THE INFLUENCE OF REGIONAL ORIGINAL INCOME AND
GENERAL ALLOCATION FUND TOWARDS CAPITAL
EXPENDITURE SUMEDANG DISTRICT
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Sidang
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Disusun Oleh :
NAMA : KARNA YUDA DESVIANA
NIM : 21107121
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG
Penelitian ini dilakukan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah di Kabupaten Sumedang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah di Kabupaten Sumedang baik secara simultan maupun parsial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu laporan realisasi anggaran dari tahun 2001-2010. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah data sebanyak 10 tahun. Metode statistic yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu dengan menggunakan program SPSS 15.0.
Hasil penelitian ini menunjukan secara parsial bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Selain itu secara simultan baik Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
v
The research was conducted in the Department of Revenue Finance and Asset Management Areas in the District of Sumedang. The purpose of this study was to determine the magnitude of the influence of Revenue and General Allocation Fund to the Capital Expenditure on Revenue Department of Finance and Asset Management Areas in the District of Sumedang either simultaneously or partial.
The method used in this research is descriptive analysis method with quantitative approach. The population used in this research that the budget realization reports from the year 2001-2010. Sample selection is done by using purposive sampling method with the amount of data as much as 10 years. Statistical method used is multiple linear regression to test the classic assumption in advance using the program SPS 15.0.
These results indicate that partial revenue (PAD) have a significant effect on Capital Expenditures. While the General Allocation Fund (DAU) have a significant effect on Capital Expenditures. Additionally simultaneously both revenue (PAD) and the General Allocation Fund (DAU) Capital Expenditures significant effect.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Illahi Robbi, karena atas
ridho dan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul:
“Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah Dan Dana Alokasi Umum
Terhadap Belanja Modal Di Kabupaten Sumedang”.
Selama menyusun laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Untuk itu penulis hanya
dapat menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang
terhormat:
1. Dr. Ir. Eddy Suryanto Soegoto, M.Sc. selaku Rektor Universitas Komputer
Indonesia.
2. Prof. Dr. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Komputer Indonesia.
3. Sri Dewi Anggadini, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Akuntansi pada
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
4. Wati Aris Astuti , S.E., M.Si., Selaku pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu guna membimbing, mengarahkan, dan memberikan
7. A Dedi selaku pembimbing dikantor Dinas Dinas Penapatan, Pengelolaan
Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Sumedang.
8. Ibundaku tercinta yang tak pernah bosan memberikan dorongan semangat dan
limpahan kasih sayangnya selama ini.
9. Putra, Dede, Rama, Reggy, Apih dan Mimihku, orang yang selama ini selalu
menjadi inspirasi aku dan juga teman-teman Ak-3 2007 yang tidak dapat
dituliskan satu per satu.
10. Teman dan senior di Program Studi Akuntansi yang telah banyak berbagi
pengalaman.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan
pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
konstruktif akan senantiasa diterima penulis sebagai masukan yang berarti. Sehingga
dalam penyusunan karya tulis lainnya penulis dapat menyusun dengan lebih baik.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan skripsi ini dapat bermanfaat dan
menjadi pendorong untuk lebih maju serta semangat berbuat yang terbaik untuk diri
sendiri dan orang lain.
Terima kasih.
1.1 Latar Belakang Penelitian
Kebijakan desentralisasi fiskal Indonesia mulai diberlakukan secara efektif
per Januari tahun 2001. Kebijakan tersebut tertuang dalam UU No. 22 Tahun
1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang
perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. UU ini dalam
perkembangannya diperbarui dengan dikeluarkannya UU No. 32 tahun 2004 dan
UU No. 33 Tahun 2004.
Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma
pembangunan nasional dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma
pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang. Perubahan paradigm
ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang diatur dalam satu paket undang-undang yaitu
Undang-undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan tentang
Undang-Undang No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah menyediakan dasar hukum tentang desentralisasi fiskal,
menjelaskan pembagian baru mengenai sumber pemasukan dan transfer antar
pemerintah.
Selanjutnya pada tanggal 15 Oktober 2004 dengan persetujuan bersama
Memutuskan: bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan,
ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga perlu
direvisi dan terbitlah Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah sedangkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah direvisi menjadi Undang-Undang
No. 33 Tahun 2004(UU. RI, No.32 dan 33, 2004).
Tujuan otonomi daerah adalah lebih meningkatkan kesejahteraan dan
pelayanan kepada masyarakat, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan,
pemerataan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta
antar daerah. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 dan No. 25 Tahun 1999 yang menjadi
landasan otonomi tersebut dijelaskan lebih jauh bagaimana pengaplikasian hal-hal
tersebut melalui beberapa Peraturan Pemerintah (PP), yang kemudian dipandu dengan
Kepmendagri No. 29 Tahun 2002, yang sekarang sudah diganti dengan Peraturan
Mentri Dalam negeri No. 13 Tahun 2006.
Akan tetapi pelaksanaan otonomi daerah ini dapat menimbulkan masalah
baru bagi pemerintah pusat terkait dengan adanya perbedaan persiapan daerah.
Adi (2006) menunjukkan paling tidak terdapat dua hal penting yang menyebabkan
perbedaan ini, yaitu pertama adanya perbedaan kapasitas fiskal antar daerah dan
kedua adanya perbedaan kemampuan manajerial dalam pengelolaan berbagai
sumber daya yang dimiliki oleh daerah, baik itu sumber daya alam, sumber daya
Belanja modal sebagai bentuk perubahan yang cukup fundamental di
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) telah mulai dilakukan
pasca reformasi dengan didasarkan pada peraturan-peraturan mengenai otonomi
daerah terutama UU No 22/1999, UU No 25/1999, PP No 105/2000, dan PP No
108/2000 (Halim, 2002:18). Sebelumnya di dalam APBD, pengalokasian untuk
jenis belanja berupa investasi, diklasifikasikan ke dalam belanja pembangunan.
Layaknya belanja pembangunan, belanja modal dilakukan oleh Pemerintah
Daerah (Pemda) untuk pengadaan asset daerah sebagai investasi, dalam rangka
membiayai pelaksanaan otonomi daerah yang pada akhirnya bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Armayani (dalam Halim, 2004:237) menyatakan bahwa peran pemerintah
di dalam pembangunan adalah sebagai katalisator dan fasilitator, karena pihak
pemerintahlah yang lebih mengetahui sasaran tujuan pembangunan yang akan
dicapai. Sebagai pihak katalisator dan fasilitator maka pemerintah daerah
memerlukan sarana dan fasilitas pendukung yang direalisasikan melalui belanja
modal guna meningkatkan pelayanan publik.
Alokasi belanja modal harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah akan
sarana dan prasarana baik untuk kelancaran tugas pemerintahan maupun untuk
fasilitas publik (Halim dan Abdullah, 2006:19). Menurut Halim (2002:72), dengan
melakukan belanja modal akan menimbulkan konsekuensi berupa penambahan
biaya yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan. Akan tetapi berdasarkan hasil
audit BPK Pemda lebih banyak mengalokasikan belanjanya pada sektor-sektor
kurang produktif dibandingkan untuk meningkatkan pelayanan publik, sebab dari
100% belanja daerah rata-rata hanya 21,69% yang digunakan untuk belanja modal
dalam rangka pengadaan asset untuk investasi dalam rangka meningkatkan
pelayan publik.
