DAN PRODUKSI PADI SAWAH (
Oryza sativa
L.)
PADA TEKNIK BUDIDAYA
SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
(SRI)
MIA BUDIMAN
A24080146
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.) pada Teknik Budidaya System of Rice Intensification (SRI)
The Effect of Biofertilizer on the Growth and Yield of Lowland Rice (Oryza sativa L.) in System of Rice Intensification (SRI) Cultivation
Mia Budiman1, Sugiyanta2, Iswandi Anas3
1
Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB Email: [email protected]
2
Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB
3
Staf Pengajar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB
ABSTRACT
This research was conducted to determine the effect of biofertilizer on the growth and yield of lowland rice in System of Rice Intensification cultivation. Experiment used Split Plot Randomized Block Design. The main plot consists of two rice cultivation (System of Rice Intensification and Integrated Crop Management). There are seven rate of combination of fertilization treatments on each subplot (without NPK fertilizer, biofertilizer and organic fertilizer; 100% NPK dose; 100% NPK dose + biofertilizer; 50% NPK dose + organic fertilizer + biofertilizer; 50% NPK dose + biofertilizer; 50% NPK dose; and biofertilizer). The results showed that reduction dose of NPK fertilizer up to 50% on System of Rice Intensification can increase rice yield either added biofertilizer or without biofertilizer. On the cultivation of Integrated Crop Management, dose reduction of NPK fertilizer up to 50%, decrease rice yields eventhough added biofertilizer. The application of System of Rice Intensification on the rice cultivation produced the plant height shorter significantly, number of productive tillers and wet grain yield more significant than the Integrated Crop Management although dry grain yield was not significantly different.
MIA BUDIMAN. Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Padi Sawah (Oryza stiva L.) pada Teknik Budidaya System of Rice
Intensification (SRI). (Dibimbing oleh SUGIYANTA dan ISWANDI ANAS).
Beberapa permasalahan yang dihadapi banyak petani saat ini adalah
kesehatan dan kesuburan tanah serta tingkat efisiensi pemupukan yang semakin
menurun. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pupuk anorganik secara
terus-menerus dengan dosis tinggi sebagai input dalam produksi tanaman. Oleh karena
itu, diperlukan input biologi berupa pupuk hayati untuk menghindari kesehatan
dan kesuburan tanah yang menurun akibat aplikasi pupuk anorganik. Akhir-akhir
ini telah banyak diterapkan metode SRI pada padi sawah. Budidaya SRI diduga
akan sinergi apabila diaplikasikan pupuk hayati. Dengan demikian, pupuk hayati
yang diaplikasikan pada padi sawah dengan budidaya SRI diharapkan dapat
meningkatkan produksi padi sehingga jika sistem ini diterapkan di Indonesia
dapat meningkatkan produktivitas padi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penggunaan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan
produksi padi sawah pada teknik budidaya SRI.
Percobaan dilaksanakan di University Farm Babakan Sawah Baru,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah, Departemen Ilmu Tanah
dan Sumberdaya Lahan. Percobaan dilaksanakan mulai Januari 2012 sampai
dengan Juli 2012. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok
Petak Terbagi (Split Plot Randomized Block Design). Dua budidaya padi sebagai
petak utama (main plot) dan tujuh taraf perlakuan pemupukan sebagai anak petak
(subplot) sehingga terdapat 42 satuan percobaan. Petak utama terdiri atas dua
budidaya padi, yaitu SRI dan PTT. Terdapat tujuh perlakuan pemupukan pada
anak petak, yaitu tanpa pupuk NPK, hayati dan pupuk kandang; 100% dosis NPK;
100% dosis NPK + pupuk hayati; 50% dosis NPK + pupuk hayati + pupuk
kandang; 50% dosis NPK + pupuk hayati; 50% dosis NPK; dan pupuk hayati.
iii
menunjukkan pengaruh nyata dari perlakuan yang diberikan, maka dilakukan uji
lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SRI pada budidaya padi
menghasilkan tinggi tanaman yang nyata lebih rendah, biomassa tanaman yang
nyata lebih besar, jumlah anakan produktif dan hasil gabah kering panen yang
nyata lebih banyak dibandingkan dengan PTT walaupun hasil gabah kering giling
tidak berbeda nyata. Pemupukan 100% dosis pupuk NPK pada percobaan ini
diduga telah mencukupi kebutuhan tanaman sehingga penambahan pupuk hayati
dan pupuk kandang terlihat tidak berpengaruh meningkatkan pertumbuhan
DAN PRODUKSI PADI SAWAH (
Oryza sativa
L.)
PADA TEKNIK BUDIDAYA
SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
(SRI)
Skripsi sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
MIA BUDIMAN
A24080146
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
Judul :
PENGARUH PUPUK HAYATI TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH
(
Oryza sativa
L.) PADA TEKNIK BUDIDAYA
SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
(SRI)
Nama :
MIA BUDIMAN
NIM :
A24080146
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si. Prof. Dr. Ir. Iswandi Anas, M.Sc. NIP. 19630115 198811 1 002 NIP. 19500509 197703 1 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc.,Agr. NIP. 19611101 198703 1 003
Penulis dilahirkan di Kota Payakumbuh, Propinsi Sumatera Barat pada
tanggal 7 Maret 1990. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak
Budiman dan Ibu Rosmiati.
Tahun 2002 penulis lulus dari SD Negeri 14 Limbukan, kemudian pada
tahun 2005 penulis menyelesaikan studi di SMP Negeri 1 Payakumbuh. Penulis
melanjutkan ke SMA Negeri 1 Payakumbuh dan lulus pada tahun 2008. Penulis
diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN).
Selama menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif
dalam beberapa organisasi dan kepanitiaan. Penulis menjadi bagian dari Ikatan
Kekeluargaan Mahasiswa Payakumbuh dan Lima Puluh Kota (IKMP) sejak tahun
2008. Penulis mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Koperasi Mahasiswa Institut
Pertanian Bogor periode 2008/2009, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
Pertanian periode 2009/2010, IPB Go Field 2010 dan Forum Komunikasi Rohis
Departemen Fakultas Pertanian periode 2010/2011. Tahun 2012 penulis menjadi
asisten praktikum mata kuliah Pascapanen Tanaman Pertanian dan Praktik Usaha
Pertanian selama satu semester serta menjadi asisten dosen dalam pengujian
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberi
kekuatan dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang
berjudul“Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi
Sawah (Oryza stiva L.) pada Teknik Budidaya System of Rice Intensification (SRI)” dengan baik. Penulisan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas akhir
pada Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu, Ayah, Adik dan seluruh keluarga atas doa dan motivasi yang tiada henti
kepada penulis.
2. Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si. dan Prof. Dr. Ir. Iswandi Anas, M.Sc. yang telah
membimbing penulis selama melaksanakan penelitian ini.
3. Prof. Dr. Ir. M.A. Chozin, MAgr. sebagai dosen penguji yang telah
memberikan masukan untuk perbaikan skripsi.
4. Dr. Ir. Endah Retno Palupi, M.Sc. sebagai dosen pembimbing akademik yang
telah membimbing penulis selama menempuh perkuliahan.
5. Ir. H. Imbang J. Mangkuto atas beasiswa dan dukungan yang diberikan
selama penulis menempuh pendidikan sarjana.
6. Keluarga besar Sawah Baru, Tri Herdiyanti dan Agus Rachman Nurrizky atas
bantuan dan motivasinya.
7. Keluarga besar Wing 7 Level 6 dan Keluraga Besar Laboratorium
Bioteknologi Tanah.
8. Kamella Gustina, Pak Togi, Bunga, Sista-sista AGH Ponsur Ceria, Sahabat
Indigenous AGH 45 atas bantuan dan kebersamannya selama ini.
Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja
yang membutuhkan.
