• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Wacana “Human Interest” Pada Acara Kick Andy Di Metro TV (Episode Aa Gym Menjawab)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Wacana “Human Interest” Pada Acara Kick Andy Di Metro TV (Episode Aa Gym Menjawab)"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS WACANA “HUMAN INTEREST”

PADA ACARA KICK ANDY DI METRO TV

(EPISODE AA GYM MENJAWAB)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I.)

Oleh

Neneng Hasanah

NIM: 104051101951

KONSENTRASI JURNALISTIK

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini buka hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 26 Juni 2008

(3)

ANALISIS WACANA “HUMAN INTEREST”

PADA ACARA KICK ANDY DI METRO TV

(EPISODE AA GYM MENJAWAB)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I.)

Oleh Neneng Hasanah

NIM: 104051101951

Pembimbing :

Dra. Asriati Jamil, M. Hum

NIP : 150244766

KONSENTRASI JURNALISTIK

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(4)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul ANALISIS WACANA “HUMAN INTEREST” PADA ACARA KICK ANDY DI METRO TV (EPISODE AA GYM MENJAWAB)

telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 26 Juni 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I.) pada Konsentrasi Jurnalistik.

Jakarta, 26 Juni 2008

Sidang Munaqasyah

Ketua Sekretaris

Drs. Study Rizal LK, MA Rubiyanah, MA NIP. 150262876 NIP. 150286373

Penguji I Penguji II

Gun Gun Heryanto, M. Si Drs. Suhaimi, M.Si NIP. 150371094 NIP. 150270810

Pembimbing

(5)

ABSTRAK

Neneng Hasanah

Analisis Wacana “Human Interest” Pada Acara Kick Andy Di Metro TV (Episode Aa Gym Menjawab)

Narasumber yang dihadirkan dalam Kick Andy seringkali berbicara mengenai politik, persoalan hidup, kesuksesan seseorang, bencana, dan kelebihan seseorang. Hal yang mengagetkan, ketika kemudian Kick Andy menghadirkan Aa Gym yaitu seoang da’i sebagai narasumber dari sekian banyak da’i yang dapat dijadikan narasumber. Dari pro-kontra persoalan poligami tersebut, Kick Andy justru melihat sisi kemanusiaan (human interest) Aa Gym.

Bahasa atau sebuah wacana dari sebuah media tidaklah dapat dianggap sepele, terdapat makna tersembunyi dari setiap struktur wacana yang digunakan. Karena sebuah wacana dapat membentuk kognisi seseorang, dan dapat menciptakan opini seseorang terhadap sesuatu atau seorang tokoh. Melalui sebuah wacana, media dapat mengangkat bahkan menjatuhkan seseorang. Itulah kenapa pemilihan kata dan struktur wacana dalam media menjadi suatu hal yang penting.

Agar pembahasan dalam penelitian ini dapat lebih terarah, maka rumusan masalahnya adalah bagaimana konstruksi wacana pada level teks, konteks sosial, dan kognisi sosial dalam acara Kick Andy di Metro TV episode Aa Gym Menjawab?

Berdasarkan teori Hierarchy of Influence menurut Shoemaker dan Reese (Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content,1996), bahwa terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi isi dan kinerja media, yang berpengaruh pada isi berita dalam media massa tersebut. Lima faktor tersebut antara lain adalah individu, rutinitas media, level organisasi, level extramedia dan ideologi media.

Berdasarkan model Analisis Wacana Teun A.Van Dijk, terdapat tiga kerangka analisis, yaitu analisis teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Menurutnya, ada sesuatu yang berada di balik sebuah wacana. Yaitu adanya pengetahuan penulis tentang tulisannya dan adanya konteks sosial yang mempengaruhi sampai akhirnya disampaikan ke masyarakat.

Persoalan poligami ramai dibicarakan setelah da’i kondang, Abdullah Gymnastiar yang terkenal fenomenal memutuskan untuk menikah kembali. Indonesia seakan gempar, sampai-sampai pemerintah turun tangan dan berniat membuat peraturan tentang poligami. Banyak pemberitaan dalam media mengenai Aa Gym, dari kehidupan rumah tangganya, bisnisnya, kegiatan berdakwahnya, dan banyak lagi yang berimbas dalam masyarakat. Pasca poligami, foto-fotonya tidak lagi menghiasi media massa.

Dalam acara Kick Andy episode Aa Gym Menjawab, penekanan tema justru bukan pada persoalan poligami, tetapi dari segi human interest atau kemanusiaan yang memberikan penekanan pada fakta-fakta yang menggugah emosi, menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Yaitu dengan melihat sisi kemanusiaan Aa Gym sebagai seorang da’i dan kehidupannya. Dan juga mengandung human touch

(6)

KATA PENGANTAR

ÈÓã Çááå ÇáÑÍãä ÇáÑÍíã

Syukur kepada Allah SWT yang tidak henti-hentinya dalam denyut nadi ini atas rahmat, serta ridho-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat dan salam tercurah kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW sebagai pembawa risalah, sehingga penulis dapat merasakan nikmatnya keindahan Islam yang damai.

Tiada kata yang dapat mewakili luapan hati, kebahagiaan dan haru penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhirnya berkat do’a teman-teman dan keluarga tercinta

yang semoga tak henti-hentinya, skripsi yang berjudul ANALISIS WACANA “HUMAN INTEREST” PADA ACARA KICK ANDY DI METRO TV (EPISODE AA GYM MENJAWAB) ini, dapat rampung.

Special terimakasih untuk Umi Hj. Saniah Ibrahim yang terkasih atas doa-doa yang selalu mengiringi penulis, dan Buyah (alm) H. Suhaibi Hasyim yang tak

sempat menikmati kebahagiaan ini. Semoga Neng dapat menjadi seperti yang kalian harapkan, dan membalas semua yang telah Umi dan Buyah berikan.

Semua pihak yang telah membantu penulis melalui do’a, bantuan moril,

materil, dan pemberi semangat selalu, terima kasih kepada :

1. Dr. H. Murodi, MA selaku dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Pudek I Dr. Arief Subhan, MA. Pudek II, Drs. H. Mahmud Jalal, MA. Pudek III, Drs. Study Rizal LK, MA.

2. Drs. Suhaimi, M. Si selaku ketua Konsentrasi Jurnalistik dan Rubiyanah,

(7)

urusan akademik, dan bersedia tersenyum saat diganggu. Terima kasih atas segala bimbingan dan bantuan dari Bapak dan Ibu.

3. Dra. Hj. Asriati Jamil, M. Hum, selaku dosen pembimbing yang waktu

senggangnya selalu direnggut oleh penulis. Terima kasih atas ilmu dan bimbingan Ibu kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

4. Segenap staff Metro TV, Mba Rosma, dan Pak Makroen, atas kesediaannya melapangkan waktu dan membantu penulis menyelesaikan skripsi.

5. Keluarga tercinta, kakak-kakakku yang selalu mengajari tanpa menggurui, ternyata Neng sudah dewasa, dan harus berpikir dewasa! Adikku Ajier,

jadilah orang yang selalu bisa dibanggakan. Keponakanku semuanya, terima kasih atas setiap senyum dan hiburan saat penulis jemu.

6. Sahabat-sahabatku di Jurnalistik 2004. Ery, Dyah, semoga kita tetap

bersahabat, dan berpikir positif kepada masing-masing dari kita. Untuk Ratna yang menjadi teman curhat selama skripsi. Rahma, terima kasih atas

teori sabar dan ikhlasnya. Dan semua yang tidak mungkin ditulis namanya, tetapi akan ditulis dalam hati penulis yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat. Ini bukanlah ending dari

pertemuan!

7. Sahabat-sahabat terkasih yang selalu menjadi penyemangat, Imoet, Maya,

dan Neni, hidup harus punya target biar gak kaget!

(8)

9. Aang yang selalu memberikan semangat, terima kasih untuk semuanya. Semoga masing-masing dari kita dapat meraih apa yang kita inginkan, dan selalu dapat yang terbaik, it’s all for what you are...

