Disusun oleh :
HaulaNoor
0071020108
F AKUL TAS PSIKOLOGI
UIN SY ARIF HIDAY ATULLAH JAKARTA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai 'Gelar Sarjana Psikologi
Pembimbing I
Oleh:
Haula Noor
0071020108
Di bawah bimbingan
\ Pembimbin·· .. ·.g II
セ@
')
Dr. Lily Suravva Ekaputri Drs. Ase
[セ@ イオセョゥ@
PsiFakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri SyarifHidayatullah
Jakarta
telah diujikan dalam Sidang Skripsi Fakultas Psikologi UTN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 09 September 2004. skripsi ini telah di terima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S 1) pada Fakultas Psikologi.
.
D an/
Ketua Me ngkap Anggota
I
Dra. ff. Net -Iartati M. Si NIP. 1sz 15 938
セ@
Sidang skripsi
Jakarta, 09 September 2004
Pembantu Dekan/ Sekretaris Mer gimp Anggota
Dra. ff. Zahrotu NIP. 15
Anggota
Ors. Sofiandy Zakaria, M. Psi.
i::
'\ Dr. Lily Surayya Ekaputri Penguji IIPenguji T
Dr. Lily Surawa Ekaputri Pembimbing I
セjセセ|H@
Alhamdulillahirabbil'alamiin terucap syukur tak terhingga kepada penguasa manusia Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesehatan dan kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam tetap terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah memberikan kita secercah cahaya untuk mengarungi hidup hingga saat ini.
Penelitian ini bertujuan agar masyarakat dapat menanggulangi stres lingkungan yang diakibatkan kebisingan dan agar masyarakat mengetahui pengaruhnya terhadap ingatan. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan
sumbangan ilmiah bagi perkembangan Psikologi khususnya Psikologi Kognitif dan Lingkungan.
Untuk dua orang yang teramat istimewa, Ayah dan Umi tersayang, ucapan terima kasih takkan cukup untuk tiap tetes keringat dan do'anya, untuk perhatian dan dorongan yang akan selalu penulis ingat.
Teriring ucapan terima kasih yang amat dalam kepada kedua dosen
pembimbing lbu Dr. Lily Surayya Ekaputri (Pembimbing I) dan Bapak D1·s. Asep Haerul Gaui,Psi (Pembimbing II) yang telah memberikan bimbingan berupa kritik serta saran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Bersama ini pula izinkan penulis berterima kasih kepada :
1. lbu Dra. Hj. Netty Hartati M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN SyarifHidayatullah.
2. Bapak Drs. Akhmad Baidun l\'I. Si, selaku dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas bimbingannya.
3. Para dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan bekal berupa ilmu yang bermanfaat kepada Penulis.
4. Bapak Ir. Wisnu Eka Y, atas izin dan masukan-masukannya yang sangat membantu dan para staf Laboratorium Kebisingan dan Getaran Pusarpedal khususnya Bang Zoe! "terima kasih banyak semua".
5. Adik-adikku tersayang, Anas "terima kasih atas tawaran ngetiknya". Maulida "terima kasih udah mau nemenin Teteh begadang". Both 1>fyou always make me happy.
6. Sahabat sekaligus Saudara "Ai" terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada Penulis.
untuk menjadi sampel.
I 0. Untuk semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Skripsi ini banyak memiliki kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk kesempurnaan penelitian selanjutnya walaupun memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semoga bermanfaat.
Jazakumullah khairan katsira
Jakarta, 3 0 Agustus 2004
(C)Haula Noor
(D)PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP INGA TAN (E) ix+83 halaman
(F) Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pernyataan bahwa ada sebagian orang yang merasa terganggu apabila belajar di lingkungan yang bising dan ada sebagian orang lagi yang tidak merasa terganggu apabila belajar dalam keadaan bising. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan, apakah kebisingan dapat mempengaruhi ingatan?
Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Jurusan Kimia tingkat I kelas A dan B. Dari populasi tersebut diambil sampel sebanyak 32 orang dengan menggunakan tekhnik probability sampling yaitu earn pengambilan sampel berdasarkan probabilitas atau peluang artinya bahwa setiap anggota populasi yang tennasuk dalam sampel mempunyai peluang yang sama. Selanjutnya sampel tersebut dibagi ke dalam 4 kelompok eksperimen.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Kebisingan Pusarpedal Puspiptek Serpong Tangerang. Penelitian dilaksanakan selama dua hari. Kebisingan yang
dipergunakan adalah pure tone yaitu nada tunggal yang dihasilkan oleh Omny
Source Speaker (sumber suara) dan alat-alat lainnya yang telah ada di
laboratorium sendiri, selain itu peneliti juga menggunakan instrumen penelitian berupa nonsense syllables yaitu kumpulan hurufyang tidak bennakna untuk diingat dan kertas folio kosong yang dijadikan untuk media untuk menulis (recall)
apa yang sudah mereka ingat.
Penelitian ini masih banyak memiliki kekurangan-kekurangan seperti kurangnya kontrol pada variabel-variabel yang dapat mempengaruhi basil penelitian, seperti kesadaran subjek sedang dalam penelitian, inteligensi, tempat tinggal, kebiasaan belajar subjek, dan faktor eksternal serta internal lain yang terdapat dalam diri subjek.
Adapun kontrol pada variabel-variabel yang dapat mempengaruhi basil penelitian adalah:
I. Suara-suara selain kebisingan yang diberikan yang hadir ketika penelitian dikontrol dengan eliminasi.
2. Kebiasaan subjek menghafal dalam keadaan bising dikontrol dengan differential selection yaitu pemisahan secara random.
KATA PENGANTAR' ... .
ABSTRAK ... IV
DAFTAR ISi ... . . ... ... ... v DAFTAR TABEL ... .
DAFTAR GAMBAR
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah 1.2. Pembatasan masalah ... . 1. 3. Perumusan masalah .. .
14.
1.5. 1.6.
Tujuan dan manfaat penelitian ... .
Sistematika penulisan ... . Teknik penulisan ... .
Vlll IX 1 I 5 6 6 7 7
BAB 2 LANDASAN TEORI ... 8
2. I. lngatan 8
2.2.
2. I. I. Penelitian pertama mengenai ingatan . . . 8 2.1.2. Definisi ingatan .. . .. . .. . ... . .. . .. . .. ... ... . .. . ... . .. . 9 2.1.3. Model-model ingatan manusia ... 10 2.1.4. Proses ingatan ... .
2.1.5. Lupa pada ingatan ... . 2.1.6. Meningkatkan daya ingat .
2. 1. 7. Memori Konstruktif ... . 2.1.8. Memori implisit
Kebisingan .
2.2.1. Definisi kebisingan
2.2.2. Sumber-sumber kebisingan ... . 2.2.3. Ragam dan jenis kebisingan .
2.2.7. Usaha pengendalian kebisingan ... 49
2.2.8. Temuan Para Ahli ... 56
2.3. Dugaan pengaruh kebisingan terhadap ingatan ... 59
2.4. Hipotesa ... 60
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 61
3.1. Subjek penelitian ... 61
3.1.1. Kriteria subjek penelitian ... 61
3.1.2. Sampling ... 61
3.1.3. Teknik penentuan kelompok ... 62
3.2. Variabel-variabel penelitian ... 62
3 .2.1. V ariabel be bas (Independent Variabel) ... ... ... ... 62
3 .2.2. Variabel terpengaruh (Dependent V ariabel) ... ... 62
3.2.3. Variabel Ekstraneous ... 63
3.2.4. Kontrol ... 63
3.3. Rancangan eksperimen ... 64
3.4. Aparatus penelitian ... 64
3.5. Denah eksperimen ... 65
3.6. Prosedur penelitian ... 66
3.7. Teknik analisa statistik ... 72
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 73
4.1. Gambaran umum responden ... 73
4.1.1. Identitas responden... 73
4.1.2. Penyebaran nilai responden... 75
[image:10.522.52.431.87.654.2]5.3. Saran... 83 DAFTAR PUSTAKA
Tabel 2.2 Beberapa akibat kebisingan ... 46
Tabel 2.3 Intensitas kebisingan yang diperbolehkan dalam jam ... 55
Tabel 2.4 Baku tingkat kebisingan ... 55
Tabel 3.1 Prosedur penelitian ... 71
Tabel 4.1 Identitas responden ... 73
Tabel 4.2 Penyebaran nilai kelompok eksperimen 1 ... 75
Tabel 4.3 Penyebaran nilai kelompok eksperimen 2 ... 75
Tabel 4.4 Penyebaran nilai kelompok eksperimen 3 ... 76
Tabel 4.5 Penyebaran nilai kelompok eksperimen 4 ... 77
[image:12.522.29.432.140.498.2]Gambar 2.2 Tiga komponen ingatan... 17
Garn bar 2.3 Proses ingatan Munro... 18
Gambar 2.4 Proses ingatan Atkinson-Shiffrin ... 19
Gambar 2.5 Proses ingatan Baddeley... 19
Gambar 2.6 Perkiraan pengukuran decibel ... 40
Gambar 3.1 Rancangan Counterbalanced design ... 64
[image:13.522.36.431.133.500.2]PENDAHULUAN
1.1.
