• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BAHAN AKTIF 3,4-D DAN P-Etyl TERHADAP KANDUNGAN KLOROFIL DAN PERTUMBUHAN AKAR NANAS (Ananas comosus)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH BAHAN AKTIF 3,4-D DAN P-Etyl TERHADAP KANDUNGAN KLOROFIL DAN PERTUMBUHAN AKAR NANAS (Ananas comosus)"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BAHAN AKTIF 3,4-D DAN P-Etyl TERHADAP KANDUNGAN KLOROFIL DAN PERTUMBUHAN AKAR NANAS

(Ananas comosus)

Khusnul Lestari

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung [email protected]

ABSTRAK

Nanas (Ananas comosus) secara luas tumbuh di daerah tropis dan bernilai ekonomis. PT. Great Giant Pineapple (GGP) adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan nanas dimana keberadaan gulma merupakan salah satu kendala yang dihadapi. Salah satu cara penanggulangan gulma adalah menggunakan herbisida. Penggunaan konsentrasi herbisida yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman budidaya meskipun dapat mematikan gulma. Di PT. GGP herbisida yang biasa digunakan untuk nanas cultivar GP1 adalah kombinasi herbisida berbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kombinasi herbisida berbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap pertumbuhan nanas cultivar GP3.

Penelitian ini dilaksanakan di PT. GGP Lampung dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, pada bulan Desember 2013 sampai dengan Februari 2014. Percobaan faktorial menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan tiga ulangan sebagai kelompok. Faktor pertama adalah perlakuan herbisida berbahan aktif 3,4-D dengan taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15%. Faktor kedua adalah perlakuan herbisida berbahan aktif P-Etyl taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15%. Variabel yang diamati adalah perubahan warna pada daun, pertumbuhan akar, dan kandungan klorofil daun nanas. Data yang diperoleh dianalisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf kepercayaan 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.

Pada kombinasi konsentrasi herbisida 0 % kandungan klorofil total rata-rata sebesar 2,284 mg/L, sedangkan pada kombinasi konsentrasi herbisida 0,15 % kandungan klorofil total rata-rata sebesar 1,952%. Dan pertumbuhan akar pada kombinasi konsentrasi herbisida 0 % rata-rata sebesar 32,133 dan pada kombinasi konsentrasi herbisida 0,15 % rata-rata sebesar 34,944 cm. Sehingga penggunaan kombinasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl aman digunakan untuk pertumbuhan nanas cultivar GP3.

(2)
(3)
(4)
(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahikan di desa Tias Bangun pada tanggal 5 Juni 1993 dari pasangan ibu Sulis Tyowati dan bapak Riyanto. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-kanak Nusantara Tias Bangun pada tahun 1996-1998 dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Tias Bangun pada tahun 1998-2004. Pada tahun 2004-2007 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Poncowati. Pada Tahun 2007-2010 melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1

Terbanggi Besar. Pada tahun 2010 penulis telah diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Biologi melalui jalur PKAB (Penyeleksian Kreatifitas, Akademik dan Bakat) dan penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada tahun 2014.

Selama duduk di perguruan tinggi, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) pada tahun 2010-2011. Pada tahun 2011-2012 penulis mengemban amanah sebagai ketua Biro Rumah Tangga dan

(6)

Tumbuhan (2013 dan 2014) di jurusan Biologi FMIPA Unila.

(7)

Skripsi ini dipersembahkan kepada orang tua terkasih ku ibu Sulis

Tyowati dan bapak Riyanto berkat perjuangan dan pengorbanan

kasih sayang dan cintayang telah diberikan untuk kami. Dan

teruntuk sodara sekandung ku Luxman Riyawan, Ma’ruf Tendi

(8)

Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Skripsi dengan judul “Pengaruh Bahan Aktif 3,4-D dan P-Etyl Terhadap Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan Akar Nanas (Ananas comosus)” yang telah dilaksanakan di PT. Great Giant Pineappel dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNILA pada bulan Desember 2014 sampai dengan Maret 2014.

Penulis menyadari akan banyaknya bantuan yang telah diberikan selama pelaksanaan Penelitian. Dengan telah selesainya penelitian ini penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada :

1. Ibu Dra. Tundjung Tripeni Handayani, M.S., selaku Pembimbing 1 yang telah dengan sabar membimbing saya, memberikan masukan, motivasi, semangat dan do’a selama pelaksanaan penelitian ini.

(9)

9

3. Ibu Dra. Ellyzarti, M.Sc., selaku Pembahas sekaligus Pembimbing Akademik saya yang senantiasa memberikan masukan kepada saya sehingga menjadikan skripsi ini menjadi lebih baik.

4. Bapak Basuki,SP., selaku Pembimbing Lapangan yang senantiasa meluangkan waktu untuk selalu membimbing, memberikan ilmu serta membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.

5. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani,M.Sc., selaku ketua jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung.

6. Bapak Prof. Suharso, Ph.D., selaku Dekan FMIPA Universitas Lampung

7. Bapak Purwito selaku Manager Research dan Development PT. GGP Terbanggi Besar

8. Seluruh Staff dan tenaga kerja bagian Proteksi Tanaman yang selalu memberikan dorongan dan motivasi serta kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

9. Kepada Ibu Sulis tyowati dan Bapak Riyanto yang selalu memberikan bantuan fisik maupun materi dan selalu memberikan bimbingan dan do’a kepada saya. 10. Kepada ketiga saudara saya Luxman Riyawan, Ma’ruf Tendi Setiyadi dan Neny

Agnasari.

11. Serta patner saya Eka Rahmawati atas kebersamaan, dukungan dan bantuan yang telah diberikan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

(10)

13. Kepada mas Tumingan yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan bantuan baik fisik maupun materi sehingga ]penulis dapat menyelesaikan dengan baik. 14. Kepada teman-teman seperjuangan Biologi FMIPA UNILA 2010 yang telah

bersama-sama menempuh masa studi ini.

15. Kepada adik-adik tingkat dan kakak tingkat yang ada di Biologi FMIPA UNILA.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan jauh dari sempurna, namun sedikit harapan dari Penulis semoga kesederhanaan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Juli 2014 Penulis

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 5

1.3 Manfaat Penelitian ... 6

1.4 Kerangka Pemikiran ... 6

1.5 Hipotesis ... 10

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Botani Tanaman Nanas ... 11

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Nanas ... 11

2.1.2 Syarat Tumbuh ... 14

2.2 Gulma ... 15

2.3 Cara-Cara Pengendalian Gulma ... 16

2.3.1 Preventif (Pencegahan) ... 16

2.3.2 Pengendalian Gulma Secara Fisik ... 17

2.3.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budidaya ... 18

(12)

2.4 Herbisida ... 20

2.5 Jenis Herbisida ... 22

2.5.1 Herbisida Kontak ... 22

2.5.2 Herbisida Sistemik ... 23

2.6 Mekanisme Kerja Herbisida ... 25

2.6.1 Pengaruh Herbisida Terhadap Fotosintesis ... 26

2.6.2 Pengaruh Herbisida Terhadap Pembelahan Sel Dan Perkembangannya ... 27

2.6.3 Pengaruh Herbisida Terhadap Sintesis Lipid ... 28

2.6.4 Pengaruh Herbisida Terhadap Pertumbuhan ... 28

2.6.5 Pengaruh Herbisida Terhadap Pernafasan ... 29

2.7 Gejala-gejala akibat herbisida ... 29

2.7.1 Chlorosis ... 29

2.7.2 Kelainan Tumbuh ... 30

2.7.3 Necrosis ... 30

2.7.4 Pengaruh Varietas dalam Hal Ketahanan Tumbuhan ... 31

2.8 Diuron ... 31

2.9 Quizalopop ... 33

2.10 Klorofil ... 34

3. METODE PERCOBAAN ... 37

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 37

3.2 Bahan dan Alat ... 37

3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 38

3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 39

3.4.2 Penyiapan Media Pertanaman ... 39

3.4.3 Penaman Nanas... 40

3.4.1 Cara Pembuatan Perbandingan Konsentrasi Herbisida ... 40

3.4.4 Pemberian Perlakuan ... 41

(13)

