KARAKTERISTIK PENYAKIT HEPATITIS B KRONIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM RSUP HAJI
ADAM MALIK MEDAN PADA JANUARI 2012 SAMPAI DESEMBER 2013
Oleh :
MAYA SARI ARITONANG NIM : 110 100 273
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KARAKTERISTIK PENYAKIT HEPATITIS B KRONIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI POLI PENYAKIT DALAM RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN PADA JANUARI 2012 SAMPAI DESEMBER 2013
“Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”
Oleh :
MAYA SARI ARITONANG NIM : 110 100 273
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PENGESAHAN
Karakteristik Penyakit Hepatitis B Kronik pada Pasien Rawat Jalan di RSUP HAM Medan pada Januari 2012 sampai Desember 2013
Nama : Maya Sari Aritonang NIM : 110100273
Pembimbing Penguji I
dr. Taufik Sungkar, M.Ked(PD), Sp.PD dr. Syah Mirsa Warli, Sp.U NIP. 19791017 200912 1 002 NIP. 19650505 199503 1 001
Penguji II
dr. Sri Wahyuni P, Sp. KK (K) Fins DV NIP. 19691223 199903 2 001
Medan, Januari 2015 Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Hepatitis virus adalah suatu infeksi sistemik yang terutama
memperngaruhi hati. Dan dikatakan kronis apabila hepatitis yang tetap bertahan
selama lebih dari 6 bulan. Sekitar 5% dari populasi dunia mempunyai infeksi
HBV kronis dan merupakan penyebab utama hepatitis kronis, sirosis, dan
karsinoma hepatoseluler diseluruh dunia. Berdasarkan hal tersebutlah maka
dilakukan penelitian mengenai karakteristik penyakit hepatitis B kronik di Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Januari 2012 sampai Desember
2013.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross
sectional yang dilakukan di Instalasi Rekam Medik RSUP HAM Medan.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode analisis pada 42 data rekam medis
yang lengkap pada pasien hepatitis B kronik pada Januari 2012 sampai Desember
2013 yang dipilih dengan metode total sampling. Hal- hal yang dapat dianalisis
pada rekam medis hepatitis B kronik antara lain sosiodemografi, HBeAg, HBV
DNA, SGOT/SGPT, Pengobatan dan Respon.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hepatitis B kronik di RSUP HAM
Medan paling sering terjadi pada jenis kelamin laki- laki, dengan rentang usia 46
– 55 tahun, sering terjadi pada pasien dengan pekerjaan PNS, paling banyak
berasal dari luar medan dan status pernikahan pasien paling banyak adalah yang
sudah menikah. Dan dilihat dari HBeAg, pasien dengan HBeAg (-) adalah yang
terbanyak, indikasi pengobatan dapat dilihat berdasarkan HBV DNA dan
SGOT/SGPT, dan mendapatkan complete respon dari pengobatan yang diberikan
yaitu golongan telbivudine.
ABSTRACT
Viral hepatitis is a systemic infection that mainly affect the liver. And said if
chronic hepatitis which persisted for more than 6 months. Approximately 5% of
the world population have chronic HBV infection and a major cause of chronic
hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma worldwide. Based on the data
then we do research on the characteristics of chronic hepatitis B in the General
Hospital Haji Adam Malik in January 2012 until December 2013.
This research is a descriptive cross-sectional design conducted in the Installation
of Medical Record in the General Hospital Haji Adam Malik. Data collected by
the method of analysis in 42 complete medical records of patients with chronic
hepatitis B in January 2012 to December 2013 were selected with a total sampling
method. Things that can be analyzed in the medical records of chronic hepatitis B
among other sociodemographic, HBeAg, HBV DNA, SGOT/SGPT, the treatment,
and the response.
These results indicate that chronic hepatitis B in the Adam Malik Hospital of the
most common in male gender, age range 46-55 years, often occurs in patients with
PNS, mostly from outside Medan and marital status of patients at most is married.
And views of HBeAg, patients with HBeAg (-) is the most, the indication for
therapy based on HBV DNA and SGOT/SGPT, and get a complete response to
treatment given that telbivudine group.
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena oleh kasih dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
proposal karya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter di
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam proses penyelesaian proposal karya tulis ilmiah ini, banyak
bimbingan dan arahan yang penulis peroleh dari berbagai pihak. Untuk itu
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan
setinggi- tingginya kepada:
1. Prof. Dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk melakukam penelitian.
2. dr. Taufik Sungkar, M.Ked (PD), Sp.PD, selaku dosen pembimbing
penulis, terima kasih atas waktu, perhatian, kesabaran serta masukan
yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan proposal
penelitian ini.
3. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada
penulis selama masa pendidikan.
4. Kedua orang tua penulis dr. Toga Aritonang dan Rita F.L. Simarmata,
S.E, yang selalu memberikan doa dan dukungan berupa materi maupun
moril, yang selalu memberi semangat dan arahan dalam bersikap
dalam proses menyelesaikan proposal penelitian ini.
5. Kepada ketiga adik penulis Ayu, Pangeran dan Alberta, yang selalu
memberikan penghiburan dan selalu mendukung penulis selama proses
penyelesaian proposal penelitian ini.
6. Kepada teman sekelompok bimbingan penelitian, Ulima Maria yang
selalu memotivasi penulis selama proses bimbingan dengan dokter
7. Teman- teman sesama bimbingan penelitian di Fakultas Kedokteran
dan teman- teman penulis lainnya, yang selalu hadir dalam memberi
bantuan berupa saran, kritik, penghiburan, semangat dan motivasi
selama proses penyusunan penelitian ini.
8. Kepada semua instansi yang telah banyak membantu dan memberi
kemudahan RSUP H Adam Malik Medan, Perpustakaan FK USU, dan
Perpustakaan Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, segala saran
dan kritik sangat diharapkan demi kemajuan kualitas penelitian ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan agar penelitian ini dapat memberikan
manfaat kepada semua orang untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya
dalam dunia kesehatan dan kedokteran.
Medan, 30 Mei 2014
Maya Sari Aritonang
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... .... x
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.3.1. Tujuan Umum ... 2
1.3.2. Tujuan Khusus ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Definisi Hepatitis ... 4
2.2. Anatomi dan Fisiologi Hati ... 4
2.2.1. Anatomi Hati ... 4
2.2.2. Fisiologi Hati ... .. 5
2.3. Definisi Hepatitis B ... 6
2.4. Hepatitis B Kronik ... 6
2.4.1. Definisi ... 6
2.4.2. Patogenesis ... 7
2.5. Epidemiologi ... 8
2.6. Serologi Penanda VHB ... 9
2.7. Diagnosis ... 11
2.8. Vaksinasi ... 13
2.9. Penularan ... 16
2.9.1. Penularan Secara Horizontal ... 16
2.9.2. Penularan Secara Vertikal ... 17
2.10. Penatalaksanaan ... 17
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 20
3.1. Kerangka Konsep ... 20
3.2 Definisi Operasional ... 20
3.2.1. Hepatitis B Kronik ... 21
3.2.2. Sosiodemografi ... 21
3.2.2.1. Usia ... 21
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 24
4.1. Metode Penelitian ... 24
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24
4.2.1. Lokasi Penelitian ... 24
4.2.2. Waktu Penelitian ... 24
4.3. Populasi dan Sampel ... 24
4.3.1. Populasi ... 24
4.3.2. Sampel ... 25
4.4. Metode Pengumpulan ... 25
4.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 25
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 26
5.1. Hasil Penelitian ... 26
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 26
5.1.2. Deskripsi Data Penelitian ... 26
5.1.2.1. Karakteristik Pada Pasien Hepatitis B Kronik.. 27
5.2. Pembahasan ... 30
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 34
6.1. Kesimpulan ... 34
6.2. Saran ... 35
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.2. Perjalanan Penyakit Hepatitis B Kronik ... 7
Gambar 2.3. Epidemiologi Hepatitis B Kronik ... 9
Gambar 2.4. Algoritma Penatalaksanaan Hepatitis B Kronik ... 19
Gambar 3.1. Kerangka Konsep ... 20
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Evaluation of Patients with Chronic VHB Infection ... 11
Tabel 2.2. Kriteria Diagnosis Infeksi VHB ... 13
Tabel 2.4. Rekomendasi Terapi Hepatitis B ... 18
Tabel 3.1. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ... 22
Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Dasar ... 27
Tabel 5.2. Gambaran HBeAg ... 28
Tabel 5.3. Gambaran HBV DNA/ viral load ... 29
Tabel 5.4. Gambaran Enzim Transferase ... 29
Tabel 5.5. Distribusi Pengobatan ... 30
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2 : Data Induk
Lampiran 3 : Output Data
Lampiran 4 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 5 : Ethical Clearence
ABSTRAK
Hepatitis virus adalah suatu infeksi sistemik yang terutama
memperngaruhi hati. Dan dikatakan kronis apabila hepatitis yang tetap bertahan
selama lebih dari 6 bulan. Sekitar 5% dari populasi dunia mempunyai infeksi
HBV kronis dan merupakan penyebab utama hepatitis kronis, sirosis, dan
karsinoma hepatoseluler diseluruh dunia. Berdasarkan hal tersebutlah maka
dilakukan penelitian mengenai karakteristik penyakit hepatitis B kronik di Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Januari 2012 sampai Desember
2013.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross
sectional yang dilakukan di Instalasi Rekam Medik RSUP HAM Medan.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode analisis pada 42 data rekam medis
yang lengkap pada pasien hepatitis B kronik pada Januari 2012 sampai Desember
2013 yang dipilih dengan metode total sampling. Hal- hal yang dapat dianalisis
pada rekam medis hepatitis B kronik antara lain sosiodemografi, HBeAg, HBV
DNA, SGOT/SGPT, Pengobatan dan Respon.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hepatitis B kronik di RSUP HAM
Medan paling sering terjadi pada jenis kelamin laki- laki, dengan rentang usia 46
– 55 tahun, sering terjadi pada pasien dengan pekerjaan PNS, paling banyak
berasal dari luar medan dan status pernikahan pasien paling banyak adalah yang
sudah menikah. Dan dilihat dari HBeAg, pasien dengan HBeAg (-) adalah yang
terbanyak, indikasi pengobatan dapat dilihat berdasarkan HBV DNA dan
SGOT/SGPT, dan mendapatkan complete respon dari pengobatan yang diberikan
yaitu golongan telbivudine.
