• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Budaya Beragama dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Triguna Utama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Budaya Beragama dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Triguna Utama"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)

Oleh:

ISMA RAHMAHWATI 1110011000122

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

Skripsi

Diajukan kepa<ia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Me.menuhi

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. pd. I)

Oleh:

ISMA RAHMAHWATI

1110011000122

Dra. Hi. Zikri Neni Iska. M. Psi

NIP. 19690206 199503 2 001

JURUSAN

PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM

FAKULTAS

ILMU

TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS

ISLAM

NEGERI

SYARIF

HIDAYATULLAH

JAKARTA

t43s Ht20t4

M

(3)

Rahmahwati, NIM. 1110017000122, Jurusan Pendidikan Agama Islam F-akultas

Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang elitetapkan

oleh fakultas.

J akarta, 3 0 Desemb er 201 4

Yang mengesahkan,

Pembimbing

(4)

Keguruan

UIN

Syarif Hidayatullah Jakarla, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqosah pada 19 Januari 2015 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Sl (S.Pdl) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Jakarta, Januari 2015 Panitia Ujian Munaqosah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program StLrdi) Dr. H. Abdul Majid Khon. M. Ag

NIP: 19580707 195703 1 005

Sekretaris (Sekretaris JurLrsan/Prodi) Marhamah Saleh. Lc. MA

NIP: I 9720313 200801 2 010

Penguji I

Prof. Dr. Ahmad Syafi'l Noor. MA

NIP: 19470902 196712

|

001

Penguji II

NIP: 19580918 198701 2 001

Mengetahui

fq -;n,,ruaiu

?arr

.1r--0\i

-da Tangan

-'Lol

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Nurlena

'1. MA. Ph.D.
(5)

Tempat/tgl. Lahir

NIM

Jurusan

Angkatan

Alamat

Dosen Pembimbing

Jakarta, l3 April 1992

I I 100 11000"22

Pendiclikan Agama Islam

20t0

Jln. Lorong T no. 9b RT 009/005 Koja- Koja- Jakarta Utara

Dra. Hj. Zikri Neni Iska M.Psi

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjuduI Kontribusi Budaya Beragama

Dalam Pcmbelajaran Pendiclikan Agama Islam di SMK Triguna Utama adalah

benar hasil karl,a sendiri dan saya bertanggLrng jawab secara akademis atas apa yang

saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta,

,'-)/tr^a

Rah nr ahrvat i
(6)

i

Skripsi. Jakarta : jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2014.

Pendidkan Agama Islam di sekolah tidak selamanya berhasil dalam mendidik siswa dalam upaya membentuk akhlak yang baik, faktanya masih banyak siswa yang kurang berakhlak baik. Oleh karena itu, latar belakang dari penelitian ini adalah kurang terinternalisasi budaya-budaya beragama di sekolah yang mengakibatkan rusaknya akhlaksiswa. Pembelajaran Pendididkan Agama Islam tidak terbatas pada teori di dalam kelas saja tetapi mencakup praktek di luar. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di dalam kelas saja belum cukup menjadikan siswa beraklak baik. Oleh karenanya, perlu adanya kontribusi budaya beragama guna mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adanya budaya beragama di sekolah bertujuan untuk menjadikan siswa berakhlak mulia.

Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islamterhadap penerapanbudaya beragama di SMK Triguna Utama. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini dengan teknik: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi. Dan untuk analisis data peneliti menggunakan data deskriptif dengan langkah reduksi data, data display, dan pengambilan kesimpulan.

(7)

ii

Islamic Religious Education at Faculty of Tarbiyah and Teachers Training of State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

Islamic Religious Education in school is not always successful in educating students in an effort to establish good morals, in fact there are many students who lack good moral. The background of this research is less internalized religious cultures in schools which resulted in adolescent moral deterioration. Learning Islamic Religious Education is not limited to theory in the classroom but includes practice outside. Learning Islamic Religious Education in the classroom is not enough to make students good morals. Therefore, the need for contribution of religious culture to achieve the goal Islamic Religious Education. The religious culture in school aims to make a student be a good morals.

This study is a qualitative study aimed to describe the implementation of Learning Islamic Religious Education on the application of religious culture in Triguna Utama. Data collection techniques in this study with the technique of observation, interviews, and documentation. For the validity of the data the researchers used a technique of triangulation. And for data analysis researchers used desciption analysis with the step data reduction, display the data, and making conclusions.

(8)

iii

Alhamdulillah segala syukur saya panjatkan kehadirat ilahi robbi yang mana selalu memberikan saya segala rahmat, taufiq, dan hidayat serta ni’matnya sehingga saya bisa bernafas dan terus belajar hingga detik ini.

Shalawat beriring salam saya curahkan kehadirat baginda Nabi Muhammad Saw.

Nabi segala zaman yang membawa umatnya menuju cahaya. Penyusunan skripsi

ini merupakan kajian singkat tentang Pelekasanaan Pembelajaran Pendidikan

Agama Islam (PAI) terhadap Budaya Beragama di SMK Triguna Utama. Saya

menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bimbingan, bantuan , dan do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya berterimakasih kepada :

1. Ibu Nurlaena Rifa’i, MA, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bpk. Abdul Majid Khon MA dan Ibu Marhamah Saleh, Lc., selaku Ketua dan

Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Dra. Zikri Neni Iska M.Psi, selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan waktunya untuk selalu memotivasi dan membimbing dalam

penyusunan skripsi ini.

4. Bpk. Masan AF M.Pd, selaku dosen pembimbing akademik yang selalu

memberikan arahan dan motivasi kepada saya.

5. Segenap jajaran dosen dan staff karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6. Bpk. Nirachmat S.Pd. dan Bpk. Drs. Robani AR selaku Kepala Sekolah dan

Guru PAI (Pendidikan Agama Islam) SMK Triguna Utama.

7. Kepala Yayasan, segenap jajaran guru dan staff karyawan SMK Triguna

(9)

iv

Kepompong saya: Ismi, Ebot, dan Iqi. Teman kosan Aya dan Safa. Sahabat

Molose PAI C 2010 yang sangat luar biasa. Saudara PSR 12 dan teman-teman

di KSR PMI unit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

10. Untuk dia, yang selalu memberi semangat dan memberikan segalanya kepada

saya. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk urusan kita. Terimakasih

Muhammad Akhirudinku.

Atas semua kontribusi yang tidak dapat disebutkan satu persatu terimakasih saya haturkan. Saya hanya bisa berdo’a semoga kita semua selalu di beri rahmat, hidayah, dan keberkahan hidup dunia dan akhirat. Dan untuk semua yang

membantu saya, saya amat berterimakasih atas kebaikan kalian semoga Allah

memberikan pahala yang setimpal.

