PROSES PENYEMBELIHAN HEWAN DENGAN METODE STUNNING DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S. Sy)
Riadi Barkan NIM: 108043100022
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM KONSENTRASI PERBANDINGAN MAZHAB FIKIH
FAKULTAS SYARI'AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 08 mei 2014
ABSTRAK
Riadi Barkan. NIM 108043100022. PROSES PENYEMBELIHAN HEWAN DENGAN METODE STUNNING DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM. Konsentrasi Perbandingan Mazhab Fiqh, Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Tahun 1435 H/2014 M. + 59 halaman + 1 Lampiran.
Masalah utama dalam skripsi ini adalah mengenai pembahasan hukum penyembelihan dengan cara stunning. Dimana stunning ini merupakan penyembelihan dengan cara pemingsanan terlebih dahulu pada hewan yana akan disembelih dengan menggunakan listrik. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui apakah stunning ini sesui dengan syariat Islam.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana penulis tidak menggunakan sample. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kepustakaan dimana penulis pengidentifikasian secara sistemis dari sumber yang berkaitan dengan objek. kemudian penulis menganalisis dengan cara deduktif dan komperatif yakni penulis memulai dari teori masalah penyembelihan yang bersifat umum, selanjutnya penulis kemukakan secara khusus dengan masalah penyembelihan dengan sunning. Secara teoritis penulis melakukan pembahasan ini dengan melihat perbandingan aspek Fiqh Islam.
Hasil ini menunjukkan bahwa penyembelihan dengan cara stunning telah sesuai dengan syariat Islam karena hewan yang dipingsankan dapat hidup kembali, dan dengan catatan jenis stunning tersebut tidak melukai atau menyakiti hewan yang akan disembelih.
Kata kunci : Stunning, Ihsan, Animal Walfare.
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur selalu dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya serta berbagai anugrah melimpah yang diberikan kepada kita semua, khususnya penulis, sehingga penulis mampu menyelasaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam disampaikan pula kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Berkat beliau dan para penerusnya, penulis mengenal Islam dan berusaha menjadi muslim yang baik.
Dalam proses penulisan skripsi ini, tentu saja banyak pihak yang membantu penulis. Mulai dari guru-guru, staf perpustakaan, keluarga dan kawan-kawan penulis dan sebagainya. Untuk itu, izinkan penulis dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan, motivasi, dukungan, saran, dan kritik, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
1. Penulis haturkan banyak terima kasih kepada dekan Fakultas Syariah dan Hukum, yaitu bapak Dr. J.M. Muslimin MA.
2. Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab dan fiqh bapak Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag, beserta wakilnya bapak Fahmi M. Ahmadi M.Si, yang telah memberikan motifasi kepada penulis dan juga tak lupa Penasehat Akademik yaitu Dr. H. Asroru Ni'am, Lc meskipun beliau sibuk, akan tetapi masih dapat menyempatkan waktunya untuk bertatap muka, sehingga penulis dapat berkonsultasi masalah skripsi ini.
4. Para guru-guru penulis yakni KH. Bunyamin, KH. Bahruddin, H. Najamuddin S.Pdi yang telah memberikan motifasi kepada penulis agar penulis tidak menunda dalam pembuatan skripsi ini. Alm Drs. KH. Muhammad Yunus yang sebelum wafatnya berpesan agar penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi gelar sarjana syariah, Dan juga DR. Sudirman Abbas yang telah memberikan bahan berupa buku-buku untuk skripsi penulis. Serta tak lupa penulis berterima kasih kepada guru sekaligus paman penulis Ust. Ahmad Syamwil S.Th, yang telah memberi pemahaman ketika penulis kesulitan dalam memahami sumber bacaan untuk skripsi ini.
5. Tak lupa juga orang tua sekaligus motivasi tersendiri bagi penulis ayahanda H. Amrullah dan ibunda Hj. Zainah, berkat air mata dan doa beliau, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Penulis berterima kasih juga kepada bapak Dr. Achmad Badawi, MM dan bapak Muhammad Thoha yang telah menyisihkan hartanya untuk pendanaan skripsi penulis. 7. Terima kasih juga kepada Keluarga besar alm. H. Munzir dan keluarga besar alm H.
Abdurrahman.
8. Terima kasih teman seperjuangan penulis, semasa kuliah khususnya Ahmad Reza Fahlefi, Suhendra, Asmahadi, Fauzan dan Humaidah.
9. Terima kasih kepada saudara-saudara penulis, khususnya Muhammad Ilham yang telah menemani penulis ke perpustakaan Iman Jama untuk mngerjakan skripsi ini.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Tinjauan Pustaka ... 6
E. Metode Penelitian ... 7
F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II PENGERTIAN PENYEMBELIHAN A. Pengertian Penyembelihan ... 11
B. Orang Yang Menyembelih ... 24
C. Binatang Yang Disembelih ... 27
D. Alat Menyembelih ... 34
BAB III PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA STUNNING A. Pengertian Penyembelihan Hewan Secara Stunning ... 45
B. Pengertian Ihsan Dalam Menyembelih ... 48
BAB IV PANDANGAN ISLAM TENTANG PENYEMBELIHAN SECARA STUNNING A. Pendangan Islam Dalam Penyembelihan Secara Stunning ... 52
B. Analisis Penyembelihan Secara Stunning ... 55
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 57
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ihsan dalam Islam jelas membuktikan tentang nilai perasaan kasih sayang yang perlu
dimiliki oleh seorang muslim di mana perasaan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan jiwa manusia. Perlakuan yang baik terhadap hewan menjadikan mereka mampu bertindak lebih
produktif dalam memberikan keuntungan bagi manusia. Sapi perah misalnya, akan menjadi terhenti prodiktifitas susunya jika diperlakukan secara kasar atau karena suatu hal yang membuat sapi tersebut menjadi stress, sayangnya tidak banyak yang mengetahui bila hewan juga mempunyai hak atas hidup yang sama seperti manusia.1 Allah SWT telah mewajibkan manusia untuk berbuat baik. Oleh karena itu, jika kita
menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan memberi kelapangan bagi hewan yang akan disembelih. Seseorang menyembelih hewan untuk dimakan bersama keluarga atau untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Dalam hal ini Islam telah memberikan aturan dan tata cara menyembelih.2 Islam memerintahkan untuk belaku baik dalam menyembelih, di mana alat yang digunakan harus benar-benar tajam dan tidak menyiksa hewan sebelum disembelih dan juga harus menyebut nama Allah.3 Penyembelihan hewan harus sesuai dengan tuntunan Islam. Jika tidak, maka akan berdampak
kepada daging yang akan dikonsumsi oleh masyarakat tentang kehalalan makanan tersebut.