Berkaitan dengan pelayanan publik, alokasi belanja modal merupakan hal
yang sangat penting untuk diperhatikan karena akan meningkatkan produktivitas
perekonomian daerah. Semakin banyak belanja modal maka semakin tinggi pula
produktivitas perekonomian karena belanja modal berupa infrastruktur jelas
berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja (Media
Indonesia, 2008). Senada dengan hal tersebut Hariyanto dan Hari Adi (2006)
menjelaskan bahwa tersedianya infrastruktur yang baik diharapkan dapat
menciptakan efisiensi dan efektifitas di berbagai sektor, produktifitas masyarakat
diharapkan semakin tinggi dan pada gilirannya terjadi peningkatan pertumbuhan
ekonomi.
Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, belanja modal sangat berkaitan
dengan perencanaan keuangan jangka panjang, terutama pembiayaan untuk
pemeliharaan aset tetap yang dihasilkan dari belanja modal tersebut. Konsep
multi-term expenditure framework (MTEF) menyatakan bahwa kebijakan belanja modal
harus memperhatikan kemanfaatan (usefulness) dan kemampuan keuangan
pemerintah daerah (budget capability) dalam pengelolaan aset tersebut dalam jangka
panjang (Allen dan Tommasi, 2001).
Akan tetapi dengan melihat fenomena umum yang terjadi, sepertinya
alokasi belanja modal belum sepenuhnya dapat terlaksana bagi pemenuhan
masih belum terorientasi pada publik. Salah satunya disebabkan oleh pengelolaan
belanja yang terbentur dengan kepentingan golongan semata. Keefer dan Khemani
(dalam Halim dan Abdullah, 2006:18) menyatakan bahwa adanya kepentingan
politik dari lembaga legislatif yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran
menyebabkan alokasi belanja modal terdistorsi dan sering tidak efektif dalam
memecahkan masalah di masyarakat. Padahal menurut Pasal 66 UU No. 33 Tahun
2004 menyatakan bahwa: “Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan, kepatuhan, dan manfaat
untuk masyarakat”. UU tersebut mengisyaratkan kepada Pemda untuk mengelola
keuangan daerah terutama belanja modal secara efektif, efisien, dan ekonomis
dengan tujuan akhir untuk meningkatkan pelayanan masyarakat. Pernyataan ini
sesuai dengan konsep multi-term expenditure framework (MTEF) yang
disampaikan oleh Allen dan Tommasi (dalam Halim dan Abdullah, 2006:18) yang
menyatakan bahwa kebijakan belanja modal harus memperhatikan kemanfaatan
(usefulness) dan kemampuan keuangan pemerintah daerah (budget capability)
dalam pengelolaan asset tersebut dalam jangka panjang. Hal ini berarti bahwa
dalam pengelolaan asset terkait dengan belanja pemeliharaan, dan sumber
Tabel 1.1
Anggaran Belanja Modal dan Realisasi Belanja Modal DPPKAD Kabupaten Sumedang
Tahun 2001 sampai Tahun 2010
Tahun Anggaran Belanja Modal Realisasi Belanja Modal
2001 Rp 33,872,147,280.61 Rp 32,968,334,852.67
Adapun fenomena khusus yang terjadi di DPPKAD dapat dilihat dari tabel
diatas dapat dilihat bahwa anggaran belanja modal dengan realisasi belanja modal
dari tahun 2001-2010 tidak sama jumlahnya. Dimana jumlah realisasinya lebih
kecil apabila dibandingkan dengan anggarannya. Hal ini tidak sesuai dengan PP
No. 24 Tahun 2005 menyebutkan bahwa laporan realisasi anggaran menyediakan
informasi yang berguna dalam memperediksi sumber daya ekonomi yang akan
diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode
mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Laporan realisasi
anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang
indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi, yaitu telah
dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD). Dapat dilihat bahwa
realisasi harus sesuai dengan anggarannya, sedangkan dari tabel diatas antara
Dengan adanya otonomi daerah ini berarti Pemerintah Daerah dituntut
untuk lebih mandiri, tak terkecuali juga mandiri dalam masalah financial. Meski
begitu Pemerintah Pusat tetap memberi dana bantuan yang berupa Dana Alokasi
Umum (DAU) yang di transfer ke Pemerintah Daerah. Dalam praktiknya, transfer
dari Pemerintah Pusat merupakan sumber pendanaan utama Pemerintah Daerah
untuk membiayai operasional daerah, yang oleh Pemerintah Daerah ”dilaporkan”
di perhitungan anggaran. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi
kesenjangan fiskal antar pemerintah dan menjamin tercapainya standar pelayanan
publik minimum di seluruh negeri (Maemunah, 2006).
Pemberian dana perimbangan ditujukan untuk mengurangi adanya
disparitas fiskal vertikal (antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah) dan
juga untuk membantu daerah dalam membiayai kewenangannya. Dalam beberapa
tahun berjalan, proporsi DAU terhadap penerimaan daerah masih yang tertinggi
dibanding dengan penerimaan daerah yang lain, termasuk Pendapatan Asli Daerah
(Adi, 2006). Hal ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan pemerintah
daerah terhadap pasokan dana dari pemerintah pusat. DAU merupakan dana hibah
murni (grants) yang kewenangan penggunaannya diserahkan kepada pemerintah
daerah penerima, sehingga dapat disimpulkan bahwa DAU merupakan sarana
untuk mengatasi ketimpangan fiskal antar daerah dan disisi lain merupakan
sumber pembiayaan daerah. Hal ini berarti pemberian DAU lebih di prioritaskan
kepada daerah yang mempunyai kapasitas fiskal rendah.
Dengan adanya otonomi daerah ini berarti Pemerintah Daerah dituntut
begitu Pemerintah Pusat tetap memberi dana bantuan yang berupa Dana Alokasi
Umum (DAU) yang di transfer ke Pemerintah Daerah. Dalam praktiknya, transfer
dari Pemerintah Pusat merupakan sumber pendanaan utama Pemerintah Daerah
untuk membiayai operasional daerah, yang oleh Pemerintah Daerah ”dilaporkan”
di perhitungan anggaran. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi
kesenjangan fiskal antar pemerintah dan menjamin tercapainya standar pelayanan
publik minimum di seluruh negeri (Maemunah, 2006).DAU diberikan pemerintah
pusat untuk membiayai kekurangan dari pemerintah daerah dalam memanfaatkan
PAD-nya. DAU bersifat “Block Grant” yang berarti penggunaannya diserahkan
kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
DAU terdiri dari:
a. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi
b. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten /Kota
Dana Alokasi Umum dialokasikan untuk daerah provinsi dan
kabupaten/kota. Besaran DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari
Pendapatan Dalam Negeri (PDN) Netto yang ditetapkan dalam APBN. Proporsi
DAU untuk daerah provinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan sesuai
dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.
