• Tidak ada hasil yang ditemukan

Chapter I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Chapter I"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsep Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) yang

terdiri dari ribuan pulau besar kecil, dengan luas laut sekitar 3.100.000 km2, yakni

perairan laut Nusantara 2.800.000 km2 dan perairan laut teritorial seluas 300.000

km2 ditambah dengan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, maka secara

keseluruhan luas perairan laut menjadi 5.200.000 km2 dan mempunyai pantai

terpanjang seluas 81.000 km2 1.

Pada tanggal 16 November 1994 Konvensi Hukum Laut 1982. Setelah

berlakunya konvensi ini maka luas wilayah Indonesia bertambah menjadi

8.193.163 km, yang terdiri dari 2.027.087 km daratan, dan 6.166.163 km lautan,

Luas wilayah laut Indonesia dapat dirinci menjadi 0,3 juta km laut teritorial, 2,8

juta km perairan nusantara dan 2,7 juta km Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia2.

Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang

81.000 km2 dan kawasan laut seluas 5,8 juta dinilai memiliki keanekaragaman

kekayaan yang terkandung didalamnya sangat potensial bagi pembangunan

ekonomi negara. Luas laut Indonesia meliputi ¾ (tiga perempat) dari luas wilayah

negara Indonesia. Wilayah perairan yang demikian luas menjadi beban yang berat

dan tanggungjawab yang besar dalam mengelola dan mengamankannya. Untuk

1

Djoko Tribawono, Hukum Perikanan Indonesia,PT. Citra Aditya Bakti,Bandung, 2002, hal. 105.

2

(2)

mengamankan laut yang begitu luas , diperlukan kekuatan dan kemampuan

dibidang kelautan berupa peralatan dan teknologi kelautan modern , serta

ketentuan maupun peraturan dan sumber daya manusia yang handal untuk

mengelola sumber daya yang terkandung didalamnya, seperti : ikan, mineral,

biota laut dan lain sebagainya.

Potensi sumber daya perikanan tangkap di laut diperkirakan sebesar

6.700.000 ton ikan dengan rincian 4.400.000 ton di perairan laut teritorial dan

perairan laut Nusantara, dan 2.300.000 tondi perairan laut Zona Ekonomi

Eksklusif Indonesia. Lahan perairan untung Pengembangan budi daya laut sekitar

80.900 hektar dengan potensi produksi sebesar 46.000.000 ton per tahun. Potensi

perairan umum tidak kurang dari 14.000.000 hektar terdiri dari danau, dan

produksi ikan bekisar anatar 800.000 sampai dengan 900.000 ton per tahun3.

Sebagaimana ciri negara berkembang dengan populasi penduduk yang

besar ditambah dengan struktur geografis yang dikelilingi oleh laut, maka laut

menjadi tumpuan sebagian besar penduduk indonesia untuk memenuhi kebutuhan

hidup terutama masyarakat pesisir. Selain itu, bagi negara kepulauan seperti

Indonesia, laut memiliki posisi yang strategis dan potensi yang luar biasa

baikdalam bidang ekonomi, pertahanan dan keamanan. Meskipun demikian,

wilayah perairan Indonesia juga tidak terlepas dari berbagai permasalahan , salah

satunya adalah penangkapan ikan secara illegal .

Kekayaan sumber daya hayati perairan Indonesia yang tinggi akan sangat

bermanfaat jika dilakukan pemanfaatan secara optimal dan bertanggung jawab.

3

(3)

Pemanfaatan sumber daya hayati perairan ini dapat dilakukan melalui proses

penangkapan yang bertanggung jawab. Dalam melakukan penangkapan nelayan

harus mematuhi peraturan/ kode etik yang berlaku.

Proses pemanfaatan sumber daya perikanan di Indonesia banyak yang

tidak sesuai dengan Code of Conduct for Responsible fisheries (CCFR). Cara yang

umumnya digunakan oleh nelayan adalah melakukan penangkapan ikan dengan

menggunakan pemboman, pembiusan, dan penggunaan alat tangkap trawl. Cara

ini semata-mata untuk memberikan keuntungan kepada nelayan dan memberikan

dampak yang sangat besar bagi kerusakan ekosistem.

Kondisi strategis wilayah perairan Indonesia akan menarik bagi

kapal-kapal penangkapan ikan asing maupun kapal-kapal-kapal-kapal penangkapan ikan Indonesia

untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal di perairan Indonesia. Illegal

fishing disamakan dengan illegal, Unported, Unregulated fishing. Menurut

Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009

tentang Perikanan, Tindak pidana perikanan adalah penangkapan ikan yang

dilakukan tanpa SIUP dan SIPI, menggunakan bahan peledak, bahan beracun,

bahan berbahaya dan lainnya yang mengakibatkan kerusakan dan kepunahan

sumber daya ikan.

Dapat juga diartikan penangkapan ikan secara illegal merupakan

penangkapan ikan yang bertentangan dan tidak sesuai dengan peraturan

undang-undang yang dalam hal ini adalah Undang-undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo

Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan dan peraturan lainnya

(4)

Tindak pidana perikanan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumber

daya perairan yang ada, karena semata-mata hanya akan memberikan dampak

yang kurang baik bagi ekosistem perairan akan tetapi memberikan keuntungan

yang besar bagi nelayan .Dalam hal ini yang sering melakukan penangkapan

adalah nelayan tradisional maupun nelayan asing untuk memanfaatkan ikan-ikan

yang dilarang untuk ditangkap, karena kegiatan itu semata-mata hanya

memberikan keuntungan bagi nelayan tersebut padahal kegiatan tersebut memberi

dampak buruk bagi ekosistem perairan.