Bogor, April 2013
Halaman
Budidaya Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah ... 6
BAHAN DAN METODE ... 8
Rekapitulasi Sidik Ragam ... 13
Analisis Tanah ... 15
Pertumbuhan Tanaman ... 15
Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Komponen Hasil dan Hasil ... 20
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh budidaya dan pemupukan ... 14
2. Hasil analisis tanah sebelum dan setelah percobaan ... 15
3. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap tinggi tanaman ... 16
4. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan ... 17
5. Pengaruh interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan pada 4 MST ... 17
6. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap bagan warna daun ... 18
7. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap panjang dan volume akar . 19 8. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap bobot basah dan bobot kering akar dan tajuk ... 20
9. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap panjang malai dan jumlah gabah per malai ... 21
10. Pengaruh interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan produktif ... 21
11. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap bobot seribu butir gabah dan persentase gabah isi ... 22
12. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap hasil gabah per tanaman dan hasil gabah per hektar ... 23
13. Peningkatan hasil gabah kering giling (GKG) ... 24
No. Halaman
1. Deskripsi karakteristik varietas Mentik Wangi ... 33
2. Kandungan pupuk hayati Azozo ... 33
3. Kriteria penilaian sifat - sifat kimia tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (1983) ... 34
4. Hasil analisis tanah awal ... 34
5. Data iklim Januari 2012-Juli 2012 ... 35
6. Analisis usaha tani... 35
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan utama di Indonesia.
Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih mengonsumsi beras sebagai
sumber karbohidrat utama. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dari waktu
ke waktu menyebabkan kebutuhan nasional terhadap permintaan beras terus
meningkat setiap tahun, namun laju peningkatan kebutuhan beras tersebut tidak
sebanding dengan laju penambahan produksi sehingga terjadi kekurangan setiap
tahunnya. Produktivitas padi di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 5.02 ton ha-1 dan tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 4.98 ton ha-1 (BPS, 2012). Faktor yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas padi di Indonesia diantaranya
adalah kesuburan tanah dan penerapan teknik budidaya.
Beberapa permasalahan yang dihadapi banyak petani saat ini adalah
kesehatan dan kesuburan tanah serta tingkat efisiensi pemupukan yang semakin
menurun. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pupuk anorganik secara
terus-menerus dengan dosis tinggi sebagai input dalam produksi tanaman yang sangat
mempengaruhi produktivitas tanaman. Kondisi tersebut telah menurunkan
kandungan bahan organik tanah dan kesuburan biologi tanah yang sangat penting
dalam proses mekanisme penyediaan hara bagi tanaman. Oleh karena itu,
diperlukan input biologi berupa pupuk hayati untuk meningkatkan kesuburan
biologi tanah serta ketersediaan hara bagi tanaman.
Pupuk hayati merupakan pupuk berbahan aktif inokulan organisme hidup
yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara
dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung
melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan
mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan
oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah (Suriadikarta dan Simanungkalit, 2006).
Pupuk hayati mengandung mikroba diantaranya Azotobacter, Azospirillum, dan
mikroorganisme pelarut fosfat. Azotobacter dan Azospirillum merupakan bakteri
fiksasi nitrogen yang apabila diaplikasikan pada tanah dan tanaman dapat
Akhir-akhir ini telah banyak diterapkan metode SRI pada padi sawah. SRI
merupakan cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses
manajemen sistem perakaran yang berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan
air, meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani, menghasilkan produksi
yang berdaya saing tinggi, sehat dan berkelanjutan, mengembangkan usahatani
padi yang ramah lingkungan (Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan, 2011).
Budidaya SRI diduga akan sinergi dengan aplikasi pupuk hayati. Kondisi yang
semi aerob pada budidaya SRI akan mendorong perkembangan mikroba dari
pupuk hayati yang diaplikasikan pada padi sawah dapat meningkatkan produksi
padi. Jika sistem ini diterapkan di Indonesia dan diaplikasikan pupuk hayati dapat
meningkatkan produktivitas padi nasional. Untuk mendukung produktivitas padi
nasional, pengaruh pupuk hayati pada budidaya SRI masih perlu diteliti untuk
mengetahui efektivitasnya terhadap pertumbuhan dan produksi padi.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk
hayati terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah pada teknik budidaya SRI
dan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Hipotesis
Penggunaan pupuk hayati pada padi dengan budidaya SRI akan
menghasilkan pertumbuhan tanaman dan hasil padi yang lebih tinggi
TINJAUAN PUSTAKA
Kebutuhan Hara Padi Sawah
Tanaman padi memerlukan 14.7 kg N, 2.6 kg P, dan 14.5 kg K per hektar
untuk setiap ton padi yang dihasilkan (Dobermann dan Fairhurst, 2000). Padi
memerlukan banyak unsur hara N mulai dari tanam hingga masak. N diserap
tanaman dalam bentuk ion NO3- (nitrat) dan NH4+ (amonium). Pada tanah kering
(aerobik) N berada dalam bentuk nitrat, apabila tanah digenang (anaerobik) nitrat
berubah menjadi amonium, dan begitu sebaliknya. Tanaman padi yang banyak
menyerap N akan berwarna hijau, tinggi, ukuran daun dan gabah lebih besar, serta
kualitas gabah dan kadar protein lebih tinggi. Pemberian N dalam tanah akan
mempercepat pembusukan bahan organik (Taslim etal., 1993).
Unsur hara P diperlukan untuk pertumbuhan, terutama akar dan buah. P
diserap tanaman dalam bentuk H2PO4- atau HPO4-2. Fosfat diserap pada masa
pertumbuhan tanaman dan mencapai maksimum pada waktu berbunga. Tanaman
padi yang cukup menyerap P lebih tahan kering, lebih cepat berbunga dan masak,
dan mempunyai kualitas beras yang baik (Taslim etal., 1993).
Unsur hara K diperlukan untuk pertumbuhan sel, pembentukan gula, zat
tepung dan protein. K diserap tanaman dalam bentuk K+. Pada saat berbunga telah diserap 58% dari seluruh keperluan K. Unsur hara K sedikit terangkut ke dalam
gabah dan banyak dalam jerami. K dapat memperkuat batang sehingga sering
dikatakan menambah kekuatan terhadap penyakit dan rebah (Taslim etal., 1993).
Tanaman padi memerlukan unsur hara makro Mg dan Ca. Unsur Mg
berperan dalam aktivasi enzim, sintesis protein, mengatur pH sel dan
keseimbangan anion-kation. Unsur Ca penting dalam pembentukan dinding sel,
aktivator enzim, osmoregulasi dan keseimbangan anion-kation (Dobermann dan
Fairhurst, 2000).
Unsur mikro diperlukan tanaman padi untuk mendukung pertumbuhan dan
produksi. Beberapa unsur mikro yang dibutuhkan tanaman padi yaitu Zn, Si, Fe,
Mn, Cu dan B. Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000), peranan unsur-unsur
mikro tersebut terhadap tanaman padi adalah: Zn dibutuhkan tanaman padi untuk
enzim dan memelihara integritas membran; Si berperan dalam perkembangan dan
memperkuat daun, batang dan akar; Fe diperlukan dalam proses transpor elektron
pada fotosntesis; Mn terlibat dalam reaksi oksidasi-reduksi dalam sistem transpor
elektron, pembentukan kloroplas, sintesis protein, reduksi nitrat, dan siklus asam
trikarboksilat; Cu dibutukan untuk sintesis lignin, metabolisme N, protein dan
hormon, respirasi, fotosintesis dan pembentukan polen serta pembuahan; B
berperan dalam biosintesis dinding sel, metabolisme karbohidrat, transpor gula,
lignifikasi, sintesis nukleotida dan respirasi.
Pupuk Hayati
Pupuk hayati didefinisikan sebagai suatu zat yang mengandung
mikroorganisme hidup yang apabila diaplikasikan pada benih, permukaan
tanaman, atau tanah dapat memacu pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan
pasokan atau ketersediaan hara utama untuk tanaman (Vessey, 2003). Menurut
Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
70/PERMENTAN/SR.140/10/2011 pupuk hayati merupakan produk biologi aktif
terdiri atas mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan,
dan kesehatan tanah.
Suriadikarta dan Simanungkalit (2006) menyatakan bahwa pupuk hayati
merupakan inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk
menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi
tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui
peningkatan akses tanaman terhadap hara, misalnya oleh cendawan mikoriza
arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi,
aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan
simbiotis atau nonsimbiotis.
