ABSTRACT
CONTENT BASED MULTICULTURAL APPROACH IN CIVIC EDUCATION LEARNING AT SMA YP UNILA BANDAR LAMPUNG
By Hermi Yanzi
The Multicultural education paradigm points the education as cultural transformation domain which revealed discriminative practice in educational process. Multicultural education can be presented in various approaches, that is;
content oriented programs, student oriented programs and socially oriented programs. This research focuses on multicultural approach’s problems that emphasizes on the content of civic education learning; therefore the objective of this research is to obtain a description about content based multicultural approach in civic educational learning at SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung.
This research uses qualitative approach. The populations in this research are civic education subject teacher, students and headmaster. Observation sheet, interview and documentation are used as data collecting instrument. Analysis Interactive Model from Milles and Huberman is used to analyze the data in conducting the data collecting, data reduction, data presentation and conclusion making.
Research result shows that multicultural approach used by civic education subject teacher at SMA Yayasan Pembina Unila emphasizes on material content (content oriented programs) by embedding on multicultural values: democracy values and Human Rights values. However, at learning implementation found that there is dominant values applied and there are several democracy values and Human Right values which are not dominantly appeared in learning as to indicator of democracy values and Human Rights values, the learning procedure has not yet follow multicultural education learning stages as well. This is caused by the teacher lack of understanding about values essence of Human Rights and democracy that should be taught comprehensively. Class arrangement, media and strategy including learning result evaluation criteria by using multicultural approach has not achieved the standard yet. Hence, multicultural education with its various approaches needs comprehension, practice and open minded either in thought and also attitude that must be possessed by teacher to carry out it in learning, the suggestion proposed is that the headmaster needs to provide chance and delegate the teacher to attend education and training related to teaching ability improvement as such teaching ability in applying this multicultural approach.
ABSTRAK
PENDEKATAN MULTIKULTUR BERBASIS
CONTENT
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN DI SMA YP UNILA
BANDAR LAMPUNG
Oleh Hermi Yanzi
Perspektif pendidikan multikultur memandang pendidikan sebagai ruang transformasi budaya yang membongkar praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Pendidikan multikultur dapat disajikan dalam berbagai pedekatan, yaitu; content oriented programs, student oriented programs dan socially oriented programs. Penelitian ini terfokus pada masalah pendekatan multikultur yang menekankan pada isi dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran tentang pendekatan multikultur berbasis content dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, siswa dan kepala sekolah. Instrumen pengumpul data menggunakan panduan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan Analysis Interactive Model dari Milles and Huberman, dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan multikultur yang digunakan oleh guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Yayasan Pembina Unila menekankan pada isi materi (content oriented programs) dengan menanamkan nilai-nilai multikultur, yaitu nilai demokrasi dan nilai hak asasi manusia. Tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran terdapat nilai-nilai yang dominan diterapkan dan ada beberapa nilai demokrasi dan nilai hak asasi manusia yang tidak dominan muncul dalam pembelajaran sebagaimana indikator nilai demokrasi dan nilai hak asasi manusia serta prosedur pembelajarannya belum mengikuti tahapan pembelajaran pendidikan multikultur. Hal ini disebabkan diantaranya oleh ketidak-pahaman guru terhadap esensi nilai-nilai dari nilai hak asasi manusia dan demokrasi yang harus diajarkan secara menyeluruh. Mengenai pengaturan kelas, media dan strategi termasuk kriteria penilaian hasil belajar dengan pendekatan multikultur belum memenuhi syarat. Oleh karena itu pendidikan multikultur dengan berbagai pendekatannya memerlukan pemahaman, latihan dan adanya keterbukaan baik secara pemikiran maupun sikap yang harus dimiliki oleh guru untuk mampu melaksanakannya dalam pembelajaran, saran yang diajukan adalah perlunya kepala sekolah memberi kesempatan dan mengirim guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang peningkatan kemampuan mengajar seperti kemampuan mengajar menerapkan pendekatan multikultur ini.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran pendekatan multikultur
dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Yayasan Pembina
Unila Bandar Lampung, sesuai dengan objek penelitian sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan multikultur
yang menekankan pada isi materi atau kurikulum (content oriented
programs) atau berbasis content memungkinkan terakomodasinya
nilai-nilai keberagaman bangsa, terutama bagi bangsa Indonesia. Pembelajaran
di SMA Yayasan Pembina Unila telah dilaksanakan dengan mengacu
kepada kandungan pesan UU. No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas Pasal
4 Ayat 1, bahwa pola pendidikan harus bernuansakan multikultural dalam
rangka membelajarkan siswa untuk mampu dan terbiasa hidup bersama
dalam suasana penuh dengan perbedaan dimana membelajarkan siswa
untuk mampu dan terbiasa hidup bersama dalam suasana penuh dengan
perbedaan.
2. Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Yayasan
Pembina Unila Bandar Lampung dalam melaksanakan pembelajaran
menggunakan pendekatan multikultur yang memiliki kecenderungan
pelaksanaan pembelajarannya. Kegiatan awal para guru melakukan
analisis content materi yang memiliki kandungan nilai-nilai multikultur
yang ditambahkan menjadi pesan materi, dalam pelaksanaannya para guru
menanamkan nilai-nilai multikultur yaitu nilai demokrasi dan nilai HAM.
Pada akhir pembelajaran kegiatan evaluasi dilakukan dengan lebih banyak
pada menyimpulkan catatan proses selama pembelajaran berlangsung
dengan menggunakan skala pengamatan. Penekanan keberhasilan
pembelajaran lebih kepada aspek afektif yaitu siswa mampu hidup
berdampingan dalam suasana yang penuh dengan perbedaan. Sebagai
indikatornya ia mampu menerapkan nilai-nilai demokrasi dan nilai-nilai
HAM.
3. Pelaksanaan pendekatan multikultur di SMA Yayasan Pembina Unila
Bandar Lampung menggunakan pendekatan yang menekankan pada isi
(content oriented programs) atau berbasis content dengan berbagai
kekhasan dalam pelaksanaanya diantaranya dengan membelajarkannya
dipadukan dengan berbagai macam model pembelajaran seperti
pembelajaran holistik, terpadu dan kontekstual.
4. Dalam Pelaksanaan pembelajar belum mengikuti tahapan dalam
pembelajaran pendidikan multikultur atau pendekatan multikultur. Materi
hanya dibahas dalam diskusi kelompok seperti biasa.
5. Nilai-nilai multikultur tidak di bahas secara eksplisit tetapi terimplisit pada
materi pelajaran. Muncul tidaknya nilai-nilai multikultur dalam proses
6. Kondisi kelas yang ada di SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung
masih konvensional, seharusnya kelas yang proses pembelajarannya
dengan menggunakan pendekatan multikultur harus disetting sedemikian
rupa, yang memungkinkan siswa mendapat kemudahan menggali
informasi dan kecakapan tentang bagaimana seharusnya berinteraksi
dengan teman yang berbeda budaya.
7. Media yang dipakai dalam proses pembelajaran di SMA Yayasan Pembina
Unila belum lengkap, karena pada saat materi belajar tentang Menghargai
persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama,
gender, golongan, budaya, dan suku hanya diberikan teorinya saja tanpa
disajikan dengan media audio visual seperti film dokumenter. Walaupun
sekolah ini terbilang sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai seperti
LCD, tetapi penggunaanya hanya sebatas alat bantu guru dalam
mempresentasikan materinya, tetapi penggunaanya belum maksimal.
Akibatnya pembelajaran hanyalah sebuah cerita, karena siswa hanya
belajar larut dalam teori saja, tanpa melihat faktanya berupa pemutaran
film yang mengandung unsur persoalan kultur dalam kehidupan
sehari-hari.
8. Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru Pendidikan
Kewarganegaraan SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung masih
monoton, terlihat dari kegiatan siswa yang hanya sebatas membahas
materi dalam kelompok, presentasi, sumbang saran dan guru menengahi
kegiatan siswa diselingi dengan mengkaji kasus yang ditayangkan lewat
media belajar seperti film dokumenter, sehingga akan membuat siswa
tidak merasa bosan. Selain itu juga pembelajaran masih sebatas terjadi di
ruang kelas, jika memungkinkan siswa dapat diajak belajar di luar kelas.
9. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru pendidikan
kewarganegaraan di SMA Yayasan Pembina Unila menanamkan nilai
multikultur dalam hal ini penanaman nilai demoktrasi lebih dominan
nampak pada nilai: kebebasan dan tanggung jawab, persamaan,
keterbukaan, menghilangkan prasangka, berpikir kritis, solidaritas dalam
kelompok walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda. Dalam hal
pembelajaran nilai HAM (hak asasi manusia) lebih banyak nampak pada
penanaman nilai kebenaran, kesamaan dan keadilan, penghormatan pada
martabat manusia, penerimaan atau penghargaan kebhinekaan, kebebasan
dan tanggungjawab serta kerjasama. Padahal nilai-nilai yang ditanamkan
tersebut harus menyeluruh dan proporsional sebagai nilai-nilai kebaikan
yang harus dimiliki oleh siswa.
10.Terhadap adanya beberapa nilai-nilai yang tidak nampak atau
kecederungannya kurang dibelajarkan disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya adalah:
a. Konteks materi yang diajarkan tidak mengarak kepada penanaman
nilai tersebut, seperti nilai penghormatan pada hukum. Kemungkinan
tidak nampak ketika materinya membahas tentang persamaan
b. Diakibatkan kelalaian guru, yang disebabkan kekurang pahamann
guru terhadap pesan-pesan nilai yang harus disampaikan.
c. Strategi guru yang tidak tepat sehingga hanya nampak nilai-nilai
tertentu saja dan berulang karena strategi yang dikuasai guru hanya
itu-itu saja.
5.2
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, dapat disampaikan saran-saran
yang perlu menjadi bahan masukan bagi kepala sekolah dan semua pihak yang
mempunyai kepentingan terhadap dunia pembelajaran.
a. Kepala Sekolah perlu memberi kesempatan dan mengirim guru untuk
mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang peningkatan kemampuan
mengajar seperti kemampuan mengajar menerapkan pendekatan
multikultur.
b. Guru perlu memahami secara benar esensi nilai yang akan diajarkan
sebagai bagian dari pesan materi yang disampaikan. Kegiatan ini diawali
dengan menganalisis materi pada saat menyusun perencanaan
pembelajaran. Seorang guru yang profesional sudah seharusnya menguasai
berbagai metode, pendekatan dan strategi dalam pembelajaran termasuk
c. Guru perlu membuat analisis materi dan tujuan pembelajaran, menetapkan
kriteria pencapaian tujuan pembelajaran, menata ruang kelas, kreatif dalam
memilih dan memanfaat media dan sumber belajar yang tepat, untuk lebih
memfokuskan pelayanan pendidikan sesuai dengan karakteristik dan
prinsip perkembangan siswa, memenuhi kebutuhan belajarnya serta
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pembentukan karakter
sebuah peradaban dan kemajuan yang mengiringinya. Tanpa pendidikan, sebuah
bangsa atau masyarakat akan sulit mendapatkan kemajuannya sehingga menjadi
bangsa atau masyarakat yang kurang beradab. Karena itu, sebuah peradaban yang
memberdayakan akan lahir dari suatu pola pendidikan dalam skala luas yang tepat
guna dan efektif bagi konteks dan mampu menjawab segala tantangan zaman.
Namun, setelah melihat fakta akhir-akhir ini, ternyata pendidikan yang tepat guna
itu belum berjalan dan bahkan mungkin ada yang salah dalam penerapannya.
