Angkatan Kerja (X2)
2000 Februari 892,444 Agustus 2106,711
November 815,326 2008 Februari 2125,784
2001 Februari 876,955 Agustus 2127,512
November 892,335 2009 Februari 2180,966
2002 Februari 893,807 Agustus 2172,002
November 899,913 2010 Februari 2273,111
2003 Februari 967,041 Agustus 2194,040
November 1013,829 2011 Februari 2320,752
2004 Februari 1007,580 Agustus 2230,622
November 1019,010 2012 Februari 2406,659
2005 Februari 1963,332 Agustus 2234,007
November 1981,596 2013 Februari 2455,354
2006 Februari 1995,049 Agustus 2216,687
Agustus 2051,800 2014 Februari 2502,702
Pengangguran (Y)
Tahun Pengangguran (%) Tahun Pengangguran (%)
2000 Februari 1.74 Agustus 10.31
November 1.77 2008 Februari 9.73
2001 Februari 1.84 Agustus 8.04
November 1.90 2009 Februari 7.90
2002 Februari 2.70 Agustus 7.97
November 3.28 2010 Februari 7.57
2003 Februari 3.96 Agustus 6.95
November 4.60 2011 Februari 7.51
2004 Februari 5.84 Agustus 8.02
November 6.90 2012 Februari 6.49
2005 Februari 11.50 Agustus 6.65
November 13.34 2013 Februari 6.39
2006 Februari 12.93 Agustus 7.02
Agustus 11.87 2014 Februari 6.32
Lampiran 2 Output Analisis Linier Berganda
Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji-t)
Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji-F)
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 218.612 2 109.306 30.274 .000a
Residual 97.485 27 3.611
Total 316.097 29
a. Predictors: (Constant), X2, X1
b. Dependent Variable: Y
Hasil Uji Koefesien Determinasi (R2)
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .832a .692 .669 1.90015
Lampiran 3 Output Asumsi klasik
Pengujian Normalitas Histogram
Uji Kolmogrov Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 30
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 1.83345754
Most Extreme Differences Absolute .112
Positive .112
Negative -.074
Kolmogorov-Smirnov Z .612
Asymp. Sig. (2-tailed) .848
a. Test distribution is Normal.
Elfindri, dan Nasri Bachtiar. 2004. Ekonomi Ketenagakerjaan, UNAND Press, Padang.
Sukirno, Sadono. 2008. Pengantar Ekonomi Mikro, Rajagrafindo Persada, Jakarta. Simanjuntak, Payaman. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.
Todaro, Michael. 1997. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Erlangga, Jakarta.
Daulay, Murni. 2010. Metodologi Penelitian Ekonomi, USU Press, Medan.
Dra. Arfida BR, M.S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia,Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Santoso, Rokhedi Priyo. 2012.Ekonomi Sumber Daya Manusia Dan
Ketenagakerjaan, UPP SITM YKPN, Yogyakarta.
Prawiro, Ruslan. 1983. Ekonomi Sumberdaya, Alumni, Bandung.
Subri, Mulyadi.2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada
Bakir Zainab dan Manning Chris.1984. Angkatan Kerja di Indonesia, Lembaga Penerbit CV.RAJAWALI, Jakarta.
Azwar, Saifuddin.1997. Metode Penelitian, Lembaga Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Website dan surat kabar online:
www.antarasumbar.com
www.harianhaluan.com
www.bps.go.id
Jurnal:
Dasri Lokiman, Debby Ch Rotinsulu dan Antonius Y Luntungan 2014. Pengaruh
Upah Minimum Provinsi(UMP) dan Investasi Swasta Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Dan Dampaknya pada PDRB di Kota Manado tahun 2003-2012.
Ni Nyoman Setya Ari Wijayant dan Ni Luh Karmini.Pengaruh Tingkat Inflasi,
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifatnya, jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat angka atau bilangan. Data-data yang diambil akan membantu dalam penyajian hasil penelitian nanti. Dan juga menggunakan metode deskriptif yang mendeskripsikan fenomena beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Waktu penelitian akan dimulai pada bulan Februari dan maret 2016.
3.3. Definisi Operasional
1. Pengangguran
Pengangguran adalah angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Dinyatakan dalam persen.
2. Angkatan kerja
Angkatan kerja atau labour force adalah jumlah penduduk dengan usia produktif, yaitu 15-64 tahun yang sedang bekerja maupun mencari pekerjaan. Dinyatakan dalam jiwa.
3.Tingkat upah (Upah Minimum Provinsi)
3.4. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data skunder dengan deret waktu tahunan (time series) dari tahun 2000 sampai 2014. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Skripsi, Jurnal, Website yang relevan serta buletin-buletin penelitian dan hal-hal lain yang mendukung penelitian ini.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan melakukan pencatatan dari buku atau literature untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Data yang akan dicatat yaitu upah minimum provinsi, angkatan kerja dan pengangguran SUMATERA BARAT dari tahun 2000-2014.