1
Fachruddin M. Mangunjaya, Konservasi Alam dalam Islam (Jakarta 2005, yayasan obor
Indonesia.hal. 47.
2
Abdul Aziz, Ensiklopedia Etika Islam, (Jakarta: Maghfirah Pustaka), hal. 681.
3
Dalam Islam, konsep dasar makanan itu ada tiga, yaitu halal, haram, dan subhat. Halal
seperti apa yang tercantum dalam Al-Quran yang berarti dibenarkan atau dibolehkan. Sedangkan haram adalah sesuatu yang sangat dilarang keras dan harus dihindari. Sedangkan subhat adalah sesuatu yang dicurigai di dalamnya terdapat bagian halal dan haramnya.4 Pengolahan makanan yang dilakukan manusia dengan cara yang haram atau
mencampuradukkan dengan sesuatu yang haram maka hukumnya adalah haram, baik dalam mengelolanya maupun memakannya.5 Proses penyembelihan sangat berpengaruh terhadap makanan yang dihasilkan. Di sini juga diperlukan pemanfaatan teknologi dalam penyembelihan hewan. Ajaran Islam juga ikut mendorong dan menuntun perkembangan sains dan teknologi.
Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah dimuka bumi untuk memikul tugas pokok sebagai hamba Allah selalu beribadah kepada-Nya, artinya bahwa segala bentuk dan macam hasil sains dan eksplorasi alam tetap dalam kerangka untuk mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah, sehingga hasil dari seluruh penciptaan tidak kehilangan transendensinya
terhadap Tuhan.6 Namun harus juga diperhatikan bahwa IPTEK tidak selalu berdampak positif bagi
umat manusia, IPTEK berkaitan dengan pengolahan makanan juga dapat berdampak negatif terhadap kualitas makanan tersebut.7 Hal ini untuk menciptakan makanan yang halal (jelas, bersih, diizinkan). Istilah ini sering digunakan secara bertentangan dengan istilah haram. Dalam penggunaan secara umum, istilah ini bermakna makanan yang disembelih dengan baik
4
Moh. Muchtar Ilyas, Islam Dan Produk Halal, (Direktorat Urusan Agama Islam Dan Pembinaan Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI, 2007).
5
Quraish Sihab, Tanya jawab Mistik, Seks, dan Ibadah, (Jakarta: Republika, 2004), cet II. h. 47.
6
Sairul Halim, Menguak keterpaduan Sains Teknologi Islam, (Yogyakarta: Titian Illahi Press, 1998), Cet III, hal 72.
7
dan disiapkan untuk orang muslim.8 Seiring perkembangan zaman berbagai kemudahan diberikan, termasuk peralatan modern yang dapat mempermudah proses penyembelihan dan pengolahan hewan dengan menggunakan mesin. Penyembelihan hewan secara mekanis ini memiliki proses yang begitu panjang
hingga menjadi barang yang siap untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Salah satu prosesnya adalah dengan metode stunning yaitu pemingsanan pada hewan yang akan disembelih dengan menggunakan aliran listrik. Metode stunninguntuk hewan dengan skala kecil biasanya dengan cara ayam digantung
dengan kepalanya menghadap ke tanah (bukan kiblat), ayam disiram dengan air dingin dan dialiri muatan listrik. Penyiraman air yang bermuatan listrik untuk membius memang tidak menyebabkan kematian ayam. Akan tetapi, jika ayam dalam kondisi sakit akan menyebabkan ayam mati sebelum disembelih. Untuk hewan ternak besar seperti sapi dan kambing, biasanya digunakan metode penembakan atau pemukulan pada bagian kepalanya. Dengan pistol dan peluru khusus, proses penembakan ini dilakukan pada ukuran kaliber yang berbeda-beda sesuai dengan besar kecilnya ukuran sapi. Metode ini dikenal dengan captive bolt pistol yaitu kepala yang ditembak dengan peluru tumpul yang menyebabkan kerusakan pada jaringan otak, sehingga ternak akan mengalami goyah dan pingsan. Dalam keadaan pingsan inilah sapi menjadi lebih mudah untuk dikendalikan, sapi tersebut akan jatuh dan langsung disembelih oleh jagal.9 Berdasarkan masalah di atas penulis ingin mengetahui lebih dalam mengenai hukum pemotongan dengan metode stunning yaitu penyembelihan pada hewan yang dipingsankan terlebih dahulu dengan menggunakan aliran listrik yang menyebabkan tersiksanya hewan
8
Muhammad Iqbal & William Hunt, Ensiklopedi Ringkas tentang Islam, (Jakarta: Taramedia, 2003), h. 131.
9
yang akan disembelih. Apakah sesuai dengan konteks hukum Islam atau malah bertentangan dengan hukum Islam.
Penulis tertarik untuk membahas tentang hukum proses penyembelihan secara mekanis dengan fokus menggunakan metode stunning pada hewan yang akan potong dengan mengambil judul “PROSES PENYEMBELIHAN HEWAN DENGAN METODE
STUNNING DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Dari uraian di atas agar pembahasan ini tidak meluas dan agar pokok permasalahan
tidak melebar, pada penyembelihan secara mekanis banyak sekali macamnya dan proses hingga menjadi daging yang siap diedarkan, namun penulis membatasinya pada pandangan hukum Islam terhadap penyembelihan secara mekanis dengan proses stunning. 2. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Apakah penyembelihan dengan cara stunning telah memenuhi unsur ihsan terhadap hewan ? b. Bagaimana tata cara dan ketentuan penyembelihan dengan metode stunning ?
c. Bagaimana pandangan Islam mengenai penyembelihan dengan cara stunning ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memiliki tujuan di antaranya: a. Untuk mengetahui konsep ihsan dalam menyembelih secara mekanis.
b. Untuk mengetahui tata cara dan ketentuannya.