3.5 Analisis Data ... 42

4. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ... 43

4.1 Hasil Pengamatan ... 43

4.1.1 Perubahan Warna Daun pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) 43 4.1.2 Kandungan Klorofil pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 48

4.1.3 Pertumbuhan Panjang Akar terpanjang Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 54

4.2 Pembahasan ... 57

4.1.1 Perubahan Warna Daun pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) 57 4.1.2 Kandungan Klorofil pada Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 59

4.1.3 Pertumbuhan Panjang Akar terpanjang Tanaman Nanas (Annanas comosus) ... 60

V. KESIMPULAN ... 62

5.1 Kesimpulan ... ... 62

5.2 Saran ... 63

LAMPIRAN ... 64

(14)

Halaman

Tabel

1. Taraf Konsentrasi Herbisida ... 38

2. Tata Letak Percobaan ... 39

3. Daftar komposisi Larutan Herbisida ... 40

4. Pengaruh kombinasi konsentrasi herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D (D) dan Quizolopop berbahan aktif P-Etyl (Q) terhadap penampakan warna daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 45 5. Analisis ragam kandungan klorofil a (mg/L) pada daun nanas

(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 49 6. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil a (mL/g) pada daun nanas (Ananas

comosus) pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah

perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 0,375) ... 49

7. Analisis ragam kandungan klorofil b (mg/L)pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 51 8. Hasil Uji BNT kandungan klorofil b (mg/L)pada daun nanas (Ananas

comosus) pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah

perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 0,394) ... 51

9. Analisis ragam kandungan klorofil total (mg/L) pada daun nanas

(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 53 10. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil total (mg/L) pada daun nanas (Ananas

(15)

aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah

perlakuan pada = 5 % (BNJ interaksi = 5,640) ... 53

11. Analisis ragam kandungan pertumbuhan akar terpanjang (cm)

4 minggu setelah perlakuan ... 55

12. Hasil Uji BNJ pertumbuhan akar terpanjang (cm) pada perlakuan

kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl 4 minggu setelah perlakuan

pada = 5 % (BNJ interaksi = 19,046) ... 55

13. Kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus)

dalam mL/g 4 minggu setelah perlakuan ... 68

14. Data Transformasi Log (x+1) kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 68 15. Uji Homogenitas data kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas

comosus) dalam mL/g ... 69 16. Analisis ragam kandungan klorofil a (mg/L) pada daun nanas

(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 69 17. Nilai rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus)

dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida

Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 0,188 ... 70

18. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida diuron

bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 0,145 pada = 5 %... 70

19. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian herbisida

Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,188

pada = 5 % ... 70

20. Hasil Uji BNJ Perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl

dengan nilai BNJ = 0,188 pada = 5 % ... 70

21. Selisih rata-rata kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

(16)

aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,375 pada = 5 % ... 72

23. Kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus)

dalam mL/g 4 minggu setelah perlakuan ... 72

24. Data Transformasi Log (x+1) kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 73 25. Uji Homogenitas kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas

comosus) dalam mL/g ... 73 26. Analisis ragam kandungan klorofil b (mg/L) pada daun nanas

(Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 74 27. Nilai rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas

(Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 0,197 ... 74

28. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida Diuron

bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 0,197 pada = 5 % ... 74

29. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Annanas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian hrbisida Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,197 pada = 5 % ... 74

30. Hasil Uji BNT kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,197 pada ... 75

31. Selisih rata-rata kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi

herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan

aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,394 pada = 5 % ... 75

32. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 0,394 pada = 5 % ... 76

(17)

34. Uji Homogenitas kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g ... 77 35. Analisis ragam kandungan klorofil total 4 minggu setelah perlakuan .. 77

36. Nilai rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl diuji pada = 5 % dan BNJ = 2,820 ... 78

37. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian herbisida Diuron

bahan aktif 3,4-D dengan nilai BNJ = 2,820 pada = 5 % ... 78

38. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian herbisida

Quizalopop bahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 2,820

pada = 5 % ... 78

39. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl dengan nilai BNJ = 2,820 pada = 5 % ... 78

40. Selisih rata-rata kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada perlakuan pemberian konsentrasi

herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan

aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 5,640 pada = 5 % ... 79

41. Hasil Uji BNJ kandungan klorofil Total pada daun nanas (Ananas comosus) dalam mL/g pada Perlakuan pemberian kombinasi konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 5,640 pada = 5 % ... 80

42. Panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam

cm 4 minggu setelah perlakuan ... 80

43. Uji Homogenitas data panjang akar terpanjang tanaman nanas

(Annanas comosus) dalam cm ... 80 44. Hasil analisis ragam panjang akar terpanjang (cm) 4 minggu setelah

perlakuan ... 81

45. Nilai rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl

(18)

46. Selisih rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian bahan aktif P-Etyl

dengan nilai BNJ = 9,523 pada = 5 % ... 82

47. Hasil Uji BNJ panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm Perlakuan pemberian konsentrasi herbisida

Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif

P-Etyl BNJ = 9,523 pada = 5 % ... 82

48. Selisih rata-rata panjang akar terpanjang tanaman nanas (Ananas comosus) dalam cm pada perlakuan pemberian kombinasi

konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl dengan nilai BNJ = 19,046 pada = 5 % ... 82

(19)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar

1. Tanaman Nanas ... 11

2. Akar Tanah (a) dan Akar Samping (b) Tanaman Nanas ... 12

3. Batang Tanaman Nanas ... 12

4. Daun Tanaman Nanas ... 13

5. Bunga Nanas ... 14

6. Rumus Bangun Senyawa yang Terkandung dalam Herbisida Diuron .... 32

7. Struktur kloroplas beserta bagian-bagiannya ... 36

8. Tanaman Nanas berumur 3 bulan (obyek penelitian) yang dihilangkan akarnya ... 40

9. Daun sehat atau sebelum perlakuan …... 43

10. Leaf Color Chart ... 44

11. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D) terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 49

12. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida berbahan aktif P-Etyl terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 50

13. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil a pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 50

(20)

16. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil b pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 52 17. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D

terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 53 18. Pengaruh perlakuan konsentrasi herbisida Quizalopop berbahan aktif

P-Etyl terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 54 19. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan

P-Etyl terhadap kandungan klorofil total pada daun nanas (Ananas

comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 54 20. Pengaruh perlakun konsentrasi herbisida Diuron bahan aktif 3,4-D

terhadap pertumbuhan akar pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 56 21. Pengaruh perlakun konsentrasi herbisida Quizalopop berbahan aktif P-Etyl terhadap pertumbuhan akar pada daun nanas (Ananas comosus) 4 minggu setelah perlakuan ... 56 22. Pengaruh perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida bahan aktif 3,4-D dan

(21)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Nanas merupakan tanaman buah yang memiliki nama ilmiah Ananas

comosus. Memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera).

Nanas secara luas tumbuh di daerah tropis dan bernilai ekonomis. Nanas

selain mengandung gula juga mengandung vitamain A, B dan C. Di

samping itu nanas juga mengandung bromelin yang dapat digunakan untuk

melunakan daging (Mortensen, 1970).

Tanaman nanas berbentuk semak dan hidupnya bersifat tahunan

(perennial). Batang tanaman nanas beruas, batangnya berukuran cukup

panjang 20-25 cm atau lebih dan memiliki diameter 2,0-3,5 cm (Hartmann,

1981). Daun nanas bentuknya memanjang, liat dan tidak mempunyai ibu

tulang daun. Pada tepi daunnya ada yang ditumbuhi duri tajam dan ada

yang tidak berduri. Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.

Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun

(22)

Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk yang tersusun pada ujung

batangnya. Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200.

Waktu yang diperlukan dari mulai menanam tanaman nanas sampai

terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan.

Menurut Sunarjono (2004), tanaman nanas dapat tumbuh di dataran

rendah hingga dataran tinggi 1.200 m dpl. Tanaman nanas dapat tumbuh

baik pada tanah subur dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun.

Namun demikian nanas masih mampu berbuah di daerah beriklim kering

(4-6 bulan kering), dengan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Sebab

akar tanaman nanas berakar serabut yang pola pertumbuhannya tidak

masuk ke dalam tanah, disamping itu tanaman nanas mampu menyimpan

air di dalam mesofil daunnya.