LAT AR BELAK.ANG l\1ASALAH
Kebisingan merupakan salah satu pencemar yang berasal dari penerapan
teknologi. Sumber kebisingan bennacam-macam, misalnya mesin pabrik, pesawat
1erbang, lalu-Iintas jalan raya, kereta api, peralatan kantor, dan peralatan rumah
tangga yang digunakan sehari-hari. Burrows (dalam Sanders & McCormick, 1987)
mendefiniskan kebisingan sebagai suatu stimuli auditori yang tidak berhubungan
dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Kebisingan mempengaruhi penampilan
seseorang sesuai dengan tingkat paparan yang diterima. Pada tingkat paparan yang
berlebihan kebisingan dapat mengakibatkan penurunan perfonnans (Broadbent dalam
Hartley & Adams, 1974), sedangkan tingkat paparan yang moderat kebisingan justru
dapat meningkatkan performans (Davies & Hockey dalam Hartley & Adams, 1974 ).
Sebagai kebisingan, suara dipandang menjengkelkan dan mengganggu
apabila datang secara tidak terduga dan tidak pada tempatnya. Oleh karena itu,
kebisingan yang mengganggu penduduk kota bukan berasal dari kantor, toko, atau
pabrik, sebab di tempat umum seperti itu orang memang sudah menduga suara-suara
penuh sesak, yaitu rumah tinggal (Tanner, 1976).
Intensitas suara mencerminkan tinggi rendahnya gelombang suara yang
memukul telinga. Oleh karena itu energi suara yang dapat didengar oleh telinga
manusia mempunyai kisaran yang sangat besar, yaitu 0,00002-200 Pascal, maka
dibuatlah skala logaritma untuk menggambarkan intensitas suara tersebut yang
dikenal dengan decibel (dB). Dengan skala ini kisaran intensitas suara yang dapat
di den gar oleh telinga manusia adalah 0-140 dB (Davis & Cornwell, 1985).
Gangguan yang dapat ditimbulkan oleh kebisingan adalah sesuai dengan
tingkat paparan terhadap intensitas kebisingan. Suara yang secara fisik maupun
psikologis membahayakan, yang untuk selanjutnya disebut kebisingan, menurut
Bailey ( 1982) adalah intensitas di atas 100 dB. Suara bi sing lebih banyak bersumber
dari lingkungan buatan daripada lingkungan alamiah. Ledakan gunung meletus,
gempa bumi atau suara angin puyuh adalah beberapa contoh dari kebisingan alamiah.
Kebisingan dari lingkungan buatan lebih banyak lagi jenisnya.
Kebisingan dari lingkungan buatan yang sudah banyak diteliti karena
dianggap banyak menimbulkan gangguan pada manusia adalah kebisingan lalu lintas
(kendaraan bennotor di jalan raya yang padat, kereta api ekspres, pesawat udara
jumbo jet) dan tempat kerja (mesin-mesin pabrik, ledakan-ledakan di pertambangan).
Raloff ( 1982), misalnya, tel ah mencatat bahwa karyawan dalam bi dang konstruksi
harus mendengar suara sampai 100 dB, mekanik pesawat udara 88-120 dB, dan
mengakibatkan gangguan pendengaran (Fisher et al, 1984: I 03 dalam Sarlito, 1995:96).
Akan tetapi suara memperingatkan kita tentang apa yang terjadi. Ketika kita hendak tidur, persepsi suara kita merupakan pintu yang ditutup paling akhir, dan pertama terbuka saat kita terjaga. Bahkan saat kita tidur, otak akan terjaga oleh suara-suara kunci tertentu. Seorang ibu terbangun ketika bayinya menangis. Orang-orang pada umumnya cepat terjaga oleh suara yang menyebut namanya (Russel, 2003).
Pada umumnya, adalah suatu hal yang wajar bila kita menyukai kedamaian dan ketenangan dalam mengerjakan sesuatu khususnya belajar karena ada sebagian orang menyukai belajar di lingkungan yang tenang dan sebai,>ian lagi menyukai belajar di lingkungan yang ramai. Secara umum belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman yang berlangsung dalam waktu yang lama dan tidak berhubungan dengan kemasakan, motivasi, kelelahan, adaptasi, dan sensitivitas organisme. Pembicaraan masalah belajar tidak dapat terlepas dari masalah memori, karena konsepsi belajar dan memori saling berkaitan erat, dan hasil belajar haruslah dapat disimpan dan dipelihara dalam memori agar kelak dapat digunakan atau
dimanfaatkan.
informasi tersebut bisa ditahan lebih lama lagi, maka dilakukan pengulangan dan elaborasi melalui proses yang lebih dalam lagi. Setelah di proses dalam memori jangka pendek, informasi dikeluarkan dalam wujud respons atau kemungkinan
diteruskan ke dalam memori jangka panjang. Dalam proses ini terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain faktor-faktor jasmani, usia, emosi, dan afeksi.
Bebunyian frekuensi tinggi menyusun harmonik tinggi yaitu timbre ( warna suara). Suara yang kaya atau miskin pada frekuensi tinggi, tidak sama -karena itu jangan sampai dikacaukan pengertiannya -dengan yang bernada tinggi atau rendah.
Pengalaman yang tidak menyenangkan saat terpapar oleh suara bernada tinggi yang menyakitkan dan "tak layak dengar" (unlistenable) mungkin membuat kita tidak suka dengan semua bebunyian (frekuensi) tinggi. Kita harus paham bahwa suara yang sangat mengganggu itu adalah karena terlalu "sempif', atau miskin frekuensi rendah maupun tinggi. Paradoksnya, suara-suara itu terdengar berbunyi tinggi justru karena (frekuensinya) tidak cukup tinggi (Madaule, 2002).
Pendapat mengenai batas intensitas kebisingan yang berdampak negatif, yaitu
suara yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terganggu, dan rasa tidak senang
sangat bervariasi. Aspek kognitif yang terpengaruh meliputi timbulnya gangguan
konsentrasi, berpikir dan mengingat. Terganggunya aspek memori nampak dalam
bentuk menurunnya kemampuan mengingat, menjadi bingung dan lupa, sedangkan
menurunnya penampilan ォ・セェ。@ ditandai dengan proses kerja yang lebih lamban.
Akan tetapi akibat kelebihan beban ini, kita belajar mengabaikan banyak
suara di sekeiiling kita, dan kehilangan banyak ha! yang dapat memberi kita
kesenangan dan informasi. lni memang terlalu buruk-sebab terdapat kebijakan dalam
mendengar yang kita perlukan. Bertitik tolak dari ha! ini peneliti te1iarik untuk
mengetabui apakah ada pengaruh kebisingan terhadap ingatan.
1.2.
PEMBA T ASAN MASALAH
1.2.1. Kebisingan
Kebisingan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suara-suara keras
berupa pure tone (nada tunggal) berfrekuensi 125 Hz, 1000 Hz dan 4000 Hz dengan
jenis bising terns menerus ( continoues noise).
1.2.2. Ingatan
Ingatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan subjek untuk
1.3. PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah "Apakah ada Pengaruh Kebisingan Terhadap lngatan Seseorang".
1.4. TU.JUAN DAN MANFAAT PENELlTIAN
1.4.1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan, maka tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kebisingan memiliki pengaruh terhadap ingatan seseorang. 1.4.2. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
a. Secara teoritis, penulis berharap bahwa dari penelitian yang penulis lakukan:
1. Pengembangan pengetahuan mengenai ingatan dan kebisingan dalam kajian psikologi khususnya di Fakultas Psikologi UIN SyarifHidayatullah Jakarta.
2. Dapat dijadikan langkah awal atau motivasi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penelitian yang penulis lakukan.
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : BABI
BAB II
BAB III
BAB IV
BABV
Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang permasalahan, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, sistematika penulisan dan teknik penulisan.
Landasan teori, akan membahas mengenai konsep yang menjadi dasar teoritis dari penelitian ini. Pada bab ini akan diuraikan tentang
kebisingan dan ingatan.
Metode penelitian, menguraikan tentang metode dan prosedur penelitian yang meliputi subyek penelitian.
Berisikan tentang hasil penelitian yang dilakukan, yang diantaranya meliputi gambaran umum subyek, hasil utama penelitian dan diskusi. Penutup merupakan langkah terakhir dari suatu penyusunan dari laporan penelitian, yang meliputi : kesimpulan yaitu ringkasan dari hasil
penelitian dan saran adalah saran yang dikemukakan peneliti untuk para pembaca tentang penelitian yang dilakukan.
1.6.
TEKNIK PENULISAN
Pada laporan penelitian ini, peneliti menggunakan metode penulisan AP A (American Psychology Association). Metode penulisan ini bisa qigunakan untuk penelitian lapangan dan juga digunakan untuk ilmu pengetalrnan sosial secara umum.
LANDASAN TEORI
2.1.
INGAT AN
2.1.1. Penelitian Pertama Mengenai Jngatan
Seorang ahli Filosof Jennan dan sekaligus Psikolog, bernama Hermann Ebbinghaus ( 1850-1909), menerbitkan penelitian sistematis pertama mengenai ingatan manusia dan mempubliksikan hasil karyanya yang berjudul 'Uber das
Oedachtnis · (mengenai ingatan) pada tahun 1913. Pada tahun 1886, dia membuka
(
Laboratorium Psikologi di Universitas Berlin. Setelah itu ia mulai mempelajari penglihatan (Vision), dan mempublikasikan teori penglihatan-warna pada tahun 1893. Di Breslau, Ebbinghaus juga mendirikan Laboratorium ( 1894) dan mempublikasikan metode baru untuk menguji kemampuan mental pada anak usia sekolah (Zusne (1984).