Sementara manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini memberikan pemahaman kepada masyarakat agar menggunakan alat pemotong hewan, serta menambah khazanah
keilmuan penulis.
D. Tinjauan Pustaka
Secara historis, bahwa sebelumnya sudah ada beberapa buku yang membahas masalah mengenai pemotongan secara mekanis, yaitu :
Pertama: Buku ”Halal Dan Haram”, Penulis Dr. Yusuf Qardhawi, dalam buku ini menjelaskan tentang makanan baik yang halal maupun yang haram dengan prosesnya sesuai dengan syariat islam pada masa modern. Sedangkan penulis lebih fokus kepada pendapat ulama tentang penyembelihan menggunakan alat modern dengan metode stunning.
Kedua: Buku Islam Dan Produk Halal karangan Drs. H. Moh. Muchtar Ilyas, Tahun 2007. Dalam buku ini membahas agar masyarakat harus lebih berhati-hati dalam memilih produk yang halal dikarenakan proses yang berkembangnya zaman modern. Sedangkan penulis lebih fokus dengan posesnya yang dilakukan secara mekanis.
E. Metode Penelitian
Untuk menghasilkan suatu karya ilmiah, perlu menggunakan pendekatan yang tepat dan sistematis, sebagai pegangan dalam penulisan skripsi dan pengolahan data untuk memperoleh data yang valid.
Dalam sebuah penelitian dibedakan dua jenis data, yaitu pertama yang diperoleh langsung dari masyarakat (primary data atau basic data), kedua data yang diperoleh dari bahan kepustakaan (secondary data).10
Dalam pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis data yang kedua, yaitu data kepustakaan yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, koran, internet, yang menjadi insiprasi penulis, dan kumpulan fatwa MUI.
2. Sumber data
Seperti data yang telah penulis paparkan di atas, bahwa pembahasan skripsi ini bersumber dari bahan kepustakaan (secondary data), oleh karena data yang dikaji bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terkait dengan pembahasan ini, maka sumber data penulis adalah buku-buku fiqih, internet, kumpulan fatwa MUI dan buku-buku lain yang mendukung pembahasan ini.
3. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.11Dalam pengumpulan data ini penulis berusaha mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan menggunakan pustaka-pustaka utama.
Dari data yang terkumpul, penulis menggali keterangan tentang kriteria halal dan haram suatu penyembelihan. Proses selanjutnya penulis berusaha mengklasifikasikan data-data tersebut, dan penulis dapat menggambarkan tentang pembahasan.
4. Teknik analisis data
Teknik analisis data meliputi upaya melihat, membaca, menganalisa, menafsirkan, dan membandingkan bahan-bahan dokumen yang meliputi: (1) otobiografi; (2) surat-surat
10
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1986), cet. 3, h. 12.
11
pribadi, buku atau catatan harian (jurnal), kenang-kenangan; (3) surat kabar; (4) dokumen-dokumen pemerintah; (5) laporan.12 Inilah yang disebut dengan analisis data kualitatif.
Ada dua teknik yang penulis gunakan dalam menganalisis data, yaitu : a. Metode deduktif
Metode deduktif adalah teknik analisis data yang dimulai dari teori yang bersifat umum, selanjutnya dikemukakan kenyataan yang bersifat khusus.13 Dalam menerapkan metode deduktif tersebut penulis memulai dari teori masalah penyembelihan dan stunning yang bersifat umum, selanjutnya penulis kemukakan secara khusus.
b. Metode komperatif
Metode komperatif ini adalah teknik analisis data dengan membandingkan antara beberapa sistem atau fenomena yang berbeda dengan membandingkan aspek dan diakhiri dengan rumusan kesimpulan.14 Secara teoritis penulis melakukan pembahasan dengan melihat aspek Fiqh Islam.
5. Cara pendekatan
Ada dua cara pendekatan yang penulis terapkan dalam membahas penelitian ini, yaitu:
15
a. Pendekatan Normatif, yaitu pendekatan terhadap suatu masalah yang menitikberatkan kepada ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.
b. Pendekatan Tekstual, yaitu pendekatan terhadap suatu masalah yang menitikberatkan kepada dalil-dalil.
6. Teknik Penulisan
12
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000) h. 103.
13
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 30.
14
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 31.
15
Adapun untuk teknik penulisannya, penulis memakai acuan dari buku “Pedoman
Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta”. Yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012. F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran mengenai materi yang menjadi pokok penulisan skripsi ini dan agar memudahkan para pembaca dalam mempelajari tata urutan penulisan, maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I, Merupakan pendahuluan, memuat latar belakang, pembahasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan dan sistematika penulisan.
BAB II, Pengertian penyembelihan memuat tentang definisi penyembelihan, orang yang menyembelih, alat sembelihan, hewan yang disembelih.
BAB III, Pengertian penyembelihan secara stunning, memuat tentang definisi penyembelihan hewan secara stunning, berperilaku ihsan terhadap hewan sembelihan.
BAB IV, Pandangan Islam tentang penyembelihan secara stunning, memuat tentang pendapat Islam mengenai penyembelihan secara stunning dan analisis tentang proses penyembelihan yang dibolehkan dan diharamkan.
BAB II
PENGERTIAN PENYEMBELIHAN
A. Pengertian Penyembelihan
Fiil (kata kerja) dari kata dzakaah ialah dzakkaa, yudzakkii, dzaka‟an.16 Az Zakat
asalnya at tathayyub. Misalnya kata: raihatun zakiyyatun artinya: bau yang sedap, az zabhu dinamai dengan kata ini (Az Zakatu) karena pembolehan secara hukum syara
membuatnya menjadi thayyib (baik, harum, sedap) dan dikatakan pula az zakatu
bermakna at tatmin (Penyempurna).17 Az Zakaat bermakna az zabah atau an nahar isim masdar dari zakiyyun.18
Ulama Hanafi dan Maliki memberi takhrif sebagai memutuskan saluran urat. Urat-urat yang perlu diputuskan adalah sebanyak empat, yaitu: urat hulkum, urat Mari‟ dan dua urat darah di kiri dan kanan hulkum.19 Adapun pendapat ulama Syafi‟i dan Hanbali, az zakah ialah sembelihan binatang yang mampu dikuasai dan harus dengan memutuskan hukum dan mari‟.20
Adapun syarat-syarat penyembelihan meliputi: 1. Mengucapkan nama Allah (Basmalah)
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengucapkan nama Allah ketika menyembelih, terbagi menjadi tiga pendapat: 21
a. Ada yang berpendapat fardhu (wajib) secara mutlak.
b. Pendapat lain mengatakan fardhu ketika ingat dan gugur kewajiban ketika lupa.
