·:I
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Srnjana Pendidikan Agama Islam
'1!
Oleh: -Hasan Mustofa Nim : 0011017745
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMUTARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SY ARIF HIDAY A TULLAR
Slaipsi
Diajukan kepada Fakultas !lmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam
Oleh Hasan Mustofa NIM: 0011017745
Di Bawah Bimbingan
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISILAM FAKUL TAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSIT AS ISLAM NEGERI SY ARIF HIDAYATULLAH
Skripsi yang berjudul "Rasulullah Sebagai Pendidik Pe1·spektif al-Qur'an" telah diujikan pada sidang Munaqasah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Juli 2005 Skripsi ini telah diterima sebagi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata Satu ( S 1) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 12 Juli 2005 Sidang Munaqasah
Ketua Sidang merangkap anggota
Penguji I
Drs. H. Abdul Fatah Wibisono, M.Ag NIP. 150 236 009
Sekretaris merangkap anggota
segala karunia dan hidayah-Nya yang telah dilimpahkan, sehingga penulis berhasi!
menyelesaikan skripsi dengan judul: "Rasulullah sebagmi pendidik perspektif 。ャセ@
Qur'an" dan dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa
terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, yang telah membawa manusia
ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. Karya tulis ini merupakan hasil perenungan dan
pemahaman penulis yang cukup mendalam yang diharapkan mampu memberikan
corak tersendiri dalam khasanah pendidikan, terutama yang bersangkuian dengan
pendidik. Tetapi hasil ini bukan merupakan sebuah karya besar yang patut di buat
pegangan karena didalamnya masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu
ditambahkan. Harapan penulis kelak ada penerus yang bisa meneruskan bahkan
mementahkan hasil karya ini.
Karya tulis ini merupkan skripsi yang diajukan kepada fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan UIN Syarif Hidayatu!lah Jakarta sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar kesaijanaan SI (Strata I).
Se!ama penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan, motivasi,
dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
.•
wawasan di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
2. Ketua jurusan Pendidikan Agama Islam beserta staf-stafnya, yang telah banyak membantu penulis saat menjalani kuliah dan ketika penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya selaku dosen pernbimbing skripsi, yang telah banyak meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran untuk membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Pirnpinan Perpustakaan UIN Syarif 1-Iidayatullah Jakarta bese1ta ウエ。ゥセウエ。ヲョケ。@
dan perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan beserta staf-stafnya, yang telah berkenan meminjamkan buku-buku perpustakaan kepada penulis. 5. Kepada para dosen yang telah mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan
dan pengalaman kepada penulis dengan penuh kesungguhan serta penuh kesabaran.
6. Kepada Ayah dan Ibunda tercinta yang bersusah payah mendidik dan membimbing penulis dari sejak kecil sampai sekarang.
7. Kakak-kakak yang tercinta Parhan, Maisarah, dan adik-adik tercinta Sulaiman, Faisal, Maksum, Madkur, Nabilul Ulum dim M. Nur Parisi yang telah memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis untuk terus menuntut ilmu.
yang telah mendorong penulis untuk dapat menyelesaikan penyususnan
skripsi ini. Terima kasih atas cintanya.
Kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya serta panjatkan doa semoga
amal kebajikan mereka diterima disisi-Nya se1ia diberikan pahala yang berlipat
ganda. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang sederhana ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya serta bagi para pembaca pada umumnya. Kritik
dan saran sangat penulis harapkan agar skripsi ini menjadi baik lagi.
Jakarta, 15 Juni 2005
Penulis
Kata Pengantar ... ... iv
Daftar lsi... .... ... ... ... . .. ... ... .. ... ... .. .. . .... .. .. ... .... .. .. ... .. .. . .. ... .... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
.
A. Latar Belakang Masalah ... ... .. .... .... .. .. ... .. .. .. .. .. ... ... ... .. I B. Pembatasan dan Perumusan Masalah .. .. .. ... .. .. ... ... ... 8C. Kajian Pustaka ... 9
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
E. Metodologi Penelitian ... 11
F. Sistematika Penulisan ... ... ... ... ... ... ... 13
BAB II PENDIDIKAN PERSPEKTIF AL-QUR'AN ... 14
A. Pengertian Pendidikan Islam ... ... ... ... ... 14
B. Ungkapan A-Qur'an Mngenai Pendidikan ... 19
C. Tujuan Pendidikan Islam... 21
BAB III RASULULLAH SEBAGAI PENDIDIK PERSPEKTIF AL-QUR'AN ... 27
A. Sifat-sifat Rasulullah Sebagai Pendidik Menurut AlQur'an Surat Ali Imran Ayat 79 dan 159 ... 27
D. Rasulullah Sebagai Pembawa Rahmat Bagi Seluruh Alam ... 45
BAB IV PENUTUP ... 49
A. Kesimpulan ... 49
B. Saran-saran ... 50
Daftar Pustaka ... 51
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memainkan peranan penting dalam upaya melahirkan sumber
daya manusia, yaitu manusia yang handal dan dapat menjawab semua tantangan
zaman1• Pendidikan Islam, sejauh menyangkut fungsinya, mempunyai peranan
penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sesuai dengan cirinya
sebagai pendidikan agama, secara ideal pendidikan Islam berfungsi dalam penyiapan
sumber d'1ya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi, baik dalam penguasaan
terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam hal karakter, sikap moral,
pemghayatan dan pengalaman ajaran agama. Singkatnya pendidikan Islam secara
ideal berfungsi membina dan menyiapkan anak didik' yang berilmu, berteknologi,
berketerampilan tinggi dan sekaligus beriman dan beramal saleh. 2 Sebagai sumber
utama dan pertama, Al-Qur'an yang secara harfiah berarti "bacaan sempuma"
merupakan suatu pilihan Allah yang sungguh tepat. Ia layaknya sebuah permata yang
1
'{as1nadi, "Aifodernasi Pesanlren", Kritik Nurcho/is Madjid 1'erhadap Pendidikan lsla1n
lradisional, (Jakarta: Ciputat pers, 2002), eel I, h.152
2
Azyumardi Azra, "Pendidikan Jsla1n", Tradisi Dan Modernisasi Menu1u Milenhun Baru,
(Jakarta: Logos Waeana Ilmu, 1999), eet. I, h.56-57.
memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.'
Al-Qur' an juga telah mengintroduksikan dirinya sebagai "pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lurus". Petimjuk-petunjuknya bertujuan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Rasulullah saw, yang dalam ha! in( be1iindak sebagai penerima al-Qur'an, bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, mensucikan dan mengajarkan manusia. Mensucikan dapat di identikan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain ialah mengisi anak didik dengan pengetahuan.4
Al-Qur'an al-Karim, dalam mengarahkai1 pendidikannya kepada manusia, memandang dan memperlakukan makhluk tersebut sejalan dengan unsur ciptaannya; jasmani, aka! dan jiwa atau dengan kata lain "mengarahkan menjadi manusia seutuhnya".'
Dalam kaitannya dengan ha! di atas, Abu! A'la al Maududi, menyatakai1 bahwa manusia dibentuk oleh Tuhai1 dalam suasana yang berbeda.
Pertama,
ia berbeda di dalain suasana dimana dirinya secara menyeluruh diatur oleh hukum Tuhannya.Kedua,
manusia telah dianugerahi kemampuan aka! dan kecerdasan. Dalam uraiaimya, al-Maududi ingin memberikan nuansa berfikir analisis kepada kita bahwa manusia telah diberi keman1puan potensial untuk berfikir, berkehendak bebas 3 M. Quraish Shihab, Wawasan A/-Qur'an: Tafsir Mad/u'J alas Pelbagai Persoalan Umat,(Bandung: M izan, 1997), h. 3
4
M. Quraish Shihab, !vfembumikan Al-Qur 'an, (Jakarta: Mizan, 1992), h. 172
5
dan memilih. Namun pada hakikatnya ia dilahirkan sebagai seorang muslim dalam arti bahwa segala gerak dan tingkah lakunya cenderung berserah diri kepada Penciptanya.'
