• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kebisingan dan Warna terhadap Ingatan Jangka Pendek ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Kebisingan dan Warna terhadap Ingatan Jangka Pendek ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEBISINGAN DAN WARNA TERHADAP INGATAN JANGKA PENDEK DITINJAU DARI DIMENSI KEPRIBADIAN

EKSTROVERT DAN INTROVERT

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh:

JERRY 061301030

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

GENAP, 2009/2010

(2)

Pengaruh Kebisingan dan Warna terhadap Ingatan Jangka Pendek ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

Dipersiapkan dan disusun oleh

Jerry 061301030

Telah dipertahankan di depan dewan penguji Pada tanggal 13 Juni 2010

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi

Prof. dr. Chairul Yoel, Sp. A (K) NIP. 195005041977061001

Dewan Penguji

1. Etty Rahmawati, M.Si Penguji I/Pembimbing

NIP. 196212302000042001

2. Lili Garliah, M.Si, Psikolog Penguji II

NIP. 197812192003122004

3. Ika Sari Dewi, S.Psi. Psikolog Penguji III

(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa

skripsi saya yang berjudul :

Pengaruh Kebisingan dan Warna Terhadap Ingatan Jangka Pendek Ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan

norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi

ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Juni 2010

JERRY

(4)

Pengaruh Kebisingan dan Warna terhadap Ingatan Jangka Pendek ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

Jerry dan Etty Rahmawati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kebisingan dan warna terhadap ingatan jangka pendek ditinjau dari dimensi kepribadian Ekstrovert dan Introvert. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 orang yang berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara angkatan 2008 dan 2009.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan

factorial. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa Sutomo 2 dengan jumlah 442 orang. Reliabilitas penelitian ini menggunakan pendekatan internal consistency dengan teknik KR-20. Berdasarkan hasil pengolahan data, didapat koefisien KR-20 sebesar 0.694.

Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan teknik two ways analysis of variance (ANOVA). Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh pengaruh yang signifikan dari jenis coding (stimulus verbal dan mental imagery) terhadap memori dengan nilai ρ = 0.000 (ρ < 0.05) dan nilai F=15.269 dan terdapat pengaruh yang signifikan dari jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) terhadap memori dengan nilai ρ = 0.000 (ρ < 0.05) dan nilai F=30.668. Namun, tidak ada efek interaksi yang signifikan dari jenis coding dan jenis kelamin terhadap memori yang terlihat dari nilai ρ = 0.138 (ρ > 0.05) dan nilai F=2.203.

Kata kunci : memori jangka pendek, kebisingan, warna, kepribadian ekstrovert dan introvert

(5)

The effect of noise and colour toward short-term memory in term of dimension of personality extrovert and introvert

Jerry dan Etty Rahmawati ABSTRACT

Mental health in gay man is important thing to determine, because sexual orientation homosexual is one of risk factor for having low mental health and suffer mental disorder. Beside it, mental health problem is affected by the culture where the peoples lived. The culture of Indonesia stressed, reject, stigmatized, condemn and forbidden homosexuality. But, in another point the culture in Indonesia especially in Medan also stressed religious value so mental health in gay man is affected by the two phenomenon above.

The aim of this research is to investigate the difference mental health in gay man based on frequency of religious behavior and how big are the effect of religious behavior on to mental health in gay man. The number of the sample in this research are 114 peoples whose identified them self as a gay and lived in Medan. Statistic technique that used in this research is parametric independent t-test.

Based on the out come this research, there is a significancy difference mental health in gay man based on frequency of religious behavior (t = 17.136) and significancy 0.000. It means that mental health in gay man in high religious behavior group is higer than in low religious behavior group. Gay man in high religious behavior group have mean score 231.22, and the mean score in gay man in low religious behavior group is 148.59. This research also to search the effect of religious behavior on to mental health in gay man. Based on computational earned that r2 = 0.96. It means that 96% religious behavior give effect on to mental health in gay man in Medan.

(6)

KATA PENGANTAR

Termulia, termasyur dan terpujilah Allah Tritunggal (Allah Bapa, Allah

Anak, dan Allah Roh Kudus) sumber kebenaran, hikmat, ilmu pengetahuan,

kehidupan, pusat peradaban hidup manusia dan sumber segala kebijaksanaan dan

kebajikan. Sedikit dari kebenaran dan ilmu pengetahuan yang Tuhan percayakan

untuk kupikirkan dan kuselidiki, terimalah ini sebagai persembahanku dan

layakkanlah ini di hadapanMU ya Tuhanku. Terima kasih ya Tuhanku, akar dan

batang kehidupanku, dari pikiran, jiwa, dan batinku yang amat teramat dalam, aku

mencintaiMU ya Tuhanku.

Penghargaanku yang terdalam kepada orang-orang yang Tuhan

percayakan mengisi hidupku. Terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. dr. Chairul Yoel, Sp.A (K) sebagai Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara.

2. Kedua Orangtuaku tercinta, Engkaulah Inspirasiku, kekuatanku,

kebanggaanku, kebahagiaanku, membuat aku merasa memiliki dunia ini,

sumber percaya diriku, sumber semangatku, membuatku optimis

menghadapi gelombang hidupku Papa dan Mamaku. Detak jantungmu,

aliran darahmu, cucuran keringatmu mengalir dalam lautan jiwaku, dalam

radiks pikiranku, dalam alam emosi dan batinku yang paling dalam. Aku

sungguh teramat mencintaimu dan menghormatimu Papa dan Mamaku.

3. Ibu Josetta M.R.T, M.Si, Psikolog dosen favorit dan dosen pembimbing

(7)

untuk semua hal yang telah ibu berikan selama membimbing saya

menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk saran, kesabaran, waktu,

”ketajaman” ibu, komentar, dukungan dan perhatian yang ibu curahkan

untuk saya Ibu.

4. Ibu Etty Rahmawati, M.Si buat semua kesabaran, bimbingan, motivasi

yang dapat menginspirasiku. Terimakasih atas waktu dan kesediaannya

untuk memberi masukan, bimbingan dan perbaikan yang diberikan tentang

skripsi ini.

5. Ibu Rodiatul Hasanah Siregar, M.Si selaku dosen pembimbing akademik

sekaligus dosen penguji penulis. Terima kasih banyak ya Ibu atas

dukungan ibu selama perkuliahan.

6. Pak Eka Danta Ginting, M.A, Terima kasih banyak ya pak, buat

kesediaannya membimbing dan menguji saya ya pak.

7. Pak Ev. Radjali, M.div. Gembala Gereja Reformed Injili Indonesia Medan

(GRII). Buat kotbah dan teladan Bapak yang luar biasa. Pelayanan dan

ketajaman kotbah bapak yang filosofis, intelek, tajam, dan mudah dicerna

yang banyak mempengaruhi pemikiran dan kehidupanku. Tuhan

senantiasa bermurah hati menyertai segala kehidupan Bapak.

8. Kak juli, M.Psi. Terimakasih banyak atas semua bimbingan dan masukan

kakak yang amat sangat berarti buatku kak.

9. Adik-adikku tercinta, sumber bahagiaku, yang selalu mendukungku dan

(8)

doamu adekku. Aku bangga padamu. Terima kasih juga untuk adekku

Mawati Tambunan buat perhatian dan doa-doamu adekku.

10.Kakak ku Merdi Tambunan, Jenny Tambunan, abangku H. Sitanggang.

Terima kasih buat semua doa dan dukungannya.

11.Teman-temanku yang kusayangi dan yang kukasihi, Sondang Petronica

Sipayung (F .Psi 06) terima kasih ya Dang temanku, Jerry (F. Psi 06)

terimakasih ya Jer teman kandungku, buat semua the spirit of togetherness

kita, Ivi Vanessa (F .Psi 06) terima kasih atas kebersamaan kita selalu ya,

kita selalu senasib dan sepenanggungan, Ria Mora (F.Psi 06) buat

printernya ya Ria, Devi (F.Psi 06) buat kebersamaannya juga,

diskusi-diskusinya dan kesipitan matamu, R. D. Tiopan Napitupulu (FK USU 08)

buat printernya ya anggikku.

12.Untuk orang-orang yang membantu penulis menjarah subjek penelitian

saya, untuk Dermika (F.Psi 07), Kiky (F.Psi 07), Ade Mayang Kara (F.Psi

06), Winda D.J Pratiwi (F.Psi 06), Siti Khairina (F.Psi 06), Christy (F.Psi

07), Amel (F.Psi 07), Dini (F.Psi 09), Kia (FE Harapan), L (FISIP USU),

K (FK USU), Ala (FK USU), M (FT USU), B (F. Pertanian USU), Ketua

Sempurna Community, Uzie (FE USU), dan khusus untuk Kholis buat

pengorbanannya menemani peneliti sampai pagi hari ke bar-bar, memplas,

hotel-hotel, terima kasih pengorbanan dan ketulusanmu.

