• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMORBIDITAS DAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KOMORBIDITAS DAN KUALITAS HIDUP PASIEN HEMODIALISA"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

xi

Latar belakang : Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal yang paling banyak dipilih oleh pasien ESRD. Selain paling banyak dipilih, hemodialisa merupakan terapi yang paling banyak memberikan pengaruh pada kualitas hidup. Salah satu yang mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisa adalah komorbiditas. Hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung merupakan komorbid dengan prevalensi tertinggi pada pasien hemodialisa.

Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan komorbiditas dan kualitas hidup pasien hemodialisa.

Metode : Penelitian prospektif kohort dengan jumlah sampel 79 pasien di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama bulan Maret-Mei 2016. Kualitas hidup pasien hemodialisa dikaji menggunakan kuesioner WHOQoL-BREF. Hasil : Komorbid hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa. Hasil menunjukkan bahwa komorbid terbanyak yang ada pada pasien hemodialisa adalah hipertensi (87,3%). Pasien tanpa komorbid hipertensi memiliki kualitas hidup yang baik 4,7 kali dibandingkan pasien dengan komorbid hipertensi. Pasien tanpa komorbid diabetes mellitus memiliki kualitas hidup yang baik 4,2 kali dibandingkan dengan pasien dengan komorbid diabetes ฀mellitus. Pasien tanpa komorbid penyakit jantung memiliki kualitas hidup yang baik 2,8 kali dibandingkan dengan pasien dengan komorbid penyakit jantung. Jumlah komorbid yang dimiliki pasien berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Pasien dengan satu komorbid memiliki kualitas hidup yang baik 3,8 kali dibandingkan dengan pasien dengan komorbid lebih dari satu.

Kesimpulan : Komorbiditas hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa. Semakin banyak jumlah komorbid yang dimiliki semakin buruk kualitas hidup.

Kata Kunci : Hemodialisa, Kualitas Hidup, Komorbiditas, Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit Jantung

(2)

xii ABSTRACT

Background: mostly patient with ESRD choosed Renal replacement therapy hemodialysis. on the other hand, hemodialysis was known which had negative affect on quality of life. Comorbidity was one of the factors that affected quality of life (QOL) in patients with hemodialysis. Hypertension, diabetes mellitus and heart disease were known as the highest comorbidity in patients with hemodialysis.

Objective: to determine comorbidity factors which associated with QOL patients with hemodialysis

Methods :79 samples on hemodialysis unit in PKU Muhammadiyah Yogyakarta hospital were collected during March to May 2016. prospective cohort study was used and The QOL index was measured by the WHOQoL-BREF questionnaire.

Results : Comorbid hypertension, diabetes mellitus, and heart disease affected the quality of life patients with hemodialysis. Hypertension is the highest comorbidity (87,3%). Patients with hemodialysis without comorbid hypertension had a good QOL 4,7 times than patients with hypertension comorbidity. Patients without comorbid diabetes mellitus have a good quality of life 4,2 times compared to patients with comorbid diabetes mellitus Patients without comorbid heart disease had a good quality of life 2,8 times compared to patients with comorbid heart disease. The number of comorbid affect the quality of life for hemodialysis patients. Patients with single comorbid had a good quality of life 3,8 times compared to patients with multiple comorbid.

Conclusion : Hypertension, diabetes mellitus and heart diseases were known as factors that affected quality of life patients with hemodialysis. The greater number of comorbid hemodialysis patients will lead low level of quality of life.

Key Words : Haemodialysis, Quality of life, Comorbidity, Hypertension, Diabetec Mellitus, Heart disease.

(3)

1 BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) adalah gangguan fungsi ginjal yang progressif, bersifat irreversible dan menyebabkan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga mengakibatkan terjadinya uremia (Smeltzer, et al., 2008). Penyakit ginjal kronik terdiri dari beberapa tahap, dimana tahap akhir dari penyakit ginjal kronik disebut dengan penyakit ginjal tahap akhir (End Stage Renal Disease/ESRD). ESRD ditunjukkan dengan ketidakmampuan ginjal dalam mempertahankan homeostasis tubuh (Ignatavicius & Workman, 2006) dengan nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 15 mL/menit/1,73 m2 (Suwitra, 2006).

(4)

Pasien dengan ESRD harus segera mendapatkan terapi pengganti ginjal untuk mempertahankan hidupnya (Le Mone & Burke, 2008). Terapi pengganti ginjal dapat berupa transplantasi atau dialisis, yang terdiri dari dialisis peritoneal dan hemodialisa. Saat ini hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal yang paling banyak dipilih dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Data dari USRDS menyebutkan bahwa di Amerika Serikat lebih dari 65% pasien ESRD mendapatkan terapi hemodialisa (Smeltzer, et al., 2008). Di Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebanyak 5.450 pasien gagal ginjal yang menjalankan hemodialisa. Kondisi tersebut terus meningkat dan diketahui pada tahun 2010 jumlah pasien gagal ginjal yang menjalankan hemodialisa sebanyak 8.034 penderita dan pada tahun 2011 sebanyak 12.084 pasien (PERNEFRI, 2012).

(5)

Pasien yang menjalankan hemodialisa mempunyai prevalensi komorbid yang tinggi, antara lain Atherosclerosis Cardiovascular Disease (ACVD), Congestive Heart Failure (CHF), hipertensi, diabetes melitus (DM), dan gangguan kognitif, dimana komorbid tersebut merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kematian (Kan, W., et al.,2013). Pada penelitian yang dilakukan oleh Pakpour, A., et al., (2010) diketahui 66% dari 250 pasien hemodialisa memiliki komorbid. Dengan adanya berbagai macam komorbid akan menambah gejala yang dialami pasien, dan akan berdampak pada kunjungan rumah sakit, Lenght of Stay (LOS), biaya rawat, dan kematian (Beddhu, S., et al.,2000).

(6)

Komorbiditas memberikan pengaruh yang negatif terhadap kemampuan untuk bertahan hidup pada pasien hemodialisa (Braga, S.F., et al., 2011). Komorbid pasien hemodialisa yang memiliki prevalensi tertinggi adalah hipertensi diikuti diabetes melitus (DM), dan kemudian penyakit jantung (Makkar, et al., 2015). Hipertensi, DM, dan penyakit jantung merupakan penyebab ataupun komplikasi dari hemodialisa. Prevalensi hipertensi pada pasien hemodialisa sebanyak 26,8%. Prevalensi hipertensi yang tinggi pada pasien hemodialisa akan memunculkan banyak komorbid dan memperburuk kualitas hidup (Haddiya, I., et al., 2013). Hipertensi adalah faktor yang paling penting untuk perkembangan komplikasi penyakit jantung dan serebrovaskuler (Cianci, R., et al.,2009). Hipertensi mempengaruhi kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang akan mengubah kualitas hidup pasien (Khaw, et al., 2011).

Komplikasi dari DM akan membuat kondisi pasien semakin buruk dan akan mempengaruhi kualitas hidup pasien (Wahid, A., et al., 2014). Sorensen, et al.,(2007) menyatakan bahwa kualitas hidup pasien yang menjalankan hemodialisa dengan DM lebih buruk jika dibandingkan dengan pasien yang menjalankan hemodialisa tanpa DM. Penelitian yang dilakukan di Polandia diketahui bahwa skor kesehatan fisik pada kualitas hidup pasien hemodialisa dengan DM lebih rendah jika dibandingkan dengan pasien hemodialisa tanpa DM (Gumprecht, et al., 2010).

(7)

pada tahun pertama dan mengalami peningkatan pada 1-5 tahun tetapi hemodialisa, dan kembali menurun setelah 5 tahun hemodialisa (Salyzhyn, et al., 2015). Pada tahun pertama menjalankan hemodialisa, kualitas hidup buruk dikarenakan adanya penurunan volume overload pada sistem kardiovaskuler. Pada 1-5 tahun pertama mendapatkan terapi hemodialisa, pasien mampu beradaptasi secara fisik maupun psikologis (Krylova, et al., 2010). Setelah 5 tahun hemodialisa, kondisi pasien dengan ditambah kondisi patologis yang memburuk akan meningkatkan gejala kerusakan jantung (Rivara, et al., 2015; Amro, et al., 2014; White, et al., 2014).

Berdasarkan data yang diperoleh dari 20 pasien hemodialisa di Ruang Hemodialisa RS PKU (Pusat Kesehatan Umum) Muhammadiyah Yogyakarta, diketahui bahwa kualitas hidup pasien hemodialisa dalam kategori buruk dan berdasarkan hasil wawancara dari 4 pasien diantaranya diketahui bahwa pasien mempunyai penyakit penyerta yang berbeda-beda. Dari data tersebut diketahui bahwa terdapat masalah kualitas hidup dan komorbiditas pada pasien hemodialisa. Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan komorbiditas dan kualitas hidup pada pasien hemodialisa.