Jakarta, 08 Desember 2014

Penyusun

Isma Rahmahwati

(10)

v

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI ... 7

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 7

1. Pembelajaran ... 7

2. Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 10

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 10

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 12

c. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 13

B. Budaya Beragama ... 15

1. Budaya ... 15

2. Agama ... 17

a. Pengertian Agama ... 17

b. Unsur-unsur Agama ... 24

3. Budaya Beragama ... 25

(11)

vi

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 34

E. Teknik Pengambilan Sampel ... 35

F. Pemeriksaanatau Pengecekan Keabsahan Data ... 35

G. Analisis Data ... 36

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Gambaran Umum Tentang Sekolah ... 38

B. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 49

C. Deskripsi Data ... 50

1. Pelaksanaan Pemnelajaran PAI di SMK Triguna Utama ... 50

2. Pelaksanaan Budaya Beragama di SMK Triguna Utama ... 52

D. Pembahasan ... 67

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 61

A. Kesimpulan ... 61

B. Implikasi ... 62

C. Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 63

(12)

vii

Gambar 4.2 Program Studi Mekanik Industri ... 43

Gambar 4.3 Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan ... 44

Gambar 4.4 Program Keahlian Administrasi Perkantoran ... 45

Gambar 4.5 Program Keahlian Bisnis dan Manajemen ... 46

Gambar 4.6 Tampak depan gedung SMK dan SMA Triguna Utama ... 48

Gambar 4.7 Tampak dalam gedung SMK Triguna Utama ... 48

[image:12.595.116.510.170.636.2]
(13)

viii

Lampiran II Instrumen Penelitian ... 68

Lampiran III Catatan Lapangan ... 69

Lampiran IV Hasil Wawancara ... 77

Lampiran V Data Siswa dan Tenaga Kependidikan ... 90

Lampiran VI Sarana dan Prasarana Sekolah ... 95

Lampiran VII Struktur Organisasi SMK Triguna Utama ... 100

Lampiran VIIIContoh RPP Pendidikan Agama Islam ... 101

(14)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia dan penting untuk

kehidupan manusiakarena, dengan pendidikan manusia dapat meningkatkan

kualitas dan taraf hidupnya. Seperti yang tertera dalam surat al- Mujadillah

ayat 11 :

....



























“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan AllahMaha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dari ayat diatas dapat peneliti simpulkan betapa seriusnya Allah

menjajikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu.Manusia yang

berpendidikan itu derajatnya akan lebih tinggi dari manusia biasa.

Pendidikan terdengar selama ini hanya terbatas pada proses kegiatan belajar

mengajar dan segala aspek yang ada di dalamnya.Pendidikan dapat dilihat dari

dua segi yaitu, Pertama dilihat dari sudut masyarakat, diakui manusia memiliki

kemampuan asal atau potensi, disini ditekankan pada mencari apa yang ingin

dicanya. Kedua dilihat dari segi pandang individu, jadi di sini pendidikan dapat

didefinisikan sebagai proses untuk menemukan dan mengembangkan

kemampuan-kemampuan seseorang.1 Oleh karenanya pendidikan memiliki

fungsi juga tujuan agar pembelajaran dapat dilakukan secara optimal dan

peserta didik dapat meraih prestasi yang baik. Fungsi dan tujuan pendidikan

nasional dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003,

menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan

1

(15)

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab.2 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan dan

fungsi dari pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan pada peserta

didik agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, menjadi warga negara

yang baik, serta mampu memberi bekal yang diperlukan oleh peserta didik

dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan agama yang ada di Indonesia diterapkan di sekolah karena

memiliki tujuan. Salah satu tujuan pendidikan agama bertujuan untuk

meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta

didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman

dan bertakwa kepada Allah Swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan

pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.3

Manusia hidup harus memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, bukan hanya

kebutuhan jasmani saja yang harus dipenuhi oleh manusia, akan tetapi

kebutuhan rohani pun harus dipenuhi. Menurut Zakiah Darajat yang dikutip

oleh Henry Narendrany Hidayati dan Andi Yudiantoro “disamping manusia

berusaha memenuhi kebutuhan fisik jasmaniahnya, ia juga harus memenuhi

kebutuhan mental ruhaniyahnya. Kebutuhan mental ruhaniyah inilah yang

membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya.”4

Pendidikan agama haruslah mulai ditanamkan kepada anak sejak dini.

Pendidikan tersebut diajarkan dalam lingkungan keluarga dan sekolah.

2

Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2009), h. 64.

3Muhaimin, Suti’ah, Nur Ali,

Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004),h, 78.

4

(16)

Anak dikenalkan agama pertama kali yaitu di lingkungan keluarganya, oleh

karenannya pendidikan agama harus di mulai sejak tahap pertama

perkembangan psikologi pada manusia, yaitu dari umur 0 sama 7 tahun.Tahap

pertama ini bisa disebut juga golden age, karena masa ini merupakan masa

dimana seorang anak dapat menyerap segala informasi yang ada di

sekelilingnya dengan sempurna. Orang tua menjadi pendidik yang pertama

bagi pendidikan anak terutama dalam penanaman keimanan, yanng

manapenanaman keimanan tersebut sangat diperlukan oleh anak sebagai

landasan bagi akhlak mulia. Pendidikan agama sejak dini pula akan menjadi

bekal untuk pendidikan anak selanjutnya.

Pendidikan agama tidak berhenti di lingkunngan keluarga saja, sekolah

juaga memiliki peranan penting terhadap penenaman pendidikan agama anak.

Sekolah mampu mempengaruhi rasa keagamaan, akhlak dan aspek lainnya

melalui proses pembelajaran di dalam kelas maupun bimbingan di luar kelas.

Sekolah juga berfungsi memberikan kemampuan kepada anak agar mampu

membudidayakan nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Faktanya,

Pendidikan Agama Islam di sekolah tidak selalu berhasil dalam mendidik

peserta didik dalam upaya membangun etika dan moral bangsa. Contohnya saja

pada tanggal 27 Januari 2013 seorang siswa di SMAN 1 Jatibarang Brebes

tewas karena berkelahi dengan teman sekelasnya.

Adanya contoh kenakalan pelajar di atas menunjukkan bahwasanya

internalisasi nilai-nilai agama pada anak masih belum berhasil, padah dari

pihak sekolah terutama dari guru Pendidikan Agama Islam senantiasa berusaha

untuk menanamkan akhlak mulia serta budi pekerti yang baik pada siswa

melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Kenyataannya

tidak jarang siswa dalam mengikuti mata pelajaran tersebut masih terbatas pada

formalitas, sehingga nilai-nilai agama yang diterapkan di sekolah tersebut

belum mampu menginternalisasi di dalam diri anak.

Dalam upaya menginternalisasi nilai-nilai agama pada diri anak sehingga

mampu tercermin pada perilaku mereka, maka diperlukan suatu penciptaan

(17)

pada mata pelajaran di sekolah hanya relatif sedikit pada setiap minggunya,

sehingga kesempatan guru untuk memberikan bimbingan serta arahan juga

relatif kecil. Selain itu, nilai-nilai agama yang ada pada diri anak seringkali

terkalahkan oleh budaya-budaya negatif di sekitarnya. Oleh karena itu perlu

adanya suatu budaya beragama yang dilakukan melalui proses pembelajaran

dengan pembiasaan-pembiasaan hidup disiplin, tertib, rapi, bersikap ramah,

sopan santun, rendah hati, mengucapkan salam ketika bertemu sesama, saling

menghargai, tolong menolong, rajin shadaqah, cinta terhadap lingkungan, taat

menjalankan ibadah, membaca Al-Quran, menghadiri kajian agama Islam, dan

lain-lain.