Masalah penangkapan ikan secara illegal merupakan masalah klasik yang

sering di hadapi oleh negara yang memiliki banyak pantai karena masalah ini

sudah ada sejak dulu. Praktek ini masih marak terjadi diperairan Indonesia.

Kemampuan dalam melakukan pengawasan dan pengendalian dinilai masih

kurang efektif. Pemerintah cukup banyak mengalami masalah dalam hal

perusakan dan pencemaran lingkungan laut seperti penangkapan ikan dengan

menggunakan bahan peledak, pembuangan zat-zat berbahaya dari kapal-kapal.

Penangkapan ikan secara illegal bukanlah fenomena baru dalam kegiatan

perikanan tangkap. Kegiatan ini tidak terbatas hanya terjadi di laut lepas,tapi juga

terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif ,laut teritorial, bahkan perairan pedalaman.

Biasanya kegiatan ini di lakukan oleh kapal ikan asing maupun kapal ikan

Indonesia.

Kerugian negara akibat penangkapan ikan secara illegal dikhawatirkan

(5)

pelanggaran di bidang perikanan. Dengan semakin banyaknya kasus dibidang

perikanan secara ilegal dilakukan oleh nelayan asing maupun nelayan tradisional,

maka pemerintah harus mengambil sikap tegas untuk mencegah dan

menanggulangi tindak pidana perikanan tersebut.

Undang-undang tentang Perikanan ini belum dianggap membuat jera para

pelaku tindak pidana perikanan dengan sanksi pidana yang dianggap sudah berat.

Pencurian ikan di dalam pengaturannya sering disandingkan dengan tindak pidana

perikanan lainnya, yaitu Unreported dan Unregulated (UUI) Fishing yang secara

harfiah dapat diartikan sebagai kegiatan perikanan yang tidak sah, kegiatan

perikanan yang tidak diatur oleh peraturan yang ada, atau aktivitasnya tidak

dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga pengelola perikanan yang tersedia.

Praktek IUU (Illegal , unreported and unregulated) fishing bukan saja dilakukan

oleh perorangan saja, tetapi banyak juga dilakukan oleh korporasi.

Praktek ini merupakan suatu masalah yang biasa tetapi penanganannya

yang dilakukan sangat sulit. Penegakkan hukum yang dilakukan tidak membuat

para pelaku tindak pidana perikanan tersebut merasa ketakutan dalam melakukan

perbuatan tersebut. Dalam hal penanganan ini, Presiden Republik Indonesia

meminta agar adanya penanganan yang serius untuk mencegah pencurian ikan.

Karena kasus ini tidak ada habisnya. Maka sangat dibutuhkan penanganan yang

tegas dari para penegak hukum yang bersangkutan4.

4

(6)

Banyak faktor yang menyebabkan maraknya pencurian ikan di Indonesia.

Salah satu faktornya adalah laut Indonesia yang begitu luas dan terbuka , dengan

luasnya laut Indonesia pengawasan yang dilakukan pun sangat terbatas,

keterbatsan itu dikarenakan sarana dan prasarana pun terbatas. Masih banyak

faktor yang menyebabkan hal ini semakin bertambah.

Kabupaten Serdang Bedagai adalah salah satu kabupaten di provinsi

Sumatera Utara dimana wilayah ini memiliki letak geografis yaitu terletak pada

posisi 2o 57’- 3o 16 Lintang Selatan, 98o33’- 99o27’ Bujur Timur dengan luas

wilayah 1.900,22 km2 dengan batas wilayah yaitu sebelah utara dengan selat

malaka, sebelah selatan dengan kabupaten simalungun , sebelah timur dengan

kabupaten asahan dan kabupaten simalungun, sebelah barat dengan kabupaten deli

serdang dengan ketinggian wilayah 0-500 meter dari permukaan laut.

Kabupaten Serdang Bedagai yang memiliki potensi yang sangat tinggi di

bidang perikanan dan kelautan , baik perikanan tangkap, perikanan budidaya,

perairan umum dan pengembangan wilayah pesisir dengan garis pantai 95 km

yang meliputi 5 Kecamatan yaitu Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu,

Tanjung Beringin, Bandar Khalifah. Kabupaten ini sangat terkenal dengan wilayah

perairan5.

Potensi perikanan budidaya ikan cukup besar terdiri dari kolam air tenang

seluas 6.908 ha, kerambah 525 Unit, kolam air deras dan budidaya ikan disawah

5

(7)

seluas 744 Ha .Potensi perairan umum terdiri dari waduk 45 Ha, sungai 795Ha,

rawa dan saluran irigasi 215 Ha6.

Mengingat di kabupaten Serdang Bedagai ini, memiliki potensi perikanan

yang sangat menjanjikan, maka sangat diperlukan upaya-upaya untuk melindungi

dan mengawasi wilayah perairan ini dari praktek tindak pidana perikanan. Di

perairan ini masih sering terjadi praktek tindak pidana perikanan baik yang

dilakukan nelayan asing maupun nelayan tradisional ( nelayan Indonesia). Akibat

praktek ini, kabupaten ini mengalami kerugian.

Praktek ini sangat merugikan kabupaten Serdang Bedagai yang

kerugiannya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Dimana kerugian yang dicapai

setiap tahunnya semakin bertambah, karena dari hasil perikanan dan kelautan yang

dimiliki oleh kabupaten ini sangat membantu APBD serdang Bedagai. Hasil

perikanan ini yang sangat menjanjikan dibandingkan dengan Hasil alam yang

lainnya.

