• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha Perkebunan Rakyat Di Aceh Selatan 1935-1950

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Usaha Perkebunan Rakyat Di Aceh Selatan 1935-1950"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

USAHA PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950

SKRIPSI SARJANA

Dikerjakan O

l e h

Oriza satifarnianti Nim. 040706004

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA

DEPARTEMAN ILMU SEJARAH MEDAN

(2)

USAHA PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950 SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN O

l e h

Oriza Satifarnianti Nim 040706004

Pembimbing

Dra. Peninna Simanjuntak, M.S Nip 131 570 489

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

USAHA PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950

Yang diajukan oleh Nama : Oriza Satifarnianti Nim : 040706004

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh Pembimbing

Dra. Peninna Simanjuntak, M.S Tanggal Nip 131 570 489

Ketua Departemen Ilmu Sejarah

Dra. Fitriaty Harahap S.U Tanggal Nip 131 284 309

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SEMATERA UTARA MEDAN

(4)

Lembar Pengesahan Pembimbing skripsi

USAHA PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950

Skripsi Sarjana DIKERJAKAN O

l e h

Oriza Satifarnianti 040706004

Pembimbing

Dra. Peninna Simanjuntak, M.S Nip 131 570 489

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian

Fakultas Sastra USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat Ujian SARJANA SASTRA dalam bidang Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA

(5)

Lembar Persetujuan Ketua Jurusan

DISETUJUI OLEH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH

Ketua Departemen

Dra. Fitriaty Harahap S.U Nip. 131 284 309

(6)

Lembar pengesahan skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian

Diterima oleh.

Panitia Ujian Fakultas Sastra Uneversitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan.

Pada : Hari : Tanggal :

Fakultas Sastra USU Dekan

Drs. Syaifuddin, M.A,. Ph.D Nip 132 098 531

Panitia Ujian.

No. Nama Tanda Tangan

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur Alhamdullah penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, serta shalawat dan salam atas junjungan nabi Besar Muhammad SAW yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNYA yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, ketabahan, serta ketekunan kepada penulis, sehingga selesainya penulisan skripsi ini.

Dengan selesainya skripsi ini, penulis sangat mengucapkan rasa terima kasih kepada :

1. Terimakasihku untuk Ayahanda tersayang Mahlan Helmy,A.md dan Mamanda Muslimah tercinta yang telah mencurahkan seluruh jiwa dan raganya dalam mendidik, membesarkan dan merawat Ananda dari lahir sampai saat ini tanpa pernah merasa lelah, walau sering Ananda membuat kalian sedih dan kecewa. Hanya berupa skripsi ini yang dapat ananda berikan kepada Ayahanda dan Mamanda.

2. Ibu Dra. Peninna Simanjuntak, M.S selaku dosen pembimbing dalam penulisan skripsi ini yang telah begitu banyak memberikan dorongan, semangat, dan telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis. Budi baik yang ibu berikan akan selalu penulis ingat, tak mungkin penulis dapat membalas semua budi baik Ibu, hanya Tuhan yang dapat membalasnya.

3. Ibu Dra. Fitriaty Harahap S.U, selaku Pimpinan Departeman Ilmu Sejarah yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama dalam perkuliahan.

4. Bapak Pimpinan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, penulis tak lupa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan selama mengikuti kuliah.

(8)

6. Bunda Haswita selaku Dosen Wali yang telah banyak memberikan nasehat-nasehat kepada penulis mulai dari awal perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini. Semua nasehat yang bunda berikan akan selalu penulis ingat, tak mungkin penulis dapat membalas semua yang telah bunda berikan, hanya Allah yang dapat membalasnya.

7. Kedua Adinda ku Meristika Fahzurrahman dan Khairunnas terimakasih telah menghibur kakak dalam menjalani masa penyelesaian skripsi dan liku-liku kehidupan yang kita alami. Nenek ku Mariaton yang setia menemani menulis dalam perantauan untuk menempuh pendidikan. Spesial Kakak ku Nurnajmiati yang membantu dan menemani penulis dalam penelitian skripsi. 8. Sahabat Aliyah Salmiati, Fitri, Asyraf, Afiful, Heri. Terimakasih telah

menjadi ojek dan penghibur serta memberikan akomodasi kepada penulis selama masa penelitian di Banda Aceh, ayo semangat untuk cepat selesaikan kuliah kalian.

(9)

10. Bu Ijah dan Icha “centil” spesial terimakasih penulis atas limpahan kasih kasih sayang dan dukungan selama ini, semangat dan tegar ya bu dalam menghadapi liku-liku kehidupan.

11. Terima kasih khusus dan spesial penulis ucapkan kepada yang tersayang (Teddy Bear) yang telah banyak mengorbankan waktu, tenaga dan lainnya dalam mendampingi, menemani dan membantu penulis dalam penyelesaian proposal sampai penulisan Skripsi.

Akhirnya untuk semua pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan beribu ucapan terima kasih. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dengan ganjaran yang berlipat ganda.

Medan, Desember 2008. Penulis,

(10)

DAFTAR ISI

halaman HALAMAN PENGESAHAN

UCAPAN TERIMA KASIH ... i

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... ... 1

1.2 Rumusan Masalah... ... 9

1.3 Tujuan dan Mamfaat... ... 10

1.4 Tinjauan Pustaka... 11

1.5 Metode Penulisan... 12

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH ACEH SELATAN... 14

2.1 Keadaan Geografis... 14

2.2 Keadaan Penduduk... 18

2.3 Keadaan Sosial Ekonomi... 21

2.3.1 Keadaan Sosial... 21

2.3.2 Keadaan Ekonomi... 25

BAB III KEDUDUKAN PERKEBUNAN RAKYAT DALAM MASYARAKAT... 30

1.1 Sistem Kerja ... 30

1.2 Jenis Tanaman Pertanian... 39

BAB IV PASANG SURUT PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950... 46

4.1 Masa kolonial Belanda... 46

4.2 Masa Jepang... 53

4.3 Masa Awal Kemerdekaan... 58

BAB V PENUTUP... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 65 LAMPIRAN

(11)
(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dan Masalah

Pertanian merupakan kumpulan dari usaha yang bergerak di bidang pembudidayaan tanaman pangan atau semusim, tanaman keras, perikanan dan peternakan. Sektor perkebunan mengusahakan tanaman keras dengan komoditi kelapa sawit, kelapa, kopi, teh, tembakau, gula tebu, cengkeh dan lain-lain, sedangkan komoditi dari tanaman pangan atau semusim adalah padi, palawija dan sayur-sayuran. Tanaman keras dan tanaman pangan atau semusim dibedakan dari segi umur tanaman keras yang panjang, biasanya memiliki umur diatas sepuluh tahun dan perawatan yang tidak secara rutin dilakukan sedangkan tanaman pangan memiliki umur yang pendek hanya berkisar tiga bulan dan memerlukan perawatan yang sangat rutin1. Hasil pertanian yang dianggap mendatangkan laba besar adalah dari sektor perkebunan, karena hasil komoditi perkebunan memiliki nilai ekspor yang tinggi dalam perdagangan internasional.

(13)

warga desa. Tingkat pendidikan tidak menjadi hal utama untuk meningkatkan status sosial bagi masyarakat pedesaan yang masih tradisional.

Sejak bentuk pemerintahan Indonesia masih bersifat kerajaan, perekonomian Indonesia sudah bergantung pada hasil pertanian khususnya sektor perkebunan, hal ini dapat dilihat dari pendapatan dari dua kerajaan nasional Indonesia pada zaman Hindu-Budha yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan kerajaan maritim dan Majapahit sebagai kerajaan agraris. Wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau menjadikan tingkat keadaan sosial budaya masyarakat berbeda-beda, tergantung pada kemajuan yang diterima oleh masyarakat itu sendiri.

Masyarakat Indonesia memiliki tingkat sosial dan budaya yang berbeda, Perbedaan ini karena pada masa awal kedatangan bangsa Barat, wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan terdiri dari beragam suku dan etnis. Perbedaan ini terdapat pada bentuk penerimaan, rentang waktu, letak geografis, dan keadaan sifat asli dari penduduk setempat. Biasanya masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi. tetapi masyarakat Indonesia mendapat pengaruh kebudayaan dari tempat yang sama.

(14)

Indonesia karena mengetahui bahwa di wilayah Indonesia memiliki kekayaan komoditi hasil pertanian yang dicari oleh masyarakat internasional, sehingga menggugah bangsa asing untuk datang langsung ke Indonesia.

Pada abad 15, agama Islam mulai berkembang di Sumatera dan Jawa dan akhirnya mencapai kepulauan Maluku. Indonesia Dalam yang terdiri atas Pulau Jawa, Madura, Bali Selatan dan Lombok Barat, dan Indonesia Luar terdiri atas Jawa Barat Daya dan Pulau-Pulau lain yang ada di Indonesia mempunyai ciri dan agroekosistem yang berbeda.2 Di Indonesia Dalam, pertanian dataran rendah banyak dijumpai sementara di Indonesia Luar lebih banyak dikerjakan perdagangan di dalam ekosistem hutan tropika. Msyarakat desa, karena perbedaan kesuburan tanah satu demi satu meninggalkn fase subsisten dan mulai melakukan perdagangan tukar menukar, mula-mula pada tingkat lokal dan berkembang ke tingkat regional3.

Bangsa asing dengan tujuan mencari rempah-rempah secara resmi mulai berdatangan ke wilayah Indonesia pada abad ke-16. Portugis dengan armada yang dipimpin oleh Vasco da Gama adalah orang asing pertama yang tiba di Indonesia tepatnya di wilayah kepulauan Maluku. Tahun 1580 armada Inggris yang dipimpin oleh Francis Drake melewati perairan Indonesia dalam perjalanannya mengelilingi dunia ke arah Barat, sedangkan bangsa Belanda yang menjajah Indonesia tiba pada akhir abad 16.

