Upaya Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor Yang Dilakukan Oleh Anak

57  28  Download (0)

Teks penuh

(1)

UPAYA PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK

Tindak pidana yang terjadi dalam masyarakat sangat beragam jenisnya, salah satunya adalah pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak. Masalah ini mendapat perhatian media karena sudah sangat meresahkan masyarakat. Adapun permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak dan faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Data yang digunakan data primer dan melakukan wawancara terhadap polisi, jaksa, hakim dan dosen terkait bahasan dalam skripsi ini dan data yang diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang diperoleh kemudian akan dianlisis dengan menggunakan analisis kualitatif guna mendapatkan suatu kesimpulan yang memaparkan kenyataan yang diperoleh dari penelitian.

(2)

M. Agung Maulido diatur dalam Pasal 362 dan 363 KUHP dan Pasal 24 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak; 2. Faktor budaya, variasi kebudayaan yang banyak dapat menimbulkan persepsi-persepsi tertentu terhadap penegakan hukum; 3. Faktor sarana dan prasarana, masih kurangnya LBH, tidak adanya penasehat hukum, masih kurangnya perangkat hukum yang dapat membantu anak menyelesaikan perkaranya; 4. Faktor penegak hukum, masih ada aparat penegak hukum, penyidik atau penuntut umum dan hakim yang kurang profesional, serta pengumpulan barang bukti yang sulit; 5. Faktor masyarakat, masyarakat kurang aktif dalam membantu upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak, yang kurang akan kesadaran hukum, artinya jika derajat kepatuhan masyarakat (anak) terhadap hukum tinggi maka peraturan tersebut memang berfungsi.

Penulis memberikan saran yaitu dengan adanya upaya penegakan hukum terhadap anak yang melakukan tindak pidana, dapat diberikan penanganan yang baik dan seadil-adilnya karena anak masih memiliki masa depan yang panjang sehingga anak menjadi jera untuk melakukan suatu tindak pidana. Faktor penghambat upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak meruapakan tugas bersama untuk menjadikan anak tidak melakukan tindak pidana hingga berkonflik dengan hukum dan seharusnya berbagai faktor penghambat tersebut dapat diselesaikan.

(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 10 September 1992, anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Bapak Hi. Yus Amri Agus, S.Sos., M.IP dan Ibu Dra. Hj. Tati Sugiarti, M.Pd. Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Al Azhar 2 Bandar Lampung pada tahun 1998. Sekolah Dasar (SD) di SD Al Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2004, kemudian melajutkan studinya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 25 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2007 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Al Kautsar Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2010.

(7)

PERSEMBAHAN

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan mengucap puji syukur kepada Allah SWT ,atas rahmat dan hidayahnya,maka dengan ketulusan dan kerendahan hati serta setiap perjuangan dan jerihpayah, aku

persembahkan sebuah karya nan kecil ini kepada :

Ayah dan Bunda yang kusayangi dan juga kucintai.

Terima kasih telah memberikan dukungan, cinta dan kasih sayang, serta selalu mendo’akan dan sabar menanti keberhasilanku.

Adik-adikku tersayang dan seluruh keluarga besarku yang selalu

mendo’akanku serta memberi bantuan dalam segala hal demi menggapai cita-cita.

Sahabat-sahabatku serta teman-temanku terimakasih atas kebersamaan, dukungan dan kesetiaannya selama ini.

(8)

MOTO

Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

(Ir. Soekarno)

Get up, stand up, stand up for your rights. Get up, stand up don’t give up the fight.

(Bob Marley)

Appreciate what you have right now, because you don’t always get a second chance.

(Wiz Khalifa)

(9)

SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat, karunia

dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul :

“Upaya Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencurian

Kendaraan Yang Dilakukan Oleh Anak.”

Penulis sangat menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan berkat

dorongan, bantuan, arahan serta masukan dari berbagai pihak baik secara

langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Heryandi, S.H.,M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

2. Ibu Diah Gustiniati M, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung.

3. Ibu Firganefi, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing I yang dengan penuh

kesabaran meluangkan waktunya membimbing, mengarahkan, memberikan

semangat dan motivasi dalam penulisan skripsi ini.

4. Ibu Rini Fathonah, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing II yang dengan

penuh kesabaran meluangkan waktunya membimbing, mengarahkan,

(10)

5. Ibu Dr. Erna Dewi, S.H., M.H., selaku Pembahas I yang telah memberikan

masukan, arahan, dan bantuan dalam penulisan skripsi ini.

6. Bapak Budi Rizki Husin, S.H., M.H., selaku Pembahas II yang telah

memberikan masukan, arahan, dan bantuan dalam penulisan skripsi ini.

7. Ibu Rilda Murniati, S.H., selaku Pembimbing Akademik. Terimakasih atas

bantuannya.

8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen pengajar, Staf Administrasi maupun

karyawan-karyawan di bagian Fakultas Hukum Universitas Lampung, terimakasih atas

bantuannya.

9. Mbak Yanti, Mbak Sri, Babe, Iwo dan Kiyai Apri terimakasih atas bantuan

dan sarannya dalam menyeleasaikan penulisan skripsi ini.

10. Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang

tua ku Ayah Hi. Yus Amri Agus, S.Sos., M.IP., dan Bunda Dra. Hj. Tati

Sugiarti, M.Pd., adikku M. Tegar Yozeta dan Soulthana Affifa Tantri yang

senantiasa memberikan kasih sayang, dukungan, perhatian, dan selalu

mendoakan serta mengharapkan keberhasilanku.

11. Sahabat-sahabat terbaik kampus yang sudah SH lebih dulu: Ibnu, Tyo, Faiz,

Herry, Andin, Bunga, Aji, Amel, Ner, Maman, Febby, Alhuda, Iqbal, Imam,

Tono, Gendus, Moch, Aldy, Imor, Opik terimakasih buat kebersamaan, canda

tawanya selama kuliah ini.

12. Teman-teman seperjuangan kampus: Fikram, Dwi, Nesa, Zevina, Agus,

Melia, Terry, Erdit, Reydi, Haikal, Abos, Iben, Ario, Amek, Ridho, Anggi,

Ijal, Sandi, Sarwo, Mamet, Dedek, Erik terimakasih atas semua semangaat

(11)

13. Teman-teman angkatan 2010 Universitas Lampung: Dedew, Mekel, Dino,

Iqbal, Rempong, Yogi, Tonay, Sarip, Ody, Gita, Keken, Mijo, Iqbal, Edo,

Maman, Ndi, Agung yang telah membantu dan memberikan semangat serta

canda tawanya selama kuliah.

