• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Suplementasi PMSG dan hCG pada Proses Fertilisasi In-Vitro dan Kultur Klon Embrio Sapi dengan IGF-I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Suplementasi PMSG dan hCG pada Proses Fertilisasi In-Vitro dan Kultur Klon Embrio Sapi dengan IGF-I"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENGARUII SUPLEMENTASI PMSG DAN hCG PADA PROSES FERTlLlSASI IN MTRO DAN KULTUR

KLON EMBRIO SAP1 DENGAN IGF-I

Oleh

Machammad Sasmito Djati 92536/BIO

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

THE EFFECT OF SUPLEMENTATION O F PMSG AND hCG ON IN VITRO FERTILIZATION AND IGF-I ON CLONE BOVINE EMBRYO CULTURE

Mochamrnad Sasmito Djati

(Under supervision of H-Yuhara Sukra. EI-Soewondo Djojosoebagjo, Syahrun Hamdani Nasution,Bambang Purwantara,H.Ahmad Ansori Mattjik)

ABSTRACT

The objectives of this study were to examine the combination effect of PMSG,

hCG and FCS on maturation of bovine oocyte, fertilization. and in vitro embryo

development and suplementation o f IGF-I in cloned demi-embryo culture medium.

Oocytes were aspirated and selected according to the quallt? of oocytes. The basic

medium used for oocytes in vitro maturation (IVM) and embryo development (IVD) was

TCM 199. This medium was suplemented by either 10 % FCS. 10 IU PMSG, 10 IU hCG or

their combination. The maturation period was 22 to 24 hours. Incubation was done at 39°C

and 5 O h C 0 2 in humidified air. Matured oocytes were evaluated base on cumulus expansion and nuclear transformation. Capacitation, acrosomc reaction and viability of sperm were evaluated by sperm CTC staining method and tert~lization rate were evaluated

by aceto orcein method. IVD was suplemented by the combination of 10% FCS, 3 IU

PMSG and 3

ILT

hCG. Bovine embryo were microsurgically bisected and resulting in zona

free clone demi-embroys.

The results of these experiments indicate that the suplcmentation of 10 % FCS, I0

IU PMSG, and 10 IU hCG showed the highest maturation raic.96.8 % of cumulus enclosed

were fully expanded and 88,l % reached metaphase 11. Modified BO heparin-caffeine

with 37 mM concentration of NaHC03 had an effect on sperm penetrabilty (p<0,01).

However, capacitation and acrosome reacted sperm pattern were not affected by the

presence of cumulus cell (p>0,05). When cumulus enclosed oocytes were fertilized and incubated, high proportion of oocytes were penetrated by spermatozoa (91%) and there

was low proportion of polyspemic evidence (26,4%), in contrast denuded oocytes showed

high proportion of polyspemic evidence (44,4 %). It was found that spermatozoa has the

ability to penetrate oocytes within 2 hours of incubation. Furthermore, it was also found

that 8 hours of incubation that support penetration rate of 90,3 % yields cleaving rate of

90,O % after removing in IVD.The result indicates that TCM 199 suplemented by 10 % of

FCS, 3 IU PMSG and 3 IU hCG under cumulus cells coculture system can support the

development of embryo reach blastocysts stage (3 1,3 %). This showed the highest viability

as compare to other combination. The best way to produce a pair of clone demi-embryos

was microsurgically at blastocysts developmental stage of embryo and cultured in TCM 199 suplemented by IGF-I and FCS or FCS suplemented only.

It was concluded that suplementation of FCS, PMSG and hCG in IVM Supported

oocytes maturation rate. Modified BO medium and 8 hours of incubation resulted in

spermatozoa penetrated to oocyte perfectly and supported embryo development. It was also

concluded thzt nmicrosurgically bisected embryos produced 168,s '36 cloned embryos higher

(4)

MOCEAMMAD SASMITO DJATL 1998 .Pengar& Suplementasi PMSG dan hCG Pada

Proses Fertilisasi In Vitro hCG Dan Kultur klon Embrio Sapi Dengan IGF-I. Dibawah

bimbingan El-YUHARA SUKRA sebagai ketua. H. SOEWONDO D.SOJOSOEBAGJ0

(almarhum), SYAHRUN HAMDANI

NASUTION,

BAMBANG PURWANTARA, dan

H. A. ANSHORI MATIrJIK sebagai anggota.

Sapi merupkan salah satu jenis ternak yang telah memberikan kontribusi besar

guna memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia Peran sapi semakin

penting, karena meskipun masih dalam keadaan laisis ekonomi kebutuhan daging maupun

susu diperkirakan masih cukup tinggi. Kebutuhan

akan

sapi tersebut kurang diimbangi

produktifitas sapi-sapi Indonesia, sehingga Indonesia mengimpor sapi baik berupa bakdan,

bibit sapi perah maupun susu. Kondisi sernacam ini

harus

segera diatasi, agar kondisi tidak

menjadi lebih buruk.

Salah satu dtematif untuk mengatasinya adalah memanfatkan teknologi rekayasa

biologi. Menurut Sukra (1986) salah satu bagim dari rekayasa biologi adalah teknologt

manipulasi embrio. Teknologi manipuiasi embrio yang paling s e d e r b adalah pembuatan

klon embrio, yaitu teknik kloning sederhana untuk membuat embrio kembar identik.

Pernanfaatan teknologi ini dapat meningkatkan stok embrio dengan kualitas k e u n d a n

sama dengan tetua. Peningkatan embrio bibit unggul diharapkan dapat meningkatkan pasokan embrio kepusat-pusat embrio transfer, sehingga dalam jangka panjang produksi

daging dan susu dapat meningkat secara esensial. Disamping itu telmologi ini juga &pat

dimanfaatkan pada teknologi sexing, yaitu dengan memadaatkan sebagian sel-sel embrio

untuk d i d i s i s dengan kariotiping atau PCR, sedangkan bagian yang lain dibekukan dan

ditransfer sesuai dengan jenis kelamin yang dikehendaki (Hochman dkk., 19%). Aplikasi

penentuan jenis kelarnin ini mem* perencaman pembanguam berdasarkan struktur

populasi ternak.

Teknologi manipulasi embrio membutuhkan embrio berkualitas baik, sehingga

diperlukan teknik-teknik fertilisasi in vitro yang &pat menghasilkan embrio-embrio siap di

rnani~ulasi. Meski~un hasil peneiitian fertilisasi in vitro pada hewan percobaan maupun

sapi kenunjukkan-perkernbanw yang cw berarti, t A p i penera- a pada teGak-

ternak sam modukt~f keberhasxlannva relahfmasib belum memuaskan. Zendala a~likasi

fertilisasi' i; vitro adalah pem& oosit (Kanagawa

dkk.,

1989; Tervit, -1991;

Pinyopwnintr dan Bavster, 1991) dan kttpasitasi sperma reaksi

-om

( Fraser

dkk.,

1995; Niwa dkk., 1992; Wang dkk., 1992) serta fenomena sel blok pada kdtur

pertumbuhan embrio (Sparks

dkk.,

1992; McGinnins dan Youngs,1992)

.

Sedangkan pada

kuitur Mon embrio masalah utama adalah adanya cekamm dan pemrdihan kondisi sel-sel

blastomer ataupun inner cell mass yang

rusak

akibat adanya penyayatan emtnio (William

dkk., 1985; Baker dm Shea, 1985; Takeda dlck.,1985; Gray dkk., 1991; Kippax dkk., 1991).

Berdasarkan

hal

tersebut diatas. maka perlu upaya penelitian guna perbailcan sistem

kultur pada fertilisasi in v~h.0. Upaya tersebut diantaranya meWui proses pernatangan oosit,

(5)

penelitian ini dicobakan pendayagunaan PMSG dan hCG sebagai gonadotropin yang lebih

murah untuk pematangan oosit dan pertumbuhan embrio.Modifikasi BO sebagai medium

FIV serta peranan sel-sel kumulus pada

saat

FIV.Disamping itu perlu metode kultur klon

embrio dengan berbagai modifikasinya dan pemanfaatan IGF-I dan FCS pada medium

Lultur, sehingga akan dihasilkan klon embrio siap alih.

Penelitian dilakukan selama 27 bulan dari bulan Februari 1996 sampai dengan

April 1998 dilaksanakan di

Animal Reproduction Luboratoty, Division ofAnimal

S - '

c~ence

und 7'eclmology. Fucul/y of Agrrculrure.

Okayama

UniversiN

Japan

dan

dilanjutkan di

Laboratorium Sentral Biologi Molekuler dan Seluler Universitas Brawijaya Malang.

Oosit yang digunakan dalam penelitian ini berasal

dari:

Japanese Black, Japanese

Hntwn,

F H

yang berasal dari Rumah Potong Hewan di Okayama. Semen beku adalah

semen

./upnese Bluck

yang diperoleh dari Okayama

Animal Husbandry Research Station.

Disamping itu digunakan pula oosit yang berasal dari PFH dari

Rumah

Potong Hewan

Malang dan Semen Beku FH yang diperoleh dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari.