3.6. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, dimana data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan indikator yang digunakan. Bentuk umum regresi linier berganda, yaitu:
Y = α + b1X1+ b2X2+ e
Keterangan :
Y : Pengangguran
b1, b2 : Koefisien regresi variabel independen
X1 : Tingkat upah minimum provinsi
X2 : Angkatan kerja
e : Variabel pengganggu
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil analisis regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini terbebas dari penyimpangan asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinieritas, dan heteroskedastisitas. Adapun masing-masing pengujian tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2005:111). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi normalitas data dapat dilakukan dengan pengujian Uji Kolmogorov Smirnov. Dalam uji ini, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah:
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi mempunyai korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Multikolinieritas adalah situasi adanya korelasi variabel -variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini disebut variabel-variabel bebas ini tidak ortogonal. Variabel-variabel bebas yang bersifat ortogonal adalah variabel bebas yang memiliki nilai korelasi diantara sesamanya sama dengan nol.
Menurut Ghozali (2005:91), untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah sebagai berikut:
a. Nilai R² yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel – variabel independennya banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
b. Menganalisis matrik korelasi variabel – variabel independen. Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0.90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinieritas. Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak berarti bebas dari multikolinieritas. Multikolinieritas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.
variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukan adanya multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0.10 atau sama dengan nilai VIF > 10.
3.Uji Heteroskesdastisitas
Menurut Imam Ghozali (2005:105), uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidak samaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Konsekuensinya adanya heteroskedastisitas dalam model regresi adalah penaksir yang diperoleh tidak efisien, baik dalam sampel kecil maupun besar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya gejala heteroskedastisitas adalah dengan melihat pada grafik scatter plot.
Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas juga dapat diketahui dengan melakukan uji glejser. Jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas (Ghozali 2005:69).
3.7. Uji Statistik
Uji statistik yang dilakukan adalah sebagai uji signifikasi hasil estimasi yang diperoleh terhadap hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Maka uji hipotesis yang digunakan adalah:
1. Uji F (Uji Simultan)
Uji F dilakukan untuk melihat secara simultan (bersama-sama) apakah ada pengaruh dari variabel bebas (tingkat upah dan angkatan kerja). Model hipotesis yang dilakukan dalam uji F ini adalah:
Ho : b1 b2 = 0 (artinya tingkat upah dan angkatan kerja tidak berpengaruh terhadap pengangguran).
H1 : b1 b2 ≠ 0 (artinya tingkat upah dan angkatan kerja berpengaruh
terhadap pengangguran).
2.Uji t (Uji Parsial)
dependen (pengangguran). Adapun hipotesis statistik pengujian sebagai berikut:
Ho : b1 = 0 (tidak ada pengaruh tingkat upah dan angkatan kerja terhadap pengangguran).
H1 : b1 ≠ 0 (ada pengaruh tingkat upah dan angkatan kerja terhadap
pengangguran).
3.Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien yang mengukur seberapa jauh pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Semakin tinggi nilai R² maka semakin baik pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Ciri-ciri dari R²:
a.Jumlah nilai R² tidak pernah negatif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian
4.1.1 Letak Geografis
Secara astronomis Sumatera Barat terletak antara 0° 54' Lintang Utara dan 3°30' Lintang Selatan dan antara 98°36'-101°53' Bujur Timur. Berdasarkan posisi geografisnya Provinsi Sumatera Barat terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera dan mempunyai luas wilayah sekitar 42,2 ribu km² atau setara 2,21 persen dari luas Republik Indonesia. Sumatera barat berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu dan Samudera Indonesia.
Gambar 4.1
4.1.2 Upah Minimum Provinsi Sumatera Barat
Upah Minimum Provinsi Sumatera Barat setiap tahun selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Seperti yang ditunjukan pada tabel 4.1
Tabel 4.1
4.1.3 Angkatan Kerja
Angkatan kerja Sumatera Barat setiap periodenya bisa mengalami kenaikan ataupun penurunan seperti yang ditunjukan oleh tabel 4.2
Tabel 4.2
2000 Februari 892,444 Agustus 2106,711
November 815,326 2008 Februari 2125,784
2001 Februari 876,955 Agustus 2127,512
November 892,335 2009 Februari 2180,966
2002 Februari 893,807 Agustus 2172,002
November 899,913 2010 Februari 2273,111
2003 Februari 967,041 Agustus 2194,040
November 1013,829 2011 Februari 2320,752
2004 Februari 1007,580 Agustus 2230,622
November 1019,010 2012 Februari 2406,659
2005 Februari 1963,332 Agustus 2234,007
November 1981,596 2013 Februari 2455,354
2006 Februari 1995,049 Agustus 2216,687
Agustus 2051,800 2014 Februari 2502,702
2007 Februari 1999,580 Agustus 2331,993
4.1.4 Pengangguran
Pengangguran Sumatera Barat setiap periodenya bisa mengalami kenaikan ataupun penurunan seperti yang ditunjukan oleh tabel 4.3
Tabel 4.3 Pengangguran
Tahun Pengangguran (%) Tahun Pengangguran (%)
2000 Februari 1.74 Agustus 10.31
4.2 Analisis Linier Berganda
Analisis linier berganda dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas Tingkat Upah (Upah Minimum Provinsi) dan Angkatan Kerja terhadap variabel terikat yaitu Pengangguran (Y).