14. Seseorang yang telah menemani, memberikan arahan, motivasi, semangat,

canda tawa, kasih sayang dalam suka maupun duka dan bantuan moril,

materiil dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

15. Rekan–rekan KKN: Merre, June, Olla, Tomson, Bagong, Gita, Uty yang telah

bersama dalam suka dan duka selama 40 hari di desa.

16. Almamater tercinta, Universitas Lampung yang telah menghantarkanku

menuju keberhasilan.

17. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, semangat, dan dukungan

dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik atas segala bantuan yang

telah diberikan dan tetap menanamkan semangat untuk berbuat baik dalam diri

kita. Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak

terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan skripsi ini sangat penulis harapkan. Semoga

hasil skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Bandar Lampung, Mei 2014 Penulis

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 4

C. Tujuan dan Kegunaan... 5

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 6

E. Sistematika Penulisan... 14

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum... 17

B. Teori Penegakan Hukum ... 19

C. Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum ... 21

D. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor... 23

E. Pengertian Anak ... 27

III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 29

B. Jenis Data dan Sumber Data... 30

C. Metode Pengumpulan Data ... 32

D. Metode Pengolahan Data ... 32

E. Analisis Data ... 34

IV. PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteritik Responden ... 35

(13)

C. Faktor Penghambat Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak

Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh Anak.. 47

V. PENUTUP

A Simpulan ... 51 B. Saran ... 55

(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan penegakan hukum tidak selalu sesuai dengan apa yang tertulis dalam

peraturan perundang-undangan. Dengan perkembangan jaman yang semakin pesat

membuat banyak pergeseran dalam sistem sosial dalam masyarakat. Salah satunya

perubahan ekonomi yang semakin memburuk akibat dampak dari krisis global

yang melanda hampir di seluruh bagian dunia, tidak terkecuali di Negara

Indonesia. Dengan tingginya tekanan ekonomi yang menuntut setiap orang untuk

memenuhi setiap kebutuhannya. Individu dalam melaksanakan usaha guna

memenuhi kebutuhannya, individu harus melakukan interaksi diantara anggota

masyarakat lainnya.1

Kejahatan merupakan masalah yang tidak asing lagi masyarakat Indonesia

terutama di kota besar. Kejahatan merupakan masalah yang komplek yang setiap

waktu dihadapi oleh penegak hukum. Kejahatan yang sering meningkat cenderung

di pengaruhi oleh krisis multi dimensi yang melanda Indonesia pada pertengahan

tahun 1997 lalu. Badai krisis tersebut mengakibatkan meningkatnya

penggangguran pada lapisan masyarakat dan mengurangi daya beli masyarakat

,masyarakat sering mendapat tekanan psikis dalam memenuhi kebutuhan

1

(20)

2

hidupnya. Hal tersebut berpotensi menyebabkan semakin tingginya angka

kejahatan di Indonesia .2

Tindak pidana yang terjadi dalam masyarakat sangat beragam jenisnya,salah

satunya adalah pencurian kendaraan bermotor oleh anak yang marak terjadi .

Kasus ini menimbulkan dampak buruk selain dapat melukai korban pelaku pun

tega menhilangkan nyawa orang lain. Masalah ini pun mencuri perhatian media

baik cetak maupun elektonik ,pemberitaan mengenai pencurian kendaraan

bermotor hampir setiap hari menhiasi surat kabar cetak maupun siaran di televisi

nasional.3

Seperti kasus 24 Oktober di Bandar Lampung yakni tertangkapnya empat anak di

bawah umur spesialis pencuri sepeda motor dan seorang penadah hasil pencurian

motor diringkus aparat Kepolisiian Resort Kota Bandar Lampung, Rabu (24/10).

Dari hasil pemeriksaan, sedikitnya mereka sudah 30 kali melakukan pencurian

sepeda motor di Bandar Lampung. Selain itu dikutip dari

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID-Jajaran Polresta Bandar Lampung mengungkap 49

kasus selama Agustus sampai September. Semua kasus yang diungkap itu

merupakan kasus pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, dan

pencurian kendaraan bermotor. Kapolresta Bandar Lampung Kombes Dwi Irianto

mengatakan, 49 kasus itu terdiri dari tujuh kasus pencurian dengan kekerasan, 22

kasus pencurian dengan pemberatan, dan 20 kasus pencurian kendaraan bermotor.

2

Ibidhlm 23

3

(21)

3

"Tersangka yang ditangkap sebanyak 60 orang," ujar Dwi saat ekspos di

mapolresta, Selasa (1/10/2013). Menurut dia, dari 60 tersangka itu, tujuh di

antaranya masih anak-anak. Sedangkan 53 tersangka lain sudah dewasa.4

Dikutip dari indosiar.com, Bandar Lampung - lima remaja yang terbilang anak

baru gede (ABG) dibekuk aparat kepolisian karena terbukti menjadi komplotan

pencuri spesialis sepeda motor dan bertanggungjawab terhadap sejumlah aksi

pencurian sepeda motor di Lampung. Meski terbilang belia, jam terbang

komplotan remaja ini cukup tinggi. Dalam sebulan mereka mereka mengaku kerap

menggasak hingga 5 unit sepeda motor. Sungguh nekad, aksi 5 bocah yang

tergolong masih anak baru gede ini. Sopan Nizar, Nanda, Destri, Ferly dan Refki

diamankan petugas ke Mapoltabes Bandar Lampung lantaran terlibat sejumlah

aksi pencurian sepeda motor. Dalam aksi terakhirnya, komplotan yang dipimpin

Nanda (16), pelajar kelas 2 SMA di Bandar Lampung ini mencuri sepeda motor di

areal parkir salah satu universitas di Lampung dengan menggunakan kunci letter

T. Dan yng terakhir kasus tertangkapnya Tersangka DF ,14, pelajar SMP, warga

Jalan Nusantara V, Bandar Lampung diamankan polsek Kedaton setelah

melakukan pencurian sepeda motor dan penadahnya OH ,16, pelajar SMP kelas

III warga Bandarlampung, pada Jum’at (8/2) sekitar pukul 17.30 WIB. Tersangka

yang masih di bawah umur ini mencuri motor milik teman sekolahnya Billi

Agung, 14 tahun, warga Jalan Raden Saleh, Way Huy, Jati Agung, Lampung

4

(22)

4

Selatan, saat temannya ini sedang parkir di sekolah SMP 20 pada pukul 11.00

WIB.5

Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa di Bandar Lampung masih terjadi tindak

pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak. Perlu adanya

upaya yang dilakukan agar tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang

dilakukan anak tidak terjadi kembali.

