PROFIL PERLEMAKAN KARKAS DOMBA EKOR GEMUK
DAN DOMBA EKOR TIPIS DENGAN PENGGUNAAN
EKSTRAK
Eurycoma longifolia
JACK (ELJ)
RUSDIMANSYAH
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Profil
Perlemakan Karkas Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis dengan Penggunaan Ekstrak Eurycoma longifolia Jack (ELJ) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juni 2011
ABSTRACT
RUSDIMANSYAH. The Fat profile of thin tail and fat tail sheep carcasses by
using Extracts of Eurycoma longifolia Jack (ELJ) Under supervised by Henny
Nuraini and Rudy Priyanto
This research was conducted to observe the influence of extracts Eurycoma
longifolia Jack (ELJ) on the fat profile of lamb carcasses. This experiment used
factorial design, the first factor was the dosages of ELJ extract (0, 50 and 100mg/kg body weight) the second factor was the breed of sheep (fat tail sheep/DEG and thin tail sheep/DET). The observed variables were serum testosterone, average daily gain, feed consumtion, feed convertion, slaughter weight, hot carcasses weight, weight of pelvic heart kidney fat, percentage of carcasses fat, marbling fat, muscle cholesterol and fatty acid composition. The data were analyzed by analysis of covariance. Initial weigth live as covariable. The results showed that ELJ extract did not have significant effects on serum testosterone, daily gain, feed consumtion, feed convertion, slaughter weight and the fat profile of lamb carcasses. There was significant interaction between level of ELJ extract and breeds of sheep on hot carcass weight and percentage. The weight and percentage of hot carcasses, percentege of carcass fat were significantly higher (P<0.05) in DEG than in DET. These resulted in significantly (P<0.05) lower miristic, palmitic, stearic, linoleic and linolenic DEG fatty acids.
RINGKASAN
RUSDIMANSYAH. Profil Perlemakan Karkas Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis dengan Penggunaan Ekstrak Eurycoma longifolia Jack (ELJ) Dibimbing oleh Henny Nuraini dan Rudy Priyanto
Memaksimalkan produksi daging per individu ternak dengan potensi individu yang ada, antara lain dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen pemeliharaan, perbaikan kualitas pakan, pemberian zat aditif dan pemacu pertumbuhan. Zat pemacu pertumbuhan yang umum digunakan adalah hormon atau bahan sintetis sejenisnya, yang telah cukup lama dikenal dalam praktik dunia peternakan. Hormon Pemacu Pertumbuhan (HPP) telah lama dimanfaatkan dalam usaha sapi pedaging. Testosteron sebagai salah satu HPP dapat memperbaiki konversi pakan dan meningkatkan pertambahan bobot badan (PBB) ternak. Testosteron sebagai salah satu steroid androgen, mampu menstimulasi peningkatan sintesis protein dalam otot dan menurunkan kandungan lemak tubuh. Peningkatan sintesis protein otot akan mengakibatkan hipertropi serabut otot.
Penggunaan HPP hingga saat ini masih mengalami kontroversi, karena dapat menimbulkan efek karsinogenik bagi konsumen. Perlu diupayakan bahan pengganti HPP dengan manfaat yang sama serta risiko minimal bagi konsumen daging.
Kadar testosteron di dalam tubuh dapat ditingkatkan tanpa menambahkan hormon ataupun derivatnya dari luar. Testosteron endogen dapat meningkat akibat pemberian ekstrak tanaman yang bersifat afrodisiak seperti Eurycoma longifolia Jack (ELJ) yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Pasak Bumi atauTongkat Ali.
Sejauh ini belum ditemukan hasil penelitian yang memanfaatkan ekstrak tanaman pasak bumi pada ternak ruminansia pedaging, khususnya domba. Aplikasi pemanfaatan pasak bumi umumnya ditujukan pada manusia serta hewan percobaan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mempelajari profil perlemakan DEG dan DET dengan pemberian beberapa level ekstrak ELJ 2) mengetahui pengaruh level pemberian ekstrak ELJ terhadap profil perlemakkan karkas domba dan 3) mempelajari profil perlemakan karkas pada DEG dan DET.
Domba yang digunakan sebanyak 18 ekor domba jantan dengan rataan bobot badan 22.91 ± 1.39 kg dengan umur 1-1.5 tahun (sepasang gigi tetap) terdiri atas domba ekor gemuk (DEG) dan domba ekor tipis (DET) masing-masing 9 ekor. DEG diperoleh dari peternakan domba Mitra Tani Farm Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, sedangkan DET diperoleh dari peternakan domba Barokah di daerah Cimande Jawa Barat.
persentase lemak karkas, lemak pelvis ginjal jantung (PGJ), lemak marbling, kadar kolesterol dan komposisi asam lemak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara level pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap testosteron darah, PBB, konsumsi dan konversi pakan, bobot potong, persentase lemak karkas, lemak PGJ, lemak marbling, kadar kolesterol dan komposisi asam lemak. Pemberian ekstrak ELJ 100 mg/kgBB menyebabkan penurunan bobot karkas dan persentase karkas sebesar 14.39% dan 10.95%, namun pada DET tidak menunjukkan perbedaan dengan atau tanpa pemberian ekstrak ELJ. Berdasarkan level pemberian ekstrak ELJ terlihat bahwa pemberian 100 mg/kgBB menyebabkan penurunan pada persentase karkas domba, namun tidak berpengaruh terhadap peubah yang lain. DEG memiliki bobot karkas panas, persentase karkas dan persentase lemak karkas lebih tinggi dari DET, tetapi memiliki kandungan asam lemak miristat, palmitat, stearat, linoleat dan linoleat yang lebih rendah.
©Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
PROFIL PERLEMAKAN KARKAS DOMBA EKOR GEMUK
DAN DOMBA EKOR TIPIS DENGAN PENGGUNAKAN
EKSTRAK
Eurycoma longifolia
Jack (ELJ)
RUSDIMANSYAH
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi/Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji Luar Komisi :
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis : Profil Perlemakan Karkas Domba Ekor Gemuk dan
Domba Ekor Tipis dengan Penggunaan Ekstrak Eurycoma
longifolia Jack (ELJ)
Nama : Rusdimansyah
NIM : D151080101
Program Studi/Mayor : Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Disetujui Komisi Pembimbing:
Dr. Ir. Henny Nuraini, M.Si Dr. Ir. Rudy Priyanto
Ketua Anggota
Diketahui:
Ketua Program Studi/Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Dr. Ir. Rarah R. A. Maheswari, DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr
PRAKATA
Puji syukur penulis ucapkan atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Profil Perlemakan Karkas Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis dengan
Penggunaan Ekstrak Eurycoma longifolia Jack (ELJ)” yang merupakan salah satu syarat untuk melaksanakan mendapatkan gelar Magister pada program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilakukan selama 9 bulan di
Kandang Percobaan Laboratorium Ternak Ruminansia Kecil, Departemen Ilmu
Produksi dan Teknologi Peternakan, Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran
Hewan, Laboratorium Biologi Hewan PAU, Laboratorium Terpadu Departemen
Ilmu Nurtrisi dan Teknologi Pakan dan Laboratorium Terpadu IPB.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir.
Henny Nuraini, M.Si dan Dr. Ir. Rudy Priyanto selaku dosen komisi pembimbing
yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran dalam penyusunan
tulisan ini. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Zubir Zali
S.Pt, MS yang telah mengizinkan penulis bergabung dalam kegiatan penelitian
yang beliau lakukan dan juga telah banyak memberikan masukan kepada penulis.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan kepada penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Terima kasih yang mendalam untuk ayah, ibu kakak, adik, nenek, istri dan
anak-anakku tercinta atas semua dorongan dan doanya selama ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan karya
ilmiah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkanya. Amin.
Bogor, Juni 2011
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Mudik Lolo, Muaralabuh, Solok Selatan, Provinsi
Sumatera Barat pada tanggal 7 Juli 1981 dari ayah H. Sutan Syahril, SP dan ibu
Hj. Nurhayati B. Penulis marupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di
Muaralabuh. Pada tahun 1999 penulis lulus dari SMU N 1 Gunung Talang dan
diterima pada Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Andalas
pada tahun yang sama melalui jalur PMDK. Penulis menamatkan jenjang
pendidikan S1 pada tahun 2004.