Oleh sebab itu diutusnya Rasulullah kemuka bumi ini untuk merangsang dan mengarahkan potensi yang dimiliki oleh manusia sebagai khalifah di bumi kejalan yang benar dan diridhai oleh Allal1 swt. Dalam istilah al-Qur'an sebagai "basyiran" (pembawa kabm· gembira) dan "Nadiran" (pengikat dat<mgnya petaka) dalam pribadinya terhimpun semua keutamaa,n nilai-nilai dan dirinya terjauh dari cacat dm1 cela. Allah swt memilihnya diantara makhluk-makhluk-Nya セョエオォ@ menyampaikan risalah-Nya, ia disucikan dari perbuatan jahat, dilindungi dari rencana kejal1atan orang, dipelihara dari berbagai keburukm1 dan disempurnakan pendidikannya.'
Pandangan Syaikh Yasin di atas memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad saw di didik lm1gsung untuk kemudim1 beliau mengajarkan apa-apa yang telah didapat dari Allah swt kepada umatnya sebagaimana firman Allah swt dalam surat m1-Nisa yang berbunyi:
Artinya: "Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu ". (An-Nisa : 113)
6
H. M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 158-159.
7 A;y-Syaikh Khalid Yasien, Muhammad di Mata Cendikiawan Baral, (Jakarta: Gema lnsani
Pribadi Rasulullah merupakan kumpulan dari berbagai kecendekiawanan dan kecerdasan sehingga memungkinkan ia untuk mendirikan umat agama dan negara dari no!, maka mungkin wajarlah ketika semua orang tunduk dan kagum mengenal biografinya yang semerbak wangi sebagai tanda penghormatan dan pengagungan. Keluhuran sifat dan akhlak beliau tidak diragukan lagi bahkan Allah secara tegas membimbing dan mengisyaratkan kepada beliau sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran yang berbunyi:
J ,.. ,.. o.... 0 ,.. ,.. if, ... ) ,.. ,.. \ ...
2..Uj;-
0--
QセZQ@
セQ@
.1.#-
LW
セ@
)J)
セ@
cJ
.\iii
::,,,.
。NZ[NNセ@
セ@
_, ,.. ,.. ,.. ... ,.. ,.. :1' ,,.
セQ@
012"1
セ@
J5-?
G:.;.
Qセᄉ@ [セQ@
J
セセIセj@
セ@
:,J;' ...
13
r6'.p
セオ@
... ,.. ,.. ,,.. ,.. .... ,,.
Artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maajkanlah mereka mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlahdengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya ". (Ali Imron: 159)
0
Iセ@
er
<,?r
iセセ@
1;,
j
<.f'GJ
j);
セ[セiI@
セiI@
;:.,.,\3'.J1
セi@ セZ[[@
0f
;<1
[IエsMセ@
,,. ,,. ,,. ,,. ,. ,. ,,.
,,
..... } Q ... 'JI > } ....
PェLLセjj@
HjsGセI@
yt.:sJI
0;1:;
(JS'
1.:.i
セセI@
1;,Js-
.:fl)
11
,,
..
... "'..
...Artinya: "Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata ): "hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempeiqjarinya ". (QS: Ali lmran: 79)
Secara tidak langsung ayat di atas menggambarkan bahwa Rasulullah saw
setelah mendapat ilmu dari Allah melalui wahyu, beliau tidak lantas sombong dengan
menyuruh umatnya untuk menyembahnya, akan tetapi beliau malah bersikap rabbani
yakni menjadi seorang yang alim yang selalu mengmalkan ilmunya, demikian
menurut Said bin Zubair sebagaimana dikutip oleh Abi Muhammad al-Husain bin
Mas'ud8
Menurut penilaian sebagian kaum orientalis, sosok Rasulullah saw adalah
kumpulan beberapa personifikasi, seorang negarawan, seorang sastrawan, seorang
ilnrnwan dan seorang agamawan yang selalu mendidik clan mengajarkan serta
membimbing umatnya menuju arah keclewasaan beraganm, bermasyarakat, clan
beradab.9 Penilaian di atas sesuai clengan esensi yang terkandung di clalam al-Qur'an
sebagaimana firman Allah swt:
8
Abi Muhammad Alhusain bin Mas'ud, Tafsir al Baghawi, (Beirut: Dar AJ-Kutb Al-Ilmiah 1993), cet.l, Jilid.I, h. 249
Artinya: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. " (QS. Al-Baqarah: 151 ).
Spirit ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa Allah telah memerintahkan kepada seluruh manusia agar mereka bersyukur atas diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi ini dengan membawa semangat dan gairah kesastraan, ketauhidan, pendidikan, penalaran dalam proses pengenalan ke-Tuhan-an dan kemanusiaan seutuhnya. Dan ayat di atas juga memberikan pemahaman kepada kita
bahwa Rasulullah adalah sebagai pendidik bagi umatnya. Menurut Imam Ghazali, Rasulullah adalah seorang Muallim atau pendidik yang materi pendidikannya di dapat dari Allah melalui wahyu. Beliau mempunyai aka! yang meliputi dan menguasai semua tingkatan sosial manusia. Oleh karena itu, setiap kalimat yang beliau lontarkan bahkan setiap hurufnya mengandung Jautan rahasia dan segudang rumus pengetahuan. 10
Nabi Muhammad sebagai Rasul mampu menjelaskan dengan baik dan rijit tentang isi al-Qur'an. Disamping itu, beliau mampu menyelarnatkan umat manusia dari dosa kemusyrikan atau menyekutukan Allah, dan yang paling menakjubkan
'0 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Majmuah Rosail
adalah Nabi Muhammad mampu mengarahkan umatnya kepada kebajikan sebagaimana yang tertera dalam surat Ali Imran ayat: 110 yang berbunyi:
Artinya: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma 'ruf dan mencegah dart yang munkar, dan beriman kepada Allah". (QS: Ali Jmran : 110)
Beliau juga mampu menceritakan dengan baik kisah··kisah umat terdahulu yang tidak pernah dikenal dan didengarkan oleh bangsa Arab sebelumnya, sehingga mereka sangat terkejut dengan ha! itu dan mengakui bahwa cerita itu mereka peroleh setelah Nabi Muhammad diangkat menj.adi Rasul.11
Kemampuan yang luar biasa ini tidak luput dari peran Nabi Ibrahim dan Ismail yang selalu mendambakan kehadiran seorang yang mempunyai kemampuan memaparkan ayat-ayat Allah dengan baik, mampu mengajarkan kitab suci-Nya, mampu mengajarkan ilmu-ilmu agama/hikan1 dan mampu menyelamatkan umat n;anusia dari jurang kemusyrikan.12 Keinginan Nabi Ibrahim dan Ismail tampakjelas dalam doa mereka dalam al-Qur'an surat al-Baqarah: 129 yang berbunyi:
,,.. J ,:. 0
セ@ , '.I-;, . iAセ@ セ@
\J ·'...,'
:...i..J '-:.,.;._;
()
G°'
セM .r"- \" v j ) \' V• • , )
... ... ,,.. ...
0 0 .,,. セ@ >JI
セ|@
...).;i1
,,,.セゥ@
セゥ@
...セjNェ@
...Artinya: "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Ki/ab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah
11
Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jamiul Bayan an Ta'wili Ayat al-Qur'an
(Libanon: Beirut, 1998) Jilid 2. h. 36-37
12
(As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 129). Sebagai pendidik umat Islam, Rasulullah selalu clituntut untuk mendidik mereka dan mengajarkan mereka hakikat dan rahasia-rahasia yang terkandung dalam kitab al-Qur'an agar supaya umatnya selalu senantiasa dalam hidayah dan inayah Allah dengan memperoleh petunjuk al-Qur'an dan cahaya-cahayanya.13
Bertolak dari uraian di atas, penulis ingin berusaha membahas peran Rasulullah saw disamping sebagai penerima risalah dan penyampainya, adalah pendidik/gnru bagi umatnya dengan menggunakan analisis ayat al-Qur'an, dengan judul : "Rasulullah sebagai Pendidik Perspektif al-Qur 'an".