Banyak sekali kehidupan yang eksklusif-destruktif terjadi di masyarakat dalam
beberapa dasawarsa terakhir yang tidak terlepas dari peran pendidikan di
dalamnya. Karena itu, kehidupan yang harmonis, inklusif dan toleran harus bisa
diciptakan saat ini juga. Tentu yang paling sistematis dan efektif adalah melalui
pendidikan dengan berbagai pendekatan, yakni pendidikan dengan pendekatan
multikultur, dengan harapan terwujudnya sebuah kehidupan yang harmonis,
damai, selaras dan berperadaban dengan mengedepankan semangat saling bekerja
sama dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan serta menjauhi segala bentuk
kerusakan dan sangat membahayakan bagi eksistensi kemanusiaan manusia itu
yang berhubungan dengan perbedaan secara kultur yang dibawa sejak lahir secara
kodrati.
Menurut para ahli sosiologi pendidikan, terdapat relasi timbal-balik (resiprokal)
antara dunia pendidikan dengan kondisi sosial masyarakat. Relasi ini bermakna
bahwa apa yang berlangsung dalam dunia pendidikan merupakan gambaran dari
kondisi yang sesungguhnya di dalam kehidupan masyarakat yang kompleks.
Demikian juga sebaliknya, kondisi masyarakat, baik dalam aspek kemajuan,
peradaban, dan sejenisnya, tercermin dalam kondisi dunia pendidikannya. Oleh
karena itu, majunya dunia pendidikan dapat dijadikan cerminan majunya
masyarakat dan dunia pendidikan yang berjalan kurang baikjuga menjadi
cerminan kondisi masyarakat yang juga penuh dengan persoalan.
Masyarakat, sebagaimana dikatakan Gunawan (200;54), memiliki fungsi sebagai
penerus budaya suatu dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Proses ini
berlangsung secara dinamis, sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan
masyarakat. Sedangkan media untuk alih budaya ini adalah pendidikan dan
interaksi sosial. Dalam kerangka ini, pendidikan dapat diartikan sebagai proses
sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap dan keterampilan antar
generasi.
Ditinjau dari peran dan tanggung jawab guru dalam mewujudkan keberhasilan
pembelajaran di kelas, guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Peran
guru untuk mewujudkan keberhasilan anak didik dalam belajar berkisar 90%,
Hal ini menunjukkan bahwa peran guru sangat menentukan karakteristik dan
kemampuan anak didik dalam memahami materi pelajaran. Jika guru rendah
motivasi mengajarnya dan sempit pengetahuannya, maka anak didik pun akan
rendah motivasi belajarnya dan sempit pula pengetahuan yang dimilikinya.
Pembelajaran di sekolah sudah tidak sesuai lagi menggunakan sistem paksaan
yang jauh dari demokratis dan bahkan menenggelamkan HAM (hak asasi
manusia) seseorang, tetapi lebih pada proses memberikan pengetahuan dan
pemahaman terhadap dalil atau dasar tentang segala sesuatu yang diketahui,
pendidikan yang membebaskan, demokratis dan menjunjung tinggi HAM dengan
memandang perebadaan adalah sebagai anugrah. Dengan demikian karakteristik
pembelajaran di sekolah dapat dikatakan kontekstual, yaitu memberikan landasan
atau dalil secara tekstual terhadap segala sesuatu yang dikerjakan. Misalnya anak
didik mengerti mengapa umat Islam wajib shalat lima waktu sehari semalam, anak
didik mengerti alasan atau dalil mengapa umat Islam diwajibkan menjalankan
ibadah puasa Ramadhan. Anak didik juga mengetahui mengapa manusia dilarang
bertengkar, konflik dan sejenisnya. Selain itu, anak didik juga dapat memahami
bagaimana hidup bermasyarakat secara damai, rukun dan saling membantu,
manusia dilarang berzina, mencuri dan juga dilarang melakukan korupsi.