B. Perumusan Masalah

(8)

pengganti ginjal yang banyak dipilih oleh pasien adalah hemodialisa. Hemodialisa sangat bermanfaat dan digunakan untuk menggantikan fungsi ginjal secara normal dalam mengatur cairan, elektrolit, asam basa, serta mengeluarkan sisa metabolisme berupa ureum dan kreatinin. Namun di sisi lain hemodialisa menimbulkan beberapa komplikasi yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Beberapa penelitian baik dalam maupun luar negeri menggambarkan pengalaman klien hemodialisa dan kualitas hidupnya. Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan kualitas hidup dalam kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan.

Penelitian tentang kualitas hidup pasien hemodialisa di Indonesia sudah banyak dilakukan, namun penelitian tersebut melihat faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Jika komorbiditas tidak menjadi perhatian oleh tenaga kesehatan, maka akan muncul komorbiditas baru atau memperparah komorbiditas sebelumnya serta akan berpengaruh pada angka kematian dan kesakitan. Dengan permasalahan tersebut, maka peneliti merasa perlu untuk menggali pengaruh kualitas hidup terhadap komorbiditas. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan antara komorbiditas dan kualitas hidup pada pasien hemodialisa?”.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

(9)

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

a. Mengetahui karakteristik responden pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

b. Mengetahui gambaran komorbid pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

c. Mengetahui gambaran jumlah komorbid pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

d. Mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

e. Menganalisis hubungan karakteristik responden dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

f. Menganalisis hubungan komorbid hipertensi dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

g. Menganalisis hubungan komorbid DM dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

(10)

i. Menganalisis hubungan jumlah komorbid dengan kualitas hidup pasien hemodialisa di Unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Aspek teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan ilmu keperawatan terutama keperawatan medikal bedah untuk hubungan komorbiditas dan kualitas hidup pada pasien hemodialisa.

2. Aspek praktis

a. Pelayanan keperawatan medikal bedah

(11)

b. Perkembangan ilmu keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan keperawatan dalam mengembangkan intervensi keperawatan pada pasien hemodialisa dengan komorbid untuk meningkatkan kualitas hidup.

c. Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar bagi peneliti selanjutnya terkait topik yang berkaitan/berhubungan dengan kualitas hidup dan komorbiditas pada pasien hemodialisa.

E. Penelitian Terkait

Sejauh pengetahuan penulis dari membaca hasil penelitian di perpustakaan, jurnal, maupun internet, belum pernah dilakukan penelitian dengan judul Hubungan Komorbiditas dan Kualitas Hidup pada Pasien Hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, namun penelitian sejenis yang pernah dilakukan antara lain :

(12)

Hasil penelitian ini adalah pasien dialisis dengan diabetes memiliki prevalensi yang tinggi terhadap komplikasi diabetes, dan menurunkan fungsi kesehatan fisik tetapi memiliki psikologis yang relatif baik. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel penelitian. Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian, instrumen penelitian, subjek dan lokasi penelitian. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah prospektif kohort. Instrumen yang digunakan untuk mengkaji kualitas hidup dalam penelitian ini adalah Kidney Disease Quality of Life (KDQOL) dan Short Form (SF) 36, sedangkan peneliti menggunakan instrumen WHOQoL-BREF. Subjek dan lokasi pada penelitian ini adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Department of Nephrology, Copenhagem University Hospital, sedangkan subjek penelitian peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

(13)

menjalankan dialisis. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel dependen. Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian, variabel independen, instrumen penelitian, subjek dan lokasi penelitian. Metode pada penelitian yang digunakan peneliti adalah prospektif kohort. Variabel independen pada penelitian ini terdiri dari pendapatan/bulan, komorbiditas, lamanya dialisa, dukungan sosial sedangkan peneliti hanya menggunakan variabel independen komorbiditas yang terdiri dari komorbiditas hipertensi, komorbitas DM, komorbiditas penyakit jantung, dan jumlah komorbid. Instrumen yang digunakan untuk mengkaji kualitas hidup dalam penelitian ini adalah Health-Related Quality of Life (HRQOL), sedangkan peneliti menggunakan instrumen WHOQoL-BREF. Subjek dan lokasi pada penelitian ini adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di salah satu rumah sakit di Hanoi, sedangkan subjek penelitian peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Penelitian El-Shaded, A., et al., (2013), Hemoglobin Level, Associated Co-morbidities and Quality of Life among Patients Undergoing Hemodialysis

(14)

hemoglobin dan komorbiditas. Hasil penelitian ini adalah kualitas hidup pasien hemodialisa buruk; ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan skor kualitas hidup; hipertensi tidak berhubungan dengan kualitas hidup; diabetes dan artritis berhubungan dengan kualitas hidup. Persamaan dengan penelitian ini adalah variabel dependen. Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian, variabel independen, instrumen penelitian, subjek dan lokasi penelitian. Metode penelitian pada penelitian ini adalah deskriptif eksplorasi sedangkan metode penelitian peneliti adalah prospektif kohort. Variabel independen adalah kadar hemoglobin, komorbiditas sedangkan variabel independen yang digunakan oleh peneliti hanya komorbiditas yang terdiri dari komorbiditas hipertensi, komorbitas DM, komorbiditas penyakit jantung, dan jumlah komorbid. Instrumen kualitas hidup yang digunakan dalam penelitian ini adalah KDQOL sedangkan peneliti menggunakan WHOQoL-BREF. Subjek pada penelitian ini adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di University Hospitals in Cairo Govenorate, sedangkan subjek yang digunakan oleh peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

4. Penelitian Mandoorah, Q.M., et al., (2014), Impact of Demographic and Comorbid Conditions on Quality of Life of Hemodialisis Patients: A

(15)

2011 sebanyak 205 pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien hemodialisa di Saudi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Hasil penelitian ini adalah usia tua, perempuan, pendidikan rendah, dan komorbiditas memberikan pengaruh yang negatif pada kualitas hidup pasien hemodialisa di Saudi Arabia. Persamaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian dan variabel dependen. Perbedaan dengan penelitian ini adalah variabel independen, instrumen penelitian yang digunakan, subjek dan lokasi penelitian. Variabel independen pada penelitian ini adalah demografi dan komorbiditas, sedangkan variabel independen adalah komorbiditas yang terdiri dari komorbiditas hipertensi, komorbitas DM, komorbiditas penyakit jantung, dan jumlah komorbid. Instrumen kualitas hidup yang digunakan dalam penelitian ini adalah SF-36 sedangkan peneliti menggunakan WHOQoL-BREF. Subjek pada penelitian ini adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di pusat dialisis Jeddah, sedangkan subjek yang digunakan oleh peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 5. Penelitian Fried, T.R., (2014), The Effects of Comorbidity on the Benefit

and Harms of Treatment for Chronic Disease : A Systematic Review.

(16)

adalah pengindeksan komorbiditas tidak konsisten. Sangat sedikit referensi yang membahas tentang pengaruh multiple komorbiditas pada hasil pengobatan. Sebagian besar penelitian mengatakan tidak ada pengaruh single komorbiditas pada hasil pengobatan. Persamaan dengan penelitian ini adalah komorbiditas merupakan salah satu variabel penelitian yang digunakan. Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian, subjek dan lokasi penelitian. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah prospektif kohort; subjek dan lokasi penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

(17)

penelitian ini adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Pakistan, sedangkan subjek yang digunakan oleh peneliti adalah pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

7. Penelitian Salyzym, T.I., Yatsyshyn, R.I., (2015), Quality of Life of Patients with Chronic Kidney Disease Receiving Hemodialysis with

(18)
(19)

17 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Landasan Teori

1. Chronic Kidney Disease/Penyakit Ginjal Kronik a. Definisi

Chronic Kidney Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kerusakan ginjal atau penurunan fungsi ginjal kurang dari 60% ginjal normal bersifat progresif dan irreversibel, menyebabkan ketidakmampuan ginjal untuk membuang toksin dan produk sisa dari darah serta tidak dapat berfungsi secara maksimal, dimana kerusakan ginjal tersebut ditandai dengan albuminuria (>30 mg albumin urin per garam dari kreatinin urin), Glomerular Filtration Rate (GFR)/Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) <60 mL/menit/1,73 m2 dengan jangka waktu lebih dari 3 bulan (Black & Hawks,2005; Smeltzer & Bare,2001; Mansjoer, A.,2001).

b. Klasifikasi

(20)

Tabel 2.1 Klasifikasi CKD berdasarkan derajat penyakit

Derajat Deskripsi Nama lain GFR

(mm/menit/1.73 m2) I Kerusakan ginjal dengan

GFR normal

Risiko >90

II Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR ringan

Chronic Renal Insufisiensi (CRI)

