• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Effect of Economic Structural Change on Employment Absorption in Indonesia, 1980-2019: An Input-Output Approach

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Effect of Economic Structural Change on Employment Absorption in Indonesia, 1980-2019: An Input-Output Approach"

Copied!
321
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

BAB l

PENDAHULUAN

lndonesia merupakan salah satu negara di Asia yang berhasil dalam pernbangunan ekonorni. Kondisi perekonomian yang dicapai sampai dengan pertengahan tahun 1990an sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi tahun 1960an. Meskipun pada awal tahun 1960an banyak ahli yang pesimis terhadap perkernbangan pertumbuhan ekonomi di lndonesia (lihat Higgins, 1968; Myrdal, 1969 dan Keyfitz, 1965) karena penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi negara ini berhasil membangun ekonomi dengan tingkat percepatan pertumbuhan yang cukup tinggi. Menurut Hill (1996), pemerintahan order baru telah berhasil merehabilitasi ekonomi, mengendalikan inflasi dan rnengurangi tingkat pertumbuhan penduduk. Hill juga menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1980an lndonesia telah berhasil memasuki tahapan industrialisasi lebih lanjut

(12)

Pergeseran struktur output dan ekspor yang lebih didominasi komoditi manufaktur mempengaruhi pula pembentukkan Produk Domestik Bruto (PDB) sektoral. Titik balik ekonomi (the economic tuming point) dari ekonomi agraris

menjadi ekonomi industri yang ditunjukkan dengan kontribusi masing-masing sektor pada pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) telah terjadi pada periode tahun delapan puluhan.

Proses industrialisasi di lndonesia juga terjadi karena dukungan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam. Menurut Manning (1995) lndonesia sebagai negara kaya dengan sumberdaya alam, pengalihan kebijakan industri dari substitusi impor ke orientasi ekspor dapat sedikit ditunda karena masih banyak komponen yang diperlukan untuk proses produksi belurn tersedia di dalam negeri. Kondisi ini mengakibatkan daya serap tenaga kerja diluar sektor pertanian rendah dan mengakibatkan tertundanya pencapaian titik balik tenaga ke j a (labor turning point).

1.1 Perubahan Struktur Ekonomi dan Tenaga Kerja

(13)

Tahun

[image:13.547.58.475.26.753.2]

/

--tPertanan (A) +ManufaMur (M) +.la=&

Gambar 1 : Struktur Ekonomi Indonesia, 1965-1993

Tampilan data pada Gambar 1 menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai kondisi titik balik dalam ekonomi pada tahun 1980 dimana kontribusi sektor pertanian dan sektor manufaktur

-

termasuk pertambangan, industri, listrik gas dan air, dan konstruksi mencapai kurang lebih 30 persen. Meskipun pada periode 1960-1967 terjadi stagnasi dalam perekonomian lndonesia yang ditandai dengan rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi, yaitu sebesar 2 persen, tetapi

rekonstruksi ekonomi pada periode selanjutnya (1967-1973) yang mengikut sertakan komitmen pada pembangunan dan peningkatan infrastruktur, telah

(14)

pernbangunan infrastruktur tersebut rnenunjukkan adanya perbaikan dan perkernbangan dalarn sektor konstruksi, pengangkutan dan perdagangan. Kondisi ini rnerupakan salah satu sasaran yang ditargetkan untuk dapat dicapai

pernerintah pada saat itu untuk rnendukung proses industrialisasi selanjutnya. Booth (1992) juga rnenyebutkan bahwa percepatan pertumbuhan

ekonomi pada periode setelah 1965 selain didukung oleh hasil pertarnbangan rninyak burni juga berkaitan erat dengan kemampuan untuk rnenarik bantuan-

bantuan, dana dan investasi asing kedalarn negeri yang selanjutnya menyebabkan terjadinya pergeseran struktur. Perubahan ini dipengaruhi juga oleh tingginya tingkat penerimaan devisa dari ekspor rninyak yang secara langsung akan mengakumulasikan surnber-surnber dana lain untuk kegiatan

proyek-proyek pernbangunan. Tetapi haws diingat bahwa dengan

mernasukkannya rninyak dalarn pernbentukan Produk Domestik Bruto (PDB), kondisinya sangat dipengaruhi oleh harga jual di luar negeri. Jadi meskipun minyak rnenyurnbangkan hasil besar pada pergeseran struktur, perlu dilihat pula secara terpisah pernbentukan PDB tanpa sektor pertambangan rninyak seperti disajikan pada Garnbar 2. Dari Gambar tersebut tampak bahwa pergeseran struktur ekonorni di lndonesia rnencapai titik balik pada tahun 1986, yaitu pada saat kontribusi sektor pertartian dan sektor manufaktur rnencapai kurang lebih 27 persen dalarn pernbentukan PDB. Hill (1994) berpendapat bahwa keberhasilan transformasi ekonorni tersebut diatas didukung dengan berbagai rnacam i n t e ~ e n s i pernerintah, yang antara lain sejak tahun delapan puluhan lndonesia

(15)

-

-

-

Tahun

/+pertmian (A) +ManufaMur (M) +Jasa-jam (S)

I

Garnbar 2 : Struktur Ekonorni Indonesia tanpa Sektor Pertambangan, 1965-1 993

Perubahan struktur penyerapan tenaga kerja merupakan penjelasan lebih lanjut dari eksistensi perubahan struktural dalam ekonomi. Hill (1996) berpendapat bahwa perubahan distribusi penyerapan tenaga kerja sektoral

(16)

1971 1980 1985 1990 1995 Tahun

[image:16.545.50.472.29.727.2]

I

t.Pertanian (A) +Manufactur (M) *Jam (S)

I

Gambar 3 : St~ktur Penyerapan Tenaga Keja Indonesia, 1971-1995

bekerja pada tahun 1971, dan dalam perkembangannya selama 25 tahun menjadi kurang lebih hanya 44 persen pada tahun 1995. Sementara itu, peranan sektor manufaktur sebagai penyedia lapangan keja menunjukkan peningkatan lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama, yaitu dari kurang lebih 9 persen pada tahun 1971 menjadi sekitar 18 persen pada tahun 1995; dan peranan sektor jasa menunjukkan peningkatan yaitu dari 25 persen pada tahun 1971 menjadi 38 persen pada tahun 1995.

(17)

tinggi. Pada saat sektor peltanian masih mendorninasi aktivitas masyarakat, tentu

saja jenis okupasi yang dibutuhkan pada saat itu adalah sebagai petani dan okupasi lain yang berkaitan secara langsung rnaupun tidak langsung dengan kegiatan di sektor pertanian. Dengan dernikian tingkat pendidikan tenaga kerja pada okupasi tersebut relatif rendah mengingat pekerjaan di sektor pertanian umumnya memerlukan ketrampilan yang relatif rendah.

Berdasarkan uraian diatas jelas terlihat bahwa terjadi perubahan struktur yang ditunjukkan dengan (1) perubahan peranan sektor dalam pembentukan PDB; (2) perubahan konsentrasi perdagangan dari ekspor minyak burni kepada ekspor produk non-rninyak; (3) perubahan (meskipun kecil) penyerapan tenaga kerja sektoral menurut okupasi.

1.2

Perumusan Masalah

Seperti diuraikan terdahulu, perkembangan ekonomi Indonesia yang ditunjukkan dengan peningkatan PDB dan yang telah berhasil menyebabkan pergeseran stuktur ekonomi sektoral, belum sepenuhnya diimbangi dengan pergeseran struktur penyerapan tenaga kerja. Dalarn ha[ ini laju pergeseran ekonomi sektoral relatif lebih cepat dibandingkan dengan laju pergeseran penyerapan tenaga kerja, sehingga titik balik ekonomi tercapai lebih dulu

dibandingkan dengan titik balik penyerapan tenaga kerja.

Selanjutnya, dalam perubahan struktur ekonomi belum semua sektor yang mengalami transfonnasi dapat menyerap tenaga kerja. Akibatnya rnasih terjadi pengangguran yang relatif tinggi. Selain itu, ada ketidak sesuaian okupasi dan

(18)

secara keseluruhan. Disatu pihak, kondisi ini mengakibatkan pengangguran

tenaga kerja dengan pendidikan tertentu, tetapi dilain pihak juga menyebabkan terjadinya kekurangan tenaga kerja dengan pendidikan yang lain untuk okupasi tertentu.

Keberhasilan ekonomi lndonesia yang diukur dengan perubahan struktur menuju negara industrialisasi juga didukung dengan perubahan komposisi

ekspor. Pertanyaan mendasar adalah apakah aktivitas perdagangan international menentukan perubahan struktur ekonomi dan tenaga kerja?.

Dengan memacu peningkatan ekpor komoditi rnanufaktur yang sifatnya

menyerap banyak tenaga kerja akan menghasilkan peningkatan output nasional yang disertai dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Jadi, dalam era industrialisasi ini, sektor-sektor ekonomi mana yang menghasilkan pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja tinggi?.

Pergeseran penggunaan teknologi dalam ekonomi akan menentukan tingkat output dan permintaan akhir yang selanjutnya mernpengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja di masing-masing sektor. Jadi, sampai seberapa jauh dampak perubahan teknologi terhadap total output, permintaan akhir, dan penyerapan tenaga kerja menurut okupasi?.