Kesuburan tanah dapat meningkatkan produktivitas tanaman nanas, tanah

yang subur terdiri atas udara 25%, air 25 %, mineral 45%, dan bahan

organik 5 %. Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan

untuk pertanian cocok untuk tanaman nanas. Meskipun demikian, lebih

cocok pada jenis tanah yang mengandung pasir, subur, gembur. Derajat

keasaman yang cocok adalah dengan pH 4,5-6,5. Tanah yang banyak

mengandung kapur (pH lebih dari 6,5) menyebabkan tanaman nanas

menjadi kerdil dan klorosis. Sedangkan tanah yang asam (pH 4,5 atau

lebih rendah) mengakibatkan penurunan unsur Fosfor, Kalium, Belerang,

(23)

3

Terdapat beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi

pertumbuhan tanaman nanas, seperti misalnya : penggunaan kombinasi

dan taraf konsentrasi herbisida yang tidak tepat. Terlebih pada tanaman

nanas, pemberian herbisida biasa dilakukan pada saat tanaman nanas

berumur 3 bulan, apabila kombinasi herbisida dan taraf konsentrasi yang

digunakan tidak tepat bisa mengakibatkan clorosis pada daun.

Perkebunan nanas terbesar di Indonesia adalah yang dimiliki PT. Great

Giant Pineapple (GGP), yang berdiri sejak tahun 1979 bertempat di

Provinsi Lampung dengan luas lahan perkebunan ± 32.000 ha. Perusahaan

ini berkembang dalam bidang agribisnis dan nanas merupakan produk

utamanya. Salah satu kendala yang dihadapi oleh perkebunan ini adalah

keberadaan gulma.

Gulma merupakan tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dalam

ekosistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam

membudidayakan tanaman pada suatu lahan. Di dalam ekosistem

pertanian, setiap spesies gulma mampu berkembang biak dengan cepat

dan bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan dalam hal pemanfaatan

unsur hara, air, ruang, CO2, dan cahaya baik di lahan sawah maupun

lahan kering. Hal tersebut tentu akan merugikan bagi tanaman yang

dibudidayakan, antara lain berupa penurunan hasil panen, menyulitkan

pekerjaan pemeliharaan tanaman dan pemanenan, serta meningkatkan

(24)

Salah satu cara penanggulangan gulma adalah dengan menggunakan

herbisida. Penggunaan herbisida pada umumnya dapat mematikan

beberapa jenis tumbuhan penganggu (gulma) tanpa mengganggu atau

mematikan tanaman yang dibudidayakan. Sebab ketika kemampuan

selektivitas herbisida dalam mematikan gulma dapat ditingkatkan tidak

menimbulkan kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan, maka akan

mempermudah pengendalian gulma dilapangan (Muliyadi, 2005).

Beberapa jenis herbisida yang biasa digunakan di PT. GGP adalah

herbisida Diuron yang mengandung bahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

dengan bahan aktif P-Etyl. Dalam penggunaanya kedua herbisida ini

dikombinasikan.

Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini berbahan

aktif 3,4-D dengan rumus kimia yaitu

3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea. Herbisida dengan bahan aktif ini bersifat sistemik.

Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui akar dan ditranslokasikan ke

daun melalui batang. Herbisida diuron menghambat reaksi Hill (reaksi

pemecahan air) pada fotosintesis tepatnya pada fotosistem II. Dengan

demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,

1984).

Quizalopop merupakan herbisida sistemik purna tumbuh untuk

mengendalikan gulma pada pertanaman. Bahan aktif pada herbisida ini

(25)

5

(R)-2-[4-(6-chloroquinoxalin-2-yloxy)fenoksi]asam propionat[6]. Bahan

aktif ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan

ditransformasikan ke seluruh organ tanaman. Senyawa ini diduga mirip

dengan hormon pada tumbuhan yang dapat menyebabkan pembelahan sel

secara tidak normal sehingga dapat menghancurkan sistem transportasi

nutrisi tanaman (Sulistyo, 2003).

Penggunaan konsentrasi herbisida yang tidak tepat dapat mengakibatkan

kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan meskipun dapat mematikan

gulma. Di PT.GGP telah dilakukan uji efektifitas penggunaan kombinasi

herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D dan Quizalopo berbahan aktif

P-Etyl pada cultivar nanas GP1 dan aman utuk pertumbuhannya. Saat ini

cultivar GP3 merupakan varietas nanas unggulan di perusahaan tersebut

sehingga perlu dilakukan uji coba penggunaan herbisida berbahan aktif

3,4-D dan P-Etyl pada cultivar GP3.

1.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui

pengaruh penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida berbahan aktif

3,4-D dan P-Etyl terhadap kandungan klorofil dan pertumbuhan akar tanaman

(26)

1.3 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang lebih jelas

mengenai penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida Diuron berbahan

aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl terhadap kandungan

klorofil dan pertumbuhan akar tanaman nanas (Annanas comosus) varietas

smooth cayenne cultivar GP3.

1.4 Kerangka Pemikiran

Salah satu produsen dan eksportir nanas kalengan terbesar di Indonesia

adalah PT. Great Giant Pineapple (PT. GGP) yang terletak di Terbanggi

Besar, Lampung Tengah. Sejak tahun 2004 hingga saat ini, PT. GGP

tercatat sebagai tiga besar produsen nanas di dunia. PT. GGP juga

merupakan produsen private label terbesar di dunia dengan pangsa pasar

17%. Selain itu, PT. GGP merupakan produsen yang memiliki luas lahan

penanamannya terbesar di dunia (Iskandar dan Soelaeman, 2007).

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi di perkebunan ini adalah

pengendalian gulma. Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak

diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa

dicapai oleh tanaman produksi.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara

(27)

7

belum matang karena kemungkinan bibit gulma terbawa di dalamnya.

Secara fisik, misal dengan pembabatan, gulma yang tumbuh pada lahan

pembudidayaan. Dengan sistem budidaya, misal dengan penaungan

dengan tumbuhan penutup (cover crops) sehingga memungkinkan gulma

tidak dapat tumbuh pada kondisi kekurangan cahaya. Secara biologis,

yaitu dengan menggunakan organisme lain seperti fungi atau jamur yang

biasa disebut dengan fungisida.

Selain itu pengendalian gulma juga dapat dilakukan dengan cara kimiawi,

yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat

digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik

secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat

pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan

menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk

mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

Salah satu pengendalian gulma di PT. GGP dilakukan secara kimiawi yaitu

dengan menggunakan herbisida. Kemampuan herbisida dalam mematikan

gulma namun tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya

bergantung jenis dan konsentrasi herbisida yang digunakan. Untuk saat ini

di PT. GGP, penggunaan jenis herbisida yang tepat namun tidak

mematikan tanamn budidaya adalah kombinasi herbisida Diuron berbahan

aktif 3,4-D dan Quizalopop berbahan aktif P-Etyl dengan konsentrasi

(28)

Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini berbahan

aktif 3,4-D dengan rumus kimia yaitu

3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea. Herbisida dengan bahan aktif ini bersifat sistemik.

Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui akar dan ditranslokasikan ke

daun melalui batang. Herbisida diuron menghambat reaksi Hill (reaksi

pemecahan air) pada fotosintesis tepatnya pada fotosistem II. Dengan

demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,

1984).

Quizalopop merupakan herbisida sistemik purna tumbuh untuk

mengendalikan gulma pada pertanaman. Bahan aktif pada herbisida ini

adalah P-Etyl dan memiliki rumus kimia yaitu

(R)-2-[4-(6-chloroquinoxalin-2-yloxy)fenoksi]asam propionat[6]. Bahan

aktif ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan ditranslokasikan

ke seluruh organ tanaman. Senyawa ini diduga mirip dengan hormon

tumbuhan yang dapat menyebabkan pembelahan sel secara tidak normal

sehingga dapat menghancurkan sistem transportasi nutrisi tanaman.

Pemberian herbisida di perkebunan PT. GGP ini biasa dilakukan dengan

menggunakan alat yang disebut Boom Spraying Cameco (BSC). Dengan

alat ini memungkinkan herbisida yang disemprotkan tidak hanya mengenai

gulma tetapi juga akan mengenai tanaman nanas terutama helaian

daunnya. Apabila penggunaan herbisida yang tidak tepat maka akan

menyebabkan kerusakan pada daun nanas yang dapat menyebabkan

(29)

9

penurunan kandungan klorofil akan terjadi gangguan pada proses

metabolisme dari tanaman nanas tersebut. Hal ini akan menyebabkan

terjadinya permasalahan dalam pertumbuhan tanaman nanan.