Pada Januari 2005 penulis diterima sebagai staf pengajar pada Fakultas
Peternakan Universitas Andalas. Pada tahun 2008 penulis mendaftar pada
Program Studi/Mayor Ilmu Teknologi Peternakan Sekolah Pascasarjana IPB
untuk program S2 dengan sponsor BPPS dari Direktorat Jenderal Pendidikan
DAFTAR ISI
Peran Testosteron terhadap Pertumbuhan Otot, Lemak dan Komposisi Asam Lemak ... 11
Produktivitas Ternak Hidup ... 25
Bobot Lemak Pelvis, Ginjal dan Jantung (PGJ) ... 34
Profil Perlemakan ... 35
Lemak Intramuskuler ... 35
Kadar Kolesterol ... 36
Komposisi Asam Lemak ... 37
KESIMPULAN DAN SARAN ... 42
Kesimpulan ... 42
Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Karakter ukuran-ukuran tubuh DET jantan dewasa di daerah Garut
dan Ciamis ... 4
2. Karakter ukuran-ukuran tubuh DEG dewasa di Kabupaten Sumenep
dan Pamekasan Madura... 5
3. Bobot potong dan komponen karkas domba ... 7
4. Komposisi asam lemak berdasarkan jenis ternak dan sumber
lemaknya ... 8
5. Komposisi bahan yang digunakan pada enkapsulasi ekstrak ELJ ... 16
6. Komposisi dan kandungan nutrien ransum penelitian (% bahan kering)... 18
7. Rataan pertambahan bobot badan (PBB), konsumsi dan konversi
pakan domba dengan penggunaan ekstrak ELJ ... 26
8. Rataan bobot potong, bobot karkas panas, persentase karkas dan
persentase lemak karkas domba dengan penggunaan ekstrak ELJ ... 29
9. Rataan persentase lemak pelvis ginjal jantung (PGJ), persentase lemak intramuskuler dan kolesterol otot longissimus dorsi (LD) domba
dengan penggunaan ekstrak ELJ ... 34
10.Rataan asam lemak miristat, palmitat dan stearat karkas domba ekor
gemuk dan domba ekor tipis dengan penggunaan ELJ (g/100g) ... 38
11.Rataan asam lemak oleat, linoleat dan linolenat karkas domba ekor
gemuk dan domba ekor tipis dengan penggunaan ELJ (g/100g) ... 39
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Sintesa dan produksi testosteron oleh sel leydig ... 10
2. Foto domba Ekor Tipis dan domba Ekor Gemuk yang digunakan pada
penelitian ... 15
3. Tanaman, serutan akar dan ekstrak ELJ yang dienkapsulasi ... 17
4. Kondisi kandang dan domba penelitian ... 23
5. Rataan kadar testosteron darah domba sebelum dan sesudah
perlakuan (ng/ml) ... 24
6. Interaksi pemberian ekstrak (mg/kgBB) dengan jenis domba berbeda
terhadap bobot karkas panas (kg) ... 30
7. Interaksi pemberian ekstrak (mg/kgBB) dengan jenis domba berbeda
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Hasil analisis peragam peubah bobot potong ... 50
2. Hasil analisis peragam peubah pertambahan bobot badan ... 50
3. Hasil analisis peragam peubah konsumsi pakan ... 50
4. Hasil analisis peragam peubah konversi pakan ... 51
5. Hasil analisis peragam peubah karkas panas ... 51
6. Hasil analisis peragam peubah persentase karkas ... 51
7. Hasil analisis peragam peubah persentase lemak karkas ... 52
8. Hasil analisis peragam peubah lemak pelvis ginjal dan jantung ... 52
9. Hasil analisis peragam peubah lemak intramuskuler ... 52
10.Hasil analisis peragam peubah kolesterol ... 53
11.Hasil analisis ragam peubah testosteron awal ... 53
12.Hasil analisis ragam peubah testosteron akhir ... 53
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berbagai usaha sudah dilakukan pemerintah dalam upaya peningkatan
produksi daging nasional. Namun sampai saat ini Indonesia belum mampu
mencapai swasembada daging. Salah satu hal yang mungkin dapat dilakukan
untuk mendukung pencapaian itu adalah dengan peningkatan produksi daging tiap
individu ternak.
Memaksimalkan produksi daging per individu ternak dengan potensi
individu yang ada, antara lain dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen
pemeliharaan, perbaikan kualitas pakan, pemberian zat aditif dan pemacu
pertumbuhan. Zat pemacu pertumbuhan yang umum digunakan adalah hormon
atau bahan sintetis sejenisnya, yang telah cukup lama dikenal dalam praktik dunia
peternakan. Hormon Pemacu Pertumbuhan (HPP) telah lama dimanfaatkan dalam
usaha sapi pedaging. Testosteron sebagai salah satu HPP dapat memperbaiki
konversi pakan dan meningkatkan pertambahan bobot badan (PBB) ternak.
Sebagai salah satu steroid androgen, testosteron mampu menstimulasi
peningkatan sintesis protein dalam otot dan menurunkan kandungan lemak tubuh.
Peningkatan sintesis protein otot akan mengakibatkan hypertrophy serabut otot.
Penggunaan HPP hingga saat ini masih mengalami kontroversi, karena dapat
menimbulkan efek karsinogenik bagi konsumen, sehingga perlu diupayakan
bahan pengganti HPP dengan manfaat yang sama serta risiko minimal bagi
konsumen daging.
Kadar testosteron di dalam tubuh dapat ditingkatkan tanpa penambahan
hormon ataupun derivatnya dari luar. Testosteron endogen dapat meningkat akibat
pemberian ekstrak tanaman yang bersifat afrodisiak seperti Eurycoma longifolia Jack
(ELJ) yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Pasak Bumi atau Tongkat Ali. Zat
aktif yang berasal dari ekstrak air ELJ yang memiliki aktivitas meningkatkan
sintesis testosteron merupakan glikopeptida dengan berat molekul 4300 Dalton dan
tersusun oleh sekitar 36asam amino.
Ternak domba sebagai salah satu ternak ruminansia pada tahun 2009
populasi ternak ruminansia di Indonesia. Populasi domba terbesar terdapat di
daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu berturut-turut 5 311 836; 2
083 431 dan 729 721 ekor (DITJENNAK. 2010). Di Indonesia dikenal tiga jenis
domba, yaitu domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor Gemuk (JEG)
dan domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Berdasarkan populasi penyebaran
domba di Indonesia yang terpusat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa
Timur, maka dapat dikatakan bahwa domba ekor gemuk (DEG) dan domba ekor
tipis (DET) merupakan jenis domba yang banyak dipelihara peternak.
Sejauh ini belum ditemukan hasil penelitian yang memanfaatkan ekstrak
tanaman pasak bumi pada ternak ruminansia pedaging, khususnya domba.
Aplikasi pemanfaatan pasak bumi umumnya ditujukan pada manusia serta hewan
percobaan.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan
profil perlemakan karkas domba ekor gemuk dan ekor tipis dengan penggunaan
TINJAUAN PUSTAKA
Ternak Domba
Domba sebagai salah satu hewan ruminansia kecil termasuk sub famili
Caprinae dengan genus ovis. Terdapat empat spesies domba liar yaitu: 1) mufflon
(Ovis musimon) yang ada di Eropa dan Asia Barat, 2) urial (Ovis orientalis)
tersebar di Afganistan dan Asia Barat, 3) argalis (Ovis ammon) berkembang biak
di Asia Tengah dan 4) bighorn (Ovis canadensis) yang terdapat di Asia dan
Amerika bagian utara (Williamson & Payne 1985).
Menurut Ensminger (1991), secara sistematika zoologi dari ternak domba
adalah sebagai berikut:
atau sekitar 24,76% dari total pupulasi ternak ruminansia di Indonesia. Populasi
domba terbesar terdapat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yaitu
berturut-turut 5 311 836; 2 083 431 dan 729 721 ekor (DITJENNAK 2010).
Menurut Tomaszewska et al. (1993), terdapat tiga jenis domba yang dikenal di
Indonesia: domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor Gemuk (JEG) dan
domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Berdasarkan populasi penyebaran domba di
Indonesia yang terpusat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,
maka dapat dikatakan bahwa domba ekor gemuk (DEG) dan domba ekor tipis
(DET) merupakan jenis domba yang banyak dipelihara peternak.
Domba Ekor Tipis (DET)
Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia dan berkembang di
dengan warna hitam di seputar mata, hidung dan beberapa bagian tubuh lainnya,
serta memiliki bulu yang kasar. Mempunyai ekor kurus dan tidak berlemak.
Domba jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar, sedangkan domba betina
tidak bertanduk. Berat badan domba jantan dewasa berkisar 30-40 kg dan berat
betina dewasa sekitar 15-20 kg. Salah satu keunggulan domba ekor tipis adalah
sifatnya yang prolifik (Inounu et al. 1986). Tabel 1 menyajikan ukuran-ukuran
tubuh DET jantan dewasa di daerah Garut dan Ciamis.
Tabel 1 Karakter ukuran-ukuran tubuh DET jantan dewasa di daerah Garut dan Ciamis
Karakter (cm) Umur (tahun) Garut Ciamis
Panjang badan 2-3 63.67 53.83
Domba ekor tipis jantan memiliki tanduk yang agak rapat dan melengkung,
sedangkan betina biasanya tidak bertanduk (Mason 1980). Ukuran panjang ekor
rata-rata 19.3 cm, lebar pangkal 5.6 cm dan tebal 2.7 cm (Tiesnamurti 1992).
