BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) yang
terdiri dari ribuan pulau besar kecil, dengan luas laut sekitar 3.100.000 km2, yakni
perairan laut Nusantara 2.800.000 km2 dan perairan laut teritorial seluas 300.000
km2 ditambah dengan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, maka secara
keseluruhan luas perairan laut menjadi 5.200.000 km2 dan mempunyai pantai
terpanjang seluas 81.000 km2 1.
Pada tanggal 16 November 1994 Konvensi Hukum Laut 1982. Setelah
berlakunya konvensi ini maka luas wilayah Indonesia bertambah menjadi
8.193.163 km, yang terdiri dari 2.027.087 km daratan, dan 6.166.163 km lautan,
Luas wilayah laut Indonesia dapat dirinci menjadi 0,3 juta km laut teritorial, 2,8
juta km perairan nusantara dan 2,7 juta km Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia2.
Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang
81.000 km2 dan kawasan laut seluas 5,8 juta dinilai memiliki keanekaragaman
kekayaan yang terkandung didalamnya sangat potensial bagi pembangunan
ekonomi negara. Luas laut Indonesia meliputi ¾ (tiga perempat) dari luas wilayah
negara Indonesia. Wilayah perairan yang demikian luas menjadi beban yang berat
dan tanggungjawab yang besar dalam mengelola dan mengamankannya. Untuk
1
Djoko Tribawono, Hukum Perikanan Indonesia,PT. Citra Aditya Bakti,Bandung, 2002, hal. 105.
2
mengamankan laut yang begitu luas , diperlukan kekuatan dan kemampuan
dibidang kelautan berupa peralatan dan teknologi kelautan modern , serta
ketentuan maupun peraturan dan sumber daya manusia yang handal untuk
mengelola sumber daya yang terkandung didalamnya, seperti : ikan, mineral,
biota laut dan lain sebagainya.
Potensi sumber daya perikanan tangkap di laut diperkirakan sebesar
6.700.000 ton ikan dengan rincian 4.400.000 ton di perairan laut teritorial dan
perairan laut Nusantara, dan 2.300.000 tondi perairan laut Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia. Lahan perairan untung Pengembangan budi daya laut sekitar
80.900 hektar dengan potensi produksi sebesar 46.000.000 ton per tahun. Potensi
perairan umum tidak kurang dari 14.000.000 hektar terdiri dari danau, dan
produksi ikan bekisar anatar 800.000 sampai dengan 900.000 ton per tahun3.
Sebagaimana ciri negara berkembang dengan populasi penduduk yang
besar ditambah dengan struktur geografis yang dikelilingi oleh laut, maka laut
menjadi tumpuan sebagian besar penduduk indonesia untuk memenuhi kebutuhan
hidup terutama masyarakat pesisir. Selain itu, bagi negara kepulauan seperti
Indonesia, laut memiliki posisi yang strategis dan potensi yang luar biasa
baikdalam bidang ekonomi, pertahanan dan keamanan. Meskipun demikian,
wilayah perairan Indonesia juga tidak terlepas dari berbagai permasalahan , salah
satunya adalah penangkapan ikan secara illegal .
Kekayaan sumber daya hayati perairan Indonesia yang tinggi akan sangat
bermanfaat jika dilakukan pemanfaatan secara optimal dan bertanggung jawab.
3
Pemanfaatan sumber daya hayati perairan ini dapat dilakukan melalui proses
penangkapan yang bertanggung jawab. Dalam melakukan penangkapan nelayan
harus mematuhi peraturan/ kode etik yang berlaku.
Proses pemanfaatan sumber daya perikanan di Indonesia banyak yang
tidak sesuai dengan Code of Conduct for Responsible fisheries (CCFR). Cara yang
umumnya digunakan oleh nelayan adalah melakukan penangkapan ikan dengan
menggunakan pemboman, pembiusan, dan penggunaan alat tangkap trawl. Cara
ini semata-mata untuk memberikan keuntungan kepada nelayan dan memberikan
dampak yang sangat besar bagi kerusakan ekosistem.
Kondisi strategis wilayah perairan Indonesia akan menarik bagi
kapal-kapal penangkapan ikan asing maupun kapal-kapal-kapal-kapal penangkapan ikan Indonesia
untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal di perairan Indonesia. Illegal
fishing disamakan dengan illegal, Unported, Unregulated fishing. Menurut
Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perikanan, Tindak pidana perikanan adalah penangkapan ikan yang
dilakukan tanpa SIUP dan SIPI, menggunakan bahan peledak, bahan beracun,
bahan berbahaya dan lainnya yang mengakibatkan kerusakan dan kepunahan
sumber daya ikan.
Dapat juga diartikan penangkapan ikan secara illegal merupakan
penangkapan ikan yang bertentangan dan tidak sesuai dengan peraturan
undang-undang yang dalam hal ini adalah Undang-undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan dan peraturan lainnya
Tindak pidana perikanan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumber
daya perairan yang ada, karena semata-mata hanya akan memberikan dampak
yang kurang baik bagi ekosistem perairan akan tetapi memberikan keuntungan
yang besar bagi nelayan .Dalam hal ini yang sering melakukan penangkapan
adalah nelayan tradisional maupun nelayan asing untuk memanfaatkan ikan-ikan
yang dilarang untuk ditangkap, karena kegiatan itu semata-mata hanya
memberikan keuntungan bagi nelayan tersebut padahal kegiatan tersebut memberi
dampak buruk bagi ekosistem perairan.