Ebbinghaus menjadikan dirinya sendiri sebagai subjek dalam penelitiannya. Dia menguji dirinya untuk menghafal nonsense syllables yaitu suku kata yang terdiri dari tiga hurufkonsonan-vokal-konsonan sebanyak 20-300 suku kata (Zusne, 1984), seperti DAX, BUP dan LOC. Menurutnya nonsense syllables merupakan alat yang paling baik dalam penelitiannya karena suku kata tersebut tidak
memiliki arti sehingga sulit untuk dipelajari apalagi diingat, karena sulit mencari dan
menentukan asosiasinya.
Pada salah satu percobaan, Ebbinghaus mempelajari 13 syllables sampai ia
mampu mengulanginya tanpa menemukan kesalahan. Selanjutnya ia mencoba untuk
mengingat kembali daftar tersebut setelah beberapa kali penundaan. Dia memastikan
berapa waktu yang ia butuhkan untuk mempelajari daftar terse but. pada percobaan
,Yang pertama, ia membutuhkan sekitar 1156 detik untuk mempelajarinya dan hanya
467 detik waktu untuk mempelajarinya kembali. Sehingga ia dapat menghemat waktu
sebanyak 1156-467 = 689 detik atau 64,3% (Anderson, 1947).
Pada percobaan.selanjutnya, Ebbinghaus mencoba mengingat kembali daftar
tersebut setelah 20 menit, 1 jam, 8-9 jam, 1 hari, 2 hari, 6 hari, dan 31 hari.
Teknik-teknik Ebbinghaus ini menjadi standar dalam penelitian-penelitian psikologi
mengenai ingatan sepanjang tahun (Solso, 1991).
2.1.2. Definisi Ingatan
lngatan adalah hasil dari pengalaman yang sebelumnya didahului oleh suatu
perhatian (Kro, 1995). Ingatan merupakan kunci bagi kelancaran belajar dan
mengajar seperti sekop merupakan alat penting bagi tukang kebun. Begitu pula
ingatan merupakan peralatan pen ting bagi pelaj ar. Akan tetapi proses memori
seringkali tidak dipahami dengan baik dalam proses pengajaran. I-!asilnya, kita sering
apa yang telah kita ajarkan dan terkadang kita sering tidak mengikut sertakan proses ingatan dalam system pengajaran kita (Munro, tanpa tahun).
Semua sistem ingatan, termasukjuga komputer, perpustakaan, manusia dan tikus membutuhkan satu tempat untuk menyimpan. Penyimpanan pada hewan terdapat di dalam otak. Si stem ingatan juga memerlukan satu prosedur tertentu guna memasukkan dan mengambil kembali infonnasi.
Definisi lainjuga dikemukakan oleh Schlessinger dan Groves (1976:352) dalam Jalaludin (2000) bahwa memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
Dalam Al-qur'an ingatan lebih dikenal dengan peringatan dan mengambil pelajaran. Daya ingat (at-tazakkur) juga mempunyai kedudukan penting dari sudut agama. Sebab manusia yang selalu ingat kepada Allah SWT, Karunia dan Nikmat-Nya yang telah diberikan kepadanya dalam kehidupan, juga selalu ingat akan akhirat, hari perhitungan, pahala dan siksa, semua itu akan mendorongnya untuk senantiasa bertaqwa, beramal saleh dan berakhlak mulia. Banyak Al-qur' an yang
memerintahkan untuk selalu ingat kepada Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya (Najati, 2001: 165).
2.1.3. Model-model Ingatan Manusia
dalamnya dapat ditemui tiga macam model ingatan yang tiap kali bekerja bersama-sama dengan saling mengisi.
Ketiga model ingatan tersebut adalah : 2.1.3.1.Memori Sensoris
Memori Sensoris adalah proses penyimpanan infonnasi yang jangka waktunya sangat cepat (Kro, 1995). Bagian ini menerima stimulus dalam jangka waktu yang sangat pendek sebelum kita sempat untuk memprosesnya atau menganalisanya dalam pikiran kita. Disini terdapat memori sensori pada masing-masing indera yang kita miliki. Memori sensori tersebut ada ketika kita melihat, ketika kita mendengar dan ketika kita menyentuh (Munro, tanpa tahun).
Neisser (1976) menyebut proses ini sebagai ingatan echoic yaitu ingatan untuk stimulus auditor dan ingatan iconic yaitu ingatan untuk stimulus visual. Sperling (1960) dalam penelitiannya mengatakan bahwa lamanya infonnasi bertahan dalam memori sensori adalah 1/.i detik sampai 1 detik (250 milisecond-1000
milisecond). Perpindahan kepada ingatan jangka pendek berlaku apabila kita
memberi perhatian kepada informasi yang telah diindrai melalui perhatian yang telah diseleksi (selective attention) karena tidak semua infonnasi dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek (http://psyshslassic.yorku.ca ).
ingatan kita dengan jangka waktu yang sangat pendek, contohnya : ketika kita berada dalam ruangan gelap sambil menonton slide lalu ketika proyektor slide tersebut dimatikan maka kita masih menyimpan dan merasakan sensasi yang diakibatkan cahaya slide tersebut. Begitu pula ketika seseorang mengagetkan kita atau kita mendengar suara berisik maka ketika stimulus-stimulus tersebut berhenti kita masih merasakan sensasi suara atau perasaaan kaget yang masih tertinggal. Proses ini merupakan bagian dari Sensori Memori (Munro, tanpa tahun).
Dibawah ini akan disebutkan beberapa karakteristik memori sensoris yang dapat membedakannya dari aspek-aspek ingatan yang lain (Devi, 1982:12), yaitu:
a. Memori sensoris berisikan karakteristik fisik dari rangsang yang masuk yang meninggalkanjejak-jejak ingatan pada ingatan manusia. Misalnya, bila kita memejamkan mata, lalu membukanya dalam sekejap dan menutupnya kembali, maka akan terbayangjelas pada kita semua benda-benda yang terlihat pada saat membuka mata tadi. Bayangan ini lama-kelamaan akan mengabur dan akhimya menghilang dari ingatan kita. b. Memori sensoris memiliki kapasitas yang tidak terbatas. Dari contoh
diatas, maka banyak sekali benda-benda yang akan dapat kita indrai pada saat membuka mata tadi.
2.1.3.2.lngatan Jangka Pendck (Short Term Memory)
Ingatan-ingatan dalam memori sensori yang diberi perhatian selanjutnya akan disimpan dalam ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek adalah kapasitas yang kecil sekali tetapi sangat penting pengamhnya, ingatan jangka pendek terlihat lebih jelas daripada sistem ingatan yang lain di mana stimulus-stimulus lingkungan
pertama kali diorganisasikan dalam sistem ingatan ini (Solso, 1991 ).
lngatan jangka pendek mempunyai kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama dari pada memori sensoris, yaitu berkisar antara beberapa detik sampai beberapa menit. Seperti seorang sekretaris yang mampu menekan nomor telephone tanpa hams melihat nomor-nomor yang sudah ditekan sebelumnya, pada proses ketiga tanpa hams melihat kembali ke proses kedua dan begitu selanjutnya (http://psyshslassic.yorku.ca).
Untuk menyimpan pengetahuan dalam ingatan jangka pendek, kita dapat mengolah ide-ide dengan membahnya kedalam kata-kata dan kedalam imajinasi kita dengan berbagai cara sebagai berikut (Munro, tanpa tahun) :
1. visualisasi
2. berlatih secara phonem
3. membagi ide tersebut menjadi 2 atau 3 bagian dan melatih tiap bagian terse but
Ingatan jangka pendek ini pun memiliki beberapa karakteristik khusus (Devi, 1982: 13 ), yaitu :
a. Agar suatu informasi dapat masuk ke dalam ingatan jangka pendek, maka informasi tersebut harus sudah mendapat perhatian terlebih dahulu. Proses ini dapat pula berlaku terhadap informasi dalam memori sensoris, yaitu karena bekerjanya sistem seleksi perhatian (selective a/ten/ion) pada alat penginderaan kita sehingga hanya benda-benda yang menjadi pusat
perhatian kita saja yang akan masuk ke dalam ingatan jangka pendek dari sekian banyak benda-benda yang kita inderai.
b. Ingatanjangka pendek memiliki kapasitas yang terbatas, yaitu hanya mampu menyimpan sekitar 7 (± 2) item saja.
c. Agar infonnasi yang berada dalam ingatan jangka pendek itu dapat bertahan lama, maka harus dilakukan proses "rehearsal", yaitu
mengulang-ulang informasi tersebut agar informasi tetap berada dalam pusat perhatian kita sehingga tidak mengalami proses "lupa".
Jenis informasi yang dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek ada bermacam-macam, seperti suara, gambaran penglihatan, kata-kata, kalimat maupun angka-angka.
2.1.3.3.Ingatan Jangka Panjang (Long Term Memory)
Ingatanjangka panjang adalah ingatan yang memiliki kemampuan
menyimpan informasi lebih lama dan panjang (Kro, 1995). Freud mengatakan bahwa semua pengalaman kita sejak lahir sudah disimpan dalam ingatanjangka panjang, ini membuktikan bahwa kita dapat mengingat pengalaman-pengalaman masa kecil kita dan pengalaman-pengalaman tersebut tidak hilang hanya saja sukar untuk diingat kembali (http://psyshslassic.yorku.ca). Ingatanjangka panjang lebih mampu membedakan kode-kode dari luar, terstruktur, memiliki kapasitas lebih lama dan permanen (Solso, 1991 ). Pada level ini, semua yang diketahui oleh seseorang ten tang yang ada di dunia ini disimpan dalam ingatan jangka panjang mereka (Munro, tan pa tahun).