Saraswati et al. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba
menjadi empat, yaitu meningkatkan ketersediaan unsur hara di dalam tanah bagi
tanaman, sebagai perombak bahan organik di dalam tanah dan mineralisasi unsur
5
membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik, dan sebagai
agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.
Mikroba Fungsional
Bakteri Penambat Nitrogen
Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara
adalah N. Namun N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus
ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman.
Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas.
Mikroba penambat N simbiotik antara lain: Rhizobium sp. yang hidup di dalam
bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N
nonsimbiotik misalnya: Azospirillum sp. dan Azotobacter sp.. Mikroba penambat
N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan
mikroba penambat N nonsimbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman
(Hindersah dan Simarmata, 2004).
Azotobacter sp. adalah spesies rhizobakteri yang telah dikenal sebagai
agen biologis pemfiksasi dinitrogen, diazotrof yang mengkonversi dinitrogen ke
amonium melalui reduksi elektron dan protonisasi gas dinitrogen. Secara umum,
fiksasi nitrogen biologis sebagai bagian dari input nitrogen untuk mendukung
pertumbuhan tanaman telah menurun akibat intensifikasi pemupukan anorganik.
Salah satu bakteri yang penting untuk meningkatkan ketersediaan nitrogen dalam
tanah dan meningkatkan hasil adalah Azotobacter sp. Kemampuan Azotobacter
sp. dalam memfiksasi N2 pertama kali diketahui oleh Beijerinck pada tahun 1901
(Hindersah dan Simarmata, 2004). Azospirillum sp. merupakan bakteri penambat
nitrogen dan pemacu tumbuh tanaman yang hidup bebas mengkolonisasi
permukaan luar dan dalam akar tanaman padi, jagung, tebu dan rumputan lainnya
(Saraswati et al., 2004).
Mikroba Pelarut Fosfat
Unsur Fosfat (P) adalah unsur esensial kedua setelah N yang berperan
penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Ketersediaan fosfat dalam
terikat oleh koloid tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Kebanyakan lahan
sawah di Indonesia telah jenuh fosfat. Fosfat tersebut tidak dapat dimanfaatkan
semaksimal mungkin oleh tanaman, karena fosfat dalam bentuk P-terikat di dalam
tanah, sehingga petani tetap melakukan pemupukan. Salah satu alternatif untuk
meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat adalah dengan memanfaatkan
mikroorganisme pelarut fosfat, yaitu mikroorganisme yang dapat melarutkan
fosfat tidak tersedia menjadi tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman
(Ginting etal., 2006).
Teknik Budidaya System of Rice Intensification (SRI)
SRI dikembangkan di Madagaskar pada awal tahun 1980 oleh Henri de
Laulanie, seorang pastor Jesuit yang lebih dari 30 tahun hidup bersama
petani-petani di sana. Prinsip teknik budidaya padi SRI adalah bibit yang ditanam
berumur muda (8-10 hari) dengan pola satu bibit per lubang dan ditanam dangkal
dengan posisi perakaran berbentuk huruf L, jarak tanam yang lebar (30 cm x
30 cm atau lebih), pengelolaan air dengan irigasi terputus (sampai tanah lembab
tetapi tidak tergenang) dan pengendalian hama terpadu dengan tidak
menggunakan pestisida dan bahan-bahan sintetis (Sato dan Uphoff, 2006).
Budidaya SRI ini lebih menekankan pada upaya memaksimalkan jumlah anakan
dan pertumbuhan akar dengan mengelola suplai hara, air dan oksigen yang cukup
pada tanaman padi.
Teknologi SRI tidak hanya bertujuan guna meningkatkan produksi padi
tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan pendapatan
usahatani padi. Dengan budidaya SRI produksi padi bisa meningkat sampai 78%,
menghemat kebutuhan air sebanyak 40% dan menghemat pupuk sebesar 50%
serta menghemat 20% biaya produksi (Sato dan Uphoff, 2006).
Budidaya Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah
PTT adalah pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme
pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam
upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan.
7
komponen pilihan. Komponen dasar antara lain: penggunaan varietas modern
seperti, varietas unggul baru (VUB), varietas unggul hibrida (VUH), dan varietas
unggul tipe baru (VUTB), bibit bermutu dan sehat (perlakuan benih), Pemupukan
efisien menggunakan bagan warna daun (BWD), perangkat uji tanah sawah
(PUTS), petak omisi, dan Permentan No. 40/OT.140/4/2007 tentang pemupukan
spesifik lokasi, atau software Sistem Pakar Pemupukan Padi (SIPAPUKDI), dan
PHT sesuai OPT sasaran (Departemen Pertanian, 2008).
Komponen pilihan antara lain: pengelolaan tanaman yang meliputi
populasi dan cara tanam (legowo, larikan, dll), bibit muda umur 14 hari setelah
sebar (HSS) atau 21 HSS, bahan organik, pupuk kandang, dan amelioran, irigasi
berselang (perbaikan aerasi tanah), pupuk cair (PPC, pupuk organik, pupuk
bio-hayati, ZPT, pupuk mikro), penanganan panen dan pascapanen (Departemen
Tempat dan Waktu
Percobaan dilaksanakan di University Farm Babakan Sawah Baru,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah, Departemen Ilmu Tanah
dan Sumberdaya Lahan. Percobaan dilaksanakan mulai Januari 2012 sampai
dengan Juli 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih padi varietas Mentik Wangi, pupuk
hayati dengan konsentrasi 50 g per 100 ml air, pupuk kandang (diaplikasikan
hanya pada perlakuan yang menggunakan pupuk kandang) dengan dosis
5 ton ha-1, NPK (15-15-15), urea (46% N), KCl (60% K2O). Alat-alat yang
digunakan adalah seperangkat alat budidaya, meteran, bagan warna daun (IRRI
Leaf Color Chart), oven dan timbangan digital.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Petak Terbagi
(Split Plot Randomized Block Design). Dua budidaya padi sebagai petak utama
(main plot) dan tujuh taraf perlakuan pemupukan sebagai anak petak (subplot)
sehingga terdapat 42 satuan percobaan (2x7x3). Faktor yang dicobakan dalam
penelitian ini, yaitu:
Faktor pertama: Budidaya padi (B)
1. B1= SRI
2. B2= PTT
Faktor kedua: Pemupukan (P)
1. P0 = Tanpa pupuk hayati, NPK, dan pupuk kandang
2. P1 = 100% dosis NPK
3. P2 = 100% dosis NPK + Pupuk hayati
9
5. P4 = 50% dosis NPK + Pupuk hayati
6. P5 = 50% dosis NPK
7. P6 = Pupuk hayati
Model linieraditif yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
Yijk = µ + αi+ ik + j + (α )ij+ k+ ijk
Yijk : Nilai pengamatan pada faktor budidaya padi taraf ke-i, faktor
pemupukan taraf ke-j, dan ulangan ke-k
µ : Rataan umum
αi : Pengaruh faktor budidaya ke-i (i: 1,2) ik : Pengaruh galat petak utama (budidaya) j : Pengaruh faktor pemupukan ke-j (j: 1,2, ..., 7)
(α )ij : Pengaruh interaksi perlakuan budidaya ke-i dengan pemupukan
ke-j
k : Pengaruh ulangan ke-k (k: 1,2,3)
ijk : Pengaruh galat dari anak petak (pemupukan)
Analisis data menggunakan analisis ragam (Uji F). Apabila hasil sidik
ragam menunjukkan pengaruh nyata dari perlakuan yang diberikan, maka
dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.
Pelaksanaan
Pengolahan tanah dilaksanakan dua minggu sebelum penanaman dengan
sistem olah tanah sempurna, yaitu pembajakan, kemudian dicangkul dan digaru
sampai rata. Petakan percobaan dibuat sebanyak 42 petak dengan ukuran 5 m x
5 m serta memiliki saluran air masuk dan keluar yang terpisah satu dengan yang
lainnya (Lampiran 7).
Analisis tanah dilakukan terhadap pH, C-organik, N total, P tersedia dan K
tersedia, sebelum dan sesudah penelitian. Pengambilan sampel tanah sebelum
aplikasi pupuk dilakukan secara komposit dan pengambilan sampel tanah setelah
percobaan sesuai dengan perlakuan.