Dan kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung membantu selesainya skripsi ini, yang telah memberikan semangat yang sempat

hilang kepada penulis. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah kalian berikan, dan skripsi ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Amiin. Akhir kata Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Juni 2008

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………...1

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah………...……6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………...…7

D. Tinjauan Kepustakaan………..……7

E. Metodologi Penelitian………...…8

F. Sistematika Penulisan……….……12

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Tinjauan Teori………...13

B. Definisi Berita………...…..17

1. Jenis dan Nilai-nilai Berita………...20

2. Human Interest………...…...21

3. Unsur-unsur Berita Human interest……….…24

4. Penyajian Program Berita………25

C. Jurnalistik Televisi………...…27

D. Analisis Wacana………...…..34

1. Konsep Analisis Wacana………..……34

2. Model Analisis Wacana Teun A. Van Dijk……….37

BAB III GAMBARAN UMUM KICK ANDY A. Profil Metro TV………..41

1. Sejarah Singkat...41

2. Visi dan Misi Metro TV...42

3. Target Audience...44

4. Konsep Program Acara...45

(10)

B. Profil Acara Kick Andy……….…....46

C. Profil Andy F. Noya………...…52

D. Sinopsis Episode Aa Gym Menjawab………...54

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Berdasarkan Data Teks………...58

1. Dilihat berdasarkan Struktur Makro……….58

2. Dilihat berdasarkan Superstruktur………62

3. Dilihat berdasarkan Struktur Mikro……….67

B. Berdasarkan Data Kognisi Sosial………...75

1. Strategi dalam Memahami Peristiwa………...76

2. Kognisi Penulis Dalam Memahami Peristiwa………..78

C. Berdasarkan Data Konteks Sosial………..82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan…..………...91

B. Saran...………...93

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi komunikasi massa mengalami kemajuan pesat.

Kemajuan tersebut menciptakan jarak yang terasa semakin dekat, sehingga memudahkan komunikasi antar manusia. Di mulai dari perkembangan media cetak, sampai media elektronik. Beberapa perbedaan di media cetak atau elektronik

hanyalah terdapat dalam segi penyajiannya saja.

Jika dilihat dari segi durasinya, berita di media eletronik terasa lebih singkat.

Cara penulisan naskah beritanya pun berbeda satu sama lain, tapi kedua media tersebut sama-sama bertujuan sebagai sumber informasi, menghibur, maupun mendidik.1

Khusus untuk medium televisi, informasi yang diperoleh melalui siaran televisi dapat mengendap dalam daya ingatan manusia lebih lama dibandingkan

dengan perolehan informasi yang sama tetapi melalui membaca. Hal tersebut disebabkan karena gambar/visualisasi bergerak yang berfungsi sebagai tambahan dan dukungan informasi penulisan narasi penyiar atau reporter memiliki

kemampuan untuk memperkuat daya ingat manusia dan memanggilnya (recall) kembali.2

Televisi sebagai media audio visual memang telah jadi perhatian studi-studi kebudayaan sejak lama, dan memang tidak ada media lain yang menyamai televisi dalam hal besarnya volume teks yang dihasilkan. Televisi selalu mampu

1

Dedy Iskandar Muda, Jurnalistik Televisi:Menjadi Reporter Profesional (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2005), h. 25.

2

(12)

melahirkan bagian-bagian baru yang menarik untuk diamati dan dianalisa, mulai dari siaran berita, iklan televisi, sinetron, film televisi, talk show, kuis-kuis, acara musik, dan sebagainya. Pada wilayah struktur teks dan pesan, televisi mempunyai

kemampuan untuk membentuk opini publik, bahkan televisi mampu menggiring wilayah kognitif seseorang, lewat penyisipan kepentingan pada sekian narasi teks

dan tampilan yang dihadirkan pada pemirsa.

Produk jurnalistik news (berita) sendiri diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Yaitu kelompok hard news (berita keras), dan soft news (berita ringan)

dalam bentuk penyajiannya bukan pada materinya. Sedangkan feature merupakan produk jurnalistik yang berada di dalam produk berita (news) yang masuk ke dalam

kategori soft news.

Bagi televisi, berita ringan ini sangat diperlukan dalam setiap penyajian buletin berita. Karena berita ringan juga dapat berfungsi sebagai selingan di antara

berita-berita berat yang disiarkan pada awal sajian. Secara psikologis, pemirsa yang mendapatkan sajian berita berat dari awal hingga akhir akan merasa tegang terus

karena itu perlu interval.3

Komunikasi merupakan proses pernyataan antar manusia yang berupa pikiran atau perasaan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat

penyalurnya.4 Komunikasi bukan hanya sebagai proses pengiriman pesan kepada khalayak, tetapi terdapat proses produksi dan pertukaran pesan dari makna

tersembunyi yang mewakili kepentingan kaum dominan.

Kenapa harus menggunakan bahasa? Selaras dengan pendapat Onong, diantara sekian banyak lambang yang biasa digunakan dalam komunikasi adalah

3

Deddy Iskandar, Jurnalistik Televisi, h. 41. 4

(13)

bahasa, sebab bahasa dapat menunjukkan pernyataan seseorang mengenai hal-hal, selain yang konkret juga yang abstrak, baik yang terjadi saat sekarang maupun waktu yang lalu dan masa yang akan datang.5

Bahasa atau sebuah wacana dari sebuah media tidaklah dapat dianggap sepele, akan selalu terdapat makna tersembunyi dari setiap struktur wacana yang

digunakan. Dapat ditemukan adanya kekuasaan dominan yang mengontrol kelompok yang tidak dominan dengan mengendalikan dan menguasai media, bahkan adanya kekuatan-kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang

mengontrol suatu proses komunikasi.

Media massa menduduki kekuatan keempat dalam sebuah negara atau “the fourth estate” (kekuatan keempat), karena adanya peran yang dimainkan oleh

media dalam mengembangkan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Media, dalam posisinya sebagai suatu institusi informasi dipandang sebagai faktor

yang paling menentukan dalam proses perubahan sosial-budaya dan politik.

Media massa sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian, atau

gambaran umum tentang banyak hal, mempunyai kemampuan yang dapat membentuk opini publik. Antara lain, karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu

kepentingan atau citra yang diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.

Kaitannya dengan wacana, kelompok dominan menggunakan media massa untuk melakukan pengkonstruksian realitas. Louis Althusser, menulis bahwa, “Media, dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis,

5

(14)

terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai sarana legitimasi. Media massa sebagaimana lembaga-lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna

membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).”6

Kick Andy adalah sebuah program acara yang menyajikan sebuah berita dengan sajian yang ringan dengan kemasan tanya jawab (talk show) yang renyah sehingga menarik, mendidik sekaligus memberikan hiburan bagi khalayak.Dengan

memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi, menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Selaras dengan hal itu, maka dapat

dikatakan acara Kick Andy menggunakan konsep berita yang mengandung segi

human interest atau human touch, menyentuh rasa kemanusiawian.

Narasumber yang dihadirkan dalam Kick Andy seringkali berbicara

mengenai politik, persoalan hidup, orang-orang di balik kesuksesan, orang-orang di balik bencana, dan orang-orang yang mempunyai kelebihan. Hal yang

mengagetkan, ketika kemudian pada suatu waktu, Kick Andy menghadirkan Aa Gym seperti yang diketahui adalah seoang da’i sebagai narasumber dan membahas tema poligami.

Dari sekian banyak da’i yang dapat dijadikan narasumber, kenapa Aa Gym yang dihadirkan menjadi latar belakang penelitian ini. Dengan meneliti dari segi

teks atau wacana pada saat acara berlangsung, dapat ditemukan makna yang

6

(15)

terkandung di dalamnya dan maksud-maksud di balik pengangkatan tema dan narasumber tersebut.

Persoalan poligami selalu saja dikaitkan dengan agama Islam, adanya ayat

yang memperbolehkan seorang lelaki menikah kembali dengan syarat-syarat tertentu menciptakan masalah yang tak habisnya dikupas. Akan ada kelompok

pro-kontra yang menciptakan ketegangan dalam poligami ini.

Aa Gym sebagai seorang tokoh agama atau da’i yang mengerti agama menjadi tokoh publik ketika dirinya sudah terjun di masyarakat, dan semakin

banyak penggemarnya. Bukan hanya kaum lelaki, tapi justru kaum perempuanlah yang menjadi penggemar Aa yang paling banyak. Bertentangan ketika Aa

memutuskan menikah kembali dengan berbagai alasan yang tidak dipublikasikan dan sulit dimengerti para pengagumnya. Sontak saja fans perempuan Aa merasakan sakit hati atas apa yang dilakukan Aa.

Berdasarkan hal itulah penelitian wacana pada episode Aa Gym Menjawab mengenai wacana human interest dianggap penting oleh penulis, bagaimanakah

dengan proses produksi dan proses penyampaian pesan dalam acara tersebut.Maka penelitian ini bermaksud menemukan makna-makna yang tersembunyi dalam wacana tersebut.