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.4 maka persamaan analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah:
Berdasarkan persamaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Konstanta (a) = - 0,971, ini menunjukkan harga constant, dimana jika variabel
Tingkat Upah (X1), dan Angkatan Kerja (X2) = 0, maka
Pengangguran = - 0,971 (turun sebesar 0,971 persen)
b. Koefisien X1 (b1) = -0,009, ini berarti bahwa variabel Tingkat Upah (X1)
berpengaruh negatif terhadap Pengangguran, atau dengan kata lain jika Tingkat Upah (X1) meningkat sebesar satu-satuan, maka Pengangguran akan berkurang
sebesar 0,009. Koefesien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara variabel Tingkat Upah dengan Pengangguran, semakin meningkat Tingkat Upah maka akan semakin menurun Pengangguran.
c. Koefisien X2 (b2) = 0,008, ini berarti bahwa variabel Angkatan Kerja (X2)
berpengaruh positif terhadap Pengangguran, atau dengan kata lain jika Angkatan Kerja (X2) meningkat sebesar satu-satuan, maka Pengangguran akan bertambah
sebesar 0,008. Koefesien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel Angkatan Kerja dengan Pengangguran, semakin tinggi Angkatan Kerja maka akan semakin meningkat pula Pengangguran.
4.3 Uji Asumsi Klasik
4.3.1 Uji Normalitas
1. Analisis Grafik
Salah satu cara untuk melihat normalitas adalah dengan melihat grafik histogram, dan grafik normal p-p plot, yang membandingkan antara dua observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Hasil output SPSS terlihat seperti gambar 4.2 dan gambar 4.3
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Gambar 4.2
Pengujian Normalitas Histogram
diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi data normal yang tidak melenceng kanan maupun melennceng kiri. Jadi, berarti data residual berdistibusi normal. Terbukti bahwa data maupun model yang digunakan memenuhi asumsi normalitas
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Gambar 4.3
Pengujian Normalitas P-P Plot
Pada P-P plot terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan cenderung mengikuti arah garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa data yang dipergunakan dalam penelitian ini memenuhi asumsi normalitas sehingga layak untuk diuji dengan model regresi.
Uji normalitas dengan grafik bisa saja terlihat berdistribusi normal, padahal secara statistik tidak berdistribusi normal. Jika nilai sig probability lebih besar dari 0,05 maka Ho ditolak dengan pengertian bahwa data yang dianalisis berdistribusi normal. Demikian juga sebaliknya jika nilai sig probability lebih kecil dari 0,05 maka Ho diterima dengan pengertian bahwa data yang dianalisis tidak berdistribusi normal. Berikut ini pengujian normalitas yang didasarkan dengan uji statistik nonparametik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
Tabel 4.5
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 1.83345754
Most Extreme Differences Absolute .112
Positive .112
Negative -.074
Kolmogorov-Smirnov Z .612
Asymp. Sig. (2-tailed) .848
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan Tabel 4.5, terlihat bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed) adalah 0,848, ini berarti nilainya diatas nilai signifikan 5% (0.05), dengan kata lain variabel tersebut berdistribusi normal.
4.3.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas, yaitu :
1. Analisis Grafik
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Gambar 4.4
Pengujian Heteroskedastisitas Scatterplot
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat terlihat bahwa tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka berdasarkan metode grafik tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
2. Analisis Statistik
Dasar analisis metode statistik adalah jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat, maka ada indikasi terjadi
Tabel 4.6
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa tidak satupun variabel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat RES2. Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5% jadi disimpulkan model regresi tidak mengarah adanya heteroskedastisitas.
4.3.3 Uji Multikolinieritas
Tabel 4.7
Uji Multikolinieritas
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat terlihat bahwa data (variabel) tidak terkena multikolinieritas karena nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0,1 sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi pengangguran berdasarkan tingkat upah dan angkatan kerja.
4.4 Uji Hipotesis
4.4.1 Uji Signifikan Parsial (Uji-t)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suatu variabel bebas secara parsial (individual) terhadap variasi variabel terikat. Kriteria pengujiannya adalah :
Ho : b1 = 0, artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Ho : b1 ≠ 0, artinya secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
Ho diterima jika t hitung < t tabel pada α= 5%
Ho ditolak jika t hitung > t tabel pada α= 5%
Hasil pengujian adalah :
Tingkat kesalahan (α) = 5% dan derajat kebebasan (df) = (n-k)
n = jumlah sampel, n = 30
k = jumlah variabel yang digunakan, k = 3
Derajat kebebasan / degree of freedom (df) =(n-k) = 30 - 3 = 27
Uji-t yang dilakukan adalah uji satu arah, maka ttabel yang digunakan
Tabel 4.8
Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji-t)
Coefficientsa
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa:
1. Variabel Tingkat Upah (X1)
Nilai thitung variabel tingkat upah adalah -4,721 dan nilai ttabel 1,703 maka thitung
<ttabel (-4,721 < 1,703) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat
upah berpengaruh negatif dan signifikan (0,000 < 0,05) secara parsial terhadap pengangguran. Artinya, jika variabel upah minimum provinsi ditingkatkan sebesar satu satuan, maka pengangguran akan menurun sebesar -0,009.
