PENGARUH PEMBERIAN JAMU TERHADAP PERFORMA DAN
KANDUNGAN KOLESTEROL TELUR BURUNG PUYUH
IWAN PURWANTO
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTIUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Pemberian Jamu Terhadap Performa dan Kandungan Kolesterol Telur Puyuh adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2014
Iwan Purwanto
ABSTRAK
IWAN PURWANTO. Pengaruh Pemberian Jamu Terhadap Performa dan Kandungan Kolesterol Telur Burung Puyuh. Dibimbing oleh DWI MARGI SUCI dan SUDARSONO JAYADI
Jamu memiliki khasiat yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh. Selain digunakan untuk manusia, jamu juga dapat diberikan pada ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji performa puyuh dan kandungan kolesterol telur puyuh. Penelitian ini menggunakan burung puyuh betina sebanyak 320 ekor yang berumur 36 minggu dengan lama pemeliharaan selama 8 minggu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 2 ulangan. Pakan ini menggunakan 18% protein dan energi 2950 kkal kg-1. Perlakuan terdiri dari: P0 (kontrol), P1 (jamu 30 ml l-1 air), P2 (jamu 60 ml l-1 air), P3 (jamu 90 ml l-1 air). Rancangan yang digunakan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jamu yang diberikan mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Semua taraf pemberian jamu dapat meningkatkan konsumsi pakan, konsumsi air minum serta menurunkan kolesterol telur. Produksi telur pada penelitian ini berkisar antara 58.62-65.4%, konversi pakan berkisar antara 2.96-3.60, dan bobot telur berkisar antara 9.69-10.0 g butir-1. Penggunaan jamu sebanyak 30 ml l-1 air meningkatkan produksi telur 65%, menurunkan konversi pakan sebesar 2.96 dan kolesterol telur sebesar 2.73 mg 100 mg-1.
Kata kunci: jamu, kolestrol, performa, puyuh, telur
ABSTRACT
IWAN PURWANTO. The effect of herbs to the performance and cholesterol level of quail eggs. Supervised by DWI MARGI SUCI and SUDARSONO JAYADI.
Herbs have several benefit to improve the immunity. Animal also can take the benefit of it. This research aimed to study the effects of herbs blended with water to the performance of quail and cholesterol level of quail eggs. The research using 320 female quails then the ages were 36 weeks were maintained in 8 weeks. Feed contained 18 % of protein and energy 3876 kkal kg-1. The treatments consists of R0 (control), R1 (30 ml of herbs l-1 of water), R2 (60 ml of herbs l-1 of water), R3 (90 ml of herbs l-1 of water). The design of research was using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 2 replications then the data was analysed descriptively. The results of this study indicate that herbal contained flavonoids, saponins, and tannins. All herbs increase the level of provision of feed consumption, water consumption and lowering cholesterol eggs. Egg production in this study ranged between 58.62-65.4%, feed convertion ranged between 2.96-3.60, and the weight of eggs were 9.69-10.0 g butir-1. 30 ml of herbs increase 65% egg production decrease feed convertion 2.96 and egg cholesterol 2.73 mg 100 mg-1.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2014
PENGARUH PEMBERIAN JAMU TERHADAP PERFORMA DAN
KANDUNGAN KOLESTEROL TELUR BURUNG PUYUH
Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Jamu Terhadap Performa dan Kandungan Kolesterol Telur Burung Puyuh
Nama : Iwan Purwanto NIM : D24080237
Disetujui oleh
Ir Dwi Margi Suci, MS Pembimbing I
Ir Sudarsono Jayadi, MScAgr Pembimbing II
Diketahui oleh
Prof Dr Ir Panca Dewi Manu Hara Karti S, MSi Ketua Departemen
PRAKATA
Bismillaahirrahmaanirrahim,
Alhamdulillahhi Rabbil Alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Pengaruh Pemberian Jamu Terhadap Performa dan Kandungan
Kolesterol Telur Burung Puyuh” sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut pertanian Bogor. Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa lurus di jalan-Nya.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober sampai November 2012. Penelitian dilakukan di peternakan puyuh Kayu Manis Farm, jalan Pool Binamarga No. 7 Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian jamu dalam air minum terhadap performa burung puyuh dan kandungan kolesterol telur burung puyuh.