Masalah penangkapan ikan secara illegal merupakan masalah klasik yang
sering di hadapi oleh negara yang memiliki banyak pantai karena masalah ini
sudah ada sejak dulu. Praktek ini masih marak terjadi diperairan Indonesia.
Kemampuan dalam melakukan pengawasan dan pengendalian dinilai masih
kurang efektif. Pemerintah cukup banyak mengalami masalah dalam hal
perusakan dan pencemaran lingkungan laut seperti penangkapan ikan dengan
menggunakan bahan peledak, pembuangan zat-zat berbahaya dari kapal-kapal.
Penangkapan ikan secara illegal bukanlah fenomena baru dalam kegiatan
perikanan tangkap. Kegiatan ini tidak terbatas hanya terjadi di laut lepas,tapi juga
terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif ,laut teritorial, bahkan perairan pedalaman.
Biasanya kegiatan ini di lakukan oleh kapal ikan asing maupun kapal ikan
Indonesia.
Kerugian negara akibat penangkapan ikan secara illegal dikhawatirkan
pelanggaran di bidang perikanan. Dengan semakin banyaknya kasus dibidang
perikanan secara ilegal dilakukan oleh nelayan asing maupun nelayan tradisional,
maka pemerintah harus mengambil sikap tegas untuk mencegah dan
menanggulangi tindak pidana perikanan tersebut.
Undang-undang tentang Perikanan ini belum dianggap membuat jera para
pelaku tindak pidana perikanan dengan sanksi pidana yang dianggap sudah berat.
Pencurian ikan di dalam pengaturannya sering disandingkan dengan tindak pidana
perikanan lainnya, yaitu Unreported dan Unregulated (UUI) Fishing yang secara
harfiah dapat diartikan sebagai kegiatan perikanan yang tidak sah, kegiatan
perikanan yang tidak diatur oleh peraturan yang ada, atau aktivitasnya tidak
dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga pengelola perikanan yang tersedia.
Praktek IUU (Illegal , unreported and unregulated) fishing bukan saja dilakukan
oleh perorangan saja, tetapi banyak juga dilakukan oleh korporasi.
Praktek ini merupakan suatu masalah yang biasa tetapi penanganannya
yang dilakukan sangat sulit. Penegakkan hukum yang dilakukan tidak membuat
para pelaku tindak pidana perikanan tersebut merasa ketakutan dalam melakukan
perbuatan tersebut. Dalam hal penanganan ini, Presiden Republik Indonesia
meminta agar adanya penanganan yang serius untuk mencegah pencurian ikan.
Karena kasus ini tidak ada habisnya. Maka sangat dibutuhkan penanganan yang
tegas dari para penegak hukum yang bersangkutan4.
4
Banyak faktor yang menyebabkan maraknya pencurian ikan di Indonesia.
Salah satu faktornya adalah laut Indonesia yang begitu luas dan terbuka , dengan
luasnya laut Indonesia pengawasan yang dilakukan pun sangat terbatas,
keterbatsan itu dikarenakan sarana dan prasarana pun terbatas. Masih banyak
faktor yang menyebabkan hal ini semakin bertambah.
Kabupaten Serdang Bedagai adalah salah satu kabupaten di provinsi
Sumatera Utara dimana wilayah ini memiliki letak geografis yaitu terletak pada
posisi 2o 57’- 3o 16 Lintang Selatan, 98o33’- 99o27’ Bujur Timur dengan luas
wilayah 1.900,22 km2 dengan batas wilayah yaitu sebelah utara dengan selat
malaka, sebelah selatan dengan kabupaten simalungun , sebelah timur dengan
kabupaten asahan dan kabupaten simalungun, sebelah barat dengan kabupaten deli
serdang dengan ketinggian wilayah 0-500 meter dari permukaan laut.
Kabupaten Serdang Bedagai yang memiliki potensi yang sangat tinggi di
bidang perikanan dan kelautan , baik perikanan tangkap, perikanan budidaya,
perairan umum dan pengembangan wilayah pesisir dengan garis pantai 95 km
yang meliputi 5 Kecamatan yaitu Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu,
Tanjung Beringin, Bandar Khalifah. Kabupaten ini sangat terkenal dengan wilayah
perairan5.
Potensi perikanan budidaya ikan cukup besar terdiri dari kolam air tenang
seluas 6.908 ha, kerambah 525 Unit, kolam air deras dan budidaya ikan disawah
5
seluas 744 Ha .Potensi perairan umum terdiri dari waduk 45 Ha, sungai 795Ha,
rawa dan saluran irigasi 215 Ha6.
Mengingat di kabupaten Serdang Bedagai ini, memiliki potensi perikanan
yang sangat menjanjikan, maka sangat diperlukan upaya-upaya untuk melindungi
dan mengawasi wilayah perairan ini dari praktek tindak pidana perikanan. Di
perairan ini masih sering terjadi praktek tindak pidana perikanan baik yang
dilakukan nelayan asing maupun nelayan tradisional ( nelayan Indonesia). Akibat
praktek ini, kabupaten ini mengalami kerugian.