Menurut Salamena (2006), ukuran-ukuran tubuh DET di daerah Garut
berturut-turut adalah rataan bobot badan 28.00 kg, tinggi pundak 64.00 cm, panjang badan
62.20 cm, lebar dada 13.60 cm, dalam dada 26.70 cm, lingkar dada 75.80 cm dan
lebar ekor 2.10 cm.
Domba Ekor Gemuk (DEG)
Domba Ekor Gemuk banyak ditemui di Jawa Timur, Madura, Sulawesi dan
Lombok. DEG berwarna putih dan tidak bertanduk, memiliki ekor yang besar.
bertanduk dan hanya pada beberapa hewan jantan dijumpai benjolan tanduk serta
mampunyai kepala yang kecil.
DEG dikenal karena bentuk ekornya yang gemuk, sehingga digolongkan ke
dalam domba ekor gemuk. Bentuk ekor pada DEG lebar, panjang, tetapi gemuk
dan besar, berfungsi sebagai tempat penimbunan lemak, sedangkan bagian ujung
ekor kecil dan tidak terdapat timbunan lemak (Mulyaningsih 1990).
Dilaporkan Tiesnamurti (1992), bahwa bobot badan pada DEG jantan
dewasa diperoleh 30-35 kg dan betina 25-30 kg dengan peresentase karkas
45-52%. DEG merupakan domba tipe pedaging dengan bobot badan pada jantan
dewasa 40-60 kg, sedangkan bobot badan betina 25-35 kg. Ukuran tinggi pundak
pada jantan dewasa antara 60-65 cm dan betina dewasa 52-60 cm. Berdasarkan
hasil penelitian Salamena (2006), terhadap DEG di daerah Indarmayu dan Madura
didapatkan rataan berturut- turut sebagi berikut: bobot badan 46.10 dan 37.83 kg,
tinggi pundak 67.94 dan 64.43 cm, panjang badan 63.38 dan 62.70 cm, lebar dada
17.70 dan 16.83 cm, dalam dada 31.02 dan 29.73 cm lingkar dada 90.46 dan
81.03 cm dan lebar ekor 12.20 dan 12.83 cm.
Takaendengan (1998) mendapatkan karakter morfometri DEG dewasa di
Kabupaten Sumenep dan Pamekasan Madura seperti pada Tabel 2.
Tabel 2 Karakter ukuran-ukuran tubuh DEG dewasa di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan Madura
Kareakter Sumenep Pamekasan
Jantan Betina Jantan Betina
Bobot badan (kg) 30.7 25.6 25.5 25.4
Bobot karkas adalah bobot hidup setelah dikurangi bobot saluran
pencernaan, darah, kepala, kulit dan keempat kaki mulai dari persendian carpus
adalah perbandingan bobot karkas dengan bobot hidup saat dipotong dikalikan
dengan 100% (Aberle et al. 2001). Menurut Soeparno (2005) persentase karkas
dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot ternak, kondisi, bangsa ternak, proporsi
bagian-bagian non karkas, ransum yang diberikan dan cara pemotongan. Aberle et
al. (2001) menyatakan bahwa persentase karkas dipengaruhi oleh berat saluran
pencernaan dan isinya, rasio daging dengan tulang dan perlemakan karkas.
Herman (1993) menyatakan bahwa persentase karkas domba Priangan
adalah sebesar 55.1% dan domba Ekor Gemuk adalah sebesar 55.3% pada bobot
potong 40 kg. Persentase karkas bervariasi karena umur dan perlemakan dari
domba tersebut, sedangkan persentase tulang, otot dan lemak dalam karkas
dipengaruhi oleh umur, bangsa dan perlemakan pada domba. Hasil penelitian
Sugiyono (1997) mendapatkan bahwa bobot karkas domba lokal sebesar 7.5 kg
dari bobot hidup 19.3 kg dan persentase karkasnya 39.1%. Johnston (1983)
menyatakan bahwa persentase karkas pada domba yang kurus kurang dari 40%,
sedangkan pada kondisi gemuk persentase karkas dapat melebihi 60%. Menurut
Soeparno (2005) perbedaan komposisi tubuh dan karkas diantara bangsa ternak
disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa atau perbedaan bobot pada saat
dewasa.
Proporsi komponen karkas dan potongan karkas yang dikehendaki
konsumen adalah karkas atau potongan karkas yang terdiri atas proporsi daging
tanpa lemak (lean) yang tinggi, tulang yang rendah dan lemak yang optimal
(Natasasmita 1978). Komponen utama karkas terdiri atas jaringan otot, tulang
dan lemak. Kualitas karkas sangat ditentukan oleh imbangan ketiga komponen
tersebut. Tulang sebagai kerangka tubuh, merupakan komponen karkas yang
tumbuh dan berkembang paling dini, kemudian disusul oleh otot dan yang paling
akhir oleh jaringan lemak (Soeparno 2005). Komponen karkas yang dapat
memberikan nilai ekonomis adalah lemak, karena lemak berfungsi sebagai
pembungkus daging dan memberikan keempukan pada daging (Berg &
Butterfield, 1976). Kirton et al. (1974) menyatakan bahwa kandungan lemak pada
domba memperlihatkan perbedaan yang nyata karena perbedaan bangsa dan jenis
Menurut Herman (1993) dan Rachmadi (2003) bahwa semakin tinggi
bobot potong yang diperoleh menyebabkan bobot karkas segar dan persentase
karkas akan semakin tinggi. Herman (1993) bahwa pada bobot potong 17.5 kg,
bobot karkas, otot, tulang dan lemak pada domba Priangan berturut-turut adalah
sebesar 8290, 2554, 720 dan 598 g, sedangkan untuk DEG berturut-turut 8530,
2521, 724 dan 794 g. Rachmadi (2003) bahwa domba yang diberi pakan
konsentrat yang mengandung bungkil inti sawit sebanyak 45% mempunyai bobot
tubuh kosong, bobot karkas dan persentase karkasnya berturut-turut adalah
sebesar 14.30, 6.24 kg dan 43.57% dengan masa penggemukan enam bulan. Tabel
3 menyajikan komposisi karkas ternak domba.
Tabel 3 Bobot potong dan komponen karkas domba
Uraian Jenis Domba
Keterangan: * Herman (2001),** Porbowati et al.(2005)
Lemak tersusun atas ester gliserol dari asam-asam karboksilik rantai
panjang yang mempunyai jumlah atom karbon yang genap. Lemak bersifat
nonpolar, sehingga tidak larut dalam air. Istilah lipid meliputi satu grup molekul
hidrofobik dan amfipatik yang terdiri atas: asam-asam lemak, trigliserida,
fosfolipid, steroid, eikosanoid dan vitamin yang larut dalam lemak (Soeparno
2011).
Menurut Rachmadi (2003), kadar kolesterol otot longissimus dorsi pada
domba berkisar 62.31-71.68 mg/100g dan didapatkan adanya penurunan kadar
otot berhubungan dangan kadar kolesterol darah, penurunan kadar kolesterol otot
sejalan dengan penurunan LDL dan peningkatan HDL darah.
Komposisi asam lemak domba sangat bervariasi tergantung kepada depot
lemaknya (Moibi & Christopherson 2001). Faktor lain yang mempengaruhi
komposisi asam lemak adalah bangsa, jenis kelamin, bobot potong, lingkungan,
pakan, tingkat perlemakan dan interaksi berberapa faktor tersebut ( Caneque et al.
2005). Menurut Juarez et al. (2008), faktor utama yang mempengaruhi komposisi
asam lemak pada domba adalah sumber depot lemak, lokasi lemak (internal,
eksternal atau intramuskuler), bangsa, umur sapih dan tebal lemak punggung,
yang memberikan variasi diatas 60%.
Tabel 4 Komposisi asam lemak berdasarkan jenis ternak dan sumber lemaknya (g/100g)*
Keterangan : * Wood et al. (2008), - tidak terdeteksi
Hormon Testosteron
Testosteron adalah suatu steroid dengan inti
cyclopentan-perihidro-phenantren dengan gugus keton pada posisi 3 dan gugus alkohol sekunder pada
posisi 17. Senyawa ini berupa kristal putih yang tidak larut dalam air dan larut
dalam pelarut lemak. Testosteron disintesis oleh testis di dalam sel-sel leydig yang
tersebar dalam jaringan ikat antara tubulus seminiferus akibat rangsangan
luteinizing hormone (LH) atau interstitial cell stimulating hormone (ICSH) yang
pada sel leydig dengan cara meningkatkan afinitas dari reseptor LH. Pada jantan,
selain di testis, testosteron juga dihasilkan oleh adrenal korteks dalam jumlah
yang sedikit (Pineda & Dooley 2003).