60-89

III Penurunan GFR tingkat sedang

CRI, Chronic Renal Failure (CFR)

30-59

IV Penurunan GFR tingkat berat CFR 15-29

V Gagal ginjal End-Stage Renal

Disease (ESDR)

<15

Sumber : (Black & Hawks,2005; Levin, et al., 2008)

c. Manifestasi Klinis

Pada pasien dengan CKD terdapat manifestasi klinis yang bervariasi dan pasien juga memiliki beberapa keluhan, berikut ini :

Tabel 2.2 Manifestasi klinis pada pasien CKD Derajat CKD Manifestasi Klinis

Derajat I Pasien dengan tekanan darah normal, tanpa abnormalitas hasil tes laboratorium dan tanpa manifestasi klinis

Derajat II Umumnya asimptomatik, berkembang menjadi hipertensi, munculnya nilai laboratorium yang abnormal

Derajat III Asimptomatik, nilai laboratorium menandakan adanya abnormalitas pada beberapa sistem organ, terdapat hipertensi

Derajat IV Munculnya manifestasi klinis CKD tanpa kelelahan dan penurunan rangsangan

Derajat V Peningkatan BUN, anemia, hipokalsemia, hiponatremia, peningkatan asam urat, proteinuria, pruritus, edema, hipertensi, peningkatan kreatinin, penurunan sensasi rasa, asidosis metabolik, mudah mengalami perdarahan, hiperkalemia

Sumber : Black & Hawks (2005) d. Patofisiologi

(21)

hipertrofi struktur dan fungsi dari nefron yang sehat. Kompensasi hipertrofi ini diperantai oleh molekul vasoaktif, sitokin, dan growth factor. Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat, akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa, dan akhirnya diikuti oleh penurunan fungsi nefron yang progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan aktivitas aksis renin angiotensin aldosteron intrarenal, ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi sklerosis dan progresifitas penyakit.

(22)

kemih, infeksi saluran nafas, maupun infeksi saluran cerna. Juga akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau hipervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada LFG dibawah 15% akan terjadi gejala dan komplikasi yang lebih serius, dan pasien sudah memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain dialisis atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadium gagal ginjal (Smeltzer & Bare, 2001).

e. Faktor Resiko

Para peneliti di Amerika Serikat telah menemukan daftar delapan faktor resiko untuk mendeteksi CKD. Delapan faktor tersebut meliputi usia tua, anemia, wanita, hipertensi, diabetes, penyakit vaskuler perifer dan riwayat gagal jantung kongestif atau penyakit kardiovaskuler (Gopalan, 2008).

(23)

f. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan penyakit ginjal kronik adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis. Penatalaksanaan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah tindakan konservatif untuk memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif, pencegahan, dan pengobatan kondisi komorbid, penyakit kardiovaskuler dan komplikasi yang terjadi (Suwitra, 2006). Penanganan konservatif meliputi : 1) Pencegahan dan pengobatan terhadap kondisi komorbid antara lain : gangguan keseimbangan cairan, hipertensi, infeksi, dan obstruksi traktus urinarius, obat-obat nefrotoksid; 2) Menghambat perburukan fungsi ginjal/mengurangi hiperfiltrasi glomerulus dengan diet, seperti pembatasan asupan protein, fosfat; 3) Terapi farmakologis dan pencegahan serta pengobatan terhadap komplikasi, bertujuan untuk mengurangi hipertensi intraglomerulus dan memperkecil risiko terhadap penyakit kardiovaskuler seperti pengendalian diabetes, hipertensi, dislipidemia, anemia, hiperfosfatemia, asidosis, neuropati perifer, kelebihan cairan dan keseimbangan elektronik (Suwitra, 2006; Price & Wilson, 2005).

(24)

peritoneal dialisa); 2) transplantasi ginjal. Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal yang paling banyak dilakukan di dunia dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat (Shahgholian, et al., 2008).

2. Hemodialisa

Hemodialisa merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang diberikan pada pasien gagal ginjal kronik yang dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisa.

a. Definisi

Hemodialisia merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal (ESRD) yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen (Smeltzer & Bare, 2002). Sedangkan menurut Thomas (2003) hemodialisa merupakan suatu cara untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme berupa larutan (ureum dan kreatinin) dan air yang ada pada darah melalui membran semipermeable atau yang disebut dialiser.

b. Indikasi

(25)

1,73 m2 serta tanda dan gejala hiperkalemia (Smeltzer & Bare, 2001). Walaupun hemodialisa dapat memperpanjang usia tanpa batas yang jelas, tindakan hemodialisa ini tidak akan mengubah perjalanan alami penyakit ginjal yang mendasari dan juga tidak akan mengembalikan fungsi ginjal. Tetap saja pasien akan mengalami berbagai masalah dan komplikasi (Smeltzer & Bare, 2002).

c. Komplikasi

(26)

osteomalais, nausea, pandangan kabur, kelemahan otot, dan ataksia (Lameire& Mehta, 2000).

(27)

3. Kualitas Hidup Klien Hemodialisa a. Pengertian Kualitas Hidup

Kualitas hidup merupakan suatu ide yang abstrak yang tidak terikat oleh tempat dan waktu, bersifat situasional dan meliputi berbagai konsep yang saling tumpang tindih (Kinghron & Gamlin, 2004). Sedangkan Farquahar (1995) menjelaskan bahwa kualitas hidup merupakan suatu model konseptual, yang bertujuan untuk menggambarkan perspektif klien dengan berbagai macam istilah. Dengan demikian pengertian kualitas hidup ini akan berbeda bagi orang sakit dan orang sehat.

Cella (1992) menyebutkan bahwa kualitas hidup seseorang tidak dapat didefinisikan dengan pasti, hanya orang tersebut yang dapat mendefinisikannya, karena kualitas hidup merupakan suatu yang bersifat subjektif. Terdapat dua komponen dasar dari kualitas hidup yaitu subjektifitas dan multidimensi. Subjektifitas mengandung arti bahwa kualitas hidup hanya dapat ditentukan dari sudut pandang klien itu sendiri dan ini hanya dapat diketahui dengan bertanya langsung pada klien. Sedangkan multidimensi bermakna bahwa kualitas hidup dipandang dari seluruh aspek kehidupan seseorang secara holistik meliputi empat aspek yaitu fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. b. Model Konsep Kualitas Hidup

(28)

mulai berkembang sejak 1991. Instrumen ini terdiri dari 26 item pertanyaan yang terdiri dari 4 domain yaitu : 1) Domain kesehatan fisik yang terdiri dari : rasa nyeri, energi, istirahat, tidur, mobilisasi, aktivitas, pengobatan, dan pekerjaan; 2) Domain psikologi yang terdiri dari perasaan positif dan negatif, cara berfikir, harga diri, body image, spiritual; 3) Domain hubungan sosial terdiri dari : hubungan individu, dukungan sosial, aktivitas seksual; 4) Domain lingkungan meliputi keamanan fisik, lingkungan rumah, sumber keuangan, fasilitas kesehatan, mudahnya mendapat informasi, kesehatan, rekreasi, dan transportasi. Kualitas hidup penting untuk dimonitor sebagai dasar mendeskripsikan konsep sehat dan berhubungan erat dengan morbiditas dan mortalitas (Jofre, et al., 2000)

Gambar 2.1 Pengukuran Kualitas Hidup menurut WHO Sumber : WHO Quality of Life-BREF. 1996

rasa nyeri, energi, istirahat, tidur, mobilisasi, aktivitas, pengobatan, dan pekerjaan

perasaan positif dan negatif, cara berfikir, harga diri, body image, spiritual

Hubungan individu, dukungan sosial, aktivitas seksual

keamanan fisik, lingkungan rumah, sumber keuangan, fasilitas kesehatan, mudahnya mendapat informasi, kesehatan, rekreasi, dan transportasi

Psikologis Fisik

Sosial

Lingkungan

(29)

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisa

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, diketahui terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisa, antara lain :

a) Usia

Usia merupakan salah satu prediktor yang penting pada kualitas hidup pasien hemodialisa. Liu WJ, et al.,(2006) menyatakan usia lebih dari 40 tahun memiliki faktor resiko yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anees, M., et al., (2014) diketahui bahwa usia memiliki hubungan yang negatif terhadap domain fisik dan psikologis pada kualitas hidup pasien hemodialisa. Usia meningkatkan gangguan kualitas hidup. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa usia mempengaruhi kesehatan fisik pada kualitas hidup pasien hemodialisa (Jonge, P., et al., 2003; Guerrero, V.,et al., 2012; Paraskevi, T, 2012; Anu, V., et al., 2013; Anees, M.,et al., 2014). Usia > 45 tahun (Anees, M.,et al., 2014), > 60 tahun (Guerrero, V., V, et al., 2012), > 40 tahun (Anu, V, et al., 2013), ≥ 65 tahun (Jonge, P., et al., 2003), > 45 tahun (Anees,