Persemaian untuk budidaya SRI dilakukan pada nampan dan untuk
dahulu dilakukan seleksi benih dengan menggunakan larutan garam 3% kemudian
benih dibilas, ditiriskan dan diperam selama dua hari.
Penanaman pada budidaya SRI dilakukan saat bibit berumur 10 hari
setelah semai, jarak tanam 25 cm x 25 cm, menanam satu bibit per lubang tanam
dan dangkal (1.5 cm) serta posisi akar membentuk huruf L (horizontal).
Penanaman pada teknologi PTT dilakukan saat bibit berumur 17 hari setelah
semai, jarak tanam legowo 2:1 (25 cm x 15 cm x 50 cm), menanam dua bibit per
lubang tanam.
Pengairan pada budidaya SRI diatur sampai tanah mencapai kondisi
macak-macak (tidak tergenang) selama waktu pertumbuhannya, setelah
pembentukan malai digenangi dengan ketinggian air sekitar 2 cm, dan
dikeringkan pada saat 15 hari menjelang panen. Pengairan pada teknologi PTT
dilakukan secara berselang, yaitu air dimasukkan hingga ketinggian genangan
sekitar 7 cm, kemudian dibiarkan hingga kering dan setelah itu diairi kembali,
dilakukan berselang selama masa pertumbuhan hingga 15 hari menjelang panen.
Pemupukan dilakukan sesuai dengan perlakuan. Pupuk kandang diberikan
pada saat pengolahan tanah. Pupuk hayati diberikan pada saat sebelum tanam
dengan mencelupkan akar tanaman ke dalam larutan pupuk. Urea diberikan tiga
kali, yaitu 30% dosis pada saat 1 MST, 40% dosis pada saat 4 MST, dan 30%
dosis pada saat 6 MST. Pupuk NPK dan KCl diberikan seluruhnya pada saat
tanam. Aplikasi pemupukan N, P, dan K dilakukan secara sebar langsung.
Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang mati atau
pertumbuhannya yang kurang baik di lahan sawah. Penyulaman mulai
dilaksanakan pada 1 MST hingga 4 MST dengan umur bibit yang sama.
Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan pada
gulma, hama, dan penyakit. Pengendalian gulma dilakukan secara manual.
Pengendalian gulma dilakukan sejak awal sekitar umur 10 hari dan dilakukan
berulang-ulang sesuai perkembangan gulma. Pengendalian hama dan penyakit
dilakukan apabila sudah terdapat gejala serangan pada tanaman. Pemanenan
dilakukan dengan kriteria 90-95% bulir telah menguning. Pemanenan dilakukan
11
Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada 5 tanaman contoh yang dipilih secara acak
pada setiap petak percobaan. Pengamatan yang dilakukan meliputi:
Pengamatan Vegetatif
1. Tinggi tanaman (cm) diukur dari permukaan tanah hingga ujung daun
tertinggi, diamati setiap minggu mulai dari 3 MST hingga 8 MST.
2. Jumlah anakan per rumpun diamati setiap minggu mulai dari 3 MST
hingga 8 MST.
3. Warna daun diamati dengan bagan warna daun (BWD) setiap minggu
mulai dari 3 MST hingga 8 MST.
4. Bobot basah dan kering biomassa akar dan tajuk (g) pada umur 8 MST.
Bobot kering diperoleh setelah akar dan tajuk dikeringkan dengan
menggunakan oven.
5. Panjang akar (cm), diukur dari pangkal batang hingga akar terpanjang
pada umur 8 MST.
6. Volume akar (ml), diukur dengan gelas ukur pada umur 8 MST.
Pengamatan Komponen Hasil dan Hasil
1. Jumlah anakan produktif dengan menghitung jumlah anakan yang
menghasilkan malai pada tiap rumpun tanaman contoh.
2. Panjang malai (cm), diukur dari pangkal malai sampai ujung malai.
3. Jumlah gabah per malai (butir), dihitung dari jumlah gabah pada satu
malai.
4. Hasil gabah per tanaman basah dan kering (g), dengan menimbang gabah
dari masing-masing tanaman contoh.
5. Presentase gabah isi dan gabah hampa dari 100 g contoh gabah.
6. Bobot seribu butir gabah (g) dengan menimbang berat seribu butir gabah
yang berasal dari 5 tanaman contoh dalam setiap petak.
7. Hasil ubinan basah dan kering seluas 2.5 m x 2.5 m per petak.
8. Dugaan hasil per hektar dengan menghitung produktivitas ubinan yang
dikonversikan ke hektar sehingga diperoleh hasil gabah kg per hektar atau
Hasil
Kondisi Umum
Percobaan dilaksanakan di University Farm Babakan Sawah Baru mulai
dari Januari sampai dengan Juli 2012. Curah hujan rata-rata bulanan mulai dari
Januari hingga Juli yaitu 250.3 mm dengan curah hujan tertinggi pada bulan
Februari (548.9 mm) dan terendah pada bulan Juni (94.0 mm). Rata-rata jumlah
hari hujan yaitu 21.7 hari dengan suhu bulanan sekitar 25.9C (Lampiran 5).
Keong mas (Pomocea canaliculata) menyerang pertanaman padi yang
masih muda mulai dari persemaian, setelah pindah tanam hingga tanaman
berumur sekitar satu bulan. Keong mas menyerang tanaman dengan memakan
bagian batang hingga daun tanaman yang masih muda akibatnya populasi
tanaman menjadi berkurang. Penyulaman dilakukan hingga satu bulan setelah
tanam. Pengendalian terhadap keong mas dilakukan secara manual, yaitu dengan
membuat kemalir, mengeringkan lahan sawah, mengambil keong dan
memusnahkan telurnya.
Tanaman padi juga menunjukkan adanya gejala serangan virus tungro
pada 4 MST. Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau terutama Nephotettix
virescens Distant. Gejala serangannya yaitu terjadi perubahan warna daun menjadi
kuning dimulai dari ujung daun tua dan tanaman tumbuh kerdil. Serangan
penyakit tersebut dapat dihentikan dengan mencabut rumpun tanaman yang
terserang kemudian membenamkannya serta dengan mengatur pengairan.
Serangan walang sangit (Leptocorisa oratorius) terlihat pada fase
pemasakan, yaitu dengan menghisap butiran gabah yang sedang mengisi.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh walang sangit menyebabkan beras berubah
warna dan mengapur serta hampa. Pertanaman padi juga terserang penyakit hawar
daun bakteri (bacterial leaf blight) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas
campestris pv. oryzae pada 11 MST, tetapi tidak menyebabkan penurunan hasil.
Hama lain yang menyerang tanaman padi, yaitu burung pemakan bulir
13
hampir setiap pagi dan sore hari sehingga dapat menurunkan hasil. Pengendalian
dilakukan dengan mengusir burung menggunakan bunyi-bunyian.
Kendala lain yang terjadi adalah tanaman padi mengalami rebah mulai 11
MST. Jumlah petakan yang mengalami rebah yaitu 8 petak perlakuan budidaya
SRI dan 4 petak perlakuan teknologi PTT. Hal ini mengakibatkan penurunan hasil
terutama untuk budidaya SRI.
Gulma yang terdapat pada lahan sawah terdiri atas gulma rumput, gulma
berdaun lebar dan teki-tekian. Gulma yang paling dominan selama percobaan
berlangsung, yaitu Sphenoclea zeylanica yang termasuk gulma berdaun lebar.
Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan mencabutnya mulai dari 4
MST hingga 6 MST.
Rekapitulasi Sidik Ragam
Hasil rekapitulasi sidik ragam menunjukkan bahwa sistem budidaya
berpengaruh sangat nyata dan nyata terhadap tinggi tanaman pada saat 4 MST dan
8 MST, jumlah anakan mulai dari 3 MST hingga 8 MST, bagan warna daun pada
saat 4 MST hingga 6 MST, biomassa tanaman, panjang malai, hasil gabah kering
per tanaman dan hasil gabah kering panen (GKP) per hektar (Tabel 1).
Perlakuan pemupukan memberikan pengaruh yang sangat nyata dan nyata
terhadap semua peubah pertumbuhan tanaman mulai dari 3 MST hingga 8 MST,
bobot basah dan kering tajuk, jumlah anakan produktif, panjang malai, hasil gabah
basah dan kering per tanaman serta hasil gabah basah dan kering per hektar.
Interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan memberikan pengaruh yang nyata
pada peubah jumlah anakan pada saat 4 MST dan jumlah anakan produktif. Hasil
Tabel 1. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah
Peubah pengamatan Budidaya Pemupukan Interaksi Koefisien
15
Analisis Tanah
Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah, Pusat Penelitian Tanah
(1983), hasil analisis tanah yang dilakukan pada awal percobaan menunjukkan
bahwa pH tanah tergolong masam (4.90), kandungan C-organik dan N-totalnya
sedang, yaitu 2.15% dan 0.22%, kandungan P sangat rendah (5.80 ppm) dan K
termasuk rendah (0.30 me/100 g). Hasil analisis tanah setelah percobaan (Tabel 2)
menunjukkan bahwa pH dan kandungan K tanah mengalami peningkatan,
sedangkan kandungan C-organik, N, dan P tanah mengalami penurunan.
Penambahan pupuk kandang sebesar 5 ton ha-1 pada perlakuan yang menggunakan pupuk kandang juga terlihat tidak meningkatkan kandungan
C-organik tanah. Perlakuan tanpa pemupukan menghasilkan residu C-organik, N,
P, dan K cenderung lebih rendah dibandingkan dengan aplikasi pupuk NPK,
hayati, pupuk kandang, atau kombinasinya. Kehilangan unsur hara tertinggi
terjadi pada perlakuan tanpa pemupukan, karena tidak terdapat penambahan
unsur-unsur hara tersebut ke dalam tanah.
Tabel 2. Hasil analisis tanah sebelum dan setelah percobaan
Perlakuan pH
Perlakuan budidaya dan pemupukan berpengaruh terhadap tinggi tanaman,
sedangkan interaksi antara budidaya dan pemupukan tidak berpengaruh nyata
terhadap tinggi tanaman (Tabel 1). Tinggi tanaman pada perlakuan budidaya SRI
tanaman tertinggi terlihat pada perlakuan 100% dosis pupuk NPK dan 100% dosis
pupuk NPK ditambah pupuk hayati, sedangkan pengurangan 50% dosis pupuk
NPK dengan aplikasi pupuk hayati ataupun tanpa pupuk hayati menghasilkan
tinggi tanaman yang cenderung lebih rendah. Perlakuan tanpa pupuk dan pupuk
hayati saja terlihat menghasilkan tinggi tanaman yang paling rendah. Aplikasi
pupuk hayati dengan pengurangan 50% dosis pupuk NPK menyebabkan serapan
unsur hara bagi tanaman yang lebih rendah dibanding 100% dosis pupuk NPK
sehingga pertumbuhan tinggi tanaman juga lebih rendah.
Tabel 3. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap tinggi tanaman
Perlakuan Umur tanaman (MST)
42.83ab 53.51abc 67.08ab 79.27ab 92.73ab 109.42ab
Pupuk hayati 40.05bc 49.18de 59.64c 69.71c 81.06c 96.77c
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT
Jumlah Anakan
Jumlah anakan pada budidaya SRI nyata lebih banyak dibandingkan pada
perlakuan PTT. Hal tersebut karena jarak tanam pada perlakuan SRI lebih lebar
dan umur bibit yang ditanam lebih muda. Pengaruh pemupukan terhadap jumlah
anakan cenderung sama dengan pengaruhnya terhadap tinggi tanaman.
Pemupukan 100% dosis NPK menghasilkan jumlah anakan yang paling banyak,
17
yang cenderung lebih sedikit, sedangkan perlakuan tanpa pemupukan dan hanya
pupuk hayati saja menghasilkan jumlah anakan yang paling sedikit (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan
Perlakuan Umur tanaman (MST)
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT
Interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan terlihat nyata berpengaruh
terhadap jumlah anakan pada 4 MST (Tabel 5).
Tabel 5. Pengaruh interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan pada 4 MST
50% NPK + Pupuk kandang + Pupuk hayati 26.20abc 21.60cde
50% NPK + Pupuk hayati 23.67bcd 22.40cde
Pupuk hayati 18.27ef 18.33def
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT
Budidaya SRI dengan 100% dosis pupuk NPK ditambah aplikasi pupuk
hayati menghasilkan jumlah anakan yang paling banyak dan tidak berbeda nyata
dengan 100% dosis pupuk NPK dan perlakuan 50% dosis pupuk NPK ditambah
teknologi PTT. Perlakuan pupuk hayati saja baik pada budidaya SRI maupun PTT
menghasilkan jumlah anakan yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan tanpa
pemupukan.
Bagan Warna Daun
Bagan Warna Daun (BWD) merupakan alat untuk mengukur tingkat
kehijauan warna daun padi untuk mengetahui status unsur nitrogen pada tanaman
padi. Skala 4 merupakan batas kritis kecukupan hara N pada tanaman padi
(PPPTP, 2011). Perlakuan budidaya berpengaruh nyata terhadap warna daun pada
umur 4, 5 dan 6 MST, sedangkan perlakuan pemupukan berpengaruh nyata
terhadap warna daun pada umur 3-8 MST. Interaksi antara budidaya dan
pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap warna daun. Pengaruh budidaya dan
pemupukan terhadap warna daun disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap warna daun
Perlakuan Umur tanaman (MST)
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT
Budidaya padi SRI menghasilkan skala BWD lebih tinggi dibanding
19
dibandingkan PTT yang kondisinya anaerob. Perlakuan 100% dosis pupuk NPK
baik yang ditambahkan pupuk hayati maupun tidak serta pengurangan 50% dosis
pupuk NPK dengan aplikasi pupuk hayati menghasilkan skala BWD mendekati 4.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengurangan 50% dosis pupuk NPK dengan
aplikasi pupuk hayati kebutuhan nitrogen tanaman masih tercukupi. Aplikasi
pupuk hayati saja dan perlakuan tanpa pupuk memiliki skala BWD yang rendah,
berturut-turut 3.48 dan 3.20 yang berarti bahwa tanaman mengalami
kekurangan N.
Biomassa Tanaman
Pengamatan biomassa tanaman dilakukan pada 8 MST dengan mengambil
dua rumpun tanaman pada setiap petak. Peubah yang diamati meliputi panjang
dan volume akar, bobot basah dan bobot kering akar serta bobot basah dan bobot
kering tajuk. Perlakuan budidaya memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap
panjang dan volume akar. Perlakuan pemupukan berpengaruh nyata terhadap
bobot basah dan bobot kering tajuk. Interaksi antara pengaruh budidaya dengan
perlakuan pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap biomassa tanaman
(Tabel 1). Budidaya SRI menghasilkan panjang dan volume akar yang nyata lebih
tinggi dibandingkan teknologi PTT. Semua perlakuan pemupukan menunjukkan
panjang dan volume akar yang tidak berbeda nyata (Tabel 7).
Tabel 7. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap panjang dan volume akar
Bobot basah dan bobot kering akar dan tajuk pada budidaya SRI nyata
lebih tinggi dibandingkan teknologi PTT. Hal ini diduga karena pertumbuhan akar
dan tajuk tanaman pada budidaya SRI berkembang lebih baik jika dibandingkan
dengan teknologi PTT. Perlakuan 50% dosis pupuk NPK menghasilkan bobot
basah dan kering akar dan tajuk yang tidak berbeda nyata dengan 100% dosis
pupuk NPK. Aplikasi pupuk hayati saja terlihat menghasilkan bobot kering tajuk
yang tidak berbeda dengan perlakuan tanpa pemupukan. Pengamatan bobot basah
dan kering akar dan tajuk disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap bobot basah dan bobot kering akar dan tajuk
Perlakuan Bobot basah (g) Bobot kering (g)
Akar Tajuk Akar Tajuk
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT
Pengaruh Pupuk Hayati terhadap Komponen Hasil dan Hasil
Pengamatan komponen hasil pada percobaan ini meliputi jumlah anakan
produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot seribu butir gabah, dan
persentase gabah isi. Berdasarkan Tabel 9, terlihat bahwa budidaya SRI
menghasilkan jumlah gabah per malai yang tidak berbeda dengan PTT. Demikian
pula aplikasi 100% dosis pupuk NPK maupun 50% dosis pupuk NPK ditambah
pupuk hayati ataupun tidak menghasilkan jumlah gabah per malai yang tidak
berbeda.