2. Variabel Angkatan Kerja (X2)
Nilai thitung variabel sikap konsumen adalah 7,158 dan nilai ttabel 1,703 maka
angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan (0,000 < 0,05) secara parsial terhadap pengangguran. Artinya, jika variabel angkatan kerja ditingkatkan sebesar satu satuan, maka keputusan pembelian akan meningkat sebesar 0,008.
4.4.2 Uji Signifikan Simultan (Uji-F)
Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Kriteria pengujiannya adalah :
Ho : b1 = 0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Ho : b1 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
Ho diterima jika F hitung < F tabel pada α= 5%
Ho ditolak jika F hitung > F tabel pada α= 5%
Untuk menentukan nilai F, maka diperlukan adanya derajat bebas pembilang dan derajat bebas penyebut, dengan rumus sebagai berikut:
df (Pembilang) = k – 1
Keterangan :
n = jumlah sampel penelitian
k = jumlah variabel bebas dan terikat
Pada penelitian ini diketahui jumlah sampel (n) 30 dan jumlah keseluruhan variabel (k) adalah 3, sehingga diperoleh :
1. df (pembilang) = 3 – 1 = 2
2. df (penyebut) = 30 – 3 = 27
Nilai Fhitung akan diperoleh dengan menggunakan bantuan SPSS, kemudian
akan dibandingkan dengan Ftabelpada tingkat α = 5%.
Tabel 4.9
Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji-F)
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 218.612 2 109.306 30.274 .000a
Residual 97.485 27 3.611
Total 316.097 29
a. Predictors: (Constant), X2, X1
b. Dependent Variable: Y
Pada Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa hasil perolehan Fhitung pada kolom F
yakni sebesar 30,274 dengan tingkat signifikansi = 0.000, lebih besar dari nilai Ftabel yakni 3,350 dengan tingkat kesalahan α = 5%, atau dengan kata lain Fhitung>
Ftabel (30,274 > 3,350).
Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis jika Fhitung> Ftabel dan tingkat
signifikansinya (0.000< 0.05), menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas (tingkat upah dan angkatan kerja) secara serempak adalah signifikan terhadap variabel terikat (pengangguran).
4.4.3 Pengujian Koefesien Determinasi (R2)
Pengujian koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur proporsi atau persentase kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Koefisien determinasi berkisar antara nol sampai satu (0 ≤ R² ≥ 1). Jika R² semakin besar
Tabel 4.10
Hasil Uji Koefesien Determinasi (R2)
Model Summary
a. Predictors: (Constant), X2, X1
Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa :
1. R = 0,832 berarti hubungan antara variabel tingkat upah (X1), angkatan kerja
terhadap pengangguran (Y) sebesar 83,2%. Artinya hubungannya kuat.
2. Nilai R Square sebesar 0,692 berarti 69,2% variabel pengangguran (Y) dapat dijelaskan oleh variabel tingkat upah (X1) dan angkatan kerja (X2). Sedangkan
sisanya 30,8% dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Standard Error of Estimated (Standar Deviasi) artinya mengukur variasi dari nilai yang diprediksi. Dalam penelitian ini standar deviasinya sebesar 1.90015. Semakin kecil standar deviasi berarti model semakin baik.
4.5 Pembahasan
4.5.1 Pengaruh Tingkat Upah Terhadap Penganggurann
dengan nilai koefisien regresi yang bernilai negatif -0,009 dan nilai thitung (-4,721)
yang lebih kecil dari nilai ttabel (1,703) dengan tingkat signifikansi 0,000. Artinya
jika tingkat upah ditingkatkan sebesar satu-satuan, maka pengangguran juga akan mengalami penurunan sebesar -0,009.
Tingkat Upah sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan sebuah pekerjaan. Apabila upah yang diberikan telah memenuhi harapan maka keinginan seseorang untuk bekerja akan meningkat dan tentunya akan mengurangi pengangguran. Tingkat upah di provinsi Sumatera Barat dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal ini diharapkan bisa mengurangi tingkat pengangguran.