Cara yang sering digunakan oleh nelayan di kabupaten Serdang Bedagai

dalam melakukan kegiatan eksploitasi terhadap ikan yaitu dengan menggunakan

alat tangkap trawl, pembiusan. Cara ini yang seharusnya dihindari oleh nelayan.

Nelayan tidak pernah memikirkan akan kerusakan ekosistem ikan yang ada.

Dengan maraknya praktek tersebut di Kabupaten serdang Bedagai,

perlunya pengawasan dan perlindungan yang lebih maksimal yang harusnya

dilakukan oleh pemerintah. Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai

6

(8)

telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi dan mengawasi wilayah

perairan ini agar tidak meningkatnya praktek tersebut. Tetapi yang dilakukan

Pemerintah masih dapat dikatakan belum efektif sekali.

Untuk menjamin keefektifan agar terselenggaranya perlindungan dan

pengawasan di perairan tersebut, maka sangat dibutuhkan peran dari aparat

penegak hukum yang ikut mengawasi dan melindungi perairan di kabupaten

Serdang Bedagai tersebut. Maka dari itu, kepada POLRI sesuai dengan sifat

pekerjaanya diberikan tugas khusus dibidangnya yang kita kenal dengan sebutan

Polisi Perairan disingkat dengan POLAIR.

Berkaitan dengan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk menguraikan

lebih jauh mengenai peranan salah satu penegak hukum yang mempunyai

wewenang dan tugas di bidang perairan yaitu Polisi Perairan dalam menangani

tindak pidana perikanan.

Sehubungan dengan itu, maka penulis mengambil judul skripsi yaitu

“ Peranan Polisi Perairan Dalam Menangani Tindak Pidana Perikanan di

Perairan Serdang Bedagai. (Studi di Kepolisian Perairan Resort Serdang Bedagai).”

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian.

Hal ini bertujuan untuk mempermudah penulis dalam membatasi masalah yang

akan diteliti sehingga tujuan dan hasil dari penelitian dapat sesuai dengan yang

(9)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba merumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan tentang Tindak Pidana Perikanan menurut hukum

positif di Indonesia?

2. Bagaimana peranan Polisi Perairan dalam menangani Tindak Pidana

Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai?

3. Apa saja kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan dalam menangani

Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai

berikut:

1. Tujuan Objektif

a) Untuk mengetahui pengaturan tentang Tindak Pidana Perikanan menurut

hukum positif di Indonesia.

b) Untuk mengetahui Peranan Polisi Perairan dalam menangani Tindak

Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai.

c) Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan dalam

menangani Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang

Bedagai.

2. Tujuan Subjektif

a) Untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan utama dalam

(10)

dalam meraih gelar kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

b) Untuk menambah , memperluas mengembangkan pengetahuan dan

pengalaman penulis serta pemahaman aspek hukum di dalam teori dan

praktek lapangan hukum , khususnya dalam bidang hukum pidana yang

sangat berarti bagi penulis.

Penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat memberi manfaat baik secara

teorotis maupun praktis sebagai berikut :

1. Secara teoritis

Penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat sebagai bahan kajian

maupun masukan yang diharapkan dapat memperkaya khsanah ilmu pengetahuan

, menambah, dan melengkapi pembendaharan koleksi karya ilmiah serta

memberikan kontribusi pemikiran yang menyoroti dan membahas tentang peranan

polisi perairan dalam menanggulangi Tindak Pidana Perikanan.

2. Secara Praktis

Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi aparat

penegak hukum khususnya polisi perairan dalam menanggulangi tindak pidana

Perikanan dan, sumbangan pemikiran terutama bagi mahasiswa khususnya , juga

(11)

D. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Peranan

Menurut Grass, Masson dan MC Eachern , Peranan didefinisikan sebagai

perangkat harapn- harapan yang dikenakan pada individu atau kelompok

yang menempati kedudukan sosial tertentu.7

Menurut pendapat Soejono Soekanto, pengertian peranan adalah8 :

“peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan(status). Apabila

seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya. Maka ia menjalankan suatu peranan,Peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta

kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat.”

Berdasarkan dua pengertian diatas, maka peranan adalah suatu perangkat

harapan yang dikenakan pada individu atau kelompok untuk melaksanakan hak

dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemegang peran sesuai dengan yang

diharapkan masyarakat.

Menurut pendapat Soerjono Soekanto peranan dapat mencakup 3 (tiga) hal

yaitu9 :

1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi

atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti merupakan rangkaian-rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh

individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang

penting bagi struktur sosial masyarakat.

7

David Bery, Pokok-pokok Pikiran dalam sosiologi, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 100.

8

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal.243.

9

(12)

Berdasarkan pendapat tersebut, peranan mencakup 3 aspek. Pertama,

peranan merupakan penilaian dari perilaku seseorang yang berada di masyarakat.

Perilaku seseorang yang berkaitan dengan posisindan kedudukannya, yang diatur

dengan peraturan yang berlaku. Kedua, peranan merupakan konsep yang

dilakukan seseorang dalam masyarakat sesuai dengan kedudukannya. Ketiga,

peranan merupakan perilaku seseorang yang penting bagi struktur sosial

masyarakat.

Menurut Pendapat Komarudin, Konsep tentang peran (role) sebagai

berikut 10:

1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen

2. Pola perilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status.

3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.

4. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang

ada padanya.

5. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil pengertian bahwa peranan

merupakn penilaian sejauhmana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang

usaha pencapainnya yang ditentukan dengan sebab akibat.

2. Tinjauan tentang Polisi Perairan ( POLAIR)

a. Pengertian Polisi Perairan

Kepolisian Perairan merupakan Direktorat yang berada dibawah Badan

Pemeliharaan Keamanan Markas Besar Kepolisisan Negara Republik Indonesia

(Baharkam Polri). Polisi Perairan merupakan pelaksana tugas polisi umum namun

dalam wilayah perairan bukan daratan seperti layaknya polisi umum.

10

(13)

b. Tugas Polisi Perairan

Berdasarkan Pasal 67 ayat (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara

Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata

Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resor dan Kepolisian sektor. Tugas Polisi perairan

adalah melaksanakan fungsi polisi perairan yang meliputi:

1) Patroli Perairan

2) Penegakan hukum di Perairan

3) Pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya

Kasat Polisi Air Resort Serdang Bedagai mengatakan bahwa Tugas Polisi

Perairan adalah :

1) Pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat di seluruh wilayah

perairan NKRI khususnya perairan Kabupaten Serdang bedagai.

2) Melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat perairan di seluruh

wilayah perairan NKRI khususnya perairan kabupaten Serdang bedagai.

3) Melaksanakan penegakan hukum di seluruh wilayah perairan NKRI

khususnya perairan kab. Serdang Bedagai.

Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) dalam melaksanakan tugas dibantu

oleh :

1) Urusan Pembinaan Operasional (Urbinopsnal), bertugas melaksanakan

pembinaan administrasi dan operasional satpolair serta anev terhadap

(14)

2) Urusan Administrasi dan Ketatausahaan (Urmintu), yang bertugas

menyelenggarakan kegiatan administrasi dan ketatausahaan.

3) Unit Patroli (Unipatroli), yang bertugas menyelenggarakan patroli pantai

dan patroli laut serta perairan, kerjasama dalam rangka penanganan SAR

laut dan pantai, serta pembinaan masyarakat perairan.

4) Unit Penegakan Hukum ( Unitgakkum), bertugas melaksanakan

pengamanan dan penegakan hukum diwilayah laut dan perairan,

melaksanakan penyidikan kecelakaan dan penindakan pelanggaran dilaut

dan perairan.

5) Unit pemeliharaan dan Perbaikan Kapal (Unitharkankapal), bertugas

memelihara merawat danmemperbaiki mesin serta instalasi listrik kapal.

c. Fungsi Polisi Perairan

Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia, pada Pasal 2 menyatakan bahwa Fungsi Polisi adalah :

“salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan

dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan,

pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”.

Pengaturan fungsi kepolisian juga tercantum pada Pasal 5 ayat 1

Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang

menyatakan bahwa kepolisian merupakan alat negara yang berperan dalam

memeliharan keamanan dan ketertiban masyarakat, mengakkan hukum,

memberikan perlindungan, pengayoman, masyarakat dalam rangka terpeliharanya

(15)

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada Pasal 67 ayat (2),

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010

tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resor dan

Kepolisian sektor Polisi Perairan menyelenggarakan fungsi :

1) Pelaksanaan patroli, pengawalan penegakan hukum di wilayah perairan,

dan pembinaan masyarakat pantai didaerah hukum Polres.

2) Pemberian bantuan SAR di laut/perairan .

3) Pelaksanaan transportasi kepolisian perairan.

4) Pemeliharaan dan perbaikan fasilitas serta sarana kapal di lingkungan

Polres.

3. Tinjauan tentang Tindak Pidana

a. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana berasal dari bahasa Belanda yaitu strafbaar feit,

demikian juga terdapat dalam KUHP kita , tetapi tidak ada penjelasan resmi

tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit.

Dalam bahasa belanda, stafbaar feit ini terdiri dari tiga kata, yakni straf

artinya pidana, baar artinya dapat, dan feit adalah perbuatan11. Jadi secara

harafiah, srafbaar feit adalah perbuatan yang dapat di pidana.

Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari

peristiwa-peristiwa yang konkret dalam lapangan hukum pidana, sehingga perbuatan pidana

haruslah diberi arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat

11

(16)

memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan

masyarakat12.

Menurut Pompe pengertian Srafbaar feit dibedakan 13.

a) Definisi menurut teori memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu

pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.

b) Defenisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian strafbaar feit

adalah suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

Sedangkan menurut Simons, strafbaarfeit adalah14 :

“Tindakan melawan hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum”.

Ada beberapa istilah yang pernah digunakan , baik dalam

perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan

dari istilah strafbaar feit yaitu15:

1. Tindak Pidana, dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam

perundang-undangan kita. Istilah ini digunakan antara lain dalam UU No.

11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Subversi, dan

perundang-undangan yang lain. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini

seperti Wirjono Prodjodikoro.

12

Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta,1993,hal. 124.

13

Ibid, hal. 91. 14

Evi Hartanti,Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 5

15

(17)

2. Perbuatan Pidana

Istilah ini digunakan oleh Mr.R.Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum

Pidana. Menurut beliau, peristiwa pidana adalah :

“Suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman”.

Ahli hukum lainnya adalah Utrecht, dalam bukunya Hukum Pidana I.

Menurut beliau, peristiwa pidana diartikan sebagai berikut16:

“Suatu perbuatan handelen atau doen-positif atau suatu melalaikan

nalaten-negatif , maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu). Peristiwa pidana merupakan suatu peristiwa hukum , yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum”.