Disebutkan pula dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP No 55 Tahun
2005 Dana Perimbangan ini terdapat berbagai macam, yaitu DAU (Dana Alokasi
Umum), DAK (Dana Alokasi Khusus), dan DBH (Dana Bagi Hasil). Dana
a. Menjamin terciptanya perimbangan secara vertikal di bidang keuangan antar
tingkat pemerintahan
b. Menjamin terciptanya perimbangan horizontal di bidang keuangan antar
pemerintah di tingkat yang sama
c. menjamin terselenggaranya kegiatan-kegiatan tertentu di daerah yang sejalan
dengan kepentingan nasional.. Menurut Adi (2006) proporsi DAU terhadap
penerimaan daerah masih yang tertinggi dibandingkan dengan penerimaan
daerah yang lain, termasuk PAD (Pendapatan Asli Daerah)
Tabel 1.2
Anggaran Dana Alokasi Umum dan Realisasi Dana Alokasi Umum DPPKAD Kabupaten Sumedang
Tahun 2001 sampai Tahun 2010
Tahun Anggaran DAU Realisasi DAU
laporan realisasi anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna
laporan tentang indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi, yaitu
telah dilaksanakan sesuai dengan anggarannya (APBN/APBD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah
yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Optimalisasi penerimaan
Pendapatan Asli Daerah hendaknya didukung upaya Pemerintah Daerah dengan
meningkatkan kualitas layanan publik (Mardiasmo, 2002).
Pendapatan Asli Daerah (PAD) setiap daerah berbeda-beda. Daerah yang
memiliki kemajuan dibidang industri dan memiliki kekayaan alam yang melimpah
cenderung memiliki PAD jauh lebih besar dibanding daerah lainnya, begitu juga
sebaliknya. Karena itu terjadi ketimpangan Pendapatan Asli Daerah. Disatu sisi
ada daerah yang sangat kaya karena memiliki PAD yang tinggi dan disisi lain ada
daerah yang tertinggal karena memiliki PAD yang rendah. Menurut Halim (2009)
permasalahan yang dihadapi daerah pada umumnya berkaitan dengan penggalian
sumber-sumber pajak dan retribusi daerah yang merupakan salah satu komponen
dari PAD masih belum memberikan konstribusi signifikan terhadap penerimaan
daerah secara keseluruhan. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan
yang lemah. Hal tersebut dapat mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat
berarti bagi daerah. Peranan Pendapatan Asli Daerah dalam membiayai kebutuhan
pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah, yaitu kurang dari
10% hingga 50%. Sebagian besar wilayah Provinsi dapat membiayai kebutuhan
pengeluaran kurang dari 10%. Distribusi pajak antar daerah sangat timpang karena
dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi terjadi hal ini terjadi karena
adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk, keadaan geografis
(berdampak pada biaya relative mahal) dan kemampuan masyarakat, sehingga
dapat mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat
bervariasi.
Tabel 1.3
Anggaran Pendapatan Asli Daerah dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah DPPKAD Kabupaten Sumedang
Tahun 2001 sampai Tahun 2010
Tahun Anggaran PAD Realisasi PAD
2001 Rp 29,278,328,117.99 Rp 28,241,122,190.26
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Pendapatan Asli Daerah dari tahun ke
tahun meningkat. Dan Pendapatan Asli Daerah yang melebihi dari Anggaran yaitu
pada tahun 2002, 2004, 2005, 2006 dan 2008. Sedangkan Pendapatan Asli Daerah
yang kurang dari Anggaran yaitu pada tahun 2001, 2003, 2007, 2009 dan 2010.
Dimana PP No. 24 Tahun 2005 menyebutkan bahwa laporan realisasi anggaran
dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi
dengan anggarannya (APBN/APBD). Sedangkan dari tabel di atas dapat dilihat
bahwa dari tahun 2001-2010 antara anggaran dan realisasi jumlahnya tidak sama.
Menyikapi hal tersebut peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian
mengenai peranan pendapatan asli daerah dan dana alokasi umum terhadap
belanja modal. Objek penelitian yang akan di ambil kali ini adalah Dinas
Pendapatan, Pengelolaan keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumedang,
Peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian pada dinas tersebut dikarenakan
Dinas Pendapatan, Pengelolaan keuangan dan Aset Daerah merupakan salah satu
dinas yang mengelola pendapatan daerah dan belanja daerah. Oleh karna itu
semua pendapatan asli daerah kabupaten sumedang dipungut oleh dinas ini, tetapi
dalam pemungutan tersebut tidak selalu berjalan lancar khusus nya dalam
pemungutan pajak daerah yaitu pajak restoran dan pajak hotel. Setiap petugas
dinas melakukan pemungutan selalu mengalami kesulitan dikarnakan berhadapan
langsung dengan wajib pajaknya, dengan berbagai alasan wajib pajak selalu
meminta kepada petugas dinas untuk memberikan kelonggaran untuk membayar
pajaknya. Karena itu pendapan asli daerah kabupaten sumedang dapat terbilang
masih minim di bandingkan dengan pengeluaran daerah nya.
Berdasarkan uraian diatas PAD dan DAU memiliki hubungan positif yang
kuat dengan belanja modal. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini
dengan judul “Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah Dan Dana
1.2 Identifikasi dan Rumusa Masalah 1.2.1 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dapat diidentifikasikan dalam penelitian tentang
peranan optimalisasi pendapatan asli daerah dan dana alokasi umum terhadap
belanja modal berdasarkan survey awal yang telah peneliti lakukan antara lain:
1. Alokasi anggaran belanja modal dari tahun ke tahun jumlahnya selalu
lebih tinggi dibandingkan dengan realisasinya.
2. Pada tahun 2008 realisasi dana alokasi umum jumlahnya melonjak tinggi
dari dana yang telah dianggarkan.
3. Realisasi pendapatan asli daerah dikabupaten sumedang tidak selalu
mencapai target atau anggaran yang telah dianggarkan.
1.2.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dirumuskan dalam penelitian tentang peranan
optimalisasi pendapatan asli daerah dan dana alokasi umum terhadap belanja
modal antara lain:
1. Bagaimana peranan PAD terhadap belanja modal di Kabupaten Sumedang.
2. Bagaimana peranan DAU terhadap belanja modal di Kabupaten
Sumedang.
3. Bagaimana besar Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Alokasi Umum baik secara simultan maupun parsial Terhadap Belanja
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh data Peranan
Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum Terhadap
Belanja Modal Dinas Pendapatan Kabupaten Sumedang.
Tujuan dari penelitian tentang Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli
Daerah dan Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Modal adalah
1. Untuk mengetahui peranan PAD terhadap belanja modal di Kabupaten
Sumedang.
2. Untuk mengetahui peranan DAU terhadap belanja modal di Kabupaten
Sumedang.
3. Untuk mengetahui Seberapa besar Peranan Optimalisasi Pendapatan
Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja di Kabupaten
Sumedang.
1.4Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Praktis
Dapat dijadikan masukan untuk membantu pemerintah daerah
terutama untuk melihat peranan optimalisasi pendapatan asli daerah
terhadap belanja modal untuk meningkatkan pelayanan masyarakat.