Perubahan struktur ekonomi lndonesia memiliki irnplikasi luas pada penyerapan tenaga kerja, meskipun penyerapan tenaga kerja di sektor non- pertanian yang mengalami transformasi relatif tinggi, belum dapat menyerap pencari kerja secara keseluruhan. Jadi, percepatan pertumbuhan sektor tidak dibarengi dengan percepatan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja.

(19)

diadakan suatu analisis khusus mengenai perubahan struktur ekonomi dan dampaknya pada struktur tenaga keja. Dengan demikian, melalui analisis khusus tersebut, diharapkan kualitas sektor ketenagakejaan dapat dilihat dan dianalisis dari sisi perubahan perspektif ekonomi dan arah pertumbuhan produktivitas serta pola penintaan tenaga ke janya.

Berdasarkan uraian tersebut diatas tampak bahwa keadaan ekonomi

lndonesia masih diwamai dengan kepincangan perubahan struktur dan lemahnya daya serap tenaga keja di luar sektor pertanian meskipun mengalami pertumbuhan yang tinggi. Sebagaimana diketahui biasanya perubahan struktur ekonomi dan tenaga keja tejadi secara serentak dan seimbang, namun kenyataan yang dialami ekonomi lndonesia tidak demikian. Ketidak sesuaian ini menjadi dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah membangun model inter-industri ekonomi dan dekomposisinya, serta model tenaga keja yang digunakan untuk menganalisis dampak perubahan s t ~ k t u r ekonomi terhadap struktur penyerapan tenaga keja di lndonesia periode 1980 sampai 1993. Selain itu, membangun model proyeksi ekonomi dan tenaga keja untuk menganalisis dampak altematif kebijakan terhadap struktur ekonomi dan struktur penyerapan tenaga keja sampai tahun 2019 dengan menggunakan pendekatan Input-Output.

Secara rinci, tujuan penelitian ini adalah :

(20)

untuk menganalisis perubahan total output dan permintaan akhir sebagai dampak pertumbuhan, perubahan teknologi, dan perubahan industry-mix.

2. Membangun model tenaga kerja yang digunakan untuk mengukur penyerapan tenaga kerja menurut sektor, okupasi dan pendidikan sebagai

akibat perubahan struktur ekonomi periode 1980 sampai 1993.

3. Membangun model proyeksi ekonomi dan tenaga kerja untuk mengukur

kondisi ekonomi dan tenaga kerja dimasa yang akan datang.

4. Menganalisis dampak perubahan struktur ekonomi (industry-mix) terhadap perubahan struktur output sektoral, struktur permintaan akhir, struktur input. output multiplier dan peranan sektor penyedia input-antara; dan dekornposisinya serta menganalisis sumber-sumber pertumbuhan sektoral. 5. Menganalisis dampak perubahan struktur ekonomi terhadap struktur

penyerapan tenaga kerja sebagai akibat perubahan struktur produksi. perubahan daya serap sektoral dan produktivitas tenaga kerja; dan menganalisis faktor-faktor penyebab kelambatan pergeseran struktur tenaga kerja periode 1980-1 993.

6. Menganalisis dampak alternatif kebijakan terhadap perubahan struktur ekonomi dan struktur penyerapan tenaga kerja sampai tahun 2019.

1.4

Struktur

Disertasi

Penelitian untuk disertasi ini disajikan dalam tujuh Bab. Setelah pendahuluan yang dimuat pada Bab I, disajikan tinjauan pustaka pada Bab II,

(21)

sumber pertumbuhan dan dekomposisi struktural. Pada Bab II disajikan tiga model analisis dekomposisi dengan Input-Output, asumsi yang digunakan, kebaikan dan kelemahan model. Kemudian disajikan konsep penciptaan kesempatan kerja sektoral berdasarkan pendekatan Input-Output; dan Bab ini diakhiri dengan uraian singkat struktur penyerapan tenaga kerja.

Pada Bab Ill mengenai metodologi, disajikan kerangka pemikiran

penelitian yang menggambarkan secara komprehensif pendekatan penelitian. Pada bagian kedua dimuat model analisis ekonomi yang mencakup pengukuran sumber-sumber pertumbuhan dan dekomposisi struktural yang merupakan pengembangan dari model yang digunakan Chenery. Kemudian disajikan model pengukuran penyerapan tenaga kerja menurut sektor, okupasi dan pendidikan; model proyeksi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja (terrnasuk model proyeksi penediaan tenaga kerja). Pada Bab Ill disajikan pula data dan klasifikasi yang

digunakan untuk pelaksanaan empiris penelitian.

Bab IV merupakan analisis ekonomi dengan model Input-Output yang dibangun untuk penelitian ini. Pada Bab ini disajikan bagaimana struktur ekonomi Indonesia berubah pada tahun 1980-1993. Perubahan ini mencakup perubahan

(22)

dampak. Dianalisis, dekomposisi dampak total perubahan struktur ekonomi

terhadap permintaan akhir dan total output.

Bab V mengenai perubahan struktur penyerapan tenaga kerja yang mencakup perubahan struktur sektoral tenaga kerja, keterkaitan tenaga keja, penciptaan kesernpatan kerja langsung dan tak langsung, dan struktur penyerapan tenaga kerja menurut okupasi dan pendidikan.

Bab VI mengenai proyeksi struktur ekonomi dan tenaga kerja sampai tahun 2019 yang mencakup proyeksi : struktur total output, struktur permintaan akhir, struktur okupasi

-

sektoral tenaga keja, struktur persediaan tenaga keja, dan proyeksi kesenjangan kebutuhan dan persediaan tenaga kerja yang disajikan berdasarkan simulasi tiga skenario.
(23)

BAB 11

TINJAUAN

PUSTAKA

Studi pustaka ini ditujukan untuk mengkaji ulang: (1) perubahan struktur ekonomi; (2) sumber pertumbuhan; (3) tradisi pengukuran perubahan struktur ekonomi, dan (4) kaitan struktur ekonomi dengan tenaga kerja.

2.1 Perubahan Struktur Ekonomi

Perubahan struktur atau transformasi ekonomi dari tradisional menjadi modern secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam ekonomi yang berkaitan dengan komposisi permintaan, perdagangan, produksi dan faktor-faktor lain yang diperlukan secara terus menerus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan sosial melalui peningkatan pendapatan perkapita. Definisi tersebut dinyatakan oleh Chenery (1960 & 1964), Chenery, Robinson dan Syrquin (1986). Chenery dan Syrquin (1975), Chenery dan Tailor (1968), dan Chenery dan Wanatabe (1958).

(24)

struktural dalam perekonomian adalah untuk dapat menjelaskan sampai seberapa jauh perubahan struktur PNB menyebabkan peningkatan pendapatan perkapita, dan bagaimana perubahan struktur total output karena pengaruh perubahan struktur PNB dan perubahan teknologi produksi.

Kajian para ahli ekonomi terhadap perubahan struktur mengungkapkan

tahap-tahap penting dari perubahan tersebut. Para ahli ekonomi berulang kali menekankan arti pentingnya peranan sektor-sektor. Pengukuran pertumbuhan

ekonomi oleh Kuznets (1966) misalnya, memberikan sumbangan yang sama

besar terhadap pemahaman akan perubahan-perubahan tersebut. Pandangan Kuznets menunjukkan bahwa untuk mengukur kegiatan ekonomi dapat dilaksanakan dengan menggunakan kerangka perhitungan nasional (national

accounts) dengan penjabaran masing-masing komponen pendapatan nasional. Pengukuran yang dilakukan oleh Chenery eta1 (1986) menyajikan beberapa pola

pertumbuhan dan pembangunan yang lebih sistematis. Syrquin (1988) dalam tulisannya menyebutkan bahwa perubahan komposisi struktur produksi sektoral. jurnlah dan ragam sektor yang membentuk ekonomi nasional merupakan indikasi

paling tepat untuk menunjukkan adanya transformasi struktural. Berkaitan dengan pertumbuhan pendapatan nasional, perubahan positif kekuatan permintaan, perdagangan dan penggunaan faktor-faktor produksi akan mempengaruhi struktur produksi sektoral. lnteraksi faktor-faktor tersebut akan rnempengaruhi produktivitas ekonomi.

(25)

struktural yang terjadi pada tahap ini ditandai dengan keunggulan kegiatan primer (pertanian) sebagai sumber utama peningkatan output. Produksi primer biasanya tumbuh dengan lambat karena sangat tergantung siklus rnusirn dan hanya

memberikan kontribusi kecil pada pendapatan perkapita. Dari segi penawaran, tahap pertama ini ditandai oleh suatu tingkat akumulasi kapital yang rendah, pertumbuhan angkatan kerja yang cepat, dan pertumbuhan produktivitas total yang sangat rendah.

Pada tahap kedua, tahap industrialisasi, pendapatan per kapita bergerak antara US $600

- US

$3 000 (nilai tahun 1976). Tahap transformasi ini ditandai dengan pergeseran konsentrasi ekonomi dari produksi primer dan menuju industri. Jadi, peranan sektor industri sangat penting pada pertumbuhan ekonomi. Dari segi penawaran, peranan akumulasi kapital sangat tinggi karena tingkat investasi untuk menghasilkan produksi sektoral rneningkat dengan pesat.