Karena sebuah wacana dapat membentuk kognisi seseorang, dan dapat menciptakan opini seseorang terhadap sesuatu atau seorang tokoh. Melalui sebuah

(16)

Berdasarkan latar belakang itulah maka penelitian ini diberi judul ANALISIS WACANA “HUMAN INTEREST” PADA ACARA KICK ANDY DI METRO TV (EPISODE AA GYM MENJAWAB).

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah

Data peningkatan rating pada acara Kick Andy memberikan informasi seputar besarnya motivasi seseorang untuk menonton acara tersebut. Lantas mengapa banyak pemirsa yang bertahan pada tayangan ini, mungkin salah satunya karena

pada proses pengolahan sikap individu pada tayangan tersebut belum memasuki titik jenuh yang mampu merubah sikap mereka pada tayangan ini.

Penelitian ini ditekankan pada program acara Kick Andy yang ditayangkan di stasiun Metro TV, dan penelitian ini dibatasi hanya seputar naskah dan wacana yang berkembang pada wawancara Andy F. Noya selaku host dan Aa Gym sebagai

narasumber pada episode “Aa Gym Menjawab”.

Berangkat dari batasan tersebut, agar pembahasan dalam penelitian ini dapat

lebih terarah, maka rumusan masalahnya adalah :

1. Bagaimana konstruksi wacana pada level teks, konteks sosial, dan kognisi sosial dalam acara Kick Andy di Metro TV episode Aa Gym Menjawab?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini terbagi menjadi tujuan secara umum dan khusus, yaitu :

1. Secara Umum, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai program

(17)

mengenai penerapan konsep berita yang terdapat dalam tayangan televisi program acara Kick Andy.

2. Secara Khusus, yaitu mengupas konstruksi wacana pada level teks,

konteks sosial, dan kognisi sosial dalam acara Kick Andy di Metro TV episode Aa Gym Menjawab?

Adapun manfaat penelitian ini antara lain :

1. Secara Akademis, yaitu memberikan sumbangsih terhadap keilmuan

jurnalistik, terutama tentang Analisis Wacana pada program televisi 2. Secara Praktis, yaitu agar dapat menjadi informasi awal bagi penelitian

serupa di masyarakat mendatang.

D. Tinjauan Kepustakaan

Mengacu kepada penelitian sebelumnya yang menggunakan metode analisis wacana yang banyak ditemukan oleh peneliti menjadi contoh dan pegangan peneliti

dalam melakukan peneltian ini. Tapi penelitian sebelumnya yang berjudul “Teknik Penulisan Feature dalam Penyampaian Dakwah Melalui Majalah Tarbawi Edisi Mei 2006”, yang ditulis oleh Ahmad Taufik, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran

Islam tahun 2006 dirasakan lebih cocok untuk menjadi pegangan penuh peneliti. Adapun kesamaan yang ditemukan adalah adanya pembahasan mengenai

konsep penulisan feature atau mengupas sisi human interset dalam dunia jurnalistik yang dikemas sebagai suatu cara penyampaian dakwah. Dan juga model analisis wacana yang digunakan pada penelitian tersebut guna menemukan konsep feature

(18)

Perbedaan penelitian ini dengan yang sebelumnya terletak pada objek dan subjek penelitiannya. Pada penelitian yang ditemukan sebelumnya, yang menjadi objek adalah Majalah Tarbawi dalam rubrik Dzikroyat edisi 131 dan 132 bulan mei

2006. Sedangkan objek penelitian ini adalah program acara Kick Andy di Metro TV episode AA Gym Menjawab.

Selanjutnya, penelitian ini dibantu oleh berbagai referensi dan sumber-sumber yang terkait dengan penelitian.

E. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Agar memudahkan dalam proses penelitian, maka metodologi yang digunakan adalah Analisis Wacana. Dengan bersandar kepada paradigma konstruktivisme yaitu analisis wacana sebagai upaya membongkar maksud

tersembunyi dari subyek yang mengemukakan suatu pernyataan, dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti

struktur makna dari pembicara.

Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam

membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya.

Oleh karena itu menurut A.S. Hikam, analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa

(19)

kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat.7

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan yaitu dengan

melakukan Observasi. Dalam pengertian psikologik, observasi atau disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.8 Maka kegiatan

obsevasi ini memusatkan dengan cara menonton acara kick andy di Metro TV dan melihat secara langsung kerja redaksi untuk memperoleh informasi dan

data penelitian.

Dokumentasi, yaitu barang-barang tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya

yang didapat dari Metro TV sendiri, atau sumber lainnya. Dan dengan pemanfaatan teknologi informasi, yaitu dengan menga-akses situs resmi kick

andy www.kickandy.com. Dan data resmi yang diperoleh dari pihak Metro TV. Dan juga dengan melakukan Wawancara, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari

yang diwawancarai. Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang.9 Wawancara dilakukan kepada wakil pemimpin redaksi atau

penyelia program untuk menggali lebih dalam tetang konsep Kick Andy dan menjawab rumusan masalah.

7

Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: LKiS, 2001), h. 6.

8

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, cet-5 (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 133.

9

(20)

3. Teknik Analisis Data

Setelah data diperoleh, maka selanjutnya adalah melakukan analisis

data. Setelah diperoleh wacana yang akan dianalisis, maka sebagai rujukan adalah dengan menggunakan analisa wacana model Teun A. Van Dijk yang

terdiri dari tiga elemen, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial.

Dari beberapa teknik analisis data analisis wacana Penulis merasa perlu meneliti wacana dengan menggunakan teknik Van Dijk. Karena, selain

menganalisis dari struktur teks, analisa juga menukik pada elemen kognisi sosial, dan adalah konteks sosial. Teknik ini dirasa cocok bila dibandingkan

dengan metode Sara Milis yang lebih mengarah kepada wacana feminisme, di mana perempuan ditampilkan dalam media, atau metode Roger Fowler yang melakukan pendekatan critical linguistic.

Teknik analisis tiga elemen Van Dijk yaitu pertama teks, terdiri dari :

Struktur Makro, yaitu makna gobal dari suatu teks yang dapat diamati dari

topik/tema yang diangkat oleh suatu teks, elemennya adalah Tematik.

Superstrukur, yaitu kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan, elemennya adalah Skematik. Dan Struktur Mikro,

makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks, elemennya adalah Semantik , Sintaksis,

Stalistik, Retoris.

(21)

konteks sosial yaitu mengetahui apa yang sedang terjadi di masyarakat, dan dampak di masyarakat setelah adalanya pemberitaan itu.

F. Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun secara sistematis dan terdiri dari lima bab dengan

masing-masing babnya akan menjelaskan segala hal yang mendorong berhasilnya penelitian ini, antara lain :

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini terdiri dari latar belakang

masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta metodologi penelitian yang akan diuraikan point perpoint.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini berisi mengenai teori dari buku-buku yang ditemukan peneliti guna mendukung judul dari penelitian ini dan model metodologi penelitian yang diterapkan dalam menganalisa data.

BAB III GAMBARAN UMUM. Dalam bab tiga penelitian ini, akan digambarkan konsep-konsep umum stasiun televisi Metro TV dan acara Kick

Andy yang ditemukan peneliti dari sumber-sumber pendukung. Baik didapat dari sumber luar Metro TV atapun sumber resmi Metro TV.

BAB IV HASIL PENELITIAN. Bab keempat dalam laporan penelitian

ini berisi mengenai penjelasan hasil penelitian yang diperoleh si peneliti sesuai dengan model Analisis Wacana yang diterapkan oleh Teun A. Van Dijk.

(22)
(23)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

E. Tinjauan Teori

Berdasarkan skema Hierarchy of Influence menurut Shoemaker dan Reese

dalam buku Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content yang ditulis oleh Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996), bahwa isi berita dalam media massa dipengaruhi oleh beberapa hal.

Tugas sebuah media massa pada dasarnya adalah menyampaikan fakta, sesuatu yang nyata atau realita kepada massa atau publik secara jelas. Pemberitaan

suatu media terhadap hal apa pun berangkat dari fakta yang terjadi di lapangan, bukan berdasarkan kepada keinginan penulis ataupun institusi yang menaunginya. Maka dari itu perlu diketahui isi berita dalam pemberitaan media massa sebenarnya

dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait di dalamnya.

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, agar sebuah media dapat

dipercaya publik sebagai penyampai informasi dan mampu menjaga eksistensinya di tengah masyarakat.

Dalam skema Hierarchy of Influence, dikatakan terdapat lima faktor yang

dapat mempengaruhi isi dan kinerja media. Lima faktor yang dapat mempengaruhi kinerja media antara lain adalah individu, rutinitas media, level organisasi, level

extramedia dan terakhir pengaruh ideologi media.