Menurut Swerdloff et al. (1992), jumlah testosteron yang disekresikan
diatur olah hypothalamus-pituitary-testicular axis. Pada saat kadar testosteron
rendah, gonadotropin-releasing hormone (GnRH) disekresikan dari hypothalamus
yang akan menstimulasi kelanjer pituitary untuk mengeluarkan FSH dan LH.
Kedua hormon ini akan merangsang testis untuk mensintesis testosteron.
Peningkatan testosteron akan memberikan pengaruh terhadap hypothalamus dan
pituitary untuk tidak melepaskan GnRH dan FSH/LH.
Testosteron sabagai sex steroid hormone memiliki dua fungsi pada sel
target: androgenic dan anabolic effect. Fungsi androgenic menstimulasi
pertumbuhan dan fungsi dari organ sex dan perkembangan karakter kelamin
jantan. Fungsi anabolic termasuk pada stimulasi metabolism membangun dan
pengembangan karkater sek secara umum, peningkatan kekuatan dan massa otot,
penguatan dan pertumbuhan tulang (Pineda & Dooley 2003).
Kecepatan sekresi testosteron rata-rata sebesar 4-9 mg/hari (13.9-31.2
nmol/hari) dalam kondisi normal pada jantan dewasa. Sebanyak 97% hormon
testosteron berada di dalam plasma yang terikat oleh protein, dimana 40% terikat
oleh -globulin atau disebut gonadal steroid binding globulin (GBG), 40%
albumin dan 17% terdiri atas protein yang lain (William 1983). Testosteron terikat
dalam -globulin plasma dengan kespesifikan, afinitas yang relatif tinggi dan
kapasitas terbatas. Protein ini sering dinamakan sex hormone binding globulin
(SHBG) dan diproduksi di dalam hati. Hanya sebagian kecil dari testosteron yang
berada dalam bentuk bebas (biologis aktif) di dalam sirkulasi darah. Testosteron
yang telah disekresikan akan bersirkulasi di dalam darah selama kurang lebih 30
sampai 60 menit (Guyton & Hall 1996). Gambar 1 memperlihatkan sintesis
Gambar 1 Sintesa dan produksi testosteron oleh sel leydig (Pineda & Dooley 2003)
Kadar testosteron sangat bervariasi, menurut Sanford et al. (1974) kadar
testosteron bervariasi tiap individu ternak domba, dengan titik terendah 0.30- 1.53
ng/ml dan puncak tertinggi 9.02-19.66 ng/ml. Pelepasannya 40 menit setelah
pelepasan LH, namun sangat bervariasi tiap individu dan pada bulan-bulan
tertentu tiap tahunnya. Pada individu yang sama terjadi variasi tinggi sesuai
dengan waktu pengukuran. Level hormon testosteron dalam darah tidak hanya
dipengaruhi oleh sekresi, pelepasan dan tingkat metabolismenya, tapi juga
dipengaruhi oleh umur, musim dan (lamanya siang dan malam) circadian
rhythms. Selain itu ada faktor lain yang mempengaruhi seperti: frekuensi
pengambilan, ada tidaknya stimulasi seksual serta sensitivitas dan tingkat
Peran Testosteron terhadap Pertumbuhan Otot, Lemak dan Komposisi Asam Lemak
Pertumbuhan ternak diatur oleh hormon baik secara langsung maupun tidak
langsung. Hormon yang mempunyai pengaruh lansung terhadap pertumbuhan
termasuk pertumbuhan tulang dan metabolisme nitrogen antara lain somatotropin,
tiroksin, androgen, estrogen, dan glukokortikoid (GK). Sekresi hormon testosteron
yang tinggi menyebabkan sekresi androgen ikut naik pula, sehingga hormon ini
menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat pada ternak jantan terutama setelah
munculnya sifat-sifat kelamin sekunder (Soeparno 2005).
Faktor endokrin mempengaruhi pertumbuhan otot dan perkembangannya
sepanjang hidup, berlebih atau berkurangnya hormon mempengaruhi struktur dan
fungsi otot secara berlawanan (Veldhuis et al. 2005). Terutama androgen, yang
berhubungan dengan ukuran otot dan kekuatan, dengan suatu hubungan yang
kompleks antara taraf androgen dengan kinerja mekanis. Androgen dan latihan
telah memperlihatkan dampaknya terhadap ukuran serta kekuatan otot baik secara
tunggal maupun kombinasi (Bhasin et al. 2003). Testosteron menginduksi
peningkatan massa otot melalui hypertrophy serabut otot (Sinha-Hikim et al.
2002; Bhasin et al. 2003).
Mekanisme aksi anabolik testosteron terhadap otot masih kurang dipahami.
Secara umum dijelaskan bahwa testosteron meningkatkan saldo protein otot
melalui stimulasi sintesis protein otot, menurunkan degradasi protein otot, dan
meningkatkan penggunaan kembali asam amino (Ferrando et al. 1998).
Peningkatan sintesa protein otot yang distimulasi testosteron adalah sekitar 27%,
sebaliknya oksidasi leusin menurun tipis sekitar 17%, namun sintesa protein tubuh
total tidak berubah nyata.
Testosteron mampu menstimulasi peningkatan sintesis protein dalam otot
dan menurunkan kandungan lemak tubuh (Soeparno 2005). Hal ini tentunya akan
mempengaruhi distribusi lemak pada depot-depot lemak tubuh. Penyuntikan
testosteron dengan dosis 49 mg/ekor/minggu pada kambing kacang betina dengan
bobot 11.36 kg dapat menurunkan bobot lemak pelvis hati dan ginjal (Rudiono
Lemak domba sebagian besar terdiri atas asam lemak jenuh atau saturated
fatty acid (SAF) dalam jumlah banyak dan asam lemak poli tak jenuh atau poly
unssaturated fatty acid (PUFA) dalam jumlah sedikit (Enser et al. 1996). Menurut
Menurut Webb dan Oneill (2008), faktor yang mempengaruhi komposisi
asam lemak daging adalah spesies, sitem pemberian pakan, komposisi
nutrien ransum, lokasi dan sumber depot lemak, kastrasi, genetik dan
hormon pertumbuhan.
Monteiro et al. (2006), kastrasi pada sapi jantan menyebabkan
penurunan komposisi asam lemak palmitat, oleat dan rasio n-6/n-3 pada
lemak intramuskuler. Kastrasi pada kambing jantan menyebabkan
peningkatan kadar kolesterol, kadar lemak dan komposisi asam lemak jenuh
dan PUFA (Madruga et al. 2001). Hal senada juga disampaikan oleh
Santos-Filho et al. (2005), bahwa kastrasi menyebabkan peningkatan kadar
kolesterol dan komposisi asam lemak jenuh pada daging kambing.
Asam lemak tak jenuh rantai panjang dapat menurunkan kadar
kolesterol dengan beberapa cara yaitu; 1) merangsang eksresi kolesterol ke
dalam usus; 2) merangsang oksidasi kolesterol menjadi asam empedu; 3)
menyebabkan kolesterol lebih cepat dimetabolis oleh hati dan jaringan lain dan
4) merangsang pergeseran distribusi kolesterol dari plasma ke jaringan karena
kecepatan pemecahan LDL (low density lipoprotein). Sebaliknya asam lemak
jenuh menyebabkan pembentukan VLDL (very low density lipoprotein) yang
mengandung lebih banyak kolesterol dan digunakan jaringan dengan kecepatan
yang lebih lambat, sehingga banyak ditimbun tubuh (Martin et al. 1984).
Mengkonsumsi bahan makanan yang rendah asam lemak jenuh dan tinggi asam
lemak tak jenuh dapat menurunkan resiko penyakit jantung koroner pada manusia
(Hu et al. 1999).
Hormon steroid dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol dan
trigliserida pada tikus. Pengaruh testosteron terhadap komposisi asam lemak pada
sel sartoliI memperlihatkan bahwa testosteron mampu meningkatkan asam lemak
monounsaturated jenis n-9, yaitu palmitoleat (16:1) dan oleat (18:1). Testosteron
juga meningkatkan asam lemak lionoleat (18:2 n-6), namun menurunkan
lemak monounsaturated sebagai akibat berkurangnya asam lemak poly
unsaturated fatty acid (PUFA) 20:4 dan 22:5 n-6 (Catalfo & Gomez 2005).
Potensi Pasak Bumi
Eurycoma longifolia Jack (ELJ) merupakan tanaman berbentuk pohon
dengan pertumbuhan yang lambat, memiliki tinggi pohon mencapai 15-18 m dan
mulai berbuah pada umur 2-3 tahun setelah ditanam. Umur tanaman ini dapat
mencapai 25 tahun, tapi untuk kebutuhan komersil biasanya dipanen pada umur 4
tahun. Buah ELJ berwarna hijau dan akan berubah menjadi merah saat sudah
matang dengan panjang 2-3 cm. Daun memiliki panjang 10-15 cm dangan jumlah
10-30 lembar tiap tangkai daun (Bhat & Karim 2010).
