan tanah
dalam waktu yang relatif agak lama yaitu : (1) tidak mudah larut dalam air
sehingga diuron mempunyai kemampuan untuk bertahan dari pencucian dan
(2) tingkat absorbsi yang tinggi oleh koloid tanah. Diuron banyak digunakan
untuk pengendalian gulma pada tanaman tebu, kapas, karet, teh dan
sebagainya. Dalam keadaan murni diuron akan berupa kristal putih, tidak
menguap, tidak mudah terbakar dan tidak berbau, akan meleleh pada suhu
158-159oC, larut dalam air pada suhu 25oC sebanyak 42 ppm dan tahan
terhadap dekomposisi (Sumintapura dan Iskandar, 1975).
Gejala yang terjadi akibat aplikasi diuron tergantung pada jenis tumbuhan itu
sendiri. Biasanya kematiannya diawali pada ujung daun dan apabila ujung
khlorosis yang biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat dan
kematian yang mendadak (Tjitrosoedirdjo et al, 1984).
2.9 Quizalopop
Quizalofop-p-etil adalah herbisida pratanam. Herbisida ini digunakan untuk
mengendalikan gulma rumput tahunan.Quizalofop-P-Etil (QPE) adalah
senyawa herbisida fenoksi. Herbisida ini digunakan dalam pertanian dalam
mengendalikan gulma. Penggunaan sembarangan herbisida di bidang
pertanian, serta peningkatan polusi dalam ekosistem akibat pembangunan
industri, membenarkan evaluasi toksisitas bahan kimia ini (Marcano
,etal.,2004). Saat ini, literatur tidak tersedia pada efek sitologi herbisida
QPE dalam sistem tanaman. QPE biasa digunakan untuk mematikan gulma
berdaun sempit, sepertiDigitaria sp., Eleusine indica, Echinochloa
colonum.
QPE termasuk herbisida yang selektif dalam mematikan gulma tanpa merusak
tanaman budidaya. Selain itu merupakan postemergence fenoksi herbisida.
Hal ini digunakan untuk mengendalikan gulma rumput tahunan seperti
kentang, kedelai, gula bit, sayuran kacang, kapas dan rami. Bahan aktif
pada herbisida ini adalah
(R) -2 - [ 4 - ( 6 - chloroquinoxalin - 2 - yloxy ) fenoksi ] asam propionat [ 6 ].
Senyawa ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan
ditransformasikan ke seluruh organ tanaman yang kemudian akan
33
cenderung selektif membunuh gulma broadleaved daripada rumput.
Herbisida asam benzoat fenoksi diduga mirip dengan hormon pada tumbuhan
yang dapat menyebabkan pembelahan sel secara tidak normal sehingga dapat
menghancurkan sistem transportasi nutrisi tanaman.
2.10 KLOROFIL
Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu chloros artinya hijau dan
phyllos artinya daun. Pigmen ini berperan dalam proses fotosintesis
tumbuhan dengan menyerap dan mengubah energi cahaya menjadi energi
kimia (Muthalib, 2009).
Sifat fisik klorofil adalah menerima dan atau memantulkan cahaya dengan
gelombang yang berlainan (berpendar = berfluoresensi). Klorofil banyak
menyerap energi matahari pada gelombang 400- 700 nm, terutama sinar
merah dan biru. Sifat kimia klorofil, antara lain (1) tidak larut dalam air,
melainkan larut dalam pelarut organik yang lebih polar, seperti etanol dan
kloroform; (2) inti Mg akan tergeser oleh 2 atom H bila dalam suasana asam,
sehingga membentuk suatu persenyawaan yang disebut feofitin yang
berwarna coklat (Dwidjoseputro, 1994).
Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi fotosintesis.
Fotosintesis merupakan proses perubahan senyawa anorganik (CO2 dan
H2O) menjadi senyawa organik (karbohidrat) dan O2 dengan bantuan cahaya
Kloroplas (Gambar 7) adalah organel sel tanaman yang mempunyai membran
luar, membran dalam, ruang antar membran dan stroma. Permukaan
membran internal yang disebut tilakoid akan membentuk kantong pipih dan
pada posisi tertentu akan bertumpukan dengan rapi membentuk struktur yang
disebut granum. Seluruh granum yang terdapat pada kloroplas disebut grana.
Tilakoid yang memanjang dan menghubungkan granum satu dengan yang
lain di dalam stroma disebut lamela. Stroma merupakan rongga atau ruang
dalam kloroplas dan berisi air beserta garam-garam yang terlarut dalam air.
Klorofil terdapat di dalam ruang tilakoid ( Thorpe, 1984; Campbell et al.,
2003).