(24)

latar belakang personal dan profesional. Munculnya sebuah teks berita dipengaruhi oleh karakteristik pekerja komunikasi, latar belakang personal dan profesional.

Latar belakang seorang wartawan dapat memengaruhi sudut pandang

pemberitaan dalam menyajikan berita dan dalam pemilihan nara sumber. Pendidikan serta latar belakang sosial politik, dan ekonomi si wartawan dapat

memengaruhi berita yang akan disajikan. Setidaknya latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur, atau agama, akan dapat mempengaruhi apa yang ditampilkan media.

Level kedua, rutinitas media. Yaitu apa yang dihasilkan oleh media massa dipengaruhi oleh kegiatan seleksi-seleksi yang dilakukan oleh komunikator,

termasuk deadline dan waktu, keterbatasan tempat, struktur piramida terbalik dalam penulisan berita dan kepercayaan reporter pada sumber-sumber resmi dalam sumber berita yang dihasilkan.

Istilah routine sendiri merujuk pada praktik-praktik dan bentuk-bentuk terpola, terutinisasi, serta berulang secara teratur yang digunakan oleh para pekerja

media untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka (Shoemaker & rerse, 1996:105).

Rutinitas dalam kerja media diperlukan untuk memastikan bahwa sistem

media akan bertindak dalam cara-cara yang predictable dan tidak mudah dilanggar.10 Melalui rutinitas media ini, pekerjaan rumit yang membutuhkan

kerjasama tim melibatkan koordinasi antarbagian dapat menjadi lebih mudah, dan sederhana.

10

(25)

Rutinitas media mempunyai tugas menyampaikan dalam keterbatasan-keterbatasan ruang dan waktu, produk yang paling diterima konsumen dengan cara efisien. Dalam hal ini, khususnya sebuah stasiun televisi harus berjuang

menghadapai pasar dan konsumen. Rutinitas media memperlihatkan prosedur standar oleh sebuah media agar mampu berfungsi secara konsisten karena adanya

pemaknaan bersama mengenai fungsi kerja dan tugas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama diantara semua bagian organisasi dengan kru pekerja dilapangan.

Level ketiga, pengaruh organisasi. Visi misi dari media akan berpengaruh pada isi yang dihasilkan. Salah satu tujuan yang tidak terlepas dari sebuah media

adalah mencari keuntungan materil. Dalam organisasi media massa, ada redaksi, bagian pemasaran, bagian iklan, bagian sirkulasi, bagian umum dan seterusnya.

Televisi memiliki keterkaitan dengan industri pasar. Hal ini menjadikan

setiap stasiun televisi bersaing menghadirkan content yang menarik agar audiens tetap memilih stasiun televisi tersebut sebagai pilihannya11.

Pengertian organisasi pengolahan media massa sendiri adalah sekumpulan orang yang bertekad untuk bekerja sama guna mencapai satu tujuan yang telah disetujui bersama yaitu menyajikan informasi secara periodik melalui media

massa.12 Dalam pengelolaan sebuah media massa tidaklah dapat bersifat perorangan, tetapi merupakan sebuah lembaga yang memerlukan tenaga kerja yang

besar dan biaya yang tidak sedikit.

11

Gun Gun Heryanto, “Tayangan Iklan Komersial di Televisi: Dan Peneguhan Type Homo Consumens," Da’wah, Jurnal Kajian Dakwah dan Komunikasi X, No. 2 (Desember 2007), h. 125.

12

(26)

Level keempat, extramedia. Yaitu media saingan, lapisan ini merupakan pengaruh dari luar organisasi media, ini mencakup lobi dari kelompok penting terhadap isi media. Kelompok penting tersebut berasal dari praktisi publik relations

dan pihak pemerintah yang membuat peraturan-peraturan di bidang pers. Dan berbagai faktor yang berada di luar media itu sendiri

Dalam faktor ekstrinsik sendiri terdapat beberapa pengaruh terhadap organisasi media yaitu sumber informasi. Yaitu pertama, yang merupakan kandungan suatu media, seperti kelompok minat tertentu, kampanye hubungan

masyarakat, dan organisasi berita itu sendiri. Kedua, sumber sumber penghasilan seperti iklan dan audiens. Ketiga, institusi sosial lainnya seperti bisnis dan

pemerintahan dan Keempat, kondisi ekonomi dan teknologi.

Faktor-faktor yang berada di luar media itu berkaitan dengan saingan pasar dan apapun yang terjadi terlepas dari visi dan tujuan media itu dalam

menyampaikan berita. Pemberitaan yang diangkat dalam sebuah media juga berpengaruh terhadap situasi yang terjadi di luar

Level kelima, pengaruh ideologi media. Pengaruh ideologi media

berhubungan dengan organisasional. Definisi ideolgi menurut Raymond Williams, yaitu ideologi merupakan sebagai suatu sistem makna, nilai dan keyakinan yang

telah diformalkan dan diartikulasikan mengenai sesuatu yang bisa diabstraksikan. Ideologi akan mengatur cara bagaimana kita merasakan dunia, diri, dan

(27)

Dalam suatu media, ideologi adalah apa saja yang diyakini oleh kelompok tertentu, atau nilai-nilai yang dianut oleh media massa dalam memposisikan dirinya.

F. Definisi Berita

Ada begitu banyak pengertian berita, masing-masing pakar memberikan

definisi berita berdasarkan sudut pandang masing-masing. Dalam buku Reporting, Mitchell V. Charnley ada beberapa definisi berita, antara lain definisi menurut Willard Grosvenor Bleyer, menyebutkan bahwa “…Berita adalah segala sesuatu

yang terkait waktu dan menarik perhatian banyak orang dan berita terbaik adalah hal-hal yang paling menarik yang menarik sebanyak mungkin orang (untuk

membacanya).”13

Goerge Fox Mott dalam bukunya New Survey Journalism mengutip Dean M. Lyle Spencer (News Writings) menyatakan bahwa, “…Berita dapat

didefinisikan sebagai fakta yang akurat atau suatu ide yang dapat menarik perhatian bagi sejumlah besar pembaca.”14

Berita adalah pernyataan antara manusia sebagai pemberitahuan tentang peristiwa, keadaan atau gagasan yang disampaikan secara tertulis atau lisan, atau dengan isyarat. Jika pernyataan atau pemberitahuan ini disalurkan melalui media

pers, orang menyebutnya berita pers. Karena ditujukan kepada khalayak seluas mungkin, berita pers yang lengkap harus mengandung enam unsur dalam bahasa

Inggris dikenal sebagai 5W dan 1H, yakni who (siapa yang menjadi bahan berita),

what (apa yang terjadi), where (dimana peristiwa terjadi), when (kapan peristiwa

13

Osolihin, “Sekilas Tentang Jurnalistik”, artikel ini diakses pada 13 Mei 2008 dari http://frirac. multiply.com/jour- nal/item/14/Humas_Media_dan_Press_Release_Makalah

14

(28)

berlangsung), why (mengapa hal itu terjadi), dan how (bagaimana peristiwa itu terjadi).

Menurut Atmakusumah, dalam ilmu jurnalistik, berita haruslah memenuhi

unsur-unsur faktual, yaitu bahwa berita itu berdasarkan fakta dan kenyataan yang sebenarnya. Akurat, yaitu bahwa setiap keterangan dari sumber berita dikutip

dengan tepat, dan objektif, yaitu tidak berat sebelah mana kala berita itu melibatkan beberapa pihak yang mempunyai pandangan berbeda atau saling bertentangan. Dengan mengikuti persyaratan-persyaratan ini, berita itu menjadi lengkap dan

jelas.

Para penulis atau penyusunan berita secara moral terikat pada kode etik

jurnalistik yang berlaku di negeri masing-masing. Di Indonesia, misalnya, dikenal Kode etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), yang penataannya diawasi tidak hanya oleh Dewan Pers yang berada dalam lingkup Departemen

Penerangan. 15

Menurut Chilton R. Bush dalam Osolihin, berita adalah informasi yang

’merangsang’, dengan informasi itu orang bisa dapat merasa puas dan bergairah. Sementara Charnley mengatakan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau pendapat orang yang terikat oleh waktu, yang menarik atau penting bagi sejumlah

orang tertentu.16

Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang

terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Laporan berita merupakan tugas profesi

15

Atmakusumah, Ensiklopedia Nasional Indonesia, jilid 3, cet-5 (Jakarta: PT. Delta Pamungkas, 2004), h. 310.

16

(29)

wartawan. Stasiun televisi biasanya memiliki acara berita atau menayangkan berita sepanjang waktu. Kebutuhan akan berita diamati dalam berbagai masyarakat.