Diharapkan dapat memberikan informasi tentang peranan PAD dan
DAU terhadap belanja modal dalam menetukan asset daerah, sehingga
dalam rangka membiayai pelaksanaan otonomi daerah yang pada akhirnya
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
1.4.2 Kegunaan Akademis
1. Bagi pengembangan Ilmu Akuntansi
Diharapkan dapat memberikan informasi serta dapat dijadikan referensi
mengenai Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi
Umum Terhadap Belanja Modal.
2. Bagi Peneliti
Memberikan informasi dan kontribusi yang berguna untuk pengembangan
penelitian sektor publik terutama dalam hal peranan Pendapatan Asli
Daerah dan Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal.
3. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan,
umumnya mengenai dunia sektor publik, khususnya mengenai Peranan
Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi UmumTerhadap
Belanja Modal Dinas Pendapatan Kabupaten Sumedang serta sebagai
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.5.1 Lokasi penelitian
Dalam penyusunan penelitian ini, penulis melakukan penelitian pada
Dinas Pendapatan Kabupaten Sumedang yang bertmpat di Jalan Prabu Gajah
Agung No. 19 Sumedang.
1.Membuat outline dan proposal UP
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pendapatan Asli Daerah
2.1.1.1Pengertian Pendapatan Asli Daerah
Menurut Marihot P. Siahaan, menjelaskan Pendapatan asli daerah sebagai
berikut :
“yaitu pendapatan yang diperoleh daerah dan dipunggut berdasarkan perturan daerah sesuai dengan perturan perundang-undangan, meliputi Pajak daerah, Retribusi Daerah, termasuk hasil dan pelayanan badan umum (BLU) daerah. Hasil pengelolaan kekayaan pisahkan, antara lain bagian laba dari BUMD, hasil kerja sama dengan pihak ketiga dan Lain-lain PAD yang sah. Pendapatan Asli Daerah adalah hasil berupa uang maupun barang yang dijadikan sebagai kekayaan daerah dalam rangka pembiayaan pembangunan masyarakat
dikota”.
(2005:15)
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 (pasal 3) adalah :
“Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan daerah dari hasil pajak, hasil
retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan
Menurut Abdul Halim, pendapatan asli daerah adalah :
“merupakan sumber semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber
ekonomi asli daerah”
(2002:64)
Penerimaan Pendapatan Asli Daerah merupakan akumulasi dari Pos
Penerimaan Pajak yang berisi Pajak Daerah dan Pos Retribusi Daerah, Pos
Penerimaan Non Pajak yang berisi hasil perusahaan milik daerah, Pos Penerimaan
Investasi serta Pengelolaan Sumber Daya Alam (Bastian, 2002). Pendapatan Asli
Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber
ekonomi asli daerah. Identifikasi sumber Pendapatan Asli Daerah adalah meneliti,
menentukan dan menetapkan mana sesungguhnya yang menjadi sumber Pendapatan
Asli Daerah dengan cara meneliti dan mengusahakan serta mengelola sumber
pendapatan tersebut dengan benar sehingga memberikan hasil yang maksimal (Elita
dalam Pratiwi, 2007).
Proporsi Pendapatan Asli Daerah yang rendah, di lain pihak menyebabkan
Pemerintah Daerah memiliki derajat kebebasan rendah dalam mengelola keuangan
daerah. Sebagian besar pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan, dibiayai dari
dana perimbangan, terutama Dana Alokasi Umum. Alternatif jangka pendek
peningkatan penerimaan Pemerintah Daerah adalah menggali dari Pendapatan Asli
Daerah (Pratiwi, 2007).
Wujud dari desentralisasi fiskal adalah pemberian sumber-sumber penerimaan
daerah untuk memungut pajak dan retribusi diatur dalam Undang-undang No.34
Tahun 2000 ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaan dalam PP No.65 Tahun
2001 tentang Pajak Daerah dan PP No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.
Berdasarkan ketentuan daerah diberikan kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak
dan 28 jenis retribusi (Halim, 2009). Menurut Brahmantio (2002) pungutan pajak dan
retribusi daerah yang berlebihan dalam jangka pendek dapat meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah, namun dalam jangka panjang dapat menurunkan kegiatan
perekonomian, yang pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya Pendapatan Asli
Daerah.
2.1.1.2Sumber-sumber Pendapatan Asli daerah
Adapun kelompok Pendapatan Asli Daerah dipisahkan menjadi empat jenis
pendapatan, yaitu (Halim, 2002):
“ 1. Pajak Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari pajak.
2. Retribusi Daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari
retribusi daerah. Dalam struktur APBD baru dengan pendekatan kinerja, jenis pendapatan yang berasal dari pajak daerah dan restribusi daerah berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Rertibusi Daerah.
3. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik
daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan”.
Berdasarkan uraian diatas pajak daerah dan retribusi daerah terdiri dari :
a. Pajak Provinsi. Pajak ini terdiri atas:
Bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) dan kendaraan di atas air
Pajak bahan bakar kendaran bermotor
Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan.
b. Jenis pajak Kabupaten/kota. Pajak ini terdiri atas:
Pajak Hotel
Pajak Restoran
Pajak Hiburan
Pajak Reklame
Pajak penerangan Jalan
Pajak pegambilan Bahan Galian Golongan C
Pajak Parkir.
c. Retribusi ini dirinci menjadi:
Retribusi Jasa Umum
Retribusi Jasa Usaha
Retribusi Perijinan Tertentu.
d. Jenis hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan pendapatan ini
meliputi objek pendapatan berikut:
Bagian laba perusahaan milik daerah.
Bagian laba lembaga keuangan bank.
Bagian laba lembaga keuangan non bank.
2.1.2 Dana Alokasi Umum
Menurut Deddi Nordiawan menyatakan bahwa:
“Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”.
(2008:56)
Menurut Bastian menyatakan bahwa:
“Dana Alokasi Umum adalah dana perimbangan dalam rangka untuk
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah”.
(2003:84)
Menurut Brojonegoro dan C. Risyana menyatakan bahwa:
“Dana Alokasi Umum adalah transfer bersifat umum yang jumlahnya sangat
signifikan dimana penggunannya menjadi kewenangan daerah”.
(2002:160)
Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Pembagian dana
untuk daerah melalui bagi hasil berdasarkan daerah penghasil cenderung
potensi daerah. Alokasi Dana Alokasi Umum bagi daerah yang potensi fiskalnya
besar namun kebutuhan fiskalnya kecil akan memperoleh alokasi Dana Alokasi
Umum yang relatif kecil. Sebaliknya daerah yang memiliki potensi fiskalnya kecil
namun kebutuhan fiskalnya besar akan memperoleh alokasi Dana alokasi Umum
relatif besar. Dengan maksud melihat kemampuan APBD dalam membiayai
kebutuhan-kebutuhan daerah dalam rangka pembangunan daerah yang dicerminkan
dari penerimaan umum APBD dikurangi dengan belanja pegawai (Halim, 2009).
Ketimpangan ekonomi antara satu Provinsi dengan Provinsi lain tidak dapat
dihindari dengan adanya desentralisasi fiskal. Disebabkan oleh minimnya sumber
pajak dan Sumber Daya Alam yang kurang dapat digali oleh Pemerintah Daerah.