Malang. Peralatan inkubasi digunakan inkubator

C02

5 persen dengan kelembaban

maksimum (sekitar 95 persen). Pewarnaan oosit untuk pengamatan transfomasi inti

clan

angka penetrasi menggunakan asetoorcein, pengamatan dilakukan dengan menggunakan

mikroskop inversi sedangkan pewarnaan sperma dengan menggunakan pewarnaan CTC

pengamatan digunakan mikrokop fluoresensi Medium koleksi ovarium adalah NaCl

fisiologis dengan penambahan penicilin 100 IU/ml dan streptomisin 100 lU/ml. Medium

dasar yang digunakan dalam pematangan oosit dan pertumbuhan embrio serta kultur

embrio adalah TCM 199, sedangkan untuk fertilisasi adalah medium BO kafein-heparin

(Niwa, 1991). Suplemantasi medium adalah PMSG dan hCG pada medium pematangan

oosit masing-masing 10 IUIml, pada medium pertumbuhan embrio

3

N/ml, pada kultur

klon embrio dengan IGF-I rekombinan IOngIml dan FCS.

Ovarium dibawa dari RPH ke laboratorium dengan menggunakan medium koleksi

ovarium &lam suhu 25-35°C &lam waktu 2-3 jam. Oosit diaspirasi dengan menggunakan

jarum dan di cuci serta diseleksi dengan menggunakan medium Pematangan sesuai dengan

perlakuan, dikultur dengan menggunakan medium &lam bentuk tetesan (drop) yang

ditutup dengan parafin oil dan diinkubasikan selama 24

jam.

Evaluasi pematangan oosit

dilakukan dengan pengamatan ekspansi sel-sel kumulus dan transformasi inti setelah oosit

diwarnai dengan metode asetoorcein (Niwa dkk., 1991).

Semen beku setelah dithawing dan disentrifugasi, diinseminasikan kedalam tetesan

BO-heparin-kafein yang berisi oosit, kemudian diinkubasikan selama 8 jam atau sesuai

dengan perlakuan. Angka penetrasi dapat Qamati dengan metode pewarnaan aseto-orcein

seperti yang dilakukan oleh Niwa (1992). Sedangkan kapasitasi

dan

reaksi akrosom diamati

dengan menggunakan metode pewarnaan spema CTC seperti yang dikembangkan oleh

Fraser dkk.(1995).

(6)

W i p u l a s i embrio digunakan metode manipulasi tanpa menggunakan pipet holder,

penyayatan embrio dilakukan dengan membuat torehan salib sumbu pada bagian

dasar

cawan petri sebagai tempat kedudukan embrio, penyayatan dilakukan ditempat kedudukan

tersebut dengan menggunakan microblade sehingga embrio morula dan blastosis menjadi

dua bagian yang sama besar. Setelah dikultur selama 24 jam klon embrio dievaluasi dan

dimasukan dalam katagori I (istimewa),

II

(cukup), dan III(degenerasi). Medium kultur

yang digunakan dalam kultur embrio adalah TCM 199, FCS 10 persen dan (1GF)-I 10 ng/ml.

Data dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap seperti yang

dikernukakan oleh Steel dan Torrie (1987) yaitu untuk menganalisis angka pematangan

oosit

dan angka-an&

fertilisasi. Sedangkan untuk menganalisis percobaan pertumbuhan

embrio dan klon embrio digmidcan analisis profil seperti yang dilakukan oleh Momson

(1976).

Hssil percobaan seleksi oosit dengan mengklasifikasikan oosit menjadi A, B, C, dan

D menunjukkan bahwa oosit yang dapat digunakan claim percobaan ini adalah oosit &lam

Mas A dan B saja, oosit tersebut bila dikultur selama 24 jam, 90,2 persen

dan

90,3 persen

mencapai metafase 2. Sedangkan apabila oosit A dan B dikultur bangsa maupun kondisi

Iingkungan tidak memberikan pengaruh yang nyata (*0,05) terhadap pematangan oosit.

Suplementasi PMSG dan hCG pada medium pematangan memberikan pengaruh

yang nyata terhadap ekspansi kumulus (p-=0,05) yaitu 96,7 persen dari sel-sel kurnulus akan

terekspansi secara sempurna. Menurut Lu dkk. (1987) ekspansi sef-sel kumulus ini akibat

dari -&atan CAMP intraseluler untuk mengaktiflcan resumsi meiosis. Demikian pula

pada proses transformasi inti oosit, kombinasi PMSG dan hCG dengan konsentrasi masing-masing 10 IUIml merupakan kombinasi terbaik dibandingkan penarnbban PMSG

atau hCG saja, yaitu transformasi inti oosit mencapai tithap metafase 2 dengan medium

tersebut sebesar 88,I pers.cn. Proses pematangan oosit mempakan proses meiosis ysurg

diawali dengan segregasi kromosom (kondensasi DNA) pada spindel meiosis yang bersifat

haploid dari perkursor garnet yang bersifat diploid (Whitaker, 1996). Masalah yang sering

dihadapi &lam kultur pematangan oosit adalah adanya faktor pengharnbat meiosis yaitu

OM1 (Oocyte mumration inhibitor), OM1 merupakan polipeptida yang b e r m &lam

menghambat transformasi inti oosit secara in vivo (Ookata dkk;1992), tetapi sel-sel kumullts

aasih mensekresi OM' pada saat in vih.0 disekresi sel-sel kumulus (Tsafriri clkk., 1975;

Sat0 dan Ishibashi, 1990). Menurut Tsafiiri (1988) untuk mengumngi peran O M secara in

vitro perlu ada penambabn FSH

pada

medium kultur. Sedangkan menurut pen&pat

Talamantes dan Ogren (1988) peran FSH dapat digantikan oleh PMSG karena 90 persen

PMSG clan FSH bersifat homolog, perbedam Mya 14 peptida asatn amino yang terpasang

pada a-FSH, sedangkan f3-hCG 80 persen homolog dengan PLH.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi NaHC03 dalam medium 30

ideal -prig diperlukan untuk menunjang proses firtilisasi adalah 37rnM, kondisi ideal ini

dapat diindikasikan dengan penurunan viabiIitas spermatozoa yang diinkuSasikan selama 8

jam yaitu llfituk 37 mM mengalami penurunan sebesar 1 2 persen, penunman viabilitas ini

merupakan penunman ter kecil bila dibandingkan dengan konsentrasi NaHC03 sebesar 2 1

mM

dan

45mM secara berhuut-turut 28,9 persen dan 172 persen, men- Hyne (1984)
(7)

larutan penyangga. dengan adanya komponen penyangga ini proses fisiologis sel dapat

berlangsung secara normal, sehingga memungkinkan terjadi influx ca2+ k e d a h

spermatozoa (Lee dan Storey, 1986), reaksi akrosorn dan hiperaktifasi (Neil1 dan Olds-

Clarke, 1987). Hasil penelitian ini juga ditunjang dari percobaan angka penetrasi sperma

terhadap oosit, dimana Larutan 30 dengan konsentrasi NaHCO, 37 rnM terdapat 92.3

persen oosit terpenetrasi, sedangkan untuk 21 mM dan 45 m M secara berturut-turut adalah

72.2 dan 71,1 persen oosit terpenetrasi.

Lama inkubasi sperma--it d a m medium FIV terbaik adalah 8 jam, karena pa&

masa tersebut terjadi proses kapasitasi, reaksi akrosom sperma, pematangan oosit,

penetrasi sperma terhadap oosit dan pembentukan pronukleus jantan dan betina (Niwa dkk.,

1991; Abeydeera, 1994; Clarke dan Matsui, 1986). Dari hasil penelitian rnenunjukkan

bahwa sejak 2 jam di inkubasi sudah terjadi proses penetrasi sperma terhadap oosit

(14,lpersen), meningkat setelah 5 jam dan 8 jam yaitu sebesar 60 persen dan 90,3 persen,

tetapi apabila inkubasi dilanjutkan 1 1 jam dan 14 jam tidak menunjukkan peningkatan

yang nyata yaitu 89,s dan 91,5 persen. Lama inkubasi sperma-oosit dalam medium FIV

juga memberikan efek yang nyata pada kultur embrio pasca fertilisasi ( ~ O , 0 5 ) , embrio

yang berasal dari sistim lama inkubasi 2 jam pertumbuhannya terhenti pada tahap

pertumbuhan 8 sel, sedangkan sistim lama inkubasi sperma-oosit 5, 8, 11 dan 14 jam

mencapai tahap perkembangan blastosis yaitu sebesar 21,7 persen, 36,7 persen, 6,6 persen

dan 8,6 persen. Menurut Kaye (1986) diperkirakan sistim lama inkubasi lebih dan 8 jam

mengakibatkan pertumbuhan ganggum terhadap embrio, karena kebutuhan nuhisional dan

lingkungan yang tidak memenuhi syanrt untuk perkembangan embrio pada medium FIV.

Menurut Niwa dkk. (1991) lama inkubasi sperma- omit selama 8 jam memberikan kesempatan pada spermatozoa melakukan penetrasi terhadap oosit secara sempuma.