Kolesterol merupakan substrat sebagai pembentuk asam empedu yang disintesis dalam hati yang berfungsi untuk menyerap vitamin yang larut dari makanan. Kolesterol juga berfungsi sebagai prekursor dari berbagai jenis hormon steroid. Kolesterol yang tinggi sering menggangu kesehatan tubuh, karena penyebab terjadinya penyakit arterosklerosis yaitu pengerasan dinding pembuluh darah. Produk yang memiliki kandungan kolesterol yang rendah sebaiknya dikonsumsi oleh masyarakat yang sudah lanjut usia, karena pada usia tersebut hormon steroid yang berasal dari kolesterol sudah tidak banyak dibutuhkan oleh tubuh.
Penulis memahami bahwa dalam penulisan skripsi masih jauh dari sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, kekurangan berasal dari penulis. Terakhir penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut berperan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Bogor, Juni 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
PENDAHULUAN 1
Bahan 2
Alat 2
Lokasi dan Waktu Penelitian 3
Prosedur 3
Rancangan dan Analisis Data 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 5
Kandungan Zat Aktif Jamu 5
Konsumsi Pakan 6
Produksi Telur 6
Konversi Pakan 8
Bobot Telur 8
Konsumsi Air Minum 9
Kolesterol Telur 9
SIMPULAN DAN SARAN 10
Simpulan 10
Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 11
RIWAYAT HIDUP 13
DAFTAR TABEL
1. Bahan pakan dan komposisi formula yang digunakan untuk penelitian 2
2. Kandungan nutrien pakan perlakuan (asfed) 2
3. Hasil analisis fitokimia jamu ternak 5
PENDAHULUAN
Burung puyuh merupakan salah satu komoditas unggas sebagai penghasil telur dan daging. Keberadaannya dapat sebagai pendukung ketersediaan protein hewani yang murah dan mudah didapat. Berdasarkan basis data yang dimiliki Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2013) populasi puyuh secara nasional mengalami peningkatan, yakni dari 12 234 188 ekor pada tahun 2012 menjadi 12 594 043 ekor pada tahun 2013. Melihat dari data tersebut berarti usaha budidaya puyuh salah satu jenis usaha yang banyak diminati dan dikembangkan oleh masyarakat. Adanya peningkatan populasi dan produksi puyuh salah satunya dikarenakan ternak puyuh ini merupakan salah satu ternak yang dapat berproduksi dalam waktu cepat (umur 40 hari sudah bertelur). Puyuh betina mulai bertelur pada umur 35 hari pada kondisi yang baik dan memproduksi sekitar 200-300 telur per tahun (Varghese 2007).
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh tubuh, dan mengandung asam amino esensial yang tinggi. Telur banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mudah pengolahannya, murah, dan memiliki kandungan zat yang sempurna. Selain itu juga telur memiliki kandungan kolesterol yang tinggi, sehingga orang dewasa pada umumnya cenderung mengurangi konsumsi telur. Mawaddah (2011) menyatakan bahwa kandungan kolesterol telur yang diberi ekstrak tepung daun katuk sebesar 2.43 mg 100 mg-1.
Kolesterol yang tinggi dalam tubuh sering menimbulkan gangguan kesehatan karena kolesterol merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit
arterosklerosis yaitu proses pengapuran dan pengerasan dinding pembuluh darah. Akibatnya saluran pembuluh darah menjadi sempit dan menghambat aliran darah di dalamnya. Fungsi kolesterol dalam tubuh sebagai prekursor yang disintesis dalam hati untuk penyerapan vitamin. Pada keadaan normal, kolesterol dibutuhkan tubuh dalam membentuk membran sel, struktur insulin otak, sistem syaraf pusat, dan vitamin D (Murray et al. 2003).