13.Untuk semua subjek penelitianku yang namanya tidak dapat saya sebutkan

(9)

14.Untuk teman-temanku yang membantu saya tabulasi data penelitian, Berto

(FT Polmed), Debbie (FISIP 06), Dessie (F. Sastra 06), Eni Dora Sipayung

(SMA Santhomas 1), Wesley (F. MIPA USU 06), Lider Olmen (FK USU

08).

15.Terima kasih untuk teman-temanku tercinta yang sabar membantuku

Oppon Buter-Butar (Alumni Polmed ’05), Verawaty (Alumni FE USU

’05). Terima kasih ya fren buat semuanya.

16.Untuk pak Aswan, Bang Sono, Yossie (F. Psi ’08). Terima kasih banyak

buat labtobnya ya Yos. Untuk teman-temanku anak psikologi angkatan

2006, dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Medan, Juni 2010

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

2. Manfaat Praktis

E. Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kesehatan Mental

1. Definisi Kesehatan Mental

2. Dimensi Kesehatan Mental

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

a. Biologis

b. Psikologis

c. Sosial Budaya

d. Lingkungan

B. PERILAKU RELIGIUS

1. Definisi Perilaku Religius

2. Jenis-Jenis Perilaku Religius

a. Berdoa

(11)

c. Praktik Religius

d. Social Behavior, Group and Norms

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku religius

C. Gay

D. Perbedaan Kesehatan Mental Pada Gay Berdasarkan Frekuensi Perilaku

Religius

E. Hipotesa Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

C. Populasi Dan Metode Pengambilan Sampel

1. Populasi dan Sampel

2. Metode Pengambilan Sampel

3. Jumlah Sampel Penelitian

D. Instrumen / Alat Ukur Yang Digunakan

E. Validitas Dan Reliabilitas Alat Ukur

1. Uji Validitas

2. Uji Daya Beda Aitem

3. Reliabilitas

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur

G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

1. Tahap persiapan Penelitian

a. Penyusunan Aitem Alat Ukur

b. Uji Coba Alat Ukur

c. Penyusunan Alat Ukur Penelitian

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

3. Tahap Pengolahan Data

H. METODE ANALISIS DATA

1. Uji Normalitas

(12)

BAB IV ANALISA DAN INTERPRETASI DATA

A. Gambaran Umum Subjek Penelitian

1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Agama

3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjaan

B. Hasil Penelitian

1. Hasil Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

b. Uji Homogenitas

2. Hasil Utama Penelitian

a. Uji Komparasi

b. Pengaruh Perilaku Religius terhadap Kesehatan Mental

3. Hasil Tambahan

a. Kategorisasi Data Penelitian Kesehatan Mental

b. Gambaran Kesehatan Mental pada Gay Berdasarkan Perilaku

Religius

c. Gambaran Kesehatan Mental pada Gay Berdasarkan Jenis

Perilaku Religius

C. Diskusi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran

1. Saran Metodologis

2. Saran Praktis

DAFTAR PUSTAKA

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Cara Penilaian Skala Kesehatan Mental

Tabel 2.Blue Print Skala Kesehatan Mental Sebelum Uji Coba Tabel 3. Cara Penilaian Skala Perilaku Religius

Tabel 4.Blue Print Skala Perilaku Religius Sebelum Uji Coba

Tabel 5. Distribusi Aitem-Aitem Skala Kesehatan Mental Setelah Uji Coba Tabel 6. Perubahan Nomor Skala Kesehatan Mental Setelah Uji Coba Tabel 7. Distribusi Aitem-Aitem Skala Perilaku Religius Setelah Uji Coba Table 8. Perubahan Nomor Skala Perilaku Religius Setelah Uji Coba Tabel 9. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Tabel 10. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Agama Tabel 11. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 12. Deskripsi Umum Skor Maksimum, Minimum, Mean¸dan Standar Deviasi Skor Perilaku Religius

Tabel 13. Pengkategorian Subjek ke Dalam Kelompok Gay Berperilaku Religius dan Kelompok Gay yang Tidak Berperilaku Religius Berdasarkan

Fluktuasi Skor

Tabel 14. Penggolongan Subjek ke dalam Kelompok Gay Berperilaku Religius dan Kelompok Gay Tidak Berperilaku Religius

Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Pada Skor Kesehatan Mental Tabel 16. Hasil Uji Homogenitas Pada Skor Kesehatan Mental Tabel 17. Hasil Analisa t-test Kesehatan Mental

Tabel 18. Hasil Analisa Perbedaan Skor Kesehatan Mental Pada Kelompok Gay

Berperilaku Religius dan Tidak Berperilaku Religius

Tabel 19. Deskripsi Umum Skor Maksimum, Minimum, Mean¸ dan Standar Deviasi Kesehatan Mental

Tabel 20. Kategorisasi Norma Skor Kesehatan Mental

(14)

Tabel 22. Gambaran Kesehatan Mental pada Gay Berdasarkan Perilaku Religius

Tabel 23. Deskripsi Perilaku Religius

(15)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Rentang Usia Diagram 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Agama yang Dianut Diagram 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjan

Diagram 4. Kategori Kesehatan Mental

Diagram 5. Kategori Subjek ke dalam Kelompok Gay Berperilaku Religius dan Tidak Berperilaku Religius

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Uji Coba Skala Kesehatan Mental Lampiran 2. Hasil Uji Coba Skala Perilaku Religius

Lampiran 3. Skor Masing-Masing Subjek dalam Skala Kesehatan Mental Lampiran 4. Skor Masing-Masing Subjek dalam Skala Perilaku Religius Lampiran 5. Hasil Uji Normalitas pada Skala Kesehatan Mental

Lampiran 6. Hasil Uji Homogenitas pada Skala Kesehatan Mental

Lampiran 7. Hasil Uji Komparasi dengan Menggunakan Independent t-test Lampiran 8. Hasil Analisis Deskriptif Data Kesehatan Mental

Lampiran 9. Hasil Analisis Deskriptif Data Perilaku Religius Lampiran 10. Skala Kesehatan Mental

(17)

Pengaruh Kebisingan dan Warna terhadap Ingatan Jangka Pendek ditinjau dari Dimensi Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

Jerry dan Etty Rahmawati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kebisingan dan warna terhadap ingatan jangka pendek ditinjau dari dimensi kepribadian Ekstrovert dan Introvert. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 80 orang yang berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara angkatan 2008 dan 2009.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan

factorial. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa Sutomo 2 dengan jumlah 442 orang. Reliabilitas penelitian ini menggunakan pendekatan internal consistency dengan teknik KR-20. Berdasarkan hasil pengolahan data, didapat koefisien KR-20 sebesar 0.694.

Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan teknik two ways analysis of variance (ANOVA). Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh pengaruh yang signifikan dari jenis coding (stimulus verbal dan mental imagery) terhadap memori dengan nilai ρ = 0.000 (ρ < 0.05) dan nilai F=15.269 dan terdapat pengaruh yang signifikan dari jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) terhadap memori dengan nilai ρ = 0.000 (ρ < 0.05) dan nilai F=30.668. Namun, tidak ada efek interaksi yang signifikan dari jenis coding dan jenis kelamin terhadap memori yang terlihat dari nilai ρ = 0.138 (ρ > 0.05) dan nilai F=2.203.

Kata kunci : memori jangka pendek, kebisingan, warna, kepribadian ekstrovert dan introvert

(18)

The effect of noise and colour toward short-term memory in term of dimension of personality extrovert and introvert

Jerry dan Etty Rahmawati ABSTRACT

Mental health in gay man is important thing to determine, because sexual orientation homosexual is one of risk factor for having low mental health and suffer mental disorder. Beside it, mental health problem is affected by the culture where the peoples lived. The culture of Indonesia stressed, reject, stigmatized, condemn and forbidden homosexuality. But, in another point the culture in Indonesia especially in Medan also stressed religious value so mental health in gay man is affected by the two phenomenon above.

The aim of this research is to investigate the difference mental health in gay man based on frequency of religious behavior and how big are the effect of religious behavior on to mental health in gay man. The number of the sample in this research are 114 peoples whose identified them self as a gay and lived in Medan. Statistic technique that used in this research is parametric independent t-test.

Based on the out come this research, there is a significancy difference mental health in gay man based on frequency of religious behavior (t = 17.136) and significancy 0.000. It means that mental health in gay man in high religious behavior group is higer than in low religious behavior group. Gay man in high religious behavior group have mean score 231.22, and the mean score in gay man in low religious behavior group is 148.59. This research also to search the effect of religious behavior on to mental health in gay man. Based on computational earned that r2 = 0.96. It means that 96% religious behavior give effect on to mental health in gay man in Medan.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

III. A. Latar Belakang Masalah

Aktivitas-aktivitas keseharian yang dilakukan oleh manusia membutuhkan

ingatan. Hampir semua aktivitas yang kita lakukan dimulai dari yang paling

sederhana sampai yang paling kompleks melibatkan ingatan. Dengan kata lain,

ingatan memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Berbagai usaha

ditempuh oleh manusia untuk memaksimalkan ingatannya. Mencatat sesegara

mungkin materi kuliah yang diterangkan dosen pada catatan, menggunakan

penanda warna pada buku teks merupakan berbagai upaya memaksimalkan

ingatan yang dilakukan oleh individu yang kuliah di perguruan tinggi.

