PEMBERIAN PAKAN KOMPLIT TINGGI ENERGI DAN
PROTEIN PADA KAMBING PERANAKAN ETAWAH
FASE PENYAPIHAN
TERESIA S E BR SIMARMATA
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul pemberian pakan komplit tinggi energi dan protein pada kambing peranakan etawah fase penyapihan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
TERESIA S E BR SIMARMATA. Pemberian Pakan Komplit Tinggi Energi dan Protein pada Kambing Peranakan Etawah Fase Penyapihan. Dibimbing oleh KOMANG GEDE WIRYAWAN dan LILIS KHOTIJAH.
Kambing peranakan etawah (PE) memiliki sifat prolifik sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan susu anak kambing yang dilahirkan lebih dari satu ekor. Anak kambing yang tidak mendapatkan kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat. Pemberian ransum starter pada anak kambing dapat dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan anak kambing pada fase penyapihan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian ransum starter tinggi energi dan tinggi protein berdasarkan standar Nutrient Requirements of Small Ruminant (NRC) 2006 terhadap anak kambing PE jantan dan betina. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah anak kambing PE periode penyapihan berumur 54 hari terdiri dari 3 ekor jantan dan 3 ekor betina dengan bobot badan anak kambing jantan sebesar 7.4 ± 0.37kg dan bobot badan anak kambing betina 7.15 ± 0.20kg. Analisis T-Test digunakan untuk melihat perbedaan konsumsi pakan, pertumbuhan bobot badan dan konversi pakan pada ternak jantan dan betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada anak kambing PE fase penyapihan tidak menunjukkan respon yang berbeda nyata terhadap pemberian pakan starter menurut standar NRC (2006).
Kata kunci: etawah fase starter, konversi pakan, ransum komplit tinggi energi dan protein, performa
ABSTRACT
TERESIA S E BR SIMARMATA. Productivity of Weaning Etawah Grade Goats towards Feed High Energy and Proteins Complete Rations. Supervised by KOMANG GEDE WIRYAWAN and LILIS KHOTIJAH.
Etawah grade goats have prolific nature so that mother's milk production can not fulfill the needs of young goat's milk consumption. and it will cause a slow growth. The solution to increase body weight of kids is by giving starter feeding. Research aimed to evaluate etawah grades goats of male and female in weaning period towards ration of high energy and protein according to Nutrient Requirements of Small Ruminant (NRC) 2006 standard. Animals used for the study were 54 days old pre-weaning with 3 males and 3 females with an average body weight of 7.4 ± 0.37kg for males and 7.15 ± 0.20kg for females. T-Test analysis was used to describe the pattern of feed consumption, patterns of growth, and feed conversion. These results indicated that starter feed according to NRC (2006) standard at the weaning period were not subtantially different between male and female kids toward body weight gain and feed consumption.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
PEMBERIAN PAKAN KOMPLIT TINGGI ENERGI DAN
PROTEIN PADA KAMBING PERANAKAN ETAWAH
FASE PENYAPIHAN
TERESIA S E BR SIMARMATA
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
77(:'3#05#: )3#+:'+:/)1(#6:#, $:-3 $:-:3/6$+:2:
)#+ :3+'+:68": 5:,91$"+:
): :
: 35#:::3:#*3)6:
3/:3:3:
)#)#+ ::
+ (:7(75:
#567%7#:/(":
3:3:$($5: #:
PRAKATA
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih-Nya sehingga penulisan skripsi yang berjudul Pemberian Ransum Komplit Tinggi Energi dan Protein pada Kambing Peranakan Etawah Fase Penyapihan ini berhasil diselesaikan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Penulisan skripsi berdasarkan keinginan penulis untuk mengevaluasi respon ternak kambing Peranakan Etawah jantan dan betina fase penyapihan terhadap pemberian pakan tinggi energi dan tinggi protein sesuai dengan standar Nutrient Requirements of Small Ruminant (2006). Penulis menyusun skripsi ini berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan sejak bulan November 2013 hingga Januari 2014. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan informasi baru dalam dunia peternakan dan dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
METODE PENELITIAN 2
Lokasi dan Waktu Penelitian 2
Materi 2
Prosedur Penelitian 4
Analisis Data 5
HASIL DAN PEMBAHASAN 7
Konsumsi Ransum Starter dan Zat Makanan 7