16
Abu Sari‟ Muhammad Abdul Hadi, Hukum Makanan Dan Sebelihan Dalam Pendapat Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1997), h. 94.
17
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Penerjemah Kamaluddin, (Bandung: PT. Alma‟arif), jilid 13 h. 122. 18
Muhammad Abu Faris, Ahkamu Az Zabah Fil Islam, Maktabah Al manar, h. 34.
19
Syed Ahmad Syed Hussain, Fiqh Dan Perundangan Hukum Islam, (Malaysia: Dewan Bahasa Dan Pustaka, 1994), h. 747.
20
Syed Ahmad Syed Hussain, Fiqh Dan Perundangan Hukum Islam, h. 748.
21
c. Pendapat terakhir mengatakan sunnah yang ditekankan (mu‟akad) Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini sebagai berikut: a. Mazhab Hanafi
Imam Ala al-din al-Samarqandi22 berkata, “Adapun syarat-syarat kehalalan (dalam sembelihan) di antaranya adalah membaca basmalah (saat menyembelihnya). Seandainya basmalah tersebut dengan sengaja dibaca, maka menurut mazhab kami hukumnya tidak halal”. 23
Imam Al-Kasani24 berkata, “Adapun syarat dalam menyembelih (yang sah) jumlahnya bermacam-macam, diantaranya adalah membaca basmalah ketika ingat menurut mazhab kami”. Kemudian beliau menyebutkan dalilnya, pendapat kami ini berdasarkan firman Allah SWT:
(
/ اعناا
:
)
Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An‟am 6:121)
Dari ayat tersebut ada dua hal yang dijadikan dalil yaitu:25
22 Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Abu Ahmad, Abu Bakar „Ala Al-Din Al-Samarqandi.
Beliau merupakan seorang pakar dari kalangan tokoh ulama Hanafiyyah. Beliau bermukim di Halb dan namanya melambung lewat bukunya Tuhfah al-Fuqa. Di samping itu, beliau juga memiliki kitab-kitab lainnya, seperti al-Ushul. Beliau meninggal pada tahun 450 H. lihat al-Zirikli, juz V, h. 317.
23
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2009), h. 314.
24
Beliau adalah 'Ala 'al-Din Abu Bakar bin Mas'ud bin Ahmad al-Kasani al-Hanafi yang dijuluki malik al-Ulama (rajanya para ulama). Namanya dinisbatkan pada Kasan, sebuah kota di negeri Turkistan, di belakang sungai Sihun, belakang Syasy Beliau belajar fiqih kepada Imam Abu Bakar al-Samarqandi dan membaca sebagian besar karyanya di hadapannya. Beliau meningga di Halb pada tahun 578 H. lihat „Umar Ridha
Kahalah, Mujam al-M‟allifin, Juz III, hal 75-76, dan Taqy Ghazi, Thabaqat Saniyyah Fi Tarajim al-Hanafiyyah, juz I, h. 148.
25
Pertama: Larangan yang mutlak di atas menunjukkan haramnya objek perbuatan yang dilarang.
Kedua: Allah menyebut perbuatan mengonsumsi hewan yang tidak disebut nama Allah (ketika disembelih) sebagai suatu kefasikan.
Kemudian Imam Al-Kasani berkata, “Kami mendapatkan sebuah riwayat dari Rasyid bahwa Nabi saw bersabda:
ََذَِبَ ي
ََحَُة
ََ لا
َُم
َ سَِل
َِمَ
ََح
ََل
ٌَلَ
ََوَِاَ ن
ََ
َلَ
َُيَ س
َِلَ مَ
ََم
َ َلا
َََ يََ ت
ََعَ م
َ دَ
ََو
َ صلا
َ يَُدَ
َََك
ََذَ
ِلا
ََك
َ
َ
Artinya : Sembelihlahan orang muslim adalah halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah (ketika menyembelihnya), selagi ia tidak sengaja (meninggalkannya), demikian pula hewan buruan.26
Karenanya, para ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa apabila tidak membaca basmalah dengan sengaja ketika menyembelih, maka sembelihannya tidak halal. Jika tidak membaca basmalah itu karena lupa, maka sembelihannya halal. Karena makna ayat al-Quran di atas tidak mencakup sembelihan yang tidak dibacakan basmalah.27
Al-Kasani berkata, “Adapun ayat Al-Quran tersebut yang tidak mencakup sembelihan yang tidak dibacakan basmalah, maka hal itu karena dua hal:
Pertama, Allah berfirman, ق س ف ل ه ا ن “sesungguhnya perbuatan tersebut adalah suatu kefasikan”. Yaitu tidak membaca basmalah saat menyembelih adalah suatu
kefasikan. Apabila tidak membaca basmalah itu karena lupa, maka hal itu bukanlah suatu kefasikan. Begitu pula setiap kali lupa membaca basmalah, maka tidak disebut suatu kefasikan, karena hal ini merupakan masalah ijtihadiyyah (hukum yang ditetapkan oleh hasil ijtihad). Adanya perbedaan pendapat di antara sahabat dalam hal
26
lihat kitab bughyah al-Bahits„an zawa„id musnad al-Harits karya al- Harits bin Abu Usamah, juz 1, hal 478. Hadis ini diriwayatkan oleh Harits bin Abu Usamah, dalam hadits ini dha„if karena di dalam sanadnya terdapat rawi bernama al-Ahwash bin hakim. Ia adalah seorang yang dha‟if maka haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah dalam syariat Islam.