Praktek ini sangat merugikan kabupaten Serdang Bedagai yang
kerugiannya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Dimana kerugian yang dicapai
setiap tahunnya semakin bertambah, karena dari hasil perikanan dan kelautan yang
dimiliki oleh kabupaten ini sangat membantu APBD serdang Bedagai. Hasil
perikanan ini yang sangat menjanjikan dibandingkan dengan Hasil alam yang
lainnya.
Cara yang sering digunakan oleh nelayan di kabupaten Serdang Bedagai
dalam melakukan kegiatan eksploitasi terhadap ikan yaitu dengan menggunakan
alat tangkap trawl, pembiusan. Cara ini yang seharusnya dihindari oleh nelayan.
Nelayan tidak pernah memikirkan akan kerusakan ekosistem ikan yang ada.
Dengan maraknya praktek tersebut di Kabupaten serdang Bedagai,
perlunya pengawasan dan perlindungan yang lebih maksimal yang harusnya
dilakukan oleh pemerintah. Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai
6
telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi dan mengawasi wilayah
perairan ini agar tidak meningkatnya praktek tersebut. Tetapi yang dilakukan
Pemerintah masih dapat dikatakan belum efektif sekali.
Untuk menjamin keefektifan agar terselenggaranya perlindungan dan
pengawasan di perairan tersebut, maka sangat dibutuhkan peran dari aparat
penegak hukum yang ikut mengawasi dan melindungi perairan di kabupaten
Serdang Bedagai tersebut. Maka dari itu, kepada POLRI sesuai dengan sifat
pekerjaanya diberikan tugas khusus dibidangnya yang kita kenal dengan sebutan
Polisi Perairan disingkat dengan POLAIR.
Berkaitan dengan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk menguraikan
lebih jauh mengenai peranan salah satu penegak hukum yang mempunyai
wewenang dan tugas di bidang perairan yaitu Polisi Perairan dalam menangani
tindak pidana perikanan.
Sehubungan dengan itu, maka penulis mengambil judul skripsi yaitu
“ Peranan Polisi Perairan Dalam Menangani Tindak Pidana Perikanan di
Perairan Serdang Bedagai. (Studi di Kepolisian Perairan Resort Serdang Bedagai).”
B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian.
Hal ini bertujuan untuk mempermudah penulis dalam membatasi masalah yang
akan diteliti sehingga tujuan dan hasil dari penelitian dapat sesuai dengan yang
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba merumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan tentang Tindak Pidana Perikanan menurut hukum
positif di Indonesia?
2. Bagaimana peranan Polisi Perairan dalam menangani Tindak Pidana
Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai?
3. Apa saja kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan dalam menangani
Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. Tujuan Objektif
a) Untuk mengetahui pengaturan tentang Tindak Pidana Perikanan menurut
hukum positif di Indonesia.
b) Untuk mengetahui Peranan Polisi Perairan dalam menangani Tindak
Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang Bedagai.
c) Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan dalam
menangani Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di Perairan Serdang
Bedagai.
2. Tujuan Subjektif
a) Untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan utama dalam
dalam meraih gelar kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
b) Untuk menambah , memperluas mengembangkan pengetahuan dan
pengalaman penulis serta pemahaman aspek hukum di dalam teori dan
praktek lapangan hukum , khususnya dalam bidang hukum pidana yang
sangat berarti bagi penulis.
Penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat memberi manfaat baik secara
teorotis maupun praktis sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat sebagai bahan kajian
maupun masukan yang diharapkan dapat memperkaya khsanah ilmu pengetahuan
, menambah, dan melengkapi pembendaharan koleksi karya ilmiah serta
memberikan kontribusi pemikiran yang menyoroti dan membahas tentang peranan
polisi perairan dalam menanggulangi Tindak Pidana Perikanan.
2. Secara Praktis
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi aparat
penegak hukum khususnya polisi perairan dalam menanggulangi tindak pidana
Perikanan dan, sumbangan pemikiran terutama bagi mahasiswa khususnya , juga
D. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Peranan
Menurut Grass, Masson dan MC Eachern , Peranan didefinisikan sebagai
perangkat harapn- harapan yang dikenakan pada individu atau kelompok
yang menempati kedudukan sosial tertentu.7
Menurut pendapat Soejono Soekanto, pengertian peranan adalah8 :
“peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan(status). Apabila
seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya. Maka ia menjalankan suatu peranan,Peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta
kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat.”
Berdasarkan dua pengertian diatas, maka peranan adalah suatu perangkat
harapan yang dikenakan pada individu atau kelompok untuk melaksanakan hak
dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemegang peran sesuai dengan yang
diharapkan masyarakat.
Menurut pendapat Soerjono Soekanto peranan dapat mencakup 3 (tiga) hal
yaitu9 :
1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi
atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti merupakan rangkaian-rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang
penting bagi struktur sosial masyarakat.
7
David Bery, Pokok-pokok Pikiran dalam sosiologi, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 100.
8
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal.243.
9
Berdasarkan pendapat tersebut, peranan mencakup 3 aspek. Pertama,
peranan merupakan penilaian dari perilaku seseorang yang berada di masyarakat.
