PERTUMBUHAN
Desmodium heterophyllum
(Willd.) DC.
SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH DI LAHAN BEKAS
TAMBANG SILIKA
IQBAL NIZAR ARAFAT
DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul ‘Pertumbuhan Desmodium heterophyllum (Willd.) DC. Sebagai Tanaman Penutup Tanah di Lahan Bekas Tambang Silika’ adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor,Februari 2015
ABSTRAK
IQBAL NIZAR ARAFAT. Pertumbuhan Desmodium heterophyllum (Willd.) DC. Sebagai Tanaman Penutup Tanah di Lahan Bekas Tambang Silika. Dibimbing oleh IRDIKA MANSUR.
Tanaman penutup tanah merupakan tanaman yang digunakan untuk mengendalikan erosi pada lahan terbuka, seperti lahan bekas tambang. Pada umumnya tanaman penutup tanah yang biasa digunakan saat ini seperti Centrosema pubescens,
Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, dan Mucuna sp. memiliki karakteristik memanjat dan melilit yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman di sekitarnya. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif jenis tanaman penutup tanah yang tidak mengganggu tanaman di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang perbandingan media tanah dan kompos terbaik dalam perbanyakan D. heterophyllum
secara vegetatif (stek) serta mendapatkan informasi tentang pertumbuhan D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika. Media tanam dengan perbandingan 1:2 (tanah:kompos) merupakan media terbaik, pertumbuhan D. heterophyllum dalam 4 minggu pengamatan mencapai 15.4 cm. Hasil analisis Duncan menunjukkan bahwa kombinasi faktor lubang tanam dengan penggemburan tanah dan dengan kompos memberikan pengaruh yang paling signifikan terhadap rata-rata pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika.
Kata kunci: D. heterophyllum, kompos, lubang tanam,stek
ABSTRACT
IQBAL NIZAR ARAFAT. The growth of Desmodium heterophyllum (Willd.) DC. as a cover crop in the post-silica mine land. The research has been undertaken under the guidance of IRDIKA MANSUR.
A cover crop is a plant that is grown (in large quantities) for preventing soil erotion of the lands such as the ones laid bare after mining. The cover crop currently used are commonly Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica
and Mucuna sp. these plants whose characteristics are climbing and twisting may affect the growth of other plants in their surroundings. Therefore it is necessary to find alternative cover crops which will not affect such other plants. The purpose of this research is to obtain information about the best ratio of soil and compost medium in multiplying D. heterophyllum through a graft method and also information about the growth of D. heterophyllum in the land that was once a silicate mine. The 1:2 ratio of soil and compost is clearly the best media as it has produced growth in length of main stem which is 15.4 cm under observation for 4 weeks. The Duncan analysis indicates that the proportion of such factors as cultivating hole, loosening of the soil and the use of compost has caused the most significant effect on the growth of the average length of main stem of
D. heterophyllum cultivated in the land that was once a silicate mine.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Silvikultur
PERTUMBUHAN
Desmodium heterophyllum
(Willd.) DC.
SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH DI LAHAN BEKAS
TAMBANG SILIKA
IQBAL NIZAR ARAFAT
DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Karya ilmiah ini berjudul ‘Pertumbuhan Desmodium heterophyllum (Willd.) DC. Sebagai Tanaman Penutup Tanah di Lahan Bekas Tambang Silika’ yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2014 sampai dengan Agustus 2014.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Irdika Mansur, MForSc selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada ibu dan ayah tercinta, Tjahjatimi dan Daffyd Hidayat, serta kakak tercinta Rahmi Arifa Hidayati atas kasih sayang, dukungan, dan doa yang diberikan selama ini.