Apabila sperma di inkubasi dengan oosit berkumulus penuh, 2/3 dan 1/3 serta tanpa

sel-sel kumulus menunjukkan pola kapasiwi dan reaksi akrosom yang berbeda (+,05),

data ini menunjukkan bahwa sel-sel kumulus mempunyai peranan dalam proses kapasitasi

dan reaksi akrosom (Salustri dkk., 1992). Hal ini disebabkan karena sel-sel kurndus kaya

akan hyaluronidase (Veselsky dkk., 1992). disisi lain sel-sel kumulus mempunyai peran

dalam mengharnbat terjadinya polispermi, dimana oosit tanpa sel kumulus mengalami

kejadian polispermi terbanyak (44,4 persen).

Suplementasi FCS, PMSG

dan

hCG dengan sistim kokultur sel-sel kurnulus

memberikan pengaruh nyata pada pertumbuhan embrio *0,05) dan juga menghasilkan

angka blastosis tertinggi (31,3 persen). DiperkirakaTl sel-sel kumulus mempunyai peran

dalam katabolisme glukosa, menurut Kreshner dkk, (1989) peran sel kurnulus memberikan kontribusi perkembangan embrio melewati sel blok.

Dari hasil diketahui teknik terbaik dalam rnembuat klon embrio adalah

memanipulasi embrio pa& tahap blastosis. Menurut Reichelt d m N~eman (1994) pa&

embrio sitpi manipulasi dilaicukan pada tahap blastosis menghzsilkan jumlah sel ICM

dan

trofoblits lebih banyak di bandingkan dengan morula. Dari hasil penelitian ini juga

diketahui apabila klon embrio di kultur lebih dari 24 jam, beberapa klon embrio mengalami

degenerasi.Hasi1 penelitian lain menunjukkan FCS dan IGF-I memberikan pengaruh nyata

(8)
(9)

PENGARUH SUPLEMENTASI

PMSG

DAN

hCG

PADA

PROSES FERTILISASI

IN

VITRO

D A N KULTUR KLON

EME3RTO

SAP1

DENGAN IGF-I

Oleh

Mocharnmad Sasmito Djati 92536BIO

Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor

pada

Program Studi Biologi

Program Pascasarjana,Institut Pertanian Bogor.

P R O G R A M PASCASARJANA

IN

STITUT

PERTAN IAN

BOGOR

(10)

Judul :PENGARUH SUPLEMENTASI PMSG DAN hCG PADA PROSES FERTILISASI IN WTRO DAN KULTUR KLON EMBRIO SAP1 DENGAN IGF-I

Nama Mahasiswa :Mochammad Sasmito Djati Nomor pokok :92536/BIO

Menyetujui: K OPembimbing ~

-

(Prof.Dr.H.Yuhara Sukra,M.Sc.) Ketua

(Dr.Syahrun Hamdani Nasution) (Dr.Bambang Purwantara,M.Sc.)

Anggota Anggota

@r.Ir.H.A.Ansori Mattjik,M.Sc.) Anggota

Ketua Program Studi Biologi

(11)

RIWAYAT EIDUP

MOCHAMMAD SASMlTO DJATI, lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Maret 196 1, dari

pasangan ayah Drs.KSoedarpo Mas'udhy Mustari dan ibu Rr Soekiniwati Ermi Darmani.

Penulis mengikuti pendidikan sekolah dasar di SDN Jember Kidul 11 tamat 1973,

SMPN IV Surabaya tamat 1976 dan SMAN V I Surabaya tamat 1980. Kemudian penulis

meneruskan pendidikan di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya OJNEBRAW) dan

memperoleh geiar insinyur pada Agustus 1986. Pada 1987 mengikuti pendidikan

pascasarjana S2 di Fakultas Pascasajana Universitas Padjadjaran ( W A D ) memperoleh

gelar Magister Sains pa& tahm 1990. Sejak 1992 penulis melanjutkan studi Program S3

di Program pascasajana IPB, Program Studi Biologi, melalui program sandwich penulis

melakukan penelitian disertasi di Universitas Okayama Jepang pada 1996-1997.

Beberapa pengalaman penulis semasa menjadi mahasiswa S1 di UNIBRAW,

adalah: Wakil Ketua BPM (Badan Perwakilan U i s w a ) 1980-1982 clan Ketua umum

BPM 1982-1984, Ketm umum Unit Akiifitas Perguruan Seni Bela diri Indonesia "Tapak

Suci", Ketua Asrama Mahasiswa 1984-1985. Di Bidang olahraga penulis pemah menjadi

Pesilat Teladan pada porseni rnahasiswa 1981, beberapa kali menjadi juara di dalam

kejuaraan mahasiswa maupun &wasa putra dari berbagai kelas yang be- dan terakhir

menjadi Juanr III nasional kelas 75 kg dewasa pufra pada Kejurnas Perguruan Seni Bela

Diri "Tapak Suci" pa& tahw 1986 di Surabaya.

Karir kerja di rnulai pada 1990, yaitu sejak penulis diangkat menjadi dosen tetap ai

Badan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (BPPM) Universitas Muhammadiyah

Jember. Sejak 1994 penulis kembdi ke almamater diangkat menjadi pegawai negeri di

lingkungan FMIPA jutusan Biologi, UNIBRAW.

Pada tahun 1990 penulis menikah dengan Dra Rustaningsih Mulyono dan kini di

karuniai seorang putri yang diberi nama Nabilah Azzahra Jatiatmaja. Pada saat ini penulis

beserta istri &m seorang tinggal di J1 Rogonoto 150 Singosari

Maim

Telp/Fax

(034 1)450724.

(12)

UCAPAN TERLlMAKASIH

Puji syukur yang sangat dalarn ke hadirat Allah swt, karena hanya dengan l i m m a n

kasih sayangnya penulis dapat menyelesaikan serangkaian m d i yang hams ditempuh unhrk

menyelesaikan program pendidikan S3 di Program Pascasajana lnstitut Pertanian Bogor.

Pada kesemparan ini penulis ingin sampaikan ucapan terirnakasih kepada ketua

komisi pembimbing yaitu Bapak Prof Dr.H. Yuhara Sukra. M.Sc., sebagai ketua komisi

beliau telah mernberikan perhatian yang sangat besar terhadap proses pendidikan 53

penulis, perhatian beliau bukan hanya curahan waktu dan tenaga saja, tetapi juga

memprakarsai penulis untuk mendapatkan beastswa program Sarrdwhich dari

ALEJ

(Associaiion of l~ernafzonal Ed-ion, Japun) dari pemerintah Jepang. tanpa adanya

sarana ini suiit rasanya penulis akan berhasil menjalani proses penelitian ini

.

Disamping

itu ada ha1 yang menarik dari beliau, sebagai seorang guru besar, beliau mempunyai

panclangan dan wawasan yang cukup Iuas, sehingga menurut hemat penulis beliau

mempakan figur yang patut diteladani bagi para dosen dan peneliti mu&.

Selanjutnya penulis ucapkan terimakasih kepada almarhum bapak Prof Dr. H.

Soewndo Djojosoebagdjo meskipun beliau tidak &pat meny&ikan penulis

menyeiesaikan studi tetapi saran maupun perhatian beliau cukup berarti bagi penulis.

Begitu pula penulis ucapkan tezima kasih cian penghargaan yang setinggi-tingginya kepada

bapak

D r

Syahnm Hamdani Nasution, Bapak Dr.Bambang Purwantar% MSG., clan Bapak
(13)

Tidak lupa pula penulis juga ucapkan penghargaan clan terimakasih pada semua staf

Iaboratorium Embriologi

FKH

IPB sepem. Ibu drh. Ita Djuwita. M.Phil., drh. M. Fachrudln

yang telah

banyak

rnembantu penulis pada saat awal penelitian berlangung.

Penulis juga sampaikan ucapan terima kasih dan pengkgaan khusus kepeda Sensei

Prof Dr. Koji Niwa, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Okayama, Dr Iliroaki

Funahashi, Dr Kiyoshi Okuda serta seIuwh teman-teman di laboratorium reproduksi he\\an

Universitas Okayama seperti Kasoke Iga, Ken Sawai, Chikage Nobuoka, Park Kwang

Hook, Choi S u n Ho, Oh Seh Hoon, Song Xue Xiong d m semuanya yang belurn sempat

saya sebutkan namanya, atas segala bantuannya di laboratorium dan di Rumah Pntang

Hewan Okayama, serta keakraban mereka diluar kegiatan penelitian, membuat penulis

banyak belajar dari mereka baik dari segi etos keja, ketelitian kerja dan banyak ha1 lain

yang cukup berarti bagi penutis.

Talc lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak D r Sutiman B.

Sumitro yang telah mernberikan sarana laboratorium pada saat penulis melanjutkan

penelitian di FMPA UNIBRAW, dan beberapa teman sejawat yang membantu proses

penelitian say% sehingga proses penelitian dapai berlangsung dengan baik.

Penghargaan setinggi-tingginya juga penulis sampaikan kepada bapak Ir. Dm. A.