Untuk menanggulangi ketimpangan tersebut, Pemerintah Pusat berinisiatif untuk
memberikan subsidi berupa DAU kepada daerah. Bagi daerah yang tingkat
kemiskinanya lebih tinggi, akan diberikan DAU lebih besar dibanding daerah yang
kaya dan begitu juga sebaliknya. Selain itu untuk mengurangi ketimpangan dalam
kebutuhan pembiayaan dan penugasaan pajak antara pusat dan daerah telah diatasi
dengan adanya kebijakan bagi hasil dan Dana Alokasi Umum minimal sebesar 26%
dari Penerimaan Dalam Negeri. Dana Alokasi Umum akan memberikan kepastian
bagi daerah dalam memperoleh sumber pembiayaan untuk membiayai kebutuhan
pengeluaran yang menjadi tanggung jawab masing-masing daerah (Halim, 2009).
Dana Alokasi Umum adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan
kebutuhan pembelanjaan. Adapun cara menghitung DAU menurut ketentuan adalah
sebagai berikut (Halim, 2009):
a. Dana Alokasi Umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari penerimaan
dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN.
b. Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah propinsi dan untuk Kabupaten/Kota
ditetapkan masing-masing 10% dan 90% dari Dana Alokasi Umum sebagaimana
ditetapkan diatas.
c. Dana Alokasi Umum (DAU) untuk suatu Kabupaten/Kota tertentu ditetapkan
berdasarkan perkalian jumlah Dana Alokasi Umum untuk Kabupaten/Kota yang
ditetapkan APBN dengan porsi Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
d. Porsi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud di atas merupakan proporsi bobot
Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Dalam UU No.32/2004 disebutkan bahwa untuk pelaksanaan kewenangan
Pemda, Pempus akan mentransfer Dana Perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi
Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil yang terdiri dari
pajak dan Sumber Daya Alam. Disamping Dana Perimbangan tersebut,
Pemerintah Daerah memiliki sumber pendanaan sendiri berupa Pendapatan Asli
Daerah (PAD), pembiayaan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Kebijakan
penggunaan semua dana tersebut diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Dana
transfer dari Pemerintah Pusat diharapkan digunakan secara efektif dan efisien oleh
Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.
Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah bahwa kebutuhan DAU oleh suatu daerah
(Provinsi, Kabupaten, dan Kota) ditentukan dengan menggunakan pendekatan Fiscal
Gap, dimana kebutuhan DAU suatu daerah ditentukan atas kebutuhan daerah dengan
potensi daerah. Dana Alokasi Umum digunakan untuk menutup celah yang terjadi
karena kebutuhan daerah melebihi dari potensi penerimaan daerah yang ada.
2.1.2.1 Tujuan dan Fungsi Dana Alokasi Umum
Beberapa alasan perlunya dilakukan pemberian Dana Alokasi Umum dari
Pemerintah pusat ke daerah, yaitu:
1. Untuk mengatasi permasalahan ketimpangan fiscal vertical. Hal ini
disebabkan sebagian besar sumber-sumber penerimaan utama di
Negara bersangkutan. Jadi pemerintah daerah hanya menguasai
sebagian kecil sumber-sumber penerimaan Negara atau hanya
berwenang untuk memungut pajak yang bersifat lokal dan mobilitas
yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaan relatife kurang
signifikan.
2. Untuk menanggulangi persoalan ketimpangan fiscal horizontal. Hal ini
disebabkan karena kemampuan daerah untuk menghimpun dana
pendapatan sangat bervariasi, tergantung kepada kondisi daerah dan
sangat bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki daerah
tersebut.
4. Untuk stabilitas ekonomi. Dana Alokasi Umum dapat dikurangi pada
saat perekonomian daerah sedang maju pesat, dan dapat ditingkatkan
ketika perekonomian daerah sedang melaju pesat, dan dapat
ditingkatkan ketika perekonomian sedang lesu.
Sedangkan tujuan umum dari Dana Alokasi Umum adalah untuk:
a. Meniadakan dan meminimumkan Ketimpangan fiscal vertical.
b. Meniadakan dan meminimumkan Ketimpangan fiscal horizontal.
c. Menginternalisasikan/memperhitungkan sebagian atau seluruh
limpahan manfaat/biaya kepada daerah yang menerima limpahan
manfaat tersebut.
d. Sebagai bahan edukasi bagi pemerintah daerah agar secara intensif
menggali sumber-sumber penerimaannya, sehingga hasil yang
diperoleh menyamai bahkan melebihi kapasitasnya.
2.1.2.2 Transfer Dana dan Alokasi Umum (DAU)
Di Indonesia, seperti ditegaskan dalam UU No. 25/1999, bentuk transfer yang
paling penting adalah DAU dan DAK, selain bagi hasil (revenue sharing). Transfer
merupakan konsekuensi dari tidak meratanya kemampuan keuangan dan ekonomi
daerah. Selain itu, tujuan transfer adalah mengurangi kesenjangan keuangan
horizontal antar daerah, mengurangi kesenjangan vertikal Pusat-Daerah, mengatasi
persoalan efek pelayanan publik antar daerah, dan untuk menciptakan stabilisasi
Transfer atau grants dari Pempus secara garis besar dapat dibagi menjadi dua,
yakni matching grant dan non-matching grant. Kedua grants tersebut digunakan oleh
Pemda untuk memenuhi belanja rutin dan belanja pembangunan. Belanja rutin adalah
belanja yang sifatnya terus menerus untuk setiap tahun fiskal dan umumnya tidak
menghasilkan wujud fisik (contoh: belanja gaji dan honorarium pegawai), sementara
belanja pembangunan umumnya menghasilkan wujud fisik, seperti jalan, jalan bebas
hambatan (higway), jembatan, gedung, pengadaan jaringan listrik dan air minum, dan
sebagainya. Belanja pembangunan non-fisik diantaranya mencakup pendidikan,
pelayanan kesehatan, dan pemeliharaan keamanan masyarakat.
Bagaimana pemerintah daerah mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya
merupakan pertanyaan penelitian yang menarik sejak lama. Peneliti terdahulu
menggunakan berbagai pendekatan untuk menjelaskan perilaku Pemda dalam
mengalokasikan dana yang dimilikinya, baik dana yang bersumber dari transfer
pemerintah di atasnya ataupun dari pendapatanya sendiri. Pemda bisa merespon
transfer dari Pempus secara simetris dan tidak simetris (Gamkhar & Oates, 1996).
Beberapa peneliti menemukan bahwa respon Pemda berbeda untuk transfer dan
pendapatan sendiri (seperti pajak). Artinya, ketika penerimaan daerah berasal dri
transfer, maka stimulus atas
belanja yang ditimbulkan berbeda dengan stimulus yang muncul dari pendapatan
daerah (terutama pajak daerah). Ketika respon (belanja) daerah lebih besar terhadap
Dalam perspektif teori keagenan, Inman (1979) dan Rubinfeld(1987) (dalam
Holzt-Eakin et al, 1994), Aaberge & Langorgen (1997), dan Slack (1980)
menyatakan bahwa agen (agents) atau politisi di Pemda bersikap seolah-olah mereka
memaksimalkan utilitas individu (voter) berpendapatan menengah ke bawah di dalam
masyarakat. Apabila dikaitkan dengan belanja publik untuk periode tertentu, agen
akan mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya berdasarkan pada ekspektasinya
terhadap lingkungan ekonomi pada masa yang akan datang. Secara teoritis
diasumsikan bahwa semua pengeluaran pada suatu periode tertentu tergantung pada
ketersediaan sumber daya pada periode yang bersangkutan, namun dengan batasan
aturan anggaran yang ada, misalnya anggaran berimbang (balanced-budget rule).