(30)

Selain mempengaruhi domain kesehatan fisik ternyata usia juga mempengaruhi domain psikologis pada kualitas hidup pasien hemodialisa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Paraskevi, T. (2011) diketahui bahwa usia mempengaruhi domain psikologis pada kualitas hidup pasien ESRD (p = 0,00). Usia yang lebih muda diketahui memiliki psikologis yang lebih baik dari pada yang lebih tua. Pada penelitian ini, usia dibagi menjadi dua yaitu, < 45 tahun, dan > 45 tahun. Usia muda memiliki kemampuan aktivitas yang lebih tinggi, sehingga dapat berinteraksi baik dengan lingkungan dan hal tersebut mempengaruhi rendahnya kejadian depresi.

b) Jenis Kelamin

Jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa. Perempuan memiliki kualitas hidup yang lebih buruk dibandingkan laki-laki. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anees, M, et al., (2014) laki-laki memiliki kualitas hidup yang lebih baik pada domain hubungan sosial dibandingkan perempuan. Alasan laki-laki memiliki kualitas hidup lebih baik pada domain hubungan sosial karena laki-laki memiliki hubungan sosial (hubungan yang kuat dan aktivasi seksual) dan dukungan yang lebih baik.

(31)

itu juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sathvik, B., et al., (2010) bahwa perempuan memiliki kualitas hidup pada skor dimensi psikologi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki (p<0,05). Hal ini disebabkan karena, sebagian besar perempuan merasa bahwa penyakit mereka merupakan beban bagi keluarga dan perempuan khawatir tentang citra tubuh dan penampilan mereka. Banyak pasien yang tidak puas dengan diri sendiri dan mereka menjadi memiliki perasaan negatif seperti cemas, melankolis, depresi, dan kesepian.

c) Tingkat pendidikan

(32)

d) Status pekerjaan

Pasien yang memiliki pekerjaan, memiliki kualitas hidup yang lebih baik jika dibandingkan dengan pasien yang tidak bekerja. Pasien yang bekerja, memiliki skor lebih baik pada domain fisik, psikologis, dan lingkungan. Kemandirian keuangan berkontribusi pada skor kualitas hidup yang lebih tinggi pada pasien yang bekerja. Selain itu pada pasien yang bekerja dengan mobilitas yang lebih baik, kapasitas kerja, dan sedikitnya pembatasan dalam kegiatan sehari-hari merupakan faktor yang dapat berkontribusi terhadap skor kualitas hidup (Sathvik, B.S., et al.,2010).

e) Status pernikahan

Status pernikahan mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisa. Orang yang belum menikah akan menggantungkan hidupnya dengan keluarga mereka dibandingkan dengan orang yang menikah harus mempunyai peran terhadap seluruh anggota kelurga sehingga tekanan keuangan meningkat dan mempengaruhi kualitas hidup (Anees, M., et al., 2014).

(33)

f) Durasi dialisis

Durasi dialisis memegang peranan penting dalam kualitas hidup pasien hemodialisa. Semakin lama menjalankan hemodialisa semakin rendah skor dimensi fisik pada kualitas hidup. Semakin lama menjalankan hemodialisa kualitas hidup akan semakin buruk. Ketika pasien memulai dialisis, mereka berfikir bahwa ginjal mereka akan membaik dan mereka dapat berhenti menjalankan hemodialisis. Tetapi dengan berlalunya waktu, ketika mereka mempertahankan hidupnya dengan hemodialisa kekhawatiran mereka meningkat dan merusak kualitas hidup (Anees, M.,et al., 2011).

4. Komorbiditas dan pengaruhnya terhadap kualitas hidup pasien hemodialisa

a. Komorbiditas dan kualitas hidup

(34)

karena itu penting untuk mengobati penyakit penyerta lainnya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisa (Braga, S.F., et al., 2011). Pasien ESRD yang memiliki banyak komorbid akan memperburuk kondisi tubuh dan mempercepat terjadinya kematian (Beddhu, et al., 2000).

Berbagai dimensi kualitas hidup dipengaruhi oleh komorbiditas. Komorbiditas memiliki pengaruh yang negatif terhadap kesehatan fisik pada kualitas hidup pasien hemodialisa (Sathvik, B., et al., 2010). Pasien yang memiliki banyak penyakit penyerta selama menjalankan hemodialisa akan mengalami kondisi kesehatan fisik yang lebih buruk, karena terkait dengan gangguan multipel organ. Komorbiditas juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap psikologis pada kualitas hidup pasien hemodialisa. Komorbiditas berhubungan kebutuhan berbagai macam obat, dan akan terjadi interaksi obat. Hal ini dapat menyebabkan depresi ataupun kecemasan, yang merupakan salah satu tanda adanya masalah psikologis pada pasien hemodialisa (Abraham S., et al.,2012; Pakpour, A., et al.,2010). Komorbid pasien hemodialisa yang memiliki prevalensi tertinggi adalah hipertensi diikuti diabetes melitus (DM), dan kemudian penyakit jantung (Makkar, et al., 2015).

b. Komorbid Hipertensi pada Pasien Hemodialisa

(35)

faktor resiko kematian dan kesakitan. Prevalensi hipertensi pada CKD sangatlah tinggi, dan akan terus meningkat seiring dengan keparahan CKD. Pada hasil survei nasional di USA diketahui bahwa 23,3 % hipertensi terjadi pada pasien tanpa CKD; 35,8% pada CKD stadium 1; 48,1% pada CKD stadium 2; 59,9% pada CKD stadium 3; 84,1 pada CKD stadium 4 dan 5 (USRDS, 2010 dalam Tedla, F.M., 2011).

Ginjal mempunyai peran penting dalam regulasi tekanan darah dalam jangka panjang. Hipertensi berkelanjutan sangat identik dengan gangguan ginjal dalam menangani natrium. Pada kenyataannya, hampir semua hipertensi menunjukkan gangguan ekskresi natrium oleh ginjal. Dalam keadaan ini, kenaikan tekanan darah ditandai dengan bertambahnya volume cairan ekstraseluler walaupun terjadi penuruan resistensi perifer secara total. Pada tahap ini, kenaikan tekanan darah ditandai dengan meningkatnya curah jantung yang dapat diketahui dari kenaikan angka sistolik. Dari waktu ke waktu, volume cairan ekstraseluler dan curah jantung dapat kembali normal. Pada keadaan ini tekanan darah dapat meningkat. Peningkatan tekanan dari dihasilkan oleh elevasi dari perifer, yang ditandai dengan peningkatan angka diastolik (Guyton, A.C., 1998 dalam Tedla, F.M., 2011).

(36)

pasien yang lebih sering menjalankan hemodialisa kejadian hipertrofi ventrikel kanan menurun.

Target tekanan darah pada pasien gagal ginjal adalah < 130/80 mmHg. Pencapaian target tekanan darah pada pasien hemodialisa terbukti menghambat perkembangan kerusakan ginjal pada pasien CKD dan proteinuria. Pasien hipertensi dengan CKD memiliki resiko untuk terkena stroke apabila tekanan darah sistolik dibawah 120 mmHg, atau infraksi miokardial ketika tekanan darah diastole dibawah 80 mmHg. c. Komorbid DM pada Pasien Hemodialisa

In the United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) (1998) menyatakan bahwa setiap tahunnya rata-rata terjadi peningkatan pada pasien DM dengan diagnosa mikroalbuminuria, dari mikroalbuminuria menjadi makrolabuminuria, dan dari makroalbuminuria terjadi peningkatan konsentrasi kreatinin plasma atau terapi pengganti ginjal. Pasien dengan diabetes yang mempunyai mikroalbuminuria ataupun makroalbuminuria dikombinasi dengan diabetik nefropati, kerusakan ginjal dikaitkan dengan diabetes, dan keparahan kerusakan ginjal diklasifikasikan berdasarkan LFG. Pasien DM yang mempunyai gangguan ginjal akan mengalami peningkatan dengan cepat kadar proteinuria, kadar albuminuria > 500 mg/hari, dan harus ada evaluasi LFG (Cavanaugh, K.L.,2007).