Hal tersebut yang melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih lanjut dalam

skripsi yang berjudul “Upaya Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana

Pencurian Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh Anak ”

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

Adapun permasalahan yang ada dalam proposal penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana

pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak?

2. Apakah faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaku tindak

pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak?

Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah :

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dan dari permasalahan

yang timbul, maka penulis membatasi pada lingkup Ilmu Pengetahuan Hukum

Pidana. Ruang lingkup tempat penelitian di Kota Bandar Lampung dan tahun

penelitian ini yaitu pada tahun 2013 – 2014.

5

(23)

5

C. Tujuan dan Kegunanaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis Upaya Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak

Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh Anak

2. Untuk menganalisis faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaku

tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak

Kegunaan penelitian ini adalah :

1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian ilmu

pengetahuan hukum, khususnya di dalam Hukum Pidana, dalam rangka

memberikan penjelasan mengenai Upaya Penegakan Hukum terhadap Pelaku

Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh Anak

2. Kegunaan Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi

rekan-rekan mahasiswa selama mengikuti program perkuliahan Hukum Pidana

pada Fakultas Hukum Universitas Lampung dan masyarakat umum mengenai

Upaya Penegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencurian Kendaraan

Bermotor yang dilakukan oleh Anak

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

(24)

6

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang merupakan abstraksi dan hasil

pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan

identifikasi terhadap dimensi-dimensi social yang dianggap relevan oleh peneliti.6

Teori Penegakan Hukum Soerjono Soekanto .

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan,

kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan

hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide.

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya

norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau

hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bentuk upaya penegakan hukum terkait dengan tindak pidana pencurian yang

dilakukan anak dapat dilakukan dengan beberapa tahap yakni :

1. Tahap formulasi

Tahap formulasi aturan hukum yakni pembuatan undang-undang yang

menetapkan perbuatan pencurian yang dilakukan anak sebagai tindak pidana

artinya bahwa setiap pelaku pencurian harus mendapatkan sanksi hukum. Dalam

kasus pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak, undang-undang

yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan anak yang berhadapan dengan

hukum. Seperti KUHP, UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, UU

6

(25)

7

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 69 ayat (1) (2) dan Pasal

71 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

2. Tahap aplikasi

Pemberian pidana yang lebih konkret yaitu oleh badan peradilan yang mengadili.

Adapun badan yang berwenang mengadili kasus tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak adalah:

Kepolisian yang bertugas melakukan penangkapan, penahanan dan penyidikan

seperti yang diatur dalam Pasal 30 UU Nomor 11 Tahun 2012 selanjutnya

diserahkan kepada pihak kejaksaan terhadap pelaku tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

Kejaksaan bertugas memberikan tuntutan terhadap perkara anak sebagai pelaku

tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang ditetapkan berdasarkan

Keputusan Jaksa Agung atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Jaksa Agung (sesuai

dengan Pasal 41 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2012) untuk selanjutnya

diserahkan kepada pihak pengadilan.

Pengadilan memutuskan untuk memberikan hukuman yang seadil-adilnya

terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor.

Hakim memeriksa perkara anak dalam sidang yang dinyatakan tertutup untuk

umum kecuali pembacaan putusan seperti tercantum dalam Pasal 54 UU Nomor

11 Tahun 2012 dan kemudian melimpahkannya kepada lembaga pemasyarakatan.

(26)

8

Tahap eksekusi berupa pemberian pidana yang benar benar konkret yaitu oleh

badan eksekusi misalnya lembaga pemasyarakatan. Lapas anak berbeda dengan

lapas orang dewasa, karena anak harus mendapatkan perhatian khusus walaupun

sedang menjalani masa hukuman karena anak masih memiliki masa depan yang

panjang dan membuat anak tersebut jera sehingga tidak melakukan tindak pidana

lagi.

Joseph Goldstein membedakan penegakan hukum pidana menjadi 3 bagian yaitu:

1. Total enforcement, yakni ruang lingkup penegakan hukum pidana sebagaimana yang dirumuskan oleh hukum pidana substantif (subtantive law

of crime). Penegakan hukum pidana secara total ini tidak mungkin dilakukan sebab para penegak hukum dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana

yang antara lain mencakup penangkapan, penahanan, penggeledahan,

penyitaan dan pemeriksaan pendahuluan. Disamping itu mungkin terjadi

hukum pidana substantif sendiri memberikan batasan-batasan. Misalnya

dibutuhkan aduan terlebih dahulu sebagai syarat penuntutan pada delik-delik

aduan (klacht delicten). Ruang lingkup yang dibatasi ini disebut sebagai area

of no enforcement.

2. Full enforcement, setelah ruang lingkup penegakan hukum pidana yang bersifat total tersebut dikurangi area of no enforcement dalam penegakan

hukum ini para penegak hukum diharapkan penegakan hukum secara

maksimal.

3. Actual enforcement, menurut Joseph Goldstein full enforcement ini dianggap

(27)

9

kesemuanya mengakibatkan keharusan dilakukannya discretion dan sisanya

inilah yang disebut dengan actual enforcement.7

Sebagai suatu proses yang bersifat sistemik, maka penegakan hukum pidana

menampakkan diri sebagai penerapan hukum pidana (criminal law application)

yang melibatkan pelbagai sub sistem struktural berupa aparat kepolisian,

kejaksaan, pengadilan dan pemasyarakatan. Termasuk didalamnya tentu saja

lembaga penasehat hukum. Dalam hal ini penerapan hukum haruslah dipandang

dari 3 dimensi:

1. penerapan hukum dipandang sebagai sistem normatif (normative system) yaitu

penerapan keseluruhan aturan hukum yang menggambarkan nilai-nilai sosial

yang didukung oleh sanksi pidana.

2. penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (administrative system) yang mencakup interaksi antara pelbagai aparatur penegak hukum yang merupakan sub sistem peradilan diatas.

3. penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (social system), dalam arti bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula diperhitungkan pelbagai

perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan masyarakat.

Sehubungan dengan berbagai dimensi di atas dapat diakatakan bahwa sebenarnya

hasil penerapan hukum pidana harus menggambarkan keseluruhan hasil interaksi

antara hukum, praktek administratif dan pelaku sosial

Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan

hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah/pandangan nilai

7

(28)

10

yang mantap dan mengejewantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran

nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian

pergaulan hidup.