Menurut Cronquist (1981) klasifikasi tanaman ELJ/pasak bumi adalah:
dunia : Plantae
Malaysian Ginseng, Local Ginseng, Natural Viagra, Payung Ali, Penawar Pahit,
Setunjang Bumi, Bedara Pahit, Tongkat Baginda, Pokok Syurga, Tongkat Ali
Hitam, Pokok Jelas, Cay ba binh, Ian-don. ELJ merupakan tanaman herbal yang
cukup populer, yang tumbuh di Indonesia, Malaysia, Vietnam, Kamboja,
Myanmar dan Thailand (Bhat & Karim 2010).
ELJ telah lama dikenal masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat-obatan
yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Lebih jauh ekstrak ELJ
dilaporkan memiliki sifat afrodisiak, aktivitas cytotoxic, antimalaria, anxiolytic,
dan antiulcer. Studi fitokimia menunjukkan bahwa tanaman ELJ memiliki
serangkaian senyawa kuasinoid (seperti eurycomalacton, eurycomanon, dan
eurycomanol) yang terutama bertanggung jawab atas rasa pahit, triscullanetype
-carboline alkaloids (Bedir et al. 2003). Meski memiliki banyak khasiat, tanaman
pasak bumi lebih populer dengan fungsi afrodisiak untuk meningkatkan vitalitas
pria. Eurycoma longifolia umumnya distandardisasi pada eurycomanone,
13alpha(21)-epoxyeurycomanone, eurycomalactone dan
14,15beta-dihydroxy-klaineanone sebagai marker acuan untuk ekstrak organik, sedangkan quassinoid
dan glikoprotein yang lebih polar digunakan sebagai standard untuk ekstrak
dengan air (Sambandan et al. 2006) .
Hasil pengamatan Hamzah dan Yusof (2003) memperlihatkan bahwa
larutan ekstrak Eurycoma longifolia Jack meningkatkan bobot bebas lemak,
mengurangi lemak tubuh, serta meningkatkan kekuatan dan ukuran otot.
Suplementasi 100 mg/hari Eurycoma longifolia pada pria dapat meningkatkan
massa lean tubuh 2.13 kg dan menurunkan lemak 2.86%.
Chan (2000) menyatakan bahwa ekstrak pasak bumi dapat meningkatkan
kadar testosteron sehingga disebutnya sebagai testosterone booster, namun
kenaikan kadar hormon testosteron tersebut tidak akan lebih dari 400%. Tikus
yang diberi ekstrak pasak bumi 28 mg/kg BB, kadar testosteronnya nyata lebih
tinggi dibanding perlakuan kontrol negatif tragacanth 1%, tetapi tidak berbeda
dengan kontrol positif mesterolone 0.42 mg/kg BB (Nainggolan & Simanjuntak
2005). Taufiqqurrachman (1999) menjelaskan bahwa pemberian ekstrak pasak
bumi dosis 25 mg/kg BB dapat meningkatkan kadar LH 17.8% dan testosteron
99.5% pada tikus, namun jika dosisnya ditingkatkan 2 kali (50 mg) hasilnya tidak
menjadi lebih baik, dimana peningkatan LH hanya 17.3% dan testosteron 93.2%
dibanding kontrol. Zat aktif yang berasal dari ekstrak air ELJ yang memiliki
aktivitas meningkatkan sintesis testosteron merupakan glikopeptida dengan berat
molekul 4300 Dalton dan disusun oleh sekitar 36 asam amino (Sambandan et al.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Percobaan Laboratorium Ternak
Ruminansia Kecil, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas
Peternakan dan Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2009 sampai
dengan Juli 2010.
Materi Penelitian
Domba yang digunakan sebanyak 18 ekor domba jantan dengan rataan
bobot badan 22.91 ± 1.39 kg dengan umur 1-1.5 tahun (sepasang gigi tetap) terdiri
atas domba ekor gemuk (DEG) dan domba ekor tipis (DET) masing-masing 9
ekor. DEG diperoleh dari peternakan domba Mitra Tani Farm Kecamatan
Ciampea Kabupaten Bogor, sedangkan DET diperoleh dari peternakan domba
Barokah di daerah Cimande Jawa Barat. Gambar 2 dan 3 memperlihatkan foto
DEG dan DET.
Gambar 2 Foto domba Ekor Tipis (kiri) dan domba Ekor Gemuk (kanan) yang digunakan pada penelitian
ekor yang tipis dan kurus
Metode Penelitian Ekstrak ELJ
Akar Pasak Bumi dalam keadaan kering didatangkan dari wilayah
Kalimantan Timur. Akar dihancurkan menggunakan mesin menjadi ukuran yang
halus. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan air suling
sebagai pelarut (aqueous extract). Simplisia direndam menggunakan air suling
dengan perbandingan ELJ : air = 1 : 4, selama 24. Campuran selanjutnya diaduk
selama 4 jam dengan suhu 40°C. Padatan dan filtrat dari campuran tersebut
selanjutnya dipisahkan dengan penyaringan. Filtrat kemudian dikeringkan pada
suhu rendah (50oC) hingga didapatkan ekstrak padat. Ekstrak padat yang diperoleh disimpan di dalam refrigerator sebelum dienkapsulasi (Murwani 2003).
Enkapsulasi Ekstrak ELJ
ELJ yang digunakan terlebih dahulu dilakukan enkapsulasi hidrofobik
modifikasi metode Klose dan Nyack (1993). Komposisi bahan dapat dilihat pada
Tabel 5.
Tabel 5 Komposisi bahan yang digunakan pada enkapsulasi ekstrak ELJ
Komposisi enkapsulasi % berat
Substrat bioaktif 47.2
Penyalut hidrofobik : 37.8
90% asam stearat
10% beeswax
Pengubah berat jenis (kaolin) 15.0
Total 100
Komponen penyalut dipanaskan dan dicampur bersamaan. Setelah
penyalut meleleh, ditambahkan substrat bioaktif (ekstrak ELJ) dan diaduk sampai
merata, kemudian ditambahkan kaolin dan dicampurkan lagi. Kemudian produk
enkapsulasi didinginkan. Selanjutnya ukurannya diperkecil sehingga dapat
dilewatkan pada kasa 6 mesh. Enkapsulat selanjutnya disemprot dengan propylene
a b
c
Gambar 3 Tanaman (a), serutan akar (b) dan ekstrak ELJ yang dienkapsulasi (c)
Pemeliharaan Ternak
Domba yang menjadi materi panelitian diadaptasikan selama dua minggu.
Pada saat ini dilakukan pembersihan dan pencukuran bulu, pemberian obat cacing
dan pengenalan pakan. Masing-masing domba ditempatkan dalam kandang
individu yang terbuat dari besi dengan ukuran panjang 120 cm lebar 60 cm dan
tinggi 120 cm. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan yang terbuat dari
papan dan tempat minum berupa ember plastik kapasitas 5 liter. Pakan yang
digunakan merupakan pakan komplit berbentuk pellet ukuran 8 mm dengan
komposisi pada Tabel 6. Pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali sehari,
yaitu pagi 250 g, siang 600 g dan sore 800 g. Air minum disediakan ad libitum.
Pemberian ekstrak ELJ dilakukan setiap hari bersamaan dengan pemberian
pakan pada pagi hari. Sebanyak 250 g pakan pellet dihancurkan sampai
ukurannya sama dengan ekstrak ELJ terenkapsulasi, kemudian ekstrak ELJ
enkapsulasi dicampur dangan satu sendok makan molasses sampai rata dan
bertujuan untuk mengurangi rasa pahit dari ekstrak ELJ. Periode pemeliharaan
ternak dilakukan selama 115 hari.
Tabel 6 Komposisi dan kandungan nutrien ransum penelitian (% bahan kering)
Jenis Bahan Ransum Zat-zat makanan dan jumlahnya
a
Keterangan: aBerdasarkan Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia (Hartadi et al. 1990).
Pemotongan Ternak dan Penanganan Karkas
Pemotongan ternak dilakukan selama tiga hari, dengan jumlah pemotongan 6
ekor setiap harinya yang mewakili setiap perlakuan. Ternak yang dipotong
dipuasakan selama 15 jam. Pemotongan dilakukan sesuai syariat Islam dengan
memotong bagian leher dekat rahang bawah yaitu memotong arteri karotis, vena
jugularis serta trachea dan esophagus.
Setelah ternak mati, ujung esophagus diikat unutk mencegah cairan rumen
keluar. Kepala dilepaskan dari tubuh pada sendi occipito-atlantis. Kaki depan dan
kaki belakang dilepaskan pada sendi carpo-metacarpal dan tarso-metatarsal.
