Independensi Hakim Ad Hoc di Lingkungan Peradilan Hubungan Industrial (Analisis Pasal 63 Dan 67 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial)

94  47  Download (1)

Teks penuh

(1)

INDEPENDENSI HAKIM AD HOC DI LINGKUNGAN PERADILAN

HUBUNGAN INDUSTRIAL

(ANALISIS PASAL 63 DAN 67 UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

RIKO HENDRA PILLO N I M . 1 0 9 0 4 8 0 0 0 0 1 1

KONSENTRASI HUKUM KELEMBAGAAN NEGARA P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(2)
(3)
(4)
(5)

iv ABSTRAK

RIKO HENDRA PILO, NIM. 109048000011. ANALISIS PASAL 63 DAN PASAL 67 UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL TERHADAP INDEPENDENSI HAKIM AD HOC DI LINGKUNGAN PERADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL. Program studi ilmu hukum fakultas syariah dan hukum UIN Syarif hidayatullah Jakarta, 1437 H/2016 M. x + 84.

Skripsi ini bertujuan mengetahui eksistensi hakim ad hoc pengadilan hubungan industrial dan pengaruh pasal 63 ayat (2) dan pasal 67 UU PPHI terhadap indenpendensi hakim ad hoc dalam memeriksa dan memutus sengketa hubungan industrial.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dan library research yaitu melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tema sentral dalam skripsi ini dan buku-buku, jurnal-jurnal yang berkaitan dengan judul.

Hasil penelitian Eksistensi hakim ad hoc pada Pengadilan Hubungan Industrial diatur dalam Pasal 60 UU PPHI yang menyatakan bahwa bahwa susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri dari hakim, hakim ad hoc, panitera muda, dan panitera pengganti. Adapun kedudukan hakim ad hoc pada saat ini telah dikecualikan dari kualifikasi pejabat negara sejak disahkannya UU ASN. Selain itu, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 32/PUU-XII/2014 juga telah memutuskan ketentuan Pasal 122 UU ASN tersebut tidak bertentangan dengan UUD NRI 1945 dengan pertimbangan bahwa pengecualian tersebut dibolehkan mengingat sifat, pola rekrutmen, tidak adanya pembatasan usia berakhir masa tugasnya, serta ruang lingkup tugas dan kewenangan yang bersifat terbatas.

Kata kunci : Penyelesaian Hubungan Industrial, Hakim Ad Hoc,

(6)

v

KATA PENGANTAR

ميحرلا نمحرلا ها مسب

Alhamdulillah, penulis panjatkan kepada sang kholiq yang telah memberikan kekuatan dan kemudahan serta nikmat sehingga dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skriipsi ini. Tak lupa shalawat dan salam penulis haturkan kepada Baginda Rasulullah SAW, semoga syafaat-Nya senantiasa tercurahkan kepada umat muslimin.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Hukum (S.H) pada Konsentrasi Hukum Kelembagaan Negara, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak dukungan dan saran dari berbagai pihak, sehingga ucapan terima kasih penulis sampaikan dengan tulus dan sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

vi

3. Dr. Kamarusdiana, S.Ag, M.H. Dosen pembimbing yang mengantarkan penulis hingga akhir penulisan.

4. Dosen-dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membimbing penulis dari awal masuk hingga bisa menyelesaikan skripsi ini dan Staf-staf/Karyawan yang membantu proses administrasi penulis .

5. Pegawai Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang membantu memberikan pinjaman referensi kepada penulis.

6. Ayahanda tercinta Abdurrahman dan Ibunda tersayang Siti Maryam, sujud abdiku kepada kalian atas doa dan pengorbanan kalian selama ini, “allahummagfirlii waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani sogiro”. Dan

seluruh keluarga besar jayo kebaradaan kalian selalu memberikan semangatku dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Ahyni, S.H, M.H. Terima kasih atas dukungan dan doanya selama ini.

8. Sahabat-sahabat terbaiku: Helmi, Jefri, Ihsan Badruni, Ihsan (cobro), Fikri, Andi Tq, Yuniar, Miko, Fiki, dan seluruh Keluarga Besar SEMARI Banten canda tawa kalian akan selalu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan.

(8)

vii

Penulis pun menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini selanjutnya. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat dijadikan rujukan penyusunan skripsi selanjutnya.

Jakarta, 29 Februari 2016

(9)

viii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Identifikasai Masalah ... 7

C.Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 8

D.Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 8

E. Studi Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 9

F. Metode Penelitian ... 11

G.Sistematika Penulisan ... 15

BAB II INDEPENDENSI HAKIM DALAM KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA A.Independensi Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara ... 17

B.Kekuasaan kehakiman di Indonesia ... 25

(10)

ix

hubungan industrial ... 46 C.Tata cara pengangkatan dan pemberhentian

hakim ad hoc peradilan hubungan industrial... 54 D.Kedudukan hakim ad hoc di lingkungan peradilan

hubungan industrial ... 59

BAB IV ANALISIS INDEPENDENSI HAKIM AD HOC MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL A.Eksistensi hakim ad hoc pengadilan hubungan industrial ... 68 B.Analisis Pasal 63 dan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004

Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Terhadap Independensi Hakim Ad Hoc Di Lingkungan

Peradilan Hubungan Industrial ... 72

BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan... 79 B.Saran ... 80

(11)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Setelah Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dilakukan perubahan, penempatan rumusan negara hukum Indonesia telah bergeser kedalam batang tubuh Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara tegas dinyatakan dalam pasal 1 ayat (3) yang berbunyi “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Konsekuensi dari ketentuan ini adalah bahwa setiap sikap, tindakan, perilaku, pikiran, dan kebijakan pemerintah negara (dan penduduknya) harus didasarkan sesuai dengan hukum.1

Menurut Jhon Locke, untuk mendirikan suatu negara hukum yang menghargai hak-hak warga negaranya harus memiliki 2 (dua) unsur penting yaitu pertama, adanya hukum yang mengatur bagaimana anggota masyarakat dapat menikmati hak asasinya dengan damai, kedua, adanya suatu badan yang dapat menyelesaikan sengketa yang timbul antara pemerintah (vertical dispute) atau sesama anggota masyarakat (horizontal dispute).2

Suatu negara hukum menghendaki adanya supremasi konstitusi. Supremasi konstitusi, disamping merupakan konsekuensi dari konsep negara hukum, sekaligus merupakan pelaksanaan demokrasi karena konstitusi adalah wujud dari

1

Djatmiko Anom, “Kedudukan Lembaga Negara Sampiran dalam Sistem Ketatanegaraan

Repuplik Indonesia”, jurnal konstitusi p3kham uns volume no. 1 .2008, h. 35. 2

(12)

perjanjian sosial tertinggi.3 Demokrasi bukan hanya cara, alat atau proses, tetapi adalah nilai-nilai atau norma-norma yang menjiwai dan mencerminkan seluruh proses kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.4 Konsep demokrasi selalu menempatkan rakyat pada posisi yang sangat strategis dalam sistem ketatanegaraan, walaupun pada tataran implementasinya terjadi perbedaan antara negara yang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, berbagai varian implementasi demokrasi tersebut, maka didalam literatur kenegaraan dikenal beberapa istilah demokrasi yang dianut oleh beberapa negara yaitu demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi rakyat, demokrasi soviet, demokrasi nasional, dan demokrasi lainnya.

Proses mengimplementasikan semua kriteria, prinsip, nilai, dan elemen-elemen demokrasi, perlu disediakan beberapa lembaga sebagai berikut:

1. Pemerintah yang bertanggung jawab,

2. Suatu Dewan Perwakilan Rakyat yang mewakili golongan-golongan dan kepentingan-kepentingan dalam masyarakat yang dipilih dengan pemilihan umum yang bebas dan rahasia yang sekurang-kurangnya dua calon untuk setiap kursi. Dewan/perwakilan ini mengadakan pengawasan/kontrol memungkinkan oposisi yang konstruktif dan memungkinkan penilaian terhadap kebijakan pemerintah secara kontinu,

3

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia (Jakarta, Konstitusi Press, 2005), h. 152.