Di PT. GGP penggunaan herbisida pada tanaman nanas biasa dilakukan

pada saat tanaman berumur 3 bulan. Pada umur tersebut tanaman nanas

sedang mengalamai proses pertumbuhan yang cukup pesat. Apabila pada

masa pertumbuhan tanaman nanas tersebut terhambat maka proses

pertumbuhan dan perkembangan bagian-bagian tumbuhan yang lain pun

akan terhambat, seperti misalnya pertumbuhan akar dan pembentukan

bunga yang biasanya akan terbentuk pada usia 12 bulan setelah tanam.

Diduga salah satu yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan nanas

adalah penggunaan jenis dan konsentrasi herbisida yang tidak tepat.

Di PT. GGP telah digunakan herbisida Quizalopop yang berbahan aktif

P-Etyl dan Diuron yang berbahan aktif 3,4-D pada nanas varietas smooth

cayenne cultivar GP1 dengan taraf konsentrasi 0,2% - 0,3%. Pada

konsentrasi yang diberikan tersebut tidak menimbulkan kerusakan pada

nanas varietas smooth cayenne cultivar GP1. Saat ini cultivar GP3

merupakan varietas nanas unggulan yang sedang dikembangbiakkan di

perusahaan tersebut oleh karena itu perlu dilakukan uji coba penggunaan

kombinasi konsentrasi herbisida Diuron yang berbahan aktif 3,4-D dan

(30)

Berdasarkan keterangan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini akan

dicoba penggunaan kombinasi konsentrasi herbisida Quizalopop dan

Diuron dengan taraf konsentrasi 0%, 0,05%, 0,1%, dan 0,15% pada

varietas smooth cayenne tanaman nanas cultivar GP3 yang berumur 3

bulan dengan cara penyemprotan langsung mengenai daun tanaman nanas.

1.5 Hipotesis

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perlakuan kombinasi

konsentrasi herbisida Diuron berbahan aktif 3,4-D dan Quizalopop

berbahan aktif P-Etyl memberikan pengaruh terhadap kandungan klorofil

dan pertumbuhan akar tanaman nanas (Annanas comosus) varietas smooth

(31)

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Nanas

[image:31.595.220.359.334.439.2]

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Nanas

Gambar 1. Tanaman Nanas(Foto koleksi Pribadi)

Klasifikasi tanaman nanas menurut Plantamor yaitu sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (monokotil)

Bangsa : Farinosae (Bromeliales)

Suku : Bromeliaceae

Marga : Ananas

(32)

Akar nanas (lihat gambar 2) dapat dibedakan menjadi akar tanah (a) dan

akar samping (b), dengan sistem perakaran yang terbatas. Akar-akar

melekat pada pangkal batang dan termasuk berakar serabut

(monocotyledonae). Kedalaman perakaran pada media tumbuh yang baik

tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di tanah biasa jarang mencapai

kedalaman 30 cm (Murniati, 2006).

[image:32.595.153.495.222.406.2]

a b

Gambar 2. Akar TanahTanaman Nanas (a) dan Akar SampingTanaman Nanas (b) (Foto koleksi Pribadi)

Batang tanaman nanas (gambar 3) berukuran cukup panjang 20-25 cm

atau lebih, tebal dengan diameter 2,0 -3,5 cm, beruas-ruas (buku-buku)

pendek. Batang sebagai tempat melekat akar, daun, bunga, tunas dan

buah, sehingga secara visual batang tersebut tidak nampak karena

disekelilingnya tertutup oleh daun. Tangkai bunga atau buah merupakan

perpanjangan batang (Hartmann, 1981).

[image:32.595.221.354.607.703.2]
(33)

13

Daun nanas (lihat gambar 4) panjang, liat dan tidak mempunyai tulang

daun utama. Pada tepi daunnya ada yang ditumbuh duri tajam dan ada

yang tidak berduri. Tetapi ada pula yang durinya hanya ada di ujung daun.

Duri nanas tersusun rapi menuju ke satu arah menghadap ujung daun

[image:33.595.136.449.222.358.2]

(Halfacre, 1979).

Gambar 4. Daun Tanaman Nanas (Foto koleksi Pribadi)

Nanas merupakan tanaman yang termasuk kedalam bangsa bromeliales,

dimana taman ini tergolong sebagai tanaman Crassulacean Acid

Metabolism(CAM). Tanaman CAM pada umumnya hidup di daerah

kering, mempunyai daun tebal, laju transpirasi rendah, sel-sel daun

mempunyai vakuola relatif besar dan lapisan sitoplasma yang tipis.

Stomata pada tanaman ini akan membuka pada malam hari dan akan

terjadi proses fiksasi CO2 yang menghasilkan asam malat. Sedangkan

pada siang hari stomata akan tertutup dan akan terjadi daur Calvin yang

menghasilkan glukosa (Campbell et al., 2006).

Nanas mempunyai rangkaian bunga majemuk pada ujung batangnya (lihat

gambar 5). Bunga bersifat hermaprodit dan berjumlah antara 100-200,

(34)

mekar setiap hari, berjumlah sekitar 5-10 kuntum. Pertumbuhan bunga

dimulai dari bagian dasar menuju bagian atas memakan waktu 10-20 hari.

Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga sekitar 6-16 bulan

[image:34.595.215.321.198.284.2]

(Murniati, 2006)

Gambar 5. Bunga Nanas (Foto koleksi Pribadi)

2.1.2 Syarat Tumbuh

Tanaman nanas dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 1.200

mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap

kekeringan. Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah subur,

daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-1.500 mm per tahun.

Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3,3-7,9,

tetapi paling baik adalah pH tanah antara 4,5-6,2. Oleh karena itu, tanaman

nanas bagus pula dikembangkan di lahan gambut (Murniati, 2006).

Pada daerah yang kering, nanas tetap dapat tumbuh karena memiliki struktur

dan morfologi daun yang dapat menampung air, embun, dan air hujan ke

arah pangkal daun. Selain itu, nanas juga memiliki trikoma dan lapisan

(35)

15

Meskipun demikian, kedalaman air tanah tidak lebih dari 150 cm di bawah

permukaan tanah (Murniati, 2006).

2.2 Gulma

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan

pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.

Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan

proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan

hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi.

Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada

tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya,

tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak

mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman

monokulturjagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem

tumpangsari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian,

beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan

alang-alang(Sutiono, 2010).

Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma darat, dan gulma air.

Gulma darat merupakan gulma yang hidup didarat, dapat merupakan gulma

yang hidup setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas).

Penyebarannya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh gulma

darat diantaranya Ageratumconyzoides, Digitaria spp, Imperatacylindrical,

(36)

berada di air. Jenis gulma air dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang

hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina crassipes, Sailvinia spp),

gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan

gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Sutiono, 2010).

2.3 Cara-Cara Pengendalian Gulma

Pengendalian dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah

biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih mudah. Di negara-negara yang

sedang membangun kegiatan pengendalian gulma yang banyak dilakukan

orang adalah pemberantasan. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan

cara-cara :

2.3.1 Preventif (Pencegahan)

Cara-cara pencegahan masuk dan menyebarnya gulma baru antara lain

adalah :

a. Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji

gulma

b. Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang

c. Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput

makanan ternak

d. Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan

(37)

17

f. Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain

sebagainya (Hance, 1987).

Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan dengan baik,

maka harus dicegah pula agar jangan sampai gulma berbuah dan berbunga.

Di samping itu juga mencegah gulma tahunan (perennial weeds) jangan

sampai berkembangbiak terutama dengan cara vegetatif (Hance, 1987).

2.3.2 Pengendalian Gulma Secara Fisik

Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan :

a. Pengolahan tanah

b. Pembabatan (pemangkasan, mowing)

c. Penggenangan

d. Pembakaran

e. Mulsa (mulching, penutup seresah) (Hance, 1987).