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah.
Untuk lebih memperjelas permasalahan, maka pembahasan dalam skripsi ini dibatasi pada:
a. Pendidikan yang mencakup pengertian, ungkapan al-Qur'an mengenai pendidikan dan tujuan pendidikan Islam
b. Peranan Rasulullah sebagai pendidik dalam perspektif al-Qur'an c. Sifat-sifat Rasulullah sebagai pendidik
d. Rasulullah sebagai penyelamat umat dari kemusyrikan. e. Rasulullah sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam
2. Perumusan Masalah
Persoalan pokok yang perlu dirumuskan dalam skripsi ini adalah "Bagaimana peranan Rasulullah sebagai pendidik, penyelamat umat dari kemusyrikan menurut al-Qur'an.
"Bagaimana sifat-sifat Rasulullab sebagai pendidik menurut al-Qur'an.
C. Kajian Pustaka
Sebenarnya tulisan/karya ilmiah yang ada kaitannya dengan Rasulullab sebagai pendidik cukup banyak, namun penulis di sini ingin mencantumkan satu saja yang mungkin bisa mewakili yang lain. Buku itu berjudul : "Mendidik Anak Bersama Rasulullah" yang dikarang oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh.
Beberapa yang diupayakan agar setiap pendidik mampu memilikinya adalah : a. Memiliki sifat lemah lembut
b. Ramah dan menjauhi sifat bengis c. Hati yang penuh kasih sayang
d. Mengambil yang termudah dari dua urusan selam;i tidak mengandung dosa e. Bersifat fleksibel
f. Manjauhkan diri dari amarah g. Berlaku moderat
Rasulullah dalam memberi pengarahan kepada setiap orang agar selalu bersikap jujur dan melarang keras kepada orang tua yang selalu berbohong kepada anak-anaknya. (Bab IV, h. 187).
Para sahabat dan ulama besar terdahulu telah memahami arti penting seorang gurulpendidik yang baik yang dapat menjadikan anak-anak mereka dapat meraih ilmu pengetahuan yang benar.
-lbnu Sina menjelaskan kriteria seorang guru/ pendidik yang shaleh. Dalam bukunya "As-Siyasah" beliau mengatakan orang tua sebaiknya mencari sosok guru/pendidik yang memiliki akhlak yang baik, berakal, taat dalam menjalankan agamanya, tidak bersifat dengki, komunikatif dalam bergaul dengan anak, tidak kaku/fleksibel, dan mampu membuat anak meresa senang untuk belajar bersamanya. (Bab VII, h. 23 7)
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk menywnbangkan paradigma dam kajian ilmu pendidikan tentang Rasulullah sebagai pendidik menurut al-Qur'an
b. Untuk mmenyumbangkan ide tentang konsep pendidik menunni Islam atau al-Qur'an.
2. Manfaat Penelitian
a. Hasil penelitian manjadi sumbangan berarti s·ebagai bahan untuk
nmengembangkan Teori dalam khasanah ilmu pengetahuan
b. Hasil penelitain ini juga dapat dijadikan acuan bagi para pendidik atau
guru dalam mendidik anak didiknya.
E. Metodologi PeneHtian
Sebagai mana lazimnya sebuah karya ilmiah yang selalu menggunakan
metode penelitian sebagai landasan operasionalnya, maka penulis menggunakan
penelitian kepustakaan (Library r・ウ・セイ」ィI@ untuk mendapatkan data, yakni sebuah
penelitian yang· menggunakan kitab-kitab tafsir, buku-buku, dokumen-dokumen
resmi, maj al ah dan surat kabar, baik sumber yang primer maupun skunder sebagai
bahan rujukan. Sumber rujukan yang akan digunakan dalam penelitian skripsi ini
adalah kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama di abad klasik, pertengahan, dan modern
se1ia sumber-sumber lainnya yang relefa.n.
Metode library research ini nampaknya tak terelakkan mengingat judul skripsi
yang penulis ajukan berkisar pada masalah studi analisis tafsir ayat-ayat yang
berkaitan dengan pendidikan. Adapun metode pembahasan yartg penulis pergunakan
'
dalam penulisan skripsi ini adalah metode diskriptif analisis, yakni dengan
mengumpulkan data secara sistematis dan konsisten, kemudian menganalisa,
tersebut di deskripsikan dan di analisa dengan menggunakan pendekatan tafsir Al-Muqaran.
Metode ini adalah dengan mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang ditulis oleh sejumlah Mufassir, kemudian mengkaji dan menganalisis tafsir-tafsir tersebut, dengan menilai kekurangan-kelebihan serta persamaan-perbedaan di antara tafsir-tafsir tersebut. Kitab-kitab itu mungkin dari generasi salaf ataupun khalaf, baik ma'tsur maupun ma' qui dengan berbagai coraknya.
Dalam pembahasan ini, penulis menggunakan pendekatan metode penafsiran tersebut. Yakni dimulai dengan mengemukakan ayat al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 151, Ali Imran ayat 79, 110, dan 159, dan al-Anbiya' ayat 107 serta terjemahannya, kemudian mengemukakan sejarah turunnya ayat, selanjutnya penulis mengemukakan penafsiran ayat tersebut yang di tulis oleh sejumlah mnfassir dalam kitab tafsir yang penulis kaji, dengan menjelaskan makna kata-kata yang ada dalam ayat tersebut, kemudian mengkaji dan menganalisis tafsir-tafsir tersebut. Akem tetapi penulis tidak terlalu jauh sampai menilai kekurangan-kelebihan serta persamaan-perbedaan di antara tafsir-tafsir tersebut.
Dalam mengan1bil kesimpulan, penulis menggunakan analisis induktif. Dengan m<;tode ini penulis menganalisis masalah-masalah yang bersifat khusus dan kemudian di ambil kesimpulan yang bersifat umum.
Adapun teknik penulisan skripsi ini berpedoman pada "buku pedoman penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang
F. Sistematika Penulisan
Agar penulisan skripsi ini menjadi lebih jelas dan lebih terarah serta mencapai sasaran yang ingin penulis tuju, maka penulis membagi penulisannya menjadi empat bab, dimana setiap bab terdiri dari sub-sub bab.
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
Pendahuluan yang akan membahas tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Menguraikan tentang tinjauan teoritis tentang pendidikan perspektif al-Qur'an yang meliputi pengertian pendidikan Islam, ungkapan al-al-Qur'an tentang pendidikan dan tujuan pendidikan Islam.
Membahas tentang Rasulullah sebagai pendiclik perspektif al-Qur'an yang meliputi sifat-sifat Rasulullah sebagai pendidik yang tergambar dalam al-Qur'an surat Ali Imran 79 clan 159, Rasulullah sebagai penyelamat umat dari kemusyrikan yang tergambar clalam al-Qur'an surat al-Baqarah 151, Rasulullah sebagai pengarah umat kepada kebajikan yang tergambar dalan1 al-Qur'an surat Ali Imran 110 dan Rasulullah sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam yang tergambar dalam al-Qur'an surat al-Anbiyaa' 107
A. Pengertian Pendidikan Islam
Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa Yunani, "paidagogiek", ''pais" bermti anak, "go gos" artinya membimbing/tuntutan; dan "iek" artinya ilmu.
-Jadi pedagogik adalah ilmu yang membicarakan bagaimana memberikan bimbingan
kepada anak. Dalam bahasa Inggris pendidikan diterjemahkan menjadi "education".