4

(13)

3

3. suatu organisasi politik yang mencakup satu atau lebih partai politik. Partai-partai menyelenggarakan hubungan yang kontinu dengan masyarakat umum dan pemimpin-pemimpinnya,

4. pers dan media massa yang bebas untuk menyatakan pendapat, dan

5. sistem peradilan yang bebas untuk menjamin hak-hak asasi dan mempertahankan keadilan.5

Sistem pemerintahan yang bebas diciptakan dengan diberlakukannya pemisahan kekuasaan (sparation of power) sebagaimana yang dicanangkan oleh Montesque yaitu pemisahan kekuasaan menjadi tiga bagian yakni, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Di Indonesi ajaran ini mengilhami adanya pemisahan kekuasaan (distribution of power) yang dijalankan dengan system check and balance yaitu antara ketiga kekuasaan tersebut dapat saling mengawasi sehingga pemusatan kekuasaan dapat diminimalisir. Dalam hal menciptakan peradilan yang bebas dan bersih, yudikatif dapat diawasi dari dalam dan luar.

Sistem peradilan dilengkapi dengan sebuah majelis yang berfungsi untuk menjaga dan mengawasi kerja hakim dalam hal kode etik. Dari luar artinya yudikatif diawasi oleh kekuasaan lainnya dan juga lembaga yang dibuat khusus untuk mengawasi hakim seperti komisi yudisial.

Pasca reformasi dan amandemen Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di Indonesia, diversifikasi fungsi-fungsi kekuasaan negara

5

(14)

berkembang luas, salah satu fungsi kekuasaan negara yang berkembang adalah semakin banyaknya didirikan lembaga-lembaga peradilan yang bersifat khusus, diantaranya adalah pengadilan hubungan industrial yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PPHI).

UU PPHI berisi asas penyelesaian perselisihan6 hubungan industrial dilakukan secara musyawarah mufakat, dengan berpijak pada suatu prinsip jika terjadi perselisihan antara pekerja/buruh dan pengusaha, maka pada tahap pertama penyelesaian perselisihan tersebut diserahkan pada pihak yang berselisih (bipartit). Jika pada tahap ini tidak terjadi kata sepakat atara para pihak, maka mereka dapat memilih dua jalur, yaitu jalur peradilan atau nonperadilan.7 Jalur peradilan diselesaikan melalui pengadilan hubungan industrial. Peradilan ini merupakan pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan peradilan umum serta memiliki tugas dan wewenang memeriksa dan memutus :

1. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak,

2. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan, 3. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan

6 Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan

pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruhkarena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan,perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antar serikat pekerja/buruh dalam satu perusahaan, pasal 1 angka 1 undang-undang nomor 2 tahun 2004.

7

(15)

5

4. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan.

Pengadilan hubungan industrial bertugas dan berwenang memeriksa dan mengadili perkara dan perselisihan hubungan industrial yang dilaksanakan oleh majelis hakim yang beranggotakan 3 (tiga) orang, yang terdiri dari 1 (satu) hakim karir dan 2 (dua) hakim ad hoc, adapun tata cara pengangkatan hakim ad hoc

diatur dalam pasal 63 UU PPHI, dalam pasal 63 ayat (2) menyebutkan bahwa

calon hakim ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan oleh ketua

mahkamah agung dari nama yang disetujui oleh menteri atas usul serikat

pekerja/serikat buruh atau organisasi pengusaha”, selain mengatur tata cara

pengangkatan hakim ad hoc, dalam pasal 67 ayat (1) huruf f UU PPHI juga disebutkan bahwa “hakim ad hoc pada pengadilan hubungan industrial dan mahkamah agung dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena

atas permintaan organisasi pengusaha dan organisasi pekerja/organisasi buruh

yang mengusulkan”.

(16)

Pihak-pihak yang berperkara dalam perselisihan hubungan industrial ini umumnya dijumpai tiga pihak yang terkait dalam hubungan kerja, serta pihak-pihak lain yang terkait, yang menurut hukum harus memerhatikan pelaksanaan hubungan kerja tersebut. Adapun pihak-pihak terkait dalam hubungan kerja, yaitu pihak pekerja/buruh istilah pekerja/buruh sekarang merupakan istilah yuridis yang dijumpai dalam peraturan perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan. 8

Istilah ini muncul sebagai pengganti buruh yang populer dalam realitas ketenagakerjaan di masyarakat, pihak pemberi kerja/pengusaha, pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain (pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan), pihak seriakat pekerja/serikat buruh kita mengetahui bahwa pekerja/buruh secara sosiologis kedudukannya sangat lemah, baik ditinjau dari segi ekonomi maupun dari segi kedudukan dan pengaruhnya terhadap pengusaha. Oleh karena itu, pekerja/buruh tidak mungkin bisa memperjuangkan hak-haknya atua pun tujuannya secara perorangan tanpa mengorganisasikan dirinya dalam satu wadah yang dapat membantu mereka untuk mencapai tujuannya. Serikat pekerja/serikat buruh sebagai wadah secara langsung terkait dengan hubungan pekerja guna kepentingan para anggotanya.9

8

Asyhadie Zaeni, Peradilan Hubungan Industrial, h. 15-18.

9

(17)

7

Hal ini menjadi rumit mengingat dalam menjalankan pengadilan hubungan industrial, hakim yang berwenang memutuskan perkara adalah hakim yang diangkat (diusulkan) oleh, serikat pekerja/serikat buruh, organisasi pengusaha, juga diberhentikan secara hormat oleh, serikat pekerja/serikat buruh, organisasi pengusaha tersebut. Hal ini tentunya akan menciderai sistem peradilan yang bebas, tidak memihak, dan bersih yang diimpikan karena para hakim akan dikuasai oleh para pihak yang berperkara, karena keberadaan hakim diangkat dan di berhentikan oleh pihak yang akan disidangkan di peradilan hubungan industrial tersebut.

Uraian di atas membuat penulis tertarik untuk membahas dalam bentuk skripsi yang berjudul INDEPENDENSI HAKIM AD HOC DI LINGKUNGAN

PERADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (ANALISIS PASAL 63 DAN PASAL 67 UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL)

B.Identifikasi Masalah 1. Apa itu Hakim Ad Hoc?

2. Bagaimana Kedudukan Hakim Ad Hoc dalam Kerangka Kekuasaan Kehakiman?

3. Bagaimana Penyelesaian sengketa Peradilan Hubungan Industrial?

4. Bagaimana proses rekrutmen hakim Ad Hoc di Pengadilan Hubungan Industrial?

(18)

C.Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, penulis hanya akan membahas seputar hakim ad hoc di lingkungan Peradilan Hubungan Industrial, dan dibatasi terkait pasal 63 ayat (2) dan pasal 67 ayat (1) mengenai pengangkatan dan usul pemberhentian hakim ad hoc di lingkungan peradilan hubungan industrial.

2. Perumusan masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana eksistensi hakim ad hoc pengadilan hubungan industrial?

b. Bagaimana pengaruh pasal 63 ayat (2) dan pasal 67 UU PPHI terhadap independensi Hakim Ad Hoc dalam memeriksa dan memutus sengketa hubungan industrial?

D.Tujuan Penelitian Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui eksistensi hakim ad hoc pengadilan hubungan industrial. b. Untuk mengetahui pengaruh pasal 63 ayat (2) dan pasal 67 UU PPHI

(19)

9

2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:

a. Menambah wawasan keilmuan tentang penyelesaian sengketa di peradilan hubungan industrial oleh hakim ad hoc.

b. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan referensi/rujukan bagi yang ingin mendalami tentang independensi hakim ad hoc dalam menyelesaikan sengketa hubungan industrial.

E.Studi Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Pembahasan dalam penelitian ini penulis melakukan telaah studi terdahulu pada hasil penelitian yang pembahasannya menyerupai dengan pembahasan yang akan diangkat oleh penulis yaitu:

No. Identitas Subtansi Pembeda

(20)
(21)

11

F. Metode Penelitian

Untuk memperoleh data yang akan dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini, maka penulis menggunakan metode:

1. Jenis penelitian dan pendekatan

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penyusunan skripsi ini, adalah:

a. Penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif.10

b. Penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengkaji, menganalisa serta merumuskan buku-buku, literatur, dan yang lainnya yang ada relevansinya dengan judul skripsi ini.