Secara umum di dalam tanaman obat (rimpang, daun, batang, akar, bunga dan buah) terdapat senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, tripenoid, minyak atsiri glikosida dan sebagainya yang bersifat sebagai antiviral, anti bakteri serta imunomodulator. Komponen senyawa aktif tersebut berguna untuk menjaga kesegaran tubuh serta memperlancar peredaran darah (Zainuddin dan Wibawan 2007). Bahan ramuan tanaman obat seperti (jamu) dibuat sesuai kepentingan dan fungsinya yang bisa dipilih dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman obat antara lain: kencur, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, temulawak, dan kayu manis. Jamu dapat diberikan dengan cara mencampurnya dengan pakan atau air minum. Selain banyak khasiatnya, bahan-bahan untuk pembuatan jamu juga mudah didapat di pasaran. Keuntungan dari penggunaan obat tradisional ini juga untuk mengurangi ketergantungan para peternak terhadap obat-obatan kimiawi sehingga dapat mengurangi residu.
2
METODE PENELITIAN
Bahan
Penelitian ini menggunakan 320 ekor puyuh jepang betina (Coturnix coturnix japonica) berumur 36 minggu. Pakan perlakuan disusun sesuai dengan rekomendasi Leeson dan Summer (2005). Bahan pakan yang digunakan adalah jagung kuning, dedak padi, bungkil kedelai, tepung ikan, CPO (crude palm oil), CaCO3, DCP (dicalcium phospat), garam, premix, DL-Methionin. Susunan pakan yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 1, dan kandungan nutrien pakan perlakuan pada Tabel 2.
Tabel 1 Bahan pakan dan komposisi formula yang digunakan untuk penelitian
Bahan pakan Penggunaan (%)
Pakan perlakuan disusun berdasarkan rekomendasi Leeson dan Summer (2005); CPO: Crude Palm oil, DCP: dicalcium phospat.
Tabel 2 Kandungan nutrien pakan perlakuan (asfed)
Nutrien Kandungan zat makanan
Energi metabolisme (kkal kg-1) 2950
Hasil Analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2012).
Alat
3 minum. Peralatan yang digunakan adalah termometer, timbangan, gelas ukur,
blender, tong berukuran 30 l dan kain yang digunakan untuk saringan dalam pembuatan jamu.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 8 minggu mulai dari bulan Oktober sampai November 2012. Penelitian dilakukan di peternakan puyuh Kayu Manis Farm, jalan Pool Binamarga No. 7 Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor. Pembuatan jamu ternak dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas, Institut Pertanian Bogor.
Prosedur
Pembuatan Jamu Ternak
Pembuatan jamu terdiri dari kencur (750 g), bawang putih (750 g), jahe (375 g), lengkuas (375 g), kunyit (375 g), temulawak (375 g), dan kayu manis (187.5 g) kemudian ditambah molases sebanyak 300 ml dan EM4 (Effective Microorganisms4) sebanyak 300 ml (Saenab et al. 2002). Proses pembuatan jamu ternak yaitu bahan jamu dipotong-potong dan dihaluskan dengan blender, kemudian dilakukan penyaringan dan diambil ekstrak jamu. Setelah itu, ekstrak jamu ditambahkan dengan air sebanyak 30 l kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik berukuran 30 l dan ditutup rapat untuk proses inkubasi selama 5 hari. Jamu diaduk setiap hari selama proses inkubasi.
Pemeliharaan Puyuh dan Pengambilan Data
Sebanyak 320 ekor puyuh berumur 36 minggu dimasukkan secara acak ke dalam 8 kandang koloni. Masing-masing kandang diisi dengan 40 ekor. Pakan dan air minum disediakan ad libitum. Sisa pakan ditimbang setiap minggunya. Pemberian jamu dilakukan satu minggu dua kali pada hari Senin dan Kamis selama 8 minggu. Pengambilan telur dilakukan satu kali sehari yaitu pagi hari. Telur diberi kode sesuai perlakuan dan ditimbang.
Rancangan dan Analisis Data
Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini adalah: P0: Tanpa pemberian jamu (kontrol).
P1: Pemberian jamu sebanyak 30 ml l-1 air P2: Pemberian jamu sebanyak 60 ml l-1 air P3: Pemberian jamu sebanyak 90 ml l-1 air
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 2 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari 40 ekor puyuh betina. Model matematika yang digunakan adalah sebagai berikut:
4
Data yang diperoleh kemudian di analisis menggunakan analisis deskriptif. Peubah yang Diamati
1.Konsumsi ransum (g ekor-1 hari-1)
Konsumsi ransum dihitung setiap tujuh hari dengan rumus :
Kon um i ran um (g ekor hari ) pemberian i a pakan
Produksi telur dihitung setiap hari dengan rumus sebagai berikut :
4.Bobot telur (g ekor-1 hari-1)
Bobot telur dihitung dari produksi telur setiap hari yang dihitung dari jumlah telur yang ada pada setiap kandang, setelah itu dihitung rata-ratanya.