(37)

1991, di Amerika diketahui dari 40% penderita diabetes didiagnosa ESRD. Antara 10-20 % pasien diabetes akan berkembang menjadi ESRD. Nefropati lebih sering terjadi pada DM tipe 1 dibandingkan pasien dengan DM tipe 2. Namun sebagian besar kasus nefropati terjadi pada pasien DM tipe 2 karena insidensi DM tipe 2 jauh lebih tinggi. Pasien dengan diabetes dan ESRD mempunyai morbiditi dan mortaliti yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien yang hanya terdiagnosa ESRD. Ada 5 stadium yang menggambarkan peningkatan diabetik nefropati, yang terdiri dari (National Institute of Diabetes & Digestive & Kidney Disease, 2002) :

a) Stadium 1

Hiperfiltrasi terjadi dan LFG meningkat sebagai bentuk kompensasi dari kerusakan nefron. Tidak ada tanda dan gejala yang terlihat pada stadium ini. Perlunya pemeriksaan awal dan pengontrolan glikemik secara tepat untuk mencegah peningkatan keparahan.

b) Stadium 2

(38)

c) Stadium 3

Kadar albumin di urin tinggi, kadar albumin di darah rendah, sehingga terlihat edema. Dalam kondisi ini, level kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN) meningkat. Akumulasi dari sisa-sisa produk metabolisme dalam darah disebut dengan azotemia. Pemeriksaan awal pada stadium ini sangat penting untuk mempertahankan fungsi ginjal dan untuk memperlambat/mencegah terjadinya ESRD. Institute of Diabetes & Digestive & Kidney Disease menyatakan bahwa individu dengan DM tipe II akan tetap pada stadium ini selama beberapa tahun. d) Stadium 4

Pada tahap ini kerusakan ginjal sudah irreversible. Proteinuria merupakan tanda pada stadium ini. Ginjal tidak lagi mampu mengeluarkan racun dan dengan demikian terjadi peningkatan kadar BUN dan kreatinin. Karena hipertensi mempercepat peningkatan ESRD, maka sangat penting untuk dilakukan pemeriksaan sejak awal. Jika pada tahap ini tidak ditangani, uremia dan kematian akan mengikuti 7-10 tahun.

e) Stadium 5

(39)

Sehingga banyak gejala yang terlihat dan melibatkan organ-organ besar dalam sistem tubuh manusia.

d. Komorbid Penyakit Jantung pada Pasien Hemodialisa

Banyak pasien CKD yang meninggal karena penyakit karidovaskuler dan pasien lebih sedikit membutuhkan terapi pengganti ginjal, kecuali ESRD. Prevalensi penyakit kardiovaskuler pada pasien CKD sebanyak 63% (USRDS, 2009). CKD lebih sering terjadi pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler atau dengan faktor resiko penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi, DM, dislipidemia, dan sindrom metabolik (Sarnak, M.J., et al., 2003). Gagal jantung juga penting dan menjadi penyebab kematian di beberapa negara. Pasien dengan gagal jantung biasanya mempunyai banyak komorbid seperti hipertensi arterial, DM, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), anemia, asam urat, dan gangguan fungsi ginjal. Kerusakan fungsi ginjal dapat terjadi pada pasien gagal jantung, anemia, hiperkalemia, kadar albumin yang rendah, menggunakan inhibitor Renin Angiotensin System (RAS), antagonis aldosteron, dan diuretik yang berkaitan dengan penyakit. Prevalensi gangguan pada ginjal meningkat seiring dengan usia, keparahan gagal jantung, riwayat hipertensi, ataupun diabetes (Shiba, N., & Shimokawa, H., 2011).

(40)

tidak hanya disebabkan oleh penurunan curah jantung tetapi juga disebabkan oleh aktivasi RAS, ketidakseimbangan antara nitric oxide, inflamasi, anemia, dan peningkatan aktivitas saraf simpatik (Shiba, N., & Shimokawa, H., 2011).

(41)
[image:41.595.59.565.95.640.2]

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Sumber : WHO Quality of Life-BREF (1993); Dyalisis-Related Factors Affecting Quality of Life in Patients on Hemodialysis, Anees, M. (2011); Comorbidity indices (Molto, A., et al., 2012)

Diabetes Melitus Komorbiditas Hemodialisa Kualitas hidup Faktor yang mempengaruhi : a. Usia

b. Jenis kelamin c. Pendidikan d. Status pekerjaan e. Status pernikahan f. Durasi dialisis

Tidak semua toksin uremi dapat dikeluarkan Mikroalbuminuria Makroalbuminuria ESRD Ekskresi natrium

terganggu Hipertensi

Penyakit jantung

Fisik Psikologis Sosial Lingkungan

rasa nyeri, energi, istirahat, tidur, mobilisasi, aktivitas, pengobatan, dan pekerjaan

perasaan positif dan negatif, cara berfikir, harga diri, body image, spiritual

Hubungan individu, dukungan sosial, aktivitas seksual

keamanan fisik, lingkungan rumah, sumber keuangan, fasilitas kesehatan, mudahnya

(42)
[image:42.595.132.503.162.467.2]

C. Kerangka Konsep

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

Sumber : WHO Quality of Life-BREF (1993); Dyalisis-Related Factors Affecting Quality of Life in Patients on Hemodialysis, Anees, M. (2011); Comorbidity indices (Molto, A., et al., 2012)

D.Hipotesis

H1 = Komorbid hipertensi mempunyai hubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisa.

H2 = Komorbid DM mempunyai hubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisa.

Kualitas hidup pasien hemodialisa Komorbiditas, yang terdiri dari :

1. Komorbid hipertensi 2. Komorbid DM 3. Komorbid penyakit

jantung

4. Jumlah komorbid Hemodialisa Tidak semua toksin uremi

dapat dikeluarkan

Faktor yang mempengaruhi : a. Usia

(43)

H3 = Komorbid penyakit jantung mempunyai hubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisa.

(44)

42 A.Desain Penelitian

[image:44.595.139.487.301.494.2]

Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif. Faktor resiko yang diteliti adalah komorbiditas pada pasien hemodialisa. Kualitas hidup diukur setelah 2 bulan kemudian.

Gambar 3.1 Metode Penelitian

B.Populasi dan Sampel Penelitian

Sampel yang menjadi subyek penelitian ini harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

Kriteria inklusi yaitu: a. Usia diatas 18 tahun

b. Pasien yang menjalankan hemodialisa secara rutin 3 bulan terakhir c. Pasien yang memiliki komorbid.

Pasien yang memiliki komorbid

Pasien yang tidak memiliki komorbid

Kualitas hidup buruk Kualitas hidup baik Kualitas hidup baik

(45)

d. Pasien mampu diajak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia e. Pasien bersedia menjadi responden

Kriteria eksklusi antara lain adalah:

a. Pasien yang menjalankan operasi tiga bulan sebelumnya. b. Pasien dengan gangguan kejiwaan

c. Pasien dengan penurunan kesadaran d. Gangguan pendengaran

e. Pasien yang mempunyai penyakit keganasan, tumor.

Pengambilan sampel sebagai subyek penelitian dilakukan dengan metode consecutive sampling, setiap pasien hemodialisa yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel minimal terpenuhi.

Besar sampel pada penelitian dihitung dengan rumus berdasarkan rumus Slovin yaitu (Sugiyono, 2005):

n = N N (d)2 + 1 n = 151 151 (0,05)2 + 1 n = 151

1,3775

n = 109,62 dibulatkan menjadi 110 Keterangan:

n = sampel; N = populasi;

(46)

C.Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2016. Penelitian dilakukan di unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

D.Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel dependen yaitu kualitas hidup.

2. Variabel independen yaitu komorbiditas, yang terdiri dari komorbiditas hipertensi, komorbiditas diabetes melitus, komorbiditas penyakit jantung, dan jumlah komorbid.

3. Variabel pengganggu, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, dan durasi dialisis.

[image:46.595.110.519.503.748.2]

E.Definisi Operasional Variabel Penelitian

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi

Operasional

Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala

ukur Variabel dependen

Kualitas hidup

Persepsi individu yang ditinjau dari konteks budaya, sistem nilai tempat mereka tinggal, hubungan kesenangan, dan perhatian mereka yang mencakup kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Kuesioner. Dengan cara memilih salah satu jawaban yang nilainya 1,2,3,4,5. Kuesioner WHO-Qol BREF

dengan 26

item pertanyaan.

Cut of point

< 50 = kualitas hidup buruk

≥ 50 = kualitas

hidup baik.

(47)

Variabel Definisi Operasional

Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala

ukur Variabel independen Komorbidi tas hipertensi Penyakit penyerta yang ada pada pasien

hemodialisa yang tertera pada rekam medis dengan diagnosa hipertensi sesuai ICD (International Statistical of Disease and Related Health Problems) 10. Check list. Dengan cara mengisi sesuai data rekam medis Mengisi check list pertanyaan komorbid hipertensi 1. Ya 2. Tidak Nomi- nal Komorbidi tas DM Penyakit penyerta yang ada pada pasien

hemodialisa yang tertera pada rekam medis dengan diagnosa diabetes melitus sesuai ICD 10.