3. Delik

Istilah ini berasal dari bahasa latin yaitu delictum. Dalam bahasa Jerman

disebut delict, dalam bahasa Perancis disebut delit, dan dalam bahasa Belanda

disebut delict17.

Beberapa ahli hukum pidana memberikan pengertian mengenai delik

dalam arti strafbaar feit , antara lain yaitu vos, van hannel dan simons. Menurut

vos, delik didefenisikan sebagai feit yang dinyatakan dapat dihukum berdasarkan

undang-undang. Menurut van hamel, delik adalah suatu serangan atau ancaman

terhadap hak-hak orang lain. Sedangkan menurut simons, delik berarti18:

16

Evi Hartanti, Op.Cit, hal. 6

17

Leden Marpaung, Asas –Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 7.

(18)

“Suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai perbuatan yang dapat dihukum”.

4. Perbuatan Pidana

Digunakan oleh Mr. Moeljatno dalam berbagai tulisan beliau seperti dalam

buku Asas-asas hukum Pidana.

Menurut beliau, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh

suatu aturan hukum , larangan mana disertai ancaman(sanksi) yang berupa pidana

tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut19. Begitu juga untuk adanya

perbuatan pidana itu harus ada unsur-unsur yaitu : 1) perbuatan (manusia), 2)

memenuhi rumusan dalam undang-undang(syarat formil), 3) bersifat melawan

hukum(syarat materil)20.

5. Perbuatan yang boleh dihukum

Istilah ini digunakan oleh Mr. Karni dalam bukunya Ringkasan tentang

Hukum Pidana.

b. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Menurut Simons, ada dua unsur yang harus dipenuhi agar suatu

perbuatan itu dapat dikatakan sebagai tindak pidana yaitu unsur objektif dan unsur

subjektif. Unsur Objektif yaitu berupa tindakan yang dilarang atau diharuskan,

serta akibat keadaan atau masalah tertentu, sedangkan unsur subjektif yaitu berupa

19

Adami Chazawi, Op. Cit,hal. 71 20

(19)

kesalahan (Schuld), dan kemampuan bertanggung jawab (toerekenings vatbaar),

dari pelaku21.

Jadi, berdasarkan doktrin tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur

tindak pidana terdiri atas unsur subjektif dan objektif.

a) Unsur Subjektif

Yaitu unsur yang berasal dari dalam diri si pelaku. Asas hukum pidana

yang menyatakan bahwa “ tidak ada hukuman kalau tidak ada kesalahan” (actus

non facit reum nisi mens sit rea). Kesalahan yang dimaksud disini adalah

kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan ( intentian / opzet/ dolus) dan

kealpaan ( negligence / culpa).

Unsur pertama dari kesalahan ( schuld) adalah kesengajaan. Kesengajaan

adalah dikehendaki.

Dalam Crimineel wetboek (KUHP) tahun 1809 dicantumkan22:

“kesengajaan adalah kemauan untuk melakukan atau tindakan melakukan

perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang”.

Kemudian dalam Memorie van Toelichting (MvT) Menteri Kehakiman

sewaktu mengajukan Criminiel Wetboek tahun 1888 ( yang menjadi KUHP

Indonesia tahun 1915), memuat23:

21

E.Y Kanter dan S.R Sianturi,Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Sinar Grafika,Jakarta, 2002, hal. 205

22

Leden Marpaung, Op.Cit,hal. 13 23

(20)

“ Kesengajaan adalah dengan sadar berkehendak untuk melakukan sesuatu

kejahatan tertentu ( de bewuste richting van den wil op een depaald

misdriff).”

Mengenai Mvt tersebutn, Satochid Kartanegara menyebutkan bahwa yang

dimaksud dengan opzet willens en weten ( dikehendaki dan diketahui) adalah24:

“ Seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja harus

mengkehendaki ( willen) perbuatan itu serta harus menginsafi atau

mengerti ( weten) akan akibat dari perbuatan itu.”

Pada umumnya, para pakar telah sepakat bahwa kesengajaan itu dibagi

atas tiga bentuk yaitu kesengajaan sebagai maksud ( opzet als oogmerk),

kesengajaan dengan kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn), kesengajaan

dengan kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn) disebut juga dengan

dolus eventualis25.

1. Kesengajaan dengan maksud ( opzet als oogmerk)

Kesengajaan ini sama dengan mengkhendaki untuk mewujudkan

perbuatan, untuk melalaikan kewajiban hukum , dan timbulnya akibat

perbuatan itu.

2. Kesengajaan dengan kepastian ( opzet bij zekerheidsbewustzjin)

Yaitu dimana di pelaku (doer atau dader) mengetahui pasti atau yakin

benar bahwa selain akibat dimaksud, akan terjadi suatu akibat lain. Si

pelaku menyadari bahwa dengan melakukan perbuatan itu , pasti akan

timbul akibat lain.

3. Kesengajaan dengan kemungkinan ( opzet bij mogelijkheidsbewustzjin) di

sebut juga dolus eventualis.

24

Ibid. 25

(21)

Kesengajaan ini yaitu bahwa seseorang melakukan perbuatan dengan

tujuan untuk menimbulkan suatu akibat tertentu. Akan tetapi, si pelaku

menyadari bahwa mungkin akan timbul akibat lain yang juga dilarang dan

diancam oleh undang-undang.