Asri Harahap, Ketua Yayasan pembinaan Masyarakat Islam, atas segala bantuan yang tulus

ikhlas pa& saat penulis medgdaml kesulitan finansial terutama sebelum penulis menerima

&a siswa, bsntuan ini sangat hesar h n y a buat mendorong penulis untuk menyelesaikan

studi program S3, penulis seldu berdoa kehadirat Allah

SWT.

mudah-mudahan arnal
(14)

Selanjutnya penulis mengucapkan terirna kasih kepada Team Manajemen Program

Doktor (TMPD) Ditjen Dikti, dimana penulis sejak 1995 hingga saat ini telah memberikan

beasiswa kepada pcnulis. Demikian pula kepada Rektor lPB, Direktur Program

Pascasarjana dan Ket ua Program Studi Biologi, serta staf pengajar IPB, karyawan, maupun

segenap keluarga bssar IPB .

Tak lupa pula penulis ucapkan banyak terima kasih pada pengurus Lembaga

Swadaya Masyarakat PHP (I'euce Happiness und Prosperity) terutama bapat Robert

J.Wargo, yang telah mernbantu finansial penulis dalarn penyelesaian akhir disertasi ini.

Terakhir dan tcristimewa kepada seluruh sanak keluarga, Ayah dan Bunda yang

selalu rnernbesarkan penulis dengan penuh kasih sayang serta Istri tercinta yang telah

berkorban sedcm~kian besar derni keberhasilan studi penulis, begitu pula sikecil Nabilah

yang lahir tatkala penulis sedang sibuk-sibuknya penelitian, semua pengorbanan mereka

(15)

DAFTAR IS1 ... ABSTRACT ... RINGKASAN ... RIWAYAT HIDUP ... UCAPAN TERIMAKASI t l

... DAFTAR IS1 ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... PENDAHLILIJAN

Latar belakang ... . .

Tujuan penelltlan ... . .

Manfaat penel~t~an ... Hipotesis ...

... TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan gamet. fenilisasi. dan c . l e v r ~ . r r ~ c . ... ... Pertgrnbuhan garnet

Oosit ... ... Spermatozoa

. . .

Fert~llsas~ ... Kapasitasi dan reaksi akrosom ... Proses masuknya spermatozoa k e dalam oosit ...

C.leuvuge ... Terjadinya kernbar identik alamiah ...

Pematangan garnet. fertilisasi. dan pertumbuhan embrio in

... virro

...

Pematangan oosit in vitro (PIV)

Kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa in vitro ...

... Fertilisasi in vitro {FZV,

...

Pertumbuhan embrio in vitro

Bahan-bahan yang diperlukan dalam medium kultur in

vilro ... ...

Karbohidrat

... Asam amino

Faktor penumbuh ... ... Gonadotropin

Lemak ... ... Zat-zat bioaktif lainnya

...

Serum

Mineral dan unsur jarang ...

Halaman 1 . . i i vii ... V l l l

X I xiv

(16)

Pemanfaatan sel-sel kumulus dalam sistim kokultur ...

Embrio kembar buatan (Kloning embrio) ...

MATERI DAN METODE PENELITIAN ...

Tempat percobaan ... Percobaan pendahuluan ...

Percobaan pematangan oosit, fertilisasi, dan perturnbuhan embrio in

virro ...

Percobaan pembuatan klon embrio ...

Pelaksanaan percobaan ... . .

Materi penel~t~an ...

. .

Metodologi penel~t~an ...

Tahap I : Percobaan pematangan oosit ... ...

Persiapan pembuatan medium

...

Klasifikasi ovarium

Koleksi ovarium ... . .

...

Asp~rasi oosit

... Evaluasi pemetangan oosit

...

Tahap II : Percobaan fertilisasi i17 vifro

... Medium fertilisasi . . . in vitro

... Fert111sas1 in vifro

Evaluasi sperma ... ... Evaluasi penetrasi sperma terhadap oosit

...

Tahap 111 : Percobaan pertumbuhan embrio in virro

... Medium pertumbuhan embrio

...

Tahap IV ~Percobaan pembuatan klon embrio

...

Medium manipulasi embrio

... Medium kultur klon embrio

...

Pembuatan klon embrio . . .

.

...

Analisls s a t ~ s t ~ k a

HASIL DAN PEMBAHASAN ... Pematangan oosit in vilro ...

Pengaruh perbedaan kualitas oosit terhadap pematangan in

... virro

Pengaruh perbedaan bangsa sapi terhadap pematangan oosit in vitro ... Pengaruh musim terhadap oosit in vitro ...

Pengaruh suplementasi PMSG dan hCG terhadap ekspansi

...

sel-sel kumulus dan transformasi inti in vifro

Fenilisas~ in vitro

...

Pengaruh NaI-ICQ3 pada medium fertilisasi in vitro

Pengaruh lama -iakubasi sperma-oosit pada medium

(17)

Pengaruh keberadaan sel-sel kumulus pada saat fertilisasi in

vilro.

..

.

.

. . .

.

. .

. . .

. . .

. . .

. . .

.

. . .

. .

.

. . .

. . .

.

. ...

. . .

.

..

Perturnbuhan ernbrio in vilro ...

Pengaruh suplementasi PMSG dan hCG untuk

perturnbuhan dengan sistem kokultur ... .. .

Kultur klon ernbrio ... . . Kultur klon embrio yang berasal dari embrio dengan tahap perkembangan dan kondisi medium yang berbeda ...

KESIMPlIl,AS DAN SARAN

(18)

DAFTAR TABEL

No Teks

1 Pengaruh keberadaan sel-sel kumulus pada oosit pada saat pematangan

oosit terhadap tingkat fertilisasi (hawk,dkk., 1 992).

...

...

.

... .. . ...

. . . . .. . . .. . .

2 Konsumsi oksigen dan konsentrasi CAMP dalam spermatozoa sapi

sesaat sebelum clan sesudah inkubasi dengan kokultur dan tanpa sel-sel

epitel sapi (White,dkk.,l992) ...

.

... . ... .

... . . ....

3 Prosentase pembelahan embrio sapi yang dihasilkan melalui fertilisasi

in vitro dengan kokultur sel-sel ephitel ovidak

(Xu,dkk., 1992). ... ... .

.

.. . . ... . . .... . . ...

.

...

. .

. . ... ...

.

... . ...

4 Pengaruh serum fetus sapi terhadap kejadian penetrasi sperrna pada

oosit in vitro (Widt dkk., 1992) ...

5 Tingkat kebuntingan sapi dara dan induk resipien hasil transfer embrio

paruh dua buah embrio perempatan (Brebbacka, dkk.,1992) ... . ... . Desain perwbaan pematangan oosit ... ...

.

... .

.

Desain percobaan tingkat penetrasi oosit ...

. .

... ... . ... Kondisi viabilitas sperma, sperma terkapasitasi, reaksi akrosom sperma..

Lama inkubasi terhadap angka penetrasi sperma pada oosit ...

Tingkat penetrasi sperma terhadap oosit dengan kondisi sel kumulus berbeda.. .. . . .

.

. . .

. . . .

.

.

. . .

.

. . . .. . .

. . .

.

. . .

. . .

. . .

. ..

. .

. .

.

.

. .

.

.

. . . . Pengaruh suplementasi hormon PMSG dan hCG pada medium PIV terhadap tingkat penetrasi sperma terhadap oosit sapi

... .

... . ...

Kategorisasi pasangan klon embrio yang berasal dari embrio morula maupun blastosis .... . ... ... . ... . . . ... .. . . Jumlah klon embrio kategori I d i M t u r s.d. 96 jam ...

Kategorisasi pasangan klon embrio yang dikultur dengan kondisi medium berbeda selarna 24 jam ...

(19)

DAFTAR GAMBAR

Teks

Diagram proses spermatogenesis ... ...

.

....

llustrasi proses fertilisasi secara lengkap sampai terjadinya singami ...

Diagram proses te qadmya kembar monosigotik .. . ...

Oosit yang telah diaspirasi dan di cuci siap untuk di kultur ...

Teknik penyayatan embrio menjadi dua bagian yang sama besar ...

Pengaruh perbedaan kualitas oosit (A,B,C,dan D) terhadap

transformasi inti oosit yang dikultur secara in vitro selama 24 jam

...

Transfomasi inti oosit pada saat meiosis ...

Kualitas oosit hasil aspirasi dari ovarium sapi yang berbeda bangsa ...

Perbedaan transformasi inti oosit setelah dikultur selama 24 jam

dengan oosit yang berasal dari ovarium yang berbeda bangsa ...

Oosit hasil aspirasi dengan kualifikasi A ... Konsep umum pengaruh keadaan lingkungan terhadap mekanisme reproduksi pada mamalia ... Pengaruh musim terhadap kualitas yang dihasilkan oleh Japanese Black cow

Transfomasi inti oosit yang di aspirasi dari ovarium sapi pada

musim yang berbeda dan setelah di M t u r secara in virro selama 24

jam. . .

. . .

. . .

.

. .

. .

.

. . .

. . .

.

. . . .

. . .

.

. .

.

.

. . .

.