Penegakan hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam praktik

sebagaimana seharusnya patut dipatuhi. Oleh karena itu, memberikan keadilan

dalam suatu perkara berarti memutuskan hukum in concreto dalam

mempertahankan dan menjamin di taatinya hukum materiil dengan menggunakan

cara procedural yang ditetapkan oleh hukum formal.8

Menurut Satjipto Raharjo penegakan hukum pada hakikatnya merupakan

penegakan ide-ide atau konsep-konsep tentang keadilan , kebenaran, kemamfaatan

sosial, dan sebagainya. Jadi Penegakan hukum merupakan usaha untuk

mewujudkan ide dan konsep-konsep tadi menjadi kenyataan.

Hakikatnya penegakan hukum mewujudkan nilai-nilai atau kaedah-kaedah yang

memuat keadilan dan kebenaran, penegakan hukum bukan hanya menjadi tugas

dari para penegak hukum yang sudah di kenal secara konvensional , tetapi

menjadi tugas dari setiap orang. Meskipun demikian, dalam kaitannya dengan

hukum publik pemerintahlah yang bertanggung jawab.

Penegakan hukum dibedakan menjadi dua, yaitu:9

1. Ditinjau dari sudut subyeknya:

8

Ibidhlm 34

9

(29)

11

a. Dalam arti luas, proses penegakan hukum melibatkan semua subjek hukum

dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normative

atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri

pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau

menegakkan aturan hukum.

b. Dalam arti sempit, penegakan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur

penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu

aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya.

2. Ditinjau dari sudut obyeknya, yaitu dari segi hukumnya:

a. Dalam arti luas, penegakkan hukum yang mencakup pada nilai-nilai keadilan

yang di dalamnya terkandung bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan

yang ada dalam bermasyarakat.

b. Dalam arti sempit, penegakkan hukum itu hanya menyangkut penegakkan

peraturan yang formal dan tertulis.

Teori Faktor Penghambat Penegakan Hukum

Menurut Soerjono Soekanto menjelaskan ada 5 (lima) Faktor-faktor penghambat

penegakan hukum agar suatu kaedah hukum benar-benar berfungsi, yaitu :10

1) Kaedah Hukum itu sendiri

10

(30)

12

Berlakunya kaedah hukum di dalam masyarakat ditinjau dari kaedah hukum itu

sendiri, menurut teori-teori hukum harus memenuhi tiga macam hal berlakunya

kaedah hukum, yaitu :

a) Berlakunya secara yuridis, artinya kaedah hukum itu harus dibuat sesuai

dengan mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan sebagai syarat

berlakunya suatu kaedah hukum.

b) Berlakunya secara sosiologis, artinya kaedah hukum itu dapat berlaku secara

efektif, baik karena dipaksakan oleh penguasa walau tidak diterima masyarakat

ataupun berlaku dan diterima masyarakat.

c) Berlaku secara filosofis, artinya sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai

positif yang tertinggi. Jika hanya berlaku secara filosofis maka kaedah hukum

tersebut hanya merupakan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum).

2) Penegak Hukum

Komponen yang bersifat struktural ini menunjukkan adanya kelembagaan yang

diciptakan oleh sistem hukum. Lembaga-lembaga tersebut memiliki

undang-undang tersendiri hukum pidana. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa

komponen yang bersifat struktural ini memungkinkan kita untuk mengharapkan

bagaimana suatu sistem hukum ini harusnya bekerja.

3) Fasilitas

Fasilitas dapat dirumuskan sebagai sarana yang bersifat fisik, yang berfungsi

sebagai faktor pendukung untuk mencapai tujuan. Fasilitas pendukung mencakup

(31)

13

4) Masyarakat

Setiap warga masyarakat atau kelompok pasti mempunyai kesadaran hukum,

yakni kepatuhan hukum yang tinggi, sedang atau rendah. Sebagaimana diketahui

kesadaran hukum merupakan suatu proses yang mencakup pengetahuan hukum,

sikap hukum dan perilaku hukum. Dapat dikatakan bahwa derajat kepatuhan

masyarakat terhadap hukum merupakan salah satu indikator berfungsinya hukum

yang bersangkutan. Artinya, jika derajat kepatuhan warga masyarakat terhadap

suatu peraturan tinggi, maka peraturan tersebut memang berfungsi.

5) Kebudayaan

Sebagai hasil karya, cipta, rasa didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan

hidup. Variasi kebudayaan yang banyak dapat menimbulkan persepsi-persepsi

tertentu terhadap penegakan hukum. Variasi-variasi kebudayaan sangat sulit untuk

diseragamkan, oleh karena itu penegakan hukum harus disesuaikan dengan

kondisi setempat. 11

2. Konseptual

Kerangka konseptual merupakan kerangka yang menghubungkan atau

menggambarkan konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti yang

berkaitan dengan istilah itu.12

a. Penegakan Hukum, Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya

untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai

pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam

11

Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif(suatu tinjauan singkat). Hlm 32

12

(32)

14

kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut subjeknya,

penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula

diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek dalam arti yang terbatas

atau sempit.13

b. Pencurian menurut Kitab Undang Undang Hukum Pidana adalah Barang siapa

mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang

lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena

pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda

paling banyak sembilan ratus rupiah.14

c. Pengertian anak menurut UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

tercantum dalam Pasal I butir I UU No. 23 Tahun 2002 menyatakan: “Anak

adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun), termasuk anak

yang masih dalam kandungan”.15

Pengertian anak menurut UU Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak tercantum dalam Bab I Pasal 1 Butir 3 menyatakan: “Anak yang

berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang

telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas)

tahun yang diduga melakukan tindak pidana”.

d. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik

untuk pergerakannya, dan digunakan untuk transportasi darat. Umumnya

kendaraan bermotor menggunakan mesin pembakaran dalam (perkakas atau

alat untuk menggerakkan atau membuat sesuatu yg dijalankan dengan roda,

13

Diakses dari www.id.wikipedia.org/pengertian-kendaraan-bermotor.html

14

Dikutip dari www.anggarajusticia/tindak_pidana_pencurian.htlm diakses tanggal 12 Februari 2014 Pukul 10.30 WIB

15

(33)

15

digerakkan oleh tenaga manusia atau motor penggerak, menggunakan bahan

bakar minyak atau tenaga alam). Kendaraan bermotor memiliki roda, dan

biasanya berjalan di atas jalanan.16

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dan memahami skripsi ini secara keseluruhan, maka

sistematika penulisannya sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

Bab ini merupakan pendahuuan yang memuat latar belakng masalah,

permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis

dan konseptual, serta menguraikan tentang sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan tentang pengertian Anak, Teori Penegakan Hukum,

pengertian tindak pidana pencurian.

