• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 Pendidikan Inklusif dalam Pandangan Islam (Studi Kasus di SMK Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB 1 Pendidikan Inklusif dalam Pandangan Islam (Studi Kasus di SMK Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017)."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang menerima berbagai

karakter dan latar belakang peserta didik untuk belajar bersama dalam satu iklim

pembelajaran. Secara sempit, pendidikan inklusif sering dihubungkan dengan

pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus1. Namun sebenarnya, Pendidikan inklusif lahir atas prinsip bahwa layanan sekolah seharusnya diperuntukkan

untuk semua siswa, baik siswa dengan kondisi kebutuhan khusus, perbedaan

sosial, emosional, cultural, maupun bahasa. Departemen Education Tasmania

Australia merumuskan pengertian pendidikan inklusif sebagai pendidikan yang

menerima siswa yang berbeda sebagai bagian utuh dari sekolah dan merasa

memiliki sekolah, diberi jaminan untuk akses, berpartisipasi dan meraih prestasi

pada seluruh bagian dari pendidikan yang dijalaninya2.

Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kewajiban baik untuk

memahami kewajiban Islam maupun untuk membangun kebudayaan/peradaban.

Tuntutan kewajiban yang banyak tertuang dalam sumber Islam baik Al-Qu‟an

1

Leni Florian, Special or Inclusive Education: Future Trends, 2008, Jurnal Hotel Grand Daham MM Yogyakarta, 23-25 Mei 2012. https://scholar.google.com/scholar?hl=en&as_ sdt=0,5&as_vis=1&q=Jurnal+Hotel+Grand+Dafam+MM+Yogyakarta,+23-25+Mei+2012, Diak ses 18 Oktober 2016.

2

Kraayenoord. School and Classroom Practises in Inclusive Education in Australia, 2007, Jurnal Hotel Grand Daham MM Yogyakarta, 23-25 Mei 2012. https://scholar. google.com/scholar?hl=en&as_sdt=0,5&as_vis=1&q=Jurnal+Hotel+Grand+Dafam+MM+Yogya karta,+23-25+Mei+2012, diakses 22 Oktober 2016.

(2)

2

maupun Hadis ini3 tidak dibatasi oleh batasan waktu, usia, normal ataupun cacat. Karena ilmu merupakan kebutuhan seorang muslim dalam menjalankan peran

dan fungsinya di dunia sebagai makhluk Tuhan, maka umat Islam diwajibkan

menuntut ilmu di sepanjang hayat4. Pendidikan tersebut sesuai dengan QS Al-Maidah: 11 yaitu:

اٍا َ َ َ اَ ْ ِ ْا ا ُو ُ اَي ِ َا َ اْ ُن ِاا ُ َا َ اَي ِ َا اُا اِ َ ْ ََ

Artinya :Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan

orang yang diberi ilmu pengetahuan”5. (QS Al-Mujādalah: 11)

Orang yang berada di sekitar anak berkebutuhan khusus sering kali

menyebutnya anak tidak normal. Padahal anak tersebut apabila dilihat dari IQ

yang dimiliki dia memiliki IQ yang sama dengan anak lain. Maka anak

berkebutuhan khusus hendak mendapatkan pelayanan pendidikan inklusif agar

dapat segera tertangani.

3

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibn „Abd al-Bar menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula.

keasliannya namun hadis ini cukup efektif untuk membangkitkan umat Islam dalam mencari ilmu. Ulama asli hadis merekomendasikan penggunaan hadis maudlu atau hadis palsu untuk mendorong melakukan amal baik. http://muslimfiqih.blogspot.co.id/2015/05/kumpulan-hadist-nabi-tentang-menuntut-ilmu.html, diakses 28 Febuari 2017.

5

(3)

3

Layanan pendidikan inklusif yang dapat diperoleh anak berkebutuhan

khusus tidak selalu ditempatkan pada sekolah luar biasa (SLB). Akan tetapi anak

berkebutuhan khusus dapat dilayani pada sekolah yang telah menerapkan sistem

pendidikan inklusif. Sekolah tersebut menyediakan layanan pendidikan yang

mengakomodasi berbagai kebutuhan dan layanan pendidikan untuk anak

beragam sesuai dengan kondisi fisik, mental dan emosi anak.

Berdasarkan penelitian, sekolah yang melaksanakan sistem pendidikan

inklusif adalah SMK Negeri 8 Surakarta. Sekolah ini memiliki siswa

berkebutuhan khusus yang meliputi tuna daksa, tuna netra, dan autis. Model

pendidikan inklusif yang dilaksanakan di SMK Negeri 8 Surakarta adalah model

inklusif penuh. Sebagai sekolah yang melaksanakan sistem pendidikan inklusif,

SMK Negeri 8 Surakarta banyak menerapkan berbagai pendekatan dan metode

pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajarnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: “Bagaimana pendidikan inklusif

dalam pandangan Islam di SMK Negeri 8 Surakarta?”

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini, yaitu:

Mendiskripsikan pendidikan inklusif dalam pandangan Islam di SMK Negeri 8

(4)

4

D. Manfaat Penelitian

Hasil Penelitian ini, diharapkan dapat berguna, yaitu sebagai berikut :

1. Secara teoritis : dapat menambah khazanah keilmuan dan wawasan

pengetahuan penulis tentang pendidikan inklusif dalam pandangan Islam.

2. Secara praktis : Sebagai masukan, sumbangan pemikiran dan sebagai bahan

pertimbangan dalam pengembangan pendidikan untuk menentukan

tercapainya tujuan pendidikan yang memuaskan, terutama di SMK Negeri

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengaruh dalam ilmu pengetahuan mengenai penanaman pendidikan karakter demokratis dan toleransi

Solusi untuk mengatasi kendala implementasi sikap sosial dalam menerima kehadiran siswa inlusif di sekolah normal adalah dengan guru harus selalu mempunyai sikap maklum dan

untuk giat belajar, sekaligus memberikan motto hidup disela-sela proses pembelajaran. 4) Guru memberikan pengarahan mengenai pentingnya menciptakan kompetisi yang

Hal ini memiliki kesamaan dengan Sagala (2011:183), “moving class” suatu model pembelajaran yang diciptakan untuk belajar aktif dan kreatif dengan sistem belajar

Selain itu, dalam skripsi ini juga diungkapkan tentang pembentukan Perilaku Islami siswa oleh Guru Pendidikan Agama Islam serta hambatan dan solusi yang ditemui

Pembelajaran PAI merupakan pembelajaran agama Islam yang terdapat di sekolah umum. Kewajiban pihak sekolah untuk memberi pelajaran agama kepada siswa sesuai

Perencanaan adalah aktivitas pengambilan keputusan tentang apa yang akan dicapai, tindakan apa yang akan diambil dalam rangka pencapaian tujuan atau sasaran tersebut, dan

Hal ini memiliki kesamaan dengan Sagala (2011:183), “moving class” suatu model pembelajaran yang diciptakan untuk belajar aktif dan kreatif dengan sistem belajar