Perilaku seseorang yang berkaitan dengan posisindan kedudukannya, yang diatur
dengan peraturan yang berlaku. Kedua, peranan merupakan konsep yang
dilakukan seseorang dalam masyarakat sesuai dengan kedudukannya. Ketiga,
peranan merupakan perilaku seseorang yang penting bagi struktur sosial
masyarakat.
Menurut Pendapat Komarudin, Konsep tentang peran (role) sebagai
berikut 10:
1. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen
2. Pola perilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status.
3. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.
4. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang
ada padanya.
5. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil pengertian bahwa peranan
merupakn penilaian sejauhmana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang
usaha pencapainnya yang ditentukan dengan sebab akibat.
2. Tinjauan tentang Polisi Perairan ( POLAIR)
a. Pengertian Polisi Perairan
Kepolisian Perairan merupakan Direktorat yang berada dibawah Badan
Pemeliharaan Keamanan Markas Besar Kepolisisan Negara Republik Indonesia
(Baharkam Polri). Polisi Perairan merupakan pelaksana tugas polisi umum namun
dalam wilayah perairan bukan daratan seperti layaknya polisi umum.
10
b. Tugas Polisi Perairan
Berdasarkan Pasal 67 ayat (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resor dan Kepolisian sektor. Tugas Polisi perairan
adalah melaksanakan fungsi polisi perairan yang meliputi:
1) Patroli Perairan
2) Penegakan hukum di Perairan
3) Pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya
Kasat Polisi Air Resort Serdang Bedagai mengatakan bahwa Tugas Polisi
Perairan adalah :
1) Pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat di seluruh wilayah
perairan NKRI khususnya perairan Kabupaten Serdang bedagai.
2) Melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat perairan di seluruh
wilayah perairan NKRI khususnya perairan kabupaten Serdang bedagai.
3) Melaksanakan penegakan hukum di seluruh wilayah perairan NKRI
khususnya perairan kab. Serdang Bedagai.
Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) dalam melaksanakan tugas dibantu
oleh :
1) Urusan Pembinaan Operasional (Urbinopsnal), bertugas melaksanakan
pembinaan administrasi dan operasional satpolair serta anev terhadap
2) Urusan Administrasi dan Ketatausahaan (Urmintu), yang bertugas
menyelenggarakan kegiatan administrasi dan ketatausahaan.
3) Unit Patroli (Unipatroli), yang bertugas menyelenggarakan patroli pantai
dan patroli laut serta perairan, kerjasama dalam rangka penanganan SAR
laut dan pantai, serta pembinaan masyarakat perairan.
4) Unit Penegakan Hukum ( Unitgakkum), bertugas melaksanakan
pengamanan dan penegakan hukum diwilayah laut dan perairan,
melaksanakan penyidikan kecelakaan dan penindakan pelanggaran dilaut
dan perairan.
5) Unit pemeliharaan dan Perbaikan Kapal (Unitharkankapal), bertugas
memelihara merawat danmemperbaiki mesin serta instalasi listrik kapal.
c. Fungsi Polisi Perairan
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia, pada Pasal 2 menyatakan bahwa Fungsi Polisi adalah :
“salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan
dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan,
pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat”.
Pengaturan fungsi kepolisian juga tercantum pada Pasal 5 ayat 1
Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang
menyatakan bahwa kepolisian merupakan alat negara yang berperan dalam
memeliharan keamanan dan ketertiban masyarakat, mengakkan hukum,
memberikan perlindungan, pengayoman, masyarakat dalam rangka terpeliharanya
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada Pasal 67 ayat (2),
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resor dan
Kepolisian sektor Polisi Perairan menyelenggarakan fungsi :
1) Pelaksanaan patroli, pengawalan penegakan hukum di wilayah perairan,
dan pembinaan masyarakat pantai didaerah hukum Polres.
2) Pemberian bantuan SAR di laut/perairan .
3) Pelaksanaan transportasi kepolisian perairan.
4) Pemeliharaan dan perbaikan fasilitas serta sarana kapal di lingkungan
Polres.
3. Tinjauan tentang Tindak Pidana
a. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari bahasa Belanda yaitu strafbaar feit,
demikian juga terdapat dalam KUHP kita , tetapi tidak ada penjelasan resmi
tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit.
Dalam bahasa belanda, stafbaar feit ini terdiri dari tiga kata, yakni straf
artinya pidana, baar artinya dapat, dan feit adalah perbuatan11. Jadi secara
harafiah, srafbaar feit adalah perbuatan yang dapat di pidana.
Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari
peristiwa-peristiwa yang konkret dalam lapangan hukum pidana, sehingga perbuatan pidana
haruslah diberi arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat
11
memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan
masyarakat12.
Menurut Pompe pengertian Srafbaar feit dibedakan 13.
a) Definisi menurut teori memberikan pengertian strafbaar feit adalah suatu
pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.
b) Defenisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian strafbaar feit
adalah suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.
Sedangkan menurut Simons, strafbaarfeit adalah14 :
“Tindakan melawan hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum”.
Ada beberapa istilah yang pernah digunakan , baik dalam
perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan
dari istilah strafbaar feit yaitu15:
1. Tindak Pidana, dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam
perundang-undangan kita. Istilah ini digunakan antara lain dalam UU No.
11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Subversi, dan
perundang-undangan yang lain. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini
seperti Wirjono Prodjodikoro.
12
Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta,1993,hal. 124.