Usaha-usaha ini ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Beberapa diantaranya

berhasil karena usaha yang diterapkan efektif untuk memaksimalkan ingatan dan

beberapa diantaranya gagal.

Atkinson & Shrifin (1968, dalam Reed 2007) mengatakan bahwa

informasi yang diterima dan disimpan dalam ingatan jangka pendek ini sangat

rapuh, dan apabila informasi ini tidak diulang dalam jangka waktu 30 detik, maka

informasi yang telah diterima akan hilang. Kenyataannya, informasi yang diterima

terkadang tidak sampai 30 detik lamanya sudah menghilang. Hilangnya informasi

yang telah kita terima dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor

tersebut yaitu pengaruh lingkungan.

(20)

suara. Sebagian adalah suara-suara alamiah seperti suara angin mendesir,

gemercik air, atau guntur. Sebagian lagi adalah suara-suara buatan seperti bunyi

mesin mobil, alat musik, dan teriakan. Sarwono (1995) mengatakan selama

gelombang-gelombang suara tersebut tidak dirasakan mengganggu manusia maka

disebut sebagai bunyi (voice) atau suara (sound). Apabila gelombang-gelombang

suara itu dirasakan mengganggu manusia maka disebut kebisingan (noise).

Bell (2005) mendefinisikan kebisingan sebagai suara-suara yang tidak

diinginkan. Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi kita dalam melakukan

berbagai aktivitas, misalnya belajar. Sebagian orang yang dihadapkan pada

kebisingan masih mampu berkonsentrasi pada materi yang dipelajari, dan

sebagian lagi tidak mampu berkonsentrasi akhirnya tidak mampu mengingat

materi yang telah dipelajari untuk menjawab soal ketika ujian tiba. Kenyataannya,

bagi sebagian orang kebisingan ini tidak mengganggu mereka. Lebih lanjut, Bell

(2005) mengatakan bahwa terdapat 2 sifat kebisingan, yaitu : subjektif dan

psikologis. Dikatakan subjektif karena sangat tergantung pada individu yang

bersangkutan, misalnya mengerjakan tugas kuliah dengan kondisi yang bising

atau kondisi yang tenang. Dikatakan psikologis karena kebisingan merupakan

stres tambahan ketika kita dihadapkan dalam suatu aktivitas, misalnya belajar.

Jadi, kebisingan bisa saja tidak mengganggu dan mengganggu karena adanya 2

sifat ini. Fenomena mengenai kebisingan ini dijumpai berdasarkan wawancara

dengan sejumlah mahasiswa-mahasiswi Fakultas Psikologi USU. Berikut

penggalan wawancara dengan D (19 tahun) mahasiswa Fakultas Psikologi USU

(21)

Tidak ada masalah bang kalau ribut, di kos juga ribut, ya tergantung kita lah bang. Ada keinginan pasti bisa belajar bang.

(Wawancara personal, 28 Juli 2009)

Menurut C (19 tahun) mahasiswi Fakultas Psikologi USU :

Bisa la belajar.. Kalo keinginan belajar kuat, asal jangan tergoda lingkungan sekitar.

(Wawancara personal, 30 Juli 2009)

Menurut NS (19 tahun) mahasiswi Fakultas Psikologi USU :

Mana bisa belajar kalau ribut.. sikit bising aja uda g bisa masuk ke otak..

(Wawancara personal, 6 Agustus 2009)

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara personal terhadap 3

mahasiswa-mahasiswi Fakultas Psikologi USU, maka dapat dikatakan kebisingan

yang dipersepsikan oleh ke-3 responden merupakan hal yang subjektif. Artinya,

tidak ada batasan yang jelas apakah hal ini mengganggu atau tidak mengganggu

performansi. Kjellberg (1996, dalam Furnham 2002) mengatakan bahwa

kebisingan adalah sumber stres dan memberikan pengaruh negatif ketika

dihadapkan pada tugas kognitif. Hockey, Smith, dan Stansfield (1986, dalam Bell

2005) mengatakan bahwa kebisingan dapat mengurangi pemahaman mengenai

wacana yang dibaca. Penelitian Evans dan Johnson (2000) menemukan bahwa

individu tidak dapat memecahkan tugas menyusun puzzle dengan benar ketika

dihadapkan pada sumber kebisingan.

Data wawancara terhadap mahasiswa-mahasiswi psikologi Universitas

Sumatera Utara yang melibatkan 40 sampel dari angkatan 2006, 2007, 2008, dan

2009 menunjukkan bahwa 42.5% dapat belajar pada kondisi bising dan 57.5%

terganggu ketika belajar pada kondisi bising. Penelitian terdahulu menunjukkan

(22)

dipengaruhi oleh dimensi kepribadian. Seperti yang dijelaskan oleh Auble &

Britton (1958 dalam Bell, 2005) bahwa individu introvert lebih terpengaruh pada

kebisingan dalam hal mengerjakan tugas. Individu ekstrovert lebih tidak

terpengaruh oleh kebisingan dibandingkan dengan individu introvert. Individu

ekstrovert dapat menunjukkan tingkat performansi yang lebih baik jika bekerja

dalam kondisi yang bising. Penelitian Campbell, Dornic, dan Ekehammar (1990,

dalam Bell 2005) menunjukkan bahwa individu yang ekstrovert cenderung

memilih setting kerja yang bising. Lieberman dan Rosenthal (2001, dalam Gray &

Braver 2002) menunjukkan bahwa tingginya tingkat ekstroversi diasosiasikan

dengan ingatan jangka pendek yang lebih baik.

Data wawancara singkat mengenai kebisingan juga didukung oleh

observasi langsung. Ruangan kuliah Psikologi USU yang berukuran 25m x 8m

tergolong cukup besar untuk dilangsungkan perkuliahan. Tampilan slide

presentasi berdasarkan observasi selama 1 minggu berturut-turut menemukan

bahwa 6 dari 10 mata kuliah menayangkan slide presentasi yang silau, warna yang

buram sehingga membuat mahasiswa-mahasiswi tidak mampu melihat isi slide

dengan baik, ditambah lagi dengan kebisingan yang diakibatkan oleh konstruksi

bangunan dan suara berisik di kelas (observasi pada tanggal 20 November – 2

Desember 2009). Selain kebisingan dan dimensi kepribadian, banyak

variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi ingatan manusia, diantaranya adalah

warna. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Spence (2006 dalam Huchendorf,

2007), warna dapat meningkatkan rekognisi mengenai pemandangan alamiah

(23)

menghadirkan 3 jenis warna latar belakang pada tampilan slide presentasi dan

meminta partisipan untuk menuliskan kembali kata-kata yang mereka ingat pada

slide presentasi. Eksperimen McConnohie menunjukkan bahwa warna latar

belakang yang terkesan tenang, yaitu warna biru dan hijau membuat partisipan

sedikit lebih mengingat konten slide dibandingkan dengan warna latar belakang

putih. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat sensitivitas (arousal). Warna yang lebih

terang cenderung membuat sensitivitas individu menjadi lebih tinggi

dibandingkan warna yang gelap (McConnohie dalam Huchendorf, 2007).

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada paragraf-pararaf

sebelumnya, terdapat pengaruh kebisingan, warna, dan dimensi kepribadian

terhadap ingatan. Dalam rancangan eksperimen ini, akan dilihat apakah individu

yang memiliki dimensi kepribadian ekstrovert memiliki ingatan yang lebih baik

dibandingkan individu dengan dimensi kepribadian introvert jika dihadapkan pada

kebisingan dan warna.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan dalam beberapa pertanyaan

penelitian sebagai berikut:

1. Seberapa besar pengaruh kebisingan terhadap ingatan jangka pendek?

2. Seberapa besar pengaruh dimensi kepribadian terhadap ingatan jangka

pendek?

3. Seberapa besar pengaruh warna terhadap ingatan jangka pendek?

(24)

dari dimensi kepribadian ekstrovert dan introvert?

5. Seberapa besar pengaruh warna terhadap ingatan jangka pendek ditinjau dari

dimensi kepribadian ekstrovert dan introvert?

6. Seberapa besar pengaruh warna dan kebisingan terhadap ingatan jangka

pendek?

7. Seberapa besar pengaruh kebisingan, dimensi kepribadian, dan warna terhadap

ingatan jangka pendek?