Penghargaan turut penulis sampaikan kepada keluarga besar Holcim Educational Forest (HEF) yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penelitian dan Dadan Mulyana S.Hut, M.Si atas motivasi dan bimbingannya. Ungkapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Muhammad Tigana Umamit, Mustofa, Reza Ahda Sabila, Moch. Hendri, Syamrio Gizano, Arie Aqmarina, Hassyati Sabrina, Dewi Wulandari, Ryanda Yusfidiaga, Aip Heryana, Zakaria Al Anshori, Aji Nuralam Dwisutono dan Mesa Gustya Siti Ulfiana, rekan-rekan Fahutan angkatan 47, panitia BCR 2011-2013, Tim Basket Fahutan, dan keluarga besar RIMPALA Fakultas Kehutanan IPB khususnya RXV (Mentari Purwakasiwi, Galuh Ajeng Septaria, Fajar Alif Sampangestu, Anxious Yoga Perdana, Puspa Diva Nur Aqmarina, Nurani Hardikananda, Mentari Medinawati, Fitri Maharani, dan Anggi Gustiani) atas bantuan, motivasi dan kebersamaan yang diberikan selama ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR LAMPIRAN iii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
METODE PENELITIAN 2
Bahan 2
Alat 2
Prosedur Penelitian 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Pembahasan 10
SIMPULAN DAN SARAN 14
Simpulan 14
Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 14
LAMPIRAN 16
RIWAYAT HIDUP 18
DAFTAR TABEL
1 Jenis-jenis perlakuan yang diterapkan dalam penelitian 3 2 Sidik Ragam pertumbuhan panjang D. heterophyllum 8
DAFTAR GAMBAR
1 Plot penananaman D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika 5
2 Desmodium heterophyllum (Willd.) DC. 7
3 Grafik pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian pada media tanah dan kompos (2:1= tanah 2 : kompos 1, 1:1= tanah 1 : kompos
1, 1:2= tanah 1 : kompos 2) 7
4 Pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian (a) 3 hari setelah
tanam (b) 4 minggu setelah tanam (MST) 8
5 Pengaruh perlakuan pada lubang tanam dan pengaruh pemberian kompos terhadap panjang batang utama D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika pada 4 MST (huruf beda di belakang angka
menunjukkan pengaruh nyata menurut uji F) 9
6 Grafik pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum di lahan
bekas tambang silika 9
7 Pertumbuhan D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika 4 MST (a) dengan penggemburan dan pemberian kompos (b) tanpa
penggemburan dan tanpa kompos 10
8 Gangguan yang ditimbulkan oleh tanaman penutup tanah yang
memanjat dan melilit 11
9 Indikasi tanah toksik di sekitar petak penelitian 13 10 Pertumbuhan D. heterophyllum di (a) persemaian (b) lahan bekas
tambang silika 14
DAFTAR LAMPIRAN
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Industri pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki sumbangsih besar bagi Indonesia mulai dari peningkatan pendapatan ekspor, pembangunan daerah, peningkatan aktivitas ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan sumber pemasukan terhadap anggaran pusat dan anggaran daerah. Namun, dalam praktiknya industri pertambangan menimbulkan konsekuensi, terutama konsekuensi terhadap lingkungan.
Secara umum kegiatan penambangan silika yang dilakukan di Cibadak oleh PT Holcim Indonesia Tbk. adalah membersihkan permukaan lahan dari tanaman dan pepohonan yang tumbuh di atasnya (land clearing), pemindahan tanah pucuk dan overburden yang menutupi bahan tambang, menggali bahan tambang, menutupi kembali lubang galian dengan overburden, menyebarkan tanah pucuk, dan pada akhirnya melakukan penanaman kembali pada lahan bekas tambang.
Tanah pucuk yang disebarkan setelah penggalian bahan tambang biasanya belum membentuk struktur yang kompak, sehingga sangat rawan terjadi erosi jika turun hujan. Salah satu upaya untuk mengurangi tingkat erosi permukaan tanah adalah dengan melakukan revegetasi atau penanaman kembali, namun penanaman pohon perlu waktu yang lama hingga tajuknya cukup untuk melindungi permukaan tanah dari erosi, sehingga untuk melindungi permukaan tanah dengan cepat digunakan tanaman penutup tanah (Mansur 2010). Tanaman penutup tanah atau yang lebih dikenal dengan sebutan cover crop adalah tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah.
Tanaman penutup tanah berperan untuk menahan atau mengurangi daya rusak butir-butir air hujan dan aliran air di atas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan mengurangi penguapan air tanah melalui evaporasi. Peranan penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.