Performa Anak Kambing dan konversi pakan 9
Perhitungan IOFC 12
SIMPULAN DAN SARAN 13
Simpulan 13
Saran 13
DAFTAR PUSTAKA 14
LAMPIRAN 16
RIWAYAT HIDUP 18
DAFTAR TABEL
1 Susunan penggunaan bahan pakan dalam ransum starter 3 2 Komposisi nutrien ransum starter dan susu pengganti yang digunakan
selama penelitian 3
3 Konsumsi pakan anak kambing PE selama penelitian 7 4 Bobot awal, bobot Akhir, pertambahan bobot badan harian Anak dan
konversi pakan kambing pra sapih selama penelitian 10 5 IOFC anak kambing peranakan etawah selama penelitian 12
DAFTAR GAMBAR
1 Ransum starter yang digunakan dalam penelitian 2 2 Kandang individu yang digunakan dalam penelitian 4 3 Grafik pertumbuhan kambing peranakan etawah yang diberi ransum
starter tinggi energi dan protein 11
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil T-Test konsumsi segar harian (as fed) ransum starter 16 2 Hasil T-Test konsumsi bahan kering ransum starter 16 3 Hasil T-Test konsumsi protein kasar ransum starter 16
4 Hasil T-Test konsumsi TDN ransum starter 16
5 Hasil T-Test konsumsi serat kasar ransum starter 16 6 Hasil T-Test pertambahan bobot badan harian ternak 16
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat terhadap produk peternakan seperti daging dan susu terus meningkat di Indonesia. Ternak ruminansia adalah ternak yang dikembangkan untuk menghasilkan daging dan susu. Kambing merupakan salah satu ternak ruminansia kecil yang sudah banyak dikembangkan di Indonesia karena pemeliharaan lebih ekonomis bagi peternak dibandingkan dengan pemeliharaan ternak ruminansia besar. Hal ini terbukti dengan meningkatnya populasi ternak kambing di Indonesia. Populasi kambing meningkat dari tahun 2010 sebanyak 16 juta ekor dan tahun 2015 menjadi 18 juta ekor (Badan Pusat Statistik 2016). Populasi kambing tersebut meliputi berbagai jenis kambing seperti kambing kacang dan kambing peranakan etawah.
Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan salah satu ternak kambing yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia untuk produksi susu maupun dagingnya. Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing hasil perkawinan silang antara kambing Etawah yang berasal dari India dengan dengan kambing lokal Indonesia. Kambing PE diternakkan untuk menghasilkan susu dan daging (Dwiguna). Jenis kambing PE betina memiliki ukuran bobot badan sekitar 45 kg dengan produksi susu harian mampu mencapai 2,5 kg susu (Sutama et al. 1995). Kemampaun produksi kambing PE dipengaruhi oleh faktor genotip, bobot lahir dan jenis kelamin. Beberapa induk kambing peranakan etawah memiliki sifat prolifik atau induk memiliki kemampuan melahirkan anak dengan jumlah lebih dari satu anak pada satu kali kelahiran.
2
digestible nutrient (TDN) 87 % dari bahan kering, namun penerapan NRC pada ternak lokal di Indonesia masih perlu dikaji.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon ternak anak kambing peranakan etawah jantan dan betina fase penyapihan terhadap pemberian ransum tinggi energi dan tinggi protein sesuai dengan standar Nutrient Requirements of Small Ruminant 2006.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dari bulan November 2013 hingga Januari 2014. Pemeliharaan ternak anak kambing PE dilaksanakan di kandang A Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor; Analisis nutrisi ransum di Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) dan Departemen Ilmu Nutrisi dan Ternologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6 ekor anak kambing peranakan etawah periode penyapihan terdiri atas 3 Jantan dan 3 Betina umur 54 hari dengan bobot badan rata-rata yaitu 7.4 ± 0.37kg untuk jantan dan 7.15 ± 0.20kg untuk betina.
Ransum Starter dan Susu Pengganti
Ransum yang digunakan selama penelitian ini adalah ransum starter untuk anak kambing berdasarkan standar NRC (2006). Bahan pakan yang digunakan dalam susunan ransum adalah rumput lapang, jagung, pollard, lakto biru, CPO, bungkil kedelai, premix dan CaCO3. Anak kambing PE periode penyapihan juga
diberikan susu pengganti (milk replacer) yaitu susu sapi sebanyak 500 ml/hari.
3
Tabel 1 Susunan Penggunaan Bahan Pakan dalam ransum starter
Bahan Pakan Jumlah penggunaan dalam
ransum starter (%)
Ransum starter yang diberikan pada anak kambing PE memiliki kandungan nutrien yang ditunjukkan dalam Tabel 2.