Tiga fungsi utama klorofil dalam proses fotosintesis adalah memanfaatkan
energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan
menyediakan energi bagi ekosistem secara keseluruhan. Karbohidrat yang
dihasilkan dalam fotosintesis diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat
dan molekul organik lainnya. Klorofil menyerap cahaya yang berupa radiasi
elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Cahaya matahari
mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet,
tetapi tidak semua panjang gelombang diserap dengan baik oleh klorofil.
Klorofil dapat menampung cahaya yang diserap oleh pigmen lainnya melalui
fotosintesis, sehingga klorofil disebut sebagai pigmen pusat reaksi
fotosintesis (Bahri, 2010).
Tanaman tingkat tinggi mempunyai dua macam klorofil yaitu klorofil a
35
yang berwarna hijau muda (lihat gambar 8). Klorofil a dan klorofil b paling
kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), dan paling sedikit
menyerap cahaya hijau (500-600 nm). Sedangkan cahaya berwarna biru
diserap oleh karotenoid. Karotenoid membantu menyerap cahaya, sehingga
spektrum cahaya matahari dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi
yang diserap oleh klorofil b dan karotenoid diteruskan kepada klorofil a untuk
digunakan dalam proses fotosintesis fase I (reaksi terang) yang terdiri dari
fotosistem I dan II, demikian pula dengan klorofil-b. Klorofil a paling
banyak terdapat pada Fotosistem II sendangkan Klorofil b paling banyak
[image:55.595.161.416.394.584.2]terdapat pada Fotosistem I (Anonim 2011).
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Great Giant Pineapple Terbanggi Besar
Lampung Tengah dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung pada
bulan Desember 2013 sampai dengan Februari 2014.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah tanaman nanas cultivar GP3 dengan umur 3
bulan setelah tanam yang diperoleh dari perkebunan PT. Great Giant
Pineapple, herbisida Quizalopop berbahan aktif P-Etyl dan Diuron berbahan
aktif 3,4-D yang diperoleh dari toko pertanian, air dan tanah yang akan
diambil dari perkebunan PT. Great Giant Pineapple.
Alat yang digunakan adalah handspray, sarung tangan, masker, patok,
37
tabung reaksi, alat destilasi, corong, tabung Erlenmeyer, beker glass, dan
pipet tetes.
3.3 Rancangan Percobaan
Penelitian ini disusun dengan percobaan faktorial dengan rancangan acak
kelompok (RAK) dengan 3 ulangan yang dijadikan sebagai kelompok.
Faktor pertama adalah perlakuan herbisida dengan bahan aktif 3,4-D dengan
taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 %. Faktor
kedua adalah perlakuan herbisida dengan bahan aktif P-Etyl dengan taraf
konsentrasi yaitu konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 %. Dengan
demikian diperoleh 16 kombinasi perlakuan pada setiap kelompok. Sehingga
pada penelitian ini diperoleh 48 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan 4
[image:57.595.135.511.525.694.2]minggu setelah perlakuan.
Tabel 1. Taraf Kombinasi Konsentrasi Herbisida
Quizalpop
Diuron
Qa (0 %) Qb (0,05%) Qc (0,1%) Qd (0,15%)
Da (0 ) DaQa(0) DaQb (0,05%)
DaQc (0,1%)
D0Qc (0,15%) Db (0,05%) DbQa(0,0
5%) DbQb (0,05%,0,05%) DbQc (0,05%,0,1%) DaQc (0,05%,0,15%) Dc (0,1%) Dc Qa
(0,1%) DcQb (0,1%,0,05%) DcQc (0,1%,0,1%) DbQc (0,1%,0,15%) Dd (0,15%) Dd Qa
Tabel 2. Tata Letak Percobaan
Keterangan :
a : konsentrasi 0 %
b : konsentrasi 0,05%
c : konsentrasi 0,1%
d : konsentrasi 0,15%
Q : Herbisida quizalopop berbahan aktif P-Etyl
D : Herbisida diuron berbahan aktif 3,4-D
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Penyiapan Media Pertanaman
Media pertanaman yang digunakan adalah tanah yang diambil dari
perkebunan PT. GGP dimasukkan kedalam polibag. Pada penelitian ini
digunakan media tanam sebanyak 48 polibag yang berukuran sama yaitu
15 kg sebagai satu satuan percobaan. Pada setiap polibag berisi media tanah
39
3.4.2 Penanaman Tanaman Nanas
Tanaman nanas dengan cultivar GP3 berumur 3 bulan yang digunakan
diambil di perkebunan PT. GGP. Sebelum ditanam akar tanaman nanas
dihilangkan (0 cm) (gambar 9). Setiap polibag (satu satuan percobaan)
ditanam satu tanaman nanas. Tanaman diletakkan di green house yang
berada di kebun percobaan PT. GGP.
Gambar 8. Tanaman Nanas berumur 3 bulan (obyek penelitian) yang dihilangkan akarnya (koleksi foto pribadi)
3.4.3 Konsentrasi Herbisida
Taraf konsentrasi herbisidaberbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl yang digunakan
adalah konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 % pada masing-masing
[image:59.595.221.355.266.366.2]herbisida dengan mengencerkan dalam 1 liter air.