4.5.2 Pengaruh Angkatan Kerja Terhadap Pengangguran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel angkatan kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi yang bernilai positif 0,008 dan nilai thitung (7,158) yang lebih besar dari nilai ttabel (1,703) dengan tingkat signifikansi
0.000. Artinya jika angkatan kerja meningkat sebesar satu-satuan, maka pengangguran juga akan mengalami peningkatan sebesar 0,008.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil analisis data dengan metode analisis linier berganda menunjukkan bahwa tingkat upah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran, dan angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengangguran. Hal ini dapat dilihat dari Uji-F dimana Fhitung 30,274 > Ftabel 3,350 pada tingkat
kepercayaan 95% (α = 5 %) dan tingkat signifikansinya 0.000 < 0.05. Artinya
bahwa kualitas produk dan sikap konsumen, secara bersama-sama memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
2. Pada hasil analisis koefisien determinasi didapat nilai R Square sebesar 0,692 berarti 69,2% variabel pengangguran (Y) dapat dijelaskan oleh variabel tingkat upah (X1), dan angkatan kerja (X2). Sedangkan sisanya 30,8% dapat dijelaskan
oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
5.2 Saran
1. Mengingat tingkat upah adalah yang dominan mempengaruhi pengangguran maka pemerintah harus lebih baik lagi dalam menetapkan upah minimum provinsi. Semakin tinggi upah tentunya akan membuat orang ingin untuk bekerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Landasan Teori
2.1.1 Tingkat Upah (Upah Minimum Provinsi)
Menurut Permen no.1 Th. 1999 Pasal 1 ayat 1, Upah Minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap. Upah ini berlaku bagi mereka yang lajang dan memiliki pengalaman kerja 0-1 tahun, berfungsi sebagai jaring pengaman, ditetapkan melalui Keputusan Gubernur berdasarkan rekomendasi dari Dewan Pengupahan dan berlaku selama 1 tahun berjalan (Badan Pusat Statistik).
Sedangan Upah Minimum Propinsi (UMP) adalah Upah Minimum yang berlaku untuk seluruh Kabupaten/Kota di satu Provinsi. Upah minimum ini di tetapkan setiap satu tahun sekali oleh Gubernur berdasarkan rekomendasi Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah (sekarang Dewan Pengupahan Provinsi). Penetapan upah minimum propinsi selambat-lambatnya 60 hari sebelum tanggal berlakunya upah minimum, yaitu tanggal 1 Januari. Dasar hukum penetapan UMP adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum. UMP ditetapkan oleh gubernur dengan memperhatikan rekomendasi Dewan Pengupahan Provinsi (Badan Pusat Statistik).
rekomendasi Dewan Pengupahan Provinsi dan rekomendasi bupati/walikota. UMK ditetapkan dan diumumkan oleh gubernur selambat-lambatnya tanggal 21 November setelah penetapan UMP dengan jumlah yang lebih besar dari UMP. Upah Minimum yang telah ditetapkan, berlaku terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya dan ditinjau kembali setiap tahun.
2.1.2 Angkatan kerja
Angkatan kerja atau labour force adalah jumlah penduduk dengan usia produktif, yaitu 15-64 tahun yang sedang bekerja maupun mencari pekerjaan. Usia produktif tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
Bukan angkatan kerja
Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang tidak bersedia bekerja atau belum bekerja. Misal, pelajar dan mahasiswa yang masih bersekolah.
Angkatan kerja
Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang sudah mempunyai pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan.
besar-yang sudah memasuki usia kerja. Menurut ketentuan pemerintah Indonesia, penduduk yang sudah memasuki usia kerja adalah mereka yang berusia minimal 15 tahun sampai 64 tahun. Namun, tidak semua penduduk yang memasuki usia tadi disebut angkatan kerja. Sebab penduduk yang tidak aktif dalam kegiatan ekonomi tidak termasuk dalam kelompok angkatan kerja, seperti ibu rumah tangga, pelajar, dan mahasiswa, serta penerima pendapatan (pensiunan).
Makin banyak komposisi jumlah penduduk laki -laki dalam suatu negara, semakin tinggi pula angkatan kerja di negara itu. Sementara, usia penduduk berpengaruh pada jumlah angkatan kerja dalam suatu negara. Semakin besar jumlah penduduk yang berusia produktif, maka semakin tinggi pula angkatan kerjanya. Selanjutnya, semakin rendah tingkat pendidikan penduduk suatu negara, maka akan makin rendah pula angkatan kerjanya, sebab saat ini tingkat pendidikan adalah salah satu syarat untuk memasuki dunia kerja. Agar dapat menyatukan keinginan perusahaan atau instansi yang membuka kesempatan kerja dengan pencari kerja, maka dibutuhkan media yang dapat mempertemukan mereka. Media ini biasanya disebut bursa tenaga kerja. Di bursa tenaga kerja akan diperoleh informasi tentang lowongan kerja dari beberapa perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja, seperti jabatan yang tersedia, spesialisasi, kualifikasi, dan keahlian yang dibutuhkan.