Dari sekian definisi atau batasan tentang berita itu, pada prinsipnya ada

beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi berita, yakni berita adalah laporan, Kejadian, peristiwa, pendapat yang menarik dan penting, dan

disajikan secepat mungkin (terikat oleh waktu).

Tetapi berita TV bukan hanya sekedar melaporkan fakta tulisan atau narasi, tetapi juga gambar (visual), baik gambar diam, seperti foto, gambar peta, grafis,

maupun film berita yakni rekaman peristiwa yang menjadi topik berita dan mampu memikat pemirsa. Bagi berita TV, gambar adalah primadona atau paling utama dari

pada narasi. Kalau gambar berita yang disiarkan mampu bercerita banyak, maka narasi hanya sebagai penunjang saja. Berita TV tanpa gambar tidak ubahnya dengan berita radio.17

Gambar dan kata-kata merupakan hal penting dalam jurnalisme televisi. Kamera menjadi mata pemirsa dalam melihat kejadian. Ketika peristiwa tengah

berlangsung, kamera televisi menjadi mata pemirsa. Segala detil kejadian ditangkap, disorot, diperlihatkan kepada pemirsa. Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah, karena lamera tersebut harus benar-benar mewakili kepentingan reporter

dan kru lainnya. Reporter yang mencari dan mencatat segala fakta yang terjadi, bisa jadi menginginkan sorotan kameranya sesuai dengan bahan-bahan berita yang

ditemukannya.

Di sisi lain, berbagai teknisi studio, kerap juga menuntut agar sorotan juru kamera jurnalistik televisi ini berhasil menampilkan gambar-gambar faktual yang

17

(30)

layak untuk ditonton.18 Jadi, dapat disimpulkan, berita TV adalah laporan tentang peristiwa apa pun yang bersifat fakta yang disertai gambar (visual), aktual, menarik, berguna dan disiarkan melalui media massa televisi..

5. Jenis dan Nilai-nilai Berita

Sudirman Tebba membedakan berita berdasarkan jenis berita, yaitu:

berdasarkan sifat pemberitaan, lingkup pemberitaan, masalah yang dicakup, sifat kejadian, dan bentuk penyajian berita.19 Sedangkan nilai berita adalah seperangkat kriteria untuk menilai apakah sebuah kejadian cukup penting untuk

diliput. Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah kejadian memiliki nilai berita, antara lain :

1. Kedekatan (proximity). Ada dua hal tentang kedekatan. Pertama dekat secara fisik dan kedua, kedekatan secara emosional. Orang cenderung tertarik bila membaca berita yang peristiwa atau kejadiannya dekat dengan wilayahnya dan juga perasaan emosional berdasarkan ikatan tertentu.

2. Ketenaran (prominence). Orang terkenal memang sering menjadi berita. Seperti kata ungkapan Barat, Name makes news. Bintang film, sinetron, penyanyi, politisi ternama seringkali muncul di koran dan juga televisi. 3. Aktualitas (timeliness). Berita, khususnya straight news, haruslah berupa

laporan kejadian yang baru-baru ini terjadi atau peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.

4. Dampak (impact). Sebuah kejadian yang memiliki dampak pada masyarakat luas memiliki nilai berita yang tinggi. Semakin besar dampak tersebut bagi masyarakat, semakin tinggi pula nilai beritanya.

5. Keluarbiasaan (magnitude). Sebenarnya hampir sama dengan dampak, namun magnitude di sini menyangkut sejumlah orang besar, prestasi besar, kehancuran yang besar, kemenangan besar, dan segala sesuatu yang besar. 6. Konflik (conflict). Berita tentang adanya bentrokan, baik secara fisik

maupun nonfisik, selalu menarik. Misalnya bentrokan antar manusia, manusia dengan binatang, antar kelompok, bangsa, etnik, agama, kepercayaan, perang dan sebagainya.

7. Keanehan (oddity). Sesuatu yang tidak lazim (unusual) mengundang perhatian orang di sekitarnya. Orang yang berdandan esktrentrik, orang yang bergaya hidup tidak pada umumnya, memiliki ukuran fisik yang

18

Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer (Jakarta: Obor Indonesia, 2005), h. 111-112

19

(31)

berbeda dengan yang lain pada umumnya, dan sebagainya cenderung jadi berita yang bernilai tinggi.20

Dari tujuh nilai berita tersebut, Deddy Iskandar Muda dalam bukunya

Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional menambahkan pertimbangan nilai suatu berita yaitu21:

1. Development atau pembangunan merupakan bahan berita yang menarik apabila sebuah media dapat mengulasnya dengan baik.

2. Peristiwa bencana dan kriminal merupakan materi berita yang akan mendapatkan tempat bagi para penonton.

3. Pelaporan mengenai keadaan cuaca menjadi kebutuhan bagi seseorang yang aktif melakukan pekerjaan di luar rumah agar dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik

4. Berita mengenai olah raga menjadi bagian yang menarik dalam pemberitaan. Hal ini terbukti setiap stasiun televisi selalu menempatkan sebagian waktunya untuk menyiarkan berita-berita olah raga.

5. Human interest yaitu berita yang dapat menyentuh perasaan, pendapat, dan pemikiran manusia. Objeknya bisa manusia, hewan, atau benda-benda lainnya.

6. Berita Human Interest

Persoalan yang tidak mudah untuk memberikan definisi human interest ke

dalam bahasa Indonesia dengan jelas tanpa mengurangi makna sebenarnya. Beberapa pengertian berbeda konteks diberikan sesuai dengan redaktur surat

kabar masing-masing dan sesuai perkembangan zaman.

Human menurut Atmakusumah dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia berarti kemanusiaan, atau berhubungan dengan manusia.22

Secara harfiah, kata human interest artinya menarik minat orang. Maka dalam pemberitaan sebenarnya adalah salah kaprah.tidak ada satu pun berita

20

“Berita”, http://id.wikipedia.org/wiki/ Berita 21

Deddy Iskandar, Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter, h. 29-39

22

(32)

bisa dimuat dalam media massa kecuali berita itu memiliki unsur human interest, memiliki hal-hal yang menarik minat seseorang.23

Berita dengan jenis minat insani atau human interest news ini

dimaksudkan untuk menggugah perasaan, menggugah suasana hati dan membuat khalayak menitikan air mata. Berita human interest ini dapat

menyentuh wilayah intuisi, emosi, dan psikologi khalayak yang membaca dan melihatnya.

Menurut Curtis D. MacDougall, Interpreting Reporting, interest atau

perhatian pada manusia, serta peristiwa-peristiwa tersebut menyangkut pria dan wanita yang berada dalam situasi yang bisa saja dialami oleh setiap orang,

disebut human interest.24

Suatu peristiwa yang dapat dikatakan memiliki unsur human interest

adalah yang dapat menyebabkan orang lain yang mengetahuinya langsung

memperhatikan. Dan peristiwa tersebut menjadi pusat perhatian orang-orang meskipun tidak mempunyai nilai berita yang aktual, kedekatan, keterkenalan,

dan dampak bagi orang tersebut.

Bisa dikatakan human interest jika terdapat interest atau perhatian pada kehidupan dan kesejahteraan orang lain serta pada kesejahteraan dan kemajuan

umat manusia secara keseluruhan. Dalam berita ini, seorang tokoh diangkat bukan karena harta kekayaan atau yang mempunyai tahta. Tetapi tokoh yang

diangkat dalam cerita ini justru adalah mereka yang lemah, tak berdaya, tetapi memiliki sesuatu tersembunyi yang tidak dimiliki orang lain.

23

Hikmat Kusumaningrat dan Purnama kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktek

(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 64.

24

(33)

Menurut Haris Sumadiria, sesuatu tersembunyi itu misalnya adalah keluhuran budi, kesalehan sosial, kearifan lokal, kesabaran, atau kepasrahan yang dimiliki untuk kebahagiaan orang lain.25

Rasa manusiawi pembaca ditarik, dan diajak terbenam dalam kisah-kisah cinta, kebencian, keingintahuan, ketakutan, humor atau tema-tema aneh.26 Hal

ini diangkat dengan maksud selain menggugah hati khalayak, juga dapat menjadi pelajaran bagi khalayak agar dapat diterapkan dan menjadi teladan bagai seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Human interest berarti apa-apa yang terkait dengan ketertarikan dan minat orang-seorang. Kisah-kisah human interest bisa menyangkut tentang people

dan things, orang-orang dan pikirannya. Meski seringkali pengisahan tentang orang-seorang lebih dinikmati daripada kisah tentang pikiran orang.27

Jadi, Berita human interest ialah catatan berbagai peristiwa human interest

dalam situasi ”kemanusiaan” yang melibatkan berbagai orang di dalam peristiwa tersebut.28 Dari sekian banyak pengertian dan penjelasan mengenai

human interest tetapi yang pasti mengenai berita human interest adalah terdapat

unsur yang menarik simpati, empati atau menggugah perasaan khalayak yang membacanya.29

25

Drs. AS Haris Sumadiria M.Si., Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2006), h. 161.