IV. C. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah melihat seberapa besar pengaruh

kebisingan dan warna terhadap ingatan jangka pendek ditinjau dari dimensi

kepribadian ekstrovert dan introvert.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi

wahana perkembangan ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Eksperimen,

Psikologi Lingkungan, dan Psikologi Kognitif. Selain itu, penelitian ini

merupakan penelitian pertama yang menyangkut masalah Ergonomi, khususnya

mengenai kebisingan di Fakultas Psikologi USU. Dengan adanya penelitian ini,

diharapkan adanya pengembangan dalam penelitian di bidang Ergonomi

(25)

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat :

a. Memberikan informasi bahwa kebisingan dapat mempengaruhi performansi

tugas mahasiswa kepada akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum.

b. Memberikan informasi tambahan kepada mahasiswa, akademisi, praktisi,

maupun masyarakat umum bahwa pemberian warna pada tampilan slide

presentasi dapat mempengaruhi ingatan, sehingga dapat digunakan strategi

yang tepat untuk memberdayakan ingatan.

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan yang disusun dalam penelitian ini adalah :

Bab I : Pendahuluan

Bab ini menjelaskan latar belakang masalah penelitian, pertanyaan penelitian,

tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II : Landasan Teori

Bab ini memuat tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam pembahasan

masalah.

Bab III : Metode Penelitian

Pada bab ini dijelaskan mengenai rumusan pertanyaan penelitian, identifikasi

variabel penelitian, definisi operasional, populasi dan metode pengambilan

(26)

Bab IV : Analisa dan Interpretasi Data Penelitian

Bab ini memuat tentang pengolahan data penelitian, gambaran umum subjek

penelitian, hasil penelitian dan juga membahas data-data penelitian dari teori

yang relevan.

Bab V : Kesimpulan, Diskusi, dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari penelitian, hasil penelitian, serta

saran-saran yang diperlukan, baik untuk penyempurnaan penelitian ataupun

(27)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Ingatan

1. Definisi Ingatan

Secara sederhana, Irwanto (1999) mendefinisikan ingatan sebagai

kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa

yang akan datang. Galotti (2004) mendefinisikan memori sebagai suatu proses

kognitif yang terdiri atas serangkaian proses, yakni : penyimpanan (storage),

retensi, dan pengumpulan informasi (information gathering). Sebagai suatu

proses, memori menunjukkan suatu mekanisme dinamik yang diasosiasikan

dengan penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan

kembali (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lalu (Bjorklund,

Schneider, & Hernández Blasi, 2003; Crowder, 1976, dalam Stenberg, 2006).

Santrock (2005) mendefinisikan ingatan sebagai retensi informasi yang telah

diterima melalui tahap : penkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan

pemanggilan kembali (retrieval). Penelitian ini menggunakan definisi ingatan

menurut Santrock, yaitu informasi-informasi yang berasal dari lingkungan dan

informasi ini akan diproses melalui tahapan : penkodean, penyimpanan, dan

pemanggilan kembali sehingga informasi yang masuk tidak terbuang secara

sia-sia.

(28)

2. Jenis-jenis Ingatan

Atkinson & Shriffin (1968, dalam Passer & Smith 2007; Lahey, 2007;

Reed, 2007) mengembangkan suatu tahapan ingatan yang dikenal dengan

Three-Stage Model of Memory yang membagi ingatan manusia atas 3 komponen utama,

yaitu :

a. Ingatan Sensori (Sensory Memory)

Proses penyimpanan ingatan melalui jalur saraf-saraf sensori yang berlangsung

dalam waktu yang pendek. Informasi yang diperoleh melalui panca indera

(penglihatan, perabaan, penciuman, pendengaran, dan pengecapan) hanya

mampu bertahan selama 1 atau 2 detik (Brown, 1987). Pernyataan ini didukung

oleh Rathus (2007), yang menyatakan bahwa informasi yang pertama kali kita

terima dari lingkungan dan diperoleh melalui panca indera hanya mampu

bertahan 1 detik. Informasi yang diterima dengan indera penglihatan hanya

mampu bertahan seperempat detik (Santrock, 2005).

b. Ingatan Jangka Pendek (Short Term Memory)

Suatu proses penyimpanan ingatan sementara. Ingatan jangka pendek disebut

juga working memory karena informasi yang disimpan hanya dipertahankan

selama informasi masih diperlukan. Jika informasi tidak diulang kembali dalam

kurun waktu 30 detik, maka informasi pada ingatan jangka pendek akan

menghilang (Santrock, 2005).

c. Ingatan Jangka Panjang (Long Term memory)

Suatu proses penyimpanan informasi yang relatif permanen. Reed (2007)

(29)

1) Ingatan Prosedural (Procedural Memory)

Ingatan akan tindakan, keterampilan, dan operasi yang telah dipelajari,

misalnya, individu mengetahui cara untuk bersepeda walaupun ia telah lama

tidak bersepeda.

2) Ingatan Semantik (Semantic Memory)

Ingatan yang berisi pengetahuan umum mengenai makna suatu hal, misalnya,

individu mengetahui makna kata “terbang”.

3) Ingatan Episodik (Episodic Memory)

Ingatan akan kejadian maupun pengalaman yang spesifik, mengetahui kapan

dan di mana kejadian maupun pengalaman tersebut terjadi, misalnya,

individu mengetahui kapan dan di mana ia melangsungkan pernikahannya

walaupun kejadian tersebut telah berlalu 20 tahun.

Lahey (2007) menggolongkan ingatan semantik dan episodik ke dalam

ingatan deklaratif (declarative memory). Secara ringkas, pembagian ingatan

(30)

Gambar 1. Jenis Ingatan Jangka Panjang

3. Tahapan Mengingat

Santrock (2005) menyatakan bahwa ada 3 tahapan dalam proses

mengingat yaitu:

a. Penkodean

Proses pengubahan informasi menjadi simbol-simbol atau

gelombang-gelombang listrik tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada

organismo.

Long Term Memory

Declarative Memory

Episodic Memory Semantic

Memory

(31)

1) Penkodean dalam Ingatan Sensori

Pada saat melihat sesuatu atau telinga mendengar sesuatu,

informasi dari indera-indera akan diubah dalam bentuk impuls-impuls

neural dan dihantar ke bagian tertentu di otak. Proses ini berlangsung

dalam waktu sepersekian detik. Sinar yang mengenai retina diterima oleh

reseptor-reseptor yang ada kemudian sinar tersebut ditransformasikan

bentuknya ke dalam impuls-impuls neural dan dikirim ke otak.

2) Penkodean dalam Ingatan Jangka Pendek

Informasi yang masuk melalui indera dan disimpan dalam ingatan

sensori dapat dianggap sebagai bahan mentah yang jumlahnya banyak

sekali. Jumlah yang banyak itu akan diseleksi menurut beberapa cara

dalam control proceses (proses-proses pengendalian). Pertama, informasi

yang masuk akan dirujukkan ke gudang informasi dalam ingatan jangka

panjang. Pada ingatan jangka panjang, pola-pola informasi yang masuk

dibandingkan dengan pola-pola yang telah ada sebelumnya. Dengan

demikian, akan terpilih informasi yang sudah dikenal atau yang

mempunyai makna. Kedua, mekanisme lain yang digunakan untuk

menyeleksi informasi adalah attention (perhatian). Perhatian ini menyaring

informasi yang masuk ke dalam ingatan jangka pendek sehingga hanya

sebagian kecil yang boleh lewat.

3) Penkodean dalam Ingatan Jangka Panjang

Penkodean dalam ingatan jangka panjang terbagi 2, yaitu : ingatan

(32)

memory). Ingatan deklaratif terbagi menjadi2 lagi, yaitu : ingatan semantik

(semantic memory) dan ingatan epsodik (episodic memory).

Ingatan semantik adalah ingatan mengenai makna suatu benda,

sedangkan ingatan episodik adalah ingatan mengenai

pengalaman-pengalaman spesifik pada waktu dan tempat tertentu (dalam Lahey, 2007).

Ingatan prosedural bisa didefinisikan sebagai ingatan mengenai

keterampilan motorik yang telah dipelajari.

b. Penyimpanan

Informasi yang telah dibubah akan dipertahankan pada tahap

penyimpanan. Penyimpanan adalah suatu proses mengendapkan atau

menyimpan informasi yang diterima dalam suatu tempat tertentu. Penyimpanan

ini sudah sekaligus mencakup kategorisasi informasi sehingga tempat informasi

disimpan sesuai dengan kategorinya.

Penyimpanan informasi merupakan mekanisme penting dalam ingatan.

Sistem penyimpanan ini sangat mempengaruhi jenis ingatan yang akan

diperagakan oleh organisme.