Teknik budidaya PTT menghasilkan panjang malai yang lebih panjang
21
hayati maupun 50% dosis pupuk NPK dengan penambahan pupuk hayati maupun
tidak menghasilkan panjang malai yang tidak berbeda dengan perlakuan 100%
dosis pupuk NPK. Tidak terdapat interaksi antara pengaruh budidaya padi dengan
perlakuan pemupukan terhadap jumlah gabah per malai dan panjang malai.
Tabel 9. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap panjang malai dan jumlah gabah per malai
Perlakuan Jumlah gabah
per malai Panjang malai (cm) Budidaya
SRI 158.79 25.43b
PTT 161.26 25.84a
Pemupukan
Tanpa pupuk 150.49b 24.64d
100% NPK 163.64ab 26.07ab
Pupuk hayati 154.57ab 25.05cd
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT.
Terdapat pengaruh interaksi yang nyata antara budidaya padi dan
pemupukan terhadap jumlah anakan produktif (Tabel 10).
Tabel 10. Pengaruh interaksi perlakuan budidaya dan pemupukan terhadap jumlah anakan produktif
50% NPK + Pupuk kandang + Pupuk hayati 22.47ab 20.00bc
50% NPK + Pupuk hayati 20.40bc 22.07ab
Pupuk hayati 17.73cd 20.20bc
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT.
Tabel 10 menunjukkan bahwa perlakuan 100% dosis pupuk NPK baik
yang ditambahkan pupuk hayati maupun tidak pada budidaya SRI menghasilkan
sedikit dihasilkan yaitu pada perlakuan tanpa pupuk baik pada budidaya SRI
maupun PTT dan tidak berbeda nyata dengan aplikasi pupuk hayati saja pada
budidaya SRI.
Perlakuan SRI dan PTT tidak berpengaruh terhadap bobot seribu butir dan
persentase gabah isi. Seluruh perlakuan pemupukan menghasilkan bobot seribu
butir gabah yang tidak berbeda nyata. Aplikasi pupuk hayati dengan 50% dosis
pupuk NPK menghasilkan persentase gabah isi yang terbesar tetapi tidak berbeda
dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK. Tidak terdapat interaksi antara
pengaruh budidaya padi dengan perlakuan pemupukan terhadap bobot seribu butir
gabah dan persentase gabah isi. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap
bobot seribu butir gabah dan persentase gabah isi disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap bobot seribu butir gabah dan persentase gabah isi
Perlakuan Bobot 1,000 butir
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan budidaya tidak
berpengaruh nyata terhadap hasil gabah basah per tanaman namun berpengaruh
nyata terhadap hasil gabah kering per tanaman. Teknologi PTT menghasilkan
gabah kering per tanaman yang lebih besar dibandingkan budidaya SRI.
Pengurangan 50% dosis pupuk NPK menghasilkan gabah basah dan kering per
23
Hasil per hektar diperoleh dari konversi hasil ubinan. Hasil GKP budidaya
SRI nyata lebih besar dibandingkan teknologi PTT, namun hasil GKG pada SRI
tidak berbeda nyata dengan PTT. Hal ini diduga karena tanaman SRI rebah waktu
menjelang panen sehingga bobot basah GKP lebih tinggi. Pengurangan 50% dosis
pupuk NPK baik ditambahkan pupuk hayati maupun tidak, menghasilkan GKP
dan GKG yang tidak berbeda dengan 100% dosis pupuk NPK. Penggunaan 50%
dosis pupuk NPK pada percobaan ini terlihat sudah mencukupi kebutuhan hara
padi sawah. Aplikasi pupuk hayati saja menghasilkan GKP dan GKG yang
cenderung lebih rendah. Tidak terdapat interaksi antara pengaruh budidaya padi
dengan perlakuan pemupukan terhadap hasil gabah basah dan kering per tanaman,
GKP serta GKG.
Tabel 12. Pengaruh budidaya dan pemupukan terhadap hasil gabah per tanaman dan hasil gabah per hektar
Perlakuan
Tanpa pupuk 48.50b 38.07c 7943.30c 5733.30b
100% NPK 66.43a 51.27ab 9973.30a 7413.30a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf 0.05 uji DMRT.
Peningkatan Hasil
Peningkatan hasil dalam percobaan ini dihitung terhadap perlakuan 100%
dosis pupuk NPK pada masing-masing budidaya. Tabel 13 menunjukkan bahwa
aplikasi 50% dosis pupuk NPK menghasilkan GKG 14% lebih besar
dibandingkan dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK pada budidaya SRI.
Pengurangan 50% pupuk NPK dengan aplikasi pupuk hayati maupun pupuk
tidak sebesar perlakuan 50% dosis pupuk NPK. Berbeda dengan SRI, semua
perlakuan pemupukan pada teknologi PTT menghasilkan peningkatan hasil yang
negatif yang berarti bahwa terjadi penurunan hasil. Pengurangan 50% dosis pupuk
NPK dengan aplikasi pupuk kandang dan pupuk hayati pada teknologi PTT
menunjukkan penurunan hasil yang paling rendah dibandingkan perlakuan
lainnya.
Tabel 13. Peningkatan hasil gabah kering giling (GKG)
Perlakuan SRI (%) PTT (%)
Tanpa pupuk -20 -25
100% NPK 0 0
50% NPK 14 -15
100% NPK + Pupuk hayati 0 -13
50% NPK + Pupuk kandang + Pupuk hayati 2 -7
50% NPK + Pupuk hayati 9 -8
Pupuk hayati -4 -22
Analisis Usaha Tani
Analisis usaha tani dilakukan untuk mengetahui kemungkinan biaya usaha
tani yang akan diperlukan dan keuntungan finansial yang akan diperoleh petani.
Hasil analisis usaha tani menunjukkan bahwa perlakuan 100% dosis pupuk NPK
pada teknologi PTT dan 50% dosis pupuk NPK pada budidaya SRI menghasilkan
keuntungan dan net B/C yang paling besar. Perlakuan yang lain menghasilkan
keuntungan dan net B/C yang cenderung tidak berbeda kecuali perlakuan tanpa
pemupukan. Penggunaan pupuk hayati pada budidaya SRI dan PTT baik yang
ditambahkan 100% maupun 50% dosis pupuk NPK menghasilkan keuntungan dan
net B/C yang tidak jauh berbeda. Berdasarkan Tabel 14, dapat dilihat bahwa
pengurangan 50% dosis pupuk NPK pada budidaya SRI lebih menguntungkan
untuk diterapkan pada lahan yang memiliki tingkat kesuburan yang sama dengan
percobaan ini. Analisis usaha tani pada budidaya SRI dan PTT disajikan pada
25
Tabel 14. Analisis usaha tani pada budidaya SRI dan teknologi PTT
Perlakuan Pendapatan per
100% NPK 27,306,800 13,354,000 13,952,800 1.04
50% NPK 31,146,800 12,652,000 18,494,800 1.46
100% NPK + Pupuk
hayati 27,306,800 13,664,000 13,642,800 1.00
50% NPK + Pupuk
kandang + Pupuk hayati 27,946,800 13,812,000 14,134,800 1.02 50% NPK + Pupuk hayati 29,653,200 12,962,000 16,691,200 1.29
Pupuk hayati 26,240,000 12,110,000 14,130,000 1.17
PTT
Tanpa pupuk 24,106,800 11,900,000 12,206,800 1.03
100% NPK 32,000,000 13,454,000 18,546,000 1.38
50% NPK 27,093,200 12,752,000 14,341,200 1.12
100% NPK + Pupuk
hayati 27,733,200 13,764,000 13,969,200 1.01
50% NPK + Pupuk
kandang + Pupuk hayati 29,653,200 13,912,000 15,741,200 1.13 50% NPK + Pupuk hayati 29,440,000 13,062,000 16,378,000 1.25
Pupuk hayati 24,960,000 12,210,000 12,750,000 1.04
Pembahasan
Analisis tanah setelah percobaan memperlihatkan bahwa terjadi
peningkatan nilai pH dan unsur K. Menurut Hutabarat (2011), meningkatnya nilai
pH diduga karena terjadi penurunan potensial redoks. Suprihati et al. (2006)
menyatakan bahwa potensial redoks tanah berkeseimbangan dengan pH tanah,
penurunan nilai potensial redoks tanah akan menyebabkan peningkatan nilai pH
tanah. Peningkatan unsur K dapat terjadi karena terjadi penambahan melalui air
irigasi atau pupuk NPK maupun pupuk kandang.