Unsur kedua dari kesalahan ( schuld) adalah kealpaan. Kealpaan adalah

tidak dikendaki.

Contoh kealpaan menurut Satochid Kartanegara yaitu26:

A membuat api untuk memasak air. Jelas disini bahwa A membuat api dengan sengaja. Akan tetapi, kemudian api menjilati dinding rumah sehingga menimbulkan kebakaran.

Dalam hal ini perbuatan A yang menimbulkan kebakaran tersebut harus

ditinjau dari sudut syarat-syarat kesalahan, yaitu :

 Apakah terdapat ketidak hati-hatian pada diri A?

 Apakah A dapat membayangkan akan timbulnya kebakaran atau tidak?

b) Unsur Objektif

Yaitu unsur dari luar diri pelaku, terdiri atas :

1. Perbuatan manusia, berupa:

a. Act, yaitu perbuatan aktif atau perbuatan positif.

b. Omission, yaitu perbuatan pasif atau perbuatan negatif, seperti

mendiamkan atau membiarkan.

26

(22)

2. Akibat (result) perbuatan manusia

Akibat tersebut membahayakan atau merusak, bahkan menghilangkan

kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum, seperti nyawa,

badan, kemerdekaan, hak milik dan sebagainya.

3. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum

Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan

si pelaku dari hukuman. Adapun sifat melawan , yakni berkenaan dengan

larangan atau perintah.

Semua unsur tindak pidana yang telah diuraikan diatas merupakan satu

kesatuan. Salah satu unsur saja tidak terbukti , dapat menyebabkan terdakwa

dibebaskan dari pengadilan.

4. Tinjauan tentang Tindak Pidana Perikanan

Pengertian tindak pidana perikanan tidak ada dijumpai baik khususnya di

dalam undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang-undang Nomor 45

Tahun 2009. Dalam undang-undang ini hanya diatur tentang pengadilan perikanan

, mengenai penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan

perikanan.

Berdasarkan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 84-100

Undang-undang ini, tindak pidana perikanan dapat digolongkan sebagai berikut27

1) Penangkapan ikan yang dilakukan dengan menggunakan penggunaan

bahan yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya ikan/

27

(23)

lingkungannya. Hal ini diatur dalam pasal 84 dalam undang-undang ini

yang pada dasarnya mengatur agar orang atau perusahaan yang melakukan

penangkapan ikan secara wajar, sehingga sumber daya ikan dan

lingkungannya tetap terjaga kelestariannya dan sehat.

2) Penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan yang

mengganggu dan merusak sumber daya ikan di kapal perikanan. Hal ini

diatur dalam Pasal 85 dalam undang-undang ini dengan tujuan untuk

melindungi sumber daya ikan di perairan wilayah pengelolaan perikanan.

3) Melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pencemaran/ kerusakan

sumber daya ikan / lingkungannya. Hal ini diatur dalam Pasal 86 ayat 1

dalam undang-undang ini yang pada dasarnya mengatur bahwa dalam

pengelolaan perikanan akan selalu berhubungan dengan air sehingga

rawan terhadap pencemaran atau kerusakan lingkungan, sehingga

dilaukakn pengaturan untuk menanggulangi adanya pencemaran tersebut,

agar para pengelola perikanan selalu berhati-hati dalam melaksanakan

pengelolaan.

4) Melakukan pembudidayaan ikan. Hal ini diatur dalam Pasal 86 ayat 2,3,4

dalam undang-undang ini, pada kejahatan perikanan perubatan yang

dilakukan sangat luas, berbeda dengan kejahatan yang dapat

membahayakan sumber daya ikan, perbuatannya sudah ditetapkan

bentuknya yaitu yang berkaitan dengan pembudidayaan ikan.

5) Perbuatan yang berhubungan dengan perusakan plasma nufah. Hal ini

(24)

penting dibidang pengelolaan perikanan , maka apabila plasma nufah

dirusak dapat mengakibatkan kegagalan pengelolaaan perikanan dan

penangkapan ikan dan hasilnya kurang memeuaskan, sehingga perlu diatur

pengaturan.

6) Perbuatan yang bersangkutan dengan pengelolaan perikanan yang

merugikan masyarakat. Hal ini diatur dalam pasal 88 undang-undang ini,

yang pada dasarnya mengatakan bahwa dalam melaksanakan pengelolaan

perikanan wajib dilakukan dengan baik, agar hasilnya baik

pulak.pengeloaan perikanan dengan cara yang menyimpang berakibat akan

merugikan masyarakat karena hasilnya berkualitas kurang, atau tidak

dapat di konsumsi. Oleh karena itu, perbuatan tersebut harus diancam

pidana.

7) Perbuatan yang berkaitan dengan pengolahan ikan yang kurang atau tidak

memenuhi syarat. Hal ini diatur dalam Pasal 89 undang-undang ini, yang

mengatur agar dalam pengeloaan perikanan dapat berdaya guna dan

berhasil guna maka setiap orang yang melakukan penangan dan

pengelolahan ikan wajib memenuhi dan menerapkan persyaratan

kelayakan pengolahan ikan, sistem jaminan mutu, dan keamanan hasil

perikanan.

8) Perbuatan yang berhubungan dengan memalsukan/pengeluaran hasil

perikanan dari/ke wilayah negara RI tanpa dilengkapan sertifikat

kesehatan. Hal ini diatur dalam Pasal 90 undang-undang ini, yang

(25)

mengimpor produk hasil perikanan wajib memeiliki serifikat kesehatan

agar barang makanan tersebut layak dikonsumsi.

