• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prof. Salim Said Diskusikan Kemelut Timur Tengah di FISIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prof. Salim Said Diskusikan Kemelut Timur Tengah di FISIP"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Muhammadiyah Malang

Arsip Berita

www.umm.ac.id

Prof. Salim Said Diskusikan Kemelut Timur Tengah di FISIP

Tanggal: 2011-03-30

Prof. Dr. Salim Said, MA diskusi bersama beberapa dosen dan mahasiswa FISIP UMM.

Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Salim Said, MA, mengungkapkan konflik di Timur Tengah harus dilihat dari konteks sejarah. Masing-masing negara di Timur Tengah memiliki kekhasan sehingga tidak semuanya bisa dilihat secara general. Apa yang terjadi di Libya berbeda dengan di Mesir, Tunisia, Bahrain, dan sebagainya.

Pendapat itu dikemukakan Salim ketika berdiskusi dengan beberapa dosen dan mahasiswa FISIP, Senin (28/03) di Ruang 611 GKB I UMM. Salim mengaku kehadirannya di forum itu sebagai panggilan hati setelah beberapa lama tidak bisa intens berinteraksi dengan civitas akademika UMM karena tugas sebagai Dubes RI untuk Republik Checnya. “Saya yang minta pertemuan ini. Saya ingin setiap ada kesempatan bisa berdiskusi tentang current issues sehingga bisa merangsang tema riset bagi mahasiswa dan dosen,” katanya.

Lebih lanjut, Salim membeberkan krisis di Libya sebenarnya sangat kompleks. Jika di Mesir pergolakan diakhiri dengan mundurnya Hosni Mubarak, di Libya, Moammar Qadafi belum ada tanda-tanda mau meletakkan jabatannya. Alih-alih Qadafi malah menantang Barat yang kini membombardir negaranya dengan dalih mengamankan zona bebas terbang.

“Jika Mesir memiliki tentara yang siap mengganti rezim transisi, maka di Libya belum jelas karena sesungguhnya civil society dan tentara di sana tidak ada. Yang ada adalah kroni-kroni Qadafi yang hanya mengandalkan kekayaannya untuk berkuasa,” ungkap Salim.

Akibatnya, belum bisa diprediksi apa yang akan terjadi seandainya Qadafi jatuh. Salim menduga, kelompok oposisi di Libya bukan merupakan oposisi murni warga Libya kebanyakan. Mereka berasal dari kelompok fundamentalis yang pernah mengikuti pelatihan militer di Afganistan. Hal ini cukup menghawatirkan karena bisa jadi Libya pasca Qadafi juga akan tetap jadi rebutan. “Faktor kegemasan terhadap sikap-sikap Qadafi dan minyak menjadi daya tarik Barat untuk ikut menggempur kekuatan pemerintah Libya,” lanjut Salim.

Menanggapi pertanyaan peserta diskusi tentang efek krisis ini terhadap negara-negara Timur Tengah lainnya, Salim kembali menegaskan masing-masing negara di Timur Tengah memiliki sejarah yang berbeda. Saudi Arabia, misalnya, merupakan negara keluarga. Negara ini kaya akan minyak dan sanggup memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Meski monarkhi, negara ini agak sulit digoyang disamping mencukupi kebutuhan tentara dan rakyatnya juga karena memiliki hubungan dekat dengan negara-negara kuat, seperti AS.

Salim berpesan agar mahasiswa mulai melirik tema-tema riset yang menarik dari current issues itu. Seperti dirinya, sewaktu menginjakkan kaki di AS, dia mengaku sudah memiliki gambaran disertasi yang akan ditulisnya. Tak heran, idenya menggali data tentang tentara Indonesia merupakan yang pertama untuk disertasi di Indonesia. “Saya dorong anda untuk menjadi yang pertama,” kata mantan redaktur desk luar negeri majalah Tempo ini. (bib/nas)

Referensi

Dokumen terkait

Orang kaya dari Timur Tengah kebanyakan berasal dari keluarga kerajaan. Hal ini tidak terlepas dari sistem politik monarki absolut yang dianut oleh negara-negara Teluk yang

Mayoritas dari suku Kurdi terdapat di negara-negara Timur Tengah, terutama di Iran, Irak, dan Turki, namun suku ini tidak termasuk dalam jajaran etnik Arab dengan bahasa yang

Bab ini berisi tentang situasi politik di kawasan Timur Tengah ketika adanya kepentingan negara Barat dan Amerika Serikat sehingga mempengaruhi hubungan

Selain potensi dan peluang, terdapat pula berbgai kendala yang dihadapi dalam melakukan perdagangan antara Indonesia dengan Negara-negara di kawasan Timur Tengah,

Oleh karenanya, negara-negara yang anti terhadap AS, khususnya timur tengah, termasuk Iran dan Suriah mau tidak mau akan menjalin hubungan militer dengan Rusia yang hadir

Selain potensi dan peluang, terdapat pula berbgai kendala yang dihadapi dalam melakukan perdagangan antara Indonesia dengan Negara-negara di kawasan Timur Tengah,

Untuk memahami pertarungan pengaruh Arab Saudi dan Iran di Yaman, selain mengacu pada sejarah politik dan tren kebijakan luar negeri saat ini di Timur Tengah, penting juga untuk

Konflik ideologis antara Sunni dengan Syiah yang melibatkan dua negara yang memiliki pengaruh besar di kawasan Timur Tengah, yakni Arab Saudi dan Iran misalnya, telah