2
Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mendapatkan media terbaik dalam perbanyakan D. heterophyllum dengan metode vegetatif stek.
2. Mengetahui pertumbuhan D. heterophyllum yang ditanam pada lahan bekas tambang silika.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat menjadi informasi dasar dalam penggunaan D. heterophyllum sebagai jenis alternatif tanaman lokal penutup tanah, khususnya untuk mengendalikan erosi dan meningkatkan kesuburan tanah pada lahan bekas tambang di Indonesia.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dilaksanakan di Persemaian Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB dan Holcim Educational Forest (HEF) Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat selama delapan bulan secara keseluruhan. Perbanyakan tanaman penutup tanah dilakukan selama dua bulan dari bulan Januari sampai dengan Februari 2014. Penelitian pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian pada tiga media yang berbeda dilakakukan selama satu bulan pada bulan Maret 2014. Tahap selanjutnya yaitu penanaman D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika dilakukan selama satu bulan selama bulan Agustus 2014.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman penutup tanah jenis D. heterophyllum (telah diidentifikasi di LIPI Bogor) (Hasanah 2014) yang berasal dari Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Bahan pendukung antara lain polybag, pupuk kompos, tanah, dan air untuk menyiram tanaman.
Alat
3 Prosedur Penelitian
Stek Tanaman Penutup Tanah
Perbanyakan tanaman penutup tanah dilakukan secara vegetatif yaitu dengan stek batang. Ukuran batang stek yang digunakan sepanjang 3 cm (2½ buku) yang dipotong secara diagonal. Pada setiap batang stek disisakan tiga daun yang dipotong sebagian untuk mengurangi transpirasi dari bahan stek. Perbanyakan indukan tanaman dilakukan selama 1 bulan sehingga dapat mencukupi untuk kebutuhan penelitian. Setelah jumlah indukan mencukupi kebutuhan stek (384 batang stek), dilakukan pengamatan pertumbuhan stek pada tiga komposisi media tanah dan kompos yang berbeda (tanah : kompos) yaitu 2:1, 1:1 dan 1:2 yang diletakkan dalam baris yang berbeda tiap komposisinya. Tiap komposisi media memiliki empat polybag (satu ulangan) dengan jumlah ulangan sebanyak delapan kali.
Penanaman D. heterophyllum di Lahan Bekas Tambang Silika
Penanaman D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika dilakukan dalam main plot berukuran 2m x 2m sebanyak 3 kali ulangan. Satu main plot terdiri dari 4 buah subplot berukuran 1m x 1m yang ditanami D. heterophyllum sebanyak 1 individu tiap subplot-nya.
Penanaman D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika menggunakan metode split plot dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu perlakuan terhadap lubang tanam, dan faktor yang kedua yaitu perlakuan pemberian kompos. Jenis-jenis perlakuan yang diterapkan dalam penelitian disajikan di Tabel 1. Faktor percobaan tersebut adalah sebagai berikut :
Faktor A (main plot): Penggemburan tanah, yaitu: a. A1 = Lubang tanam dengan penggemburan tanah
b. A2 = Lubang tanam tanpa penggemburan tanah (pembuatan lubang tanam menggunakan bor biopori dengan diameter 10 cm dan kedalaman 15 cm) Faktor B (sub plot): Pemberian kompos, yaitu:
a. B1 = Pemberian kompos sebanyak 1 kg/lubang tanam b. B2 = Tanpa kompos
Tabel 1 Jenis-jenis perlakuan yang diterapkan dalam penelitian Lubang Tanam Ulangan Pemberian Kompos
4
Analisis Data
Pertumbuhan Stek di Persemaian
Perhitungan data dilakukan dengan analisis regresi sederhana menggunakan aplikasi Ms. Excel 2007. Analisis regresi menggunakan persamaan regresi linier sederhana dengan rumus umum :
Y = b0 + b1x
Dimana :
Y = panjang batang utama
x = perbandingan komposisi media tanam Pertumbuhan D. heterophyllum di Lahan Bekas Tambang Silika
Data yang diperoleh berdasarkan pengamatan dan pengukuran dianalisis dengan menggunakan model linier:
( )
jk ijkρ = pengaruh ulangan j
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, dilakukan sidik ragam dengan uji F. Data diolah dengan menggunakan SAS 9.1.3, jika:
a. Nilai P-value <0.05 (α ) maka perlakuan berpengaruh nyata, lalu dilanjutkan dengan uji wilayah Duncan.