Munro juga menjelaskan bagaimana pengetahuan dapat dipertahankan dalam ingatanjangka panjang, yaitu sebagai berikut:
1. mengorganisasikan pengetahuan secara semantic
2. menghubungkan imajinasi visual dengan imajinasi yang sudah dimiliki 3. menjadikan ide-ide menjadi sebuah rentetan peristiwa
4. memperhatikan perasaan atau emosi yang berhubungan dengan ide-ide. Seperti kedua aspek ingatan yang telah disebut sebelumnya, maka ingatan jangka panjang juga memiliki beberapa karakteristik tertentu (Devi, 1982: 15), yaitu :
b. Lama penyimpanan informasi pada ingatanjangka panjang berkisar
antara beberapa hari, minggu, bulan, bahkan dapat berlangsung
bertahun-tahun.
c. Kapasitas penyimpanan informasi dalam ingatan jangka panjang adalah
sangat besar dan tak terbatas. Berbagai informasi dapat kita simpan dalam
ingatan jangka panjang, termasuk informasi yang sebelumnya ada dalam
ingatan jangka pendek yang tel ah mengalami rehearsal.
d. Jenis informasi yang dapat disimpan dalam ingatan jangka panjang ada
bermacam-macam seperti kata-kata yang bermakna, kalimat, ide-ide,
konsep-konsep serta berbagai pengalaman, pengetahuan, kemampuan
untuk berbahasa dan sebagainya.
2.1.4. Proses lngatan
Proses adalah bagaimana kita menyimpan pengetahuan pada setiap level dan
bagaimana mentransfer pengetalman tersebut diantara dua level yang berbeda
(Munro, tanpa tahun).
Berikut ini penulis akan mencoba menjelaskan beberapa proses ingatan
manusia menurut Kro ( 1995), Munro, Model Atkinson-Shiffrin dan Model Baddeley.
2.1.4.1.Proses ingatan menurut Kro (1995) dalam bukunya yang berjudul
"Theories of Huma11 Leaming", sebagai berikut :
lnformasi yang berkesan pertama kali masuk ke dalam ingatan sensori
akan masuk ke dalam ingatan jangka pendek. Selanjutnya apabila informasi tersebut dibutuhkan dan telah mendapat kode-kode tersendiri maka informasi tersebut akan bertahan dalam ingatan jangka panjang. Apabila informasi yang sudah ada tidak diulang maka akan terjadi proses lupa. Seperti gambar 2.1 yang terlihat di bawah ini :
Gb.2.1 Proses ingatan
セMMMMMMMMMMMMMM Pengkodean
I
InputI _..,.I
KesanI __..,.
Kata atau nama (persepsi) yang l »-dipertahankan melalui pengulangan Konsep
i
...
Lu pa Lu pa
Perlu diingat bahwa ketiga komponen ini tidak memiliki tempat yang berbeda dalam otak atau bagian lain dalam sistem ingatan.
[image:32.518.18.472.177.540.2]Sensori Iconic atau echoic
Gambar 2.2. Tiga komponen ingatan STM セ@ ョイゥュ。セᄋ@
2.1.4.2. Proses dari ketiga tipe memori menurut Munro
Inf01masi stimulus lnfonnasi mengajar
Gb.2.3 : Tiga tipe memori
Penyirnpanan senson - visual - auditory - haptic rnernon bertahan di SITil Inforrnasi dibawa STWM
I>-STWM : ruang pikir diatur oleh mekanisme kontrol. ini
merupakan 'jendela dunia'. Informasi akan diingat sebentar kecuali diolah dengan cara tertentu. Sepe1ti memberikan kode pada setiap informasi dengan berbagai macam cara :
visualisasi
latihan secara fenome112 memecah ide ke dalam : atau 3 bagian
mengorganisasikan secara semantik.
Untuk rnenyirnpan infonnasi dalarn ingatan jangka panjang kita dapat rnengolahnya dengan cara tertentu:
1. rnenghubungkan dengan sesuatu yang kita paharni 2. rnernvisualisasikan 3. rnenjadikannya
sebagai rentetan peristiwa
2.1.4.2.Proses ingatan menurut model Atkinson-Shiffrin
Infonnasi yang masuk langsung disimpan dalam STSS (Short Term Sensory
Storage) atau penyimpanan sensori jangka pendek. Infonnasi tersebut disimpan
selama 1 detik selanjutnya informasi diberi kode didalam STWM (Short Term
Working Memmy) dan disimpan lebih dari 1 menit setelah itu informasi disimpan
dalam L TM (Long Term Memory) selama seumur hidup. Seperti pada gambar 2.4 berikut ini :
Gb.2.4 : proses ingatan model Atkinson-Shiffrin
lnformasi masuk
セ@
セ@
I
STWMI
2.1.4.3.Model proses ingatan menurut Baddeley
Pada proses ini, infonnasi yang masuk langsung disimpan dalam tempat penyimpanan selanjutnya infonnasi tersebut dilatih, diorganisasikan dan divisualisasi secara semantik menjadi satu rentetan waktu selanjutnya disimpan dalam ingatan jangka panjang. Seperti dalam gambar 2.5 berikut ini :
Gb.2.5. proses ingatan model Baddeley
Secara garis besar Hilgard dkk (1975:222-224) dalam Irwanto (1997:154)
menyebutkan tiga jenis proses mengingat :
I. Recall (pengingatan), yaitu proses mengingat informasi yang dipelajari di
masa lalu tanpa petunjuk yang dihadapkan pada organisme.
Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan
informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yangjelas
(Sarlito, 1996).
2. Recognition (pengena/an), yaitu proses mengingat informasi yang sudah
dipelajari melalui suatu petunjuk yang dihadapkan pada organisme.
3. Redintegralive, proses mengingat dengan mengingat dengan
menghubungkan berbagai informasi menjadi suatu konsep atau cerita
yang cukup komplek. Bisa juga dikatakan bahwa redintegrasi ialah
merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.
Sarli to ( 1996:64) menambahkan satu proses mengingat dalam ingatan
manusia, yaitu Relearning (be/ajar /agi), menguasai kembali pelajaran yang sudah
kita peroleh termasuk pekerjaan memori.
2.1.S. Lupa Pada Ingatan
Apabila belajar dianalogikan dengan koin yang terdiri dari dua sisi, ingatan
merupakan sisi yang satu dan lupa merupakan sisi yang lainnya (Kro,1995). Lupa
adalah kegagalan mengingat kembali suatu butir dari infonnasi dengan tepat
Gordon H. Bower mengatakan "lupa adalah sifat dasar pikiran dan cemas
pada lupa adalah sifat dasar manusia. Seorang peneliti memperkirakan bahwa
kapasitas penyimpanan otak sebanyak satu kuatrilium bit informasi yaitu satu juta
kali satu milyar. Dengan kapasitas seperti itu, John Merrit dari Universitas Harvard
mengatakan "Tak seorang pun pemah memenuhi pundi tersebut sampai luber." Tidak
mengherankanjika kita kadang-kadang lupa; yang menakjubkan adalah bahwa kita
mampu menyimpan dan mengingat kembali begitu banyak (Russel, 2003).
Pembahasan mengenai lupa selalu akan berkaitan erat dengan ingatan, karena
orang yang lupa adalah orang yang gaga! mengingat hal-hal yang telah dipelajarinya.
Kita mungkin mengingat tujuh butir secara singkat, tetapi pada sebagian besar kasus
mereka segera dilupakan. Lupa terjadi karena butir-butir itu tergeser (displaced) oleh
butir yang barn atau karena mengalami peluruhan (decay) dengan berjalannya waktu.
Sehingga dapat dikatakan bahwa lupa adalah arti negatif dari ingatan.
Al-qur'an menyebutkan lupa dalam berbagai ayat, dan bila ayat-ayat itu kita
pelajari kandungannya, maka kita akan mendapatkan bahwa lupa (an-nisyan) dalam
ayat-ayat tersebut mempunyai pengertian yang berbeda, yang secara garis besamya
adalah sebagai berikut :
I. Lupa yang menimpa pikiran mengenai berbagai peristiwa, nama-nama
orang, dan berbagai infonnasi yang diperoleh seseorang sebelumnya.
Lupa seperti ini adalah ha! biasa yang menimpa seseorang akibat
2. Lupa yang mengandung arti lalai (as-sahwu). Misalnya orang lupa sesuatu di suatu tempat.
3. Lupa dengan arti hilangnya perhatian terhadap sesuatu hal. Misalnya firman Allah :
" ... mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka .. "(Q.S, a/-taubah 9:67) (Najati, 2001: 166 ).
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka disini akan dibahas mengenai teori-teori lupa dalam ingatan (Kro, 1995), antara lain :
I. Teori Pemudaran
Teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melupakan sesuatu yang dirasa tidak penting dan akan hilang seiring berjalannya waktu. Seperti seorang wanita yang mungkin saja dapat mengingat berapa baju yang menggantung di lemarinya saat itu. Tetapi ia tidak akan mengingat baju-baju tersebut pada masa selanjutnya. Akan tetapi apabila ia selalu mengulang secara periodic apa saja yang terdapat dalam lemarinya saat itu, dia akan mengingatnya dengan lebih baik lagi. Sebaliknya informasi tersebut tidak pemah digunakan maka informasi tersebut akan hilang.