2

(15)

Seperti bangsa-bangsa asing lainnya tujuan Belanda datang ke Indonesia adalah untuk mencari keuntungan yang besar melalui hasil bumi Indonesia. untuk mencapai tujuannya ini Belanda berusaha menguasai sektor pertaniannya Indonesia khususnya perkebunan dengan mendirikan Verenigde Oost Indsche Compagnie ( VOC). Melalui VOC Belanda berusaha memonopoli perdagangan hasil kebun rakyat yang memiliki nilai ekspor, membeli dengan harga murah adalah cara Belanda. Hasil kebun yang menjadi komoditas ekspor bagi Belanda adalah cengkeh, kopi dan tebu. VOC mengalami kemunduran karena kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat dan dana VOC juga digunakan untuk biaya perang dengan kaum-kaum yang melawan pemerintah Belanda.

(16)

Sistem tanam paksa ini akhirnya dihentikan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah mendapat perdebatan dari pihak parlemen, sebagai gantinya adalah mulai diberi izin terhadap pengusaha Barat untuk mendirikan perkebunan. Para tuan tanah yang didominasi oleh kaum bangsawan mulai meneyewakan tanahnya untuk perkebunan kepada pihak pengusaha asing karena melihat banyaknya keuntungan yang didapatnya. Sejak tahun 1835 di Indonesia mulai tumbuh usaha perkebunan swasta. Para pengusaha perkebunan lebih memilih pada tanaman keras karena ini merupakan komoditas ekspor.

Seperti daerah-daerah lain yang ada di Indonesia, perekonomian utama masyarakat yang ada kabupaten Aceh Selatan bergerak di bidang pertanian dan perikanan ditinjau dari letak geografis daerah ini terletak di bibir pantai berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di Sebelah Selatan dan Utara berada di lereng gunung Leuser.

Berdasarkan fakta sejarah, pada zaman kolonial Aceh Selatan belum menjadi sebuah kabupaten tetapi masih berada di bawah daerah Aceh Barat (west

Kust van Aceh) berupa Onder Afdeling. Namun sejak tahun 1946 kabupaten Aceh

Selatan terbentuk dengan menggabungkan 3 Onder Afdeling yaitu : 1. Onder Afdeling Tapak Tuan dengan ibunegerinya Tapak Tuan.

2. Onder Afdeling Z.A. Landschapen dengan ibunegerinya Bakongan.

(17)

Ketiga Onder Afdeling ini disatukan menjadi kabupaten Aceh Selatan memiliki 18 kecamatan.4 Kepala daerah kabupaten Aceh Selatan yang pertama adalah M.Sahim Hasymy.

Daerah pesisir barat Aceh sudah lama dikenal memiliki kota-kota pelabuhan yang meliputi wilayah Daya, Meulaboh, Singkil, Barus, Tiku, Pariaman, Sebedeh, Pulo Dua, Kluet, Meukek, Labuhan Haji, Manggeng, Susoh, Kuala Batee, Tapaktuan dan Samadua. Berdasarkan studi dokumen dan surat-surat kapal yang tersimpan dalam arsip-arsip bangsa Portugis dan Amerika mengenai perdagangan di pantai Barat dan Selatan Sumatera, kota-kota pelabuhan seperti yang tersebut diatas telah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Portugis dan Amerika sebelum Belanda datang5. Komoditi yang diperdagangkan di pelabuhan tersebut adalah hasil pertanian berupa beras, pinang, damar, kemenyan hitam dan putih, sari wangi-wangian, tali-temali, gading gajah, emas, belerang, dan minyak tanah.

Hasil pertanian yang diperdagangkan mulai teratur sejak kedatangan dan ikut campurnya pemerintah kolonial Belanda melalui penyuluhan terhadap peningkatan program pertanian seperti pengolahan tanah, peremajaan atau reboisasi pohon kelapa, pinang, lada, karet, serta areal persawahan. Peningkatan jumlah tanaman pohon kelapa dianjurkan kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai barat dan selatan mulai dari daerah Calang, pulau Semeulu, Meulaboh, Susoh,

4

5

(18)

Manggeng, Tapaktuan, sampai ke Singkil dan Pulau Banyak6. Tanaman kelapa selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga diolah untuk kebutuhan ekspor dalam bentuk kopra. Kopra merupakan ekspor paling menguntungkan dan di ekspor ke Penang dan Eropa. Selain kelapa, komoditas ekspor lain yang menguntungkan adalah daun nilam. Tanaman nilam merupakan usaha masyarakat yang dilakukan secara besar-besaran. Nilam biasanya ditanam di area pegunungan. Hasil panen nilam tidak dijual dalam bentuk asli tetapi sudah dalam bentuk minyak sulingan.

Pemerintah kolonial menganjurkan masyarakat untuk menanam pohon kelapa di sepanjang pantai dan juga tanaman lain seperti pinang, lada, dan pala. Pemerintah kolonial tidak membangun suatu sistem perkebunan milik pemerintah kolonial. Perkebunan milik perusahaan asing menanam karet dan kelapa sawit di wilayah Singkil.

Pesatnya perkembangan tanaman perkebunan yang menjadi komoditas ekspor dapat meningkatkan keuntungan tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga keuntungan bagi pemerintah kolonial Belanda. Untuk meningkatkan dan melancarkan distribusi hasil pertanian maka pemerintah kolonial Belanda mulai membangun sarana infrastuktur berupa jalan raya dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Tindakan ini agaknya sengaja dilakukan untuk mengambil hati rakyat Aceh.7

Bentuk lain dari realisasi pertanian yang dilakukan oleh pemerintah kolonial juga diberikan dalam bentuk pinjaman modal tanpa bunga. Pemerintah kolonial

(19)

Belanda juga membangun perusahaan perkebunan kelapa sawit di daerah Singkil pada tahun 1937, yaitu NV Handelsveereeniging Amsterdam dan Societe Financiere, perusahaan Belgia. Walaupun tanaman jenis kelapa sawit sudah dikelola oleh perusahaan asing, namun yang menjadi komoditas ekspor utama Aceh Selatan tetap tanaman pala, kelapa dan pinang yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan ekspor bukan sebagai tujuan utama.

Sampai akhir abad 19, masyarakat wilayah pantai Barat dan Selatan Aceh melakukan hubungan dagang tidak dengan Belanda saja. Hubungan dagang juga dilakukan dengan Amerika dan Inggris untuk memasarkan hasil bumi wilayah ini. Bukti dari kegiatan dagang ini banyak ditemukan dalam surat-surat kapal dagang Amerika dan Inggris. Hubungan dengan kedua negara ini berlangsung dengan baik dan mulai terputus sejak Belanda menguasai Barus.8

Tanaman kopra, pinang, dan pala yang menjadi usaha pertanian rakyat Aceh Selatan tidak berada dibawah Onderneming tetapi menjadi mata pencaharian rakyat. Rakyat mengelola pertaniannya secara pribadi berdasarkan kepemilikan tanah. Rakyat yang mempunyai tanah dapat mengolah tanahnya untuk pertanian. Tanah-tanah yang ada di Aceh khususnya Aceh Selatan bukan milik raja tetapi milik rakyat. Kepemilikan tanah di Aceh memiliki hukum tersendiri tidak sama dengan wilayah lain di Nusantara walau secara sekilas kita melihatnya sama.

8

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Periode sebagai batas waktu penelitian 1935 sampai 1950. Diawali dengan dari tahun 1935 karena pada masa ini sudah mulai ada campur tangan pemerintah kolonial dalam hal cara mengolah tanah dan tanaman pertanian serta mulai didirikan perusahaan asing. Sedangkan tahun 1950 adalah batasan akhir dari penelitian ini karena sampai pada masa ini banyak terjadi peristiwa penting, seperti pergantian kekuasaan dari pemerintah kolonial Belanda ke Jepang serta kemerdekaan Indonesia.

Untuk memudahkan penelitian ini, maka masalah yang diajukan lebih disederhanakan sebagai berikut:

1. Bagaimana keadaan sosial budaya masyarakat Aceh Selatan?

2. Apa jenis tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat Aceh Selatan? 3. Mengapa tanaman ini yang dibudidayakan oleh masyarakat Aceh

Selatan?

(21)

1.3 Tujuan Dan Manfaat

Penelitian ini sudah tentu mempunyai tujuan dan mamfaat yang sangat besar tidak hanya bagi yang memiliki kepentingan tertentu tetapi juga akan menjadi satu wawasan baru bagi masyarakat banyak.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan: 1. Keadaan sosial budaya masyarakat Aceh Selatan

2. Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh mayarakat Aceh Selatan. 3. Alasan tanaman ini yang dibudidayakan oleh masyarakat Aceh Selatan. 4. Mengetahui perkembangan perkebunan rakyat di Aceh Selatan. Periode

1935-1950.

Sehubungan dengan tujuan penelitian yang tertulis diatas maka akan memberikan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai tambahan referensi jika kedepannya ada yang melanjutkan penelitian ini.

2. Menjadi satu informasi penting bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakt Aceh Selatan pada khususnya.

(22)

1.4 Tinjauan Pustaka

Literatur yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah melalui studi kepustakaan berupa buku dan makalah yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti dan dapat membantu dalam penelitian ini.

Buku pertama yang digunakan adalah Ketika Pala Mulai Berbunga ditulis oleh mantan Bupati Aceh Selatan bapak Drs.H.Sayed Mudhahar Ahmad. Buku ini merupakan seraut wajah Aceh selatan berisi tentang kondisi geografis, sejarah Aceh Selatan, sumber daya yang dimiliki serta bagaimana sumber mata pencaharian dari masyarakat. Buku ini diterbitkan pada tahun 1992 ketika beliau menjabat sebagai bupati.