ABSTRACT
Viral hepatitis is a systemic infection that mainly affect the liver. And said if
chronic hepatitis which persisted for more than 6 months. Approximately 5% of
the world population have chronic HBV infection and a major cause of chronic
hepatitis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma worldwide. Based on the data
then we do research on the characteristics of chronic hepatitis B in the General
Hospital Haji Adam Malik in January 2012 until December 2013.
This research is a descriptive cross-sectional design conducted in the Installation
of Medical Record in the General Hospital Haji Adam Malik. Data collected by
the method of analysis in 42 complete medical records of patients with chronic
hepatitis B in January 2012 to December 2013 were selected with a total sampling
method. Things that can be analyzed in the medical records of chronic hepatitis B
among other sociodemographic, HBeAg, HBV DNA, SGOT/SGPT, the treatment,
and the response.
These results indicate that chronic hepatitis B in the Adam Malik Hospital of the
most common in male gender, age range 46-55 years, often occurs in patients with
PNS, mostly from outside Medan and marital status of patients at most is married.
And views of HBeAg, patients with HBeAg (-) is the most, the indication for
therapy based on HBV DNA and SGOT/SGPT, and get a complete response to
treatment given that telbivudine group.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik yang dominan menyerang hati. Hampir
semua kasus hepatitis virus akut disebabkan oleh salah satu dari lima jenis virus
yaitu: virus hepatitis A (VHA), virus hepatitis B (VHB), virus hepatitis C (VHC),
virus hepatitis D (VHD) dan virus hepatitis E (VHE). Jenis lain yang ditularkan
pascatransfusi seperti hepatitis G dan virus TT telah dapat diidentifikasi, akan
tetapi tidak menyebabkan hepatitis. (Sanityoso, 2009)
Hepatitis B menduduki urutan pertama dalam hal jumlah penderita. Namun
demikian hanya sedikit orang saja yang mengetahui tentang penyakit ini
(Misnadiarly, 2007). Infeksi VHB merupakan masalah kesehatan yang serius di
banyak dunia. VHB menginfeksi lebih dari 350 juta orang diseluruh dunia.
Diperkirakan 500.000-1.000.000 orang meninggal setiap tahun dari penyakit hati
terkaitVHB (WHO, 2010).
Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) adalah suatu masalah kesehatan utama di dunia
pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Diperkirakan bahwa sepertiga
populasi dunia pernah terpajan virus ini dan 350-400 juta diantaranya merupakan
pengidap hepatitis B (PPHI, 2012).
Sekitar 5% dari populasi dunia mempunyai infeksi VHB kronik yang mempunyai
komplikasi hepatitis kronis, sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler diseluruh
dunia. Sekitar 10% adalah kronis pembawa virus, yang merupakan hasil transmisi
neonatus ataupun penularan dari satu orang ke orang lainnya (horizontal) (WHO,
2002).
Hepatitis B kronik adalah adanya persistensi virus hepatitis B (VHB) lebih dari 6
bulan yang masih disertai dengan viremia. 75% dari 300 juta individu di Asia
penderita hepatitis B kronik mendapatkan infeksi pada masa perinatal.
Kebanyakan penderita ini tidak mengalami keluhan ataupun gejala yang berarti
sampi akhirnya terjadi penyakit hati kronis (Soemoharjo, 2009).
Gambaran klinis hepatitis B kronik sangat bervariasi. Banyak kasus tidak
didapatkan keluhan maupun gejala dan pemerikaan tes faal hati hasilnya normal
(IPD,2009).
Berdasarkan status HBeAg, hepatitis B kronik dikelompokkan menjadi hepatitis B
kronik HBeAg positif dan hepatitis B kronik HBeAg negatif. Hepatitis B kronik
HBeAg negatif dengan konsentasi DNA VHB tinggi merupakan indikasi terapi
antivirus (Soemohardjo, 2009).
Belum adanya ditemukan penelitian mengenai karakteristik hepatitis B kronik di
RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012-2013. Oleh karena itu,
berdasarkan uraian data diatas maka perlu dilakukan penelitian karakteristik
penyakit hepatitis B kronik di RSUP Haji Adam Malik Medan sejak Januari 2012-
Desember 2013.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah "Bagaimana Karakteristik Penyakit Hepatitis B Kronik pada Pasien
Rawat Jalan di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Januari 2012-Desember
2013?”
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik penyakit hepatitis B kronik pada pasien
rawat jalan di Rumah Sakit Haji Adam Malik periode Januari 2012 s/d Desember
2013.
a. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hepatitis B kronik
berdasarkan sosiodemografi yang meliputi umur, jenis kelamin, suku, agama,
pekerjaan, status pernikahan dan tempat tinggal.
b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hepatitis B kronik
berdasarkan jenis/ golongan hepatitis B kronik.
c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hepatitis B kronik
berdasarkan kadar viral load/ HBV DNA.
d. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hepatitis B kronik
berdasarkan jenis pengobatan.
e. Untuk mengetahui distribusi proporsi indikasi pengobatan pada penderita
hepatitis B kronik berdasarkan nilai enzim transferase.
f. Untuk mengetahui distribusi proporsi repon pengobatan yang diberikan
pada penderita hepatitis B kronik.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:
1. Memberikan gambaran dari karakteristik pasien hepatitis B kronik di poli
penyakit dalam RSUP Haji Adam Malik Medan.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi statistik
penyakit heptitis B kronik pada Januari 2012 hingga Desember 2013 di RSUP
Haji Adam Malik Medan.
3. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber bacaan atau referensi
bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan hepatitis B kronik.
4. Sebagai sarana bagi penulis untuk meningkatkan pengetahuan dan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh beberapa
etiologi. Etiologi yang menyebabkan peradangan hati ini antara lain berupa virus,
kelainan sistem imun tubuh, alkohol, obat-obatan tertentu dan juga za- zat yang
bersifat racun (Schmidt, 2010).
2.2. Anatomi dan Fisiologi Hati
2.2.1. Anatomi Hati
Hati merupakan organ terbesar yang terletak disebelah kanan atas rongga
perut. Beratnya 1.500 gram, 2%-2,5% berat badan orang dewasa yang normal.
Hati kaya akan persediaan darah sehingga pada kondisi yang sehat berwarna
merah tua. Hati dibagi menjadi 2 lobus yaitu lobus kanan dan lobus kiri. Kedua
lobus ini dipisahkan oleh ligamen falsiformis. Lobus kanan hati mempunyai 3
bagian utama yaitu: lobus kanan atas, lobus kuadratus, dan lobus kaudatus. Lobus
kanan lebih besar dibandingkan lobus kirinya (Sloane,2004).
Hati menerima darah dari 2 sumber: (Sherwood, 2011)
a. Darah arteri, yang menyediakan O2 bagi hati dan mengandung metabolit
darah untuk diproses oleh hati, disalurkan oleh arteri hepatika.
b. Darah vena yang berasal dari saluran cerna dibawa oleh vena porta
hepatika ke hati untuk pemrosesan dan penyimpanan nutrien yang baru diserap.