Check list Dengan cara mengisi sesuai data rekam medis Mengisi check list pertanyaan komorbid DM 1. Ya 2. Tidak Nomi- nal Komorbidi tas penyakit jantung Penyakit penyerta yang ada pada pasien hemodialisa yang tertera pada rekam medis sesuai dengan diagnosa penyakit jantung sesuai ICD 10. Check list Dengan cara mengisi sesuai data rekam medis Mengisi check list pertanyaan komorbid penyakit jantung 1. Ya 2. Tidak Nomi- nal Jumlah komorbid Banyaknya komorbid yang dimiliki pasien saat menjalankan hemodialisa Check list Dengan cara mengisi sesuai data rekam medis Mengisi check list pertanyaan jumlah komorbid

1. 1 komorbid

2. > 1 komorbid

Ordinal

Variabel pengganggu

Usia Lama hidup

dalam tahun dihitung dari lahir sampai dilakukan penelitian.

Kuesioner Mengisi

kuesioner pertanyaan usia responden

Usia dalam tahun

≤ 40 tahun

>40 tahun Ordinal Jenis Kelamin Identitas seksual yang dibawa pasien sejak lahir

Kuesioner Mengisi

(48)

Variabel Definisi Operasional

Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala

ukur Tingkat

Pendidi- Kan

Jenjang sekolah formal yang telah diselesaikan dan mendapatkan pengakuan menyelesaikan program.

Kuesioner Mengisi

kuesioner pertanyaan tingkat pendidikan responden

1. Rendah (SD

dan SMP)

2. Tinggi (SMA

dan Perguruan Tinggi) Ordinal Variabel Pengganggu Status pekerjaan Segala sesuatu yang dikerjakan yang dijadikan pokok pencaharian dalam kehidupan

Kuesioner Mengisi

kuesioner pertanyaan pekerjaan responden

1. Tidak bekerja

2. Bekerja Nomi- nal Status pernika- Han Ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan ajaran agama dan hidup sebagai suami istri tanpa merupakan

pelanggaran terhadap agama.

Kuesioner Mengisi

kuesioner pertanyaan status pernikahan responden

1. Tidak menikah

2. Menikah

Nomi nal

Durasi dialisis

Lama waktu sejak pertama kali pasien

menjalankan hemodialisis hingga saat ini

Kuesioner Mengisi

kuesioner pertanyaan lama menjalankan hemodialisa

Cut off point median

1. Baru (< 36

bulan)

2. Lama (≥ 36

bulan) Dengan nilai : Min = 2 Maks = 120

Ordinal

F. Instrumen Penelitian

1. Karakteristik Responden

(49)

tingkat pendidikan rendah (SD atau SLTP) atau pendidikan tinggi ( SMA atau perguruan tinggi); Status pekerjaan yang terdiri dari tidak bekerja atau bekerja; Status pernikahan yang terdiri dari tidak menikah atau menikah; Durasi dialisis yang terdiri dari baru (< 36 bulan) atau lama (≥ 36 bulan).

2. Kualitas Hidup

Instrumen kualitas hidup dapat dilihat pada instrumen B yang terdiri dari 26 item pertanyaan. Penelitian ini menggunakan instrumen kualitas hidup yang telah dibuat oleh WHO yaitu WHOQoL-BREF. Instrumen ini berupa kuesioner. Kuesioner adalah dokumen tertulis yang terdiri dari serangkaian pertanyaan, diberikan kepada responden untuk dijawab atas pertanyaan dalam kuesioner tersebut. Kuesioner ini berbentuk self-report dimana subjek diminta untuk memberikan respon yang sesuai dengan kondisi dirinya. Responden diberikan sejumlah pertanyaan yang sama kemudian jawabannya dikumpulkan dan dianalisis.

(50)

masing-masing individu di setiap dimensi. Dimensi kesehatan fisik skor 7-35, dimensi psikologis skor 6-30, dimensi sosial 3-15, dimensi lingkungan skor 8-40. Seluruh hasil perhitungan kualitas hidup akan ditransformasikan menjadi 0-100 sesuai ketetapan dari WHOQoL-BREF. Semakin tinggi skor yang didapat semakin baik kualitas hidup pasien, dan bila skor yang didapat semakin rendah maka semakin buruk kualitas hidup pasien.

3. Komorbiditas

Instrumen komorbiditas dapat dilihat pada instrumen C. Peneliti menggunakan check list komorbiditas yang disusun berdasarkan komorbiditas yang sering dialami pasien hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan dikelompokkan berdasarkan ICD 10. Check list komorbiditas terdiri dari 3 item komorbiditas, yaitu komorbiditas hipertensi, komorbiditas diabetes melitus, dan komorbiditas penyakit jantung. Jika pasien memiliki komorbiditas tersebut, diberi tanda centang (√) pada pertanyaan apakah pasien menderita penyakit tersebut. Daftar

check list ini diisi dengan melihat rekam medis pasien. Setelah didapatkan data masing-masing komorbid, maka pertanyaan jumlah komorbid dapat diisi dengan menjumlah berapa komorbid yang dimiliki pasien. Jumlah komorbid dikategorikan menjadi dua, yaitu 1 komorbid dan > 1 komorbid.

G. Validitas dan Reliabilitas

(51)

dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur yang seharusnya diukur. Sedangkan uji reliabilitas mencerminkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya. Reliabilitas menunjukkan pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu. Reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya.

Alat ukur variabel kualitas hidup menggunakan alat ukur WHOQoL-BREF yang merupakan pengembangan alat ukur WHOQoL-100, kedua alat ukur tersebut dibuat oleh tim WHO. Alat ukur WHOQoL-BREF adalah alat ukur yang valid (r=0,89-0,95) dan reliabel (r=0,66-0,87). Untuk perhitungan validitas dan reliabilitas WHOQoL-BREF ini, skor yang digunakan adalah skor tiap dimensi.

Nurcayati, S. (2011) melakukan uji instrumen WHOQoL versi bahasa Indonesia yang diunduh dari http://www.who.int/. Uji instrumen ini di lakukan di RSUD Cilacap dengan sampel sebanyak 30 orang pada pasien hemodialisa. Hasil uji validitas instrumen diperoleh nilai r hitung 0,390 sampai dengan 0,798. Setelah membandingkan hasil r tabel dengan r hitung didapatkan bahwa semua item pertanyaan (26 item pertanyaan) tersebut valid.

Uji reliabilitas dilakukan dengan cara membandingkan r tabel dengan r hasil untuk mendapatkan nilai Alpha. Bila r Alpha lebih besar dari r tabel (r ≥

(52)

sehingga dari hasil tersebut disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan kuesioner WHOQoL adalah valid dan reliabel.

H. Cara Pengumpulan Data

Peneliti melakukan penelitian di unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan oleh peneliti. Uraian dari setiap tahapan sebagai berikut :

a. Peneliti menentukan teknik penentuan sampel penelitian sesuai kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Didapatkan jumlah sampel sebanyak 79 sampel yang menyebar pada 3 shift hemodialisa; pagi, siang, dan sore. b. Tahap pelaksanaan pengumpulan data, peneliti mengambil data secara

kuantitatif dengan memberikan kuesioner kualitas hidup dan mengumpulkan data komorbid melalui rekam medis.

c. Tata cara dalam pengambilan data terdiri dari, yaitu a) peneliti menjelaskan kepada calon responden mengenai maksud dan tujuan dari penelitian, kompensasi berupa souvenir yang akan diterima oleh calon responden, bahaya dan manfaat dari pengambilan data; b) peneliti bertanya kepada calon responden, mengenai kesediaan atau tidak bersedia menjadi responden, dan dilanjutkan dengan mengisi lembar kesediaan menjadi responden.

(53)

e. Peneliti mengumpulkan data komorbid melalui rekam medis pasien saat pasien terakhir kali kontrol di poliklinik.

f. Peneliti mengumpulkan data kualitas hidup 2 bulan setelah data komorbid. Sebelum peneliti mempersilahkan responden mengisi kuesioner, peneliti akan menawarkan kepada responden untuk membacakan dan menuliskan jawaban dari responden atau responden akan membaca dan menulis sendiri jawaban dari responden

[image:53.595.121.536.406.658.2]

g. Peneliti mengambil kembali kuesioner, sebelum peneliti berpamitan dengan responden, peneliti memastikan kembali item-item pernyataan dari setiap nomor sudah terisi dan tidak ada item pernyataan yang terlewati.