Buku karangan dari James C.Scoot dengan judul Moral Ekonomi Petani, dipakai dalam penelitian ini sebagai bahan perbandingan yang memiliki sedikit kesamaam terhadap masalah yang akan dikaji. Dalam buku ini menceritakan tentang kondisi para petani yang berada di Asia Tenggara, yang setidaknya memiliki kesamaan etos kerja masyarakat Aceh Selatan.

(23)

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penulisan dalam bentuk ilmiah yang tentu saja memerlukan metode untuk suatu hasil yang lebih baik. Metode sejarah yang digunakan untuk menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan pada masa lampau9. Metode merupakan aturan-aturan yang dirancang untuk membantu dengan efektif dalam mendapatkan kebenaran suatu sejarah. Metode sejarah bersifat ilmiah jika dengan ilmiah dimaksudkan mampu untuk menentukan fakta yang dapat dibuktikan dan dengan fakta diperoleh hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah dan bukannya suatu unsur daripada aktualitas yang lampau10.

Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap Heuristik yaitu: mengumpulkan informasi mengenai bahan yang berhubungan dengan penelitian ini, antara lain data-data berupa laporan hasil produksi yang ada pada waktu itu dengan menggunakan literatur dari buku-buku, dokumen-dokumen yang didapat dari badan arsip daerah kabuten Aceh Selatan, situs internet dan wawancara dengan informan yang memiliki informasi mengenai masalah yang dikaji serta telah memenuhi syarat sebagai seorang informan. Dari data dan sumber yang telah terkumpul selanjutnya melakukan kritik terhadap data yang terkumpul, dan langkah ini disebut dengan Kritik Sumber (intern dan ekstern). Kemudian Interpretasi yang menafsirkan sumber-sumber yang terkumpul agar menjadi fakta sejarah yang valid.

9

Louis Gotschalk. Understanding History, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto, 1985. Jakarta: UI Press. Hal. 32

10

(24)

Dan langkah yang terakhir adalah Historiografi yaitu tulisan sejarah yang sistematis dan kronologis.

(25)

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH ACEH SELATAN

2.1 Keadaan Geografis

Pada masa pemerintahan Belanda wilayah Aceh di bagi menjadi beberapa

Afdeling. Sebelum kabupaten Aceh Selatan terbentuk masih berada di bawah

Afedeling West kust van Aceh (Aceh Barat), dalam istilah Belanda dan Nizi

Aceh(Aceh Barat) dalm istilah Jepang. ketika itu wilayah Aceh Selatan masih

berbentuk Onder Afdeling atau kewedanaan. Pemekaran wilayah Aceh Selatan terjadi setelah satu tahun Indonesia merdeka pada tahun 1946.

Pembentukan wilayah Aceh Selatan adalah gabungan dari tiga Onder

Afdeling dan satu Landschap yaitu Onder Afdeling Tapak Tuan, Onder Afdeling

Singkil, Onder Afdeling Z.A Landschapen Bakongan dan Landschap Blangpidie. Pada awalnya kabupaten Aceh Selatan terbagi menjadi 18 kecamatan diantaranya meliputi:

(26)

7. Kecamatan Sawang, 8. Kecamatan Samadua, 9. Kecamatan Tapak Tuan, 10. Kecamatan Kluet Utara, 11. Kecamatan Kluet Selatan, 12. Kecamatan Bakongan, 13. Kecamatan Trumon,

14. Kecamatan Simpang Kanan, 15. Kecamatan Simpang Kiri, 16. Kecamatan Subulussalam 17. Kecamatan Singkil, 18. Kecamatan Pulau Banyak.

Pembentukkan Kabupaten Aceh Selatan didasari oleh luasnya wilayah Aceh Barat dan dengan dibentuknya kabupaten Aceh Selatan maka lebih mendekatkan masyarakat dengan pemerintah pusat daerah.

Pemerintahan Belanda dan pemerintahan Jepang karena kabupaten Aceh Selatan belum ada dan masih di bawa Afdeling Westkust van Aceh. Wilayah yang berbatasan dengan wilayah tersebut adalah :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, - Sebelah Barat berbatasan dengan Lautan Hindia,

(27)

Tetapi setelah mengalami pemekaran dan terbentuk menjadi satu kabupaten Aceh Selatan wilayah ini berbatasan dengan :

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Barat - Sebelah Barat berbatasan dengan dengan Samudera Hindia - Sebelah Timur berbatasan dengan Tanah Gayo dan Alas - Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Posisi wilayah kabupaten Aceh Selatan terletak pada 2º - 4º Lintang Utara dan 96º - 98º Bujur Timur. Berada di garis pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Luas wilayah kabupaten Aceh selatan 8910 kilometer persegi.

Keadaan alam wilayah kabupaten Aceh Selatan beragam karena letak wilayah ada yang berbatasan langsung dengan pantai dan laut lepas dan ada juga berbatasan langsung dengan lereng gunung Leuser dan pegunungan bukit barisan. Letak wilayah yang bervariasi ini menyebabkan iklim wilayah juga bervariasi. Akan tetapi iklim yang ada termasuk ke dalam iklim tropis, musim panas terjadi sepanjang bulan Januari sampai dengan Agustus dan musim hujan terjadi September sampai dengan Desember. Kadar curah hujan mencapai 3000-3500 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 25º - 30º celcius di daratan dan 20º celcius di daerah pegunungan.

(28)

terdapat gunung Meukek, gunung Sigosong di kecamatan Kluet Selatan, gunung Tinjo Laot (1100 m), di kecamatan Bakongan dan gunung Kapur terletak di kecamatan Trumon dan Simpang Kanan.

Sungai-sungai panjang juga melintasi wilayah Aceh Selatan seperti Krueng Seumayam yang membatasi kabupaten Aceh Selatan dengan kabupaten Aceh Barat,

Krueng Kuala Batee, Krueng Kluet dan Krueng Alas yang berhulu di Aceh Tenggara

dan bermuara di Singkil. Dari 18 kecamatan yang ada hanya dua kecamatan di Aceh Selatan yang sebagian besar wilayahnya berupa rawa-rawa yaitu kecamatan Trumon dan Kuala Batee.

Alam yang subur serta hutan Aceh Selatan yang luas memberi hasil hutan yang menjadi komoditi ekspor ke luar negeri. Hutan Aceh Selatan menghasilkan damar, pala, nilam, pinang, dan berbagai jenis kayu hutan. Wilayah pantai Aceh Selatan terdiri atas pinggiran pantai yang landai dengan pasir putih, ombak-ombak yang ganas serta tebing-tebing yang curam.

(29)

Dalam perjalanan kota-kota pelabuhan yang tumbuh di sepanjang pantai Aceh Selatan mulai lumpuh setelah Jepang mulai berkuasa dan kemudian menjadi berhenti total setelah Indonesia merdeka karena adanya jalan darat dan ada nasionalisasi perusahan asing yang ada di Indonesia.

2.2 Keadaan Penduduk

persebaran dan asal penduduk asli Aceh Selatan dari mana asalnya tidak pernah diketahui secara pasti. menurut legenda di masyarakat di Aceh Selatan ada makhluk yang di sebut dengan Manteu. Ciri-ciri makhluk ini mirip dengan manusia tanpa busana dengan tubuh ditutupi bulu tebal. Makhluk ini memiliki bentuk tubuh kecil. Besar kemungkinan makhluk ini adalah penghuni tua wilayah Aceh Selatan dan merupakan suku terasing yang menghuni rimba Aceh Selatan sampai ke pelosok Aceh Tenggara. Sumber lain menyatakan bahwa suku Manteu ini memeluk agama Islam dan menetap di hutan belantara hampir ke perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

(30)

daerah pedalaman Kalimantan, letak penduduk suku Dayak sangat jauh ke pelosok dan sangat sulit di jangkau dalam perjalanan sehari oleh orang luar.11

Menurut cerita dari orang tua, 12pernah suatu waktu sepasang suami isteri dari suku Manteu ini ditangkap oleh masyarakat dan dibawa ke hadapan Sultan Aceh. Dengan berbagai cara, makhluk ini diajak bicara tetapi mereka tidak bersedia memberikan informasi tentang keberadaan mereka 13 Selain penduduk asli yang disebutkan di atas wilayah Aceh Selatan juga di datangi oleh orang-orang migran dari luar. Menurut literatur yang ada para migran dari luar tersebut tiba di Aceh Selatan sudah memeluk satu agama yaitu Islam.14 Mereka datang dari berbagai daerah yang ada di Aceh sendiri dan dari daerah lain di Nusantara. Para migran yang tiba di Aceh Selatan menyebar ke berbagai Landschap yang ada seperti ke Susoh dan Blangpidie, berdasarkan etnik mereka masing-masing. Walaupun mendiami Landschap yang berbeda mereka tetap tunduk di bawah satu kekuasaan yaitu kesultanan Aceh. Mereka ini terdiri atas orang Aceh, Melayu, Gayo, Alas, Minangkabau, Batak, dan Nias.