Pengulitan dilakukan dengan cara menggantung ternak pada kaki belakang di tendo
achilles, kemudian kulit dituris dari anus sampai leher di bagian perut dan dada,
kemudian dari arah kaki belakang dan kaki depan menuju irisan pertama, selanjutnya
kulit dilepaskan. Penyayatan pada dinding abdomen sampai dada dilakukan untuk
mengeluarkan organ tubuh dari rongga perut dan dada, sebelumnya anus diikat untuk
mencagah keluarnya faeces.
Setelah organ bagian dalam, lemak pelvis dan ginjal dikeluarkan dan bagian
ekor dipisahkan maka didapatkan karkas panas dan kemudian ditimbang untuk
mendapatkan bobot karkas panas. Selanjutnya karkas dibelah menjadi dua bagian
setengah karkas kiri dan kanan. Selanjutnya bagian setengah karkas tersebut disimpan
di dalam ruang pendingin dengan suhu 2oC yang belumnya dibungkus dengan plastik. Keesokan harinya bagian setengah karkas kanan diuraikan untuk mendapatkan
lemak, otot dan tulang.
Peubah yang Diamati
Kadar testosteron darah. Diukur dengan metode Enzyme-linked Immuno
Sorbent Assay (ELISA) (Tietz 1986). Pengambilan darah dilakukan pada pagi
hari antara jam 07.30-08.30, dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada awal
(sebelum perlakuan dimulai) dan pada akhir perlakuan. Sampel darah diambil
dengan syringe steril kapasitas 3 ml di vena bagian leher (jugularis) sebanyak 1
ml. Sampel darah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung eppendorf
kapasitas 1.5 ml yang mengandung antikoagulan EDTA. Plasma darah diambil
dengan cara disentrifus pada 10 000 rpm, selama 10 menit, sehingga dapat
digunakan untuk pengukuran hormon testosteron. Pengukuran kadar testosteron
plasma darah menggunkan DRG testosterone ELISA EIA-1559 produksi DRG
Instruments GmbH, Jerman.
Pertambahan bobot badan (PBB). Ditentukan dengan penghitungan selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal/ekor/lama periode penelitian
(hari). Penimbangan bobot badan dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00
- 07.00 WIB (sebelum pemberian pakan).
Konsumsi Pakan.Dihitung dengan cara jumlah pemberian dikurangi dengan sisa pakan.
Konversi Pakan. Dihitung dengan cara jumlah konsumsi pakan dibagi dengan PBB
Bobot potong. Diukur dengan cara penimbangan bobot tubuh ternak sebelum pemotongan.
Bobot karkas panas. Diukur dengan cara penimbangan karkas sesaat setelah pemotongan.
Berat lemak pelvis, ginjal dan jantung. Diperoleh dengan penimbangan lemak pelvis, ginjal dan jantung yang telah dipisahkan dari karkas.
Kadar lemak intramuskuler. Ditentukan melalui analisis proksimat dengan metode AOAC (1995). Sampel daging yang dianalisis diambil dari otot
longgissimus dorsi. Sebanyak 2 gram sampel disebar di atas kapas yang
beralas kertas saring yang digulung berbentuk thimble, lalu dimasukan ke
dalam labu soxhlet, kemudian diekstraksi selama 6 jam dengan pelarut lemak
berupa heksan sebanyak 150 ml. Lemak yang terekstrak kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 1000 C selama 1 jam, lalu bobot ekstrak kering ditimbang. Kadar lemak dapat dihitung dengan rumus berikut:
= × 100%
Kadar kolesterol. Penentuan kadar kolesterol dilakukan dengan metode
Liebermann Buchard (Kliener & Dotti 1962). Sampel otot yang digunakan
adalah otot longissimus dorsi.
Sebanyak 0.1 gram sampel otot dimasukan ke dalam sentrifuse, kemudian
ditambah dengan 8 ml larutan etanol dengan heksan (3:1), lalu diaduk
sampai homogen. Pengaduk dibilas dengan 2 ml larutan etanol: heksan
(3:1), kemudian disentrifuse selama 10 menit (3000 rpm).
Supernatan dituang ke dalam beaker glass 100 ml dan diuapkan di dalam
penangas air. Residu diuapkan dengan kloroform sedikit demi sedikit
sambil dituang ke dalam tabung (5 ml), kemudian ditambah 2 ml asetat
anhidrid dan 0.2 ml H2SO4 pekat. Selanjutnya diaduk dengan vortex dan
dibiarkan di tempat gelap selama 25 menit, lalu dibaca absorbannya
dangan alat spectrofotometer pada panjang gelombang 420 nm dangan
standar 0.4 mg/ml.
Penghitungan kadar kolesterol dilakukan dengan rumus:
= ( ℎ �100 � �
Komposisi Asam lemak
Ditentukan dengan metode gas chromatography (GC) (AOAC, 1995).
Sampel lemak yang dianalisis adalah lemak sub kutan di daerah punggung.
Diperlukan proses ekstraksi dan esterifikasi dari sampel sebelum dianalisis
dengan khromatografi gas.
Ekstraksi. Untuk sampel padat diekstraksi dengan pelarut lemak benzena atau dietil eter, menggunakan alat ekstraksi soxhlet. Disiapkan labu lemak
yang sesuai dengan alat ekstraksi soxhlet, lalu dikeringkan dengan oven,
didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Sebanyak 1-2 gram sampel
tersebut (bentuk tepung) dibungkus dengan kertas saring, diletakan dalam
soxhlet kemudian dipasang kondenser di atasnya. Selanjutnya tambahkan
benzena lalu di reflux selama 5 jam, sampai pelarut yang turun ke dalam
labu berwarna jernih. Destilasi pelarut yang ada dalam labu lemak,
kemudian tampung pelarutnya. Hasil ekstraksi dalam labu lemak
dipanaskan dengan oven pada suhu 105oC. Setelah dikeringkan sampai beratnya tetap, lalu dinginkan dalam desikator dan timbang labu beserta
lemaknya, selanjutnya berat lemak dapat dihitung.
Esterifikasi. Sebanyak 0.2 gram asam lemak bebas diambil dari labu lemak dimasukan ke dalam botol kecil, kemudian tambahkan 1 ml NAOH
(0.5N) + 0.5 ml methanol (50%). Selanjutnya dipanaskan selama 20 menit
dalam water bath lalu dinginkan, kemudian tambahkan 2 ml BF3 dan
panaskan lagi selama 20 menit dalam water bath, kemudian dinginkan,
selanjutnya ditambahkan 2 ml NaCl dan 1 ml hexan, kemudian
homogenisasi dengan vortex. Selanjutnya ambil 0.2 µl campuran ini
dengan microsyringe dan siap diinjeksikan ke dalam alat khromatografi
gas.
Rancangan Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3x2
dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan I adalah dosis ekstrak ELJ 0, 50 dan 100
perlakuan II adalah jenis domba, yaitu domba ekor tipis dan domba ekor gemuk.
Model matematis mengacu pada Steel dan Torrie (1995):
Model matematis rancangan faktorial dengan kofaktor:
Yijk = µ + αi+ βj + (αβ)ij + bXij + εijk
Model matematis rancangan acak lengkap pola faktorial:
Yijk = µ + αi+ βj + (αβ)ij + εijk
Keterangan :
Yijk = respon percobaan dari perlakuan ke-i ulangan ke-k
µ = nilai tengah umum respon percobaan
αi = pengaruh perlakuan I ke-i ulangan ke-k
βj = pengaruh pelakuan II ke-j ulangan ke-k
(αβ)i = pengaruh interaksi perlakuan I ke-i dengan perlakuan II ke j ulangan ke-k
b = regresi dari respon terhadap bobot awal
Xij = bobot badan awal perlakuan I ke-i dan perlakuan II ke-j ulangan ke-k εijk = pengaruh galat perlakuan I ke-i dengan perlakuan II ke j ulangan ke-k
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik peragam atau kovarian (selain
kadar testosteron darah, dianalisis dengan sidik ragam) dengan bobot awal sebagai
faktor koreksi. Jika terdapat pengaruh terhadap peubah yang diukur maka
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Penelitian ini dimulai dari persiapan pembuatan ekstrak, enkapsulasi
ekstrak, perlakuan di kandang, pemotongan ternak, penimbangan bagian-bagian
karkas dan analisa sampel darah, otot dan lemak. Selama perlakuan, kondisi
lingkungan kandang cukup panas yaitu 32.67 – 33.33oC pada siang hari. Pada pagi hari suhu berkisar 24.33-25.67oC dan sore hari 29.33-30.00oC .