5
A2 A1 A1 A2 A2 A1
Gambar 1 Plot penananaman D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika Pemeliharaan
Penyiraman dilakukan secara rutin sebanyak 1-2 kali sehari pada pengamatan pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian. Penyiraman dilakukan satu kali sehari pada petak pengamatan pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika. Selain itu, dilakukan pemberantasan gulma dengan cara manual (dicabut) setiap hari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
a. Morfologi Lahan
Kawasan HEF memiliki topografi perbukitan bergelombang memanjang dari Barat ke arah Timur dengan elevasi tertinggi 521 mdpl. Bentuk morfologi awal berupa perbukitan bergelombang yang mempunyai kemiringan lereng bervariasi mulai dari 40 - 60% dengan ketinggian dari atas permukaan air laut adalah 380 – 521 meter.
b. Kondisi Tanah
Kondisi tanah di lokasi HEF, berdasarkan Peta Tanah Tinjau Propinsi Jawa Barat tahun 1966, secara umum terdiri dari jenis tanah Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat, Podsolik Merah Kekuningan dan Litosol. Bahan induk endapan vulkan, fisiografi bukit dan lipatan. Kondisi kesuburan tanah (asli) pada umumnya termasuk kurang subur. Hal ini dapat dilihat dari beberapa unsur penting dan reaksi tanah yang merupakan parameter kesuburan tanah dalam kondisi rendah – sedang. Unsur-unsur tersebut antara lain kadar bahan organik C, N, Ca2+, K+, kemampuan menahan unsur hara (KTK) serta Kejenuhan Basa (KB) dan reaksi tanah (pH). Kegiatan penambangan telah mengakibatkan penurunan kesuburan tanah yang disebabkan oleh pembalikan tanah pucuk. Peningkatan fraksi pasir justru mengkhawatirkan, karena pasir yang terdapat pada kawasan
6
kajian adalah pasir kuarsa yang tidak mengandung hara esensial. Tanah di petak penelitian memiliki pH sebesar 3.5.
c. Iklim dan Curah Hujan
` Data pengamatan curah hujan di Pos Sekarwangi yang tercatat di Stasiun Klimatologi Darmaga periode tahun 2000 sampai 2010 memperlihatkan bahwa Bulan Basah hampir terjadi sepanjang tahun kecuali bulan Juli-Agustus dengan dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember sedangkan terendah pada bulan Agustus. Rata-rata suhu pada Bulan Basah sekitar 21.0o – 29.9oC, sementara suhu pada bulan kering 21.6o – 30.8oC. Rata-rata suhu di lokasi HEF 26.2oC. Rata-rata kelembaban 85.25%, kelembaban terendah berada pada bulan September 79% dan tertinggi pada bulan Desember dan Januari sebesar 89%. Berdasarkan Klasifikasi Iklim dari Schmidt dan Ferguson, Kecamatan Cibadak diklasifikasikan ke dalam tipe iklim B (basah), jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis.
Karakteristik Desmodium heterophyllum
Desmodium heterophyllum atau yang biasa disebut hetero merupakan salah satu jenis tanaman tahunan merambat dengan batang yang berstolon kuat. Stolon menjadi berkayu seiring bertambahnya umur tanaman dan berstektur licin. Tinggi tanaman berkisar antara 15-20 cm, helai daun membentuk tiga daun (trifoliate) dengan ujung (panjang 1.5-2 cm dan lebar 1-1.5 cm) lebih besar dibanding daun menyamping (panjang 1.2-1.5 cm dan lebar 0.8-1 cm). Bunga kecil (panjang 3-5 mm), merah jambu, masa berbunga selama bulan September-Oktober, berbuah 3-6 buah polong bersambungan, yang akan pecah pada sambungannya waktu masak. Segmen buah polong panjangnya 12-25 mm, lebar 4-5 mm, berbulu halus. Biji berbentuk seperti ginjal panjang 2.25-2.50 mm dan lebar 1.50-1.75 mm dan berwarna coklat kekuningan, masa berbuah November-Desember selama penanaman (Hasanah 2014). Tanaman penutup tanah jenis Desmodium heterophyllum dapat dilihat pada Gambar 2.