9) Penangkapan ikan yang berkaitan dengan penggunaan bahan/alat yang

membahayakan manusia dalam melaksanakan pengelolahan ikan. Hal ini

diatur dalam Pasal 91 undang-undang ini, mengatur bahwa pengusaha

dibidang perikanan tidak menggunakan bahan-bahan yang membahayakan

kesehatan manusia untuk memasarkan hasil olahannya agar awet dan

penampilannya menarik.

10)Perbuatan yang berkaitan dengan melakukan usaha perikanan tanpa SIUP.

Hal ini diatur dalm Pasal 92 undang-undang ini yang mengatakan bahwa

pada dasarnya semua perusahan apapun bentuknya wajib memiliki izin

usaha sesuai dengan bidang usahanya demikian juga dalam usaha

perikanan harus memiliki SIUP.

11)Melakukan penangkapan ikan tanpa memiliki SIPI. Hal ini diatur dalam

Pasal 93 undang-undang ini, mengatur bahwa di samping memiliki SIUP

perusahan bidang perikanan wajib memiliki SIPI untuk dapat melakukan

penangkapan ikan.

12)Melakukan penangkapan ikan tanpa memiliki SIKPI. Hal ini diatur dalam

Pasal 94 undang-undang ini yang mengatur bahwa setiap kapal perikanan

yang berupa kapal pengakut ikan wajib memiliki SIKPI.

13)Memalsukan SIUP, SIPI, SIKPI. Hal ini diatur dalam Pasal 94 a

undang-undang ini mengatakan bahwa izin-izin yang digunakan untuk bidang

(26)

izin tersebut harus memenuhi syarat yang ditetapkan dan mengikuti

prosedur.

14)Membangun, mengimpor, memodifikasi kapal perikanan tanpa izin. Hal

ini diatur dalam Pasal 95 undang-undang ini mengatur bahwa pengusaha

perikanan tidak bebas untuk mendapatkan kapal perikanan , karena pada

prinsipnya bentuk kapalnya sudah ditentukan oleh pemerintah, tujuannya

untuk keselamatan dalam pelayaran, khususnya untuk menyangkut ikan.

15)Tidak melakukan pendaftaran kapal perikanan. Hal ini diatur dalam Pasal

96 undang-undang ini mengatur bahwa setiap kapal perikanan milik orang

Indonesia wajib didaftrakan terlebih dahulu sebagai kapal Perikanan di

Indonesia.

16)Perbuatan yang berkaitan dengan pengopersian kapal perikanan asing. Hal

ini diatur dalam Pasal 97 undang-undang ini mengatur bahwa kapal

perikanan asing yang melakukan pengoperasian diwilayah pengelolaan

perikanan Indonesia memiliki perlakuan sendiri mengenai hukum

pidananya.

17)Tanpa memiliki surat persetujuan berlayar. Hal ini diatur dalam Pasal 98

undang-undang ini mengatur bahwa setiap pelabuhan perikanan terdapat

syiahbandar yaitu pejabat yang berwenang menjalankan dan melakukan

pengawasan terhadap dipenuhinya peraturan untuk menjaamin keselamatn

dan keamanan kapal perikanan.

18)Melakukan penelitian tanpa izin pemerintah. Hal ini diatur dalam Pasal 99

(27)

perikanan dengan tujuan memperoleh data dari lapangan untuk

mengetahui keadaan nyata dalam pengelolaan perikanan haruslah

memiliki izin dari pemerintah hal ini untuk melindungi perikanan

Indonesia dari pengaruh negatif yang ditimbulkan dari penelitian asing.

19)Melakukan usaha pengelolaan perikana yang tidak memenuhi ketentuan

yang ditetapkan UU perikanan. Hal ini diatur dalm Pasal 100

undang-undang ini , mengatur bahwa seorang pengusaha dibidang perikanan

dalam menjalankan usahanya selain harus memenuhi persyaratan dalam

mengurus izin yang diperlukan, juga wajib mematuhi ketentuan yang

ditetapkan oleh UU perikanan.

20)Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan/ pembudidaya ikan kecil.

Hal ini diatur dalam pasal 100b undang-undang ini, mengatur bahwa

dibidang perikanan baik pengusaha kecil maupun pengusahan besar

mendapat perlakuan sama apabila perbuatannya bertentangan dengan uu

perikanan akan mendapatkan sanksi pidana.

21)Melanggar kebijakan pengeloaan sumber daya ikan yang dilakukan oleh

nelayan/ pembudidaya ikan kecil. Tindak pidana ini diatur dalam Pasal

100c undang-undang ini mengatur bahwa setiap orang yang melakukan

usaha dan atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib mematuhi

(28)

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang diteliti oleh penulis ialah metode penelitian hukum

normatif dan juga metode penelitian empiris yaitu dengan melakukan penelitian

kepustakaan dan penelitian lapangan, Penelitian kepustakaan yakni penelitian

yang dilakukan dengan meneliti bahan-bahan kepustakaan, khususnya

perundang-undangan dan kepustakaan hukum yang berkaitan, sedangkan penelitian lapangan

adalah penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung

(observasi) dan wawancara langsung dengan objek yang berkaitan.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Satuan Kepolisian Perairan Resort Serdang

Bedagai, Sumatera Utara.

3. Jenis data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data primer dan data

sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara dengan

narasumber. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan pustaka28.