Dalam konsep anggaran berimbang Pemda diharuskan menyerahkan
anggarannya kepada legislatif sebelum tahun fiskal berjalan,tetapi tidak mengatur
bagaimana pengeluaran harus diprioritaskan atau bagaimana komponen-komponen
pengeluaran ditentukan (Holzt-Eakin et al, 1994). Oleh karena itu, pemda dapat
melakukan smoothing atas pengeluaran-pengeluarannya karena memang tidak ada
aturan yang secara efektif digunakan untuk mencegahnya. Hal ini juga terjadi di
Norwegia (Aaberge & Langorgen, 1997), dimana Pemda memiliki kebebasan untuk
membuat prioritas atas pengeluaran untuk tujuan melayani masyarakatnya, meskipun
tidak mutlak. Misalnya belanja untuk pendidikan untuk usia anak 7-15 tahun harus
tetap dianggarkan dalam jumlah tertentu. Menurut Inman (1983, dalam Holzt-eakin et
al, 1994), pembuatan keputusan dalam sektor publik bersifat backward-looking. Di
praktiknya beberapa Pemda membentuk rainy day funds untuk memudahkan smooth
atas pengeluaranya atau menyusun anggaran untuk siklus beberapa tahun (multiyear
budget).
Analisis Zou (1994) berhasil mengidentifikasi beberapa kosekuensi dari
perubahan grants, yakni:
1. Kenaikan permanen dalam matching grants akan mempercepat investasi
publik, memperbesar kapital jangka panjang, dan memperbesar belanja rutin
jangka panjang.
2. Kenaikan permanen dalam matching grants untuk investasi dan belanja rutin
mungkin mempercepat atau memperlambat investasi.
3. Kenaikan temporer atas grants sekarang (apapun bentuk grants) akan
mendorong investasi public.
4. Kenaikan temporer non-matching grants pada masa yang akan datang akan
mengurangi investasi sekarang dan meningkatkan belanja rutin sekarang.
5. Kenaikan temporer matching grants pada masa yang akan datang untuk
belanja rutin akan mengurangi investasi publik sekarang dan memperbesar
belanja rutin sekarang, tapi (6) kenaikan sementara dalam matching grants
pada masa yang akan datang untuk investasi mempunyai dampak ambigu
terhadap investasi publik. Esensi dari temuan-temuan tersebut adalah adanya
perubahan dalam total belanja daerah (rutin dan pembangunan) sebagai akibat
2.1.3 Belanja Modal
Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap/inventaris yang memberikan
manfaat lebih dari satu periode akuntansi, termasuk didalamnya adalah pengeluaran
untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa
manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.
Belanja modal menurut Halim & Abdullah adalah :
“Belanja modal merupakan pengeluaran untuk perolehan aset lainnya yang
memberikan manfaat lebuh dari periode akuntansi. Belanja modal termasuk, 1) belanja tanah, 2) belanja peralatan dan mesin, 3) belanja modal gedung dan bangunan 4) belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan, 5) belanja aset tetap
lainnya”
(2007:101)
2.1.3.1 Belanja Modal Tanah
Belanja Modal Tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk
pengadaan/pembeliaan/pembebasan penyelesaian, balik nama dan sewa tanah,
pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertipikat, dan
pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah
2.1.3.2 Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja Modal Peralatan dan Mesin adalah pengeluaran/biaya yang digunakan
untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan
mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas)
bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
2.1.3.3 Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja Modal Gedung dan Bangunan adalah pengeluaran/ biaya yang
digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan termasuk pengeluaran
untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan
bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam
kondisi siap pakai.
2.1.3.4 Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan adalah pengeluaran/biaya yang
digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatan
pembangunan/pembuatan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk
perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah
2.1.3.5 Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja Modal Fisik Lainnya adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk
pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatanpembangunan/ -pembuatan serta
perawatan terhadap Fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam criteria
belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan
jaringan, termasuk dalam belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli,
pembelian barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum,
hewan ternak dan tanaman, buku-buku, dan jurnal ilmiah.
Menurut Halim (2004), belanja modal merupakan belanja yang manfaatnya
melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah serta
akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan. Bahwa
belanja modal memiliki karakteristik spesifik menunjukkan adanya berbagai
pertimbangan dalam pengalokasiannya. Pemerolehan aset tetap juga memiliki
konsekuensi pada beban operasional dan pemeliharaan pada masa yang akan datang
(Bland & Nunn, 2002).
2.1.4 Hubungan antara Pendapatan Asli Daerah dengan Belanja Modal
Selama ini Pendapatan Asli Daerah memiliki peran untuk membiayai
pelaksanaan otonomi daerah guna mencapai tujuan utama penyelenggaraan otonomi
daerah yang ingin meningkatkan pelayanan publik dan memajukan perekonomian
daerah (Mardiasmo, 2002:46). Bermula dari keinginan untuk mewujudkan harapan
tersebut, Pemda melakukan berbagai cara dalam meningkatkan pelayanan publik,
yang salah satunya dilakukan dengan melakukan belanja untuk kepentingan investasi
Berdasarkan buku teori Bahtiar Arif, Muchlis dan iskandar menyatakan :
“Pendapatan merupakan bagian utama dari suatu anggaran, baik untuk entitas
bisnis maupun pemerintahan. Anggaran pendapatan merupakan target yang
akan dicapain untuk membiayai anggaran belanja-belanja diantaranya
termasuk belanja modal”.
(2009:171)
Hal ini sesuai dengan PP No 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan
daerah yang menyatakan bahwa APBD disusun sesuai dengan kebutuhan
penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Artinya, disetiap
penyusunan APBD, jika Pemda akan mengalokasikan belanja modal maka harus
benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan mempertimbangkan PAD
yang diterima. Besar kecilnya belanja modal akan ditentukan dari besar kecilnya
PAD. Sehingga jika Pemda ingin meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan
masyarakat dengan jalan meningkatkan belanja modal, maka Pemda harus berusaha
keras untuk menggali PAD yang sebesar-besarnya.
2.1.5 Hubungan antara Dana Alokasi Umum dengan Belanja Modal
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebenarnya merupakan andalan utama daerah
untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembiayaan pembangunan
(Saragih, 2003:55). Tetapi penerimaan daerah dari unsur Pendapatan Asli Daerah saja
daerah jelas akan membutuhkan dana tambahan bagi daerah (Saragih, 2003:49)
sehingga daerah masih tetap membutuhkan bantuan atau dana yang berasal dari pusat.
Bantuan pusat ini biasa disebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Gamkhar dan Oates menyatakan :
“Yang menyatakan bahwa pengurangan jumlah transfer (cut in the federal grants) menyebabkan penurunan dalam pengeluaran daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara pemberian dana transfer dari pemerintah pusat yaitu
DAU, dengan alokasi pengeluaran daerah melalui alokasi belanja modal”.