III. METODE PENELITIAN

Bab ini memuat tentang pendekatan masalah, sumber dan jenis data, prosedur

pengumpulan dan pengolahan data, serta tahap akhir berupa analisis data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini pembahasan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan permasalahan

dalam skripsi ini, akan dijelaskan upaya Penegakan Hukum terhadap tindak

16

(34)

16

pidana pencurian yang dilakukan oleh anak dan faktor penghambat penegakan

hukum terhadap tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak.

V. PENUTUP

(35)

17

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penegakan Hukum

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan,

kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan

hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide.

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya

norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau

hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan

konsep-konsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum

merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal.1

Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan

hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah/pandangan nilai

yang mantap dan mengejewantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran

nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian

pergaulan hidup.

Penegakan hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam praktik

sebagaimana seharusnya patut dipatuhi. Oleh karena itu, memberikan keadilan

dalam suatu perkara berarti memutuskan hukum in concreto dalam

1

(36)

18

mempertahankan dan menjamin di taatinya hukum materiil dengan menggunakan

cara procedural yang ditetapkan oleh hukum formal.2

Menurut Satjipto Raharjo penegakan hukum pada hakikatnya merupakan

penegakan ide-ide atau konsep-konsep tentang keadilan , kebenaran, kemamfaatan

sosial, dan sebagainya. Jadi Penegakan hukum merupakan usaha untuk

mewujudkan ide dan konsep-konsep tadi menjadi kenyataan.

Hakikatnya penegakan hukum mewujudkan nilai-nilai atau kaedah-kaedah yang

memuat keadilan dan kebenaran, penegakan hukum bukan hanya menjadi tugas

dari para penegak hukum yang sudah di kenal secara konvensional , tetapi

menjadi tugas dari setiap orang. Meskipun demikian, dalam kaitannya dengan

hukum publik pemerintahlah yang bertanggung jawab.

Penegakan hukum dibedakan menjadi dua, yaitu:3

1. Ditinjau dari sudut subyeknya:

Dalam arti luas, proses penegakkan hukum melibatkan semua subjek hukum

dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normative

atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri

pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan

aturan hukum.

Dalam arti sempit, penegakkan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur

penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan

(37)

19

2. Ditinjau dari sudut obyeknya, yaitu dari segi hukumnya:

Dalam arti luas, penegakkan hukum yang mencakup pada nilai-nilai keadilan yang

di dalamnya terkandung bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang ada

dalam bermasyarakat. Dalam arti sempit, penegakkan hukum itu hanya

menyangkut penegakkan peraturan yang formal dan tertulis.

B. Teori Penegakan Hukum

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan,

kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan

hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide.

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya

norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau

hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Penegakan hukum merupakan usaha untuk mewujudkan ide-ide dan

konsep-konsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum

merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal.4

Joseph Goldstein membedakan penegakan hukum pidana menjadi 3 bagian yaitu:5

1. Total enforcement, yakni ruang lingkup penegakan hukum pidana sebagaimana

yang dirumuskan oleh hukum pidana substantif (subtantive law of crime).

Penegakan hukum pidana secara total ini tidak mungkin dilakukan sebab para

penegak hukum dibatasi secara ketat oleh hukum acara pidana yang antara lain

4

Ibidhlm 37

5

(38)

20

mencakup aturanaturan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan

dan pemeriksaan pendahuluan. Disamping itu mungkin terjadi hukum pidana

substantif sendiri memberikan batasan-batasan. Misalnya dibutuhkan aduan

terlebih dahulu sebagai syarat penuntutan pada delik-delik aduan (klacht

delicten). Ruang lingkup yang dibatasi ini disebut sebagai area of no

enforcement.

2. Full enforcement, setelah ruang lingkup penegakan hukum pidana yang bersifat

total tersebut dikurangi area of no enforcement dalam penegakan hukum ini

para penegak hukum diharapkan penegakan hukum secara maksimal.

3. Actual enforcement, menurut Joseph Goldstein full enforcement ini dianggap

not a realistic expectation, sebab adanya keterbatasanketerbatasan dalam

bentuk waktu, personil, alat-alat investigasi, dana dan sebagainya, yang

kesemuanya mengakibatkan keharusan dilakukannya discretion dan sisanya

inilah yang disebut dengan actual enforcement.

Sebagai suatu proses yang bersifat sistemik, maka penegakan hukum pidana

menampakkan diri sebagai penerapan hukum pidana (criminal law application)

yang melibatkan pelbagai sub sistem struktural berupa aparat kepolisian,

kejaksaan, pengadilan dan pemasyarakatan. Termasuk didalamnya tentu saja

lembaga penasehat hukum. Dalam hal ini penerapan hukum haruslah dipandang

dari 3 dimensi:

1. penerapan hukum dipandang sebagai sistem normatif (normative system) yaitu

penerapan keseluruhan aturan hukum yang menggambarkan nilai-nilai sosial

(39)

21

2. penerapan hukum dipandang sebagai sistem administratif (administrative

system) yang mencakup interaksi antara pelbagai aparatur penegak hukum

yang merupakan sub sistem peradilan diatas.

3. penerapan hukum pidana merupakan sistem sosial (social system), dalam arti

bahwa dalam mendefinisikan tindak pidana harus pula diperhitungkan pelbagai

perspektif pemikiran yang ada dalam lapisan masyarakat.

C. Faktor faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

Faktor faktor yang mempengaruhi penegakan hukum menurut Soerjono Soekanto

adalah :6

1. Faktor Hukum

Praktik penyelenggaraan hukum di lapangan ada kalanya terjadi pertentangan

antara kepastian hukum dan keadilan, hal ini disebabkan oleh konsepsi keadilan

merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak, sedangkan kepastian hukum

merupakan suatu prosedur yang telah ditentukan secara normatif.

Justru itu, suatu kebijakan atau tindakan yang tidak sepenuhnya berdasar hukum

merupakan sesuatu yang dapat dibenarkan sepanjang kebijakan atau tindakan itu

tidak bertentangan dengan hukum. Maka pada hakikatnya penyelenggaraan

hukum bukan hanya mencakup law enforcement, namun juga peace maintenance,

karena penyelenggaraan hukum sesungguhnya merupakan proses penyerasian

6

(40)

22

antara nilai kaedah dan pola perilaku nyata yang bertujuan untuk mencapai

kedamaian.

2. Faktor Penegakan Hukum

Fungsi hukum, mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan

peranan penting, kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas petugas kurang baik,

ada masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan

hukum adalah mentalitas atau kepribadian penegak hokum

3. Faktor Sarana atau Fasilitas Pendukung

Faktor sarana atau fasilitas pendukung mencakup perangkat lunak dan perangkat

keras, salah satu contoh perangkat lunak adalah pendidikan. Pendidikan yang

diterima oleh Polisi dewasa ini cenderung pada hal-hal yang praktis konvensional,

sehingga dalam banyak hal polisi mengalami hambatan di dalam tujuannya,

diantaranya adalah pengetahuan tentang kejahatan computer, dalam tindak pidana

khusus yang selama ini masih diberikan wewenang kepada jaksa, hal tersebut

karena secara teknis yuridis polisi dianggap belum mampu dan belum siap.