26

Santana K, Jurnalisme Kontemporer, h. 37.

27

Ibid.,h. 36.

28

Ibid.,h. 36.

29

(34)

7. Unsur-unsur Berita Human interest

Dalam bukunya, Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat menjabarkan beberapa unsur human interest yang terkandung dalam sebuah

berita yang menjadi daya tarik untuk mengikat hati pembaca. Unsur-unsur tersebut adalah:

a. Ketegangan (Suspense). Berita yang isinya mengenai sebuah keputusan yang menentukan mengenai beberapa pihak yang terkait dalam masalah itu. Misalnya; berita mengenai keputusan pengadilan dalam kasus pembunuhan, berita mengenai pertandingan final Piala Tiger antara kesebelasan Indonesia melawana Singapura, dan lain-lain.

a. Ketidaklaziman (Unusualness). Memberitakan suatu peristiwa yang terjadi diluar kebiasaan, kejadian yang tidak lazim atau sesuatu yang aneh, sehingga memiliki daya tarik untuk dibaca. Misalnya; peristiwa pemogokkan guru yang belum pernah terjadi sebelumnya, atau seorang wanita yang melahirkan bayi kembar lima. Peristiwa ini akan memiliki nilai berita Human interest yang tinggi.

b. Minat Pribadi (Personal Interest). Peristiwa mengenai adanya penemuan baru yang tertuju kepada beberapa pihak yang membutuhkan atau berkepentingan saja. Misalnya; adanya seorang ahli urut yang dapat membuat langsing seseorang yang kelebihan berat badan dalam waktu dua minggu, atau adanya gaun yang tidak perlu disetrika sehabis dicuci, dan lain-lain.

c. Konflik (Conflict). Berita mengenai peristiwa pertentangan. Misalnya; berita perang, kriminalitas, olahraga atau persaingan dalam berbagai bidang yang terkandung unsur konflik.

d. Simpati (Sympathy). Menciptakan suasana prihatin, simpati, dan ikut merasakan apa yang dirasakan seseorang dalam peristiwa tersebut. Misalnya; Seorang ibu yang kehilangan tiga orang anak ketika terjadi bencana longsor, seorang anak kecil yang bermain di samping ibunya yang sedang tertidur dan kemudian diketahui bahwa ibunya sudah meninggal dua hari lalu, dan lain-lain.

e. Kemajuan (Progress). Adanya perubahan menuju kemajuan yang lebih baik. Misalnya; kereta api monorel akan dibangun di Jakarta untuk megatasi kemacetan lalu lintas, ditemukannya vaksin untuk mencegah penyakit AIDS, dan lain-lain.

f. Seks (Sex). Biasanya memberitakan mengenai permasalahan rumah tangga yang berkaitan dengan hubungan suami-istri. Misalnya; seorang pejabat pemerintahan yang menceraikan istrinya, kemudian menikah lagi dengan artis yang juga telah menceraikan suaminya yang sudah tua. Seorang konglomereat perusahaan perkapalan diadukan oleh kelasi anak buahnya karena berselingkuh dengan istrinya, dan lain-lain.

(35)

melebihi usia pada umumnya. Misalnya; seorang anak lima tahun menampilkan kemahirannya memainkan biola pada pertunjukkan bergengsi. Seorang anak tiga tahun yang pandai berenang dengan bermacam-macam gaya renang, dan lain-lain.

h. Binatang (Animals). Peristiwa dimana binatang yang menjadi tokoh utamanya. Misalnya; seekor anjing yang menyelamatkan majikannya dalam peristiwa kebakaran. Berita mengenai kelahiran seekor bayi harimau sumatera yang hampir punah menarik perhatian pengunjung, dan lain-lain. i. Humor (Humor). Berita mengenai kejadian lucu yang dapat menimbulkan

tawa bagi yang mengetahuinya. Contoh; penjaga gawang yang bukannya menangkap bola yang diarahkan ke kandangnya, malah menangkap sepatu pemain yang lepas saat menendang bola, dan lain-lain.

8. Penyajian Program Berita

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata program berasal dari bahasa Inggris programe atau program yang berarti acara atau rencana.30 P.C.S.

Sutisno dalam bukunya Pedoman Praktis Penulisan Skenario TV dan Video (1993), mendifinisikan program televisi ialah bahan yang telah disusun dalam suatu format sajian dengan unsur video yang ditunjang unsur audio yang secara

teknis memenuhi persyaratan layak siar serta telah memenuhi standar estetik dan artistik yang berlaku.31

Program siaran televisi di Indonesia pada umumnya diproduksi oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Terkadang sebuah stasiun televisi tidak memproduksi sendiri semua program siarannya, mereka membeli atau

memesan dari production company atau dikenal dengan sebutan production house. Stasiun televisi dapat memilih program yang menarik dan memiliki nilai

jual kepada pemasang iklan, sementara perusahaan produksi acara televisi dapat meraih keuntungan dari produksinya.

30

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka Jakarta, 2002) h. 897.

31

(36)

Dalam jurnalistik juga dikenal jenis berita menurut penyajiannya, Osolihin dalam artikelnya, membagi dalam dua jenis, yaitu Pertama, Straight News

(sering juga disebut hard news), yakni laporan kejadian-kejadian terbaru yang

mengandung unsur penting dan menarik, tanpa mengandung pendapat-pendapat penulis berita. Straight news harus ringkas, singkat dalam pelaporannya, namun

tetap tidak mengabaikan kelengkapan data dan obyektivitas.

Kedua, Soft News (sering disebut juga feature), yakni berita-berita yang menyangkut kemanusiaan serta menarik banyak orang termasuk kisah-kisah

jenaka, lust (menyangkut nafsu birahi manusia), keanehan (oddity).32

Pengertian mengenai penyajian menurut Jafar H. Assegaf, yaitu cara

menyampaikan sesuatu pemberitaan.33 Menurut Anton M. Mulyono, kata saji artinya hidangan, menyajikan, menghidangkan, sedangkan penyajian cara menyampaian pemberitaan, karangan, makalah dan sebagainya.34 Mengutip

pengertian Sudirman Teba, bahwa berita televisi terdiri atas :

“Gambar, naskah dan audio atau suara. Gabungan ketiga unsur itulah yang membedakan berita televisi dengan berita radio dan media cetak. Gambar merupakan unsur pertama dalam berita televisi. Gambar itulah yang menjadi kekuatan berita televisi, karena gambar ikut berbicara, bahkan kadang lebih berbicara dari pada naskah dan audio. Unsur kedua dalam berita televisi ialah naskah. Sebagaimana naskah berita pada umumnya juga harus memenuhi unsur berita 5W+1H (what, who, where, when, why,dan how). Unsur yang terakhirnya adalah audio atau suara. Audio tidak kalah pentingnya dibanding dengan naskah dan gambar. Walaupun suatu berita ada naskah dan gambarnya, namun jika tidak ada bunyi (on), maka bisa jadi berita tersebut tidak jelas maksudnya.”35

32

Osolihin, “Sekilas Tentang Jurnalistik”. 33

Jafar H. Assegaf, Jurnalistik Masa Kini, Pengantar ke Praktek Kewartawanan (Jakarta: Gramedia Indonesia,1992), h. 133.

34

Anton M Mulyono. Kamus besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), h. 703.

35

(37)

Sedangkan untuk penempatan program dalam siaran dapat dilihat dari dua segi yaitu dari sisi programatik dan sisi penonton atau sasaran program. Sisi pertama berkaitan dengan kesesuaian alokasi program dalam jadwal siaran, sisi

kedua berhubungan dengan aspek geokultural sasaran program yang tersebar di seluruh negeri dengan tradisi yang berlainan. Susunan program dipengaruhi

juga oleh komposisi usia, jenis kelamin, profesi, tingkat pendidikan dan persepsi.