Tahap ketiga, ekonomi berkernbang, terjadi pada tingkat pendapatan perkapita bergerak diatas US $2 100 (nilai tahun 1976). Dari sisi permintaan, elastisitas pendapatan terhadap barang-barang industri rnenurun yang rnengakibatkan perrnintaan domestik juga menurun. Meskipun kecenderungan ini diimbangi dengan perturnbuhan ekspor yang terus menerus rneningkat, tetapi sumbangan industri pada pernbentukan GDP dan penyerapan tenaga kerja relatif menurun. Dari segi penawaran. perbedaan utama tahap kedua dan ketiga ditandai dengan penurunan kombinasi peranan faktor input (terutarna sumberdaya manusia) karena lambatnya perturnbuhan penduduk dan angkatan kerja.

(26)

peranan (shait?) sektor pertanian menurun dan sektor industri meningkat umumnya terjadi pada saat pendapatan per kapita rnencapai rata-rata US $500

-

$600 pertahun (nilai tahun 1976). Dengan rnengacu pada studi Chenery (1979), diperkirakan bahwa penurunan jurnlah tenaga kerja yang berpendidikan sekolah dasar yang diikuti dengan kenaikan jumlah tenaga kerja yang berpendidikan menengah dan tinggi akan terjadi pada tahap kedua. Saat tersebut dinamakan

"titik balik (turning poinf) dalarn pengembangan tenaga keja. Peralihan dan re- alokasi tenaga keja dari sektor pertanian ke sektor industri dapat berjalan dengan baik dan tidak menganggu proses pernbangunan yang sedang berjalan apabila kebijaksanaan ekonorni rnarnpu mengantisipasinya lebih dini. Menurut Timmer (19881, periode ini disebut sebagai Johnson Environment karena

Johnson menganggap pada periode tersebut terjadi arus pergeseran investasi dari tabungan pedesaan ke investasi dikota sejalan dengan proses transfer pendapatan.

Pada penelitian ini kondisi titik balik ekonorni terjadi apabila sektor

(27)

2.2

Sumber-sumber Pertumbuhan dan

Dekomposisi Struktural

2.2.1 Sumber-Sumber Perturnbuhan

Dalam menganalisis pembahan struktur ekonomi faktor-faktor yang menjadi sumber pertumbuhan juga hams diketahui karena mempengaruhi kondisi transforrnasi. Dalam tulisannya "The Take-off into Self-sustained Growth", Rostow

(1956) mengemukakan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian dapat dibagi menjadi 3 kategori : (i) primary growth sectors (ii) supplementary growth sectors;

dan (iii) derived growth sectors. Eksistensi the primary growth sectors menunjukkan pembahan dari sisi supply karena adanya inovasi tertentu.

peningkatan kompetisi dalam pasar ekspor atau pengembangan sumberdaya alam. Supplementary growth sectors adalah sektor yang berkembang karena berperan sebagai sektor sumber input dari primary growth sectors atau karen,a

adanya ekternal ekonomis seperti berkurangnya biaya produksi atau meningkatnya kualitas produksi. Sedangkan derived growth sectors terjadi

karena peningkatan total pendapatan.

Kerangka pemikiran Rostow ini telah digunakan oleh Chenery et.al (1962)

untuk menganalisis pola pertumbuhan ekonomi Jepang pada tahun 1914-1954. Studi Chenery ini pada dasarnya mengacu pada pendapat Rostow dimana perubahan autonomous sektor primer dapat didorong oleh tiga kekuatan sumber

(28)

Dalam ha1 ini, Chenery eta1 telah menyumbangkan suatu pemikiran yang sangat penting untuk analisis ekonomi yaitu bahwa ia telah berhasil mengaplikasikan teori pertumbuhan Rostow. Meskipun demikian ada perbedaan mendasar antara teori Rostow dan pendapat Chenery. Rostow berupaya

mendefinisikan sumber-sumber pertumbuhan sebagai perubahan absolut tiap- tiap sektor, sedangkan Chenery mendefinisikan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi sebagai nilai deviasi pertumbuhan proporsional setiap sektor.

Selain itu, berkaitan dengan tenaga kerja, Wolff dan Howell (1989) menyebutkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi selain dipengaruhi oleh tiga aspek penting yaitu : (t) perubahan teknologi disetiap sektor, (2) perubahan matriks kebalikan Leontief, dan (3) perubahan komposisi sektoral pada perrnintaan akhir; juga dipengaruhi oleh aspek ke (4) yaitu perubahan komposisi ketrampilan atau kualitas tenaga kerja dalam produksi.

Pada penelitian ini digunakan pemikiran yang telah dikembangkan Chenery untuk menganalisis sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode studi. Sedangkan untuk analisis tenaga kerja dikernbangkan pernikiran Wolff dan Howell dengan modifikasi untuk implementasi empiris.

2.2.2 Dekom~osisi Struktural

Ada dua model dasar yang biasanya digunakan untuk menyusun model perubahan struktur ekonomi. Pertama, menggunakan pendekatan Input-Output dari Leontief (1951), dan lainnya adalah aplikasi pendekatan keseimbangan umum (general equilibrium) yang dikemukakan pertama kali oleh Johansen

(29)

ekplisit dalam pendekatan keseimbangan urnurn telah memasukkan unsur harga. Sistem Input-Output yang dikemukakan Leontief menjabarkan hubungan antar

sektor ekonomi, sedangkan pendekatan keseimbangan umum menambahkan unsur permintaan dan fungsi produksi yang tergantung pada harga relatif.

Meskipun dengan mengikut sertakan faktor harga pada pendekatan keseimbangan umum, yang secara langsung mencerminkan bahwa pendekatan

ini lebih disukai dan lebih bermanfaat apabila digunakan sebagai analisis kebijakan, tetapi pendekatan ini lebih mensyaratkan tersedianya data dengan

lengkap, dimana dalam implementasi penggunaannya tentu saja akan menimbulkan banyak kesulitan. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa penyusunan model berdasarkan time series dengan pendekatan keseimbangan umurn akan mengalami kesulitan karena biasanya data harga dan stok kapital sangat sufit diperoleh atau bahkan tidak tersedia.

Seperti telah dikemukakan terdahulu, sistem Input-Output pertarna kali digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi Amerika oleh Leontief et.al (1953). Permasalahan utama yang ditemukan dalam studi tersebut adalah bahwa dampak perubahan koefisien input dalam struktur produksi, penggunaan tenaga keja dengan perdagangan eksternal dan permintaan domestik antara tahun 1919 dan 1939 dianggap konstan. Sejak saat itu, metode dasar sistem

(30)

perubahan teknologi. Model Input-Output yang dimodifikasi ini kemudian digunakan Chenery eta1 (1962) untuk menganalisis proses industrialisasi di

Jepang tahun 1914-1954. Pada periode tersebut perekonomian Jepang telah mengalami transformasi dari ekonomi negara terbelakang menjadi ekonomi negara maju. Kesimpulan penting dari studi tersebut menunjukkan bahwa hampir 25 persen dari peningkatan kemampuan sektor memproduksi output disebabkan karena peningkatan ekspor dan perubahan permintaan domestik. Sementara itu tiga perempat sisanya, ternyata dipengaruhi oleh perubahan supply, termasuk aktivitas manufaktur domestik untuk substitusi impor dan produk-produk primer.

Aplikasi penting lainnya dari sistem Input-Output untuk menganalisis perubahan struktural adalah dari Carter (1970) dengan judul "Stmctural Change in American Economy". Dasar pemikiran Carter dalam menganalisis perubahan

struktur ekonomi adalah memperhatikan faktor input antara dan faktor-faktor primer yang digunakan dalam proses produksi. Carter rnenganalisis perubahan

(31)

karena perubahan teknologi produksi. Dalam studinya. Carter memberikan dua kontribusi penting pada kerangka analisis perubahan struktural dengan menggunakan sistem Input-Output. Pertama, bahwa dengan menggunakan

matriks Input-Output sektoral dapat dilaksanakan pengamatan dan analisis untuk melihat perubahan struktur yang terjadi diberbagai sektor. Dalam ha1 ini eksistensi struktur baru suatu sektor tergantung pada pembaruan yang diperkenalkan oleh sektor lain. Kebaikan atau keburukan struktur baru suatu sektor tergantung pada jumlah tenaga kerja dibutuhkan oleh sektor bersangkutan.

Kontribusi kedua yang penting dari studi Carter ini adalah bahwa dia secara tidak langsung telah memperkenalkan elemen dinamis dari peranan investasi untuk mendukung perubahan teknologi yang digunakan. Pada model Input-Output yang dibangun Carter, tingkat perubahan struktural masing-masing sektor dijelaskan dengan mengidentifikasi perubahan relatif teknologi lama dan baru. Struktur setiap sektor dijabarkan dalam dua strata yaitu: (1) strata baru atau "best practice" dimana ditunjukkan dengan koefisien-koefisien jenis teknologi baru yang digunakan dalam kapasitas baru; (2) strata lama yang

merupakan bagian dari teknologi lama yang masih digunakan sejalan dengan teknologi baru tadi. Keseluruhan perubahan struktural ini diasumsikan sebagai "faktor penambah", artinya suatu sektor dapat meningkatkan peranan atau aktivitas suatu teknologi baru atau lama hanya dengan menginvestasikan barang-barang kapital baru, yaitu tambahan kapital pada kapasitas terpasang.