Walaupun disadari pula bahwa tugas yang harus diemban oleh polisi begitu luas

dan banyak.

4. Faktor Masyarakat

Penegak hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian

di dalam masyarakat. Setiap warga masyarakat atau kelompok sedikit banyaknya

mempunyai kesadaran hukum, persoalan yang timbul adalah taraf kepatuhan

(41)

23

kepatuhan hukum masyarakat terhadap hukum, merupakan salah satu indikator

berfungsinya hukum yang bersangkutan.

5. Faktor Kebudayaan

Berdasarkan konsep kebudayaan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan

soal kebudayaan. Kebudayaan menurut Soerjono Soekanto, mempunyai fungsi

yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat, yaitu mengatur agar manusia

dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan

sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian,

kebudayaan adalah suatu garis pokok tentang perikelakuan yang menetapkan

peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, dan apa yang dilarang.

D. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, arti dari kata “curi” adalah mengambil

milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan

sembunyi-sembunyi. Sedangkan arti “pencurian” proses, cara, perbuatan. Pengertian

pencurian menurut hukum beserta unsur-unsurnya dirumuskan dalam Pasal 362

KUHP, adalah berupa rumusan pencurian dalam bentuk pokoknya yang berbunyi:

barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang

lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena

pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 Tahun atau denda paling banyak

Rp.900,00-.

Untuk lebih jelasnya, apabila dirinci rumusan itu terdiri dari unsur-unsur objektif

(perbuatan mengambil, objeknya suatu benda, dan unsur keadaan yang melekat

(42)

24

dan unsur unsur subjektif (adanya maksud, yang ditujukan untuk memiliki, dan

dengan melawan hukum).7

Unsur-unsur pencurian adalah sebagai berikut:

1. Unsur-Unsur Objektif berupa :

a. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen)

Unsur pertama dari tindak pidana pencurian ialah perbuatan “mengambil” barang.

“Kata “mengambil” (wegnemen) dalam arti sempit terbatas pada menggerakan

tangan dan jari-jari, memegang barangnnya, dan mengalihkannya ke lain tempat”.

Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukan bahwa

pencurian adalah berupa tindak pidana formill. Mengambil adalah suatu tingkah

laku psoitif/perbuatan materill, yang dilakukan dengan gerakan-gerakan yang

disengaja. Pada umumnya menggunakan jari dan tangan kemudian diarahkan pada

suatu benda, menyentuhnya, memegang, dan mengangkatnya lalu membawa dan

memindahkannya ke tempat lain atau dalam kekuasaannya. Unsur pokok dari

perbuatan mengambil harus ada perbuatan aktif, ditujukan pada benda dan

berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Berdasarkan hal

tersebut, maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan

terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaanya

secara nyata dan mutlak. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan

nyata adalah merupaka syarat untuk selesainya perbuatan mengambil, yang

artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu perbuatan

pencurian yang sempurna. 7

(43)

25

b. Unsur benda

Pada objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van toelichtin

(MvT) mengenai pembentukan Pasal 362 KUHP adalah terbatas pada

benda-benda bergerak (roerend goed). Benda-benda-benda tidak bergerak, baru dapat menjadi

objek pencurian apabila telah terlepas dari benda tetap dan menjadi benda

bergerak. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini

sesuai dengan unsur perbuatan mengambil.

Benda yang bergerak adalah setiap benda yang sifatnya dapat berpindah sendiri

atau dapat dipindahkan (Pasal 509 KUHPerdata). Sedangkan benda yang tidak

bergerak adalah benda-benda yang karena sifatnya tidak dapat berpindah atau

dipindahkan, suatu pengertian lawandari benda bergerak.

c. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain

Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain, cukup sebagian saja,

sedangkan yang sebagian milik pelaku itu sendiri. Contohnya seperti sepeda

motor milik bersama yaitu milik A dan B, yang kemudian A mengambil dari

kekuasaan B lalu menjualnya. Akan tetapi bila semula sepeda motor tersebut telah

berada dalam kekuasaannya kemudian menjualnya, maka bukan pencurian yang

terjadi melainkan penggelapan (Pasal 372 KUHP).

2. Unsur-Unsur Subjektif berupa :

a. Maksud untuk memiliki

Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur, yakni unsur pertama maksud

(44)

26

dalam pencurian, dan kedua unsur memilikinya. Dua unsur itu tidak dapat

dibedakan dan dipisahkan satu sama lain.

Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan

untuk memilikinya, dari gabungan dua unsur itulah yang menunjukan bahwa

dalam tindak pidana pencurian, pengertian memiliki tidak mengisyaratkan

beralihnya hak milik atas barang yang dicuri ke tangan pelaku, dengan alasan.

Pertama tidak dapat mengalihkan hak milik dengan perbuatan yang melanggar

hukum, dan kedua yang menjadi unsur pencurian ini adalah maksudnya (subjektif)

saja. Sebagai suatu unsur subjektif, memiliki adalah untuk memiliki bagi diri

sendiri atau untuk dijadikan barang miliknya. Apabila dihubungkan dengan unsur

maksud, berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri pelaku

sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk

dijadikan sebagai miliknya.

b. Melawan hukum

Menurut Moeljatno, unsur melawan hukum dalam tindak pidana pencurian yaitu

Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditunjukan

pada melawan hukum, artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan

mengambil benda, ia sudah mengetahui dan sudah sadar memiliki benda orang

lain itu adalah bertentangan dengan hukum. Karena alasan inilah maka unsur

melawan hukum dimaksudkan ke dalam unsur melawan hukum subjektif.

Pendapat ini kiranya sesuai dengan keterangan dalam MvT (Memorie van

(45)

27

secara tegas dalam rumusan tindak pidana, berarti kesengajaan itu harus ditujukan

pada semua unsur yang ada dibelakangnya.

E. Pengertian Anak

Anak adalah amanat yang diberikan Tuhan kepada kedua orang tua untuk dijaga,

dididik dan dilindungi. Perlindungan terhadap anak tidak hanya diberikan setelah

ia lahir tapi bayi yang masih di dalam kandunganpun juga wajib dilindungi.Oleh

karena itu, orang tua sebagai orang terdekat dari anak maka wajib melindungi bayi

sampai ia dewasa nanti.