. . . Pengaruh suplementasi hormon PMSG dan hCG pada medium

pernatangan oosit in vitro terhadap tingkat ekspansi sel-sel kumulus..

Pengaruh suplementasi PMSG dan hCG pada medium PIV terhadap transfomasi inti oosit sapi ... Model hipotetik mekanisme transduksi LH modifikasi dari Mattioli ( 1994).

.

..

. . . .

. . . .

. .

. . .

.

. .. . .

. .

, , . , . . .

. . .

. .

. .

. . . .. . .

Kualifikasi ekspansi sel-sel kumulus pada tingkat 2 (sel-sel kumulus

terekspansi secara sempurna) setelah dikultur selama 24 jam ...

Viabilitas sperma yang diinkubasi selama 8 jam dengan konsentrasi

NaHCO, dalam BO yang berbeda ...

.

.

...

(20)

26 Embrio tahap blastosis awal (a) dan blastosis akhirlexpanded (b) 84

pada hari ke 6 kultur dan (c) embrio degenerasi ... .

...

27 Blastosis tetas pada han ke 23 tampak ICM (Inner Cell M a s s ) ... 84

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Komponen-komponen medium 199 ... . ... .. ... ... . . ...

Media Fertilisasi

. . .

... . .. ... . .

. ...

. ...

. .

... . . ... Bahan-bahan kimia untuk pembuatan medium . . ...

Peralatan penel~t~an..

.

. . .

. . .

.

.

. . .

.

.

. . .

. . .

. . .

. . .

.

.

. . .

Pengaruh perbedaan kualitas oosit (A,B,C,D) terhadap transformasi inti oosit yang dikultur secara in vitro selama 24 jam ...

Kualitas oosit hasil aspirasi dari ovarium yang berasal dari sapi-sapi berbeda bangsa.. . .

.

.... . . .. .

. .... . .

. . . .... ..

.

... ....

. .

.. . . .. . ... ....

...

.... . .. . ... .. . . ... Perbedaan bangsa sapi terhadap transformasi inti oosit yang dikultur selama 24 jam ...

Pengaruh musim terhadap kualitas oosit pa& oosit Japanese Black. ..

. .

Pengaruh musim terhadap transformasi inti oosit Japanese Black ...

. . ..

. Pengaruh suplernentasi PMSG dan hCG pada medium pematangan oosit m vitro terhadap ekspansi sel-sel kumulus ...

Pengamh suplementasi hormon PMSG dan hCG pada medium PIV terhadap tingkat pematangan oosit sapi ...

Lama inkubasi terhadap angka penetrasi sperma pada oosit ...

.

...

Pengaruh lama inkubasi terhadap pertumbuhan embrio pasca FIV ...

Angka penetrasi sperma terhadap oosit dengan kondisi BO medium yang konsentrasi NaHC03 berbeda ... . .. ...

.

... . . ... . , . . ..

Angka penetrasi sperma terhadap oosit dengan kondisi se; kumulus berbeda..

.

.

. .

. . .

. . .

. . .

. .

. . .

.

. . .

.

. .

. . .

.

. .

. . .

.

.

.

. .

.

Pengaruh supleinentasi hormon PMSG dan hCG pada medium PIV terhadap angka penetrasi sperma terhadap oosit sapi ... Pengaruh suplementasi PMSG dan hCG pada medium pertumbuhan

embrio sapi .. ...

(22)

PENDAaULUAN Latar belabng

Sapi merupakan salah satu jenis temak yang tetah memberikan kontibusi besar

dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Diperkirakan

kebutuhan daging maupun susu

di

masa yang akan &tang semakin meningkat sebagai

akibat turnbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi protein hewani.

Disisi lain, perkembangan kuantitas maupun kualitas petemakan sapi rakyat yang

merupaksn pemasok terbesar kebutuhan daging maupun susu masyarakat, berlangsung

sangat lambat. Sebagai akibatnya, sejak tahun 1986 Indonesia mulai mengimpor daging

maupun sapi potong guna meningkatkan pasokart daging masyarakat (BPS, 1987).

Kondisi semacam ini bila di biarkan, akan semakin memperparah keadaan. Hal ini

memperbesar peningkatan impor sapi, dagng dan susu dari negara fain yang berakibat

pemborosan devisa negara. Gejala ini menjadi lebih buruk pa& saat Indonesia

mengalami krisis ekonomi. Pada sektor pertanian subsektor peternakan mengalami

pukulan terberat dibanding subsektor lainnya. Untuk itu diperlukan upaya strategis

pembangunan peternakan yang terencana dan terarah khususnya di bidang pengadaan

bibit.

Salah satu alternatrf untuk mengatasi kondisi tersebut adalah pemanfaatan

teknologi reproduksi berupa transfer embrio. Dengan teknologi ini diharapkan embrio-

embrio bibit unggul dapat didistribusikan kedaerah-daerah pusat pembibitan dan

produksi daging serta susu untuk perbaikan mutu genetik dan produktifitasnya.

Penerapan pengembangan transfer embrio sering te rjadi berbagai kendala

(23)

upaya untuk meningkatkan jurnlah embrio dapat dilakukan dengan memanfaatkan

teknologi embrio Honing sederhana

guna

memproduksi kernbar identik. Teknologi

manipulasi embrio ini merupakan teknologi yang dilakukan dengan cara pemisahan

blastomer (splitting) embrio menjadi dua bagian. Teknik ini akan menghasilkan klon

embrio yang mempunyai genotip sama dengan tetua. Diharapkan dengan metode

semacam ini dapat meningkatkan jurnlah embrio dengan tidak mengurangi kualitas.

Menurut King dkk.(1992) klon embrio ini juga dapat dibekukan Dengan teknologi

pembekuan, klon embrio dapat disimpan dan dikirirnkan tanpa hambatan waktu dan

j d a h . Oleh karena itu teknologi manipulasi embrio merupakan bagian integral dari

rekayasa biologi yang diolah berdasarkan pendekatan padat i h u clan teknologi, serta

mencerminkan unsur prod* proses dan pelayanan (Sukra, 1986). TeknoIogi ini juga

dapat dirnanfaatkan untuk embryo sexing. Bagian dari sel-sel embrio hasil manipulasi

&pat dirnanfaatkan untuk dianalisis jenis kelaminnya dengan menggunakan teknik

kariotiping atau PCR (Hochrnan dkk-, 1996).

Teknologi manipdasi embrio membutuhkan ernbrio berkualitas baik, sehingga

diperlukan teknik fertilisasi in vitro yang dapat menghasilkan embrio-embrio siap di

manipulasi. Meskipun hasil penelitian fertilisasi in vitro pa& hewan percobaan maupun

pada sapi menunjukkan perkembangan yang cukup berarti, tetapi penerapannya pada

ternak-temak sapi procluktif keberhasilannya relatif masih belum memuaskan. Kendala

aplikasi fertilisasi in vitro adalah pematangan oosit clan kapasitasi sperma (Kanagawa

dkk. 1989; Tervit, 1991 ; Pinyopumintr clan Bavister, 1991).

Rangkaian proses fertilisasi in vitro (FIV) diawali dengan Penentuan kualitas

(24)

tingkat pembelahan meiosis, yaitu suatu proses pembelahan seI-sel gamet dari yang bersifat diploid menjadi haploid (Whitaker, 1996). Proses ini merupakan rangkaian

peristiwa yang berawal dari tahap pembelahan profase, metafase I, anafase I, telofase I,

sampai metafase fl.Tahap ini merupakan tahap a i r terjadinya ovulasi secara alamiah

pa& sapi indikator pematangan oosit (Campbell dkk., 1996; Chian dkk., 1992; Sirard dan Coenon, 1995). Pada omit. secara mikroskopis proses miosis ini dapat diamati

melaiui transformasi inti oosit, yaitu berupa tahap germinal vesicle (GV), germinal

vesicle break down (GVBD), prometafase (PM), metafase I, sampai dengan metafase I1

(Abeydeera dan Niwa, 1992; Yoshida, 1992).