(32)

tersebut betul-betul telah diakui. Total penggunaan investasi baru untuk seluruh aktivitas ekonomi suatu negara di spesifikasikan untuk suatu periode tertentu, dan penggunaannya secara optimal dengan teknologi baru atau lama di setiap

sektor ditentukan dengan menggunakan tehnik linearprograrnming.

Akhir-akhir ini, metode yang dibangun Chenery, menjadi terkenal untuk analisis Input-Output dekomposisi struktural. Metode Chenery ini secara berturut- turut digunakan oleh Jiri Skolka (1989). Osrno Forssell (1990) dan Shujiro Urata (1990) untuk rnenganalisis perubahan struktur ekonomi di Austria, Finish (Finlandia), dan Uni-Soviet. Meskipun banyak indikasi dari perubahan struktural yang diciptakan oleh para ahli dan peneliti, tetapi secara umurn tidak ada perubahan yang berarti pada kerangka dasar metode analisis Input-Output. Dalam implementasi empiris, dekomposisi struktural ini biasanya digunakan untuk menganalisis ekonorni nasional atau daerah tertentu.

Metode yang dibangun oleh Chenery, juga banyak digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi di lndonesia antara lain oleh Dasril (1993), Fujita dan James (1995), Stavenuiter (1987), dan Van Der Heide (1982, 1989). Ada dua studi : Anwar (1992) dan Paauw (1992), yang juga menganalisis perubahan struktur ekonorni dan tenaga kerja di Indonesia, tetapi studi-studi ini tidak menggunakan pendekatan model Input-Output.

Perhatian utama Dasril (1993) dalarn studinya adalah pada analisis proses perturnbuhan dan perubahan struktur produksi sektor pertanian dalarn

(33)

Dasril menganalisis perubahan struktur produksi pertanian pada dua periode kebijakan yaitu (1) tahun 1971-80 pada saat periode kebijakan substitusi impor

dimana perturnbuhan ekonomi Indonesia adalah tinggi; dan (2) tahun 1985-90 pada saat aktivitas ekspor dikembangkan, perturnbuhan ekonomi adalah rendah, tetapi disertai dengan perturnbuhan sektor pertanian yang relatif stabil.

Studi konsentrasi bidang ketenagakerjaan dengan menggunakan pendekatan Input-Output di Indonesia, pertama kali dilaksanakan oleh Van Der Heide (1982) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Stavenuiter (1987). Dalarn studinya, Van Der Heide hanya rnenganalisis efektivitas penciptaan kesempatan kerja karena pengeluaran pernerintah (government expenditure). Van Der Heide

rnenggunakan data Input-Output 1971 dan 1975, dan memproyeksikannya untuk tahun 1982-1985 untuk melihat pola penyerapan tenaga kerja. Menurut Van Der Heide peningkatan penciptaan kesempatan kerja pada sektor-sektor kunci diluar

sektor pertanian pada periode studi relatif kecil dibandingkan dengan total seluruh kesempatan kerja di Indonesia.

(34)

Studi paling akhir dalam bidang ketenagakerjaan dengan menggunakan pendekatan Input-Output dilaksanakan oleh Fujita dan James (1995). Konsentrasi studi mereka adalah pada analisis perubahan struktur tenaga kerja antara tahun 1980-1990 dengan fokus pada peranan ekpor sektor manufaktur terhadap penciptaan kesempatan kerja secara umum. Data yang digunakan bersumber dari tabel Input-Output tahun 1980

-

1990.

Studi Anwar (1992) menggunakan data Sensus Penduduk 1980

-

1990

dan SUPAS 1985 untuk analisis tenaga kerja, dan data PDB tahunan dari Biro Pusat Statistik. Anwar mengemukakan bahwa terjadi transformasi tenaga kerja

menurut lapangan usaha. jenis dan status pekerjaan di Indonesia. Analisis yang dilakukan Anwar didasarkan pada kecenderungan seri data tenaga kerja dan PDB periode 1980-1990.

Studi Paauw (1992) juga menggunakan data Sensus Penduduk tahun 1971-1990 dan SVPAS 1985 untuk analisis tenaga kerja dan data PDB sebagai "proxy output dari ekonomi untuk periode tahun yang sama. Paauw

mengemukakan terjadi realokaksi tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor

non-pertanian selama periode 1971-1990. Dalam analisisnya Paauw

menggunakan model perpindahan tenaga kerja dari Fei dan Ranis (1964). Model tersebut menganalisis bahwa pada tahap pertama transformasi terjadi perpindahan tenaga kerja dari pekerjaan dengan produktivitas rendah di sektor pertanian ke sektor dengan pekerjaan yang sifatnya marginal (seperti tukang becak dan pengelola warung) di luar sektor pertanian, dan pada tahap selanjutnya apabila ada kesempatan akan pindah lagi ke jenis pekerjaan yang

(35)

Meskipun telah banyak peneliti melaksanakan studi perubahan struktur ekonomi dan tenaga keja dengan menggunakan model Input-Output, tetapi studi tersebut tidak secara spesifik mengembangkan metode sebagai dasar analisis dekomposisi perubahan struktur ekonomi. Selain itu, untuk implementasi di Indonesia, studi perubahan struktur ekonomi dilaksanakan secara parsial dan terpisah dengan studi ketenagakejaan. Analisis studi ketenagakejaan yang telah dilaksanakan tidak membahas tenaga keja menurut okupasi dan pendidikannya. Jadi, sepanjang pengetahuan penulis, untuk implementasi di Indonesia, hingga saat ini belum ada studi komprehensif mengenai perubahan struktur ekonomi dengan pendekatan Input-Output yang dikaitkan dengan perubahan struktur tenaga kerja menurut okupasi dan pendidikan. Penelitian ini berupaya menyatukan analisis ekonomi dan tenaga kerja dalam kerangka pemikiran menyeluruh dan menjabarkan struktur penyerapan tenaga keja menurut okupasi dan pendidikan.

2.3

Kerangka Dasar dan

Tiga Model Analisis Struktur Input-Output

(36)

Chenery dan Clark (1959); Miernyk (1965): Miller dan Blair (1985); Miller, Polenske dan Rose (1989); dan juga Leontief (1951) yang menggunakan Input- Output memberikan suatu ulasan komprehensif. Berikut ini disajikan kerangka

kerja Input-Output dan perancangan model analisis perubahan struktur ekonomi.

2.3.1 Keranaka Dasar In~ut-Output

Konsep dasar model Input-Output, yang dirnuat dalam Miller dan Blair (1985), pertama kali dikemukakan oleh seorang ekonom Perancis bemama Francois Quesnay pada tahun 1758. Quesnay memperkenalkan Tableau

Economique yang menggambarkan pendekatan pengeluaran dalam suatu perekonomian dengan cara sistematis. Seabad kemudian Leon Walras (1874) rnemperkenalkan pendekatan general equilibrium dalam ekonorni. Walras menggunakan koefisien produksi untuk rnenjefaskan kuantitas faktor produksi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit komoditi tertentu. Dalam karya selanjutnya, Quesnay mengganti observasi aktivitas perputaran produksi dalam bentuk tabel, yang dalarn perkembangan selanjutnya disebut sebagi "transaction

table". Model Leontief (1951) merupakan pengembangan dari tabel transaksi Quesnay dan model Walrasian yang digunakan untuk mendiskripsikan struktur ekonorni Amerika tahun 1939. Dalam perkernbangannya tabel transaksi tersebut merupakan dasar analisis Input-Output ekonomi yang dikenal sampai saat ini.

Menurut Bulmer-Thomas (1982), model Input-Output pada dasarnya menggarnbarkan suatu keseimbangan umum secara ernpiris pada sisi produksi. Penekanan pada sisi produksi ini penting karena model Input-Output

[image:36.545.42.484.26.732.2]
(37)

investasi swasta, sektor pemerintah, ekspor dan impor') sebagai variabel eksogen.

Ada tiga asumsi pokok yang menjadi dasar model Input-Output, yaitu :

1) Keseragaman (homogenity). Setiap sektor hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa yang homogen dengan struktur input tunggal. Artinya, tidak ada produksi ganda yang menunjukkan adanya substitusi output antar sektor. 2) Kesebandingan (proportionality/linearity). Setiap kenaikan penggunaan input

selalu berbanding lurus (proporsional) dengan kenaikan outputnya. Asumsi ini menggambarkan fungsi produksi Leontief, yang mencerminkan tidak adanya

substitusi antar faktor produksi (elastisitas substitusi u adalah "nol"

,

sehingga koefisien input ai, selalu tetap).

3) Penjumlahan (additivity), yaitu efek total dari kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek masing-masing kegiatan.