Perspektif pendidikan multikultur, memandang pendidikan sebagai ruang
tranformasi budaya yang membongkar praktik-praktik diskriminatif dalam proses
pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan multikultural merupakan pendekatan
progresif, pendekatan ini sejalan dengan prinsif penyelenggaraan pendidikan yang
Pasal 4 ayat 1, yang berbunyi bahwa pendidikan diselenggarakan secara
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi
hak asasi manusia (HAM), nilai agama, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa.
Pembelajaran di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) hendaknya lebih
menekankan pada optimalisasi peran rasionalitas anak didik. Pembelajaran lebih
bersifat rasionalisasi teori-teori dan pembiasaan perbedaan pendapat. Hal ini
penting karena anak didik pada dasarnya terlahir membawa kecerdasan yang
majemuk dan masing-masing kecerdasan memiliki irama perkembangan berbeda
antara anak didik satu dengan yang lain sebagai akibat dari perkembangan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Dalam konteks sosial budaya
masyakat di Indonesia, hal ini penting dipersiapkan sebagai bekal untuk mampu
bertahan hidup dalam masyarakat yang multikultur.
Ada dua hal yang penting perlu disampaikan di jenjang SMA dengan harapan para
lulusan sudah memiliki kemapanan daya rasionalitas dan terbiasa menghadapi
perbedaan atau problema kehidupan. Pertama, guru harus mampu mendesain
pembelajarannya dengan lebih menekankan aspek rasionalitas terhadap nilai-nilai
multikultural. Konsekuensinya, guru harus mampu melakukan rasionalisasi
terhadap nilai-nilai multikultural di sekolah dalam hal ini pembelajaran di kelas.
Kedua, guru harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat
kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis secara
bersamaan. Aspek pedagogis menunjukkan pada kenyataan bahwa mengajar di
sekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan, karena itu guru harus
psikologis menunjukkan pada kenyataan bahwa peserta didik yang belajar pada
umumnya memiliki taraf perkembangan kejiwaan atau kedewasaan yang berbeda
satu dengan yang lainnya, sehingga menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu
aspek psikologis menunjukkan pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri
mengandung variasi.
Untuk mengakomodasi kondisi pendidikan secara ideal sebagaimana uraian di
atas, diperlukan sebuah pendekatan dalam pembelajaran yang mampu
menanamkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat yang penuh keberagaman.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang
memberikan pemahaman kehidupan sosial memiliki posisi strategis untuk
mengembangkan kondisi pendidikan yang mencerminkan situasi masyarakat
Indonesia yang multikultur.
Tuntutan UU Sisdiknas Tahun 2003 Pasal 4 Ayat 1, pola pendidikan harus
bernuansakan multikultur dalam rangka membelajarkan siswa untuk mampu dan
terbiasa hidup bersama dalam suasana penuh dengan perbedaan. Hal ini juga yang
dilakukan di SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung selain dengan dasar
pertimbangan kondisi sub kultur siswanya yang beragam dari sisi suku, agama
dan budaya yang dimiliki.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan multikultur
memungkinkan terakomodasinya nilai-nilai keberagaman bangsa, terutama bangsa
Indonesia. Pembelajaran multikultural di SMA Yayasan Pembina Unila telah
dilaksanakan dengan mengacu kepada pesan UU Sisdiknas Tahun 2003 dimana
penuh dengan perbedaan. Pelaksanaannya dikemas dalam proses pembelajaran
dengan memadukan materi pembelajaran dengan nilai-nilai multikultur. Yang
menjadi keunikannya adalah nilai-nilai multikultur yaitu nilai demokrasi dan
HAM tidak dibahas secara spesifik tetapi di integrasikan dalam pesan materi
pembelajaran. Proses pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan diskusi
kelompok dan pemecahan kasus-kasus yang memungkinkan tergalinya nilai-nilai
multikultur yang harus dipahami oleh siswa.
Tentu saja dengan berbagai keterbatasan pendidikan multikultur dalam praktik
banyak mengalami tantangan dan kendala baik dalam masyarakat itu sendiri
maupun pihak luar. Tantangan dan kendala dari dalam terutama dari kelompok
masyarakat yang menghendaki kemapanan dan kebiasaan hidup linear, mereka
enggan hidup dalam perbedaan dan semuanya harus sama atau satu paham.