Budaya beragama yang terdapat di SMK Triguna Utama, seperti:

membaca do’a sebelum memulai pelajaran, sopan santun, disiplin, rapi berpakaian, solat zuhur berjama’ah, dan lain-lain. Di SMK Triguna Utama

terdapat pula buku poin, yang mencakup tata tertib di sekolah.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian

tentang hal itu dan mengangkat judul: “Kontribusi Budaya Beragamadalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK Triguna Utama

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan

beberapa masalah:

1. Rusaknya akhlak siswa.

2. Kurangnya perhatian terhadap pendidikan agama siswa.

3. Masih adanya perilaku yang menyimpang dari siswa.

4. Siswa kurang memahami budaya positif di sekolah.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini terarah dan operasional, maka masalah pokok yang

(18)

1. Budaya beragama di SMK Triguna Utama

2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas X Ob

3. Kontribusi budaya beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama

Islam

D. Rumusan Masalah

Sesuai dengan pembatasan masalah yang dipaparkan di atas maka

rumusan masalah yang diajukan penelitiantara lain:

1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di

kelas X Otomotif B?

2. Bagaimana budaya beragama di SMK Triguna Utama?

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah:

a. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama

Islam di SMK Triguna Utama

b. Untuk mengetahui pelaksanaan budaya beragama siswa SMK

Triguna Utama

c. Untuk mengetahui bagaimana kontribusi budaya beragma dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

2. Kegunaan Penelitian

a. Bagi sekolah, penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana evaluasi

dalam rangka pelaksanaan pengembangan budaya beragama

lingkungan sekolah.

b. Bagi guru, penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui

budaya-budaya agama yang dapat ditanamkan dan dikembangkan

pada peserta didik dalam rangka menciptakan generasi bangsa yang

(19)

c. Bagi penulis, untuk menambah wawasan keilmuan dan pengetahuan

tentang kontribusi budaya beragama dalam pembelajaran budaya

(20)

7 1. Pembelajaran

Sebelum mengungkap pengertian pembelajaraan, kita ulas dahulu tentang

definisi belajar, karena pembelajaran berasal dari kata belajar. Teori belajar

banyak dikemukakan, dianntaranya:

a. Teori Belajar Behavioristik sebagaimana yang di tuliskan oleh Asri

Budiningsih

Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik adalah

tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan

respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang

dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan

cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.1

b. Teori Belajar Menurut Thorndike sebagaimana yang di tuliskan oleh

Asri Budiningsih

Belajar menurut teori Thorndike adalah proses interaksi antara

stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang

terjadinya kegiatan belajar seperti, pikiran, perasaan, atau hal-hal lain

yang dapat ditangkapmelalu alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi

yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berubah

pikiran, perasaan, atau gerak/tindakan.2

c. Teori Belajar Menurut Waston sebagaimana yang di tuliskan oleh Asri

Budiningsih

Belajar menurut teori Wastonn adalah proses interaksi antara

stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus

1

Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h, 20-23.

2

(21)

berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat

diukur.3

d. Teori Belajar Menurut Clark Hull sebagaimana yang di tuliskan oleh

Asri Budiningsih

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus

dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar.4

e. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie sebagaimana yang di tuliskan

oleh Asri Budiningsih

Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan

variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya

proses belajar. Ia menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan

respon cendrung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam

kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan

stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap.5

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa, belajar adalah

interaksi antara stimulus dengan respon. Dapat dikatakan bahwa stimulus

adalah input guru kepada siswa, sedangkan respon adalah outputnya.

Stimulus adalah sesuatu pemahaman yang diberikan guru untuk merangsang

peserta didik berfikir, sedangkan respon adalah hasil berfikir peserta didik

tersebut.

Belajar sebagaimana yang dikatakan oleh Dimyati merupakan interaksi

antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dari

lingkungan. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil

belajar tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek

keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif.6

Definisi belajar menurut Anthony Robbins dalam buku Mendesain Model Pembelajaran Inovativ-Progresif karya Trianto, adalah belajar

3

Ibid, h, 20-23

4

Ibid, h, 20-23

5

Ibid, h, 20-23

6

(22)

sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari dimensi ini belajar memuat beberapa unsur, yaitu: penciptaan hubungan, sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami, dan sesuatu pengetahuan yang baru.7

Dengan demikian definisi di atas dapat dipahami bahwa belajar bukan

berawal dari sama sekali tidak mengetahui apapun, akan tetapi

menghubungkan antara satu pengetahuan yang sudah diketahui dengan

pengetahuan yang baru diketahui.

Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak

disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju suatu perubahan

pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku

tetap berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang

baru diperoleh individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antara

individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya.8

Belajar bisa terjadi kapanpun di manapun. Belajar bisa terjadi baik secara

terancang ataupun tidak terancang, dan tidak ada pula batasan waktu untuk

belajar. Belajar dapat berlangsung sepanjang hayat. Sebagai umat muslim

wajib bagi kita untuk menuntut ilmu, sesuai hadis Nabi:

اق ك ام نْب سنأ ْنع

اْ ب ْطأ مَس هْي ع ها ىَص ها ْ سر اق

ْ مْع ا

ب

ة ئآم ا َّإ م ْسم ِ ك ى ع ةضْيرف مْع ا ب ط َّإف نْيِّ ا

ا تحنْجأ عضت

(رب ا دبع نبإ هجرخأ) ب ْطي امب اضر مْع ا ب اط

Artinya: “dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“carilah ilmu walaupun di ngeri China. Sesungguhnya mencari ilmu itu

wajib atas setiap Muslim. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena rida dengan apa yang dicari”.9

Bila di atas saya sudah memaparkan definisi belajar, sekarang saya akan

memaparka definisi pembelajaran.

7

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovativ-Progresif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h, 15.

8

ibid, h, 16-17.

9

(23)

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Trianto bahwa pembelajaran

merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang sepenuhnya tidak

dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk

interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam

makna yang lebih kompleks, pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar

dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarah interaksi siswa

dengan sumber belajar lainnya) dalam rangkai mencapai tujuan yang

diharapkan.10

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur

manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling

mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.11

Dengan demikian pembelajaran adalah interaksi yang terjadi antara guru

dengan murid, yang mana interaksi ini menjadi sebuah komunikasi atau

transfer ilmu antara guru dengan murid, dengan tujuan yang sudah ditetapkan.

2. PAI (Pendidikan Agama Islam)

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Majid

adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk

mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa dan

berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari al-Qur’an dan

Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan, serta penggunaan

pengalaman.12

Di dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara

lainpendidikan agama. Dan dalam penjelasannya dinyatakan bahwa

pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan

10

Trianto, op.cit., h. 17.

11

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h, 57.

12

(24)

terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh

peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk

menghormati agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam

masyarakat dalam mewujudkan persatuan nasional.

Di dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa Pendidikan

Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini,

memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan

bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk

menghormati agama laindalam hubungan kerukunan antar umat beragama

dalam masyarakat untuk mewujudkanpersatuan nasional.

Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu

diperhatikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu berikut ini:

1) Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan

bimbingan, pengajaran dan latihan yang dilakukan secara berencana dan

sadar atas tujuan yang hendak dicapai.

2) Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam arti

ada yang dibimbing, diajari, dan dilatih dalampeningkatan keyakinan,

pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.