1) Penyimpanan dalam Ingatan Sensori

Ingatan sensori mempunyai kapasitas penyimpanan informasi yang sangat

besar, tetapi informasi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa informasi yang disimpan dalam

ingatan sensori akan mulai menghilang setelah sepersepuluh detik dan

hilang sama sekali dalam satu detik (dalam Irwanto, 1999). Mekanisme

(33)

dengan ingatan seperti inilah kita bisa menaruh perhatian pada sejumlah

kecil informasi yang relevan terhadap hidup kita.

2) Penyimpanan dalam Ingatan Jangka Pendek

Kapasitas dalam ingatan jangka pendek sangat terbatas untuk menyimpan

sejumlah informasi dalam jangka waktu tertentu. Rathus (2007)

menyatakan jika informasi yang diterima setelah 10 sampai 12 detik tidak

diulangi, maka informasi tersebut akan hilang.

3) Penyimpanan dalam Ingatan Jangka Panjang

Kapasitas ingatan jangka panjang sangat besar. Hal ini memungkinkan

penyimpanan informasi yang luar biasa banyaknya yang diperoleh

sepanjang hidup organisme. Meskipun demikian, ingatan masih bekerja

sangat efisien yaitu dengan jalan mengorganisasikan informasi yang

diterima dari ingatan jangka pendek. Reorganisasi ini erat hubungannya

dengan proses retrieval atau proses mengingat kembali informasi yang

telah disimpan. Lahey (2007) membedakan 3 metode dalam menguji

retrieval dalam ingatan jangka panjang, yaitu :

i) Metode Mengingat Kembali (Recall Method)

Pengukuran ingatan berdasarkan pada kemampuan untuk

mengingat kembali informasi dengan beberapa petunjuk.

ii) Metode Rekognisi (Recognition Method)

Pengukuran ingatan berdasarkan pada kemampuan untuk memilih

informasi yang benar dari pilihan yang disediakan.

(34)

Pengukuran kembali ingatan berdasarkan pada waktu yang

dibutuhkan untuk mempelajari kembali (relearn) materi yang

dilupakan.

c. Pemanggilan Kembali

Proses mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan

menemukan informasi yang disimpan dalam ingatan untuk digunakan kembali

bila diperlukan.

4. Proses Masuknya Informasi ke Sistem Ingatan Manusia

Atkinson & Shriffin (1968, dalam Reed 2007) menjelaskan bagaimana

informasi dari luar masuk ke ingatan manusia :

Gambar 2. Proses masuknya informasi dari luar ke sistem ingatan manusia

Figur di atas menjelaskan bahwa informasi dari luar pertama kali masuk ke

ingatan sensori, ingatan sensori ini sangat mudah hilang karena kapasitasnya yang Sensory

Register

Short Term Memory

Output Information

Retrieval

Forgetting Forgetting LongTerm

(35)

sedikit. Indera-indera yang bekerja untuk menangkap informasi yang banyak akan

mengakibatkan terjadinya kelupaan. Informasi yang dianggap relevan dan penting

bagi individu akan diteruskan dan masuk ke ingatan jangka pendek. Ingatan

jangka pendek juga memiliki kapasitasnya sendiri, yaitu sekitar 30 detik

(Santrock, 2005) dan apabila informasi yang dianggap relevan dan penting bagi

individu ini tidak diulang maka informasi tersebut dapat hilang, atau informasi

tersebut dilupakan. Informasi yang berhasil masuk ke ingatan jangka pendek akan

diteruskan ke ingatan jangka panjang, ingatan jangka panjang merupakan tempat

penyimpanan informasi yang relatif permanen (Lahey, 2007).

5. Kelupaan

Terdapat empat teori utama yang menjelaskan kelupaan pada seseorang

(dalam Lahey, 2007), yaitu :

a. Decay Theory

Menurut teori ini, ingatan yang tidak digunakan memudar atau mulai hilang

seiring waktu. Waktu yang berjalan menyebabkan lupa, baik dalam ingatan

sensori maupun ingatan jangka pendek. Lupa tampaknya tidak terdapat pada

ingatan jangka pendek karena tidak digunakan seiring berjalannya waktu tetapi

karena faktor-faktor lain, terutama gangguan-gangguan luar, misalnya, kebisingan

b. Interference Theory

Teori ini didasarkan pada bukti kuat bahwa lupa pada ingatan jangka pendek tidak

terjadi karena berjalannya waktu, namun ingatan lain mengganggu pengambilan

(36)

1) Gangguan Proaktif (Proactive Interference)

Gangguan yang dibentuk oleh pembelajaran sebelumnya (prior learning),

misalnya, kita diberikan 2 nomor untuk diingat, yaitu nomor A dan nomor B.

Nomor B akan terganggu ketika kita berusaha mengingat kembali karena

terinterferensi oleh nomor A.

2) Ganguan Retroaktif (Retroactive Interference)

Gangguan yang ditimbulkan oleh pembelajaran kemudian (later learning),

misalnya, kita diberikan 2 nomor untuk diingat, yaitu nomor A dan nomor B.

Nomor A akan terganggu ketika kita berusaha mengingat kembali karena

terinterferensi oleh nomor B.

c. Reconstruction (Schema) Theory

Teori ini menyatakan bahwa informasi yang disimpan dalam ingatan jangka

pendek tidak dilupakan seutuhnya, tetapi terkadang diingat kembali dengan cara

yang menyimpang dan tidak tepat.

d. Motivated Forgetting

Teori ini menyatakan bahwa kita cenderung berusaha melupakan hal-hal yang

tidak menyenangkan. Hal-hal yang mengancam, menyakitkan, dan tidak

menyenangkan cenderung ditekan atau tidak diperbolehkan muncul dalam

(37)

B. Kebisingan

1. Definisi Kebisingan

Menurut batasan WHO (dalam Bell, 2005), kebisingan adalah suara-suara

yang tidak dikehendaki oleh karena itu kebisingan sangat mengganggu aktivitas

kehidupan. Kebisingan adalah sesuatu yang sifatnya subjektif dan psikologis.

Dikatakan subjektif karena sangat bergantung pada orang yang bersangkutan,

misalnya suara bercakap-cakap di dalam bioskop yang mengganggu sebagian

orang, namun suara ribut di suatu pasar bukanlah masalah bagi orang

disekelilingnya.

Beberapa jenis suara dapat lebih mengganggu daripada yang lain, suara

yang keras lebih sering mengganggu daripada bunyi pelan karena itu suara dapat

menjadi gangguan yang sangat tidak diinginkan. Hal ini secara psikologis dapat

mengganggu kondisi emosi seseorang sehingga dapat menjadi suatu masalah.

2. Karakteristik kebisingan yang dapat mengganggu

Tiga karakteristik kebisingan yang dapat mengganggu (dalam Bell, 2005)

adalah :

1. Volume

Semakin keras sumber kebisingan, semakin besar pengaruhnya dalam komunikasi

verbal dan semakin tinggi perhatian dan stres yang diasosiasikan dengan kerasnya

(38)

2. Predictability

Semakin tidak terprediksi sumber kebisingan, semakin besar perhatian yang kita

curahkan untuk memahami tugas yang kita lakukan.

3. PerceivedControl

Semakin lemah kontrol yang dapat kita lakukan terhadap kebisingan, maka

semakin sulit bagi kita untuk beradaptasi terhadap kebisingan.

3. Sumber Kebisingan

Kebisingan dapat berasal dari segala sesuatu yang menghasilkan bunyi

dan bersifat sangat subjektif tergantung situasi dan kondisi dan sensitivitas

pendengarnya. Dua setting umum dimana kebisingan dapat menjadi sebuah

masalah :

a. Transportation Noise

Keributan yang disebabkan oleh mobil, truk, kereta api, dan pesawat dan alat

transportasi yang lain merupakan alasan yang paling besar karena pertama, hal

tersebut sangat berkembang luas. Kedua, biasanya hal tersebut sangat bising.

b. Occupational Noise

Salah satu karakteristiknya adalah kebisingan ini sangat besar karena terdiri

dari banyak suara yang berbeda. Jika sangat ekstrim, hal ini dapat

mengakibatkan keributan yang dapat di-cover dan kondisinya dapat

ditoleransi, akan tetapi jika tidak demikian, hasil dari keributan ini menjadi

resistan untuk diadaptasi dan lebih mungkin untuk menyebabkan keributan

(39)

pada beberapa tempat sangat kuat. Hal penting lainnya menjadi sumber

keributan di derah perumahan adalah air conditioner.

4. Dampak Kebisingan

Bell (2005) menyatakan bahwa kebisingan dapat menyebabkan terjadinya

tinnitus. Tinnitus merupakan suatu simtom yang ditandai dengan adanya persepsi

suara di telinga manusia tanpa kehadiran stimulus eksternal. Hal ini diakibatkan

oleh ekspos yang berlebihan oleh suara. Kebisingan juga dapat menimbulkan

kesulitan sementara dan kesulitan permanen, kebisingan juga masih membawa

dampak negatif lain, seperti : gangguan komunikasi, efek pada pekerjaan, dan

reaksi masyarakat. Gangguan komunikasi mulai dirasakan apabila pembicaraan

harus dijalankan dengan berteriak. Gangguan komunikasi ini menyebabkan

terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin terjadi kesalahan.