Ekstrak ELJ yang diberikan memiliki rasa yang pahit, sehingga mengurangi
palatabilitas pakan, maka untuk mengatasinya dilakukan penambahan molases
sebanyak satu sendok makan pada saat pencampuran ekstrak ELJ dengan pakan.
Penambahan molases ini diberikan pada semua level pemberian ELJ, yaitu: 0, 50
dan 100 mg/kg BB. Namun demikian, ternak masih terlihat kurang suka dengan
rasa pakan yang diberi ekstrak ELJ. Hal ini terlihat dari lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk menghabiskan pakan yang dicampur ekstrak ELJ. Gambar 4
menunjukkan kondisi kandang dan domba saat pemeliharaan.
Gambar 4 Kondisi kandang dan domba penelitian
Kadar Testosteron Darah
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa rataan kadar
testosteron darah domba sebelum dan sesudah pemberian ekstrak ELJ seperti pada
Gambar 5. Berdasarkan sidik ragam, terlihat bahwa tidak terdapat interaksi
pengaruh pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap
pemberian ekstrak ELJ, kadar testosteron darah domba tidak dipengaruhi oleh
sebelum dan sesudah perlakuan (Gambar 5) walaupun rataan pada akhir perlakuan
terlihat lebih tinggi, namun peningkatannya tidak berbeda nyata antara perlakuan
0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan.
Gambar 5 Rataan kadar testosteron darah domba sebelum ( ) dan sesudah ( ) perlakuan ekstrak ELJ (ng/ml)
Tidak adanya pengaruh level pemberian ekstrak ELJ dan jenis domba
disebabkan (a) dosis ekstrak ELJ yang diberikan tidak masuk secara langsung ke
tubuh ternak, tapi masuk secara bertahap sesuai tingkat konsumsi pakan yang
dicampur ekstrak ELJ dan (b) variasi testosteron yang tinggi antar individu
domba, sehingga sulit menentukan kadar testosteron dengan tepat. Menurut
Sanford (1974), sekresi testosteron pada domba terjadi secara acak tiap 2 sampai 4
jam dan sangat bervariasi pada setiap individu. Selain itu (c) dosis pemberian
ekstrak ELJ juga masih rendah untuk ternak domba, karena selama ini penelitian
ELJ kembanyakan menggunakan hewan percobaan seperti tikus atau mencit,
ruminansia. Sistem pencernaan ruminansia melibatkan interaksi yang dinamis
antara pakan, populasi mikroba dan sistem pencernaan (Martens 1993). Protein
yang masuk ke dalam rumen akan mengalami proses degradasi oleh mikroba
rumen menjadi dipeptida dan asam-asam amino, yang selanjutnya dirombak lagi
sehingga menghasilkan amoniak (Tsuda et al. 1991).
Produktivitas Ternak Hidup
Pertambahan Bobot Badan (PBB)
Berdasarkan analisis peragam dengan bobot awal sebagai faktor koreksi,
maka diperoleh rataan PBB domba 66.93 g/ekor/hari. Berdasarkan Tabel 7 terlihat
bahwa tidak terdapat interaksi dari penggunaan ELJ dengan jenis domba yang
digunakan. Bila ditinjau dari level penggunaan ekstrak ELJ ternyata penggunaan
ekstrak ELJ tidak memberikan pengaruh terhadap PBB domba.
Berdasarkan faktor jenis domba yang digunakan, ternyata PBB dari DEG
tidak berbeda dengan DET, dengan rataan PBB DEG adalah 67.45 g/ekor/hari dan
DET adalah 66.41 g/ekor/hari. Tidak adanya pengaruh penggunaan ekstrak ELJ
maupun jenis domba yang digunakan, disebabkan rataan konsumsi pakan yang
tidak berbeda dari domba pada setiap perlakuan yang diberikan, sehingga rataan
bobot domba pada akhir penelitian juga tidak berbeda baik dari level penggunaan
ekstrak ELJ maupun dari jenis domba yang digunakan. Selain itu, level pemberian
ekstrak ELJ yang belum mampu meningkatkan kadar testosteron darah domba
juga menyebabkan tidak terdapatnya perbedaan dalam PBB domba.
Secara umum, rataan PBB harian domba pada penelitian ini adalah 66.93
g/ekor/hari yang dikategorikan sedang, hal ini dikaitkan dengan pendapat
Farajallah et al. (2008), bahwa pertumbuhan domba lokal dikategorikan cepat bila
pertambahan bobot badan di atas 100 g/hari, pertumbuhan sedang 60 samapai 100
g/hari dan rendah bila pertambahan bobot badannya kurang dari 59 g/hari. Bila
dibandingkan hasil penelitian Budiharsana et al. (2005), PBB harian DET dengan
pemberian konsentrat 2 dan 3% adalah 68 dan 87 g/ekor/hari, maka PBB harian
DET pada penelitian ini lebih rendah. Menurut Tomaszewska et al. (1993)
pertumbuhan domba jantan lokal dewasa yang diberikan limbah hasil pertanian
berkisar 110-140 g/ekor/hari. Rendahnya PBB harian domba pada penelitian ini
pemeliharaan (penimbangan dan pengambilan darah) maupun kondisi lingkungan
kandang dengan suhu yang mencapai 32.90C pada siang hari. Rataan PBB, konsumsi dan konversi pakan domba penelitian disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Rataan pertambahan bobot badan (PBB), konsumsi dan konversi pakan domba dengan penggunaan ekstrak ELJ
Keterangan: DEG = domba ekor gemuk DEK = domba ekor tipis SEM = standard error means TN = tidak berbeda nyata
Konsumsi Pakan
Rataan konsumsi pakan domba selama penelitian ditampilkan pada Tabel 7.
Berdasarkan analisis peragam terlihat bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi
antara level pemberian ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap tingkat
konsumsi pakan. Bila ditinjau dari level ekstrak ELJ, ternyata juga tidak
memberikan pengaruh terhadap konsumsi pakan. Rataan konsumsi pakan pada
level pemberian dosis ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan berturut-turut adalah
Bila ditinjau dari jenis domba yang digunakan, rataan konsumsi pakan juga
tidak dipengaruhi oleh jenis domba. Rataan konsumsi pakan DEG adalah 1191.56
g/ekor/hari dan konsumsi pakan DET adalah 1261.36 g/ekor/hari. Menurut hasil
penelitian Budiarsana et al. (2005) tingkat konsumsi pakan DET dengan
penggunaan hijauan jerami fermentasi pada level pemberian konsentrat 1, 2 dan
3% berturut-turut adalah 567, 739 dan 932 g/ekor/hari, maka terlihat bahwa rataan
konsumsi pakan hasil penelitian ini lebih tinggi. Hal ini disebabkan bobot domba
yang digunakan berbeda, yaitu pada penelitian Budiarsana et al. (2005)
menggunakan domba dengan rataan bobot awal 16.20 kg, sementara pada
penelitian ini menggunakan domba dengan rataan bobot awal 22.91 kg. Semakin
tinggi bobot badan, maka ternak akan membutuhkan jumlah pakan yang banyak
pula.
Rataan konsumsi pakan domba pada penelitian ini juga lebih tinggi
dibandingkan dengan hasil penelitian Lestari et al. (2005), yang mendapatkan
konsumsi pakan domba dengan pemberian rumput gajah dan dedak padi berkisar
852.43 – 967.17 g/ekor/hari. Hal ini disebabkan perbedaan jenis pakan yang
diberikan. Pada penelitian ini pakan yang diberikan adalah pakan berbentuk pelet
dengan kadar air yang rendah (±15%), sedangkan pada penelitian Lestari et al.
(2005) menggunakan rumput gajah yang memiliki kadar air di atas 70%, sehingga
tingkat konsumsinya juga berbeda.
Konversi Pakan
Rataan total dari konversi pakan domba dengan penggunaan ekstrak ELJ
adalah 19.80. Hasil analisis pada Tabel 7 menunjukkan bahwa tidak terdapat
interaksi level dosis ekstrak ELJ dengan jenis domba terhadap konversi pakan.
Bila dilihat dari level pemberian ekstrak ELJ, ternyata tidak terdapat pengaruh
level pemberian ekstrak ELJ terhadap konversi pakan. Rataan konversi pakan
domba berdasarkan level pemberian ekstrak ELJ berturut-turut adalah 18.22,
20.87 dan 20.31. Berdasarkan jenis domba yang digunakan konversi pakan juga
tidak dipengaruhi oleh jenis domba yang digunakan. Rataan konversi pakan
berdasarkan jenis domba adalah 19.03 untuk DEG dan 20.57 untuk DET.
Tidak terdapatnya pengaruh level pemberian ekstrak ELJ terhadap konversi
belum mampu meningkatkan kadar testosteron domba (Gambar 5). Berdasarkan
hasil penelitian Rudiono (2006), pemberian testosterone propionate 0.77 mg/kg
bobot hidup dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan pada kambing.