3) Pendidik atau guru Pendidikan Agama Islam yang melakukan kegiatan

bimbingan, pengajaran, dan latihan secara sadar terhadap peserta

didiknya untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.

4) Kegiatan (pembelajan) Pendidikan Agama Islam diarahkan untuk

meningkatkan keyakkinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman

ajaran agama Islam dari peserta didik, yang di samping untuk

membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk

membentuk kesalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi

itu diharapkan mampu memancar ke luar dalam hubungan keseharian

dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesama

muslim), ataupun yang tidak seagama (hubungan dengan non muslim),

(25)

dan kesatuan nasional (ukhuwah wathaniyah) dan bahkan ukhuwah

insaniyah (persatuan dan kesatuan antar sesama manusia).13

Jadi, Pendidikan Agama Islam adalah Usaha sadar seorang guru untuk

meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Agama Islam peserta didik

melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran, dan latihan yang telah

direncanakan gun amnecapai tujuan yang tujuan yang telah ditetapkan.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam di sekolah atau di madrasah bertujuan untuk

menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan

pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta

didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus

berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta

untuk dapat melanjutkan pada jenjang Pendidikan yamg lebih tinggi.14

Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan

keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang

agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa

kepada Allah Swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari tujuan tersebut dapat ditarik

beberapa diemensi yang hendak ditingkakan dan dituju oleh kegiatan

pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu:

1) Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam

2) Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta

didik terhadap ajaran agama Islam

3) Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan peserta

didik dalam menjalankan ajaran Islam

4) Dimensi pengalamnya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah

diimani, dipahami, dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu

13Muhaimin, Suti’ah, Nur Ali,

Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004), h, 75-76.

14

(26)

mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakan,

mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam

kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Allah Swt. serta mengaktualisasikan dan merealisasikannya dalam

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.15

Tujuan Pendidikan Agama Islam yang di sebutkan di atas dapat di tarik

kseimpulan bahwa Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan

keimanan peserta didik, pemahaman tentang Islam, penghayatan, dan

pengalaman peserta didik dalam menjalankan perintah ajaran agama,

sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah

Swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara.

Tujuan pendidikan Islam berlandaskan tujuan hidup manusia. Allah

menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Jadi tujuan hidup ini

tidak lain untuk mengabdi kepada Allah Swt., menjaga dan melestarikan

bumi, dan menjalankan kehidupan sesuai syari’at yang Allah berikan.

Jika tugas manusia dalam kehidupan ini demikian penting, pendidikan harus

memiliki tujuan yang sama dengan tujuan penciptaan manusia. Bagaimana

pun, pendidikan Islam sarat dengan pengembanagan nalar dan penataan

perilaku serta emosi manusia dengan landasan dinul Islam. Dengan demikian,

tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah

dalam kehidupan manusia, baik secara individual maupun secara sosial.16

c. Model Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)

Guru Pendidikan Agama Islam harus mengaplikasikan model-model

pembelajaran yang kreatif agar tercapai tujuan pembelajaran, seperti yang

15Muhaimin, Suti’ah, Nur Ali,

Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004), h, 78.

16

(27)

ditulis oleh Abdul Majid model pembelajaran Tadzkirah sesuai untuk

pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Makna Tadzkirah secara etimologis

diambil dari kata dzakara yang artinya ingat dan tadzkirah artinya peringatan.

Adapun makna Tadzkirah yang dimaksud oleh Abdul Majid adalah

sebuah model pembelajaran yang mempunyai makna sebagai berikut:

1) T = Tunjukan Teladan

Guru harus menjadi teladan bagi siswanya. Siswa lebih mudah

mengambil pelajaran dari apa yang ia lihat.

2) A = Arahkan (Berikan Bimbingan)

Bimbingan seorang guru kepada siswanya dilakukan dengan cara

memberikan alasan, penjelasan, pengarahan, diskusi-diskusi, teguran,

mencari tahu penyebab masalah, dan kritikan sehingga perilaku anak

berubah.

3) D = Dorongan (Motivasi)

Memotivasi anak adalah suatu kegiatan memberi dorongan agar anak

bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diharapkan

oleh orang tua atau guru. Anak yang termotivasi akan memungkinkan ia

untuk mengembangkan dirinya.

4) Z = Zakiyah (Murni-Suci-Bersih)

Kata murni disini bermaksud ikhlas, rasa keikhlasan harus ditanamkan

kepada anak baik dalam belajar, bersikap, dan berbuat sekecil apapun.

Jika rasa ikhlas sudah tumbuh, maka keihklasan akan menjadi kekuatan

dalam hidup.

5) K = Kontinuitas

Ajaran-ajaran yang diberikan haruslah bersifat kontiyu atau terus

menerus agar anak terbiasa dan akan menjadi kebiasaan. Pembiasaan ini

harus dimulai sejak dini kepada anak agar akhirnya anak menjadi terbiasa

dan menjadi sebuah kebiasaan (habit)

6) I = Ingatkan

Dalam proses pembelajaran PAI (Pendidkan Agama Islam), guru harus

(28)

Swt. Disini juga guru harus mengingatkan kepada siswa akan

ajaran-ajaran yang telah diajarkan.

7) R = Repetition (Pengulangan)

Pendidikan yang efektif dilakukan dengan berulang-ulang sehingga anak

menjadi mengerti. Pelajaran atau nasihat apa pun perlu dilakukan secara

berulang-ulang sehingga mudah dipahami oleh anak.

8) A = Aplikasikan atau Organisasikan

Puncaknya ilmu adalah amal. Dengan demikian, maka dalam mengajar

hendaknya guru mampu memvisualisasikan ilmu pengetahuan pada dunia

praktis.

9) H = Heart Hepar

Hati adalah sumber keimanan manusia. Oleh karena itu guru harus

menyentuh hati siswanya agar dapat dekat dengan Sang Khaliq.17

B. Budaya Beragama 1. Budaya

Budaya menurut Sarlito adalah “suatu set dari sikap, perilaku, dan

simbol-simbol yang dimiliki bersama oleh manusia dan biasanya

dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya”.18

Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta “buddhayah” yang

merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau kekal.19 Kata

asing culture yang berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah,

mengerjakan dan terutama berhubungan dengan pengolahan tanah, memiliki

makna yang sama dengan kebudayaan. Arti culture berkembang sebagai

segala daya dan usaha manusisa untuk mengubah alam. Jika diingat sebagai

konsep kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang

17

Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2012), h, 135-156.

18

Sarlito W Sarwono, Psikologi Lintas Budaya, (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2014), h, 3.

19

(29)

harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi dan

karyanya itu.20

Menurut HAR Tillar yang dikutip dari Primitive Culture karya Edward

B Taylor “budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta

kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia

sebagai anggota masyarakat”. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara “kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat yaitu alam dan zaman (kodrat dan

masyarakat)”.21

Dari keterangan di atas kebudayaan adalah kebiasaan dari segi

pengetahuan, seni, moral, dan lain-lain yang merupakan hasil dari usaha

seseorang atau kelompok.