Gambar 3.2 Skema Jalannya Penelitian

2 bulan Sampel penelitian 79 pasien

Kriteria inklusi dan ekslusi

Pasien yang memiliki komorbid hipertensi, DM, dan penyakit

jantung

Pasien yang tidak memiliki komorbid hipertensi, DM, dan

penyakit jantung

Kualitas Hidup Kualitas Hidup

(54)

I. Analisis Data

a. Analisisunivariat

Analsiis univariat dilakukan terhadap tiap-tiap variabel dari hasil penelitian. Analisa ini menggambarkan tentang distribusi frekuensi dan presentase dari tiap-tiap variabel yang dteliti. Analisis univariat untuk data kategorik seperti kualitas hidup, komorbiditas hipertensi, komorbdiitas DM, komorbiditas penyakit jantung, jumlah komorbid, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, dan durasi dialisis dijelaskan dengan frekuensi dan presentase.

b. Analisis bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis tabel silang dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah komorbiditas hipertensi, komorbiditas diabetes melitus, komorbiditas penyakit jantung, dan jumlah komorbid, sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas hidup.

(55)

J. Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan izin pelaksanaan penelitian dari pembimbing penelitian, uji etik oleh Badan Etik Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 25 Maret 2016 dengan nomor surat 117/EP-FKIK-UMY/III/2016 (terlampir). Sebagai pertimbangan etik, peneliti meyakinkan bahwa hak-hak responden terlindungi, dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Inform Concent (lembar persetujuan)

Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika pasien bersedia diteliti, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika pasien menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.

2. Anonimity (tanpa nama)

Hal ini untuk menjaga kerahasiaan pasien hemodialisa. Peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberikan kode dan inisial nama pada masing-masing lembar tersebut.

3. Confidentiallity (kerahasian)

(56)

54 A.Hasil Penelitian

Pada bagian ini peneliti akan menjelaskan hasil penelitian tentang hubungan komorbiditas dan kualitas hidup pasien hemodialisa di unit hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang dilakukan pada bulan April-Mei 2016. Jumlah total pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiah Yogyakarta sebanyak 151 pasien.

Jumlah sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian sebanyak 86 orang. Tetapi dari 86 orang, yang menjadi sampel penelitian sebanyak 79 orang. Sebanyak 7 orang gugur, yang disebabkan oleh 2 orang meninggal dunia, 1 orang menjalankan perawatan di Intensive Care Unit (ICU), 1 orang mengalami penurunan kesadaran, 3 orang mengalami kelelahan fisik sehingga menolak untuk di wawancara. Jumlah sampel ini tidak sesusai dengan jumlah sampel minimal berdasarkan perhitungan rumus penelitian kohort. Jika berdasarkan jumlah populasi pasien hemodialisa seharusnya jumlah sampel minimal pada penelitian sebanyak 110 orang.

(57)

1. Karakteristik Responden

[image:57.595.156.502.263.538.2]

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, serta durasi dialisis.

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Maret-Mei 2016 (n = 79)

(n = 79)

Karakteristik n (%)

Usia (tahun)

< 40 tahun 22 (27,8)

≥ 40 tahun 57 (72,2)

Jenis Kelamin

Laki-laki 49 (62)

Perempuan 30 (38)

Tingkat Pendidikan

Rendah 21 (26,6)

Tinggi 58 (73,4)

Status Pekerjaan

Tidak bekerja 49 (62)

Bekerja 30 (38)

Status Pernikahan

Tidak menikah 12 (15,2)

Menikah 67 (84,8)

Durasi dialysis

Baru 32 (40,5)

Lama 47 (59,5)

Sumber : Data Primer 2016

(58)

jumlah sebanyak 67 orang (84,8%). Mayoritas responden sudah lama menjalankan hemodialisa sebanyak 47 orang (59,5%).

[image:58.595.154.512.223.374.2]

2. Gambaran Komorbiditas Pasien Hemodialisa

Tabel 4.2 Gambaran Komorbiditas Pasien Hemodialisa Di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Maret-Mei 2016 (n = 79)

Komorbiditas Frekuensi Presentase (%) Hipertensi

Tidak 10 12,7

Ya 69 87,3

Diabetes Melitus

Tidak 20 25,3

Ya 59 74,7

Penyakit Jantung

Tidak 25 31,6

Ya 54 68,4

Sumber : Data Primer 2016

Tabel 4.2 menggambarkan komorbiditas yang terjadi pada pasien yang menjalankan hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Diketahui bahwa sebanyak 69 pasien (87,3%) memiliki komorbid hipertensi, 59 pasien (74,7%) memiliki komorbid diabetes melitus, 54 pasien (68,4%) memiliki komorbid penyakit jantung .

3. Gambaran Jumlah Komorbid Pasien Hemodialisa

Tabel 4.3 Gambaran Jumlah Komorbid Pasien Hemodialisa Di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Maret-Mei

2016 (n = 79)

Jumlah Komorbid Frekuensi Presentase (%)

1 komorbid 17 21,5

>1 komorbid 62 78,5

Total 79 100

Sumber : Data Primer 2016

[image:58.595.149.516.596.658.2]
(59)

sebanyak 17 pasien (21,5%) yang memiliki 1 komorbid dan 62 pasien (78,5%) yang memiliki > 1 komorbid.

[image:59.595.155.517.235.487.2]

4. Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa

Tabel 4.4 Gambaran Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa Di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Maret-Mei

2016 (n = 79)

Kualitas Hidup Frekuensi Presentase (%) Kualitas hidup

Baik 31 39,2

Buruk 48 60,8

Dimensi kesehatan fisik

Baik 16 20,3

Buruk 63 79,7

Dimensi psikologis

Baik 17 21,5

Buruk 62 78,5

Dimensi sosial

Baik 34 43

Buruk 45 57

Dimensi lingkungan

Baik 24 30,4

Buruk 55 69,6

Total 79 100

Sumber : Data Primer 2016

(60)

(57%) yang memiliki dimensi sosial buruk, 24 pasien (30,4%) yang memiliki dimensi lingkungan baik dan 55 pasien (69,6%) yang memiliki dimensi lingkungan buruk.

[image:60.595.146.527.263.553.2]

5. Hubungan Karakteristik Responden dengan Kualitas Hidup

Tabel 4.5 Hubungan Karakteristik Responden dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di Unit Hemodialsia RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

pada bulan Maret-Mei 2016 (n = 79) Karakteristik

Responden

Kualitas Hidup X2 p* OR (95% C.I) Baik Buruk

Usia (tahun)

< 40 tahun 12 10 2,996 0,083 2,400

≥ 40 tahun 19 38 (0,880-6,548)

Jenis Kelamin

Laki-laki 23 26 3,207 0,073 2,433

Perempuan 8 27 (0,909-6,512)

Tingkat Pendidikan

Rendah 5 16 2,857 0,091 0,385

Tinggi 26 32 (0,124-1,190)

Status Pekerjaan

Tidak bekerja 17 32 1,119 0,290 0,607

Bekerja 14 16 (0,240-1,535)

Status Pernikahan

Tidak menikah 3 9 0,602 0,347 0,464

Menikah 28 39 (0,115-1,871)

Durasi dialisis

Baru 12 20 0,068 0,794 0,884

Lama 19 28 (0,351-2,225)

p* < 0,05 based on Chi Square

(61)

jika dibandingkan dengan perempuan. Pasien dengan tingkat pendidikan rendah memiliki kualitas hidup lebih buruk 0,4 kali jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan tinggi. Pasien yang tidak memiliki pekerjaan memiliki kualitas hidup lebih buruk 0,6 kali jika dibandingkan dengan yang memiliki pekerjaan. Pasien yang tidak menikah memiliki kualitas hidup lebih buruk 0,5 kali jika dibandingkan dengan pasien yang menikah. Pasien yang baru menjalankan hemodialisa memiliki kualitas hidup lebih baik 0,9 kali jika dibandingkan dengan pasien yang sudah lama menjalankan hemodialisa

[image:61.595.151.525.423.596.2]

6. Hubungan Komorbiditas dengan Kualitas Hidup

Tabel 4.6 Hubungan Komorbiditas dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

pada bulan Maret-Mei 2016 (n = 79)

Komorbiditas Kualitas Hidup X2 p* OR (95% C.I) Baik Buruk

Hipertensi

3,186 0,043 4,735 (1,036-18,473)

Tidak 7 3

Ya 24 45

DM

Tidak 13 7 7,453 0,006 4,230

Ya 18 41 (1,447-12,370)

Penyakit Jantung

Tidak 14 11 4,309 0,038 2,770

Ya 17 37 (1,043-7,354)

p* < 0,05 based on Chi Square

(62)

banyak jika dibandingkan pasien dengan komorbid hipertensi. Berdasarkan hasil OR diketahui bahwa pasien tanpa komorbid hipertensi kemungkinan memiliki kualitas hidup yang baik 4,7 kali dibandingkan dengan pasien dengan komorbid hipertensi.