Didalam hati, vena porta kembali bercabang-cabang menjadi anyaman kapiler
hepatosit sebelum darah mengalir ke dalam vena hepatika, yang kemudian
menyatu dengan vena kava inferior.
2.2.2. Fisiologi Hati
Hati dipandang sebagai pabrik biokimia utama tubuh. Perannya dalam
sistem penceranaan adalah untuk sekresi garam empedu, yang membantu
pencernaan dan penyerapan lemak. Hati juga melakukan berbagai fungsi yang
tidak berkaitan dengan pencernaan (Sherwood, 2011). Fungsi utama hati yang
tidak berkaitan dengan pencernaan, sebagai berikut:
a. Untuk Metabolisme
Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Bergantung kepada kebutuhan
tubuh. Ketiganya dapat saling dibentuk.
b. Untuk Penyimpanan Zat
Seperti mineral (Cu, Fe) serta vitamin larut lemak (Vit. A, D, E, dan K), glikogen
dan berbagai racun yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh seperti, peptisida
DDT.
c. Untuk Detoksifikasi
Hati melakukkan inaktivasi hormon dan menguraikan zat sisa tubuh yang toksin
dan obat.
d. Untuk Fagositosis
Fagositosis mikroorganisme, sel darah merah, dan sel darah putih yang sudah tua
maupun rusak.
e. Untuk Sekresi
Hati memproduksi empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan absorbsi lemak
(Sloane, 2004).
f. Pengaktifan Vit. D
Pengaktifan vit. D dilakukan hati bersama dengan ginjal.
Membentuk protein plasma, termasuk protein yang dibutuhkan untuk pembekuan
darah dan yang untuk menganggkut hormon steroid dan tiroid serta kolesterol
dalam darah (Sherwood, 2011)
2.3. Definisi Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis
B (VHB), anggota famili Hepadnavirus yang menyebabkan peradangan hati yang
akut ataupun kronik dan pada sebagian kecil kasus mengalami komplikasi berupa
sirosis hati atau kanker hati (Selvaraju, 2012).
2.4. Hepatitis B Kronik
2.4.1. Definisi
Pada saat ini definisi hepatitis B kronik adalah adanya persistensi virus
hepatitis B (VHB) yang menetap lebih dari 6 bulan. Sehingga istilah carrier sehat
tidak lagi dianjurkan untuk digunakan (Soemohardjo,2009).
Hepatitis B kronik adalah masalah klinis utama di seluruh dunia. Hal ini
sangat penting di kawasan Asia-Pasifik dimana prevalensi infeksi HBV tinggi,
termasuk Indonesia, yang termasuk hepatitis B daerah endemik sedang sampai
tinggi (Juniastuti, 2014).
2.4.2. Patogenesis
Hepatitis B kronik terjadi karena reaksi immunologik pasien terhadap virus
hepatitis B kurang sempurna, sehingga memungkinkan terjadi koeksistensi
dengan virus hepatitis B. Pada koeksistensi ini HBsAg akan muncul pada masa
awal dan titernya akan naik mencapai angka yang sangat tinggi, tetapi serologi
HBsAg ini akan tetap positif sampai berbulan-bulan, bahkan seumur hidup.
Gambar 2.2 Perjalanan Penyakit Hepatitis B Kronik
(Sumber : JRSM, 2004)
Fase infeksi dari keadaan ini terdiri atas 2 fase, yaitu infeksi kronis dan fase
pengidap HBsAg tanpa gejala.
a. Fase Infeksi Kronis
Dalam fase ini penderita tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami keluhan
ringan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kenaikan enzim amino
transferase 5- 10 kali dari normal, HBsAg yang menurun, HBeAg dan DNA virus
tahun. Dan sebagian penderita akan mengalami kompikasi berupa sirosis hati,
hepatoma bahkan meninggal karena kegagalan fungsi hati.
b. Fase HBsAg tanpa gejala
Diawali dengan kelainan biokimia dan hilangnya gejala klinis. Pemeriksaan kadar
enzim amino transferase normal, HBsAg tetap atau menurun, HBeAg serta DNA
virus hepatitis B akan negatif. Fase ini umumnya berlangsung seumur hidup.
Keadaan ini terjadi pada 10% dari penderita yang terinfeksi pada masa dewasa
(Handri,2012).
2.5. Epidemiologi
Diperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia pernah terpajan virus ini dan
350-400 juta diantaranya merupakan pengidap hepatitis B.Prevalensi yang lebih
tinggi didapatkan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, angka
pengidap hepatitis B pada populasi sehat diperkirakan mencapai 4.0-20.3%,
dengan proporsi pengidap di luar Pulau Jawa lebih tinggi daripada di Pulau
Jawa.Secara genotip, virus hepatitis B di Indonesia kebanyakan merupakan virus
dengan genotip B (66%) (CDC,2013)
Sekitar 2 miliar penduduk di seluruh dunia pernah terinfeksi dengan virus
hepatitis B dan 600.000 penduduk meninggal setiap tahun oleh komplikasi dari
hepatitis B serta lebih dari 240 juta menderita infeksi hati yang kronik (WHO,
2012).
Tahun 2007, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan dari 10.391
serum yang diperiksa, prevalensi HBsAg positif 9,4% yang berarti 1dari 10 juta
penduduk Indonesia pernah terinfeksi hepatitis B. Hal ini menyebabkan Indonesia
digolongkan sebagai negara dengan kategori endemisitas sedang sampai tinggi
(Depkes RI, 2013).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi HBsAg ditemukan
Irian Jaya. Ini dapat dimengerti karena Indonesia memiliki daerah yang sangat
luas, dengan perilaku dan budaya yang berbeda-beda (Sulaiman, 1997).
Gambar 2.3 Epidemiologi Hepatitis B Kronik (Sumber: CDC, 2013)
2.6. Serologi Penanda VHB
Berbagai macam pertanda serologik yang bermakna, dan maknanya:
1. HbsAg (Hepatitis B Surface Antigen)
Suatu protein yang merupakan selubung luar partikel VHB. HBsAg yang positif
menunjukkan bahwa pada saat itu yang bersangkutan mengidap infeksi VHB.
2. Anti-HBs
Antibodi terhadap HbsAg. Antibodi ini muncul setelah HBsAg hilang. Anti-HBs
positif menunjukkan bahwa individu yang bersangkutan telah kebal terhadap
infeksi VHB baik yang terjadi setelah suatu infeksi VHB alami atau setelah
dilakukan vaksinasi Hepatitis B.
Antibodi terhadap protein core. Antibodi ini muncul pada semua kasus dengan
infeksi VHB pada saat ini atau infeksi pada masa yang lalu. Anti-HBc muncul
pada Hepatitis Akut, sehingga IgM anti-HBc nya akan positif untuk memperkuat
diagnosis. Namun bisa kembali menjadi positif pada hepatitis kronik dengan
reaktivasi, IgM anti-HBc tidak dapat dipakai untuk membedakan hepatitis akut
dengan kronik secara mutlak.
4. HBeAg
Suatu protein nonstruktural dari VHB yang disekresikan kedalam darah dan
merupakan produk gen precore dan gen core. Positifnya HBeAg merupakan
petunjuk adanya replikasi VHB yang tinggi dari seorang individu HbsAg positif.
5. Anti-Hbe
Antibodi yang timbul terhadap HBeAg pada infeksi VHB tipe liar. Positifnya
menunjukkan bahwa VHB ada dalam fase nonreplikatif. Anti-HBe hilang setelah
beberapa bulan atau tahun.
6. DNA VHB
Positifnya DNA VHB dalam serum menunjukkan adanya partikel VHB yang utuh
dalam tubuh penderita. DNA VHB adalah jumlah virus yang paling peka (viral
load). Pengukuran DNA VHB secara kuantitatif memegang peran yang sangat
penting untuk menentukan tinggat replikasi VHB, menentukan indikasi terapi
antiviral dan menilai hasil terapi (Cahyono, 2009).
2.7. Diagnosis
Evaluasiawal pasien dengan VHB kronis harus mencakup riwayat menyeluruh
riwayat terinfeksi, penggunaan alkohol, dan riwayat keluarga dari infeksi VHB
dan kanker hati. Uji laboratorium harus mencakup penilaian penyakit hati,
penanda replikasi VHB, dan tes untuk koinfeksi denganVHC, VHD, atau HIV
pada mereka yang berisiko (Anna et al., 2009).