Banyak jenis pekerjaan membutuhkan komunikasi, baik secara langsung

maupun lewat telepon. Intensitas kebisingan antara 50-55 dB saja menyebabkan

komunikasi melalui telepon terganggu dan rapat akan berjalan tidak memuaskan,

sedangkan intensitas di atas 55dB dapat dianggap sangat bising. Kebisingan juga

meningkatkan kelelahan. Pada pekerjaan yang menuntut banyak berpikir,

kebisingan sebaiknya ditekan serendah-rendahnya (Bell, 2005).

5. Hubungan Kebisingan dengan Ingatan

Kjelberg (1996) mengemukakan bahwa hanya terdapat studi yang terbatas

(40)

sumber stres dan berdampak negatif ketika dihadapkan pada tugas kognitif.

Schommalder (2001) melakukan interviu terhadap guru yang bertujuan melihat

stres kerja, 75% dari 1000 guru mengatakan bahwa sumber stres yang paling

fundamental adalah kebisingan. Kebisingan tidak hanya berdampak pada

kesejahteraan manusia namun juga pada performansi mental.

Hainse (2001) menunjukkan bahwa kebisingan kronis yang bersumber dari

pesawat diasosiasikan dengan keterlambatan 6 bulan dalam hal membaca pada

anak-anak berusia antara 8-11 tahun. Banbury & Berry (1998) memberikan tugas

yang lebih kompleks pada penelitian mereka mengenai distraksi kebisingan

walaupun tugas-tugas ini hanya terbatas pada tugas yang dilakukan di lingkungan

kerja. Mereka menemukan bahwa performansi mahasiswa-mahasiswi sarjana pada

tugas aritmatika mental dan tugas prose recall secara signifikan memburuk

dengan kehadiran kebisingan di lingkungan kerja dibandingkan performansi

mereka di ruang yang tenang (tanpa kebisingan).

C. Kepribadian 1. Definisi

Lahey (2007) mendefiniskan kepribadian sebagai totalitas individu dalam

hal memikirkan (thinking), melakukan (acting), dan merasakan sesuatu (feeling)

yang khas dan membedakannya dengan individu yang lain. Allport (1937, dalam

Feist 2005) mendefinisikan kepribadian sebagai :

the dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to environment

(41)

that determine his characteristics behavior and thought

Jadi, kepribadian menurut Allport adalah organisasi dinamis dalam individu

sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam

menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan menentukan karakteristik perilaku

dan pemikirannya.

Cattell (dalam Feist, 2005) memberikan definisi kepribadian sebagai :

”personality is that which permits a prediction of what a person will do in a given situation”

Eysenck (dalam Pervin, 2005) mendefinisikan kepribadian sebagai :

personality is the sum total of actual or potential behavior patterns of organism as determined by heredity and environment; it originates and develops through the functional interaction of the four main sectors into which these behavior pattern are organized; the cognitive sector (intelligence); the conative sector (character); the affective sector (temperament) and the somatic sector (constitutions)

Definisi kepribadian Eysenck dapat diartikan bahwa kepribadian merupakan

gabungan dari fungsi nyata maupun potensial pada organisme yang ditentukan

oleh faktor keturunan dan lingkungan. Kepribadian awal akan tumbuh melalui

interaksi empat macam fungsi, yaitu : sektor kognitif (inteligensi), sektor konatif

(karakter), sektor afektif (temperamen), dan sektor somatis (konstitusi). Eysenck

(1998) menyatakan sektor kognitif merupakan suatu konsep yang sulit

didefinisikan, namun Eysenck setuju dengan definisi yang diberikan oleh Cyril

Burt, yang menyatakan bahwa inteligensi adalah :

innate, all-around mental ability

Kemampuan mental yang merupakan bawaan secara lahiriah merupakan definisi

(42)

suatu perilaku yang ditunjukkan oleh organisme (Warren, 1934 dalam Eysenck

1998). Sektor afektif menggambarkan karakteristik emosional yang dibawa sejak

lahir dan tidak dipelajari oleh organisme. Sektor somatis merupakan keterkaitan

antara struktur dan fungsi psikologi dengan beberapa fungsi fisiologi pada otak.

Pendekatan seperti yang dikemukakan Eysenck dilandasi oleh penelitian ilmiah

sehingga hasilnya lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan pendekatan

yang hanya menggunakan spekulasi atau intuisi klinis untuk mengabsahkan

asumsinya.

Berdasarkan penjelasan definisi kepribadian oleh masing-masing tokoh,

maka penelitian ini merujuk pada definisi kepribadian yang dicetuskan oleh

Eysenck. Personality DNA Sociability Criminality Creativity Psychopathology Sexual Behavior P E N Conditioning Sensitivity Vigilance Perception Memory Reminiscence Limbic System Arousal Distal Antecedents Proximal Antecedents Proximal

Consequences ConsequencesDistal

(43)

Figur di atas menjelaskan kepribadian menurut Eysenck. Setiap individu

memiliki kepribadian yang diwariskan secara genetis, yaitu melalui DNA. Bukti

ini diperkuat dengan gagasan mengenai temperamen anak. Temperamen

didefinisikan sebagai karakter anak yang telah ada sejak lahir dan merupakan

warisan dari kedua orangtua (Papalia, & Olds, & Fredman, 2007). Sistem limbik

diyakini sebagai pusat pengaturan emosi (Eysenck, 1967). Sistem Limbik penting

bagi pembelajaran dan ingatan jangka pendek, tetapi juga menjaga homeostatis

dalam tubuh, terlibat dalam emosi ketahanan hidup dari hasrat seksual atau

perlindungan diri. Sistem limbik mengandung hipotalamus, yang sering dianggap

sebagian bagian terpenting dari otak mamalia. Hipotalamus mengatur hormon,

hasrat seksual, emosi, makan, minum, suhu tubuh, keseimbangan kimiawi, tidur

dan bangun, sekaligus mengatur kelenjar utama dari otak (kelenjar pituitari).

Eysenck (1967) menyatakan bahwa sistem limbik dapat menjelaskan informasi

yang diproses melalui pancaindera dapat terdistorsi. Teori arousal Eysenck

menjelaskan bahwa individu yang memiliki level optimum sensitivitas yang tinggi

cenderung menghindari stimulus yang berlebih dari lingkungan, sedangkan

individu yang memiliki level optimum sensitivitas yang rendah cenderung

mencari stimulus dari lingkungan agar level optimum sensitivitasnya optimal.

Kepribadian organisme lebih ditentukan oleh faktor keturunan atau

(44)

(Eysenck, 1967). Penelitian korelasional dan eksperimen yang dilakukan oleh

Eysenck pada akhirnya melahirkan 3 dimensi kepribadian, yaitu : Psikotisme

(Psychoticism), Ekstroversi (Extroversion), dan Neurotis (Neuroticism).

Penerapan dimensi kepribadian Eysenck dapat dilihat dari beberapa penelitian

eksperimental yang dilakukannya. Pertama, dimensi kepribadian psikotisme

diasosiasikan dengan sikap yang bermusuhan dan kecenderungan menentang

norma yang berlaku di masyarakat (Eysenck, 1997). Kedua, studi eksperimental

menemukan bahwa individu introvert lebih terpengaruh dampak kebisingan

dibandingkan individu ekstrovert ketika dihadapkan pada tugas (Aubel & Britton,

dalam Bell 2005). Ketiga, dimensi kepribadian neurotis memiliki kontribusi

terhadap psikopatologi, misalnya neurosis (Eysenck, 1997).

2. Dimensi Kepribadian

Teori kepribadian Eysenck dikenal juga dengan Teori Tiga Faktor (The

Three-Factor Theory), yang membagi kepribadian atas 3 dimensi (Pervin, 2005),

yaitu :

a. Dimensi Introvert-Ekstrovert (Introversion-Extroversion)

Eysenck (dalam Pervin, 2005) mengemukakan karakteristik

individu ekstrovert ditandai oleh sosiabilitas, bersahabat, aktif berbicara,

impulsif, menyenangkan, aktif, dan spontan. Eysenck (dalam Pervin,

2005) menjabarkan komponen extroversi adalah kurangnya tanggung

jawab, kurangnya refleksi, pernyataan perasaan, penurutan kata hati,

pengambilan resiko, kemampuan sosial, dan aktivitas. Lebih lanjut lagi,

(45)

yang khas dari kepribadian ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta,

mempunyai banyak teman, membutuhkan teman untuk bicara, dan tidak

suka membaca atau belajar sendirian.