Salah satu kondisi yang sangat penting pa& tahap pematangan oosit adalah

kondisi fisioiogis pematangan oosit sampai terjadinya proses ovulasi. Dari beberapa

penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hormon penting yang sangat berperan

&lam proses pematangan oosit yaitu FSH, LH. Estradiol (Gerrity, 1992; Kakenkintepe

dkk., 1994; Pawshe dkk., 1996). Hormon-hormon ini bekeja sama diantaranya dengan

faktor penumbuh insulin like growth factor-1 IGF-I (Yallampalli dkk.,1992), IGF-I ini

b e h g s i merangsang sel-sel granulosa untuk mensekresi hormon FSH dan LH

(Lavranos dkk.,1996). Fungsi dan peran hormon-hormon gonadotropin secara teoritis

&pat digantikan oleh honnon-hormon sejenis lainnya seperti PMSG (pregnant mare

serum gonadotropin) dm hCG (human chorionlc gonudofropin). Menurut Solomon

(1988) kedua hormon ini mempunyai bioaktifitas m ~ n p FSH dan LH, sehingga dengan

suplementasi PMSG dan hCG pa& medium kultur akan mempengamhi proses

(25)

Sel-sel kumulus adalah sel-sel granulosa yang menempel pada oosit dan

dindingnya berhngsi sebagai agen "komunikasi" antara sel dan penghubung mekanisme

hormonal dari menuju oosit, karena pa& sel-sel kumulus terdapat banyak reseptor FSH

dan LH yang juga dapat berfungsi sebagai reseptor PMSG dan hCG (Moore dan Ward,

1980; Licht dkk., 1979; Gillou dan Combamus, 1983; Stewart dan Allen, 1981; Haresign

dkk.,1994). Disamping itu berperan juga dalarn pemasokan nutrisi terhadap oosit. Sel-sel

kumdus akan mengalami ekspansi (mengembang) apabila terstimulasi akibat adanya

peningkatan aktifitas peran hormon gonadotropin d m metabolisme seluler tersebut

(DeHaan, 1 994; Konishi dkk., 1996; Wandji dkk.. 1996). Sel-sel kumulus berperan sangat

penting dalam proses pematangan oosit dan dengan pengamatan tingkat ekspansinya

dapat dievaluasi tingkat kematangannya. Peranan lain yang sangat penting dari sel-sel

kumulus pada saat fertilisasi in vifro adalah peranan sel-sel tersebut dalarn reaksi

akrosom spermatozoa fBavister,l982). Peran ini dikarenakan set-sel kumdus banyak

mengandung asam hyaluronat (Talbot dan DiCarlantonio, 1984), sehingga sel-sel

kumulus tidak perlu dlepaskan dari oosit pa& saat fertilisasi in vifro.

Sel-sel kurnulus dapat pula mensekresikan hormon-hormon progresteron,

estradiol, clan prostaglandin dengan kadar yang relatif cukup tinggi dan dapat berperan

dalam proses suplai nutrisi yang dibutuhkan oleh embrio (Canipari. 1994; Liu dkk.,1987;

Mattioli, 1994, Ny dkk.,1987). Dari pendapat ini sel-sel kumulus ini masih dapat

dimanfaatkan untuk kultur embno. Pada saat setelah fertilisasi banyak terdapat sel-sel

kumulus yang rusak dan hancur, sehingga diperlukan penambahan hormon-hormon

(26)

PMSG dan K G , PMSG secara in vitro &pat mengoptimalisasikan stimulasi sel-sel

kumulus tersisa untuk mensekresikan progresteron.

Fertilisasi adalah merupakan rangkaian proses yang dimulai

ckri

adanya peristiwa

penetrasi spermatozoa ke dalam oosit sampai te jadinya proses singami dari pronukleus

jantan dan betina (Yanagimachi. 1988; Kanagawa

dkk,

1989). Peristiwa ini dapat

dilakukan secara buatan melalui teknologi fertilisasi jn vifro. Hambatan utama d a l m

aplikasi teknologi fertilisasi in vitro ( F N ) adalah adanya perbedaan men&sar kondisi in vzvo

dan

in vitro. Hambatan dalarn fertilisasi in vitro dapat diatasi dengan menggunakan medium fertilisasi yang sesuai dan mendekati kondisi in vivo. Salah satu medium dasar FIV yang digunakan adalah medium BO (Brackett dan Oliphant. 1975). Medium BO

pa& dasarnya pengembangan dari medium yang digunakm untuk FIV pada kelinci dan

hewan percobaan laimya, sehingga perlu adanya modifikasi. Modifikasi BO tersebut

dilakukan dalam bentuk konsentrasi bahan kimia tertentu yang berbeda dengan medium

BO sebagairnana dilakukan pada FIV kelinci.

Senyawa penting yang berperanan dalam proses kapasitasi adalah sodium

bikarbonat (NaHC03, (Salustri dkk.,1992). Senyawa ini berperan sebagai penyangga

dalam medium FIV (Thompson,l996), dengan adanya senyawa penyangga &lam

medium FIV virtbiltas sperma akan tetap tejaga, sehingga proses kapasitasi, reaksi

akrosom,

dan

motilitas sperma selama di dalam media kultur akan tetap te jaga. Dengan

penambahan senyawa NaHC03 dengan konsentrasi tertentu dan dikuitur dalam waktu

tertentu, diharapkan spermatozoa akan mampu melakukan penetrasi terhadap oosit.

Dengan demikian suplementasi medium fertilisasi in virro (BO) dengan kafein dan

(27)

Pada kultur klon embrio masalah utama yang dihadapi adalah cekarnan

dan

pemulihan kondisi sel-sel blastomer ataupun

inner cell

mass

yang

rusak

akibat adanya

penyayatan embrio (Williams

dkk.,

1985; Baker

dan

Shea, 1985; ~ a k e d a

dkk.,

1985;

Gray

dkk.,

1991;

Kippax

dkk

1991). Untuk mengatasi kendala tersebut, medium

manipulasi

di

tambah dengan senyawa penyangga HEPES

yang

dapat berpentnan

untuk

mengatasi cekaman mekanis akibat manipulasi embrio. Pemulihan kondisi embrio akibat

manipulasi memerlukan penambahan bioaktif tertentu yang dapat mempercepat proses

pemulihan kembali klon embrio tersebut. Salah satu alternatifnya

adalah

penambahan

*

faktor penumbuh IGF-I.

IGF-I

ini merupakan faktor penumbuh yang berfungsi

untuk

menstimulir pembelahan mitosis, proliferasi, differensiasi, dan morfogenesis set-sel

embrio (Armstrong dan Xia, 1993;Heyner dkk.,l993;Simmen

dkk.,

1993). Penambahan

IGF-I

klon embrio dapat mempercepat rekonstmksi

inner cell

mass

dan blastomer

sehingga berkembang menjadi embrio barn.

Berdasarkan ha1 tersebut diatas, maka perlu dilakukan upaya penelitian guna

perbaikan sistem kultur

pada

fertilisasi

in

virro.

Upaya tersebut diantaranya melalui

proses pematangan oosit, kapasitasi dan reaksi akrosam sperma,

serta

pertumbuhan

embrio maupun klon embrio. Dalam penelitian ini di cobakan pendayagunaan PMSG

dan hCG sebagai gonadotropin yang lebih murah untuk pematangan oosit dan

pertumbuhan embrio. Moditikasi BO sebagai memum FIV serta peranan sel-sel kumulus

pada saat FIV. Disamping itu perlu adanya metode kultur klon embrio dengan berbagai

modifikasinya dan pemanfaatan IGF-I clan FCS pada medium kultur, sehingga akan

(28)

Penerapan teknik fertilisasi

in vitro

dihadapkan

pada

adanya kesenjangan

kondisi lingkungan antara in

vitro

dan

in vivo,

serta adanya cekaman oosit terlepas dari

folikel secara

tidak

alamiah. Kondisi lingkungan tersebut berupa kondisi lingkungan

fisiologis serta kebutuhan nutrisi, hormon maupun faktor biokimiawi lainnya

mtuk

pematangan oosit, kapasitasi dan akrosom reaksi sperma, mailpun tumbuh kembang

embrio. Sedangkan

pada

teknologi manipulasi embrio disebabkan karena

adanya

cekaman

pa&

saat embrio

di

manipulasi berupa kerusakan blastomer, matriks pengikat

antar blastomer, inner cell

mass

(ICM),

maupun trofoblas.

Dari

pemikiran-pemikiran

.

tersebut

&pat

diidentifikasikan pennasalahan utama

dari

p e l i t i a n ini yaitu

bagaimanakah tingkat keberhasilan pembuatan

medium

kultur terhadap proses aplikasi

teknologi pematangan oosit, fertilisasi, kultur embrio dengan memanfaatkan FCS,

PMSG

dan hCG sebagai suplemen pada

TCM

199 dan suplementasi

pada

kultur klon embrio

in

vitro

pada temak sapi dengan IGF-1 dan

FCS

pada

TCM

199.

Tujuan pcnrlitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

:

1.

Keberhasilan pembuatan sistem kultur dengan suplementasi serum anak sapi (FCS),

hormon

PMSG

dan hCG serta sistem kokultu) dengan menggunakan sel-sel kumulus

sebagai sel dampingan untuk pematangan oosit, fertilisasi, maupun perkembangan

embrio

in

vitro.

2.

Modifikasi sistim lama inkubasi fertilisasi

m vrtro

(FIV)

,

peranan sel-sel kumulus pada

(29)

Keberhasilan pernbuatan klon embrio dengan memanipulasi embrio pada tahap

perkernbangan embrio yang berbeda.

Keberhasilan suplementasi dengan kombinasi serum anak sapi (FCS) dan IGF-I pada

TCM199 untuk kultur klon embrio in vitro.

Manfaat penelitian

Meningkatkan efisiensi aplikasi FIV sebagai dasar pengembangan bioteknologi berupa

embrio kloning, sexing embrio dan transgenik di Indonesia.

Meningkatkan ketersediaan embrio berkuditas tinggi dengan rnernanfaatkan klon

embrio, sehingga klon embrio tersebut dapat disebarluaskan ke pusat-pusat embrio

transfer dan lembaga-lembaga penelitian.