Sedangkan pendekatan yang dilakukan dalam penyusunan skripsi ini antara lain:

a. Pendekatan perundang-undangan yang didalamnya terdapat pasal-pasal yang

berkaitan (statute approach) ialah pendekatan dengan melakukan pengkajian terhadap pasal-pasal yang terdapat dalam undang-undang yang berhubungan dengan tema sentral penelitian skripsi ini khususnya berkenaan dengan independensi hakim.11

10

Johny Ibrahim, Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif (Malang : bayumedia publishing, 2008), h. 294.

11

(22)

b. Pendekatan konseptual (conceptual approach) Pendekatan konseptual

(conceptual approach) pendekatan ini dilakukan manakala peneliti tidak beranjak dari aturan hukum yang ada. Hal itu dilakuka karena memang belum atau tidak ada aturan hukum untuk masalah yag dihadapi. Dalam membangun konsep ia tidak hanya melamun dan mencari dalam hayalan melainkan pertama kali ia harus beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.12

2. Sumber bahan hukum

Dalam menyusun karya ilmiah yang baik agar sesuai dengan tujuan yang diteliti maka dalam penyusunan karya ilmiah harus memiliki data yang kompeten. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menggunakan dua jenis sumber data, yaitu:

a. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang terdiri atas peraturan undangan yang diurutkan berdasarkan hierarki perundang-undangan dengan undang-undang nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Bahan hukum primer yang tersebut yaitu UU PPHI pasal 63 ayat (3) dan pasal 67 ayat (1) huruf f.

12

(23)

13

b. Bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan data yang diperoleh dari bahan kepustakaan.13 Bahan hukum yang terdiri atas buku-buku (textbook) yang ditulis oleh para ahli hukum yang berpengaruh (de hersendee leer), jurnal-jurnal hukum, dan hasil-hasil simposium mutakhir yang mutakhir yang berkaitan dengan topik penelitian skripsi ini. Bahan hukum sekunder tersebut terdiri dari buku-buku hukum, media cetak, artikel-artikel baik dari internet maupun berupa data digital.

3. Teknik pengumpulan data

Dalam penyusunan skripsi untuk memperoleh data yang baik dan benar maka dibutuhkan teknik pengumpilan data. Untuk menyusun skripsi ini, teknik pengumpulan bahan hukum yang penulis lakukan berisi uraian logis prosedur pengumpulan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, serta bagaimana bahan hukum tersebut diinterventariskan dan diklasifikasikan dengan menyesuaikan masalah yang dibahas.

Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan, digunakan metode dokumentasi/library research. Metode dokumentasi/ library research adalah mencari hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surut kabar, media online, majalah, dan sebagainya.14

13

Soerjono soekanto, pengantar penelitian hukum, (Jakarta : Pustaka Pelajar. 1992), h.51.

14

(24)

4. Teknis analisis bahan hukum

Teknis analisis bahan hukum merupakan langkah-langkah yang berkaitan dengan pengolaan terhadap bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan untuk menjawab isu hukum yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah.

Pada penelitian hukum normatif, pengolahan bahan hukum hakikatnya merupakan kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhdap bahan-bahan hukum tertulis. sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.

Dalam analisis bahan hukum ini kegiatan yang dilakukan antara lain: a. Memilih pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan tentang

penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang berisi kaidah-kaidah hukum.

b. Membuat sistematik dari pasal-pasal atau kaidah-kaidah hukum tersebut yang kemudian dihubungkan dengan masalah yang penulis angkat sehingga menghasilkan klasifikasi tertentu.

5. Teknik penulisan

(25)

15

G.Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan pola dasar pembahasan skripsi dalam bentuk bab dan sub bab yang secara logis saling berhubungan dan merupakan suatu masalah yang diteliti. Adapun sistem penulisan skripsi ini sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan

Masalah, Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian, Studi Review, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II : Membahas independensi hakim dalam kekuasaan kehakiman di Indonesia yaitu meliputi Independensi Hakim dalam memeriksa dan memutus perkara, Kekuasaan kehakiman di Indonesia, Teori pembagian kekuasaan dan kaitannya dengan kekuasaan kehakiman di Indonesia. BAB III : Membahas Peradilan Hubungan Industrial meliputi sejarah dan dasar

hukum pengadilan hubungan industrial, Penyelesaian sengketa di lingkungan peradilan hubungan industrial, Tata cara pengangkatan dan pemberhentian hakim ad hoc peradilan hubungan industrial, Kedudukan hakim ad hoc di lingkungan peradilan industrial.

(26)

Terhadap Independensi Hakim Ad Hoc Di Lingkungan Peradilan Hubungan Industrial

(27)

17

BAB II

INDEPENDENSI HAKIM DALAM KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA

A.Independensi Hakim dalam Memeriksa dan Memutus Perkara 1. Teori Kelembagaan Negara

Pada zaman yunani, Negara dalam pemahaman aristoteles (384-382) yang ditulis dibukunya politien, adalah sekelompok masyarakat dalam bentuk paguyuban (gemeinschaft), dibentuk dengan tujuan untuk mencapai kebaikan tertnggi dan mulia dalam penghidupan masyarakat. Masyarakat memiliki sifat organisme yang dimiliki manusia sebagai kodrat guna menentukan hidupnya.1

Pengertian organ atau lembaga negara secara lebih jauh dilihat melalui pandangan Hans Kelsen,2 yang mengatakan bahwa siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh suatu tata-hukum (legal order) adalah suatu organ. Organ atau lembaga tersebut bersifat menciptakan dan menjalankan norma. Kelsen menyatakan arti organ/lembaga yaitu parlemen dapat menciptakan dan menetapkan undang-undang beserta warga negara yang memilih para wakilnya tesebut melalui pemilihan umum. Beserta para hakim

1

H. F. Abraham Amos, Sistem Ketatanegaraan Indonesia (dari oral, orba sampai reformasi), (Jakarta, PT RajaGrafindo, 2005, cet. pertama), h. 421.

2

Jimly Asshidiqqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi,

(28)

yang mengadili dan menghukum seseorang yang bersalah dengan menjalankan hukuman tersebut di lembaga pemasyarakatan.

Teori organisme adalah suatu siklus yang muncul oleh keinginan sosial untuk melambangkan fungsi kehidupannya. Oleh karena itu, kehidupan bernegara dapat disebut sebagai kehidupan organisme. Dalam pencapaian tujuan tersebut diperlukannya lembaga-lembaga negara yang mengatur dan mempunyai fungsi dan tugasnya sendiri sebagai alat penggerak kearah tujuan hidup yang dikehendaki oleh komunitas masyarkat didalamnya.3

Jilmly Ashidiqqie4 mengumukakan bahwa istilah organ atau lembaga negara dapat dibedkan menjadi organ atau lembaga negara swasta, lembaga masyarakat atau disebut onop atau organisasi nonpemerintah atau non-govermental organizations (NGO’S). lembaga tersebut dapat berada dalam ranah eksekutif, legislative, maupun yudikatif, ataupun bersifat campuran. 2. Pengertian dan Prinsip Independensi

a. Pengertian Independensi

Independensi adalah suatu keadaan dimana tidak ada keberpihakan pada pihak manapun, keberadaannya bebas, merdeka dan mandiri, tanpa terintervensi oleh pihak yang berkepentingan guna tercapinya suatu keadilan. Melalui independensi akan terlihat kebijaksanaan dan kebebasan. Kebijaksanaan dalam

3

H. F. Abraham Amos, Sistem Ketatanegaraan Indonesia (dari oral, orba sampai reformasi), (Jakarta, PT RajaGrafindo, 2005, cet. pertama), h. 422

4

Jimly Asshidiqqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi,

(29)

19

arti segala putusan yang akan dibuat akan melihat pada dampaknya di masa depan, sehingga terciptanya kewibawaan dan kepercayaan publik.