Pengertian anak menurut UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

tercantum dalam Pasal I butir I UU No. 23/2002 berbunyi: “Anak adalah

seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun), termasuk anak yang

masih dalam kandungan”.

Pengertian dan batasan tentang anak sebagaimana dirumuskan dalam pasal I butir

I UU No.23/2002 ini tercakup 2 (dua) isu penting yang menjadi unsur definisi

anak, yakni:8

Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. Dengan demikian, setiap

orang yang telah melewati batas usia 18 tahun, termasuk orang yang secara mental

tidak cakap, dikualifikasi sebagai bukan anak, yakni orang dewasa. Dalam hal ini,

tidak dipersoalkan apakah statusnya sudah kawin atau tidak.Anak yang masih

dalam kandungan. Jadi, UU No.23 Tahun 2002 ini bukan hanya melindungi anak

yang sudah lahir tetapi diperluas, yakni termasuk anak dalam kandungan.

8

(46)

28

Pengertian dan batasan usia anak dalam UU No. 23 Tahun 2002, bukan

dimaksudkan untuk menentukan siapa yang telah dewasa, dan siapa yang masih

anak-anak. Sebaliknya, dengan pendekatan perlindungan, maka setiap orang

(every human being) yang berusia di bawah 18 tahun selaku subyek hukum dari

UU No. 23 Tahun 2002 – mempunyai hak atas perlindungan dari Negara yang

diwujudkan dengan jaminan hukum dalam UU No. 23 Tahun 2002.

(47)

29

III. METODE PENELITIAN

Metode sangat penting untuk menentukan keberhasilan penelitian agar dapat

bermanfaat dan berhasil guna untuk dapat memecahkan masalah yang akan

dibahas berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Metode adalah cara

kerja untuk memahami objek yang menjadi tujuan dan sasaran penelitian.1

Soerjono soekanto mengatakan metodelogi berasal dari kata metode yang artinya

jalan, namun menurut kebiasaan metode dirumuskan dengan beberapa

kemungkinan yaitu suatu tipe penelitian yang digunakan untuk penelitian dan

penilaian, suatu teknik yang umum bagi ilmu pengetahuan, dan cara tertentu untuk

melaksanakan suatu prosedur. Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam

melakukan penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

A. Pendekatan Masalah

Pembahasan terhadap masalah penelitian ini, penulis menggunakan dua macam

pendekatan masalah yaitu pendekatan secara yuridis normatif dan yuridis empiris:

a) Pendekatan yuridis normatif adalah pendekatan masalah yang didasarkan pada

peraturan perundang-undangan, teori-teori, dan konsep-konsep yang

berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti. Pendekatan tersebut

dilakukan dengan cara melihat dan mempelajari kaidah-kaidah, norma-norma,

aturan-aturan, yang erat hubungannya dengan penulisan penelitian ini.

1

(48)

30

b) Pendekatan yuridis empiris adalah adalah dengan mengadakan penelitian

lapangan, yaitu dengan melihat fakta-fakta yang ada dalam praktik dan

mengenai pelaksanaannya. Pendekatan tersebut dilakukan dengan cara

mempelajari kenyataan yang terjadi pada praktek lapangan, dimana pendekatan

ini dilakukan dengan wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang dianggap

mengetahui dan ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas dan

diperoleh atau didapatkan dilokasi penelitian.

B. Sumber dan Jenis Data

Sumber data dalam penulisan skripsi ini diperoleh dari dua sumber, yaitu data

primer dan data sekunder.2

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.secara

langsung dari hasil penelitian lapangan, baik melalui pengamatan dan

wawancara dengan para responden, dalam hal ini adalah pihak-pihak yang

berhubungan langsung dengan asalah penullisan skripsi ini.

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan menelusuri literatur-literatur

maupun peraturan-peraturan dan norma-norma yang berhubungan dengan

masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini. Pada umunya data sekunder

dalam keadaan siap terbuat dan dapat dipergunakan dengan segera.Data

sekunder dalam penulisan skripsi ini terdiri dari:

2

(49)

31

a) Bahan hukum primer, antara lain:

1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo Undang Undang Nomor 73

Tahun 1958 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana (KUHAP).

3) Undang Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

4) Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

5) Undang Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana

Anak

b) Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer seperti, rancangan undang-undang, hasil

penelitian dan pendapat para pakar hukum.

c) Bahan hukum tersier adalah bahan hukum penunjang yang mencakup bahan

memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder,,

seperti kamus, bibliografi, karya-karya ilmiah, bahan seminar, hasil-hasil

penelitian para sarjana berkaitan dengan pokok permasalahan yang akan

(50)

32

C. Penentuan Narasumber

Narasumber adalah seseorang yang memberikan informasi yang diinginkan dan

dapat memberikan tanggapan terhadapinformasi yang diberikan.3 Pada penelitian

ini penentuan Narasumber hanya dibatasi pada:

1. Polisi anggota Ditreskrimum Polresta Bandar Lampung 1 Orang

2. Jaksa di Kejaksaan Negeri Tanjung Karang 1 Orang

3. Hakim di Pengadilan Negeri Bandar Lampung 1 Orang

4. Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung 1 Orang +

4 Orang

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

Penyusunan skripsi ini sesuai dengan jenis dan sumber data sebagaimana

ditentukan diatas mempergunakan dua macam prosedur, dalam rangka

mengumpulkan data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu :

1. Prosedur Pengumpuan Data

a Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data yang bersumber dari

dokumentasi yang berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas, yang

berhubungan dengan informan yang dikehendaki oleh peneliti. Data atau

informasi yang dilakukan untuk memperoleh data sekunder . pengumpulan data

sekunder adalah terlebih menerima sumber pustaka, buku-buku, peraturan

perundang-undangan dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan

3

(51)

33

b Studi Lapangan

Studi lapangan dilakukan dengan cara obserasi dan wawancara untuk

pengumpulan dan memperoleh data primer. Studi lapangan diakukan dengan cara

mengadakan wawancara dengan responden, wawancara dilakukan secara

mendalam dengan sistem jawaban terbuka untuk mendapatkan jawaban yang

utuh.

2. Pengolahan Data

Setelah data terkumpul dengan baik yang diperoleh dari studi kepustakaan dan

studi lapangan kemudian diolah dengan cara sebagai berikut :

a. Editing, yaitu data yang didapatkan dari penelitian diperiksa dan diteiti kembali

untuk mengetahui apakah data yang didapat itu sudah sesuai dengan pokok

bahasan penelitian ini. Sehingga dapat terhindar dari adanya kesalahan data.

b. Interpretasi, menghubungkan data-data yang diperoleh sehingga menghasilkan

suatu uraian yang kemudian dapat ditarik kesimpulan.

c. Sistematisasi, yaitu proses penyusunan dan penenmpatan sesuai dengan pokok

permasalahan secara sistematis sehingga memudahkan analisis data.