(dalam Maimunah, 2006:5)
Hubungan positif yang kuat antara Dana Alokasi Umum (DAU) dengan
belanja modal ini dapat dipahami mengingat bahwa pelaksanaan otonomi daerah
yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik -yang direalisasikan melalui
belanja modaljuga ikut dibiayai oleh Dana Alokasi Umum (DAU) tersebut. Bahkan
Abdullah dan Halim (2006:26) menyatakan bahwa pendapatan dari pemerintah pusat
berupa dana perimbangan di pemerintah daerah di Indonesia merupakan sumber
pendapatan utama dalam APBD. Sayangnya kontribusi Dana Alokasi Umum (DAU)
terhadap belanja modal masih belum efektif sehingga masih banyak daerah yang
belum merata pembangunannya, juga masih kurangnya pelayanan publik sehingga
kesejahteraan masyarakat pun belum efektif (masih banyaknya masyarakat dibawah
garis kemiskinan, belum meratanya fasilitas pendidikan dan kesehatan, sector usaha
2.1.6 Hubungan Antara PAD Dan DAU Dengan Belanja Modal
PAD dan DAU merupakan sumber pendapatan daerah yang memiliki peran
utama dalam pelaksanaan otonomi daerah dalam rangka mencapai tujuan utama
penyelenggaraan otonomi daerah yang ingin meningkatkan pelayanan publik dan
memajukan perekonomian daerah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mardiasmo menyatakan :
”Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa PAD dan DAU memiliki
hubungan positif yang kuat dengan belanja modal. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi PAD dan DAU yang didapat daerah maka akan semakin tinggi pula
belanja modal yang dikeluarkan daerah.”
(2002:46).
Kedua sumber pendapatan daerah ini memang sulit untuk dipisahkan.
Pemerintah daerah belum mampu mengandalkan PAD-nya sendiri untuk membiayai
desentralisasi. Begitu pun dengan pemerintah pusat yang tidak mau sepenuhnya
memberikan DAU karena akan menambah ketergantungan daerah kepada pusat.
Kombinasi kedua sumber pendapatan ini -jika melihat kepada hasil penelitian- maka
akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar bagi daerah guna meningkatkan
belanja modal. Semakin tinggi PAD disertai dengan semakin meningkatnya DAU
akan meningkatkan belanja modal daerah. Sebab daerah akan memiliki pendapatan
yang besar sehingga belanja pun dapat ikut ditingkatkan. Meskipun pada
kenyataannya peningkatan PAD tidak selalu diikuti dengan peningkatan DAU, sebab
melihat bahwa penentuan DAU ikut ditentukan pula oleh besarnya PAD (PP No 55
2.2 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 2.2.1 Kerangka Pemikiran
Menurut UU No. 33 Tahun 2004 Pasal 1 ayat (13), adalah:
“Pendapatan Daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan”.
PAD ini merupakan sumber penerimaan daerah yang dikelola dan dipungut
oleh pemerintah daerah sendiri berdasarkan potensi, jenis dan tariff pungutan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Dalam UU No. 33 Tahun 2004 Pasal 3, PAD
bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai
pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi yang dimiliki daerah sebagai
perwujudan desentralisasi. Dalam upaya meningkatkan PAD dilarang:
a. Menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan
ekonomi biaya tinggi; dan
b. Menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menghambat mobilitas
penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan ekspor/impor.
PAD merupakan pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber
penerimaan murni daerah. PAD dipergunakan untuk pembiayaan penyelenggaraan
otonomi daerah. Untuk itu, PAD harus diupayakan agar selalu meningkat seiring
dengan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Dalam sejarah pemerintahan
daerah di Indonesia, sejak Indonesia merdeka sampai saat ini pajak daerah dan
retribusi daerah telah menjadi sumber penerimaan yang dapat diandalkan bagi daerah.
daerah dan retribusi daerah terhadap APBN sangat bervariatif sesuai potensi yang
dimiliki daerah masingmasing.
Dana alokasi umum menurut UU Nomor 33 Tahun 2004 adalah :
“DAU adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan
tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”.
Dana alokasi umum (DAU) diberikan pemerintah pusat untuk membiayai
kekurangan dari pemerintah daerah dalam memanfaatkan PAD-nya. DAU bersifat
“Block Grant” yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan
prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat
dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. DAU terdiri dari:
a. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi
b. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten /Kota
Dana alokasi umum (DAU) dialokasikan untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota.
Besaran DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri
(PDN) Netto yang ditetapkan dalam APBN. Proporsi DAU untuk daerah provinsi dan
untuk daerah
kabupaten/kota ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan
Belanja modal menurut Halim adalah :
“Belanja modal merupakan belanja yang manfaatnya melebihi satu tahun
anggaran dan akan menambah asset atau kekayaan daerah serta akan menimbulkan konsekuensi menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya
pemeliharaan”.
(2004:73)
Belanja modal dimaksudkan untuk mendapatkan aset tetap pemerintah daerah,
yakni peralatan, bangunan, infrastruktur, dan harta tetap lainnya. Secara teoritis ada
tiga cara untuk memperoleh aset tetap tersebut, yakni membangun sendri,
menukarkan dengan aset tetap lain, dan membeli. Namun, untuk kasus
dipemerintahan biasanya cara yang dulakukan dengan cara membeli. Proses
pembelian yang dilakukan umumnya dilakukan melalui sebuah proses lelang atau
teneder yg cukup rumit.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mulia Andirfa (2009) dengan judul
pengaruh pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan
lain-lain pendapatan yang sah terhadap pengalokasian anggaran belanja modal dan hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi, PAD, dana perimbangan,
lain-lain pendapatan yang sah mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan
pengalokasian anggaran belanja modal. Adapun persamaan judul variabel independen
yang digunakan penulis sama yaitu pendapatan asli daerah, selain itu varibel
dependen yang digunakan penulis sama yaitu tentang belanja modal. Dan adapun
perbedaan judul varibel independen yang digunakan penulis yang berbeda yaitu
Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Harianto, Priyo Hari Adi
(2007) dengan judul Hubungan antara dana alokasi umum, belanja modal, pendapatan
asli daerah dan pendapatan perkapita dan hasil penelitiannya menunjukan bahwa
DAU sangat berpengaruh terhadap belanja modal. Sayangnya kontribusi dari DAU
terhadap belanja modal masih kurang efektif akibat pembangunan yang terjadi di
daerah kurang merata. Adapun persamaan judul variabel independen yang digunakan
penulis sama yaitu dana alokasi umum dan pendapan asli daerah. Dan adapun
perbedaan judul variabel dependen yang digunakan penulis berbeda yaitu tentang
belanja modal.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nur Indah Rahmawati (2010) dengan
judul Pengaruh pendapatan asli daerah (PAD) dan dana alokasi umum (DAU)
terhadap alokasi belanja daerah dan hasil penelitiannya diperoleh bahwa Pendapatan
Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap alokasi belanja
daerah. Pemerintah Daerah yang memiliki PAD dan DAU tinggi maka pengeluaran
untuk alokasi belanja daerahnya juga semakin tinggi. Adapun persamaan judul
Variabel independen yang digunakan penulis sama yaitu dana alokasi umum dan
pendapan asli daerah. Dan adapun perbedaan judul varibel dependen yg digunakan
penulis berbeda yaitu tentang belanja modal.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Diah Ayu Kusumadewi dan Arief
Rahman (2004) dengan judul Flypaper effect pada dana alokasi umum (DAU) dan
pendapatan asli daerah (PAD) terhadap belanja daerah pada kabupaten/kota di
DAU secara bersamasama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Belanja
Daerah. Sehingga dapat dikatakan, pemerintah daerah dalam melakukan belanja
tahun berjalan dipengaruhi oleh jumlah PAD dan DAU yang diperoleh pada tahun
yang sama. Adapun persamaan judul variabel independen yang digunakan penulis
sama yaitu dana alokasi umum dan pendapatan asli daerah. Dan adapun perbedaan
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran Aset Daerah Kabupaten Sumedang
Benanja barang dan Pajak
Daerah
Retribusi Daerah
Laporan Realisasi Anggaran
Belanja Daerah Lain-Lain Pendapatan
Daerah Yang Sah Anggaran
Pendapatan Asli Daerah Dana Alokasi
Umum
Belanja pegawa
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
Belanja Modal
Gambar 2.2 Paradigma Penelitian
2.2.2 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru
didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Menurut Uma Sekaranmengemukakan pengertian hipotesis sebagai berikut:
“Hipotesis adalah hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau
lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji”.