Dalam sistematika tumbuhan (taksonomi), D. heterophyllum diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji) Sub Divisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (berkeping dua/dikotil) Ordo : Leguminales / Polypetales
Famili : Fabaceae (kacang-kacangan) Genus : Desmodium
7
Gambar 2 Desmodium heterophyllum (Willd.) DC.
Pertumbuhan Stek di Persemaian
Hasil pengamatan pada pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian yang ditanam dengan tiga komposisi media tumbuh berbeda (tanah : kompos) disajikan di Gambar 3. Grafik tersebut menunjukkan adanya perbedaan kecepatan tumbuh. Pertumbuhan stek D. heterophyllum pada media tumbuh dengan komposisi 1:2 menghasilkan pertumbuhan yang paling cepat, diikuti dengan media 1:1 dan 2:1.
Gambar 3 Grafik pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian pada media tanah dan kompos (2:1= tanah 2 : kompos 1, 1:1= tanah 1 : kompos 1, 1:2= tanah 1 : kompos 2)
8
Gambar 4 Pertumbuhan stek D. heterophyllum di persemaian (a) 3 hari setelah tanam (b) 4 minggu setelah tanam (MST)
Pertumbuhan Panjang Batang Utama Desmodium heterophyllum di Lahan Bekas Tambang Silika
Rekapitulasi sidik ragam pengaruh perlakuan penggemburan lubang tanam dan pemberian kompos terhadap pertumbuhan panjang batang D. heterophyllum disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Sidik Ragam pertumbuhan panjang batang utama Desmodium heterophyllum di lahan bekas tambang silika 4 minggu setelah tanam (MST)
Source DF
Type ISS
Mean
Square F Value Pr > F Keterangan
R-Square A 1 21.8700 21.8700 30.20 0.0006 Signifikan
0.934286 B 1 46.4133 46.4133 64.09 <.0001 Signifikan
AB 1 14.0833 14.0833 19.45 0.0023 Signifikan Error 8 5.7933 0.7241
Total 11 88.1599 83.0907
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa faktor A (penggemburan tanah) dan B (pemberian kompos) maupun interaksi antar faktor memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum. Diperlukan adanya uji lanjut untuk mengetahui kombinasi faktor yang pengaruhnya paling besar terhadap pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum dengan menggunakan uji wilayah Duncan yang diuraikan pada Gambar 5.
9
Gambar 5 Pengaruh perlakuan pada lubang tanam dan pengaruh pemberian kompos terhadap panjang batang utama D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika pada 4 MST (huruf beda di belakang angka menunjukkan pengaruh nyata menurut uji F)
Hasil analisis Duncan menunjukkan bahwa kombinasi faktor A1B1 (lubang tanam dengan penggemburan tanah dan dengan kompos) memberikan pengaruh yang paling signifikan terhadap rata-rata pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum. Kombinasi perlakuan A2B1 (lubang tanam tanpa penggemburan tanah dan dengan kompos) dan A1B2 (lubang tanam dengan penggemburan tanah dan tanpa kompos) memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Kombinasi perlakuan A1B2 dan A2B2 (lubang tanam tanpa penggemburan tanah dan tanpa kompos) juga memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata.
Gambar 6 menyajikan grafik pertumbuhan D. heterophyllum yang ditanam di lahan bekas tambang silika.
0
10
Gambar 7 menunjukkan kondisi D. heterophyllum yang ditanam di lahan bekas tambang silika 4 minggu setelah tanam (MST).