13
Ibid, hal. 91. 14
Evi Hartanti,Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 5
15
2. Perbuatan Pidana
Istilah ini digunakan oleh Mr.R.Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum
Pidana. Menurut beliau, peristiwa pidana adalah :
“Suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman”.
Ahli hukum lainnya adalah Utrecht, dalam bukunya Hukum Pidana I.
Menurut beliau, peristiwa pidana diartikan sebagai berikut16:
“Suatu perbuatan handelen atau doen-positif atau suatu melalaikan
nalaten-negatif , maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu). Peristiwa pidana merupakan suatu peristiwa hukum , yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum”.
3. Delik
Istilah ini berasal dari bahasa latin yaitu delictum. Dalam bahasa Jerman
disebut delict, dalam bahasa Perancis disebut delit, dan dalam bahasa Belanda
disebut delict17.
Beberapa ahli hukum pidana memberikan pengertian mengenai delik
dalam arti strafbaar feit , antara lain yaitu vos, van hannel dan simons. Menurut
vos, delik didefenisikan sebagai feit yang dinyatakan dapat dihukum berdasarkan
undang-undang. Menurut van hamel, delik adalah suatu serangan atau ancaman
terhadap hak-hak orang lain. Sedangkan menurut simons, delik berarti18:
16
Evi Hartanti, Op.Cit, hal. 6
17
Leden Marpaung, Asas –Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 7.
“Suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai perbuatan yang dapat dihukum”.
4. Perbuatan Pidana
Digunakan oleh Mr. Moeljatno dalam berbagai tulisan beliau seperti dalam
buku Asas-asas hukum Pidana.
Menurut beliau, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh
suatu aturan hukum , larangan mana disertai ancaman(sanksi) yang berupa pidana
tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut19. Begitu juga untuk adanya
perbuatan pidana itu harus ada unsur-unsur yaitu : 1) perbuatan (manusia), 2)
memenuhi rumusan dalam undang-undang(syarat formil), 3) bersifat melawan
hukum(syarat materil)20.
5. Perbuatan yang boleh dihukum
Istilah ini digunakan oleh Mr. Karni dalam bukunya Ringkasan tentang
Hukum Pidana.
b. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Menurut Simons, ada dua unsur yang harus dipenuhi agar suatu
perbuatan itu dapat dikatakan sebagai tindak pidana yaitu unsur objektif dan unsur
subjektif. Unsur Objektif yaitu berupa tindakan yang dilarang atau diharuskan,
serta akibat keadaan atau masalah tertentu, sedangkan unsur subjektif yaitu berupa
19
Adami Chazawi, Op. Cit,hal. 71 20
kesalahan (Schuld), dan kemampuan bertanggung jawab (toerekenings vatbaar),
dari pelaku21.
Jadi, berdasarkan doktrin tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur
tindak pidana terdiri atas unsur subjektif dan objektif.
a) Unsur Subjektif
Yaitu unsur yang berasal dari dalam diri si pelaku. Asas hukum pidana
yang menyatakan bahwa “ tidak ada hukuman kalau tidak ada kesalahan” (actus
non facit reum nisi mens sit rea). Kesalahan yang dimaksud disini adalah
kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan ( intentian / opzet/ dolus) dan
kealpaan ( negligence / culpa).
Unsur pertama dari kesalahan ( schuld) adalah kesengajaan. Kesengajaan
adalah dikehendaki.
Dalam Crimineel wetboek (KUHP) tahun 1809 dicantumkan22:
“kesengajaan adalah kemauan untuk melakukan atau tindakan melakukan
perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang”.
Kemudian dalam Memorie van Toelichting (MvT) Menteri Kehakiman
sewaktu mengajukan Criminiel Wetboek tahun 1888 ( yang menjadi KUHP
Indonesia tahun 1915), memuat23:
21
E.Y Kanter dan S.R Sianturi,Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Sinar Grafika,Jakarta, 2002, hal. 205
22
Leden Marpaung, Op.Cit,hal. 13 23
“ Kesengajaan adalah dengan sadar berkehendak untuk melakukan sesuatu
kejahatan tertentu ( de bewuste richting van den wil op een depaald
misdriff).”
Mengenai Mvt tersebutn, Satochid Kartanegara menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan opzet willens en weten ( dikehendaki dan diketahui) adalah24:
“ Seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja harus
mengkehendaki ( willen) perbuatan itu serta harus menginsafi atau
mengerti ( weten) akan akibat dari perbuatan itu.”
Pada umumnya, para pakar telah sepakat bahwa kesengajaan itu dibagi
atas tiga bentuk yaitu kesengajaan sebagai maksud ( opzet als oogmerk),
kesengajaan dengan kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn), kesengajaan
dengan kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn) disebut juga dengan
dolus eventualis25.
1. Kesengajaan dengan maksud ( opzet als oogmerk)
Kesengajaan ini sama dengan mengkhendaki untuk mewujudkan
perbuatan, untuk melalaikan kewajiban hukum , dan timbulnya akibat
perbuatan itu.
2. Kesengajaan dengan kepastian ( opzet bij zekerheidsbewustzjin)
Yaitu dimana di pelaku (doer atau dader) mengetahui pasti atau yakin
benar bahwa selain akibat dimaksud, akan terjadi suatu akibat lain. Si
pelaku menyadari bahwa dengan melakukan perbuatan itu , pasti akan
timbul akibat lain.