Memperkaya perbendaharaan dan penguasaan ilmu pengetahuan di bidang reproduksi

hewan khususnya fisiologi pertumbuhan sel-sel garnet dan embriologi.

Hipotesis.

Suplementasi serum anak sapi Cfetal caCfserum/FCS), PMSG dan hCG pada TCM 199

serta pemanfaatan sel-sel kumulus untuk sistem kokultur berpengaruh untuk pematangan

oosit in vitro (PIV) dan perkembangan embrio in virro.

Fertilisasi in virro (FIV) dapat dilakukan dengan modifikasi sistem inkubasi dan

rnernanfaatkan oosit berkumulus serta modifikasi konsentrasi NaHCO, pada medium

FIV (SO).

Pembuatan klon embrio dengan tahap perkembangan embrio yang berbeda

(30)
(31)

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan garnet, fertilisasi dan cleavage. Pertumbuhan sel gamet.

Sel gamet mempakan sel-sel hapIoid yang pembentukannya berlangsung melalui

proses pembelahan mitosis maupun meiosis (Gilbezt, 1988). Terbentuknya sel ketamin

betina berasal dari sel germinal primordial yang berpindah menuju gonad clan -menjadi

oogonia, oogonia ini masih merupakan sel diploid Melalui beberapa proses pembelahan

mitosis akhirnya oosit berkembang menjadi oosit primer, pada saat profase oosit primer

mulai mengalami pemhlahan meiosis. Pada saat meiosis pertarna terbentuk benda kutub

pertama, setelah proses meiosis kedua, terbentuklah ootid dan benda kutub kedua, ootid

merupakan sel gamet haploid. Oosit sekunder ini merupakan oosit yang dikeluarkan pada

saat ovulasi (Becker, 1990; Homa d m Brown, 1992).

Proses terlepasnya oosit sekunder dari ovariurn diawali kejadian pembesaran folikei,

akhimya pecah di bagian permukaan ovarium, setelah itu oosit sekunder memasuki ovidak

clan tuba falopii. Semua proses pematangan oosit dan ovulasi ini berlangsung di bawah

kontrol hormonal (Wassarman, 1988). Kejadian tahaptahap pembelahan ini tidak selalu

berurutan dengan kejadian ovulasi. Biasanya pada saat diestrus bersamaan dengan waktu

istirahat pembelahan sel gamet yaitu fase profase I. Daiam waktu yang cepat sebelum

tejadinya ovulasi, oosit berpeluang mengalami fase meiosis tahap kedua, pa& saat itu

benda kutub kedua terbentuk (Kanagawa dkk..1989).

Menurut Becker { 1990) sebuah oogonium primer akan menjadi sebuah msit,

sedangkan sebuah spermatosit primer akan berkernbang menjadi empat buah spermatozoa.

Spermatogonia mengalami pembelahan mitosis di tubuli seminiferi testis, spermatogonia

tersebut berasosiasi dengan basal lamina dari garis epitel tubuli. Spennatogoniurn bersifat

(32)

rnudah terpolarisasi, sebagai akibat sifat tersebut spermatogonium mudah terlepas dari

basal lamina. Meskipun sperrnatogoniwn telah terlepas dan basal lamina akan menjadi

spermatosit primer, tetapi seIalu terdapat sel asal yang masih tersisa menempel pa& basal

lamina. Sel asztl ini siap mengalami pembelahm untuk menjadi spermatogoniwn lag,

sedangkan spermatosit primer masuk kedalam tubuli. Disini spermatosit primer akan

mengalami pembelahan meiosis tahap pertarna untuk menjadi dua buah spermatosit

sekunder. Pada pembelahan meiosis tahap kedua masing-masing spermatosit sekunder

tersebut akan membelah menjadi dua buah sel sperma yang haploid yaitu spermatozoa

(lihat gambar 1) (Becker, 1990; Eddy,1988).

sel germinal primordial

[image:32.513.39.457.26.580.2]

spermatozoa TESTIS

(33)

Spermatozoa setelah mengalami pematangan, akan terlepas menuju lumen tubuli

serniniferi pa& saat sudah matang (Ashdown dan Hanock, 1987; Eddy, 1988). Kedua

tahap meiosis tersebut berlangsung secara seimbang dan terus menerus dimana pada

akhirnya sebuah sel spermatogonium yang diploid akan menghasilkan empat buah sel

spermatozoa. Secara kuantitatif pada proses spermatogenesis akan menghasilkan banyak sel

gamet dibandingkan oogenesis ( H a f e ~ 1987; Gamer dan Hafez. 1987).

Oosit.

Fertilisasi dimuiai pads saat benda kutub pertama terekshaksi, saat itu pula

spermatozoa mulai melakukan penetrasi terhadap oosit yang sedang mengalami

pembelahan meiosis tahap kedua. Kejadian ini tejadi di bagian arnpula ovidak

(Yanagimachi, 1988). Pada saat memasuki ampula, sel-sel oosit terbungkus dalarn

bungkusan mukosa protein yang di sebut zona pelusida dan rnasih ditempeli sel-sel

granulosa berasal dari sel-sel foliket ovmi yang tertinggal, pada tahap ini sel-sel granulosa

sering disebut seI kumulus. Selanjutnya oosit yang tidak terpenetrasi dengan spermatozoa

akan mengalami degenerasi (Kanagawa dlrk., 1989).

Spermatozoa.

Menurut Kanagawa dkk. (1989) meskipun jumlah total spermatozoa pada saat

ejakulasi sampai ratusan juta. tetapi yany mampu sampai ke ampula tidak banyak. Ada

beberapa spermatozoa yang sampai kt: tempat fertilisasi sangat cepat kira-kira 15 menit

setelah perkawinan. Setelah itu spermatozoa mengalami pembahan yang sering disebut

kapasitasi. Setelah spermatozoa mengalami kapasitasi penuh, oosit sarnpai di ampula. Masa

subur oosit ini sangat pendek pa& sapi 8

-

12 jam, sedangkan masa subur spermatozoa sapi
(34)

Keberhasilan fertilisasi banyak tergantung terhadap banyaknya spermatowa di daerah ampula bertepatan dengan adanya oosit di daerah tersebut. Hal ini menunjukkan

besarnya peluang pertemuan -sit dengan spermatozoa. Sel-sel kumdus juga berfungsi

untuk membantu penangkapan spermatozoa yang berada berdekatan dengan oosit, sel-sel

kumulus ini juga mempunyai peranan dalam proses kapasitasi spermatozoa. Disamping itu

morfologi spermatozoa juga sangat berperan dalam penetrasi spermatozoa terhadap zona

pelusida (Liu dan Baker,1992).

Fertilisasi.

Fertilisasi merupakan suatu proses peleburan antara dua buah sel gamet yaitu oosit

dari hewan betina dan spermatozoa dari hewan jantan untuk membentuk sebuah sel tunggal

yang disebut sigot (Mc Laren, 1987). Terjadinya proses fertilisasi tersebut melalui

peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

Kapasitasi dan akrosom reaksi sperma.

Sperma masak yang berasal dari epididimis atau sperma ejakulat masih belum

mampu membuahi sel-sel telur, sperma hams melalui traktus genitalis betina berahi

sebelurn meningkatkan kemampuannya untuk membuahi sel telur. Pa& saat itu sperma

mengalami perubahan-perubahan fisiologis, sehingga mampu melakukan pembuahan,

proses ini sering disebut kapasitasi (Yanagimachi, 1988). Selama proses kapasitasi ini

sperma mengalami motilisasi dan sering disebut hiperaktifasi (Yanagimachi dalam Luconi

dkk., 1996). Pada saat kapasitasi tejadi peristiwa biokimiawi dan biofisik yang kompleks

antara lain meningkatnya intraseluler ca2+ bebas dan fosforilasi protein (Luconi dkk.,

(35)

perubahan fisiologis bagian akrosom

dan

kepala spermatozoa, sehlngga memudahkan

sperma menembus zona pelusida (Fulka, 1991). Setelah tejadi kedua proses tersebut

sperma berpeluang

untuk

membuahi oosit yang sudah

masak.

Proses masuknya spermatozoa ke dalrm oosit

Untuk memasuki oosit, spermatozoa

harus

melakukan penetrasi

pada

kumpulaif sel-

sel kumulus, zona pelusida

dan

membran vitelin. Spermatozoa memasuki sel-sel kurnulus

sesuai dengan kemampuan motilitas, yaitu dengan

cara

membuat akses

untuk

menernbus

matriks asam hyaluronit. Spermatozoa tersebut mempunyai enzim hyaluronidase, asam ini

bermanfaat

untuk

melarutkan kumpulan set-sel kumulus. Dari keadaan ini dapat diketahui

hanya sperma tertentu yang mendapat kesempatan melakukan penetrasi pada zona pelusida

(Gray dalam Slavik

clan

Fulka, 1992). Proses penetrasi spermatozoa terhadap oosit adalah

dengan cara menempelnya spermatozoa pada dinding vitelus. Secara bertahap kepala

spermatozoa tersebut berasosiasi dengan permukaan vitelus dan akhimya tejadi fusi

dengan oosit. Setelah itu terbentuk pronukleus jantan dan

betina,

setelah melalui proses

singami yaitu kedua pronukleus tersebut rnelebur menjadi satu, terbentuklah sigot (lihat

gambar Z)(Kanagawa dkk.,1989).