Dalam membahas budaya kita sering kali kita tidak dapat melepas diri

dari istilah masyarakat, ras, dan etnik. Ketiga istilah tersebut sering digunakan

secara bergantian dan campur aduk. Berikut adalah penjelasan dari

masing-masing istilah tersebut.

a. Masyarakat (society) adalah sekelompok orang yang saling berbagi

tempat dan waktu (jika menyangkut tempat dan waktu tertentu biasa di

sebut komunitas atau community)

b. Ras adalah sekelompok orang yang memiliki karakteristik fisik yang

sama dan diwariskan melalui genetik. Karakteristik tersebut antara lain,

warna kullit, bentuk hidung, dan bulu atau rambut di tubuh, serta mata.

c. Etnis atau suku bangsa adalah sekelompok orang yang memiliki

kesamaan dan perbedaan dalam konteks kebudayaan budaya. Biasanya

suku bangsa dikaitkan dengan warisan budaya, pengelaman yang

diwariskan secara turun temurun oleh orang-orang yang memiliki

20

Koentjaraningrat, kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992), h. 9.

21

(30)

kesamaan leluhur, bahasa, tradisi, seringkali agama, dan wilayah

geografis.22

Menurut Shiraev dan Levy dalam buku Psikologi Lintas Budaya karya Sarlito W Sarwono, saat ini ada dua jenis pengaruh budaya. Kedua budaya tersebut adalah budaya tradisional dan budaya non tradisional (modern). Budaya tradisional adalah budaya yang berakar kepada tradisi, aturan, simbol, dan prinsip yang kebanyakan dibuat di masa lalu. Sementara itu budaya non-tradisional adalah budaya yang berdasar kepada prinsip ide, dan kebiasaan yang relatif baru.23

Dengan demikian budaya itu terbagi menjadi dua, yaitu: budaya

tradisional yaitu, yang mengikuti adat dan tradisi yang berlaku sejak lama,

dan budaya non tradisional yaitu, budaya modren, yang diciptakan oleh

seseorang dan dilakukan secara berkelanjutan.

2. Agama

a. Pengertian Agama

Agama sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diartikan

dan didefinisikan. Menjelaskan maksud agama memang mudah tetapi untuk

menjelaskan definisi agama ini sangat sulit, karena agama itu memiliki sifat

yang subyektif.

Menurut A. Mukti Ali dalam bukunya yang dikutip oleh Muhammad

Alim “barang kalitidak ada yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain kata agama”. Beliau menjelaskan ada tiga yang mendukung

pernyataan tersebut, yaitu: pertama, karena pengalaman agama adalah soal batini, subyektif dan sangat individualis sifatnya. Kedua, boleh jadi tidak ada oranng yang berbicara begitu semangat dan emosional dari pada membicarakan soal agama. Maka membahas arti agama itu selalu ada luapan emosi yang kuat sekali, sehingga kata agama itu sulit didefinisikan. Ketiga, konsepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan definisi tersebut.24

Para ahli mengemukakan berbagai teori tentang pengertian agama. Ada

yang mengatakan bahwa kata agama diambil dari bahasa Sansakerta, yaitu

22

Sarlito W Sarwono, Psikologi Lintas Budaya, (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2014), h, 3-5.

23

Ibid, h, 6.

24

(31)

kata a = tidak, dan gama = kacau atau kocar-kacir. Dengan demikian berarti

agama tidak kacau, tidak kocar-kacir, teratur. Agama yang dimaksud di sini

adalah yang membuat seseorang tidak kacau dan menjadikanseseorang

teratur.25

Selanjutnya teori lain menyebutkan bahwa agama tersusun dari kata, a =

tidak, dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat,

diwarisi secara turun menurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu

sifat agama, yaitu diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi

lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan agama berarti teks

atau kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntunan,

karena agama mengandung ajaran-ajaran yanng dapat menjadi tuntunan bagi

penganutnya.26

Agama diucapkan oleh orang Barat dengan religios (bahasa latin),

Religion (bahasa Inggris, Perancis, Jerman) dan Religie (bahasa Belanda).

Adapun agama secara etimologi menurut sebagian tokoh sebagai berikut:

1) Religie (religion) menurut pujangga Kristen, Saint Augustinus. Berasal

dari “re dan eligare” yang berarti “memilih kembali” dari jalan yang sesat

ke jalan Tuhan.

2) Religie, menurut Lactantius, berasal dari kata “re dan ligare” yang

artinya “menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus”. Yang

dimaksud adalah menghubungkan antara Tuhan dan manusia yang telah

terputus oleh karena dosa-dosanya.

3) Religie berasal dari “re dan ligare” yang berarti “membaca berulang

-ulang bacaan suci” dengan maksud agar jiwa si pembaca terpengaruh

oleh kesuciannya. Demikian pendapat Cicero.27

Di bawa ini akan diikemukakan beberapa definisi agama dan

religionyang telah berhasil diformulasikan oleh para ahli:

25

Ibid, h, 27.

26

Ibid, h, 27.

27

(32)

1) WJS Poerwadarminto

“Agama adalah segenap kepercayaan (kepada Tuhan, Dewa, dan sebagainya) serta dengan kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang

bertalian dengan kepercayaan itu.”

2) Sidi Gazalba

“Agama adalah kepercayaan manusia pada hubungan Yang Kudus, dihayati sebagai hakikat gaib, hubungan mana menyatakan diri dalam

bentuk serta sistem kultus dan ritus serta sikap hidup berdasarkan doktrin

tertentu. Jadi hakikat agama adalah hubungan manusia dengan Yang

Kudus.”

3) Adi Negoro

“Agama adalah suatu keyakinan pada Yang Maha Kuasa, yang dirasa manusia sebagai kekuatan gaibyang mempengaruhi kehidupannya dan

dianggap mempengaruhi segala yang ada, serta mula jadi segala-galanya

dalam alam ini.”

4) E.B. Taylor

Religion is the belief in Spiritual Being” (Agama adalah kepercayaan

kepada barang-barang yang gaib). “Religion may broadly be defined as

acceptance of obligations toward powers higher than man him self

(agama dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai peneriamaan atas tata

atiran dari kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu

sendiri).

5) Webster’s Dictionary

“Agama adalah percaya kepada Tuhan atau kekuatan super human atau kekuatan yang di atas dan disembah sebagai pencipta serta pemelihara

alam semesta.”28

Agama sebagaimana yang dikatakan Dwi Narwoko secara mendasar dan

umum dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang

28

(33)

mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan

Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan

mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.29

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa agama adalah sesuatu yang

menghubungkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya,

dan manusia dengan lingkungannya. Agama juga bisa diartikan kembali

kepada jalan yang benar, yaitu jalan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Pengertian agama menurut Glock & Stark dalam Djamaluddin Ancok

dan Fuat Nashori adalah “sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan

sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat pada

persoala-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi.”30

Agama adalah risalah yang dissampaikan Tuhan kepada Nabi sebagai

petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan

manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyataserta mengatur

hubungan dengan dan tanggung jawab kepada Allah, kepada masyarakat seta

alam sekitarnya.

Dalam bahasa Arab agama berarti ad-Din, dalam tuturan orang Arab,

kata ad-din digunakan untuk menunjukkan lebih dari satu makna, diantaranya

adalah:

1) Makna kekuasaan, otoritas, hukum, dan perintah. Orang arab mengatakan

daana an-nasu yang artinya dia memaksa manusia untuk tunduk dan

dantuhu yang berarti saya menguasanya dan memilikinya.