5.Konsumsi air minum (ml ekor-1 hari-1)
Konsumsi air minum diukur setiap hari berdasarkan air yang diberikan dipagi hari dikurangi dengan sisa pada pagi hari berikutnya, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan konsumsi selama penelitian.
6.Kandungan kolesterol (mg 100mg-1)
Pengukuran kolesterol telur dilakukan berdasarkan metode Libermann-Burchard (Kleiner dan Dotti 1962). Sampel diambil pada minggu ke 8 setelah pemberian jamu. Adapun caranya adalah sebagai berikut: sampel ditimbang sebanyak ± 0.2 g dimasukan ke dalam tabung sentrifuse berskala 15 ml, kemudian ditambahkan campuran alkohol eter 3:1 sebanyak 12 ml dan diaduk hingga bercampur dengan baik. Larutan didiamkan sambil dikocok sekali dua kali salama 30 menit. Pengaduk dibilas dengan alkohol eter 3:1 dan volume disetarakan menjadi 15 ml, lalu di sentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.
5 kolesterol standar (0.4 mg kolesterol dan 5 ml khoroform) dimasukan ke dalam tabung reaksi yang lain. Keduanya ditambahkan 2 ml asetat anhidrida dan 00 μl H2SO4 pekat, kemudian dikocok sampai timbul warna hijau dan disimpan selama 15 menit di ruang gelap, selanjutnya pembacaan dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm. Nilai kolesterol diperoleh dari perhitungan dengan rumus sebagai berikut: diberikan pada puyuh mengandung saponin, flavonoid dan tanin. Tanin yang ada di dalam tubuh dapat mengurangi kolesterol karena tanin bekerja mengikat asam lemak dalam saluran pencernaan, sedangkan saponin menghambat kolesterol dengan proses penyabunan. Menurut Kurnia et al. (2010) tanin diketahui memacu metabolisme glukosa dan lemak, sehingga timbunan kedua sumber kalori dalam darah dapat dihindari atau dengan kata lain kolesterol dan gula darah menurun. Menurut Park et al. (2002) adanya saponin dari turunan glikosida dapat menurunkan kolesterol dengan mekanisme penghambatan penyerapan kolesterol di dalam saluran pencernaan. Flavonoid yang terkandung dalam jamu memiliki fungsi sebagai anti oksidan, mengurangi kandungan kolesterol dan penimbunan lemak pada dinding pembuluh darah. Menurut Nisa (2005) flavonoid merupakan antioksidan polifenol yang mampu memperkuat dinding sel darah merah dan menghambat oksidasi LDL (low Density Lipoprotein) sehingga mengurangi terjadinya proses arterosklerosis di pembuluh darah.
Tabel 3 Hasil analisis fitokimia jamu ternak
1
Laboratorium Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB (2012).
6
Secara umum di dalam tanaman obat (rimpang, daun, batang, akar, bunga dan buah) terdapat senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoid, tripenoid, minyak atsiri dan sebagainya yang bersifat sebagai antiviral, anti bakteri serta imunomodulator. Jamu selain dimanfaatkan manusia untuk kesehatan, dapat juga dimanfaatkan untuk hewan ternak. Haruna dan Sumang (2008) menyatakan bahwa hasil monitoring dan pengamatan serta laporan dari peternak yang menggunakan jamu ternak, bahwa jamu ternak sangat bermanfaat terhadap kesehatan ternak unggas, efisiensi pakan lebih baik, warna kuning telur lebih
orange, dan kotoran di sekitar kandang tidak berbau menyengat.