"Education" berasal dari bahasa Yunani "educare" yang bermti membawa berkembang1•
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendidikan berasal dari kata "didik"
yang mendapat awalan ''pe" dan akhiran "an" yang artinya proses pernbahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalmn usaha mendewasakan manusia
ュセャ。ャオゥ@ upaya pengajaran dan pelatihan, prosese, perbuatan, cara mendidik2•
Sed::ingkan pengettian pendidikan secara terminologi adalah "aktifitas dan
usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina
potensi-potensi pribadinya, yaitu : rohani (pikir, karsa, rasa, cipta, dan budi nurani) dan
jasmani (panca indera serta keteran1pilan-keterampilan)"3. Menurut Amier Daien
1 Madyo Ekosusilo, R.B. Kasihadi, Dasar-dasar Pendidikan, (Semarang : Effhar Publishing,
1987), cet. 11, h. 12
2 DepDikBud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), cet. X, h. 232
' Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1988), cet. Ill, h.7
Indrakusuma pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa4•
Konferensi pendidikan Islam se-dunia di Mekah (1977) mendefinisikan bahwa pendidikan adalah "suatu proses mengarahkan pertumbuhan rnanusia yang seimbang melalui latihanjiwa, intelek, aka! pikiran, perasaan sertajasmani"5•
Adapun menurut H. Arifin pendidikan adalah "usaha orang dewasa secara sadar untuk membirnbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan anak didik baik dalam bentuk formil maupun non-formil"6. Dalarn Garis-garis Besar
Haluan Negara (ketetapan MPR RI No. IV/MPR/73) dikatakan bahwa, pendidikan pada hakekatnya adalah "usaha sadar untuk rnengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup". Menurut pendapat M. J. Langefeld yang disebut pendidikan ialah "pemberian bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih rnemerlukan"7. Dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 2, 1989 pendidikan di artikan "usaha sadar untuk rnenyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi perannya dimasa yang akan datang"8•
4 Amier Daien Indrakusuma, Pengantar I/mu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, I 988),
h.27
'Jurnal Didaktika Islamik; Vol. I, No. 4, November, h. 5
6
H. M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama (Dilingkungan sekolah dan Keluarga), (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), cet. IV, h. 14
7
H. Sutari Imam Barnadib, Pengantar I/mu Pendidikan Distemalis, (Yogyakm1a : Andi Offset, I 989), cet. XIII, h. 25
Akan tetapi malma pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha
manusia untuk membina kepribadiannya sesuai 、セョァ。ョ@ nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya
peradaban suatu masyarakat, di dalanmya terjadi atau berlangsung suatu proses
pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang
peradaban umat manusia, pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia
melestarikan hidupnya9•
Adapun pendidikan dalam artinya yang luas bermakna merubah dan
memindahkan nilai-nilai kebudayaan kepada setiap individu di dalam masyarakat.
Dari sini dapat kita mengerti bahwa pendidikan itu dapat melalui bermacam-macam
proses, tetapi pada dasarnya berdasm· pada proses pemindahan nilai pada suatu
masyarakat kepada setiap individu yang ada di dalamnya. Proses pemindahm1
nilai-nilai budaya itu melalui bermacam-mac;un jalan 10
Sedangkan pendidikan menurut al Qur'an ialah sebagaimana didefinisikan
para tokoh-tokoh di bawah ini diantaranya adalah :
1. Menurut Almiad D. Mm·imba
Pendidikan Islam ialah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan
hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian ym1g utama
menurut ukuran-ukuran Islam. dengan pengertian lain, seringkali beliau
menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian Muslim, yaitu
9
Tim Dasen FlP-lKIP Malang: Op. Cit. h. 2
10
kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, clan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. 11
2. Menurut Burlian Somad
Pendidikan Islam adalah pe ndidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu, yaitu ajaran Allah. Secara terperinei, beliau mengemukakan, "Pendidikan itu disebut pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas, yaitu:
a. Tujuan membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut ukuran al-Qur'an
b. Isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam al-Qur'an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-haii sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw.12
3. Menurut Hasan Lai1ggulung
Pendidikan Islam ialah pendidikai1 yai1g memiliki 4 macain fungsi, yaitu: a. Menyiapkan generasi muda untuk memgang peranan-peanai1 tertentu
dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
b. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan perai1an-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
c. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memlihara keutuhan dan kesatuan masyai·akat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan epradaban. Dengfil1 kata lain nilai-nilai keutuhan dan kesatuan suatu masyarakat, tidak akfil1 terpelihara yai1g akhirnya menyebabkan kehfil1curai1 masyarakat itu sendiri.
11
Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al Ma'arif, 1980), cet. IV,
h. 23-24
12
Adapun nilai-nilai yang dipindahkan ialah nilai-nilai yang diambil dari lima sumber, yaitu al Qur'an, sunah Nabi, Qiyas, kemaslahatan umum, dan kesepakatan atau ukma' ulama, dan para pemikir Musim yang dianggap sesuai dengsn sumber dasar, yaitu al Qur'an dan sunah Nabi. d. Mendidik anak agar beramal di dunia untuk memetik hasilnya di
akhirat.13
4. Menurut Syekh Muhammad an-Naquib al-Attas
Pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenal dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.14
5. Menurut Ahmad Tafsir
Pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan oleh seorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. 15
6. Menurut Abdurrahman an-Nahlawi
Pendidikan Islam ialah mengarahkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah. 16
13 Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kaipta Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka
Selia, l 9U98), cet. I, h. l 0
14 Syekh Muhammad an-Naquib al·Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan,
1984, cet. Vil, h. I 0
15 Ahmad Tafsir, I/mu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1994), cet. II, h. 24
16 Abdurrahman an Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta:
Basil seminar pendidikan Islam ウセMiョ、ッョ・ウゥ。@ tanggal 7 sampai dengan 11 Mei 1960 di Cipayung Bogar menyatakan bahwa: "Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani danjasmani menurut ajaran
Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuuh, dan
mengawasi berlakunya semua ajaran Islam".
Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang' dewasa kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian Muslim.
Berdasarkan rumusan di atas, dapat dipahami babwa pendidikan Islam merupakan proses membimbing dan membina fitrah peserta didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi peserta didik sebagai Muslim paripurna (Insan al Kami!). Melalui sosok pribadi yang demikian, peserta didik diharapkan akan mampu memadukan fungsi iman, dan amal secara integral bagi terbinanya kehidupan Y<:ng harmonis, baik di dunia dan di akhirat.
B. Ungkapan AI-Qur'au Mengeuai Pendidikan
Istilah pendidikan dalam konteks al Qur'an atau Islam mengacu pacla tiga kata, yaitu: al-Turbiyah HセjャャャIL@ al-Ta'lim HセiIL@ dan al-Ta'dib (!.,.\!_.>till). Al-Tarbiyah HセZ[jiI@
(r:!l;';ll) berasal clari kata
'":il;'; ;..i;Y.-;...t>
yang artinya "mengajar", clan al Ta'dib (w,bJI) berasal clari kata ゥKN^⦅LエLNNZNL⦅LZLエ[LN」LNLセエ@ yang artinya "mencliclik" .17Meskipun ketiga kata tersebut memiliki kesamaan makna, namun secara esensial setiap kata memiliki perbeclaan, baik secara tekstual maupun kontekstuaI.18 Kata al Tarbiyah menganclung arti menanggung, member:i makan, memelihara, membuat, menjaclikan bertambah sebagaimana clalam al Qur'an surat al Fatihah ayat 2
0 ... "' '
o.--. . iセ@ I ;:_,' ;Ji
J:.;.J
I<J.:A-' , • J
Artinya: "Segala Puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam".(Q.S Al Fatihah: 2) Dan clalam surat asy-Syuara ayat 18
Artinya : "Fir'aun menjawab : "Bukankah Kami telah mengasuhmu diantara (keluarga) kami, waktu kami masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu". (QS. Asy Syu'ara: 18)
Al-Ta'lim menganclung arti pengajaran yakni memberikan pengetahuan kepacla seseorang agar mempunyai ilmu pengetahuan. Hal ini tergambar clalam al Baqarah 31-32 yang berbunyi:
(.':$-
セャ@ セセjjN@
セ」T@
jセヲ@
JI.ii
セsiNゥゥ@
jJ:.
セI^@
rf
lセ@
[」セQ@
イセt@ セェ@
... ... ... ...
..