Miller dan Blair (1985) menyebutkan bahwa model Input-Output yang dikembangkan oleh Leontief yang dikenal saat ini memiliki tiga struktur dasar, yaitu tabel transaksi antar sektor (kuadran I), sejumlah kolom tarnbahah permintaan akhir (kuadran II) dan sejumlah baris tambahan untuk nilai tambah (kuadran Ill). Tabel transaksi antar sektor menggambarkan distribusi output yang diproduksi pada sisi baris dan menggambarkan distribusi input bagi tiap sektor produksi pada sisi kolom. Dengan demikian tabel transaksi antar industri hanya menggambarkan sektor-sektor yang saling berhubungan dalam masalah produksi untuk suatu kurun waktu tertentu. Dilain pihak, barang-barang yang

--

i

Pada model Input-Output dengan impor kompetitif, maka sektor impor berada pada sisi permintaan akhir.

(38)

dikelompokkan kedalam permintaan akhir merupakan barang-barang yang lebih bersifat eksogen bagi sektor industri. Mereka merupakan barang-barang yang diminta oleh konsumen akhir dalam ekonomi yaitu: rumah tangga, pemerintah dan pihak luar negeri. Permintaan atas barang ini tidak ditentukan oleh jumlah barang yang diproduksi ekonomi dan bukan pula input dalam proses industri. Bagian baris tambahan dalam model Input-Output yang dikenal sebagai nilai tambah (value added) rnerupakan input yang tidak diproduksi oleh sektor-sektor ekonomi. Yang termasuk nilai tambah adalah jasa faktor produksi yaitu upah, sewa, bunga dan keuntungan pemilik modal.

Seluruh data Input-Output dicatat berdasarkan satuan moneter dan merupakan nilai tambah pada masing-masing sektor produksi. Menurut Bulmer- Thomas (1982), formulasi Leontief yang asli menggarnbarkan s e l u ~ h keterkaitan produksi dalam model Input-Output dalam besaran fisik, akan tetapi ukuran fisik ini sulit untuk digunakan sebagai perbandingan antar sektor, oleh sebab itu digunakan satuan moneter. Tabel 1 menyajikan kerangka Tabel Input-Output sederhana. Pada Tabel 1, XI* rnerupakan output sektor 1 yang digunakan sebagai input antara oleh sektor 2, dan F, adalah output sektor 1 yang rnenjadi

bagian dari permintaan akhir untuk sektor rumah tangga (H), pemerintah (G) dan ekspor (E). Jadi baris 1 menggarnbarkan distribusi total output sektor 1 sebesar

X, ke sektor-sektor produksi dan permintaan akhir sebesar

F,.

Angka-angka sepanjang kolom rnenunjukkan susunan input masing-masing sektor produksi. Susunan input j terdiri dari X f i (i = 1,2,3) dan input primer V I .
(39)

dan persarnaan yang rnenyatakan susunan input untuk sektor adalah

Tabel 1 : Kerangka Tabel Input-Output Sederhana

Catatan :

Input sektor j yang berasal dari produksi sektor i Nilai produksi sektor j = Xi

Nilai tambah sektorj

Permintaan akhir produksi sektor i untuk sektor i (H, G & X ) lmpor produksi i

Household (sektor rumah tanggalswasta) Government (sektor pemerintah)

Expor lmpor

Berdasarkan Tabel input-Output dapat diturunkan persamaan yang

menunjukkan hubungan transaksi atau alokasi penggunaan output setiap

[image:39.542.46.502.26.613.2]
(40)

di rnana :

X, = input antara sektor j yang berasal dari output sektor i = perrnintaan akhir terhadap output sektor i

xi

= jurnlah output sektor i

Mi = irnpor sektor i

Bagian kiri dari persarnaan diatas menunjukkan banyaknya permintaan

dan pada sisi kanan rnenunjukkan banyaknya persediaan. Apabila angka-angka

dibaca rnenurut kolom, khususnya pada transaksi antara, rnaka angka pada

kolom (sektor) tertentu rnenunjukkan berbagai input yang diperlukan dalarn

proses produksi pada sektor tersebut.

Jika setiap transaksi x,, masing-masing dibagi outputnya diperoleh koefisien

input antara (notasi a, ) diperoleh dengan rumus :

a,. = x../ X.

I I I atau x.. I = a..X. g I

dimana,

ai = input koefisien produk sektor i yang digunakan oleh sektor j. xi = jurnlah output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor

J.

I = sektor yang rnenghasilkan output; i = 7,

2,

....,

n

f = sektor yang rnernerlukan input; j = 7, 2,

...,

n

Koefisien ai. ini juga menunjukkan tingkat teknologi yang digunakan proses

produksi pada suatu saat tertentu. Dengan rnensubstitusi xi pada persamaan

(41)

untuk i = j, persamaan diatas dapat diubah kedalam bentuk persamaan

matriks :

AX

+

F = X

+

M, dimana :

a a

.

a . a,, X 1 f I M I

a2, aZ2

...

aa

...

aZn X2 f2 M2

A = : X = : F = : M = :

air

a,

...

a,

...

a, Xi

6

M;

a n l a , ? . . . a,.... a, X, F a nlS,

AX

+

F = X

+

M dapat diubah lebih lanjut menjadi :

F - M = X - A X .

F - M = I t - A I X ;

/ = Identity Matrix, matriks identitas yaitu matriks dengan diagonal utamanya bernilai 1 dan elemen-elemen lainnya bernilai 0.

X = (I

-

AI" I F - M )

Dari persamaan terakhir dapat dilihat bahwa output merupakan fungsi

permintaan akhir dengan matriks kebalikan (/-A/-' sebagai koefisien arahnya.

2.3.2 Tiaa Model Analisis Struktur Inout-Output

ldentitas persamaan (1) berikut ini rnenggambarkan keseimbangan

(42)

dimana,

Xi = banyaknya output yang dihasilkan sektor i,

xil

= banyaknya output yang dihasilkan sektor i yang digunakan sebagai input sektor j (rnerupakan input antara sektor i yang digunakan oleh sektor j),

4

=

banyaknya perrnintaan akhir domestik dari output sektor i, Ei = banyaknya perrnintaan ekspor dari output sektor i,

M, = banyaknya irnpor komoditi yang dikelompokkan pada sektor i.

Persamaan (1) menunjukkan permintaan output dari suatu sektor tertentu dapat dipenuhi melalui dua sumber pertumbuhan yaitu sumber produksi domestik dan sumber impor. Selain itu, tingkat produksi (output dornestik) hams sama dengan banyaknya output sektor bersangkutan yang digunakan sebagai input oleh semua sektor (termasuk sektor itu sendiri), ditambah dengan yang digunakan untuk memenuhi permintaan akhir dan ekspor.

Asumsi dasar dalam analisis Input-Output adalah bahwa dalam arus antar sektor dari sektor i sampai j tergantung pada jumlah output sektor j. Dengan kata lain, input antara (infermediate inpuf) yang dibutuhkan adalah dalam jumlah atau

proporsi tertentu dari output di setiap sektor, yang dapat dihitung dengan menggunakan rasio persamaan (2) berikut :

Xi,

-

au

=

x,

(2)

Rasio ini dikenal sebagai koefisien tehnis, yang menunjukkan adanya

hubungan tetap antara output sektor tertentu dengan setiap inputnya. Secara implisit, dalam rasio ini pengaruh skala ekonomi (economies of scale) dalam

(43)

persamaan (2), dan jika dikehendaki perhitungan jumlah input yang dibutuhkan untuk produksi maka dapat dihitung dengan mengalikan koefisien teknis dengan total output. Dengan demikian persamaan keseimbangan (1) diatas dapat dituliskan kembali dengan mengikut sertakan koefisien teknis sebagai persamaan (3) berikut :

Asumsi lain yang digunakan pada persamaan (3) adalah bahwa impor dianggap kompetitif, artinya bahwa impor tersebut dapat disubstitusi secara sempurna dengan produksi domestik. Selanjutnya, dalam suatu perekonomian

dengan jumlah sektor sebanyak

N,

akan ada sejumlah persamaan keseimbangan

yang sifatnya linear. Apabila koefisien a# adalah untuk sektor i dan j, maka untuk seluruh sektor N , koefisien teknis al, menjadi A. Sehingga persamaan (3) untuk seluruh sektor dalam ekonomi dapat dituliskan kembali sebagai persamaan (4) berikut :

X = A X + D + E - M

dimana.

A

=

matrik koefisien tehnis dari struktur ekonomi, X

=

vektor total output dari struktur ekonomi.

D

=

vektor permintaan akhir domestik, E

=

vektor ekspor,

M = vektor impor.

Persamaan keseimbangan (4) ini dapat diselesaikan lebih lanjut lagi untuk mengetahui produksi domestik yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan

(44)

dan dengan menggunakan matriks kebalikan (inverse matrix) Leontief (I-A).'

dapat dirumuskan persamaan solusi (5) berikut :

dimana.

I

=

matrik identitas,

(I

-

A)" = matrik kebalikan Leontief

Persamaan (5) dapat disederhanakan dengan membuat asumsi bahwa : R

=

(I

-

A)-' dan

f = D + E - M

dengan demikian persamaan solusi (5) dapat disederhanakan menjadi :

X

=

R f (6)

Persamaan solusi (seperti persamaan 5) dalam sistem Input-Output merupakan persamaan yang penting untuk analisis perubahan stwktural. Apabila dijumpai spesifikasi yang berbeda dari persamaan, maka kondisi tersebut timbul karena ada perbedaan elemen atau pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam analisis. Perhatian utama dari Chenery et. a1 (1962) dalam analisis "The

Pattern of Japanese Growth, 1914-1954' adalah menganalisis dampak elemen

perdagangan terhadap struktur produksi ekonomi di Jepang dengan

menggunakan persamaan yang telah dimodifikasi dari persamaan solusi (6) diatas. Persamaan (7) dibawah ini merupakan persamaan solusi yang digunakan

Chenery.