Tabel 2 Komposisi nutrien ransum starter dan susu pengganti yang digunakan selama penelitian
Nutrien Ransum Starter1 Susu2
BK (%) 87.15 12.16
Keterangan: 1Hasil analisis Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor (2014). 2Andhini (2014). Hasil Perhitungan TDN (dalam %) = 37.937 – 1.018(SK) – 4.886(LK) + 0.173(BETN) + 1.042(PK) + 0.015(SK)2 – 0.058(LK)2 + 0.008(SK)(BETN) + 0.119(LK)(BETN) + 0.038(LK)(PK) + 0.003(LK)2(PK) (Hartadi et al 2000). BK: Bahan Kering, PK: Protein Kasar, SK: Serat Kasar, LK: Lemak Kasar, TDN: Total digestible nutrient, Ca: Kalsium, P: Posfor.
Kandang dan Peralatan
4
Prosedur Penelitian Persiapan Kandang
Kandang yang akan dijadikan tempat untuk penelitian dibersihkan untuk mencegah penyebaran penyakit yang dibawa oleh ternak sebelumnya. Pembersihan kandang ini dilakukan dengan cara menyapu alas kandang dan bagian bawah kandang dengan menggunakan sapu lidi kemudian disikat dan dibersihkan dengan deterjen lalu didiamkan selama 24 jam. Selama menunggu kandang selesai dibersihkan, bak pakan dan bak minum yang akan digunakan selama penelitian dibersihkan dengan menggunakan sabun cuci dan deterjen hingga bersih dan dikeringkan. Hal yang dilakukan selanjutnya adalah sekat diberikan antar kandang dan mengukur kandang dengan ukuran panjang dan lebar masing-masing 1,5 meter dan 1 meter. Pembuatan sekat antar kandang dengan menggunakan potongan bilah bambu dan kayu yang disatukan dengan menggunakan paku berukuran 2 cm dan kawat besi dengan diameter berkisar 1 mm.
Gambar 2 Kandang individu yang digunakan dalam penelitian
Pemeliharaan Ternak
Sebanyak enam ekor anak kambing peranakan etawah dipisahkan dari induk dan ditempatkan pada kandang yang telah disediakan. Ternak dipelihara dalam kandang individu selama 54 hari. Pengamatan dilakukan dari hari ke-1 s/d hari ke 54. Sebelum dilakukan pengamatan dilakukan pre-liminary atau pengenalan pakan starter kepada anak kambing PE selama seminggu. Pemberian ransum starter dilakukan 2 kali sehari, pada pagi hari pukul 06.00-07.00 WIB dan penambahan ransum pada 15.00-16.00 WIB. Sisa pakan ditimbang pada hari berikutnya. Air minum disediakan ad libitum. Penimbangan bobot badan dilakukan dua kali dalam seminggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan ternak.
Pembuatan milk replacer
5
Analisis Data Perlakuan
Perlakuan yang dilakukan pada penelitian adalah pemberian pakan komplit tinggi energi dan protein berdasarkan standar NRC (2006). Perlakuan diberikan kepada anak kambing peranakan etawah jantan sebanyak 3 ekor dan anak kambing peranakan etawah betina sebanyak 3 ekor.
Analisis data
Analisis data digunakan untuk mengetahui pengaruh pakan komplit tinggi energi dan protein terhadap anak kambing PE. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji T-Test pada aplikasi IBM SPSS Statistics Viewer untuk membandingkan data konsumsi pakan, konsumsi zat makanan, pola pertumbuhan anak kambing dan peningkatan bobot badan selama pengamatan pada ternak anak kambing PE jantan dan betina.
Peubah yang diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi ransum starter, konsumsi zat makanan, pertambahan bobot badan (PBB), dan efisiensi penggunaan ransum.
1. Konsumsi Ransum Starter
Konsumsi ransum starter dihitung berdasarkan selisih antara jumlah pemberian pakan dan sisa pakan. Jumlah konsumsi ransum starter diukur setiap hari. Pemberian pakan dan penimbangan sisa pakan dilakukan pada pagi hari kemudian penambahan pakan sore hari.
Konsumsi ransum starter (g) = Pemberian (g) – sisa (g)
2. Konsumsi Zat Makanan
Konsumsi zat makanan dihitung dari jumlah perkalian antara jumlah pakan yang konsumsi dengan komposisi nutrisi zat makanan hasil analisis proksimat pakan. Nilai zat makanan yang dihitung adalah nilai Total digestible nutrient (TDN) dan nilai protein.
Konsumsi TDN (g) = Konsumsi BK × % TDN Pakan Konsumsi Protein (g) = Konsumsi BK × % Protein Pakan
3. Pertambahan Bobot Badan
6
4. Bobot sapih
Pengukuran bobot badan anak saat disapih dihitung dengan cara melakukan penimbangan setelah bobot ternak pada akhir pengamatan. Ternak dalam penelitian ini disapih pada umur ternak 3.6 bulan.
5. Konversi Pakan
Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan bobot badan tertentu dalam satuan waktu tertentu.