... ... ,..セ|@
...r
:i:11
...セヲ@
2..lf1
...|セセGNャ・@
セ@ セャ@
...d
r-L-
...セ@ キセ@
QIセ@
NセセエNッ@
,,.,.,Artinya: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada Ku nama benda-benda itujika
17
H. Mahmud Yunus, Kamus Arab - Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989),
h. 136, 277
18
kamu memang benar". Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau qjarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha.Bijaksana". (QS. Al Baqarah: 31-32)
Sedangkan al Ta'dib mengandung arti sebuah sisem pendidikan Islam yang di dalamnya ada tiga sub sistem yaitu pengetahuan, pengajaran dan pengasuhan.
Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang_ dewasa kt:pada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.
C. Tujuan Pendidikan Islam
Sebelum penulis menjelaskan tujuan pendidikan Islam 1:erlebih dahulu penulis akan menjelaskan pengertian dari tujuan. Secara etimologi, tujuan adalah "arah, maksud atau haluan".19 Sedangkan secara terminologi, tujuan berarti "Sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai dilakukan". Menurut M. Arifin bahwa tujuan proses pendidikan Islam adalah "idealitas ( cita-cita) yang mengandung nilai-nilai Islam yang hendak di capai dalam proses kependidikan yang berdasarkan ajaran Islan1 secara bertahap.20 Sedangkan menuru.t Ahmad D. Marimba, fungsi tujuan itu ada empat macam, yaitu:
I. Mengakhiri usaha 2. Men,garahkan usaha
3. Merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan lain, baik tujuan-tujuan barn maupun tujuan-tujuan-tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan-tujuan pertama.
19
Armai Arief, Pengantar I/mu dan Metodo/ogi pendidikan Islam, (Jakrta: Ciputat Press, 2002), eel. I, h. I 5
4. Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu .. 21
Sehubungan dengan itu, maka tujuan mempunyai arti yang sangat penting bagi keberhasilan sasaran yang diinginkan, arah satu pedoman yang harus ditempuh, tahapan sasaran, serta sifat dan mutu kegiatan yang dilakukan. Karena itu, kegiatan yang tanpa disertai tujuan, menyebabkan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan kegiatan yang tanpa disertai tujuan, menyebabkan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan kegiatan tersebut men]adi acak-acakan.
Untuk dapat memahan1i lebih jauh mengenai tujuan··tujuan pendidikan Islam. Berikut ini akan penulis uraikan tenatng tujuan pendidikan Islam menurut para ahli pendidikan Islam.
Menurut Zakiah Daradjat tujuan pendidikan agama Islam secara keseluruhan adalah kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa. Insan kamil artinya manusia yang utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena takwanya kepada Allah Swt., ini mengandung arti bahwa pendidikan itu diharapkan inenghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semaldn meningkat dalam alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia dan akhirat.22
21 Ahmad
D. Marimba, Op.cit., h. 45-46
22 Nur Uhbiyanti,
Sedangkan menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan, yaitu pembentukan
Insan Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Imam Ghazali, manusia
dapat mencapai kesempurnaan apabila berusaha mencari ilmu dan selanjutnya
mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipe:lajarinya. Fadilah ini
selanjutnya dapat membawanya dekat kepada Allah dan akhirnya membahagiakannya
di dunia dan akhirat. 23
Secara praktis, Muhammad Athiyah al-Abrasyi, menyimpulkan bahwa tujuan
pendidikan Islam terdiri atas lima sasaran, yaitu (I) membentuk akhlak mulia; (2) mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat; (3) persiapan untuk mencari rizki dan
memelihara segi kemanfaatannya; (4) menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan
peserta didik; (5) mempersiapkan tenaga profesional yang teran1pil.24 Sedangkan
menurut al-Syaibani, bahwa tujuan yang tertinggi pendidikan Islan1 adalah
mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. 25
Menurut Muhammad Fadhil al-Jamaly, tujuan pendidikan Islam adalah
membina pengetahuan atau kesadaran manusia atas dirinya, dan atas sistem
kemasyarakatan Islami serta sikap dan rasa tanggung jawab sosial. Juga memberikan
kesadaran manusia terhadap alam sekitar dan ciptaan Allah serta mengembangkan
23 Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Islam Versi Al Ghazali, alih bahasa
Fathurrahman May dan Syamsuddln Asyrafl, (Bandung: PT. Al Ma'arif, 1986), cet. X, h. 25·26
24
Mohammad Athiyah al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, te1j. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry LIS, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. l-4
25 Omar Muhammad al Thoumy al Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan
ciptaan Nya bagi kebaikan umat manusia. Dan yang lebih utama dari semua itu
adalah ma'rifat kepada pencipta alam dan beribadah kepada Nya dengan cara mentaati
segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.26
Sedangkan menurut M. Djunaidi Dhany tujuan pendidikan Islam adalah
sebagai berikut:
1. Pembinaan kepribadian anak didik yang sempuma
a. Pendidikan harus mampu membentuk kekuatan dan kesehatan badan dan otak (pikiran) anak didik.
b. Sebagai individu, maka anak harus dapat mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.
c. Sebagai anggota masyarakat, maka anak itu hams dapat mempunyai tanggung jawab sebagai warga negara yang baik nantinya.
d. Sebagai pekerja, maka anak itu harus bersifat efektif-produktif dan cinta akan kerja.
2. Peningkatan moral, tingkah laku yang baik dan menanamkan rasa kepercayaan anak itu pada agama dan pada Tuhan.
3. Mengembangkan intelegensi anak secara efektif dan pengertian anak didik agar mereka nantinya dapat mewujudkan kebahagiaannya di masa mendatang. 27
M. Arifin membedakan tujuan teoritis dengan tujuan dalam proses. Tujuan
teoritis terdiri dari berbagai tingkat, antara lain: tujuan intennedier, tujuan ald1ir,
tujuan insidental.
I. Tujuan intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan yang harus di capai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu.
2. Tujuan Insidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier. 3. Tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita
ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin di dunia dan di ald1irat.28
26
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), cet. IV, h. 133
27
Zainuddin, et.al., Seluk Beluk Pendidikan dari Al Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991),
Di lihat dari segi pendekatan, sistem intrul.<:sional dapat dibedakan menjadi: 1. Tujuan instruksional khusus, diarahkan kepada setiap bidang yang harus
dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.
2. Tujuan intruksional umum, diarahkan kepada penguasaan atau pengalaman suatu bidang studi secara umum atau garis besarnya sebagai suatu kebulatan. 3. Tujuan kurikuler, yang ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar
program pengajaran di setiap institusi (lembaga) pendidikan.
4. Tujuan intruksional, adalah tujuan yang harus di capai menurut program pendidikan di setiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu secara bulat atau terminal seperti tujuan institusinal SLTP/SMU atau SMK (tujuan terminal).
5. Tujuan umum, atau tujuan nasional, adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui proses kependidikan dengan berbagai cara atau sistemfonnal (sekolah), sistem nonformal (nonklasikal dan non kurikuler) maupun sistem informal (yang tidak terikat oleh formalitas program waktu, ruang, dan materi).29
Sedangkan rumusan yang lain adalah hasil keputusan seminar pendidikan Islam se-Indonesia dari tanggal 7 sampai dengan 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah "Menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan
berbudi luhur menurut ajaran Islam'. 30
Sedangkan konferensi internasional pe1iama tentang pendidikan Islam di Mekkah pada tahun 1977 merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut: "Pendidikan bertzg'uan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa , intelek, diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspek spiritual, intelektual, imajinati,l fisik, ilmiah, bahasa,
28 Djamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Pustaka
Setia, 1998), cet. I, h. 17
29 !vi.