suatu negara mempunyai sumber daya alam dan modal yang besar, dia tetap membutuhkan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksinya. Tenaga kerja, modal, dan sumber daya alam yang merupakan faktor produksi tidak hanya berperan penting dalam peningkatan jumlah produksi, tetapi juga dapat mendorong naiknya pendapatan nasional. Tingginya pendapatan nasional memungkinkan terbentuknya tabungan, baik tabungan masyarakat, tabungan perusahaan, atau tabungan pemerintah. Tabungan adalah sumber investasi untuk perluasan usaha, sehingga akan membuka lapangan kerja baru. Banyaknya angkatan kerja yang terserap pada lapangan pekerjaan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Penduduk usia kerja dapat pula kita bagi dalam dua kelompok, yakni kelompok angkatan kerja dan kelompok bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah semua orang yang siap bekerja disuatu Negara. Kelompok tersebut biasanya disebut sebagai kelompok usia produktif. Dari seluruhan angkatan kerja dalam suatu Negara tidak semuanya mendapat kesempatan bekerja. Diantaranya ada pula yang tidak bekerja. Mereka inilah yang disebut pengangguran.
Angkatan kerja banyak yang membutuhkan lapangan pekerjaan, namun umumnya baik di negara berkembang maupun negara maju, laju pertumbuhan penduduknya lebih besar dari pada laju pertumbuhan lapangan kerjanya. Oleh karena itu, dari sekian banyak angkatan kerja tersebut, sebagian tidak bekerja atau menganggur. Dengan demikian, kesempatan kerja dan mpengangguran berhubungan erat dengan ketersediannya lapangan kerja bagi masyarakat. Semakin banyak lapangan kerja yang tersedia di suatu Negara, semakin besar pula kesempatan kerja bagi penduduk usia produktifnya, sehingga semakin kecil tingkat penganggurannya. Sebaliknya, semakin sedikit lapangan kerja di suatu Negara, semakin kecil pula kesempatan kerja bagi penduduk usia produktifnya. Dengan demikian, semaki tinggi tingkat penganggurannya.
Yang termasuk angkatan kerja dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :
Mereka yang punya pekerjaan namun sedang tidak bekerja
Mereka yang tidak memiliki pekerjaan namun sedang mencari pekerjaan atau
mengharapkan pekerjaan
Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :
Mereka yang mengurus rumah tangga
Mereka yang sedang bersekolah (sedang menempuh pendidikan)
Mereka yang memiliki pendapatan namun tidak melakukan kegiatan ekonomi,
seperti penerima pensiunan dan penderita cacat yang hidupnya tergantung orang lain.
Orang yang tergolong bukan angkatan kerja sewaktu-waktu dapat menjadi angkatan kerja bila usianya masih tergolong produksi. Contoh, anak yang telah lulus sekolah kemudia segera mencari pekerjaann. Hal ini berarti bahwa, penduduk yang tergolong bukan angkatan kerja ini dinamakan angkatan kerja potensial.
2.1.3 Pengangguran
Pengangguran adalah angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Pengangguran akan merugikan negara dan akan memberatkan keluarga karena kebutuhannya menjadi beban keluarga yang sudah bekerja. Indikator beban ini disebut Dependency Ratio, yang dihitung dengan cara:
Makin tinggi tingkat Dependency Ratio (DR), makin buruk tingkat beban yang harus ditanggung setiap penduduk produktif.
Di dalam ilmu ekonomi pengangguran ada beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.
Pengangguran siklis adalah pengangguran yang disebabkan merosotnya
perekonomian atau resesi ekonomi suatu negara.
Pengangguran struktural adalah pengangguran yang terjadi karena tidak
sesuainya jenis pekerjaan yang diminta dengan yang ditawarkan.
Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi karena pergantian
musim. Biasanya terjadi di daerah pertanian.
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang disebabkan oleh adanya
modernisasi dalam berproduksi.
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang disebabkan karena adanya
pergeseran antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Misalnya, tenaga kerja yang keluar dari pekarjaan karena ingin pekerjaan yang lebih baik. Pengangguran terbuka adalah pengangguran yang terjadi karena kesempatan
kerja lebih sedikit jika dibandingkanangkatan kerja.
Tingginya angka penganguran yang terjadi di suatu negaran dapat dihitung menggunakan rumus berikut.
Masalah ketenagakerjaan di indonesia sekarangini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan, antara lain ditandai oleh jumlah pengangguran dan setengah pengagguran yang besar, pendapatan relatif rendah dan kurang merata.
Berikut ini adalah kerugian-kerugian sebagaimana ditimbulkan oleh pengangguran;
1) Menurunnya tingkat produktifitas
2) Turunnya penerimaan Negara
3) Tidak meratanya distribusi pendapatan nasional
4) Peningkatan biaya sosial.
Cara paling utama untuk mengatasi pengangguran adalah melakukan perluasan kesempatan kerja. Sejumlah upaya dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran. Meskipun demikian, upaya itu juga berbeda-beda tergantung pada jinis pengangguran itu.