3. Kesengajaan dengan kemungkinan ( opzet bij mogelijkheidsbewustzjin) di
sebut juga dolus eventualis.
24
Ibid. 25
Kesengajaan ini yaitu bahwa seseorang melakukan perbuatan dengan
tujuan untuk menimbulkan suatu akibat tertentu. Akan tetapi, si pelaku
menyadari bahwa mungkin akan timbul akibat lain yang juga dilarang dan
diancam oleh undang-undang.
Unsur kedua dari kesalahan ( schuld) adalah kealpaan. Kealpaan adalah
tidak dikendaki.
Contoh kealpaan menurut Satochid Kartanegara yaitu26:
A membuat api untuk memasak air. Jelas disini bahwa A membuat api dengan sengaja. Akan tetapi, kemudian api menjilati dinding rumah sehingga menimbulkan kebakaran.
Dalam hal ini perbuatan A yang menimbulkan kebakaran tersebut harus
ditinjau dari sudut syarat-syarat kesalahan, yaitu :
Apakah terdapat ketidak hati-hatian pada diri A?
Apakah A dapat membayangkan akan timbulnya kebakaran atau tidak?
b) Unsur Objektif
Yaitu unsur dari luar diri pelaku, terdiri atas :
1. Perbuatan manusia, berupa:
a. Act, yaitu perbuatan aktif atau perbuatan positif.
b. Omission, yaitu perbuatan pasif atau perbuatan negatif, seperti
mendiamkan atau membiarkan.
26
2. Akibat (result) perbuatan manusia
Akibat tersebut membahayakan atau merusak, bahkan menghilangkan
kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum, seperti nyawa,
badan, kemerdekaan, hak milik dan sebagainya.
3. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum
Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan
si pelaku dari hukuman. Adapun sifat melawan , yakni berkenaan dengan
larangan atau perintah.
Semua unsur tindak pidana yang telah diuraikan diatas merupakan satu
kesatuan. Salah satu unsur saja tidak terbukti , dapat menyebabkan terdakwa
dibebaskan dari pengadilan.
4. Tinjauan tentang Tindak Pidana Perikanan
Pengertian tindak pidana perikanan tidak ada dijumpai baik khususnya di
dalam undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 jo Undang-undang Nomor 45
Tahun 2009. Dalam undang-undang ini hanya diatur tentang pengadilan perikanan
, mengenai penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan
perikanan.
Berdasarkan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 84-100
Undang-undang ini, tindak pidana perikanan dapat digolongkan sebagai berikut27
1) Penangkapan ikan yang dilakukan dengan menggunakan penggunaan
bahan yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya ikan/
27
lingkungannya. Hal ini diatur dalam pasal 84 dalam undang-undang ini
yang pada dasarnya mengatur agar orang atau perusahaan yang melakukan
penangkapan ikan secara wajar, sehingga sumber daya ikan dan
lingkungannya tetap terjaga kelestariannya dan sehat.
2) Penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan yang
mengganggu dan merusak sumber daya ikan di kapal perikanan. Hal ini
diatur dalam Pasal 85 dalam undang-undang ini dengan tujuan untuk
melindungi sumber daya ikan di perairan wilayah pengelolaan perikanan.
3) Melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pencemaran/ kerusakan
sumber daya ikan / lingkungannya. Hal ini diatur dalam Pasal 86 ayat 1
dalam undang-undang ini yang pada dasarnya mengatur bahwa dalam
pengelolaan perikanan akan selalu berhubungan dengan air sehingga
rawan terhadap pencemaran atau kerusakan lingkungan, sehingga
dilaukakn pengaturan untuk menanggulangi adanya pencemaran tersebut,
agar para pengelola perikanan selalu berhati-hati dalam melaksanakan
pengelolaan.
4) Melakukan pembudidayaan ikan. Hal ini diatur dalam Pasal 86 ayat 2,3,4
dalam undang-undang ini, pada kejahatan perikanan perubatan yang
dilakukan sangat luas, berbeda dengan kejahatan yang dapat
membahayakan sumber daya ikan, perbuatannya sudah ditetapkan
bentuknya yaitu yang berkaitan dengan pembudidayaan ikan.
5) Perbuatan yang berhubungan dengan perusakan plasma nufah. Hal ini
penting dibidang pengelolaan perikanan , maka apabila plasma nufah
dirusak dapat mengakibatkan kegagalan pengelolaaan perikanan dan
penangkapan ikan dan hasilnya kurang memeuaskan, sehingga perlu diatur
pengaturan.
6) Perbuatan yang bersangkutan dengan pengelolaan perikanan yang
merugikan masyarakat. Hal ini diatur dalam pasal 88 undang-undang ini,
yang pada dasarnya mengatakan bahwa dalam melaksanakan pengelolaan
perikanan wajib dilakukan dengan baik, agar hasilnya baik
pulak.pengeloaan perikanan dengan cara yang menyimpang berakibat akan
merugikan masyarakat karena hasilnya berkualitas kurang, atau tidak
dapat di konsumsi. Oleh karena itu, perbuatan tersebut harus diancam
pidana.