Tabel 2.1. Evaluation of Patients with Chronic HBV Infection Initial evaluation
1. History and physical examination
2. Family History of liver disease, HCC
3. Laboratory tests to assess liver disease—complete blood counts with
platelets, hepatic panel, and prothrombin time
4. Tests for VHB replication—HBeAg/anti-HBe, VHB DNA
5. Tests to rule out viral coinfections—anti-VHC, anti-VHD (in persons
fromcountries where VHD infection is common and in those with history of
injection drug use), and anti-HIV in those at risk
6. Tests to screen for HCC–AFP at baseline and, in high risk patients,
ultrasound
7. Consider liver biopsy to grade and stage liver disease - for patients who
meet criteria for chronic hepatitis
(Sumber asli: Anna dkk, 2009) Diagnosis infeksi hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi,
petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi pemeriksaan yang
dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi hepatitis B kronis adalah :
HBsAg, HBeAg, anti HBe dan VHB DNA (Suharjo, 2006)
Hepatitis B kronik mempunyai gambaran klinis yang bervariasi. Pada
beberapa kasus tidak didapatkan keluhan maupun gejala, dan pemeriksaan fungsi
hati normal. Namun sebagian lagi didapatkan hepatomegali bahkan splenomegali
atau tanda- tanda penyakit hati kronis lainnya, seperti eritema palmaris dan spider
nevi. Ditemukan kenaikan konsentrasi ALT (Alanine aminotransferase) walaupun
Peningkatan aminotransferase selama hepatitis B akut bervariasi dari / kenaikan
moderat ringan 3 - sampai 10 kali lipat peningkatan mencolok dari > 100 kali
lipat.Yang terakhir ini tidak selalu berarti prognosis yang buruk.Konsentrasi ALT
biasanya lebih tinggi dari aspartate aminotransferase (AST)
konsentrasi.Konsentrasi bilirubin meningkat pada kebanyakan pasien dengan
infeksi HBV akut.Ikterus klinis bermanifestasi pada 50% orang dewasa dengan
konsentrasi bilirubin dari > 51,3 umol / L (3,0 mg / dL).Konsentrasi hingga 513
umol / L (30,0 mg / dL) dapat terjadi.Sedikit kenaikan alkaline phosphatase juga
terlihat.Pada pasien yang dapat berkembang menjadi gagal hati fulminan,
penurunan cepat dalam ALT dan AST dapat menyesatkan satu ke menyimpulkan
bahwa infeksi hati yang menyelesaikan padahal hilangnya hepatosit
terjadi.Kenaikan berkelanjutan dalam konsentrasi aminotransferase untuk > 6
bulan dianggap sebagai indikasi hepatitis kronis (Gitlin, 2011).
Manifestasi klinis hepatitis B kronik secara sederhana dikelompokkan menjadi 2
yaitu:
1. Hepatitis B kronik aktif. Dimana HBsAg positif dengan DNA VHB lebih
dari 105 kopi/ml, dan didapatkan kenaikan konsentrasi ALT. Menurut status
HBeAg pasien dikelempokkan menjadi hepatitis B kronik HBeAg positif dan
hepatitis B kronik HBeAg negatif.
2. Hepatitis B kronik inaktif. HBsAg positif, DNA VHB rendah yaitu kurang
dari 105 kopi/ml, dan konsentrasi ALT noral dan tidak ada didapati keluhan. Pada
hepatitis B kronik inaktif sulit dibedakan antara hepatitis B kronik HBeAg negatif
dengan VHB inaktif (Soemohardjo,2009).
Kriteria Diagnosis Infeksi VHB
Hepatitis B Kronik
1. HBsAg seropositif > 6 bulan
2. DNA VHB serum >20.000 IU/mL (nilai yang lebih rendah
2000-20.000 IU/mL ditemukan pada HBeAg negatif)
3. Peningkatan ALT yang presisten maupun intermiten
4. Biopsi hati yang menunjukkan hepatitis kronik dengan
derajat nekroinflamasi sedang sampai berat
Pengidap Inaktif
1. HBsAg seropositif > 6 bulan
2. HBeAg (-), anti HBe (+)
3. ALT serum dalam batas normal
4. DNA VHB <2000-20000 IU/mL
5. Biopsi hati yang tidak menunjukkan inflamasi yang dominan
Resolved Hepatitis Infection
1. Riwayat infeksi Hepatitis B, atau adanya anti-HBc dalam
darah
2. HBsAg (-)
3. DNA VHB serum yang tidak terdeteksi
4. ALT serum dalam batas normal
(Sumber asli: PPHI, 2012)
2.8. Vaksin Hepatitis
Cara terbaik untuk mencegah hepatitis B adalah dengan mendapatkan
vaksin hepatitis B. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif dan biasanya
diberikan 3-4 suntikan selama 6 bulan. Semua anak harus mendapatkan vaksin
hepatitis B pada saat lahir dan menyelesaikan vaksin hingga usia 6-18 bulan.
Vaksin dianjurkan untuk semua bayi sehingga mereka akan terhindar dari
mengembangkan hepatitis B akut menjadi infeksi hepatitis B kronis, namun
vaksin mampu mencegahnya. Pemberian vaksin hepatitis B menunjukkan
perlindungan terhadap infeksi hepatitis B akut dan kronis, gejala berlangsung
selama ≥ 22 tahun (Sarah dkk, 2013).
Saat ini dikenal 3 type vaksin yaitu (Lubis, 2004):
1. Human Plasma Derived
Vaksin ini berasal dari plasma. Dalam pemberiannya tidak ditemukan efek
samping yang berarti.
2. Recombinant
DNA recombinan vaccine, merupakan HBsAg yang dimurnikan dimana
komposisinya sama dengan human plasma derived yang berasal dari plasma.
3. Polypeptide
Vaksin ini masih dalam tahap ekperimental dan penggunaannya belum ditetapkan.
Semua anak- anak dan remaja yang berusia kurang dari 18 tahun dan belum
divaksinasi sebelumnya harus divaksin jika mereka tinggal di negara-negara
dimana ada endemisitas rendah atau menengah. Kelompok berisiko tingga dapat
memperoleh infeksi dan mereka juga harus divaksinasi. Mereka termasuk (WHO,
2013):
• Orang yang sering membutuhkan donor darah atau pasien dialisis. • Penerima transplantasi organ padat.
• Orang magang di penjara
• Pengguna narkoba
• Rumah tangga dan kontak seksual orang dengan infeksi VHB kronis. • Orang dengan beberapa mitra seksual, serta petugas kesehatan dan orang
lain yang mungkin terkena darah dan produk darah melalui pekerjaan mereka. • Wisatawan yang belum menyelesaikan seri vaksinasi hepatitis B mereka harus ditawarkan vaksin sebelum berangkat ke daerah endemis.
Ada 2 cara penularan infeksi VHB yaitu penularan secara horizontal (dari
pengidap hepatitis kepada individu yang masih rentan) dan secara vertikal (ibu
hamil kepada bayi) (Soemohardjo, 2008).
2.9.1. Penularan Secara Horizontal
Dapat melalui kulit ataupun selaput lendir
a. Melalui Kulit
Penularan melalui kulita bisa disebabkan oleh karena adanya tusukan yang jelas
(penularan (parenteral), misalnya suntikan, transfusi darah, tatto atau pemberian
produk yang berasal dari darah. Ada pula yang disebabkan tanpa tusukan yang
jelas, misalnya bahan infektif melalui goresan dan radang pada kulit.
b. Melalui Selaput Lendir
Selaput lendir yang diduga manjadi jalan masuk VHB kedalam tubuh adalah
selaput lendir mulut, hidung, mata dan kelamin. Penularan melalui selaput lendir
mulut dapat terjadi pada mereka yang sariawan maupun selaput lendir mulut
terluka. Melalui selaput lendir kelamin dapat terjadi akibat hubungan seksual
dengan pasangan yang mengandung HBsAg positif yang bersifat infeksius (Ali,
1995).
2.9.2. Secara Vertikal
Terjadi pada masa sebelum kelahiran maupun prenatal, selama persalinan
atau perinatal dan setela persalinan atau postnatal. Bayi yang tertular VHB secara
vertikal mendapat penularan pada masa perinatal yaitu saat proses persalinan (Ali,
1995).
2.10. Penatalaksanaan Hepatitis B Kronik
Tujuan pengobatan VHB ini adalah untuk mencehag atau menghentikan
radang hati (liver injury) dengan menekan replikasi virus atau menghilangkan
injeksi. Titik akhir dalam pengobatan hepatitis B adalah hilangnya bertanda
replikasi virus yang aktif secara menetep (Sudoyo, 2006).
Tidak semua pasien dengan infeksi VHB kronis perlumendapatkan terapi
yang benar hanya akan merugikan pasien, baik dari aspek biaya, keberhasilan
terapi, dan resiko resistensi obat (Cahyono, 2008).
Banyak obat antiviral yang telah dicoba untuk mengobati hepatitis B tapi
belum ada yang memuaskan. Saat ini yang dianggap paling baik hasil adalah
interferon dan lamivudin.