27
ini, menunjukan bahwa yang dimaksud dengan ayat al-Quran di atas tidak membaca basmalah dengan sengaja, bukanlah karena lupa. 28
Kedua, seorang yang lupa (membaca basmalah) tidak disebut meninggalkan membaca basmalah, melainkan ia tetap menyebut nama Allah (berzikir), karena zikir dapat dilakukan dengan lisan maupun dengan hati. Allah Swt berfirman:
(
ف كلا
١
:
١
)
Artinya : Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al-Kahfi 18:28)
Seseorang yang lupa dalam menyebut nama Allah, maka sembelihannya tetap boleh dimakan. Karena pada dasarnya ia telah berzikir di dalam hatinya, hal ini berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas ra bahwa beliau ditanya tentang seorang pria yang menyembelih tetapi lupa untuk menyebut nama Allah ketika menyembelih. Maka beliau menjawab: “Nama Allah Swt selalu ada di hati setiap muslim, maka hendaklah ia makan (sembelihannya)”.29
b. Mazhab Maliki
Imam Sahnun30 berkata kepada Imam Ibn al-Qasim,31 “Aku bertanya :
28
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 315.
29
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 316.
30
Bagaimana bacaan basmaalah ketika menyembelih menurut Malik ? beliau menjawab bahwa Imam Malik32 berkata, “Bismillahi Wallahu Akbar” aku bertanya : “Apakah
Imam Malik memakruhkan membaca salawat terhadap rasulullah setelah membaca basmalah, atau membaca Muhammad Rasulullah setelah membaca basmalah ketika menyembelih ? Beliau menjawaab “Aku belum pernah mendengar dari Imam Malik sedikitpun tentang itu”, dalam hal menyembelih tidak disebut kecuali nama Allah saja.33
Imam Al-Baji34 menuturkan bahwa Imam Malik meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, beliau berkata:
َُسَِئ
ََلَ
ََرَُس
َُلو
َ
َِلا
َ
ََص
َ لَ
َُلا
َََعَ
َلَ يَِ
َََو
ََسَ ل
ََمَ
َِلاََلُسَرَاَيَ:َُلََل يِقَف
ََِا
َ ن
َََن
ًَسا
َِمَا
َ نَ
َِل َا
ََ لا
ََبَِدا
ََيَِةَ
ََيَ أَُ ت
َ وََ نََ
َِبَا
َُل
َ ح
ََم
ٍَنا
َ
ََلََن
َ دَِر
ي
َ
َ لَ
َ
َمَس
اوَ
َِلا
َََعَ
َلَ يََه
ََاَا
َ مَ
ََل
ََ فَ َ
ََق
ََلا
َََر
َُس
َُلو
َ
َِلا
َ
ََص
َ لَ
َُلا
َََعَ
َلَ يَِ
َ
ََوََس
َ لََمَ
َمَس
اوَ
َِلا
َََعَ
َلَ يََه
َا
َ ُثََ
َُكَُل
ََو
َا
َ
Artinya : “Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu : “yaitu wahai Rasulullah SAW,
sesungguhnya sekelomok orang badui memberikan kami daging, sementara kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atasnya atau tidak ? lalu beliau bersabda : “sebutlah nama Allah lah kalian atasnya, kemdian makanlah”. 35 Kemudian Al-Baji mengomentari perkataan penanya di atas, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya penduduk pedalaman datang dengan membawa daging
31
Beliau adalah Abdurrahman bin al-Qasim bin Khalid bin Junadah al-'Itqi al-Mishri Gelarnya adalah
Abu 'Abdillah tetapi lebih populer dengan sebutan Ibn al-Qasim. Beliau seorang ahli fiqih yang zuhud dan pandai. Beliau belajar ilmu agama kepada Imam Malik dan seiring berdiskusi dengannya. Beliau lahir di Mesir pada tahun 132 H. Kitabnya yang berjudul al-Mudawwanah al-Kubra sebanyak 16 juz. Kitabnya ini sekaligus menjadi referensi terbesar dalam Madzhab Maliki. 'Beliau meriwayatkan hadis dari Imam Malik pada tahun 191 H, beliau meninggal di Mesir. Lihat al-Zirikli, juz III, h. 323.
32
Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik al-Ashbahi al-Himyari, dengan gelar Abu 'Abdillah, seorang Imam Madinah dan termasuk salah seorang Imam madzhab yang empat. Sebutan al-Malikiyyah dinisbatkan kepada namanya. Beliau lahir di Madinah pada tahun 93 H. Beliau konsentrasi dalam menjalankan agamanya, jauh dari pengaruh para amir dan raja. Beliau meninggal di Madinah pada tahun 179 H.
33
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h.316.
34
Beliau adalah Sulaiman bin Khalaf bin Sa'ad al-Tajibi al-Qurthubi, Abu al-Walid al-Baji. Beliau adalah ulama fiqih senior dari kalangan Malikiyyah. Beliau termasuk perawi Hadis. Asalnya dari Batlius. Beliau lahir di Bajah Andalusia pada tahun 403 H. Beliau mengembara ke Hijaz pada tahun 426 H dan menetap di sana selama tiga tahun. Beliau bermukim di Baghdad selama tiga tahun, di Mosul selama satu tahun, dan beberapa saat di Damaskus dan Halb. Kemudian beliau kembali ke Andalusia dan menjabat sebagai Qadhi. Beliau meninggal di Almeria pada tahun 474 H. Lihatal-Zirikli, juz III, h. 125.
35
sementara kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atasnya atau tidak ? “Bahwa ketetapan Rasulullah Saw terhadap mereka dalam menanggapi dan
menjawab pertanyaan orang tersebut menjadi dalil atas urgensi membaca basmalah ketika menyembelih. Seandainya membaca basmalah tidak memiliki konsekuensi
hukum, tentu Rasulullah akan menjawabnya,
(
س
ءا
ع ا
ي
ك
ن
تلا
س
ي
ة
س ,
ا ا
ل
ت
س
ا
) “Kalian tidak perlu membaca basmalah (ketika menyembelih), baik membaca
basmalah ataupun tidak adalah sama saja”.36 Ibn Qasim meriwayatkan dari Imam Malik dalam kitab al-mudawwanah tentang orang yang dengan sengaja tidak membaca basmalah ketika menyembelih, beliau berkata: “Sembelihnya jangan kamu makan. Tetapi jika ia tidak membacanya karena lupa, maka kamu boleh memakannya. c. Mazhab Syafi’i
Imam Syafi‟i37 berkata, “Dan membaca atas sembelihan. Jika ada zikir tambahan, maka itu lebih baik. Aku tidak memakruhkan adanya penambahan beserta bacaan basmalah ketika menyembelih, berupa bacaan shalawat (Shalla Allah Ala Rasulillah), bahkan aku menyukai hal itu dilakukannya. Aku menyukai seseorang memperbanyak bacaan salawat kepada nabi Saw dalam setiap keadaan, karena zikir kepada Allah Swt dan bacaan shalawat kepada nabinya merupakan bentuk iman dan ibadah kepada Allah, yang insya Allah orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala”.38
36
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 317.