Penyebaran berbagai unsur etnis pendatang yang tiba di Aceh Selatan di beberapa Landschap ini dapat di lihat dari data statistik penduduk yang ada dibawah ini :

11

Snock C Hurgronje. Terjmh Ng.Singarimbun Dkk. Aceh di Mata Kolonialis.1985. Yayasan Soko Guru. Hal.21

12

(31)

No Nama Landscap Jumlah jiwa penduduk Unsur penduduk

1 Kuala Batee 2212 Etnis Aceh Pidie

2 Blangpidie 4030 Etnis Aceh Pidie,

Melayu dan Tionghoa

3 Tangan-Tangan 1808 Etnis Aceh bercampur

dengan Melayu

4 Manggeng 2417 Etnis Minangkabau,

Aceh dan Melayu

5 Labuhan Haji 1089 Etnis Minangkabau,

Aceh dan Melayu

6 Meukek 2808 Etnis Aceh dan Melayu

7 Sawang 1740 Etnis Aceh dan

Minangkabau

8 Samadua 3045 Etnis Minangkabau dan

Aceh

9 Tapaktuan 5874 Etnis Minangkabau,

Aceh bercampur Melayu

10 Kluet Utara 2534 Etnis Kluet Hasil

Campuran Antara Gayo

(32)

11 Kluet Selatan 2381 Idem

12 Bakongan 1067 Etnis Aceh

13 Trumon 1739 Etnis Aceh

14 Subulussalam 1890 Etnis Gayo, Alas, Batak

Karo dan Pakpak

15 Simpang Kanan 1602 Etnis Batak bercampur

dengan Nias

16 Simpang Kiri 2045 Idem

17 Singkil 2605 Idem

18 Pulau Banyak 508 Idem

Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh Barat

Umumnya masyarakat Aceh Selatan lebih dikenal dengan istilah etnik

Aneuk Jamee dalam bahasa Indonesia bermakna etnik tetamu pendatang karena

(33)

2.3 Keadaan Sosial Ekonomi 2.3.1 Keadaan Sosial

Masyarakat Aceh Selatan yang terdiri atas berbagai unsur etnik ini menyebabkan masyarakat yang mendiami wilayah Aceh Selatan memiliki keragaman sistem kekerabatan yang berbeda di tiap-tiap daerah. Akan tetapi pola pemerintahan yang ada tetap berpusat pada pemerintahan kesultanan Aceh, pemerintah Belanda, dan Jepang, semua ini tergantung pada penguasa.

Ada persamaan di dalam etnik yang berbeda ini, yakni dalam pola kepemimpinan yang menganut sistem kerajaan, dan pemilihan pemimpin berdasarkan kharisma dari orang tersebut. Pola kepemimpinan hampir sama di tiap-tiap

Landschap. Tiap-tiap Landschap membagi wilayah menjadi dua berdasarkan

letaknya. Sistem kekuasaan berada di wilayah pesisir dalam bahasa Aceh Raja di

Laot dan daratan lebih di kenal dalam bahasa Aceh Raja di Gunong, dan keduanya

memiliki batasan daerah kekuasaan yang jelas.15

Kekuasaan Raja di Gunong dimulai dari batasan jalan besar lebih dikenal dengan istilah sekarang adalah jalan negara sampai masuk ke dalam pelosok pegunungan tempat masyarakat mencari nafkah, sedangkan wilayah kekuasaan Raja

di Laot adalah sepanjang pinggiran pantai sampai ke lautan sejauh masyarakat dapat

mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Kedua penguasa ini mengatur keamanan dan segala urusan yang menyangkut masyarakat yang tinggal di daerah kekuasaannya

15

(34)

dan mengutip pajak dari masyarakat untuk kemudian pajak tersebut disetor kepada pemerintah pusat yakni pada sultan. Penerima pajak kemudian berubah setalah berganti pemerintah yang berkuasa di Aceh yaitu Belanda sejak menguasai istana di Koetarajda tahun 1903 dan kekuasaan Jepang tahun 1942.

Lapisan sosial dalam masyarakat adat yang ada di Aceh Selatan dalam istilah adat aneuk jamee tidak begitu jelas setelah kemerdekaan Indonesia. Lain halnya ketika zaman kesultanan Aceh sampai runtuh tahun 1903, pemerintahan Belanda berakhir tahun 1942 dan kemudian digantikan pemerintahan Jepang sampai tahun 1945. Di masa kedua pemerintahan ini kekerabatan dan pelapisan sosial terlihat jelas dan terasa.

Pada masa sebelum kemerdekaaan Indonesia, golongan Datuk dan kerabatnya adalah golongan tertinggi dalam lapisan masyarakat kemudian golongan

Uleebbalang dan kaum Ulama berada pada lapisan kedua sedangkan lapiasan paling

bawah adalah rakyat biasa. Pada masa setlah kemerdekaan Indonesia pola pelapisan status sosial berubah, golongan sosial masyarakat berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan, kekuasaan tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan.16

Pola pelapisan sosial ini berubah seiring dengan perkembangan zaman seiring dengan masyarakat telah memperoleh pendidikan dan sistem yang berlaku dalam masyarakat bukan pelapisan sosial tertutup sehingga masyarakat dapat dengan mudah untuk mengubah status sosial mereka. Golongan yang berada diatas adalah

(35)

mereka yang patut untuk dijadikan sebagai pemimpin dan pemikiran berdasarkan keturunan tetapi tidak mampu memegang amanat yang diembannya ditakutkan oleh masyarakat akan membawa kehancuran bagi kampungnya.

Bentuk kesatuan hidup masyarakat terkecil bagi penduduk aneuk jamee disebut kampung. Tiap kampung ditandai dengan sebuah surau atau meunasah, jika disitu tidak terdapat mesjid. Surau menjadi sarana beribadah disamping sebagai pusat kegiatan kampung seperti tempat bermusyawarah dan penyelesaian masalah yang dihadapi oleh kampung tersebut.

Setelah Indonesia merdeka setiap kampung dikepalai oleh seorang kepala desa dalam bahasa aceh dikenal dengan nama “kechik”. Selain itu seorang “kechik” juga berfungsi sebagai pemimpin adat, juga terdapat pemimpin lain dalam masyarakat yang bertugas mendampingi “kechik” dalam kegiatan sehari-hari. Pemimpin tersebut antara lain “Teungku Meunasah” dan ”Ketua Pemuda”. Teungku Meunasah selain bertugas sebagai imam mesjid, kadangkala juga bertindak sebagai qadhi yang mendampingi kantor urusan agama kecamatan (kuakec). Ketuda pemuda adalah seorang yang memimpin para pemuda kampung dan menggerakkan para pemuda untuk bergotong-royong ketika ada acara kepemudaan, pesta perkawinan dan kematian.

(36)

rakyat untuk mengerjakan pekerjaan baik itu untuk kepentingan pribadi mereka maupun untuk kepentingan masyarakat umum seperti pembangunan Mesjid, Meunasah, perbaikan jalan dan jembatan.17

Istilah rodi yang dimaksud diatas tidak sepenuhnya seperti rodi yang dikenal oleh masyarakat banyak, bahwa masyarakat melakukan kerja paksa yang diikuti dengan siksaan fisik. Pekerjaan rodi yang ada semacam gotong-royong dan pekerjaan yang dilakukan tidak memberatkan rakyat hanya bertempat pada wilayah yang memang digunakan setiap hari oleh masyarakat. Jika daerah yang akan dikerjakan jauh dari pemukiman masyarakat maka pekerjaan itu tidak dilakukan dan jika ada masyarakat yang akan pindah ke satu daerah yang baru maka biaya yang diperlukan dipakai dari kas yang ada untuk membantu biaya yang dibutuhkan.

2.3.2 Keadaan Ekonomi

Mata pencaharian masyarakat Aceh Selatan terbagi berdasarkan letak tepat tinggal masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang mendiami wilayah Aceh Selatan terbagi dua wilayah yaitu wilayah pesisir dan wilayah daratan. Masyarakat yang mendiami wilayah pesisir membangun tempat tinggal dekat pantai dan umumnya mereka memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah daratan dan membangun tempat tingggal dilereng gunung mempunyai mata pencaharian sebagai petani, untuk tanaman yang mereka tanami

(37)

adalah tanaman keras dan tanaman musiman tergantung pada komoditi yang sedang memiliki harga di pasaran.

Akan tetapi walaupun demikian hampir semua masyarakat Aceh memiliki mata pencaharian sebagai petani, karena semua masyarakat di Aceh mempunyai tanah persawahan dan kebun untuk digarap. Sedangkan yang bekerja sebagai pedagang adalah orang-orang cina, umumnya mereka datang sebagai penjual emas, penjahit ataupun sebagai pedagang. Dapat dilihat pada lampiran surat kontrak penyewaan tanah yang dilakukan oleh orang cina dengan pemerintah setempat. Pada umumnya orang-orang cina ini tinggal dan menjalankan usahanya di Landschap Blangpidie.

Para kepala kenegerian yang ada di Aceh mendapat penghasilan melalui hasil pajak yang dipungut dari rakyat, selain itu mereka juga umumnya memiliki tanah yang luas untuk digarap tapi tidak dikerjakan sendiri oleh para penguasa kecil ini melainkan disewakan kepada penduduk yang mau mengerjakan, sistem pembayaran dilakukan dengan membagi hasil panen yang didapat dan perhitungan berdasarkan luas tanah yang sewakan. Kepala kenegerian ini juga memiliki usaha lain yaitu sebagai pengumpul hasil bumi yang dijual oleh para petani baru kemudian dijual kembali kembali kepada pembeli asing.

(38)

tiap jumlah harga barang. 18 Para petani di Aceh pada masa pemerintah kolonial Belanda berkuasa dianjurkan untuk menanami beberapa jenis tanaman saja seperti pala, kelapa yang diolah menjadi kopra dan pinang, disamping itu tanaman nilam juga ditanami oleh masyarakat Aceh Selatan.

Pemerintah kolonial Belanda tidak hanya menganjurkan saja untuk menanami jenis tanaman yang akan menjadi komoditi ekspor tersebut, akan tetapi pihak kolonial memberi pinjaman modal dan membentuk sebuah badan penyuluhan pertanian yang bertugas memberikan penerangan dan penyuluhan dalam bidang pertanian (Landbouwvoorlichtingcients).19 Dengan adanya upaya sistem peningkatan perkebunan yang dilakukan maka akan semakin meningkatkan dan mengembangkan usaha-usaha pertanian yang dilakukan oleh rakyat.

Petani Aceh Selatan tidak begitu mengalami kesulitan ekonomi ketika pemerintahan kolonial Belanda karena mereka tetap dapat mencari nafkah tanpa ada gangguan dari pihak Belanda, ini disebabkan karena ada kerjasama yang dilakukan dalam penjualan hasil perkebunan mereka. Kondisi seperti ini tidak selamanya terjadi karena Belanda menampakkan kerjasama hanya pada awalnya saja lambat laut pihak kolonial Belanda mulai memberlakukan sistem monopoli perdagangan terhadap para petani.