Berikut ini cara mengatasi penganguran yaitu:
1) Peningkatan mobilitas tenaga kerja dan modal
2) Pengelolaan permintaan masyarakat
3) Penyediaan informasi tentang kebutuhan tenaga kerja
4) Program pendidikan dan pelatihan kerja
6)Wiraswasta
2.2Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Nama,Tahun,Judul Variabel Metode analisis Hasil
2.3Kerangka Konseptual
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
2.4Hipotesis
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
Tingkat upah (UMP) memberikan pengaruh positif terhadap pengangguran di
Sumatera Barat
Angkatan kerja memberikan pengaruh positif terhadap pengangguran di Sumatera
Barat
Tingkat upah
minimum provinsi (X1)
Angkatan kerja (X2)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, serta memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, hal ini membuat Indonesia pantas disebut sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Hal ini seharusnya dapat memberikan keuntungan untuk perekonomian di Indonesia. Namun faktanya sekarang, banyak warga Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan atau dengan kata lain menjadi pengangguran.
tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup. Hal ini menimbulkan tingkat pengangguran yang cukup tinggi.
Pengangguran adalah kegiatan seseorang yang sedang tidak bekerja dan pada saat survei orang tersebut sedang mencari pekerjaan seperti mereka yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, mereka yang sudah pernah bekerja, karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan bekerja dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Secara ekonomi makro, pengangguran menjadi permasalahan pokok baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pengangguran dapat terjadi sebagai akibat dari tingginya tingkat perubahan angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan adanya lapangan pekerjaan yang cukup luas serta penyerapan tenaga kerja yang cenderung kecil persentasenya, hal ini disebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan penciptaan lapangan kerja untuk menampung tenaga kerja yang siap bekerja. Atau dengan kata lain, di dalam pasar tenaga kerja jumlah penawaran akan tenaga kerja yang ada lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah permintaan tenaga kerja.
Pengangguran ini merupakan masalah yang selalu menjadi persoalan di Sumatera Barat yang sulit untuk dipecahkan. Hal ini mengingat jumlah kepadatan penduduk di Sumatera Barat yang terus bertambah dan tidak diiringi dengan tingginya permintaan akan tenaga kerja dan kurangnya jumlah lapangan pekerjaan yang ada. Jumlah penduduk yang besar telah membawa akibat jumlah angkatan kerja yang semakin besar pula. Hal ini berarti semakin besar pula jumlah orang yang mencari pekerjaan atau menganggur.
dengan upah yang sesuai walaupun sebenarnya pemahaman tentang upah yang sesuai adalah relatif dengan kebutuhan yang ada.
Menurut Undang-Undang (UU) No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian pekerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan (Badan Pusat Statistik).
Upah Minimum Propinsi (UMP) adalah upah minimum yang berlaku untuk seluruh Kabupaten/Kota di satu Provinsi. Upah minimum ini di tetapkan setiap satu tahun sekali oleh Gubernur berdasarkan rekomendasi Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial Dewan Ketenagakerjaan Daerah (sekarang Dewan Pengupahan Provinsi). Penetapan upah minimum propinsi selambat-lambatnya 60 hari sebelum tanggal berlakunya upah minimum, yaitu tanggal 1 Januari.
suatu daerah terlalu rendah maka akan berakibat pada tingginya tingkat pengangguran yang terjadi pada daerah tersebut.
Kebijakan upah minimum merupakan sistem pengupahan yang telah banyak diterapkan di beberapa negara, yang pada dasarnya bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, upah minimum merupakan alat proteksi bagi pekerja untuk mempertahankan agar nilai upah yang diterima tidak menurun dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua, sebagai alat proteksi bagi perusahaan untuk mempertahankan produktivitas pekerja. Dari pengertian di atas mengenai Upah dapat di simpulkan bahwa Upah merupakan faktor pendorong bagi penganggur untuk segera memperoleh pekerjaan. Karena dengan tingkat upah yang baik maka dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Kaum klasik seperti Adam Smith, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus berpendapatan bahwa selalu ada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat perkembangan penduduk yang akhirnya dimenangkan oleh perkembangan penduduk. Karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja, maka akan terdapat kesulitan dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Kalau penduduk itu dapat memperoleh pekerjaan, maka hal ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Tetapi jika tidak memperoleh pekerjaan berarti mereka akan menganggur, dan justru akan menekan standar hidup bangsanya menjadi lebih rendah.
Terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi pendidikan angkatan kerja semakin lama masa tunggunya. Untuk itu perluasan kesempatan kerja merupakan usaha mengembangkan sektor penampungan kesempatan kerja yang berproduksi rendah. Usaha perluasan kesempatan kerja tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti perkembangan jumlah penduduk dan angkatan kerja, pertumbuhan ekonomi, tingkat produktivitas tenaga kerja dan kebijaksanaan mengenai perluasan kesempatan kerja itu sendiri.
sedangkan disisi lain PUK golongan umur 65 tahun ke atas, tiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Dimana penduduk usia kerja golongan umur 60 - 64 di tahun 2012 menempati proporsi terendah. Hal ini diduga karena tidak terjadi perbaikan gizi dan kesehatan yang memungkinkan kelompok umur ini mengalami kondisi fisik yang tidak sehat, sehingga sudah tidak produktif lagi dalam bekerja.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah tingkat upah minimum provinsi Sumatera Barat mempengaruhi pengangguran di Sumatera Barat.