Pada komorbid DM diketahui nilai p = 0,006 (<0,05), maka diketahui ada hubungan yang signifikan antara komorbid DM dan kualitas hidup. Pasien tanpa komorbid DM yang mempunyai kualitas hidup baik lebih banyak jika dibandingkan pasien dengan komorbid DM. Berdasarkan hasil OR diketahui bahwa pasien tanpa komorbid DM kemungkinan memiliki kualitas hidup yang baik 4,2 kali dibandingkan dengan pasien dengan komorbid DM.

(63)

7. Hubungan Jumlah Komorbid dan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa Tabel 4.7 Hubungan Jumlah Komorbid dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di Unit Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

pada bulan Maret-Mei 2016 (n = 79) Jumlah

Komorbid

Kualitas Hidup X2 p* OR (95% C.I) Baik Buruk

1 Komorbid 11 6 5,892 0,015 3,850

> 1 Komorbid 20 42 (1,246-11,898)

p* < 0,05 based on Chi Square

Tabel 4.7 menunjukkan hubungan antara jumlah komorbid dan kualitas hidup pasien hemodialisa. Pada jumlah komorbid diketahui nilai p = 0,015 (<0,05), maka diketahui ada hubungan yang signifikan antara jumlah komorbid dan kualitas hidup. Berdasarkan hasil OR diketahui bahwa pasien dengan satu komorbid kemungkinan memiliki kualitas hidup yang baik 3,8 kali dibandingkan dengan pasien yang memiliki lebih dari satu komorbid.

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden a. Usia

(64)

Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Imai, E., et al.,(2009) diketahui bahwa penurunan LFG memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi dan proteinuria. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 kasus hipertensi di Provinsi DIY mencapai 35,8 % diatas rata-rata seluruh Indonesia yang mencapai 31,7 %. Salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi adalah usia. Sugiharto (2007) menyatakan bahwa usia 36-45 tahun mempunyai resiko menderita hipertensi 1,23 kali, usia 45-55 tahun beresiko 2,22 kali, dan usia 56-65 tahun beresiko 4,76 kali dibandingkan usia yang lebih muda.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran usia kejadian hipertensi. Pergeseran usia tersebut dikarena faktor-faktor resiko hipertensi, seperti gaya hidup, intake nutrisi, dan faktor genetik.

b. Jenis Kelamin

(65)

Goldberg, I., et al., (2016) menyatakan bahwa prevalensi terjadinya CKD lebih banyak terjadi pada perempuan, sedangkan prevalensi terjadinya ESRD lebih banyak terjadi pada laki-laki. Dalam sebuah penelitian meta analisis yang dilakukan oleh Neugarten J., et al., (2000) diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara laki-laki dan disease progression of Ig A nephrophaty, membranous nephropathy, sutosomal dominant polycyctic disease, dan CKD yang tidak diketahui penyebabnya. Evans M., et al., (2005) menyatakan bahwa laki-laki penderita CKD memiliki resiko yang besar untuk mendapatkan terapi pengganti fungsi ginjal dibandingkan perempuan. Peran hormon seksual dalam proses patogenesis kerusakan ginjal mendapatkan banyak perhatian. Dari beberapa penelitian pada hewan diketahui bahwa testosteron berhubungan dengan perkembangan kerusakan ginjal melalui beberapa mekanisme. Hal ini yang menyebabkan perkembangan CKD pada laki-laki lebih pesat jika dibandingkan dengan perempuan (Goldberg, I., et al.,2016). Level hormon testosteron dapat merusak ginjal. Pada laki-laki, CKD berhubungan dengan rendahnya level hormon testosteron, prolaktin, dan hormon anti-Mullerian, dan tingginya hormon gonadotropin (Eckersten D., et al., 2015).

(66)

mempengaruhi terjadinya kerusakan ginjal. Tingginya LDL, trigliserid, asam urat, dan rendahnya HDL juga akan mempercepat kerusakan fungsi ginjal (Kummer S., et al.,2012). Faktor nutrisi dan gaya hidup merupakan kecenderungan yang terjadi pada laki-laki.

c. Tingkat Pendidikan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang memiliki tingkat pendidikan tinggi sebanyak 58 pasien (73,4%). Tinjauan teori yang ada tidak menjelaskan keterkaitan antara pendidikan dan kejadian CKD maupun pasien yang menjalankan hemodialisa. Peneliti berasumsi bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku seseorang dalam mencari perawatan dan pengobatan penyakit yang dideritanya, serta memilih dan memutuskan tindakan yang akan dan harus dijalani untuk mengatasi masalah kesehatannya.

Menurut peneliti, semakin tinggi pendidikan seseorang kesadaran untuk mencari pengobatan dan perawatan akan masalah kesehatan yang dialaminya juga akan semakin tinggi. Azwar (2005) mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka dia akan cenderung untuk berperilaku positif karena pendidikan yang diperoleh dapat meletakkan dasar-dasar pengertian (pemahaman) dan perilaku dalam diri seseorang.

d. Status Pekerjaan

(67)

pekerjaan (kegiatan yang dilakukan) sehari-harinya adalah duduk-duduk, menonton televisi, tidur, makan, menyapu halaman dan tidak ada aktivitas lain karena disebabkan tenaga mereka sudah tidak kuat lagi dan merasa cepat kelelahan.

Hal ini terkait karena setelah mendapatkan terapi hemodialisa pasien cenderung mengalami penurunan fungsi fisik. Individu yang harus menjalani hemodialisa sering khawatir akan kondisi sakitnya yang tidak dapat diramalkan dan gangguan dalam kehidupannya (Smeltzer & Bare, 2002), biasanya pasien akan mengalami masalah keuangan dan kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan. Penelitian yang dilakukan Asri (2006) mengatakan bahwa 2/3 pasien yang mendapat terapi dialisis tidak pernah kembali pada aktivitas atau pekerjaan seperti sediakala sehingga banyak pasien kehilangan pekerjaannya.

e. Status Pernikahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menikah (84,8%). Tinjauan teori yang ada tidak menjelaskan keterkaitan antara status pernikahan dan kejadian CKD maupun pasien yang menjalankan hemodialisa.

(68)

pengalaman dan informasi (Theofilou, P., 2012). Dengan demikian, seseorang dapat lebih memilih perilaku hidup sehat untuk mencegah terjadinya CKD.

f. Durasi dialisis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sudah lama menjalankan hemodialisa (59,5%). Responden yang dikategorikan lama menjalankan hemodialisa apabila pasien sudah menjalankan hemodialisa ≥ 36 bulan dan dalam kategori baru apabila

pasien menjalankan hemodialisa < 36 bulan. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk bertahan hidup cukup tinggi. Pasien hemodialisa yang mampu bertahan hidup selama 1-2 tahun sebanyak 40,5%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Morton, et al., (2012) diketahui bahwa pasien hemodialisa lebih mampu untuk bertahan hidup jika dibandingkan dengan pasien yang menjalankan terapi konservatif (nondyalitic).

(69)

angka kematian (Van, K.N., et al., 2012; Ghaderian, S.B., et al.,2015; Sreejitha, et al., 2012).

2. Gambaran Komorbiditas pada Pasien Hemodialisa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang memiliki komorbid hipertensi sebanyak 69 pasien (87,3%), komorbid diabetes melitus 59 pasien (74,7%), dan komorbid penyakit jantung sebanyak 54 pasien (68,4%). Komorbiditas adalah kondisi (penyakit) lain selain CKD yang mempengaruhi organ lain, tetapi juga dapat menyebabkan gagal ginjal. Komorbiditas berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup pasien hemodiali

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi CKD berdasarkan derajat penyakit
Gambar 2.1 Pengukuran Kualitas Hidup menurut WHO
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Gambar 2.3 Kerangka Konsep
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil uji data perdimensi kualitas hidup didapatkan hasil yang tidak signifikan antara Volume Oksigen Maksimum (VO2max) dengan kualitas hidup dimensi kesejahteraan

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi ilmiah tentang gambaran kecemasan dan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

Kualitas Hidup Menurut Spitzer Pada Penderita Gagal Ginjal Terminal Yang Menjalani Hemodialis Di Unit Hemodialisa RSUP

Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai “Kualitas Hidup berdasarkan dimensi hubungan sosial pada Pasien Hemodialisa di RSUP Haji Adam Malik Medan”.. Penelitian

Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Aylin et al tentang kontrol asma dan kualitas hidup ( Aylin et al. 2012) yaitu rata-rata skor Tes Kontrol Asma adalah 20

nyeri, dan kesehatan umum dalam pengukuran dengan skor kualitas hidup terkait. kesehatan menggunakan SF-36 (Ware et al.,

Penelitian lainnya dilakukan Evawaty et al 2019 yang meneliti terkait Hubungan Peran Pengawas Obat PMO Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tb Paru, mendapatkan hasil jika Hasil analisa dalam

Hasil ini juga sejalan dengan penelitian terdahulu yang mendapatkan hasil bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup buruk pada dimensi mentalnya Ningrum et al., 2016