Sementara itu tantangan dan kendala dari luar terutama berkenaan dengan
kebijakan secara politik dan adanya infiltrasi dari kebudayaan lain.
Program pendidikan multikultur dapat disajikan tipologinya berdasarkan
pendekatan yang penekanan utamanya yaitu: a) content oriented program, b)
student oriented program dan c) socially oriented program.
Menurut program yang berorientasi pada isi (content oriented program)
pendidikan multikultur disajikan dengan menghadapkan siswa pada berbagai jenis
budaya sebagai materi yang harus diperkenalkan, meskipun terkadang sangat
bertolak belakang dengan kebudayaan. Tujuan utama memasukkan materi
agar dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kelompok-kelompok budaya
lain.
Program yang berorientasi pada siswa (student oriented program), pendidikan
multikultur hendaknya memperhatikan berbagai perbedaan latar belakang siswa,
untuk ini harus berhati-hati karena jangan sampai menyinggung perasaan siswa
karena dari kelompok minoritas dan jangan lupa bahwa pendidikan multikultur ini
justru sebagai usaha untuk saling menghargai dan menghormati kelompok yang
berbeda. Menurut Banks (1994) yang perlu dicatat bahwa:
Program ini harus dapat mengangkat tentang keberagaman etnik, budaya, jenis kelamin, sehingga program yang berorientasi siswa ini adalah
intended to increase the academis echievement of these group, even when they do not involve extensive changes in the cotent of the curriculum.
Melalui program pendidikan multikultural yang berorientasi siswa ini sangat
diharapkan dapat membantu siswa dalam membangun eksistensinya sebagai
warga masyarakat dan mereka dapat saling belajar. Program ini dapat juga
dipandang sebagai program kompensasi dengan saling belajar dan memahami
perbedaan kultur diantara mereka.
Sedangkan program yang berorientasi pada sosial (socially oriented program)
merupakan program pendidikan multikultur yang bukan untuk meningkatkan
kemampuan akademik ataupun pengetahuan multikultur, tetapi meningkatkan rasa
toleran budaya dan ras serta harga diri. Menurut Banks (1994) kategori program
ini:
Pada prinsipnya pembelajaran di sekolah harus mampu membelajarkan
pendidikan multikultur sebagaimana pesan Undang-Undang Sisdiknas Tahun
2003. Setiap guru mata pelajaran hendaknya mampu mengemas materi pelajaran
bernuansakan nilai-nilai multikultural. Mulai dari penyusunan perencanaan,
pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap pengevaluasian pembelajarannya.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang
memberikan pemahaman kehidupan sosial memiliki posisi strategis untuk
mengembangkan kondisi pendidikan yang mencerminkan situasi masyarakat
Indonesia yang multikultural. Usaha mewujudkan keberhasilan pembelajaran di
kelas guru memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat besar, terlebih pada
penanaman dan pembiasaan nilai-nilai multikultural pada anak didik.
Di lain pihak pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
multikultur di sekolah masih banyak mengalami kendala, diantaranya tingkat
pemahaman warga sekolah dalam hal ini kepala sekolah selaku pengambil
kebijakan, guru sebagai pelaksana di kelas, termasuk tingkat kesadaran siswa akan
pentingnya pemahaman dan membiasakan diri menerapkan nilai-nilai
multikultural serta persepsi masyarakat dalam hal ini orangtua masih rendah.
Kehidupan sekolah yang masih berkelompok dan terkotak-kotak karena
perbedaan jender, kelas sosial, suku bahkan agama masih sering dijumpai.
Padahal fakta kehidupan sosial seperti itu sangat membahayakan keutuhan dan
Tingkat pemahaman guru dan daya dukung warga sekolah menentukan
keberhasilan pembelajaran bernuansakan nilai-nilai multikultural. Dalam hal ini
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menggunakan pendekatan
multikultural.