X = (I

-

A).' (D + E

-

M)

3 Catatan : untuk menghindari kerancuan definisi, maka simbol dalam persamaan

(45)

Berdasarkan persamaan solusi (7) tersebut, pertama-tama Chenery mendefinisikan ekspansi output secara proporsional sebagai berikut:

dimana,

X P

=

vektor output setelah pertumbuhan secara proporsional,

X O = vektor output pada tahun dasar,

R = matrik kebalikan Leontief pada tahun dasar. R O

=

(I

-

A?-'

A O = matrik koefisien tehnis pada tahun dasar,

D = vektor permintaan akhir domestik, termasuk konsumsi, investasi dan pembelian pemerintah pada tahun dasar,

E O = vektorekpor pada tahun dasar, M

=

vektor impor pada tahun dasar,

1

=

rasio jumlah permintaan akhir domestik pada dua periode,

UDe

A = -

uDo

u

=

vektor dengan proper onler.

Kemudian, Chenery juga mendefinisikan deviasi expansi proporsional dari sistem Input-Output yang dapat dituliskan dalam persamaan (9) hingga (12) sebagai berikut:

Dengan menggunakan definisi-definisi (ekspansi output secara

(46)

persarnaan (13) untuk rnenghitung tingkat deviasi produksi sebagai suatu fungsi deviasi pada elemen yang sifatnya autonomous, sebagai berikut:

AX

=

x ' - A x O = R t ( D ' + E ' - ~ f ) - , ~ R ~ ( D ~ + E ~ - M ~ )

= R ' [ ( D ' + E ' - M f ) - A ( D ~ + E ~ - M ~ ) ] + A ( R ' - R ~ ( D ~ + E ~ - M ~

=

R ' ( D ' - A D ~ + R ' ( E ' - L E ~ ) - R ' ( M ~ - M ~ ) + L ( R ' - R ~ ) ( D ~ + E ~ - M ~ )

=

R ' A D + R ~ A E - R ' A M + I ( R ' - R ~ ) ~ ~ (1

3)

Elemen dari persamaan (2.3-13) dapat diidentifikasi sebagai berikut

R 'AD : darnpak deviasi perrnintaan akhir domestik,

R

'

AE : dampak deviasi ekspor,

-

R 'A M : dampak deviasi impor,

A(R

'

-

R4 f O : darnpak perubahan teknologi.

Dalarn ha1 ini, Chenery eta1 (1962) berhasil rnengukur dampak elernen

perdagangan (ekspor

-

irnpor) dalam perubahan struktur ekonomi Jepang. Osrno Forssell (1988), dalam studinya yang berkaitan dengan perturnbuhan dan perubahan struktur ekonorni Finish (Finlandia) pada periode tahun 1960-an dan 1970-an, juga rnenggunakan alur dan model analisis yang mirip dengan model Chenery, sebagai dituliskan pada persarnaan solusi (14) berikut :
(47)

rnenjadi tiga kategori umum, sebagai dituliskan pada persamaan (IS) sampai (23) berikut :

Peningkatan output karena pertumbuhan :

aDV

=

R O [ A ~ - I ] D ~

aEV

=

R O [ R € - I J E O

aMV

=

R O [ P - I I M O

Peningkatan output karena perubahan struktur permintaan akhir :

mDS

=

R O [ D ~ - A ~ D O ]

M~~

=

R O [ E ~ - ~ E O ]

aMS

= R O [ ' ~ - ~ ~ M O ]

Peningkatan output karena perubahan teknologi :

AXDr = [ R ~ - R O ] D '

M~~ = [ R ~ - R O ] E ~

aMT

= [ R t - R O ] M '

dimana, AX menunjukkan perubahan output, sedangkan tanda pangkat

(superscript) D, E dan M menunjukkan komponen permintaan, yang terdiri dari permintaan akhir domestik, ekspor dan impor, yang selanjutnya mernpunyai dampak terhadap perubahan output. Tanda pangkat V,

S

dan T menunjukkan
(48)

karena pertumbuhan (V), karena perubahan struktur permintaan akhir (S) dan karena perubahan teknologi (T).

Ada tiga perbedaan antara model analisis dekomposisi dari Forssell dan

Chenery. Pertama, model analisis Forssell mengikut sertakan dampak pertumbuhan, sedangkan model analisis Chenery tidak. Apa yang disebut sebagai "dekomposisi" dalam model analisis Forssell adalah perubahan output

antara tahun terminal dengan tahun dasar, yaitu AX

=

X

'

-

X O, sementara

dalam model analisis Chenery "dekomposisi" merupakan deviasi dari pertumbuhan proporsional, yaitu AX

=

X

'

-

AX

'.

Kedua. dalam menghitung

deviasi pertumbuhan proporsional, pada model analisis Forssell masing-masing komponen permintaan akhir dimungkinkan untuk ekspansi pada tingkat rasio yang berbeda, sedangkan pada model analisis Chenery hanya ada satu ekspansi rasio untuk seluruh komponen. Dalam model analisis Chenery, ekspansi rasio (untuk permintaan akhir domestik, ekspor dan impor)

uDr

didefinisikan sebagai : jl = -. Dalam model analisis Forssell ekspansi rasio

uDo

u D t

permintaan akhir domestik didefinisikan sebagai 2'

= -

; ekspansi rasio

UDo

UEt

ekspor dinyatakan sebagai : jlE

=

-; dan ekspansi rasio impor adalah : jlM

=

UEo

UMC

-

; Ketiga, dampak perubahan teknologi dalam model analisis Forssell

uMo

(49)

dan permintaan akhir yang secara proporsional di ekspansi dari permintaan akhir net0 pada tahun dasar.

Satu kelemahan model analisis Forssell dan model analisis Chenery adalah bahwa kedua model analisis tersebut tidak berhasil secara ekplisit mengukur dampak perubahan permintaan akhir (dalam struktur ekonomimakro) terhadap struktur output. Struktur permintaan akhir mempunyai dua dimensi. Pertama, dimensi industry-mix, yaitu share output dari berbagai sektor pada

pembentukan permintaan akhir. Kemudian, yang kedua adalah dimensi komponen, yaitu share berbagai komponen permintaan akhir (konsumsi, investasi, pembelian pemerintah dan ekspor) dan share impor pada total

permintaan akhir. Mengingat share komponen perminlaan akhir merupakan

indikator penting dafi seluruh struktur ekonomi, maka pada penelitian ini didefinisikan sebagai "struktur ekonomimakro permintaan akhit".

Berbeda dari struktur permintaan akhir, struktur total output hanya mempunyai satu dimensi, yaitu dimensi industry-mix. Meskipun demikian, perubahan dalam struktur ekonomi makro akan mempunyai dampak yang nyata pada struktur total output, karena masing-masing komponen dari permintaan akhir mempunyai industry-mix yang berbeda-beda. Jika share berbagai

komponen permintaan akhir berubah, industry-mix pada total permintaan akhir

juga akan berubah meskipun eksistensinya pada setiap komponen tidak berubah, dan dengan demikian menyebabkan struktur output juga berubah. Contohnya, konsumsi dan investasi mempunyai industry-mix yang berbeda;

sementara hasil-hasil pertanian secara relatif mempunyai share yang cukup tinggi pada konsumsi dibandingkan pada investasi, dan hasil-hasil industri berat

(50)

pada konsumsi. Dengan menggunakan asurnsi ceteris paribus, peningkatan share investasi pada perrnintaan akhir menghendaki perubahan total output sebagai akibat dari perubahan share konsumsi pada permintaan akhir.

Dalarn model analisis Chenery, darnpak perubahan struktur permintaan akhir terhadap output di dekornposisi menjadi dampak deviasi permintaan akhir

domestik (R ' A D ) , dampak deviasi ekspor (R ' A E ) dan dampak deviasi irnpor (R

'

A Karena ekspansi proporsional dapat menyebabkan industry-mix dan

struktur ekonomirnakro tidak berubah, maka deviasi dari ekspansi proporsional tidak saja akan merubah industry-mix tetapi juga merubah struktur ekonomi makro. Oleh sebab itu, dampak berbagai deviasi pada permintaan akhir

domestik, pada ekspor dan impor rnerupakan dampak kombinasi dari perubahan industry-mix. Darnpak tersebut juga merupakan dampak perubahan struktur

ekonomimakro dari komponen perrnintaan akhir domestik yang bersangkutan pada total output.

Pada model analisis Forssell, masing-masing komponen perrnintaan akhir dimungkinkan untuk berkembang pada tingkat rasio yang berbeda. Oleh sebab

itu,

(D

'

-

hD

D

4,

( E

'

-

hE E

4

dan (M

'

-

hM M

4

hanya akan mernpenga~hi

perubahan industry-mix permintaan akhir domestik, eskpor, dan irnpor.