E. Analisis Data

Setelah data sudah terkumpul data yang diperoleh dari penelitian selanjutnya

adalah dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yaitu dengan

mendeskripsikan data dan fakta yang dihasikan atau dengan kata lain yaitu dengan

(52)

34

sistematis dan analisis, sehingga akan mempermudah dalam membuat kesimpulan

dari penelitian dilapangan dengan suatu interpretasi, evaluasi dan pengetahuan

umum.Setelah data dianalisis maka kesimpulan terakhir dilakukan dengan metode

induktif yaitu berfikir berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum, kemudian

(53)

51

V. PENUTUP

A. Simpulan

Bentuk upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian yang

dilakukan anak dapat dilakukan dengan beberapa tahap yakni :

1. Tahap formulasi

Tahap formulasi aturan hukum yakni pembuatan undang-undang yang

menetapkan perbuatan pencurian yang dilakukan anak sebagai tindak pidana

artinya bahwa setiap pelaku pencurian harus mendapatkan sanksi hukum. Dalam

kasus pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak, undang-undang

yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan anak yang berhadapan dengan

hukum. Seperti KUHP, UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, UU

Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 69 ayat (1) (2) dan Pasal

71 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

2. Tahap aplikasi

Pemberian pidana yang lebih konkret yaitu oleh badan peradilan yang mengadili.

Adapun badan yang berwenang mengadili kasus tindak pidana pencurian

(54)

52

Kepolisian yang bertugas melakukan penangkapan, penahanan dan penyidikan

seperti yang diatur dalam Pasal 30 UU Nomor 11 Tahun 2012 selanjutnya

diserahkan kepada pihak kejaksaan terhadap pelaku tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak.

Kejaksaan bertugas memberikan tuntutan terhadap perkara anak sebagai pelaku

tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang ditetapkan berdasarkan

Keputusan Jaksa Agung atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Jaksa Agung (sesuai

dengan Pasal 41 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2012) untuk selanjutnya

diserahkan kepada pihak pengadilan.

Pengadilan memutuskan untuk memberikan hukuman yang seadil-adilnya

terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor.

Hakim memeriksa perkara anak dalam sidang yang dinyatakan tertutup untuk

umum kecuali pembacaan putusan seperti tercantum dalam Pasal 54 UU Nomor

11 Tahun 2012 dan kemudian melimpahkannya kepada lembaga pemasyarakatan.

3. Tahap eksekusi

Tahap eksekusi berupa pemberian pidana yang benar benar konkret yaitu oleh

badan eksekusi misalnya lembaga pemasyarakatan. Lapas anak berbeda dengan

lapas orang dewasa, karena anak harus mendapatkan perhatian khusus walaupun

sedang menjalani masa hukuman karena anak masih memiliki masa depan yang

panjang dan membuat anak tersebut jera sehingga tidak melakukan tindak pidana

(55)

53

Upaya penegakan hukum berupa pencegahan tanpa menggunakan hukum pidana

dengan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kejahatan dan

pemidanaan. Model Diversi dan Restorative Justice System merupakan bentuk

alternatif penyelesaian tindak pidana yang diarahkan kepada penyelesaian secara

informal dengan melibatkan semua pihak yang terkait dalam tindak pidana yang

terjadi. Penyelesaian dengan model Diversi dan Restoratif Justice System

merupakan suatu bentuk penyelesaian tindak pidana yang telah berkembang

dibeberapa negara dalam menanggulangi kejahatan.

Faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pencurian

kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak yakni :

1. Faktor Hukumnya Sendiri (Perundang-undangan)

Tindak pidana pencurian kendaraan bermotor sudah diatur dalam Pasal 362 dan

363 KUHP dan Pasal 24 ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan

Anak. UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 69 ayat (1)

(2) dan Pasal 71 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana

Anak yang masih memiliki banyak kelemahan. Kejahatan yang dilakukan oleh

anak sudah sama dengan yang dilakukan oleh orang dewasa, sementara dalam

Pasal 3 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak bahwa

anak jangan di tangkap, ditahan atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan

dalam waktu yang paling singkat. Sehingga menjadikan faktor penghambat upaya

penegakan hukum terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian

(56)

54

2. Faktor Budaya

Sebagai hasil karya, cipta, rasa didasarkan pada karsa manusia (anak) di dalam

pergaulan hidup. Variasi kebudayaan yang banyak dapat menimbulkan

persepsi-persepsi tertentu terhadap penegakan hukum. Variasi-variasi kebudayaan sangat

sulit untuk diseragamkan oleh karena itu penegakan hukum harus disesuaikan

dengan kondisi setempat. Contohnya anak yang melakukan tindak pidana

terkadang mengikuti lingkungan keluarga dan budaya daerahnya setempat.

3. Faktor Sarana Dan Prasarana

Masih kurangnya perangkat hukum yang dapat membantu anak menyelesaikan

perkaranya, tidak adanya penasehat hukum, selain itu masih sedikit sekali jumlah

Lembaga Bantuan Hukum yang dapat membantu anak untuk di bina agar tidak

berkonflik dan berhadapan dengan hukum.

4. Faktor Penegak Hukum

Kualitas para aparat penegak hukum yaitu polisi, jaksa, penyidik atau penuntut

umum dan hakim yang susah dalam menyelesaikan perkara pencurian kendaraan

bermotor yang dilakukan oleh anak seperti susahnya mengumpulkan barang bukti,

Jaksa menuntut pelaku, dan hakim sulit menentukan putusan. Di sisi lain jumlah

aparat penegak hukum yang menangani kasus anak masih sedikit.

5. Faktor Masyarakat

Masyarakat yang kurang aktif terhadap penegakan hukum seperti masih takut

(57)

55

masyarakat. Sehingga sangat menghambat proses upaya penegakan hukum

terhadap pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh

anak.

B. Saran

1. Dengan adanya upaya penegakan hukum terhadap anak yang melakukan tindak

pidana, dapat diberikan penanganan yang baik dan seadil-adilnya karena anak

masih memiliki masa depan yang panjang sehingga anak menjadi jera untuk

melakukan suatu tindak pidana.

2. Faktor penghambat upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana

pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh anak meruapakan tugas

bersama untuk menjadikan anak tidak melakukan tindak pidana hingga

berkonflik dengan hukum dan seharusnya berbagai faktor penghambat tersebut

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...