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Budiarsana et al. (2005), konversi
pakan DET dengan penggunaan hijauan jerami fermentasi pada level pemberian
konsentrat 1 dan 2% berturut-turut adalah 22.68 dan 26.30, bahwa rataan
konversi pakan hasil penelitian ini lebih rendah dari hasil penelitian Budiarsana et
al. (2005). Hal ini disebabkan perbedaan kualitas pakan dari kedua penelitian ini,
yaitu pada penelitian Budiarsana et al. (2005) menggunakan pakan rumput gajah
dan dedak padi, dengan kandungan nutrisinya lebih rendah dibandingkan pakan
pada penelitian ini yang menggunakan pakan berbentuk pelet dengan protein
kasar 17.00% dan energi 12.85 MJ (Tabel 6).
Bobot Potong
Rataan bobot potong domba pada panelitian ini adalah 29.77 kg.
berdasarkan analisis peragam (Tabel 8) terlihat bahwa tidak terdapat interaksi
antara level pemberian ELJ dengan jenis domba yang digunakan. Bila ditinjau
dari level pemberian ekstrak ELJ, bobot potong domba tidak dipengaruhi oleh
level pemberian ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan. Hal ini
disebabkan penggunaan ekstrak ELJ sampai level 100 mg/kg bobot badan belum
mampu meningkatkan testosteron domba (Gambar 5) sehingga tidak memberikan
pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan dan menghasilkan bobot potong yang
tidak berbeda pula. Testosteron mempunyai pengaruh menstimulasi sintesis
protein dan mempromosikan pertumbuhan otot dan tulang serta menurunkan
deposisi lemak (Soeparno 2005).
Bila dilihat dari faktor jenis domba yang digunakan, DEG memiliki rataan
bobot potong 29.79 kg dan DET 29.75 kg. Berdasarkan analisis peragam (Tabel
8) tidak terdapat perbedaan antara kedua bobot potong DEG dan DET. Hal ini
juga berhubungan dengan bobot awal, PBB dan tingkat konsumsi yang juga tidak
berbeda dari kedua jenis domba tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian Herman (2001) bahwa rataan bobot potong
bobot potong DEG pada penelitian ini adalah lebih rendah. Hal ini disebabkan
domba yang digunakan pada penelitian ini adalah domba jantan muda (1-1.5
tahun), sehingga domba belum mencapai bobot potong yang maksimal.
Produktivitas Karkas Bobot Karkas Panas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot karkas panas domba
secara keseluruhan adalah 13.56 kg. Tabel 8 menyajikan rataan bobot potong,
bobot karkas panas, persentase karkas dan persentase lemak karkas domba
penelitian.
Tabel 8 Rataan bobot potong, bobot karkas panas, persentase karkas dan persentase lemak karkas domba dengan penggunaan ekstrak ELJ
Berdasarkan analisis peragam bobot karkas panas (Tabel 8) terlihat bahwa
terdapat interaksi penggunaan ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap
bobot karkas panas domba. Pada Gambar 6 diperlihatkan interaksi pemberian
ekstrak ELJ dangan jenis domba yang digunakan terhadap bobot karkas panas.
Gambar 6 Interaksi pemberian ekstrak ELJ (mg/kg BB) dengan jenis domba
berbeda ( DEG dan DET ) terhadap bobot karkas panas (kg)
Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa DEG dan DET memiliki respon yang
berbeda terhadap bobot karkas panas sebagai akibat pemberian beberapa level
ekstrak ELJ. Penggunaan ekstrak ELJ sampai 50 mg/kgBB tidak memberikan
pengaruh terhadap bobot karkas panas DEG. Namun bila level penggunaan
ekstrak ELJ ditingkatkan sampai 100 mg/kgBB akan menyebabkan penurunan
bobot karkas panas sebesar 14.39%. Hal ini disebabkan terjadinya kecendrungan
penurunan konsumsi pakan, PBB dan bobot potong pada penggunaan ekstrak ELJ
100 mg/kgBB sebagai akibat rasa ekstrak ELJ yang pahit.
Rataan bobot karkas panas pada DET tidak berbeda pada level pemberian
ekstrak ELJ 0 dan 100 mg/kgBB. Penurunan bobot karkas panas DET justru
terjadi pada level pemberian ekstrak 50 mg/kgBB. Hal ini disebabkan
kecendrungan penurunan PBB dan bobot potong DET.
Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa rataan bobot karkas panas DET lebih
disebabkan perbedaan faktor genetik dari kedua jenis domba ini. DEG memiliki
persentase lemak karkas lebih tinggi dibandingkan DET (Tabel 8).
Bila ditinjau dari level pemberian ekstrak ELJ, ternyata bobot karkas panas
domba tidak dipengaruhi oleh level ekstrak ELJ yang diberikan. Rataan bobot
karkas panas domba berturut-turut adalah: 14.29, 13.47 dan 12.92 kg untuk level
pemberian ekstrak ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot badan. Rataan bobot karkas
panas yang tidak berbeda pada level pemberian ELJ 0, 50 dan 100 mg/kg bobot
badan domba disebabkan tidak adanya pengaruh pemberian ekstrak ELJ terhadap
kadar testosteron domba. Hormon testosteron berperan dalam peningkatan sintesis
protein otot dan menurunkan kandungan lemak tubuh (Soeparno 2005).
Berdasarkan jenis domba yang digunakan, didapatkan bahwa perbedaan
jenis domba yang digunakan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap rataan
bobot karkas panas domba. Rataan bobot karkas panas DEG (14.24 kg) lebih
tinggi dari DET (12.88 kg). Perbedaan rataan bobot karkas panas ini disebabkan
karena perbedaan perlemakan dari kedua jenis domba ini, yaitu DEG memiliki
perlemakan lebih tinggi dibandingkan dengan DET, seperti ditunjukkan pada
Tabel 8, bahwa persentase lemak karkas DEG lebih tinggi dibandingkan DET.
Selain itu kondisi tubuh saat pemotongan juga mempengaruhi bobot karkas,
walaupun tidak terdapat perbedaan pada bobot potong, tetapi DEG menghasilkan
bobot karkas panas yang lebih tinggi dari DET. Hal ini menunjukkan bahwa pada
saat pemotongan DEG memiliki kondisi tubuh yang lebih gemuk dari DET.
Berdasarkan hasil penelitian Herman (2001) bobot karkas panas DEG jantan
dewasa adalah 21.38 kg. Bila dibandingkan dengan penelitian ini maka bobot
karkas panas DEG pada penelitian ini adalah lebih rendah. Hal ini disebabkan
bobot potong pada kedua penelitian ini adalah berbeda. Pada penelitian Herman
(2001) DEG dipotong pada bobot 38.29 kg yang merupakan akhir pertumbuhan
dewasa, sementara pada penelitian ini DEG dipotong pada bobot 30.06 kg (Tabel
8) dan belum mengalami pertumbuhan yang maksimal karena umur domba yang
digunakan adalah 1-1.5 tahun.
Persentase Karkas
Rataan persentase bobot karkas domba pada penelitian ini adalah 45.53%.
ekstrak ELJ dengan jenis domba yang digunakan terhadap persentase karkas
domba. Berdasarkan Gambar 7, terlihat bahwa DEG dan DET memiliki respon
yang berbeda terhadap persentase karkas sebagai akibat pemberian beberapa level
ekstrak ELJ. Penggunaan ekstrak ELJ sampai 50 mg/kgBB tidak memberikan
pengaruh terhadap persentase karkas DEG. Namun bila level penggunaan ekstrak
ELJ ditingkatkan sampai 100 mg/kgBB akan menyebabkan penurunan bobot
karkas panas sebesar 10.95%. Hal ini sejalan dengan penurunan bobot karkas
panas. Gambar 7 memperlihatkan interaksi pemberian ektrak ELJ dan jenis
domba terhadap persentase karkas domba.
Gambar 7 Interaksi pemberian ekstrak ELJ (mg/kg BB) dengan jenis domba
berbeda ( DEG dan DET ) terhadap persentase karkas
Persentase karkas DET tidak berbeda pada level pemberian eksrak ELJ 0
dan 100 mg/kgBB, namun terjadi penurunan pada level pemberian ekstrak 50
mg/kgBB. Hal ini disebabkan penurunan bobot karkas panas sebagai akibat
kecendrungan penurunan PBB dan bobot potong. Berdasarkan Gambar 7 terlihat
bahwa rataan persentase karkas DET lebih rendah dari DEG pada level pemberian
ekstrak ELJ 0 mg/kgBB. Hal ini disebabkan perbedaan faktor genetik dari kedua
jenis domba ini. DEG memiliki persentase lemak karkas lebih tinggi
dibandingkan DET (Tabel 8).
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Herman (2001), dimana DEG
dewasa memiliki persentase karkas 55.90%, maka persentase karkas pada