18

(39)

Pembangunan sarana umum seperti jalan, jembatan serta pelabuhan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang asing seperti NISM dan KPM (NV Kliniklijke

Peketvaartmaatsppij). Biaya pembangunan sarana umum ini diambil dari dana kas

kenegrian sebagaimana yang telah dilakukan ketika sebelum masuknya kolonial Belanda ke Aceh Selatan. Peningkatan ekonomi penduduk juga dilakukan oleh kolonial Belanda untuk menarik simpati masyarakat dengan cara pemberian pinjaman modal kepada masyarakat, umumnya masyarakat yang melakukan peminjaman modal dari pihak kolonial Belanda adalah mereka para penguasa setempat yang memiliki tanah yang luas.

Melalui peminjaman modal ini pihak kolonial mulai memberlakukan sistem tanam paksa secara tidak langsung dengan cara menganjurkan kepada para petani kebun yang berada di pinggir pantai untuk menanam pohon kelapa sebagai bahan baku untuk dijadikan kopra yang pada saat itu menjadi kebutuhan ekspor ke luar negeri.

Adapun jenis tanaman yang menjadi komoditi ekspor yang dibudidayakan oleh petani adalah pala, pinang dan nilam yang pada masa itu memiliki nilai jual yang di pasar internasional. Penanaman padi hanya untuk kebutuhan pangan saja, akan tetapi karena diusahakan dengan sistem penanaman yang benar, maka hasil panen untuk padi pun mengalami surplus sehingga cukup untuk diekspor.

(40)

Kondisi perlawanan masyarakat berusaha dikurangi oleh pemerintah Belanda dengan cara mengambil hati rakyat melalui peningkatan ekonomi dan perbaikan sarana umum.

Walaupun Belanda sudah berusaha mengambil hati rakyat dengan cara ekonomi, akan tetapi rakyat tetap saja melawan Belanda, pemberontakan banyak terjadi didaerah-daerah tertentu yang ada di Aceh Selatan. Bagi rakyat Aceh melawan Belanda dan kemudian mati dalam peperangan adalah mati syahid.

Kondisi ekonomi yang membaik itu kemudian berbanding terbalik ketika pemerintah Jepang mulai berkuasa di Aceh Selatan. Jepang berkuasa tidak berusaha meningkatkan ekonomi daerah jajahannya, akan tetapi pemerintah Jepang banyak menghacurkan sarana umum seperti jembatan dan jalan-jalan dengan cara dibom untuk menghalau perlawanan dari musuh. Pihak Jepang tidak berusaha untuk meningkatkan produksi perkebunan yang selama ini menjadi andalan wilayah ini, tetapi memeras penduduk dengan kewajiban memenuhi kebutuhan pangan bagi tentara Jepang yang berperang.

Pada masa Jepang tidak banyak yang dapat diceritakan karena yang terjadi hanya kelaparan, ketakutan dan peperangan yang dialami rakyat Aceh Selatan. Kehidupan ekonomi rakyat Aceh Selatan mengalami lumpuh total dan rakyat memenuhi kebutuhan pangan dari hasil simpanan yang ada.

(41)
(42)

BAB III

KEDUDUKAN PERKEBUNAN RAKYAT DALAM MASYARAKAT

3.1 Sistem Kerja

Secara tidak langsung sebelum masuknya bangsa asing sebagai penjajah datang ke Indonesia, masyarakat Aceh bertindak sendiri sebagai penggarap pertanian serta memasarkan sendiri. Kondisi ini menjadikan banyak tumbuh kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai Barat dan Selatan Aceh, kapal-kapal asing yang ingin membeli komoditi hasil perkebunan dapat langsung membeli ke petani yang menjual hasil kebunnya masing.

Pada mulanya masyarakat Aceh Selatan menanam tanaman musiman dan berumur pendek sedangkan untuk tanaman yang menjadi komiditi ekspor adalah hasil hutan yang tidak diusahakan. Para petani mengambil hasil hutan dan kemudian menjualnya kepada pengumpul atau langsung kepada pembeli. Adapun hasil hutan yang dijual penduduk pada awalnya dalah damar, rotan kemenyan hitan, kemenyan putih, sari wangi-wangian, pinang, tali-temali, gading gajah, emas, belarangdan minyak tanah.

(43)

untuk tanaman musiman seperti tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka. Sedangkan tanaman keras untuk perkebunan seperti pala, lada, nilam dan tanaman komoditi ekspor lain digarap oleh para petani ini didaerah perbukitan yang lebih tinggi dan berjarak agak jauh dari pemukiman penduduk.

Bagi penduduk yang menggarap lahan sendiri mereka lebih mementingkan menggarah sawah terlebih dahulu sedangkan kebun tanaman keras mereka hanya dilakukan perawatan secra berkala saja karena tanaman yang diusahakan penduduk bukan jenis tanaman yang memerlukan perawatan ekstra. Lain halnya bagi para penguasa yang memiliki tanah luas, mereka cukup memperkerjakan orang lain untuk menggarap tanahnya.

Bagi rakyat biasa yang memiliki tanah sistem kerja yang dilakukan dengan cara mengolah tanaman persawahan terlebih dahulu sedangkan untuk tanaman perkebunan yang menjadi andalan hanya dikerjakan ketika harga tanaman tersebut sedang naik maka masyarakat akan beramai-ramai untuk mengelola kembali tanaman tersebut. Sistem kerja yang seperti ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak sebelum datangnya pihak kolonial.

(44)

Sultan tidak membuat satu perkebunan besar dengan sistem perusahaan dengan administrasi yang modern tetapi kesultanan hanya sebagai pemungut pajak dan pengumpul untuk kemudian dijual ke pembeli dan rakyat pun bebas untuk menanam jenis tanaman apa saja dengan syarat tanaman tersebut mempunyai nilai jual yang tinggi dan menjadi komoditi ekspor.

Walaupun sultan telah memberlakukan kebijakan kepada rakyat untuk mengelola tanaman yang memiliki tanaman yang memiliki nilai ekport tetapi masih ada juga musim untuk turun ke sawah guna menggarap tanaman pangan sebagai kebutuhan pangan rakyat. Sistem turun ke sawah ini tidak sembarangan dilakukan oleh masyarakat, akan tetapi ada tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum menggarap sawah yang dalam bahasa Aceh disebut “Blang”.

Penanggalan adalah cara yang harus diperhitungkan sebelum turun kesawah dengan dilakukan upacara-upacara turun ke sawah. Snock Hugronje dalam bukunya mengatakan “ masyarakat aceh turun ke sawah melalui penanggalan yang memang sudah ditentukan karena berdasarkan keadaan arah angin yang bertiup di daerah Aceh”.

Berikut adalah contoh penanggalan aceh sepanjang tahun yang ditulis oleh Snock Hurgronje dalam bukunya Aceh di Mata Kolonialis tahun 1893 :

(45)

2. Keunong dua ploh sa ( 21 Rajab 1310 H = 8 februari). Umumnya dalam keunong ini terjadi panen dan dilaksanakan kenduri blang (kenduri

lapangan) juga waktunya untuk menyebar benih atau bertanam palawija. Dalam keunong ini atau berikutnya mulai musem luaih blang (musim bebas, yakni tanah dibiarkan kosong atau belum ditanami) dan dengan demikian berakhir musem pice atau kot blang (musim tanah/sawah/ladang sempit dan tertutup).

3. Keunong sikureueng blaih (19 sya’ban1310 H = 8 Maret), dari segi musim keunong yang jatuh dalam bulan ini hampir sama dengan musim terdahulu.

4. Keunong tujoh blaih (17 Ramadhan 1310 H = 4 april), tebu yang ditanam dalam bulan ini tidak akan berbunga dan tidak memberikan sari(air). Selama bulan ini dan dua bulan berikutnya, ikan luloh kadang-kadang datang dari hulu sungai sampai ke dekat laut. Ikan ini memerlukan waktu sehari untuk sampai ke hilir dan dua hari untuk sampai ke hulu dan pada waktu itu orang dapat menangkapnya.

5. Keunong limong blaih (15 syawal 1310 H = 2 mei), dalam bulan ini sudah mulai ada yang membajak sawah sedangkan di laut angin badai.

(46)

7. Keunong siblaih ( 11 dzulhijjah 1310 H = 26 Juni ), dalam bulan ini atau dalam salah satu dari dua bulan berikutnya orang mulai menanam benih. Seperti kita ketahui ada yang memilih bagian pertama, kedua atau ketiga dari musim menanam benih ini, tergantung dari kilauan yang relatif ketiga bintang di lingkarang orion (Bintang lhee). Seperti dalam keunong dua ploh limong angin timur ada masa reda, maka terdapat pula masa reda

dengan angin barat selama 5-7 hari dan waktu ini dapat dipakai untuk berlayar dengan aman dari ibukota pantai barat.

8. Keunong sikureueng ( 9 muharram 1311 H = 23 juli), dalam bulan ini dan bulan berikutnya semacam ketam darat, dikenal sebagai biengkong atau krungkong berkeliaran seperti tersesat seolah-olah tidak dapat kembali

menemukan sarangnya dibawah tanah, dinamakan biengkong wo.

9. Keunong tujoh ( 7 safar 1311 H = 20 agustus), tebu yang ditanam dalam bulan ini akan mengalami nasib yang sama seperti waktu keunong 17. anjing-anjing berkeliaran.

10. Keunong limong (5 rabiul awal 1311 H = 16 september), dalam bulan ini mulai musem timu (musim timur) dan dan para nelayan melakukan kenduri laot.