Gambar 7 Pertumbuhan D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika 4 MST (a) dengan penggemburan dan pemberian kompos (b) tanpa penggemburan dan tanpa kompos
Pembahasan
Desmodium heterophyllum merupakan tanaman penutup tanah yang tidak melilit dan memanjat sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan pohon yang ada di sekitarnya. Menurut FAO (1988) desmodium (Desmodium heterophyllum (Willd.) DC.) merupakan tanaman tahunan merambat yang memiliki akar di setiap buku batang pada setiap batangnya sehingga dapat menjangkar tanah dengan kuat dan dapat tumbuh menyebar serta dapat menutup tanah. Tanaman penutup tanah jenis ini tidak memiliki karakteristik yang merugikan seperti memanjat dan melilit seperti tanaman penutup tanah yang biasa digunakan saat ini (Pueraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucuoides, Mucuna sp.) yang dapat menimbulkan gangguan pada tanaman utama (Gambar 8).
Benih komersil D. heterophyllum saat ini belum tersedia karena produksi benihnya sedikit dan sulit dalam pemanenan benihnya, sehingga perbanyakan dilakukan dengan metode vegetatif (stek). Selain sifatnya yang tidak memanjat dan melilit D. heterophyllum memiliki karakteristik unik dalam pertumbuhan daunnya, ketika daun tua tertutupi oleh daun muda, daun tua akan gugur namun hal ini tidak mengganggu pertumbuhan dari D. heterophyllum sendiri. Dengan adanya mekanisme tersebut D. heterophyllum dapat memberikan asupan bahan organik bagi tanah.
11
Gambar 8 Gangguan yang ditimbulkan oleh tanaman penutup tanah yang memanjat dan melilit
Gambar 3 menunjukkan pertumbuhan panjang batang utama dari stek D. heterophyllum pada media tanam tanah dan kompos dengan jumlah kompos yang lebih banyak menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat. Stek D. heterophyllum pada komposisi media tanam 1:2 (tanah : kompos) tumbuh paling cepat sejak pengamatan minggu pertama hingga pengamatan minggu keempat. Pada pengamatan minggu keempat panjang batang utama D. heterophyllum mencapai 15.4 cm. Panjang batang D. heterophyllum pada media tanam 1:1 tumbuh lebih cepat dari D. heterophyllum di media tanam 2:1, dengan panjang batang 4 MST mencapai 9.67 cm sedangkan pada media 2:1 mencapai 7.4 cm. Hal ini dikarenakan kompos dapat memperbaiki mutu tanah. Tanah yang padat bisa menjadi gembur karena pengaruh kompos. Struktur tanah yang baik dan gembur memberikan ruang yang cukup untuk pertumbuhan akar dan penyerapan hara.
Menurut Soeryoko (2011) lahan yang telah diperbaiki dengan kompos akan tampak gembur dan subur. Pemberian pupuk organik, terutama dapat memperbaiki struktur tanah dengan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air. Ruangan dalam yang berisi udara akan mendukung pertumbuhan bakteri aerob di akar. Sementara air yang tersimpan di dalam ruangan tanah menjadi persediaan yang sangat berharga bagi tanaman (Marsono dan Sigit 2001). Selain memperbaiki struktur tanah, kompos mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh. Dengan tersedianya nutrisi untuk tanaman, pertumbuhan tanaman tersebut akan optimal. Stek jenis D. heterophyllum akan tetap tumbuh walaupun tanpa media, jika stek jenis ini menyentuh air maka akarnya akan tumbuh pada setiap ruas batangnya (Hasanah 2014).
12
bobot, jumlah sel, dan banyaknya protoplasma. Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan dengan cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti: panjang (misalnya, tinggi batang), diameter (misalnya, diameter batang), atau luas (misalnya, luas daun) (Salisbury&Ross 1995).
Panjang batang primer pada tanaman penutup tanah merupakan variabel penting yang menggambarkan pertumbuhan dari tanaman penutup tanah (Ariani 2013). Gambar 6 menunjukkan grafik rata-rata pertumbuhan panjang batang utama D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika. Menurut hasil pengukuran, penanaman D. heterophyllum dengan penggemburan tanah dan pemberian kompos (A1B1) menghasilkan pertumbuhan paling tinggi. Pertambahan panjang batang utama D. heterophyllum dengan penggemburan tanah dan pemberian kompos selama empat minggu pengamatan mencapai 6.8 cm. D. heterophyllum yang ditanam dengan diberikan perlakuan penggemburan tanah dan tanpa diberikan kompos (A1B2) mengalami pertambahan panjang batang utama sebesar 0.7 cm. Selanjutnya pada D. heterophyllum yang ditanam tanpa penggemburan tanah dan diberikan kompos (A2B1) pertambahan panjang batang utamanya mencapai 2 cm. Penanaman D. heterophyllum yang dilakukan tanpa penggemburan juga tanpa diberikan kompos (A2B2) memiliki pertambahan panjang batang utama yang paling rendah, yaitu sebesar 0.2 cm.