2) Makna ketaatan, peribadatan, pengabdian, dan ketundukkan pada

kekuasaan dan dominasi tertentu. Orang arab mengatakannya dengan

dintuhum padaanu yang artinya aku memaksa mereka dan merekapun

taat.

29

J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Penerapan, (Jakarta: Kencana, 2011), h, 248.

30

(34)

3) Hukum, undang-undang, jalan, mazhab, agama, tradisi, dan taklid. Orang

arab mengatakan maadala dzalika dini wa didani yang artinya hal itu

tetap merupakan kebiasaanku dan tradisiku.

4) Balasan, imbalan, pemenuhan, dan perhitungan. Contohnya dapat kita

lihat dalam peribahasa arab yang mengatakan kamatadayanatadanayang

artinya kamu berbuat kepada orang lain, dan orang lain berbuat

kepadamu.31

Biasaanya, orang Arab menggunakan kata ad-din dalam makna tertentu

untuk satu kesempatan dan makna lain dalam kesempatan lain. Artinya,

pemakaian bahasa mereka sangat variatif karena disesuaikan dengan konteks

kebutuhan yang terjadi. Dengan demikian, kata ad-din, bersifat ambigu.

Setelah al-Quran turun, istilah ad-din mengalami kejelasan makna dengan

tetap bersandar pada empat makna etimologis di atas. Makna yang dimaksud

adalah yang menguasai dan memiliki otoritas yang tinggi (ilahiah), ketaatan

dan pengakuan terhadap kekuasaan dan otoritas dari pengikut ad-din, sistem

berpikir ilmiah yang dilahirkan dari sistem otoritas dan kekuasaan, dan

imbalan yang diberikan secara penuh oleh pemegang otoritas kepada pengikut

sistem melalui ketundukan dan keikhlasan atau balasan karena tidak menaati

sang pemegang otoritas. Untuk kepentingan tersebut, Abu al-„Ala al-Maududi

menyusun definisi ad-din berdasarkan makna-makna tersebut yang kemudian

beliau menghubungkan dengan ayat-ayat al-Quran. Hasil penyusunan beliau

adalah definisi ad-din berdasarkan surat al-mu’min: 65, az-zumar:11, dan 14,

an-nahl: 52, yunus: 104, dan al-infithar: 17-19, yaitu sistem kehidupan yang

sempurna dan meliputi aspek-aspek kehidupan yang bersifat keyakinan,

penalaran, akhlak, dan pengamalan. Sesungguhnya, Allah SWT telah

menjelaskan bahwa sistem kehidupan yang diridhai Allah adalah sistem yang

dibangun atas ketaatan dan keikhlasan untuk menghambakan diri kepada

Allah semata. Dengan demikian, ad-din dapat didefinisikan melalui definisi

yang mencakup seluruh makna etimologis dan makna qur’aniah, yaitu

31

(35)

hubungan ketundukan, kepatuhan, dan penghambaan yang melalui itu,

manusia dapat mengetahui Yang menciptakan, Yang Menghukum, Yang

Menjalankan aktivitas alam semesta, Yang Mahakuasa, Yang Mahaperkasa,

Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Allah telah menyusun sistem

yang sempurna dan mencakup berbagai aspek kehidupan. Dan manusialah

yang bertugas berjalan di atas sistem tersebut dan memahami balasan Allah

untuk mereka pada hari perhitungan nanti.32

Fairuzzabad dalam karyanya, yang di kutip oleh Muhammad Alim, dalam kamus al-Muhith, menerangkan bahwa dien memiliki arti kemenangan, kekuasaan, kerajaan, kerendahan, kemuliaan, perjalanan, paksaan dan peribadatan. Selanjutnya pengertian al-dien di dalam kamus al-Munjid, mengandung banyak makna, antara lain: balasan dan pahala, ketentuan, kekuasaan, pengaturan, perhitungan, taat, patuh, dan kebiasaan. Dalam bahasa Semit, al-dienberarti undang-undang atau hukum.33

Harun Nasution, dalam hal ini membantu kita menyimpulkan beberapa

definisi agama tersebut. Menurutnya, agama dapat diberi definisi sebagai

berikut:

1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi

2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia 3) Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung

pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia

4) Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu

5) Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib

6) Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuataan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia

7) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.34

Berbagai definisi di atas di samping memperlihatkan adanya perhatian

para ahli terhadap agama juga berarti bahwa agama tidak lepas dari respon

32

Ibid, h.23.

33

Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), h, 28.

34

(36)

manusia terhadapnya. Dengan demikian, kesulitan akan terjadi apabila ada

orang memaksakan definisi yang dibuatnya untuk diberlakukan pada semua

agama. Selanjutnya mari kita meninjau definisi-definisi agama yang

dikemukakan oleh para ulama Islam, antara lain sebagai berikut:

1) Mahmud Syaltut

“Agama adalah ketetapan-ketetapan ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia.”

2) Syaikh Muhammad Abdullah Badran

“Agama adalah hubungan antara dua pihak dimanayang pertama mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang kedua.”

3) Al-Syihristani

“Agama adalah ketaatan serta kepatuhan, dan terkadang bisa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan terhadap amal perbuatan di akhirat.”

4) Al-Tahanwy

“Agama adalah institusi yang mengarahkan orang-orang yang berakal dengan kemauan mereka sendiri untuk memperoleh kesejahteraan hidup

di dunia dan di akhirat.”

5) K.H.M. Thaib Thahir Abdul Mu’in

“Agama adalah sebagai peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seorang yang mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu dengan

kehendaknya sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan

kebahagiaan di akhirat.”

6) T. M. Hasbi Ash Shiddiqy

“Agama adalah dustur Ilahi yang didatangkan Allah untuk menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia di alam dunia untuk mencapai

kesejahteraan dunia dan kesentosaan akhirat.”

7) Djarnawi Hadikusumo

“Agama adalah tuntunan Allah kepada manusia untuk berbakti dan menyembah kepada Tuhan serta berbuat kebajikan di atas dunia.”35

35

(37)

Dari definisi-definisi agama menurut ulama Islam dapat disimpulkan

bahwa, agama berisi peraturan-peraturan yang Allah berikan kepada manusia.

Agama pula sebagai pedoman hidup manusia yang bertujuan membuat

manusia baik di dunia dan bahagia di akhirat.

b. Unsur-unsur Agama

Dari beberapa definisi agama yang telah dikemukakan di atas, akhirnya

kita dapat memformulasikan ada empat unsur penting yang secara subtansif

harus ada pada tiap sesuatu yang disebut agama. Tanpa adanya keempat unsur

pokok itu, maka formulasi itu tidak dapat dikategorikan sebagai suatu agama.

Unsur-unsur penting itu sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution sebagai

berikut.