37
Beliau adalah Abu 'Abdillah Muhammad bin Idris bin al-'Abbas bin 'Utsman bin Syafi' bin al-Sa'ib
bin 'Abd Yazid bin Hisyam bin al-Muthallib bin 'Abd Manaf al-Qurasyi al-Muthallibi al-Maliki. Beliau lahir di Gaza pada tahun 150 H. Pada usia dua tahun, beliau dibawa pindah ke Makkah. Istilah al-Syafi'iyyah dinisbatkan kepada namanya. Karya-karyanya antara lain adalah al-Umm, al-Risdlah, dan lain sebagainya. Beliau meninggal dunia pada akhir Rajab 204 H. lihat al-Suyuthi, Thabaqah al-Hufazh, h.153.
38
Tampaknya Imam Syafi‟i tak sependapat dengan Imam Malik, di mana Imam
Malik Memakruhkan bacaan shalawat kepada Nabi Saw beserta bacaan basmalah saat penyembelihan. Bahkan Imam Malik memprotes sebagian perkataan orang ketika
menyembelih,
(
ك
ي
ا ل
ك
ن
ل
ا
)
“Ya Allah, sembelihan ini dari padaMu dan ia kembalikepadaMu”. Imam Syafi‟i menambahkan bantahannya atas pendapat Imam Malik, seraya berkata. “Kami tidak mengetahui seorang muslim dan tidak
mengkhawatirkannya ia bersalawat kepada Nabi Saw kecuali hal itu menunjukan keimanan kepada Allah. Aku merasa khawatir bahwa setan akan merasuki pemikiran sebagian orang-orang bodoh yang melarang menyebut nama Rasulullah Saw ketika menyembelih hewan, untuk mencegah mereka bershalawat kepada beliau”.39
Imam Nawawi berkata, “Dianjurkan menyebut nama Allah ketika
menyembelih dan ketika melepaskan anjing pemburu atau panah yang diarahkan pada hewan buruan. Seandainya tidak membaca basmalah karena sengaja atau lupa, maka sembelihnya atau buruannya tetap halal”.40
d. Mazhab Hanbali
Imam Ibn Qudamah41 berkata, ”Syarat yang ketiga diantara syarat menyembelih adalah menyebut nama Allah”. Hal ini berdasarkan firman Allah:
39
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 317.
40
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 318.
41
(
/ اعناا
:
)
Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (Al-An‟am 6:121)
Apabila tidak membaca basmalah dengan sengaja, maka sembelihannya tidak halal. Apabila tidak membacanya karena lupa, maka sembelihannya halal. Hal ini berdasarkan riwayat Rasyid bin Sa‟ad bahwa Rasulullah bersabda :
ََذَِبَ ي
ََحَُة
ََ لا
َُم
َ سَِل
َِمَ
ََح
ََل
ٌَلَ
ََوَِاَ ن
ََ
َلَ
َُيَ س
َِلَ مَ
ََم
َ َلا
َََ يََ ت
ََعَ م
َ دَ
ََو
َ صلا
َ يَُدَ
َََك
ََذَ
ِلا
ََك
َ
Artinya : Sembelihlahan orang muslim adalah halal meskipun ia tidak menyebut nama Allah (ketika menyembelihnya), selagi ia tidak sengaja (meninggalkannya), demikian pula hewan buruan.42
Riwayat kedua menyatakan bahwa tidak membaca basmalah saat menyembelih, baik sengaja maupun lupa adalah boleh. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat bahhwa para sahabat Nabi Saw memberikan kemurahan untuk memakan hewan yang desembelih tanpa menyebut nama Allah.
ََعَ ن
َََا
َِب
ََََُ
رَ يََرََة
َََر
َِض
ََيَ
َُلا
َََعَ
ََََُق
ََلا
َ
ََجَ:
ََءاَ
ََرَُج
ٌَلََِا
ََل
َ لاَ
َِب
ََصَ
َ ل
َُلاَى
َََعَ
َلَ يَِ
َََو
ََسَ ل
ََمَ
ََ فَ,
ََق
ََلا
َ
ََيَ:
ََرَا
َُس
ََلو
َ
َِلا
َ
ََاَ,
ََرََاَ ي
ََت
َ
َ رلا
َُج
ََلَ
ََيَ ذَ
َبَُح
َََوََ ي
َ ََس
ََاَى
َ نَ
َُيََس
َ م
ََى
ََقَ.
ََلا
َِاَ:
َ س
َُمَ
َِلا
َََعَ
َل
َُكَى
َ لَ
َُمَ س
َِلٍَم
َ
Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Bahwa ada orang datang dan bertanya
kepada Nabi Saw. “Wahai Rasulullah”, kata orang itu, “Bahwa menurut anda
tentang seseorang yang menyebelih hewan, tetapi lupa membaca basmalah”. Nabi Saw menjawab, ”Nama Allah ada pada setiap muslim43 (HR. Al Baihaqi).
42
Lihat kitab bughyah al-Bahits„an zawa„id musnad al-Harits karya al Harits bin abu usamah, juz 1,
hal 478. Hadis ini diriwayatkan oleh harits bin abu usamah, dalam hadits ini dha„if karena di dalam sanadnya
terdapat rawi bernama al-Ahwash bin hakim. Ia adalah seorang yang dha‟if maka haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah dalam syariat Islam.