2. Teori Distorsi
3. Teori Tekanan
Teori ini berasal dari Freud yang mengatakan bahwa kadang-kadang seseorang menekan (melupakan secara tidak sadar) pengalaman-pengalaman yang menimbulkan cemas dan traumatic. Lupa yang diakibatkan tekanan ini tidak dapat didemonstrasikan secara eksperimen tetapi dapat diketahui melalui observasi secara berkala dalam situasi klinis. Karena pengalaman traumatic tersebut disimpan dalam bawah sadar atau direpresi; dan dapat diambil hanyajika emosi yang berkaitan dengannya dipisahkan. Dengan demikian represi merupakan kegagalan pengambilan akhir atau akses ke memori dihambat secara aktif.
4. Teori Interference
Interference yaitu adanya informasi tertentu yang mengacaukan kemampuan daya ingat terhadap informasi yang telah dipelajari. Jnfonnasi yang telah disimpan dalam memori jangka panjang masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan). Akan tetapi proses lupa terjadi karena informasi yang satu mengganggu proses mengingat informasi yang lama, tetapi juga bisa terjadi sebaliknya.
Seperti percobaan yang dilakukan oleh Banburry,S., et. al. (2001) dalam
"Auditory distraction: Phenomena, models and practical implications", bahwa suara-suara yang tidak relevan merupakan inte1ference dan cenderung merusak ingatan kita. Akan tetapi interference tersebut tidak merusak selama pengkodean berlangsung dalam memori kita.
1. Proactive Interference, dimana infonnasi yang masuk lebih dahulu, mengacaukan ingatan terhadap infonnasi yang datang kemudian.
2. Retroactive Interference, di mana infonnasi yang datang kemudian,
mengacaukan ingatan terhadap infonnasi yang datang terlebih dahulu.
2.1.6. Meningkatlmn Daya Ingat
Para pakar Psikologi tel ah mengidentifikasikan tiga strategi untuk
mengefektifkan pemindahan materi dari ingatanjangka pendek ke dalam ingatan jangka panjang. Tiga strategi tersebut adalah rehearse/ (mengulang), elaboration
(perluasan) dan organization (mengatur) (Kro, 1995). 2. 1.6. 1. Rehearse/ (mengulang)
Rehearse/ adalah mengulang-ulang infonnasi yang didapat (seperti ""namanya adalah Greta, namanya adalah Greta, Greta, Greta ... "). Pengulangan merupakan prinsip penting untuk memelihara infonnasi dalam ingatan jangka pendek, ia juga penting bagi informasi yang akan dikirim ke dalam ingatan jangka panjang.
Munro menuturkan beberapa strategi memori dalam rehearsal (pengulangan) dengan berbagai cara berikut ini :
2.1.6.2. Elaboration (Perluasan)
Mengelaborasi berarti memperluas atau menambah. Memperluas adalah mengasosiasikan sesuatu yang harus dipelajari dengan kesan mental atau
mengasosiasikan materi baru dengan materi yang sudah dipelajari. Bradshaw dan Anderson (1982) membuat suatu percobaan dengan meminta subjek untuk mengingat sebuah kalimat "The Fatman read the sign" kalimat tersebut diperluas dengan kalimat "The Fatman read the sign warning of thin ice" dan ketika memanggil kembali, hasilnya jauh lebih berhasil dari pada kalimat yang tidak diperluas.
Mnemonics verbal dan Mnemonics visual. Mnemonics verbal dan visual bekerja dengan prinsip mengelaborasikan pengetahuan untuk diingat. Mnemonics terdiri dari beberapa kumpulan dari gambaran-gambaran visual dan auditori. Untuk
menggunakan mnemonics pertama kali kita harus mengenali ide-ide untuk diingat dan kemudian menghubungkan tiap ide dengan salah satu gambaran.
Metode Loci. Merupakanjenis lain dari mnemonics. Ia melibatkan penggunaan kumpulan bahan yang sudah pasti dan yang sudah dikenal. Kita menggunakan mnemonic dengan menghubungkan aitem-aitem untuk diingat pada masing-masing bayangan, contohnya, kita membayangkan potongan pertama dari pengetahuan untuk diberi ingatan ten tang kamar pertama yang kita masuki atau penunjuk jalan pertama menuju kerumah kita, potongan kedua pada kamar kedua dan penunjukjalan yang kedua, dan seterusnya.
semuanya hampir sama dan kemudian divisualisasikan dalam bayangan. Metode ini berguna untuk menghubungkan antara dua kata dalam bahasa asing dengan inggris, contohnya quartorze dalam bahasa perancis berartifourteen (14) (Munro, tanpa tahun).
2.1.6.3. Organization
Mengorganisasikan berarti mengatur sesuai dengan sistem. Chunking adalah menempatkan apa yang sudah dipelajari menjadi satu kesatuan yang saling
berhubungan. Dengan adanya proses chunking maka apabila kesatuan tersebut memiliki arti akan dapat dilihat sebagai satu unit. Beberapa eksperimen telah
mempelajari cara pengorganisasian yang dapat digunakan untuk mempelajari banyak butir yang tidak berhubungan. Dalam salah satu penelitian, subjek diperintahakan mengingat daftar kata ke dalam sebuah cerita pendek, kemudian saat diuji untuk 12 daftar semacam itu (total 120 kata), subjek mengingat lebih dari 90 persen kata. 2.1.6.4. Konteks dan Pengingatan
Karena konteks merupakan isyarat pengingatan yang kuat, kita dapat
2.1.6.5. Metoda PQRST
Salah satu teknik yang paling dikenal untuk meningkatkan daya ingat, yang dinamakan metoda PQRST, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mempelajari dan mengingat materi yang dipresentasikan dalam sebuah buku teks (Thomas & Robinson, 1982). Metoda ini mengambil nama dari singkatan lima tahapnya: Preview (Peninjauan), Question (Pertanyaan), Read (Membaca), Self-Recitation (menceritakan kembali untuk diri sendiri), dan Test (Ujian) (Atkinson,
1999).
2.1.7. Memori Konstruktif
Dalam proses pengingatan terdapat proses bottom-up dan top-down. Dimana proses bottom-up didorong oleh masukan (input), sedangkan proses top-down didorong oleh pengetahuan dan harapan seseorang. Jadi persepsi suatu objek didasarkan sebagiannya pada karakteristik fisik objek masukan (proses bottom-up) dan sebagian lagi pada harapan pengamat (proses top-down). Perbedaan tersebut dapat diterapkan pada memori pula. Proses bottom-up bekerja hanya pada informasi masukan, butir aktual yang harus diingat, sedangkan proses top-down membawa pengetahuan lain untuk diterapkan pada tugas. Proses top-down menambahkan informasi kepada masukan dan menghasilkan apa yang dinamakan memori konstruktif.
2.1.7.1. Pengambilan Keputusan
membaca teks nyata karena kesimpulan seringkali diperlukan untuk menghubungkan kalimat-kalimat yang berbeda. Pengambilan kesimpulan juga dapat mempengaruhi memori untuk pemandangan visual.
2.1. 7 .2. Stereotipe
Cara lain kita mengisi, atau mengkonstruksi memori adalah melalui
pemakaian stcrcotipc sosial. Stereotipe adalah paket-paket kesimpulan tentang trait (sifat) kepribadian atau atribut fisik seluruh kelas manusia. Kita mungkin, misalnya memiliki stereotipe tentang orang Jerman tipikal (cerdas, teliti, serius) atau orang !tali tipikal (artistik, bebas, penggembira). Deskripsi ini jarang berlaku pada sebagian orang dalam kelas tersebut dan seringkali dapat menjadi pedoman yang menyesatkan dalam interaksi sosial.
Stereotipe juga dapat bekerja secara retroaktifpada memori. Kita mungkin mendengar deskripsi yang relatif netral tentang seseorang, selanjutnya mengetahui bahwa orang itu masuk ke kategori tertentu, dan kemudian menggunakan stereotipe kita tentang kategori itu untuk memperkuat memori tentang deskripsi awal.
2.1.7.3. skemata
sebel umnya tetang bagaimana bertindak disituasi tertentu.
Skemata tampaknya mempengaruhi tahap penyandian dan pengambilan dari
memori jangka panjang. Jika skema tertentu sedang aktif saat kita membaca suatu
cerita, kita cenderung menyandikan terutama fakta yang berhubungan dengan skema.
2.1.8. Memori Implisit
Bila kita memperhatikan teruatama situasi dimana orang mengingat fakta
pribadi. Pada kasus tersebut, memori adalah masalah pengingatan masa lalu secara
sadar, dan dikatakan diekspresikan secara eksplisit. Tetapi tampaknya ada memori
jenis lain, yang sering kali dimanifestasikan sebagai kecakapan yang menunjukkan
kemajuan dalam tugas perseptual, motorik, atau kognitif, tanpa pengingatan sadar
pengalaman yang menyebabkan kemajuan itu. Disini, memori diekspresikan secara
implisit
2.1.8.1. Memori pada amnesia
Sebagian besar yang kita ketahui tentang memori implisit kita dapatkan dari
penelitian terhadap penderita amnesia. Amnesia berarti kehilangan memori parsial.