2.3.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budidaya

Cara pengendalian ini juga disebut pengendalian secara ekologis, oleh

karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan

sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman

(38)

Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat

beberapa cara yaitu :

a. Pergiliran Tanaman

b. Budidaya pertanaman

c. Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) (Hance, 1987).

2.3.4 Pengendalian Gulma Secara Biologis

Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma

dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, ikan

dan sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau

fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang

telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang

lama serta membutuhkan ketelitian. Juga harus yakin apabila species

gulma yang akan dikendalikan itu habis, insekta atau fungi tersebut tidak

menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis

(Hance, 1987).

2.3.5 Pengendalian Gulma Secara Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan

menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa

kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan

(39)

19

tanaman budidiaya. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun

sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau

pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah

cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas dengan tidak mematikan

tanaman budidaya. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan

tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya

(Institut Pertanian Bogor, 2013).

2.3.6 Pengendalian Gulma Secara Terpadu

Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu

pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara

bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

Artinya gulma bisa dibunuh tetapi tanaman budidaya tetap hidup.

2.4 Herbisida

Herbisida merupakan bahan kimia yang dikembangkan pertama kali

padatahun 1940-an. Sebelum era tahun tersebut, garam dapur dan asam

sulfat jugamerupakan bahan kimia yang telah lama diketahui dapat

mematikan tumbuhan, dan memang dapat disebut sebagai herbisida. Namun

ledakan perkembangan herbisida tidak begitu pesat sampai pada pemakaian

(40)

Herbisida 2,4-D muncul di pasaran pada tahun 1945, dikembangkan oleh tim

dari Inggris yang menginginkan peningkatan produksi pangan sebagai usaha

yang dilakukan pada saat perang. Penemuan 2,4-D ini mampu memberikan

konsep yang lebih jelas tentang herbisida, yaitu efektif dalam jumlah yang

sedikit, bersifat selektif, dan sistemik (Sarianti, 2012).

Penemuan herbisida membuat petani Eropa dan Amerika tertarik, karena hal

ini bertepatan dengan hebatnya metode mekanisasi pertanian yang bertujuan

untuk meningkatkan hasil pertanian baik kuantitas maupun kualitas, serta

mengurangi biaya (Anonim, 2010).

Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian

untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan

hasil. Karakteristik herbisida dibagi ke dalam beberapa penggolongan,

diantaranya penggolongan herbisida berdasarkan daya aktif terhadap jenis

gulma, berdasarkan bidang sasaran, berdasarkan gerakannya (Sarianti,

2012).

Pada pengendalian gulma, mengendalikan gulma secara khemis merupakan

salah satu cara pengendalian disamping pengendalian secara manual/mekanis.

Dalam mengendalikan gulma secara khemis digunakan herbisida. Herbisida

adalah bahan kimia yang digunakan untuk mematikan atau menghambat

pertumbuhan gulma. Secara kasat mata tanaman dan gulma memiliki

morfologi yang hampir sama namun berbeda peran dalam pertanian (Sarianti,

(41)

21

Penyemprot harus memastikan bahwa herbisida yang diberikan terarah pada

gulma dan meniadakan persentuhan semprotan herbisida terhadap tanaman.

Herbisida merupakan bagian atau anggota dari pestisida. Selain herbisida,

pestisida terdiri atas insektisida, fungisida, bakterisida dan lain-lain

(Sulistyo, 2003).

Dalam pengendalian species gulma yang berada di lahan sangat menentukan

pada tindakan yang akan diambil. Bagi gulma annual akan berbeda dengan

gulma perennial, demikaian pula dengan gulma yang berdaun sempit,

berdaun lebar atau jenis teki-tekian. Dan juga gulma yang hidup di dataran

rendah dan yang hidup di dataran tinggi (Muliyadi, 2005).

2.5 Jenis Herbisida

2.5.1 Herbisida Kontak

Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan

jaringan-jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida ini, terutama

bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat

cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih

hijau, serta gulma yang masih memiliki sistem perakaran tidak meluas

(Biolucious, 2011).

Di dalam jarinngan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak

(42)

melalui phloem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena,

pertumbuhan gulma dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian, rotasi

pengendalian menjadi singkat. Herbisida kontak memerlukan dosis dan air

pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan

gulma dan diperoleh efek pengendalian yang lebih baik (Biolucious,

2011).

Herbisida kontak juga yang bekerja dengan cara menghasilkan radikal

hidrogen peroksida yang memecahkan membran sel dan merusak seluruh

konfigurasi sel. Herbisida kontak hanya mematikan bagian tanaman hidup

yang terkena larutan, jadi bagian tanaman di bawah tanah seperti akar

atau akar rimpang tidak terpengaruh. Proses kerja pada herbisida ini pun

sangat cepat. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena

semprotan saja, terutama bagian yang berhijau daun dan aktif

berfotosintesis. Keistimewaannya, dapat membasmi gulma secara cepat,

2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati.

Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan.

Kelemahannya, gulma akan tumbuh kembali secara cepat sekitar 2

minggu kemudian dan bila herbisida ini tidak menyentuh akar maka proses

kerjanya tidak berpengaruh pada gulma.

Contoh-contoh herbisida kontak pada umumnya yang digunakan adalah

sebagai berikut

(43)

23

• Paracol (Novizan, 2007).

2.5.2 Herbisida Sistemik

Herbisida sistemik adalah herbisida yang cara kerjanya ditranslokasikan

ke seluruh tubuh atau bagian jaringan gulma, mulai dari daun sampai

keperakaran atau sebaliknya. Cara kerja herbisida ini membutuhkan

waktu 1-2 hari untuk membunuh tanaman pengganggu tanaman budidaya

(gulma) karena tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang

terkena, namun bekerja dengan cara menganggu proses fisiologi jaringan

tersebut lalu dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan

jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke

perakarannya (Novizan, 2007).

Keistimewaannya, dapat mematikan tunas-tunas yang ada dalam tanah,

sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya

hampir sama merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun

sampai perakaran. Dengan demikian, proses pertumbuhan kembali terjadi

sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama (panjang).

Penggunaan herbisida sistemik ini secara keseluruhan dapat menghemat

waktu, tenaga kerja, dan biaya aplikasi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik, yaitu:

(44)

- Cuaca cerah waktu menyemprot.

- Tidak menyemprot menjelang hujan.

- Keringkan areal yang akan disemprot.

- Gunakan air bersih sebagai bahan pelarut (Novizan, 2007).

Pemakaian suatu jenis herbisida secara terus menerus akan membentuk

gulma yang resisten sehingga akan sulit mengendalikannya. Guna

mengantisipasi kelemahan tersebut diatas adalah dengan mencampurkan

dua herbisida. Pencampuran dua jenis herbisida telah dilakukan sejak

lama dengan tujuan untuk memperluas spektrum pengendalian gulma,

mengurangi resistensi gulma terhadap salah satu herbisida sehingga

mencegah vegetasi gulma yang mengarah ke homogen (Novizan, 2007).

Ketika dua atau lebih bahan kimia terakumulasi di dalam tanaman,

mereka melakukan interaksi dan respon ditunjukkan keluar menghasilkan

reaksi yang berbeda ketika bahan kimia tersebut diberikan sendiri-sendiri.

Interaksi ini bisa bersifat sinergi, adidtif atau antagonis (Novizan, 2007)

2.6 Mekanisme Kerja Herbisida

Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme

senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi

dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida menjadi

kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang

(45)

25

mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan

tumbuhan (Boerboom, 2005).

Herbisida bekerjasama dengan enzim dan membelokkan arah metabolisme ke

arah yang salah atau menghentikannya. Contohnya :

1. 2,4-D suatu zat tumbuh tiruan berkekuatan ± 1000 kali IAA. Herbisida

ini dapat memacu pertumbuhan secara berlebihan sehingga tumbuhan

itu mati. Hal ini dikarenakan laju respirasi meningkat dan laju

fotosintesis menurun. Kemungkinan mengganggu inti sel sehingga

proses metabolism menjadi terganggu.

2. Amitrole (aminotriazok) mencengah pembentukan carotenoids.

Carotenoid/carotene harus dibentuk untuk menggantikan klorofil yang

rusak. Tanpa carotenoids, khlorofil terokdsidasi oleh oksigen dalam

proses fotosintesis. Khlorofil teroksidasi yang dipacu sinar matahari.