(47)

12. Keunong sa ( 1 Jumadil awal 1311 H = 11 november ), orang kenal ini hanya karena secara teratur harus menyusul keunong lhee, tetapi ia tidak tampak kalau matahari dan bulan sama dalam bintang kala. Hujan lebat mulai dalam keunong ini sangat populer ialah persamaan antara hiruk pikuk yang luar biasa dan hujan keunong sa (ban ujeuen keunong sa).20

Semua masyarakat aceh dalam bekerja selalu menuruti aturan dari setiap penanggalan yang ditentukan karena terikat dengan hukum adat yang berlaku, apabila ada yang melanggar dan terjadi satu kerugian bagi sipelanggar maka ia tidak dapat mengadukan masalahnya ke pemuka adat serta tidak akan mendapat gabti rugi terhadap kerugian yang dialaminya.

Adapun tahapan yang dilakukan ketika mulai turun untuk menggarap tanah garapannya sampai masa panen juga berdasar upacara adat seperti tersebut berikut ini:

1. Musem luaih blang yakni musim dimana ladang terbuka untuk manusia maupun ternak, merupakan waktu yang tepat untuk menempatkan batu nisan dimakam keluarganya (pula batee), untuk membakar kapur (tot gapu) dan didataran tinggi untuk menindik telinga anak perempuan (tob glunyueng), umumnya dipercaya, bahwa padi diseluruh padang akan rusak

kalau diantara waktu memanen dan menanam benih ada orang yang menanam batu nisan, membakar kapur dan menindik telinga .

20

(48)

2. Keuduri Lapangan yakni dilakukan pada awal musem luaih blang dihari yang ditetapkan oleh oleh pengurus tiap kampung untuk mengadakan kenduri blang. Kenduri ini dimaksudkan untuk kemakmuran tanah bersama yang baru saja menghasilkan panen dan juga demi masa depan. Makanan, nasi, daging dan lain-lain disumbangkan secara sukarela oeleh penduduk. Biasanya para laki-laki berkumpul ditengah sawah ketika menjelang tengah hari dan pemuka adat membaca doa sebelum acara dimulai.

3. Kenduri lada yakni kenduri tahunan yang dilakukan oleh masyarakat untuk menanam lada dan kopi.

4. Panen Palawija dilakukan sebelum kembali ke musem luaih blang. Selama masa itu pula masyarakat menanami kebunnya dengan sayur-sayuran , tebu dan jagung.

5. membajak sawah dilakukan ketka keunong 15, 13 dan 11 terutama sekali yang dua terakhir adalah waktu yang tepat untuk membajak sawah. Dalam hal membajak sawah dibagi lagi sebuah sawah persegi yang dimiliki oleh pribadi masing-masing masyarakat yang dibatasi dengan pematang kecil dalam bahasa aceh disebut umoeng.

(49)

7. masa panen yang dilakukan kemudian baru diirik dengan cara diinjak-injak dengan kaki sambil berjalan diatas tikar dengan tongkat. Setelah selesai barulah kemudian pada dimasukkan ke lumbung untuk disimpan21

Yang tertulis diatas adalah sistem kerja turun ke sawah yang dilakukan oleh masyarakat aceh. Kapan masyarakat mulai menanami atau mengusahakan kebunnya untuk di eksport ke luar negri adalah ketika masa jeda dari pekerjaan menggarap sawahnya. Mulai ada perubahan dalam pengusahaan tanaman perkebunan ketika pemerintah kolonial Belanda mulai ikut campur dalam pengusahaan perkebunan milik rakyat tersebut.

Tahun 1903 Belanda berhasil menguasai istana kesultanan di Koetaradja, pihak kolonial mulai melancarkan ekspansinya ke seluru daerah Aceh bahkan sampai ke wilayah Barat. Jauh sebelumnya pantai Barat Aceh sampai ke Singkil dan kota-kota pelabuhan kecil sudah mulai banyak tumbuh disepanjang pantai Barat karena merupakan jalur perdagangan bagi kapal-kapal asing untuk mengangkut hasil bumi yang dibeli dari masyarakat.

Karena daerah pantai Barat dan Selatan memang sudah menjadi jalur perlintasan kapal-kapal dagang asing maka pihak kolonial Belanda mulai membangun satu perkebunan modern seperti yang sudah dilakukan didaerah-daerah lain di Indonesia. Tepatnya tahun 1935 pemerintah kolonial Belanda dengan bekerjasama dengan Belgia membuka lahan perkebunan sawit di Aceh Selatan

21

(50)

diwilayah Singkil, sampai sekarang perkebunan tersebut masih tetap berjalan dan menjadi milik pemerintah Indonesia setelah nasionalisasi.

Akan tetapi tanaman yang menjadi hasil komoditi utama daerah Aceh selatan tidak diusahakan dalam bentuk perkebunan Onderneming melainkan diberi modal untuk para petani yang telah dibina untuk menanami tanah mereka. Pihak kolonial Belanda tidak mengambil kebijakan untuk menguasai tanah dengan membentuk perkebunan asing yang berada di bawah Onderneming karena status kepemilikan tanah di Aceh bukan milik Sultan melainkan milik pribadi rakyat Aceh sedangkan para Uleebalang juga memiliki tanah pribadi.

Selain itu rakyat Aceh tidak mau diperintah langsung oleh Belanda karena dengan begitu di akan merasa terhina dan harga dirinya akan terjual. Bagi rakyat Aceh pemerintah Belanda adalah kaum penjajah yang harus diperangi dan dibunuh. Makanya Belanda tidak berani menguasai Aceh Selatan secara penuh.

(51)

3.2 Jenis Tanaman Pertanian

Sebelum datangnya pemerintah kolonial Belanda, masyarakat Aceh Selatan mengusahakan perkebunan lada, kapuk dan hasil-hasil hutan seperti kayu damar, kemenyan putih dan kemenyan hitam, kapur barus, pinang, tali temali, dan beras untuk dikepor keluar negeri. Akan tetapi setelah pemerintah kolonial Belanda menguasai sistem perdagangan yang ada di pantai Barat Aceh mereka mulai mengadakan ekspansi dengan cara mengatur jenis tanaman yang harus ditanami oleh masyarakat.

Pemerintah kolonial Belanda tidak secara langsung memerintahkan seluruh rakyat untuk menanami tanaman yang mempunayi nilai jual ekspor saat itu, akan tetapi pada awalnya mereka mendirikan sebuah perkebunan di wilayah Onderafdeling Singkil. Dipilihnya Singkil sebagai tempat awal mereka kuasai karena sejak tahun 1840 pihak kolonial Belanda sudah mempunyai hubungan dagang dengan kerajaan Singkil dan kolonial Belanda juga memiliki kantor dagang di Pariaman.

(52)

Adapun jenis tanaman perkebunan yang menjadi andalan komoditas utama ekspor dari Aceh Selatan sehingga menarik bangsa asing untuk datang ke bagian selatan Aceh adalah sebagai berikut :

1. Pala berasal dari Maluku dengan nama spesifiknya myristica fragrans tergolong dalam famili Myristicacedae. Buah pala berasal dari kepulauan Maluku, jajahan Indonesia. Kemudian ia disebarkan ke Pulau Jawa. Sebelum kawasan Hindia Timur dijajah oleh kuasa besar Eropah, saudagar-saudagar dari Pulau Jawa memperdagangkan hasil buah pala ke Sri Langka dan Malabar di Selatan India. Dan Aceh Selatan dikenal sebagai penghasil pala di wilayah Aceh dan bahkan pernah sebagai penghasil pala terbesar di pulau sumatera. Adapun kandungan yang terdapat dalam buah pala dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

(53)

Fosforus (mg) Zat besi (mg) Natrium (mg) Kalium (mg) Karoten (mg) Vitamin B1 (mg) Vitamin B2 (mg) Niasin (mg) Vitamin C (mg)

12.0 0.4 2.0 79.0 7.0 0.01 0.02 0.5 0 23.0 0.3 310.0 12.0 12.0 0 0.1 0.1 0.2

(54)

menyusut dalam proses ini dan akan terdengar bila biji digoyangkan. Cangkang biji akan pecah dan bagian dalam biji dijual sebagai pala. Biji pala mengandung minyak atsiri 7-14%. Bubuk pala dipakai sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (seperti eggnog). Minyaknya juga dipakai sebagai campuran parfum atau sabun serta obat-obatan.

(55)

3,5 - 7 cm, dengan dinding buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti jala. Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina (arecoline), yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak. Sediaan simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita. Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah. Zat lain yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya. Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.

(56)

mencapai 10 - 14 meter lebih. Daunnya berpelepah, panjangnya dapat mencapai 3 - 4 meter lebih dengan sirip-sirip lidi yang menopang tiap helaian. Buahnya terbungkus dengan serabut dan batok yang cukup kuat sehingga untuk memperoleh buah kelapa harus dikuliti terlebih dahulu. Kelapa yang sudah besar dan subur dapat menghasilkan 2 - 10 buah kelapa setiap tangkainya. Buah kelapa dimamfaatkan untukkeperluan memasak, obat-obatan, bahan baku untuk kopra yang kemudian dijadikan sabun dan sampo dan minyak goreng.

(57)
(58)

BAB IV

PASANG SURUT PERKEBUNAN RAKYAT DI ACEH SELATAN 1935-1950

4.1 Masa Kolonial Belanda

Sebelum datangnya bangsa Belanda ke Aceh Selatan, sudah ada hubungan dagang antara kerajaan-kerajaan kecil di sepanjang pantai Barat dan Selatan Aceh akibatnya banyak tumbuh kota-kota pelabuhan kecil yang didukung dengan kondisi geografis daerah pantai Selatan Aceh yang bisa untuk melabuhkan kapal-kapal dagang bangsa asing yangdatang ke daerah ini. Selain itu letak daerah Pantai Barat dan Selatan Aceh merupakan jalur pelayaran kapal-kapal dagang dari luar negeri yaitu NISM dan KPM .