Kandungan C-organik tanah menurun diduga karena bahan organik yang
terkandung di dalam tanah dimanfaatkan oleh mikroba sebagai sumber energi.
Selain itu, pada penelitian ini tidak dilakukan pengembalian jerami ke lahan
sawah sehingga tidak terdapat tambahan sumber C yang memadai. Menurut
Riyanti (2011), penurunan C-organik terjadi karena tidak ada penambahan jerami
dibandingkan awal percobaan karena penyerapan unsur N dan P oleh tanaman
atau kehilangan unsur N karena pencucian dan penguapan. Menurut Dobermann
dan Fairhurst (2000), dalam satu musim tanam akan terangkut 17.5 kg unsur hara
N dan 3 kg unsur hara P dalam setiap ton gabah yang dihasilkan.
Perlakuan budidaya PTT menghasilkan tinggi tanaman yang nyata lebih
tinggi dibandingkan budidaya SRI, yaitu 110 cm sedangkan budidaya SRI
menghasilkan tinggi tanaman sekitar 101.55 cm pada 8 MST. Hal tersebut karena
jarak tanam pada PTT lebih rapat sehingga unsur hara yang diserap tanaman lebih
banyak dimanfaatkan untuk pertumbuhan tinggi tanaman dibandingkan dengan
pertumbuhan anakan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Muliasari (2009) yang
menyatakan bahwa jarak tanam yang lebih rapat menghasilkan tinggi tanaman
yang lebih tinggi dibandingkan jarak tanam yang lebih lebar.
Pengamatan terhadap peubah jumlah anakan menunjukkan bahwa
budidaya SRI nyata menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan
PTT, yaitu sekitar 29 anakan sedangkan pada teknologi PTT sekitar 26 anakan.
Salah satu prinsip budidaya SRI yaitu penanaman bibit muda dengan jarak antar
tanaman yang lebar. Penggunaan bibit muda bertujuan agar tidak terdapat stagnasi
(berhenti tumbuh sementara). Di samping itu, Purwasasmita (2008) menyatakan
bahwa pola penanaman bibit muda dan tunggal merupakan kondisi pertumbuhan
yang optimal untuk tanaman padi menyebabkan pertunasan dapat
dimaksimumkan dan phyllochron diperpendek. Jarak tanam yang lebar bertujuan
untuk memberikan kemungkinan yang lebih besar kepada akar untuk tumbuh
leluasa dan tanaman juga akan menyerap sinar matahari, udara dan nutrisi lebih
banyak sehingga pertumbuhannya menjadi lebih optimal. Tanaman akan
menghasilkan jumlah bahan kering yang semakin tinggi dengan semakin
banyaknya bagian daun yang kontak dengan cahaya matahari. Hal ini memberikan
kontribusi dalam meningkatkan kapasitas fotosintesis (Salisbury dan Ross, 1985).
Pengurangan 50% dosis pupuk NPK dengan aplikasi pupuk hayati
menghasilkan tinggi tanaman yang tidak berbeda dengan 100% dosis pupuk NPK.
Aplikasi pupuk hayati dengan pengurangan 50% dosis pupuk NPK menghasilkan
jumlah anakan yang nyata lebih rendah dibandingkan 100% dosis pupuk NPK.
27
peubah pertumbuhan yang berbeda terhadap pengurangan dosis pupuk NPK
anorganik. Hal ini diduga karena mikroba penambat N dan pelarut P yang
terkandung dalam pupuk hayati belum tampak peranannya secara nyata dalam
meningkatkan jumlah anakan. Unsur N dan P sangat diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman. Nitrogen merupakan komponen penyusun asam amino,
asam nukleat, nukleotida dan klorofil sehingga dapat mendorong pertumbuhan
dengan cepat, yaitu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah anakan. Unsur P
berfungsi untuk mendorong pertumbuhan jumlah anakan, perkembangan akar,
pembungaan dan pemasakan (Dobermann dan Fairhurst, 2000).
Pupuk hayati yang digunakan mengandung Azotobacter, Azospirillum dan
mikroorganisme pelarut fosfat. Azotobacter dan Azospirillum merupakan bakteri
penambat nitrogen yang hidup bebas (nonsimbiotik). Mikroba ini menambat
nitrogen di daerah perakaran dan bagian dalam jaringan tanaman padi. Selain
meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, mikroba ini juga berfungsi sebagai
agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting rhizobacteria)
yang menghasilkan berbagai hormon pertumbuhan, vitamin dan berbagai
asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu
akar (Hindersah dan Simarmata, 2004).
Unsur fosfat (P) merupakan unsur hara esensial kedua setelah N yang
berperan penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Keberadaan
mikroorganisme pelarut fosfat dalam pupuk hayati sangat penting dalam
meningkatkan ketersediaan hara P, karena ketersediaan hara P di dalam tanah
jarang yang melebihi 0.01% dari total P (Ginting et al., 2006).
Hasil pengamatan biomassa tanaman padi pada 8 MST menunjukkan
bahwa perlakuan budidaya SRI nyata menghasilkan panjang akar, volume akar,
bobot basah akar dan tajuk serta bobot kering akar dan tajuk yang lebih tinggi
dibandingkan teknologi PTT. Hutabarat (2011) menyatakan bahwa biomassa akar
yang lebih besar pada budidaya SRI disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
aerob dan akses yang lebih baik terhadap pengambilan air dan hara. Menurut
Thakur (2009), teknik budidaya dengan jarak tanam yang lebih lebar akan
menghasilkan bobot kering akar yang lebih besar dan menghasilkan eksudat xilem
meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi akar dan batang selama
pertumbuhan vegetatif.
Pengamatan terhadap jumlah anakan produktif menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh interaksi yang nyata antara budidaya padi dan pemupukan.
Budidaya SRI dengan aplikasi 100% dosis pupuk NPK baik yang ditambahkan
pupuk hayati maupun tidak menghasilkan jumlah anakan produktif yang paling
banyak. Menurut Muliasari (2009), jumlah anakan produktif dipengaruhi oleh
ukuran ruang antar rumpun, semakin luas ruang antar rumpun maka semakin
banyak jumlah anakan produktif. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Masdar et
al. (2005) yang menyatakan bahwa semakin lebar jarak tanam maka jumlah
anakan produktif semakin banyak dibandingkan jarak tanam yang lebih sempit.
Pemupukan 100% dosis pupuk NPK menyediakan hara yang cukup untuk
mendorong terbentuknya anakan.
Perlakuan budidaya tidak mempengaruhi persentase gabah isi dan bobot
seribu butir gabah demikian pula dengan perlakuan pemupukan. Antara jarak
tanam legowo pada teknologi PTT dengan jarak tanam lebar pada budidaya SRI
tampaknya tidak berpengaruh terhadap bobot seribu butir gabah dan persentase
gabah isi.
Perlakuan budidaya SRI nyata menghasilkan gabah kering panen (GKP)
yang lebih tinggi dibandingkan teknologi PTT namun menghasilkan gabah kering
giling (GKG) yang tidak berbeda. Menurut Hutabarat (2011) hasil bobot GKP dan
GKG sangat dipengaruhi oleh jarak tanam yang berbeda pada kedua budidaya
padi tersebut. Populasi tanaman pada budidaya SRI dengan jarak tanam 25 cm x
25 cm yaitu 160,000 tanaman per hektar dan pada teknologi PTT dengan jarak
tanam jajar legowo 2:1 (25 cm x 15 cm x 50 cm) terdapat 204,800 tanaman per
hektar. Kebutuhan hara tanaman sudah cukup dengan aplikasi 50% dosis NPK
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50% pada budidaya SRI baik yang
ditambahkan pupuk hayati maupun tidak masih dapat meningkatkan hasil padi
sedangkan pada budidaya PTT, pengurangan dosis pupuk NPK hingga 50%
menurunkan hasil padi walaupun ditambahkan pupuk hayati.