Ratio carotene; khlorofil = 1:8. Bila jumlah carotene kurang dari 1/8,

khlorofil teroksidasi.

3. Paraquat mengkatalisasi pemecahan H2O menjadi ½ O2 dan 2H+ (Riadi,

2011).

2.6.1 Pengaruh Herbisida pada Fotosintesis

Herbisida yang aman digunakan adalah herbisida yang memiliki

mekanisme kerja dalam menghambat proses fotosintesis. Dalam

mekanismenya khloroplast yang telah memperoleh energi dari cahaya

(46)

1. H2O dipecah menjadi 2H+ dan ½ O2. Lewat serangkai reaksi kimia H+

dipakai untuk mereduksi zat-zat antara, sehingga akhirnya ADP dan

H3PO4 direduksi menjadi ATP. Rantai pertama ini dinamai PS2

(fotosistem 2).

2. Pada rantai kedua terjadi beberapa reaksi, yang berakhir dengan

reduksi NADP menjadi NADPH. Rantai kedua dinamai PS1

(fotosistem 1)(Riadi, 2011).

Ada empat kelompok yang mempengaruhi fotosintesis, yaitu:

1. Senyawa amitrole mencengah pembentukan carotene. Caroten

bertugas untuk melindungi khlorofil, jangan sampai bereaksi dengan ½

O2 yang tereksitasi dan kelebihan tenaga (excited).

2. Triazines, uracils, dan turunan ureas mencengah reaksi Hill, sehingga

fotosintesis terhenti.

3. Ioxynil, mengganggu reaksi-reaksi diantara PS2 dan PS1.

4. Paraquat/diquat, yang membelokkan rantai transport elektron,

sehingga terjadi rekasi ½ O2 + H2O +e- H2O2. Senyawa H2O2

merupakan herbisida yang merusak membran sel (plasmalemma).

Akibatnya sel menjadi kering (Riadi, 2011).

2.6.2 Pengaruh Herbisida Terhadap Pembelahan Sel dan

(47)

27

Beberapa herbisida mampu mencengah terbentuknya sel-sel baru pada

kecambah, mata tunas, dan ujung akar. Pecengahan dilakukan dengan

cara:

a. Mencegah terbentuknya ATP

b. Menimpangkan keseimbangan hormon, yang mengatr datangnya

zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan (Riadi, 2011).

2.6.3 Pengaruh Herbisida Terhadap Sintesa Lipid

Plasmalemma terdiri atas protein dan lipid.Sehinggalipid dibutuhkan untuk

sempurnanya plasmalemma. Organel-organel seperti khloroplast dan

mitokondria dibungkus oleh membran, serupa dengan plasmalemma.Pada

bagian atas kutikula lipid berperan dalam proses penebalan kutikula

sehingga penguapan di dalam sel akan berkurang. Terdapat beberapa

senyawa yang terkandung di dalam herbisida seperti Dalapon dan EPTC

mampu mencengah penebalan lipid lilin di atas kutikula. Pada kekentalan

yang lebih tinggi membran-membran di dalam sel pun dirusak, sehingga

isi organel berantakan (Riadi, 2011).

(48)

Hormon Auxins, geberelin, cytokinin, ABA, dan C2H4 merupakan

hormon yang mengatur pertumbuhan dan proses fisiologis. Senyawa

2,4-D dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, seringkali

pertumbuhan terhenti. Kadang-kadang tangkai-tangkai daun mulai

tumbuh kembali dan tumbuhnya melengkung. Jaringan dewasa tumbuh

membengkak, melengkung, pecah, menjadi callus, dan bahkan menjadi

akar. Pertumbuhan demikian merupakan pertumbuhan yang tidak normal

(Riadi, 2011).

2.6.5 Pengaruhnya Terhadap Pernafasan

Pernafasan mulai dengan oksidasi sukrose sampai ke pembentukan ATP.

Ioxynil, homoxynil, dan dinoseb mencengah pembentukan ATP.

Sedangkan ATP sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme (Riadi,

2011).

2.7 Gejala-Gejala Akibat Herbisida

2.7.1 Chlorosis

Gangguan terhadap produksi chlorofil dan pemeliharaannya menyebabkan

gejala chlorosis. Chlrosis menyebabkan hijau digantikan oleh putih atau

merah muda, yang disebabkan oleh chloromatofora. Amitrole

memutihkan seluruh tumbuhan. Herbisida lain menyebabkan memutihnya

jaringan intervenal atau sebagian dari daun. Chlorosis disebabkan oleh

(49)

29

Selain itu dapat juga terjadi kerdil yang disebabkan oleh mitotic inhibitors;

pencengahan pembelahan sel, sehingga apex pucuk maupun akar tidak

tumbuh. Trifluralin dan turunan nitroaniline menyebabkan akar-akar

lateral menjadi kerdil. Pencengahan tumbuh akar tunggang adalah akibat

karbamat dan amides. Gejala pertama yang biasanya nampak pada

keracunan dichlobenil dan carbamates adalah tertahannya pertumbuhan

pucuk (Riadi, 2011).

2.7.2 Kelainan Tumbuh

Phenoxy – alkanoic acids dan picloram menyebabkan kelainan tumbuh

pada tumbuhan yang peka. Bentuk gangguan itu adalah ganguan pada

pembelahan sel & pemanjangan sel. Akibatnya terjadi epinasty

(melengkunya ranting muda dan tangkai dan), terjadinya bentuk aneh

pada daun (daun berlekuk/berbukit), ranting bengkak sampai pecah.

Kadang-kadang terbentuk callus dan akar di atas tanah (Riadi, 2011).

2.7.3 Necrosis.

Membran sel pecah sehingga sel kehilangan air dan mati. Permukaan

membran merupakan tempat terjadinya reaksi biokimia. Tanpa kehilangan

air pun sel akan mati. Penggunaan herbisida diquat, paraquat, ioxynil, 7

dinoseb mampu menghanguskan jaringan hijau hangus & mati (necrosis)

(50)

2.7.4 Pengaruh Varietas dalam Hal Ketahanan Tumbuhan

Perbedaan jenis dan konsentrasi dapat menyebabkan adanya tumbuhan

yang rentan dan kurang rentan, bahkan ada yang tahan terhadap satu

herbisida (Riadi, 2011).

Contoh gulma yang bervariasi ketahanannya adalah :

· Amaranthus powellii terhadap trifluralin dan diphenamid, yang menjadi

dominan

· Sorgum halepense terhadap dalapon (Riadi, 2011).

2.8 Diuron

Diuron merupakan herbisida dari turunan urea. Herbisida ini merupakan

herbisida yang selektif dan dipakai lewat tanah, walaupun ada beberapa

yanglewat daun. Termasuk dalam kelompok ini adalah diuron, linuron,

monuron dan sebagainya. Nama kimia dari herbisida diuron adalah

3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea (gambar 6). Menurut Thomson (1967

diuron dapat digunakan sebagai herbisida pra tumbuh, pasca tumbuh serta

(51)

31

3-(3,4-dichlorophenyl)-1,1-dimethylurea

Gambar 6. Rumus Bangun Senyawa yang Terkandung dalam Herbisida Diuron(Tjitrosoedirdjo et al, 1984).

Herbisida diuron bersifat sistemik. Herbisida ini biasanya diabsorbsi melalui

akar dan ditranslokasikan ke daun melalui batang. Pemakaian lewat daun

tidak ditranslokasikan lagi. Di dalam tubuh tumbuhan diuron mengalami

degradasi, terutama melalui pelepasan gugus metil. Herbisida diuron

menghambat reaksi Hill pada fotosintesis, yaitu dalam fotosistem II. Dengan

demikian pembentukan ATP dan NADPH terganggu (Tjitrosoedirdjo et al,

1984).

Ada dua hal yang menyebabkan diuron tetap berada di permukaan tanah

dalam waktu yang relatif agak lama yaitu : (1) tidak mudah larut dalam air

sehingga diuron mempunyai kemampuan untuk bertahan dari pencucian dan

(2) tingkat absorbsi yang tinggi oleh koloid tanah. Diuron banyak digunakan

untuk pengendalian gulma pada tanaman tebu, kapas, karet, teh dan

sebagainya. Dalam keadaan murni diuron akan berupa kristal putih, tidak

menguap, tidak mudah terbakar dan tidak berbau, akan meleleh pada suhu

158-159oC, larut dalam air pada suhu 25oC sebanyak 42 ppm dan tahan

terhadap dekomposisi (Sumintapura dan Iskandar, 1975).