Konversi Pakan = Konsumsi pakan (g ekor-1 hari-1)
Pertambahan bobot badan (g ekor-1 hari-1)
6. Perhitungan IOFC
IOFC merupakan selisih dari total pendapatan dengan total biaya ransum starter dan susu pengganti yang digunakan selama pemeliharaan anak kambing PE. Perhitungan IOFC diperoleh dengan menghitung selisih pendapatan usaha peternakan dikurangi biaya pakan. Pendapatan merupakan perkalian antara pertambahan bobot badan akibat perlakuan dengan harga jual. Pengeluaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk biaya pakan.
7
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Ransum Starter dan Zat Makanan
Pakan yang dikonsumsi anak kambing PE pada penelitian ini terdiri dari ransum starter dan milk replacer. Ransum starter pada fase penyapihan berperan penting untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup pokok dan pertumbuhan anak kambing. Konsumsi pakan anak kambing dicantumkan dalam Tabel 3.
Tabel 3 Konsumsi pakan anak kambing PE selama penelitian
Konsumsi Bahan Kering
Berdasarkan NRC (2006), untuk mendapatkan pertambahan bobot badan 100 gram hari-1 ternak muda dengan bobot 7 kg harus mengonsumsi bahan kering sebesar 300 gram hari-1 atau 4% bobot badan. Hasil konsumsi bahan kering dalam
penelitian ini lebih kecil dari yang disarankan oleh NRC (2006), yaitu kambing jantan mengonsumsi bahan kering sebesar 3.8 % bobot badan sedangkan kambing betina mengonsumsi bahan kering lebih sedikit dari kambing jantan yaitu sebesar 3.75% bobot badan. Jumlah konsumsi bahan kering pada ternak jantan dan betina juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P<0.05). Parakkasi (1995) menuturkan bahwa tingkat konsumsi bahan kering dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain bobot badan, umur, dan aktivitas. Respon yang tidak berbeda nyata terhadap konsumsi pakan dipengaruhi oleh aktivitas yang sama antara anak kambing jantan dan betina. Konsumsi bahan kering dalam penelitian ini masih cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhini 2014, yaitu sebesar 2.02% dengan diberi perlakuan bebas pilih.
Rendahnya jumlah konsumsi bahan kering dalam penelitian ini dibandingkan dengan standar NRC (2006) kemungkinan disebabkan beberapa faktor yaitu kualitas pakan, lingkungan dan genetik ternak. Kualitas pakan mempengaruhi jumlah konsumsi pakan. Pakan yang kurang baik akan memperlambat kecernaan pakan dan mengakibatkan alur pakan yang lama dalam saluran pencernaan. Hal ini
8
mengakibatkan pengosongan rumen yang lambat dan selanjutnya akan menurunkan intake pakan, selain itu, konsumsi bahan kering juga dipengaruhi oleh komposisi kimia bahan pakan, kualitas bahan pakan dan palatabilitas pakan (Tillman et al. 1991).
Faktor lingkungan yang menyebabkan perbedaan antara konsumsi bahan kering selama penelitian dengan yang disarankan oleh NRC (2006) meliputi cuaca, suhu, dan kelembaban. Ternak yang dipelihara di daerah tropis cenderung mengalami stress panas. Siregar (1997) juga menyatakan bahwa suhu udara didaerah tropis yang cukup tinggi cenderung menurunkan nafsu makan dan produktivitas, hal ini terjadi pada kambing perah maupun ternak lainnya. Faktor lingkungan yaitu iklim juga akan mempengaruhi genetik ternak. Ternak daerah temperate dan daerah tropis memiliki produktivitas yang berbeda. Seperti yang dinyatakan oleh Siregar (1997), bahwa ternak daerah tropis menunjukkan produktifitas yang lebih rendah dibandingkan dengan ternak daerah temperate. Ternak yang didatangkan dari daerah iklim temperate di daerah tropis mengalami berbagai stres, iklim merupakan penyebab stres yang besar sekali pengaruhnya terhadap konsumsi ransum. Konsumsi bahan kering harian ternak kambing perah didaerah tropis berkisar antara 2.0-4.7% bobot badan (Devendra dan Burns (1994). Fungsi bahan kering pada ternak ruminansia untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, sebagai perangsang dinding saluran pencernaan, pengisi lambung dan menguatkan pembentukan enzim.