• Interferon, diberikan secara intensif 3 kali seminggu. Lamanya minimal
4-6 bulan. Keberhasilannya 40%-50%. Efek sampingnya mengganggu dan harganya
sangat mahal. Ada jenis interferon kerja panjang yang bisa diberikan cukup 1 kali
seminggu, yaitu Peggylated Interferon.
• Lamivudin, diberikan per oral, efek sampingnya sedikit. Diberikan
[image:30.595.107.536.431.737.2]bersama dengan interferon atau dosis tunggal (Hilman dkk, 2010).
Tabel 2.3 Rekomendasi Terapi Hepatitis B
HBeAg HBV DNA
(>105copies/ml)
ALT Strategi Pengobatan
+ + ≤ 2 x ULN Efikasi terhadap terapi rendah Observasi, terapi bila ALT
meningkat
+ + > 2x ULN -Mulai terapi dengan : interferon
alfa, lamivudin atau adefovir
-End point terapi : serokonversi
HBeAg dan timbulnya anti HBe
Durasi terapi :
i)Interferon selama 16 minggu
ii)Lamivudin minimal 1 tahun,
lanjutkan 3-6 bulan setelah
terjadi serokonversi HBeAg
-Bila tidak memberikan
respon/ada kontraindikasi,
interferon diganti lamivudin /
adefovir
-Bila resisten terhadap
lamivudin, berikan adefovir
- + >2x ULN -Mulai terapi dengan : interferon
alfa, lamivudin atau adefovir.
Interferon atau adefovir dipilih
mengingat kebutuhan perlunya
terapi jangka panjang
-End point terapi : normalisasi
kadar ALT dan HBV DNA
(pemeriksaan PCR) tidak
terdeteksi
-Durasi terapi :
·Interferon selama satu tahun
·Lamivudin selama > 1 tahun
·Adefovir selama > 1 tahun
-Bila tidak memberikan respon/
ada kontraindikasi interferon
diganti lamivudin / adefovir
-Bila resisten terhadap
lamivudin, berikan adefovir
- - 1- >2x ULN Tidak Perlu Terapi
+/- terdeteksi Sirosis Hati -Terkompensasi : lamivudin atau
adefovir
-Dekompensasi : lamivudin
(atau adefovir), interferon
(Sumber diterjemahkan: Lok, McMahon, 2009)
+/- Tidak terdektsi Sirosis Hati -Terkompensasi : observasi -Dekompensasi : rujuk ke pusat
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam
[image:34.595.146.506.254.420.2]penelitian ini adalah:
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
3.2. Definisi Operasional
3.2.1. Hepatitis B Kronik
Hepatitis B kronik adalah pasien yang dinyatakan hepatitis B sudah lebih
dari 6 (enam) bulan pada pasien dengan usia diatas atau sama dengan 18 tahun
yang dicatat pada rekam medik dan sedang menjalani rawat jalan di poli penyakit
dalam RSUP Haji Adam Malik Medan pada Januari 2012 – Desember 2013.
3.2.2. Sosiodemografi
Sosiodemografi adalah keterangan yang menunjukkan spesifikasi pribadi
dari pasien dan hubungan sosialnya di lingkungan masyarakat, yang meliputi usia,
jenis kelamin, suku, agama, pekerjaan, status perkawinan dan tempat tinggal. Karakteristik:
1. Sosiodemografi 2. Golongan Hepatitis
B Kronik
3. Viral Load (DNA VHB)
3.2.2.1. Usia
Lama hidup si penderita hepatitis B kronik yang dihitung sejak bulan dan
tahun kelahirannya hingga si pasien datang ke rumah sakit. Usia yang menjadi
hasil ukur penelitian ini adalah usia dimulai dari 18 tahun. Perhitungan bulan
kelahiran si pasien memakasi sistem penggenapan, dimana 1-10 bulan digenapkan
menjadi 0 tahun dan 10-12 bulan digenapkan menjadi 1 tahun.
3.2.2.2. Tempat Tinggal
Alamat tinggal atau daerah si pasien tinggal. Tempat tinggal ini dibagi
menjadi pasien yang berasal dari Kota Medan dan Luar Medan. Berasal dari Kota
Medan artinya semua pasien yang datang berobat ke RSUP Haji Malik Medan
masih berasal dari seluruh Kecamatan yang ada di Kota Medan. Sedangkan Luar
Medan, semua pasien yang datang berobat dari luar Kecamatan yang ada di Kota
[image:35.595.110.535.445.739.2]Medan.
Tabel 3.1. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian Variabel Definisi
Operasional
Cara Ukur Alat Ukur
Hasil Ukur Skala
Ukur
Umur Lama hidup si
penderita hepatitis B kronik yang dihitung bedasarkan tahun kelahiran
pasien hingga
dinyatakan sebagai pasien hepatitis B kronik Menganalisis rekam medik Rekam Medis
18 – 25 tahun
26 – 35 tahun
36 – 45 tahun
46 – 55 tahun
56 – 65 tahun
>65 tahun
Jenis Kelamin Jenis kelamin pasien hepatitis B kroni Analisis rekam medik Rekam medik Laki-laki Perempuan Nominal
Pekerjaan Aktivitas utama
HBeAg
Viral Load Kadar atau
jumlah virus yang terdapat pada darah pasien hepatitis B kronik Analisis rekam medis Rekam medis HBeAg(+)
->105 kopi/ml
-<105kopi/ml
HBeAg(-)
->104 kopi/ml
-<104 kopi/ml
Ordinal Indikasi terapi berdasarkan SGOT/SGPT Indikasi terapi berdasarkan gambaran enzim transaminase pada pasien hepatitis B kronik Analisis rekam medis Rekam medis SGOT/SGPT -Normal ->2-5x ULN
-≥5x ULN
Ordinal Jenis pengobatan Penatalaksanaan yang diberikan dokter kepada pasien hepatitis B kronik. Analisis rekam medis Rekam medis -Imunomodulasi -Anti Viral Nominal Respon pengobatan Hasil/ perubahan HBV DNA (viral load) pasien hepatitis
B kronik setelah
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif karena bertujuan untuk
menggambarkan suatu fenomena yang ditemukan berkitan dengan karakteristik
penyakit hepatitis B kronik yang dirawat jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional (potong
melintang) dimana hanya dilakukan satu kali pengambilan sampel dan tidak ada
prosedur tindak lanjut atau follow up.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada
instalasi rekam medik.
4.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2014- Desember 2014.
4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi target pada penelitian ini adalah rekam medik pasien dengan
hepatitis B kronik yang berusia diatas 18 tahun. Sedangkan Populasi terjangkau
penelitian ini adalah pasien dengan hepatitis B kronik yang datang berobat ke poli
penyakit dalam RSUP Haji Adam Malik Medan sejak Januari 2012 – Desember
4.3.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah rekam medik pasien yang menjadi
populasi terjangkau, yaitu pasien hepatitis B kronik yang berobat ke poli penyakit
dalam RSUP Haji Adam Malik Medan sejak Januari 2012 – Desember 2013.
4.4. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu
berupa rekam medik pasien hepatitis B kronik yang dirawat jalan di RSUP Haji
Adam Malik Medan pada Poli Penyakit Dalam dimana hal yang diperlukan
[image:39.595.243.421.329.606.2]dalam penelitian ini akan dicatat dan diuraikan berdasarkan kebutuhan peneliti.
Gambar 4.1. Bagan kerangka operasional
4.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan bantuan program komputer.
Yang nantinnya akan disajikan dalam bentuk tabel.
Rekam Medik Pasien
RSUP Haji Adam Malik
Hasil Laboratorium
Karakteristik: 1. Sosiodemografi 2. Golongan Hepatitis B
Kronik
3. Viral Load (DNA VHB) 4. Jenis Pengobatan
BAB 5
HASIL PENELITI AN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah di Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik
Medan. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik terletak di Jalan Bunga Lau
No. 17 KM.12 Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi
Sumatera Utara.
Sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990 Rumah Sakit
Umum Haji Adam Malik merupakan rumah sakit kelas A. Dan sesuai dengan SK
Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
Malik juga sebagai pusat rujukan wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi
Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan Riau.