Kebebasan dalam demokrasi bukanlah mutlak kebebasan dalam artian bebas dalam melakukan apapun. Kebebasan ini harus dilandasi dengan norma, etika hukum, dan kesadaran akan tanggungjawab kepada sesama manusia, bangsa negara dan serta kepada tuhan yang maha esa. Kesadaran akan tanggungjawab sosial menjadi peranan penting agar tujuan-tujuan tersebut tercapai.5

Pada bidang kekuasaan kehakiman membicarakan masalah kebebasan dengan istilah independen/kemardekaan. Misalnya pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan

bahwa “kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk

menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, demi terselenggaranya negara hukum republik Indonesia”. Istilah independensi yang sudah sejak lama dipandang perlu untuk dikembangkan dalam pemikiran pengelolaan lembaga kekuasaan kehakiman di Indonesia.6

Subtansi mendasar dari konsep independensi manusia adalah nurani, atau diistilahkan dengan etika independensi. Etika berasal dari dalam diri guna

5

Ahmad Kamil, Filsafat Kebebasan Hakim, (Jakarta: kencana, 2012, cet. Pertama), h. 118.

6

(30)

memberikan penilaian terhadap kehidupan, etika pula menjadi bekal awal kepemimpinan serta menempatkan letak hak dan kewajiban seseorang didalam mengatur kehidupannya.7

Dengan kebebasan menetapkan norma inilah, konsep independensi senantiasa dijadikan pedoman bagi manusia dalam menjalakan kehidupannya, agar tidak sewenang-wenang dalam meletakkan segala kebijakan. Berikut adalah berbagai konsep mengenai independensi:

1) Konsep Kebebasan

Konsep kebebasan menurut perspektif orang-orang barat adalah kebebasan didasarkan pada batasan undang-undang atau hukum. Dalam perspektif islam, islam meletakkan suatu landasan universal, yaitu kebebasan individu harus dihadapkan dengan kebaikan atau kebenaran. Bagi seorang muslim, kebebasan mengandung makna, yaitu kebebasan identik

dengan “fitrah”, tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicecari

oleh sitem kehidupan sekelilingnya, serta kebebasan adalah daya kemampuan dan kehendak atau keinginan.

Thomas Hobbes melihat objek kebebasan dengan istilah “gerak

sukarela”. Di dalam suatu negara, gerak bebas yang melekat dalam diri

manusia, ditunjukan dengan pembawaan kehidupan yang penuh dengan

7

(31)

21

kedamaian yang berdampingan dengan harmonisasi. Manusia pada hakekatnya mengikuti gerak sukarela yang menunjuk pada suatu makna, tanpa ada paksaan, tanpa ada tekanan, yang mengandung pengertian logis harus tersedianya ruang gerak secara bebas.8

2) Konsep Kebijaksanaan

Selain terciptanya konsep kebebasaan, independensi juga melahirkan konsep kebijaksanaan yaitu, Koentjontro Purbopranoto mengemukakan bahwa kebijaksanaan dengan pengertian freis emerssen9 karena pada hakikatnya memberikan kebebasaan bertindak pada pemerintah dalam menghadapi situasi yang kongkrit, sedang kebijaksanaan merupakan suatu pandangan jauh kedepan dari pemerintahan.

Asas kebijaksanaan yang mengendaki bahwa terjalinnya kerjasama antara pemerintah yang menghubungkan segala tindakannya dengan gejala-gejala masyarakat dengan dukungan dari warga negara, agar suatu kebijakan yang ditetapkan dari tindakan pemerintah tersebut mempunyai orientasi ke masa depan, oleh sebab itu segala tindakan pemerintah perlu mempunyai otoritas dan wibawa.10

8

Ahmad Kamil, Filsafat Kebebasan Hakim, h. 12.

9

Freies Emerssen terinspirasi dari asas diskresi (discretie), yaitu pejabat diber kekuasaan untuk mengambila keputusan menurut pendapatnya sendiri asalkan tidak melanggar asas yiridiktas dan asas legalitas tersebut. Pejabat bertindak guna kepentingan umum. s. prajudi atmosudirjo, hukum

administrasi Negara. (Jakarta : ghalia Indonesia, 1994, Cet. Kesepulu), hal. 89.

10

(32)

b. Prinsip-Prinsip Independensi

Adapun prinsip-prinsip independensi yang berkenaan dengan system peradilan dan ketatanegaraan, yaitu:

1) Peradilan Bebas

Prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip keadilan dan persamaan. Dalam nomokrasi islam seorang hakim memiliki kewenangan yang bebas dalam makna setiap putusan yang ia ambil bebas dari pengaruh siapapun. Seorang yuris islam terkenal Abu Hanifah berpendapat bahwa “kekuasaan kehakiman harus memiliki kebebasan dari segala macam bentuk tekanan dan campur tangan kekuasaan eksekutif, bahkan kebebasaan tersebut mencakup pula wewenang hakim untuk menjatuhkan putusannya pada seorang pengusaha apabila ia melanggar hak-haknya.”

Peradilan bebas serta tidak adanya intervensi dari pihak manapun merupakan persyaratan bagi tegaknya dan efektifnya prinsip keadilan dan persamaan hukum. Dalam nomokrasi islam hal ini merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para hakim guna menunjukkan suatu ciri negara. Bahkan ia memiliki suatu kewenangan untuk melakukan ijtihat dalam menegakkan hukum.11

11

(33)

23

Pengadilan diberikan wewenang oleh tatanan hukum untuk memutuskan peraka berdasrkan kebijaksanaannya sendiri, untuk menghukum atau membebaskan terdakwa, untuk mengabulkan atau menolak gugatan penggugat, untuk menjatuhkan ata menolak menjatuhkan sanksi kepada terdakwa atau tergugat. Dalam mejatuhkan sanksi , pengadilan selalu bertindak sebagai organ pembuat undang-undang. Hal ini berarti bahwa pengadilan diberi wewenang untuk membuat norma hokum substantif yang dianggapnya memuaskan, patut atau adil bagi kasus konkret.12

Hakim juga wajib memperhatikan pula prinsip amanah, karena kekuasaan kehakiman yang berada ditangannya adalah suatu amanah dari rakyat kepadanya yang wajib ia pelihara dengan sebaik-baiknya. Sebelum, menetapkan putusan, hakim wajib bermusyawarah dengan para koleganya di dalam pengadilan agar tercapai suatu putusan yang seadil-adilnya. Putusan yang adil merupakan tujuan utama dari kekuasaan kehakiman yang bebas.13 2) Kemandirian Hakim

Hakim adalah salah satu elemen dasar dalam sistem peradilan, sebagai subjek yang melakukan tindakan putusan atas suatu perkara didalam suatu pengadilan. Hakim yang merupakan personifikasi atas

12

Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, h. 209.

13

(34)

hukum harus menjamin rasa keadilan bagi setiap orang yang mencari keadilan melalui proses hukum legal. Untuk menjamin rasa keadilan itu maka seorang hakim dibatasi oleh rambu-rambu, sperti : integritas, moral dan etika, transparansi, dan pengawasan.

Franken, ahli hukum belanda, menyatakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman dapat dibedakan ke dalam 4 (empat) bentuk, yaitu:

1. Independensi konstitusional (contitutionele onafhankelijkheid) adalah independensi yang dihubungkan dengan doktrin trias poltica kekuasaan kehakiman harus independen dalam arti kedudukan lembaganya harus bebas dari pengaruh politik.

2. Independensi fungsional (zakellijke of functionele onafhankelijkheid),

independensi hakim berarti bahwa setiap hakim boleh menjalankan kebebasaannya untuk menafsirkan undang-undang apabila undang-undang tidak memberikan pengertian yang jelas. Independensi fungsional dapat dipandang sebagai pembatasan, dimana seorang hakim tidak boleh memtuskan suatu perkara tanpa dasar hukum, dan juga dpat dipandang dalam kondisi tertentu, hakim atau lembaga kekuasaan kehakiman data mencabut suatu ketentuan perundang-undangan yang bertentangan dengan keadilan dan konstitusi. Hal ini berkaitan dengan suatu sengketa dan hakim harus memberikan suatu putusan.

(35)

25

berhadapan dengan suatu sengketa. Independensi fungsional harus dilihat sebagai hasil dari independensi personal hakim. Independensi personal memiiki hubungan langsung dengan tugas-tugas yang ditetapkan oleh konstitusi.