Pertama, unsur kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Kekuatan gaib tersebut dapat mengambil bentuk yang bermacam-macam. Dalam agama

primitif kekuatan gaib tersebut dapat mengambil bentuk benda-benda yang

memiliki kekuatan misterius (sakti), ruh atau jiwa yang terdapat pada

benda-benda yang memiliki kekuatan misterius, dewa-dewa dan Tuhan atau Allah

dalam istilah yang lebih khusus dalam agama Islam. Kepercayaan pada

adanya Tuhan adalah sebagai dasar yang utama sekali dalam setiap paham

keagamaan. Tiap-tiap agama kecuali Budhisme yang asli dan beberapa agama

lain berdasar atas kepercayaan pada sesuatu kekuatan gaib, dan cara hidup

tiap-tiap manusia yang percaya pada agama di dunia ini amat erat

hubungannya dengan kepercayaan tersebut.

Kedua, unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup

di dunia ini dan di akhirat nanti tergantung pada adanya hubungan yang baik

dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Dengan hilangnya hubungan yang baik

itu, kesejahteraan dan kebahagiaan yang dicari akan hilang pula. Hubungan

baik ini selanjutnya diwujudkan dalam bentuk peribadatan, selalu

(38)

Ketiga, unsur respon yang bersifat emosional manusia. Respons tersebut

dapat mengambil bentuk rasa takut, seperti yang ada pada agama primitif,

atau perasaan cinta seperti yang terdapat pada agama-agama monoteisme.

Selanjutnya respons tersebut dapat pula mengambil bentuk penyembahan

seperti yang terdapat pada agama-agama monotaisme, dan pada akhirnya

respons tersebut mengambil bentuk dan cara hidup tertentu bagi masyarakat

yang bersangkutan.

Keempat, unsur paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam

bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran

agama yang bersangkutan, tempat-tempat tertentu, peralatan untuk

menyelanggarakan upacara dan sebagainya.36

Dengan demikian dapat dipahami bahwa unsur agama ada empat, yaitu

pecaya kepada yang gaib, percaya bahwa kehidupan di dunia dan di akhirat

telah dirancang oleh yang gaib, adanya respon dari manusia, dan percaya

bahwa yang gaib itu suci.

3. Budaya Bergama

Budaya beragama dalam penelitian ini memiliki makna yang sama

dengan “suasana religius atau suasana keagamaan.” Adapun makna suasana

keagamaan menurut M. Saleh Muntasir adalah “suasana yang memungkinkan

setiap anggota keluarga beribadah, kontak dengan Tuhan dengan cara-cara

yang telah ditetapkan agama, dengan suasana tenang, bersih dan hikmat.

Sarananya adalah selera religius, selera etis, estetis, kebersihan, itikad religius

dan ketenangan.”37

Budaya beragama di sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak

warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religious (keberagamaan).

Budaya beragama disekolah merupakan sekumpulan nilai-niai agama yang

diterapkan di sekolah, yang meliputi : perilaku, tradisi, kebiasaan, keseharian

dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah, atau

36

Ibid, h, 33-34.

37

(39)

perilaku-perilaku juga pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan dalam

lingkungan sekolah sebagai salah satu usaha untuk menanamkan akhlak mulia

pada diri anak.

a. Penciptaan Budaya Beragama

Penciptaan budaya beragama, berati menciptakan suatu kebudayaan religi

atau pembiasaan diri yang merupakan penerapan hasil pengetahuan tentang

agama dan menumbuhkan sikap yang berjiwa Islami. Sikap dan berjiwa

Islami tersebut dicerminkan pada perilaku serta keterampilan hidup peserta

didik dan warga sekolah lainnya.

b. Pembiasaan Budaya Beragama

Pembiasaan adalah merupakan alat pendidikan yang penting sekali,

terutama pada anak. Anak-anak dapat menurut dan taat kepada

peraturan-peraturan dengan jalan membiasakan dengan perbuatan-perbuatan yang baik,

di dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah, dan di tempat lain.38

Pembiasaan meupakan proses penanaman kebiasaan, membuat sesuatu

atau seseorang menjadi biasa atau terbiasa melaksanakan perilaku-perilaku

agamis sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pembiasaan merupakan salah satu

metode pendidikan yang penting. Agara anak memiliki akhlak terpuji, maka

anak tersebut harus terlebih dahulu dibiasakan untuk melakukan

perilaku-perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang melakukan suatu

kegiatan secara terus menerus, maka kegiatan tersebut akan mejadi suatu

kebiasaan, dan jika suatu kegiatan sudah menjadi suatu kebiasaan, maka

orang tersebut akan dapat melaksanakan sesuatu dengan mudah dan senang

hati.

Menurut Ngalim Purwanto, supaya pembiasaan itu dapat segera tercapai

dan baik hasilnya, harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain:

1) Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelum anak itu mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.

38

(40)

2) Pembiasaan itu hendaklah terus menerus (berulang-ulang) dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan.

3) Pendidikan hendaklah konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendiriannya yang telah diambilnya. Jangan memberi kesempatan kepada anak untuk melanggar pembiasaan yang telah ditetapkan itu.

4) Pembiasaan yang mula-mulanya mekanistis itu harus makin menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri.39

Sebagaimana yang dikemukakan Ramayulis materi pembiasaan yang

dapat diterapkan kepada anak adalah sebagai berikut:

1) Akhlak, berupa pembiasaan untuk bertingkah laku yang baik, seperti

berbicara dan bersikap sopan santun, berpakaian yang bersih dan rapi.

2) Ibadat, berupa pembiasaan untuk salat berjamaah di masjid, mengucap

salam sewaktu masuk kelas, membaca basmalah dan hamdalah ketika

memulai dan menyudahi kegiatan.

3) Keimanan, berupa pembiasaan agar anak beriman sepenuh jiwa dan

hatinya, dengan memberikan pengertian kepada anak untuk

memperhatikan alam sekitar, penciptaan langit dan bumi, dan

sebagainya.

4) Sejarah, berupa pembiasaan agar anak membaca dan mendengarkan

mengenai sejarah kehidupan Rasulullah serta para sahabat, kemudian

anak-anak mampu menanamkan semangat jihad pada dirinya.40

Beberapa ahli mengemukakan teori yang berkaitan dengan pembiasaan,

antara lain:

1) Teori Thorndike sebagaimana yang diterjemahkan oleh Tri Wibowo yang

dituliskan oleh B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson

Teori ini dikenal dengan connectionism (perhatian, pertautan) karena dia

berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses hubungan antara stimulus

39

Ibid. , h. 178.

40

(41)

dan respon. Sebelum tahun 1930, teori Thorndike mencakup hukum law

of exercise (hukum latihan) yang terdiri dari dua bagian, yaitu:

a) Koneksi antar stimulus dan respon akan menguat saat keduanya

dipakai. Melatih koneksi (hubungan) antar situasi yang menstimulasi

dengan suatu respon akan memperkuat hubungan di antara

keduanya. Bagian dari hukum latihan ini dinamakan law of us

(hukum penggunaan). Berdasarkan teori di atas, agar belajar mampu

mencapai hasil yang baik maka harus ada latihan. Seseorang yang

sering melakukan latihan, maka hasilnya akan lebih baik dan

menjadi kebiasaan yang positif.

b) Koneksi antara situasi dan respon akan melemah apabila praktik

hubungan dihentikan. Bagian dari hukum latihan ini dinamakan law

of disuse (hukum ketidakgunaan).41

2) Teori Operant Conditioning B.F. Skinner sebagaimana yang dituliskan

oleh Sri Esti Wuryani

Operant (perilaku diperkuat jika akibatnya menyenangkan)

merupakan tingkah laku yang ditimbulkan oleh organism. Operant

Conditioning dikatakan telah terbentuk bila dalam frekuensi telah terjadi

tingkah laku operant yang bertambah atau bila timbul tingkah laku

operant yang tidak tampak sebelumnya.

Pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning antara lain

sebagai berikut:

a) Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcement bagi

tingkah laku yang akan dibentuk itu.

b) Melakukan analisis untuk mengidentifikasi aspek-aspek kecil yang

membentuk tingkah laku yang dimaksud.

c) Mempergunakan secara urut aspek-aspek itu sebagai tujuan

sementara kemudian diidentifikasi reinforcer untuk masing-masing

aspek.

41

(42)

d) Melakukan pembentukan tingkah laku dengan menggunakan urutan

aspek-aspek yang telah disusun itu.42

3) Teori Belajar Asosiatif Ivan Pavlov sebagaimana yang dikatakan Bimo

Walgito

Berdasarkan hasil eksperimen Ivan Pavlov terhadap seekor anjing, di

mana anjing yang semula tidak mengeluarkan air liur ketika mendengar

bunyi bel menjadi mengeluarkan air liur meskipun tidak ada makanan.

Berdasrkan hasil eksperimen tersebut, Pavlov menyimpulkan

bahwasanya perilaku itu dapat dibentuk melalui sesuatu kebiasaan,

misalnya anak dibiasakan mencuci kaki sebelum tidur, atau mebiasakan

menggunakan tangan kanan untuk menerima suatu pemberian dari orang

lain.43

c. Budaya Beragama (Religious Culture) dan nilai-nilai akhlak yang dikembangkan di sekolah.

Budaya beragama (religous culture) yang diterapkan di sekolah ini

memiliki tujuan yang ingin dicapai, salah satunya adalah menanamkan akhlak

mulia pada diri pribadi peserta didik.44 Budaya beragama di sekolah seperti : membaca do’a sebelum mulai pelajaran, tadarus sebelum masuk jam

pelajaran, seenyum, menyapa masyarakat sekolah, memberi salam pada guru,

sholat berjama’ah, dan lain-lain.

d. Proses Terbentuknya Budaya Beragama (Religious Culture) Sekolah

Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh praktisi pendidikan

untuk membentuk budaya religius sekolah sebagaimana yang dkatakan oleh

Ahmad Tafsir, antara lain:

42

Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. GRASINDO, 2006), h. 133.

43

Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI Offset, 2003), h. 171.

44

(43)

1) Memberikan contoh (teladan)

2) Membiasakan hal-hal yang baik

3) Menegakkan disiplin

4) Memberikan motivasi dan dorongan

5) Memberikan hadiah terutama psikologis

6) Menghukum (mungkin dalam rangka kedisiplinan)

7) Penciptaan suasana religius yang berpengaruh bagi pertumbuhan anak.45

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pembiasaan budaya

beragama ini bisa diterapkan kepada siswa dengan cara guru mencontohkan

kepada siswa. Guru di sin imenjadi pedoman terciptanya budaya beragama.

Pembiasaan budaya beragama ini dengan cara memberi teladan kepada

siswa. Nilai-nilai agama yang intenalisasi ke siswa tidak akan berjalan baik

jika hanya di pandu oleh guru Pendidikan Agama Islam saja. Budaya

beragama di sekolah perlu adanya kerjasama antar guru-guru mata pelajaran

lain, kepala sekolah, dan organisasi sekolah.

Budaya beragama yang dimaksudkan di sini adalah mengintegrasi nilai-nilai

agama yang ada di sekolah, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai agama

Islam yang diperoleh siswa dari hasil pembelajaran di sekolah, agar menjadi

kebiasaan siswa dalam berperilaku baik di sekolah maupun di lingkungan

masyarakat.

C. Hasil Penelitian yang Relevan

Penulisan skripsi ini didukung oleh hasil penelitian yang relevan, yaitu

yang ditulis oleh:

1. Mulatsih, jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga Yogyakarta yang

berjudul “Implementasi Religious Culture dalam Pendidikan Agama Islam (Study Kasus di SMK N Wonosari Gunung Kidul)” tahun

45

(44)

2013.Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa religious

culture di SMK N Wonosari Gunung Kidul sudah terlaksana, hasil ini

ditandai oleh adanya kegiatan-kegiatan beragama di sekolah seperti:

pembiasaan tadarus Al-Qur’an, kegiatan keagamaan di hari Jum’at, infak,

TPA Jum’at sore, pembiasaan solat Duha dan solat Zuhur berjama’ah,

bakti sosial, perpustakaan agama, pembiasaan 3S, do’a bersama, manasik

haji, PHBI, pengajian akhir semester, ekstrakurikuler keagamaan,

khatmil Qur’an, kantin kejujuran, pesantren Ramadhan, dan jabat tangan

di pagi hari.46

2. Siti Muawanatul Hasanah, Pasca Sarjana Manajemen Pendidikan Islam

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang berjudul “Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Budaya Agama di Komunitas

Sekolah: Studi Kasus di SMK Telkom Sandhy Putra Malang” Tahun 2009. Penelitian ini difokuskan pada kepemimpinan kepala sekolah

dalam mengembangkan budaya agama di komunitas sekolah: studi kasus

di SMK Telkom Sandhy Putra Malang. Penelitian ini bertujuan untuk (1)

menjelaskan budaya agama di SMK Telkom Sandhy Putra Malang. (2)

menjelaskan strategi kepala

Gambar

Gambar 4.1 Program Studi Teknik Instalasi Tenaga Listrik ...........................   42
d)Listrik (GTL)  MelakukaPekerjaan Mekanik Gambar 4.1
c) Menjelaskan Prinsip Dasar Perlakuan Logaml Gambar 4.2
mesin konversi energi Gambar 4.3
+4

Referensi

Dokumen terkait

Ketika pelajaran ekstra bertepatan dengan waktu shalat duhur, sebelum kegiatan menutup pembelajaran, guru mengajak siswa untuk shalat asyar berjamaah bersama,

Jika materi pelajaran agama dan pelajaran lain seperti biasa kami menggunakan RPP dan lain sebagainya, sedangkan dengan beribadah shalat, menghafal surat pendek,

Kegiatan penyajian yang dilakukan guru (1) Materi tentang beribadah shalat: mendata siswa satu persatu tentang hafalan bacaan dan gerakan shalat; mendata siswa

Berdasar pertanyaan tersebut maka penelitian ini akan memfokuskan pada “Hubungan antara Kematangan Beragama pada Remaja dan Pendidikan Agama Islam dalam

Pada pelaksanaan shalat Dhuha ini yang menjadi imam adalah dari salah satu peserta didik laki-laki yang mendapat tugas dari guru pendidikan agama Islam PAI untuk menjadi imam di

Hasil program 5S dalam penguatan nilai pendidikan karakter dengan cara (1) Pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan dan

Dalam suatu proses pembelajaran tidak akan lepas dari faktor pendukung dan penghambat. Sebagaimana dalam membentuk sikap toleransi beragama siswa di SMPN 1 Jember. Faktor

Nilai-Nilai Islam Inklusif Dan Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam PAI Dalam Membentuk Peserta Didik Sebagai Insan Harmoni Dalam Beragama Toto Warsito1