Konsumsi Energi
Menurut NRC (2006), kebutuhan konsumsi energi ternak muda dengan bobot 7 kg untuk mendapatkan pertambahan bobot badan hingga 100 gram hari-1 adalah
3.5% bobot badan. Jumlah konsumsi energi anak kambing dalam penelitian ini adalah anak kambing jantan sebesar 3.3% bobot badan dan kambing betina sebesar 3.2% bobot badan. Konsumsi energi dalam penelitian ini lebih kecil 0.2-0.3% dibandingkan dengan yang disarankan oleh NRC (2006). Hasil konsumsi energi anak kambing jantan dan betina dalam penelitian tidak berbeda nyata (P<0.05). Konsumsi energi yang relatif sama antara anak kambing jantan dan betina kemungkinan disebabkan oleh umur ternak yang relatif sama, selain itu bobot badan ternak dalam penelitian juga masih cenderung sama. Hal yang sama dinyatakan oleh Soeparno (1998) yaitu tinggi rendahnya TDN akan dipengaruhi oleh umur, bobot badan ternak, dan metabolisme ternak. Konsumsi energi juga sangat tergantung pada besarnya kandungan energi yang terdapat dalam pakan (Hidajati et al. 2002). Hasil konsumsi energi dalam penelitian ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang didapatkan dalam penelitian Ramadini (2014), yaitu anak kambing PE mengonsumsi energi sebesar 175.07 gram hari-1 yang diberi perlakuan bebas pilih.
9
disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Oleh karena itu, imbangan energi dan protein dalam pakan perlu diperhatikan agar ternak mampu tumbuh secara optimal.
Konsumsi Protein Kasar
Konsumsi protein anak kambing menurut NRC (2006) untuk bobot 7 kg adalah 51.75 gram hari-1. Pada penelitian ini didapatkan konsumsi protein yang lebih besar dari konsumsi protein yang disarankan oleh NRC (2006). Pemberian ransum starter tinggi energi dan protein dalam penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05) antara anak kambing jantan dan betina terhadap konsumsi protein. Konsumsi protein pada anak kambing jantan sebesar 62.668±10.300 gram hari-1 dan pada anak kambing betina sebesar 59.392±3.430
gram hari-1. Konsumsi protein anak kambing sudah mampu mencukupi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Mcdonald et al. (1988) bahwa konsumsi protein sudah mencapai kebutuhan akan mengalami pertumbuhan yang positif.
Hasil konsumsi protein yang tinggi disebabkan oleh rasio protein dalam ransum yang sedikit lebih tinggi dari NRC (2006). Menurut Boorman (1980), kandungan protein dalam pakan yang digunakan akan mempengaruhi jumlah konsumsi protein, semakin tinggi kandungan protein pakan maka konsumsi protein juga akan semakin tinggi. Hal yang sama dinyatakan pula dalam Arifin et al. (2012) bahwa konsumsi protein kasar dipengaruhi oleh banyaknya konsumsi pakan dan kandungan protein kasar pada bahan pakan yang digunakan. Namun, terlalu tingginya konsumsi protein dapat menghasilkan dampak yang kurang baik bagi ternak. Protein pakan merupakan sumber N dan merupakan sumber energi bagi ternak ruminansia. Protein pakan dirombak oleh mikroba rumen didalam rumen sehingga menghasilkan peptida dan asam amino. Hasil perombakan kemudian digunakan untuk mensintesis protein mikroba. Apabila jumlahnya berlebihan, maka asam amino akan mengalami deaminasi oksidatif menjadi ammonia (NH3) dan
asam karboksil. Amonia kemudian diserap ke dalam darah dan apabila jumlah amonia terlalu tinggi didalam darah akan mengakibatkan BUN (Blood Urea Nitrogen). Hasil konsumsi protein penelitian ini juga lebih besar dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mathius et al. (2002) bahwa kambing PE jantan muda konsumsi proteinnya sebesar 44.43 gram ekor-1 hari-1 dengan memberikan perlakuan rasio energi dan protein yang cenderung sama. Penelitian lain menyatakan bahwa konsumsi protein kasar ternak kambing PE pra-sapih dengan
metode pemberian pakan bebas pilih adalah54.91 gram hari-1 (Ramadini 2014).
Performa Anak Kambing dan Konversi Pakan
10
Tabel 4 Bobot awal, bobot akhir, pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan anak kambing PE selama penelitian.