Bangsa-bangsa asing yang datang dan mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan asing adalah Jerman, Amerika, Belgia, Denmark, Prancis, Spanyol, Inggris, Swedia dan Norwegia. Para pedagang dari Eropa ini sebelum datang untuk mengadakan hubungan dagang sebelumnya telah mengadakan kontak dan mengurus perizinan dengan kantor dagang untuk memudahkan dan ada perlindungan bagi mereka dalam melakukan kerjasama dagang dengan para penduduk pribumi dalam hal ini adalah orang Aceh.

(59)

dapat dilihat di museum kepulauan Solomon, Spanyol dan Amerika, sedangkan negara asing lainnya tidak ditemukan catatan tersebut. Catatan-catatan yang adapun hanya berupa surat-surat dagang, surat kapal, laporan dagang dan surat pribadi dari pedagang. Setelah datangnya Belanda hubungan dagang dengan bangsa asing lainnya secara perlahan mulai terputus.

Kedatangan Belanda ke Wilayah Aceh Selatan pada awalnya dalam bentuk perjanjian dagang. Masuknya Belanda ke Wilayah Aceh Selatan melalui kerja sama dagang dengan kerajaan Singkil karena Belanda sudah memiliki kantor dagang di Pariaman Sumatera Barat. Belanda datang dengan tujuan untuk membeli hasil bumi dari wilayah kerajaan Singkil. Pengaruh dari jatuhnya istana kesultanan Aceh di Koetaradja tahun 1903 menjadi faktor dengan mudanya Belanda menguasai wilayah Aceh Selatan.

Belanda tidak saja mengadakan hubungan dagang dengan Kerajaan Singkil saja tetapi dengan kerajaan Trumon dan Bakongan Belanda juga mengadakan perjanjian kerjasama hubungan dagang. Akan tetapi dengan kerajaan-kerajaan kecil lain yang berada di Aceh Selatan Belanda tidak langsung membuat perjanjian dagang karena banyak mendapat perlawanan dari masyarakat saat terjadi kesalahpahaman dalam hal jual beli. Kapal dagang milik Belanda sudah pernah diserang oleh masyarakat Kuala Batee22 Susoh ( dalam catatan asing sering disebut soosoo) ketika

22

(60)

ada salah paham diantara mereka, menurut sumber yang ada kapal milik Belanda hancur akibat tembakan meriam dari daratan oleh masyarakat.

Karena banyak timbul perlawanan dari masyarakat Aceh dan secara garis besar peperangan menurut Belanda masyarakat Aceh sangat sulit ditaklukan. Belanda mulai mencari cara lain untuk masuk dan menguasai Aceh Selatan, ini dilihat oleh Belanda sejak berakhirnya perang Aceh tahun 1903 perlawanan dari rakyat bukan berkurang tetapi makin menjadi-jadi. Belanda tertarik untuk menguasai Aceh Selatan karena tergiur dengan hasil pertanian lada, kelapa, pala, nilam dan pinang yang melimpah. Setiap kali panen produksi jenis komoditi pertanian yang akan diekspor itu mencapai 150.000 pikul, akan tetapi produksi ini terus menurun akibat perang dan bencana alam.

(61)

pada tiga pelabuhan penting saja yaitu Tapaktuan, Labuhan Haji dan Susoh saja, sementara pelabuhan-pelabuhan lain yang ada selama ini mulai berhenti secara perlahan.

Upaya pemerintah Kolonial Belanda ini dengan cara mengadakan program pembangunan ekonomi mengandung makna ganda. Maksudnya disatu sisi selain untuk memperlancar dan meningkatkan kebutuhan ekspor hasil bumi juga untuk memikat hati masyarakat Aceh Selatan. Secara tidak lansung masyarakat Aceh Selatan mulai menerima keberadaan pemerintah Kolonial Belanda meskipun masih ada perlawanan dari masyarakat yang masih merasa terganggu dengan keberadaan pemerintah kolonial Belanda.

Upaya pemerintah Kolonial Belanda dalam meningkatkan perekonomian tidak hanya dalam membangun infrastruktur fisik saja. Pemerintah Kolonial Belanda juga memberi kemudahan lain kepada masyarakat Aceh dengan memberi penyuluhan tentang teknik pengolahan tanah yang baik, cara irigasi, penyemainan, perawatan tanaman perkebunan, sampai cara pengolahan setelah panen dan memberi pengetahuan tentang peremajaan reboisasi tanaman perkebunan seperti lada, pala, pinang, kelapa dan nilam. Selain itu pemerintah Kolonial Belanda juga memberi modal pinjaman tanpa bunga kepada masyarakat dan Uleebalang serta memberikan pengetahuan kesehatan sebagai bentuk usaha mengambil hati rakyat Aceh.

(62)

saja mneyebabkan swasembada pangan dan meningkatkan keuntungan sebesar 60%, dilihat dari sisa hasil panen setelah dikurangi kebutuhan pokok mencapai surplus untuk dijual sebesar 216.420 ton dengan harga f.13.000.000 (harga per ton f.60).

Kebrehasilan program ini disebabkan oleh intensifikasi pertanian yang dilakukan oleh badan penyuluhan pertanian Kolonial Belanda dan dibangunnya bendungan (Stuwdam) di daerah Krueng Bakongan. Jenis tanaman perkebunan yang akan ditanami oleh masyarakat Aceh Selatan juga ditentukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Tanaman yang boleh ditanami adalah tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekspor seperti pala, pinang, lada dan nilam. Untuk tanaman kelapa pemerintah kolonial Belanda menganjurkan kepada masyarakat yang tinggal disepanjang pantai untuk menanami kelapa aelain untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk kebutuhan ekspor dalam bentuk kopra.

Pala dan nilam diekspor dalam bentuk minyak atsiri setelah disuling. Perbedaan penyulingan untuk pala yang disuling adalah bijinya sedangkan nilam adalah daun. Pabrik minyak nilam dan pala dibangun oleh masyarakat dengan dana patungan antara perusahaan swasta dengan pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1821. pada tahun 1935 sampai 1941 hasil produksi minyak pala mencapai 326.193 kg dengan harga f.12.800 dan minyak nilam sebanyak 17.999 kg dengan harga f.120.000 melalui pelabuhan Tapaktuan. Sasaran utama ekspor hasil bumi dari Aceh Selatan setelah ikut campurnya Kolonial Belanda ke Eropa dan Penang.

(63)

adalah 100 biji pala hitam yang benar-benar tua dihitung 1 getep seharga 1 sen, untuk pala yang putih atau belum benar-benar tua dihitung per bambu dengan harga yang sama 1 sen juga.

Dalam bentuk perusahaan pemerintah Belanda juga membangun perusahaan perkebunan seperti halnya di daerah lain yang ada di nusantara. Tetapi Belanda membangun perkebunan tidak serta merta mengikat dan mengusai secara penuh wilayah sekitar perkebunan karena dibuat dengan perjanjian kerjasama. Tahun 1937 Belanda membangun perkebunan sawit bekerjasama dengan Belgia didaerah Singkil. Tidak tanggung-tanggung pemerintah Kolonial langsung mendirikan dua perusahaan yaitu NV Handelsveereeniging milik Amsterdam dan Osciete Finance perusahaan milik Belgia.

Untuk melancarkan penjualan hasil bumi pemerintah Kolonial Belanda juga bergabung dengan maskapai perkapalan bernama NV Kliniklijke

Peketvaartmaatschsppij ( NV KPM). Perusahaan ini mempunyai 112 kapal dagang

yang berlayar melewati rute jalur pantai Aceh Selatan. Kapal dagang ini memang sudah berlayar melewati rute pantai Barat Selatan Aceh sejak tahun 1923 dengan menyinggahi pelabuhan Lhokseumawe,, Sigli, Olelhe, Calang, Meulaboh, Susoh, Tapaktuan, Sinabang, Singkil, Sabang, Idi, dan Langsa. Jadwal pelayaran pantai KPM di Aceh Selatan adalah seminggu lima kali bagi pelabuhan besar dan empat kali bagi pelabuhan kecil.

(64)

tertentu saja misalnya untuk keperluan militer. Rute jalan darat yang ada saat itu hanya dari Koetaradja terus sampai ke Bakongan yang berada di sepanjang pantai Barat Selatan Aceh sedang ke Trumon, Singkil, dan Rundeng hanya berupa jalan kecil dan melintasi sungai untuk mencapai daerah tersebut.

Jalan darat mulai diperlebar keti di Aceh Selatan sudah mulai masuk mobil tahun 1918. pada tahun 1939 kendaraan darat yang sudah ada di Aceh Selatan ketika itu mobil 200 buah yang dimiliki oleh para Uleebalang dan orang kaya, sepeda motor 20 buah dan dan sepeda berjumlah ribuan.

Belanda tidak hanya mencampuri urusan perkebunan saja, akan tetapi dalam hal pemerintahan pihak Kolonial Belanda juga mengubah struktur pemerintahan yang sebelumnya. Pada masa kesultanan Aceh penguasa setempat berbentuk kerajaan-kerajaan kecil kemudian diubah Belanda menjadi satu bentuk pemerintahan saja. Sepanjang pantai Barat Selatan Aceh banyak terdapat kerajaan-kerajaan kecil Aceh tunduk kepada kesultanan Aceh.

Kolonial Belanda menggolongkan Aceh Selatan kedalam wilayah Afdeling

West kust van Atjeh dengan ibukota Meulaboh. Dibawah Afdeling West kust van

Atjeh terdapat enam Onderafdeling yaitu:

1. Onder Afdeling Calang

2. Onder Afdeling Simeulu

3. Onder Afdeling Meulaboh

(65)

6. Onder Afdeling Singkil

Kemudian dibawah Onder Afdeling ini terdapat Landschap yang mengatur pemerintahan Aceh sampai ke pelosaok daerah Aceh. Akan tetapi sejak tahun 1941 Belanda mulai terusik keberadaan karena masuknya Jepang yang juga ingin menjajah Indonesia sekaligus hendak masuk ke Aceh Selatan.