43
Imam Ibn Muflih44 memberikan alasan riwayat ini. Beliau berkata, “Apabila membaca basmalah itu disyaratkan, maka sembelihan yang dilakukan dengan keraguan ketika membacanya hukumnya tidak halal. Sebab, keraguan dalam syarat merupakan keraguan dalam perbuatan yang disyaratkan itu. Padahal sembelihan yang dilakukan dengan keraguan dalam membaca basmalah adalah halal, dengan dalil bahwa sembelihan ahli kitab itu halal, padahal kenyataannya mereka tidak membaca basmalah”.45
Riwayat ketiga dari Imam Ahmad adalah tidak boleh meninggalkan bacaan basmalah, baik ketika dengan sengaja meupun kerena lupa. Hal ini berdaasarkan firman Allah Swt:
…….
(
/ اعناا
:
)
Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelih. (Al-An‟am 6:121)
Karena apabila sesuatu itu dijadikan syarat, maka sesuatu itu tidak boleh ditinggalkan dengan alasan lupa, seperti wudhu sebagai syarat sahnya shalat.
Riwayat yang ke empat dari Imam Ahmad mengatakan bahwa membaca basmalah merupakan syarat yang dikhususkan untuk orang muslim. Ada juga riwayat sebaliknya bahwa membaca basmalah hanya khusus untuk ahli kitab karena didalam diri orang muslim terdapat nama Allah.46
44
Beliau adalah Imam Al-Alim Al-Alamah Al-Hammam Syaikhul Islam Al-Faqih Al-Muhaddits Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufarraj Ar Raimani Ad Damasqi Al Hanbali, beliau dilahirkan pada tahun 707 H. Dan wafat pada tahun 763 H. Beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Muflih, salah satu guru beliau adalah Ibnu Taimiyah. Bahkan Imam Ibnu Qayyim suka bertanya dan berknsultasi kepada Ibnu Muflih. Beliau juga meriwayatkan Hadits dari Hafidz Abul Hajjaj Mizzi dan Al-Hafiz Adz-Dzahabi.
45
Ali Mustofa Yaqub, Kriteria Halal Haram Untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Meurut Al-Quran Dan Hadits, h. 319.
46
2. Penyembelihan hewan tersebut bisa dikuasai dengan memotong hulqun dan mar‟i
sekiranya kehidupan hewan itu masih hayyatu mustaqirrah dengan menggunakan sesuatu yang melukai yang bukan kuku dan tulang.
Tentang spesifikasi penyembelihan, para ulama telah sepakat bahwa penyembelihan yang dapat menjadikan halal hewan sembelihan adalah yang dapat memutuskan dua urat leher tenggorokan dan kerongkongan, mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal:47
Tentang jumlah bagian yang terpotong dan kadarnya :
a. Pendapat yang masyhur dari mazhab Imam Malik dalam hal ini adalah wajib terputusnya dua urat leher dan tenggorokannya, kurang dari itu tidak sah.
b. Pendapat lainnya mengatakan harus ke empat-empatnya. c. Yang lain berpendapat cukup dua urat leher saja.
Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab Imam Malik tentang disyaratkan terputusnya dua urat leher, yaitu harus terpenuhi keduanya. Adapun tentang syarat terputusnya tenggorokan terdapat perbedaan pendapat:48
a. Menurut pendapat yang mewajibkannya, ada yang mengatakan seluruhnya, dan yang lain mengatakan sebagian besarnya saja.
b. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat yang wajib dalam penyembelihan adalah terputusnya tiga dari empat bagian tanpa ditentukan: dua urat leher dan tenggorokan, atau tenggorokan, kerongkongan dan tenggorokan, atau kerongkongan dan dua urat leher.
c. Imam Syafi‟i berpendapat yang wajib adalah terputusnya kerongkongan dan tenggorokan saja.
47
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, h. 933.
48
Sebab perbedaan pendapat karena tidak disebutkannya syarat yang ditetapkan berdasarkan nash, hanya ada hadits yang membicarakan hal ini: pertama mengandung khabar adanya mengalirkan darah saja, kedua mengandung khabar tentang tentang memutuskan dua urat leher bersamaan dengan mengalirkan darah.49
Bahwa perbedaan pendapat didasari pada sabda Rasulullah SAW:
َ نَع
َ
ََةَب عُش
َ
َ نَع
َ
َِديِعَس
َ
َِن ب
َ
ٍَقوُر سَم
َ
َ نَع
َ
ََةَياَبَع
َ
َِن ب
َ
ََةَعاَفِر
َ
َ نَع
َ
َِ دَج
َ
َُ نَأ
َ
ََلاَق
َاَي
َ
ََلوُسَر
َ
َِ للا
َ
ََس يَل
َ
اََلَ
ىًدُم
َ
ََلاَقَ ف
َ
اَمَ
ََرَه نَأ
َ
ََم دلا
َ
ََرِكُذَو
َ
َُم سا
َ
َِ للا
َ
َ لُكَف
َ
)يراخبلاَ اور(
َ
Artinya: Dari Syu'bah dari Sa'id bin Masruq dari Abayah bin Rifa'ah dari Kakeknya bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki pisau tajam?" beliau pun bersabda: "Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah”. 50 (HR. Bukhari)
B. Orang Yang Menyembelih
Dalam sara‟, masalah ini terbagi menjadi tiga kelompok: 51
1. Kelompok yang disepakati oleh para ulama kebolehannya melakukan penyembelihan. 2. Kelompok yang diperselisihkan oleh para ulama tidak bolehnya mereka melakukan
penyembelihan.
3. Kelompok yang diperselisihkan kebolehannya untuk melakukan penyembelihan. Adapun kelompok yang disepakati oleh para ulama kebolehannya untuk melakukan penyembelihan adalah mereka yang memenuhi lima syarat berikut:52
1. Islam 2. Laki-laki
3. Baligh
49
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, h. 934.
50
Lihat shohih al Bukhari, pada Bab: Penyembelihan dan perburuan, No. Hadist : 5074. Shohih Muslim, pada bab: Hewan kurban, No. Hadist : 3638. Ibnu Majah, pada bab: Sembelihan No. Hadist: 3169.
51
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, jilid I, h. 944.