Individu dengan dimensi kepribadian ekstrovert sangat

membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang

bahaya, berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, dan biasanya suka

menurutkan kata hatinya, gemar akan gurau-gurauan, selalu siap

menjawab, dan biasanya suka akan perubahan, riang, tidak banyak

pertimbangan (easy going), optimis, serta suka tertawa dan gembira, lebih

suka untuk tetap bergerak dalam melakukan aktivitas, cenderung menjadi

agresif dan cepat hilang kemarahannya, semua perasaannya tidak disimpan

dibawah kontrol, dan tidak selalu dapat dipercaya (Aiken, 1985, dalam

Pervin 2005). Dimensi kepribadian ini juga berdaya ingat kuat (dalam hal

me-recall ingatan jangka pendek), memiliki ambang rangsang yang tinggi

dan menunjukkan daya juang fisik yang tinggi, dapat melaksanakan tugas

yang tinggi taraf kesukarannya dengan baik, ramah, impulsif, tidak suka

diatur dan dilarang, terlibat dalam aktivitas kelompok, pandai membawa

diri dalam lingkungannya, mudah gembira, memiliki keterikatan sosial,

dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, bertindak cepat, optimis,

agresif, cepat / mudah meredakan kemarahan, mudah tertawa, tidak dapat

menahan perasaannya.

Menurut Eysenck (dalam Pervin, 2005), introvert adalah satu ujung

(46)

yang tenang, pendiam, suka menyendiri, suka termenung, dan menghindari

resiko. Dimensi kepribadian ini memiliki sifat yang sabar, serius, sensitif,

lebih suka beraktivitas sendiri, mudah tersinggung, saraf otonom labil,

mudah terluka, rendah diri, suka melamun, dan gugup. Lebih lanjut lagi,

Aiken (1985, dalam Hall & Lindzey 2005) mengatakan bahwa individu

dengan dimensi kepribadian ekstrovert memiliki toleransi yang tinggi

terhadap isolasi/kesendirian, kurang toleransi terhadap keluhan fisik,

cenderung melakukan secara baik terhadap tugas yang sederhana/mudah,

dan cenderung melaksanakan secara baik tugas yang menuntut

kesiapsiagaan. Individu yang introvert juga cenderung menjauhkan diri,

tidak mudah bergabung dengan orang lain, dan susah mengartikulasikan

ide-idenya.

Lively

E

Sociable Active Assertive Sensation-seeking

Carefree Dominant Surgent Venturesome

(47)

b. Dimensi Neurotisme (Neuroticism)

Dimensi kepribadian neurotisme yang sebelumnya dikenal dengan

dimensi stabilitas emosi-ketidakstabilan emosi (emotional stability

-instability). Feist & Feist (2006) menyatakan bahwa dimensi neurotisme

memiliki komponen hereditas yang kuat dalam memprediksi gangguan

yang dialami oleh individu, dalam hal ini, individu yang memiliki skor

neurotisme yang tinggi memiliki kecenderungan untuk bereaksi berlebihan

secara emosional terhadap satu situasi dan mereka kesulitan untuk kembali

ke keadaan semula sebelum mereka dihadapkan pada situasi yang

demikian. Lebih lanjut, Eysenck (dalam Feist, 2005) mengatakan bahwa

individu yang sering gugup dan mengeluh akan simtom-simtom fisik,

seperti sakit kepala, memiliki gangguan psikologi yang jelas.

Boeree (2007) memberikan penjelasan tentang dimensi neurotisme

Eysenck, bahwa walaupun individu yang memiliki skor neurotisme tinggi,

belum tentu individu tersebut neurotik. Eysenck hanya mengatakan bahwa

individu-individu dengan skor neurotisme tinggi lebih mudah terserang

persoalan-persoalan neurotik. Eysenck yakin bahwa data-data kepribadian

seseorang pasti berkisar antara titik normal sampai titik neurotisisme,

maka hal ini pun berlaku untuk temperamen, artinya, temperamen

memiliki dasar genetis dan dimensi kepribadian yang terkait dengan aspek

(48)

c. Dimensi Psikotisme (Psychoticism)

Eysenck sadar bahwa populasi data yang digunakan dalam

penelitiannya terlalu luas dan global, oleh karena itu, tidak tertutup

kemungkinan dari sekian banyak populasi data ini ada yang sebenarnya

tidak patut dipilihnya (Boeree, 2007). Eysenck melakukan penelitian pada

rumah sakit jiwa yang terletak di Inggris. Data-data yang didapatkan dari Depressed

N

Anxious Guilt

Feelings

Low Self-Esteem

Terise

Irrational Shy Moody Emotional

(49)

pasien rumah sakit jiwa ini kemudian dianalisis dan faktor ketiga yang

dinamakan psikotisme (psychoticism) muncul.

Dimensi psikotisme merupakan dimensi yang ditambahkan dari

teori asli Eysenck (Feist, 2005). Eysenck menyatakan bahwa dimensi

psikotitisme ini seperti 2 dimensi lainnya, memiliki faktor bipolar, yaitu :

psikotitisme dan superego (psychoticism – superego). Seperti halnya

neurotisme, individu psikotistik bukan berarti psikotik, namun hanya

memperlihatkan beberapa gejala yang umumnya terdapa pada

individu-individu psikotik (Boeree, 2007). Beberapa gejala yang biasanya

ditemukan pada individu-individu psikotistik, di antaranya adalah : tidak

memiliki daya respon (recklessness), tidak memperdulikan kebiasaan yang

lumrah berlaku, dan ekspresi emosional yang tidak sesuai dengan

kebiasaan (inappropriate emotional expression). Pervin (2005)

menyatakan bahwa individu yang mendapatkan skor tinggi pada dimensi

psikotitisme cenderung soliter, cuek (insensitive), tidak peduli dengan

orang lain, dan menentang kebiasan-kebiasan umum yang berlaku secara

sosial.

Cold

P

(50)

3. Hubungan Kepribadian dengan Ingatan Jangka Pendek

Heffeman & Ling (2001) membandingkan ingatan prospektif, yaitu

ingatan yang digunakan pada masa yang akan datang antara individu ekstrovert

dan introvert. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa individu ekstrovert

memiliki lebih sedikit kesalahan dibandingkan individu introvert dalam tugas

ingatan prospektif. Penelitian yang dilakukan oleh Aubel & Britton (dalam Bell,

2005) menunjukkan bahwa performansi individu ekstrovert lebih baik

dibandingkan individu introvert pada tugas kognitif. Penelitian Lieberman (2000)

menemukan bahwa individu ekstrovert memiliki kemampuan ingatan jangka

pendek yang lebih baik daripada individu introvert .

D. Warna

1. Definisi Warna

Warna adalah properti yang dapat kita lihat baik melalui sistem

penglihatan maupun materi yang berasal dari sumber cahaya (dalam Heerwagen,

2004). Gelombang cahaya yang mencapai mata kita, akan dipersepsikan sebagai

warna. Secara fisis, cahaya tidak memiliki warna, namun sistem penglihatan kita,

termasuk otak, menginterpretasikan cahaya dalam panjang gelombang tertentu

menghasilkan warna. Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang.

Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar

(51)

2. Dimensi Psikologis Warna

Menurut Munsell (dalam Goldstein, 2002), terdapat 3 dimensi psikologis

warna, yaitu :

a. Hue (corak warna)

Corak warna berkaitan dengan nama warna tertentu. Nama warna misalnya :

merah, hijau, biru, dan kuning.

b. Brightness (kecerahan warna)

Dasar fisis kecerahan terutama adalah energi sumber cahaya yang berhubungan

dengan amplitudo gelombang. Namun, kecerahan dalam beberapa hal juga

tergantung pada panjang gelombang, misalnya : warna kuning tampak lebih terang

dari panjang gelombang warna dan biru, walaupun ketiga warna tersebut

mempunyai amplitudo yang sama.

c. Saturation (kejenuhan warna)

Saturasi atau kejenuhan warna berhubungan dengan keanekaragaman warna

cahaya, di mana warna putih berkaitan dengan tidak adanya warna secara total.

Warna yang memiliki saturasi yang tinggi kelihatan tidak mengandung warna

putih. Warna yang tidak memiliki saturasi kelihatan pucat dan keputih-putihan.

Tingkat saturasi yang rendah berhubungan dengan panjang gelombang

berbeda-beda dari suatu warna, dan tingkat saturasi yang tinggi berhubungan dengan

(52)

Prang (dalam Hakim & Sediadi, 2004) membagi warna menjadi 3 dimensi,

yaitu :

a. Hue

semacam temperamen mengenai panas/dinginnya suatu warna.

b. Value

mengenai gelap terangnya warna.

c. Intensity

mengenai cerah dan redupnya warna.