Akibatnya, R '(D

'

-

hD D O) memberi dampak perubahan industry-mix permintaan

akhir dornestik terhadap output; R

'

(E

'

-

h E ') rnemberikan darnpak

perubahan industry-mix ekspor terhadap output; dan

R

'

(M

'

-

hM

M

4

mernberikan darnpak perubahan industry-mix impor terhadap output. Meskipun

(51)

tetapi keduanya tidak secara eksplisit diidentifikasi. Keduanya bersatu dengan ekspansi proporsional dan membentuk dampak pertumbuhan permintaan akhir terhadap output.

Model analisis dekomposisi struktural yang lain adalah dari Kubo, Robinson dan Syrquin (1986). Kubo eta1 menggunakan dua asumsi bahwa

pertama, barang impor dan barang domestik pada sektor yang sama merupakan alternatif sumber supply dan dapat disubstitusi secara sempurna untuk semua

penggunaan; kedua. rasio supply domestik untuk penggunaan antara

(intermediate) 6' ' i , adalah sama untuk semua sektor yang menggunakan i

sebagai input, tetapi berbeda dengan rasio supply domestik untuk penggunaan

akhir B

:.

Atas dasar asumsi itu Kubo eta1 merumuskan persamaan

keseimbangan untuk produksi domestik sebagai dituliskan pada persamaan (24) berikut:

x

=

p q

A X + @ ' D + E (24)

dan persamaan keseimbangan impor sebagai dituliskan pada persamaan (25) berikut :

M

=

(I-@')AX+(/- @ ' ) D

dimana :

81"

: merupakan matriks diagonal rasio supply domestik pada setiap komoditi untuk penggunaan antara;

@ I : merupakan matriks diagonal rasio supply domestik pada setiap komoditi untuk penggunaan akhir;

(52)

dimana :

g q

A matriks koefisien domestik;

R d matriks kebalikan Leontief untuk koefisien domestik.

Dengan mempertimbangkan adanya perubahan dari waktu kewaktu untuk setiap

dZ .

.

variabel Z, dan

-

d ~ k a l ~ AZ, maka persamaan derivasi untuk fungsi waktu d t

pada persamaan (26) adalah sebagai dimuat pada persamaan (27) :

Kemudian, apabila diasumsikan bahwa :

A R ~ = A ( / - @ ~ A ) - '

= - R ~ A ( / - @ ~ A ) R ~

= R~ ( A B ~ ~ A + 8 I q m ) R

dan

x

= R ~ ( B Y D + E )

serta kalau asumsi tersebut disubstitusikan kedalam persamaan (27), maka persamaan (27) tersebut menjadi persamaan (28) berikut:

m =

R ~ ( @ '

A D + A B I ' D + A E ) + R ~ ( A @ ~ A + @ ~ A A ) R ~ ( @ ' D + E )

= R ~ $ ' A D + R ~ A E

+ R ~ A B ~ ' D + R ~ A B ~ ~ A x + R ~ @ ~ ~ A x

(28)
(53)

@$.'AD : sebagai dampak ekspansi permintaan domestik,

Rd

AE : sebagai dampak ekspansi ekspor,

Rd

A$.'

D : sebagai dampak substitusi impor pada barang akhir,

Rd

A p q A X : sebagai dampak substitusi impor pada barang antara,

R

*

gqAAX : sebagai dampak perubahan koefisien teknis.

Keunggulan model analisis Kubo eta1 ini dibandingkan dengan dua model analisis yang dibahas terdahulu (model Chenery dan model Forssell) adalah bahwa model analisis Kubo et.al mengikut sertakan dampak dari substitusi

impor. Tetapi, model analisis Kubo et.al ini tidak mengidentifikasi secara implisit dampak perubahan struktur ekonomimakro. Misalnya, R~ A @ '

0

tidak hanya mengandung dampak perubahan dalam share impor secara keseluruhan pada

permintaan akhir domestik, tetapi juga mengandung dampak perubahan industry-mix impor, karena rasio supply domestik dari berbagai komoditi dimungkinkan untuk berubah secara berbeda. Kesulitan lain dari model analisis Kubo eta) ini adalah bahwa informasi yang membedakan antara impor barang antara dan impor barang akhir tidak tersedia secara fleksibel dalam ekonomi.

Oleh karena itu, rasio supply domestik secara unik dapat didefinisikan untuk setiap sektor sebagai sumber permintaan apabila model analisis Kubo et.al ini

digunakan untuk penelitian empiris.

Untuk mengidentifikasi secara eksplisit dampak perubahan struktur makroekonomi terhadap output, pada penelitian ini disusun model analisis baru dari dekomposisi Input-Output. Diasumsikan bahwa impor kompetitif dan dapat

(54)

untuk semua penggunaan. lmpor dipedakukan secara kompetitif, maka impor merupakan variabel eksogen.

2.4 Struktur Penyerapan Tenaga Kerja

Penggunaan model Input-Output untuk perhitungan penciptaan kesempatan keja sangat tergantung pada asumsi yang digunakan antara lain adalah bahwa didalam setiap kegiatan sektor ekonomi, produksi untuk setiap unit output yang dihasilkan memerlukan input tetap (fixed inpuf) tenaga keja. Sektor- sektor dianggap homogen dalam ha1 penggunaan intensitas tenaga kerja-nya. Kondisi ini menunjukkan bahwa fungsi produksi adalah linear, sehingga produktivitas tenaga kerja rata-rata atau produktivitas marginal adalah sama

untuk setiap tingkat output, artinya terjadi "constant mtum to scale"

-

yaitu bahwa setiap peningkatan input akan menghasilkan peningkatan output produksi
(55)

input produksi merupakan cerminan adanya komponen permintaan akhir yang mendorong kebutuhan tenaga kerja sebagai input produksi dalam jumlah tertentu untuk tahun 1980. Tidak semua tenaga kerja dihitung sebagai pekerja penuh (rata-rata 35 jam per minggu). Kebanyakan dari tenaga kerja itu bekerja dengan jam kerja pendek, tetapi diantaranya ada yang mau bekerja lebih lama. Angka kesempatan kerja dalam Tabel Input-Output 1980, Volume I. Tabel 15, ha1 173.

berjumlah 56.3 juta orang. Angka ini diperoleh dengan rnelakukan penyesuaian hasil Sensus Penduduk 1980 (yang menunjukkan angka 51.6 juta orang penduduk yang berumur 10 tahun keatas dan bekerja minimal satu jam seminggu

pada saat dilaksanakan Sensus) dengan Suwei Angkatan Kerja

-

SAKERNAS

dan survei perusahaan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 1980 dijurnpai

bahwa lebih dari 25 persen tenaga kerja bekerja kurang dari 25 jam rata-rata perminggu. Kurangnya jam kerja ini dapat diartikan sebagai akibat dari kelebihan kapasitas produksi di suatu sektor. Sekalipun demikian, jika koefisien tenaga kerja dihitung berdasarkan pengertian jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk setiap satu juta nilai output, maka model Input-Output dapat digunakan untuk' mendeteksi setiap penambahan permintaan akhir (yang berarti pula peningkatan produk dalam negeri) akan mengakibatkan penambahan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap. Dalam konteks ini harus dipertimbangkan bahwa peningkatan permintaan tenaga kerja mungkin lebih rnengakibatkan penurunan angka pengangguran daripada penarnbahan jumlah tenaga kerja yang terserap. Dalarn kondisi kelebihan kapasitas, setiap peningkatan produksi dalam negeri

tidak selalu disertai dengan penarnbahan perrnintaan tenaga kerja. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa hasil perhitungan kebutuhan tenaga kerja dengan

(56)

yang konstan. Asurnsi ini akan rnenarik apabila dibandingkan dengan asumsi dibawah ini.

Kedua, digunakan asurnsi bahwa produktivitas tenaga kerja rata-rata konstan di sernua sektor ekonorni. Koefisien kesernpatan kerja langsung dari suatu sektor dalam model Input-Output berkaitan dengan jurnlah tenaga kerja yang terlibat kegiatan produksi untuk menghasilkan satu unit output di dalarn negeri. Kebalikan dari koefisien ini, yaitu jumlah output produksi dalarn negeri yang dihasilkan oleh seorang tenaga kerja, rnerupakan ukuran produktivitas tenaga kerja di setiap sektor ekonomi pada tahun bersangkutan. Jika kebutuhan tenaga kerja sebagai dampak dari perrnintaan akhir untuk tahun tertentu, dan jika terdapat peningkatan produktivitas tenaga kerja sebagai akibat perubahan teknologi, maka penyerapan tenaga kerja diperkirakan akan rendah, terutarna selarna periode perturnbuhan ekonorni tinggi.

Dalarn suatu aktivitas ekonorni terutama yang berkaitan dengan industrialisasi bukan saja eksistensi kuantitas tenaga kerja yang dibutuhkan tetapi kualitasnya juga sangat mempengaruhi peningkatan produksi. Denisson, (1962), dalam tulisannya menyebutkan bahwa peningkatan pelatihan dan pendidikan tenaga kerja akan rneningkatkan aktivitas ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja. Tersedianya tenaga kerja trampil yang memadai dan tepat pada waktunya dapat rneningkatkan output secara keseluruhan. Mengacu pendapat Denisson tersebut, maka perlu dianalisis struktur kuantitas dan kualitas tenaga kerja dalam kaitannya dengan perubahan struktur output di Indonesia. Selain itu Wolff dan Howell (1989) juga menyebutkan bahwa perubahan struktur ekonorni yang antara lain disebabkan

(57)

kerja secara keseluruhan. Konsekuensi tersebut terrnasuk (1) perubahan job security, (2) peningkatan pekerjaan paruh waktu, dan (3) perubahan tingkat

ketrampilan yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tertentu. Dalam ha1 ini ketrampilan tenaga kerja rnencerminkan kualitas tenaga kerja.