Konsumsi Pakan
Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 4) menunjukkan bahwa konsumsi pakan pada semua perlakuan lebih tinggi daripada kontrol. Peningkatan pada perlakuan P1,P2,P3 berturut-turut mencapai 4.50%, 9.96%, 6.89%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan jamu pada air minum dapat meningkatkan konsumsi pakan. Pada ramuan jamu terdapat tanaman kunyit dan temulawak yang memiliki kandungan zat aktif kurkumin yang berfungsi meningkatkan nafsu makan dan dapat menghambat partumbuhan bakteri pada saluran pencernaan. Menurut Sembiring et al. (2006) kurkuminoid berkhasiat menetralkan racun, menurunkan kandungan kolesterol, meningkatkan sekresi empedu serta dapat meningkatkan nafsu makan. Konsumsi pakan burung puyuh umur 36 minggu pada penelitian ini yaitu sebesar 134.71-141.75 (g ekor-1 minggu-1). Menurut Handarini et al. (2008) konsumsi burung puyuh pada umur 6-16 minggu berkisar 139.73-149.91 (g ekor-1 minggu-1). Pakan memiliki kualitas yang baik apabila ternak dapat berproduksi dengan normal dan memiliki performa yang baik. Pakan yang diberikan pada penelitian ini juga dinilai agar dapat dibuktikan bahwa pakan yang diberikan memiliki hasil yang positif pada ternak.
Produksi Telur
Produksi telur pada penelitian ini berkisar antara 58.63-65.4% (tabel 4). Peningkatan produksi telur terlihat pada taraf 30 ml l-1 airdan 60 ml l-1 airyaitu sebesar 8.98% dan 2.87% terhadap kontrol. Taraf pemberian jamu sebanyak 30 ml l-1 air sudah tepat sehingga berdampak positif terhadap produksi telur, dengan demikian jamu yang diberikan kepada ternak unggas melalui air minum berdampak positif bagi produktifitasnya. Puyuh dengan umur 10-20 minggu yang diberi kandungan protein 20-22 % memiliki produksi telur berkisar 63-71.7 % (Eishu et al. 2005). Produksi telur dengan kandungan protein yang tinggi disertai kecukupan energi dan kalsium lebih memberikan pengaruh terhadap produksi telur (Cheeke 2005).
7 membahayakan, akan tetapi apabila kandungan tanin dalam pakan sebesar 0.5% atau lebih maka akan mulai memberikan pengaruhnya dengan menekan pertumbuhan dan produksi ayam. Mawaddah (2011) melaporkan bahwa pakan yang ditambahkan dengan tepung daun katuk sebesar 10% memiliki produksi telur yang rendah yaitu sebesar 18.90%. Rendahnya produksi telur disebabkan karena tepung daun katuk memiliki kandungan tanin mencapai (+++), sehingga dapat menekan pertumbuhan pada puyuh.
Tabel 4 Performa puyuh dan kolesterol telur puyuh.
P0: Tanpa pemberian jamu, P1: Pemberian jamu 30 ml l-1 air, P2: Pemberian jamu 60 ml l-1 air, P3: Pemberian jamu 90 ml l-1 air.
Produksi telur pada awal penelitian mengalami penurunan pada minggu ke-2 (Gambar 1). Hal ini kemungkinan disebabkan puyuh masih belum terbiasa ketika diberikan jamu. Peningkatan produksi telur terjadi pada minggu ke-4, akan tetapi pada P1 peningkatan produksi telur terjadi pada minggu ke-3, kemungkinan penambahan jamu pada air minum pada P1 sudah mulai bereaksi. Pada minggu ke-7 semua perlakuan pemberian jamu mulai mengalami penurunan produksi telur sampai akhir penelitian.