Selain itu, penyusunan program juga harus ditinjau dari siklus waktu

secara vertikal dan horizontal. Siklus waktu vertikal adalah hubungan dari satu program ke program berikutnya dalam sequence (tata urutan rangkaian) yang

diatur secara konsisten dan berkesinambungan sampai akhir seluruh program dalam satu hari. Siklus waktu horizontal memperhitungkan pola acara (program) dari satu hari ke hari lainnya berdasarkan kebiasaan urutan rangkaian

setiap harinya bobot siaran dan kejenuhan kondisi dari komposisi program.36

G. Jurnalistik Televisi

Kebutuhan maasyarakat akan informasi tidak terlepas dari dunia jurnalistik dan pers. Jurnalistik awalnya digunakan untuk laporan yang dimuat dalam media

cetak, tapi sejak ditemukan media elektronik berupa radio dan televisi, istilah jurnalisme mencakup media elektronik37.

Jurnalistik atau journalisme berasal dari perkataan journal, yang artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari hari, atau bisa juga berarti surat kabar. Journal berasal dari perkataan Latin diurnalis, artinya harian atau tiap

36

P.C.S. Sutisno, Pedoman Praktis Penulisan Skenario TV dan Video, h. 11.

37

(38)

hari. Dari perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.

Mac Dougall menyebutkan bahwa jornalisme adalah kegiatan menghimpun

berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa38. Luwi Ishwara dalam bukunya Catatan-catatan Jurnalisme Dasar berpendapat jurnalime adalah seni dan profesi

dengan tanggung jawab professional (art and craft with professional responsibilities) yang mensyaratkan wartawannya melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik39.

Onong berpendapat bahwa, Jurnalistik merupakan istilah yang berasal dari bahasa Belanda “Journalistiek” atau bahasa Inggris “journalism”, yang bersumber

pada perkataan “journal” sebagai terjemahan dari bahasa Latin “diurnal” yang berarti harian atau setiap hari40.

Secara sederhana jurnalistik dapat diartikan sebagai teknik mengolah berita

dari tahap pencarian berita sampai akhirnya sebuah berita disampaikan kapada khalayak. Segala yang terjadi baik itu fakta peristiwa atau sebuah opini yang

diucapkan seseorang, jika dapat menarik perhatian khalayak akan menjadi bahan dasar bagi jurnalistik untuk dijadikan berita dan kemudian diolah untuk disampaikan kepada khalayak.

Tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya kepada warga masyarakat agar dengan informasi tersebut dapat

berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas. Bill Kovach dan Tom

38

Hikmat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik , h. 15

39

Luwi Ishwara, Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005), h.7

40

(39)

Rosentiel mengatakan ada sembilan inti prinsip jurnalisme yang harus dikembangkan, yaitu :

1. Kebenaran. Tugas pertama wartawan adalah mencari kebenaran dan

melaporkannya secara menyeluruh dan jujur. Hal ini adalah standar jurnalistik yang harus dilaksanakan.

2. Loyalitas. Seorang jurnalis harus dapat memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan publik di atas kepentingan lainnya.

3. Verifikasi. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan

bentuk-bentuk komunikasi lainnya, seperti propaganda, fiksi atau hiburan. Seorang wartawan harus melakukan verifikasi dengan cara menelusuri

sekian saksi untuk sebuah peristiwa, mencari sekian banyak narasumber dan mengungkapkan sekian banyak komentar. Lima konsep verifikasi menurit Bill Kovach dan Rosential yaitu : Jangan menambah atau

mengarang apa pun, jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang

metode dan motivasi dalam melakukan reportase, bersandarlah terutama pada reportase anda sendiri, dan bersikaplah rendah hati

4. Kemandirian terhadap apa yang diliputnya. Hal ini mengandung pengertian

seorang wartawan tidak boleh diam-diam menerima suap. Seorang wartawan harus menunjukan kredibilitas kepada berbagai pihak melalui

(40)

jurnalisme, publik, hati nurani dan kesetiaan kita terhadap Tuhan yang Maha Esa.

5. Pemantau yang bebas terhadap kekuasaan. Elemen ini bukan berarti

pekerjaan wartawan mengganggu orang yang berbahagia dengan menampilkan berita-berita buruk. Elemen ini terkait dengan kegiatan

investigative pers. Kegiatan media melaporkan berbagai pelanggaran, kasus atau kejahatan yang dilakukan pihak-pihak tertentu, baik pihak pemerintah atau lembaga-lembaga yang kuat di masyarakat.

6. Menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik. Prinsip ini merupakan upaya media menyediakan ruang kritik dan kompromi kepada

publik. Ketika sebuah berita dilaporkan, media berarti mengingatkan masyarakat akan terjadi sesuatu. Selain berita, media juga menyediakan ruang analisis untuk membahas peristiwa melalui konteks, perbandingan

atau perspektif tertentu. Dalam sebuah media, khususnya media cetak, biasanya ada kolom opini, editorial, suara pembaca sebagai wadah bagi

kritik dan pendapat publik.

7. Membuat yang penting menjadi menarik dan relevan karena jurnalisme adalah bercerita dengan suatu tujuan. Jurnalisme adalah suatu teknik

menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada publik. Elemen ini mewajibkan media untuk melaporkan berita dengan cara yang

(41)

8. Proporsional dan komprehensif. Mutu jurnalisme amat tergantung kepada kelengkapan dan proporsionalitas pemberitaan yang dikerjakan media. Elemen ini mengingatkan media agar tidak memberikan berita yang

berlebihan apalagi melaporkannya dengan tidak melakukan verifikasi, pengecekan silang dan wawancara ke berbagai pihak yang terkait. Berita

yang disajikan tidak berdasarkan fakta yang didapat dapat saja menyesatkan publik.

9. Memiliki tanggung jawab terhadap suara hatinya agar segala tindakannya

dapat sesuai dengan etika jurnalistik dan ajaran agama yang mereka anut. Sikap dasar wartawan pada akhirnya mengembalikan segala kerja kerasnya

itu kepada Tuhan agar mengandung nilai ibadah karena profesi wartawan pada dasarnya adalah suatu upaya untuk mencari, membela serta menegakkan kebenaran.

Media massa adalah sarana komunikasi dalam kehidupan manusia yang

mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan aspirasi antar manusia secara universal berbagai isi pesan41. Terdapat dua jenis media massa, yaitu media massa yang diterbitkan tidak secara periodik, misalnya: buku, pamplet, selebaran,

spanduk. Dan media massa yang disiarkan secara periodik, misalnya surat kabar dan majalah, yang tergolong media cetak, radio, televisi, film atau tergolong media

elektronik.

Media massa adalah sarana untuk menyampaikan isi pesan, pernyataan, informasi yang bersifat umum kepada sejumlah orang yang jumlahnya relatif besar,

41

(42)

tersebar, heterogen, anonim, tidak terlembaga, perhatiannya berpusat pada isi pesan yang sama, yaitu pesan dari media massa yang sama dan tidak dapat memberikan arus balik secara langsung pada saat itu.

Kebutuhan akan informasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kepentingan kehidupan sehari-hari yang sifatnya sangat mendasar. Sejak munculnya Acta

diurna dan Acta senata sebagai tolak ukur awal mula adanya jurnalistik tulis dan media cetak, semakin berkembang pula media massa lainnya sebagai penyampai informasi.

Perkembangan teknologi percetakan lambat laun mencapai kejayaan saat ditemukannya mesin cetak, mesin pembuat kertas serta mesin uap pada abad ke-18.

Sehingga dapat memproduksi ratusan ribu eksemplar hanya dalam beberapa menit. Setelah perkembangan media cetak, hadirnya radio kemudian memainkan perannya juga sebagai penyampai informasi. Pada tahun 1802 ditemukan bahwa

pesan dapat dikirim lewat kawat beraliran listrik dalam jarak pendek. Setelah dua media pendahulunya, barulah televisi memasuki eranya dalam dunia penyampaian

informasi. Dengan gabungan daya Audio dan visual yang dimiliki media cetak dan radio, televisi menjadi teknologi yang pesat sehingga siarannya menyebabkan seolah-oleh tidak ada batas antara satu negara dengan negara lainnya.

Dengan hadirnya tiga media informasi massa tersebut, bukanlah berarti adanya persaingan, tapi diharapkan ketiga media tersebut harus saling mengisi satu

sama lain.

(43)

tujuannya tetap sama yaitu untuk memberikan informasi, menghibur, mendidik bahkan mempengaruhi khalayak.42

Masih menurut Deddy, pada umumnya isi program siaran di televisi meliputi

acara yang sama dengan media cetak dan radio, hanya saja namanya disesuaikan dengan keinginan stasiun masing-masing. Seperti : News reporting, talk show,

call-in show, documentair, magazcall-ine, rural program, advertiscall-ing, education, art dan

cultural, music, soap operas, TV Movies, game show, dan comedy, dll. Tapi bukan berarti jenis program siaran tersebut mutlak harus disiarkan, itu semua tergantung

kepada dan apa konsep masing-masing stasiun televisi.