Parameter Ternak NRC (2006)
Jantan Betina
Bobot Awal (Kg) 7.4 ± 0.37 7.15±0.20 7.5
Bobot Akhir (Kg) 12.83 ±1.04 12.33± 0.57 14
PBBH (g e-1 h-1) 84.656 ±16.521 80.687±6.061 100
Konversi pakan 3.50 3.46 3.00
Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Uji statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan (PBB) yang dihasilkan anak kambing jantan dan betina tidak berbeda nyata. PBB anak kambing jantan adalah 84.656 ± 16.521 gram hari-1 sedangkan anak kambing betina sebesar 80.687 ± 6.061 gram hari-1 (Tabel 4). Hasil juga menunjukkan bahwa PBBH anak kambing lebih rendah dari PBB berdasarkan NRC (2006) yaitu 100 gram hari-1. Anak kambing yang masih disatukan dengan induk dan anak kambing
yang sudah dipisahkan dari induk anak menunjukkan performa pertambahan bobot badan yang berbeda. Seperti yang dinyatakan oleh sitorus (2004) bahwa anak kambing yang mendapatkan susu induk dan ransum starter mampu menghasilkan PBB sebesar 107 gram hari- 1. Anak kambing dalam penelitian sudah dipisahkan dari induknya. Faktor tersebut memungkinkan PBB anak kambing dalam penelitian ini masih belum mencapai standar yang disarankan NRC (2006), selain pertambahan bobot badan juga dipengaruhi oleh konsumsi ransum. Jumlah konsumsi ransum starter dalam penelitian juga masih belum mencapai standar NRC (2006). Ransum starter berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan kambing sehingga akan berbanding lurus dengan kecepatan laju pertumbuhannya. Seperti dinyatakan oleh Mathius et al. (1996) bahwa ketersediaan energi memiliki peranan yang penting dalam peningkatan bobot badan. Pertumbuhan ternak akan lebih baik jika banyaknya pakan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan pokok dan produksi (Mcdonald 1988).
11
Gambar 3 Grafik pertumbuhan anak kambing peranakan etawahyang diberi ransum starter tinggi energi dan protein
Berdasarkan Gambar 1, dapat dilihat bahwa anak kambing betina mengalami peningkatan bobot badan setiap minggunya baik anak kambing jantan maupun betina. Grafik pada gambar 1 menunjukkan bahwa pada akhir pengamatan bobot anak kambing jantan sedikit lebih tinggi daripada bobot kambing betina namun secara statistik tidak berbeda nyata (P<0.05). Hasil yang tidak berbeda nyata terjadi karena pada periode penyapihan belum terjadi perbedaan kerja hormonal. Seperti yang dinyatakan oleh Turner dan Bagnara (1976) bahwa aktivasi kerja hormonal pada ternak terjadi setelah lepas sapih, hormon tersebut diantaranya adalah hormon somatropin (STH, GH) yang berperan untuk pertumbuhan.
Bobot Sapih
Bobot sapih anak kambing dalam penelitian masih lebih kecil sebesar 8.35-11.9% dari bobot sapih menurut NRC (2006). Bobot sapih anak kambing dalam penelitian adalah anak kambing jantan sebesar 12.83 ±1.04kg dan bobot sapih anak kambing betina adalah 12.33± 0.57kg (Tabel 4). Bobot sapih anak kambing jantan dan betina tidak berbeda nyata (P<0.05). Bobot sapih yang sama antara anak kambing jantan dan betina dimungkinkan karena bobot lahir yang cenderung sama. seperti yang dinyatakan oleh Kemp et al. (1988), bahwa bobot lahir dapat dijadikan tolok ukur untuk memprediksi pertumbuhan dan bobot sapih, selain itu faktor penyapihan juga dapat mempengaruhi bobot sapih. Menurut Chaniago dan Hastono (2001), bobot sapih anak kambing yang mendapat susu induk adalah 14.80 kg sedangkan anak kambing yang hanya mendapatkan susu pengganti menghasilkan bobot sapih sebesar 11 kg dengan waktu penyapihan hingga 4 bulan.
Konversi Pakan
12
NRC (2006) yang menyatakan bahwa konversi pakan yang disarankan adalah 3.00 artinya pakan yang digunakan dalam penelitian belum efisien. Hal ini juga dinyatakan Anggorodi (1979), bahwa Konversi pakan merupakan indikator teknis yang dapat menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan pakan, semakin rendah angka konversi pakan berarti semakin baik karena pakan yang digunakan akan semakin sedikit dan nantinya akan menghemat biaya. Konversi pakan yang berbeda dari NRC (2006) sejalan pula dengan konsumsi ransum anak kambing. Seperti yang dinyatakan oleh Basuki (2002), bahwa nilai konversi pakan sangat tergantung dari konsumsi bahan kering dan pertambahan bobot harian ternak. Menurut Ensminger dan Parker (2002), ternak yang mendapatkan energi dan protein yang rendah dalam pakannya akan mengalami pertumbuhan yang lambat dan memiliki efisiensi pakan yang lebih rendah daripada ternak yang diberi kandungan energi dan protein yang tinggi. Konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi juga oleh kualitas pakan, oleh karena itu memberikan kualitas pakan yang baik ternak akan tumbuh lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya (Martawidjaya et al. 1999).