4. Independensi praktis (praktische of fitelijke onafhankelikheid) adalah independensi hakim untuk tidak berpihak (imprsial). Hakim harus mengikuti perkembangan masyarakat yang dapat dibaca dan disaksikan dari media, tetapi tidak boleh mengambil begitu saja kata-kata dari media dan desakan-desakan dari masyarakat tanpa mempertimbangkan dan harus diuji secara kritis dengan ketentuan hukum yang sudah ada. Hakim harus mengetahui sampai sejauhmana dapat menerapkan norma-norma sosial ke dalam kehidupan masyaraka.

B.Kekuasaan Kehakiman di Indonesia

Kekuasaan kehakiman yang merdeka diartikan sebagai pelaksanaan peradilan yang bebas dan tidak memihak yang dilakukan oleh hakim untuk menyelesaikan berbagai masalah hukum yang diajukan ke pengadilan. Kekuasaan kehakiman yag merdeka ini merupakan element mutlak yang harus ada di dalam sebuah negara yang berpredikat negara hukum.

Menururt C.S.T. Kansil dan Christine ST Kansil,14 kekuasaan kehakiman ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan negara lainnya, bebas dari paksaan, dan

14

(36)

rekomendasi yang datang dari ekstra yudisial dalam hal-hal yang diizinkan undang-undang. Kebebasan dalam melaksanakan wewenang yudisial tidaklah mutlak sifatnya karena tugas hukim adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdaasarkan pancasila dengan menafsirkan hukum dan mencari dasar-dasar, asas-asas yang menjadi landasannya.

Pentingnya kekuasaan yudikatif yang merdeka dari segala bentuk intervensi dari beberapa kekuasaan lainnya juga dibahas dalam studi hukum kelembagaan negara. Montesquieu mengemukakan15 pentingnya kekuasaan yudikatif karena kekuasaan kehakiman yang independen menjamin kebebasaan individu dan hak asasi manusia. prinsip persamaan di muka hukum merupakan elemen yang penting dalam konsep rule of law.

Selanjutnya Montesquieu mengatakan16 kebebasan pun tidak ada jika kekuasaan kehakiman tidak dipisahkan dari kekuasaan legislatif dan kekuasaan eksekutif. Jika kekuasaan kehakiman disatukan dengan kekuasaan legislatif, kekuasaan atas kehidupan dan kebebasaan warga negara akan dijalankan sewenang-wenang karena hakim akan menjadi pembual hukum. Jika kekuasaan kehakiman disatukan dengan kekuasaan eksekutif, hakim bisa jadi penindas.

Kemandirian kekuasaan kehakiman perlu kita garis bawahi bahwa tidak saja mandiri secara kelembagaan, tetapi juga harus menjaga kemandirian dalam

15

Andi. M. Nasrun, Krisis Peradilan Mahkamah Agung Dibawah Soeharto, (jakarta: elsam, 2004), h. 32.

16

(37)

27

proses peradilan yang dapat diindikasikan dari proses pemeriksaan perkara, pembuktian , hingga pada vonis yang dijatuhkan. Parameter mandiri atau tidaknya proses peradilan ditandai oleh ada atau tidaknya intervensi dari pihak-pihak lain di luar kekuasaan kehakiman seperti kekuasaan legislatif maupun kekuasaan eksekutif.

Kemandirian hakim sangat penting adanya karena hakim secara fungsional merupakan inti dalam proses penyelenggaraan peradilan. Indikator mandiri atau tidaknya hakim dalam memeriksa perkara dapat dilihat dari kemampuan hakim dalam menjaga integritas moral dan komitmen kebebasan profesinya dalam menjalankan amanat dari adanya campur pihak lain dalam proses peradilan. Namun yang perlu juga dipahami bahwa jaminan independensi kekuasaan kehakiman bukan berarti tidak boleh ada pihak selain dari lembaga peradilan untuk mengurusi sesuatu yang berhubungan dengan hakim dan peradilan.17

Rumusan tentang kekuasaan kehakiman diatur dalam bab IX pasal 24 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang selengkapnya

berbunyi: “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk

menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.18

apabila

17

Sirajuddin, Komisi Yudisial dan Eksaminasi Publik I, (Bandung, pt. Citra aditya bakti, 2006), h. 34.

18

(38)

sesuatu telah diatur langsung di dalam konstitusi sebuah negara maka hal itu menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemerintahan dari negara tersebut.

Mengenai hal ini secara eksplisit telah diamanatkan dalam konsideran huruf a Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dan Undang-Undang-Undnag Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang kemudian diubah lagi dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, telah menentukan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang mandiri dan terlepas dari kekuasaan pemerintah, sehingga dipandang perlu melaksanakan pemisahan tegas antara fungsi-fungsi yudikatif dan eksekutif.

C.Teori Pembagian Kekuasaan Dan Kaitannya Dengan Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia

Salah satu ciri negara hukum, yang dalam bahasa Inggris disebut legal state

atau state based on the rule of law, dalam bahasa Belanda dan Jerman disebut

(39)

29

constitutional state, yaitu negara yang dibatasi oleh konstitusi. Dalam konteks yang sama, gagasan negara demokrasi atau kedaulatan rakyat disebut pula dengan istilah constitutional democracy yang dihubungkan dengan pengertian negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum.19

Upaya untuk mengadakan pembatasan terhadap kekuasaan itu tidak berhenti hanya degan munculnya gerakan pemisahan antara kekuasaan raja dan kekuasaan pendeta serta pimpinan gereja. Upaya pembatasan kekuasaan juga dilakukan dengan mengadakan pola-pola pembatasan di dalam pengelolaan internal kekuasaan negara itu sendiri, yaitu dengan mengadakan pembedaan dan pemisahan kekuasaan negara ke dalam beberapa fungsi yang berbeda-beda. Dalam hubungan ini, yang dapat dianggap paling berpengaruh pemikirannya dalam mengadakan pembedaan fungsi-fungsi kekuasaan itu adalah Montesquieu dengan teori trias politica-nya, yaitu cabang kekuasaan legislatif, cabang eksekutif atau administratif, dan cabang kekuasaan yudisial.

Menurut Montesquieu, dalam bukunya “L’Esprit des Lois” (1748), yang

mengikuti jalan pikiran Jhon Locke, membagi kekuasaan negara dalam tiga (3) cabang yaitu; (i) kekuasaan legislatif sebagai pembuat undang-undang; (ii) kekuasaan eksekutif yang melaksanakan; dan (iii) kekuasaan untuk menghakimi atau yudikatif. Dari klasifikasi Montesquieu inilah dikenal pembagia kekuasaan negara modern dalam tiga fungsi, yaitu legislatif ( the legislative function ),

19

(40)

eksekutif ( the executive or adminitrative function), dan yudisial ( teh judicial function ).20

Istilah trias politika berasal dari bahasa Yunani yang artinya “politik tiga

serangkai”. Menurut ajaran trias politika dalam tiap pemerintahan negara harus

ada tiga jenis kekuasaan yang tidak dapat dipegang oleh satu tangan saja, melainkan harus masing-masing kekuasaan itu terpisah.

Ajaran trias politica ini nyata-nyata bertentangan dengan kekuasaan yang bersimaharajalela pada zaman feodalisme dalam abad pertengahan. Pada zaman itu yang memegang ketiga kekuasaan dalam negara iyalah seorang raja, yang membuat sendiri undang-undang, yang menjalankannya dan menghukum segala pelanggaran atas undang-undang yang dibuat dan dijalankan oleh raja tersebut.21

Pengalaman ketatanegaraan indonesia, memandang istilah “pemisahan

kekuasaan” ( separation of power ) itu sendiri cenderung dikonotasikan dengan

pendapat Montesquieu secara absolut. Konsep pemisahan kekuasaan tersebut dibedakan secara diametral dari konsep pembagian kekuasaan ( division of power ) yang dikaitkan dengan sistem supremasi MPR yang secara mutlak menolak ide pemisahan kekuasaan ala trias politika Montesquieu.22

20

Jimly Assiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 282-283.

21

C.S.T. Kansil, Sisitem Pemerintahan Indonesia, ( jakarta : bumi aksara, 1993 ), h. 11.