Selain itu, Prang juga membagi adanya kelas warna, yaitu :

a. Primary

merupakan warna utama/pokok, yaitu : warna merah, kuning, dan biru.

b. Binary

merupakan warna kedua dan yang terjadi dari gabungan antara dua warna

primary. Warna tersebut adalah merah+biru = violet, merah+kuning = jingga, dan

biru+kuning = hijau.

c. Intermediate

warna ini adalah warna-warna campuran dari warna primary dan binary,

misalnya, merah dicampur hijau menjadi merah hijau.

d. Tertiary

merupakan warna-warna campuran dari warna binary, misalnya, violet dicampur

(53)

e. Quaternary

merupakan warna campuran dari dua warna tertiary, misalnya : hijau violet

dicampur dengan jingga hijau, jingga violet dicampur dengan jingga hijau, dan

hijau jingga dicampur dengan violet jingga.

Selain itu, kita juga mengenal adanya pencampuran antara warna murni

dengan warna kutub yang disebut dengan :

a. Tint

warna murni dicampur dengan warna putih sehingga terjadi warna muda.

b. Shade

warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna tua.

c. Tone

warna murni dicampur dengan warna abu-abu (pencampuran putih dan hitam)

sehingga terjadi warna tanggung.

3. Hubungan Warna dengan Ingatan

Birren (1950) menyatakan bahwa warna dapat meningkatkan sensitivitas

individu. Penelitian Birren (1950) menunjukkan bahwa warna yang hangat

(warm) seperti warna kuning dan merah lebih meningkatkan arousal

dibandingkan dengan warna yang tenang (cool). Penelitian Greene (1983)

menunjukkan hasil yang serupa, bahwa warna-warna yang hangat meningkatkan

sensitivitas dibandingkan dengan warna yang tenang. Penelitian Roozendaal

(2002) menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa yang membangkitkan (arousing)

(54)

perubahan hormon dalam otak yang akhirnya membuat ingatan akan peristiwa

tersebut meningkat. Penelitian Wolters & Goudsmit (2005) dan Otani (2007)

mengindikasikan peristiwa-peristiwa yang membangkitkan dapat meningkatkan

ingatan. Kita dapat berasumsi bahwa warna dapat berperan sebagai bantuan dalam

hal mengingat jika warna yang digunakan dapat membuat ketergugahan secara

emosional (emotionally arousing).

Penelitian yang dilakukan oleh Wurm (1993) yang menyatakan bahwa

dengan adanya warna dapat membantu individu lebih mengingat nama objek yang

dikenai warna. Penelitian Humprey, Goodale, Jakobson, dan Servos (1994)

menemukan hal yang sama seperti Wurm, yaitu warna kromatik memfasilitasi

penamaan objek yang dilihat. Borges, Stepnowsky, dan Holt (1977) menemukan

bahwa rekognisi pada orang dewasa lebih baik untuk gambar berwarna

dibandingkan hitam-putih.

Jika warna dapat meningkatkan sensitivitas dan sensitivitas dapat

meningkatkan ingatan, maka mungkin saja warna dapat meningkatkan ingatan.

Penelitian Spence (2006) menunjukkan warna meningkatkan rekognisi akan

pemandangan alam sebesar 5%.

E. Hubungan antara Kebisingan, Dimensi Kepribadian, dan Warna dengan Ingatan Jangka Pendek

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengingat

seseorang. Ingatan adalah kemampuan yang dimiliki manusia yang digunakan

(55)

Ingatan ini sangat diperlukan oleh individu, misalnya suatu kejadian yang tidak

menyenangkan terjadi karena suatu kesalahan yang kita buat sendiri sehingga

pada saat kita menghadapi masalah yang hampir sama maka kita dapat mengingat

dan kesalahan tidak terulang lagi. Ingatan juga sangat dibutuhkan sekali dalam

proses belajar.

Lingkungan yang bising dan hiruk-pikuk dapat mempengaruhi ingatan.

Seseorang yang mampu untuk beradaptasi dengan kebisingan tidak akan

mengalami kesulitan untuk mengingat, namun hal ini akan berbeda dengan

individu yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang bising. Individu

tersebut tidak dapat mengingat dalam keadaan bising, kenyataannya ada

individu-individu yang mampu mentolerir kebisingan sehingga hal tersebut tidak

mempengaruhi aktivitas yang melibatkan ingatannya.

Individu yang mampu mentolerir kebisingan tidak akan membuat

performansi individu memburuk, sedangkan individu yang tidak bisa mentolerir

kebisingan, performansinya tentu akan memburuk. Perbedaan individual dalam

mentolerir kebisingan ini dipengaruhi oleh kepribadian. Dimensi kepribadian yang

dikemukakan oleh Eysenck menyatakan bahwa individu ekstrovert dan introvert

memiliki tingkat optimum sensitivitas (level optimum arousal) yang berbeda.

Eysenck (1998) mengemukakan teori arousal yang menyatakan bahwa individu

introvert memiliki tingkat optimum sensitivitas yang tinggi sehingga apabila

dihadapkan pada kebisingan, individu introvert akan lebih terdistraksi, sebaliknya,

(56)

mereka cenderung untuk mencari stimulus dari lingkungan agar sensitivitas

mereka optimum.

Tingkat sensitivitas dapat dimanipulasi dengan penggunaan warna.

Penelitian Burt (2002) menyatakan bahwa penggunaan warna dapat meningkatkan

kemampuan ingatan individu. Penelitian Birren (1950) menunjukkan bahwa

warna yang hangat, seperti warna kuning dan merah lebih meningkatkan

sensitivitasdibandingkan dengan warna yang tenang. Adanya penggunaan warna

diharapkan dapat membantu individu dalam meningkatkan ingatannya.

Jika ditinjau dari sisi teoritis, kebisingan merupakan suatu stimulus yang

dapat mengganggu performasi ketika melakukan tugas yang membutuhkan

ingatan. Individu yang introvert maupun ekstrovert memiliki perbedaan dalam

tingkat optimum sensitivitas, sehingga individu ekstrovert cenderung kurang

terpengaruh dampak kebisingan ketika dihadapkan pada tugas yang membutuhkan

ingatan, sebaliknya, individu introvert telah memiliki tingkat optimum sensitivitas

yang tinggi, sehingga apabila dihadapkan dengan kebisingan, individu ekstrovert

lebih terpengaruh dampak kebisingan dibandingkan individu ekstrovert.

Penggunaan warna disarankan sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan

kemampuan mengingat. Warna yang cerah lebih membantu mengingat kembali

dibandingkan warna yang tenang. Warna yang cerah lebih meningkatkan

sensitivitas dibandingkan warna yang tenang. Individu yang melakukan tugas

dalam kondisi yang bising tentunya dapat menggunakan warna sebagai salah satu

upaya dalam mengingat, namun tipe kepribadian individu yang bersangkutan juga

(57)

meningkatkan sensitivitas, individu introvert telah memiliki tingkat optimum

sensitivitas yang tinggi, dengan demikian, penggunaan warna yang cerah akan

meningkatkan sensitivitas baik pada individu ekstrovert maupun introvert.

Individu introvert cenderung menjaga tingkat optimum sensitivitas dengan jalan

menghindari situasi yang dapat meningkatkan sensitivitas mereka, dalam hal ini

kebisingan. Jika individu introvert memiliki tingkat optimum sensitivitas yang

tinggi melakukan aktivitas yang membutuhkan ingatan pada kondisi yang bising,

tentunya hal ini dapat mempengaruhi performansinya. Penelitian Furham &

Strbac (2002) mengindikasikan bahwa individu introvert membuat lebih banyak

Gambar

Tabel 1. Desain Faktorial 2x2x2 Faktor 1 : Dimensi Kepribadian, terdiri dari 2 tingkat, yaitu Introvert dan Ekstrovert
Tabel  Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Tabel Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Angkatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dimungkinkan karena individu dengan tipe kepribadian introvert merupakan individu yang penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul,

Kesimpulan: kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan yang bermakna antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert dengan tingkat stres pada

karir antara tipe kepribadian ekstrovert dengan introvert sehingga karyawan dapat. memahami karakteristik kepribadian dan karakteristik pekerjaan

Semua karyawan baik yang memiliki tipe kepribadian introvert ataupun ekstrovert diharapkan memiliki kreativitas yang tinggi sehingga dapat menyelesaikan berbagai permasalahan

Penellitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik perbedaan perilaku minum minuman beralkohol pada remaja yang ditinjau dari tipe kepribadian

Hasil penghitungan presentase perbedaan manajemen stres pada remaja dengan kepribadian introvert dan ekstrovert terlihat pada dimensi perencanaan memiliki perbedaan sebesar 14%,

Hal ini didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Sandra widyaningrum (2016) terkait perbedaan perilaku konsumtif ditinjau dari kepribadian ekstrovert dan

Dari fenomena-fenomena tersebut peneliti akan melakukan penelitian yang lebih dalam tentang Perilaku Pro-Sosial Mahasiswa Psikologi UNNES ditinjau dari tipe kepribadian introvert