Struktur kuantitas atau kebutuhan tenaga kerja mencerminkan adanya penciptaan kesempatan kerja dalam ekonomi. Dampak penciptaan kesernpatan

kerja pada suatu sektor yang dihitung dengan rnenggunakan tabel Input-Output akan mernberikan hasil yang konsisten mengingat dalam tabel tersebut telah di ikutsertakan seluruh aktivitas ekonomi. Dari matriks kebalikan Leontief dapat dihitung dampak langsung dan tidak langsung dari penyerapan tenaga kerja. Selain itu Bhala (1975) menyebutkan bahwa intensitas penyerapan tenaga kerja (labor coefficienf) dapat dihitung dengan rnenggunakan tabel Input-Output meskipun rnengandung banyak kelemahan dan kesulitan.

Input-Output hanya dapat digunakan untuk analisis yang sifatnya sangat terbatas. Bhalla (1975) dan Mudahar (1982) banyak mendiskusikan keterbatasan penggunaan tabel Input-Output untuk analisis ekonomi dan tenaga kerja.. Menurut Bhalla (1975), beberapa asumsi yang cukup krusial adalah berkaitan dengan diperlukannya kornponen impor dan sumber-sumber lain untuk melaksanakan suatu proses produksi seperti yang ditunjukkan dalam tabel Input- Output. Selain itu, dalam suatu proses produksi diperlukan pula tersedianya tenaga kerja trampil sebagai input untuk melaksanakan produksi dirnaksud. Input tenaga kerja trampil ini sulit diidentifikasikan apabila hanya mengandalkan data

sekunder.

(58)

faktor pendukung disamping perubahan teknis sektoral dan perubahan komposisi

output untuk mendukung peningkatan produktivitas dalam ekonomi di Amerika

pada periode tahun 1958 sarnpai 1977. Wolff dan Howell rnenggunakan

kerangka perhitungan pertumbuhan berdasarkan tabel Input-Output berikut

Mula-mula Wolff rnendefinisikan nilai output dan tenaga kerja sebagai

persamaan (29) dan (30) berikut

yt = pt Yt

=

jumlah nilai output berdasarkan current prices p. (29)

Lt = ltXt = jumlah tenaga kerja pada tahun t (30)

dimana.

Xt

-

-

kolomlvektor gross output menurut sketor tahun t

Yt

-

kolomlvektor permintaan akhir menurut sektor tahun t

It -

-

barislvektor koefisien tenaga kerja tahun f yang menunjukkan banyaknya tenaga kerja per unit output

Pt

-

-

barislvektor harga tahun t, menunjukkan harga per unit output

untuk setiap industri.

Kemudian, Wolff mendefiniskan matriks kebalikan koefisien teknis q sebagai persamaan (31) berikut :

dimana,

at

-

-

matriks koefisien teknis interindustri tahun t.

Wholff juga mendefinisikan kebutuhan tenaga kerja sebagai vektor yr4 sebagai:

dimana,

(59)

yr = baris / vektor tenaga kerja langsung dan tidak langsung yang dibutuhkan per unit output.

Dalam ha1 tenaga kerja merupakan satu-satunya faktor produksi, maka vektor y juga merupakan vektor harga :

Pt

=

Wt (33)

Selanjutnya Wolff membuat definisi tingkat pertumbuhan ekonomi yang

dalam ha1 ini diukur dengan unadjusted produktivitas tenaga kerja p sebagai

disajikan pada persamaan (34) berikut :

p = p dY/y- dUL (34)

Pada tingkat sektor, digunakan rumus analog dengan persamaan (34) yaitu tingkat pertumbuhan unadjusted total labor productivity (unadjusted TLP) sebagai berikut :

T

-

-

-

d~ /pj

-

-

-dyl/y,

~c, merupakan tingkat pertumbuhan unadjusted TLP untuk sektor j, yang selanjutnya dengan pembuktian matematis diperoleh persamaan (35) berikut :

P

-

-

P

yy/y (35)

Persamaan (35) adalah persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung unadjusted TPL di setiap sektor ekonomi.

Selanjutnya Wolff dan Howell memasukkan indeks kualitas tenaga kerja dalam kerangka kerja yang disusun sebagai berikut. Misalkan, rn,

=

matriks

koefisien okupasi menurut industri, dimana

Z

rn,

=

1. Kemudian didefinisikan
(60)

at = baris / vektor yang memperlihatkan score ketrampilan setiap okupasi i

pada tahun f (setiap indeks ketrampilan akan mempunyai vektor a yang

berbeda). Selanjutnya,

st = of mf = baris I vektor, yang menunjukkan rata-rata tingkat

ketrampilan disetiap industri j pada tahun t. Jadi, skill-adjusted labor input bisa didefinisikan sebagai :

I" = (urn) 1 = s

I

= baris / vektor koefisien tenaga kerja langsung dengan quality-adjusted menurut sektor. dan menunjukkan

banyaknya tenaga kerja langsung dengan quality- adjusted per unit output.

Dengan demikian, total quality-adjusted labor input, L*, menjadi

L'

=

I'X (3'3)

Berdasarkan persamaan-persamaan tersebut diatas Wolff dan Howell

selanjutnya menurunkan quality-adjusted rate dari pertumbuhan produktivitas. tenaga kerja. Pandangan ini sulit untuk diimplementasikan di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan pengukuran kualitas tenaga kerja melalui tingkat ketrampilannya. Tetapi melalui suatu modifikasi definisi ketrampilan, metode analisis Wolff dan Howell ini dapat digunakan. Misalnya, ukuran kualitas tenaga kerja tidak diukur melalui okupasi dan ketrampilannya, tetapi melalui okupasi dan tingkat pendidikan yang ditamatkan

(61)

okupasi dan industri berubah setiap periode Sensus. Wolff dan Howell menggunakan data Sensus untuk mengimplementasikan kerangka pemikiran analisis kualitas tenaga kerja. Mereka secara hati-hati membangun matrik okupasi menurut sektor untuk tahun 1960, 1970, 1980 dan 1985. Jadi ketrampilan dan kualitas tenaga kerja diukur berdasarkan matriks tenaga kerja yang dikaitkan dengan kerangka Input-Output. Jelas disini bahwa Wolff dan Howell menggunakan dua data set yaitu : Tabel Input-Output untuk data ekonomi dan Sensus Penduduk untuk data tenaga kerja. Pemikiran ini didukung oleh Leontief (1979). Pemikiran itu pula yang dijadikan dasar dalam penelitian ini untuk menyatukan analisis ekonomi dan tenaga keja dengan menggunakan dua data set yang berbeda yaitu : tabel Input-Output untuk data ekonomi dan Sensus Penduduk untuk data tenaga kerja.

Ada empat studi berkaitan dengan analisis okupasi dan pendidikan tenaga kerja. Pertama, Layard dan Saigal (1966) rnenganalisis struktur okupasi tenaga kerja menurut sektor

Gambar

Gambar 1 : Struktur Ekonomi Indonesia, 1965-1993
Gambar 3 : St~ktur Penyerapan Tenaga Keja Indonesia,
table". Model Leontief (1951) merupakan pengembangan dari tabel transaksi
Tabel 1 : Kerangka Tabel Input-Output Sederhana
+7

Referensi

Dokumen terkait

orang adalah dengan menjadi jujur dan memberitahu mereka mengapa Anda menyukai atau mengagumi mereka. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat, cobalah

Nilai kepraktisan diukur karena adanya anggapan bahwa generasi yang tidak kenal langsung dengan orang yang telah mati tidak akan merawat pemakaman serta

seefisien mungkin agar memudahkan karyawan dan konsumen. Koperasi An-nur Kita disarankan untuk menciptakan Atmosfer Toko yang baik dan sesuai selera konsumen dapat berpengaruh

Adapun yang dapat peneliti sarankan khususnya bagi para guru adalah lebih meningkatkan lagi keempat kompetensi dasar yaitu: kompetensi peadagogik, kompetensi

Bahan tambahan lain yang juga digunakan adalah kalsium karbonat, gliserin, natrium lauril sulfat, α-tokoferol, propil paraben, metil paraben, Oleum Menthae Piperatae (OMP) dan

terhadap perempuan dan anak di daerah, UPT PPA yang telah dibentuk di Provinsi melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada kepala dinas Pemberdayaan Perempuan dan

Para pelaku melarikan diri saat petugas keamanan apartemen dan pilisi yang dihubungi dari Polsek sukmajaya datang ke lokasi.. “dug- aan sementara karena salah paham akibat

Serta dari distribusi kejadian Unsafe Act yang dilakukan peneliti, didapatkan bahawa faktor tersebut yang memimliki presentase terbesar pada traffic accident.Skill