Perhitungan IOFC
IOFC (income over feed costs) merupakan nilai yang didapatkan dari hasil perhitungan selisih pendapatan dikurangi biaya pakan (Prawirokusumo 1990). Semakin tinggi nilai IOFC akan semakin baik pula pemeliharaan yang dilakukan, karena tingginya IOFC berarti penerimaan yang didapat dari hasil penjualan kambing juga semakin tinggi. Pendapatan adalah hasil yang didapatkan dari penjualan anak kambing yang dihitung dengan harga jual anak kambing dikalikan dengan pertambahan bobot badan anak kambing selama penelitian. Asumsi harga jual ternak anak kambing adalah Rp70 000,00/kg bobot badan dikalikan dengan pertambahan bobot badan anak kambing selama 54 hari penelitian. Biaya pengeluaran berasal dari total biaya pakan yang dikonsumsi anak kambing selama pengamatan meliputi ransum starter (Rp10 268,00/kg) dan susu (Rp6 000,00/liter) pengganti selama 54 hari penelitian. IOFC anak kambing dalam penelitian disajikan pada tabel 5.
Tabel 5 IOFC Anak kambing peranakan etawah selama penelitian
Ternak Peubah IOFC (Rp/ekor)
Pendapatan (Rp/ekor) Pengeluaran (Rp/ekor)
Jantan 311.264±34.600 373.333±72.858 62.068±38.377 Betina 300.263±11.522 355.833±26.731 55.570±19.005
13
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pemberian ransum starter bedasarkan Nutrient Requirement of Small Ruminant (NRC) 2006 memberikan pengaruh yang sama pada anak kambing peranakan etawah jantan dan betina terhadap konsumsi ransum dan performa yang dihasilkan ternak.
Saran
14
DAFTAR PUSTAKA
Andhini, D S. 2014. Performa anak domba prolifik dengan pemberian milk replacer yang disumplementasi minyak biji bunga matahari dengan minyak ikan lemuru. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Anggorodi, 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum, PT Gramedia, Jakarta
Arifin M, Liman, Adhianto K. 2012. Pengaruh penambahan konsentrat dengan kadar protein kasar yang berbeda pada ransum basal terhadap performa kambing Boerawa lepas sapih. JIPT [Internet]. [diunduh 2014 Sept 02]; 1(1). Tersedia pada: www.jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JIPT/article/view/38/
43.
Badan Pusat Statistik. 2016. Hasil Pencarian Berdasarkan Populasi : Kambing. http:// http://www.bps.go.id
Basuki P. 2002.Pengantar Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Bahan Kuliah. Yogyakarta (ID): Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Boorman KN. 1980. Dietary constraints on nutrigen retention. In: PJ Buttery and Lindsay DB. Protein Deposition in Animals.London (GB): Butterworth
Davendra. C and Burn. 1994. Goat Production in Tropics. Commonwealth Bureaux, London. p 64-74, 90-116.
Ensminger ME, Parker EO. 2002. Sheep and Goat Science. Danville Illonis (US): The Interstate Printers and Publishers, Inc.
Hidajati NM, Martawidaja M, Inounu I. 2002. Peningkatan energi ransum untuk pertumbuhan domba persilangan.Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Pusat Penenlitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor (ID): 202-205.
Kemp, R. A, J. W. Wilton and L. R. Scaeffer. 1998. Phenotypic and genetic parameter estimates for gestation length. Calving ease and birth weight in sentimental cattle. Can. J. Anim. Sci. 68:291.
Martawidjaja, M, B. Setiadi, dan S.S. Sitorus. 1999. Karakteristik pertumbuhan anak kambing kacang prasapih dengan tata laksana pemeliharaan creep feeding. hlm. 485-490. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Mathius. I.W, M. Martawidjaja, A. Wilson, dan T. Manurung. 1996. Studi Strategi kebutuhan energi-protein untuk domba lokal, Fase pertumbuhan. J. Ilmu Ternak Vet.2(2): 84-91.
Mathius I.W., I.B. Gaga dan I-K Sutama. 2002. Kebutuhan Kambing PE Jantan Muda akan Energi dan Protein Kasar: Konsumsi, Kecernaan, Ketersediaan dan Pemanfaatan Nutrien. Fakultas Peternakan. Universitas Udayana: Denpasar-Bali McDonald P, Edwards RA, Greenhald JFD, Morgan CA. 1988. Animal Nutrition.
Fifth Edition. New York (US): John Willey and Sons Inc.
Parakkasi, A., 1995. Ilmu Nutrisi Ruminansia Pedaging. Departemen Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Prawirokusumo S. 1990. Ilmu Usaha Tani.Yogyakarta (ID): BPFE.