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medik Rumah Sakita Umum
Pusat Haji Adam Malik Medan, yang berada di lantai satu gedung Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
5.1.2. Deskripsi Data Penelitian
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, yaitu berupa data
yang berasal dari rekam medis penderita Hepatitis B Kronik yang berisi data
pribadi pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium dari Hepatitis B Kronik di
Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Data
yang diambil berada pada kurun waktu 2 tahun, yaitu dari 1 Januari 2012 sampai
31 Desember 2013.
Jumlah data keseluruhan adalah 72 data rekam medis, namun hanya 42
data rekam medis lengkap yang berisi data berupa data pribadi pasien yaitu umur,
jenis kelamin, status pernikahan, pekerjaan dan alamat tinggal, disertai dengan
hasil pemeriksaan HBeAg, HBV DNA (viral load), SGOT/SGPT serta jenis obat
5.1.2.1. Karakteristik Pada Pasien Hepatitis B Kronik di RSUP HAM Medan.
Karakteristik dasar pada pasien hepatitisB kronik di RSUP HAM
Medan dibagi atas beberapa variabel yaitu berupa jenis kelamin, usia, pekerjaan,
tempat tinggal, dan status pernikahan. Distribusi karakteristik dasar pasien
hepatitis B kronik di RSUP HAM Medan pada tahun 2012 sampai 2013 dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Dasar Pasien Hepatitis B Kronik di RSUP HAM Medan
Variabel Frekuensi (n=42) Persen (%=100)
1. Jenis Kelamin
Pria 31 73,8
Wanita 11 26,2
2. Usia
17 – 25 tahun 4 9,5
26 – 35 tahun 4 9,5
36 – 45 tahun 12 28,6
46 – 55 tahun 14 33,3
56 – 65 tahun 6 14,3
66 – 75 tahun 2 4,8
3. Pekerjaan
IRT 1 2,4
Mahasiswa 2 4,8
Pegawai Negri Sipil 22 52,4
Pegawai Swasta 3 7,1
Pensiunan 4 9,5
Petani 2 4,8
Wiraswasta 5 11,9
4. S. Pernikahan
Menikah 35 83,3
Belum Menikah 6 14,3
Janda/Duda 1 2,4
5. Tempat Tinggal
Luar Medan 22 52,4
Medan 20 47,5
Berdasarkan tabel 5.1., didapati bahwa jumlah jumlah pasien hepatitis B
kronik di RSUP HAM Medan yang memiliki data rekam medik yang lengkap
adalah sebanyak 42 kasus.
Pada tabel 5.1., berdasarkan penggolongan jenis kelamin didapati bahwa
pasien dengan jenis kelamin laki- laki adalah jumlah yang terbanyak yaitu
sebanyak 31 kasus (73,8%). Sedangkan berdasarkan usia, kelompok dengan usia
46 – 55 tahun adalah yang terbanyak, yaitu sebanyak 14 kasus (33,3%) dengan
rata- rata usia +/- 44,8 (std.deviasi 11,244). Berdasarkan jenis pekerjaannya, yang
terbanyak adalah pekerjaan PNS yaitu sebanyak 22 kasus (52,4%). Berdasarkan
tempat tinggal, pasien yang berasal dari luar Medan adalah yang terbanyak yaitu
sebanyak 22 kasus (52,4%). Sedangkan berdasarkan status pernikahan, pasien
[image:42.595.109.514.113.279.2]yang sudah menikah adalah yang terbanyak yaitu sebanyak 35 kasus (83,3%).
Tabel 5.2. Gambaran Hepatitis B Kronik Berdasarkan Antigen Hbe (HBeAg) Di RSUP HAM Medan
HBeAg Frekuensi (n=42) Persen (%=100)
HBeAg (-) 25 59,5
HBeAg (+) 17 40,5
Berdasarkan tabel 5.2., didapati bahwa berdasarkan gambaran antigen Hbe
(HBeAg) pada pasien hepatitis B kronik di RSUP HAM Medan yang terbanyak
Tabel 5.3. Gambaran Kadar Viral Load (HBV DNA) Pada Pasien Hepatitis B Kronik di RSUP HAM Medan
HBV DNA Frekuensi Persen
HBeAg (-) 25 100
< 104 9 36
≥ 104 16 64
HBeAg (+) 17 100
< 105 6 35,3
≥ 105
11 64,7
Berdasarkan tabel 5.3., didapati bahwa gambaran kadar viral load pada
pasien hepatitis B kronik di RSUP HAM yang terbanyak pada HBeAg (-) adalah
HBV DNA ≥10 4 sebanyak 16 kasus (64%) dan pada HBeAg (+) adalah HBV
DNA ≥105 yaitu sebanyak 10 kasus (58,8%).
Tabel 5.4. Gambaran Hepatitis B Kronik Berdasarkan Enzim Transaminase
SGOT/SGPT Frekuensi (n=24) Persentase (%=100)
SGOT
Normal 36 85,7
2 – 5 ULN 5 11,9
≥ 5 ULN 1 2,4
SGPT
Normal 34 81
2 – 5 ULN 7 16,7
≥ 5 ULN 1 2,4
Berdasarkan tabel 5.4., didapati bahwa pada pasien hepatitis B kronik di
RSUP HAM Medan SGOT terbanyak adalah dengan kadar normal, yaitu
sebanyak 36 kasus (85,7%) dan SGPT terbanyak adalah dengan kadar normal,
[image:43.595.110.518.423.610.2]Tabel 5.5. Distribusi Pasien Hepatitis B Kronik Berdasarkan Pengobatan
Pengobatan Frekuensi (n=42) Persen (%=100)
Adefovir dipivoxil 5 11,9
Curcuma 3 7,1
Lamivudin 1 2,4
Pegylated interferon 1 2,4
Telbivudine 32 76,2
Berdasarkan tabel 5.5., pengobatan terbanyak yang diberikan kepada
pasien hepatitis B kronik di RSUP HAM Medan adalah golongan telbivudine
yaitu sebanyak 32 kasus (76,2%).
[image:44.595.106.516.384.445.2]
Tabel 5.6. Respon Terapi Pada Pasien Hepatitis B Kronik di RSUP HAM Medan
Respon Frekuensi (n=42) Persen (%=100)
Complete Respon 23 54,8
Unrespon 19 45,2
Berdasarkan tabel 5.6., complete respon adalah respon yang paling banyak
didapati pada pasien heptitis B kronik di RSUP HAM Medan yaitu sebanyak 23
kasus (54,8%).
5.2. Pembahasan
Dari penelitian tentang karakteristik hepatitis B kronik di RSUP HAM
Medan pada Januari 2012 – Desember 2013 ini ditemukan bahwa mayoritas
penderita hepatitis B kronik adalah laki- laki. Hal serupa juga ditemui pada
penelitian yang dilakukan oleh Yan Zeng et al. (2014) di China, dimana dari
623 pasien yang menjadi sample penelitian terdapat 456 pasien yang berjenis
kelamin laki- laki (72,2%). Dan hasil yang tidak jauh berbeda di temui pada
penelitian yang dilakukan Yilmaz et al. (2014) dimana pada penelitian mereka
dari 77 sample terdapat 40 sample berjenis kelamin laki- laki (52%). Menurut
penelitian Elisabet (2008), pria lebih cenderung menderita infeksi hepatitis B
antara wanita dan pria. Seperti penularan melalui tatto, homoseksual, pemakaian
narkoba, sering terjadi pada kaum pria. Selain itu kesadaran berobat pria lebih
rendah dibandingkan wanita.
Berdasarkan usia, pada penelitian ini didapati bahwa usia terbanyak yang
menjadi penderita hepatitis B kronik di RSUP HAM Medan adalah kelompok usia
46 – 55 tahun dengan rata- rata usia 44,8. Hal yang tidak jauh berbeda didapati
pada penelitian Ridruejo (2014) dimana pada penelitian ini didapati rata- rata usia
sample adalah ± 44 dengan rentang usia 35 – 54 tahun. Namun rata- rata usia yang
berbeda didapati pada penelitian yang dilakukan oleh Lester (2014) di Australia,
dimana pada penelitian tersebut didapati rata- rata usia adalah ±37 dari 40 total
sample, menurutnya hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang sering
mengkonsumsi alkohol pada usia tersebut.
Berdasarkan jenis pekerjaannya, pekerjaan sebagai PNS (Pegawai Negri
Sipil) adalah yang terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini. Namun hingga
saat ini belum ada penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan variable yang
dilakukan pada penelitian ini.
Begitupun berdasarkan tempat tinggal dimana kasus terbanyak dijumpai pada
penelitian ini berasal dari luar Medan. Belum ada penelitian sebelumnya yang
berkaitan dengan hal ini. Namun hal ini tidak bisa dijadikan patokan, sebab
menurut lokasi tempat penelitian hal ini bisa saja terjadi mengingat RSUP HAM
Medan merupakan rumah sakit pusat rujukan wilayah Pembangunan A, yang
meliputi beberapa kota diluar Medan seperti kota di Nanggroe Aceh Darussalam,
kota- kota di Sumatera Barat dan Riau.
Berdasarkan status pernikahan, pada penilitian ini didapati bahwa yang
terbanyak adalah pasien dengan status sudah menikah, namun belum ada
ditemukan penelitian yang serupa sebelumnya yang dapat menjelaskan mengapa
hal ini dapat terjadi.