Keadaan ini dapat terjadi karena berbagai penyebab, termasuk cedera otak akibat
kecelakaan, stroke, ansefalitis, alkoholisme, kejutan elektrokonvulsif, dan prosedur
bedah (sebagai contohnya, pengangkatan hipokampus untuk mengurangi epilepsi).
dalam mengambil informasi faktual yang baru atau untuk mengingat peristiwa sehari-hari; ini dinamakan Amnesia Anterograd, dan dapat sangat luas.
Gejala sekunder dari amnesia adalah ketidak:mampuan untuk mengingat peristiwa yang terjadi sebelum cedera atau panyakit. Beratnya amnesia retrograd berbeda dari satu pasien dengan pasien lainnya. Selain kehilangan memori retro grad dan anterograd, penderita amnesia tipikal tampak normal : ia memiliki
perbendaharaan yang normal, pengetahuan yang biasa tentang dunia, dan pada umumnya tidak menunjukkan penurunan inteligensia.
Suatu aspek yang menarik dari amnesia adalah tidak semuajenis memori terganggu. Jadi, walaupun penderita amnesia pada umumnya tidak mampu rnengingat fakta lama tentang kehidupan mereka atau untuk mempelajari fakta baru, mereka tidak mengalarni kesulitan dalam mengingat dan rnempelajari kecakapan persatuan perseptual dan motorik. Hal ini menyatakan bahwa terdapat memori yang berbeda untuk fakta dan untuk kecakapan. Secara lebih umurn, hal ini menyatakan bahwa rnemori eksplisit dan implisit (yang masing-masing menyandikan fakta dan kecakapan) adalah sistem yang berbeda.
Pola yang serupa ditemukan pada apa yang dinamakan kecakapan kognitip, seperti yang terlibat dalam melengkapi penggalan kata untuk membentuk sebuah kata.
2.1.8.2. Memori Implisit pada subjek normal
Penelitian yang melibatkan subjek normal sajajuga menyatakan adanya tempat penyimpanan yang terpisah untuk memori eksplisit dan implisit. Malahan, penelitian tersebut menyatakan bahwa kita semua memiliki sedikit pembelahan kepribadian, atau sekurangnya pembelahan sistem memori.
Penelitian lain mendukung pendapat adanya dua sistem memori dengan menunjukan bahwa suatu variabel indefendent yang mempengaruhi memori eksplisit tidak memiliki pengaruh pada memori implisit, dan demikian pula sebaiknya. Salah satu variabel tersebut adalah apakah subjek memperluas makna suatu butir. Bila mana perluasan makna berarti meningkatkan pengingatan selanjutnya, perluasan itu tidak memiliki pengaruh pada apakah pragment yang diambil dari kata tersebut akan dilengkapi (graff dan mandlera, 1984).
2.1.8.3. Perbedaan penyimpanan dan pengambilan.
2.2. KEBISINGAN
2.2.1 Definisi Kebisingan
Menurut Murrel (1986) "noise can best be described as unwanted sound',
yakni bising dapat didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan. Adapun
menurut Oburne sebagai berikut : bising sering didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan, sebuah definisi yang memungkinkan sumber suara dianggap sebagai suatu kebisingan yang didasarkan atas reaksi pendengar terhadapnya.
Bising umumnya diartikan sebagai unwanted sound atau bunyi yang tidak dikehendaki kehadirannya (Mackenzie & David, 1991 ). Secara um um, bunyi dapat dikatakan sensasi pendengaran yang melewati telinga yang diakibatkan oleh penyimpangan udara. Penyimpangan bisa disebabkan oleh benda bergetar seperti senar gitar, benda yang di pukul dan lain-lain (Harris, 1957).
Walaupun kebisingan umumnya diartikan sebagai bunyi yang tidak
diinginkan, suatu definisi yang agak lebih tepat yang diusulkan oleh Borrow (1960) yang kebisingan dilihat dari sudut atau konteks infonnasi, sebagai berikut :
kebisingan adalah suatu rangsangan stimulus atau rangsangan dalam bentuk bunyi yang tidak mempunyai hubungan informasi terhadap kehadiran atau kelengkapan suatu tugas yang harus segera diselesaikan.
sifat-sifat fisiknya, suara dalam konteks ini biasanya menunjuk pada suara yang merugikan, mengacaukan dan membahayakan (Annastasi, 1989).
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 48/MEN.LH/II/I 996, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan yang dihasilkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan
(www.menlh.go.id).
Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap
kenyamanan dan kesehatan manusia, berupa terhentinya atau terganggunya aktifitas komunikasi, pekerjaan, istirahat dan tidur. Sedangkan secara fisik, bising adalah sejenis energi yang dipancarkan oleh suatu sumber bunyi (Karatawira, I 979).
Menurut Harris ( 1957), bising adalah sensasi pendengaran yang melewati telinga yang diakibatkan oleh penyimpangan udara. Kebisingan (noise) dapat pula didefinisikan sebagai bunyi yang tersusun dari banyaknya frekuensi yang tidak mempunyai hubungan yang harmonis antara satu dengan yang Jain.
Hnviromental Pollution Control Center, Osaka Prefecture .!epang membuat
Tabel 2.1. Tipe-tipe kebisingan lingkungan Tipe-tipe kebisingan lingkungan
Jumlah Semua kebisingan di suatu tern pat tertentu dan suatu waktu kebisingan tertentu
Kebisingan Kebisingan di antara jumlah kebisingan yang dpaat dengan jelas spesifik dibedakan untuk alasan-alasan akustik. Seringkali sumber
kebisingan dapat diidentifikasikan.
Kebisingan Kebisingan yang tertinggal sesudah penghapusan seluruh residual kebisingan spesifik dari jumlah kebisingan di suatu tern pat
tertentu dan suatu waktu tertentu.
Kebisingan latar Semua kebisingan lainnya ketika memutuskan perhatian pada belakang suatu kebisingan tertentu. Penting untuk membedakan antara
kebisingan residual dengan kebisingan latar belakang .
.
Semua bunyi yan mengalihkan perhatian, mengganggu, atau berbahaya bagi kegiatan sehari-hari (kerja, istirahat, hiburan, atau belajar) dianggap sebagai bising.
Sebagai definisi standar tiap bunyi yang tak dinginkan oleh penerima dianggap
sebagai bising. Jadi, pembicaraan atau musik akan diangap sebagai bising bila mereka tak dinginkan. Apakah bunyi diinginkan atau tidak oleh seseorang tidak hanya akan tergantung pada kekerasan bunyi tetapi juga pada frekuensi, kesinambungan, waktu terjadinya dan isi informasi, dan juga pada aspek subyektif seperti asal bunyi, keadaan pikiran dan tempramen penerima.
2.2.2.Sumber kebisingan
1. Bising Interior, berasal dari manusia, alat-alat rumah tangga, atau mesin-mesin gedung.
Sumber bising yang paling sering dibuat oleh manusia dan yang harus dipertanggungjawabkan adalah yang disebabkan oleh radio dan televisi, alat-alat musik, bantingan pintu, pembicaraan yang keras, dan lalu lintas di tangga. Selain itu dapat pula ditarnbahkan bunyi orang-orang yang pindah, anak-anak yang bennain, tangis bayi, dan lain-Ian.
Bising bangunan dihasilkan oleh mesin dan alat rumah tangga, seperti kipas angin, motor, kompresor, pendingin, pencuci piring, penghancur sampah, rnesin cuci, pengering, pembersih vakurn, pengkondisi udara, penghancur makanan, pembuka kaleng, pembuat kilap lantai, pencukur listrik, pengering rambut dan lain-lain. Mereka rnenggambarkan surnber-sumber pengganggu yang serius, karena mereka terus menerus diganti oleh unit-unit yang lebih mutakhir dengan keluaran yang lebih besar, kecepatan lebih tinggi, dan dengan sendirinya bising yang bertambah. Tingkat bising yang sangat tinggi diproduksi dalam beberapa bangunan industri oleh proses pabrik atau produksi.
2. Bising luar (out door), berasal dari lalulintas, transfortasi, industri, alat-alat mekanis yang terlihat dalam gedung, tempat pembangunan gedung-gedung, perbaikanjalan, kegiatan olahraga dan lain-lain diluar gedung-gedung, dan iklan (Advertising).
mobil-mobil balap, sepeda motor, kereta rel, mesin-mesin diesel, kapal motor, kapal penyeret, dan pesawat udara komersial serta pesawat militer. Sumber-sumber bising luar lainnya dapat ditemuan di alat-alat mekanis yang tampak (exposed) dalam bangunan menara pendingin, pengkondisi udara, (kompresor) dan alat-alat yang bergerak di darat (earth-moving) dan konstruksi (pemancang udara/air hammers, sekop dan lain-lain).
3. Bising Pesawat Udara.
Bising pesawat udara merupakan ancaman yang belum pernah terjadi
sebelumnya pada lingkungan kita karena ia mempengaruhi jumlah orang yang selalu bertambah. Bising yang diciptakan oleh pesawat jet berbeda dari bising yang
dihasilkan oleh pesawat udara berbaling-baling dengan mesin pompa. Karakteristik bising pesawat udara yang berbeda juga berubah dengan kondisi daya yang berbeda.
Untuk menilai reaksi orang terhadap bising dan gangguan pesawat udara, bermacam-macam skala dan diagram dikembangkan sebagai hasil penelitian yang sangat banyak untuk mencerminkan tanggapan subyektifmanusia.