52
4. Berakal
5. Tidak meninggalkan shalat
Sementara kelompok yang disepati oleh para ulama tidak bolehnya untuk melakukan penyembelihan adalah orang-orang musyrik para penyembah berhala, berdasarkan firman Allah:
….
ة ئا لا(
/
:
)
Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah. (Al-Maidah 5:3)
Adapun kelompok yang diperselisihkan kebolehannya untuk melakukan penyembelihan sangat banyak sekali, akan tetapi yang masyhur adalah sepuluh kelompok :53
1. Ahlul kitab
2. Majusi
3. Kaum saba‟
4. Wanita 5. Anak-anak 6. Orang gila 7. Orang mabuk
8. Yang melalaikan shalat 9. Pencuri
10.Perampok
Tentang ahlul kitab para ulama sepakat atas bolehnya memakan sembelihan mereka berdasarkan firman Allah yang berbunyi:
53
ة ئا لا(
/
:
)
Artinya : Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita-wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi. (Al-Maidah 5:5)
Namun mereka berbeda pendapat dalam memperinci masalah ini: para ulama telah sepakat, apabila mereka bukan kaum nasrani dan taghlib dan bukan pula orang-orang murtad, maka mereka boleh menyembelih untuk diri mereka sendiri. Telah dimaklumi bahwa mereka menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, dengan syarat sembelihannya bukan dari hewan yang diharamkan dalam taurat dan bukan pula yang mereka haramkan sendiri atas diri mereka, maka (sembelihan mereka) boleh dimakan keculi lemaknya.54
Sembelihan golongan sabi‟in, sekiranya pegangan dan dasar akidah mereka menyamai ahli kitab maka sembelihan mereka halal dimakan, sebaliknya jika aqidah mereka berbeda dari ahlul kitab tetapi bercampur aduk di antara agama majusi dan
nasrani maka sembelihan mereka tidak harus dimakan, ini adalah pendapat kalangan ulama Syafi‟i pendapat ini adalah lebih sesuai berbanding pendapat yang mengatakan ia
54
halal secara mutlak seperti pendapat Hanafi, dan yang mengatakan haram secara mutlak seperti pendapat ulama Maliki.55
C. Binatang Yang Disembelih
Sembelihan adalah syarat yang mengharuskan kita untuk memakan binatang darat yang halal dimakan. Sebagaimana telah dijelaskan, hewan tidak halal dimakan tanpa disembelih. Sebagaimana firman Allah:
(
/ ة ئا لا
:
)
Artinya : diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Maidah 5:3)
Dari sudut penyembelihan Menurut hukum syara‟ mempunyai tiga kategori:56 Binatang darat, binatang air, dan binatang dua alam (hidup di darat dan dalam air). Dan di antaranya ada yang halal dimakan tanpa disembelih, ada yang hanya halal dimakan dengan syarat disembelih, dan ada yang tidak halal dimakan walaupun disembelih.
55
Syed Ahmad, Fiqh Dan Perundangan Hukum Islam, h. 752.
56
1. Binatang Darat
Para ulama fikih sepakat bahwa hewan darat bila keadaanya maqdur „alaih (dapat dikuasai sembelih lehernya) dan hidupnya belum putus dan disembelih dengan penyembelihan syara maka halal dimakan.57 Binatang yang tidak mempunyai darah langsung seperti belalang, lalat, semut, lebah, laba-laba dan binatang-binatang yang berbisa. Semua binatang jenis binatang ini tidak halal dimakan kecuali belalang, karena semuanya termasuk dalam binatang yang kotor yang tidak sesuai dimakan. Dengan berlandaskan firman Allah :
……..
(
/ ة ئا لا
:
)
Artinya : Diharamkan Bangkai untuk kamu….. (Al-Maidah 5:3)
Ulama Maliki mensyaratkan apabila belalang itu halal dimakan maka perlu disembelih dengan apapun cara yang boleh mematikannya seperti menggaretkan anggotanya. Ulama Hanbali berkata, “Barang siapa yang memakan belalang dalam keadaan hidup adalah makruh karena perbuatan itu menyiksanya”.58
Binatang yang mempunyai darah mengalir, jika ia merupakan binatang jinak maka yang halal yaitu binatang ternak seperti unta, lembu dan kambing. Hal ini adalah pendapat ijma di kalangan para ulama, berdasarkan firman Allah:
(
لحنلا
/
:
)
Artinya : Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. (An-Nahl 16:5)
ن ؤ لا(
/
٤
:
٩٧
)
Artinya : Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. )Al Mu‟min 40:79)
57Abu Sari‟,
Hukum Makanan Dan Sebelihan Dalam Pendapat Islam, h. 317.
58
Ulama Syafi‟i mengharamkan burung kakak tua dan burung merak. karena daging
keduanya tidak baik, Beliau juga mengaharamkan daging belatuk dan juga burung yang memburu dan memakan burung-burung kecil. Adapun ulama Mazhab Hanbali mempunyai dua pendapat berkaitan dengan burung belatuk dan burung pemburu ini
dinaqalkan daripada Imam Ahmad: Pertama adalah halal, karena keduanya tidak mempunyai kuku yang mencengkam dan dagingnya tidak dikira buruk. Kedua hukumnya adalah haram, adapun yang menjadi dalil menunjukan keharamannya dengan peristiwa pada masa peperangan khaibar, Nabi telah melarang memakan semua binatang yang bertaring dan juga semua jenis burung yang berkuku tajam.59
2. Binatang Air
Dalam penyembelihan binatang air ini, ulama mempunyai dua pendapat tentang hukum memakannya.
a. Mazhab Hanafi
Semua jenis hewan yang hidup di dalam air adalah haram dimakan kecuali ikan saja. Ikan halal dimakan tanpa disembelih dengan syarat ikan tersebut tidak mati dengan sendirinya dan dalam kondisi terapung. Jadi apabila ikan tersebut mati tanpa disembelih serta dalam keadaan terapung maka tidak halal dimakan.60 Dalil yang mereka pegang diantaranya firman Allah Surat Al-Maidah 5:3:
……..
/ ة ئا لا(
:
)
Artinya : Diharamkan Bangkai untuk kamu….. )QS. Al-Maidah 5:3)
Juga firman Allah Surah Al-Araf :
…