Pada penelitian ini dapati bahwa kasus hepatitis B kronik dengan HBeAg
(-) adalah yang terbanyak. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian yang
dilakukan oleh Simeon et al. (2014), dimana pada penelitian ini ditemukan
hepatitis B kronik yang diteliti. Namun beda halnya dengan yang ditemukan pada
penelitian yang dilakukan oleh Hong (2014) di China, dimana pada penelitian
tersebut didapati bahwa pasien dengan HBeAg (+) adalah yang terbanyak
dibandingkan dengan HBeAg (-) (58,1% vs 41,9%). Menurut Simeon et al.
(2014), perbedaan prevalensi berdasarkan HBeAg ini ditentukan juga oleh lokasi
penelitian apakah lokasi penelitian merupakan lokasi dengan endemitas tinggi
atau lokasi dengan endemitas rendah. Penelitian ini dilakukan di RSUP HAM
Medan, dimana pada Tong et al. (2011), ditemukan bahwa Indoneia merupakan
daerah dengan endemitas yang masih tergolong rendah dibandingkan dengan
negara- negara lain disekitar Asia Tenggara.
Pada penelitian ini, berdasarkan kadar viral load (HBV DNA) terdapat 16
kasus dengan HBeAg(-) yang akan mendapatkan terapi dan biopsi hati, seperti
yang dikemukakan oleh Lok dan McMahon (2009) dimana pada guideline
tersebut terdapat logaritma penatalaksanaan hepatitis B kronik pasien dengan
HBeAg (-) , ALT >2 ULN dan HBV DNA ≥20.000 (≥10 4) dikatakan dilakukan
pemberian terapi lanjutan dan pilihan melakukan biopsi hati. Dan terdapat 10
kasus dengan HBeAg(+) pada kasus ini yang terindikasi untuk mendapatkan
terapi lanjutan ataupun melakukan pemeriksaan lanjutan. Menurut Tong et al.
(2011) pasien dengan HBeAg (+) dan kadar HBV DNAnya berada pada tingkat
105 – 108 kopi/mL dianjurkan untuk melakukan biopsi hati dan pada biopsi hati
tersebut akan terlihat nekroinflamasi yang masih aktif yang sangat
memungkinkan terjadinya fibrosis hati sehingga diperlukan terapi lanjutan untuk
mencegah terjadinya fibrosis tersebut.
Berdasarkan IPD (2009), nilai normal dari SGOT/SGPT adalah 5-40/ 5-35
IU/I, meningkat sesuai inflamasi, atau nekrosis hati. Menurut Tong et al. (2011),
nilai SGOT/SGPT diatas normal adalah salah satu indikasi pemberian antiviral,
dan juga harus melihat status HBeAg dan HBV DNA. Namun menurut Yadav et
al,.(2014) pada penelitiannya di India mengatakan bahwa nilai normal dan nilai
batas atas dari SGOT/SGPT berbeda- beda, tergantung pada informasi dan
metodologi yang dipakai. Pada penelitian ini nilai batas atas yang dipakai adalah
nilai batas atas yang dipakai sebagai rekomendasi terapi dan follow up adalah >2x
ULN. Dan berdasarkan guideline tersebut maka pada penelitian ini terdapat 6
kasus berdasarkan nilai SGOT dan 8 kasus berdasarkan nilai SGPT yang
terindikasi untuk mendapatkan terapi lanjutan maupun follow up.
Berdasarkan pemberian terapi, terapi dengan menggunakan telbivudine
adalah yang terbanyak dan memberikan lebih banyak respon yang complete pada
penelitian di RSUP HAM Medan pada Januari 2012 – Desember 2013. Hal ini
sesuai dengan hasil yang telah diteliti oleh Lung Lai et al. (2007), yang
mengatakan bahwa pada pasien HBeAg (+) dan HBeAg (-), telbivudine lebih
unggul dibanding lamivudine (75,3% vs 67,0%) sehubungan dengan penurunan
rata-rata jumlah salinan HBV DNA dari awal, proporsi pasien dengan penurunan
DNA HBV ke tingkat tidak terdeteksi dengan uji polymerase - chain - reaksi , dan
pengembangan resistensi terhadap obat tersebut. Perbedaan tampak jelas pada
minggu ke 12, dan bertahan selama 52 minggu. Dan menurut Liang et al. ( 2014),
dalam penelitian yang mereka lakukan di China mengatakan bahwa telbivudine
tidak hanya mengurangi kadar serum HBV DNA, ALT dan AST tetapi juga
mengoreksi gangguan fungsi kekebalan pada pasien hepatitis B kronik. Ada
kemungkinan bahwa telbivudine menghambat replikasi HBV sehingga
BAB 6
Kesimpulan Dan Saran
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, maka kesimpulan yang
dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penderita hepatitis B kronik terbanyak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan pada tahun 2012 sampai 2013 adalah berjenis kelamin laki-
laki, yaitu sebanyak 31 orang.
2. Berdasarkan kelompok usia, kelompok usia 46 – 55 tahun adalah yang
paling banyak pada penderita hepatitis B kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan yaitu sebanyak 14 orang.
3. PNS (Pegawai Negri Sipil) adalalah pekerjaan yang paling banyak yang
lakoni oleh penderita hepatitis B kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
Malik Medan yaitu sebanyak 22 orang.
4. Berdasarkan tempat tinggal, penderita hepatitis B kronik di Rumah Sakit
Haji Adam Malik Medan terbanyak berasal dari luar Medan yaitu sebanyak 22
orang.
5. Penderita hepatitis B kronik dengan satus sudah menikah adalah yang
terbanyak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yaitu sebanyak
35 orang.
6. Penderita hepatitis B kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
Malik Medan berdasarkan HBeAg, yang terbanyak adalah penderita dengan
HBeAg (-) yaitu sebanyak 25 orang.
7. HBV DNA/ viral load HBeAg (-) yang mendapatkan indikasi terapi
lanjutan adalah sebanyak 16 kasus. Sedangkan HBV DNA/ viral load HBeAg (+)
yang mendapatkan indikasi terapi lanjutan adalah sebanyak 10 kasus.
8. Indikasi terapi berdasarkan nilai SGOT/SGPT pada penelitian ini adalah
9. Pengobatan terbanyak yang diterima oleh penderita hepatitis B kronik di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan adalah pemberian obat
golongan Telbivudine yaitu sebanyak 32 kasus.
10. Sebanyak 23 orang penderita hepatitis B kronik di Rumah Sakit Umum
Pusat Haji Adam Malik Medan mengalami complete respon sekaligus respon
yang terbanyak yang dialami oleh penderita hepatitis B kronik.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil yang didapat pada penelitian yang telah dilakukan maka
dapat dikemukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Rekam Medis sebagai sumber data pemelitian sebaiknya lebih lengkap
dalam melampirkan pelaporan pemeriksaan, hasil pemeriksaan dan follow up
yang dilakukan serta lebih spesifi dalam pengklasifikasian serta mencatat
informasi- informasi penting lainnya, sehingga memudahkan dalam pengolahan
data.
2. Daftar nomor rekam medis yang berada di rekam medis sebaiknya
disamakan dengan nomor rekam medis yang berada di komputer data rekam
medis agar lebih mudah dalam pengolahan data dan menghitung prevalensi
kejadian suatu penyakit.
3. Pengobatan dengan telbivudine pada penderita hepatitis B kronik cukup
memberikan respon yang baik, namun masih perlu dilakukan penelitian yang
berkesinambungan mengenai pengobatan dengan telbivudine tersebut sebagai
langkah untuk memberikan pengobatan yang lebih baik kepada penderita hepatitis
B kronik.
4. Masyarakat sebaiknya menerima informasi yang baik mengenai penyakit
ini agar masyarakat menjadi lebih peduli untuk memeriksakann diri ke dokter,
mengingat gejala hepatitis B kronik ini adalah gejala klasik yang sering diabaikan
DAFTAR PUSTAKA
Ali S., dkk., 1995. Virus Hepatitis A sampai E di Indonesia. Yayasan Penerbit
Ikatan Dokter Indonesia. Jakarta.
Anna, S. F. Brian, J. McMahon.2009. Chronic Hepatitis B: Update 2009.
Available from:
Mei 2014].
Cindy, M.Weinbaum, Williamm, Lans. 2011. Recommendation of Persons with
Chronic Hepatitis B Virus Infection. Available from:
13 Mei 2014]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Lembar Fakta Hepatitis. Pusat
Komunikasi Publik. Sekretariat Jenderal Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. Available from :
Franco, E., et al., 2012. Hepatitis B: Epidemiology and Prevention in Developing
Countries. World Journal of Hepatology, Vol.4: 74-80.
Handri I., 2004, Karakteristik Penderita Hepatitis B Rawat Inap di Rawat Inap di
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 1999-2003. Available from:
2014].