Pesawat terbang lain yang juga menyebabkan bising yang tak diinginkan dalam daerah kota yang berpenduduk banyak adalah pesawat yang tinggal landas dan mendarat secara vertikal (VTOL), misalnya helicopter.
2.2.3. Ragam dan Jenis Kebisingan
1. 0-60 db adalah rendah 2. 60-80 db adalah sedang 3. 80 db ke atas termasuk tinggi
Menurut Wilson (1989), berdasarkan sumber utamanya kebisingan dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Kebisingan statis, yaitu kebisingan yang dihasilkan oleh benda tidak bergerak. Misal : pabrik, mesin konstruksi, radio tape dan lain-lain. b. Kebisingan dinamis, yaitu kebisingan yang dihasilkan oleh alat
transportasi, misal : mobil yang bergerak, pesawat yang akan tinggal landas, kapal laut dan lain-lain.
Murrel (1986) menyatakan bahwa ada tigajenis bising yang mempengaruhi efisiensi, yakni :
1.bising yang terns menerus (continous noise)
2. bising yang sebentar dan tak diduga-duga (intermittent noise-unexpected)
3. bising yang sebentar dan berulang-ulang (intermittent noise-repetitive)
Sifat dari bunyi merupakan suatu variabel signifikan yang lain. Bunyi yang didengar secara kontinyu terasa kurang mengganggu daripada bunyi yang tidak ajeg. Bunyi yang tidak diduga dan tak dapat diramalkan paling besar kemungkinannya untuk mengganggu performansi (Finkelman&Glass, 1970;
Glass&Singer,1972;Theologus dkk, 1961).
1. Kebisingan Jangka Pendek
Kebisingan jangka pendek dihasilkan oleh ledakan suara sesaat yang sangat keras - bunyi ledakan dinamit yang berasal dari tempat pembangunan di sebelah rumah atau longlongan anjing tetangga. Reaksi pertama kita terhadap kebisingan tersebut adalah refleks terkejut. Salah satu penemuan yang paling penting dari penelitian ten tang kebisingan j angka pendek adalah bahwa orang dapat beradaptasi dengan sangat cepat. Dalam waktu beberapa menit, reaksi fisiologis akan menghilang dan penampilan akan kembali normal.
2. Kebisingan Jangka Panjang
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa timbulnya kebisingan jangka panjang yang luas di kota New York dibangun di samping jalan raya dan karena raneangan bangunannya, tingkat kebisingan di dalam apartemen itu sangat tinggi. Lantai yang lebih rendah hampir selalu lebih bising dibandingkan lantai yang lebih tinggi. Meskipun orang dapat beradaptasi dengan kebisingan jangka pendek, mereka tidak dapat beradaptasi terhadap kebisingan jangka panjang, seperti yang dialami oleh orang yang tinggal di dekat bandara yang sesak (Cohen & Weinstein, 1981 dalam David 0. Sears, 1994:243).
Adapun tingkat bising di tiap posisi dalam ruang dibentuk oleh dua bagian : I. Bunyi yang diterima secara langsung dari sumber
Berikut ini adalah jenis-jenis bising utama yang biasanya timbul di perkotaan (Doelle, 1993):
1. Bising lalu-lintas dan transportasi (mobil, truk, sepeda motor, keretajalan, kereta api, mesin diesel, kereta bawah tanah, pesawat air, pesawat udara, dan lain-lain).
2. Bising industri (pabrik, bengkel, proyek pembangunan/plant, menara pendingin, pengkondisi udara, dan lain-lain).
3. Bising yang dihasilkan manusia ( olahraga dan kegiatan lainnya di luar, pertunjukan di udara terbuka, dan lain-lain).
2.2.4. Skala Desi be! (dB)
Satuan dasar untuk mengukur bising adalah "decibel (dB)" yang artinya sepersepuluh bel, sesuai dengan nama penemunya Alexander Graham Bell (Atkinson, 1999), yang secara tekhnis mengukur tingkat-tingkat tekanan suara dan mempunyai 3 skala : A, B, C. Satu desibel adalah besamya tekanan suara di tingkat ambang
Perkiraan kasar tentang apa yang diukur decibel ditentukan oleh skala yang dikenal yang diperlihatkan pada gambar 2.6 (Atkinson, 1999) :
セM Pengeling pneumatic besar
120 •-AMBANG BUNYI YANG MENYAKITKAN TELINGA MANUSIA
<-Bunyi pesawat jet 500 kaki di atas kepala
100
セ@ bunyi kereta api sejarak 200 kaki
セ@ bunyi truk yang sarat sejarak 25 kaki
セmulaA@ HlLANY A PEND EN GARAN SECARA TETAP 80
セ@ Bunyi di dalam mobil pada kecepatan 50 km/jam
60 ..._ Percakapan sehari-hari
セ@ Bunyi A.C. jendela
40 セM Kantor yang tenang
20 セ@ Bisikan sejarak 5 kaki
0 セ@ AMBANG PENDENGARAN
Gb. 2.6 : Loudness (kekerasan suara) dan beberapa suara yang sudah dikenal diskalakan dalam decibel. Lepas landasnya roket Saturn V ke bulan yang diukur pada alas peluncurannya kurang lebih 180 db. Untuk tikus-tikus percobaan, skala suara 150 db dalam waktu yang cukup lama menyebabkan kematian (Atkinson, 1999).
2.2.5 Karakteristik Bising
Frekuensi, tekanan bunyi, daya bunyi merupakan faktor penting dalam evaluasi pengaruh bising terhadap pendengaran manusia.
2.2.5.1. Frekuensi
pitch. Suara yang dapat didengar oleh manusia terdiri dari beberapa frekuensi yang berlainan. Berdasarkan pada kriteria pendengaran manusia, umumnya spektrum frekuensi suara yang diklasifikasikan dalam 3 pita frekuensi, antara lain :
I. Frekuensi infra sonik : Frekuensi yang terlalu rendah untuk dapat membangkitkan sensasi pendengaran.
2. Frekuensi ultra sonik : Frekuensi yang sangat tinggi.
3. Frekuensi sonik: Frekuensi pembicaraan yang dapat didengar. 2.2.5.2. Tingkat Tekanan Bunyi (Sound Pressure Level)
Menurut Sasongko (2000), tingkat bunyi adalah jumlah perubahan bunyi yang diciptakan oleh sumber bunyi. Rambatan suara di udara akan menimbulkan gangguan terhadap kondisi keseimbangan tekanan udara (tekanan atmosfer). Besarnya
gangguan ini dinyatakan dalam besaran fisis tekanan bunyi (Sound pressure). Ukuran tingkat kebisingan dinyatakan dalam skala tekanan suara dengan satuan decibel (dB). 2.2.5.3. Tingkat Daya Bunyi (Sound Power Level)
Satuan daya dinyatakan dalam watt (W). dayanya tersebar pada suatu interval waktu disebut daya suara puncak (peak power) sedangkan besaran daya yang lain adalah daya suara rerata (average power) yang merupakan nilai rerata selama interval waktu tertentu dan nilainya lebih kecil dari daya puncak (Sasongko,2000).
2.2.6. Pengaruh Kebisingan Terhadap Manusia
Eropa dan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa para pekerja pabrik yang terns
menerns menderita kebisingan tingkat tinggi akan kehilangan pendengaran untuk
selamanya (Tanner, 1976).
Selain berdampak terhadap pendengaran, kebisingan juga dapat memberikan
dampak psikologis, diantaranya gangguan emosional dan gangguan gaya hidup.
2.2.6.1. Pendengaran dan Tclinga Manusia
Dampak dari kebisingan pertama sekali tentunya akan mengganggu alat
pendengaran. Gangguan ini bersifat sementara maupun permanen. Penyelidikan di
Eropa dan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa para pekerja pabrik yang terns
menerns menderita kebisingan tingkat tinggi akan kehilangan pendengaran untuk
selamanya (Tanner, 1976: 62). Pendengaran mernpakan saluran utama pengalaman,
sebuah stimulus yang lebih penting dibanding penglihatan. Pendengaranjuga
mernpakan indera penj aga. Karena tidak ada suara yang timbul tanpa ad an ya suatu
gerakan yang terjadi, suara memperingatkan kita tentang apa yang terjadi (Russel,
2003).
Manusia mempunyai organ pendengaran yang biasa disebut dengan telinga.
Telinga di bagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar dan
telinga tengah penuh dengan udara dan berfungsi sebagai penghantar dan penguat
(amplifier) getaran bunyi sebelum getaran tersebut mencapai telinga dalam. Telinga
manusia mernpakan mekanisme yang menakjubkan. Walaupun bagian-bagian yang
membedakan 300.000 sampai 400.000 variasi nada dan tinggi suara (Russel, 2003). Telinga manusia biasanya peka terhadap suara antara 20 20.000 hertz dan 0,0002 -1.000 microbars. Dalam ha! amplitudo, suara dengan volume -1.000 microbars akan lebih menimbulkan rasa sakit pada telinga daripada kesan bunyi (Sarlito, 1995).
Kebisingan dengan intensitas tinggi akan merusak sel rambut di bagian dalam telinga dan mengurangi kemampuan telinga untuk mendengar dan menghantarkan infonnasi ke otak. Jika sel rambut ini rusak, tidak dapat diperbaiki, maka kehilangan pendengaran yang te1jadi akan permanen (Sarlito, l 995).