15
Setiadi, B, I-K. Sutama dan I G. M. Budi Arsana. 1997. Efisiensi reproduksi dan produksi kambing Peranakan Etawah pada berbagai tatalaksana perkawinan. JITVet. 2 (4) : 233-236.
Siregar, SB. 1997. Aspek Iklim Tropis Terhadap Kemampuan Berproduksi Susu Kambing Perah. Balai Penelitian Ternak: Bogor.
Sitorus, S. S. 2004. Pengaruh Creep Feed pada anak kambing kacang pra-sapih berbeda jenis kelamin Bogor: Balai Penelitian Ternak: Bogor.
Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta (ID): Gadjah mada University Press.
Sutama, I-K., IGM. Budiarsana, H. Setianto and A. Priyanti. 1995. Productive and reproductive performances of young Peranakan Etawa does. JITV 1: 81-85. Tillman ADH, Hartadi, Reksohadiprodjo S, Prawirokusuma S, dan Lebdoseokotjo
S. 1983. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
16
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil T-Test konsumsi segar harian (as fed) ransum starter
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 269.2011 62.40207 0.091
T1 3 249.3598 20.78100
T0: kambing PE kelompok jantan ; T1:kambing PE kelompok betina ; N: jumlah sampel ; SD: standar deviasi ; Sig: signifikansi (P<0.05)
Lampiran 2 Hasil T-Test konsumsi bahan kering ransum starter
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 234.6195 54.38590 0.091
T1 3 217.3270 18.11147
T0: kambing PE kelompok jantan ; T1:kambing PE kelompok betina ; N: jumlah sampel ; SD: standar deviasi ; Sig: signifikansi (P<0.05)
Lampiran 3 Hasil T-Test konsumsi protein kasar ransum starter
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 44.4381 10.30096 0.091
T1 3 41.1628 3.43040
T0: kambing PE kelompok jantan ; T1:kambing PE kelompok betina ; N: jumlah sampel ; SD: standar deviasi ; Sig: signifikansi (P<0.05)
Lampiran 4 Hasil T-Test konsumsi TDN ransum starter
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 169.9724 39.40041 0.091
T1 3 157.4447 13.12104
T0: kambing PE kelompok jantan ; T1:kambing PE kelompok betina ; N: jumlah sampel ; SD: standar deviasi ; Sig: signifikansi (P<0.05)
Lampiran 5 Hasil T-Test konsumsi serat kasar ransum starter
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 12.3574 2.86451 0.091
T1 3 11.4466 0.95393
T0: kambing PE kelompok jantan ; T1:kambing PE kelompok betina ; N: jumlah sampel ; SD: standar deviasi ; Sig: signifikansi (P<0.05)
Lampiran 6 Hasil T-Test pertambahan bobot badan harian ternak
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 84.656 16.521 0.129
T1 3 80.687 6.061
17
Lampiran 6 Hasil IOFC anak kambing PE
Ternak N Rataan SD Sig.
T0 3 62068 38377 0.255
T1 3 55570 19005
18
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kampar, Riau pada tanggal 18 September 1991 dari ayah Ramses Simarmata dan ibu Runggu Corry Rupina Samosir. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara yakni Budimantua Simarmata, Ferri Simarmata dan Doni Simarmata. Riwayat pendidikan penulis dimulai dari TK Nusa Indah Sei Garo, selanjutnya pendidikan dasar SD Negri 64 Sei Garo, melanjutkan pendidikan di SMP Swasta Khatolik Assisi Pematang Siantar (Sumatera Utara) kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Tapung-Riau. Tahun 2010
penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai staff Divisi Kesejahteraan Anggota UKM KEMAKI tahun 2010-2012, lalu menjadi Ketua Divisi Kesejahteraan Anggota UKM KEMAKI tahun 2012-2013. Penulis juga menjadi anggota paduan suara UKM KEMAKI tahun 2010-2014. Penulis pernah menjadi Ketua Acara Inaguration night UKM KEMAKI 2010, panitia acara Dekan Cup 2012, Seminar Internasional sebagai Staff Acara, Selain itu penulis juga pernah mengikuti lomba FESPARAWI (Festival Paduan suara Gerejawi) tahun 2010, mengikuti lomba MCC (Magnificat Choir Competition) tahun 2011 dan peserta pengisi acara Natal Nasional yang dihadiri oleh Presiden RI tahun 2011.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih penulis ditujukan kepada dosen pembimbing akademik yang sekaligus dosen pembimbing utama Prof Dr Ir Komang Gede Wiryawan dan juga kepada dosen pembimbing anggota Dr Ir Lilis Khotijah M,Si dan Ir Kukuh Budi Satoto, MS.