7) Perbuatan yang berkaitan dengan pengolahan ikan yang kurang atau tidak
memenuhi syarat. Hal ini diatur dalam Pasal 89 undang-undang ini, yang
mengatur agar dalam pengeloaan perikanan dapat berdaya guna dan
berhasil guna maka setiap orang yang melakukan penangan dan
pengelolahan ikan wajib memenuhi dan menerapkan persyaratan
kelayakan pengolahan ikan, sistem jaminan mutu, dan keamanan hasil
perikanan.
8) Perbuatan yang berhubungan dengan memalsukan/pengeluaran hasil
perikanan dari/ke wilayah negara RI tanpa dilengkapan sertifikat
kesehatan. Hal ini diatur dalam Pasal 90 undang-undang ini, yang
mengimpor produk hasil perikanan wajib memeiliki serifikat kesehatan
agar barang makanan tersebut layak dikonsumsi.
9) Penangkapan ikan yang berkaitan dengan penggunaan bahan/alat yang
membahayakan manusia dalam melaksanakan pengelolahan ikan. Hal ini
diatur dalam Pasal 91 undang-undang ini, mengatur bahwa pengusaha
dibidang perikanan tidak menggunakan bahan-bahan yang membahayakan
kesehatan manusia untuk memasarkan hasil olahannya agar awet dan
penampilannya menarik.
10)Perbuatan yang berkaitan dengan melakukan usaha perikanan tanpa SIUP.
Hal ini diatur dalm Pasal 92 undang-undang ini yang mengatakan bahwa
pada dasarnya semua perusahan apapun bentuknya wajib memiliki izin
usaha sesuai dengan bidang usahanya demikian juga dalam usaha
perikanan harus memiliki SIUP.
11)Melakukan penangkapan ikan tanpa memiliki SIPI. Hal ini diatur dalam
Pasal 93 undang-undang ini, mengatur bahwa di samping memiliki SIUP
perusahan bidang perikanan wajib memiliki SIPI untuk dapat melakukan
penangkapan ikan.
12)Melakukan penangkapan ikan tanpa memiliki SIKPI. Hal ini diatur dalam
Pasal 94 undang-undang ini yang mengatur bahwa setiap kapal perikanan
yang berupa kapal pengakut ikan wajib memiliki SIKPI.
13)Memalsukan SIUP, SIPI, SIKPI. Hal ini diatur dalam Pasal 94 a
undang-undang ini mengatakan bahwa izin-izin yang digunakan untuk bidang
izin tersebut harus memenuhi syarat yang ditetapkan dan mengikuti
prosedur.
14)Membangun, mengimpor, memodifikasi kapal perikanan tanpa izin. Hal
ini diatur dalam Pasal 95 undang-undang ini mengatur bahwa pengusaha
perikanan tidak bebas untuk mendapatkan kapal perikanan , karena pada
prinsipnya bentuk kapalnya sudah ditentukan oleh pemerintah, tujuannya
untuk keselamatan dalam pelayaran, khususnya untuk menyangkut ikan.
15)Tidak melakukan pendaftaran kapal perikanan. Hal ini diatur dalam Pasal
96 undang-undang ini mengatur bahwa setiap kapal perikanan milik orang
Indonesia wajib didaftrakan terlebih dahulu sebagai kapal Perikanan di
Indonesia.
16)Perbuatan yang berkaitan dengan pengopersian kapal perikanan asing. Hal
ini diatur dalam Pasal 97 undang-undang ini mengatur bahwa kapal
perikanan asing yang melakukan pengoperasian diwilayah pengelolaan
perikanan Indonesia memiliki perlakuan sendiri mengenai hukum
pidananya.
17)Tanpa memiliki surat persetujuan berlayar. Hal ini diatur dalam Pasal 98
undang-undang ini mengatur bahwa setiap pelabuhan perikanan terdapat
syiahbandar yaitu pejabat yang berwenang menjalankan dan melakukan
pengawasan terhadap dipenuhinya peraturan untuk menjaamin keselamatn
dan keamanan kapal perikanan.
18)Melakukan penelitian tanpa izin pemerintah. Hal ini diatur dalam Pasal 99
perikanan dengan tujuan memperoleh data dari lapangan untuk
mengetahui keadaan nyata dalam pengelolaan perikanan haruslah
memiliki izin dari pemerintah hal ini untuk melindungi perikanan
Indonesia dari pengaruh negatif yang ditimbulkan dari penelitian asing.
19)Melakukan usaha pengelolaan perikana yang tidak memenuhi ketentuan
yang ditetapkan UU perikanan. Hal ini diatur dalm Pasal 100
undang-undang ini , mengatur bahwa seorang pengusaha dibidang perikanan
dalam menjalankan usahanya selain harus memenuhi persyaratan dalam
mengurus izin yang diperlukan, juga wajib mematuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh UU perikanan.
20)Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan/ pembudidaya ikan kecil.
Hal ini diatur dalam pasal 100b undang-undang ini, mengatur bahwa
dibidang perikanan baik pengusaha kecil maupun pengusahan besar
mendapat perlakuan sama apabila perbuatannya bertentangan dengan uu
perikanan akan mendapatkan sanksi pidana.