Frekuensi telinga di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
I. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga yang berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan getaran bunyi di udara dan melanjutkannya ke dalam Jiang telinga
(meatus akustikus eksternus). Dengan memiliki sepasang daun telinga di kiri dan
kanan, telinga dapat berfungsi melokalisasi arah datangnya bunyi. Setelah melewati Jiang telinga (membran tympani) tanpa mengalami distorsi.
2. Telinga Tengah
Telinga tengah berupa rongga yang terdapat di bagian luar tulang temporalis terisi dengan udara melalui suatu saluran yang disebut tuba eustachii yang
menghubungkan telinga tengah dengan rongga faring.
bebunyian (yang datang) sangat keras dan membahayakan, otot martil melunakkan getaran gendang telinga, sementara otot sanggurdi berusaha beraksi di jendela oval untuk mengurangi intensitas getaran bebunyian tersebut (Madaule, 2002).
3. Telinga Dalam
Telinga bagian dalam terbungkus seluruhnya di dalam tulang, labirin telinga bagian dalam tersusun atas dua bagian. Pertama adalah rumah siput (koklea),
berbentuk seperti siput, berisi sel-sel corti. Fungsinya adalah mempersepsi bunyi. Bagian kedua adalah sistem vestibular, yang tersusun atas dua rongga dan tiga tabung. Kedua rongga sistem vestibular disebut sacculus dan utriculus. Bagian dalam sistem vestibular ditutupi oleh sel-sel rambut penginderaan (sensoris) dan berisi cairan sehingga ketika kita bergerak maka cairan ini akan mengikuti gerakan tersebut dengan kecepatan yang berbeda.
Karena fungsinya berbeda -rumah siput menerima bunyi dan sistem vestibular mencatat gerakan -kedua mekanisme ini kerap dipandang sebagai dua entitas yang berbeda. Rumah siput dan sistem vestibular jarang sekali disatukan sebagaimana keadaan mereka di dalam tubuh (Madaule, 2002).
2.2.6.2. Dampak Kebisingan Secara Fisiologis
yang disebut lobus temporalis. Tahap terakhir dari proses pendengaran ini adalah persepsi tentang bunyi, dimana manusia menginterpretasikan bunyi yang
ditangkapnya (Sarlito, 1995).
Pengaruh utama kebisingan pada tubuh manusia adalah berupa gangguan terhadap indera pendengar yang bisa menimbulkan ketulian. Efek yang ditimbulkan bergantung pada intensitas bunyinya, frekuensi dan lama berlangsungnya bunyi itu didengar. Bising yang cukup keras, diatas sekitar 70 dB, dapat menyebabkan
kegelisahan (nervousness), kurang enak badan, kejenuhan mendengar, sakit lambung dan masalah peredaran darah. Bising yang sangat keras, di alas 85 dB, dapat
menyebabkan kemunduran yang serius pada kondisi kesehatan seseorang pada umumnya; dan bila berlangsung lama, kehilangan pendengaran sementara atau permanen dapat terjadi. Bising yang berlebihan dan berkepanjangan terlihat dalam masalah-masalah kelainan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan luka perut (Doelle, 1993).
Akibat-akibat kebisingan sering terjadi pada masyarakat sekitar tempat
Tabel 2.2 Beberapa akibat kebisingan
Tipe Uraian
Kehilangan Perubahan ambang batas sementara akibat Akibat-akibat pendengaran kebisingan. Peruabahan ambang batas permanen badaniah akibat kebisingan.
Akibat-akibat Rasa tidak nyaman atau stres meningkat, tekanan fisiologis darah meningkat, saki t kepala, bunyi dering. Gangguan Kejengkelan, kebingungan
emosional
Akibat-akibat Gangguan Gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi · psikologis gaya hidup waktu bekerja, membaca, dsb
Gangguan Merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio, pendengaran percakapan, telphone, dsb
Penelitian menunjukkan bahwa pada orang-orang yang mendengar bising pada tingkat 95-110 db te1jadi penyempitan pembuluh darah, perubahan detak jantung, pembesaran pupil mata. Penyempitan pembuluh darah akan tetap
berlangsung beberapa waktu setelah kondisi tidak bising lagi dan mengubah persediaaan darah untuk seluruh tubuh. Suatu keterbukaan (exposure) yang
berkesinambungan terhadap bising yang keras dapat meningkatkan tekanan darah dan dapat ikut mengakibatkan sakit jantung dan meningkatkan ketegangan otot.
2.2.6.3. Dampak Kebisingan secara Psikologis
Ada tiga factor yang menyebabkan sebuah suara secara psikologik dianggap sebagai bising, yaitu volume (dB atau phone), perkiraan, dan pengendalian.
jalan raya dari jarak 17 m (70 dB) sudah mulai mengganggu pembicaraan melalui telepon dan suara truk pengaduk semen dari jarak yang sama (90 dB) tentunya akan lebih mengganggu lagi. Jika kita sedang berbicara dengan orang lain, gangguan bising itu menyebabkan kita tidak bisa mendengar suara lawan bicara kita sehingga menimbulkan stress (Sarlito, 1995).
Dalam hal tingkah laku sosial, Matthews, Cannon dan Alexander (1974) menemukan bahwa di lingkungan yang bising, jarak personal space lebih lebar daripada di tempat yang tidak bising. Apple dan Lintell (1972) mendapatkan dari penelitiannya bahwa hubungan informal antartetangga makin berkurangjika suara bising lalu lintas di sekitar tempat pemukiman meningkat. Kebisingan juga bersifat meningkatkan agresivitas manusia (Green dan O'Neal, 1969 dalam Fisher, et al,1984:110 dalam Sarlito, 1995:96).
Dampak lain dari kebisingan adalah terhadap prestasi kerja (Glass & singer, 1972 dalam Fisher et.al, 1984: 107). Dalam telaah mereka dimana para subjek diperdengarkan deru kebisingan pada saat mereka mengerjakan tugasnya, beberapa subjek mendengar suara bising yang amat keras dan subjek lain mendengar suara bising yang tidak begitu keras. Untuk beberapa subjek, deru kebisingan kebisingan tersebut berjarak I menit (kebisingan yang dapat diramalkan); subjek lain, mendengar kebisingan yang jumlahnya sama banyaknya, tetapi suara gad uh itu terjadi dengan interval yang acak (kebisingan yang tidak dapat diramalkan). Para subjek melaporkan bahwa baik kebisingan yang dapat atau tidak dapat diramalkan sama
selama terjadinya kebisingan dalam percobaan itu. Akan tetapi, kondisi kebisingan yang berbeda menimbulkan dampak sesudah (after effect) yang sangat berbeda ketika diminta untuk membaca materi tertulis dalam kondisi tanpa adanya kebisingan. Kebisingan yang tidak dapat diramalkan mengakibatkan kesalahan yang lebih banyak dalam tugas pembuktian membaca dibandingkan dengan kebisingan yang dapat diramalkan, dan kebisingan yang lemah yang tidak dapat diramalkan sebenarnya mengakibatkan kesalahan yang sedikit lebih banyak pada tugas ini dibandingkan dengan kebisingan yang keras yang dapat diramal. Rupanya kebisingan yang tidak dapat diramalkan menghasilkan kepenatan yang lebih besar daripada kebisingan yang dapat diramalkan, tetapi hanya dibutuhkan waktu yang sedikit untuk menimbulkan kepenatan tersebut.
Pengaruh bising yang merusak pada efisiensi kerja dan produksi telah dibuktikan secara statistik dalam beberapa bidang industri. Produksi turun dan
pekerja-pekerja membuat lebih banyak kesalahan bila dipengaruhi oleh bising dengan tingkat tinggi, di atas sekitar 80 dB untuk waktu yang lama, tetapi ini tidak berarti bahwa manusia bekerja paling efisien dalam ruang yang tak tembus suara.
2.2.7. Usaha Pengendalian Kebisingan
"Daya tangkap" terhadap bunyi untuk setiap individu juga mempengaruhi kekuatan bunyi itu dalam mengalihkan perhatian (McBAin, 1961). Bunyi yang mempunyai arti kecil bagi seseorang kurang dapat mengalihkan perhatian dari tugas yang dihadapi. Hipotesa ini membantu menjelaskan mengapa siswa yang berbisik-bisik di seberang meja bisa lebih mengganggu daripada bunyi orang dan mesin pada pelaksanaan perbaikan jalan, atau mengapa suatu pidato politik lewat radio lebih mengganggu perhatian daripada musik. Sejumlah peneliti telah mengajukan bukti eksperimental bahwa efek dari bunyi terasa kurang mengganggu bila individu dapat mengendalikan bunyi (Glass&Singer, 1972 dalam Annastasi, 1989).
Factor pengendalian erat hubungannya dengan factor perkiraan. Tidak adanya kendali pada kebisingan ini menimbulkan stress yangjika berlangsung lama pada akhirnya bisa menimbulkan reaksi learned helplessness (ketidak berdayaan yang dipelajari). Artinya, orang menjadi tidak berdaya dan membiarkan saja bising itu walaupun stresnya bertambah besar (Sarlito, 1995).
tetapi hal itu mengganggu kemampuan subjek untuk mengulangi angka ketika sedang memegang setir (Finkleman&Glass, 1970).
Adapun beberapa Metoda Pengendalian Bising Lingkungan yang disampaikan oleh Leslie L,