Gejala yang terjadi akibat aplikasi diuron tergantung pada jenis tumbuhan itu

sendiri. Biasanya kematiannya diawali pada ujung daun dan apabila ujung

(52)

khlorosis yang biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat dan

kematian yang mendadak (Tjitrosoedirdjo et al, 1984).

2.9 Quizalopop

Quizalofop-p-etil adalah herbisida pratanam. Herbisida ini digunakan untuk

mengendalikan gulma rumput tahunan.Quizalofop-P-Etil (QPE) adalah

senyawa herbisida fenoksi. Herbisida ini digunakan dalam pertanian dalam

mengendalikan gulma. Penggunaan sembarangan herbisida di bidang

pertanian, serta peningkatan polusi dalam ekosistem akibat pembangunan

industri, membenarkan evaluasi toksisitas bahan kimia ini (Marcano

,etal.,2004). Saat ini, literatur tidak tersedia pada efek sitologi herbisida

QPE dalam sistem tanaman. QPE biasa digunakan untuk mematikan gulma

berdaun sempit, sepertiDigitaria sp., Eleusine indica, Echinochloa

colonum.

QPE termasuk herbisida yang selektif dalam mematikan gulma tanpa merusak

tanaman budidaya. Selain itu merupakan postemergence fenoksi herbisida.

Hal ini digunakan untuk mengendalikan gulma rumput tahunan seperti

kentang, kedelai, gula bit, sayuran kacang, kapas dan rami. Bahan aktif

pada herbisida ini adalah

(R) -2 - [ 4 - ( 6 - chloroquinoxalin - 2 - yloxy ) fenoksi ] asam propionat [ 6 ].

Senyawa ini diserap dari permukaan daun dan kemudian akan

ditransformasikan ke seluruh organ tanaman yang kemudian akan

(53)

33

cenderung selektif membunuh gulma broadleaved daripada rumput.

Herbisida asam benzoat fenoksi diduga mirip dengan hormon pada tumbuhan

yang dapat menyebabkan pembelahan sel secara tidak normal sehingga dapat

menghancurkan sistem transportasi nutrisi tanaman.

2.10 KLOROFIL

Istilah klorofil berasal dari bahasa Yunani yaitu chloros artinya hijau dan

phyllos artinya daun. Pigmen ini berperan dalam proses fotosintesis

tumbuhan dengan menyerap dan mengubah energi cahaya menjadi energi

kimia (Muthalib, 2009).

Sifat fisik klorofil adalah menerima dan atau memantulkan cahaya dengan

gelombang yang berlainan (berpendar = berfluoresensi). Klorofil banyak

menyerap energi matahari pada gelombang 400- 700 nm, terutama sinar

merah dan biru. Sifat kimia klorofil, antara lain (1) tidak larut dalam air,

melainkan larut dalam pelarut organik yang lebih polar, seperti etanol dan

kloroform; (2) inti Mg akan tergeser oleh 2 atom H bila dalam suasana asam,

sehingga membentuk suatu persenyawaan yang disebut feofitin yang

berwarna coklat (Dwidjoseputro, 1994).

Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi fotosintesis.

Fotosintesis merupakan proses perubahan senyawa anorganik (CO2 dan

H2O) menjadi senyawa organik (karbohidrat) dan O2 dengan bantuan cahaya

(54)

Kloroplas (Gambar 7) adalah organel sel tanaman yang mempunyai membran

luar, membran dalam, ruang antar membran dan stroma. Permukaan

membran internal yang disebut tilakoid akan membentuk kantong pipih dan

pada posisi tertentu akan bertumpukan dengan rapi membentuk struktur yang

disebut granum. Seluruh granum yang terdapat pada kloroplas disebut grana.

Tilakoid yang memanjang dan menghubungkan granum satu dengan yang

lain di dalam stroma disebut lamela. Stroma merupakan rongga atau ruang

dalam kloroplas dan berisi air beserta garam-garam yang terlarut dalam air.

Klorofil terdapat di dalam ruang tilakoid ( Thorpe, 1984; Campbell et al.,

2003).

Tiga fungsi utama klorofil dalam proses fotosintesis adalah memanfaatkan

energi matahari, memicu fiksasi CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan

menyediakan energi bagi ekosistem secara keseluruhan. Karbohidrat yang

dihasilkan dalam fotosintesis diubah menjadi protein, lemak, asam nukleat

dan molekul organik lainnya. Klorofil menyerap cahaya yang berupa radiasi

elektromagnetik pada spektrum kasat mata (visible). Cahaya matahari

mengandung semua warna spektrum kasat mata dari merah sampai violet,

tetapi tidak semua panjang gelombang diserap dengan baik oleh klorofil.

Klorofil dapat menampung cahaya yang diserap oleh pigmen lainnya melalui

fotosintesis, sehingga klorofil disebut sebagai pigmen pusat reaksi

fotosintesis (Bahri, 2010).

Tanaman tingkat tinggi mempunyai dua macam klorofil yaitu klorofil a

(55)

35

yang berwarna hijau muda (lihat gambar 8). Klorofil a dan klorofil b paling

kuat menyerap cahaya di bagian merah (600-700 nm), dan paling sedikit

menyerap cahaya hijau (500-600 nm). Sedangkan cahaya berwarna biru

diserap oleh karotenoid. Karotenoid membantu menyerap cahaya, sehingga

spektrum cahaya matahari dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Energi

yang diserap oleh klorofil b dan karotenoid diteruskan kepada klorofil a untuk

digunakan dalam proses fotosintesis fase I (reaksi terang) yang terdiri dari

fotosistem I dan II, demikian pula dengan klorofil-b. Klorofil a paling

banyak terdapat pada Fotosistem II sendangkan Klorofil b paling banyak

[image:55.595.161.416.394.584.2]

terdapat pada Fotosistem I (Anonim 2011).

(56)

3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan di PT. Great Giant Pineapple Terbanggi Besar

Lampung Tengah dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung pada

bulan Desember 2013 sampai dengan Februari 2014.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah tanaman nanas cultivar GP3 dengan umur 3

bulan setelah tanam yang diperoleh dari perkebunan PT. Great Giant

Pineapple, herbisida Quizalopop berbahan aktif P-Etyl dan Diuron berbahan

aktif 3,4-D yang diperoleh dari toko pertanian, air dan tanah yang akan

diambil dari perkebunan PT. Great Giant Pineapple.

Alat yang digunakan adalah handspray, sarung tangan, masker, patok,

(57)

37

tabung reaksi, alat destilasi, corong, tabung Erlenmeyer, beker glass, dan

pipet tetes.

3.3 Rancangan Percobaan

Penelitian ini disusun dengan percobaan faktorial dengan rancangan acak

kelompok (RAK) dengan 3 ulangan yang dijadikan sebagai kelompok.

Faktor pertama adalah perlakuan herbisida dengan bahan aktif 3,4-D dengan

taraf konsentrasi yaitu konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 %. Faktor

kedua adalah perlakuan herbisida dengan bahan aktif P-Etyl dengan taraf

konsentrasi yaitu konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 %. Dengan

demikian diperoleh 16 kombinasi perlakuan pada setiap kelompok. Sehingga

pada penelitian ini diperoleh 48 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan 4

[image:57.595.135.511.525.694.2]

minggu setelah perlakuan.