Tabel 3. Daftar komposisi Larutan Herbisida (dalam %)
No. Komposisi Qa Da Qb Db Qc Dc Qd Dd 1 Quizalopop (cc) 0 - 0,5 - 1 - 1,5 -2 Diuron (cc) - 0 - 0,5 - 1 - 1,5 3 Air (liter) 1 1 1 1 1 1 1 1 Konsentrasi (%) 0 0 0,05 0,05 0,1 0,1 0,15 0,1
3.4.4 Pemberian Perlakuan
Pemberian perlakuan herbisida pada tanaman nanas diberikan 2 minggu
setelah penanaman dan diberikan pada siang hari dengan menggunakan
handspraysebanyak 1 kali selama penelitian berlangsung .
3.4.5 Variabel yang Diamati
Terdapat beberapa variabel yang diamati, antara lain :
a. Kualitatif
Diambil secara visual (foto) penampakan warna daun yang terjadi 4 minggu
setelah perlakuan. Penampakan warna daun yang difoto diberi nilai
menggunakan alat yang disebut LCC (Leaf Color Chart). Alat ini
didistribusikan oleh Crop Resources and Management Network
(CREMNET) - IRRI untuk pengukuran pengoptimalan penggunaan
Nitrogen pada tanaman padi (Gani, 2007).
b. Kuantitatif
Variabel yang diambil berupa :
1. Pertumbuhan akar
Pertumbuhan akar diperoleh dari pengukuran panjang akar yang terpanjang
diukur dengan alat ukur berupa mistar dalam satuan cm pada tiap satuan
41
2. Pengukuran kandungan klorofil pada daun
Pengambilan daun dilakukan 4 minggu setelah perlakuan. Diambil satu
daun tiap satu satuan percobaan. Pengukuran kandungan klorofil dengan
menggunakan spektrofotometri berdasarkan Witermans dan De Mots
(Suyitno, 2008). Daun bagian tengah sebanyak 5 gram diambil kemudian
dimaserasi selama 24 jam dengan menggunakan alkohol 70 %. Hasil
maserasi kemudian disaring dan disentrifuge. Hasil dari sentrifuge berupa
endapan dan filtrat, kemudian filtratnya diambil dan diukur kadar klorofil
dengan menggunakan spectrophotometer pada panjang gelombang 645nm,
663nm, dan 683nm. Mencatat nilai absorbansi (Optical Density) larutan
tersebut.
Adapun untuk menghitung kadar klrorofil a, klorofil b, dan kadar klorofil
total berdasarkan Witermans dan De Mots dapat menggunakan rumus
sebagai berikut:
Klorofil a : 12,7 x D 683 – 2,69 D 645 x V/1000xW (mg/l)
Klorofil b : 12,7 x D 645 – 2,69 D 663 x V/1000xW (mg/l)
Klorofil total: 20,2 x D 645 + 8,102 D 663xV/100xW (mg/l) (Suyitno,
2008)
3.5 Analisis data
Data yang diperoleh dianalisis ragam, dan dilanjutkan dengan uji Beda
1. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Untuk perubahan warna daun dan kandungan klorofil pada tanaman nanas
sampai konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % rata-rata memiliki
nilai C yang menunjukkan daun tanaman nanas kurang baik.
2. Pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0 %
memiliki kandungan klorofil total rata-rata sebesar 2,284 mg/L, sedangkan
pada kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % memiliki
kandungan klorofil total rata-rata sebesar 1,952%.
3. Pada pertumbuhan akar perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D
dan P-Etyl 0 % rata-rata sebesar 32,133 dan pada kombinasi konsentrasi
herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % rata-rata sebesar 34,944 cm.
4. Penggunaan kombinasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl aman digunakan untuk
62
2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan :
1. Konsentrasi dan interval konsentrasi herbisida yang digunakan lebih
variatif, agar perbedaan pengaruh herbisida dapat lebih terlihat nyata.
2. Waktu pengamatan yang digunakan lebih panjang sehingga perbedaan
Anonim. 2012. Ananas comosus. Diakses melalui
http://www.plantamor.com/imdex.php?plant=95 pada Mei 2014
Anonim. 2010. Herbisida. Diakses melalui http://essayku31.wordpress.com/ pada 20 Oktober 2013.
Anonim. 2011. Klorofil. Situs Web Wikipedia Indonesia, Diakses pada Oktober 2013.
Bahri, S. 2010. Klorofil. Diktat Kuliah Kapita Selekta Kimia Organik. Universitas Lampung.
Biolucious. 2011. ZPT sebagai herbisida. diakses melalui http://bioluscious.blogspot.com/2011/04/zpt-sebagai-herbisida.html pada 23 Oktober 2013
Boerboom, Chr