Bahan sekunder yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Bahan hukum primer, antara lain :

a. Norma atau kaedah dasar

b. Peraturan dasar

c. Peraturan perundang-undangan seperti KUHAP, UU No.31 Tahun

2004 jo UU No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan, UU No.5 Tahun

28

(29)

1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, UU No.2 tahun

2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU No. 5

Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan

Ekosistemnya.

2. Bahan Hukum sekunder berupa buku yang berkaitan dengan tindak

pidana illegal fishing, artikel dan lain sebagainya.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Penelitian Kepustakaan (Library research)

Studi Kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data dari berbagai

sumber bacaan seperti Peraturan Perundang-Undangan, buku-buku, majalah, dan

bahan lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini.

b. Penelitian Lapangan ( Field Research)

Proses pengumpulan bahan-bahan melalui penelitian lapangan dilakukan

melalui wawancara dengan tanya jawab secara langsung dengan narasumber yang

dilakukan di Satuan Kepolisian Perairan Resort Serdang Bedagai.

5. Analisis Data

Data yang diperoleh baik dari studi kepustakaan maupun dari penelitian ke

lapangan akan dianalisis secara kualitatif. Analisis data secara kualitatif yaitu

Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data

yang berhubungan dengan tindak pidana Perikanan, memilah-milahnya menjadi

(30)

penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan

kepada orang lain.

F. Keaslian Penulisan

Skripsi ini merupakan karya tulis asli. Belum ada penulis yang menulis

skripsi tentang hal yang sama , khususnya untuk yang terdapat di Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara, Medan. Penulisan Skripsi ini merupakan ide, gagasan

pemikiran dan usaha penulis sendiri bukan merupakan hasil ciptaan atau hasil

penggandaan dari karya tulis orang lain yang dapat merugikan pihak-pihak

tertentu.

Dengan ini penulis dapat bertanggung jawab atas keaslian penulisan

skripsi ini, belum pernah ada judul yang sama demikian juga dengan pembahasab

yang diuraikan. Dalam hal mendukung penulisan ini dipakai pendapat-pendapat

para sarjana yang diambil atau dikutip berdasarkan daftar referensi dari buku para

sarjana yang ada hubungannya dengan masalah dan pembahasan .

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran secara keseluruhandari skripsi ini penulis

akan menguraikan sistematiknya. Skripsi ini terdiri dari V ( lima) Bab, yaitu :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari : Latar belakang, Perumusan masalah, Tujuan

dan Manfaat Penulisan,Tinjauan Pustaka, Metode penelitian,

(31)

BAB II PENGATURAN TENTANG TINDAK PIDANA PERIKANAN

MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA.

Dalam Bab ini penulis akan menguraikan secara menyeluruh

tentang bagaimana pengaturan tentang tindak pidana perikanan

menurut hukum positif di Indonesia.Pemaparan terkait dengan

jenis-jenis tindak pidana perikanan dan pengaturan mengenai

sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang perikanan yaitu

Undang-undang No. 31 Tahun 2004 jo Undang-undang No.45

Tahun 2009, dan undang-undang yang mempunyai relevansi di

bidang perikanan yaitu undang No.5 Tahun 1983,

Undang-undang No.5 Tahun 1990, Undang-Undang-undang No.1 Tahun 1973.

BAB III PERANAN POLISI PERAIRAN DALAM MENANGANI

TINDAK PIDANA PERIKANAN YANG TERJADI DI

PERAIRAN SERDANG BEDAGAI.

Dalam Bab III ini penulis akan menguraikan tentang Peranan

Polisi perairan dalam menangani Tindak Pidana Perikanan yang

terjadi di Perairan Serdang Bedagai, Upaya yang dilakukan oleh

Polisi Perairan dalam menangani Tindak Pidana Perikanan, dan

Jenis-jenis Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di perairan

(32)

BAB IV KENDALA YANG DIHADAPI OLEH POLISI PERAIRAN

DALAM MENANGANI TINDAK PIDANA PERIKANAN DI

PERAIRAN SERDANG BEDAGAI.

Dalam Bab IV ini penulis akan menguraikan tentang kendala-

kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan baik kendala yang

berasal dari dalam kepolisian maupun kendala yang berasal dari

luar kepolisian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab penutup atau rangkuman yang berisikan

penyimpulan dari seluruh bab sebelumnya yang menjadi suatu

kesimpulan sekaligus memuat saran yang merupakan sumbangan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Bahwa, kendala yang dihadapi oleh para aparat hukum dalam pemenuhan hak tersangka tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh anak adalah minimnya Polisi yang

Kendala dalama Pelaksanaan Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor dalam Peradilan Tindak Pidana Korupsi. Kendala

Kendala yang dihadapi Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Menanggulangi Tindak Pidana Aborsi. Ada berbagai kendala yang dihadapi Polda DIY dalam

mengungkap tindak pidana narkotika. Untuk mengetahui hambatan apa yang dihadapi penyidik polisi. dalam proses penyelesaian tindak pidana narkotika di

Kendala yang dihadapi dalam menanggulangi tindak pidana penipuana. secara online

Valenciennes, 1847) di Perairan Selat Malaka Tanjung Beringin Serdang Bedagai Sumatera Utara ” , yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

Kendala-kendala yang dihadapi Balai Pemasyarakatan Kelas I Padang dalam melakukan Pendampingan terhadap anak pelaku tindak pidana dalam mejalankan tugasnya sebagai

narkotika, maka polisi sebagai penyidik memandang sama dengan tindak pidana yang lain. Artinya, dalam menangani tindak pidana ini penyidik menerapkan pula