Peubah P0 P1 P2 P3
Konsumsi pakan
(g ekor-1 minggu-1) 128.91±11.00 134.71±7.73 141.75±6.83 137.79±5.53 Konsumsi
lemak kasar ( g ekor-1 minggu-1)
6.76±0.58 7.05±0.41 7.43±0.36 7.22±0.29
Produksi telur
(Quail day) (%) 60.01±10.08 65.40±5.79 58.62±8.39 61.73±7.29
Konversi pakan 3.25±0.96 2.96±0.28 3.60±0.64 3.29±0.47
Bobot telur (g butir-1) 9.84±0.31 10.00±0.39 9.69±0.31 9.85±0.28 Konsumsi
air minum
(ml ekor- 1 minggu-1)
243.19±18.47 277.05±11.59 272.98±17.80 264.68±19.79
Kolesterol kuning telur (mg100 mg-1)
8
Gambar 1 Pengamatan produksi telur selama penelitian. P1, P2, P3, P4
Konversi Pakan
Hasil konversi pakan pada perlakuan P1, P2, dan P3 berturut-turut sebesar 2.96, 3.60, 3.29 (Tabel 4). Konversi pakan sangat erat kaitannya dengan konsumsi dan produk yang dihasilkan. Konversi pakan yang terbaik pada perlakuan P1 yaitu sebesar 2.96 yang artinya dalam 2.96 gram pakan menghasilkan 1 gram telur, sedangkan produksi telur yang tertinggi juga pada P1, dengan demikian pemberian jamu sebanyak 30 ml l-1 air lebih efisien dalam mengkonversi pakan menjadi telur. Konversi ransum merupakan suatu ukuran efisiensi dalam penggunaan ransum. Nilai konversi pakan didapat dari pembagian rataan konsumsi per ekor dengan massa telur (Kalsum et al. 2012). Semakin rendah nilai konversi ransum semakin efisien penggunaan dari ransum tersebut, karena semakin sedikit jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan telur dalam jangka waktu tertentu (Subekti 2003). Surung (2008) menyatakan bahwa jamu yang diberi penambahan EM4 dalam air minum memiliki konsumsi pakan lebih efisien dan dapat meningkatkan pertambahan berat badan ayam buras.
Bobot Telur
9 Bobot telur pada penelitian ini berkisar 9.69-10 g butir-1. Hasil tersebut tergolong sama dengan burung puyuh yang ada di peternakan rakyat yaitu sebesar 9-11 g butir-1. Bobot telur tersebut masih dikatakan normal pada telur puyuh artinya, pakan yang diberikan serta adanya penambahan jamu pada air minum nutriennya dapat diserap dengan baik oleh puyuh. Menurut penilitian Song et al. (2000) menyatakan bahwa rata-rata bobot telur puyuh normal adalah 10.34 g butir-1. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi bobot telur adalah jenis pakan, jumlah pakan, genetik, lingkungan kandang, dan ukuran tubuh induk (Yuwanta 2004).
Konsumsi Air Minum
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua taraf pemberian jamu lebih tinggi daripada kontrol. Puyuh yang diberi jamu sebesar 30 ml l-1 air, 60 ml l-1 air, 90 ml l-1 air mengkonsumsi air minum berturut-turut sebesar 277.05 ml ekor-1 minggu-1, 272.98 ml ekor-1 minggu-1, 264.68 ml ekor-1 minggu-1 (Tabel 4). Jamu yang diberikan memiliki warna kuning, warna tersebut dapat berpengaruh terhadap palatabilitas ternak unggas karena unggas lebih respon terhadap indera penglihatan daripada perasa sehingga palatabilitas terhadap konsumsi air minum lebih tinggi. Peningkatan konsumsi air minum dengan pemberian jamu 30 ml l-1 air yaitu sebesar 13.92%. terhadap kontrol. Seiring dengan meningkatnya taraf pemberian jamu sebanyak 60 ml l-1 air dan 90 ml l-1 airkonsumsi air minum pada puyuh sebesar 12.24% dan 8.83% terhadap kontrol. Semakin meningkatnya jumlah taraf pemberian jamu dalam air minum, semakin menurunnya konsumsi air minum. Hal ini terjadi karena jumlah pemberian jamu pada air minum yang semakin pekat. Hasil ini berbeda dengan penelitian Saputra (2013), konsumsi air minum puyuh yang berumur 17 minggu sebesar 51 ml ekor-1 hari-1, yang berarti dalam seminggu konsumsi air minumnya lebih kurang 357 ml ekor-1 minggu-1. Konsumsi air minum bersifat linear terhadap konsumsi pakan, karena air minum digunakan untuk mencerna zat makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Banyaknya makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh ternak tergantung tingkat aktifitas dan suhu lingkungannya.
Kolesterol Telur
10
kandungan kolesterol darah pada mencit yang mengalami hiperlipidemia (Metwally et al. 2009).