Tabel 1. Taraf Kombinasi Konsentrasi Herbisida

Quizalpop

Diuron

Qa (0 %) Qb (0,05%) Qc (0,1%) Qd (0,15%)

Da (0 ) DaQa(0) DaQb (0,05%)

DaQc (0,1%)

D0Qc (0,15%) Db (0,05%) DbQa(0,0

5%) DbQb (0,05%,0,05%) DbQc (0,05%,0,1%) DaQc (0,05%,0,15%) Dc (0,1%) Dc Qa

(0,1%) DcQb (0,1%,0,05%) DcQc (0,1%,0,1%) DbQc (0,1%,0,15%) Dd (0,15%) Dd Qa

(58)

Tabel 2. Tata Letak Percobaan

Keterangan :

a : konsentrasi 0 %

b : konsentrasi 0,05%

c : konsentrasi 0,1%

d : konsentrasi 0,15%

Q : Herbisida quizalopop berbahan aktif P-Etyl

D : Herbisida diuron berbahan aktif 3,4-D

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Penyiapan Media Pertanaman

Media pertanaman yang digunakan adalah tanah yang diambil dari

perkebunan PT. GGP dimasukkan kedalam polibag. Pada penelitian ini

digunakan media tanam sebanyak 48 polibag yang berukuran sama yaitu

15 kg sebagai satu satuan percobaan. Pada setiap polibag berisi media tanah

(59)

39

3.4.2 Penanaman Tanaman Nanas

Tanaman nanas dengan cultivar GP3 berumur 3 bulan yang digunakan

diambil di perkebunan PT. GGP. Sebelum ditanam akar tanaman nanas

dihilangkan (0 cm) (gambar 9). Setiap polibag (satu satuan percobaan)

ditanam satu tanaman nanas. Tanaman diletakkan di green house yang

berada di kebun percobaan PT. GGP.

Gambar 8. Tanaman Nanas berumur 3 bulan (obyek penelitian) yang dihilangkan akarnya (koleksi foto pribadi)

3.4.3 Konsentrasi Herbisida

Taraf konsentrasi herbisidaberbahan aktif 3,4-D dan P-Etyl yang digunakan

adalah konsentrasi 0 %, 0,05 %, 0,1 %, dan 0,15 % pada masing-masing

[image:59.595.221.355.266.366.2]

herbisida dengan mengencerkan dalam 1 liter air.

Tabel 3. Daftar komposisi Larutan Herbisida (dalam %)

No. Komposisi Qa Da Qb Db Qc Dc Qd Dd 1 Quizalopop (cc) 0 - 0,5 - 1 - 1,5 -2 Diuron (cc) - 0 - 0,5 - 1 - 1,5 3 Air (liter) 1 1 1 1 1 1 1 1 Konsentrasi (%) 0 0 0,05 0,05 0,1 0,1 0,15 0,1

(60)

3.4.4 Pemberian Perlakuan

Pemberian perlakuan herbisida pada tanaman nanas diberikan 2 minggu

setelah penanaman dan diberikan pada siang hari dengan menggunakan

handspraysebanyak 1 kali selama penelitian berlangsung .

3.4.5 Variabel yang Diamati

Terdapat beberapa variabel yang diamati, antara lain :

a. Kualitatif

Diambil secara visual (foto) penampakan warna daun yang terjadi 4 minggu

setelah perlakuan. Penampakan warna daun yang difoto diberi nilai

menggunakan alat yang disebut LCC (Leaf Color Chart). Alat ini

didistribusikan oleh Crop Resources and Management Network

(CREMNET) - IRRI untuk pengukuran pengoptimalan penggunaan

Nitrogen pada tanaman padi (Gani, 2007).

b. Kuantitatif

Variabel yang diambil berupa :

1. Pertumbuhan akar

Pertumbuhan akar diperoleh dari pengukuran panjang akar yang terpanjang

diukur dengan alat ukur berupa mistar dalam satuan cm pada tiap satuan

(61)

41

2. Pengukuran kandungan klorofil pada daun

Pengambilan daun dilakukan 4 minggu setelah perlakuan. Diambil satu

daun tiap satu satuan percobaan. Pengukuran kandungan klorofil dengan

menggunakan spektrofotometri berdasarkan Witermans dan De Mots

(Suyitno, 2008). Daun bagian tengah sebanyak 5 gram diambil kemudian

dimaserasi selama 24 jam dengan menggunakan alkohol 70 %. Hasil

maserasi kemudian disaring dan disentrifuge. Hasil dari sentrifuge berupa

endapan dan filtrat, kemudian filtratnya diambil dan diukur kadar klorofil

dengan menggunakan spectrophotometer pada panjang gelombang 645nm,

663nm, dan 683nm. Mencatat nilai absorbansi (Optical Density) larutan

tersebut.

Adapun untuk menghitung kadar klrorofil a, klorofil b, dan kadar klorofil

total berdasarkan Witermans dan De Mots dapat menggunakan rumus

sebagai berikut:

Klorofil a : 12,7 x D 683 – 2,69 D 645 x V/1000xW (mg/l)

Klorofil b : 12,7 x D 645 – 2,69 D 663 x V/1000xW (mg/l)

Klorofil total: 20,2 x D 645 + 8,102 D 663xV/100xW (mg/l) (Suyitno,

2008)

3.5 Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis ragam, dan dilanjutkan dengan uji Beda

(62)

1. Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Untuk perubahan warna daun dan kandungan klorofil pada tanaman nanas

sampai konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % rata-rata memiliki

nilai C yang menunjukkan daun tanaman nanas kurang baik.

2. Pada perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0 %

memiliki kandungan klorofil total rata-rata sebesar 2,284 mg/L, sedangkan

pada kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % memiliki

kandungan klorofil total rata-rata sebesar 1,952%.

3. Pada pertumbuhan akar perlakuan kombinasi konsentrasi herbisida 3,4-D

dan P-Etyl 0 % rata-rata sebesar 32,133 dan pada kombinasi konsentrasi

herbisida 3,4-D dan P-Etyl 0,15 % rata-rata sebesar 34,944 cm.

4. Penggunaan kombinasi herbisida 3,4-D dan P-Etyl aman digunakan untuk

(63)

62

2. Saran

Untuk penelitian selanjutnya diharapkan :

1. Konsentrasi dan interval konsentrasi herbisida yang digunakan lebih

variatif, agar perbedaan pengaruh herbisida dapat lebih terlihat nyata.

2. Waktu pengamatan yang digunakan lebih panjang sehingga perbedaan

(64)

Anonim. 2012. Ananas comosus. Diakses melalui

http://www.plantamor.com/imdex.php?plant=95 pada Mei 2014

Anonim. 2010. Herbisida. Diakses melalui http://essayku31.wordpress.com/ pada 20 Oktober 2013.

Anonim. 2011. Klorofil. Situs Web Wikipedia Indonesia, Diakses pada Oktober 2013.

Bahri, S. 2010. Klorofil. Diktat Kuliah Kapita Selekta Kimia Organik. Universitas Lampung.

Biolucious. 2011. ZPT sebagai herbisida. diakses melalui http://bioluscious.blogspot.com/2011/04/zpt-sebagai-herbisida.html pada 23 Oktober 2013

Boerboom, Chr

Gambar

Gambar 1. Tanaman Nanas(Foto koleksi Pribadi)
Gambar 3. Batang Tanaman Nanas (Foto koleksi Pribadi)
Gambar 4. Daun Tanaman Nanas (Foto koleksi Pribadi)
Gambar 5. Bunga Nanas (Foto koleksi Pribadi)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan uji lanjut yang dilakukan dapat diketahui bahwa perlakuan konsentrasi IBA ( Indole Butyric Acid ) dan jenis media tanam tidak memberikan pengaruh

Adapun hipotesis dari penelitian yang akan dilakukan adalah herbisida dengan bahan aktif 2,4-D maupun Glifosat berpengaruh terhadap kerusakan morfologi daun dan kandungan

Serapan hara N, P, K, Ca, Mg dan Al di akar nanas pada umur 4 BST pada 3 tingkat kejenuhan Al dalam tanah dalam pengaruh pemberian kapur dan bahan organik dan pengapuran

Dari hasil pemenuh standart nasional indonesia SNI perlakuan K1P1 konsentrasi ekstrak kulit nanas 50 % dan lama pemeraman 15 jam menghasilkan kualitas minyak kelapa yang baik

Pengaruh Perlakuan Beberapa Konsentrasi 2,4-d yang Dikombinasikan dengan Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Klorofil Kalus Alfalfa ( Mediago sativa l.)

Judul Penelitian : Pengaruh Perlakuan Beberapa Konsentrasi 2,4-D yang Dikombinasikan dengan Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Klorofil Kalus Alfalfa

Pengaruh pupuk hayati terhadap berat basah akar Nilai berat total tanaman pada setiap perlakuan dosis pupuk hayati berbasis mikoriza walaupum tidak berbeda nyata tetapi mempunyai nilai