Sebagai produk media massa, hadirnya televisi terasa memperpendek jarak

antar negara, sehingga arus berita dan informasi yang disajikan lewat televisi semakin beragam. Televisi selain menyajikan aspek hiburan juga menyiarkan berita yang bersifat sosial kontrol. Karena itu, televisi sebagai media massa telah

menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di rumah tangga masing-masing.43 Di dalam medium televisi, kelompok yang termasuk di dalam bahasan

jurnalistik siaran (broadcat journalism) adalah sebagai berikut: News/Berita (straight, investigative), News Interview/Wawancara berita, Feature/Human interest, Magazine/Tabloid, Ulasan/Editorial, Live Reporting/Siaran

langsung/Siaran Pandangan Mata.

Keenam jenis dalam kelompok reporting tersebut memiliki perbedaan baik

dalam format penyajian maupun teknik penulisannya. Meskipun begitu, semuanya

42

Deddy Iskandar, Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter, h. 7.

43

(44)

memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan informasi baik untuk tujuan menghibur, mendidik maupun mempengaruhi.

Meskipun begitu, sudah sekian lama sejak hadirnya televisi, televisi dicurigai

sebagai agen budaya yang membawa kepentingan pasar. Semua acara di televisi yang dihadirkan di masyarakat tak lebih dari perpanjangan budaya pasar dengan

kapitalisme yang bergerak di belakangnya. Hal inilah yang perlu dikhawatirkan pada setiap konstruksi program televisi.

Dengan begitu banyaknya konsep acara televisi, maka sebuah industri

televisi, dipaksa harus mampu menyajikan acara-acara yang tidak biasa antar stasiun televisi lainnya. Stasiun televisi harus mampu menghadapi persaingan pasar

dan konsumen, dan rutinitas media. Tak ubahnya perusahaan yang berusaha menjual produk dan jasa, stasiun televisi harus menjual produ-produk yang dapat dijual melebihi biaya produksi untuk mendapatkan keuntungan.44

H. Analisis Wacana

1. Konsep Analisis Wacana

Analisa adalah cara mengkaji soal dengan mencari unsur-unsur dasar yang terkandung dalam persoalan tersebut dan kemudian menggali hubungan antara

unsur-unsur itu, proses pemecahan kasus secara teratur, terorganisasi, sistematis, dan langkah menguraikan satu keseluruhan ke dalam bagian-bagian.

44

(45)

Sedangkan analisis adalah memecahkan, menguraikan, melepaskan, dan membuat terurai. 45

Pengertian wacana sendiri ditemukan berbagai definisi. Wacana dipakai

sebagai terjemahan dari perkataan bahasa Inggris discourse. Kata discourse

sendiri berasal dari bahasa latin discursus yang berari lari kian-kemari (yang

diturunkan dari dis-’dari, dalam arah yang berbeda’, dan currere ’lari’), 1. komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan. 2. komunikasi secara umum, terutama sebagai

suatu subjek studi atau pokok telaah. 3. risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah.46

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, wacana adalah Ucapan; perkataan; tutur, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan, satuan bahasa terlengkap, dan realisasiya tampak pada bentuk karangan yang utuh.47

Pengertian wacana dalam lapangan sosiologi yaitu, wacana menunjuk pada hubungan antara konteks sosial dari pemakaian bahasa. Sedangkan dalam

pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat, baik disampaikan secara lisan atau tulisan. Wacana adalah rangkaian kalimat yang serasi, yang menghubungkan proposisi satu dengan proposisi lain, kalimat

satu dengan kalimat lain, membentuk satu kesatuan.48

Mengutip Eriyanto dalam bukunya Analisis Wacana, Pengantar Teks Media, menyatakan bahwa :

45

Save M. Dagun, Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN), Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Percetakan Golo Riwu, 1997), h. 44.

46

Drs. Alex Sobur, M.Si., Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisia Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 9.

47

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 1005.

48

(46)

“Pengertian satu kalimat dihubungkan dengan kalimat lain dan tidak ditafsirkan satu persatu kalimat saja. Kesatuan.bahasa itu bisa panjang bisa pendek. Sebagai sebuah teks, wacana bukan urutan kalimat yang tidak mempunyai ikatan sesamanya, bukan kalimat-kalimat yang dideretkan begitu saja. Ada sesuatu yang mengikat kalimat-kalimat itu menjadu sebuah teks, dan yang menyebabkan pendengar atau pembaca mengetahui bahwa ia berhadapan dengan sebuah teks atau wacana dan sebuah kumpulan kalimat melulu yang dideretkan begitu saja. Studi wacana dalam linguistic, merupakan reaksi terhadap studi linguistic yang hanya meneliti aspek kebahasaan dari kata atau kalimat saja. Kata atau kalimat itu dipelajari secara independen, tidak dihubungkan dengan kalimat-kalimat lain. Di sini, studi hanya dilekatkan pada frase atau kalimat-kalimat belaka, tidak dihubungkan dengan relasi antarkalimat sebagai satu kesatuan utuh.”49

Mengutip pengertian Wacana menurut beberapa ahli antara lain, menurut Ismail Marahimin mengartikan ”wacana sebagai kemampuan untuk maju

(dalam pembahasan) menurut urut-urutan yang teratur dan semestinya, dan komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.”

Menurut Henry Guntur Tarigan, ”istilah wacana dipergunakan untuk

mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraan di muka umum, tulisan, serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan

sandiwara atau lakon”.

Menurut Samsuri, ”wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang

mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain”. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan tulisan.

Menurut Alex Sobur, ”wacana sebagai ragkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur,

49

(47)

sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.”50

Berdasarkan rumusan pendapat mengenai pengertian wacana tersebut,

maka dapat dirangkum pengertian wacana itu adalah ”sebuah cara mengkomunikasikan pikiran dalam bentuk lisan maupun tulisan yang teratur

dan sistematis dalam kesatuan bahasa yang besar, dengan tema-tema dan topik-topik yang disajikan kepada khalayak”.

2. Model Analisis Wacana Teun A. Van Dijk

Terdapat beberapa model dalam komunikasi, diantaranya menurut Dedy

Mulyana yang menitikberatkan bahwa komunikasi itu adalah suatu proses yang telah diterima secara luas.51 Sedangkan model dalam penelitian merupakan gambaran suatu penelitian.

Model memperjelas apa yang akan diteliti, mengidentifikasikan variabel, dan menunjukkan kemungkinan hubungan di antara

variabel-variabel.52 Dengan adanya model penelitian, maka dapat mempermudah pemikiran agar sistematis dan logis, dan membantu agar berpikiri rasional.

Guna mempermudah penelitian, adapun model yang digunakan adalah

dengan mengelaborasi elemen-elemen wacana sehingga bisa didayagunakan dan dipakai secara praktis yaitu metode yang diperkenalkan oleh Teun A. Van

Dijk dengan model “Kognisi Sosial”. Penelitian atas wacana tidak hanya

50

Alex Sobur, Analisis Teks Media, hal. 9

51

Drs Jumroni, M.Si dan Drs. Suhaimi, M.Si, Metode-metode Penelitian Komunikasi (UIN Jakarta Press Jakarta, 2006), cet-1, hal. 49.

52

(48)

didasarkan pada analisis atas teks semata, tetapi dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi.

Selain itu, van Dijk juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan

kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks

tertentu.

Dengan menggabungkan definisi bahasa berdasarkan setidaknya tiga pandangan, yaitu positivisme empiris, konstruktivisme, dan pandangan kritis.

Wacana model van Dijk merangkum model analisis wacananya dengan mengkategorikannya ke dalam tiga dimensi wacana yang digabungkan ke

dalam satu kesatuan analisis. Tiga dimensi yang ditekankan pada analisis wacana van Dijk yaitu :

Pertama, Teks. Yaitu menganalisis bagaimana strategi wacana yang

dipakai untuk menggambarkan seseorang atau peristiwa tertentu. Bagimana strategi tekstual yang dipakai untuk menyingkirkan atau memarjinalkan suatu

kelompok, gagasan, atau peristiwa tertentu.

Yang menjadi objek penelitian adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Serta membagi

teks ke dalam struktur makro, superstruktur dan struktur mikro. Adapun elemen wacananya adalah :

Tabel 2

Gambar

Gambar dan kata-kata merupakan hal penting dalam jurnalisme televisi.
gambaran suatu penelitian.
Tabel 2

Referensi

Dokumen terkait