(2006: 135)
Pendapatan Asli Daerah (Variable X1 )
Dana Alokasi Umum (Variable X2 )
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian
dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian,
sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus diuji secara empiris.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka penulis mencoba merumuskan
hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara dari penelitian sebagai berikut:
“Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU)
berpengaruh Terhadap Belanja Modal”.
H1o = Pendapatan asli daerah berhubungan signifikan dengan dana alokasi umum .
H2o = Pendapatan asli daerah dan dana alokasi umum secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap belanja modal.
H3o = Biaya Pendapatan asli daerah dan dana alokasi umum kualitas dan biaya
3.1 Objek Penelitian
Menurut Husein Umar, menerangkan bahwa :
“Objek penelitian menjelaskan tentang apa dan atau siapa yang menjadi
obyek penelitian. Juga di mana dan kapan penelitian dilakukan. Bisa juga
ditambahkan hal-hal lain jika dianggap perlu”.
(2005:303)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa objek penelitian digunakan
untuk mendapatkan data sesuai tujuan dan kegunaan tertentu. Objek penelitian
yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Pendapatan asli daerah, Dana
alokasi umum, dan Belanja modal diKabupaten Sumedng.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu cara penulis dalam menganalisis data.
Pengertian dari Metode Penelitian adalah sebagai berikut:
Menurut Sugiyono menjelaskan bahwa:
“Metode Penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.
(2010:2)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa merupakan cara
pemecahan masalah penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan cermat
menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan keadaan. Metode penelitian juga
merupakan cara kerja untuk memahami dan mendalami objek yang menjadi
sasaran.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
analisis dengan pendekatan kuantitatif, yaitu hasil penelitian yang kemudian
diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya, artinya penelitian yang
dilakukan adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numeric
(angka), dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan
yang signifikan antara variabel yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan
yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.
Menurut Sugiyono menyatakan bahwa:
“Metode Analisis Deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi”.
(2008:147)
Menurut Sugiyono metode penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut :
“Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian
yang berlandaskan pada sampel filsafat positivisme, digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunkan istrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/ statistik,
dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.”
(2010:8)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif analisis
dengan pendekatan kuantitatif merupakan metode yang bertujuan menggambarkan
secara sistematis dan faktual tentang fakta-fakta serta hubungan antar variabel
yang diselidiki dengan cara mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan
Penulis menggunakan metode tersebut, karena penelitian ini ditujukan untuk
menggambarkan dengan jelas bagaimana pengaruh pendapatan asli daerah dan
danan alokasi umum terhadap belanja modal. Sedangkan, pendekatan yang
digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif, karena data biaya
kualitas, biaya produksi dan profitabilitas yang diperoleh dari penelitian ini berupa
data kuantitatif.
3.2.1 Desain Penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian sangat perlu dilakukan perencanaan
dan perancangan penelitian, agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan
baik dan sistematis.
Menurut Moh. Nazir memaparkan bahwa:
“Desain Penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam
perencanaan dan pelaksanaan penelitian”.
(2003:84)
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa desain penelitian
merupakan suatu cara bagi penulis untuk dapat melakukan penelitian secara baik
dan sistematis. Oleh karena itu, membuat desain penelitian sangat penting agar
dalam melaksanakan penelitian mulai dari perencanaan sampai dengan
pelaksanaan dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Desain penelitian ini menggunakan pendekatan paradigma sederhana.
Paradigma sederhana adalah desain penelitian yang hanya terdapat dua variabel
saja. Variabel tersebut yaitu satu variabel bebas (independen) dan satu variabel
Desain penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
X1 = Pendapatan Asli Daerah Y = Belanja modal
X2 = Dana Alokasi Umum
Gambar 3.1 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menerapkan desain penelitian yang lebih luas,
yang mencakup proses-proses berikut ini :
1. Mencari dan menetapkan fenomena yang terjadi pada Di Kabupaten
Sumedang.
2. Menetapkan judul dari fenomena yang didapat, sehingga dapat diketahui
apa yang akan diteliti kemudian menentukan identifikasi masalah dalam
penelitian.
3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 yaitu:
1) Bagaimana peranan PAD terhadap belaja modal di Kabupaten
Sumedang.
2) Bagaimana peranan DAU terhadap belanja modal di Kabupaten
Sumedang. X1
Variabel Independen Y
Variabel Dependen
X2
3) Seberapa besar Peranan Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah dan
Dana Aokasi Umum Terhadap Belanja Modal di Kabupaten
Sumedang.
4. Merumuskan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari
tujuan luas jangkauan (Scope), hipotesis untuk diuji. Masalah yang
diteliti dalam penelitian ini adalah, Peranan optimalisasi PAD dan DAU
(Variabel independen) sebagai variabel bebas dan belanja modal
(Variabel dependen) sebagai variabel terikat.
5. Memilih serta memberi definisi terhadap setiap pengukuran variabel.
Penelitian ini hanya terdapat dua variabel yaitu satu variabel independen
dan satu variabel dependen.
6. Memilih prosedur dan teknik yang digunakan.
7. Menyusun alat serta teknik pengumpulan data-data.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan
menggunakan 2 cara, yaitu pengumpulan data melalui penelitian
lapangan atau data yang langsung di peroleh di tempat penelitian dan
penelitian kepustakaan atau data yang di peroleh dari sumber lain,
seperti buku, literatur, ataupun catatan-catatan perkuliahan.
8. Menghitung pengaruh peranan optimalisasi pendapatan asli daerah dan
dana alokasi umum terhadap belanja modal dengan menggunakan
Regresi linier sederhana dan mengetahui keeratan hubungannya