Arifin, !/mu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 39-40
baik secara individula maupun secara kolektif. dan mendorong semua aspek Int ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan terakhlr pendidilcan Muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah balk secara pribadi, komunitas, maupun seluruh ummat manusia ". 31
31 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modemisasi Menuju Milenium Baru,
A. Sifat-sifat Rasulullah Sebagai Pendidik Menurut al-Qur'an Surat Ali Imran
ayat 79 dan 159
S•Jrat Ali Imran ayat 159
Artinya "Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu erlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maajkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarhlah dengan mereka dalam urusan ini, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya ".(Ali Imran: 159)
Menurut Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya "Al-Dzuru al-Mantsur
ft
al-Tafi'ir al-Ma'tsur" ayat di atas menjelaskan tentang sifat-sifat Rasulullah, yang mana sifat-sifat tersebut telah termaktub juga dalam kitab Taurat yaitu Rasulullah sebagai pendidik umatnya tidalc pernah bersikap keras, tidak berhati kasar dan tidak pernal1 membalas kejahatan seseorang walaupun sebesar apapun, akan tetapi Rasululla11 selalu memberi maaf kepada orang yang berbuat j ahat kepadanya walaupun tan pa diminta dan selalubersalaman antara sesama manusia ketika berpap.asan.1 Lebih lanjut Imam Jalaluddin Abdmrnhman bin Abi Bakar As-Suyuthi menafsirkan bahwa Allah telah mensucikan Rasulullah (dalam ha! ini sebagai pendidik) dlli'i sifat kasar, keras hati bahkan Allah telah menjadikan beliau sebagai sosok yang sangat dekat dengan umatnya ( dalam ha! ini anak didiknya), sangat ramah dan selalu mengerti apa yang dibutuhkan oleh umatnya.2 Senada dengan Imam Jalaluddin Assuyuthi, Abi Ja'far Muhammad bin Jarir al-Thablli'i berpendapat bahwa sifat-sifat Rasulullah yang tertera dalam SUI'at Ali Imran I 59 itu juga terdapat dalam kitab Taurat, Menurut beliau tafsiran ayat di atas ialah; maka dengan rahmat Allah dan belas kasihan-Nya wahai Muhammad dan dengan sebab orang-orang yang beriman kepadamu dari sahabat-sahabatmu maka engkau menjadi lemah lembut terhadap mereka, sehingga kamu diikuti oleh mereka dalam segala tingkah lakumu baik berupa perkataan maupun kelakuan. Tetapi andaikata kamu keras hati dan bersikap kasar, maka niscaya engkat1 akan ditinggalkan oleh mereka dan tidak akan pernah mengikuti apa-apa yang telah engkau sampaikan baik melalui lisan atau tingkah laku.3
Dari pendapat kedua penafsir di atas, penulis bisa menarik kesimpulan bahwa Rasulullah sebagai pendidik umatnya mempunyai sifat-sifat lemah lembut, tidak keras kepala dan selalu menyayangi umatnya, sehingga beliau selalu menjadi panutan
1 Imam Jalaluddin Abdurrahrnan bin Abi Bakar as Suyuti, Al Dzurru al Mantsur
fl
al Taftir alMaks11r, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiah, !990 M/1411 H), cet. I, Juz. 2, h. 159
2
Ibid, h. 159
3
Abi Ja'far Muhammad bin Jarir al Thabari, Jami al Bayan 'an Ta'wili ayi al Qur'an, (Beirut:
umatnya dalam segala tingkah lakunya. Dengan. demikian jika seorang pendidik itu ingin selalu di ikuti oleh anak 、ゥ、ゥャュケセL@ maka ia harus mengikuti apa yang telah di isyaratkan dalam surat Ali Imran ayat 159 di atas, agar materi yang disampaikan oleh pendidik itu menjadi benar-benar diikuti dan selalu diingat oleh anak didiknya. Tetapi kalau seorang pendidik itu bersifat kasar dan keras hati apalagi sangat emosi maka niscaya anak didik itu hanya akan mendapatkan ketakutan dari kekasaran seorang pendidik, sehingga anak hanya mau mengiktlti apa yang disampaikan oleh pendidik karena takut terhadap kekerasannya, bukan keluar dari kesadarannya sendiri. Akhirnya apa yang disampaikan oleh pendidik menjadi sia-sia dan tidak ada manfaatnya.
. ..
[セQ@
J
セェ⦅LgI@
セ@
ZZLL[ZセGL|I@
; .
NKセ」@
セセ@
...
"" "" ,,. ,,.,
Artinya: " ... Maka maajkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ... ". (Ali Imran: 159)
Menurut Abi Ja'far Muhammad bin Jarir al-Thabari Rasulullah di bimbing untuk selalu memberi maaf kepada para pengilrntnya atas segala perbuatan mereka yang menyakiti hatinya atau sekedar tidak disukainya dan selalu memohonkan maghfirah dari Allah atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat oleh mereka serta selalu bermusyawarah dengan mereka dalams segala urusan.4
Lebih lanjut Abi Ja'far menjelaskan bahwa agak janggal kedengarannya ketika Allah swt masih memerintahkan Rasulullah untuk bermusyawarah dengan mnatnya
4
dalam urusannya. Timbul pertanyaan yang cukup mendasar tentang ayat ini? Apa sebenarnya arti ayat
HセQ@
セ@ [j^セセgI@
...
A1tinya : "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu".
Apa gunanya musyawarah bagi seorang Rasulullah? Seberapa jauhkah basil musyawarah itu berguna?
Pertanyaan-pertanyaan di atas oleh sebagian mufassir di jawab sebagaimana dikutip oleh Abi Ja'far Muhammad bin Jair al-Thabari bahwa Allah memerintahkan kepada Rasulullah di dalam ayat di atas untuk bermusyawarah dengan para sahabat dan pengikutnya dalan1 taktik perang dan cara menghadapi musuh berfungsi untuk:
I. Membuat hati mereka menjadi senang. 2. Membuat senang terhadap agama mereka
3. Supaya mereka beranggapan bahwa Rasulul.lah mendengarkan dan mengakomodir pendapat mereka.
4. Supaya mereka beranggaran bahwa mereka mampu menolong Rasulullah dengan pendapat mereka.
Sedangkan menurut mufassir yang lain sebagaimana dikutip oleh Abi Ja'far bahwa Allah swt memerintahkan Rasulullah untuk selalu bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya meskipun Rasulullah sudah mempunyai pendapat sendiri tentang hal yang dimusyarahkan dan telah diketahui oleh Rasulullah bahwa pendapatnyalah yang paling bagus karena telah mendapat bimbingan langsung dari Allah swt, tidak lain hanya karena dalam musyawarah itu mempunyai keutamaan tersendiri yang bisa
5
memperkuat pendapat yang telah ada.6 Menurut bemat penulis memiliki jiwa pemaaf menjadi sangat penting bagi seorang pendidik karena tanpa jiwa itu maka seorang pendidik akan menjadi seorang yang pendendam dan pendendam itu bukan sifat dari orang Ishun secara umum. Tetapi tak kalah pentingnya adalah bahwa seorang pendidik itu -kalau melihat ayat di atas harus mempunyai jiwa pemusyawarah, artinya ia harus selalu bermusyawarah dalam segala urusannya yang menyangkut tentang pendidikan, karena musyawarah mernpunyai perarnm yang sangat penting dalam kehidupan. Bahkan saking pentingnya musyawarah itu sampai-sampai Imam al Hasan bin Abi Hasan sebagaimana dikutip oleh al Qadhi Abi Muhammad Abd al-Haq bin Ghalib bin 'Athiah berkata :
O' \ (/J .. \
セセ@
セ|i@
d'.\ll
セQZPN@
:ii
;.
セZZ@
rj,;
セIgj@
c:
d'.lllj
.... ,,
.. ..
"' "'..
A1tinya : "Tidakalah sebuah bangsa bermusyawarah diantara mereka kecuali Allah akan menunjukkan yang terbaik dihadapan mereka. 7
Bahkan (lanjut Imam al-Hasan) pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab diberi nama Khilafah Syura.8 (Kalau istilah Indonesia Kabinet Musyawarah/ Rernbuk).