2. Penerapan SRI pada budidaya padi menghasilkan tinggi tanaman yang nyata
lebih rendah, jumlah anakan produktif dan hasil gabah kering panen yang nyata
lebih banyak dibandingkan dengan PTT walaupun hasil gabah kering giling
tidak berbeda nyata.
3. Pada budidaya SRI keuntungan usaha tertinggi diperoleh pada perlakuan 50%
dosis pupuk NPK sedangkan pada teknologi PTT pada perlakuan 100% dosis
pupuk NPK.
Saran
Untuk dapat menganalisis pengaruh penambahan pupuk hayati,
penambahan pupuk kandang dan analisis ekonomi pada percobaan ini, maka
perlu dilakukan penelitian serupa selama beberapa musim dan pada beberapa
Badan Pusat Statistik. 2010. Produksi Padi di Indonesia 2010. http://bps.go.id/ [20 September 2012].
BMKG. 2012. Data Iklim Dramaga Bogor. Stasiun Klimatologi Situ Gede Bogor.
Departemen Pertanian. 2008. Panduan Pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi. Departemen Pertanian. Jakarta. 38 hal.
Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan. 2011. Pedoman Teknis Pengembangan System of Rice Intensification TA. 2011. Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Pertanian. Kementrian Pertanian. Jakarta. 77 hal.
Dobermann, A and T.H. Fairhurst. 2000. Rice: Nutrient Disorders and Nutrient Management. Potash & Phospate Institute (PPI), Potash & Phospate Institute of Canada (PPIC), and International Rice Research Institute (IRRI). Philippines. 191p.
Ginting, R.C.B., R. Saraswati., dan E. Husen. 2006. Mikroorganisme pelarut fosfat, hal 141-158. Dalam R.D.M. Simanungkalit, D.A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik (Eds.). Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 283 hal.
Hindersah, R. dan T. Simarmata. 2004. Potensi rizobakteri Azotobacter dalam meningkatkan kesehatan tanah. Jurnal Natur Indonesia 5(2):127-133.
Hutabarat, T.R. 2011. Populasi Mikrob Tanah, Emisi Metan dan Produksi Padi dengan Enam Kombinasi Pemupukan pada Budidaya Padi SRI (System of Rice Intensification). Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 123 hal.
Masdar, M. Kasim, B. Rusman, N. Hakim, dan Helmi. 2006. Tingkat hasil dan hasil sistem intensifikasi padi (SRI) tanpa pupuk organik di daerah curah hujan tinggi. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia 8(2):126-131.
Muliasari, A.A. 2009. Optimasi Jarak Tanam dan Umur Bibit pada Padi Sawah (Oryza sativa L.). Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 59 hal.
PPPTP. 2011. Bagan Warna Daun Menghemat Penggunaan Pupuk N pada Padi Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
31
Riyanti, S. 2011. Aplikasi Pembenaman Jerami, Pupuk Hayati dan Pupuk Organik Serta Reduksi NPK terhadap Ketersediaan Hara dan Populasi Mikroba Tanah pada Padi Sawah Musim Tanam Kedua di Karawang, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 63 hal.
Salisbury, F.B., and C.W. Ross. 1985. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Company. Belmont, California.
Saraswati, R. dan Sumarno. 2008. Pemanfaatan mikroba penyubur tanah. Iptek Tanaman Pangan. 3(1): 41-58.
Saraswati, R., T. Prihatini, dan R.D. Hastuti. 2004. Teknologi pupuk mikroba untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan keberlanjutan sistem produksi padi sawah, hal 169-189. Dalam: Fahmuddin Agus et al. (Eds.). Tanah sawah dan teknologi pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sato, S. and N. Uphoff. 2006. Raising Factor Productivity in Irrigated Rice Production: Opportunities with The System of Rice Intensification. CABI.
Suprihati, I. Anas, D. Murdiyarso, S. Sabiham, G. Djajakirana. 2006. Fluks Metana dan Karakteristik pada Beberapa Macam Sistem Budidaya. Bul. Agron (34) (3): 181-187.
Suriadikarta, D.A. dan R.D.M. Simanungkalit. 2006. Pendahuluan, hal 1-10.
Dalam: R.D.M. Simanungkalit, D.A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik (Eds.). Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 283 hal.
Taslim, H., S. Partohardjono, dan Subandi. 1993. Pemupukan padi sawah, hal 445-479. Dalam. Ismunadji, M., S. Partohardjono, M. Syam, dan A. Widjono (Eds.). Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
33
Lampiran 1. Deskripsi karakteristik varietas Mentik Wangi
Nomor aksesi : 1754
Nama aksesi : Mentik Wangi
Provinsi asal : Jawa Tengah
Kabupaten asal : Magelang
Habitus : Sedang
Umur tanaman : 125 hari
Tinggi tanaman : 114 cm
Anakan produktif : 14
Warna kaki : Kuning emas
Warna telinga daun : Tidak berwarna
Warna lidah daun : Putih
Warna leher daun
Warna daun
: Hijau muda
: Hijau
Muka daun : Tidak berambut
Posisi daun : Mendatar
Panjang malai
Bobot 1000 gabah
: 27.4 cm
: 18 gram
Sumber: koleksi Plasma Nutfah Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi
Lampiran 2. Kandungan pupuk hayati Azozo
Mikrob Jumlah populasi
Azotobacter 43.8 x 107 cfu g-1
Azospirillum 11 x 108 MPN
Lampiran 3. Kriteria penilaian sifat - sifat kimia tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (1983)
Sifat Tanah
Penilaian Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi
Sangat
Lampiran 4. Hasil analisis tanah awal
Jenis Analisis Metode Nilai Kriteria*
35
Jenis Analisis Metode Nilai Kriteria*
Zn (ppm) 0.05 N HCl 20.67 -
Keterangan: *Kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah berdasarkan PPT 1983
Lampiran 5. Data iklim Januari 2012-Juli 2012
Bulan Pendapatan 21,760,000 27,306,800 27,306,800 27,946,800 1. Sewa Lahan 6,000,000 6,000,000 6,000,000 6,000,000 2. Biaya Produksi
a.Tenaga Kerja
- Pengolahan Lahan 1,500,000 1,500,000 1,500,000 1,500,000
- Persemaian 200,000 200,000 200,000 200,000
- Penanaman 1,000,000 1,000,000 1,000,000 1,000,000
- Pemupukan
1. Pupuk Kandang - - - 350,000
2. NPK - 150,000 150,000 150,000
3. Pupuk hayati - - 150,000 150,000
- Pemeliharaan 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
- Panen 1,000,000 1,000,000 1,000,000 1,000,000
b. Benih 100,000 100,000 100,000 100,000
c. Pupuk
- Pupuk Kandang - - - 500,000
Uraian
Total Biaya 11,800,000 13,354,000 13,664,000 13,812,000 Keuntungan 9,960,000 13,952,800 13,642,800 14,134,800
Net B/C 0.84 1.04 1.00 1.02
Lampiran 6. Lanjutan...
Uraian Budidaya SRI
50% NPK+Pupuk hayati 50% NPK Pupuk hayati
Pendapatan 29,653,200 31,146,800 26,240,000
1. Sewa Lahan 6,000,000 6,000,000 6,000,000
2. Biaya Produksi a.Tenaga Kerja
- Pengolahan Lahan 1,500,000 1,500,000 1,500,000
- Persemaian 200,000 200,000 200,000
- Penanaman 1,000,000 1,000,000 1,000,000
- Pemupukan
1. Pupuk Kandang - - -
2. NPK 150,000 150,000 -
3. Pupuk hayati 150,000 - 150,000
- Pemeliharaan 2,000,000 2,000,000 2,000,000
- Panen 1,000,000 1,000,000 1,000,000
Total Biaya 12,962,000 12,652,000 12,110,000
Keuntungan 16,691,200 18,494,800 14,130,000