22

(41)

31

1. Kekuasaan legislatif

Kekuasaan untuk membuat undang-undang harus terletak dalam suatu badan yang berhak khusus untuk itu. Jika penyusunan undang-undang tidak diletakkan pada suatu badan terentu, maka mungkinlah tiap golongan atau tiap orang mengadakan undang-undang untuk kepentingannya sendiri.

Indonesia sebagai negara yang menganut paham demokrasi maka peraturan perundangan harus berdasarkan kedalatan rakyat, maka badan perwakilan rakyat yang harus dianggap sebagai badan yang mempunyai kekuasaan tertinggi untuk menyusun undang-undang dan ialah yang dinamakan

legislatif.23

Lembaga Perwakilan Rakyat memiliki empat (4) fungsi pokok yaitu sebagai berikut:

a. Fungsi representasi (perwakilan) 1) Representasi formal

2) Representasi aspirasi b. Funfsi pengawasan (kontrol)

1) Pengawasan atas penentuan kebijakan (control of policy making) 2) Pengawasan atas pelaksanaan kebijakan (control of policy executing) 3) Pengawasan atas penganggaran dan belanja negara (control of budgeting)

23

(42)

4) Pengawasan atas pelaksanaan anggaran dan belanja daerah (control of budget implementation)

5) Pengawasan atas kinerja pemerintahan (control of goverment performances)

6) Pengawasan terhadap pengangkatan pejabat publik (control of political appointment of public officials) dalam bentuk pengawasan atau penolakan, ataupun dalam bentuk pemberian pertimbangan oleh DPR. c. Fungsi pengaturan atau legislasi menyangkut empat bentuk kegiatan, yaitu:

1) Prakarsa pembuatan undang-undang (legislative initiation) 2) Pembahasan rancangan undang-undang ( law making process)

3) Persetujuan atas pengesahan rancangan undang-undang (law enactment approval)

4) Pemberian persetujuan pengikatan atau ratifikasi atas perjanjian atau persetujuan dan dokumen-dokumen hukum yang mengikat lainnya (binding decision making on international agreement and treaties or other legal binding documents).

d. Fungsi deliberasi dan resolusi konflik:

1) Perdebatan publik dalam rangka rule and policy making 2) Perdebatan dalam rangka menjalankan pengawasan

(43)

33

4) Memberikan solusi saluran damai terhadap konflik sosial24 2. Kekuasaan eksekutif

Kekuasaan menjalankan undang-undang ini dipegang oleh kepala negara. Kepala negara tentu tidak dapat dengan sendirinya menjalankan segala undang-undang ini. Oleh karena itu kekuasaan dari kepala negara dilimpahkannya (didelegasikannya) kepada pejabat-pejabat pemerintahan/negara yang bersama-sama merupakan suatu badan pelaksana undang-undang (badan eksekutif). Badan inilah yang berkewajiban menjalankan kekuasaan eksekutif.25 Cabang kekuasaan eksekutif adalah cabang kekuasaan yang memegang kewenangan administrasi pemerintahan negara tertinggi.26

3. Kekuasaan yudisial

a. Kedudukan kekuasaan kehakiman

Pemisahan kekuasaan juga terkait erat dengan independensi peradilan. Dalam sistem negara modern, cabang kekuasaan kehakiman atau judiciary

merupakan cabang yang diorganisasikan secara tersendiri. Prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power) itu menghendaki bahwa para hakim dapat

24

Jimly Assiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 309-310.

25

C.S.T. Kansil, Sistem Pemerintahan Indonesia, h. 12.

26

(44)

bekerja secara independen dari pengaruh kekuasaan eksekutif dan legislatif.27

Salah satu ciri yang dianggap penting dalam setiap negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) ataupun negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum (constitutional democracy) adalah adanya kekuasaan kehakiman yang independen dan tidak berpihak (independent and impartial). Apa pun sistem hukum yang dipakai dan sistem pemerintahan yang dianut, pelaksanaan theprinciples of independence and impartiality of the judiciary harus benar-benar dijamin di setiap negara demookrasi konstitusional.28

b. Beberapa prinsip pokok kehakiman

Secara umum dapat dikemukakan ada dua prinsip yang biasa dipandang sangat pokok dalam sistem peradilan, yaitu (i) teh principle of judicial independence, dan (ii) the principle judicial impartiality. Kedua prinsip ini diakui sebagai prasyarat pokok sistem di semua negara yang disebut hukum modern atau modern constitutional state.

Prinsip independensi itu sendiri antara lain harus diwujudkan dalam sikap para hakim dalam memeriksa dan memutus perkara yang dihadapinya. Di samping itu, independensi juga tercermin dalam berbagai pengaturan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan, masa kerja,

27

Jimly Assiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, h. 310.

28

(45)

35

pengembangan karier, sistem penggajian, dan pemberhentian para hakim. Prinsip kedua yang sangat penting adalah prinsip ketidakberpihakkan (the principle of impartiality). Dalam praktik, ketidakberpihakkan atau

impartiality itu sendiri mengandung makna dibutuhkannya hakim yang tidak saja bekerja secara imparsial (to be impartial), tetapi juga terlihat bekerja secara imarsial (to appear to be imparcial). Dalam the bangalore principle,

tercantum adanya enam (6) prinsip penting yang harus dijadikan pegangan bagi para hakim di dunia, yaitu prinsip-prinsip independence, impartiality, integrity, propriety, equality, dan competence and diligence.29

29

(46)

36

A.Sejarah dan Dasar Hukum Peradilan Hubungan Industrial 1. Zaman Hindia Belanda

Zaman Hindia Belanda, perselisihan perburuhan biasanya dibeda-bedakan antara perselisihan hak (rechtsgeschillen) dan perselisihan kepentingan (belangen-geschillen). Reglement op de rechtelijke organisatie en het beleid der justitie in indonesie (R.O. Stbl. 1847 nr. 23) pasal 116g menetapkan bahwa perselisihan hak diadili oleh hakim residensi (residentie rechter). Perselisihan hak dianggap terjadi karena salah satu pihak melakukan wanprestasi atau melanggar perjanjian kerja. Anggapan ini merupakan penjelmaan dari prinsip-prinsip umum hubungan kerja yang berkembang dalam alam liberal. Hubungan kerja dipandang sebagai perjanjian yang secara bebas diadakan para pihak yang kedudukannya sama kuar dengan tujuan tukar menukar pekerjaan dengan pembayaran upah. Jadi dianggap sebagai perjanjian biasa sebagaimana perjanjian yang diatur dalam Undang-Undang hukum perdata (KUHPerdata). Oleh karena itu, penyelesaian perselisihan hak merupakan yurisdiksi hakim residensi (semacam peradilan negeri).1

Adapun penyelesaian perselisihan kepentingan diproses oleh dewan pendamai (verzoeningsraad). Tugas dewan pendamai adalah memberi

1

(47)

37

perantara jika diperusahaan timbul atau akan timbul perselisihan perburuhan yang akan atau telah mengakibatkan suatu pemogokan atau dapat merugikan kepentingan umum. Pada tahun 1939 ditetapkan peraturan tentang panitia penyelidik perselisihan perburuhan di perusahaan swasta di luar perusahaan kereta api dan trem (Stbl. 1939 No. 407). Menurut peraturan ini, jika timbul perselisihan perburuhan diusahakan pendamaian dan anjuran oleh seorang atau beberapa orang pegawai atau suatu panitia yang ditunjuk oleh direktur justisi.2

Meskipun pada zaman penjajahan, hubungan perburuhan baru ada pada titik awal, namun pemerintah hindi belanda telah menyiapkan institusi dan peraturan untuk melindungi tenaga kerja. Bahkan perselisihan perburuhan sudah mulai mendapat perhatian dari pemerintah dan disalurkan dengan baik.sedangkan selama pendudukan Jepang , gerakan buruh sangat tertekan. Bahkan organisasi buruh yang bebas dihapuskan dan dalam kondisi ekonomi perang, perekonomian dihadapkan pada kesulitan yang luar biasa. Industri yang ada dialihkan untuk mendukung kepentingan perang. Dengan demikian kondisi kehidupan hubungan industrial ada pada titik nadirnya.3

2

Imam Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, h, 8.