4.2 Masa Jepang

Jepang tidak lama berada di Aceh Selatan hanya sekitar tiga tahun saja. Sangat drastis perubahan ekonomi yang terjadi di wilayah Aceh Selatan. Perekonomian Aceh Selatan mengalami lumpuh total setelah Jepang masuk. Sesuai dengan politik militer Nippon bahwa objek-objek vital yang berada di daerah jajahan yang sudah ada harus dilumpuhkan untuk menghambat perlawanan yang akan dilakukan oleh rakyat.

Sarana dan prasarana yang selama ini mendukung laju perekonomian seperti jembatan yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lain dibom oleh tentara Jepang. Sebagai contoh jembatan Krueng Baroe yang menghubungkan Manggeng dengan Labuhan haji juga di bom tentara Jepang mengakibat arus transportasi antara kedua daerah menjadi putus total.

(66)

rugi. Tujuan lain Jepang adalah untuk memaksa rakyat yang kelaparan untuk menerima ideologi dan politik fasisme Jepang yang diberikan kepadanya.

Akibat tindakan Jepang ini tidak saja kerugian pangan saja yang dialami oleh masyarakat Aceh Selatan tetapi Jepang juga kesulitan dalam masalah pangan. Aceh Selatan yang pada masa pemerintahan Kolonial Belanda dikenal sebagai daerah yang surplus beras, akan tetapi ketika masuknya Jepang daerah ini mengalami kesulitan pangan. Setahun sebelum masuknya Jepang tahun 1941 Aceh Selatan berhasil memproduksi beras mencapai 36.000 ton.

Kesulitan yang dialami oleh rakyat Aceh Selatan semakin bertambah dengan adanya kebijakan dari pemerintah Jepang untuk menetapkan harga beras yang murah, kewajiban menyetor kebutuhan pangan untuk para tentara Jepang. Kebijakan setor tersebut semakin menyulitkan petani karena produksi yang terus menurun akibatnya banyak dari petani yang tidak mematuhi kebijakan tersebut. Akan tetapi tindakan fasisme Jepang tetap memaksa para petani untuk malakukan kebijakan yang telah dirancang oleh Jepang. Berdasarkan ketentuan bahwa kebutuhan pokok yang harus disetor petani pada tahun 1943, untuk konsumsi kepada pemerintah Jepang sebanyak 17.000 ton. Angka ini terus meningkat lagi pada tahun berikutnya menjadi 22.000 ton, sedang pada tahun terakhir pemerintahan Jepang di Aceh ditatapkan sebanyak 33.000 ton yang harus diserahkan oleh petani.

(67)

menyebabkan pemerintah Jepang memberlakukan hukuman kepada petani dengan menyita dan menciutkan tanah-tanah yang dimiliki oleh petani. Sikap ini tentu saja membahayakan bagi petani dan petani akan kehilangan mata pencahariannya.

Pemerintah Jepang juga tidak begitu tertarik kepada perkebunan yang telah ada sejak sebelum masuknya Kolonial Belanda, sehingga perkebunan yang selama ini dikelola oleh rakyat menjadi lumpuh dan tidak terawat. Rakyat yang selama ini mengutamakan mata pencariannya dari perkebunan dan hasil ekspor kebun pala, pinang, nilam dan kelapa. Para petani yang selama ini memiliki dua usaha yaitu tanaman sawah unutk kebutuhan pangan dan tanaman keras untuk kebutuhan ekonomi menjadi terbengkalai. Keadaan ini akibat dari pemaksaan penyetoran kebutuhan pangan kepada pemerintah Jepang dan sulitnya untuk meningkatkan produksi akibatnya dari turunnya harga beras, dan tidak lancarnya jalur transportasi mengakibatkan rakyat semakin menderita.

(68)

“berdasarkan laporan pada tahun 1943, harga beras sebelum tahun itu satu kaleng (16 kg) berharga f.1.60,- sedangkan tahun tersebut naik meningkat menjadi f.150,-. Harga ini meningkat lagi pada tahun 1945 menjadi f.400,- harga garam dari hanya beberapa sen meningkat sampai f.25 untuk setiap kg, gula dari 12 sen bertambah dengan harga f.35 per kg. Harga kain katunpada bulan Maret 1945 adalah 20 setiap yard, meningkat menjadi f.150 pada bulan Mei dan meningkat terus pada f.300 pada bulan Agustus dan kemeja dari f.5,- pada bulan Maret menjadi f.700,- pada bulan Agustus 1945 mencapai harga yang optimum yaitu f.1000,-.”

Dari gambaran harga yang ada di Medan tersebut tentu saja di Aceh Selatan harga menjadi semakin meingkat tinggi lagi. Dengan demikian, kesengsaraan rakyat semakin jelas dan tidak dapat dipungkiri lagi, dari berbagai sektor ekonomi, keamanan, sosial dan kesehatan rakayat mengalami kesulitan.23

Penderitaan rakyat semakin bertambah dengan diwajibkan kerja rodi oleh pemerintah Jepang untuk membuat lapangan terbang di daerah Trumon dan membuka jalan Rundeng-Sidikalang. Menurut hasil wawancara dikatakan oleh informan bahwa pada masa Jepang mereka hampir setiap hari mendengar adanya bentrokan antara mobil patroli Jepang dengan para gerilyawan. Rakyat biasa maksudnya anak-anak, perempuan dan orang tua tinggal di dalam bunker yang sengaja di buat ditiap-tiap

(69)

kapung sebagai tempat perlindungan, mereka tidak dapat bekerja di kebun dan sawah mereka untuk mencari nafkah karena suasana jarang sekali aman.24

Tgk.Sainuddin menjelaskan pada waktu Jepang datang belia sudah akil baliq dan sudah boleh untuk ikut bergerilya melawan penjajah. Kelompok mereka berjaga untuk menyerang mobil patroli Jepang melalui puncak bukit yang dikelilingi jalan raya. Beliau juga mengatakan bahwa pelabuhan yang sebelumnya ramai dengan kapal-kapal asing yang mengangkut hasil bumi produksi perkebunan rakyat menjadi lumpuh, tidak ada lagi terlihat kapal-kapal asing yang melewati pantai Barat Selatan. Suasana begitu mencekam saat itu, penduduk tidak ada yang tinggal dirumah tetapi mereka mengungsi dan bersembunyi di dalam bunker.25

Jepang tidak saja mengcampuri urusan perekonomian yang ada di Aceh Selatan, pemerintah Jepang juga mengubah sistem struktur pemerintahan yang sudah ada. Pada masa Jepang kabupaten Aceh Selatan sudah mulai dipisahkan dari Afdeling

West kust van Ajteh, wilayah Aceh Selatan di bagi menjadi :

1. Kewedanaan Tapaktuan 2. Kewedanaan Bakongan 3. Kewedanaan Singkil

24

Informasi ini didapat dari wawancara yang dilakukan dengan informan yaitu Latifah, Cut Intan, Mariaton, zahara, Lakuwan

25

(70)

4.3 Masa Awal Kemerdekaan

Pada awal kemerdekaaan kondisi ekonomi Indonesia yang terus terpuruk akibat tingginya inflasi, selain itu juga disebabkan dengan banyaknya mata uang yang beredar di Indonesia. kondisi ini juga menyebar sampai ke wilayah Aceh Selatan. Jepang ketika menjajah Indonesia tidak mengontrol mata uang yang beredar, sehingga kondisi perekonomian menjadi semakin lumpuh. Kelumpuhan ekonomi juga disebabkan karena banyak dari masyarakat yang tidak memiliki mata pencaharian karena tindakan Jepang yang menyita tanah sebagai tempat mencari nafkah mereka akibat tidak mau menyetor kebutuhan pangan tentara Jepang.

Tindakan pemerintah Jepang yang selama berkuasa yang tidak begitu memperdulikan peningkatan dan pemeliharaan terhadap hasil perkebunan yang selama ini menjadi andalan dari bumi Aceh Selatan, ketika pemerintahan Jepang berakhir maka usaha perkebunan yang pada masa kolonial Belanda telah ditingkatkan dan secara perlahan usaha ini mulai membuahkan hasil yang menguntungkan dan perekonomian rakyat menjadi kembali berubah seperti dari awal.

(71)

berbeda seperti pada kurun waktu pemerintahan Kolonial Belanda, artinya dalam hal ini penyelenggara perdagangan masih dimotori oleh perusahaan pelayaran KPM. Perubahan penyelenggara pelayaran mulai berubah s

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha perkebunan kakao rakyat di Kecamatan Sambaliung memberikan tingkat penghasilan yang lebih besar dari pada

Berdasarkan Tabel 5 di atas memperlihatkan bahwa tingkat kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman perkebunan khususnya tanaman kakao di Kecamatan Labuhanhjai Timur Kabupaten

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru kimia yang mengajar di SMA Inshafuddin Banda Aceh bahwa selama ini menggunakan LKPD yang tidak begitu menarik

Hasil perhitungan net benefit/cost ratio yang sudah dilakukan didapatkan nilai net benefit/cost ratio pada usaha perkebunan jeruk siam di Desa Sekaan sebesar 4,89

Solok Sleatan ditemukan bahwa ± 75% tenaga kerja yang bekerja pada perkebunan rakyat komoditi kelapa sawit adalah tenaga kerja tingkat pendidikan SD ke bawah, 25%

ASN serta aspek- aspek yang mempengaruhinya, Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan produktivitas kelapa sawit pada lahan perkebunan rakyat dan

Untuk itu perlu adanya sosialisasi yang menyentuh sasaran lebih luas, pengembangan dan transfer teknologi pemanfaatan limbah perkebunan/industri kelapa sawit sebagai

Tujuan ini selaras dengan tujuan hadirnya Perda Nomor 19 tahun 2017 Tentang Penataan Usaha Perkebunan Kelapa Sawit, pasal 3 yang menegaskan bahwa penataan usaha perkebunan