Menurut Sufyan Ats-Tsauri bahwa musyawarah ini adalah separuh aka! dan Sayyidina Umar bin Khattab selalu bermusyawarah dalam urusannya walaupun
6
Ibid, h. I 52
7 Al Qadhi Abi Muhammad Abd al Haq bin Ghalib bin 'Athiyah al Andalusi, Al Muharrar al
Qajizji Tafsir al Kitab al Aziz, (Beirut: Dar al Kutub al llmiah, 1993 M/1413 H), cet. I, jiild. I, h. 534
8
dengan seorang perempuan, begitu menurut kutjpan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.9 Menurut hemat penulis, musyawarah atau saling berembuk dalam apapun akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang terbaik. Karena dalam bermusyawarah terdapat barokah yang sangat besar yang sulit diprediksi oleh manusia. Allah swt secara ekslusive memuji umat Islam, karena mereka selalu bermusyawarah dalam urusannya sebagaimana yang tercantum dalan1 al-Qur'an surat Asy-Syura : 3 8, yang berbunyi :
0 ) ,,,o... .... 0 '" 0 J J 0
i"'
セ@ ($ J
_y:;.
('""' /'
)
Artinya : "Dan dalam urusannya, mereka selalu bermusyawarah"· (Asy-Syura : 38)
Kalau kita kaitkan dengan dunia pendidikan, mungkin kita akan sepakat dengan istilah "Dalam pendidikan musyawarah bukan segal.a-galanya, tapi tanpa musyawarah dunia pendidikan tidak akan mengalami kemajuan dan perubahan".
Rapat dengar pendapat, mengakomodir semua aspirasi baik dari atasan atau dari anak didik bahkan dari orang tua/wali murid akan merrjadi satu dalam wadah musyawarah. Seorang pendidik kalau tanpa dibekali dengan jiwa pemusyawarah, maka yang akan terjadi adalah ia akan menjadi sangat otoriter dan sering menampakkan perilaku yang arogan, karena tidak ada perimbangan dan masukan dal'i orang lain melalui musyawarah tadi.
9
Artinya " ... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya'" (Ali Imran: 159) Menurut Al-Qadhi Abi mオィ。ュセQ。、@ Abdul Haq bin Ghalib bin Athiah Al-Andalusi, bahwa ketika Allah telah menunjukkan sesuatu kepada umat-Nya setelah melalui musyawarah sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, maka Allah memerintahkan untuk bertawakkal kepada-Nya, karena tawakkal adalah puncak daripada ijtihad seorang manusia.10 Lebi_h lanjut beliau berkomentar secara keseluruhan ayat di atas sangat berurutan sekali kalau kita kaitkan dengan kenyataan hidup di mana pe1iama kali Rasulullah sebagai pembawa risalah dan sekaligus sebagai pendidik umatnya menuju arah kedewasaan mereka diperintahkan untuk bersifat lemah-lembut, memaafkan, memohonkan ampunan, pemusyawarah dan akhirnya berserah diri kepada sang pencipta. Ini merupakan aturan yang sangat sempurna dari Allah swt.11 Dalam ha! tawakkal Ummu Salamah, istri Rasulullah berkata:
_,, s- "1 .. 0 ,., ,, ,. J \ ,, J a'i ,,
[[⦅[Zセ@
J:. ';.:\\)
<iS-lkJI
J
JJ:.\.:
0p.:
Zs:!)
.Jj_'.,,..;)
PセIGQ@
u:o:,'J
0.o
.'.ill
JP
JS')I
,, ,, ,., ,, ,, ,,,. ... ,, ... ,,
セ@ ,.. 0 J "'0 ,, >
i\Gセ@ '' ",
i
C:,' .wL IAJ\11 'I' • '. J. Ierr."+?
,,, ... J -,.. ,, Nセ@ ,.. , \ヲBoGjセ@,,. ,,A1iinya : "Tawakkal kepada Allah termasuk sebagian dari beberapa fardhu iman dan beberapa pasalnya. Tetapi tawakkal harus dibarengi dengan kesungguhan dalam taal dan mengerahkan segala tenaga dengan semangat yang linggi. Sedangkan berpanf,ku tangan dan yang serupa dengannya bukan termasuk tawakkal". "
'°Al Qadi Abi Muhammad Abd al Haq bin Ghalib bin 'Athiyah al Andalusi, Loe.cit, h. 534
II Ibid, h. 534
12
Dan penafsiran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, setelah kita melakukan usaha yang begitu maksimal seharusnya kita berserah diri kepada Allah swt, karena dengan berserah diri kita akan mendapatkan pertolongan yang tidak disangka, artinya ada banyak ha! yang tidak mampu dirarnpungkan oleh kekuatan aka! manusia bahkan sampai dengan musyawarah sekalipµn.
Begitu pula seorang pendidik, ia harus berserah diri kepada Allah swt setelah ia mengupayakan dan mengerahkan segala teriaganya untuk kemajuan dan kecerdasan anak didiknya melalui aturan-atnran yang diisyaratkan oleh al-Qur'an surat Ali Imran 159 di atas. Tujuannya adalah agar pendidik itu menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa ia telah berupaya esemaksimal mungkin, dan apa yang telah ia usahakan akan kembali sepenuhnya kepadanya.
Diantara sifat-sifat Rasulullah sebagai pendidik tergambar dalam Surat Ali Imran 79.
(V".
Artinya : "Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia : "/-Jendaklah kamu menjadi ー・ョケ・ュ「。ィセー・ョケ・ュ「。ィォオ@ bu/can penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata) : 11
/-Jendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" (Q.S. Ali Imran: 79)
kata
0#!'-i.;
mengandung arti Z\セ@ (orang-orang yang bijaksana), <C.lh (orang-orangyang mengamalkan ihmmya dengan baik dan benar), <Y!'.il (orang-orang yang selalu
melaksanakan semua perintah Allah dan selalu menjauhi segala larangan-Nya) dan
Pセ@ (orang yang selalu memperbaiki dirinya dengan hal-hal yang baik dan
diridhoi Allah)13•
Lebih lanjut Abd Mun'im menafsirkan ayat di atas bahwa tidak pantas, tidak
layak dan tidak bisa diterima oleh aka! sehat ketika seseorang diberikan anugerah
ilmu (menjadi seorang pendidik) dan kenabian serta pemahaman yang baik untuk
menyeru terhadap manusia agar menyembah kepadanya bukan kepada Allah sebagai
penciptanya. Akan tetapi yang pantas adalah menyeru kepada umat manusia agar
mereka menjadi orang-orang yang selalu bertaqwa kepada Allah swt dengan
menjalankan segala apa yang Allah perintahkan dan selalu. menjauhi apa-apa yang
telah dilarang-Nya; menjadi orang-orang yang bijaksana yang selalu mengamalkan
iltmmya serta menjadi orang-orang yang memperbaiki diri disebabkan doa telah
mendapatkan ilmu dan sekaligus telah mengajarkan dan mendidik manusia kepada
kebaikan, petunjuk kejalan yang lurus serta kebajikan, untuk itu seorang pendidik
haruslah ikhlas, bijaksana dan penyabar14•
13 Abd Mun'im Ahmad Tulaib, Fathurrahman Fi Tafsir a/-Qur'an (Kairo : Dar al-Salam,
1995 M/1416 H), cet. I, ha!. 413.
Sedangkan menurut Said Hawa dalam kitab "Al-Asas Fi al-tafsir ",
sebenarnya sifat Rabbani itu merupakan hasil dari ilmu yang ia peroleh.15 Beliau memberikan penjelasan yang cukup mendasar dan sangat bermakna bahwa cukuplah kiranya sebagai tanda usaha yang sia-sia, ketika seseorang mencari dan menuntut ilmu setinggi mungkin, tetapi ilmu yang ia peroleh tidak ia realisasikan melalui amal dengan cara-cara yang ia peroleh 16• Hampir senada dcngan Said Hawa, Said bin
Jubair sebngaimana dikutip oleh Abi Muhammad al-Hasyim berkata bahwa yang dimaksud dengan Rabbani itu adalah selalu mengamalkan ilnm yang telah diperolehnya17.
Me;rnrut Imam Quradhi sebagaimana termaktub dalam kitab "Jami al-Bayan" karangan Abi Ja'far, ayat 79 dari surat Ali Imran di atas merupakan sebuah jawaban terhadap pertanyaan para pendeta Y ahudi dan N asrani kepada Rasulullah ketika beliau mengajak mereka masuk agama Islam18.