Petak penelitian yang berada di lahan bekas tambang silika merupakan lahan yang miskin hara, tanah masam dengan pH tanah 3.5 dan memiliki kepadatan tanah yang tinggi akibat pengolahan tanah menggunakan alat berat. Akibatnya akar tanaman sulit berkembang dan pertumbuhan tanaman terhambat. Parameter tutupan lahan dari D. heterophyllum di lahan bekas tambang silika sulit untuk diamati karena pertumbuhannya hingga 4 MST tidak optimal (Gambar 7). Daun-daun D. heterophyllum berguguran dan yang tersisa di batang sangat sedikit. Kondisi ini merupakan bentuk adaptasi dari D. heterophyllum terhadap kekeringan, karena pengamatan dilakukan pada bulan Agustus yang merupakan bulan terkering di lokasi penelitian selama tahun 2014 dengan curah hujan sebesar 44.00 mm.
13
Gambar 9 Indikasi tanah toksik di sekitar petak penelitian
Kelarutan P dan ketersediaannya bagi tanaman dikendalikan oleh reaksi tanah yang kompleks, yang terpengaruh oleh pH. Ketersediaan P paling tinggi berkisar pada pH 5.5 – 6.8. Jika pH tanah turun di bawah 5.8, P akan bereaksi dengan Fe dan Al membentuk senyawa-senyawa fosfat Fe dan Al yang tidak larut, sehingga tidak tersedia bagi tanaman (Munawar 2011). Unsur P berfungsi sebagai penyusun banyak protein, fosfolipida, koenzim, asam-asam nukleat dan substrat metabolisme yang penting dalam transfer energi, sehingga kekurangan unsur P menimbulkan dampak negatif bagi tanaman. Menurut Hasnudi et al (2004) D. heterophyllum merupakan tanaman yang dianjurkan ditanam pada tanah agak asam (pH 5-6.5) dan pada tanah dengan kejenuhan Aluminium <40%. Perlakuan penggemburan tanah dan pemberian pupuk organik (kompos) dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas lahan yang kurang mendukung bagi pertumbuhan tanaman.
Perlakuan penggemburan dapat membuat tanah menjadi remah, memperbaiki aerasi dan porositas tanah sehingga akar-akar tanaman memiliki ruang yang cukup untuk berkembang. Selain itu, struktur tanah yang remah juga memudahkan dalam pengolahan sehingga akan mengurangi biaya pengolahan (Marsono dan Sigit 2001). Pengomposan merupakan praktik yang sudah lama berlangsung, hasil pengomposan berupa kompos yang merupakan bahan organik yang sangat berguna bagi pertumbuhan dan produksi tanaman (Yulipriyanto 2010).
14
Gambar 10 Pertumbuhan D. heterophyllum di (a) persemaian (b) lahan bekas tambang silika
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Media tanam terbaik dalam perbanyakan tanaman Desmodium heterophyllum dengan metode vegetatif (stek) yaitu media tanah dan kompos dengan perbandingan 1:2. Kombinasi perlakuan lubang tanam dengan penggemburan tanah dan pemberian kompos (A1B1) menghasilkan pertumbuhan panjang batang utama paling tinggi pada Desmodium heterophyllum yang ditanam di lahan bekas tambang silika.