Tanin di dalam tubuh akan berikatan dengan protein tubuh dan akan melapisi dinding usus terhadap asam lemak tak jenuh sehingga penyerapan lemak dihambat. Proses perlindungan tanin berupa pemadatan lapisan lendir dalam saluran pencernaan sehingga menghambat penyerapan zat-zat makanan termasuk lemak dan kolesterol dalam saluran pencernaan. Menurut Kurnia et al. (2010) menyatakan bahwa tanin diketahui memacu metabolisme glukosa dan lemak, sehingga timbunan kedua sumber kalori dalam darah dapat dihindari atau dengan kata lain kolesterol dan gula darah menurun. Jamu mengandung probiotik yang mampu menghasilkan asam organik yang dapat menurunkan pH di dalam usus besar, dalam keadaan tersebut produksi empedu tinggi untuk menetralkan pH karena empedu bersifat basa. Empedu diproduksi dalam hati kemudian disalurkan ke saluran empedu untuk dikirim ke dalam usus besar sehingga pH menjadi menurun. Semakin banyak empedu yang dihasilkan semakin banyak kolesterol yang dibutuhkan sehingga puyuh yang diberi jamu memiliki konsumsi lemak yang lebih tinggi, hal ini dapat dilihat dari Tabel 4. Menurut Herman (1991) menyatakan bahwa semakin banyak asam empedu yang dihasilkan menyebabkan semakin banyak hati mensintesis asam empedu baru yang berasal dari kolesterol, sehingga kolesterol dalam tubuh berkurang.
Kandungan kolesterol yang rendah sebaiknya dikonsumsi oleh orang yang sudah lanjut usia, karena pada usia tersebut kebutuhan hormon steroid yang berasal dari kolesterol sedikit, sehingga kebutuhan kolesterol juga sedikit. Jika kandungan kolesterol yang ada dalam tubuh tinggi dapat mengakibatkan penyakit
arterosklerosis yaitu pengerasan dinding pembuluh darah oleh kolesterol sehingga aliran darah menjadi terhambat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penggunaan jamu sebanyak 30 ml l-1 airpada air minum dengan intensitas 2 kali dalam seminggu dapat menurunkan konversi pakan sebesar 2.92 dan kandungan kolesterol kuning telur sebesar 2.73 mg 100 mg-1 serta dapat meningkatkan produksi telur sebesar 65%.
Saran
11
DAFTAR PUSTAKA
Cheeke PR 2005. Applied Animal Nutrition: Feed and Feeding. 3rd Ed. Upper Saddle River. New Jersey (US): Pearson Education.
[Ditjen PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2013. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2013. Jakarta (ID): Ditjen PKH. Eishu RI, Katsunori S, Takuro O, Kunieda T, Hideji U. 2005. Effects of dietary
protein levels on production and caracteristics of japanese quail egg. J Poult Sci. 42(2):130-139.
Herman, S. 1991. Pengaruh gizi terhadap penyakit kardiovasculer. Cermin Dunia Kedokteran. 73:12-16.
Handarini R, Saleh E, Togotrop B. 2008. Produksi burung puyuh yang diberi ransum dengan penambahan tepung umbut sawit fermentasi. J Agribis Petern. 4(3):107-110.
Haruna S, Sumang. 2008. Pemanfaatan jamu sebagai campuran air minum pada ternak ayam buras. J Agrisistem 4(1):1-6.
Kalsum U, Soetanto H, Achmanu, Sofjan O. 2012. Influence of a probiotic containing Lactobacillus fermentus on the laying performance and egg quality of Japanese quails. Int J Poult Sci. 11(4):311-315.
Kleiner IS, Dotti LB. 1962. Laboratory in Biochemistry. 6th Ed. The C. V.New York (US): Mosby Company.
Kurnia YN, Afifah A, Mustofa, Firdausy U. 2010. Pengaruh pemberian air rebusan daun pare (Momordica charantia L.) terhadap kadar kolesterol total serum darah tikus putih (Rattus norvegicus) dengan induksi hiperkolesterolemia [Program Kreatifitas Mahasiswa]. Surakarta (ID): Univ Sebelas Maret.
Leeson S, Summers JD. 2005. Commercial Poultry Nutrition. 3rd Edition. Publ. Guelph. Ontario (Canada): University Books.
Mawaddah S, 2012. Kandungan kolesterol, lemak, vitamin A dan E dalam daging, hati, dan telur, serta performa puyuh dengan pemberian ekstrak dan tepung daun katuk (sauropus androgynus l. merr) dalam ransum [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Metwally MAA, El-Gellal AM, El-Sawaisi SM. 2009. Effects of silymarin on lipid metabolism in rats. Int J App Sci. 12:1634-1637.