Di setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat materi pendidikan
kewarganegaraan, sebagai usaha membentuk warganegara yang baik, yaitu
berkarakter sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia.
Pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan yang ada di sekolah pada umumnya
dan juga terjadi di SMA Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung dapat
dikatakan lebih menekankan pada aspek kognitif saja, oleh karena itu
pembelajaran yang dilakukan oleh guru hanya sebatas pengkajian teoritis. Belum
kepada anak diajak untuk memaknai suatu pristiwa kehidupan yang senyatanya
terjadi di lingkungan masyarakat. Sehingga pada akhirnya memunculkan
individu-individu yang egoistis, sukuisme dan primordial. Padahal hal itu semua sangat
bertentangan dengan pola kehidupan bangsa Indonesia ini yang penuh dengan
keberagaman budaya.
Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa bangsa Indonesia sangat rawan
terhadap konflik, akibat dari bersinggungannya berbagai aspek kehidupan, mulai
dari masalah kelas-kelas sosial dalam masyarakat hingga mengarah kepada
SARA, hal ini sangat tidak menguntungkan bagi keutuhan bangsa. Untuk itu,
sebagai pendidik tentunya sudah saatnya kita berpikir, bagaimana kita mampu
merekayasa sebuah pembelajaran yang mampu merubah pola pikir keberagaman
Dalam usaha mengatasi itu semua tentu berbagai upaya perlu dilakukan
diantaranya melalui media pendidikan dalam hal ini sekolah, dengan
pembelajaran yang memberikan pemahaman akan makna kehidupan yang penuh
dengan keberagaman, termasuk juga memberikan keteladanan kepada siswa.
Untuk itu pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai multikultural merupakan
sesuatu yang mendesak untuk di lakukan dengan baik.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis merencanakan sebuah penelitian
yang berjudul ”Pendekatan Multikultur Berbasis Content Dalam Pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan”
1.2
Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah pendekatan multikultur berbasis content dalam
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dari pembelajaran ini akan di teliti
tentang persiapan pembelajaran, proses dan evaluasi pembelajaran pendidikan
Kewarganegaraan dengan menggunakan pendekatan multikultur yang
menekankan pada isi atau kurikulum (content oriented programs) di SMA
Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian, maka masalah yang akan
diungkap dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pembelajaran
menggunakan pendekatan multikultur yang berorientasi pada isi (content oriented
programs) atau berbasis content dalam pembelajaran Pendidikan
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dipilih dan dirumuskan di atas, Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang pembelajaran menggunakan
pendekatan multikultur yang berorientasi pada isi (content oriented programs)
atau berbasis content dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA
Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung, mulai dari perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi. Sehingga didapat suatu informasi keunikan yang seperti apakah
pelaksanaan pendekatan pendidikan multikultur dalam pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan yang menekankan pada isi (content oriented programs) atau
berbasis content.
1.5
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti dan
sumbangan pemikiran terhadap berbagai pihak, antara lain:
A. Secara umum
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang proses
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menggunakan
pendekatan multikultural. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi belajar siswa.
B. Secara khusus
1. Bagi peneliti, dengan melakukan penelitian ini dapat memperkaya
ilmu pengetahuan dan memperluas serta memperdalam wawasan
dalam dinamika pengetahuan khusunya yang berkenaan dengan
pemahaman tentang pendidikan berbhineka tunggal ika atau
pendidikan multikultural.
2. Bagi Lembaga, diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
kepada lembaga (FKIP Unila) dalam rangka mengembangkan proses
dan materi perkuliahan tentang pentingnya pendekatan multikultur
dalam proses pembelajaran akan kebutuhan kajian teori.
3. Bagi Program Studi PPKn FKIP Unila, sebagai salah satu referensi
bagi dosen dan mahasiswa untuk memahami dan melaksanakan
aplikasi desain pembelajaran dan penerapan pendekatan multikultural.
4. Bagi Guru pada umumnya, sebagai salah satu referensi untuk
memahami dan melaksanakan aplikasi desain pembelajaran dan