Saran
Penelitian lanjutan mengenai Desmodium heterophyllum diperlukan dalam hal tutupan lahannya di lahan bekas tambang silika. Kemudian, apabila akan dilakukan penanaman di lapang, maka diperlukan bahan stek yang telah berumur dua bulan dikarenakan pada usia tersebut Desmodium heterophyllum memiliki pertumbuhan yang optimum. Penanaman di lapang sebaiknya dilakukan saat musim hujan agar kebutuhan air tanaman terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
[FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 1988. Desmodium heterophyllum (Willd.) DC.). [Internet]. [diunduh 2014 Des 23]. Tersedia pada : http://www.tropicalforages.info/key/Forages/Media/HTML/ Desmodium_heterophyllum.htm.
Ariani D. 2013. Pengaruh Tanaman Penutup Tanah Terhadap Pertumbuhan Bibit Jabon Merah (Anthocephalus macrophyllus (Roxb.) Havil.) di Persemaian. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor.
15 Hasanah N.I. 2014. Pengembangan Desmodium spp. Sebagai Tanaman Penutup
Tanah Dalam Reklamasi Lahan Pasca Tambang. [Tesis]. Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Hasnudi. Umar S. Sembiring I. 2004. Kumpulan Konsep Sumbang Saran Untuk Kemajuan Dunia Peternakan di Indonesia. Medan (ID): Universitas Sumatera Utara. hlm 7-8.
Heryana A. 2014. Penggunaan Bio Soil Booster Untuk Perbaikan Kualitas Tanah pada Lahan Bekas Tambang Batubara. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Mansur I. 2010. Teknik Silvikultur Untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang.
Bogor (ID): SEAMEO BIOTROP.
Marsono. Sigit P. 2001. Pupuk Akar Jenis dan Aplikasi. Jakarta (ID). Penebar Swadaya.
Munawar A. 2011. Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman. Bogor (ID). PT Penerbit IPB Press.
Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan jilid 3. Bandung (ID). Penerbit Institut Teknologi Bandung.
Sanchez PA. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Johara T, penerjemah; Sasanti, editor. Bandung (ID): Penerbit ITB. Terjemahan dari: Properties and Management of Soils in the Tropics. Ed ke-1.
Soeryoko H. 2011. Kiat Pintar Memproduksi Kompos dengan Pengurai Buatan Sendiri. Yogyakarta (ID). Lily Publisher.
16
LAMPIRAN
17 Lampiran 2 Data curah hujan di lokasi penelitian tahun 2014
Keterangan: BB=Bulan Basah > 100 mm, BK= Bulan Kering < 60 mm
Bulan (mm)
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.
18
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 3 Desember 1991 dari pasangan Daffyd Hidayat dan Tjahjatimi sebagai putra kedua dari dua bersaudara. Pada tahun 2010 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cianjur dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima di Program Studi Silvikultur, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB.
Selama menjadi mahasiswa IPB, penulis aktif di beberapa Lembaga Kemahasiswaan seperti BEM TPB (Tahap Persiapan Bersama) sebagai anggota Biro Fundrising pada tahun 2010-2011, anggota Rimbawan Pecinta Alam (RIMPALA) Fakultas Kehutanan IPB 2011 sampai dengan sekarang. Pada periode 2011-2013 penulis aktif di Himpunan Profesi Silivikultur Tree Grower Community (TGC) sebagai anggota Agroforestry Group. Penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan kegiatan di Fakultas Kehutanan seperti menjadi Kordinator Lapangan (Korlap) Ekspedisi Rimpala 2011 di Taman Nasional Baluran, anggota Ekspedisi Rimpala 2012 di Taman Nasional Gunung Merapi, anggota Ekspedisi Rimpala 2013 di Taman Nasional Bali Barat, anggota Eksflorasi TGC di Gunung Kapur Ciampea, Bogor pada tahun 2013, Kepala Divisi Logistik dan Transportasi (Logstran) Malam Rimbawan 2011 dan Forester Cup 2012, anggota Divisi Logistik dan Transportasi (Logstran) Bina Corps Rimbawan (BCR) pada tahun 2012 dan 2013. Selain itu penulis aktif dalam kepanitiaan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) tahun 2012 sebagai ketua umum. Penulis pernah meraih prestasi dalam lomba tingkat mahasiswa. Prestasi yang diraih oleh penulis adalah Juara III Basketball Competition Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) tahun 2012, Juara I Basketball Competition OMI tahun 2013 dan Juara I Basketball Competition OMI tahun 2014.