2. Apakah jumlah angkatan kerja Sumatera Barat mempengaruhi pengangguran di Sumatera Barat.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh tingkat upah minimum provinsi Sumatera Barat terhadap pengangguran di Sumatera Barat.
2. Untuk mengetahui pengaruh jumlah angkatan kerja Sumatera Barat terhadap pengangguran di Sumatera Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
1) Untuk Pengambilan Kebijakan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pemerintah provinsi dalam menentukan kebijakan ketenagakerjaan dan menetukan UMP (upah minimum provinsi).
2) Untuk Masyarakat
Memberikan informasi yang berguna bagi semua pihak yang terkait dan berkepentingan, serta hasil dari penelitian ini sebagai referensi atau acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
3) Untuk Peneliti
SKRIPSI
PENGARUH TINGKAT UPAH DAN ANGKATAN KERJA
TERHADAP PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT
OLEH
DERI MARSAL
120501095
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.4 Jenis dan Sumber Data ... 21
3.5 Metode Pengumpulan Data ... 21
3.6 Teknik Analisis Data ... 21
1. Uji Normalitas ... 22
2. Uji Multikolinieritas ... 23
3. Uji Heteroskesdastisitas ... 24
4.7.1 Pengaruh Tingkat Upah Terhadap Pengangguran ... 46
4.7.2 Pengaruh Angkatan Kerja Terhadap Pengangguran .... 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 48
5.1 Kesimpulan ... 48
5.2 Saran ... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 50
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
Tabel 2.1 Daftar Penelitian Terdahulu ... 18
Tabel 4.1 Upah Minimum Provinsi ... 29
Tabel 4.2 Angkatan Kerja ... 30
Tabel 4.3 Pengangguran ... 31
Tabel 4.4 Analisis Linier Berganda... 32
Tabel 4.5 Uji Kolmogorov Smirnov ... 37
Tabel 4.6 Uji Glejser ... 39
Tabel 4.7 Uji Multikolinieritas ... 40
Tabel 4.8 Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji-t) ... 42
Tabel 4.9 Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji-F) ... 44
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ... 19
Gambar 4.1 Peta Sumatera Barat ... 28
Gambar 4.2 Pengujian Normalitas Histogram ... 34
Gambar 4.3 Pengujian Normalitas P-P Plot ... 35
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Karunia-Nya yang selalu menyertai penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana dari Program Strata I Departemen Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah: “Pengaruh Tingkat Upah (Upah Minimum Provinsi) dan
Angkatan Kerja Terhadap Pengangguran di Sumatera Barat”.
Peneliti telah banyak mendapatkan bimbingan, nasihat, dan dorongan dari Orangtua tercinta Ayah (alm) Agus Salim dan Ibu Mardiah, kakek Anas dan nenek Raamah, paman Tarmizi dan Mulyadi, beserta ketiga adik saya Zilkhairani, Radiah, Elfi Rahmani, dan adik sepupu saya Ahmad Daffa selama perkuliahan hingga penelitian skripsi ini selesai. Dalam kesempatan ini, Peneliti menyampaikan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ramli,SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc, Ph.D dan Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si sebagai Ketua dan Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Drs. Rujiman, M.A sebagai dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu dalam memberikan masukan, saran yang baik mulai dari awal penulisan hingga selesainya skrispsi ini.
5. Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si sebagai Dosen Penguji I yang telah memberikan petunjuk, saran, dan kritik dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Ibu Ilyda Sudradjat,S.Si., M.Si sebagai Dosen Penguji II yang telah memberikan petunjuk, saran, dan kritik dalam penyempurnaan skripsi ini. 7. Seluruh Dosen Pengajar dan Staff Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan untuk segala jasa-jasanya selama perkuliahan.
8. Seluruh staff dan karyawan Badan Pusat Statistik yang telah memberikan data-data yang terkait dengan penelitian skripsi ini.
10.Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh teman-teman Herbert Nababan, Dedi Amin, Rianly Catra Nugraha, Muhammad Arief, Yusra Rosan, Syntia Apdajuna Putri, Lusi Kurniawati, Actara Rahmadita, Riyandhika, Arifandi, Ridho Vernanda, Arie Agusta, dan lain-lain yang namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih telah memberikan dukungan, kerja sama, inspirasi dan kebersamaan selama ini. Sukses buat kita semua.
11.Beserta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis.
Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Besar membalas budi dan pengorbanan yang diberikan. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu peneliti mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang dapat membangun untuk menjadikan skripsi ini lebih baik lagi. Dengan segala kerendahan hati, peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya, khususnya kepada rekan-rekan mahasiswa Ekonomi Pembangunan.
Medan, ………..
Peneliti