21)Melanggar kebijakan pengeloaan sumber daya ikan yang dilakukan oleh
nelayan/ pembudidaya ikan kecil. Tindak pidana ini diatur dalam Pasal
100c undang-undang ini mengatur bahwa setiap orang yang melakukan
usaha dan atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib mematuhi
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang diteliti oleh penulis ialah metode penelitian hukum
normatif dan juga metode penelitian empiris yaitu dengan melakukan penelitian
kepustakaan dan penelitian lapangan, Penelitian kepustakaan yakni penelitian
yang dilakukan dengan meneliti bahan-bahan kepustakaan, khususnya
perundang-undangan dan kepustakaan hukum yang berkaitan, sedangkan penelitian lapangan
adalah penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung
(observasi) dan wawancara langsung dengan objek yang berkaitan.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Satuan Kepolisian Perairan Resort Serdang
Bedagai, Sumatera Utara.
3. Jenis data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara dengan
narasumber. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan pustaka28.
Bahan sekunder yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Bahan hukum primer, antara lain :
a. Norma atau kaedah dasar
b. Peraturan dasar
c. Peraturan perundang-undangan seperti KUHAP, UU No.31 Tahun
2004 jo UU No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan, UU No.5 Tahun
28
1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, UU No.2 tahun
2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU No. 5
Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan
Ekosistemnya.
2. Bahan Hukum sekunder berupa buku yang berkaitan dengan tindak
pidana illegal fishing, artikel dan lain sebagainya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Penelitian Kepustakaan (Library research)
Studi Kepustakaan dilakukan untuk mengumpulkan data dari berbagai
sumber bacaan seperti Peraturan Perundang-Undangan, buku-buku, majalah, dan
bahan lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini.
b. Penelitian Lapangan ( Field Research)
Proses pengumpulan bahan-bahan melalui penelitian lapangan dilakukan
melalui wawancara dengan tanya jawab secara langsung dengan narasumber yang
dilakukan di Satuan Kepolisian Perairan Resort Serdang Bedagai.
5. Analisis Data
Data yang diperoleh baik dari studi kepustakaan maupun dari penelitian ke
lapangan akan dianalisis secara kualitatif. Analisis data secara kualitatif yaitu
Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data
yang berhubungan dengan tindak pidana Perikanan, memilah-milahnya menjadi
penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
kepada orang lain.
F. Keaslian Penulisan
Skripsi ini merupakan karya tulis asli. Belum ada penulis yang menulis
skripsi tentang hal yang sama , khususnya untuk yang terdapat di Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, Medan. Penulisan Skripsi ini merupakan ide, gagasan
pemikiran dan usaha penulis sendiri bukan merupakan hasil ciptaan atau hasil
penggandaan dari karya tulis orang lain yang dapat merugikan pihak-pihak
tertentu.
Dengan ini penulis dapat bertanggung jawab atas keaslian penulisan
skripsi ini, belum pernah ada judul yang sama demikian juga dengan pembahasab
yang diuraikan. Dalam hal mendukung penulisan ini dipakai pendapat-pendapat
para sarjana yang diambil atau dikutip berdasarkan daftar referensi dari buku para
sarjana yang ada hubungannya dengan masalah dan pembahasan .
G. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara keseluruhandari skripsi ini penulis
akan menguraikan sistematiknya. Skripsi ini terdiri dari V ( lima) Bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari : Latar belakang, Perumusan masalah, Tujuan
dan Manfaat Penulisan,Tinjauan Pustaka, Metode penelitian,
BAB II PENGATURAN TENTANG TINDAK PIDANA PERIKANAN
MENURUT HUKUM POSITIF DI INDONESIA.
Dalam Bab ini penulis akan menguraikan secara menyeluruh
tentang bagaimana pengaturan tentang tindak pidana perikanan
menurut hukum positif di Indonesia.Pemaparan terkait dengan
jenis-jenis tindak pidana perikanan dan pengaturan mengenai
sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang perikanan yaitu
Undang-undang No. 31 Tahun 2004 jo Undang-undang No.45
Tahun 2009, dan undang-undang yang mempunyai relevansi di
bidang perikanan yaitu undang No.5 Tahun 1983,
Undang-undang No.5 Tahun 1990, Undang-Undang-undang No.1 Tahun 1973.
BAB III PERANAN POLISI PERAIRAN DALAM MENANGANI
TINDAK PIDANA PERIKANAN YANG TERJADI DI
PERAIRAN SERDANG BEDAGAI.
Dalam Bab III ini penulis akan menguraikan tentang Peranan
Polisi perairan dalam menangani Tindak Pidana Perikanan yang
terjadi di Perairan Serdang Bedagai, Upaya yang dilakukan oleh
Polisi Perairan dalam menangani Tindak Pidana Perikanan, dan
Jenis-jenis Tindak Pidana Perikanan yang terjadi di perairan
BAB IV KENDALA YANG DIHADAPI OLEH POLISI PERAIRAN
DALAM MENANGANI TINDAK PIDANA PERIKANAN DI
PERAIRAN SERDANG BEDAGAI.
Dalam Bab IV ini penulis akan menguraikan tentang kendala-
kendala yang dihadapi oleh Polisi Perairan baik kendala yang
berasal dari dalam kepolisian maupun kendala yang berasal dari
luar kepolisian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab penutup atau rangkuman yang berisikan
penyimpulan dari seluruh bab sebelumnya yang menjadi suatu
kesimpulan sekaligus memuat saran yang merupakan sumbangan