Sebenarnya ketika seseorang diberi pangkat atau kedudukan menjadi pendidik dan pengajar umat manusia, lalu dia berharap dan menycrn mereka agar selalu tunduk dan patuh terhadapnya atau sampai menyuruh mereka menyembah kcpadanya bukan
15 Said Hawa, Af-Asas Fi af-Taftir, (Kairo: Dar al-Salam, 1985 M/\405 H) cet. I, jilid. 2,
h. 810.
16
Ibid, h. 810.
17 Abi Muhammad al-Hasyimi bin Mas'ud, Taftir Al-Baqhawi, (Beirut: Dar al-Kutb
al-llmiah, 1993 M) cet. I, Ji lid I, h. 249.
kepada Allah, maka ini merupakan sebuah kesalahan yang sangat besar dan kekeliruan yang tak terampuni 19•
Setelah penulis membaca beberapa tafsir yang ada, penulis menemukan perbedaan, kepada siapa sebenarnya ayat di atas diisyaratkan? Menurut Imam An-Nuqash dkk, isyarah ayat di atas kepada Nabi Isa a.s. sebagai penolak terhadap orang-orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa a.s. sebagai Tuhim yang mereka sembab. Sedangkan menurut lbnu Abbas, Arrabi, lbnu Juraih dan mayoritas mufassirin, babwa ayat di atas isyarahnya kepada Nabi Muhammad saw sebagai pembawa risalah dan pendidik umatnya20•
Penulis lebih cenderung pada isyarah yang kedua, yaitu kepada Rasulullab, artinya Rasulullah sebagai pendidik umatnya tidak boleh sombong, akan tetapi bcliau dituntut untuk mempunyai sifat Rabbani yaitu menyern kepada kebaikan dan kebajikan, ikhlas, sabar dan bijaksana. Begitu kesimpulan yang bisa penulis tarik dari b1tberapa pendapat para mufassir di atas.
Kalau kita kaitkan dengan dunia pendidikan kita akan mendapatkan pemahaman bahwa seorang yang telah belajar dan menuntut ilmu yang tinggi, lalu dia mengajarkan apa yang telab ia peroleh selama ini, maka dia han.1s menjauhi sifat sombong karena sifat sombong itu hanya milik Allab semata, harus sabar menghadapi kenyataan dilapangan, harus bijaksana dalam memberkan keputusan baik
19
Ibid., h. 326
20 Al-Qadhi Abi Muhammad Abd al-1-Iaq bin Ghalib bin Athi.ah al-Andalusia, Loe. Cit,
menyangkut masalah anak didik maupun masalah yang' lain yang berkaitan dengan
kemajuan anak didik.
B. Rasulullah Sebagai Penyelamat Umat dari Kemusyrika111
Keberadaan Rasulullah dan eksistensinya di muka bumi ini merupakan sebuah
anugrah yang sangat besar yang selalu hams di syukuri oleh umat manusia sepanjang
masa, karena beliau merupakan sosok penyempurna nikmat yang telah diberikan oleh
Allah kepada umat manusia. Sehingga dengan adanya Rasulullah saw, kita semua
bisa terhindar dari kotoran-kotoran kemunafikan, sampah-sampah kemusyrikan dan
dosa-dosa menyekutukan Allah, yang pada akhirnya kita semua mampu menjadi
orang yang mengerti dan fahan1 akan tanda-tanda kebesaran Allah, mampu terhindar
dari bahaya musyrik dan yang tak .kalah pentingnya kita mampu belajar dan
mengajarkan kitab Allah dan hikmah diturunkaunya al-Qur'an. Hal ini tergambar
dalam al-Qur'an surat al-Baqarah 151 yang berbunyi:
,, I) I) .. 0 J. "' J. "' ,.. J. ,,. J. .J. JI ) 0 ! ,,..
セ|G@ [Z⦅LセQ@ ' ('' 1:'.' '
<''<'.''
8GI
'(''1::.. GNiセセ@ ' (':''f,
, '
HGGセ@8:: .
.:
ILS
J .
r ...
Jr'="
J!.J - ('"""''"::"""" y-; イセ@ Y' J ('"""''""". J,,.
..
..
; ' ,,... .. J. .. ) 'II
(\ o \ :
;;_All)
l^セキ@
1jj5:i
tJ
セ@ セェ@
Artinya: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui".
Kata ᄉNMセ@ menurut Abi al-Hasan Ali bin Muhammad Habib al-Mawardi,
P ertama; mengan ung ar d ·t· .;\". I . .J-"'" ··.11 •. u..,o ·.t'. イセ@ ᄋNQ⦅セ@
,
yaitu mensucikan kamu darimenyekutukan Allah.
K d e ua; mengan ung art! - .. d · :c,s .. .! 1.Ji1 :i..:.c ·. '· . . オjセ@ "Gu . r->" .. u , ·.1.:.· 'L ··I yaitu menyeru atau
memcrintahkan kepada kamu dengan sesuatu yang menjadikan kamu orang-orang yar1g suci menurut Allah21•
Senada dengan Abi al-Hasan, Abi Ja'far menafsirkan kata
;.s;¥J.
dengan artiYaitu menyucikan kamu dari bahaya kemusyrikan kepada Allah dan bahaya menyembah berhala dan membuat kamu bertambah dan banyak kepada Allah22.
Dalam kitab al-Dzuru al-Masun Fi Ulumi al-Kitabi al.-Maknun disebutkan, bahwa huruf ka/yang terdapat pada awa! ayat al-Baqarah 151 ini, ada dua versi:
1. KafLittasybih (penyerupaan) 2. Kaf litta'lil (alasan/3
Akan tetapi yang lebih cocok dan lebih pas adalah Kaf Littasybih, dar1 ularna berbeda pendapat dalam masalah mutaallak/hubungan daripada kaf tersebut, yar1g menurut Imam Syihabuddin terbagi me1ijadi lima, diantaranya:
21
Abi al-Hasan Ali bin Muhammad Habib al-Mawardi al-Bashari, Al-Nukat Wa a/-Uy1111
Tafsir Al-Mawardi, (Beirut: Dar al-Kutb al-Jlmiah), Jilid. I, h. 208
22
Abi Ja'far Muhammad, Loe. Cit., Jilid. I, hal. 558
23 Imam Syihabuddin Abi al-Abbas bin Yusuf Ibnu Muhammad bin Ibrahim, Al-Dzurru
al-lvlasun Fi Ulwni al-Kitabi al-Maknun, (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiah, 14I4 H/1994 M), eel. I, Juz
I. Bahwa kaf terse but berhubungan dengan firman Allah " [セセI@ "24•
Maka kira-kira susunannya menjadi :
Artinya: "Dan supaya-Ku sempurnakan nikmat-Ku pada kamu dengan sebenar-benarnya sempurna, seperti kesempurnaan Rasulullah dalam kalanganmu".25
Dari penjelasan di atas, penulis bisa mengarnbil pemahaman bahwa
kedatangan Rasulullah adalah sebagai penyempurna nikrnat-nikmat Allah
kepada umat Islam dan Rasulullah sendiri adalah seorang yang sempurna
yang diutus kepada umat Islam.
2. Bahwa kaftersebut berhubungan dengan dengan firman aャャ。ィB[IZLセ@ "26 Maka kira-kira susunannya menjadi :
> > >o ? "" },µ,,,
Gjケセ@
セ@
XgセA@
J=..
QセQセQセMBA@
PIセU@
セI@
,,. ... "" ,• ""
Artinya : "Dan supaya kamu mendapat petunjuk dengan sebenar-benarnya petunjuk seperti halnya Aku telah mengutus pada kamu seorang
'7
utusan""
Penyerupaan hidayah dengan pengutusan rnerupakan penyerupaan
pengukuhan/tasybih tahkik atau tsubut. Maka arti susunan lafadz di atas
24 Lihat surat al-Baqarah: 2/150