3

(48)

2. Pasca Kemerdekaan

a. Instruksi Mentri Perburuhan No. PBU 1022-45/U 4091 Tahun 19511 Sebelum pengakuan kedaulatan, perselisihan perburuhan belum meningkat pada taraf yang penting, karena pada waktu itu rakyat indonesia termasuk buruh dan organisasinya sibuk mencurahkan perhatian pada cita-cita kemerdekaan. Oleh karena itu, perjuangan buruh pada waktu itu cenderung bersifat politis. Lagipula perusahaan-perusahaan yang penting dikuasai negara sehingga perselisihan antar buruh dan majikan tidak terasa. Setelah pengakuan kedaulatan, kaum pekerja menyadari hal-hal yang sebelumnya masih bersifat perjuangan politis, sedikit demi sedikit mulai menuntut soal kesejahteraan sosial, perbaikan upah, tunjangan, jaminan kesehatan dan lain-lain. Aksi mereka tidak selalu berjalan mulus. Kadang-kadang malah mendapattantangan dari pihak majikansehingga terjadi perselisihan perburuhan yang berujung pada aksi pemogokan.

Pemerintah pada priode ini sagat mendorong kehidupan demokrasi dan pertumbuhan serikat pekerja menjamin hak berorganisasi, sayangnya dalam kehidupan berorganisasi, tujuan hubungan industrial untuk mencapai ketenangan kerja mengalami kendala karena organisasi pekerjanya terfragmentasi mengikuti polarisasi ideologi politik. Posisi buruh menjadi lemah dan kesejahteraannya kurang mendapat perhatian.4

4

(49)

39

Sampai pada pemulaan tahun 1951, indonesia belum mempunyai Undang-undang yang khusus untuk menyelesaikan perselisihan perburuhan. Sengketa yang terjadi antara majikan dan buruh diselasaikan dan diurus oleh mereka sendiri secara sukarela dan kapan perlu di intervensi oleh pegawai kementrian perburuhan baik di daeraha maupun pusat yang berpedoman pada instruksi mentri perburuhan tanggal 20 Oktober 1950 no. Pbu 1022-45/u 4091 tentang cara penyelesaian perselisihan perburuhan. Kantor-kantor perburuhan memproses penyelesaian secara aktif melalui perantara atau pendamaian dan jika dikehendaki oleh para pihak yang berselisih dapat diselesaikan melalui pemisahan.5

b. Peraturan Kekuasaan militer No. 1 Tahun 1951

Cara penyelesaian perselisihan perburuhan yang bersifat sukarala ternyata tidak dapat mengatasi situasi kegelisahan di dunia perburuhan yang terus meningkat akibat pemogokan yang sangat banyak terjadi. Oleh karena itu, berdasarkan Undang-Undang keadaan perang dan territorium mengeluarkan peraturan yang oleh umum dikenal sebagai larangan mogok di perusahaan-perusahaan vital. Akan tetapi pemogokan terus terjadi dan sebagai upaya meredakan situasi yang tidak menentu pada waktu itu. Kekuasaan militer pusat dengan persetujuan dewan

5

(50)

menteri menetapkan peraturan penyelesaian pertikaian perburuhan (peraturan kekuasaan militer tanggal 13 Februari 1951 No. 1).6

Menurut peraturan ini, penyelesaian perlisihan di perusahaan vital diputuskan secara mengikat oleh panitia penyelesaian pertikaian perburuhan (P4) yang berada di pusat. Sedangkan perselisihan perburuhan di perusahaan yang tidak vital di selesaikan secara mendamaikan (conciliation) oleh instansi penyelesaian pertikaian perburuhan (IP3) di daerah-daerah. Apabila usaha penyelasaian pertikaian oleh instansi tidak berhaasil, maka kasusnya diajukan kepada P4 untuk memperoleh anjuran terakhir.7

c. Undang-Undang Darurat Nomor 16 Tahun 1951 Tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan

Peraturan kekuasaan militer juga dianggap tidak begitu efektif mengatasi persoalan di bidang perburuhan terutama dalam hal pelaksanaannya. Peraturan ini pada hakekatnya melarang buruh untuk mogok. Larangan mogok ini dianggap bertentangan dengan pasal 21 UUDS 1950. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah pada 17 september 1951 mencabut Peraturan Kekuasaan Militer Nomor 1 tahun 1951 dan menetapkan UU Darurat Nomor 16 Tahun 1951 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan. Meskipun Undang-Undang darurat ini belum sempurna tetapi dalam beberapa hal sudah dianggap sebagai

6

Imam Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan, h. 132.

7

(51)

41

pembaruan jika dibandingkan dengan peraturan kekuasaan militer tersebut. Tujuan Undang-Undang darurat adalah menyelesaikan perselisihan antara buruh dan majikansecara damai sebelum mempergunakan senjata pemogokan atau lock out (penutupan perusahaan).8

Perselisihan hak menurut reglement op de rechtlijke organisatieen het beeid der justitie jo. Undang-Undang darurat tersebut masuk wewenang pengadilan negeri. Oleh karena itu, soal perselisihan hak dapat diajukan kepada pengadilan negeri disamping perkaranya diurus oleh panitia yang diadakan oleh Undang-Undang darurat tersebut. Sedangkan buruh perseorangan hanya dapat megajukan perkara perselisihan hak kepada pengadilan negeri.9

Sedangkan perselisihan kepentingan diselesaikan melalui beberapa tahapan. Pertama melalui perundingan dan apabila gagal diajukan ke panitia penyelesaian perselisihan perburuhan daerah (P4D). Jika proses P4D juga gagal, dapat diajukan ke panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat 9P4p). Putusan P4P dapat berupa anjuran atau putusan yang mengikat. Yaitu apabila dianggap perlu untuk mengakhiri

8

Wirjono Projodikuro, Hukum Perdata tentang Persetujuan Tertentu (Bandung: Ghali Bandung 1961), h. 83.

9

(52)

perselisihan disuatu perusahaan yang amat penting yang dapat membahayankan kepentingan umum atau kepentingan negara.10

Pelaksanaan Undang-Undang darurat seringkali mendapat kecaman dari pihak serikat buruh karena dianggap sebagai peraturan pengkangan hak mogok. Pihak yang hendak mengadakan tindakan (pemogokan atau penutupan perusahaan) harus memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada P4D. Pelanggaran atas ketentuan ini diancam dengan pidana. Rangkaian ketentuan ini tidak memungkinkan serikat buruh untuk menekan pihak majikan dengan jalan pemogokan.11

d. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 Tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1964 Tentang Pemutusan Hubungan Kerja

Pemerintah dengan persetujuan perlemen pada tanggal 8 april 1957 mengeluarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1957 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan yang dinyatakan mulai berlaku 1 juni 1958 dan sekaligus mencabut Undang-Undang darurat Nomor 16 tahun 1951.12 Menurut Undang-Undang ini, perselisihan perburuhan adalah pertentangan antara majikan atau perkumpulan majikan dengan serikat buruh atau gabungan serikat buruh. Berhubung dengan tidak

10

Supomo Soeparman, Hukum Acara Peradilan Hubungan Industrial: Tata Cara Penyelesaian Sengketa Perburuhan, h. 11.

11

Supomo Soeparman, Hukum Acara Peradilan Hubungan Industrial , h. 13.

12

(53)

43

adanya persesuaian paham mengenai hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan perburuhan.13

Undang-Undang tersebut hanya mengatur penyelesaian perselisihan antara majikan dan serikat buruh. Perselisihan antara majikan dan buruh perseorangan atau sekelompok buruh tidak lagi diatur. Dengan hanya memperkenankan serikat buruh atau gabungan serikat buruh untuk berperkara, dikandung maksud agar semua buruh akan masuk menjadi anggota serikat buruh. Di era Undang-Undang ini semua jenis perselisihan merupakan wewenang panitia penyelesaian perselisihan. Dengan demikian maka perselisihan hak tidak lagi menjadi wewenang pengadilan negeri.14

Hal terpenting dari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1957 adalah perubahan susunan panitia penyelesaian perselisihan. Di puasat tidak lagi terdiri dari menteri-menteri dan di daerah tidak hanya terdiri dari wakil-wakil kementrian, tetapi susunannya sudah berbentuk dewan tripartit dengan ketua wakil kementrian perburuhan dan anggota terdiri dari wakil-wakil kementrian perindustrian, keuangan, pertanian, perhubungan, lima wakil buruh dan lima wakil pengusaha.15

13

Supomo Soeparman, Hukum Acara Peradilan Hubungan Industrial: Tata Cara Penyelesaian Sengketa Perburuhan, h. 15.