Menurut Yanagimachi (1988)

hambatan sperma berikutnya adalah untuk

menembus zona pelusida yang mengandung glikoprotein.

Pada tahap ini oosit

memproduksi substansi yang disebut lirtllizin yang rnempunyai fungsi khusus untuk proses

penggumpalan

pa&

saat fertilisasi. Proses penggumpalan ini tidak berlangsung lama, pada

saat ini sperma menernpel membentuk lorong sempit pada zona pelusida. Pada tahap ini

[image:35.534.44.483.66.683.2]
(36)

penembusan ini berlangsung dibantu oleh enzim proteolitik sehingga spermatozoa dapat menembus zona pelusida.

Garnbar 2. Ilustrasi proses fertilisasi secara lengkap sampai te jadinya singarni (Kanagawa dkk., 1989)

Shamsudin clan Rodriguez-Martinez (1993) melakukan penelitian dengan

menggunakan 380 oosit sapi dan diperlakukan inseminasi dengan metoda yang berbeda,

temyata kisaran oosit yang teqxnetrasi 51,9 s.d. 7 4 9 persen, sedangkan tejadinya

polispermi pada masing-masing perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.

Cieavnge.

Cleavage adalah suatu peristiwa pembelahan sel ovum yang telah dibuahi dan telah

mengalami proses singami sempurna. Pembelahan sel ini berasal

dari

sel tunggal sehingga
(37)

masih dihambat adanya zona pelusida. Sel tunggal ovum tersebut merupakan sel yang

berukuran relatif sangat besar di bandingkan sel somatis (Mc Laren, 1987)

Cleavage terjadi sekitar satu hari setelah te jadinya ferttlisasi, biasanya dimulai

disekitar ampula ovidak. Pembelahan sel berlangsung secara bertahap dari dua sel sarnpai

mencapai tahap morula clan blastosis, ukuran embrio tahap momla tidak terlafu beda

dengan sigot karena selarna proses pembelahan tersebut zona pelusida tidak mengalami

perubahan ukuran, sementara itu cilia pada ovidak mendorong embrio menuju uterus, pa&

saat itu embrio berkembang sarnpai tahap blastosis (Gilbert, 1988; Sukra dkk.,i989). Sel-

sel embrio atau blastomer melekat satu sama lain oleh suatu perekat yang disebut

tigmotaksis (Sukra dkk., 1989).

[image:37.509.36.470.22.577.2]

Innrl trt: Am....*-. <...,\

Gambar 3. Diagram proses te jadinya kembar monozigotik (longman dalam Gilbert,1988).

(38)

Terjadin ya kembar identik alamiah

Menurut Longman dalam Gilbert (1988), te rjadinya kembar identik secara alamiah

dimunglunkan melalui beberapa peristiwa sebagai berikut:

A. Terjadinya awal kennbar sebelum terbentuknya trofektoderm, sehingga tiap

kembar mempunyai chorion dan amnion sendiri.

B.Tejadinya awal kembar setelah terbentuknya trofektoderm tetapi sebelum

terbentuk amnion sehingga menghasilkan kembar mempunyai kantung amnion sendiri

tetapi memanfaatkan satu chorion bersama.

C.Terjadi awal kembar setelah pembentukan amnion sehingga kembar mempunyai

satu kantung amnion dan chorion (Gambar 3 ) .

Pematangan garnet, fertilisasi, dan pertumbuhan ernbrio in vitro.

Fertilisasi in vifro adalah proses fertilisasi buatan yang dilakukan oleh manusia

dengan memanfaatkan oosit maupun sperma diluar tub& hewan. Menurut Fulka (1991)

proses fertilisasi in vitro dilakukan dengan cara membuat imitasi kondisi lingkungan yang

tejadi pada saat fertilisasi in vivo. Kondisi tersebut berupa kondisi fisiologis berupa

hormonal, nutrisional, serta kondisi lainnya yang mendukung terjadinya fertilisasi. Proses

ini terdiri dari pematangan oosit in vitro, kapasitasi dan turnbuh kembang embrio In vitro,

proses tersebut adalah sebagai berikut:

Pematangan oosit in vitro

(PIV).

Langkah awal dari PIV adalah seleksi oosif menurut Machatkova dkk., (1996) salah

satu faktor penting dalam menyeleksi oosit adalah siMus estrus dari sapi penyumbang oosit,

(39)

menurut faktor lain yang sangat penting adalah kondisi oosit

pada

pertumbuhan folikelnya,

kondisi oosit

ini

berkaitan dengan metode clan lama kultur yang di gunakan

untuk

pematangan oosit (Telfer, 1996; Crozet

dkk.,

1995; Cecconi

dkk.,

1996). Metode kultur

oosit dan yang embrio banyak dikembangkan oleh para peneliti adalah

conditioned medium

(Hernandez-ledezma

dkk.,

1996; Shamsudin

dkk.,

1993; Duran

dkk.,

1996),

Chemicaily

defined medium

(Lim

dkk.,

1994; Iritani

dkk.,

1984)

dan

kokultur (Rehman

'dkk.,

1994;Goto dkk., 1988; Goto dkk., 1994;Sakkas

dkk.,

1989; Shamsudin, 1993

).

Salah satu problem utama dalam fertilisasi in

vitro

adalah pematangan oosit.

Menurut Xu

dan

Greve (1988) pematangan oosit sapi merupakan sebuah proses

pematangan sitoplasma yang dilengkapi dengan pematangan inti sel, proses ini merupakan

bagian terpenting bagi oosit

untuk

fertilisasi. Menurut Sirard dkk.(1992) proses

pematangan melalui peristiwa meiosis tejadi secara spontan apabila oosit terlepas dari

folikelnya. Pada kultur oosit

in ritro,

oosit sapi berasal

dari

folikel belum masak dapat

dilakukan pematangan sampai tahap siap dibuahi meskipun rata-rata perkembanga~ya

masih sangat terbatas.

Boone clan Shapiro dalam Shamsudin

dkk.(1993)

menyatakan proses pematangan

oosit adalah merupakan proses reorganisasi organela-organela tersebut di dalam sitoplasma

yang

berguna

untuk

memobilisasi organela-organela dari granula kortikal menuju darrah

subplasmalema, proses ini bukan akibat pengaruh kondisi medium kultur. Kondisi

Lultur

yang mempengaruhi proses pematangan oosit adalah adanya gonadotropin, steroid, slstern

buffer, komposisi gas, keadaan fisiologis, dan fisik serta parameter kimiawi lainnya.

Menurut Shamsudin

dkk.

(1993) secara berumtan proses pematangan oosit

sap8

(40)

Tahap I.

Organela-organela sitoplasma, sebagian besar merupakan mitokondria, membentuk

kumpulan kecil dan menyebar disekitar periferi oosit. Butir-butir lemak, gelembung-

gelembung menyebar merata di bagian tengah oosit. Pada tahap ini butir-butir lam&

d m

gelembung-gelembung berjumlah lebih banyak serta berukuran lebih besar dibandingkan

tahaptahap selanjutnya.

Tahap

II.

Beberapa mitokondria telah tidak berada di daerah kortikal dan menyebar di daerah ooplasma. Butir-butir lemak dan gelembung-gelembung jumlahnya berkurang serta

h n n y a mengecil dan mulai pindah dari bagian tengah menuju ke periferi. Setelah 12

jam masa inkubasi semua oosit memasuki masa ini.

Tahap 111.

Organela-organela sitoplasma, butir-butir lernak dan gelembung-gelembung

bercampur secara merata diseluruh ooplasma. Mitokondria telah meninggalkan daerah

kortikal dan bercampur dengan retiMum endoplasma. Granula-granula kortikal telab di

rnobilisasikan ke dalam daerah subplasmalema. Kejadian ini tejadi setelah 20 jam di

inkubasi, terlepas dari kondisi medium h l t u r .

Pamsh dkk. (1992) menambahkan untuk memahami proses meiosis hams dipaharni

proses genetis maupun biokimiawi pada kontrol siklus sel, pengaturan proses pembelahan

sel tersebut sangat dipengaruhi oieh beberapa reaksi kinase dan fosfatase. Sato dkk. ( 1 9 8 8 )

menyatakan bahwa dibutyril cyclic udenosin 3'5'-monophosphate ( 1 0 0 @A) mempercepat

proses terbentuknya badan kutub I, namun caimodulrn antagonist w7 (20pM) justru

(41)

adanya drbutyril cyclic adenostn 3'5'-monophosphare (20 pM). Secara ber

Gambar

Gambar 1. Diagram proses spermatogenesis (modifikasi dari Becker, 1990)
gambar Z)(Kanagawa dkk.,1989).
Gambar 3. Diagram proses te jadinya kembar monozigotik (longman dalam Gilbert,1988).
Tabel 1. Pen&
+7

Referensi

Dokumen terkait