Hilman, K. 2010. Penatalaksanaan Hepatitis B Kronik. Available from:
cls.maranatha.edu/khusus/ojs/index.php/jurnal-kedokteran/article/.../pdf
[Accesed: 15 Mei 2014].
Jacques, Jean dkk. 2013. Occupational exposure to blood, hepatitis B vaccine
knowledge and uptake among medical students in Cameroon. Available
Lindseth, Glendan N. 2012. Gangguan Hati, Kandung Empedu, dan Pankreas. In:
Price, Sylvia A.,ed. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- proses Penyakit.
Penerbit Buku Kedokteran (ECG). Jakarta. Page: 472-76
Lubis, Chairuddin P.2010. Imunisasi Hepatitis B Manfaat Dan Kegunaannya
Dalam Keluarga. Available from:
2014].
Lung Lai, Ching., et al., 2007. Telbivudine versus Lamivudine in Patients with
Chronic Hepatitis B. Available from
Desember 2014].
Liang, Ma. 2013. Treatment with Telbivudine Positively Regulates Antiviral
Immune Profile in Chinese Patient with Chronic Hepatitis B. Available
from:
05 Desember 2014.
Misnadiarly. 2007. Mengenal, Menanggulangi, Mencegah, dan Mengobati
Penyakit Hati (Liver). Pustaka Khas Populer. Jakarta.
Notoatmodjo, S.2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Panggabean, Elisabeth. 2010. Karakteristik Penderita Hepatitis B Rawat Inap di
RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2006-2009.
Available from
[Accesed, 19 Mei 2014].
Reena, Mahajan dkk.2009. Use of the International Classification of Disesase, 9th
revision, coding in identifying chronic hepatitis B virus infection in
health system data: implications national surveillance. Available from:
[Accesed: 18 Mei 2014].
Ridruejo, Ezequiel. 2014. Treatment of chronic hepatitis B in clinical practice
with entecavir of tenovir. Available from:
Sanityoso, A., 2009. Hepatitis Virus Akut. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Interna Publishing. Page: 644-661.
Schillie, Sarah dkk. 2013. CDC Guidance for Evaluating Health-Care Personnel
for Hepatitis B Virus Protection and for Administering Postexposure
Management. Available from:
23 Mei 2014].
Seluaraju, Rathiruba. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Status
Imunisasi Hepatitis B Pada Mahasiswa Setambuk 2007 Dan 2010
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2011. Available
from:
Mei 2014].
Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem 6th ed. Penerbit
Buku Kedokteran (ECG). Jakarta.
Situmorang, Sahat. 2009. Pengaruh Pentoxifylline Terhadap Perubahan Skor
Forns Penderita Hepatitis B Kronis Penelitian Di Bagian /Smf Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran USU/RS H Adam Malik Medan
Februari 2008- Juni 2008. Available from:
2014].
Schimidt A, Weber O, Kaufmann SHE.2010. Comparative Hepatitis Jerman.
Available from
Simeon, M.G., et al.,2014. Seroepidemiology of chronic hepatitis B and C in the
French Caribbean Islan of Guadeloupe. Available from:
[Accesed: 05
Desember 2014].
Soehardmojo, Soewignjo. 2009. Hepatitis B Kronik. In: Sudoyo dkk, ed. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing. Page: 653-60.
Suharjo, J.B., 2006. Diagnosis dan Manajemen Hepatitis B Kronis. Available
Tong, J.M., et al., 2011. The Management of Chronic Hepatitis B in Asian
Americans. Available from:
02 Desember 2014]
Wah, C.P., et al., 2012. Awareness and Knowledge of Hepatitis B Infection and
Prevention and The Use of Hepatitis B Vaccination in the Hong Kong
Adult Chinese Population. Chinese Medical Journal, 125 (3): 422-427.
World Health Organization, 2011. Health Care Worker Safety . Available from:
[Accesed 22 Mei 2014].
World Health Organization, 2009. Global Control of Hepatitis B Virus: does
treatment-induced antigenic change affect immunization. Available from:
Mei 2014].
World Health Organization, 2011. Hepatitis B. Available from:
World Health Organization, 2012. Hepatitis B. Available from:
2014].
Yadav, Dharamveer.,et al., 2012. Establishment of Reference Interval for Liver
Specific Biochemical Parameters in Apparently Healthy North Indian
Population. Available from:
Desember 2014].
Yan Zeng, Lin., et al., 2014. Hepatitis B surface antigen levels during natural
history of chronic hepatitis B: A Chinese perspective study. Available
from:
Yilmaz, Baris., et al.,2014. The utility of thrombopoietin in predicting liver
fibrosis ini chronic hepatitis B. Available from:
Desember 2014].
Zhu, H.M., et al., 2014. Liver Stiffness Measurement-Based Scoring System for
Significant Inflammation Related to Chronic Hepatitis B. Available from:
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Maya Sari Aritonang
Tempat/Tanggal Lahir: Medan, 11 Mei 1993
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jalan Abdul Hakim No. 17A, Tj.Sari Pasar 1, Medan
Riwayat Pendidikan :
1. Lulus SD Taman Siswa Medan (2005)
2. Lulus SMP Putri Cahaya Medan (2008)
3. Lulus SMA St. Thomas 2 Medan (2011)
Riwayat Organisasi :
1. Anggota Seksi Doa Perayaan Natal FK USU 2011
2. Anggota Seksi Dana Perayaan Paskah FK USU 2012
3. Anggota Seksi Dana Perayaan Natal FK USU 2012
4. Anggota Seksi Dana Perayaan Paskah FK USU 2013
5. Anggota Seksi Transportasi Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Kristen FK
USU 2013
6. Anggota Seksi Publikasi Medical Futsal League FK USU 2013
7. Anggota Seksi Transportasi Perayaan Natal FK USU 2013
8. Anggota Seksi Transportasi Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Kristen FK
DATA INDUK
No. Usia JK Pekerjaan S. Pernikahan T. Tinggal HBeAg HBV DNA Pengobatan SGOT/SGPT Respon
1 19 L Mahasiswa
Belum
Menikah Siantar + 17 x 107 Sebivo 51/61 Complete
2 23 L P. Swasta
Belum
Menikah Medan - 3,21 x 102 Curcuma 14/24 Un
3 24 L PNS
Belum
Menikah Medan + 1,5 x 104 Hepsera 17/25 Un
4 25 L Mahasiswa
Belum
Menikah Medan - 4,1 x 108 Sebivo 21/22 Un
5 31 L TNI/POLRI Menikah D. Serdang - 2,24 x 102 Curcuma 13/14 Complete
6 33 L Petani Menikah Simalungun + 3,12 x 106 Sebivo 100/157 Complete
7 34 L PNS Menikah Aceh + 2,4 x 105 Sebivo 45/43 Complete
8 34 P PNS Menikah Medan + 4,5 x 106 Sebivo 50,36/92 Un
9 37 L PNS Menikah D. Serdang - 5,33 x 10 Sebivo 46/59 Complete
10 38 L Wiraswasta
Belum
Menikah Medan - 2,26 x 107 Sebivo 32/50 Un
11 39 L Wiraswasta Menikah Aceh - 98,9 Sebivo 10/13. Complete
12 41 L PNS Menikah Aceh - 2,12 x 106 Sebivo 21/24 Complete
13 41 P PNS Menikah Siantar - 2,32 x 103 Sebivo 24/25 Complete
14 42 L PNS Menikah Siantar + 4,3 x 104 Sebivo 39/74 Complete
15 42 L Wiraswasta Menikah Simalungun - 3,25 x 103 Sebivo 18/20 Un
16 42 L PNS Menikah L. Batu - 9,66 x 103 Sebivo 12/10. Complete
17 43 L PNS Menikah Aceh + 1,06 x 107 Sebivo 145/70 Complete
18 43 L PNS Menikah Aceh + 8,83 x 105 Sebivo 33/48 Un
19 43 P PNS Menikah Medan - 3,51 x 107 Sebivo 29/32 Complete
20 44 P PNS Menikah Siantar - 1,21 x 105 Sebivo 13/12. Un
21 46 P IRT Menikah Aceh + 3,36 x 103 Sebivo 73/53 Un
22 46 L TNI/POLRI Menikah Sibolga + 1,67 x 102 Sebivo 46/36 Complete
23 47 L PNS Menikah Medan + 1,76 x 103 Sebivo 21/22 Un
24 47 L P. Swasta Menikah Medan - 3,49 x 106 Sebivo 18/22 Complete
25 47 P PNS Menikah Medan - 2,82 x 106 Sebivo 32/30 Complete
26 48 L PNS Menikah Medan - 4,81 x 102 Sebivo 75/52 Un
27 48 L Wiraswasta Menikah Aceh - 1,68 x 105 Sebivo 39/43 Complete