14

Imam Soepomo, Pengantar Hukum Perburuhan , h. 137.

15

(54)

Susunan panitia penyelesaian perseisihan dengan demikian, perbandingan wakil pemerintah, buruh dan pengusaha pada pnitia daerah dan pusat adalah 5:5:5 dengan adanya badan tripartit ini diharapkan penyelesaian perselisihan perburuhan akan lebih dapat mempertimbangkan keentingan buruh, pengusaha dan umm sebagai kepentingan bersama.16

Tahap penyelesaian perselisihan terlebih dahulu harus diselesaikan melalui perundingan. Jika proses perundingan gagal maka para pihak dapat memilih penyelesaian melalui arbitrase. Jika para pihak tidak memilih arbitrase maka penyelesaian perselisihan diserahkan kepada pegaewai perantara. Perselisihan yang tidak selesai di tahap perantara, selanjutnya diserahkan kepada panitia penyelesaian perselisihan perburuhan daerah (P4D). P4D berhak memberikan putusan yang bersifat anjuran dalam hal-hal tertentu dan berhak pula memberikan putusan yang bersifat mengikat. Terhadap putusan P4D yang bersifat mengikat, salah satu pihak dapat melakukan permintaan pemeriksaan ulang pada panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat (P4P). Putusan P4P bersifat mengikat dan dapat dilaksanakan dalam waktu 14 hari setelah putusan itu, apabila menteri perburuhan tidak membatalkan putusan atau menunda putusan tersebut untuk kepentingan umum. Hal lai yang sangat mendasar adalah dengan ditetapkannya putusan panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat (P4P) sebagai objek sengketa tata usaha

16

(55)

45

negara, sebagaiamana diatur dalam Undang-Undang nomor 5 tahun 1986 tentang peradilan tata usaha negara. Dengan adanya ketentuan ini, maka jalan yang harus ditempuh baik oleh pihak pekerja/buruh maupun oleh pengusaha untuk mencari keadilan menjadi semakin panjang.17 Dengan demikian maka putusan P4P tidak lagi mengikat dan final karena dapat digugat di pengadilan tinggi tata usaha negara (PTTUN). Untuk selanjutnya, terhadap putusan PTTUN yang ditolak, dapat diajukan kasasi ke mahkamah angung.

e. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Puluhan tahun lamanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1964 ini berlaku, sampai akhirnya dicabut setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang penyelesaian perselisihan hubungan industrial (UU PPHI) pada tanggal 14 januari 2004.

Dalam konsiderannya antara lain dinyatakan bahwa dalam era industrialisasi, masalah perselisihan hubungan industrial menjadi semakin meningkat dan kompleks, sehingga diperlukan institusi dan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang cepat, tetap adil dan murah.

17

(56)

Penjelasan umum menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 tidak dapat lagi mengakomodasi perkembangan yang terjadi karena hak-hak pekerja/buruh perseorangan belum terakomodasi untuk menjadi pihak dalam perselisihan hubungan industrial. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1957 hanya mengatur penyelesaian perselisihan hak dan perselisihan kepentingan secara kolektif.18

Lahirnya UU PPHI ini membawa perubahan fundamental, utamanya mengenai mekanisme yang harus ditempuh dalam setiap perselisihan. Karena atas dasar UU PPHI inilah didirikannya pengadilan hubungan industrial dalam lingkungan peradilan umum (dalam hal ini pengadilan negeri).19 Hal ini juga membawa perubahan baik dari segi kelembagaan, mekanisme maupun mengenai jenis-jenis perselisihan hubungan industrial. Dengan demikian, maka mulai tahun 2006 komunitas perburuhan di indonesia memasuki babak baru dalam tata cara penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

B.Penyelesaian Sengketa Di Lingkungan Peradilan Hubungan Industrial 1. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Luar Pengadilan

Penyelesaian Sengketa Hubungan Industrial sebelum dilangsungkan di pengadilan negeri selalu diupayakan dilaksanakan penyelesaian

18

Gunawan Oetomo, Pengantar Hukum Perburuhan dan Hukum Perburuhan di Indonesia (Jakarta: Dradhika Binangkit Press, 2006), h. 102-103.

19

(57)

47

sengketa hubungan industrial di luar pengadilan, dengan maksud agar ada upaya damai antaran ke duabelah pihak, namun apabila antara mereka tidak bisa di damaikan barulah penyelesaian sengketa di lakukan melalui pengadilan negeri atau litigasi. Jenis perselisihan hubungan industrial sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 2 UU 2/2004 meliputi: (a) Perselisihan hak, (b) Perselisihan kepentingan, (c) Perselisihan pemutusan hubungan kerja; dan (d) Perselisihan antarserikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan.

Adapun tata cara penyelesaian perselisihan hubungan industrial di luar pengadilan (non litigasi), terdiri atas:

a. Penyelesaian Melalui Bipartit

Penyelesaian perselisihan yang terbaik adalah penyelesaian oleh para pihak yang berselisih secara musyawarah mufakat tanpa ikut campur pihak lain, sehingga dapat memperoleh hasil yang menguntungkan kedua belah pihak.20 Perundingan Bipartit adalah perundingan antara pekerja/ buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. Pasal 3 ayat (1) UU 2/2004 mengatur secara substansial bahwa: "Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat." Selanjutnya, Pasal 136 ayat (1) UU 13/2003, juga mengatur bahwa: "Penyelesaian perselisihan

20

(58)

hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara musyawarah untuk mufakat." Perundingan bipartit, merupakan:21 "Perundingan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dan pekerja atau serikat pekerja/serikat buruh atau antara serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pekerja/serikat buruh yang lain dalam satu perusahaan yang berselisih."

Dari ketentuan tersebut pada gilirannya diperoleh pemahaman bahwa setiap perselisihan hubungan industrial, apa pun jenis perselisihannya, wajib untuk terlebih dahulu diupayakan penyelesaiannya secara bipartit. Dengan pengungkapan kata yang lain, prosedur dan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial secara bipartit adalah bersifat imperatif. Sekiranya para pihak yang berselisih berkeinginan untuk menyelesaikan perselisihannya dengan mekanisme lain, seperti halnya mediasi, konsiliasi, arbitrase, ataupun melalui PHI, mekanisme tersebut baru bisa ditempuh jika sebelumnya telah ditempuh cara penyelesaian secara bipartit.

b. Penyelesaian Melalui Mediasi

Penyelesaian melalui mediasi (mediation) ini dilakukan melalui seorang penengah yang disebut mediator. Mediasi adalah intervensi terhadap suatu sengketa oleh pihak ketiga yang dapat diterima, tidak berpihak dan netral serta membantu para pihak yang berselisih mencapai

21

(59)

49

kesepakatan secara sukarela terhadap permasalahan yang disengketakan.22

UU PPHI pasal 1 angka 11 menyebutkan bahwa Mediasi Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediasi adalah penyelesaian perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antarserikat pekerja/serikat buruh hanya dalam suatu perusahaan melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral. Sedangkan mediator Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediator adalah pegawai instansi pemerintah yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan yang memenuhi syarat-syarat sebagai mediator yang ditetapkan oleh menteri untuk bertugas melakukan mediasi dan mempunyai kewajiban memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja, dan perselisihan antarserikat pekerja/serikat buruh hanya dalam suatu perusahaan.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku umum, penyelesaian sengketa melalui mediasi tidak terdapat unsur paksaan antarpara pihak dan mediator, para pihak meminta secara sukarela kepada mediator untuk membantu penyelesaian konflik yang terjadi. Oleh karena itu, mediator hanya berkedudukan membantu para pihak agar dapat mencapai kesepakatan yang hanya dapat diputuskan oleh pihak yang berselisih.

22

Figur

Grafika, cet-2, 2012.
Grafika, cet-2, 2012. p.20

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di