Murray RKDK, Granner PA, Mayes VW. 2003. Biokimia Harper. Edisi 25. Andry H, penerjemah. Jakarta (ID): Kedokteran EGC.
Nisa Z, 2005. Evaluasi penggunaan tepung sambiloto (Andrographis paniculata ness) terhadap kandungan kolesterol dan trigliserida serum ayam petelur umur 33-40 minggu [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Park SY, Bok SH, Joen SM, Park YB, Lee SJ, Jeong TS, Choi MS. 2002. Effect of rutin and tannic acid supplements on cholesterol metabolism in rats. J Nutr. 22(3):283-295.
12
Saputra H. 2013. Performa Puyuh yang Diberi Pakan dengan Campuran Tepung Daun Katuk dan Tepung Daun Murbei [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sembiring B, Ma‟mun, Ginting EI. 2006. Pengaruh kehalusan bahan dan lama
ekstraksi terhadap mutu ekstrak temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb).
Bul Littro. 17(2):53-58.
Song KT, Choi SH, Oh HR. 2000. A comparison of egg quality of phesant, chukar, quail and guinea fowl. Asian-Aust J Anim Sci. 13(7):986-990. Subekti S. 2003. Kualitas telur dan karkas ayam lokal yang diberi tepung daun
katuk dalam ransum [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Surung Y. 2008. Evaluasi penyuluhan pemberian jamu pada air minum untuk meningkatkan berat badan ayam buras fase starter. J Agrisistem 4(2): 67-76. Widodo W. 2002. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual [skripsi]. Malang (ID):
Univ Muhammadiyah Malang.
Yunardi Y. 2012. Performa produksi ayam arab petelur yang diberi jamu ternak melalui air minum [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Yuwanta T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta (ID): Kanisius.
Varghese SK. 2007. The Japanese Quail. Ottawa (Canada): Feather Francier Newspaper.
Zainuddin D, Wibawan IWT. 2007. Biosekuriti dan manajemen penanganan penyakit ayam lokal. Dwiyanto K, Prijono ST, editor. Bogor (ID): Pusat Penelitian Biologi LIPI.
13 Pada Tahun 2008, penulis menyelesaikan pendidikan SMA di
SMA Darul „Ulum Unggulan BPPT Peterongan Jombang
Jawa Timur.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dengan Mayor Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan. Selama kuliah penulis aktif dalam berbagai kegiatan. Terdapat beberapa organisasi yang diikuti oleh penulis, seperti wakil ketua IKALUM (Ikatan Alumni dan Mahasiswa Darul Ulum), Anggota HIMASITER (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak), Anggota KOPMA (Koperasi Mahasiswa). Penulis aktif menjadi panitia di beberapa kegiatan kampus dan non-kampus seperti Peringatan Hari Susu Nusantara (HSN), Dekan Cup, Musyawarah Nasional ISMAPETI dan Indolivestock. Selain itu, penulis juga aktif dalam kegiatan kewirausahaan di luar kampus seperti pada tingkat 3 penulis bekerjasama dengan suatu perusahaan peternakan dalam pemeliharaan ayam broiler dan usaha konveksi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillahirabbil‟alamin, egala puji yukur kehadirat Allah SWT ata
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi, penelitian, seminar dan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir. Dwi Margi Suci, MS dan Bapak Ir. Sudarsono Jayadi, Msc.Agr selaku dosen pembimbing skripsi. Ibu Dr.Ir. Widya Hermana, Msi selaku dosen pembahas seminar sekaligus panitia seminar. Ibu Dr.Ir. Sumiati, M.Sc dan Ibu Dr.Ir. Niken Ulupi, MS selaku dosen penguji sidang skripsi serta Ibu Dr. Sri Suharti S.Pt, M.Si selaku dosen panitia sidang. Penghargaan juga diberikan kepada Ibu Lanjarsih, dan Ibu Eneh Komalasari yang telah membantu selama analisis di laboratorium serta Bapak Jaja dan Bapak H. Sofwan yang telah memberikan tempat untuk penelitian. Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada ayahanda Kasmui dan Ibu Marwiyah, beserta seluruh keluarga